Kereta Desain Lama Masih Punya “Kursi Mini,” Penumpang Tak Ada Ruang Kaki, Ini Kata PT KAI

Seorang penumpang yang tengah naik kereta api kelas bisnis Gumarang bersama temannya harus menelan kekecewaan. Pasalnya kursi yang mereka duduki sangatlah tidak nyaman karena tanpa space atau ruang kaki. Bahkan tidak ada juga soket listrik seperti kursi pada umumnya.

Baca juga: Hadirkan Empat Kereta Baru, KAI Berlakukan Gapeka 2019

Hal ini baru saja dirasakan seorang penumpang bernama Elisabeth Glory pada 11 Oktober lalu yang duduk di bangku 16A dan 16B KA Gumarang. Selain tak dapat space kaki, kursi mereka pun langsung berhadapan dengan tembok dan kalaupun memutar ke sisi berlawanan konsekuensinya harus berhadapan langsung dengan penumpang lain.

Glory yang menuliskan di akun Twitter-nya mengaku bahwa ketika membeli tiket tidak ada informasi yang jelas terkait kursi mereka. Sehingga pada keberangkatan mereka bisa dikatakan mendapatkan kursi mini yang seharusnya tidak ada lagi di kereta baru.

Nah, terkait hal ini KabarPenumpang.com langsung menghubungi Senior Manager Humas Daop 1 PT KAI Eva Cahirunisa. Eva mengatakan, terkait kondisi ruang gerak yang dilaporkan pengguna terlalu sempit tersebut menjadi evaluasi pihak KAI.

Dia mengatakan, kereta tersebut merupakan desain lama yang kini pun bertahap dalam penggantian dengan desain baru. Pihaknya pun akan mengupayakan agar penumpang yang menggunakan desain lama tak lagi mendapat kursi mini seperti yang dirasakan Glory.

“Kami tidak memberikan kompensasi tetapi memberikan harga yang lebih rendah dan memang rencana akan di close saja,” ujar Eva kepada KabarPenumpang.com, Rabu (13/11/2019).

Eva menambahkan, pihaknya tengah melakukan peremajaan kereta dengan desain lebih baik dan sudah mulai dioperasikan untuk seluruh relasi yang ada. Terkait fasilitas yang dipermasalahkan penumpang, dia menjelaskan bahwa fasilitas umum yang ada pada kereta memang tidak tercantum pada tiket.

“Kami sampaikan fasilitas untuk power supply tersedia pada seluruh area tempat duduk di semua kelas, namun memang karena kereta tersebut merupakan kereta dengan design lama, hanya pada seat 16 B dan 16 A saja yang tidak terdapat power supply secara langsung diarea kursi dengan posisi menghadap tembok langsung. Untuk seat lainnya pada kereta tersebut tersedia power supply,” jelasnya.

Baca juga: Serba-Serbi Pilih Kursi ‘Panas’ di Kereta Ekonomi Premium

Eva menegaskan, bila terjadi hal serupa, penumpang bisa meminta bantuan pada petugas atau kondektur yang bertugas. Seluruh petugas yang ada di dalam kereta sangat terbuka untuk membantu kebutuhan para pengguna, sehingga jika memerlukan informasi atau bantuan para pengguna dapat secara proaktif bertanya ke petugas bisa menyampaikan secara langsung atau menghubungi nomor HP Kondektur yg tertera di dinding kereta.

Selain dapat lebih proaktif di kereta, pelancong pun disarankan untuk membeli tiket dari jauh-jauh hari demi mengantisipasi. Namun bila terkait masalah kelas bisnis dan kursi mini

Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong

Setelah pada akhir Maret kemarin situasi di Hong Kong sempat memanas akibat rencana pemerintah untuk memberlakukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi, kini situasi di sana dikabarkan masih ada ketegangan yang diakibatkan oleh ribuan orang yang menolak kehadiran dari RUU tersebut – walaupun beberapa media mengabarkan sudah ada indikasi bahwa Hong Kong sudah mulai mengalami pemulihan. Sebagai dampak dari kerusuhan masif tersebut, sejumlah maskapai dari berbagai wilayah mengaku mengalami penurunan permintaan penerbangan.

Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/11), sebut saja maskapai papan atas Singapore Airlines yang kabarnya mengalami penurunan jumlah penumpang menuju Hong Kong. Menurut pihak perusahaan, permintaan tiket untuk penerbangan tersebut masih tergolong sangat rendah – sayangnya mereka enggan membocorkan angka terkait penurunan minat penumpang untuk terbang ke negara yang menjadi bagian dari Tiongkok itu.

CEO dari Singapore Airlines, Goh Choon Phong mengatakan bahwa ‘rasa tidak enak’ sebagai dampak dari kerusuhan Hong Kong diharapkan tidak semakin memburuk, “meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa permintaan perjalanan dari Hong Kong kini tengah dalam upaya pemulihan, namun kini kondisinya sudah mulai stabil,”

Di sisi lain, nasib yang dialami oleh The Flying Kangaroo Qantas terbilang lebih nestapa ketimbang Singapore Airlines – mengingat tersiar kabar yang menyebutkan bahwa pihak Qantas mengalami kerugian hingga melebihi angka US$17 juta. Pada akhir bulan Oktober saja, pihak Qantas membukukan kerugian hingga mencapai angka US$25 juta.

Konflik yang terjadi antara pengunjuk rasa dan pemerintah Cina telah membuat pemelahan dari sektor pariwisata dan juga berdampak pada pelemahan ekonomi. Menurut laman Forbes, jumlah pelancong yang bertandang ke Hong Kong mengalami penurunan hingga 40% dibandingkan dengan tahun lalu – sedangkan untuk pemesanan tiket penerbangan juga mengalami pelemahan sebesar 10%.

Baca Juga: Dampak Kerusuhan RUU Ekstradisi, Bandara Hong Kong Batalkan Lebih dari 200 Penerbangan

Jika ditanya maskapai mana yang paling terdampak dari kerusuhan ini, maka jawabannya adalah flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific. Dimana jika dibandingkan dengan tahun lalu di rentang waktu yang sama, maskapai ini mengalami penurunan 7,2% dari segi load factor dan turun 38% dari segi lalu lintas penumpang masuk (inbound passenger traffic).

Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Guna mengurangi emisi karbon, di DKI Jakarta sejak beberapa saat lalu telah dioperasikan bus listrik secara terbatas. Tapi bus listrik  yang dioperasikan TransJakarta wujudnya tak beda dengan bus konvensional, lantaran mengusung jenis electric buses yang membutuhkan proses charging lama alias isi ulang di depo.

Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas

Namun, di sebagian negara Eropa model bus listrik ada yang sedikit berbeda, mirip dengan KRL (Kereta Rel Listrik), dikenal bus listrik yang beroperasi menggunakan pantograf. Seperti saat kunjungan tim KabarPenumpang.com di Oslo dan Munich beberapa saat lalu, terlihat model bus listrik dengan pantograf telah mengular di beberapa rute.

Sumber: venturebeat.com

 

Terkait dengan bus listrik dengan model pantograf, dinilai punya beberapa keunggulan, seperti proses pengisian atau charging listrik dilakukan sembari bus berlajan, sehingga efektif dari sisi operasional. Sebagai perbandingan, bila dengan model bus listrik berbaterai, maka harus berhenti menunggu penuh dan tidak bisa beroperasi dan mengangkut penumpang saat proses charging.

Baca juga: City of Bryan Siap Rilis Moda Otonom Bertenaga Listrik Pada Pertengahan Oktober Mendatang!

Pantograf Tanpa Kabel LAA
Model bus listrik berpantograf awalnya dikembangkan dengan terhubung ke kabel LAA (Listrik Aliran Atas). Namun itu sudah terbilang kuno, lantaran dianggap punya investasi besar. Umumnya model ini populer di kawasan Eropa Timur.

Bila merujuk yang diterapkan di Jerman dan Norwegia, bus listrik berpantograf tidak membutuhkan kabel LAA di sepanjang lintasan. Pantograf hanya difungsikan (diaktifkan) saat bus kembali ke depo atau berhenti di shelter (halte), yaitu pada proses menaikan dan menurunkan penumpang, bus melakukan isi ulang listrik. Model pantograf seperti ini jadi tidak membutuhkan investasi yang besar. Model bus ini membutuhkan kapasitas baterai yang tidak terlalu besar.

Pada dasarnya bus listrik terdiri dari dua kategori, yakni otonom dan non otonom, dimana bus otonom menyimpan energi di dalam kendaraan, sementara bus non otonom menjaga pasokan energi listrik terus menerus dari luar kendaraan.

Nah, melihat pada model yang ada di Oslo dan Munich, rasanya ideal bila bus listrik dengan pantograf hadir di Jakarta. Dengan teknologi ini, kami berharap laju operasional bus listrik dapat lebih efektif dan efisien.

 

Ada “Investigator Ridge” di Layar IFE Etihad, Apakah Itu?

Dalam lawatan tim KabarPenumpang.com beberapa waktu yang lalu ke Jerman, terdapat satu pemandangan yang sedikit mengganjal di hati. Bukan di destinasi tujuan, melainkan dalam perjalanan menuju titik transit Abu Dhabi sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jerman. Menggunakan pesawat Boeing 787-900 Dreamliner milik maskapai asal Uni Emirat Arab, Etihad, terlihat ada “Investigator Ridge” terpampang di menu maps pada layar In-Flight Entertainment (IFE) E-Box.

Baca Juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!

Tampilan layar maps umumnya menyajikan ikon kota-kota yang tengah dilewati atau akan dituju dalam sebuah rute penerbangan. Namun adanya label Investigator Ridge pada sisi sisi barat laut Pulau Sumatera menjadi tanda tanya tersendiri. Yang terbesik pertama adalah itu merupakan jalur atau rute hilangnya pesawat Boeing 777-200 Malaysia Airlines MH370.

Investigator Ridge sedikit banyaknya mengusik hati kecil dari siapa pun yang mengamati perkembangan sektor aviasi global dari hari ke hari. Mencoba menelaah dari beragam literasi, ternyara Investigator Ridge merupakan punggung bukit bawah laut yang berada di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Lalu, mengapa Investigator Ridge ini bisa mengusik siapa pun yang mengikuti berita seputar aviasi?

Ya, karena salah satu misteri terbesar di jagad aviasi, hilangnya Malaysian Airlines MH370, diperkirakan hilang kontak ketika pesawat berada di area Investigator Ridge tersebut. Jika di lihat di peta, Investigator Ridge ini berada bersebelahan dengan Ninetyeast Ridge (90E Ridge atau 90 ° E Ridge). Secara kasat mata, Anda semua tidak akan bisa melihat punggung bukit ini, baik Investigator maupun Ninetyeast Ridge – bahkan ketika Anda berada di permukaan laut sekalipun.

Baca Juga: (Lagi) Hipotesa Baru Misteri MH370: Pesawat Diduga Kehilangan Tekanan Kabin

Sayangnya, tidak ada banyak informasi yang dapat digali dari Investigator Ridge ini dan apa latar belakang dari Etihad untuk memunculkan nama Investigator Ridge di dalam in-flight entertainment-nya.

Kuat dugaan, pihak Etihad hanya ingin menginformasikan kepada para penumpang bahwa di sisi barat dari penerbangannya dari Jakarta menuju Abu Dhabi itu melintasi suatu daerah yang menjadi titik dimana Malaysian Airlines MH370 hilang kontak dengan menara pengawas.

Persaingan Maskapai Kelas Wahid Satu Negara: Etihad dan Emirates, Mana yang Lebih Baik?

Sulit rasanya memang jika ada dua kota besar di suatu negara memiliki maskapai unggulannya masing-masing. Beda cerita jika kedua maskapai satu negara ini terbagi ke dalam dua kasta yang berbeda (Full Service dan Low Cost Carrier), namun sayangnya, kedua maskapai ini menyandang predikat sebagai maskapai bintang lima yang memiliki rute operasional hampir ke seluruh penjuru dunia.

Baca Juga: Etihad Airways Buka Lowongan Global di 19 Kota Dunia

Di negara kaya minyak, Uni Emirat Arab, skema di atas nyatanya benar-benar terjadi. Adalah Emirates dan Etihad, dua maskapai kelas wahid yang menjadi kebanggaan Uni Emirat Arab di sektor aviasinya. Pertanyaannya adalah, “mana yang lebih baik? Emirates atau Etihad?”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (28/10), bagi Negara Paman Sam, maskapai penerbangan Etihad agaknya akan menang satu poin ketimbang Emirates – mengingat basis dari maskapai ini ada di Abu Dhabi, sedangkan Emirates di Dubai. Kendati begitu, kedua maskapai ini sejatinya membuka rute penerbangan menuju Amerika Serikat.

Tidak melulu menghubungkan Negara Teluk dengan wilayah-wilayah yang ada di Negara Adikuasa, kedua maskapai ini juga membuka rute penerbangan ke seluruh dunia dan keduanya saling bersaing dalam urusan hub transit penerbangan jarak jauh. Alih-alih persaingan dalam makna pada umumnya, baik Emirates maupun Etihad seyogyanya sama-sama berupaya untuk menjadikan wilayah Uni Emirat Arab sebagai tempat transit yang diproyeksikan akan meningkatkan bea dari sektor pariwisata negara tersebut.

Pun halnya dalam urusan layanan kepada penumpang, dimana kedua maskapai ini sama-sama berusaha untuk menyajikan layanan kelas satu yang didambakan oleh setiap penumpang – dimana ini akan berimplikasi pada persaingan bisnis dan finansial. Salah satu faktor penting yang menunjang kenyamanan penumpang dalam melakukan perjalanan adalah in-flight entertainment.

Tidak perlu diragukan lagi, kedua maskapai ini juga menyajikan gacoannya masing-masing. Jika Etihad memiliki E-box, maka lain halnya dengan Emirates yang memiliki ICE.

Baca Juga: Etihad dan Emirates, Jadi Maskapai Paling Ramah Bagi Keluarga

Jika harus menentukan mana maskapai terbaik di antara kedua pilihan di atas, tentu saja jawabannya tidak bisa disama-ratakan. Dari persepsi penumpang, semuanya bergantung pada rute mana yang hendak Anda tempuh, kapan, dan apa saja yang Anda butuhkan di dalam penerbangan tersebut (in-flight meal, in-flight entertainment, dll). Terlepas dari itu, kedua maskapai ini sama-sama memberikan pelayanan yang maksimal kepada para penumpangnya.

Sajikan Makanan ‘Lembek,’ Sejumlah Penumpang British Airways Keracunan

Seorang penumpang British Airways (BA) kecewa terhadap makanan yang dibagikan maskapai dalam penerbangan dari Sydney ke Newcastle. Bahkan penumpang tersebut mengaku keracunan makanan karena makan sandwich ayam dalam penerbangan tersebut. Sancher Harpe selain keracunan juga mengeluh dirinya mendapat hidangan pasta lembek yang mengerikan. Dia mengaku ini perjalanan pertamanya kembali ke Inggris setelah 15 tahun.

Baca juga: [Galeri Foto] Deretan Makanan di Pesawat ini Mampu Menjatuhkan Selera Makan Anda!

Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.ie (1/11/2019), ekspatriat yang kini tinggal di Pulau Russell, Queensland tersebut membayar tiket promo £745 atau Rp13,4 juta untuk ongkos pergi dan pulang dari Sydney ke Newcastle melalui Singapura dan Heathrow pada 22 Oktober dengan pesawat milik British Airways. Saat itu dia kembali ke Inggris untuk pemakaman ibu tirinya dan dibuat kecewa hingga sakit karena makanan itu.

“Ibu tiriku yang berumur 30 tahun meninggal. Saya harus bersama ayah dan keluarga saya. Itu bukan awal yang baik,” kata Harpe.

Dia yang kecewa karena makanan tersebut mem-posting gambar hidangan pasta yang menampilkan bagian luar kering tetapi lembek di tengahnya. Harpe juga tak sempat memposting sandwich ayam yang sempat membuatnya sakit itu.

“Pasta terlihat kering di luar tetapi lembek di tengah. Yuck. Kemudian sandwich ayam yang saya makan sepertiga membuat saya sangat sakit selama beberapa jam berikutnya,” tulis Harpe di postingan Facebook-nya.

Dia berpikir saat itu bisa menahan sarapan, tetapi masih sakit setelah mendarat 25 jam lalu. Harpe juga tidak merekomendasikan makanan British Airways.

“Saya tidak merekomendasikan in flight meals di BA. Saya tidak akan pernah makan makanan BA lagi. Anda dituntun untuk percaya bahwa BA adalah yang terbaik di Inggris, tetapi itu pasti merosot ke bawah par. Saya sangat kesal karena rumah dua hari pertama saya selama 15 tahun dirusak oleh keracunan makanan dari maskapai ini,” kata dia.

Tak hanya Harpe, Janet Crook mengomentari postingan Hapre, “Suami saya keracunan makanan dari penerbangan BA pada Mei tahun ini. Saya pribadi tidak pernah makan makanan di pesawat dengan siapapun saya terbang. Bahkan dalam penerbangan jarak jauh.”

Giovanni Adrian Cefaliello menambahkan, “Sandwich ayam tidak akan membuat Anda sakit dalam waktu terlalu singkat, tetapi mengapa ada orang yang berpikir bahwa makanan pesawat akan menyenangkan?”

Sancher berkata, “Ya ampun, aku masih merasa mual memikirkan pasta. Bubur matang di tengah dan kering pasta renyah dan kemudian sandwich ayam. Oh itu mungkin [makanan] yang paling menjijikkan, heboh, mengerikan, mengerikan. Saya tidak makan apa pun sepanjang hari sebelumnya. Setelah makan ayam dan mentimun, aku merasa sangat sakit. Sepanjang perjalanan kembali. Aku masih sakit dan tidak bisa makan selama tiga hari setelah kedatangan.”

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Seorang juru bicara British Airways mengatakan, “Kami bangga dengan kualitas makanan yang kami tawarkan di atas kabin, dan kami telah banyak berinvestasi dalam katering kami. Kami belum menerima keluhan mengenai katering di penerbangan ini, atau dari pelanggan ini. Kami akan menghubungi pelanggan kami hari ini untuk menyelidiki.”

Pelancong Asing Dibuat Bingung, Cina Gunakan QR Code untuk Mayoritas Transaksi via Alipay dan WeChat

Pembayaran non tunai melalui aplikasi dengan hanya memidai QR code pada mesin pembayaran sudah mulai dilakukan oleh Cina dan membuat pelancong yang akan berwisata kesulitan karena hal tersebut. Bahkan, uang tunai dan kartu kredit pun seakan tidak laku untuk membayar taksi atau sebotol air mineral.

Baca juga: Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya!

Tak hanya untuk membayar makanan dan taksi, tetapi kini QR code sudah digunakan untuk membayar rumah sakit, dan pemesanan penerbangan. Bahkan pengemis pun kini meminta uang melalui QR code.

Hal ini kemudian membuat kehidupan 1,4 miliar orang di Cina dimudahkan tanpa harus membawa dompet. Dilansir KabarPenumpang.com dari wsj.com (10/11/2019), tapi ini tidak bagi 140 juta pelancong dan dapat membuat mereka yang tiba di Cina kesulitan setiap tahunnya tanpa daya.

Apalagi mereka tidak bisa mengandalkan aplikasi yang sudah dikenal seperti Google yang di blokir dan Uber yang menyerahkan sistem ride hailing ke Didi. Pembayaran dengan QR code pun melalui platform WeChat Pay dan Alipay dari grup jasa keuangan Tencent Holding dan hampir tidak mungkin digunakan tanpa rekening bank Cina.

Seorang pelancong yang melakukan perjalanan perdana ke Negeri Tirai Bambu,yakni Courtney Newnham mengaku dirinya sangat antusias ketika menemukan salah satu makanan. Namun dirinya kemudian tersadar bahwa pembeli tidak membayar dengan uang tunai kepada pedagang.

“Semua orang hanya memindai dan berjalan pergi. Aki seperti, ‘Tunggu, apa?’ dan pergi dengan tangan kosong,” ujarnya,

Selain itu, Alex Lee yang membawa ayah dan saudara laki-lakinya pijat di spa Hangzhou pun melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Kemudian kasir mengeluarkan alat pembaca kartu dari tempat penyimpanan dan melihat benda itu seperti asing.

Ternyata bukan hanya pelancong, seorang pensiunan asal Cina bernama Gong Cheng pun terpaksa meminta tolong orang lain membayar pesanan mie-nya karena menggunakan QR code, sementara dirinya hanya mempunyai uang tunai.

Diketahui, Bank Rakyat Tiongkok telah menyatakan ilegal bagi pebisnis untuk menolak uang tunai. Cabang Shanghai bank baru-baru ini mengatakan sedang memeriksa hambatan pembayaran untuk orang asing. Meski begitu untungnya Tencent pekan lalu mengumumkan program percontohan untuk membuka WeChat Pay bagi warga asing.

Long UnTour, seorang warga negara Amerika, awalnya bersemangat tentang program ini. Dia tidak berhasil membuat Visa atau Mastercard-nya berfungsi. Tencent, yang menyebut kurangnya akses ke pembayaran mobile sebagai “titik sakit utama” bagi orang asing, mengatakan peluncuran itu awalnya terbatas pada situasi tertentu, seperti memesan tiket kereta di situs perjalanan.

Baca juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code

Sayangnya, situs ini hanya tersedia dalam bahasa Cina. Pelancong memiliki lebih banyak keberuntungan di Alipay, yang memperkenalkan proses tujuh langkah minggu lalu yang mengharuskan pengunjung untuk menyerahkan paspor dan informasi visa ke Alipay, sebelum memuat uang menggunakan kartu luar negeri ke kartu prabayar.

[Opini] Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?

Sejak dibuka pada 24 Mei 2018, hingga kini hanya dua maskapai yang beroperasi dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yaitu Lion Air dan AirAsia. Namun jumlah penerbangan sejak Juli 2019 telah mengalami beberapa kali pembatalan penerbangan, hal tersebut disinyalir karena berkurangnya demand penumpang yang berangkat dari Kertajati, sehingga beberapa penerbangan melakukan pembatalan setelah beberapa kali beroperasi.

Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Dengan kian sepinya Bandara Kertajati, ditambah keputusan Kementerian Perhubungan untuk mengalihkan semua penerbangan (kecuali Wings Air) dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung, mendorong Muhammad Elky Fahriza, seorang Mahasiswa Sampoerna University Jakarta untuk mengutarakan opininya dalam sebuah artikel yang berjudul “Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?” yang dituturkan pada paragraf di bawah ini.

Pemindahan sebagian penerbangan komersial dari bandara Hussein Sastranegara Bandung ke bandara Internasional Kertajati Majalengka terus menuai kontroversi. Kontroversi mencuatlantaran sulitnya akses kendaraan dari Bandung menuju Majalengka akibat belum selesainya jalan tol Cisumdawu. Untuk saat ini penduduk Bandung harus memutar jauh ke Cikampek apabila menggunakan tol. Namun sebelum itu pembangunan bandara ini sudah menuai polemik di masyarakat. Lokasi yang cukup jauh dari ibukota provinsi dan juga akses yang sulit bahkan sampai bandara tersebut beroperasi.

Selain itu, kapasitas bandara Hussein Sastranegara sebenarnya masih cukup memadai, namun entah kenapa pemindahan penerbangan komersial dari dan ke luar jawa dipindah begitu saja ke bandara Kertajati yang berkapasitas 30 juta penumpang per tahun. Satu diantara alasan pemindahan tersebut karena bandara Hussein Sastranegara berada di dekat pemukiman penduduk. Padahal secara teknis hal tersebut masih dapat dimaklumi dan tentu tidak
membahayakan penerbangan.

Kembali ke pembangunan awal bandara Kertajati, idealnya hanya dibangun dalam ukuran bandara menengah saja atau berkapasitas 5-10 juta penumpang per tahun. Peruntukannya hanya untuk penduduk Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya agar dapat memecah kepadatan bandara Hussein Sastranegara. Ketika pangsa pasarnya tumbuh, maka bandara tersebut dapat diperbesar dengan syarat menyiapkan lahan yang cukup untuk pengembangan. Begitulah kira-kira seharusnya prinsip dasar pembangunan suatu bandara di setiap daerah diterapkan.

Membangun bandara dengan kapasitas 30 juta penumpang per tahun juga berpotensi mematikan moda transportasi lainnya seperti bus dan kereta api. Apalagi di daerah sekitar bandara Kertajati masyarakat terbiasa menggunakan transportasi darat bila bepergian antar provinsi di pulau Jawa. Jelas perlu pertimbangan yang matang dalam menentukan pangsa pasar di daerah tersebut. Kajian yang menentukan bahwa bandara Kertajati harus dibuat sebesar dan semegah mungkin tentu berbanding terbalik dengan fakta yang ada di lapangan.

Sebagai contoh, jika ada sekitar 4 juta pengguna bandara Hussein dalam setahun, maka jika setengahnya yang harus menderita bolak-balik ke bandara Kertajati, maka akan menghabiskan 200.000 untuk ongkos dari Bandung, setara dengan 400 milyar. Belum lagi waktu, bahan bakar, dan tenaga yang terbuang sia-sia. Memang diawal pengoperasiannya ramai dan sukses, namun hanya masalah waktu saja bandara Kertajati akan kembali sepi.

Apalagi era digitalisasi seperti sekarang ini, tidak sulit untuk membandingkan biaya yang harus dikeluarkan jika ingin bepergian. Penumpang dari Bandung bahkan lebih memilih untuk terbang dari bandara Soekarno-Hatta dengan alasan akses yang beragam, konektivitas penerbangan, dan pilihan jadwal yang beragam. Itulah yang terjadi sekarang, jumlah penumpang di bandara Kertajati menurun dan bahkan beberapa maskapai menutup beberapa rute yang hanya beroperasi hitungan bulan. Alasan penutupan adalah karena low season padahal penerbangan di bandara Hussein baik-baik saja.

Baca juga: Trayek Tak Tutup, Pengusaha Transportasi di Bandara Kertajati Hanya Merugi

Lantas bagaimana sekarang?langkah pertama dan yang paling utama ialah mengembalikan penerbangan ke bandara Hussein seperti sedia kala. Biarkan maskapai membuka rute dari bandara Kertajati tanpa paksaan dan tekanan. Selesaikan dulu akses tol langsung ke bandara dan fokus kepada penumpang di daerah sekitar bandara Kertajati. Dengan demikian pangsa pasar yang ada terhadap Bandara Kertajati akan tumbuh seiring waktu. (Muhammad Elky Fahriza)

Agar Anda Tidak Tertipu, Kenali “Downgrade” Kelas dalam Penerbangan

Mengudara dengan segala sesuatunya yang sesuai dengan rencana – termasuk mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan apa yang tertera di dalam tiket tentu menjadi idaman bagi setiap pelancong. Bayangan nyamannya duduk di business class atau first class, sembari menyantap in-flight meal dan menikmati penerbangan agaknya sulit lepas dari angan. Namun apa jadinya jika bangku yang sudah Anda pesan untuk mengudara malah di downgrade ke kelas yang lebih rendah?

Baca Juga: Inilah Dampak Jika Anda Pindah Bangku dari Economy Class ke Business Class Secara Ilegal!

Ya, skema seperti ini memang lumrah terjadi di sektor aviasi global – yang tentu dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendukung. Sebagaimana yang dialami langsung oleh KabarPenumpang.com ketika melakukan lawatan ke Eropa beberapa waktu kemarin, pesawat Etihad yang kami tumpangi terpaksa harus ditukar jenis pesawatnya karena satu dan lain hal. Mengingat konfigurasi dan kapasitas kursi di setiap pesawat berbeda, maka tidak heran apabila downgrade kelas terpaksa dilakukan oleh pihak maskapai.

Ketika pihak maskapai melakukan downgrade, tentu ada sejumlah opsi yang ditawarkan kepada penumpang guna menunjang perjalanannya – mulai dari melakukan perjalanan tetap di kelas awal namun pada penerbangan selanjutnya, fasilitas penunjang lain (seperti makan dan lain sebagainya), hingga refund dana. Hal ini dilakukan pihak maskapai guna mempertahankan citra baiknya, kendati mereka baru saja melakukan suatu tindakan yang bisa mencoreng nama mereka.

Pengalaman di atas senada dengan penjelasan yang ada di laman traveller.com.au, dimana downgrade kelas penerbangan ini lazimnya terjadi ketika pesawat yang semestinya mengoperasikan satu rute, diganti dengan pesawat lain yang kapasitasnya lebih kecil atau memiliki konfigurasi bangku yang berbeda.

Menurut laman tersebut, pihak maskapai yang melakukan downgrade kepada penumpangnya akan menggantikan selisih harga dari bangku kedua kelas ini. Namun tidak dengan regulasi yang diberlakukan di negara-negara Uni eropa, dimana pihak maskapai diwajibkan untuk mengganti 30 hingga 75 persen dari harga tiket penumpang terkait, tergantung dari jarak penerbangannya. Semakin jauh penerbangannya, maka semakin besar pula persenan yang didapat oleh si penumpang tersebut.

Seperti yang sudah disinggung di atas, bagi Anda yang menjadi korban dari downgrade kelas ini, Anda akan mendapatkan beberapa ‘keuntungan’.

Baca Juga: Kreatif! Beginilah Cara Emirates Rangkul Penumpang yang Hendak ‘Seat Upgrade’

Jika Anda memilih untuk tetap duduk di kelas awal dan rela menunggu penerbangan selanjutnya, maka bukan tidak mungkin apabila Anda mendapat kompensasi berupa tiket menginap (jika jadwal penerbangan selanjutnya jatuh pada keesokan harinya) hingga voucher makan.

Lalu jika Anda tetap memilih terbang pada jadwal yang sama (berarti Anda duduk di kelas ekonomi atau bisnis), maka Anda akan mendapatkan refund alias kompensasi atas penurunan kelas tadi.

Setelah Sempat Rujuk, Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Resmi Pecah Kongsi

Setelah pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa pihak Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air telah sepakat untuk rujuk selama tiga bulan ke depan, kini pemberitaan terbaru menyebutkan yang sebaliknya. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa hubungan kedua maskapai ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Tentu saja pernyataan dari Menteri Luhut ini sempat membuat publik tercengang, pasalnya Luhut pula yang menjadi mediator dari kedua maskapai ketika minggu lalu pihak Sriwijaya Air tidak melayani operasi penerbangan.

Baca Juga: Damai! Sriwijaya Rujuk Dengan Garuda Untuk Tiga Bulan ke Depan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman kumparan.com (11/11), Menteri Luhut bilang mengatakan bahwa dengan berakhirnya kerja sama bisnis kedua perusahaan ini maka persoalan masing-masing maskapai akan diurus secara internal masing-masing perusahaan. Seperti persoalan Sriwijaya Air misalnya yang memiliki utang di beberapa perusahaan BUMN.

“Udah pisah sekarang. Udah my understanding ya,” ujar Luhut, Senin (11/11).

“Sriwijaya (Air Group) dia split ya sudah enggak apa-apa ya nanti Sriwijaya Air Group punya utang-utang segala macam ya dia settle aja,” tandasnya.

Terkait mengenai kelanjutan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) kepada Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group, Menteri Luhut belum mendapat laporan terakhir. Artinya belum ada kepastian apakah audit akan terus berjalan ataukah sudah secara otomatis berhenti.

Pada kesempatan sebelumnya, tepatnya pada Jumat (8/11), VP Corporate Secretary Garuda Indonesia mengatakan bahwa Sriwijaya Air Group sudah dikeluarkan dari member Garuda Indonesia Group. Padahal, sehari sebelumnya (7/11), kedua maskapai telah menyepakati perpanjangan Kerja Sama Manajemen (KSM) selama tiga bulan ke depan.

Pada mulanya, Ikhsan menambahkan, masuknya Garuda Indonesia Group dalam KSM dengan pihak Sriwijaya Air ini dilakukan untuk mengamankan aset dan piutang negara pada Sriwijaya Air. Namun niatan Garuda Indonesia Group ini dinilai terlalu berlebihan oleh pihak Sriwijaya Air.

Melalui salah satu pemegang saham di tubuh Sriwijaya Air, Yusril Izha Mahendra mengatakan, “Pihak Sriwijaya merasa dominasi Garuda terlalu jauh intervensinya kepada Sriwijaya sehingga menurut persepsi Sriwijaya, maksud kerja sama ini sebenarnya untuk meningkatkan kapabilitas Sriwijaya untuk bisa membayar utangnya kepada beberapa BUMN dan di sini jadi dispute sebenarnya,”

Baca Juga: (Kembali) Pecah Kongsi Dengan Garuda Indonesia, Ratusan Penumpang Sriwijaya Air Terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

“Menurut kalangan Sriwijaya ini malah tidak efisien. Mereka me-manage Sriwijaya ini misalnya yang dulu, maintenance dikerjakan sendiri oleh Sriwijaya sekarang malah ditangani oleh GMF. Dan itu dengan cost yang jauh lebih mahal,” sambung Yusril.

Ya, menurut Yusril, KSM yang terjalin antara pihak Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air ini malah semakin membengkakkan hutang Sriwijaya Air karena biaya maintenance yang dilakukan oleh Garuda Indonesia di Garuda Maintenance Facility Aeroasia (GMF) dinilai terlalu mahal.