Hadirkan Aksi Baku Tembak, Facebook Minta Maaf Atas Promosi Game VR “Bullet Train”

Video game Bullet Train (arstechnica.com)

Facebook belum lama ini menyatakan meminta maaf karena telah menunjukkan demo sebuah permainan baku tembak untuk perangkat Oculus Rift di Konferensi Aksi Politik Konservatif. Demo dari game VR (Virtual Reality) berjudul Bullet Train (kereta peluru) ini dinilai beberapa pihak kurang pantas untuk menjadi bahan konsumsi publik, terlebih lagi di kala Amerika Serikat sedang dirundung situasi duka akibat peristiwa penembakan sekolah di Florida belum lama ini.

Baca juga: Indonesian Train Simulator, Rasakan Sensasi Menjadi Masinis Kereta Indonesia

Dalam sebuah pernyataan resmi, VP Facebook divisi VR, Hugo Barra meminta maaf dan mengatakan pihaknya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun. “Mengingat peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Florida, kami memutuskan untuk menyingkirkan demo ini demi menghormati korban dan keluarga mereka,” tulis Barra melalui akun Twitter pribadinya. Dalam tweet lainnya juga menuliskan pesan yang sama. Barra menambahkan dengan jelas “Kami menganggap ini keliru.”

Industri game sering berjuang secara internal untuk memasarkan dan menampilkan video game kekerasan menyusul penembakan massal di dunia nyata. Setelah adanya penembakan klub malam Pulse tahun 2016 lalu, presiden Asosiasi Perangkat Lunak Hiburan, Mike Gallagher mengatakan kepada Ars bahwa penerbit di Electronic Entertainment Expo telah mengambil langkah untuk bersikap peka terhadap suasana hati nasional saat ini dan jenis-jenis itu.

Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

Namun,perbandingan internasional untuk pengeluaran per kapita pada permainan kekerasan dan pembunuhan terkait senjata menunjukkan korelasi negatif antara keduanya. Dimana analisis meta tentang studi kekerasan video game tidak menemukan kaitan nyata antara kekerasan layar khayal dan perilaku agresif yang sebenarnya. Studi longitudinal jangka panjang terhadap anak-anak dari tahun 90-an hanya menunjukkan peningkatan kecil dalam masalah perilaku bagi anak-anak yang bermain video game kekerasan. Namun penelitian lain menunjukkan bahwa pemain video game kekerasan benar-benar menjadi tidak peka terhadap kekerasan, setidaknya dalam jangka pendek.