Setelah layanan kereta api nasionalnya resmi berhenti beroperasi selama lebih dari 50 tahun akibat pecahnya perang saudara, Lebanon akhirnya mencatatkan sejarah baru dengan kembali mengoperasikan moda transportasi rel di wilayahnya. Kehadiran kembali si ular besi ini ditandai dengan diluncurkannya “BaraTrain”, sebuah kereta api berukuran mini yang sepenuhnya mengandalkan pasokan energi ramah lingkungan berupa panel surya.
Didesain untuk menampung sekitar 45 orang penumpang dalam sekali jalan, pengoperasian BaraTrain menjadi momentum simbolis yang menandai bangkitnya kembali infrastruktur perkeretaapian Lebanon yang telah lama mati suri.
Kendati membawa misi pemulihan transportasi yang ambisius, kehadiran BaraTrain justru memicu reaksi unik serta nada skeptis dari warga lokal. Banyak penduduk setempat yang belum sepenuhnya menerima konsep kendaraan ini dan mulai menjadikannya bahan olokan di media sosial, terutama terkait dengan desain bentuk fisik kereta yang dinilai sangat jauh dari ekspektasi moda transportasi massal modern.
🇱🇧 Lebanon finally has a train running again after more than 50 years.
It’s called BaraTrain, a small solar-powered train that can carry around 45 people.
But locals aren’t exactly sold on it and are already making fun of the design, with one saying it looks like a train from an amusement park, especially compared to the bullet trains in Japan and China.
Still, Lebanon’s railways have been shut down since the civil war, so even this little train is a start.
Writer: Daniyal
https://t.co/OH61yJkKQW
— Mario Nawfal (@MarioNawfal) October 12, 2026
Sejumlah warga bahkan secara terang-terangan menyebut tampilan BaraTrain lebih mirip wahana kereta wahana permainan di taman hiburan anak-anak ketimbang moda transportasi komuter resmi, terlebih jika dibandingkan secara kontras dengan kemegahan jaringan kereta cepat (bullet train) yang beroperasi di negara-negara seperti Jepang maupun Cina.
Meskipun menuai beragam komentar miring dan ejekan dari publik, peluncuran kereta bertenaga surya ini tetap dipandang sebagai langkah awal yang teramat penting bagi pemulihan konektivitas di Lebanon. Mengingat seluruh jaringan rel kereta api di negara tersebut telah hancur dan mati total sejak era Perang Saudara Lebanon yang melanda pada dekade 1970-an, hadirnya BaraTrain—sekecil apa pun ukurannya—merupakan tumpuan harapan pertama bagi masyarakat setempat untuk melihat transportasi rel kembali melayani mobilitas warga di masa depan.
Panjang lintasan yang dilalui oleh BaraTrain sangat pendek, yaitu sekitar 3,5 kilometer (beberapa sumber menyebut sekitar 3 km). Rute ini membentang menyusuri kawasan pesisir pantai dari kota Barbara menuju wilayah Madfoun di Distrik Jbeil (Byblos), Lebanon.
Lintasannya menggunakan potongan kecil dari fondasi jalur kereta api bersejarah peninggalan era lampau yang dimanfaatkan kembali. Karena jalurnya yang terbilang sangat singkat dan berkecepatan rendah, keberadaan BaraTrain ini memang lebih difungsikan sebagai atraksi wisata lokal dan proyek percontohan ramah lingkungan, ketimbang sebagai sistem transportasi publik komuter antarkota.
Asaad Namroud, Saksi Sejarah Bahwa Jaringan Kereta di Lebanon Pernah Besar dan Eksis
