Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Salah satu maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe, dilaporkan telah bangkrut akibat jumlah penumpang yang terus menurun. Tentu saja penurunan drastis penumpang akibat wabah virus corona yang makin mewabah di seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Dikutip dari laman theguardian.com, Jumat, (6/3), selain diakibatkan anjloknya jumlah penumpang, maskapai terbesar di Inggris yang mengoperasikan hampir 40 persen dari penerbangan domestik, juga dinyatakan bangkrut akibat tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintahan yang dipimpin PM Boris Johnson tersebut sebesar 100 juta poundsterling Rp1,8 triliun guna menstabilkan bisnisnya.

Selain itu, maskapai yang pada 2019 lalu diambil alih oleh konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital senilai 2,8 juta dolar AS tersebut juga menjanjikan memberikan investasi besar. Kala itu, konsorsium berjanji akan menggelontorkan dana 130 juta dolar AS atau Rp1,8 triliun untuk maskapai yang telah berdiri sejak 1979 tersebut.

Bangkrutnya Flybe mungkin agak aneh, mengingat maskapai itu melayani sekitar 30 bandara di Eropa atau salah satu yang terbesar. Setiap tahun, Flybe juga mengangkut sebanyak 8 juta penumpang dengan 74 armada pesawat dan memperkerjakan sekitar 2.000 karyawan.

Kepala Eksekutif Connect Airways, Mark Anderson, mengatakan, sebetulnya perusahaan telah melakukan sejumlah langkah-langkah penyelamatan sebelum benar-benar bangkrut, seperti efisiensi bahan bakar serta memaksimalkan segala profit yang masih mungkin dicapai. Namun, pada akhirnya, demand yang menurun, persaingan bisnis yang ketat, ditambah gagalnya suntikan modal dari pemerintah, membuat perusahaan tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan bisnisnya.

“Inggris telah kehilangan salah satu aset regional terbesarnya. Flybe telah menjadi bagian penting dari industri penerbangan Inggris selama empat dekade, menghubungkan komunitas regional, orang-orang dan bisnis di seluruh negara,” katanya.

Dengan bangkrutnya Flybe, praktis calon penumpang yang telah membeli tiket sangat dirugikan. Pasalnya, Flybe memang menyatakan tidak sanggup untuk memberikan jalan keluar berupa penerbangan pengganti bagi para calon penumpang. Namun, beberapa perusahaan pun hadir dengan memberikan solusi.

Di antara perusahaan-perusahaan tersebut ialah Great Western Railway, South Western Railway, TransPennine Express, dan Avanti West Coast, perusahaan kereta di bawah kendali operator First Rail yang menawarkan perjalanan gratis bagi para calon penumpang dan staf. Kemudian ada juga EasyJet, maskapai berbiaya rendah asal Inggris, yang menawarkan harga miring bagi para calon penumpang dan penerbangan gratis bagi para staf untuk pulang ke wilayahnya masing-masing.

Bangkrutnya Flybe juga menjadi sinyal buruk bagi para maskapai penerbangan di Inggris (karena sudah dua maskapai bangkrut dalam tempo hanya enam bulan setelah September lalu maskapai Thomas Cook telah lebih dahulu bangkrut) serta maskapai penerbangan di seluruh dunia, mengingat International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional telah memperkirakan bahwa maskapai global tahun ini sebesar US$29 miliar atau Rp417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020, tak terkecuali dengan maskapai Indonesia. Salah satunya seperti Garuda Indonesia.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Sebagaimana yang umum diketahui, maskapai pelat merah itu memiliki utang yang akan jatuh tempo Mei 2020. Totalnya mencapai US$500 juta atau sekitar Rp6,82 triliun. Di samping itu, total kewajiban (utang) Garuda per September 2019 sudah tembus US$3,51 miliar atau setara dengan Rp47 triliun (asumsi kurs Rp 13.600 per US dollar).

Bila Flybe yang tak mendapatkan suntikan total modal sebesar Rp3,6 triliun serta memiliki utang sebesar Rp320 miliar saja bangkrut, lantas bagaimana dengan Garuda Indonesia bila tak berhasil mendapatkan utang baru untuk menutup utang lamanya yang notabene jauh besar jumlah utangnnya? Selain itu, normalnya, untuk dapat memangkas jumlah utang, maskapai harus meningkatkan profitnya, seperti apa yang dilakukan easyjet, maskapai LCC asal Inggris, pada 2010 lalu yang selamat dari utang dan ancaman bangkrut dengan meningkatkan profit. Dengan kondisi iklim penerbangan yang tengah memburuk akibat virus corona, bagaimana Garuda Indonesia dapat meningkatkan profit untuk memangkas jumlah utang?

Badai Corona Hantam Sektor Industri Otomotif dan Suku Cadang

Virus corona tak hanya mengganggu penerbangan, tetapi juga di sektor manufaktur seperti otomotif yang menyumbang 20 persen dari total nilai ekspor di Jepang. Seperti beberapa perusahaan mobil milik Jepang yang menghentikan beberapa operasionalnya baik di Jepang maupun di Cina karena kekurangan suku cadang.

Baca juga: Bisa Deteksi Covid-19 dalam 20 Detik, Dunia Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perangi Corona

Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (5/3/2020), Nissan terpaksa menghentikan produksi di beberapa pabrik perakitan domestik termasuk Tochigi dan Fukuoka karena kekurangan suku cadang dari Cina. Tak hanya itu, Honda juga mengklaim keterlambatan pengiriman mobil baru karena ada masalah pengadaan komponen buatan Cina.

Bahkan Mazda harus membeli suku cadang alternatif dari Meksiko sebagai respon darurat dengan harga mahal karena pabrikan komponen eksterior Cina tak bisa mengekspor barang. Karena hal ini, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI), Asosiasi Produsen Otomotif Jepang (JAMA), dan Asosiasi Industri Suku Cadang Mobil Jepang (JAPIA) membentuk Dewan Studi Penanggulangan virus corona di industri otomotif dengan tujuan untuk berbagi informasi terkait industri secara umum dengan kekhawatiran dan kemungkinan tindakan balasan.

Industri robot di Jepang, di sisi lain menghadapi masalah permintaan. Seperti pabrikan besar Fanuc dan Yaskawa yang mendesain dan memproduksi komponen mereka sendiri sehingga masalah rantai pasokan kurang menjadi perhatian. Namun yang di khawatirkan adalah goyahnya sektor manufaktur akan menekan permintaan untuk produk mereka di Cina.

Sedangkan para produsen Jepang yang memiliki pabrik di Cina mau tak mau menghentikan operasionalnya namun ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali karena pemasok otomotif terletak di sekitaran mereka. Salah satunya Honda yang menghentikan operasional pabrik mereka di Wuhan dan akan mulai berkoordinasi untuk melanjutkan operasi.

Nissan, yang memiliki satu pabrik di Provinsi Hubei dengan dua pabrik di Provinsi Hunan yang berdekatan, juga telah menutup semua operasinya. Daikin Industries, produsen AC, memiliki pabrik AC HVAC ukuran besar di Wuhan. Perusahaan telah merencanakan cadangan produksi di situs Malaysia-nya. Sementara itu, operasi manufaktur baik AC industri dan digunakan di rumah di pabrik Suzhou dan Shanghai telah kembali beroperasi.

Hitachi Construction Machinery telah mengalami kesulitan produksi di pabrik Hefei, di provinsi Anhui yang berdekatan, karena kurangnya pekerja. Banyak yang tidak kembali setelah liburan Tahun Baru China, dan pembatasan pemerintah pada pergerakan orang menyebabkan kesulitan tambahan.

Pada catatan yang lebih positif, di luar Provinsi Hubei, banyak pabrikan Jepang mulai memulai kembali operasi mereka, meskipun tidak sepenuhnya. Toyota kembali beroperasi di pabriknya di Changchun, Guangzhou, Tianjin dan Chengdu, tetapi hanya setengah dari tingkat produksi. Isuzu melanjutkan produksi truknya di pabrik Chongqing dan Nanchang, Mazda melanjutkan produksi di Nanjing dan Mitsubishi juga memulai kembali operasinya di Changsha dan Fuzhou.

Seperti Toyota, tingkat produksi mereka saat ini sekitar setengah dari tingkat normal. Sementara itu, Sony, yang memiliki empat pabrik termasuk Huizhou, Wuxi, dan dua di Shanghai, kembali berproduksi pada 10 Februari, meskipun sekali lagi dengan tingkat produksi yang lebih rendah.

Baca juga: Di Tengah Tekanan Corona, Garuda Indonesia Pastikan Penerbangan Tetap Normal ke Korea Selatan

Menurut penelitian JETRO (Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang), tingkat pengoperasian kembali pabrik-pabrik Jepang di Shenzhen dan Dongguan di Provinsi Guangdong, salah satu klaster manufaktur terpadat di Cina, mencapai 67,9 persen pada 14 Februari. Namun dalam salah satu pengembangan zona di Kota Shenzhen, yang diizinkan untuk melanjutkan operasi manufaktur pada 10 Februari, hanya 2500 dari sekitar 12 ribu karyawan dari perusahaan penyewa sejauh ini kembali bekerja.

Bagaimana dengan MRT Jakarta yang kereta dan komponennya semua diproduksi dan di kirim dari Jepang? Apakah pengiriman komponen mereka dari Jepang tertunda saat virus corona ini? William P. Sabandar, direktur utama PT MRT Jakarta menyebut, bahwa isu corona telah mengganggu proses pengerjaan proyek fase 2A yang telah dimulai pada awal Maret 2020, lantaran akses tenaga ahli dari Jepang yang terbatas dari dan ke Indonesia.

Inilah Alasan Awak Kabin Hingga Terjerumus dalam Kecanduan Obat dan Alkohol

Sebagian orang mungkin punya anggapan bahwa menjadi awak kabin bakal merasakan semua kenikmatan, lantaran memiliki pendapatan yang cukup besar sehingga bermewah-mewah. Padahal di balik itu semua, kehidupan mereka tidaklah semenyenangkan yang orang lain kira.

Baca juga: Imbas Penerbangan Sepi, Bagaimana dengan Gaya Hidup Glamor Pramugari?

Bahkan bisa dikatakan kelam dan gelap tanpa ada kebahagiaan dan kebebasan. KabarPenumpang.com merangkum dari qz.com (27/2/2020), ternyata gaya hidup tinggi para awak kabin ini dapat membuat kesehatan mental, gangguan tidur, kecanduan alkohol hingga penyalahgunaan obat-obatan.

Kehidupan glamor awak kabin

Adrianna seorang awak kabin yang sudah sepuluh tahun bekerja di maskapai penerbangan utama di Amerika Serikat mengatakan, banyak dari mereka yang menderita penyakit kecemasan. Dia menyebutkan ini karena terjebak dalam sebuah ‘tabung’ dengan orang-orang berbeda sepanjang hari.

“Kami tidak diizinkan untuk menunjukkan emosi kami yang sebenarnya dan itu selamanya. Saya sering bersumpah dalam tidur dan menjerit karena tidak diizinkan mengekspresikan emosi sepanjang,” kata Adrianna.

Mungkin sisi kelam kehidupan awak kabin cukup jarang terkespos. Bahkan ada beberapa cerita awak kabin ini yang viral dan menjadi perbincangan semua khalayak di dunia nyata maupun media sosial. Biasanya yang mencakup sisi kelam mereka adalah terlihat tampak mabuk dalam penerbangan hingga ketahuan meminum alkohol sebelum berangkat. Adrianna mengatakan, karena alkohol dirinya kehilangan teman, bukan hanya dipecat, temannya itu meninggal karena kecanduan berat alkohol.

Bekerja di udara, sebenarnya bukanlah selalu menyenangkan, bahkan sekali penerbangan bisa sangat melelahkan dan banyak awak kabin yang membayangkan untuk mencari pekerjaan lain. Dari mereka banyak yang stres, cemas atau merasa tidak menyenangkan tetapi harus tetap tersenyum ketika penumpang memanggil mereka.

Jetlag karena penerbangan beda waktu pun bisa meliputi perubahan perasaan, kelelahan dan lainnya. Tapi bila suadh bekerja menjadi awak kabin sulit untuk berhenti apalagi dengan gaji yang cukup tinggi ketika sering terbang untuk bertugas. Untuk melewati masalah dalam penerbangan, mereka sering bersama-sama dengan berkumpul dan minum alkohol. Bahkan seorang awak kabin mengaku, banyak yang suka minum seperti dirinya. Ada pula yang lebih memilih minum sendirian.

Adrianna menambahkan, dirinya berhenti munim satu tahun yang lalu dan terkadang masih sulit untu mengetahui kapan berhenti. Sebab dia menyebutkan, Anda akan berpikir minum di kamar sendirian bukanlah masalah sosial. Heather Healy yang mengelola Flight Attendants Drug and Alcohol Program (FADAP), sebuah prakarsa keselamatan mengatakan, pihaknya melakukan survei anonim tahun 2000 lalu dengan awak kabin. Mereka meminta awak kabin untuk berbagi informasi tentang apa saja yang sudah dilakukan.

Beberapa awak kabin mengelola kecemasan atau depresi dengan obat resep yang sangat adiktif, termasuk obat tidur atau opioid untuk mengatasi rasa sakit.

“Anda memiliki sekelompok masalah pekerjaan yang mendorong lingkungan minum. Tetapi juga menggunakan alkohol dan resep untuk mengelola beberapa masalah yang merupakan bagian dari pekerjaan kecemasan, stres, sulit tidur, dan rasa sakit,” tambahnya.

Sebanyak 85 persen awak kabin yang menggunakan layanan FADAP mengatakan, mereka akan melakukannya lagi. Awak kabin dapat menjangkau ke layanan itu sendiri sebagai alternatif, anggota keluarga pramugari yang kurang sehat dapat menghubungi layanan alih-alih maskapai itu sendiri, untuk menghindari membahayakan pekerjaan orang yang mereka cintai. Seringkali, pramugari dirujuk ke FADAP setelah orang lain di kru memperhatikan mereka berlama-lama di kursi bar atau menampilkan perilaku mengkhawatirkan lainnya. Jika seorang pramugari kedapatan melanggar peraturan narkoba atau alkohol, FADAP dapat membantu, kata Healy.

“Semua orang [di FADAP] bergeser bukan untuk mencoba membantu menyelamatkan pekerjaan Anda, tetapi untuk menyelamatkan hidup Anda, karena peluang Anda untuk sembuh, begitu Anda kehilangan pekerjaan dan kehilangan asuransi kesehatan Anda peluang itu turun secara signifikan.”

Pada saat yang sama, katanya, risiko bunuh diri melonjak. Sesuai peraturan FAA, pramugari yang diberhentikan dapat bergabung kembali dengan profesi dengan majikan lain, tetapi hanya setelah berhasil menyelesaikan program pemulihan. Healy menambahkan, tidak semua awak kabin kembali ke penerbangan karena pekerjaan memicu kekambuhan.

Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas

“Dari perspektif kesehatan jangka panjang, keluar dari pekerjaan mungkin merupakan hal terbaik. Kuncinya mungkin menjadi pramugari adalah mimpi terburuk Anda, dalam hal menstabilkan penyakit kejiwaan Anda,” katanya. “Biarkan kamu melakukan sesuatu yang lain,” katanya.

Bisa Deteksi Covid-19 dalam 20 Detik, Dunia Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perangi Corona

Virus corona tak selamanya petaka. Bagi perusahaan teknologi, virus terebut justru menjadi sebuah berkah. Betapa tidak, dengan adanya Covid-19, perusahaan jadi terdorong untuk melakukan inovasi teknologi, dalam hal ini teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Dilansir venturebeat.com, Rabu, (4/3), perusahaan Denmark, UVD Robots, misalnya, mengklaim bahwa pihaknya sudah mencapai kesepakatan Sunay Healthcare Supply untuk mendistribusikan robotnya di Cina. Nantinya, robot UVD berkeliling di sekitar fasilitas perawatan kesehatan untuk menyebarkan sinar UV ke kamar-kamar yang terkontaminasi oleh virus atau bakteri.

Lain Denmark, lain pula Israel. Dalam upaya melawan penyebaran virus corona, negara tersebut membuat robot pintar bernama Temi. Sejauh ini, ratusan robot Temi telah dirancang untuk bekerja di rumah sakit, bandara, dan rumah perawatan lansia. Menurut salah satu pimpinan Robotemi, Yoels, robot itu juga digunakan di kantor-kantor di seluruh China untuk memeriksa kedatangan karyawan untuk demam salah satu gejala Covid-19 yang paling menonjol.

Ada lagi BlueDot, perusahaan asal Kanada yang menggabungkan keahlian kesehatan masyarakat dan medis dengan analitik data canggih dengan kecerdasan buatan untuk membangun solusi yang melacak, mengkontekstualisasikan, dan mengantisipasi risiko penyakit menular. Hal yang serupa juga dilakukan oleh perusahaan asal negeri Paman Sam, Apple dan Microsoft, yang mengembangkan teknologi kesehatan untuk mengantisipasi risiko penyakit menular.

Tak mau kalah dengan negara lain, sebagai negara endemik virus corona, pemerintah Cina telah mendorong beberapa perusahaan teknologi di negaranya untuk turut andil dalam upaya memerangi virus corona. Di antaranya ada Alibaba, Tencent, Huawei, hingga Baidu. Keempat raksasa teknologi China sedang mempercepat pengguna layanan kesehatan berbasis teknologi dengan menggunakan cloud computing dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi dan menangkal virus corona.

Jika sebelumnya keempatnya membantu pemerintah China untuk melacak orang-orang yang berpotensi melakukan kontak dengan yang sudah tertular virus corona dan kini mereka akan meningkatkan perawatan kesehatan dengan fokus pada penyediaan alat membantu industri medis.

Bahkan, salah satu dari perusahaan tersebut, Alibaba, dilaporkan telah berhasil mengembangkan CT scan dada, dengan teknologi kecerdasan buatan, untuk pasien dengan akurasi 96 persen. Dengan akurasi tinggi tersebut, alat tersebut rupanya juga dapat mendeteksi seseorang terinfeksi virus corona atau tidak hanya dalam tempo 20 detik. Padahal, normalnya, tim medis mampu melakukan hal tersebut dalam waktu 15 menit.

Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona

Sistem AI ini dilatih pada gambar dan data dari 5.000 kasus virus corona yang dikonfirmasi dan telah diuji di rumah sakit seluruh China. Dikatakan bahwa setidaknya 100 fasilitas kesehatan saat ini mempekerjakan AI dari Alibaba.

Senada dengan Alibaba, pekan lalu, para peneliti dari Rumah Sakit Renmin Universitas Wuhan, Perusahaan Teknologi Medis Wuhan EndoAngel, dan China University of Geosciences juga telah berbagi pekerjaan terkait penelitian mendalam yang mendeteksi Covid-19 dengan akurasi 95%. Model ini dilatih dengan CT scan dari 51 pasien dengan pneumonia Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium dan lebih dari 45.000 gambar CT scan anonim. Model pembelajaran mendalam dilatih dengan CT scan pasien influenza, pasien Covid-19, dan orang sehat dari tiga rumah sakit di Wuhan, termasuk 219 gambar dari 110 pasien dengan Covid-19.

Di Tengah Tekanan Corona, Garuda Indonesia Pastikan Penerbangan Tetap Normal ke Korea Selatan

Selain Cina Daratan, wabah virus corona juga menjadi momok menakutkan di Korea Selatan, pasalnya sampai saat ini kasus corona telah mencapai 6.000, menjadikan Negeri Ginseng ini menjadi negara terbesar yang melaporkan kasus di luar pusat wabah di Cina. Namun, maskapai Garuda Indonesia memastikan layanan operasional penerbangan dari dan menuju Incheon, Seoul, Korea Selatan hingga kini tetap beroperasi dengan normal.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Hal tersebut menyusul kebijakan yang ditetapkan Kementerian Luar Negeri terkait larangan masuk dan transit ke Indonesia bagi para pendatang/travellers yang dalam 14 hari terakhir melakukan perjalanan di sejumlah kota di Iran, Italia dan Korea Selatan.

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (5/3/2020), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, “Dengan adanya kebijakan larangan masuk tersebut, saat ini Garuda Indonesia terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian dan otoritas terkait agar kebijakan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan baik, khususnya dalam hal tindakan preventif yang perlu dilakukan dari segi operasional penerbangan guna memitigasi risiko penyebaran Covid-19 dari dan ke Negara/kota-kota yang terdampak.”

Saat ini Garuda Indonesia melayani sebanyak 14 frekuensi penerbangan dari dan menuju Seoul setiap minggunya yang terdiri dari rute penerbangan Jakarta-Seoul vv dan Denpasar-Seoul vv yang masing masing dilayani sebanyak 7 kali per minggu.

Garuda Indonesia secara konsisten telah melakukan langkah-langkah preventif guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 melalui pelaksanaan disinfeksi pesawat, penyediaan sarana hand sanitizer dan masker untuk kebutuhan awak pesawat dan kebutuhan mendesak penumpang, penggantian HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter pada armada yang digunakan untuk penerbangan ke dan dari destinasi yang terdampak penyebaran covid-19 serta pemeriksaan rutin kepada awak kabin yang bertugas pada saat sebelum dan setelah bertugas.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Garuda Indonesia akan terus memantau situasi terkini atas perkembangan epidemi Covid-19 dan berkoordinasi dengan kementerian dan otoritas terkait untuk mengambil tindakan yang sekiranya diperlukan guna pencegahan penyebaran virus Covid-19 ini.

Mendarat di Tengah Terjangan Badai 150 Km Per Jam, Pilot Airbus A380 Dimarahi Pihak Maskapai

Etihad Airways belakangan kerap disebut-sebut masyarakat terkait aksi heroik pilotnya dalam mendaratkan pesawat komersial terbesar sejagat, Airbus A380, di Bandara London Heathrow, Inggris. Dikatakan heroik, sebab, saat pendaratan berlangsung, Inggris dan sekitarnya, termasuk Bandara Heathrow, tengah diterjang badai Dennis, yang disinyalir lebih buruk dari badai Ciara, dengan kecepatan angin hingga 150 km per jam.

Baca juga: Atasi Masalah Crosswind, Konsep Endless Runway Bisa Jadi Solusi Jitu

Dilihat KabarPenumpang,com dalam video yang viral di media sosial, YouTube dan Twitter, awalnya, beberapa menit sebelum Airbus A380 Etihad Airways mendarat, pesawat sebetulnya sudah berapa pada posisi yang tepat, dengan landing approach altitude dan landing approach angle yang pas. Namun, beberapa detik sebelum mendarat, terpaan angin membuat bagian belakang pesawat terdorong ke samping kanan dan membuat pendaratan terancam kacau.

https://www.youtube.com/watch?v=MeVEbYHmTcM&feature=emb_title

Benar saja, walaupun tidak sampai menimbulkan kesalahan fatal hingga memakan korban jiwa ataupun luka, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan posisi pesawat miring ke arah kiri pesawat di kisaran 45 derajat. Ketika landing gear atau roda pendaratan pesawat bagian belakang touching down atau menyentuh runway, pilot masih berusaha untuk menyesuaikan angle pesawat ke arah yang pas. Kendati berhasil, namun pesawat tetap pada posisi miring sekitar 15 derajat.

Akibatnya, setelah pesawat membuka engine thrust reverser sebagai rem mesin (engine brake atau ngerem), tampak sayap bagian kiri pesawat seperti hendak terangkat kembali akibat terpaan angin. Akibatnya, pesawat kembali condong ke arah kiri hingga memaksa pesawat keluar dari runway.

Atas kejadian itu, manajemen Etihad Airways dilaporkan telah memarahi pilot pada penerbangan yang terjadi 16 Februari lalu itu. Dikutip dari laman airlineratings.com, Kamis, (5/3), di samping itu, Manager Pelatihan Kru Penerbangan Etihad juga telah mengirimkan memo ke seluruh pilot yang berisi bahwa proses pendaratan tersebut bukanlah pendaratan yang ingin dilihat oleh manajemen.

“Pandangan resmi dari Departemen Pelatihan adalah pandangan yang sederhana, INI BUKAN APA YANG KAMI INGIN MELIHAT. Ada waktu untuk memberikan pendekatan (approach) demi kepentingan keselamatan. Jika kamu melihat hal seperti itu di sim (Simulator), itu akan menjadi nilai 1 (dari 10),” isi dalam memo tersebut.

Baca juga: Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat

Sebetulnya, Airbus A380 sendiri memiliki kemampuan tahan terhadap terpaan angin atau crosswind capability hingga 40 knot atau 74 kilometer per jam dan kemampuan mendarat otomatis di tengah terpaan angin atau autoland crosswind hingga 30 knot atau 55 kilometer per jam. Hanya saja, pilot tak boleh mengaktifkan sistem tersebut karena walau bagaimanapun sistem autoland tak memiliki kemampuan insting (membuat keputusan sesuai keadaan) sebaik manusia.

Dalam pendaratan di tengah kondisi angin kencang hingga dua kali lipat dari kemampuan crosswind capability yang dimiliki pesawat, pilot memang harus cukup jeli dalam mendaratkan pesawat. Selain harus mengikuti arah angin, pilot juga harus mengarahkan landing approach angle pesawat tetap pada posisi lurus menuju runway. Hal itulah yang gagal dilakukan oleh pilot hingga mendapatkan nilai 1 dari 10 oleh manajemen Etihad.

Diam-diam Airbus Modifikasi A350 untuk Penuhi Kebutuhan di Masa Depan

Penumpang yang menaiki Airbus A350 keluaran bulan lalu mungkin tidak melihat perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan produksi empat tahun lalu. Betapa tidak, nomor modelnya sama, bagian dalam dan luarnya juga hampir terlihat sama. Namun, bagi maskapai, tentu saja Airbus A350 yang baru memiliki beberapa keunggulan lain dibanding produksi sebelumnya.

Baca juga: Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak

Dilansir dari laman simpleflying.com, Rabu, (4/3), belum lama ini Airbus rupanya telah melakukan beberapa pengembangan pada armada A350-nya. Pesawat tersebut dikonfirmasi memiliki perubahan mencakup daya jelajah dan take-off. Hal ini sejatinya adalah pengembangan rutin Airbus dengan menyaring setiap masukan dari maskapai untuk menunjang kenyaman dan kemanan pesawat.

“Sebagai produsen pesawat terbang terkemuka, kami terus-menerus berdialog dengan pelanggan kami untuk memenuhi persyaratan hari ini dan masa depan mereka, memajukan produk kami, menjaga mereka di ujung tombak teknolog,” kata juru bicara Airbus.

“Airbus selalu melihat konsep-konsep baru berdasarkan pada platform yang ada. Ini adalah bagian integral dari filosofi desain kami. Sebab, tidak setiap studi berhasil melihat apa yang sedang dibutuhkan hari ini,” tambahnya.

Sejak pertama kali dikirim ke maskapai Qatar Airways pada Desember 2014 lalu, Airbus A350 sejauh ini memang telah mengalami beberapa kali peningkatan berat lepas landas maksimum (maximum take-off weight, MTOW). Awalnya, A350-900 memilliki MTOW sebesar 269 ton, kemudian meningkat menjadi 280 ton pada 2018 lalu. Kemudian, kapabilitas jangkauannya pun juga berubah menjadi 9.700 mil laut. Selain itu, A350-1000 juga telah ditingkatkan dari semula MTOW-nya hanya 308 ton menjadi 319 ton.

Perubahan-perubahan ini (A350) juga mencakup sistem bahan bakar yang telah dimodifikasi untuk meningkatkan kapasitas angkut bahan bakar hingga 24.000 liter tanpa tangki tambahan. Fase tes ini juga akan mengukur peningkatan kinerja dari penyempurnaan aerodinamis, termasuk perpanjangan winglet.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Secara keseluruhan, teknologi-teknologi mutakhir ini menciptakan tingkat efisiensi operasional yang tak tertandingi dengan 25 persen pengurangan dalam pembakaran bahan bakar dan emisi, serta biaya pemeliharaan yang secara signifikan lebih rendah.

Sebetulnya, perubahan tersebut sudah terjadi sejak pertengahan 2018 lalu. Hanya saja, karena promosi yang kurang, sekalipun terdapat beberapa pemberitahuan kepada media, membuat penumpang tidak tahu-menahu terkait perubahan tersebut. Padahal, jika ditanya mengingankan perubahan atau tidak, tentu saja penumpang senantiasa menginginkan perubahan untuk meningkatkan kenyaman dan keamanan di setiap penerbangan mereka. Di samping itu, setiap perubahan ke arah yang lebih baik tentu saja juga diharapkan oleh maskapai untuk mendukung peningkatan perusahaan.

Perilaku Penumpang MRT Jakarta: Umumnya Sudah Order Ojol Sebelum Tiba di Stasiun Tujuan

Fasilitas yang disedikan MRT Jakarta, mulai dari wahana kereta sampai bagian dalam stasiun sudah berstandar internasional, bahkan disebut-sebut lebih baik dari beberapa negara di Asia. Namun, sayangnya sisi luar stasiun masih berbanding terbalik. Ketidaknyaman masih menjadi momok tersendiri, salah satu isu yang mengemuka adalah banyaknya para ojol (ojek online) yang ngetem di sekitaran area stasiun. Selain tak elok dipandang, kehadiran kerumunan ojol kerap menimbulkan kemacetan.

Baca juga: Kerap Jadi Biang Kemacetan, Driver Ojol Harus Lebih “Peka” Marka Lalu Lintas

William P. Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta dalam Forum Pemimpun Redaksi yang dihelat hari ini (5/3/2020) di Plataran Hutan Kota Senayan mengungkapkan, bahwa umumnya penumpang MRT Jakarta sudah memesan (order) ojol menjelang mereka tiba di stasiun tujuan. Dan diantara jeda waktu penumpang turun dari kereta dan keluar dari stasiun, biasanya para ojol sudah ngetem di sisi luar stasiun. Dan seperti bisa diduga, banyaknya ojol yang mencari atau menunggu penumpang menjadikan titik penumpukan pada sisi jalan raya.

Menyiasati kondisi di atas, William menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan provider ojol seperti GoJek dan Grab, dan dikatakan telah ditemukan kesepakatan untuk pengaturan lebih lanjut. “Lebih mudah untuk mengatur dan mengkoordinasikan ojol, lantaran kami bisa dibantu oleh provider, tapi sebaliknya lebih sulit untuk mengatur penumpang,” ujar William. PT MRT Jakarta telah merancang zona transit (transit plaza) atau tempat drop off dan pick up, namun kembali lagi, masih ada perilaku penumpang yang kadang belum disiplin dalam menunggu di zona yang ditentukan.

Rencana kedepan, zona transit akan diperluas, sehingga nantinya akan ada pola first come first serve untuk penumpang yang menggunakan jasa ojol. Zona transit tentu belum bisa disiapkkan di setiap stasiun, lantaran keterbatasan lahan, namun orang nomer satu di MRT Jakarta menyebut, stasiun MRT Lebak Bulus saat ini sudah menerapkan konsep transit plaza untuk mewadahi akses penumpang ojol.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Kolaborasi MRT Jakarta dan provider ojol terlihat sudah cukup serius, seperti telah diluncurkannya GoRide Instant. GoRide Instan adalah layanan dari GoJek untuk menerima order di area tertentu secara lebih cepat, karena pengemudi ojol dapat terhubung langsung dengan calom penumpang melalui kode khusus yang dimiliki penumpang.

Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Wabah virus corona belum ada tanda-tanda berakhir. Bahkan, dari semula wabah tersebut hanya sebuah endemik, terbatas pada suatu tempat di suatu negara, kini sudah mulai bertransformasi menjadi pandemik, menyebar di banyak negara di hampir seluruh benua, kecuali Antartika.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Sebagai imbasnya, maskapai global pun ramai-ramai mengurangi rute ke sejumlah kawasan, khususnya Asia karena minat penumpang yang menurun. Melihat fenomena ini, International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri sudah memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam, hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $ 29 miliar atau Rp 417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020.

Dilansir dari laman independent.co.uk, Kamis, (5/3), turunnya frekuensi penerbangan telah membuat sejumlah bandara di banyak negara sepi bak kuburan. Untuk lebih lengkapnya, berikut daftar 8 sepinya bandara di seluruh dunia.

1. Haneda Airport, Tokyo, Jepang

Sumber: Reuters

Jumlah kasus Virus Corona (COVID-19) di Jepang telah melewati 1.000 orang pada Rabu, 4 Maret 2020. Namun, mayoritas berasal dari penumpang Diamond Princess. Di antara 1.000 pasien, 12 orang dinyatakan meninggal dunia dan virus menyebar ke berbagai penjuru Negeri Sakura. Pasien terkini berasal dari prefektur Yamaguchi di bagian barat Jepang.

2. Daxing International Airport, Beijing, Cina

Sumber: AFP via Getty

Kematian virus corona di daratan Cina terus-menerus bertahan, sekalipun engan intensitas yang mulai menurun dibandingkan di negara lain yang justru meningkat. Terakhir, korban tewas bertambah 42 orang pada Minggu (1/2) menurut Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC). Semua kematian baru terjadi di Provinsi Hubei. Kematian ini menambah total korban jiwa di Cina menjadi 2.912, kata NHC.

3. Shanghai Pudong Airport in Shanghai, Cina

Sumber: EPA

Hingga kini, ada 129 kematian dilaporkan di luar Cina. Adapun kasus yang dikonfirmasi di Cina sekitar 202. Dari kasus itu, 193 ada di Provinsi Hubei. Itu berarti ada sembilan kasus baru yang dilaporkan di seluruh Cina di luar Hubei, menurut NHC.

4. Changsha Huanghua International Airport, Cina

Sumber: Reuters

Jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Cina saat ini sekitar 80.026. Sebanyak 44.462 pasien di Cina telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit, kata NHC. Virus corona telah menyebar hingga ke lebih dari 60 negara. Hingga Senin (2/3/2020) pukul 09.00 WIB, jumlah kasus virus corona COVID-19 mencapai 88.382, dengan jumlah kasus terbanyak di Cina 79.826 dan di Korea Selatan dengan jumlah 3.736 kasus.

5. Taoyuan International Airport, Taiwan

Sumber: EPA

Biasanya bandara tersebut menjadi salah satu bandara tersibuk di Taiwan. Namun, sejak virus corona merebak, angka kunjungan wisawatan dalam dan luar negeri ke Taiwan terus menurun. Tak heran jika bandara ini sekarang tampak sepi.

6. Noi Bai International Airport, Vietnam

Sumber: AFP via Getty

Vietnam merupakan negara pertama di Asia yang mengumumkan semua pasien virus corona di negaranya sembuh total. Meski demikian, permintaan penerbangan global ke negara tersebut telah terlanjur turun sekitar 30 persen, salah satunya penerbangan dari Amerika yang menjadi salah satu penerbangan andalan Vietnam.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

7. Hong Kong International Airport, HongKong

Sumber: Twitter @MatthewTyler674

HongKong mungkin jadi negara yang terpukul telak. Pariwisata, yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan negara terbesar, kini telah anjlok. Selain karena virus corona, penurunan juga terjadi akibat protes anti pemerintah besar-besaran yang dimulai dari protes UU Ekstradisi. Tak heran, bila saat ini salah satu bandara tersibuk di dunia tersebut juga ‘menawarkan’ pemandangan sepi bak kuburan.

8. Ben Gurion International Airport, Israel

Sumber: Reuters

Kementerian Kesehatan Israel menyatakan jumlah kasus infeksi virus corona baru atau Covid-19 di negaranya bertambah menjadi empat pada Jumat (28/2) waktu setempat. Seorang warga negara Israel yang baru kembali dari Italia dinyatakan positif terinfeksi. Walaupun Timur Tengah tak separah Asia, nyataya, virus corona di sana telah berhasil membuat bandara di sana sepi.

Bandara Tribhuvan Punya Dua Robot yang Bisa Memandu dan Menghibur Penumpang

Era teknologi masa kini semakin canggih dan terkadang membuat tercengang. Hal ini karena banyak teknologi baru seperti robot yang mulai dipekerjakan di berbagai tempat dan bidang pekerjaan. Salah satunya adalah di bandara tempat dan keluar masuknya pelancong.

Baca juga: British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow

KabarPenumpang.com melansir laman onlinekhabar.com (20/2/2020), Bandara Tribhuvan (TIA) di Kathmandu, Nepal, baru-baru ini menghadirkan dua robot yang akan membantu penumpang. Selain memberikan informasi, robot ini juga akan menghibur para penumpang.

Menteri Kebudayaan, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal, Yogesh Bhattarai mengatakan, peluncuran layanan robot ini akan merubah bandara menjadi ramah teknologi dan modern. Dia mengatakan, robot-robot tersebut akan menyambut para penumpang di depan mereka.

Untuk memudahkan pelancong dari berbagai belahan dunia, robot ini dilengkapi berbagai bahasa yakni Nepal, Inggris dan Cina. Sehingga nantinya para penumpang yang bertemu dan menggunakan robot ini akan diberi informasi sesuai dengan bahasa yang dipilih.

Administrasi Bandara Kathmandu mengatakan, robot-robot tersebut juga hadir untuk membantu penumpang yang menunggu agar terhindar dari kebosanan. Dua robot ini menghabiskan biaya pembuatan senilai RS2 juta dan kini berada di terminal kedatangan dan keberangkatan.

Tak hanya di Kathmandu, beberapa negara lain sebelumnya juga sudah menggunakan robot untuk membantu penumpang di bandara. Seperti di Bandara Incheon, Korea Selatan yang memiliki robot bernama Troika yang membantu penumpang dengan memindai boarding pas dan Anda akan diantar ke gerbang tujuan.

Bahkan, Troika juga akan memanggil nama calon penumpang yang telah memindai boarding pass mereka. Jika dalam perjalanan menuju ke gerbang dan calon penumpang berdiri terlau jauh dari robot ini, maka akan mengeluarkan suara “Harap tetap dekat supaya aku bisa melihatmu.”

Troika sendiri seperti seorang tour guide yang memberikan segala informasi seperti lokasi tujuan penerbangan, pemberangkatan, peta bandara sampai cuaca. Robot ini dilengkapi dengan berbagai bahasa seperti Inggris, Korea, Cina dan Jepang sehingga mudah digunakan oleh pelancong.

Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Selain itu, Bandara Indira Gandhi di India juga memiliki robot bernama RADA yang ditempatkan di salah satu lounge. RADA akan menjadi pemandu yang bisa berinteraksi dengan para calon penumpang secara langsung. Robot ini akan memindai boarding pass penumpang dan agar Anda bisa langsung berinteraksi. Tak hanya suara, RADA bisa menggerakkan tangan.