Tuntas Mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair Fokus Hubungkan Jawa-Sumatera dan Kalimantan

Setelah menjadi perbincangan sejumlah kalangan atas kontribusinya bersama salah satu lembaga kemanusiaan ternama di Indonesia dalam membantu proses pemulangan korban konflik di Wamena, Oktober 2019, Xpressair Januari lalu juga sempat kembali menjadi perbincangan hangat karena keputusannya migrasi dari Yogyakarta ke Solo.

Baca juga: Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Saat itu, Sales Marketing and Corporate Supervisor Xpressair, Irfan Setiawan, mengatakan bahwa pihaknya mengaku lebih memilih Solo atau Semarang (ketimbang Yogyakarta) karena alasan market. “Kami lebih memilih ke Solo atau Semarang karena melihat marketnya. Kalau di Bandara baru Kulon Progo permasalahannya hampir mirip dengan Kertajati yang belum banyak integrasi transportasi lain,” kata Irfan ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (27/1).

Namun, terlepas dari semua itu, Xpressair sejak 2012 silam memang sudah banyak diperbicangkan sejumlah kalangan karena pengaruh besarnya. Betapa tidak, saat memulai fokus mengabdi ke wilayah Timur Indonesia pada 2012 lalu, ditandai dengan dilakukannya kegiatan rebranding dengan menggunakan logo Burung Cendrawasih yang notabene identik dengan bumi Papua, faktanya, kunjungan wisatawan di Papua memang meningkat dan terus meningkat bersamaan dengan penerbangan Xpressair (dan juga beberapa maskapai lainnya) ke Papua.

Sebagaimana data yang berhasil dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, ada kurang lebih sebanyak 12 ribu wisatawan yang berkunjung ke provinsi paling Timur di Indonesia ini pada 2012. Kunjungan para turis lokal maupun manca negara ini terbagi dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Sementara para turis dari luar negeri yang berkunjung ke Papua lebih didominasi dari benua Asia, yakni dari negara Jepang dan Cina, sementara turis Eropa berasal dari Italia. Menariknya, angka tersebut terus meningkat hingga sekitar tahun 2019 lalu, saat terjadinya konflik di Wamena.

Bahkan, maskapai yang memiliki motto “Terbanglah Indonesia” tersebut digadang-gadang menjadi salah satu maskapai terbesar untuk wilayah-wilayah Indonesia Timur dengan melayani 33 rute ke berbagai wilayah di Indonesia Timur. Salah satu rute favorit bagi kalangan wisawatan domestik maupun mancanegara yakni penerbangan langsung dari Jakarta ke Sorong, setiap harinya, untuk kemudian wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi favorit di Raja Ampat.

Baca juga: Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Kini, setelah sekitar tujuh tahun mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair memutuskan untuk beralih fokus menghubungkan Jawa – Sumatera dan Kalimantan, dengan keberangkatan dari Solo, Semarang, dan Jakarta. Penerbangan dari Solo sendiri akan dimulai 31 Maret 2020. Tahap awal akan buka tiga rute, yakni Solo-Samarinda, Solo-Pontianak, dan Solo-Palembang, serta akan dilanjutkan dengan penerbangan Solo-Banjarmasin dan Solo-Lampung. Penerbangan di lima kota tersebut direct flight (PP), sekitar tiga kali setiap pekannya.

Sedangkan untuk keberangkatan dari Semarang, setidaknya akan ada tiga rute, yakni rute Semarang – Palembang PP (mulai 10 Maret 2020 mendatang), tiga kali dalam seminggu, Semarang – Banjarmasin PP (mulai 30 Maret 2020), empat kali dalam seminggu, dan Semarang – Lampung PP yang akan segera diluncurkan. Begitupun juga dengan keberangkatan dari Jakarta. Berikut daftarnya.

1. Jakarta (CGK) – Pangkalan Bun (PKN) PP
Mulai 30 Maret 2020 Senin, Rabu, Jum’at, dan Minggu
CGK – PKN : 06.55 LT – 08.30 LT
PKN – CGK : 09.20 LT – 10.55 LT

2. Jakarta (CGK) – Sampit (SMQ) PP
Mulai 30 Maret 2020 Senin, Rabu, Jum’at, dan Minggu
CGK – SMQ : 11.30 LT – 13.05 LT
SMQ – CGK : 13.35 LT – 15.10 LT

3. Jakarta (CGK) – Muara Bungo (BUU)
Mulai 31 Maret 2020 Selasa, Kamis, dan Sabtu
CGK – BUU : 06.55 LT – 08.15 LT
BUU – CGK : 08.45 LT – 10.05 LT

4. Jakarta (CGK) – Pontianak (PNK) PP
Mulai 11 Mei 2020 Selasa, Kamis, dan Sabtu
CGK – PNK : 10.35 LT – 12.10 LT
PNK – CGK : 13.35 LT – 15.10 LT

5. Jakarta (CGK) – Padang (PDG)
Mulai 11 Mei 2020 Setiap Hari
CGK – PDG : 15.40 LT – 17.30 LT
PDG – CGK : 18.00 LT – 19.50 LT

Belakangan Pesawat Kerap Bermasalah pada Roda Pendarat, Ada Apa?

Jumat, 28 Februari lalu, maskapai Pakistan International Airlines (PIA) memutuskan untuk balik kanan atau return to base saat baru lepas landas dari Bandara Internasional Dubai dalam perjalanan menuju Lahore, Pakistan. Setelah mendarat, diketahui, pesawat memiliki masalah dengan bagian pintu landing gear yang tak mau menutup.

Baca juga: Mendebarkan! Pesawat Ini Landing Tanpa Roda

Dilansir laman simpleflying.com, Senin, (3/3), menurut The Aviation Herald, saat itu, pesawat Airbus A320 dengan nomor registrasi AP-BLU tersebut awalnya dikonfirmasi terbang dengan mulus di Dubai. Kemudian 20 menit setelah lepas landas, pesawat mempertahankan ketinggian di angka 4.000 kaki karena terindikasi adanya masalah pada landing gear doors yang tak mau menutup.

Usai mendarat, pesawat dengan nomor penerbangan PK204 tersebut akhirnya tertahan lama di apron bandara, sekitar enam jam, untuk menjalani pengecekan. Terlepas dari perawatan dan perbaikan apapun, nyatanya, pesawat memang tertahan lama dan seluruh penumpang dialihkan dengan penerbangan lainnya. Belakangan diketahui, menurut Planespotters, pesawat tersebut sudah berusia 14 tahun dan sudah menjalani ribuan jam terbang.

Akan tetapi, di luar insiden tersebut, bila dilihat sedikit ke belakang, sebetulnya, insiden yang melibatkan bagian di sekitaran roda pesawat kerap terjadi. Pada 16 Februari, misalnya, pendaratan Virgin Australia Boeing 777 di Los Angeles tak berjalan mulus akibat adanya masalah dengan sistem hidraulik di salah satu roda pendaratan yang tidak dipasang dengan benar. Akibatnya, asap terlihat keluar dari pesawat yang disebabkan oleh gesekan pada rem roda ketika pesawat meluncur di landasan.

Pada 7 Februari, pesawat Icelandair Boeing 757-200 yang terbang dari Berlin Tegel (Jerman) ke Keflavik (Islandia) mengalami kerusakan roda pendaratan utama saat tiba di Bandara Internasional Keflavik. Beruntung, tidak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Kemudian, pada 3 Februari, pesawat Air Canada harus kembali ke Madrid karena memiliki masalah dengan roda pendaratan. Laporan awal menyatakan bahwa bagian dari roda pendaratan Boeing 767, rute Madrid-Toronto, lepas dan jatuh ke mesin. Hal tersebut kemudian, oleh maskapai, dikonfirmasi bahwa insiden tersebut diakibatkan pesawat mengalami pecah ban dan serpihannya masuk ke mesin.

Baca juga: Niat Hati Mau Ngumpet di Ban Pesawat, Wisatawan Gelap Asal Rusia Dibekuk Petugas Bandara Taiwan

Di penghujung tahun 2019 lalu, pada 22 Desember, United Airlines Boeing 737-800 mengalami kerusakan pada roda pendaratan pesawat bagian kiri hingga menyebabkan percikan api saat pesawat mendarat di Bandara Internasional Denver. Sama seperti berbagai peristiwa sebelumnya, beruntung insiden tersebut tak sampai memakan korban jiwa ataupun luka.

Berbagai insiden tersebut, sebetulnya sudah cukup untuk membuat sejumlah pihak bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Namun, sejauh ini, belum ada keterangan apapun dari para ahli dunia mengenai fenomena ini. Entah hanya sebuah kebetulan saja atau sebaliknya, memang terdapat berbagai permasalahan serius mengenai landing gear atau main landing gear system di berbagai pesawat milik Boeing ataupun Airbus. Otoritas Keamanan Penerbangan Eropa atapun Otoritas Penerbangan Sipil Amerika sendiri hingga kini belum memberikan penyataan apapun untuk menyelidiki berbagai kasus tersebut.

Virus Corona Merebak, Awak Kabin Cari Perlindungan

Di beberapa maskapai layanan penuh (full service), saat ini beberapa suguhan sudah dihilangkan karena merebaknya virus corona. Seperti halnya layanan handuk panas di kelas bisnis yang sudah tak ada lagi, gelas yang digunakan hanya sekali pakai dan penggunaan masker bagi penumpang dan awak kabin.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Bahkan awak kabin yang bekerja di pesawat pun harus menerima risikonya yakni dengan cuti tak dibayar karena adanya pengurangan jumlah rute penerbangan pesawat. Karena hal tersebut, serikat awak kabin terbesar di Amerika Serikat saat ini mencari serangkaian langkah-langkah untuk membantu memerangi penyebaran virus corona dan mendapat bayaran serta perlidungan ketika mereka sakit.

KabarPenumpang.com melansir laman cnbc.com (3/3/2020), Association of Flight Attendants mengatakan, maskapai penerbangan dan industrinya tidak semuanya secara konsisten telah menerapkan beberapa dari rekomendasi ini. Asosisasi ini sendiri diketahui mewakili 50 ribu awak kabin termasuk United Airlines, Alaska Airlines dan Spirit Airlines.

“Secara umum, industri ini jauh melebihi instruksi pemerintah, tetapi apa yang diperlukan adalah tanggapan yang terkoordinasi dari pemerintah kita,” ujar asosiasi itu.

Saat ini, maskapai sudah menjadi pusat pecahnya virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 90 ribu orang dan kini juga mengancam keuntungan semua maskapai salah satunya penerbangan di Amerika Serikat. Hal ini karena menurunnya jumlah penumpang penerbangan.

Bahkan saham maskapai penerbangan telah jatuh di pasar yang lebih luas dalam kekalahan pekan lalu sebagai hasilnya. Operator ditugaskan untuk membantu menegakkan seperangkat pembatasan perjalanan yang terus berubah termasuk larangan beberapa pengunjung yang melakukan perjalanan ke Cina.

Maskapai penerbangan telah mengurangi penerbangan internasional di Asia dan ke beberapa tujuan di Eropa, dan lebih banyak lagi pemotongan akan dilakukan. Alaska Airlines pada hari Senin mengatakan pihaknya menangguhkan layanan handuk panasnya di kelas satu dan akan menangguhkan daur ulang onboard selama dua minggu.

Ini dilakukan Alaska Airline untuk mengurangi bahan yang disentuh oleh penumpang. Maskapai yang berbasis di Seattle juga mendorong penumpang untuk bepergian dengan santizer atau tisu antibakteri untuk membersihkan sandaran lengan dan meja nampan .

Meski begitu, maskapai juga memperingatkan penumpang bahwa tisu basah yang dijual secara komersial dapat merusak lapisan atas pada kulit kursi maskapai. Delta Air Lines, untuk bagiannya, mengatakan para kru pembersihan pada penerbangan trans-Atlantik dan trans-Pasifik harus melengkapi daftar periksa 19 titik termasuk permukaan yang sidemprot disinfektan seperti tempat duduk, kantong sandaran kursi, meja nampan dan lantai.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Pada penerbangan ke Amerika Serikat dari Asia, maskapai yang berbasis di Atlanta ini mencuci linen dan menyanitasi headset secara terpisah dan mengatakan mereka menyediakan kit kenyamanan untuk semua penumpang pada penerbangan internasional jarak jauh dengan pembersih tangan atau handuk.

Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Selain pesawat dan awak kabin yang terdampak, ternyata kereta di Singapura (MRT) juga terkena imbasnya. Bahkan SMRT Corp dan penyedia layanan penerbangan SATS Ltd, bergabung dengan daftar perusahaan Singapura yang memotong bayaran di tengah wabah virus corona ini.

Baca juga: Terdampak ‘Badai’ Corona, Inilah Serangkaian Strategi Singapore Airlines Group untuk Bertahan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman yahoo.com (27/2/2020), Neo Kian Hong, CEO Grup SMRT mengatakan, mengingat situasi menantang yang timbul dari wabah virus corona, SMRT menerapkan pengurangan gaji hingga lima persen per bulan dan pengurangan bonus 0,5 persen untuk staf manajemen tahun ini. Hong mengatakan, akan melanjutkan dengan upaya perekrutan yang direncanakan untuk Thomson-East Coast Line baru untuk melayani penumpang dengan lebih baik.

Selain itu, investor SMRT, yaitu Temasek mengatakan akan membekukan semua gaji serta kenaikan promosi dan sebagian memotong bonus tahunan untuk tim manajemen senior. Temasek juga meminta manajemen senior untuk mengambil pemotongan gaji sukarela hingga satu tahun.

“Secara terpisah, SATS pada 19 Februari telah menerapkan serangkaian langkah penghematan biaya seperti pemotongan gaji sepuluh persen untuk tim manajemen. Pekerja berusia 55 tahun ke atas diberi opsi pensiun dini secara sukarela, dan staf juga dapat meminta cuti sukarela yang tidak dibayar dan pekerjaan mereka tidak akan diganti,” kata juru bicara itu menambahkan.

“Epidemi virus corona telah menyebabkan penurunan tajam dalam volume penumpang dan kargo di seluruh Asia, berdampak pada aliran pendapatan untuk SATS. Oleh karena itu, kami mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko dan dampak situasi pada bisnis kami dan orang-orang kami,” kata SATS dalam sebuah pernyataan.

SATS, SMRT dan CapitaLand adalah beberapa perusahaan portofolio di bawah Temasek. CapitaLand kemarin mengatakan akan menerapkan pembekuan pembayaran, mengatakan anggota dewan dan manajemen senior akan mengurangi biaya dan gaji pokok mereka mulai dari lima hingga 15 persen.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Singapore Airlines, mayoritas dimiliki oleh Temasek, mengatakan akan membekukan perekrutan untuk semua posisi petugas darat dan mengurangi kapasitas karena permintaan turun. Pada tanggal 26 Februari, jumlah kasus COVID-19 di Singapura adalah 93, di mana 62 di antaranya telah sepenuhnya pulih.

Kios Cek Suhu Tubuh Mandiri Hadir di Stasiun dan Pertukaran Bus Singapura

Banyak cara untuk mencegah seseorang terinfeksi virus corona salah satunya dengan mencuci tangan dengan sabun dan membasuhnya di air mengalir atau menggunakan pembersih tangan atau handsanitiser. Namun bagaimana dengan moda transportasi yang banyak digunakan oleh masyrakat, apakah sudah ada pencegahan yang dilakukan seperti ketersediaan handsanitiser atau pengecekan suhu tubuh?

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Di Singapura sebagai salah satu negara yang terdampak virus corona, di beberapa stasiun MRT dan halte transit bus disediakan alat pengecekan tubuh yang bisa memeriksa sendiri. Menteri Transportasi Singapura, Khaw Boon Wan yang mengunjungi Stasiun MRT Toa Payoh dan pertukaran bus pada Minggu (1/3/2020) melakukan pemeriksaan suhu tubuh di kios yang bisa memeriksa sendiri.

Kios ini ada dua dan berada di stasiun tersebut hingga tangal 2 Maret kemarin. Kios prototipe pemeriksa suhu tubuh mandiri tersebut merupakan inisiatif dari beberapa lembaga pemerintah dan perusahaan lokal untuk mendorong orang untuk memeriksa suhu tubuh mereka secara teratur di tengah wabah virus corona yang masih menyebar hingga saat ini.

Setiap kios mandiri ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (1/3/2020), dilengkapi dengan sensor yang akan mendeteksi suhu tubuh orang yang berdiri didepan dan menggunakannya. Jika lampu kuning menyala di layar artinya orang tersebut dalam kondisi melebihi batas tertentu atau mengalami demam.

Namun jika suhu orang yang mengecek dibawah ambang batas maka layar lampu kios akan berwarna hijau. Kios ketiga saat ini sedang dicoba di Chong Pang Community Club. Khaw saatmenggunakan kios pengecekan suhu tubuh tengah mendistribusikan pembersih tangan kepada para pekerja angkutan umum yakni kereta dan bus bersama dengan ketua kelompok Yayasan Temasek Cares Richard Magnus.

Temasek Foundation, berupaya meningkatkan daya tahan masyarakat Singapura untuk mengatasi keadaan darurat. Melalui inisiatif ini, Temasek Foundation berencana untuk mendistribusikan 100 ribu botol sanitiser kepada para pekerja transportasi di garis depan termasuk pengemudi taksi dan layanan ride hailing.

Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

Baru-baru ini mereka juga mendistribusikan sanitiser tangan ke 17 klinik independen yang dikelola amal, rumah sakit, dan organisasi layanan kesehatan, seperti NKF Integrated Renal Center dan Tzu Chi Day Rehabilitation Center. Memperhatikan bahwa pekerja transportasi garis depan hanya memiliki sedikit akses ke fasilitas mencuci sabun dan air ketika mereka bekerja, Magnus mengatakan pada hari Minggu bahwa sanitiser tangan akan memungkinkan mereka untuk membersihkan tangan sambil tetap melakukan tugas mereka secara efisien.

Pengemudi Taksi di Beberapa Negara Positif Terkena Virus Corona

Ketika berbicara tentang virus corona yang kini sudah menyebar di lebih dari 60 negara, ternyata bukan hanya pelancong asal Cina yang terkena. Tapi banyak juga yang terdampak seperti masyarakat lokal salah satunya para pengemudi taksi yang mengangkut pelancong-pelancong tersebut.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

Banyak pengemudi taksi yang ternyata sudah terinfeksi virus corona di beberapa negara. Berikut ini, KabarPenumpang.com merangkum cbsnews.com (2/3/2020), seorang pengemudi taksi di Thailand, terinfeksi virus corona setelah pelancong Cina yang menjadi penumpangnya batuk-batuk dan menggunakan masker.

Pengemudi yang berusia 51 tahun tersebut kemudian mengawali gejala pada 20 Januari dan dia saat itu belum tahu adanya penyebaran virus corona di Cina. Pria tua tersebut kemudian minum obat yang dibeli dan pada 24 Januari merasa terlalu sakit untuk menyetir dan beristirahat dirumah.

Pada 28 Januari, dirinya kemudian pergi ke rumah sakit di Bangkok karena kesulitan bernafas dan dirujuk ke Institut Penyakit Menular Bamrasnaradura. Ketika dites oleh dokter dirinya dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Dia mengatakan kepada dokter tidak pernah punya sejarah bepergian ke Cina tapi melaporkan pernah kontak dengan pelancong Cina di taksi. Pria itu juga menceritakan, pelancong tersebut batuk tetapi menggunakan masker.

Kemudian pada 5 Februari pengemudi taksi tersebut dipulangkan dari rumah sakit dan keluarganya dinyatakan negatif terkena virus. Para dokter memuji pengemudi itu karena tetap di rumah dan kemudian melapor ke rumah sakit ketika dia sakit.

“Saya menonton berita itu setiap hari dari kamar karantian dan mengirim dukungan saya ke Wuhan. Bahkan aku bisa mengalahkannya. Kau juga bisa,” kata pengemudi yang tak diketahui namanya itu.

Thailand menerima sekitar 11 juta wisatawan dari Cina tahun lalu dan Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa pada hari Minggu pihaknya telah mengkonfirmasi setidaknya 42 kasus coronavirus di negara itu. Pariwisata dapat berkontribusi pada penyebaran virus antar negara, tetapi bagi pekerja seperti pengemudi taksi, wisatawan juga merupakan kontributor besar terhadap pendapatan mereka.

“Ketika saya mengetahui bahwa saya terkena virus, saya menangis karena saya harus menjaga keluarga saya. Tapi aku tidak punya perasaan buruk terhadap turis atau orang Cina. Aku mengendarai taksi, turis adalah keranjang rotiku,” kata pengemudi itu.

Tak hanya itu, seorang pengemudi di Jepang kemungkinan terinfeksi setelah melakukan kontak dengan seseorang yang pernah berada di kapal pesiar Diamond Princess. Kapal itu dikarantina 14 hari pada bulan Februari. Hampir 700 penumpang dan awak akhirnya didiagnosis menderita penyakit itu.

Pengemudi Jepang, yang berusia 60-an, bekerja di Okinawa, tempat kapal pesiar berhenti pada 1 Februari, menurut pemerintah setempat. Saat itulah dia kemungkinan melakukan kontak dengan seorang penumpang dari kapal sebelum dikarantina. Pengemudi sedang dirawat dan dilaporkan dalam kondisi stabil pada hari Jumat.

Seorang pengemudi taksi lain di Jepang, seorang lelaki berusia 70-an, juga dinyatakan positif terkena virus itu, seperti halnya seorang pengemudi bus di Prefektur Nara, Jepang, yang telah mengangkut wisatawan dari Wuhan, Cina. Di Taiwan, kematian virus corona pertama di pulau itu adalah seorang sopir taksi.

Sopir itu adalah seorang pria berusia 61 tahun yang juga menderita diabetes dan hepatitis B. Dia tidak bepergian ke luar negeri baru-baru ini, tetapi dia sering mengusir orang-orang yang sedang berkunjung dari Hong Kong, Makau dan Cina daratan, kata Menteri Kesehatan Chen Shih-chung.

Baca juga: Terdampak Badai Corona, Inilah Alasan Singapore Airlines Mengurangi Frekuensi Penerbangan ke Sejumlah Negara

Salah satu anggota keluarga pengemudi dinyatakan positif terkena virus tersebut, yang merupakan kasus penularan lokal pertama Taiwan, kata menteri kesehatan itu. Taiwan telah melarang pengunjung Cina dan orang asing dengan sejarah perjalanan ke Cina baru-baru ini, dan sebagian besar penerbangan ke Cina juga telah ditangguhkan.

Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Merespon turunnya minat penerbangan masyarakat, Cina, memberikan suntikan modal (subsidi) yang tak tanggung-tanggung ke maskapai. Meskipun besarannya masih simpang siur, namun, nyatanya, banyak maskapai di negara tersebut berani memberikan harga super murah.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Seperti dilansir marketwatch.com, Rabu, (4/3), South China Morning Post melaporkan bahwa maskapai bertarif rendah terbesar di China, Spring Airlines, memberikan harga yang sangat murah, yaitu 29 yuan atau sekitar Rp60 ribu penerbangan dari Shanghai ke Chongqing, dengan jarak perjalanan 1.400 km atau hampir sama dengan jarak Jakarta (CGK)-Lombok (LOP).

Selain perjalanan dari Shanghai ke Chongqing yang menawarkan harga sangat murah, perjalanan dari Shanghai ke Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, juga menawarkan harga fantastis. Dengan jarak 1.600 km, harganya turun hingga menjadi 69 yuan atau sekitar Rp 141 ribu.

Tak ketinggalan, Shenzhen Airlines juga menawarkan 100 yuan atau sekitar Rp200 ribu untuk penerbangan satu arah selama 2 jam 15 menit dari Shenzhen ke Chongqing dengan jarak 1.000 km. Padahal harga standarnya 1.940 yuan atau Rp3.980.000.

Demikian juga dengan Chengdu Airlines yang juga memberikan harga cukup murah, yaitu seharga 100 yuan atau sekitar Rp200 ribu untuk penerbangan dari Shenzhen ke Chengdu. Jarak yang ditempuh mencapai 1.300 km.

Menurut sebagian kalangan, langkah Cina tersebut diakui sulit ditiru oleh negara lain. Indonesia, misalnya, dengan jarak yang sama (Jakarta (CGK)-Lombok (LOP) sejauh hampir 1.400 km) dan kelas yang sama (LCC) hanya memberikan diskon 50 persen atau rata-rata sekitar Rp350 ribuan di setiap keberangkatan. Itupun hanya untuk 25 persen penumpang atau 40 seat setiap penerbangan. Artinya, ada syarat tertentu untuk sebuah diskon yang diberikan, bukan diberikan secara cuma-cuma seperti di Cina.

Maskapai lainnya di negara-negara maju seperti Amerika, misalnya, memang memberikan diskon juga untuk beberapa rute tertentu. Hanya saja penurunannya juga tak se-drastis seperti di Cina. Untuk rute internasional, menurut Hopper, agen perjalanan di AS, mengatakan bahwa harga tiket antara AS dan sejumlah negara juga tak begitu drastis penurunannya. Ia puna mengambil contoh, penerbangan antara AS dan Vietnam yang hanya turun sebesar 5,7 persen. Begitupun juga dengan penerbangan lainnya ke sejumlah negara.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Padahal, diskon besar-besaran untuk meningkatkan minat masyarakat bepergian dengan pesawat sangat dibutuhkan, sekalipun hal tersebut tidak dapat memastikan adanya perubahan yang signifikan, mengingat, saat ini, penerbangan dari AS ke Asia sangat menurun.

“Pariwisata ke tujuan di Vietnam, Filipina, Malaysia, dan banyak lagi di Asia Tenggara kemungkinan besar akan terkena dampak virus, karena 30 persen atau lebih dari penerbangan yang tersedia dari AS ke negara-negara ini termasuk singgah di Cina,” kata Ekonom Hopper, Hayley Berg, dalam sebuah laporan.

Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Industri penerbangan global saat ini tengah memasuki periode kritis akibat imbas wabah virus corona. Beberapa maskapai bahkan terpaksa harus menawarkan sejumlah karyawannya untuk mengambil cuti secara sukarela atau tanpa dibayar, mulai dari pegawai darat hingga awak kabin. Khusus untuk awak kabin, sepinya penerbangan bukan saja berdampak pada pendapatan atau take home pay mereka, melainkan juga berpengaruh dengan gaya hidup.

Baca juga: Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Menurut pengamat penerbangan Indra Setiawan, dengan iklim penerbangan seperti sekarang ini, hal tersebut tentu bukanlah keinginan semua pihak, termasuk airlines. Untuk di Indonesia sendiri, terkait pramugari, sepinya penerbangan memang tak mempunyai pilihan lain kecuali standby di rumah.

“Ya sama saja dengan bisnis lainnya yang sepi akibat sedikitnya tamu yang datang. Dengan sepinya penerbangan, ya mau gimana, itu juga bukan keinginannya airlines. Mau tidak mau mereka di rumah atau terserah mereka-lah selama penerbangan sepi mau ngapain,” katanya, kepada KabarPenumpang.com, Rabu, (4/3).

Senada dengan Indra, salah satu narasumber yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan, sebetulnya dengan sepinya penerbangan, pramugari atau pramugara menjadi serba salah. Pasalnya, setiap dua pekan sekali, biasanya, bagian operational maskapai akan membuatkan schedule untuk pramugari dengan skema pengaturan by sistem.

Saat dahulu ia masih aktif bekerja, salah satunya mengatur schedule awak kabin dan kru kokpit, sistem yang dibuat berdasarkan kesepakatan dari pembuat program dan pengguna program, dimana di dalam aplikasi tersebut akan mengakomodir semua keinginan dari para pembuat kebijakan schedule crew. Dengan begitu, diharapkan, pembagian tugas awak kabin dapat mencapai tujuan berupa rata destinasi, rata jam terbang, dan rata pendapatan dimana aplikasi akan memproses CROPA mengikuti kaidah tersebut.

Pramugari Malaysia Airlines

Efek Penerbangan Sepi
Masalah pun muncul ketika penerbangan sepi. Bagi mereka yang telah memilih rute, dalam hal ini internasional, tak ada pilihan lain kecuali di rumah. Selain itu, bila pun ada penerbangan, hal tersebut bukan pula menjadi sebuah berkah buatnya. Justru sebaliknya, bisa jadi menjadi petaka, dalam artian, tunjangan atau away from base yang mereka dapatkan dari airlines untuk penerbangan internasional tersebut bisa saja habis tak tersisa, bahkan tak jarang bisa saja harus merogoh kocek pribadi untuk bertahan hidup selama menunggu untuk sampai ke penerbangan berikutnya, tergantung pada pola hidup mereka selama di sana. Kalau terlalu boros, hal itu mungkin bisa saja terjadi.

“Jangan salah, pramugari itu keliatannya doang loh (mewah gaya hidupnya). Loh iya, mereka kan memang harus terlihat ‘wah’ gitu ya. Masa pramugari hidupnya ya begitu (ala kadarnya), kan tidak enak juga. Seumpama, mereka terbang ke luar negeri, mereka ya enak dapat tunjangan berupa travel allowance dan away from base. Tapi, kalau penerbangannya hanya sekali atau dua kali dalam sepekan, ya mereka tidak bisa membawa uang yang banyak ketika kembali. Kan mereka hanya mendapatkan fasilitas berupa penginapan saja tidak untuk biaya hidup selama di sana,” jelasnya.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Selama di sana, lanjutnya, itulah momen mereka (awak kabin) untuk jalan-jalan serta menelusuri berbagai destinasi wisata favorit di negara tujuan. Saat itulah pramugari tampak glamor dengan gaya hidup mewah bak anak sultan. Namun, di balik semua itu, sebetulnya ia bisa saja tengah menjerit. Salah satu faktornya, itu tadi, penerbangan internasional dalam sepekan hanya satu atau dua kali. Paling tidak, untuk rute internasional, awak kabin minimal bertugas tiga kali dalam sepekan. Jika hal itu terjadi, barulah mereka pulang ke tanah air dengan membawa sejumlah uang yang tak sedikit.

Akan tetapi, ketika ditanya besaran travel allowance dan away from base untuk awak kabin yang bertugas, ia pun urung menyebutkannya. Ia mengatakan, bahwa besarannya bisa saja sudah berubah. Kemudian, ia mengakui, bahwa minimal take home pay atau uang yang dibawa pulang setiap bulannya berada dikisaran UMR atau lebih. Namun, ia juga tak menampik bahwa awak kabin (dalam kondisi normal) bisa membawa pulang uang yang cukup banyak.

Gegara Charger Portabel Keluarkan Api, Airbus A320 United Airlines Mendarat Darurat

Pesawat Airbus A320 milik United Airlines yang berangkat dari Bandara Internasional Newark Liberty menuju ke Bahama harus mendarat darurat di Bandara Internasional Daytona Beach, Florida. Pendaratan darurat ini dilakukan karena charger portabel untuk laptop milik seorang penumpang terbakar. Pihak Bandara Daytona mengatakan, api terlihat dari dalam tas penumpang yang kemudian charger portabel tersebut dimasukkan ke dalam kotak tahan api hingga pesawat mendarat dengan aman.

Baca juga: (Lagi) Powerbank Meledak di Penerbangan AirAsia Rute Kuala Lumpur-Hong Kong

“Tidak ada cedera atau kerusakan baik pesawat atau penumpang,” tulis Bandara Daytona di akun Twitter.

Juru bicara United Leigh Schramm mengatakan, personil darurat langsung menangani insiden itu ketika pesawat tiba di Florida dan semua penumpang tetap di dalam kabin sebelum pesawat kembali diterbangkan ke Bandara Nassau di Bahama.

“Kami menghargai kerja cepat staf kami untuk menjaga pelanggan dan sesama awak tetap aman,” kata Leigh.

Tak hanya itu, seorang penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut memuji kerja cepat tanggap awak United dalam mengendalikan penyebaran api. Dia mengaku terkesan dengan cara para awak kabin tersebut dalam menangani keadaan darurat di dalam pesawat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari iol.co.za (2/3/2020), mengingat kebakaran charger portabel ini, administrasi penerbangan federal menyebutkan bahwa mendaftarkan barang yang dapat diisi ulang dan baterai lithium yang tidak dapat diisi ulang, baterai ponsel dan baterai laptop sebagai barang berbahaya serta telah menempatkannya dalam daftar barang terlarang. Ini artinya barang-barang tersebut tidak dapat hadir sama sekali dalam tas yang sudah diperiksa dan hanya bisa dibawa naik selama perangkat yang digunakan dalam kondisi mati.

Peraturan baru ini diadopsi setelah 268 insiden yang melibatkan baterai lithium-ion yang dilaporkan ke FAA dalam 15 tahun terakhir. Bahkan kebakaran charger portabel yang terjadi di pesawat United tersebut bukanlah yang pertama kali.

Pada 2016, Samsung Galaxy Note 7 dilarang sepenuhnya terbang oleh Departemen Perhubungan setelah gambar ponsel penumpang terbakar dan dalam beberapa kasus meledak yang kemudian menjadi viral. Samsung akhirnya mengeluarkan penarikan penuh telepon, tetapi tidak sebelum Galaxy Note 7 yang terbakar memaksa evakuasi penerbangan Southwest Airlines.

Pada tahun 2018, tiga maskapai penerbangan AS memberlakukan batasan pada “tas pintar” seperti yang dijual oleh merek bagasi populer Away atas FAA bahwa baterai lithium-ion yang mendukung fitur seperti pengisi daya telepon dan perangkat pelacakan internal berpotensi terbakar dan meledak. Away mematuhi peraturan dengan membuat baterai mereka bisa dilepas.

Diketahui, FAA telah melaporkan 191 kasus baterai lithium-ion terbakar, berasap atau meledak di pesawat atau di bandara sejak 1991. Insiden serupa telah menyebabkan pembatasan baterai lithium pada pesawat kargo. Tahun lalu, penerbangan Virgin Atlantic dari New York menuju London harus dialihkan untuk pendaratan darurat di Boston setelah kru penerbangan melihat kebakaran di kabin yang diyakini para penyelidik disebabkan oleh charger telepon.

Baca juga: (Lagi) Kasus Ponsel Meledak, Kali Ini Dialami Air Canada Flight 101

Dalam tiga tahun terakhir, rokok elektrik bertanggung jawab atas lebih dari 30 insiden asap atau kebakaran di bandara atau di pesawat. Mereka termasuk insiden pada penerbangan SkyWest dari Los Angeles pada 2017, di mana seorang pramugari berimprovisasi dengan menggunakan ember es untuk menghentikan rokok elektrik yang membara sebelum memasukkannya ke dalam kantung penahan api.

Wow, Halte Bus di Inggris Tawarkan Sensasi Bak ‘Rumah Nenek’, Aneh atau Keren?

Seiring berjalannya waktu, di kota-kota besar di banyak negara di dunia mulai mempercantik ruang-ruang publik dengan berbagai desain unik. Terlebih, dengan hadirnya tren digital, dilengkapi dengan platform-platform pendukung, seperti Instagram, Facebook, dan Twitter, ruang-ruang publik atau sarana prasarana umum kini mulai berubah fungsi, dari semula hanya sebagai penunjang aktivitas masyarakat, menjadi salah satu spot menarik untuk berswafoto atau biasa juga disebut spot Instagramable.

Baca juga: Mengapa di Setiap Negara Membutuhkan Halte Bus?

Di Jakarta sendiri, dahulu (mungkin di atas tahun 2017) halte bus bisa dikatakan masih sangat kurang menarik. Kusam, tak terawat, kotor, desain seadanya, bau pesing, hingga tidak informatif. Singkatnya, tidak membuat masyarakat betah berlama-lama di halte sambil menunggu bus datang. Namun, seiring berjalannya waktu, di beberapa lokasi di Jakarta, halte bus sudah didesain sedemikian rupa menjadi lebih indah. Tak terkecuali dengan Inggris.

Seperti dilansir laman bbc.com, Senin, (2/3), di Inggris terdapat halte bus unik layaknya Jakarta. Bedanya, jika di Jakarta halte bus ‘dipercantik’ oleh otoritas setempat, di wilayah Thrupp, Oxfordshire, Inggris, halte tersebut justru ‘dipercantik’ secara misterius oleh orang tak dikenal. Halte yang semula usang, ditambah wilayah sekitar yang tergolong sepi dan membosankan, seketika berubah menjadi lebih ‘fresh’, mengundang siapapun yang melihat untuk tersenyum, dan mewarkan sensasi bak ‘rumah nenek’. Rumah nenek sendiri adalah representatif dari sebuah tempat nyaman yang biasa digunakan oleh kaum millenials.

Betapa tidak, berbeda dengan halte-halte bus pada umumnya, halte tersebut kini telah dilengkapi dengan gambar, hiasan, ornamen, rak buku berisi puisi, dan kursi yang nyaman. Di samping itu, di halte bus tersebut juga terdapat berbagai tulisan atau quotes menarik, seperti “Kamu sungguh cantik” dan “Berhenti atas nama cinta.”

Mary Fisk, warga sekitar, ketika pertama kali melihat halte tersebut ia mengaku sempat merasa aneh dengan perubahan drastis pada halte tersebut. Namun, disisi lain, ia juga mengaku merasa memiliki hari yang indah ketika melihatnya. Secara pribadi, sebelum terdapat perubahan, ia memang mengaku bahwa halte tersebut lebih menawarkan sensasi penuh dengan kebosanan, baik ketika melihat, berada di sekitarnya, ataupun menunggu bus di dalamnya. Maka dari itu, ia sangat mendukung perubahan tersebut.

“Mereka hanya ingin menjadikannya lebih indah untuk orang-orang dan membawa senyum ke wajah semua orang saat mereka lewat,” katanya.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual, Pemerintah India Hadirkan Halte Khusus Wanita

Senada dengan Mary Fisk, sang kreator, melalui sebuah tullisan yang di tempet di dalam halte, mengatakan bahwa mereka hanya ingin mengubah halte tersebut menjadi sebuah tempat yang nyaman dan membuat orang lain tersenyum. Selain itu, bahan-bahannya juga membuat halte bus tersebut tergolong ramah lingkungan, terbuat dari bahan-bahan daur ulang.

Meskipun tak sampai mendapatkan penghargaan seperti sebuah halte bus di bagian lain Inggris, tepatnya di Univesity of East Anglia (UEA), yang mendapat penghargaan dari Asosiasi Arsitek Norfolk karena dinilai menjadi salah satu tempat yang memiliki kualitas karbon rendah, halte bus unik di Thrupp, Oxfordshire, Inggris tersebut rupanya berhasil mendapatkan komentar positif dari masyarakat. Bahkan, seorang pengguna Twitter berpendapat bahwa halte bus tersebut adalah yang terbaik di wilayah tersebut. “Halte bus terbaik di #Stroud (nama jalan di Thrupp).”