Tak Mau Naik di Gerbong Khusus Wanita, Ternyata Ini Alasan Para Wanita Jepang

Perusahaan kereta Jepang yakni East Japan Railway Co. (JR East) dan Tokyo Metro Co. menyediakan gerbong khusus wanita antara pukul 07.00 pagi dan 09.30 pagi. Sedangkan layanan West Japan Railway Co (JR West) layanan metro di Osaka dan Nagoya mengoperasikan gerbong wanita.

Baca juga: Gerbong Khusus Perempuan Tak Hanya Ada di Indonesia

Namun pada pertengahan Januari 2020, beberapa stasiun TV utama di Jepang menyiarkan khusus terkait wanita Jepang yang tidak ingin naik gerbong khusus wanita. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (22/1/2020), TV Asahi dan TBS menyiarkan keluhan perselisihan dalam gerbong dan beberapa wanita mengatakan, ada bau tajam dari parfum dan makeup.

Tak hanya itu, beberapa mengaku, banyak yang berperilaku buruk karena tak lagi digerbong campuran. Namun, acara TV ini memicu kritik dari warganet yang mengatakan, perselisihan juga terjadi dalam gerbong biasa. Bahkan sesama penumpang wanita dalam gerbong khusus tersebut sering berkelahi atau saling memukul.

Tak hanya itu, banyak gerakan yang mencoba menghapus gerbong khusus wanita karena beberapa pihak menganggap hal tersebut sebagai diskriminasi terhadap lagi-laki. Tapi sebuah tagar yang digunakan di media sosial mengatakan bahwa gerbong khusus wanita diperlukan agar tidak ada lagi korban pelecehan seksual.

Dalam sebuah tayangan TV Asahi pada 13 Januari mengangkat tema “Mengapa ada peningkatan pada wanita yang tidak ingin naik gerbong khusus wanita?” Pertanyaan tersebut juga disebar melalui media sosial. Ternyata jawaban beragam ketika sebuah video wawancara dengan penumpang wanita ditayangkan dan menjawab, “Wanita memaksa dan ketika tidak ada pria mereka tidak peduli apakah orang bisa melihat mereka.”

Seorang presenter wanita dalam acara tersebut, Chiharu Saito mengatakan, “Saya mengerti. Sepertinya saya mengangguk setuju sepanjang waktu. Itu membuat stres saya meningkat, jadi saya tidak benar-benar naik.”

Presenter lainnya, Shimpei Nogami mengungkapkan data investigasi yang dilakukan program TV tersebut dan kenyataan mengejutkan, bahwa 35 dari 50 orang mengatakan, mereka tidak naik dalam gerbong khusus wanita. Bahkan alasan lainnya pun didapat yakni ketika naik ke gerbong khusus wanita rambut penumpang lain bisa mengganggu dan mereka banyak menggunakan sepatu berhak.

Bahkan dalam gerbong khusus tersebut ada persaingan antar penumpang wanita yakni seperti memiliki produk bermerek, produk keluaran baru yang menjadikan seperti adanya sebuah kontes teratas di dalamnya. Hal ini kemudian membuat pembawa acara tersebut mengaku tidak pernah tahu ada yang seperti itu terjadi dalam gerbong khusus tersebut.

“Sekarang kita memahami sesuatu yang tidak pernah dipertimbangkan oleh sudut pandang pria,” ujar Nogami.

Masako Makino, seorang peneliti penelitian doktoral di Ryukoku University Criminology Research Center mengatakan, bahwa program ini sepenuhnya mengabaikan peristiwa yang menyebabkan gerbong khusus wanita dibuat untuk mencegah meraba-raba dan kenyataan bahwa masih ada korban serangan seksual di kereta api. Itu membuat wanita saling menyerang, upaya untuk memberikan arti penting bagi keberadaan pria, dan memungkinkan pria di luar menikmati menonton konflik.

Baca juga: Sepanjang Tahun Ini, 1400 Penumpang Pria Telah Diamankan Karena Masuki Gerbong Wanita

Dia menambahkan, “Ada juga media yang menggunakan subjek mobil khusus perempuan sebagai bahan untuk menangani dengan perspektif voyeuristic, mengatakan hal-hal seperti ‘Hanya perempuan jelek yang menaikinya. Dilihat dari fakta bahwa perempuan menyuarakan kritik terhadap program-program ini di bidang sosial media, saya merasa bahwa semakin banyak orang berbicara menentang kekerasan seksual dan diskriminasi perempuan dan bahwa kita sedang dalam proses menjadi masyarakat di mana orang dapat lebih mudah mengangkat suara mereka.”

 

Sandaran Belakang Kursi Roda Hilang, Penumpang Emirates Tak bisa Nikmati Liburan

Gemma Quinn, 35 tahun, wanita asal Inggris ini mengalami kelumpuhan dari leher ke bawah karena kecelakaan masa kanak-kanak harus menggunakan kursi roda khusus. Dia memesan perjalanan 19 hari di Asia dengan dua pengasuhnya.

Baca juga: Lantaran Tak Diberikan Kursi Roda, Penumpang Disabilitas Alami Patah Tulang Saat Ke Toilet

Dalam perjalanan tersebut Gemma mengeluarkan biaya lebih dari £15 ribu atau sekitar S$26.600. Namun sayangnya dengan uang yang sudah dikeluarkan sebanyak itu, Gemma tidak bisa menikmati liburannya selama satu hari penuh.

Hal ini dikarenakan ketika dalam perjalanan dari Manchester ke Singapura dan transit di Dubai, sandaran belakang kursi roda khususnya hilang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/12/2019), ini kemudian membuatnya terkurung selama seharian di kamar hotel karena tidak bisa bergerak.

Gemma mengatakan, perjalanannya pada 23 Desember 2019 dari Manchester saat transit di Dubai, dirinya harus dibawa dengan tandu ke penerbangan Singapura. Pihak Emirates yang dihubungi karena masalah ini mengatakan, bagian belakang kursi roda Gemma tertinggal di Dubai dan akan dikirim ke Singapura pada 25 Desember 2019 tepat di hari Natal.

Jill Quinn, kakak dari Gemma mengaku bahwa Emirates mengirim bagian belakang kursi roda milik adiknya pukul 11 malam pada hari Natal. Insiden ini membuat Jill menceritakan pada laman Facebook miliknya pada 24 Desember 2019 ketika mereka tiba di Singapura.

“Selama penerbangan lanjutan antara Manchester dan Dubai, staf Emirates Airlines kehilangan sandaran kursi roda Gemma. Solusi mereka adalah bantal yang diikat dengan dua sabuk gesper. Solusi mereka mengakibatkan dia terjatuh dari kursinya, untungnya pengasuhnya menangkapnya sebelum masalah serius terjadi,” cerita Jill di laman Facebook.

Jill mengaku, kehilangan sandaran belakang kursi roda Gemma tak sebanding dengan kehilangan barang bawaan. Pasalnya kursi roda itu adalah suatu keharusan dan membuat adiknya tak bisa meninggalkan kamar hotel bila salah satu bagiannya hilang.

Karena insiden ini, pihak Emirates mengaku sangat menyesal atas ketidaknyamanan Gemma karena kelalaian pihaknya.

Baca juga: Gandeng Panasonic, ANA Hadirkan Kursi Roda Otonom di Bandara Narita

“Tim kami di Dubai dan Singapura telah melakukan segala upaya untuk membantu Quinn dan keluarganya melanjutkan liburan yang direncanakan, dan kami sangat menyesal atas ketidaknyamanan yang mereka alami,” kata Emirates.

Airbus Bantu AS Buat Perahu ‘Terbang’ untuk Menangkan Perlombaan Prestisius

Raksasa teknologi di dunia, pada umumnya tidak hanya bergelut pada satu lini bisnis utamanya saja. Sebagai contoh, samsung, misalnya, selain merambah bisnis ponsel, merek-merek dagangnya juga merambah ke lini lainnya, seperti televisi, AC, dan lain sebagainya. Tak terkecuali dengan Airbus.

Baca juga: Gaet Gentex, Airbus Siap Tingkatkan Pengalaman Penumpang via Dimmable Windows

Seperti dilansir finance.yahoo.com, Kamis (23/1), belum lama ini Airbus dikabarkan membantu negeri Paman Sam dalam merancang kapal layar tangguh dan cepat, dengan sentuhan teknologi canggih yang mereka miliki. Kapal yang dirancang Airbus tersebut nantinya akan digunakan dalam kejuaraan Piala Amerika atau America’s Cup ke-36 di Waitemata Harbour, Selandia Baru.

Amerika memang tidak main-main untuk menatap kejuaraan yang akan dihelat pada 6-21 Maret 2021 tersebut. Pasalnya, Amerika (yang telah merajai kompetisi olahraga tertua di dunia itu) selama 132 tahun, telah dipecundangi pada kejuaraan sebelumnya oleh salah satu pesaingnya dari Selandia Baru, yakni dari tim Emirates Team New Zealand (ETNZ). Maka dari itu, tak heran bila Amerika, melalui tim New York Yacht Club (NYYC), menggandeng produsen pesawat asal Perancis itu.

Keputusan NYYC untuk menggandeng Airbus juga tak lepas dari buruknya performa kapal mereka sebelumnya, Defiant. Kapal yang menjadi biang keladi dipecundanginya Amerika dalam kejuaraan America’s Cup tahun 2017 lalu itu, gagal melaju mulus di atas air saat menyentuh kecepatan 50 mph atau hampir 90 kilometer per jam. Itu jugalah salah satu alasan mereka menggandeng insinyur penerbangan Airbus, semata-mata untuk mengaplikasikan teknologi penerbangan agar perahu NYYC nantinya dapat ‘terbang’ mulus di atas air. Saat ini, kapal AM38 rancangan insinyurAirbus tersebut masih terus diujicoba.

Baca juga: Ambil Langkah ‘Terbalik’ dengan Boeing, Airbus Akuisisi MTM Robotics

Sebagai informasi, Selandia Baru, sebagai pemenang America’s Cup ke-35 di perairan Great Sound, Bermuda, Pesisir Carolina, Amerika Serikat, mereka berhak untuk memilih tempat selanjutnya. Di samping itu, mereka juga berhak untuk bertanggungjawab penuh terhadap gelaran America’s Cup ke-36. Termasuk menentukan spesifikasi perahu yang akan diperlombakan nanti.

Selandia Baru, sebagai juara bertahan, akan ditantang oleh tiga tim lainnya, yakni NYYC (Amerika), tim Luna Rossa Prada Pirelli (Italia), dan tim INEOS (Inggris). Sebelum mereka bertarung habis-habisan pada gelaran America’s Cup ke-36, mereka terlebih dahulu akan melalui seri kejuaraan lainnya sebagai pemanasan, yakni di Italia, Eropa, dan Selandia Baru.

Dirut dan Komut Akan Buat Garuda Indonesia Jadi Bisnis yang Menyenangkan

Direktur Utama (Dirut) dan Komisaris Utama (Komut) PT Garuda Indonesia (Persero), Irfan Setiaputra dan Triawan Munaf, menyatakan komitmennya untuk membereskan sederet pekerjaan rumah yang terdapat di tubuh maskapai pelat merah itu. Menurutnya, sebagai flag carrier kebanggaan masyarakat, sudah seharusnya Garuda Indonesia melakukan lebih dari sekedar mencari untung.

Baca juga: Irfan Setiaputra Kini Jabat Posisi Direktur Utama Garuda Indonesia

“Kita harus membuat bisnis ini menjadi bisnis kebahagiaan. Bisnis yang bisa membuat happy. Semuanya terbuka, optimis untuk negeri ini. Jangan liat perusahannya aja tapi juga impact dari flag carrier terhadap ekonomi nasional, kepada kebahagiaan nasional. Kepada persaudaraan kita,” kata Triawan Munaf kepada wartawan, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1).

Mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), itu juga menegaskan, sekalipun mereka (Dirut dan Komut) mempunyai tugas untuk membuat bisnis Garuda jadi bisnis yang menyenangkan, berdampak langsung terhadap ekonomi nasional, kebahagiaan nasional, bahkan persaudaraan, fokus utamanya tetaplah profit.

“Kita harus optimis, supaya jangan untung ruginya saja, harus untung tapi, untuk membayar kewajiban-kewajiban kita tentunya harus untung, tapi jangan mengutamakan itu tapi mengorbankan yang lain,” lanjut, ayah dari artis Sherina Munaf ini.

Sejalan dengan Triawan Munaf, Irfan Setiaputra, juga mengungkapkan bahwa secara formasi, timnya sudah tepat dan siap untuk membenahi segala apa yang perlu dibenahi dan melanjutkan segala yang sudah bagus. Pengalamannya di BUMN dan begitupun dengan para direksi yang lain juga membuat tugas-tugas berat yang diamanahkan padanya menjadi lebih mudah. Terlebih, ia juga telah mengenal lama direksi-direksi yang akan membantunya. Hal itu diakuinya akan semakin mudah untuk membangun komunikasi.

“Saya mantan orang BUMN juga dan direksi yang lain juga sama, Jadi kita bisa percepat kerjasama itu dengan lebih mudah. Kalau sudah kenal kan enak,” ujar pria jebolan ITB tersebut.

Baca juga: Pisah dari Garuda Indonesia, Sriwijaya Air Buka Rute Lama yang Tak Beroperasi

Di samping itu, ia juga coba menepis keraguan masyarakat, mengenai latar belakang profesinya yang bukan dari kalangan penerbangan. Menurutnya, pengalaman di BUMN dan juga pengalaman di bidang perbankan adalah modal utamanya dalam usaha untuk membereskan berbagai permasalahan Garuda, sekalipun ia sama sekali bukanlah orang yang lahir dari dunia kedirgantaraan.

“Saya pernah di BUMN dan saya juga pernah di perbankan dulu. Jadi, ini cukup menjadi modal buat saya,” pungkasnya.

Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Dua penumpang terpaksa diturunkan oleh pihak keamanan bandara, penyebabnya terbilang unik, yaitu penumpang tersebut diduga memiliki detonator bom jarak jauh. Padahal yang dimaksud berbeda, yaitu kedua penumpang menyalakan modem hostspot WiFi ketika di dalam kabin pesawat. Hal tersebut membuat pesawat GoJet pada 16 Januari 2020 tertunda keberangkatannya selama tiga jam.

Baca juga: Lontarkan Lelucon Soal Bom, Penumpang British Airways Dikeluarkan dari Pesawat

Insiden ini terjadi pada malam 16 Januari lalu di Bandara Metropolitan Detroit, Amerika Serikat dalam pesawat GoJet dengan penerbangan Delta Connection menuju Montreal. Seorang penumpang, Aaron Greenberg mengatakan, insiden menakutkan tersebut terjadi setelah awak kabin berulang kali meminta penumpang untuk mematikan hotspot WiFi pribadi mereka.

Namun, penumpang itu tidak menggubrisnya dan awak kabin akhirnya mengumumkan mereka akan memanggil polisi jika hotspot tersebut tidak dimatikan. KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (21/1/2020), Greenberg mem-videokan insiden itu dan membagikannya dalam Instagram story miliknya.

“Kami memiliki situasi di belakang pesawat. Polisi akan naik ke kabin untuk menilai situasi. Saya meminta semua orang duduk di kursi masing-masing dengan sabuk pengaman terpasang,” kata awak kabin dalam video tersebut.

Dalam pengumuman yang disiarkan, awak kabin mengatakan akan menutup pintu pesawat dan penumpang agar tetap duduk dan menyimpan barang bawaan mereka. Saat itu juga dikatakan, mereka menyusun rencana untuk penumpang yang diduga mengaktifkan hotspot tersebut.

“Berita baiknya adalah semuanya baik-baik saja, semua orang aman, pesawat kami aman. FBI ada di sini bersama kita,” tambah awak kabin itu.

Greenberg menambahkan, untuk pengamanan penumpang yang tidak mau mematikan hotspot-nya ada sepuluh kendaraan darurat dengan lampu menyala dan mengelilingi pesawat.

“Saya, pada awalnya, mengira ada seseorang yang benar-benar berbahaya di dalam pesawat, karena pilot mengatakan mereka berurusan dengan seseorang di belakang,” ujar Greenberg.

Greenberg menyebut ada dua penumpang yang diturunkan dari pesawat, yakni seorang pria dan wanita. Seorang juru bicara Otoritas Bandara Wayne mengatakan, bahwa penegak hukum telah tiba di bandara dengan hati-hati dan membawa dua penumpang, seorang wanita berusia 42 tahun dan seorang pria berusia 31 tahun keluar dari pesawat.

Baca juga: Saat Bom Ditemukan, Inilah Lokasi Pengamanan Sebelum Pesawat Didaratkan

Kedua orang itu dari Quebec dan ditahan untuk diinterogasi sebelum dibebaskan sambil menunggu penyelidikan tambahan. Penerbangan ditunda selama lebih dari tiga jam dan berangkat ke Montreal pada pukul 01.40 pagi waktu setempat. Pejabat tidak mengkonfirmasi nama koneksi hotspot WiFi yang digunakan.

Foto Penumpang Pakai Sarung Tangan Streril Untuk Tutupi Kaki Viral di Instagram

Sepertinya kelakuan penumpang pesawat makin hari makin aneh saja. Mabuk dan membuat awak kabin serta penumpang lain gusar menjadi yang paling sering terjadi. Bahkan melakukan gerakan yoga, naikkan kaki ke kursi depan, menjemur pakaian dalam hingga meni pedi (gunting kuku) di pesawat bukan hal aneh lagi.

Baca juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!

Tapi seorang wanita mulai berulah dan menjadikannya lucu ketika foto kakinya viral ketika menggunakan sarung tangan. Penumpang yang menggunakan celana legging bunga-bunga berwarna hijau dan merah muda itu akan ke toilet dengan kaki berselimutkan sarung tangan steril.

Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (29/12/2019), foto kaki wanita dengan terbungkus sarung tangan steril tersebut viral di Instagram @PassengerShaming. Banyak warganet yang bingung dengan kelakuan wanita tersebut. Bahkan komentar-komentarnya pun beragam dan foto tersebut membuat gelak tawa para warganet.

Tak hanya itu, banyak warganet yang bertanya apakah awak kabin tidak melihat dan melarangnya? Sebab, diketahui kabin kapal bukanlah tempat yang bersih apalagi toilet. Di mana banyak bakteri dan kuman yang menempel serta bisa membuat sakit penumpang.

Para warganet di Instagram juga mengatakan apakah wanita tersebut menggunakan sarung tangan steril untuk menjaga kakinya tetap aman dan steril ketika ke toilet pesawat? Postingan yang diunggah pada Maret 2019 lalu di Instagram @PassengerShaming tersebut diberi caption “Ahh, sarung tangan membuat berhenti!! Oh, maksud saya kaki saya, apapun – Saya tidak tahu apa yang terjadi dan sekarang mempertanyakan kehidupan.”

Diketahui, toilet pesawat menjadi salah satu tempat banyaknya bakteri sehingga ketika menggunakannya lebih baik pakai sepatu atau alas kaki. Tak hanya itu, melepas alas kaki dalam pesawat juga sebaiknya tidak dilakukan selain mencegah bau yang tersebar, ternyata menggunakan alas kaki juga untuk keselamatan penumpang ketika terjadi keadaan darurat.

Baca juga: Gunakan Sepatu Hak Tinggi, Wanita Paruh Baya Lakukan Gerakan Yoga di Kursi Pesawat

Jadi, baiknya gunakan alas kaki ketika di pesawat dan ke toilet, sebab selain menjaga keselamatan, menghindarkan penumpang juga terkena penularan kuman yang ada alam pesawat.

Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Seorang warga negara Singapura, dilaporkan berhasil selamat dari ancaman isolasi yang hendak dilakukan oleh otoritas Cina di kota Wuhan. Kala itu, ia (yang sedang mengerjakan beberapa bisnis) awalnya sempat tidak tahu-menahu perihal isolasi yang akan dilakukan, hingga akhirnya ia mendapat informasi mengenai hal tersebut saat membuka ponselnya.

Baca juga: Cegah Coronavirus, Angkasa Pura I Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Penumpang Asal Cina

Kisah menariknya untuk keluar dari Wuhan pun kemudian dibeberkan oleh media setempat. Dikutip dari laman straitstimes.com, Jumat (24/1), pria bernama lengkap Eric Kng, awalnya hanya melakukan perjalanan untuk mengunjungi beberapa rekan dari Wuhan ke Shenzen. Tanpa ada niatan untuk pergi ke Shenzen agar tak terjebak di Wuhan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.

Saat dalam perjalanan ke stasiun kereta api untuk mengejar kereta pukul 3.30 pagi dari Wuhan, kemarin, Eric yang juga founder dan CEO sebuah perusahaan di Singapura dan Wuhan, mendapat pesan mengejutkan di ponselnya. Dalam pesan tersebut, dikabarkan bahwa kota itu akan di karantina, dan semua angkutan umum akan berhenti beroperasi pada pukul 10 pagi.

Beruntung, ia pun berhasil keluar dari Wuhan sebelum akses keluar masuk kota tersebut ditutup total. Dalam dokumentasi pribadinya, tampak, kereta ke Shenzhen, nyaris kosong melompong dan akan menjadi salah satu dari beberapa moda transportasi yang bisa keluar dari ancaman kota endemik coronavirus tersebut.

“Situasi awalnya relatif tenang. Lebih banyak orang memakai masker, tetapi masih melakukan kegiatan sehari-hari,” kata pria berusia 34 tahun tersebut, saat kembali mengulang ceritanya kepada wartawan.

Tetapi, lanjutnya, setelah penularan virus corona dari manusia ke manusia dikonfirmasi awal pekan ini, ia memutuskan untuk memborong bahan makanan yang sudah mulai melonjak hampir separuhnya. Termometer dan masker juga terjual habis di tiga apotek yang ia kunjungi.

Seperti mendapatkan bisikan magis, Eric Kng kemudian menyiapkan beberapa pakaian dan membeli tiket kereta ke Shenzhen untuk pagi berikutnya. Dia awalnya berencana untuk mengunjungi teman-teman di kota-kota Cina lainnya selama liburan, tetapi pada akhirnya gagal.

“Aku melihat berita dalam perjalananku ke stasiun kereta sekitar jam 2 pagi, dan bahkan sopir taksi bertanya apakah aku yakin bisa keluar dari Wuhan,” jelasnya.

Sebelum benar-benar keluar dari Wuhan, ia terlebih dahulu harus melewati tes kesehatan. Pada akhirnya ia dinyatakan lolos dan berhasil melenggang bebas dari Wuhan. Namun, walaupun bisa keluar dengan tepat waktu, ia tidak tahu kapan ia bisa kembali dan melanjutkan aktivitasnya seperti sedia kala.

“Tidak ada tiket yang tersedia untuk satu minggu ke depan. Kuharap segalanya segera berakhir. Yang kumiliki hanyalah ransel, dan aku masih punya urusan untuk dijalankan.”

Melihat beberapa fakta yang terjadi, ia pun coba berkomentar. Menurutnya, karantina akan lebih efektif jika diberlakukan sebelumnya. Sebab, banyak orang telah meninggalkan Wuhan menjelang Tahun Baru Imlek, baik baik ke kota asal di Cina maupun berlibur ke luar negeri.

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Pemerintah Cina sendiri, beberapa waktu lalu, telah mengumumkan, sebelum Malam Tahun Baru Imlek, semua penerbangan keluar dan kereta api dari Wuhan akan ditangguhkan dalam upaya mencegah penyebaran virus yang telah mencapai setidaknya lima negara lain, termasuk Singapura.

Bus umum, layanan kereta bawah tanah, dan kapal feri di kota juga terhenti. Sementara mobil masih dapat meninggalkan kota, pihak berwenang telah memutuskan bahwa penduduk tidak boleh pergi tanpa alasan khusus.

Gantikan Agung Wicaksono, Donny Andy Saragih Kini Pimpin PT TransJakarta

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) pada 23 Januari 2020 memiliki Direktur Utama yang baru yakni Donny Andy S Saragih. Donny menggantikan Agung Wicaksono yang mengundurkan diri dengan alasan pribadi, terutama kebutuhan keluarganya setelah satu tahun lebih tiga bulan menjabat Dirut PT TransJakarta.

Baca juga: Anies: Integrasi MRT ASEAN-Halte TransJakarta di CSW Jadi Monumen Penting dalam Sejarah

Penunjukan Donny sebagai Dirut Baru PT TransJakarta dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB tersebut digelar PT Transjakarta pada Kamis (23/1/2020) sesuai dengan Pasal 91 UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

“Memberhentikan Saudara Agung Wicaksono dari jabatanya sebagai Direktur Utama dan mengangkat Saudara Donny Andy S Saragih Sebagai Direktur Utama,” kata Kepala Divisi Sekretaris Perseroan dan Humas PT Transjakarta Nadia Diposanjoyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/1/2020).

Nah, siapa sih sosok Dirut baru PT TransJakarta ini? Pemilihan Donny sendiri karena dirinya memiliki berbagai pengalaman di perusahaan transportasi. Bahkan sebelum ditunjuk menggantikan Agung Wicaksono, Donny merupakan Wakil Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ).

Selain itu hingga saat ini dia menjabat sebagai komisaris PT Alfa Omega Transport dari tahun 2014. Donny juga pernah menjabat direktur operasional PT Eka Sari Lorena Transport Tbk sejak tahun 2007 hingga 2017.

Selain itu, pria kelahiran Tanjung Karang 48 tahun lalu tersebut juga ternyata memiliki pengalaman di Toyota Rant A Car (TRAC) milik PT Astra Internasional, Cipaganti, Hiba Utama dan Panorama Transportasi. Dengan kemampuannya ini, PT TransJakarta menilai, Donny mampu mengembangkan PT TransJakarta sebagai transportasi massal yang aman, nyaman, terjangkau dan tepat waktu.

Baca juga: 2019 Jadi Tahun Integrasi untuk TransJakarta

Tak hanya itu, TransJakarta juga berharap Donny menjalakan tugas-tugas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sesuai yang digariskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022. Apalagi sekarang TransJakarta tengah mengembangkan integrasi dengan moda transportasi lainnya seperti KRL, MRT Jakarta dan LRT Jakarta. Diketahui, selama Agung Wicaksono menjabat sebagai Dirut PT TransJakarta, tahun 2019 ada kenaikan penumpang dari 188,98 juta menjadi 264,61 juta pelanggan.

Airbus dan Pratt & Whitney Paksa ‘Kandangkan’ Armada A320Neo Milik GoAir, Ada Apa?

Maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) yang berbasis di Mumbai, India, GoAir, mengumumkan pihaknya akan mengurangi jadwal penerbangan hingga 9 Maret mendatang. Hal itu dikarenakan Airbus, selaku produsen pesawat, dan Pratt & Whitney selaku pembuat mesin pesawat A320 dan A320 Neo memaksa mereka untuk ‘mengandangkan’ beberapa armadanya.

Baca juga: Ada Masalah di Mesin, GoAir Terpaksa Lakukan Pendaratan Darurat

Dikandangkannya beberapa armada Airbus oleh maskapai yang berbasis di Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji itu dikarenakan pesawat-pesawat tersebut sudah melewati 3.000 jam terbang. Oleh karenanya, sesuai prosedur, pesawat-pesawat itu harus melakukan pengecekan berkala terlebih dahulu.

Celakanya, pihak Airbus dan Pratt & Whitney, mengabarkan bahwa mereka kemungkinan besar akan mengalami keterlambatan dalam pengiriman pesawat baru dan mesin pesawat. Selain itu, tidak adanya mesin cadangan juga semakin memperburuk keadaan.

Imbasnya, meskipun GoAir belum merilis berapa penerbangan yang akan dikurangi, menurut sebuah sumber, mereka diyakini akan mengurangi hingga 20-30 penerbangan dalam sehari, mengingat, GoAir banyak menggunakan pesawat-pesawat buatan Airbus.

“Dalam empat minggu terakhir, kami telah ‘mengandangkan’ beberapa pesawat yang telah mendukung operasi armada kami saat ini. Dan sekarang, kami telah diberitahu oleh mitra bisnis kami Airbus dan Pratt & Whitney tentang ketidakmampuan mereka untuk mengirimkan pesawat yang sebelumnya dijanjikan dan mesin hingga 9 Maret mendatang,” kata juru bicara GoAir, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir laman business-standard.com, Jum’at (24/1).

“Kami telah melakukan penangguhan penerbangan sedini mungkin untuk meminimalkan ketidaknyamanan bagi pelanggan yang merupakan fokus perhatian utama kami. Kami berharap – dengan dukungan Airbus dan Pratt & Whitney – untuk memulihkan kembali penerbangan ini dan dapat segera beroperasi,” kata GoAir.

Di tempat terpisah, dalam sebuah pernyataan, Airbus mengatakan, “GoAir adalah pelanggan Airbus yang berharga dan kami bangga dengan hubungan kami. Airbus mendukung pembuat mesin (Pratt & Whitney) untuk menyegerakan jadwal pengiriman mesin dan mendukung kelancaran operasional GoAir.”

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

GoAir sendiri tercatat memiliki 56 armada pesawat Airbus A320, termasuk 40 A320Neo. Saat ini, tujuh pesawat di antaranya sudah tidak beroperasi guna melakukan uji berkala sesuai prosedur yang berlaku. Dengan armada-armada tersebut, maskapai tersebut melayani hampir 320 penerbangan dalam sehari dan menjangkau hingga 22 kota.

Inspeksi atau uji berkala sebetulnya diperintahkan pada bulan Desember lalu. Namun, karena pengiriman mesin mengalami keterlambatan, akhrinya GoAir kembali menerbangkan pesawat yang ada.

Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Era otomatisasi di bandara sepertinya sudah semakin dekat. Setelah Airbus sukses mengujicoba pesawat pertamanya dengan lancar, kali ini ada maskapai asal Negeri Sakura, All Nippon Airways (ANA) yang juga sukses mengujicoba layanan terbarunya. Namun, bukan mengujicoba pesawat otomatis seperti Airbus, melainkan, mengujicoba bus listrik otonom.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Seperti dikutip dari laman newatlas.com, Kamis (23/1), belum lama ini ANA, bekerja sama dengan SB Drive, Advanced Smart Mobility, dan BYD, sukses menguji bus listrik otonom di Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang.

Seperti video yang dilihat KabarPenumpang.com di kanal YouTube SoftBank, bus yang tetap dijaga oleh seorang supir tersebut (jika sewaktu-waktu sistem kolaps) sukses melewati beberapa rintangan dengan mulus, seperti jalan menikung, berputar arah 360 derajat, hingga parkir. Menariknya, bus dengan kemudi bergerak sendiri bak hantu ini juga cukup peka terhadap sekeliling.

Dalam uji coba tersebut, ketika hendak berputar arah, bus tiba-tiba menghentikan laju dengan halus (tidak berhenti mendadak) akibat adanya kendaraan lain yang ingin melintas. Tampak, bus tersebut berhenti setelah mendeteksi adanya kendaraan lain yang melintas dalam radius sekitar lima meter.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=183&v=MA7GdIM6T1Y&feature=emb_title

Namun, pada momen lainnya, ketika bus hendak berbelok dan terdapat kendaraan lain di depan yang juga ingin berbelok ke arah yang sama, bus tersebut tidak menghentikan laju, melainkan hanya memperlambat, tidak berhenti pada momen sebelumnya. Jadi, bus tersebut terlihat cukup efisien dan aman bila nantinya secara reguler digunakan untuk melayani penumpang.

Saat ini, uji coba bus listrik otonom tersebut sudah memasuki tahap terakhir. Nantinya, ANA dan mitra bisnisnya akan mengujicoba bus pada rute sepanjang hampir dua kilometer, di jalan-jalan umum di sekeliling bandara.

“Setelah sepenuhnya diterapkan, bus listrik otonom akan memungkinkan kami untuk memberikan pengalaman transit yang lebih nyaman bagi penumpang kami sambil juga meningkatkan efisiensi bagi staf bandara kami,” kata salah seorang petinggi ANA, Shinzo Shimizu.

Baca juga: Olli, Bus Autonomous yang Bisa Diajak Bicara

Meskipun pengemudi tetap akan berada di depan kemudi, tetapi, poin terpentingnya adalah untuk melihat bagaimana kendaraan mampu melewati semua kendala di dunia nyata tanpa keterlibatan manusia terlalu banyak. Jika semuanya berjalan baik, ANA berencana akan mengoperasikan bus listrik otomatis tersebut akhir tahun 2020 mendatang.

All Nippon Airways (ANA) dan SB Drive sendiri pertama kali mengumumkan kerjasamanya untuk menguji bus listrik otonom pada Februari 2018 silam. Kunci dari bus listrik otonom tersebut terletak pada kamera dan sistem kendali jarak jauh. Kamera yang dipasang pada kendaraan menawarkan gambar internal dan eksternal dengan akurasi tinggi. Selain itu, kamera yang terpasar di segala sudut bus tersebut juga membuat sistem untuk melaporkan data lokasi dan kecepatan hingga memungkinkan untuk dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh.