Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Dua penumpang terpaksa diturunkan oleh pihak keamanan bandara, penyebabnya terbilang unik, yaitu penumpang tersebut diduga memiliki detonator bom jarak jauh. Padahal yang dimaksud berbeda, yaitu kedua penumpang menyalakan modem hostspot WiFi ketika di dalam kabin pesawat. Hal tersebut membuat pesawat GoJet pada 16 Januari 2020 tertunda keberangkatannya selama tiga jam.

Baca juga: Lontarkan Lelucon Soal Bom, Penumpang British Airways Dikeluarkan dari Pesawat

Insiden ini terjadi pada malam 16 Januari lalu di Bandara Metropolitan Detroit, Amerika Serikat dalam pesawat GoJet dengan penerbangan Delta Connection menuju Montreal. Seorang penumpang, Aaron Greenberg mengatakan, insiden menakutkan tersebut terjadi setelah awak kabin berulang kali meminta penumpang untuk mematikan hotspot WiFi pribadi mereka.

Namun, penumpang itu tidak menggubrisnya dan awak kabin akhirnya mengumumkan mereka akan memanggil polisi jika hotspot tersebut tidak dimatikan. KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (21/1/2020), Greenberg mem-videokan insiden itu dan membagikannya dalam Instagram story miliknya.

“Kami memiliki situasi di belakang pesawat. Polisi akan naik ke kabin untuk menilai situasi. Saya meminta semua orang duduk di kursi masing-masing dengan sabuk pengaman terpasang,” kata awak kabin dalam video tersebut.

Dalam pengumuman yang disiarkan, awak kabin mengatakan akan menutup pintu pesawat dan penumpang agar tetap duduk dan menyimpan barang bawaan mereka. Saat itu juga dikatakan, mereka menyusun rencana untuk penumpang yang diduga mengaktifkan hotspot tersebut.

“Berita baiknya adalah semuanya baik-baik saja, semua orang aman, pesawat kami aman. FBI ada di sini bersama kita,” tambah awak kabin itu.

Greenberg menambahkan, untuk pengamanan penumpang yang tidak mau mematikan hotspot-nya ada sepuluh kendaraan darurat dengan lampu menyala dan mengelilingi pesawat.

“Saya, pada awalnya, mengira ada seseorang yang benar-benar berbahaya di dalam pesawat, karena pilot mengatakan mereka berurusan dengan seseorang di belakang,” ujar Greenberg.

Greenberg menyebut ada dua penumpang yang diturunkan dari pesawat, yakni seorang pria dan wanita. Seorang juru bicara Otoritas Bandara Wayne mengatakan, bahwa penegak hukum telah tiba di bandara dengan hati-hati dan membawa dua penumpang, seorang wanita berusia 42 tahun dan seorang pria berusia 31 tahun keluar dari pesawat.

Baca juga: Saat Bom Ditemukan, Inilah Lokasi Pengamanan Sebelum Pesawat Didaratkan

Kedua orang itu dari Quebec dan ditahan untuk diinterogasi sebelum dibebaskan sambil menunggu penyelidikan tambahan. Penerbangan ditunda selama lebih dari tiga jam dan berangkat ke Montreal pada pukul 01.40 pagi waktu setempat. Pejabat tidak mengkonfirmasi nama koneksi hotspot WiFi yang digunakan.

Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram

Sepertinya kelakuan penumpang pesawat makin hari makin aneh saja. Mabuk dan membuat awak kabin serta penumpang lain gusar menjadi yang paling sering terjadi. Bahkan melakukan gerakan yoga, naikkan kaki ke kursi depan, menjemur pakaian dalam hingga meni pedi (gunting kuku) di pesawat bukan hal aneh lagi.

Baca juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!

Tapi seorang wanita mulai berulah dan menjadikannya lucu ketika foto kakinya viral ketika menggunakan sarung tangan. Penumpang yang menggunakan celana legging bunga-bunga berwarna hijau dan merah muda itu akan ke toilet dengan kaki berselimutkan sarung tangan steril.

Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (29/12/2019), foto kaki wanita dengan terbungkus sarung tangan steril tersebut viral di Instagram @PassengerShaming. Banyak warganet yang bingung dengan kelakuan wanita tersebut. Bahkan komentar-komentarnya pun beragam dan foto tersebut membuat gelak tawa para warganet.

Tak hanya itu, banyak warganet yang bertanya apakah awak kabin tidak melihat dan melarangnya? Sebab, diketahui kabin kapal bukanlah tempat yang bersih apalagi toilet. Di mana banyak bakteri dan kuman yang menempel serta bisa membuat sakit penumpang.

Para warganet di Instagram juga mengatakan apakah wanita tersebut menggunakan sarung tangan steril untuk menjaga kakinya tetap aman dan steril ketika ke toilet pesawat? Postingan yang diunggah pada Maret 2019 lalu di Instagram @PassengerShaming tersebut diberi caption “Ahh, sarung tangan membuat berhenti!! Oh, maksud saya kaki saya, apapun – Saya tidak tahu apa yang terjadi dan sekarang mempertanyakan kehidupan.”

Diketahui, toilet pesawat menjadi salah satu tempat banyaknya bakteri sehingga ketika menggunakannya lebih baik pakai sepatu atau alas kaki. Tak hanya itu, melepas alas kaki dalam pesawat juga sebaiknya tidak dilakukan selain mencegah bau yang tersebar, ternyata menggunakan alas kaki juga untuk keselamatan penumpang ketika terjadi keadaan darurat.

Baca juga: Gunakan Sepatu Hak Tinggi, Wanita Paruh Baya Lakukan Gerakan Yoga di Kursi Pesawat

Jadi, baiknya gunakan alas kaki ketika di pesawat dan ke toilet, sebab selain menjaga keselamatan, menghindarkan penumpang juga terkena penularan kuman yang ada alam pesawat.

Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Seorang warga negara Singapura, dilaporkan berhasil selamat dari ancaman isolasi yang hendak dilakukan oleh otoritas Cina di kota Wuhan. Kala itu, ia (yang sedang mengerjakan beberapa bisnis) awalnya sempat tidak tahu-menahu perihal isolasi yang akan dilakukan, hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai hal tersebut saat membuka ponselnya.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

Kisah menariknya untuk keluar dari Wuhan pun kemudian dibeberkan oleh media setempat. Dikutip dari laman straitstimes.com, Jumat (24/1), pria bernama lengkap Eric Kng, awalnya hanya melakukan perjalanan untuk mengunjungi beberapa rekan dari Wuhan ke Shenzen. Tanpa ada niatan untuk pergi ke Shenzen agar tak terjebak di Wuhan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.

Saat dalam perjalanan ke stasiun kereta api untuk mengejar kereta pukul 3.30 pagi dari Wuhan, kemarin, Eric yang juga founder dan CEO sebuah perusahaan di Singapura dan Wuhan, mendapat pesan mengejutkan di ponselnya. Dalam pesan tersebut, dikabarkan bahwa kota itu akan di karantina, dan semua angkutan umum akan berhenti beroperasi pada pukul 10 pagi.

Beruntung, ia pun berhasil keluar dari Wuhan sebelum akses keluar masuk kota tersebut ditutup total. Dalam dokumentasi pribadinya, tampak, kereta ke Shenzhen, nyaris kosong melompong dan akan menjadi salah satu dari beberapa moda transportasi yang bisa keluar dari ancaman kota endemik coronavirus tersebut.

“Situasi awalnya relatif tenang. Lebih banyak orang memakai masker, tetapi masih melakukan kegiatan sehari-hari,” kata pria berusia 34 tahun tersebut, saat kembali mengulang ceritanya kepada wartawan.

Tetapi, lanjutnya, setelah penularan virus corona dari manusia ke manusia dikonfirmasi awal pekan ini, ia memutuskan untuk memborong bahan makanan yang sudah mulai melonjak hampir separuhnya. Termometer dan masker juga terjual habis di tiga apotek yang ia kunjungi.

Seperti mendapatkan bisikan magis, Eric Kng kemudian menyiapkan beberapa pakaian dan membeli tiket kereta ke Shenzhen untuk pagi berikutnya. Dia awalnya berencana untuk mengunjungi teman-teman di kota-kota Cina lainnya selama liburan, tetapi pada akhirnya gagal.

“Aku melihat berita dalam perjalananku ke stasiun kereta sekitar jam 2 pagi, dan bahkan sopir taksi bertanya apakah aku yakin bisa keluar dari Wuhan,” jelasnya.

Sebelum benar-benar keluar dari Wuhan, ia terlebih dahulu harus melewati tes kesehatan. Pada akhirnya ia dinyatakan lolos dan berhasil melenggang bebas dari Wuhan. Namun, walaupun bisa keluar dengan tepat waktu, ia tidak tahu kapan ia bisa kembali dan melanjutkan aktivitasnya seperti sedia kala.

“Tidak ada tiket yang tersedia untuk satu minggu ke depan. Kuharap segalanya segera berakhir. Yang kumiliki hanyalah ransel, dan aku masih punya urusan untuk dijalankan.”

Melihat beberapa fakta yang terjadi, ia pun coba berkomentar. Menurutnya, karantina akan lebih efektif jika diberlakukan sebelumnya. Sebab, banyak orang telah meninggalkan Wuhan menjelang Tahun Baru Imlek, baik baik ke kota asal di Cina maupun berlibur ke luar negeri.

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Pemerintah Cina sendiri, beberapa waktu lalu, telah mengumumkan, sebelum Malam Tahun Baru Imlek, semua penerbangan keluar dan kereta api dari Wuhan akan ditangguhkan dalam upaya mencegah penyebaran virus yang telah mencapai setidaknya lima negara lain, termasuk Singapura.

Bus umum, layanan kereta bawah tanah, dan kapal feri di kota juga terhenti. Sementara mobil masih dapat meninggalkan kota, pihak berwenang telah memutuskan bahwa penduduk tidak boleh pergi tanpa alasan khusus.

Gantikan Agung Wicaksono, Donny Andy Saragih Kini Pimpin PT TransJakarta

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) pada 23 Januari 2020 memiliki Direktur Utama yang baru yakni Donny Andy S Saragih. Donny menggantikan Agung Wicaksono yang mengundurkan diri dengan alasan pribadi, terutama kebutuhan keluarganya setelah satu tahun lebih tiga bulan menjabat Dirut PT TransJakarta.

Baca juga: Anies: Integrasi MRT ASEAN-Halte TransJakarta di CSW Jadi Monumen Penting dalam Sejarah

Penunjukan Donny sebagai Dirut Baru PT TransJakarta dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB tersebut digelar PT Transjakarta pada Kamis (23/1/2020) sesuai dengan Pasal 91 UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

“Memberhentikan Saudara Agung Wicaksono dari jabatanya sebagai Direktur Utama dan mengangkat Saudara Donny Andy S Saragih Sebagai Direktur Utama,” kata Kepala Divisi Sekretaris Perseroan dan Humas PT Transjakarta Nadia Diposanjoyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/1/2020).

Nah, siapa sih sosok Dirut baru PT TransJakarta ini? Pemilihan Donny sendiri karena dirinya memiliki berbagai pengalaman di perusahaan transportasi. Bahkan sebelum ditunjuk menggantikan Agung Wicaksono, Donny merupakan Wakil Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ).

Selain itu hingga saat ini dia menjabat sebagai komisaris PT Alfa Omega Transport dari tahun 2014. Donny juga pernah menjabat direktur operasional PT Eka Sari Lorena Transport Tbk sejak tahun 2007 hingga 2017.

Selain itu, pria kelahiran Tanjung Karang 48 tahun lalu tersebut juga ternyata memiliki pengalaman di Toyota Rant A Car (TRAC) milik PT Astra Internasional, Cipaganti, Hiba Utama dan Panorama Transportasi. Dengan kemampuannya ini, PT TransJakarta menilai, Donny mampu mengembangkan PT TransJakarta sebagai transportasi massal yang aman, nyaman, terjangkau dan tepat waktu.

Baca juga: 2019 Jadi Tahun Integrasi untuk TransJakarta

Tak hanya itu, TransJakarta juga berharap Donny menjalakan tugas-tugas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sesuai yang digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022. Apalagi sekarang TransJakarta tengah mengembangkan integrasi dengan moda transportasi lainnya seperti KRL, MRT Jakarta dan LRT Jakarta. Diketahui, selama Agung Wicaksono menjabat sebagai Dirut PT TransJakarta, tahun 2019 ada kenaikan penumpang dari 188,98 juta menjadi 264,61 juta pelanggan.

Airbus dan Pratt & Whitney Paksa ‘Kandangkan’ Armada A320Neo Milik GoAir, Ada Apa?

Maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) yang berbasis di Mumbai, India, GoAir, mengumumkan pihaknya akan mengurangi jadwal penerbangan hingga 9 Maret mendatang. Hal itu dikarenakan Airbus, selaku produsen pesawat, dan Pratt & Whitney selaku pembuat mesin pesawat A320 dan A320 Neo memaksa mereka untuk ‘mengandangkan’ beberapa armadanya.

Baca juga: Ada Masalah di Mesin, GoAir Terpaksa Lakukan Pendaratan Darurat

Dikandangkannya beberapa armada Airbus oleh maskapai yang berbasis di Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji itu dikarenakan pesawat-pesawat tersebut sudah melewati 3.000 jam terbang. Oleh karenanya, sesuai prosedur, pesawat-pesawat itu harus melakukan pengecekan berkala terlebih dahulu.

Celakanya, pihak Airbus dan Pratt & Whitney, mengabarkan bahwa mereka kemungkinan besar akan mengalami keterlambatan dalam pengiriman pesawat baru dan mesin pesawat. Selain itu, tidak adanya mesin cadangan juga semakin memperburuk keadaan.

Imbasnya, meskipun GoAir belum merilis berapa penerbangan yang akan dikurangi, menurut sebuah sumber, mereka diyakini akan mengurangi hingga 20-30 penerbangan dalam sehari, mengingat, GoAir banyak menggunakan pesawat-pesawat buatan Airbus.

“Dalam empat minggu terakhir, kami telah ‘mengandangkan’ beberapa pesawat yang telah mendukung operasi armada kami saat ini. Dan sekarang, kami telah diberitahu oleh mitra bisnis kami Airbus dan Pratt & Whitney tentang ketidakmampuan mereka untuk mengirimkan pesawat yang sebelumnya dijanjikan dan mesin hingga 9 Maret mendatang,” kata juru bicara GoAir, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir laman business-standard.com, Jum’at (24/1).

“Kami telah melakukan penangguhan penerbangan sedini mungkin untuk meminimalkan ketidaknyamanan bagi pelanggan yang merupakan fokus perhatian utama kami. Kami berharap – dengan dukungan Airbus dan Pratt & Whitney – untuk memulihkan kembali penerbangan ini dan dapat segera beroperasi,” kata GoAir.

Di tempat terpisah, dalam sebuah pernyataan, Airbus mengatakan, “GoAir adalah pelanggan Airbus yang berharga dan kami bangga dengan hubungan kami. Airbus mendukung pembuat mesin (Pratt & Whitney) untuk menyegerakan jadwal pengiriman mesin dan mendukung kelancaran operasional GoAir.”

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

GoAir sendiri tercatat memiliki 56 armada pesawat Airbus A320, termasuk 40 A320Neo. Saat ini, tujuh pesawat di antaranya sudah tidak beroperasi guna melakukan uji berkala sesuai prosedur yang berlaku. Dengan armada-armada tersebut, maskapai tersebut melayani hampir 320 penerbangan dalam sehari dan menjangkau hingga 22 kota.

Inspeksi atau uji berkala sebetulnya diperintahkan pada bulan Desember lalu. Namun, karena pengiriman mesin mengalami keterlambatan, akhrinya GoAir kembali menerbangkan pesawat yang ada.

Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Era otomatisasi di bandara sepertinya sudah semakin dekat. Setelah Airbus sukses mengujicoba pesawat pertamanya dengan lancar, kali ini ada maskapai asal Negeri Sakura, All Nippon Airways (ANA) yang juga sukses mengujicoba layanan terbarunya. Namun, bukan mengujicoba pesawat otomatis seperti Airbus, melainkan, mengujicoba bus listrik otonom.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Seperti dikutip dari laman newatlas.com, Kamis (23/1), belum lama ini ANA, bekerja sama dengan SB Drive, Advanced Smart Mobility, dan BYD, sukses menguji bus listrik otonom di Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang.

Seperti video yang dilihat KabarPenumpang.com di kanal YouTube SoftBank, bus yang tetap dijaga oleh seorang supir tersebut (jika sewaktu-waktu sistem kolaps) sukses melewati beberapa rintangan dengan mulus, seperti jalan menikung, berputar arah 360 derajat, hingga parkir. Menariknya, bus dengan kemudi bergerak sendiri bak hantu ini juga cukup peka terhadap sekeliling.

Dalam uji coba tersebut, ketika hendak berputar arah, bus tiba-tiba menghentikan laju dengan halus (tidak berhenti mendadak) akibat adanya kendaraan lain yang ingin melintas. Tampak, bus tersebut berhenti setelah mendeteksi adanya kendaraan lain yang melintas dalam radius sekitar lima meter.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=183&v=MA7GdIM6T1Y&feature=emb_title

Namun, pada momen lainnya, ketika bus hendak berbelok dan terdapat kendaraan lain di depan yang juga ingin berbelok ke arah yang sama, bus tersebut tidak menghentikan laju, melainkan hanya memperlambat, tidak berhenti pada momen sebelumnya. Jadi, bus tersebut terlihat cukup efisien dan aman bila nantinya secara reguler digunakan untuk melayani penumpang.

Saat ini, uji coba bus listrik otonom tersebut sudah memasuki tahap terakhir. Nantinya, ANA dan mitra bisnisnya akan mengujicoba bus pada rute sepanjang hampir dua kilometer, di jalan-jalan umum di sekeliling bandara.

“Setelah sepenuhnya diterapkan, bus listrik otonom akan memungkinkan kami untuk memberikan pengalaman transit yang lebih nyaman bagi penumpang kami sambil juga meningkatkan efisiensi bagi staf bandara kami,” kata salah seorang petinggi ANA, Shinzo Shimizu.

Baca juga: Olli, Bus Autonomous yang Bisa Diajak Bicara

Meskipun pengemudi tetap akan berada di depan kemudi, tetapi, poin terpentingnya adalah untuk melihat bagaimana kendaraan mampu melewati semua kendala di dunia nyata tanpa keterlibatan manusia terlalu banyak. Jika semuanya berjalan baik, ANA berencana akan mengoperasikan bus listrik otomatis tersebut akhir tahun 2020 mendatang.

All Nippon Airways (ANA) dan SB Drive sendiri pertama kali mengumumkan kerjasamanya untuk menguji bus listrik otonom pada Februari 2018 silam. Kunci dari bus listrik otonom tersebut terletak pada kamera dan sistem kendali jarak jauh. Kamera yang dipasang pada kendaraan menawarkan gambar internal dan eksternal dengan akurasi tinggi. Selain itu, kamera yang terpasar di segala sudut bus tersebut juga membuat sistem untuk melaporkan data lokasi dan kecepatan hingga memungkinkan untuk dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh.

Manjakan Mata Penumpang, LG Display Luncurkan Teknologi OLED di Kabin Pesawat

Hiburan dalam penerbangan atau In Flight Entertainment (IFE) seiring berjalannya waktu semakin menakjubkan. Dahulu, di setiap penerbangan, pemandangan dari udara dianggap sudah lebih dari cukup.

Baca juga: Singapore AirShow 2018: Garuda Indonesia Gandeng Thales Hadirkan In Flight Entertainment

Dari sana, maskapai bertransformasi dan menyajikan layar overhead di kabin (beberapa maskapai hingga kini masih memilikinya). Kemudian, layar seatback berdasarkan permintaan pribadi pun muncul dan dalam sedikit kasus, beberapa maskapai kini mulai menghilangkan entertainment seatback tersebut.

Sebagai gantinya, teknologi terbaru menawarkan berbagai maskapai lebih banyak pilihan untuk menghadirkan IFE yang lebih berkesan. Salah satunya OLED atau Organic- Light Emitting Diode (OLED).

Raksasa teknologi asal Korea Selatan, LG (melalui anak perusahannya, LG Display), baru-baru ini meluncurkan produk hiburan yang dirancang untuk digunakan di dalam pesawat. Layar OLED ini nantinya menawarkan jenis hiburan dalam pesawat yang benar-benar berbeda dari yang biasa dilakukan maskapai di dalam pesawat.

Seperti dikutip dari laman simpleflying.com, Rabu (22/1), jelang Consumer Electronics Show (CES) 2020 di Las Vegas, perusahaan yang berbasis di Seoul tersebut, mengumumkan bahwa mereka akan memperkenalkan display OLED baru yang dirancang untuk digunakan dalam berbagai pengaturan – termasuk di pesawat terbang. Pajangan OLED 55 inchi yang dipasang di dalam dinding pesawat dirancang untuk memberi kabin perasaan lebih terbuka.

Selain itu, LG Display juga meluncurkan layar OLED Ditekuk 65 inchi yang menyesuaikan dengan lengkungan pada pesawat atau keinginan penumpang. Meskipun konsep terlihat biasa, LG Display mengklaim bahwa teknologi tersebut sebagai salah satu cara untuk “meningkatkan pengalaman Kelas Satu”.

Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment

Disebut meningkatkan pengalaman kelas satu, selain bisa membuat sisi kanan atau kiri pesawat menjadi transparan dan dapat melihat pemandangan di luar pesawat dengan lebih luas, OLED juga bisa membuat seluruh isi kabin menjadi penuh dengan hiburan atau IFE. Entah OLED diletakan di atas (langit-langit kabin), di bawah, ataupun di seatback, semuanya akan menyajikan pengalaman baru yang lebih menyenangkan. Khususnya saat lampu utama kabin dimatikan.

Teranyar, LG Display rupanya juga meluncurkan layar OLED transparan. Tampilan ini tidak sepenuhnya transparan, melainkan hanya memungkinkan transparansi 40 persen. Teknologi ini dimungkinkan untuk membuat partisi yang rapi antara kursi atau kabin. Namun, jika penumpang menginginkan privasi lebih, maka mereka dapat mematikan fitur transparansi. Sangat simpel, bukan?

Taksi Hybrid Plug-In Diluncurkan Geely di Tokyo

Bagaimana jika pelancong ke Tokyo dan melihatnya seperti berada di London? Mungkin ini akan terasa aneh apalagi kalau taksi berwarna hitam mulai berseliweran di jalan-jalan Tokyo.

Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru

Nah, baru-baru ini London Electric Vehivle Company (LEVC) meluncurkan varian taksi hybrid plug-in TX nya di Tokyo, Jepang. Taksi ini akan diimpor dan didistribusikan di Jepang oleh Fleetway and Service Company yang bebasis di Yokohama.

KabarPenumpang.com melansir laman autonews.com (20/1/2020), Geely yang sudah mengakuisisi LEVC ini mengatakan, penjualan kendaraan akan mulai dibuka bulan Februari dan pengirimannya ke pelanggan akan dimulai pada kuartal kedua. Taksi ini sendiri didesain ulang dengan menggunakan tenaga listrik dan ditargetkan menjadi taksi antar-jemput premium.

Sebab taksi ini memiliki ruang yang cukup besar untuk penumpang sebanyak enam orang, akses kursi roda dan teknologi eCity hybrid plug-in. Bisa dikatakan, taksi ini mode elektrik pertama LEVC yang mampu melaju sejauh 81 mil atau sekitar 130 km dengan baterai lithium yang terisi penuh. Menjadi nol emisi, rentang listrik murni taksi ini bisa mencakup 607 km berkat mesin bahan bakan 1,5 liter yang bersumber Volvo.

Sedangkan ICE bertindak sebagai range-extender untuk paket baterai 31 kWh dan motor listrik dipasang di bagian belakang dengan 110 kW. Geely mengatakan, taksi hybrid plug-in ini sudah melebihi aturan taksi Jepang dengan berbagai fitur dan kelegaan di dalamnya.

Penjualan yang akan mulai dilakukan pada Februari tersebut, pihak LEVC tidak menyebutkan harga untuk taksi TX tersebut dan mengatakan operator bisa mengaksesnya. Industri taksi Jepang saat ini memiliki 240 ribu armada yang beroperasi dengan 50 ribu di antaranya beroperasi di Tokyo.

“TX listrik akan menetapkan standar baru di seluruh Jepang di pasar taksi dan antar-jemput premium, penumpang, pengemudi, dan operator armada yang menyenangkan sama. Kami menantikan untuk melihat TX di jalan-jalan Tokyo dan melintasi kota-kota di seluruh Jepang, “kata Joerg Hofmann, CEO LEVC.

Baca juga: Nissan Leaf, Mobil Listrik Favorit Perusahaan Taksi dan Pengguna Pribadi

Diketahui, TC hybrid plug-in diluncurkan pertama kali pada awal 2018 lalu. Selain di Inggris, taksi ini sudah tersedia di Jerman, Perancis, Swiss, Denmark dan Malaysia. Pihak Geely mengatakan, penjualan akumulatif taksi tersebut secara global kini mencapai 3800.

Iseng Masukkan Tisu Gulung ke Kloset di Pesawat, Pria ini Justru Panik Sendiri!

Menghilangkan kebosanan ketika menempuh waktu terbang yang lama dengan melakukan sesuatu hal yang wajar seperti menonton film di layar monitor atau mendengarkan musik tidaklah masalah. Namun bagaimana jadinya jika cara menghilangkan kebosanan dengan menggunakan tisu gulung toilet yang dimasukkan ke kloset dan tombol flush dinyalakan agar gulungan itu tersedot?

Baca juga: Atasi Kejenuhan Penumpang, Awak Kabin EasyJet Lakukan Atraksi “Tisu Gulung”

Belum lama ini, seorang penumpang bernama Sean Bolis melakukan hal tersebut untuk menghilangkan kebosanannya. Sayangnya kejahilan yang dilakukan dirinya tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya sebelumnya.

Sebab ketika tisu tersedot ke dalam kloset, ternyata tempatnya juga ikut tertarik dan jatuh. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newshub.co.nz (8/1/2020), Bolis kemudian mencoba memperbaiki tempat tisu gulung tersebut ketempatnya semula. Bahkan saat itu dirinya dilanda panik dan mengaku khawatir alarm bakal berbunyi setelah kejahilan yang dilakukannya.

“Ketika mulai melakukannya, saya panik dan berpikir berapa banyak lembaran tisu yang bisa tersedot ke toilet dengan kecepatan saat flush ditekan,” ujarnya.

“Sayangnya itu tidak berjalan sesuai yang sudah saya rencanakan. Tempat tisu itu jatuh dan tidak ada dalam pikiranku,” tambah Bolis.

Dia mengaku, jika rencananya berhasil, sebenarnya sebelum kloset berhenti menyedot, dia ingin memotong tisu tersebut seperti seorang karateka dengan menggunakan tangannya.

“Saya takut dan berpikir itu akan menyumbat kloset sepenuhnya dan menyalakan semacam sistem alarm. Saya benar-benar terguncang selama sekitar lima detik sampai selesai tersedot,” kata Bolis.

Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Diketahui, selain menghilangkan kebosanan, ternyata pria 35 tahun asal Montecito, California, Amerika Serikat tersebut terinspirasi dari sebuah video yang dibuat orang lain. Kemudian ketika bepergian dengan maskapai dia berpikir untuk mencobanya sendiri. Namun sayangnya, maskapai tempatnya melakukan tindakan tersebut tidak diketahui dan tidak dijelaskan dia berangkat dari mana.

Sinergi dengan MRT Jakarta, Basarnas Jakarta Fokus Pada Tanggap Darurat Gempa dan Banjir

Sebagai moda transportasi massa modern, jaringan Moda Raya Terpadu alias Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, sistem operasionalnya telah terintegrasi di Operation Control Center (OCC) yang berada di Gedung A Depo MRT Lebak Bulus. Dan masih bagian dari OCC, terdapat ruangan khusus yang difungsikan untuk memantau hal-hal yang terkait keamanan di wilayah stasiun dan sekitarnya.

Baca juga: Konstruksi MRT Jakarta Tahan Gempa 8 Skala Ricter, Inilah Panduan Keselamatan Penumpang

Dalam kunjungan bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta (d/h Basarnas Jakarta) hari ini, PT MRT Jakarta memperlihatkan ruangan yang disebut sebagai Security Command Center. Terletak di lantai 2 Gedung A Depo Lebak Bulus, visual pergerakan penumpang dari beragam sudut dapat dipantau realtime dari delapan buah layar monitor, yang tiap monitor berukuran 50 inchi.

Meski media tak diizinkan mengambil foto di ruangan tersebut, pihak MRT Jakarta menyebut kendali ruangan ini dilakukan oleh minimal 3 orang yang bekerja dalam shift. Walau operasional MRT Jakarta tidak 24 jam, namun pengawasan keamanan di area stasiun dilakukan 24 jam dari ruangan yang berukuran sekitar 10×4 meter ini.

Bersama dengan Basarnas Jakarta, diperlihatkan instrumen untuk memantau kondisi (ketinggian) Sungai Ciliwung, dimana lokasi sungai berdekatan dengan Stasiun Dukuh Atas. Anatara PT MRT Jakarta dan Basarnas Jakarta hari ini telah menyepakati Perjanjian Kerja Sama terkait “Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Rangka Penyelenggaraan Operasi Pencarian dan Pertolongan”.

Perjanjian Kerja Sama ditandatangani oleh Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta (Perseroda) Muhammad Effendi, dan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta Hendra Sudirman dengan disaksikan oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William P. Sabandar dan Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Didi Hamzar.

Baca juga: Gubernur DKI Tuduh Proyek MRT Jadi Biang Banjir, Ini Tanggapan PT MRT Jakarta!

“Fokus pelatihan kami untuk MRT Jakarta adalah tanggap darurat untuk bencana gempa dan banjir, kami harapkan sinergi ini dapat meminimalkan risiko dan membantu kerja SAR kedepannya,” ujar Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Didi Hamzar. Nantinya, Perjanjian Kerja Sama ini akan berlaku untuk tiga tahun ke depan.