Ginger Ale Bisa Gantikan Diet Coke untuk Minuman Dalam Penerbangan

Diet Coke menjadi salah satu minuman terburuk yang dipesan selama penerbangan dan menjadi minuman yang paling ‘dibenci’ oleh pramugari. Hal ini dikarenakan pramugari membutuhkan waktu lama untuk menuangkan Diet Coke, tekanan pada kabin dipercaya membuat Diet Coke lebih rentan berbusa lebih banyak.

Baca juga: Diet Coke, Inilah Minuman Yang Dibenci Pramugari

Selain itu, semua jenis minuman bersoda adalah minuman terburuk sebab bisa memperlambat pelayanan minuman pada penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata ada minuman terbaik yang bisa dipesan dalam penerbangan. Minuman tersebut adalah ginger ale atau bir jahe.

Minuman ini tidak hanya rasa jahenya tetapi juga membuat kondisi terbang jarak jauh lebih dapat ditoleransi. Meski minuman jahe terasa kurang manis di udara, rasa jahe yang lebih tajam menjadi satu dari sedikit hal yang benar-benar terasa lebih enak di ketinggian lebih dari sepuluh ribu kaki.

Bahkan ginger ale juga bermanfaat untuk sejumlah alasan medis seperti ketika penumpang terserang penyakit dalam perjalanan seperti mengurangi rasa mual dan gangguan pencernaan. Jahe memiliki sifat anti inflamasi dan dapat mengurangi pembengkakan yang menjadi masalah penumpang dalam penerbangan jarak jauh yang disebabkan duduk terlalu lama.

Selain alasan ilmiah atau medis yang mungkin ingin Anda capai untuk Schweppes atau Canada Dry di pesawat, minum bir jahe terasa enak pada tingkat emosional. Ginger ale sendiri pernah menjadi salah satu minuman ringan paling populer di Amerika Utara. Pertama kali minuman ini dikembangkan di Irlandia dan Inggris pada tahun 1840-an.

Diketahui John J McLaughlin dari Enniskillen, Ontario perama kali menciptakan Canada Dry yang merupakan salah satu merek ginger ale paling terkenal hingga saat ini sejak tahun 1890. Penemuannya yang begitu tajam dan bergelembung sehingga memasarkannya sebagai Champagne of jahe ales karena rasa dan warnanya.

Baca juga: Teh dan Kopi Panas Tak Baik Dipesan Dalam Penerbangan? Ini Alasannya!

Sherry Ross, M.D., dari Providence Saint John’s Health Center mengatakan bahwa minuman berkarbonasi yang bukan jahe sebagian besar yang membuat perut tidak nyaman selama penerbangan. Tetapi jika maskapai membagikan merek ginger ale dengan kandungan jahe asli akan lebih baik karena tidak ada gelembung ketika menuangkan dalam gelas.

Cirrus Aviation Perkenalkan Fitur Keselamatan yang Siap ‘Daratkan’ Penumpang dengan Aman

Apa yang ada di dalam benak Anda jika mendengar sebuah penerbangan otonom mengalami kondisi darurat? Apakah pesawat akan jatuh begitu saja? Atau mereka memiliki instrumen tersendiri yang akan menyelematkan nyawa para penumpangnya? Pertanyaan ini terjawab beberapa waktu ke belakang, dimana salah satu ‘pemain’ di sektor pesawat otonom, Cirrus Aviation mengumumkan tentang salah satu fitur keselamatan terbarunya, Safe Return Autoland untuk pesawat jet G2 Vision kembangannya. Dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa menebak, dimana ketika keadaan darurat melanda, maka pesawat akan bisa melakukan pendaratan dengan aman.

Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/10), G2 Vision merupakan pesawat kembangan Cirrus Aviation yang bertenagakan jet dan mampu memboyong tujuh penumpang dalam sekali perjalanan. Jika diklasifikasikan ke dalam kelompok drone, agaknya G2 Vision tidaklah termasuk ke sana, mengingat pesawat ini mampu menjelajahi udara di ketinggian 31.000 kaki dengan kecepatan 300 knot. CEO dari Cirrus Aviation, Zean Nielsen sampai-sampai mempromosikan G2 Vision sebagai breaktrough dalam sektor penerbangan di masa yang akan datang.

Dalam pengembangan fitur keselamatan yagn bertajuk Safe Return Autonomous Autoland, Cirrus Aviation tidaklah berjalan sendiri, melainkan menggandeng Garmin, sebuah perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat. Cara kerjanya sederhana, tombol Safe Return Autonomous Autoland akan ada di bagian pengemudi (pilot) dan penumpang. Semisal ada keadaan darurat dimana penerbangan tidak mungkin dilanjutkan, maka Anda sebagai penumpang tinggal memencet tombol Safe Return Autonomous Autoland dan pesawat akan mendarat dengan aman.

Pada saat ditekan, maka sistem informasi yang ditampilkan akan lebih relevan dengan keselamatan penumpang. Sistem kontrol penerbangan akan menggunakan autopilot, dimana sistem akan memindai medan sekitar, kondisi cuaca, dan landasan udara terdekat untuk menemukan tempat aman untuk pesawat mendarat.

Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Di dalam kabin, penumpang akan mendapatkan informasi terkait pendaratan darurat ini, mulai dari seberapa cepat pendaratan akan berlangsung, dan informasi relevan lainnya. Setidaknya, hadirnya fitur seperti ini kelak bisa menjadi pionir bagi sektor aviasi global dalam urusan peningkatan keamanan penerbangannya.

Sebelum “Mengudara”, Kenali Dulu Yuk Kode Penerbangannya!

Pernahkah Anda berhenti sejenak di depan sebuah flight board yang ada di bandara dan memperhatikan kombinasi huruf serta angka yang tertera di sana? Kombinasi tersebut juga dapat Anda temukan di tiket penerbangan Anda. Ya, memang terdapat arti tersendiri dibalik kode penerbangan seperti yang sudah dijabarkan di atas, dan itu bukanlah deretan huruf dan angka yang tidak memiliki makna, karena dari situ, seseorang dapat membaca maskapai apa yang Ia naiki lengkap dengan destinasinya.

Baca Juga: Kode Bandara Mudahkan Penumpang dan Pekerja Penerbangan

Setiap nomor penerbangan memiliki rute penerbangannya sendiri. Hal ini bertujuan agar memudahkan bagian administrasi maskapai dalam mendata pesawat-pesawat mana saja yang telah take-off atau yang akan landing. Selain itu, nomor penerbangan juga memiliki unsur fungsi perencanaan dan biasanya dikelompokkan secara geografis. Seorang pilot dan juga penulis buku berjudul “Cockpit Confidential”, Patrick Smith mengatakan, sebagian besar maskapai penerbangan memberikan nomor genap untuk penerbangan menuju ke timur, sedangkan penerbangan arah barat mendapatkan nomor ganjil.

Lalu, bagaimana cara membacanya? Kode penerbangan biasanya diawali dengan dua huruf yang merupakan kode International Air Transport Association (IATA), sebuah asosiasi angkutan udara internasional. Huruf-huruf tersebut merupakan inisial dari maskapai yang bersangkutan, sebagai contoh, apabila Anda menemukan kode penerbangan dengan huruf awal GA, maka kode tersebut milik maskapai Garuda Indonesia. Contoh lainnya adalah SQ, menandakan kode tersebut milik pesawat asal negeri tetangga, Singapore Airlines.

Setelah dua huruf di awal kode penerbangan, muncul beberapa deret angka yang juga memiliki arti tersembunyi. Sebagai aturan umum, nomor penerbangan dengan empat angka yang dimulai dengan angka “3” atau di atasnya, misalnya “3493”, menunjukan bahwa penerbangan tersebut merupakan penerbangan codeshare yang dioperasikan oleh aliansi maskapai tersebut. Maksud dari penerbangan codeshare adalah penerbangan yang dilakukan dua atau lebih maskapai berlatar belakang kerja sama yang mereka jalin.

Ambil contoh Garuda Indonesia bekerja sama dengan maskapai bonafit asal Tiimur Tengah, Etihad. Garuda menjual tiket penerbangan menuju Manchester, walaupun Garuda tidak melayani penerbangan menuju Manchester. Berbekal bekerja sama yang dibangun oleh Garuda dengan Etihad, maka penumpang yang membeli tiket Jakarta – Manchester akan terbang menggunakan maskapai Etihad.

Ringkasnya, kode penerbangan adalah gabungan dari kode maskapai, xx (diisi dengan abjad), dan nomor penerbangan numerik, n(diisi dengan angka), ditambah opsional satu huruf “akhiran operasional” x(diisi dengan abjad). Jadi, format penuh dari sebuah kode penerbangan adalah xx.nnn.x.

Setiap maskapai memiliki kode penerbangannya masing-masing, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ambil contoh sebuah maskapai asal negeri kangguru, Qantas. Maskapai ini memiliki 2 kode penerbangan, yang membatasi antara penerbangan internasional dengan penerbangan domestik. Angka 1 sampai 399 digunakan maskapai asal Australia untuk melayani penerbangan internasional termasuk penerbangan codeshare, sedangkan 400 ke atas digunakan Qantas sebagai kode penerbangan domestik.

Baca Juga: Mengenal Arti Kode “PK” di Badan Pesawat Penumpang

Kebanyakan, pihak maskapai menghindari penggunaan angka-angka yang dinilai membawa kesialan, seperti angka 13 dan 666. Walaupun tidak ada teori pasti mengenai pengguna angka tersebut dapat mengalami kesialan, namun kebanyakan pihak maskapai tetap menolak untuk menggunakannya. Lain halnya dengan American Airlines yang lebih memilih untuk “memuseumkan” nomor penerbangan 11 pada rute penerbangan Boston – Los Angeles. Bukan tanpa alasan, ini merupakan sebuah penghormatan terhadap tragedi pada 11 September 2001 silam, dimana sebuah pesawat boeing 707 milik maskapai tersebut dibajak sebelum akhirnya ditabrakkan ke gedung World Trade Center.

Haneda, Bandara Terbersih di Dunia Cerminan Budaya Jepang

Traveller mana yang tidak senang apabila sesampainya di destinasi tujuan, tempat yang pertama kali ia singgahi berada dalam kondisi bersih, baik bandara, stasiun, maupun terminal. Kebersihan yang tercipta ini merupakan peranan semua orang, bukan hanya dari petugas kebersihan. Dengan kita tidak membuang sampah sembarangan saja, kita sudah turut membantu terciptanya lingkungan yang bersih.

Baca Juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita?

Tidak jarang, para traveller kerap kali menghabiskan waktu lama di bandara karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami delay atau jeda transit. Tentu, apabila bandara dalam kondisi kotor, para traveller akan merasa tidak nyaman. Berdasarkan kasus di atas, Skytrax mengadakan World Airlines Award pada tahun 2016 silam, dan salah satu kategori yang diperebutkan oleh pada nominasi adalah bandara terbersih.

Selain bandara terbersih, nominasi lain yang diperebutkan oleh para nominasi yang bergerak di bidang aviasi antara lain maskapai terbaik, bandara terbaik, dan aspek-aspek penunjang lainnya yang berhubungan dengan dunia aviasi. Dan keluarlah nama bandara Haneda di Jepang sebagai peraih penghargaan bandara terbesih di dunia. Penilaian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dilakukan berdasarkan survei kepada para pengunjung bandara yang dilakukan dari Juni 2015 hingga Februari 2016. Tercatat, sebanyak 13,25 juta survei “terbang” menuju 106 negara yang berbeda.

Ada banyak aspek yang menjadi poin penilaian Skytrax dalam survei yang dilakukan, seperti dari mulai check in, kedatangan, transit, imigrasi, belanja, dan tentu saja aspek kebersihan. Untuk penghargaan bandara terbersih, poin penilaian dilihat dari kebersihan seluruh sudut bandara, dari mulai lorong, hingga toilet bandara. Tahun lalu, Bandara Haneda berada di posisi keempat, di bawah Bandara Internasional Changi, Singapura yang tahun lalu menduduki posisi wahid, namun pada tahun 2016, posisi tersebut berbalik.

Apabila ditelusuri lebih dalam, ternyata kebersihan yang tercipta ini bukan karena teknologi yang canggih sehingga dapat membersihkan sampah secara otomatis, tapi karena etos orang Jepang sendiri yang amat cinta akan kebersihan. Bahkan, budaya cinta lingkungan seperti ini sudah dipupuk sejak kecil, menjadikannya insan yang sadar akan kebersihan. Selain kesadaran akan pentingnya kebersihan dari masing-masing pribadi, pemerintah Jepang juga menyediakan fasilitas penunjang seperti tersedianya banyak bak sampah dan tidak segan untuk memberikan sanksi berupa denda terhadap orang yang mengotori lingkungannya. Maka tidak heran apabila bandara Haneda berhasil “menyabet” gelar sebagai bandara terbersih di dunia.

terminal 2 Bandara Haneda. Sumber: mhs.co.jp
terminal 2 Bandara Haneda. Sumber: mhs.co.jp

Satu-satunya bandara yang berada di prefektur Tokyo ini terletak bersebrangan dengan teluk Tokyo ini menjadi bandara tersibuk di Tokyo dengan 3 terminal: terminal 1, terminal 2, dan terminal internasional. Bandara ini juga dilengkapi dengan kereta bandara yang memudahkan para penumpang menjangkau Bandara Haneda ini.

Penampakan Kios Bergaya Rumah Jepang. Sumber: airlinereporter.com
Penampakan Kios Bergaya Rumah Jepang. Sumber: airlinereporter.com

Baca Juga: Layani 85,6 Juta Penumpang Per Tahun, Haneda Masih Jadi Bandara Tersibuk di Jepang

Kebersihan di tempat ini bisa terlihat sejak kita menuruni kereta bandara, hampir tidak ada sampah yang tersebar di sini. Dipadukan dengan pencahayaan yang terang, menjadikan bandara ini lebih terlihat “hidup”. Selain bersih, bandara ini juga bisa dibilang unik, karena terdapat rumah-rumahan bergaya Jepang yang tersusun rapi di dalamnya. Setelah di telisik lebih dalam, ternyata itu adalah kios-kios yang menjajakan beragam kebutuhan, dari mulai kios jajanan hingga body shop. Tentu saja, ini menarik banyak minat pengunjung yang penasaran akan barang apa saja yang dijajakan di sana.

antrian penumpang di bandara Haneda. sumber: media.gettyimages.com
antrian penumpang di bandara Haneda. sumber: media.gettyimages.com

Bandara modern ini mulai beroperasi pada tahun 1931, dan terus bertumbuh dari masa sebelum perang dunia II hingga kini. Dengan melayani lebih dari 75 juta penumpang setiap tahunnya, ditambah lagi dengan keberadaan internasional yang mulai beroperasi sejak 2010 lalu, tidak heran kalau bandara ini menjadi satu dari lima bandara tersibuk di dunia.

Bilik Kerja Kedap Suara di Stasiun Mudahkan Pebisnis yang Butuh Tempat Bekerja

Ketika tengah dinas diluar kantor, seseorang terkadang butuh tempat untuk menyelesaikan tugas tersebut sehingga membutuhkan sebuah tempat yang nyaman dan tak diganggu orang lain. Belum lama ini stasiun kereta di Tokyo kehadiran gerai pribadi yang kedap suara.

Baca juga: Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang

Gerai atau bilik ini sendiri dihadirkan operator kereta api dan vendor lainnya untuk memudahkan pekerja perusahaan yang mengerjakan pekerjaan mereka di luar kantor. Pada 1 Oktober 2019 kemarin, dua bilik kedap suara ini hadir di belakang gerbang tiket di Stasiun Kyodo d Jalur Odakyu di Bangsal Setagaya, Tokyo.

Dengan ukuran 1,2 meter x 1,2 meter x 2,3 meter, bilik ini dilengkapi dengan meja, sofa, soket dan pengisian daya USB. Karena bagian atasnya tertutup, bilik ini dilengkapi dengan dinding kedap suara sehingga pengguna dapat berbicara dengan klien dan orang lain melalui telepon tanpa khawatir terdengar orang sekitar.

KabarPenumpang.com melansir laman asahi.com (4/11/2019), bagi yang akan menggunakan bilik ini, bisa mendaftar di layanan situs web khusus dan memesannya serta menscan kode QR di pintu melalui ponsel pintar untuk membuka pintu. Harga sewa bilik ini per 15 menit yakni sekitar 250 Yen atau sekitar $2,30 atau setara dengan Rp32 ribu.

Layanan ini bahkan sudah dimulai di Stasiun Machida di Tokyo pada 28 Oktober kemarin dan program tersebut menguntungkan Odakyu Electric Railway Co selaku operator Odakyu Line. Sebab mereka bisa menerima sewa dari Telecube Service CO yang berbasis di Tokyo yang menawarkan kantor bergerak.

Tak hanya itu, September lalu, Seibu Railway Co mendirikan stan kerja di Stasiun Tokorozawa di Prefektur Saitama di luar Tokyo dan Stasiun Takadanobaba di Bangsal Shinjuku. V-Cube Inc., perusahaan induk Telecube Services yang berbasis di Tokyo, telah menyediakan sistem pertemuan online jarak jauh untuk pelanggan korporat.

Ketika Presiden Naoaki Mashita merasa ada beberapa ruang pribadi di mana seseorang dapat mengadakan pembicaraan rahasia melalui telepon atau melalui Internet tanpa masalah privasi, V-Cube menghabiskan satu tahun bersama-sama mengembangkan stan khusus dengan pembuat perabot kantor Okamura Corp di Yokohama. Tanggapan yang lebih besar dari yang diharapkan datang ketika V-Cube dan East Japan Railway Co. (JR East) memulai layanan uji coba gratis dari gagasannya di stasiun Tokyo, Shinjuku dan Shinagawa pada bulan November tahun lalu.

Baca juga: Wujud Emansipasi? Ada Ruang Ganti Popok di Toilet Pria di Bandara India

Tingkat waktu yang dihabiskan adalah lebih dari 50 persen dari semua jam operasional selama periode uji delapan bulan, sementara ruang pribadi juga digunakan dengan cara yang tidak terduga, seperti siswa sekolah menengah yang sedang belajar, seorang wanita memperbaiki make-up dan pengguna mengambil pelajaran percakapan bahasa Inggris dengan smartphone. Popularitas stan tetap tinggi setelah layanan mulai mengumpulkan biaya penggunaan pada bulan Agustus. Sebanyak 47 stan kerja V-Cube telah diperkenalkan di 16 lokasi di stasiun, gedung perkantoran dan di tempat lain di wilayah metropolitan Tokyo.

[Galeri Foto] Harley-Davidson Rilis Sepeda Listrik Premium Dengan Harga Selangit!

Jika selama ini nama Harley-Davidson terkenal sebagai motor gede (moge) berkelas yang memiliki karismanya tersendiri, maka ketika Anda membaca artikel ini, siap-siap untuk mengernyitkan dahi, ya! Pasalnya produsen sepeda motor kenamaan asal Negeri Paman Sam ini dikabarkan siap untuk merilis sepeda listrik rakitannya, dimana proyek ambisius Harley-Davidson ini merupakan bagian dari kampanye More Roads to Harley-Davidson yang tengah digalakkan pihak perusahaan.

Baca Juga: Harley Davidson Luncurkan “The Iron,” Sepeda Keseimbangan Buat Anak 3 Tahun!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman electrek.co (5/11), rasa penasaran publik dengan sepeda ini sedikitnya sudah mulai terobati ketika pihak Harley-Davidson memamerkan tiga prototipe di pagelaran EICMA 2019 Milan Motorcycle Show.

Pada kesempatan yang berbeda, pihak Harley-Davidson mengatakan bahwa sepeda listrik ini akan dibanderol dengan harga US$2.500 hingga US$5.000 atau berada di kisaran harga Rp 35 juta hingga Rp70 juta. Melihat dari harganya saja, tentu sepeda ini tergolong ke dalam sepeda listrik premium, ya!

Sumber: electrek.com

Ketiga sepeda listrik Harley-Davidson juga dilengkapi rem cakram hidrolik kelas atas yang menjepit rotor berukuran 203 mm. Poin unik lain yang akan Anda dapatkan dari sepeda listrik premium ini adalah lampu rem belakang yang tertanam di dalam rangka sepeda – membuatnya seperti sepeda motor kebanyakan.

Sumber: electrek.com

Pada bagian depannya, Anda akan melihat logo Harley-Davidson yang dimana tidak hanya berperan sebagai logo saja, melainkan sebagai lampu LED yang selama ini kerap menjadi permasalahan bagi sepeda konvensional. Untuk masalah baterai, agaknya pihak produsen sengaja membuatnya bisa dilepas-pasang, dimana Anda bisa menemukannya di bagian pengayuh.

Baca Juga: Himo C16, Sepeda Listrik Xiaomi Meluncur 19 September 2019

Secara penampakan, sepeda listrik Harley-Davidson ini terlihat seperti sepeda gunung biasa – namun ketika melihat fitur yang diusungnya, tentu saja pikiran Anda semua akan 180 derajat berubah.

Berbaris di Peron, Anjing Golden Retriever Bukan Tunggu Kereta Tapi Untuk Pemotretan Kalender

Lucu, unik dan menggemaskan ketika melihat anjing jenis Golden Retriever karena bulunya yang panjang, halus serta termasuk hewan yang jinak. Nah bagaimana bila bertemu serombongan anjing ini di peron kereta api sembari menunggu kereta di jam sibuk?

Baca juga: Laika, Si Anjing Percobaan yang Sukses Buka Jalan Manusia Untuk Mengorbit

Baru-baru ini sebanyak 15 ekor Golden Retriever berdiri berbaris bersama di Stasiun Barnes, London Barat Daya. Aksi para anjing ini pun dibagikan dalam bentuk foto oleh lebih dari 30 ribu orang di media sosial.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (5/11/2019), ternyata berkumpulnya anjing-anjing itu di peron bukan untuk naik kereta atau reuni seperti yang dikatakan oleh warganet di media sosial. Sebab 15 ekor Golden Retriever ini berkumpul untuk berfoto sebagai bagian dari kalender amal untuk mengumpulkan yang bagi rumah anjing dan kucing Battersea.

Ternyata tidak hanya 15, tetapi ada 26 anjing yang berpose di 13 lokasi di seluruh Barnes termasuk salah satunya sepasang yang berfoto di bioskop. Ada empat anjing yang difoto tengah melintas zebra cross yang meniru sampul album Abbey Road yang ikonik milik Beatles.

Kalender ini sendiri merupakan ide Anne Mullins yang mendirikan Barnes Golden Group (The BG’s) untuk bertukar informasi yang relevan dengan sesama pemilik anjing.

“Pemilik anjing sangat cantik, jadi saya pikir akan menyenangkan untuk membuat kalender dan memberikan hasilnya kepada badan amal anjing. Rumah kami adalah tempat yang sangat dicintai dan tidak semua anjing,” kata Anne.

Anne bekerja sama dengan sesama pecinta anjing Sophie Farrah dan Tom Farrah-Pearce untuk merencanakan dan membuat kalender. Ketiganya memilih berbagai lokasi di Barnes, termasuk taman, kafe, pedagang sayur, serta zebra crossing dan stasiun kereta.

“Anjing-anjing itu semuanya diikat dengan aman ke pagar pada platform yang tidak lagi digunakan, jadi semuanya sangat aman. Dan komuter mengambil banyak foto yang kemudian mereka tweet,” tambah Anne.

Baca juga: Anjing Lucu Berperilaku Penumpang Bus, Bikin Gemas Sang Pengemudi

“Tanpa upaya penggalangan dana pendukung yang murah hati seperti kelompok Barnes Golden, kami tidak akan dapat merawat ribuan hewan yang tiba di tiga pusat kami setiap tahun. Kami sangat berterima kasih kepada semua orang yang bekerja pada proyek penggalangan dana yang menggemaskan ini untuk mendukung Battersea dengan cara yang menyenangkan dan kreatif dan kami tidak sabar untuk melihat kalender lengkap ketika sudah selesai,” kata Pemimpin penggalangan dana publik di Battersea, Jo Stone.

Perusahaan Amerika Siap Perkenalkan Pesawat Bersistem Autoland

Sebuah perusahaan teknologi multinasional asal Negeri Paman Sam, Garmin berencana untuk mengumumkan platform pesawat baru yang menonjolkan sistem keamanan autoland yang mereka kembangkan pada tahun 2020 mendatang. Ya, jika mendengar namanya saja, Anda semua tentu sudah dapat menebak bahwa pesawat ini mampu melakukan pendaratan secara otomatis. Pada tanggal 30 Oktober kemarin, perusahaan yang berbasis di Olathe, Kansas ini mengumumkan bakal ada dua pesawat yang akan diperkenalkan tahun depan.

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (6/11), adalah Cirrus Vision Jet dan Piper M600, merupakan pesawat yang dirancang dengan menyematkan fitur autoland yang dimaksud. Pihak Garmin mengatakan bahwa ini merupakan sebuah revolusi di dalam duia penerbangan komersial.

“Pesawat ini dirancang untuk bisa mengendalikan dan mendaratkan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia,” ujar pihak Garmin.

Sistem autoland ini sendiri merupakan sebuah tombol yang ada di flightdeck, dimana sistem akan terus berkomunikasi dengan kontrol lalu lintas udara sambil memantau parameter eksternal dan mengidentifikasi bandara terdekat. Setelahnya, sistem autoland ini akan membawa pesawat approaching ke bandara yang sudah dipilih dan melakukan pendaratan.

Jadi sebenarnya sistem ini hampir serupa dengan sistem auto pilot, dimana pesawat bisa mengudara dan menentukan jalurnya sendiri tanpa harus dikendalikan oleh pilot. Perbedaannya, sistem autoland ini dapat mengendalikan pesawat yang hendak melakukan pendaratan. Ya, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, pilot selalu mematikan sistem auto pilot dan mengambil alih proses approaching menuju suatu bandara.

Baca Juga: Serba Otomatis dan Komputerisasi Turunkan ‘Kemampuan’ Pilot Ketika Mengudara

Dapat dibayangkan, jika sistem autoland ini kelak akan bersanding dengan sistem auto pilot. Maka bukan tidak mungkin apabila pesawat komersial di masa mendatang akan lebih menuju ke arah fully automatic. Jika nanti suatu saat ada pula perusahaan yang mengembangkan fitur auto take-off, maka sepenuhnya pesawat komersial akan berada di ranah fully automatic – tidak berbeda jauh dengan drone Vertical Take Off and Landing. Perbedaannya hanya pada cara pesawat terbang ke udara.

Kini Penumpang Bisa Tekan Tombol Darurat Ketika Bus Dirasa Tak Aman Ketika Dikendarai Pengemudi

Banyaknya kecelakaan bus di Jepang akhirnya membuat pemerintah menyusun pedoman pada tahun 2016 lalu dan memberikan subsidi untuk mempromosikan penggunaan perangkat keamanan yang lebih luas. Salah satunya adalah tombol rem darurat yang dipasang di bus di mana penumpang dimungkinkan untuk menghentikan kendaraan seperti ketika pengemudi kehilangan kesadaran.

Baca juga: Marak Pelecehan Terhadap Wanita, Otoritas Panchkula Pasang Panic Button di Halte Bus

Salah satu yang menggunakan tombol rem darurat di bus berada di wilayah Tokai karena sejumlah kecelakaan disebabkan oleh masalah kesehatan pengemudi bus. Meitetsu Bus Co., operator bus yang berbasis di Nagoya mulai memasang perangkat yang disebut sistem berhenti mengemudi darurat pada bus-bus yang beroperasi di dalam kota pada akhir September.

Bus tersebut memiliki tombol rem darurat di kursi pengemudi dan untuk penumpang ada tombol lain di pegangan di belakang kursi. Cara kerjanya adalah ketika satu tombol darurat ditekan, maka alarm akan berbunyi dan sebuah pengumuman, “Perhatian. Kami akan berhenti darurat,” dibuat bergantian dalam bahasa Jepang dan Inggris.

Dilansir KabarPenumpang.com dari asahi.com (7/11/2019), sekitar tiga detik kemudian, rem diterapkan sementara klakson terus meraung. Mesin mati setelah bus berhenti.

Jarak pengereman tergantung pada kondisi jalan, tetapi bus yang melaju pada kecepatan 40 km per jam akan berjalan sekitar 50 meter setelah tombol ditekan sebelum berhenti. Sebuah pesan dalam bahasa Jepang berkata, “Emergency. Silakan melapor ke polisi,” muncul di layar yang biasanya menunjukkan tujuan bus di depan, belakang dan samping untuk memperingatkan pengendara dan orang lain di luar.

Sistem dapat dinonaktifkan jika orang iseng mematikannya. Kehadiran sistem ini membantu pengemudi dan menyelamatkan penumpang, sebab menurut kementerian transportasi, 162 kecelakaan disebabkan oleh masalah kesehatan pengemudi bus pada tahun 2017 di Jepang, dengan 76, atau hampir setengahnya, terjadi di prefektur Mie, Aichi, Gifu, Shizuoka dan Fukui di bawah yurisdiksi Biro Transportasi Distrik Chubu kementerian.

Dua dari kecelakaan itu mengakibatkan kematian dan cedera. Bus Meitetsu mulai menggunakan perangkat pada 28 September di bus utamanya untuk rute Honjigahara yang populer di pusat Nagoya. Perusahaan berencana untuk mempublikasikan ukuran keselamatan dan memperkenalkan total 40 perangkat pada akhir tahun fiskal ini.

“Karena kekurangan supir bus, kami kemungkinan akan memiliki lebih banyak lansia di masa depan.Kami ingin memastikan keselamatan penumpang dengan melakukan investasi awal pada bus,” kata Takayuki Ban, kepala departemen promosi proyek di perusahaan.

Baca juga: Wujudkan Kota Pintar, Penang Kini Punya Smart Bus Shelter yang Serba Canggih

Di Prefektur Gifu, Kitaena Kotsu Co. dari Meitetsu Group yang berbasis di Nakatsugawa mulai menggunakan perangkat di semua bus yang beroperasi di kota Nakatsugawa pada pertengahan September. Mie Kotsu Co. yang berbasis di Tsu juga telah memasang perangkat di beberapa busnya mulai Oktober.

Damai! Sriwijaya Rujuk Dengan Garuda Untuk Tiga Bulan ke Depan

Setelah pada Kamis (7/11) kemarin sempat menelantarkan penumpang, kini kabar baik datang dari Sriwijaya Air, dimana Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa kerja sama antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia diperpanjang hingga tiga bulan ke depan. Ya, sebelumnya santer beredar kabar bahwa kerja sama yang terjalin antara dua maskapai tersebut sempat pecah – dimana berimbas pada pembatalan keberangkatan pada hari Kamis kemarin.

Baca Juga: (Kembali) Pecah Kongsi Dengan Garuda Indonesia, Ratusan Penumpang Sriwijaya Air Terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Menteri Luhut juga menambahkan bahwa hasil pertemuan antara Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara dan salah satu pemegang saham dari Sriwijaya Air, Yusril Izha Mahendra berujung pada audit yang kelak akan dilaksanakan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

“Garuda tadi kita sudah sepakat, (kerja sama) ditandatangani selama 3 bulan ke depan, kemudian dilakukan audit terhadap kerja sama ini oleh BPKP. Itu sudah mulai berjalan. Kita harapkan audit itu akan keluar hasilnya mungkin dalam seminggu atau 10 hari ke depan,” ujar Luhut, dikutip dari laman detik.com (7/11).

“Yang tadi disepakati adalah bahwa perjanjian sementara diperpanjang disepakati 3 bulan, tapi segera diadakan revisi kalau revisi selesai kemudian penggantian direksi supaya tidak terjadi conflict of interest kan agak susah orang Garuda me-manage Sriwijaya,” katanya.

Seperti yang sudah diketahui bersama, Sriwijaya Air tengah terlilit sejumlah hutang kepada Garuda Indonesia dan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya. Alih-alih hutangnya mereda, Yusril menyebutkan bahwa kerja sama yang terjalin antara dua maskapai ini membuat kondisi hutang pihak Sriwijaya semakin membengkak.

“Menurut persepsi Sriwijaya utang bukannya berkurang, malah membengkak selama di-manage oleh Garuda Indonesia,” katanya dikutip dari laman sumber lain.

Baca Juga: Belum Lewati ‘Masa Kritis,’ Akankah Sriwijaya Air Menyusul Merpati dan Adam Air?

Ia menjelaskan kondisi tersebut dipicu kenaikan biaya operasional Sriwijaya pasca kerja sama, dimana perawatan armada pesawat dialihkan kepada anak usaha Garuda Indonesia, PT GMF AeroAsia.

“Dengan itu, biaya jauh lebih mahal,” tandas Yusril.