42 Tahun Mati Suri, Stasiun Bringin Jadi Sarang Burung Walet

Stasiun Bringin(Jejak Kolonial)

Mungkin stasiun ini tak setenar Tawang, Ambarawa atau Tugu, stasiun yang berada di daerah terkucil ini seperti hilang dari peradaban. Nama yang disandangnya pun tak lagi sekokoh perawakannya. Stasiun kecil bernama Bringin ini sekarang sudah tidak aktif dan terletak di Desa Bringin, Semarang.

Baca juga: Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bendono Punya Segudang Cerita

Jika pertama kali melihat bangunan stasiun ini Anda akan mengatakan lebih cocok sebagai latar film horor. Sebab sejak tak lagi berfungsinya stasiun bringin bangunan berubah menjadi sarang walet. Tapi entah siapa yang mengubah bangunan stasiun dan rumah dinas kepala stasiun menjadi sarang walet.

Bangunan stasiun Bringin dan rumah dinas kepala stasiun yang berubang menjadi sarang walet (Jejak Kolonial)

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa kayu kusen daun pintu dan jendela stasiun ini pun raib entah kemana. Bagian jendela, pintu dan loket ditutup dengan tembok baru seolah menghilangkan keaslian dari stasiun. Padahal bangunan asli stasiun Bringin terbuat dari kayu jati dan papan nama stasiun Bringin sendiri juga sudah hilang entah kemana.

Terlepas dari itu semua, pada masa jayanya stasiun yang berada dekat dengan pasar Bringin merupakan stasiun yang ramai. Selain itu fungsi dibangunnya stasiun ini juga untuk memperlancar usaha perkebunan pada masa pemerintahan kolonial Belanda masa itu yakni kopi, teh, tembakau dan lainnya.

Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur Kedungjati-Ambarawa dan mulai beroperasi sejak 21 Mei 1873 dibawah operasional Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM). Dulu, stasiun ini juga ikut mengembangkan wilayah Bringin dan sekitarnya meski berada di wilayah terpencil karena lokasi yang cukup jauh dari jalan utama antarkota.

Stasiun Bringin sendiri memiliki arsitektur bangunan yang agak mirip dengan stasiun Tuntang yang juga berada di jalur Kedungjati-Ambarawa. Hanya ada beberapa perbedaan pada detai bangunan dimana atap stasiun Tuntang berbentuk pelana sedangkan Bringin berbentuk perisai.

Awal abad ke 20, stasiun ini di pugar oleh NIS yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan penumpang. Kini, meski kondisi bangunan rusak bentuk stasiun Bringin masih sedikit terlihat bentuknya dengan dua beranda, salah satunya bagian depan untuk membeli tiket dan belakang untuk peron dan ruang tunggu penumpang.

Alkmaar atau alat pengatur sinyal (WordPress)

Tiang kayu untuk menyanggah atap peron masih terlihat antik, lantai tegel khas stasiun kolonial Belanda masih membekas dan sebuah alat pengatur sinyal Alkamaar masih ada meski berkarat. Sayang sejak robohnya jembatan kereta api yang menghubungkan Kedungjati-Ambarawa, stasiun dan jalur ini kemudian ditutup tahun 1976.

Baca juga: Stasiun Gondanglegi, Dari Jalur Trem Hingga Rumah Kapling

Saat ini 42 tahun sudah stasiun Bringin mati suri, dan hampir sama dengan stasiun yang berada di jalur Kedungjati-Ambarawa menanti rencana pengoperasian kembali. Namun entah kapan realisasi perjalanan kereta ini akan kembali beroperasi.