Hapus Penggunaan Kertas di Kokpit, Cathay Pacific Targetkan Hemat 1 Juta Liter Bahan Bakar per Tahun

Kendati sempat diterpa masalah bertubi-tubi terkait kerusuhan yang terjadi di Hong Kong akibat kisruh RUU Ekstradisi, namun divisi pengembangan teknologi di flag carrier Cathay Pacific seolah tidak terganggu dengan semua itu. Hal ini terbukti dengan diluncurkannya aplikasi data penerbangan dan pemantau cuaca digital yang konon katanya bakal berimbas pada penghematan penggunaan bahan bakar. Mungkin beberapa dari Anda akan bertanya-tanya, “apa kaitannya antara aplikasi baru dengan penghematan bahan bakar?” Berikut penjelasannya!

Baca Juga: Gunakan CCTV di Ruang Tunggu dan Kabin, Cathay Pacific Tingkatkan Keamanan Penerbangan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (9/12), pihak Cathay Pacific menargetkan dapat mengurangi beban angkut pesawat yang dihasilkan oleh tumpukan buku panduan penerbangan (manual book) dan dokumen per penerbangan. Mereka menilai, ada 70kg beban yang harus diangkut oleh 525 pesawat yang ada di tubuh perusahaan yang dihasilkan oleh kertas-kertas tersebut.

Perusahaan memperkirakan, jika kertas-kertas tersebut dihilangkan dari kokpit, maka Cathay Pacific bisa melakukan penghematan hingga satu juta liter bahan bakar dalam setahun. Selain menyelamatkan kas perusahaan dari praktik penerbangan yang tergolong kuno itu, flaf carrier Hong Kong ini juga bisa terjun langsung dalam memerangi masalah emisi karbon yang juga tengah diperangi oleh berbagai pemangku kepentingan di luar sana.

Ya, nantinya segala bentuk kertas yang biasa digunakan oleh pilot dan kopilot di dalam kokpit akan diganti semuanya dengan menggunakan sistem digital. Jika ditelaah lebih dalam lagi, penggunaan sistem digital ini juga akan memudahkan tugas para kru penerbang untuk membuat keputusan sebelum dan selama penerbangan – termasuk sistem pemantau cuaca digital yang dikembangkan oleh Hong Kong Observatory, “MyFlightWx”.

Chief Operations and Service Delivery Officer Cathay Pacific, Greg Hughes mengatakan bahwa penggunaan aplikasi digital ini akan memudahkan tugas kru penerbang dari beragam aspek dan, “membuatnya lebih efisien,”

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Senada dengan Greg, Line Operations Manager of Flight Operations Cathay Pacific, James Toye menambahkan bahwa penerapan aplikasi ini akan jauh lebih mudah bagi pilot ketimbang mereka harus mencari informasi di manual book setebal 200 halaman.

Sebagai informasi tambahan, tidak hanya Cathay Pacific saja yang tengah berupaya untuk menghadirkan suatu pembaruan di kokpit – begitu pula halnya dengan British Airways, Lufthansa, hingga Hong Kong Airlines juga mulai menghilangkan penggunaan kertas di kokpit.

Mengabdi 57 Tahun, Pramugari Delta Airlines Dipecat Karena Sekotak Susu

Berpenghasilan US$250 ribu setahun, seorang pramugari maskapai Delta Airlines yang berusia 79 tahun harus di pecat dari pekerjaannya. Alasan untuk pemecatannya pun sepele yakni karena membawa sekotak susu dan beberapa barang lainnya dalam penerbangan.

Baca juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya!

Ida Gomez Llanoz, nama pramugari tersebut ternyata sudah bekerja selama 57 tahun atau sejak 1962 lalu. KabarPenumpang.com merangkum dari laman simpleflying.com (6/12/2019), karena pemecatannya ini Ida kemudian mengajukan gugatan di pengadilan Los Angeles dan mengklaim dirinya telah dilecehkan serta diganggu.

“Saya tidak bisa mempercayainya. Saya telah dituduh begitu banyak hal dan belum tentu benar. Saya tidak ingin menganggapnya pribadi, tetapi ketika Anda menjadi jahat dan mulai berbohong, itu adalah masalah,” ujar Ida.

Dia sendiri merupakan pramugari berperingkat tertinggi di Los Angeles dan berada di peringkat kelima di negara itu. Dia mengatakan, dirinya menerima surat pertama dalam hampir 60 tahun bekerja di Delta pada April 2018 lalu yang berisi tuduhan membawa sereal dan cokelat di pesawat ke tasnya. Bahkan rekan kerjanya pun mengklaim Ida memasukkan Bailey’s Irish Cream ke dalam kopinya.

“Mereka ingin kembali. Saya pikir mereka menempatkan kita pada pengawasan yang lebih tinggi. Itu karena mereka begitu banyak sehingga karena kita sudah ada di sana selamanya dan skala gajimu naik setiap tahun. Saya pikir mereka bisa menunggu untuk apa mereka membayar saya,” ujar Ida.

Dia mengaku meski menjadi pramugari senior di Los Angeles, rekan-rekannya sudah menjadi bagian dari kariernya. Tak hanya itu, gugatan yang diajukannya bahkan mengklaim nenek berusia 79 tahun tersebut adalah karyawan teladan sampai diberhentikan dan menerima penghargaan perusahaan serta ulasan bintang dari para pelanggan.

“Saya belum pernah sakit 30 atau 40 tahun. Setiap tahun mereka mengadakan perjamuan untuk satu persen teratas yang mendapat surat terbanyak dari pelanggan. Saya pergi ke sana tiga kali. Saya dicalonkan oleh ketua klub,” jelasnya.

Juru bicara Delta mengatakan, perusahaan berdiri dengan keputusannya untuk mengakhiri Ida.

Baca juga: Sybil Peacock, Eks Pramugari Delta Air Lines Wafat di Usia 103 Tahun

“Dalam menentukan tindakan yang tepat untuk Ms. Gomez. Delta dengan tegas percaya bahwa keputusannya untuk menghentikan Ms. Gomez adalah tepat dan sepenuhnya sah. Ketika suatu pelanggaran terhadap perusahaan teridentifikasi, dianggap bahwa pelaksanaan transaksi itu penting. Keputusan seperti ini tidak dibuat enteng atau tanpa tinjauan komprehensif oleh banyak orang,” kata juru bicara itu melalui sebuah pernyataaan.

Karena adanya ini, Ida mengatakan, hal tersebut hanya melemahkan semangat dan dirinya tertekan karena tidak tahu salah apa.

Tingkatkan Daya Saing, TransNusa Gandeng China Aircraft Leasing

TransNusa, maskapai penerbangan domestik yang melayani penerbangan di daerah Indonesia timur, hari ini mengumumkan kerja sama strategis dengan China Aircraft Leasing (CACL) Group yang merupakan salah satu perusahaan penyedia pesawat terbesar di dunia untuk meningkatkan kualitas dan daya saing. Dalam kerja sama ini, TransNusa memanfaatkan keunggulan CACL sebagai penyedia solusi utuh dalam jasa penerbangan.

Baca juga: Serba Serbi Check In Online di Masing-Masing Maskapai Penerbangan

Keduanya akan mengeksplorasi berbagai macam bentuk kerja sama seperti dukungan armada, manajemen aset pesawat dan pemeliharaan pesawat. Jaringan dan pemahaman yang luas ditambah solusi efisien dari CACL akan membantu TransNusa dalam mempertahankan dan memperpanjang rekam jejak dalam hal keselamatan penumpang.

“Kerja sama kami dengan CACL akan menggiring TransNusa ke dalam sebuah fase baru. Saat ini kami telah beroperasi di 30 rute domestik di 24 kota ditambah satu penerbangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste,” ujar Managing Director TransNusa Bayu Susanto, Selasa (10/12/2019) di Hotel Shangri-La.

Bayu mengatakan, TransNusa juga memberikan konektivitas vital last-mile dalam menghubungkan antar destinasi di Indonesia maupun penerbangan internasional. Ekspansi kami akan memberikan banyak pilihan bagi masyarakat Indonesia dan juga internasional dalam memberikan kenyamanan dan pelayanan serta nilai unggul.

Bayu menambahkan, TransNusa akan mendapatkan akses pendanaan yang kuat dari CACL dan juga China Everbright Limited (CEL) untuk mendorong ekspansi bisnis di masa mendatang. Dengan dukungan CACL dan CEL, dikatakan Bayu, TransNusa siap untuk berkembang sebagai maskapai pengumpan yang memiliki nilai tambah untuk meningkatkan konektivitas udara regional dan internasional serta meningkatkan perekonomian Indonesia terutama dalam sektor penerbangan dan pariwisata.

Bayu mengatakan, kerja sama keduanya dan rencana ekspansi diatur untuk memenuhi meningkatnya permintaan jumlah penerbangan domestik. Selain itu juga meningkatkan aksesibilitas destinasi wisata yang tersebar di seluruh nusantara yang akan dilengkapi jaringan maskapai internasional terkemuka.

Baca juga: Garuda Indonesia Hadirkan CRJ-1000 untuk Penerbangan Charter Langsung Jakarta – Pulau Christmas

“Kerja sama strategis CACL dengan TransNusa tidak hanya meningkatkan kolaborasi Sino-Indo di sektor penerbangan, tetapi juga akan memfasilitasi transfer keahlian teknis dan investasi dari Cina yang akan meningkatkan pasar penerbangan Indonesia serta mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara terutama yang berasal dari Cina. Kami percaya bahwa kerja sama ini akan menguntungkan Indonesia yakni masyarakatnya,” kata Mike Poon, Direktur Eksekutif dan CEO CACL.

Hari Ini, Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Resmi Beroperasi

Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin dibawah pengelolaan PT Angkasa Pura I telah resmi mengoperasikan Terminal Baru pada 10 Desember 2019. Guna mempersiapkan operasional Terminal Baru ini, Angkasa Pura I melakukan “operasi boyong” dengan memindahkan peralatan operasional yang ada di terminal lama ke terminal baru.

Baca juga: Citilink Buka Rute Bersejarah, Koneksikan Semarang, Banjarmasin dan Palembang

Operasi boyong dilakukan secara bertahap sejak Senin (9/12) siang hingga Selasa (10/12) dini hari. Pada siang hari mulai dipindahkan beberapa peralatan dan fasilitas pendukung ke terminal baru. Pada saat bersamaan juga dilakukan pemeriksaan kondisi fasilitas di terminal baru oleh masing-masing unit yang bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut.

“Kami memastikan kegiatan ini tidak akan mengganggu operasional pada terminal lama karena fokus aktivitas pemindahan akan dilakukan pada malam hari menjelang operasional bandara tutup. Selesainya operasi boyong ini menandakan kesiapan mulai beroperasi terminal baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Banjarmasin dan Kalimantan Selatan,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com

Adapun peralatan yang dipindahkan mencakup peralatan screening check point (SCP) 2 dan fasilitas di ruang tunggu domestik dan internasional. Peralatan lain yang dipindahkan yaitu trolley, x-ray, komputer kios, walk through metal detector (WTMD) atau alat pendeteksi metal, meja pemeriksaan SCP, peralatan perkantoran, dan lainnya.

Baca juga: Ibukota Baru Akan Punya Bandara VVIP untuk Private Jet

Sebelumnya, Sabtu (7/12) lalu telah dilakukan simulasi total pengoperasian terminal baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Simulasi ini melibatkan ratusan karyawan yang berperan sebagai penumpang, petugas parkir, petugas aviation security, petugas customer service, petugas groundhandling, dan instansi terkait seperti bea cukai dan imigrasi. Simulasi dimulai dari kedatangan penumpang, penggunaan trolley, check in, screening, dan lainnya.

Terminal Baru juga ditunjang dengan 42 unit konter check in, 3 conveyor belt, dan ruang tunggu seluas 5.185 meter persegi.

Berdasarkan data dari otoritas Bandara Syamsudin Noor, area parkir khusus kendaraan roda empat di terminal baru luasnya mencapai 34.360 meter persegi. Sedangkan, untuk roda dua seluas 2.420 meter persegi. Kepala Komunikasi dan Legal Bandara Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria mengatakan, dengan area yang jauh lebih luas, tempat parkir di terminal baru nantinya bisa menampung 1.524 kendaraan roda 4 dan 720 unit kendaraan roda 2.

London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Bagi Anda semua yang sudah tidak asing lagi dengan sektor aviasi global, mungkin Anda semua sudah mengetahui bahwa penerbangan berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC) lazimnya hadir untuk menghubungkan dua destinasi penerbangan yang terpaut jarak pendek hingga menengah – dengan durasi perjalanan kurang lebih berkisar tiga hingga empat jam. Jujur saja, penerbangan dengan menggunakan Indonesia AirAsia dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) menuju Bandara Internasional Don Mueang (DMK) di Bangkok, Thailand selama kurang lebih empat jam sudah cukup membuat lutut rasanya mau copot.

Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Namun, apa jadinya jika ada penerbangan LCC yang memakan waktu hingga belasan jam lamanya? Yakinkah Anda mau mencobanya?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman centreforaviation.com, rekor penerbangan LCC terjauh yang ada di dunia diraih oleh maskapai terbesar di Norwegia, Norwegian Air Shuttle (AS), dimana maskapai ini sempat mengoperasikan rute penerbangan dari London Gatwick menuju Singapura terhitung sejak 28 September 2017 kemarin.

Jarak 6.736 mil atau berkisar 10.840 kilometer yang terbentang di antara dua destinasi ini membuatnya tercatat sebagai penerbangan LCC terjauh di dunia hingga saat ini. Dalam mengoperasikan rute penerbangan ini, Norwegian AS menggunakan armada Boeing 787-9 dengan frekuensi penerbangan empat kali dalam seminggu.

Tidak bisa dipungkiri, rute penerbangan London – Singapura memang merupakan ‘ladang basah’ yang menjadi titik dimana pihak maskapai meraup keuntungan besar – terutama bagi maskapai full service. Namun dengan masuknya nama Norwegian AS yang notabene merupakan maskapai LCC, tentu saja ini memberikan warna tersendiri di tengah persaingan maskapai full service.

konfigurasi bangku Boeing 787-9 Norwegian AS. Sumber: the point guy

Jika mengukur dari segi kenyamanan, tentu saja Norwegian AS kalah jauh dengan maskapai full service yang menawarkan fasilitas lebih nyaman. Namun jika ditelisik dari segi harga, LCC akan mengungguli maskapai full service.

Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier

Tapi Anda jangan dulu menganggap bahwa penerbangan LCC dari London Gatwick ke Singapura yang pernah dilakoni Norwegian AS ini memiliki konfigurasi bangku yang sama ketika Anda terbang dari Jakarta ke Bali dengan menggunakan maskapai LCC seperti Lion Air atau Indonesia AirAsia. Mungkin ada sedikit perbedaan konfigurasi – terutama bangku di penerbangan LCC terjauh di dunia sampai saat ini.

Namun satu yang pasti, penumpang akan menempuh perjalanan kurang lebih 14 jam lamanya di rute penerbangan ini. Berkenaan dengan satu dan lain hal, akhirnya pada Januari 2019 kemarin Norwegian AS menghentikan rute penerbangan dari London Gatwick menuju Singapura. Dikabarkan, penerbangan terakhir di rute ini terjadi pada 11 Januari 2019 kemarin.

Ferry Kereta, Penyambung Lintasan Jalur Kereta Antar Pulau

Ferry kereta merupakan sebuah moda laut yang berbentuk seperti kapal ferry pada umumnya, namun kapal ini mampu untuk membawa kereta api di dalamnya. Biasanya, geladak bawah ferry seperti ini berisi rel kereta yang memiliki pintu di bagian depan dan/atau di sebelah sisinya untuk memudahkan kereta turun atau naik saat di dermaga. Di Inggris, ferry kereta kadang disebut juga sebagai “car ferries”, berbeda dengan “auto ferries” yang dipergunakan untuk mengangkut mobil. Dermaga memiliki jembatan dan linkspan yang berguna sebagai penyeimbang dan penghubung antara kereta dengan daratan.

Baca juga: Kereta Ferry, Sensasi Naik Kereta di Tengah Laut

Ferry kereta pertama kali diresmikan pada tahun 1833 oleh Monkland and Kirkintilloch Railway. Walaupun ferry selama ini kita sering lihat di laut, namun ferry kereta ini digunakan pertama kali untuk menyebrangi kanal. Pada April 1836, ferry gerbong pertama Amerika, Susquehanna, mulai beroperasi di sungai Susquehanna yag menghubungkan Havre de Grace dan Perryville, Maryland.

Kereta cepat pun menggunakan jasa kapal ferry kereta.
Kereta cepat pun menggunakan jasa kapal ferry kereta.

Ferry kereta modern pertama kali dibangun pada tahun 1849 dengan nama Leviathan. Perusahaan Leith and Newhaven Railway asal Edinburgh pertama kali dibentuk pada tahun 1842 dimana perusahaan itu memiliki tujuan untuk memperpanjang rute East Coast Main Line menuju Dundee dan Aberdeen. Teknologi jembatan yang belum sehebat sekarang, itulah yang menjadi salah satu rintangan untuk menyebrangi Firth of Forth yang membentang sejauh 5 mil.

Lalu munculah nama Thomas Bouch, seorang insinyur sipil yang kemudian mengusulkan sebuah teknologi yang efisien untuk melintasi Firth of Forth. Dengan teknologi Roll-on Roll-off, yaitu teknologi yang diaplikasikan di kapal ferry dan memungkinkan membawa kendaraan, beberapa ferry kereta mulai dibuat dan mempersiapkan pula sarana pendukung lainnya. Sarana pendukung tersebut antara lain jembatan yang disertai rel tidak statis untuk memudahkan kereta masuk ke dalam ferry.

post-6824-0-57430200-1312297903_thumb

Walaupun ada banyak orang yang menggagas ide semacam ini, namun hanya Thomas Bouchlah yang memberikan dampak positif dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, termasuk memperhatikan detail. Melihat hal ini, pemerintah setempat lalu menghimbau untuk membangun ferry kereta untuk menyebrangi Firth of Forth yang menghubungkan Burntisland di Fife dan Granton. Thomas Grainger, ialah orang pertama yang mendesain ferry kereta ini.

Pengoperasian pertama dimulai pada 3 Februari 1850 dengan sebutan rel yang mengambang, namun bukan untuk penyebrangan kereta karena masih terhambat dengan jembatan rel yang belum rampung. Hingga 1890, penyebrangan kereta ini masih belum dibuka karena konstruksi yang tertunda akibat kegagalan Thomas Bouch di Jembatan rel Tay.

0

Mulai masuk ke abad 19, ada banyak kejadian kecelakaan ferry kereta dari berbagai penjuru dunia, sebut saja Toya Maru, Seikan Maru no. 11, Kitami Maru, Tokachi Maru, dan Hidaka Maru asal Jepang yang tenggelam akibat angin topan Marie pada 26 September 1954 yang menewaskan lebih dari 1000 orang. Beberapa tahun berselang, MV Patrick Morris, ferry kereta asal Kanada juga tenggelam saat membantu operasi penyelamatan sebuah kapal nelayan yang tenggelam di lepas pantai sebelah timur laut pulau Cape Breton.

Salah satu ferry kereta yang hingga kini masih beroperasi adalah Compagnie de gestion de Matane Inc. (COGEMA) yang  mulai beroperasi pada tahun 1975 dan khusus untuk melakukan pelayanan penyebrangan kereta. Pada awalnya, perusahaan ini milik Canadian National Railway, namun pada 14 Februari 1999, perusahaan tersebut lalu dijual ke Quebec Railway Corporation. Penyebrangan kereta menggunakan ferry ini menghubungkan Matane dan Baie-Comeau.

Dari dalam negeri, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengusulkan untuk membangun ferry kereta di Jembatan Selat Sunda. PII berpendapat lebih baik membangun ferry kereta dibandingkan dengan jembatan yang investasinya sangatlah mahal, hingga menyentuh angka Rp100 triliun. Bukan tanpa alasan, usulan PII ini bertujuan agar investasi pembangunan jembatan dialokasikan untuk pembangunan jalur kereta trek ganda di Sumatera dan Jawa.

Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Ketua Umum Badan Kejuruan Mesin PII, Budhi M Suyitno mengatakan Indonesia seharusnya dapat membuat ferry kereta, ditunjang dengan kesiapan infrastuktur dan teknologi yang dimiliki. “Eropa Sudah banyak, di Selat Dover dataran Inggris. Antara Eropa dengan Skandinavia juga ada. Itu bukan hal yang sulit,” kata Budhi sebagaimana yang dikutip dari detik.com, Jumat, 25 April 2014. Namun ibarat terkena “seleksi alam,”kiprah ferry kereta Di Selat Dover resmi dipensiunkan pada tahun 1994, yakni semenjak terowongan Euro Channel selesai 1993.

“Peninsula,” Jadi Sekuel Kedua Train to Busan, Tayang Musim Panas 2020

Masih ingat film Train to Busan yang pernah tayang tahun 2016 lalu? Ternyata film ini akan punya sekuel baru yakni Train to Busan 2: Peninsula. Judul Peninsula ini memiliki arti Bando dalam bahasa Korea. Rencananya film baru ini akan tayang pada musim panas 2020 atau diklaim untuk rilis jadwal internasionalnya pada 12 Agustus 2020 mendatang.

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

“Sutradara Yeon Sang Ho dari Peninsula memastikan film tayang perdana Agustus 2020. Dengan tanggal pastinya yaitu 12 Agustus 2020,” kata sumber yang dilansir KabarPenumpang.com dari Soompi.

Namun dari keterangan tertulis, distributor NEW menyatakan mereka belum bisa memastikan tanggal pasti rilis di dalam maupun luar korea.

“Meski benar bahwa kami menargetkan untuk rilis musim panas 2020, kami belum membuat keputusan apapun terkait tanggal spesifik penayangan premier di dalam dan di luar Korea,” kata mereka dalam keterangan tertulis.

Peninsula sendiri merupakan sekuel dari Train to Busan yang dibintangi oleh Gong Yoo. Latar waktu film ini masih sama karena, karakter dalam film bertaruh untuk meninggalkan Korea, setelah dunia mereka di dominasi oleh Zombie. Film ini dibintangi oleh Kang Dong Won, Lee Jung Hyun, Lee Re, Kwon Hae Hyo, Kim Min Jae dan Goo Kyo Hwan.

Diketahui film Train to Busan memecahkan rekor penonton hingga sepuluh juta orang di Korea Selatan. Sedangkan di Malaysia, Hong Kong dan Singapura meraup hampir $100 juta dalam tiket penjualan global dengan anggaran kurang dari $9 juta.

Train to Busan yang rilis 2016 lalu memiliki sinopsis di mana film ini awalnya ketika sebuah truk pembawa barang diizinkan melewati sebuah daerah yang mengalami kebocoran. Ketika itu, pengendara truk tidak melihat seekor rusa melintas di tengah jalan sehingga rusa yang mati itu berubah menjadi rusa zombie.

Seok-Woo, seorang manajer keuangan sebuah perusahaan, berangkat ke Busan bersama anaknya, Su-an, untuk bertemu dengan ibunya sebagai hadiah ulang tahun anak perempuannya. Seok-Woo, yang baru bercerai dengan istrinya, berangkat dengan KTX (kereta api cepat Korea) dari Seoul bersama para penumpang lain.

Ketika kereta akan berangkat, seorang wanita dengan luka di kakinya masuk ke dalam kereta tersebut. Wanita tersebut mencoba menyerang pramugari kereta yang ingin mencoba menolongnya. Sejak itu, wanita zombie itu telah menginfeksi sejumlah besar penumpang kereta.

Masinis kereta mengumumkan bahwa kereta akan berhenti di Daejeon, tempat para tentara telah siaga untuk menolong mereka. Namun, ketika sampai di sana, keadaan stasiun sepi dan tidak ada orang sama sekali. Ketika menyadari bahwa seluruh tentara telah menjadi zombie, mereka masuk kembali ke kereta api tersebut dan menuju Busan, tempat yang kebocoran virus itu dibersihkan.

Baca juga: Liam Neeson Suguhkan Aksi Thriller Terbarunya di Kereta Amtrak

Dalam perjalanan tersebut, mereka diserang oleh sejumlah mayat hidup dan Seok-woo sempat digigit oleh Yong-suk, yang akhirnya berubah menjadi zombie. Seok-woo mengajari Sung Kyung dan Su-an bagaimana menghentikan kereta api sebelum ia meninggalkan mereka dan terjun dari atas kereta api yang berjalan.

Bayi Tewas di Bandara Manila dengan Leher Dilingkari Pakaian Dalam

Menjadi negara tuan rumah perhelatan Sea Games 2019, Filipina ternyata tak luput dari kabar duka. Kabar ini datang dari Bandara Internasional Ninoy Aquino Manila dimana ditemukan seorang bayi yang tak lagi bernyawa di salah satu bilik toiletnya.

Baca juga: Bayi Ditemukan Tewas dalam Toilet Pesawat AirAsia, Perempuan 19 Tahun Jadi Tersangka

Bayi yang dilaporkan dengan jenis kelamin perempuan tersebut, menurut Otoritas Bandara Internasional Manila atau Manila International Airport Authority (MIAA) ditemukan sekitar pukul 19.00 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (8/12/2019), bayi perempuan tersebut ditemukan dengan pakaian dalam melingkar di bagian lehernya.

MIAA mengatakan pakaian dalam yang melingkar di leher sang bayi diyakini milik sang ibu. Sayangnya bayi itu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan ketika tim medis MIAA tiba di tempat kejadian.

Namun, mereka tetap mencoba menghidupkan kembali bayi tersebut melalui prosedur pendukung kehidupan dasar tetapi tidak berhasil. Bahkan keberadaan ibu dari bayi malang yang meninggal tersebut tidak diketahui secara pasti.

Karena hal ini, pihak otoritas bandara berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Selain itu General Manager (GM) dari MIAA, Ed Monreal, telah memerintahkan seluruh rekaman CCTV di Terminal 3 untuk diperiksa secara menyeluruh di mana bayi yang meninggal itu ditemukan.

Insiden ini mengingatkan pada 2018 lalu, dimana seorang bayi yang baru dilahirkan ditemukan tewas dalam toilet pesawat AirAsia India. Bayi tersebut ditemukan tidak bernyawa dengan kertas toilet yang membungkus tubuh dan menyumbat mulutnya serta diduga lahir sebelum waktunya.

Jasad bayi tersebut ditemukan awak kabin penerbangan domestik AirAsia India sesaat akan mendarat di New Delhi, India pada Rabu kemarin waktu setempat. Pesawat tersebut diketahui berangkat dari Guwahati dalam penerbangan dari Imphal-Guwahati-New Delhi.

“Seorang dokter dari tim medis di Bandara Internasional New Delhi mengkonfirmasi bahwa bayi tersebut telah lahir di dalam pesawat,” ujar manajemen AirAsia India.

Dengan ditemukannya jasad bayi tersebut, pihak maskapai yang dibantu kepolisian Bandara New Delhi kemudian melakukan interogasi kepada semua penumpang perempuan dalam penerbangan itu. Hal ini dilakukan guna memastikan pelaku dan sebelum akhirnya ditahan serta diperiksa lebih lanjut.

Baca juga: Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”

Dari hasil identifikasi pihak kepolisian India, AirAsia India mengatakan seorang perempuan muda berusia 19 tahun akhirnya mengakui telah melahirkan bayi tersebut. Atas insiden tersebut, pihak kepolisian India melakukan upaya untuk menghubungi keluarga perempuan yang tak disebutkan namanya itu. Perempuan muda itu terancam hukuman penjara dua tahun dan denda atas masalah ini.

Gara-Gara Kucing Kelebihan Berat Badan, 370 Ribu ‘Miles’ Milik Pria Rusia Dibatalkan Aeroflot

Maskapai plat merah Rusia, Aeroflot hanya mengizinkan kucing seberat delapan kilogram untuk dibawa ke dalam kabin dan jika berlebih maka harus masuk dalam kandang dan diletakkan pada ruang kargo pesawat. Namun belum lama ini seorang pria asal Rusia membawa masuk kucingnya yang memiliki berat badan sepuluh kilogram dalam kabin.

Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

Karena hal tersebut, Mikhail Galin dan kucingnya yang bernama Viktor menjadi viral di media sosial Rusia. Dilansir KabarPenumpang.com dari breakingnews.ie (13/11/2019), atas kesalahannya Galin pun mengaku bahwa dirinya melanggar aturan dan operator memiliki hak untuk mengambil tindakan.

Diketahui, saat itu Galin berangkat dari Riga ibukota Latvia dan menolak menyimpan Viktor di kargo pesawat dalam penerbangan delapan jam ke Vladivostok dengan transit di Moskow. Dia sempat hampir kehilangan tiketnya karena berat badan Viktor yang berlebih, namun saat itu dia bertemu dengan seorang Samaria di Moskow yang juga membawa kucing menyerupai Viktor yang beratnya kurang dari delapan kilogram.

Phobe kucing yang ditemukannya itu dibawa untuk ditimbang menggantikan Viktor. Ketika penanganan hewan Aeroflot terlihat puas karena kucing berukuran seusai, Galin kemudian kembali ke terminal dan menukar kembali Phobe dengan Viktor.

Kemudian dengan miles yang dimiliki, Galin memesan kursi kelas bisnis ke Vladivostok. Sayangnya tindakan Galin diketahui oleh pihak Aeroflot setelah dia membagikan foto-foto dirinya dengan Viktor di Facebook dalam penerbangannya tersebut.

Karena hal ini, Aeroflot memutuskan untuk mengecualikan Galin dari program loyalitas Bonus Aeroflot. Perusahaan tersebut mengatakan, semua miles yang telah terakumulasi selama program akan dibatalkan.

Padahal saat itu ternyata miles yang dimiliki Galin mencapai 370 ribu sebelum keputusan tersebut. Selain melanggar batas carry-on untuk hewan, Aeroflot mengutip penghapusan Viktor dari pembawa kucingnya sebagai salah satu alasan Galin dikeluarkan dari program loyalitas.

“Hukumannya keras tapi ini hukumannya. Saya melanggar peraturan dan operator memiliki hak untuk mengambil tindakan itu,” kata Galin.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

Adanya hal ini bahkan menarik perhatian parlemen negara itu dimana kepala komite ekologi Duma Negara, Vladimir Burmatov, melakukan permintaan kepada Vitaly Savelyov, CEO Aeroflot, untuk mengembalikan miles yang dibatalkan kepada pemilik kucing gemuk dan merevisi aturan untuk mengangkut hewan fleksibilitas yang lebih besar. Burmatov juga mengatakan bahwa mungkin bagi mereka untuk membayar lebih untuk barang bawaan mereka.

Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!

Membawa barang elektronik saat bepergian ke luar negeri seperti laptop adalah hal yang lumrah, apalagi Anda yang bepergian untuk keperluan bisnis. Laptop bisa diibaratkan istri kedua yang tak bisa ditinggalkan sama sekali, terlebih bila di dalam laptop/notebook terdiri dari beragam informasi penting yang vital untuk mendukung aktifitas kerja di dearah tujuan.

Namun, untuk Anda yang bepergian menggunakan pesawat saat membawa laptop banyak hal yang harus diperhatikan saat di bandara. Pasalnya di beberapa negara mewajibkan pemeriksaan pada laptop. Biasanya pemeriksaan hanya untuk pengamanan tak lebih dari itu, untuk Anda yang membawa laptop dalam perjalanan lebih baik untuk mengetahui kenapa laptop yang Anda bawa harus diperiksa.
pemeriksaan-di-bandara-simpel-diajak-mantan-danlanal-cocktail-partyDilansir dari beberapa media, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerapkan aturan baru terhadap pemeriksaan barang-barang penumpang pesawat terkhusus barang elektronik yang dibawa akan melalui pemeriksaan yang ketat. Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Kalimarau, Bambang Hartanto mengatakan, barang elektronik yang dibawa penumpang dari dalam tas atau bagasi akan diperiksa, salah satunya laptop.

“Hal ini, dilakukan tujuannya demi keamanan dan keselamatan penumpang dan untuk barang elektronik lebih ke antisipasi teroris,” ujarnya.

Adakalanya pemeriksaan di bandara Indonesia berbeda dengan negara lain seperti, Singapura, Jepang, Amerika Serikat atau negara lainnya. Namun, hampir keseluruhannya sama untuk keamanan dan antisipasi teroris. Beberapa negara ada yang akan menyuruh Anda hanya mengeluarkan laptop dari tasnya untuk masuk ke X-ray, tetapi ada beberapa negara juga yang mewajibkan Anda untuk menyalakan laptop.

Seperti di Amerika Serikat, ada hal dan pengalaman yang dilansir dari beberapa website, sejak tragedi Gedung WTC pada 11 September 2001, wisatawan yang masuk atau keluar Amerika harus mengeluarkan laptop yang dibawa dan dinyalakan sebelum melalui X-ray. Hal ini untuk mencegah adanya bom di laptop tersebut, karena laptop bisa dirakit untuk menjadi bahan atau pun pemicu peledak.

Di beberapa negara lain, laptop dikeluarkan dari tas sebelum masuk ke X-ray, harus dinyalakan. Hal ini untuk mengecek keaslian OS atau Windows yang digunakan. Nantinya bila ditemukan adanya OS atau Windows palsu, ada kemungkinan laptop akan di tahan dan si pemilik akan diperiksa lebih lanjut untuk sanksi yang akan diberikan.

Untuk Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) sejak 2008 sudah memberlakukan pemeriksaan laptop penumpang bagi yang tidak menggunakan OS atau Windows yang asli. Kepala Divisi Sistem Informasi Bandara Soetta, Bambang Ciptahadi mengatakan, pemeriksaan software tersebut sebenrnya diberlakukan di semua instansi dan salah satunya bandara internasional. “Kami memang memberlakukan ini mengingat banyak software tak berlisensi yang diduplikasi di Indonesia. Seperti kita tahu, penduplikasian seperti itu menjadi lazim di negara ini,” ujar Bambang.

Sempat berhembus kabar, bila ditemukan adanya software palsu, penumpang akan dikenakan sidang ditempat dan wajib membayar denda Rp9,5 juta. Namun, kabar ini belum jelas adanya hingga saat ini. Yang jelas saat ini tak pernah terlihat lagi pemeriksaan laptop di Bandara Soetta.

Ada benarnya untuk pemeriksaan terhadap laptop yang dibawa para penumpang yang memasuki bandara untuk keamanan dan keselamat. Tetapi, bila harus dinyaalakan terlebih dahulu justru akan membuat antrean yang ada akan semakin panjang dan menambah lama penumpang lainnya.