Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Virus corona belum ada tanda-tanda akan berakhir, justru terus semakin membesar. Akibatnya, maskapai global ramai-ramai melakukan sejumlah efisiensi, mulai dari mengurangi layanan, menutup atau mengurangi rute, merumahkan karyawan, meminta karyawan untuk dengan sukarela mengambil cuti tanpa dibayar, hingga mengurangi gaji. Semua itu dilakukan semata untuk tetap bertahan hidup di tengah terjangan ‘badai’ virus corona.

Baca juga: Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Akan tetapi, bagi maskapai Garuda Indonesia, rupanya virus corona tak terlalu berarti banyak, khususnya terkait langkah-langkah inisiatif, sebagaimana yang dilakukan banyak maskapai dunia. Bila virus corona telah membuat Singapore Airlines, Qatar Airways, dan Etihad Airways, mengurangi rute penerbangan, menawarkan cuti tanpa dibayar, mengurangi layanan, merumahkan karyawan, hingga pengurangan gaji, Garuda Indonesia masih bisa selamat dari hal tersebut.

“Kita tidak pernah punya rencana untuk, misalnya merumahkan karyawan, mengurangi karyawan, maupun mengurangi gaji,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra kepada KabarPenumpang.com, Jumat, (6/3/22020)

Meskipun tak menampik bahwa secara bisnis Garuda Indonesia juga terdampak virus corona, lanjutnya, hal itu (maraknya pengurangan gaji ataupun pengurangan karyawan oleh maskapai global) terjadi karena posisi mereka sebagai maskapai penerbangan berbasis hub atau transit. Jadi, tak heran bila mereka mempunyai penerbangan hampir ke seluruh penjuru dunia. Hanya saja, di tengah terjangan virus corona, hal tersebut sangat membuat mereka kewalahan.

Garuda Indonesia. Foto: Instagram ari_setiawan.20

Sebaliknya, bagi Garuda Indonesia, tidak adanya rencana untuk melakukan efisiensi dengan melakukan pengurangan karyawan ataupun melakukan pengurangan gaji dikarenakan maskapai pelat merah tersebut mempunya basis penumpang domestik yang kuat. Oleh karenanya, selama banyak orang ingin bepergian dengan singkat lintas pulau, virus corona tak akan terlalu membuat Garuda kewalahan.

“Kita memang tidak sebesar mereka (Etihad, Singapore Airlines, Emirates, Qatar), tapi kita punya pasar domestik yang kuat, mereka tidak punya pasar domestik. Nah kalau pasar domestik ini, selama orang Sumatera boleh pindah ke Jawa, orang Jawa ke Kalimantan, kemana-mana bisa, tidak ada masalah kan?” tegas, mantan Country Manager Cisco Indonesia tersebut.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Terkait virus corona, International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus tersebut sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar US$29 miliar atau Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang 2020.

Selain itu, maskapai global juga sudah mulai bergerak untuk mencari inisiatif pembiayaan melalui leasing penerbangan di dunia, salah satunya Avolon Leases Aircraft. CEO leasing pesawat terbesar di dunia tersebut, Domhnal Slattery, mengatakan bahwa saat pihaknya mengaku sudah banyak dihubungi maskapai di dunia, khususnya dari Cina, untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan di tengah sepinya penerbangan akibat corona.

Makan Nasi Goreng Ala Kadarnya di Bandara Soetta, Netizen ini ‘Komplain’ dengan Harga Rp120 Ribu!

Bepergian dengan pesawat memanglah menyenangkan, namun terkadang yang membuat lelah adalah ketika penumpang harus menunggu di bandara. Apalagi bila keberangkatan pagi-pagi sekali dan belum sarapan.

Baca juga: Di Bandara Soetta – Perut Lapar Tapi Budget Ngepas, Yuk Makan di Sini!

Mau tak mau penumpang akan makan di bandara baik bekal yang di bawa ataupun di restoran di dalam bandara. Tapi terkadang makan di restoran bandara harganya sungguh fantastis.

Baru-baru ini, seorang penumpang yang tengah menunggu keberangkatannya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kecewa sekaligus marah dengan makanan yang dipesannya. Penumpang bernama Nita itu bercerita tentang kesedihan dan kemarahannya melalui akun Instargram @_sadfood.

Nita mengirim pesan ke akun @_sadfood tersebut dan diunggah ke feed dengan dua foto. Foto pertama nasi goreng yang terlihat biasa dengan tambahan kerupuk dan yang kedua curhatan Nita (@nitamafarsia) yang di capture.

Nita bercerita bahwa ketika di Bandara Soetta tepatnya Terminal 3 memutuskan untuk makan nasi goreng dengan harga Rp120 ribu. Namun yang datang adalah nasi goreng ala kadarnya tanpa bumbu dan hanya diberi kecap serta sedikit suwiran ayam.

“Ini sudah kumakan beberapa sendok, jadinya isinya cuma nasi kecap kurang bumbu, kerupuk dan sedikit suiran ayam bahkan tanpa telur!!! Nasi goreng abang gerobak 13ribu aja ada telurnya, ini 120rb tanpa telur trs suiran ayamnya minimalis ekonomis tp karena lapar ya habis aja sih,” tulis Nita yang dikutip KabarPenumpang.com dari @_sadfood.

Sebenarnya harga makanan yang mahal di bandara bukanlah rahasia umum. Mahalnya harga-harga makanan itu karena biaya sewa restoran yang tinggi, peraturan ketat hingga area penyimpanan makanan yang terbatas.

Fasilitas dan kenyamanan restoran di bandara juga menjadi salah satunya. Sebenarnya ada trik yang mudah daripada harus membayar makanan mahal di dalam bandara. Penumpang bisa membawa bekal dari rumah, ataupun makan di kantin karyawan bandara.

Kantin karyawan ini biasa tak jauh dari terminal keberangkatan, seperti di Terminal 1 dan 2 ada dekat parkiran motor. Harga makanan cukup terjangkau dengan kantong dan pilihan makanan juga pun berbagai macam.

Baca juga: Warga Singapura Suka Berlibur di Bandara, Ternyata ini Alasannya!

Penumpang juga bisa membeli atau makan di mall sebelum bandara. Bila ingin makan di restoran bandara, baiknya melihat menu dan harga makanan yang akan dipesan atu bertanya kepada pelayan restoran tentang makanan yang akan di pesan sebelum datang makanan yang tak diinginkan.

ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Maskapai asal Papua Nugini dilaporkan telah memesan sejumlah pesawat ATR 42-600S pada gelaran Singapore Airshow 2020 lalu. Sekilas, produk dari pabrikan pesawat regional terbesar di dunia tersebut memang tak ada bedanya. Namun, sesuai namanya (tambahan huruf ‘S’ di bagian belakang), ATR 42-600S adalah pesawat tangguh dengan teknologi Short Take-Off and Landing (STOL).

Baca juga: Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

Dilansir dari simpleflying.com, Kamis, (5/3), dengan teknologi tersebut pesawat tersebut hanya membutuhkan landas pacu sepanjang 800 meter saja. Kemampuan tersebut tentu bukan hal baru bagi pesawat kecil, namun, bila dilihat dari pengembangan lainnya, ATR 42-600S mungkin bisa jadi yang terbaik di kelasnya.

Selain mampu terbang dengan landasan pacu pendek, pesawat justru dapat terbang lebih hemat 40 persen bahan bakar dibanding versi sebelumnya, seperti ATR 42-600 dan ATR 72-600. Di samping itu, pesawat juga mampu mengangkut 50 penumpang, dengan konsumsi bahan bakar sama dengan mengangkut 30 penu

mpang.

Tak hanya itu, ATR 42-600S juga turut dipasang spoiler simetris untuk meningkatkan efisiensi pengereman saat mendarat. Di samping itu, sistem autobrake juga akan memastikan daya pengereman penuh terjadi beberapa saat setelah pesawat touchdown.

Dengan kemampuannya tersebut, tak jarang, pesawat disebut-sebut sebagai andalan di wilayah-wilayah terluar seperti Papua ataupun Papua Nugini, dengan bandara-bandara menantang berupa landasan pacu pendek, cuaca ekstrem, tanah bergelombang, runway tak lurus sempurna, hingga tak adanya instrumen pendukung pendaratan ataupun penerbangan pesawat.

Menurut pihak perusahaan, varian ATR 42-600S ini akan tetap menggunakan mesin yang sama seperti ATR 42 dan ATR 72. Hanya saja, dalam pengaplikasiannya, pilot akan dihadapkan dengan dua opsi lepas landas, yakni memaksimalkan daya untuk mengoperasikan STOL (dengan asumsi lebih boros bahan bakar) atau pengoperasian efisien bahan bakar dengan menggunakan landas pacu yang lebih panjang.

“Menambahkan ATR 42-600S ke keluarga kami sangat masuk akal dan membuka jalan bagi masa depan perusahaan. Ada potensi besar untuk pesawat 50-kursi dan ATR 42-600S dapat membantu maskapai memperluas wawasan mereka, karena dapat menjangkau hingga sekitar 500 bandara baru di seluruh dunia,” kata CEO dari ATR, Stefano Bortoli.

Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas

“Ini adalah ilustrasi yang jelas tentang dedikasi kami dalam membantu lebih banyak orang dan komunitas yang lebih terpencil mendapat manfaat dari menjadi bagian dari dunia yang terhubung dan dengan cara yang berkelanjutan,” lanjutnya.

Saat ini, pesawat masih dalam proses mendapatkan sertifikasi dari berbagai regulator sebelum benar-benar melayani penerbangan di seluruh dunia. Diperkirakan, pesawat akan terbang pada paruh kedua 2022 atau sekitar bulan Maret.

Awas! Bila Dapat Kursi Pesawat di Bawah Bagian Ini Atau Anda Bakal ‘Ketiban’ Awak Kabin

Ketika masuk ke dalam pesawat dan duduk sesuai dengan kursi yang tertera di tiket, biasanya penumpang melihat ke luar jendela. Itupun bagi yang duduk tepat di samping jendela. Bagi mereka yang duduk di kursi tengah atau pinggir, biasanya gadget adalah andalan untuk melepas penat sambil menunggu pesawat lepas landas, atau hal lain yang paling mungkin adalah mengeset tempat duduk dan tidur. Jarang sekali penumpang melihat-lihat sekitar kabin.

Baca juga: Pantas Banyak ‘Skandal,’ Ternyata Pramugari Punya ‘Ruang’ Tersembunyi Bak Hotel di Pesawat

Padahal, bila mereka melakukan itu (melihat-lihat sekitar kabin), mungkin sesuatu yang aneh akan didapatkan. Seperti dikutip dari laman stuff.co.nz, Jumat, (6/3), di balik struktur pesawat, yang pada umumnya penumpang hanya mengetahui adanya ruang kargo dan kabin, nyatanya terdapat ruang khusus untuk awak kabin beristirahat dan ruang khusus tersebut bisa saja diketahui dengan melihat indikasi adanya kompartemen penumpang yang tak memiliki handle atau tak bisa dibuka dari luar.

Usut punya usut, rupanya kompatemen penumpang tanpa pegangan atau tak bisa dibuka dari luar tersebut adalah jalan keluar darurat awak kabin untuk keluar lebih cepat. Itulah sebabnya mengapa kompartemen tersebut tak dapat dibuka dari luar. Sebab, bila terbuka, penumpang memang dapat sedikit mengintip ruang tersembunyi awak kabin tersebut. Sebaliknya, bila keadaan darurat memaksa awak kabin keluar lewat emergency hatch tersebut dengan sembrono atau tak hati-hati, bisa saja penumpang kejatuhan mereka.

Hanya saja, posisi emergency hatch awak kabin, yang dapat terlihat dari tidak adanya pegangan atau handle kompartemen penumpang agar bisa dibuka dari luar, cenderung berbeda-beda. Ada yang di atas penumpang, ada yang sebaliknya, di bawah penumpang, di bagian lantai kabin, hingga di bagian depan kanan kabin. Tergantung pada jenis pesawatnya. Airbus A380, misalnya, justru terletak di bawah kabin mengingat pesawat tersebut memiliki dua lantai. Jadi, posisi ruang tersembunyi awak kabin berada di antara kedua lantai tersebut dan emergency hatch-nya berada di bawah lantai dua.

Seperti yang sudah ramai diberitakan, belum lama ini seorang pramugara atau awak kabin bernama Blair, telah membuat netizen terkejut akibat sebuah postingan di laman Instagram milik Virgin Australia. Dalam video berdurasi singkat tersebut, tampak sang pramugara tengah berada di ruangan ‘asing’ di dalam sebuah pesawat dan berlagak seperti sedang mengintip dengan membuka sebuah tirai hitam yang menutupinya ruangan atau kamar tersebut. Sekilas, hampir tak ada bedanya dengan hotel kapsul.

Ruang rahasia itu diketahui tepat berada di atas kursi kabin kelas ekonomi dan kelas bisnis pada bagian sebelah kiri. Ia tidak menjelaskan secara detail apakah ruang atau kamar tersembunyi itu tersedia di semua jenis pesawat. Namun, pada video tersebut, ruang rahasia itu berada di pesawat Boeing 777-300ER yang notabene tergolong sebagai pesawat berbadan lebar atau widebody, dengan durasi terbang berkisar 7-15 jam lamanya. Jadi, wajar saja bila terdapat kamar tersembunyi seperti itu.

“Ada dua tempat istirahat di pesawat Boeing 777-300ER kami, yang terletak di atas kabin kelas bisnis dan ekonomi di kedua ujung pesawat dan digunakan setelah layanan makanan utama. Istirahat dialokasikan untuk memastikan bahwa jumlah kru yang tepat selalu tetap bawah (kabin) untuk membantu para tamu,” katanya dalam video tersebut.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

“Area istirahat untuk awak kabin kami berada di atas kabin ekonomi, dan memiliki delapan tempat tidur (single) dengan seprai, selimut, dan bantal yang nyaman untuk memastikan awak beristirahat dengan baik begitu mereka kembali ke kabin” tambahnya.

Meskipun ada dua tempat (di atas kursi kabin kelas ekonomi dan kelas bisnis), ia menjelaskan, lazimnya, kamar rahasia di atas kabin kelas ekonomi tersebut digunakan untuk para awak kabin. Sedangkan kamar tersembunyi di atas kelas bisnis dikhususkan untuk pilot dan kru dengan fasilitas yang nyaris serupa dengan kamar tersembunyi peruntukan awak kabin.

Ternyata, Awak Kabin Perhatikan Semua Perilaku Penumpang Saat Masuk Pesawat

Setiap orang terbang karena berbagai alasan, baik itu untuk menikmati suatu tempat atau melakukan perkerjaan seperti perjalanan bisnis. Bahkan barang bawaan masing-masing penumpang pesawat pun tidak akan sama satu dengan yang lainnya.

Baca juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui

Namun, tahukah Anda sebagai penumpang ternyata awak kabin ahli dalam segala hal dalam seluruh proses perjalanan udara. Tak hanya itu, mereka tahu apa yang harus di cari dan bisa menangani situasi apapun di dalam kabin. Nah, sebagai penumpang pesawat, pernahkah Anda melihat awak kabin melakukan pengamatan dari pertama kali tiba di dalam kabin, pesawat lepas landas hingga akan tiba ditujuan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari msn.com (29/2/2020), pengamatan awak kabin pada penumpang yang masuk ke pesawat tidak akan diberitahu oleh mereka. Berikut ini ada beberapa hal yang dilakukan dan diamati oleh awak kabin kepada para penumpang mereka.

#1 Apakah Anda ramah?
Ketika sampai di pesawat tepatnya di pintu masuk, penumpang biasanya mengeluarkan semacam energi dan awak kabin berada dalam posisi khusus untuk memerhatikanya. Biasanya mereka akan menyapa penumpang saat masuk ke dalam.

“Jika kita menyapa di pintu, kita perhatikan apakah kita diakui oleh senyum atau halo kembali,” kata Avalon Irizarry, awak kabin American Airlines.

Dia menambahkan, bila Anda membalas salam atau senyum mereka, secara otomatis akan membuat kesan yang lebih baik meski hanya satu kata.

#2 Apa yang Anda kenakan dan bawa?
Setiap awak kabin yang berada di dekat pintu selain menyapa juga melihat pakaian penumpang dan barang bawaan mereka. Salah satu alasan perhatian awak kabin terhadap detail tersebut adalah untuk memastikan penumpang mematuhi peraturan pesawat. Bisa dikatakan, awak kabin adalah garis pertahanan terakhir terhadap penumpang yang mungkin mencoba naik ke pesawat dengan bawaan yang lebih besar dibandingkan seharusnya.

Irizaary menambahkan, penumpang tak perlu heran ketika awak kabin melihat dari atas ke bawah. Ini dilakukan kemungkinan karena mereka menangani pilihan pakaian dan aksesori Anda.

“Kau akan terkejut dengan apa yang dikenakan orang!” kata Irizarry.

Dia mengatakan, penumpang duduk berjam-jam dalam tabung logam, menarik untuk melihat orang-orang memakai stiletto dan pakaian rumit yang terlihat tidak nyaman dan tidak mungkin untuk disesuaikan dan dilepas ketika Anda perlu ke kamar mandi. Cari tahu beberapa hal lagi yang dikatakan pramugari untuk menghindari pemakaian di pesawat terbang. Irizarry juga menunjukkan perhatian pramugari pada sandal jepit.

“Pramugari memiliki sesuatu tentang menutupi kaki Anda. Mereka juga mengawasi penumpang yang berjalan di sekitar kabin atau pergi ke kamar kecil tanpa sepatu, karena kita tahu betapa kotornya lantai pesawat!” jelas Irizarry

Baca juga: Bila Ada Penumpang Pipis di Kursi, Inilah Prosedur Penanganan dari Awak Kabin!

#3 Anda butuh bantuan atau perhatian khusus?
Dari awal naik, awak kabin bisa melihat tanda-tanda penumpang yang baik, membutuhkan bantuan atau yang sedang dalam kondisi mabuk. Sebab pengamatan yang satu ini dilakukan untuk menghindari konflik dan mencegahnya bila terjadi. Tak hanya seorang pemabuk, penumpang yang membutuhkan tambahan seperti bayi, orang tua atau seseorang yang sakit juga diberikan perhatian.

“Kadang-kadang, kita sudah melihat mereka di gerbang berbicara dengan agen, atau mereka datang sudah meminta perlakuan khusus, atau mengeluh. Di kelas satu, kami perhatikan yang mencoba menarik perhatianmu karena mereka ingin mantel mereka segera digantung, bahkan ketika itu sulit didapat saat naik,” kata Irizarry.

Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Virus corona mungkin membuat perusahaan maskapai penerbangan di seluruh dunia berada dalam kondisi buruk. Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pengurangan frekuensi penerbangan, penutupan rute, pengurangan karyawan, pengurangan fasilitas atau layanan, hingga bangkrutnya maskapai penerbangan, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini pada Flybe, maskapai terbesar di Inggris.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman Financial Times, Jumat, Jumat, (6/3), CEO Avolon Leases Aircraft, Domhnal Slattery, mengatakan, di tengah kondisi buruknya iklim bisnis dunia aviasi, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali efisiensi dan menahan uang cash (tunai). Selain itu, saat ini, leasing pesawat terbesar di dunia tersebut mengaku juga telah banyak dihubungi oleh pelanggannya selama periode kritis akibat wabah virus corona.

“Ketika industri penerbangan terpengaruh, ia cenderung bergerak cepat untuk menghemat uang. Itulah yang kami lihat di sini. Telepon sudah mulai berdering. Kami telah melihat langkah dramatis dari maskapai penerbangan menjangkau untuk melakukan transaksi jual dan sewa kembali,” katanya.

Di antara banyaknya pelanggan perusahaan tersebut, lanjutnya, rata-rata mereka datang dari maskapai-maskapai penerbangan asal Cina. Hal itu tentu sejalan dengan apa yang terjadi belum lama ini, dimana, banyak maskapai Cina berani menawarkan harga tiket super murah, mencapai Rp60 ribu hanya untuk mendorong upaya pemulihan minat masyarakat bepergian menggunakan pesawat terbang.

Melihat banyaknya maskapai Cina yang mulai melakukan beberapa kerjasama pembiayaan, ia pun berujar bahwa hampir tak ada celah untuk melihat maskapai asal Negeri Tirai Bambu tersebut bangkrut. Hal itu dikarenakan pemerintah Cina turun tangan langsung untuk menyelamatkan perusahaan.

“Kebangkrutan dari maskapai besar Cina (di tengah wabah virus corona) tak mungkin. Sebab, pemerintah Cina akan turun tangan. Tidak diragukan lagi,” tambahnya.

Selanjutnya, ia juga ‘mensyukuri’ dengan bangkrutnya beberapa maskapai penerbangan dalam beberapa waktu belakangan, seperti Gemania (Jerman), Jet Airways (India), Flybe (Inggris), dan banyak maskapai lainnya. Menurutnya, hal itu memang sangat wajar dan pantas dialami oleh maskapai penerbangan tersebut karena memiliki kinerja bisnis yang buruk, modal sedikit, dan kelebihan karyawan.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Avolon Leases Aircraft sendiri adalah perusahaan leasing pesawat terbesar di dunia. Perusahaan yang berbasis di Dublin, Irlandia tersebut mayoritas sahamnya dimiliki oleh Bohai Leasing, perusahaan leasing (apapun, tak terbatas hanya pada leasing pesawat saja) terbesar kedua di dunia, beroperasi di 80 negara, dengan aset mencapai Rp653 triliun.

Tahun lalu, Avolon Leases Aircraft melaporkan berhasil mencatatkan laba bersih Rp10,2 triliun, naik sedikit dari tahun sebelumnya diangkat yang nyaris sama, serta total kepemilikan pesawat mencapai 925. Dengan banyaknya maskapai yang tengah terpuruk dan membutuhkan dana segar, perusahaan tersebut diperkirakan akan mendapatkan laba bersih yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Simulator LRT Berada di Depo Terbesar di Jakarta

Light Rail Transit (LRT) Jakarta, ternyata memiliki simulator masinis kereta di depo Pegangsaan Dua tepatnya di ruang MCC LRT Jakarta. Simulator tersebut ada di depo sejak pembangunan 2018 lalu.

Baca juga: Disorot Publik Akibat Sepi Penumpang, LRT Jakarta Justru Cetak Rekor Pengunjung Tertinggi

General Manager Corporate Secretary LRT Jakarta, Arnold Kindangen mengatakan, simulator tersebut dibuat seperti menjalankan kereta LRT Jakarta yang sesungguhnya.

“Kita buat ini agar masinis-masinis LRT Jakarta bisa latihan seperti mengemudikan kereta asli,” kata Arnold kepada KabarPenumpang.com yang ditemui di depo LRT Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Arnold menjelaskan, adanya simulator tersebut pun karena LRT ingin semua masinis paham dengan jalur asli. Dia menambahkan, pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dan PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, juga sudah melihat simulator ini.

“KCI dan MRT Jakarta sudah pernah ke sini lihat simulator kita, tapi mereka tidak mencobanya,” tambah Arnold.

Selain simulator, Arnold menjelaskan depo Pegangsaan Dua ini luas dan bisa menampung sebanyak 94 trainset atau sebanyak 188 kereta. Dia mengatakan bahwa depo ini bisa menampung seluruh kereta yang akan di jalankan di Jakarta.

Tak hanya itu, ketika kunjungan wartawan, pihak LRT Jakarta juga mengajak untuk merasakan saat berada di dalam dan kereta di cuci. Pencucian kereta LRT sendiri Arnold mengatakan setiap hari satu kali ketika akan pulang ke depo.

“Kereta kita cuci satu kali sehari saat mereka pulang ke depo. Bagian dalamnya juga kita bersihkan satu hari sekali. Tapi, karena adanya virus Corona yang mulai masuk ke Indonesia setiap perhentian terakhir kita lakukan pembersihan dengan desinfektan. Kalau hari biasa sebelum-sebelumnya hanya dengan cairan sabun biasa,” jelas Arnold.

Baca juga: Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Diketahui, saat banjir pada yang menggenangi jalanan Kelapa Gading beberapa waktu lalu, membuat penumpang LRT Jakarta meningkat. Arnold mengatakan, peningkatannya dari sekitar empat ribuan menjadi 10 ribuan hingga 13 ribuan lebih penumpang dalam jangka waktu 23 sampai 28 Februari 2020 kemarin.

Pekerja dan Bahan Didatangkan dari Cina, Proyek Jembatan Kereta di Bangladesh Terhambat

Berbagai hal bisa terlambat pembangunannya karena bahan baku dan pekerja dari Cina tak bisa kembali ke negara yang tengah melakukan pembangunan. Hal ini dirasakan di Bangladesh yang mengalami hambatan pada dua proyek jembatannya karena virus corona yang menginfeksi warga dari Cina. Seorang pejabat proyek mengatakan, Jembatan Serbaguna Padma dan Tautan jembatan Padma telah terpengaruh virus corona dan proyeknya bisa ditanguhkan hingga batas waktu tertentu.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

Proyek pembangunan jembatan Padma, Bangladesh

Dia menyebutkan, kurangnya pekerja asal Cina yang terlibat dalam dua proyek jalur cepat ini. Selain itu, gangguan impor reguler bahan bangunan dari Cina menjadi alasan utama terhambatnya proyek tersebut. Dua pejabat yang terlibat dalam pembangunan ini mengatakan jika situasi tidak membaik, batas waktu proyek diperpanjang satu atau dua bulan.

“Tentu saja, ada dampak virus corona pada proyek yang berbeda. Karena banyak insinyur tidak dapat kembali ke Bangladesh,” kata Duta Besar Cina untuk Bangladesh Li Jiming, yang dikutip KabarPenumpang.com dari thedailystar.net (5/3/2020).

Ini adalah pertama kalinya para pejabat secara resmi mengakui bahwa wabah virus corona menghambat proyek. Sejak 5 Februari, Menteri Transportasi Jalan dan Jembatan Obaidul Quader mengatakan bahwa pekerjaan pembangunan jembatan tidak akan terpengaruh jika situasi virus corona membaik dalam “dua bulan.”

“Wabah virus corona mempengaruhi pelaksanaan dua proyek besar CREC sampai batas tertentu karena beberapa badan usaha tidak beroperasi penuh di Cina. Beberapa staf proyek [anggota] di pusat epidemi tidak diizinkan untuk pergi. Untuk memastikan kelangsungan kemajuan pekerjaan, CREC telah berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi dampak virus corona,” kata Wang Kun, direktur proyek Proyek Link Rail Bridge Padma (PBRLP).

Direktur Proyek atas nama Kereta Api Bangladesh, Golam Fakhruddin Ahmed Chowdhury, mengatakan pengurangan jumlah pekerja karena virus corona menghambat pekerjaan mereka. Selain itu, dia menambahkan, bahan bangunan tidak dapat dibawa karena mereka tidak dapat memberikan persetujuan untuk bahan setelah pergi ke Cina.

Diketahui, sekitar 260 dari 1700 warga negara Cina yang terlibat dalam proyek-proyek itu tidak dapat kembali ke Bangladesh setelah mereka pergi ke Cina untuk merayakan tahun baru di sana. Fakhruddin, bagaimanapun, mengatakan bahwa mereka telah menulis surat kepada pihak berwenang terkait untuk mengizinkan beberapa warga negara Cina datang ke Bangladesh untuk kepentingan proyek tersebut.

Najnin Ara Keya, chief engineer dari proyek tersebut, mengatakan sekitar 150 anggota staf China dari 900 telah terjebak di Cina. Namun, mereka merekrut warga negara Cina yang berasal dari provinsi “Non-Hubei”. Selain itu mereka juga mempertimbangkan inspeksi pihak ketiga terhadap produk-produk Cina.

Md Kamruzzaman, wakil direktur proyek (Teknis) dari proyek Jembatan Padma, mengatakan pekerjaan mereka sekarang bergerak maju dengan 70 persen dari kecepatan aslinya dan mereka akan mencoba untuk melanjutkan pekerjaan dalam ayunan penuh dalam bulan ini. Dia mengatakan bahwa orang-orang Cina melatih orang-orang lokal dan sudah membawa robot untuk pekerjaan itu.

Kamruzzaman mengatakan bahwa mereka memiliki target untuk membuka jembatan untuk umum pada Juni 2021. Sebanyak 25 dari 41 bentang telah dipasang dan 14 telah tiba di Bangladesh dan dua tengah dalam pembuatan di Cina. Pejabat proyek lainnya mengatakan bahwa rentang ini seharusnya datang ke Bangladesh pada bulan Januari tetapi itu masih dalam pembangunan dan mereka tidak yakin kapan itu akan tiba.

“Kami memiliki rencana untuk memasang bentang yang telah tiba di Bangladesh pada bulan Juni. Tetapi kami harus menunggu dua bentang, karena akan memakan waktu sekitar tiga bulan untuk berkumpul bahkan setelah mencapai Bangladesh,” kata seorang pejabat proyek.

Pemerintah Bangladesh juga perlu mengambil tindakan yang tepat, seperti pembukaan saluran hijau untuk visa personel Cina terkait dengan proyek-proyek besar dan mempercepat prosedur bea cukai untuk mengimpor bahan dan peralatan proyek. Dia menambahkan, bahwa dampak yang disebabkan oleh virus corona pada kemajuan proyek jalur kereta api lebih kecil daripada yang dilakukan oleh lambatnya pengadaan tanah dan pemukiman kembali.

Baca juga: Pegawai MRT Singapura Kena Pengurangan Gaji 5 Persen Akibat Virus Corona

Fakhruddin mengatakan bahwa setiap kali kontraktor Cina membawa masalah terkait tanah, mereka berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Bangladesh Railway sedang melaksanakan proyek jalur kereta api dengan biaya Tk 39.246 crore untuk menghubungkan ibu kota ke Jashore dengan jalur kereta api ganda sepanjang 169 km di atas Jembatan Padma yang sedang dibangun. Otoritas Jembatan Bangladesh sedang melaksanakan proyek jembatan dengan biaya Tk 30.193 crore untuk menghubungkan Dhaka dengan 21 distrik selatan.

Keren, British Airways Manjakan Penumpang dengan Kursi Roda Otonom Keliling Bandara hingga Boarding

British Airways tak lama lagi berencana akan melakukan uji coba kursi roda listrik otonom di salah satu bandara tersibuk di dunia, London Heathrow selama beberapa bulan ke depan. Hal itu adalah langkah lanjutan setelah maskapai tersebut melakukan teknologi serupa di bandara tersibuk keenam di Amerika Serikat, Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), untuk melihat bagaimana kursi roda itu dapat membantu penumpang berjalan secara otonom menuju gerbang keberangkatan (boarding).

Baca juga: Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

Dilansir thenextweb.com, Kamis, (5/3), maskapai asal Britania Raya itu menyatakan kursi roda otonom mereka dapat menghindari rintangan apapun, termasuk benda bergerak, dengan bantuan teknologi anti-collision. Selain itu, robot buatan startup asal Jepang, WHILL, tersebut juga dapat menavigasi terminal bandara tanpa bantuan dari staf pekerja.

“Selama beberapa bulan ke depan kami akan berkolaborasi dalam uji coba lebih lanjut di hub rumah kami yang sibuk di Heathrow Terminal 5 untuk mengumpulkan lebih banyak keterlibatan dan mengeksplorasi pengenalan teknologi ini bersama tim profesional layanan pelanggan kami,” kata Ricardo Vidal, Kepala Inovasi British Airways.

“Hal ini kami lakukan untuk memberikan pengalaman bandara yang benar-benar mulus dan dapat diakses. Saya gembira tentang masa depan inovasi inklusif untuk mendukung permintaan yang semakin cepat untuk perjalanan udara yang mudah diakses,” lanjutnya.

Sebelum sampai ke tempat tujuan, orang yang membutuhkan dapat mengunjungi tempat sebanyak yang diinginkannya menggunakan layar (sebelah kiri) di kursi roda hanya dengan melakukan beberapa sentuhan. Sistem nantinya akan menuntun robot untuk mengantarkan penumpang ke gate yang benar. Di samping itu, robot juga dapat mengingatkan penumpang bila mereka hampir ketinggalan pesawat. Setelah mengantar ke gerbang keberangkatan, penumpang hanya perlu turun dan kursi roda akan kembali ke WHILL station, di mana ia menunggu penumpang berikutnya.

Menariknya, walaupun secara fungsi akan sangat membantu penumpang berkebutuhan khusus, pada aplikasinya, kursi roda otonom tersebut juga dapat melayani orang sehat. Sebab, terkadang, bandara terlalu besar untuk dilalui orang-orang lanjut usia bahkan anak muda sekalipun dengan berjalan kaki. Baik untuk mencari kopi, makanan, ke toilet, atau kemanapun, sebelum benar-benar menuju ke boarding gate.

Baca juga: Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

Kursi roda tersebut memang terlihat tidak asing karena menyesuaikan desain WHILL Model Ci. Perangkat ini pernah berkesempatan diuji pada ajang Consumer Electronic Show (CES) 2018 lalu dengan melintasi lantai pertunjukan pada kecepatan 8 km per jam. Dalam gelaran tersebut, bahkan robot berhasil menyabet tiga gelar sekaligus dengan predikat best of the best, meliputi Accessible Tech, iF Design Award, dan Red Dot. Saat itu WHILL mengatakan akan menjual Model Ci seharga US$4000 atau Rp57,3 juta, yang, seharusnya, dapat memberikan gambaran seberapa besar investasi yang dikeluarkan British Airways.

Dilakukannya uji coba di kedua bandara tersebut sebetulnya bukan semata-mata karena robot canggih tersebut menarik minat perusahaan. Melainkan, sudah menjadi bagian dari upaya lima tahun inovasi berkelanjutan British Airways senilai GBP6,5 miliar (Rp116,5 triliun) yang dikeluarkan oleh maskapai demi meningkatkan pengalaman pelanggannya. Saat ini, robot kursi roda otonom atau WHILL Airport Mobilty Service telah hadir di banyak negara, seperti India, Kanada, Amerika, Jepang, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya.

Taipei Hadirkan Sistem Inframerah untuk Cek Suhu Tubuh Penumpang MRT

Berbagai macam tindakan pencegahan mulai dilakukan perusahaan moda transportasi di dunia. Singapura di stasiun MRT-nya sudah memiliki kios pengecekan suhu tubuh mandiri. Selain itu juga menghadirkan handsanitaizer bagi para pengemudi taksi, bus maupun masinis kereta.

Baca juga: Kios Cek Suhu Tubuh Mandiri Hadir di Stasiun dan Pertukaran Bus Singapura

Tak hanya Singapura, beberapa negara lain juga melakukan hal tersebut seperti di Indonesia yang menghadirkan handsanitaizer di seluruh halte TransJakarta dan stasiun MRT Jakarta. Bahkan kereta maupun bus juga disemprotkan cairan desinfektan ke seluruh sudutnya seperti kursi, lantai, sela-sela hingga pegangan gantung.

Sedangkan di Taipei, MRT-nya akan memasang sistem inframerah di satu pintu masuk Stasiun Utama Taipei. Sistem ini akan membantu mengukur suhu penumpang yang akan naik kereta MRT. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman taiwannews.com.tw (29/2/2020), MRT Taipei tidak akan mengizinkan penumpang yang memiliki suhu tubuh diatas 38 derajat Celcius untuk naik kereta.

Jika sistem inframerah tersebut mencatat suhu 37,5 derajat Celcius dan 38 derajat Celcius maka penumpang akan menggunakan termometer manual untuk pengecekan ulang. Nantinya bila hasil terkonfirmasi maka penumpang akan diizinkan masuk. Tetapi petugas MRT akan menyarankan penumpang dengan suhu tubuh 37,5 dan 38 derajat Celcius untuk berobat ke dokter atau ke perawatan medis sesegera mungkin.

Hal terparahnya adalah ketika suhu tubuh terdeteksi inframerah di atas 38 derajat Celcius maka penumpang akan ditolak masuk ke stasiun MRT dan akses kereta pun tertutup untuk mereka. Pejabat MRT Taipei mengatakan, sistem inframerah ini juga akan dipasang di stasiun tersibuk bila memang diharuskan.

Pelarangan naik kereta MRT pun juga dilakukan oleh pihak MRT Jakarta yang mengatakan jika penumpang memiliki suhu tubuh diatas 38,5 derajat Celcius tidak diperkenankan naik kereta. Tetapi penumpang akan disarankan untuk berobat ke dokter atau ke rumah sakit terdekat.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

MRT Jakarta saat ini diketahui melakukan pengecekan baru di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab. Nantinya pengecekan suhu tubuh ini juga akan ada di seluruh stasiun MRT. Diketahui, orang terinfeksi virus corona di Taipei sebanyak 39. Sedangkan Indonesia yang dinyatakan positif ada dua orang dan kini kondisinya berangsur membaik.