Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Warna warni pada livery di bodi pesawat ini sangat unik, bahkan saking khasnya membuat armada Nok Air mudah dikenali dari kejauhan. Menggunakan warna-warna pastel, ditambah gambar paruh burung pada hidung kokpit, menjadikan maskapai low cost carrier yang berbasis di Bandara Don Mueang, Bangkok ini lumayan tersohor di Thailand.

Nok Air namanya, sayang maskapai LCC ini tidak melayani penerbangan ke Indonesia. Namun melihat corak livery pada Nok Air menjadikan rasa penasaran untuk mengetahui sepak terjang dari juga mengambil logo paruh burung ini. Bagi Anda yang menginjakan kaki di Bandara Don Mueang, maka besar kemungkinan akan melihat armada Nok Air yang tengah parkir di apron.

Baca Juga: Liburan di Bangkok? Ini Tips dari Tourism Authority of Thailand Biar Tak Salah Arah!

Mungkin beberapa dari Anda masih agak asing dengan nama maskapai yang satu ini – namun jangan salah, destinasi yang dilayani Nok Air mencapai 32 destinasi yang tersebar di Thailand, Cina, India, Myanmar, dan Vietnam. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, maskapai ini sendiri didirikan pada tanggal 10 Februari 2004, dan memulai operasi komersialnya lima bulan berselang.

Untuk diketahui, Nok Air ini berada di bawah naungan perusahaan asal Myanmar, Sky Asia Co., Ltd. Kendati begitu, saham kedua terbesar yang ada di tubuh maskapai ini dipegang oleh flag carrier Thailand, Thai Airways.

Satu ciri khas unik yang akan Anda temui dari maskapai Nok Air ini adalah adanya gambar paruh burung berbentuk kartun berwarna kuning di hampir setiap pesawat yang beroperasi – mungkin ini juga yang menjadikan inspirasi bagi pihak maskapai untuk menjadikan paruh burung tersebut sebagai logo perusahaan.

Dalam menjalankan bisnisnya, Nok Air menggunakan 23 unit pesawat yang terdiri dari 15 unit Boeing 737-800, dan delapan unit Bombardier Dash 8 Q400 NextGen. Mengutip dari Wikipedia, Nok Air tercatat sebagai salah satu maskapai yang sudah memesan varian Boeing 737 MAX 8 sebanyak tujuh unit guna memperkuat lini armada burung besinya.

Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Selayaknya maskapai lain yang berusaha menggeliat di tengah persaingan transportasi udara yang semakin ketat, Nok Air yang resmi mengudara sejak 23 Juli 2004 dikabarkan juga tergabung ke dalam sebuah aliansi penerbangan bernama Value Alliance. Aliansi penerbangan ini sendiri merupakan yang kedua (setelah U-FLY Alliance) yang hanya berisikan maskapai-maskapai LCC saja. Di Value Alliance, Nok Air tergabung bersama Cebu Pacific, Cebgo, Jeju Air, dan Scoot.

Bagi Anda yang masih melihat Nok Air sebagai sebuah maskapai dengan sebelah mata, agaknya fakta bahwa Nok Air telah bekerja sama dengan Scoot untuk menghadirkan LCC baru bernama NokScoot akan membuat pandangan Anda berubah.

Selain kaya akan wisata alam dan budayanya, ternyata Thailand juga menyuguhkan berbagai alternatif perjalanan bagi para pelancong – khususnya via jalur udara.

Pembangunan Capai 90 Persen, Maret 2020 Seluruh Penerbangan di Bandara Adisutjipto Pindah ke YIA

Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) diwartakan hampir tuntas. Hingga 8 Desember 2019, progress pembangunan bandara yang berada di Kulon Progo ini telah mencapai 90 persen. Saat ini fokus pekerjaan meliputi penyelesaian pekerjaan interior terminal penumpang dan jalan layang menuju area keberangkatan lantai 3.

Baca juga: Menuju Operasional Penuh di 2020, Proses Pembangunan YIA Kini Mencapai 82 Persen 

PT Angkasa Pura I selaku pengelola YIA menargetkan bandara ini dapat beroperasi secara penuh pada Maret 2020 dan memindahkan seluruh penerbangan domestik dan internasional dari Bandara Adisutjipto ke YIA.

“Saat ini, YIA telah melayani 13 rute untuk penerbangan domestik, yaitu Denpasar, Cengkareng, Halim Perdanakusumah, Banjarmasin, Palembang, Palangkaraya, Samarinda, Makassar, Medan, Tarakan, Balikpapan, Batam, dan Pontianak. Rute-rute tersebut dilayani oleh maskapai Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, dan Batik Air,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis (11/12/2019).

“Proses tersebut akan melibatkan banyak pemangku kepentingan, sehingga serentak atau tidaknya proses pemindahan penerbangan juga bergantung pada kesiapan masing-masing maskapai penerbangan,” imbuh Faik.

YIA merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diamatkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada Angkasa Pura I. YIA mendesak untuk dibangun mengingat Bandara Adisutjipto yang ada saat ini sudah dalam kondisi lack of capacity.

Setelah pembangunan tahap I selesai di awal 2020, YIA akan memiliki terminal penumpang tiga lantai seluas 219.000 meter persegi berkapasitas 20 juta penumpang per tahun. Bandara ini memiliki landas pacu (runway) sepanjang 3.250 x 45 meter dengan shoulder (bahu runway) 15 meter di setiap sisi. Spefisikasi runway ini mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380. Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8.

Bandara ini dilengkapi 5 unit fixed bridge dan apron seluas 371.205 meter persegi berkapasitas 22 parking stand. Luas terminal kargo YIA adalah 12.000 meter persegi dengan kapasitas 40.300 ton per tahun. Gedung parkir tiga lantai dengan luas area 137.280 meter persegi yang mampu menampung ribuan kendaraan juga menambah kelengkapan fasilitas di YIA. Di dalam terminal penumpang, tersedia 12 konter check-in, 2 x-ray, 2 walk through metal detector (WTMD), 400 kursi tunggu, 6 konter imigrasi, serta 2 baggage conveyor.

Adapun fasilitas standar pelayanan bandara lainnya yang sudah tersedia yaitu signage, konter informasi, flight information display system, announcement, informasi transportasi lanjutan, pusat informasi pariwisata, serta staf pelayanan pelanggan (customer service) yang berasal dari warga lokal Kulon. Juga terdapat difable lounge, difable toilet, difable lift, difable drop zone, nursery room, kid zone, reading corner, serta 400 unit troli.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Berbagai layanan pendukung bandara lainnya juga telah siap, seperti layanan navigasi penerbangan, layanan meteorologi, layanan pengisian bahan bakar pesawat udara, fasilitas kesehatan pelabuhan, karantina ikan, hewan, dan tumbuhan, dan dukungan transportasi pemadu moda (Damri, shuttle bus, kereta api, dan taksi).

Kunjungan Kenegaraan, Raja Swedia Naik Pesawat Komersial dan Duduk di Kelas Ekonomi

Belum lama ini, Air India mendapatkan kehormatan dengan ditumpangi sepasang tamu VIP asal Swedia, yaitu Raja Swedia, His Majesty Carl Gustaf Folke Hubertus dan Ratu Her Majesty Silvia Renate Sommerlath. Kedua tokoh kenegaraan ini diketahui menggunakan Boeing 787 Dreamliner Air India AI168 dari Stockholm ke New Delhi. Sampai disitu tentu kabar ini terasa masih biasa saja.

Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia

Namun lebih dari itu, ada fakta yang mengejutkan, ternyata raja dan ratu Swedia tidak duduk di kabin kelas bisnis, juga bukan di kelas satu, melainkan mereka duduk di kelas ekonomi.

Dikutip dari thelocal.se (4/12/2019), disebutkan bahwa pesawat milik negara yang biasa mereka gunakan dikabarkan tengah mengalami kerusakan, sehingga jadilah pasangan VIP ini terbang menggunakan penerbangan komersial. Media di India dan Swedia pun dibuat riuh dengan kenyataan raja dan ratu naik di kelas ekonomi. Dalam keseharian, pasangan kerajaan ini memang dikenal akan kesederhanaannya, termasuk saat ke Indonesia tahun 2017 silam.

Selain punya sifat sederhana, raja pun tak ingin dimanja layaknya pejabat tinggi. Saat tiba di New Delhi pada 2 Desember 2019, lagi-lagi raja membuat heboh netizen, lantaran Ia menenteng tas dan koper sendiri. Ternyata pada kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 2017, sesaat tiba di Bandara Soekarno-Hata, raja Swedia ini juga terlihat menenteng koper sendiri.

Padahal kedatangan Raja Swedia ke India dalam misi kenegaraan, dimana Ia dijadwalkan untuk bertemu Presiden India Ram Nath Kovind dan Perdana Menteri Narendra Modi. Swedia dan India akan membicarakan bisnis dan perdagangan bilateral, serta berbagai isu yang terkait perubahan iklim.

Baca juga: Pengemis di Swedia Wajib Bayar Lisensi dan Punya Identitas Valid

Meski netizen meributkan tentang ‘kesederhanaan’ Sang Raja, namun Carl Gustaf Folke ternyata tidak terpengaruh oleh keriuhan yang ada. Dalam lawatan ke India, raja dan ratu Swedia ini didampingi oleh Menteri Luar Negeri Swedia Ann Linde dan Menteri Bisnis Ibrahim Baylan, namun tidak diketahui apakah kedua pejabat pemerintah tersebut juga ada dalam penerbangan yang sama dengan Sang Raja.

Blue Bird Siap Datangkan 200 Unit Van Listrik di Dua Wilayah, Mana Saja?

Operator taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Tbk. dikabarkan baru saja melakukan pesanan 200 unit armada van T3 fully electric dari produsen kenamaan asal Negeri Tirai Bambu, BYD. Jika tidak ada aral melintang, maka kelak taksi-taksi berbentuk van ini akan beroperasi di Ibukota Jakarta dan Pulau Dewata Bali. Ada satu poin unik dari pemesanan ini, yaitu ini merupakan jumlah pesanan terbesar dalam sejarah taksi listrik di Indonesia dan juga catatan rekor penjualan van listrik terbesar ke luar Cina untuk BYD.

Baca Juga: Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cleantechnica.com (10/12), nantinya van listrik ini akan bergabung dengan armada BYD lainnya yang sudah terlebih dahulu beroperasi di Indonesia sejak beberapa bulan ke belakang.

“Dalam beberapa bulan terakhir, 25 unit taksi e6 kami telah menempuh total 2 juta kilometer di Jakarta. Ini sama dengan mengelilingi bumi 50 kali!” ujar Liu Xueliang, manajer umum divisi penjualan BYD untuk Asia Pasifik.

Menilik ke dalam calon moda pengangkut anyar di Indonesia ini, fully electric T3 van ini sendiri dilengkapi dengan tujuh bangku penumpang dan memboyong asa besar bagi transportasi di Indonesia – mengurangi emisi karbon dioksida hingga 8.290 ton. Jika angka tersebut polusi tersebut sudah berhasil ditekan, maka kualitas udara di Indonesia akan berangsur membaik. Itu baru dari 200 unit moda listrik saja, dapatkah Anda membayangkan jika semua kendaraan bermotor di Indonesia juga ditenagai oleh listrik?

Untuk pembagiannya, nanti akan ada 150 fully electric T3 van yang beroperasi di Jakarta, sedangkan 50 sisanya akan dioper ke Bali.

Baca Juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Untuk diingat kembali, BYD memang seolah tengah menggenjot pasar Indonesia sepanjang tahun 2019 ini. Masih lekang dalam ingatan dimana pada perhelatan Busworld Southeast Asia awal tahun ini, BYD menandatangani MoU dengan operator BRT kenamaan Ibukota, TransJakarta untuk mengeksplorasi kemungkinan kerja sama di antara kedua belah pihak.

Diharapkan dengan kerja sama yang terjalin antara Blue Bird dan BYD ini dapat menjadi satu titik balik sektor transportasi dalam negeri – dimana para pemangku kepentingan terkait mampu mereduksi tingkat polusi yang ada.

Gunakan Boeing 737-900ER, Batik Air Buka Penerbangan Non-Stop Jakarta-Taipei

Menempuh jarak 3.819 km dengan durasi 5 jam 30 menit, Batik Air efrktif mulai 13 Desember 2019 membuka rute penerbangan non-stop Jakarta-Taipei, Taiwan dengan pesawat narrow body Boeing 737-900ER (Extended Range).

Baca juga: Mulai 20 November, Batik Air Buka Rute Jakarta–Don Mueang Bangkok

“Penerbangan dilayani satu kali frekuensi setiap hari pergi pulang (PP). Pesawat dengan nomor penerbangan ID-7624 akan berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 16.40 WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT+ 7) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Taoyuan, pukul 23.00 waktu setempat,” ujar Capt. Achmad Luthfie, Chief Executive Officer (CEO) Batik Air dalam pesa tertulis yang diterima KabarPenumpang.com.

Dalam simulasi, perjalanan kembali oleh Batik Air pada hari berikutnya, 14 Desember 2019. Penerbangan bernomor ID-7625 akan lepas landas dari Bandar Udara Internasional Taoyuan, Taipei (TPE) pukul 00.05 waktu setempat dan mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 04.30 WIB.

Penerbangan ke Taipei akan dioperasikan dengan armada Boeing 737-900ER berkapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi yang dilengkapi inflight entertainment (audio video on demand) di setiap kursi.

Batik Air mencatatkan rata-rata OTP 92.63% dengan kekuatan armada yang dioperasikan terdiri dari 44 Airbus 320-200CEO (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi), enam Boeing 737-900ER (12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi), delapan Boeing 737-800NG (12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi) serta satu Airbus 330-300CEO (18 kelas bisnis dan 374 kelas ekonomi).

“Peter,” Inilah Robot Barista di Bandara San Jose

Jika kopi yang Anda pesan diracik oleh seorang barista, agaknya itu bukanlah menjadi suatuhal yang aneh. Namun bagaimana kalau yang meraciknya adalah sebuah robot? Wah, tentu ini akan menjadi pengalaman baru yang unik, ya! Bagi Anda yang penasaran dengan kopi hasil racikan robot ini, silakan Anda bertandang ke Mineta San Jose International Airport dan carilah sebuah kedai bernama cafe X. Di sana, Anda akan disambut oleh Peter. Siapa itu Peter?

Baca Juga: Wow! Ada Robot Barista di Bandara Austin Texas

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman sanjosespotlight.com, Peter merupakan sebuah robot barista yang namanya terinspirasi dari mantan direktur perangkat keras perusahaan. Peter ini sendiri memiliki kemampuan yang fantastis, yaitu meracik minuman hangat dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Sasaran dari Peter ini tidak lain dan tidak bukan adalah mereka yang hendak mengudara melalui Mineta San Jose International Airport.

Robot Peter ini sendiri tercipta dari buah pemikiran Henry Hu, owner dari Cafe X yang pada tahun 2014 silam memperhatikan hiruk pikuknya suasana di Bandara Singapura – dimana setiap barista yang ada di sebuah coffee shop diwajibkan untuk berteriak guna memanggil nama si pemesan.

Dalam menjalankan bisnisnya ini, Henry Hu tidak lalu sekonyong-konyong menghilangkan tenaga manusia begitu saja. Memang, robot baristanya ini menjadi daya tarik utama pelanggan, namun ia masih mempekerjakan manusia untuk berkeliling dan mencatat pesanan pelanggan.

Menurut Henry Hu, Peter tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun – bahkan Peter dapat ‘menindaklanjuti’ 10 pesanan sekaligus dan menyelesaikannya dalam tenggat waktu yang relatif singkat, hanya dalam hitungan menit saja.

Baca Juga: Terpaksa Menginap di Bandara? Siapa Takut!

Bagi Anda yang penasaran dengan kopi racikan Peter ini, Anda cukup merogoh kocek sebesar US$3,5 hingga US$5,5 saja per gelasnya. Harga yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kopi-kopi ala Cafe.

Terlebih ketika hendak menyambut liburan akhir tahun semacam ini, kehadiran Peter akan sangat membantu operasional Cafe X yang diprediksi akan kebanjiran pesanan – terlebih setelah nama Peter menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai.

Jadi Pramugari Singapore Airlines Harus ‘Serba Bisa’

Apakah semua pramugari bisa melakukan pekerjaan yang bukan bagiannya? Mungkin ada yang akan menjawab bisa dan tidak. Sebab memang tidak semua pramugari mendapat pendidikan yang sama. Namun berbeda untuk maskapai asal Singapura ini.

Baca juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian

Sebab pramugari Singapore Airlines yang memiliki kode SQ ini ternyata bisa melakukan semua hal. Mereka tidak hanya menerima penumpang di pintu masuk pesawat dengan senyuman atau hanya menyajikan makanan.

Tetapi mereka harus bisa melakukan berbagai macam hal dan menanganinya dengan tenang dan nyaman. KabarPenumpang.com merangkum dari asiaone.com (9/12/2019), ini tujuh hal yang bisa dilakukan pramugari Singapore Airlines lakukan.

1. Tahu perbedaan Chardonnay dan Riesling
Semua awak kabin Singapore Airlines memiliki pengetahuan dasar tentang minuman beralkohol seperti wine. Mereka diberi pengetahuan tentang wine yang disajikan dalam kabin. Pramugari harus tahu cara membaca label wine untuk mengetahui wine seperti apa yang tersedia. Mereka juga harus terbiasa dengan makanan pendamping wine.

2. Bisa beroperasi pada lebih dari satu jenis pesawat
Banyak yang berpikir bahwa semua pesawat terlihat dan memiliki cara kerja yang sama. Padahal tidak semua sama dan tidak semua pramugari bisa memenuhi syarat mengetahui semua jenis pesawat. Mereka harus mempelajari berbagai hal seperti kursi penumpang, konfigurasi kabin hingga bagian dapur.

3. Menangani penumpang meninggal
Pramugari harus bisa menanganisituasi apapun tak menutup kemungkinan ketika ada penumpang meninggal dalam penerbangan. Ini mungkin kejadian yang sangat jarang tetapi bisa saja terjadi terutama dalam kasus penumpang lanjut usia dan lemah yang ikut dalam penerbangan jarak jauh. Meski jarang tetapi pramugari harus tahu apa yang akan mereka lakukan.

4. Bisa memadamkan api
Kejadian terburuk di kabin salah satunya adalah kebakaran, bahkan api kecil bisa berubah menjadi bencana mematikan karena pesawat adalah ruang tertutup. Semua awak kabin dilatih dalam prosedur pemadaman dan penggunaan alat pemadam untuk meminimalisir kerusakan.

5. Bela diri
Terkadang ada saja penumpang yang berulah dan sulit ditangani. Bahkan beberapa diantaranya baku hantam dalam pesawat. Untuk menangani ini pramugari Singapore Airlines dilatih untuk melindungi diri dari serangan fisik dan menjaga tetap ama dengan kit di atas kapal ketika mereka tidak berhasil menangani penumpang yang berulah itu.

6. Membantu penumpang tua dan disabilitas
Penumpang tua dan dan disabilitas adalah yang paling membutuhkan bantuan dalam penerbangan. Apalagi ketika mereka harus menggunakan kursi roda. Pramugari membantu penumpang keluar dari kursi roda untuk berpindah pada kursi mereka. Bahkan memberikan kenyamanan yang dibutuhkan mereka secara spesifik.

Baca juga: Mau Jadi Awak Kabin Singapore Airlines? Cek Dulu Pelatihan dan Syarat-Syaratnya Berikut Ini!

7. Pertolongan pertama
Jika ada yang mengalami kecelakaan atau jatuh sakit di pesawat, mereka dapat memberikan bantuan lebih lanjut di lapangan. Mereka dilatih untuk menangani masalah-masalah seperti pendarahan, luka bakar atau keseleo, dan teknik penyelamatan hidup seperti Resusitasi Kardiopulmoner. Mereka juga perlu dipersiapkan untuk membantu dalam keadaan darurat medis seperti mereka yang menderita stroke dan bahkan kelahiran darurat.

Salah Pakai Sendal di “Canopy Walk,” Ibu dan Anak Tak Bisa Nikmati Jalanan Bersalju di Jewel Changi

Bandara Jewel Changi di Singapura kini menjadi salah satu tempat wisata terbaik bagi warga Singapura maupun pelancong yang akan mengunjunginya atau sekedar transit untuk berpindah ke penerbangan lainnya. Nah, pada masa jelang Natal ini, Jewel Changi menghadirkan berbagai macam hiburan bagi para pengunjungnya baik di air terjun dalam ruangan atau di Canopy Walknya.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Pohon Natal Raksasa dan Karakter Frozen II

Namun, baru-baru ini seorang ibu dan anaknya ditolak untuk masuk ke Canopy Walk dikarenakan menggunakan alas kaki yang tidak sesuai. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mothership.sg (8/12/2019), Kailin Ng yang memiliki tiket Christmas Walk Snow menggunakannya untuk bepergian bersama sang anak.

Dia bersama Aden kemudian akan bermain ke Christmas Walk Snow, namun ditolak karena sang putra menggunakan sepatu sandal bukan sepatu yang tertutup. Untungnya bocah kecil itu mengerti dan masih menikmati waktu bermain mereka di tempat lain di sekitaran Jewel Changi.

Hal itu juga membuat Kailin memposting foto sandal Aden dengan caption, “Karena alas kaki yang tidak pantas, kami ditolak untuk bermain dalam jalan salju.”

Setelah memposting sandal Aden, Kailin kemudian mengetahui bahwa seorang disc jockey (DJ) pergi ke Christmas Snow Walk bersama anaknya dengan sepatu serupa dengan Aden. Bedanya DJ tersebut diizinkan masuk ke area.

“Yang membuatku bingung bukan karena alas kaki seperti itu tidak diizinkan ke pantai . “Apakah aturan tidak diikuti dengan ketat? Apakah aturan ini hanya untuk orang biasa?” ujarnya.

Dia kemudian memposting foto DJ bersama anaknya dan menurutnya hal itu menyebabkan masalah standar dalam penegakkan persyaratan keselamatan. Menurutnya keamanan adalah prioritas pihak Jewel dengan aturan yang berlaku.

Baca juga: Warga Singapura Suka Berlibur di Bandara, Ternyata ini Alasannya!

Menyangkut masalah ini, pihak Bandara Jewel Changi mengatakan, itu adalah prioritas teratas bagi pengunjung untuk menikmati kondisi optimal dan alasan mereka berada di jalan bersalju. Saat itu Bandara Jewel changi menerima DJ selebriti untuk menjadi bagian dari dunia pejalan kaki dan pejalan kaki salju. Karena hal ini, kemudian Jewel’s Guest Relations menghubungi Kailin dan mengundang keluarga itu ke Snow Walk untuk berkunjung.

Deretan Maskapai LCC yang Tempuh Jarak Penerbangan Fantastis

Jika selama ini Anda beranggapan bahwa hanya maskapai full service saja yang mampu melayani penerbangan jarak jauh, dan maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC) hanya berkecimpung di rute domestik, maka Anda sudah salah besar. Seiring berkembangnya jaman, belakangan ini juga sudah banyak maskapai berbiaya rendah yang melakoni penerbangan jarak jauh.

Baca Juga: London Gatwick-Singapura, Menjadi Rute Penerbangan LCC Terjauh di Dunia!

Dalam beberapa artikel sebelumnya, sudah dijabarkan tentang maskapai terbesar di Norwegia, Norwegian Air Shuttle (Norwegian AS) yang tercatat sebagai maskapai yang pernah menjabani rute penerbangan LCC terjauh di dunia, yaitu menghubungkan London Gatwick dengan Singapura. Tapi, tidak hanya Norwegian AS saja yang memiliki rute penerbangan LCC terjauh di dunia – ada sejumlah maskapai lain yang juga pernah menjajal rute jarak jauh dengan format penerbangan berbiaya rendah.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com, ada maskapai LCC asal Jerman, Eurowings GmbH yang akan memiliki rute penerbangan antar benua yang terpaut jarak cukup jauh, yaitu dari Munich di Jerman menuju Las Vegas di Nevada, Amerika Serikat. Menurut laman sumber, jarak yang terbentang di antara dua destinasi tersebut adalah 9.281km. Jika tidak meleset, Eurowings akan menerbangkan Airbus A330 dari Munich menuju Las Vegas tertanggal 6 April 2020 mendatang.

Selain Eurowings, ada juga Air Canada Rouge yang mengoperasikan rute penerbangan dari Toronto di Kanada menuju Athena di Yunani – dimana jarak yang terpaut di antara dua destinasi penerbangan ini adalah 8.148 km. Air Canada Rouge ini sendiri mempercayakan armada Boeing 767-300 untuk bertugas di rute transatlantik ini.

Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Maskapai berbiaya rendah selanjutnya yang juga tercatat mengoperasikan rute penerbangan jarak jauh adalah WestJet, dimana maskapai asal Kanada ini menghubungkan London Gatwick yang ada di Tanah Britania dengan Vancouver yang ada di sebelah barat Kanada. Jarak kedua destinasi diperkirakan mencapai angka 7.643 km dan dioperasikan WestJet dengan tenaga keluarga Boeing 737 dan Boeing 767.

Terakhir, ada maskapai asal Singapura, Scoot yang juga tidak mau kalah dalam persaingan ini. Anak perusahaan dari Singapore Airlines ini mengoperasikan rute penerbangan dengan jarak paling fantastis diantara ketiga maskapai di atas – Singapura menuju Berlin di Jerman. Anda tahu berapa jarak yang terpaut di antara destinasi tersebut? 9.936 km! Luar biasa!

Plt Dirut Garuda Indonesia Tunjuk Dua Pelaksana Harian Pejabat Direksi

Guna memenuhi aspek regulasi, operasi dan keselamatan penerbangan, Plt. Direktur Utama Garuda Indonesia, Fuad Rizal pada hari Senin (9/12) secara resmi telah mengumumkan pelaksana harian jabatan Direksi Garuda Indonesia.

Baca juga: Gantikan Ari Askhara, Fuad Rizal Resmi Menjabat Plt Direktur Utama Garuda Indonesia

Sesuai ketentuan KM 25/2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara dan CASR 121.59, Plt. Direktur Utama Garuda Indonesia, Fuad Rizal telah menunjuk Mukhtaris sebagai Pejabat Direktur Teknik dan Layanan dan Capt. Tumpal Manumpak Hutapea sebagai Pejabat Direktur Operasi. Kedua pejabat Direktur tersebut bertanggung jawab langsung kepada Plt. Direktur Utama dalam menjalankan tugasnya.

Penunjukan tersebut dilakukan menyusul keputusan Dewan Komisaris yang memberhentikan sementara 4 Direksi Garuda Indonesia sebelumnya, termasuk diantaranya Iwan Joeniarto dari jabatannya sebagai Direktur Teknik dan Layanan dan Capt. Bambang Adisurya dari jabatannya sebagai Direktur Operasi.

Penetapan seluruh personil tersebut akan berlaku hingga dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Garuda Indonesia dalam waktu dekat.

Dengan penunjukan tersebut Garuda Indonesia memastikan seluruh kegiatan bisnis akan tetap berjalan sesuai rencana kerja Perseroan dan khususnya menjaga aktivitas operasional penerbangan tetap berjalan dengan lancar dan optimal sesuai harapan pengguna jasa, khususnya dalam menghadapi periode peak season Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.