Stasiun Gondanglegi, Dari Jalur Trem Hingga Rumah Kapling

Stasiun Gondanglegi saat masih beroperasi (Wikimapia.org)

Stasiun kereta api di pulau Jawa begitu banyak bahkan sebagian kecilnya sudah tidak digunakan atau sudah beralih fungsi. Beberapa yang diketahui banyak yang beralih fungsi menjadi museum, rumah makan, cagar budaya hingga lobi hotel.

Baca juga: Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang

Tetapi kali ini KabarPenumpang.com mendapatkan bahwa ada sebuah stasiun kereta api di di daerah Malang yang menjadi tempat tinggal. Stasiun tersebut adalah Gondanglegi yang memiliki kode GDL dan statusnya kini non aktif.

Saat ini stasiun Gondanglegi dengan ukuran 165 meter persegi sudah terkapling menjadi tempat tinggal beberapa keluarga. Selain itu, di depan stasiun ini sudah tak lagi ditemukan lintasan keretanya alias raib karena sudah berdiri kapling-kapling rumah.

Stasiun Gondanglegi berubah jadi rumah kapling (Kekunan)

Padahal kaling-kapling tersebut berada di atas aset milik PT Kereta Api Indonesia. Stasiun Gondanglegi sendiri berada di Gondanglegi Wetan, Gondanglegi, Malang. Berada di ketinggian +350 meter di atas permukaan laut, stasiun ini dibangun tahun 1898 oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM).

Ini adalah perusahaan yang beroperasi di daerah Malang dan sekitarnya. Stasiun ini sendiri saat masih aktif merupakan jalur kereta api dari Malang menuju Dampit. Stasiun ini kerap kali disebut sebagai stasiun Trem MSM Gondanglegi karena sempat mengoperasikan trem dengan lokomotif dengan bahan bakar kayu.

Awalnya stasiun ini dibangun untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di daerah Gondanglegi dan dikirim ke pabrik gula. Pada pertama kali dibangun stasiun ini juga hanya memiliki dua jalur, tetapi setelah jalur Gondanglegi-Talok-Dampit dan Gondanglegi-Kepajen maka bertambah menjadi lima jalur dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus.

Jalur 1 digunakan untuk persusulan atau persilangan trem dan jalur 4 serta 5 digunakan alur istirahat rangkaian trem dan pengangkut kayu bakar. Saat masih beroperasi, tahun 1973, jadwal trem dari Gondanglegi menuju Dampit atau sebaliknya ada dua kali perjalanan.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Tarif tiketnya pun hanya lima grepes atau Rp5. Sayangnya pada masa penjajahan Jepang pada 1942 jalur kereta Gondanglegi-Kepanjen dibongkar ntuk transportasi di Manchuria, karena saat itu Jepang sedang berperang dengan Cina di Manchuria. Untungnya jalur kereta api Malang Kotalama-Dampit masih bisa bertahan hingga 1978.

Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak moda transportasi sehingga jalur kereta ini terlupakan dan masyarakat memilih menggunakan transportasi yang lebih cepat. Jalur kereta ini tutup selain berkurangnya penumpang juga dikarenakan PJKA atau PT KAI saat ini merugi