Stasiun Palmerah, Dulu Bernama Paal Merah yang Berarti Patok Merah

Stasiun Palmerah masa kini

Siapa yang tak kenal dengan stasiun Palmerah yang terletak setelah stasiun Tanah Abang dan menjadi jalur kereta komuter (KRL) tujuan Rangkas Bitung. Stasiun ini berada di ketinggian +13 meter, masuk dalam Daerah Operasionl I dan hanya melayani KRL Jabodetabek saja.

Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Dulu, stasiun ini memiliki empat jalur kereta api, namun kini hanya tersisa dua jalur. Penasaran dari mana nama Palmerah? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa nama Palmerah sendiri awalnya dari patok-patok berwarna merah yang terletak di pinggir jalan wilayah tersebut dan masyrakat menyebutnya Paal Merah.

Namun kini patok-patok tersebut sudah berubah warna menjadi hitam dan putih. Patok-patok itu sebenarnya berfungsi sebagai penanda batas wilayah Batavia ke arah Bogor. Jalanan berpatok merah ini dulunya sering dilewati oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketika hendak mengendarai kereta kuda dari Batavia menuju Istana Bogor.

Stasiun Palmerah sendiri mulai beroperasi pada 1899, konon pembukaan jalur kereta api ini adalah pengembangan dari trem uap dari Batavia menuju Tangerang dengan cabang dari Djembatan Doewa (Jembatan Dua) menuju Paal Merah. Jalur trem uap yang menuju Palmerah melewati beberapa halte yakni Gang Chaulan, halte Djati Lama, halte Pekembangan, dan halte akhir Palmerah.

Stasiun Palmerah sebelum direnovasi

Jarak titik awal trem hingga berakhir di Palmerah sepanjang 8,49 km. Dibukanya jalur trem uap Palmerah menjadikan terhubungnya arus transportasi dari tengah kota Batavia menuju pinggiran kota di Kebayoran. Pada akhir abad ke 19, kondisi lalu lintas di pusat kota Batavia menuju Palmerah sangat ramai oleh para pelancong yang hilir mudik silih berganti.

Mereka melalui jalur ini untuk berbagai kepentingan, salah satunya seperti berdagang. Karena semakin berkembangnya wilayah tersebut, maka untuk melayani kebutuhan transportasi di jalur Batavia-Kebayoran pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Besluit No.4 tanggal 24 Januari 1891 yang memberikan konsesi pembangunan dan pengoperasian trem uap di Residen Batavia dengan ketentuan trem digunakan untuk mengangkut orang dan barang.

Lebar kereta trem tersebut 1.067 mili meter dan pemerintah memberi jaminan modal sebesar 15.000 gulden. Ini merupakan salah satu jalur kereta api yang beroperasi pada awal abad ke 20 dan masih digunakan hingga sekarang.

Baca juga: Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

Dulu, sebelum mengoperasikan KRL selain trem, jalur ini juga menjadi jalur kereta ekonomi lokal tujuan Rangkas Bitung. Tahun 1992, KRL Serpong Ekspress juga melintas melalui jalur ini dan menjadi cikal bakal dari KRL Green Line.

Kemudian tahun 2013-2014 stasiun ini mulai direnovasi menjadi lebih baik dan ditingkat dua. Sehingga pada 6 Juli 2015 lalu, stasiun ini resmi digunakan kembali dengan fasilitas yang lebih modern, seperti eskalator dan juga kini ada perencanaan pembangunan TOD di sekitaran stasiun Palmerah.