‘Kill Switch’ dari Beijing? Norwegia Tarik Ratusan Bus Listrik Setelah Temukan Akses Jarak Jauh ke Cina

Revolusi transportasi hijau di Eropa baru-baru ini menghadapi guncangan keras. Otoritas transportasi publik di Oslo, Norwegia, Ruter, menemukan adanya kerentanan keamanan siber yang mengejutkan pada armada bus listrik buatan Cina.

Temuan ini—kartu SIM tersembunyi yang memungkinkan akses digital jarak jauh oleh produsen dari luar negeri—telah memicu kekhawatiran serius tentang potensi “sakelar pemutus” (kill switch) yang dapat mengganggu, bahkan menonaktifkan, bus dari jarak ribuan kilometer.

Kasus ini berpusat pada bus listrik Yutong, pabrikan raksasa Cina yang mendominasi pasar bus listrik di Eropa, termasuk Norwegia. Ruter, yang mengoperasikan sekitar 300 bus Yutong di wilayah Oslo dan Akershus, melakukan audit keamanan siber yang ketat setelah meningkatnya kekhawatiran geopolitik

Yutong, Manufaktur Bus Terbesar di Dunia, Pernah Melayani TransJakarta

Hasil pengujian menyingkap adanya kartu SIM aktif (dilaporkan berasal dari Rumania) yang terintegrasi di dalam modem sistem kontrol bus. SIM ini bukan untuk penumpang, melainkan memungkinkan produsen, Yutong, untuk secara rutin mengakses sistem kontrol bus.

Meskipun produsen mengklaim akses jarak jauh ini murni untuk tujuan diagnostik, pemeliharaan prediktif, dan pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA), Ruter menemukan potensi kerentanan yang tidak dapat diterima, akses jarak jauh yang tidak sepenuhnya dikontrol oleh operator lokal menciptakan potensi celah bagi pihak asing.

Ancaman Kill Switch dalam skenario terburuk, Ruter menyimpulkan bahwa akses tersebut secara teknis dapat digunakan untuk mengirimkan perintah yang mengganggu fungsi operasional atau menonaktifkan bus saat sedang bergerak, yang memiliki implikasi keamanan publik yang mengerikan.

Kekhawatiran Norwegia adalah tentang kedaulatan digital. Akses backdoor ini, meskipun tidak ada bukti penyalahgunaan saat ini, berpotensi mengubah bus menjadi target serangan siber state-sponsored yang dapat melumpuhkan jaringan transportasi penting.

Menanggapi risiko ini, Ruter mengambil langkah drastis, yaitu pencabutan SIM Card, seluruh kartu SIM yang memungkinkan koneksi jarak jauh segera dicabut dari bus-bus Yutong yang beroperasi di wilayah Oslo.

Bus-bus tersebut kini dipaksa beroperasi dalam mode lokal dan offline. Hal ini mengembalikan kontrol penuh kepada operator Norwegia tetapi sebagai konsekuensinya, bus tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak otomatis atau diagnostik jarak jauh yang dapat mengoptimalkan kinerja dan pemeliharaan.

Penemuan di Norwegia ini telah bergema di seluruh Eropa. Negara-negara yang memiliki armada bus listrik buatan Cina dalam jumlah besar, seperti Denmark dan Inggris, dilaporkan mulai meninjau dan mengaudit keamanan siber pada bus mereka.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi negara-negara Barat, ketika beralih ke teknologi hijau dari pemasok luar negeri, harga yang dibayar mungkin bukan hanya uang, tetapi juga potensi kedaulatan atas infrastruktur penting nasional. Peristiwa di Oslo ini menandai dimulainya era baru, di mana keamanan siber dan pengawasan siber menjadi syarat utama dalam setiap pengadaan kendaraan transportasi publik.

Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

Revolusi Langit: Starlink Bawa WiFi Berkecepatan Tinggi ke Pesawat Komersial

Koneksi internet yang lambat, mahal, dan sering terputus di pesawat kini terancam menjadi masa lalu. Layanan internet satelit Low Earth Orbit (LEO) dari SpaceX, Starlink, telah resmi merambah sektor penerbangan komersial, menjanjikan kecepatan yang setara dengan koneksi di rumah bahkan saat pesawat berada di ketinggian jelajah puluhan ribu kaki.

Maskapai-maskapai global, termasuk Qatar Airways, United Airlines, Hawaiian Airlines, dan Air France, berlomba-lomba memasang terminal Starlink di seluruh armada mereka, menjadikannya standar baru dalam pengalaman penumpang.

Dibandingkan dengan sistem WiFi pesawat tradisional yang menggunakan satelit Geostationary Orbit (GEO) yang jauh (sekitar 35.000 km), Starlink menawarkan beberapa keunggulan signifikan, di antaranya seperti kecepatan dan latensi rendah. Satelit LEO Starlink mengorbit hanya sekitar 550 km dari Bumi. Jarak yang sangat dekat ini mengurangi waktu perjalanan data (latency).

Kemudian kapasitas tinggi, jaringan mesh dengan ribuan satelit Starlink yang saling terhubung (termasuk menggunakan laser) mampu mengalokasikan bandwidth yang besar, memungkinkan setiap penumpang melakukan streaming video 4K, video call, atau bermain game online.Kapasitas mencukupi untuk streaming bagi setiap penumpang di pesawat.

Karena Starlink memiliki ribuan satelit LEO di berbagai orbit, koneksi dapat dipertahankan di hampir seluruh rute penerbangan global, termasuk rute laut dan kutub yang sering menjadi “titik buta” bagi satelit GEO. Pemasangan terminal Starlink Aviation diklaim membutuhkan waktu hanya sekitar 4 hari per pesawat, jauh lebih cepat dan sederhana dibandingkan perangkat keras IFC (In-Flight Connectivity) konvensional.

Meskipun keunggulannya luar biasa, adopsi Starlink di pesawat komersial menghadapi beberapa tantangan serius, pemasangan terminal Starlink (disebut Aero Terminal) pada setiap jenis pesawat memerlukan sertifikasi ketat dari regulator penerbangan, seperti FAA (Federal Aviation Administration) di AS atau EASA di Eropa. Proses sertifikasi ini membutuhkan waktu.

Meskipun biaya bulanannya kompetitif (untuk maskapai), biaya hardware awal untuk terminal aviasi Starlink sangat tinggi, berkisar antara $20.000 hingga lebih dari $100.000 per pesawat. Terminal Starlink (termasuk radome di atas pesawat) harus seringan mungkin agar tidak menambah bobot pesawat secara signifikan dan memengaruhi efisiensi bahan bakar.

Layanan Starlink memerlukan izin operasional dari setiap negara yang dilintasi atau diterbangi. Tantangan regulasi dan geopolitik dapat menciptakan celah layanan di rute-rute tertentu.

Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

KAI Services Hadirkan Menu Sarapan di KA Pandanwangi, Jember–Ketapang (Banyuwangi)

KAI Services melalui unit bisnis Kuliner Kereta resmi menghadirkan berbagai pilihan menu sarapan di Kereta Api Pandanwangi relasi Jember–Ketapang (Banyuwangi) mulai 1 November 2025. Kehadiran layanan ini memberikan pengalaman perjalanan pagi yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi para penumpang.

Kini, pelanggan KA Pandanwangi dapat menikmati ragam menu sarapan favorit selama perjalanan, mulai dari Pop Mie hingga Bakso Enak yang hangat. Tidak hanya itu, tersedia pula aneka pilihan minuman seperti air mineral dan teh premium, yang dapat dinikmati langsung di Kereta Makan. Semua sajian dapat dipesan dengan mudah melalui Prama Prami yang siap melayani dengan ramah dan profesional.

Dengan adanya layanan untuk membeli menu sarapan ini, penumpang dapat memulai hari dengan hidangan tanpa perlu repot mencari makanan di pagi hari. Menyantap sajian hangat sambil menikmati panorama sepanjang perjalanan menuju Banyuwangi tentu memberikan pengalaman tersendiri.

Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menyampaikan bahwa penambahan layanan kuliner ini merupakan bentuk komitmen KAI Services dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan.

“Kini penumpang dapat memesan sarapan sebagai langkah mengawali hari dalam perjalanan menggunakan KA Pandanwangi yang berangkat pukul 05.10 WIB dari Stasiun Jember menuju Stasiun Ketapang. Dengan hadirnya menu sarapan di KA Pandanwangi, penumpang tidak perlu khawatir untuk mencari sajian makanan di pagi hari karena sudah tersedia di kereta makan,” ujar Nyoman dalam keterangan resminya, Senin (10/11).

KA Pandanwangi Kembali Beroperasi di Daop 9 Jember

Masih Berdiri Kokoh, Dahulu Halte Kalimenur dapet Predikat Julukan Nama Unik

Meski tak terawat, bangunan ini masih berdiri kokoh dan tetap terlihat keseluruhan bangunan aslinya. Ya, Halte Kalimenur yang digadang-gadang memiliki panorama jalur kereta api yang eksotik ini ternyata mendapat predikat julukan nama unik. Padahal halte yang non aktif ini terlihat biasa saja.

Halte ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan rel kereta api Surabaya-Cilacap pada tahun 1887. Hingga masa revolusi, Halte Kalimenur menjadi tempat pemberhentian yang ramai penumpang di mana waktu itu kereta api masih menggunakan tenaga lokomotif uap.

Lantas, apa keunikan nama yang diberikan Haltr Kalimenur ini? Ya, halte ini dulu mendapat julukan Stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang adalah para penjual tahu dari Desa Tuksono yang hendak berjualan tahu ke Kota Yogyakarta atau Kutoarjo.

Pada masa revolusi sekitar tahun 1948, Halte Kalimenur pernah dibom oleh Belanda hingga hancur. Djawatan Kereta Api (DKA) kemudian membangun kembali dan meresmikan Stasiun Kalimenur sebagai tempat pemberhentian kereta pada tahun 1954.

Namun sejak tahun 1974, Halte Kalimenur tidak beroperasi lagi. Posisinya dinilai tidak strategis, sepi penumpang, dan berada di tikungan besar. Walaupun sempat terkena bom, arsitektur bangunan Halte Kalimenur sampai sekarang masih asli peninggalan Belanda.

Plat bertuliskan Stasiun Kalimenur dengan aksara Jawa.

Bagusnya, halte ini masih dipertahankan karena masa kejayaan Indonesia saat itu menjadikan Kalimenur sebagai saksi bisu khususnya kereta api. Akses menuju Halte Kalimenur pun tidaklah sulit. Ada jalan desa tepat berada di samping halte yang memungkinkan bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4.

Tak heran banyak masyarakat pecinta kereta api tak bosan berkunjung di Halte Kalimenur hanya sekadar berfoto/video sekaligus saat kereta api melintas. Diketahui kereta api yang melewati Halte Kalimenur pun terbilang ramai, baik dari arah barat (Jakarta/Bandung) maupun daei timur (Yogyakarta/Malang/Surabaya).

Sempat terjadi kisah kelam yang membuat perjalanan kereta api dekat dengan Halte Kalimenur adalah insiden anjloknya Kereta Api Argo Semeru. Kejadian tersebut terjadi pada 17 Oktober 2023 di mana saat itu kereta tersebut beroperadi pada relasi Surabaya Gubeng – Gambir di km 520+4, tepatnya di depan Halte Kalimenur.

Maka tak heran, halte yang berlokasi di Sukoreno, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kini Halte Kalimenur masih digandrungi para pecinta kereta api dari berbagai wilayah yang turut mengabadikan kereta api melintas dengan latar belakang Halte Kalimenur yang bersejarah.

Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Railfans Wajib Hadir! Mini Museum KRL Hadir Satu Minggu di Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun terbesar dan bersejarah di wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Stasiun ini terkenal ramai dengan masyarakat dari berbagai wilayah Jabodetabek untuk sekedar menghabiskan waktu bersama rekan bahkan keluarga.

Tak hanya itu, stasiun yang terkenal dengan sebutan Beos ini pun pernah diadakan acara khusus yang bertemakan kereta api, seperti Parade 100 tahun oprerasional Kereta Rel Listrik (KRL) yang diselenggarakan pada 6 April 2025 lalu. Acara tersebut menarik perhatian masyarakat khususnya pecinta kereta api di Indonesia.

Nah,kini PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama komunitas Indonesian Railway Praservation Society (IRPS) menggelar acara spesial berupa museum mini yang diselenggarakan di Stasiun Jakarta Kota. Seperti diketahui bahwa pagelaran museum biasanya diadakan di gedung atau galery dengan ornamen-ornamen yang bersejarah dan bernilai harganya.

Namun, acara museum mini ini menggunakan rangkaian KRL seri 8500 (8518 – 8618) yang interiornya dilengkapi dengan ornamen unik khas Negeri Sakura. Selain itu, ada pula berbagai macam miniatur kereta yang di pamerkan termasuk KRL dari masa ke masa. Dan tak lupa informasi mengenai undang-undang perkeretaapian seperti tertib berlalu lintas di perlintasan kereta hingga kampanye anti pelecehan seksual.

Kampanye undang-undang pelecehan sexual yang ada di dalam interior museum mini KRL.

Museum mini yang menggunakan KRL ini ternyata tidak dipungut biaya alias gratis. Peserta yang hadir bisa dari seluruh kalangan (mulai dari anak hingga dewasa) dengan mendaftar atau registrasi langsung di lokasi. Setelah registrasi masyarakat bisa langsung masuk ke dalam rangkaian KRL dan bisa mengabadikan pernak pernik yang dipamerkan.

Acara tersebut berlangsung satu minggu yakni mulai tanggal 10 – 16 November 2025. Dibuka untuk umum mulai pukul 13.00 WIB – 19.00 WIB. Selain rangkaian KRL seri 8500 yang dipamerkan, nantinya ada 2 rangkaian KRL lagi yang akan bertandang di Stasiun Jakarta Kota. Kedua KRL tersebut adalah seri 203 dan 7000.

Dipilihnya ketiga seri tersebut karena di tahun ini masa dinas/beroperasinya KRL tersebut sudah habis. Jadi tidak ada lagi yang wara-wiri di jalur Jabodetabek. Nah, mini museum tersebut juga sekaligus mengenang jasa-jasa KRL yang sudah beroperasi di kawasan Jabodetabek dengan menampilkan foto-foto mulai dari awal kedatangan di Indonesia.

Pendatang Wajib Tahu! Inilah Stasiun Kereta Api Paling Populer di Seputar Jakarta

Atasi Risiko Tertabrak Kereta, Inggris Ciptakan Aplikasi “Peringatan” Berbasis LBS

Masalah kecelakaan kereta hampir tiap hari terdengar dimana-mana, apalagi dengan kondisi pejalan kaki yang kerap menyeberang rel di perlintasan sebidang. Para penyeberang rel kereta terkadang sengaja menyeberang di detik-detik kereta akan melintas, tujuannya boleh jadi untuk membuat sensasi, ataupun memang tidak mendengar adanya kereta karena sibuk dengan gadget yang digunakannya.

Baca juga: Bukti Cinta Pada Kereta, Halaman Belakang Rumah Disulap Jadi Replika Stasiun

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk, dari hasil CCTV yang berada di Simpson’s Foot Crossing di Sittingbourne – Kent, Inggris, memperlihatkan banyak remaja tanggung dan anak muda yang berkeliara di sekitaran jalur kereta. Terlihat mereka duduk-duduk, tiduran hingga mengambil foto tepat berada di tengah jalur kereta api tanpa mengingat bahaya yang ada di depan mata.

Daily Mail

Dari hasil survei Nertwork Rail, terungkap bahwa sebanyak 70 persen dari tiga gangguan teratas penyeberangan rel kereta api yakni teman 4 persen, ponsel 12 persen dan penggunaan ponsel 20 persen. Dari hasil ini, sepertiganya atau 29 persennya para pemuda ini mengaku menggunakan ponsel saat melintasi jalur kereta api. Sebanyak 95 persen diketahui berusia dibawah 25 tahun dan memiliki ponsel serta menghabiskan waktu sebanyak dua kali lipat dalam menggunakan ponsel dibandingkan rata-rata pada umumnya.

Baca juga: Dibalik Sengkarut Jadwal Kereta Bawah Tanah di New York

Dari beberapa problem diatas, Network Rail memperkenalkan teknologi untuk menyadarkan pengguna jalan yang menggunakan ponsel saat menyeberang di jalur kereta. Sebenarnya perilisan video ini juga bertepatan dengan pengenalan polisi transportasi Inggris pada aplikasi berbasis geografi dan LBS (Location Based Service) untuk mengingatkan para pejalan kaki di aplikasi ponsel saat mereka mendekati persimpangan rel kereta agar berhati-hati.

Daily Mail

Video ini juga digunakan untuk mendidik anak-anak tentang bahayanya berjalan di sepanjang rel kereta api. Dalam video tersebut menampilkan sebuah identifikasi dan resiko yang akan dirasakan bila berdiri, tiduran hingga mengambil gambar. “Banyak anak muda yang tidak memikirkan bahaya kereta api dan orang tua akan tahu betapa sulitnya menyeret anak-anak mereka menjauh dari penggunaan ponsel,” ujar Manager Keamanan Komunitas Network Rail, Nicola Dooris.

Daily Mail

KA Parahyangan: Seraya Tak Punya Rangkaian Sendiri, Tapi Namanya Tetap Melekat Dihati

Perjalanan kereta api (KA) rute Jakarta – Bandung pp. Memang tak luput dengan nama yang melegenda satu ini. Rindu akan perjalanan menggunakan KA yang satu ini digadang-gadang tak bisa dilupakan. Ya, perjalanan menggunakan KA Parahyangan sudah tentu menjadi cerita tersendiri bahkan menjadi pengalaman yang mengasyikkan saat naik.

Singkat sejarah, KA Parahyangan pertama kali diluncurkan pada 31 Juli 1971 dengan rute Jakarta-Bandung untuk melayani kelas eksekutif dan bisnis. Kereta yang mempunyai makna sebagai daerah tinggal para dewa. Beberapa kabar dari beberapa sumber, KA Parahyangan dapat mencapai Jakarta-Bandung dalam waktu sekitar 2,5 jam. Eksistensi kereta ini berkelas K2 atau bisnis ini ditarik lokomotif favorit yang dimiliki Indonesia, yaitu BB301.

Eksistensi kereta ini dinilai memberi banyak manfaat bagi masyarakat. Moda transportasi ini cukup dipercaya, sebab adalah moda tercepat pada masa lalu yang mengaitkan kota Bandung dengan Ibu Kota Jakarta. Menjelang era 90-an, KA Parahyangan menempuh puncak kejayaannya. Transisi dari Perusahaan Jawatan Kereta Api bahkan dijalankan menuju Perumka.

Peralihan tersebut ditandai adanya penyesuaian warna kereta yang baru, seperti biru tua-biru muda untuk kereta eksekutif, biru tua-hijau untuk kereta bisnis, dan biru tua keseluruhan untuk gerbong bagasi atau pembangkit. Sementara warna lokomotif berubah dari krem hijau jadi merah.

Pada tahun 1998, KA Parahyangan pernah menempuh 39 perjalanan, termasuk perjalanan fakultatif ataupun yang cuma berjalan pada musim libur. Namun, saat penurunan okupansi penumpang yang tidak terhindarkan karena dibukanya Tol Cipularang, pada akhirnya tahun 2005 KA Parahyangan beroperasi hanya membawa dua kereta kelas eksekutif dan tiga kereta kelas bisnis dalam satu rangkaian.

Dengan berbagai usaha dan tindak lanjut dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), KA Parahyangan yang dihentikan pengoperasiannya. Saat dihentikan pengoperasian nama LA tersebut, KAI sempat menamai sebagai KA Argo Parahyangan (gabungan nama dari Argo Gede dan Parahyangan) dengan kelas eksekutif dan bisnis hingga ekonomi premium.

Memasuki tahun 2025 atau pergantian Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) di tahun yang sama, akhirnya KAI mengembalikan nama KA Argo Parahyangan kembali menjadi KA Parahyangan. Uniknya dahulu rangkaian KA Parahyangan memiliki rangkaian tersendiri. Jika rangkaian tersebut tidak dalam perjalanan, biasanya disimpan di Depo Kereta Bandung untuk pembersihan maupun pengecekan.

KA Parahyangan melintas di kawasan Purwakarta, Jawa Barat. (Foto: Dok. Istimewa)

Namun, saat ini KA Parahyangan sama sekali tidak memiliki rangkaian sendiri alias ‘rangkaian pinjam’. Rangkaian KA Parahyangan saat ini biasanya dari rangkaian yang berbeda, seperti dari rangkaian KA Pandalungan (Gambir – Jember pp.), KA Gajayana (Gambir – Malang pp.), KA Papandayam (Gambir – Garut pp.), KA Pangandaran (Gambir – Banjar pp.), KA Argo Wilis (Bandung – Surabaya Gubeng pp.), dan KA Turangga (Bandung – Surabaya Gubeng pp.).

Kini KA Parahyangan melayani kelas eksekutif, ekonomi premium, hingga kereta kelas wisata seperti Panoramic, Priority, dan Luxury. Masyarakat pun bisa memilih kelas di KA Parahyangan sesuai keinginan. Dengan perjalanan 2,5 sampai 3 jam ini dijamin penumpang yang merasakannya dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan disuguhkan dengan pemandangan khas Bumi Parahyangan.

Tarif Disubsidi, Kereta Petani dan Pedagang Bakal Beroperasi November Ini

Menghadapi Sanksi, Rusia Luncurkan Superjet 100 Versi Import-Substitution dengan Mesin PD-8

Program pesawat sipil unggulan Rusia, Sukhoi Superjet 100 (SSJ100), telah memasuki babak baru yang krusial. Dalam respons langsung terhadap sanksi Barat yang memutus rantai pasokan global, Rusia berhasil meluncurkan varian terbarunya yang hampir seluruhnya ditenagai dan didukung oleh komponen buatan dalam negeri.

Inti dari kemajuan ini adalah integrasi mesin turbofan baru, Aviadvigatel PD-8. Langkah besar ini dipimpin oleh United Aircraft Corporation (UAC), perusahaan induk kedirgantaraan Rusia. Pada akhir tahun 2025, pesawat ini telah menyelesaikan uji coba penerbangan yang ekstensif dan siap untuk memasuki produksi massal.

Pesawat hasil substitusi impor ini sering disebut SSJ-100NEW atau Superjet New, yang berhasil memastikan ketahanan sektor penerbangan sipil Rusia dari ketergantungan asing (terutama komponen AS dan Prancis) untuk pemeliharaan dan operasi armada domestik.

Komponen yang paling vital dalam proyek substitusi impor ini adalah penggantian mesin lama SaM146 (yang merupakan hasil kerja sama Rusia-Prancis) dengan mesin turbofan high-bypass buatan Rusia sendiri: PD-8.

Diproduksi United Engine Corporation (UEC), anak perusahaan Rostec, PD-8 punya keunggulan yang sepenuhnya domestik. Semua komponen, mulai dari bilah turbin hingga sistem kontrol, diproduksi di Rusia, menghilangkan risiko sanksi. PD-8 dikembangkan menggunakan teknologi dan pengalaman dari mesin PD-14 (yang lebih besar), menjanjikan efisiensi bahan bakar dan kinerja yang kompetitif di kelas regional. Mesin ini dirancang agar mudah diintegrasikan ke dalam badan pesawat SSJ100, mempercepat proses transisi produksi.

Proyek SSJ-100NEW bukan hanya tentang mesin. UAC mengklaim telah mengganti lebih dari 40 sistem dan komponen asing yang sebelumnya vital, termasuk Avionik dan Kokpit: Sistem manajemen penerbangan dan instrumen yang dikembangkan oleh Rusia, Sistem Pengereman dan Roda Pendaratan: Diganti dengan desain domestik yang baru, dan Interior Kabin: Komponen interior dan subsistem elektronik kini dipasok oleh perusahaan-perusahaan Rusia.

Keberhasilan peralihan ke SSJ-100NEW memiliki dampak strategis yang mendalam bagi Rusia: Dengan ratusan pesawat Boeing dan Airbus yang terancam dinonaktifkan karena kurangnya suku cadang Barat, SSJ-100NEW yang sepenuhnya made-in-Russia menjadi kunci untuk menjaga konektivitas regional dan domestik di negara tersebut.

Proyek ini membuktikan kemampuan Rusia untuk mengembangkan dan memproduksi sistem kedirgantaraan yang kompleks secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan global.

UAC dan pemerintah Rusia memiliki target ambisius untuk memproduksi puluhan unit SSJ-100NEW setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan dari maskapai penerbangan domestik seperti Aeroflot dan Rossiya.

Langkah ini menunjukkan bahwa sanksi Barat, alih-alih melumpuhkan industri, justru mempercepat upaya Rusia untuk mencapai kemandirian industri penuh. Superjet 100, yang awalnya merupakan upaya kerja sama global, kini sepenuhnya menjadi ikon teknologi dan ketahanan Rusia.

Superjet SJ-100 Terbang Perdana, Pesawat Komersial Pertama Rusia dengan Komponen Full Produksi Dalam Negeri

S

Era Baru Logistik Eurasia: Kereta Kargo Rusia-Iran Beroperasi Penuh Melalui Koridor INSTC

Hubungan ekonomi antara Rusia dan Iran memasuki fase baru yang krusial. Pada 8 November 2025, layanan kereta api kargo terjadwal pertama dari Rusia tiba di Pelabuhan Kering Aprin, dekat Tehran, Iran. Momen ini bukan sekadar pengiriman kargo, melainkan pengaktifan penuh Koridor Transportasi Utara-Selatan Internasional (International North-South Transport Corridor – INSTC), yang memiliki implikasi besar bagi industri dan ekonomi kedua negara serta geopolitik global.

Kereta kargo ini memulai perjalanannya dari wilayah utara Moskow. Setelah menempuh perjalanan melintasi Asia Tengah, kereta yang membawa 62 kontainer 40-kaki akhirnya tiba di Iran pada pagi hari Sabtu, 8 November 2025.

Kedatangan kereta di Pelabuhan Kering Aprin (yang berdekatan dengan Tehran) menandai keberhasilan operasional rute INSTC bagian timur (cabang Timur). Total jarak tempuh diperkirakan sekitar 3.800 hingga 4.200 kilometer, bergantung pada titik awal pasti di Rusia.

Rute yang diambil adalah Rusia (Moskow), Kazakhstan (Transit Asia Tengah), Turkmenistan (Transit Asia Tengah) Iran (Incheh-Boroun) – Masuk melalui perbatasan di Provinsi Golestan, Iran, dan tujuan akhir Pelabuhan Kering Aprin (dekat Tehran).

Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 12 hari, jauh lebih cepat dibandingkan rute maritim tradisional melalui Terusan Suez, yang dapat memakan waktu hingga 45-60 hari.

Karena INSTC melibatkan beberapa negara dan perbedaan sistem rel kereta api (Rusia dan sebagian besar negara CIS menggunakan gauge yang lebih lebar daripada Iran), logistiknya memerlukan koordinasi ketat, seperti kereta api ini menggunakan lokomotif yang berbeda di setiap segmen rutenya, terutama saat terjadi transfer di perbatasan untuk berganti operator dan menyesuaikan dengan perbedaan lebar rel (gauge change).

Operator utama dalam jaringan ini adalah Russian Railways (RZD) di pihak Rusia dan Islamic Republic of Iran Railways (RAI) di pihak Iran.

Kereta membawa kargo utama berupa komoditas industri seperti kertas, bubur kertas (pulp), dan produk kayu yang ditujukan untuk pasar Iran dan Irak. Kapasitas 62 kontainer ini menunjukkan kemampuan untuk mengangkut volume perdagangan yang substansial secara efisien.

Layanan kereta api reguler ini memberikan manfaat transformasional bagi industri dan ekonomi kedua negara. Untuk Rusia yaitu menembus sanksi dan diversifikasi. INSTC menyediakan jalur darat dan laut yang aman dan efisien untuk berdagang dengan Asia Selatan dan Timur Tengah, mengabaikan blokade dan sanksi yang dikenakan Barat melalui jalur Eropa.

Sementara Iran memposisikan dirinya sebagai pusat logistik utama (transit hub). Setiap kereta yang melewati wilayahnya menghasilkan pendapatan transit yang signifikan. Proyek ini mendorong investasi dan modernisasi infrastruktur kereta api di Iran, termasuk penyelesaian proyek yang hilang dalam rantai INSTC.

Pelabuhan Kering Aprin, yang menerima kereta ini, akan menjadi titik distribusi yang vital, mempercepat transfer barang impor dan ekspor Iran sendiri. Singkatnya, peluncuran layanan kereta kargo reguler ini adalah kemenangan besar bagi inisiatif INSTC, menandai pergeseran kekuatan logistik dari Barat ke poros Utara-Selatan dan memastikan ketahanan ekonomi Rusia dan Iran di tengah tekanan global.

Elektrifikasi Jalur Kereta ke Iran, Mayoritas Pendanaan Dikucurkan Rusia

Pecinta Kereta Api Abadikan Momen Kirim Rangkaian KRL ‘Legend’ rute Depok – Jakarta Kota

Pemandangan Minggu (9/11) pagi di Stasiun Depok memang tak seperti biasanya. Peron yang biasa dipenuhi penumpang yang ingin berjalan-jalan naik Kereta Rel Listrik (KRL), sempat diramaikan oleh masyarakat pecinta kereta api khususnya KRL. Ya, mereka sedang mengabadikan momen yang tak terlupakan saat rangkaian KRL masuk di Stasiun Depok.

KRL ini digadang-gadang akan berakhir masa operasinya di jalur Jabodetabek. KRL jenis ini berasal dari Negeri Sakura (Jepang) dengan seri Tokkyuu 8500. KRL dengan julukan yang bertuliskan ‘Jalita’ ini telah menarik perhatian segelintir pecinta kereta api yang tak mau ketinggalan momen tersebut.

KRL Jalita memasuki Stasiun Depok.

Ya, diketahui KRL Jalita pernah menjadi pameran 100 tahun operasional KRL di Stasiun Jakarta Kota dengan beberapa seri lainnya. KRL Jalita sangat ikonik saat perusahaan sebelum Kereta Commuter Indonesia (KCI) terbentuk melayani lintas Jakarta – Bogor pp. Namun sempat melayani rute lainnya di jalir Jabodetabek.

KRL seri 8500 tersebut dikirim dari Depo KRL Depok pada pukul 09.00 WIB menuju Stasiun Jakarta Kota via Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Kampung Bandan. Saat rangkaian memasuki jalur 3 Stasiun Depok, tentu antusiasme masyarakat yang memiliki hobi unik ini pasang badan dan arahkan kamera ke rangkaian KRL.

Saat diabadikan, terlihat ada stiker mirip plakat yang menjadi titik fokus pengabadian KRL Jalita teraebut. Terlihat tulisan “Arigato 8500” yang di terjemahkan dari bahasa Jepang artinya “Terima Kasih 8500” ini bahwa digadang-gadang KRL tersebut sudah habis masa dinasnya.

Fyi, jika melihat dari berbagai media sosial di Jepang, kereta api yang mengalami selesainya masa beroperasi biasanya melakukan perjalanan terakhir dengan tulisan “Arigato”. Ternyata di wilayah Jabodetabek khususnya DKI Jakarta akan melakukan hal yang sama.

Menurut informasi dari berbagai sumber, akan dilakukan acara khusus oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) maupun KCI. Acara yang nantinya diselenggarakan pada Selasa, 11 November 2025 tersebut turut mengundang jajaraan PT KAI maupun KCI serta komunitas kereta api untuk melepas masa berhenti pengoperasian KRL tersebut.

Infornasi tambahan bahwa tak hanya KRL seri 8500 saja yang akan berhenti masa operasinya, namun ada 2 seri lainnya yang memiliki nasib yang sama. KRL tersebut memilki seri JR 203 dan TM 7023. Ketiga KRL ini rencana akan ditempatkan di jalur kereta api di Stasiun Jakarta Kota.

Nantinya berbagai acara yang akan diselenggarakan di Stasiun Jakarta cukup meriah dan mengenang masa kejayaan ketiga KRL tersebut. Mengingat KRL ini sudah belasan tahun lebih menjajaki jalur kereta di Jabodetabek dan mengantar masyarakat ke berbagai daerah di kawasan Jabodetabek.

Inovasi Baru, Ternyata Ini Alasan KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang