Jalur Kereta Lampung-Palembang, Sinergikan Lintasan Penumpang dan Batubara

Stasiun Kertapati di Lampung

Meski tak seriuh jalur kereta di Pulau Jawa, jalur kereta di Pulau Sumatera, khususnya jalur kereta Lampung menuju Palembang masih menunjukan denyut pelayanannya di tangan PT KAI, sebagai buktinya adalah tersedianya layanan KA Sriwijaya dan KA Rajabasa. Menengok dari sejarahnya, jalur kereta Lampung menuju Palembang bermula dengan tujuan mengangkut batubara sebelum mengangkut penumpang.

Baca juga: Stasiun Palmerah, Dulu Bernama Paal Merah yang Berarti Patok Merah

Stasiun kereta api di Lampung hingga Palembang ini masuk dalam Divisi Regional III Palembang, dulunya Divre III Lampung-Palembang. Jalur kereta ini menghubungkan stasiun Prabumulih di Bandar Lampung dan Kertapati di Palembang. Namun kini, kereta yang melalui jalur ini juga mengangkut penumpang tujuan Kertapati-Lubuklinggau dan Kertapati-Tanjungkarang. Jalur Lampung-Palembang ini sendiri diresmikan pada tanggal 1 November 1915 oleh Staatsspoorwegen op Zuid-Sumatra (ZSS).

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, mendapatkan bahwa setelah resmi, jalur ini kemudian pembangunannya diarahkan ke kota Palembang dan dibagi menjadi dua wilayah kerja yakni Lampung dan Palembang. Pada 22 Februari 1927, kedua kota ini kemudian akhirnya terhubung dengan ditandainya peresmian segmen ke arah Blambangan Umpu oleh kepala Jawatan Staatsspoorwegen (SS).

Diketahui, ZSS berhasil membangun jalur kereta api rute Lampung-Palembang sejauh 529 km dengan menggunakan lebar rel 1.067 mm. Kesuksesan ini kemudian menginspirasi SS menyusun masterplan untuk menghubungkan seluruh Sumatera dengan kereta api.

Sayangnya hal ini tak jadi dilakukan karena pada akhir tahun 1920-an, SS bangkrut akibat resesi setelah Perang Dunia I. Tak hanya mengenai sejarahnya, pada jalur ini ada cerita dimana kereta Lampung-Palembang, yakni kereta pengangkut batubara bertabrakan dengan kereta Limex Sriwijaya di kilometer 18 kelurahan Labuhanratu, Kedaton, Bandar Lampung. Kecelakaan tersebut terjadi pada 16 Agustus 2008 lalu dan menewaskan setidaknya delapan orang.

Hingga kini, jalur Lampung-Palembang masih dimanfaatkan juga untuk transportasi batubara dan kereta barang. Kereta batubara rangkaian panjang, populer disebut dengan istilah Babaranjang.

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Pembuatan jalur kereta Lampung-Palembang ini hanya sampai di Kertapati dikarenakan berada tepat di pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Sehingga ada kemungkinan Belanda sulit membuat jembatan melintasi Sungai Musi dari Kertapati menuju Palembang Kota.

Stasiun Kertapati sendiri merupakan stasiun kelas besar yang terletak di Kemas Rindo, Kertapati, Palembang. Berada di ketinggian +2 meter di atas permukaan laut dan merupakan salah satu dari dua stasiun di ujung Sumatera Selatan.