Virus corona belum ada tanda-tanda akan berakhir, justru terus semakin membesar. Akibatnya, maskapai global ramai-ramai melakukan sejumlah efisiensi, mulai dari mengurangi layanan, menutup atau mengurangi rute, merumahkan karyawan, meminta karyawan untuk dengan sukarela mengambil cuti tanpa dibayar, hingga mengurangi gaji. Semua itu dilakukan semata untuk tetap bertahan hidup di tengah terjangan ‘badai’ virus corona.
Baca juga: Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”
Akan tetapi, bagi maskapai Garuda Indonesia, rupanya virus corona tak terlalu berarti banyak, khususnya terkait langkah-langkah inisiatif, sebagaimana yang dilakukan banyak maskapai dunia. Bila virus corona telah membuat Singapore Airlines, Qatar Airways, dan Etihad Airways, mengurangi rute penerbangan, menawarkan cuti tanpa dibayar, mengurangi layanan, merumahkan karyawan, hingga pengurangan gaji, Garuda Indonesia masih bisa selamat dari hal tersebut.
“Kita tidak pernah punya rencana untuk, misalnya merumahkan karyawan, mengurangi karyawan, maupun mengurangi gaji,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra kepada KabarPenumpang.com, Jumat, (6/3/22020)
Meskipun tak menampik bahwa secara bisnis Garuda Indonesia juga terdampak virus corona, lanjutnya, hal itu (maraknya pengurangan gaji ataupun pengurangan karyawan oleh maskapai global) terjadi karena posisi mereka sebagai maskapai penerbangan berbasis hub atau transit. Jadi, tak heran bila mereka mempunyai penerbangan hampir ke seluruh penjuru dunia. Hanya saja, di tengah terjangan virus corona, hal tersebut sangat membuat mereka kewalahan.

Sebaliknya, bagi Garuda Indonesia, tidak adanya rencana untuk melakukan efisiensi dengan melakukan pengurangan karyawan ataupun melakukan pengurangan gaji dikarenakan maskapai pelat merah tersebut mempunya basis penumpang domestik yang kuat. Oleh karenanya, selama banyak orang ingin bepergian dengan singkat lintas pulau, virus corona tak akan terlalu membuat Garuda kewalahan.
“Kita memang tidak sebesar mereka (Etihad, Singapore Airlines, Emirates, Qatar), tapi kita punya pasar domestik yang kuat, mereka tidak punya pasar domestik. Nah kalau pasar domestik ini, selama orang Sumatera boleh pindah ke Jawa, orang Jawa ke Kalimantan, kemana-mana bisa, tidak ada masalah kan?” tegas, mantan Country Manager Cisco Indonesia tersebut.
Terkait virus corona, International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus tersebut sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar US$29 miliar atau Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang 2020.
Selain itu, maskapai global juga sudah mulai bergerak untuk mencari inisiatif pembiayaan melalui leasing penerbangan di dunia, salah satunya Avolon Leases Aircraft. CEO leasing pesawat terbesar di dunia tersebut, Domhnal Slattery, mengatakan bahwa saat pihaknya mengaku sudah banyak dihubungi maskapai di dunia, khususnya dari Cina, untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan di tengah sepinya penerbangan akibat corona.

