Friday, September 4, 2026
HomeAnalisa AngkutanDikenal Sebagai Stasiun Sangkrah, Bangunan Ini Menjadi Sejarah Penting di Kota Bengawan

Dikenal Sebagai Stasiun Sangkrah, Bangunan Ini Menjadi Sejarah Penting di Kota Bengawan

Jika bepergian dengan kereta api tentu dapat menemukan berbagai hal keunikan dari beebagai bangunan stasiun yang unik. Hanya dengan melihatnya saja, masyarakat tentu sudab bisa menebak bahwa sejarah panjang di dunia perkeretaapian sudah sangat melegenda bahkan tercatat sebagai sejatah yang panjanh. Apalagi banyak bangunan yang sudah merupakan warisan cagar budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Seperti halnya bangunan stasiun yang berada di kawasan Solo, Jawa Tengah. Masih terdapat bangunan stasiun kereta api yang tentunya peninggalan kolonial Belanda yang hingga kini masih dioperasikan bahkan masih berdiri kokoh. Namun, ada pula beberapa stasiun yang memang menyimpan sejarah yang begitu besar.

Kabarpenumpang akan mengajak kalian berkunjung ke salah satu stasiun yang berada di jalur Wonogiri. Ya, Stasiun Solo Kota merupakan stasiun yang bersejarah dibangun perusahaan kereta api swasta di zaman Pemerintah Hindia Belanda. Meskipun terlihat kecil, namun stasiun yang didirikan tahun 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini terawat. Bangunan dengan arsitektur khas klasik ini memiliki teras masuk dengan gerbang tembok yang sangat tebal.

Stasiun Solo Kota atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Stasiun Sangkrah memiliki perjalanan sejarah yang tidak kalah menarik. Berbeda dengan stasiun lain di Solo yang lebih dulu berdiri, Stasiun Sangkrah dibangun untuk memperkuat jaringan kereta menuju wilayah selatan, terutama Sukoharjo hingga Wonogiri.

Menurut sejarah, nama “Solo Kota” disematkan karena pada masa itu letaknya menjadi yang paling dekat dengan pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, Keraton Kasunanan, serta kawasan perdagangan. Kedekatan tersebut membuat stasiun ini menjadi pintu masuk penting bagi masyarakat maupun pedagang yang datang ke pusat Kota Solo. Meski ukurannya relatif kecil, Stasiun Sangkrah pernah memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat.

Jalur yang dilayaninya menjadi penghubung Solo dengan daerah-daerah di selatan, sehingga memudahkan pengangkutan penumpang maupun hasil pertanian dan perdagangan dari wilayah Sukoharjo serta Wonogiri menuju Kota Solo. Seiring berkembangnya transportasi jalan raya, aktivitas di Stasiun Sangkrah sempat mengalami penurunan. Namun, stasiun ini tidak ditinggalkan begitu saja.

Kini Stasiun Sangkrah masih aktif melayani KA Batara Kresna relasi Purwosari–Wonogiri serta menjadi titik pemberhentian Kereta Wisata Sepur Kluthuk Jaladara, kereta uap wisata yang melintasi Jalan Slamet Riyadi dan menjadi salah satu ikon wisata Kota Solo.

Bangunan stasiun hingga kini masih mempertahankan nuansa arsitektur kolonial Belanda. Keaslian bentuk bangunannya menjadikan Stasiun Sangkrah sebagai salah satu bangunan heritage perkeretaapian di Solo yang tetap terjaga. Hingga banyak pecinta sejarah dan fotografi datang untuk mengabadikan suasana klasik yang masih terasa di stasiun ini.

Selain itu, stasiun ini juga terdapat Pasar Sangkrah, yang sejak dahulu dikenal sebagai kawasan perdagangan. Karena pada masa kolonial, kawasan ini menjadi pusat distribusi berbagai produk, termasuk minuman lokal dan Eropa. Kedekatan stasiun dengan pasar membuat aktivitas ekonomi di kawasan tersebut berkembang pesat pada masanya.

Bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad ini menjadi pengingat bahwa perkembangan transportasi kereta api di Solo tidak hanya bertumpu pada stasiun-stasiun besar, tetapi juga pada stasiun kecil yang memiliki peran penting dalam menghubungkan masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian. Meski tidak seramai stasiun besar lainnya di Solo, Stasiun Sangkrah tetap menjadi bagian penting dari sejarah perkeretaapian Kota Bengawan.

Ini Dia Alasan Kenapa Singkatan Stasiun Solo Jebres Adalah “SK” Bukan “SJ”

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru