Liburan Imlek Diperpanjang, Wuhan Masih Akan Jadi ‘Kota Mati’

Cina mengumumkan telah memperpanjang hari libur nasional untuk Tahun Baru Imlek hingga hari Minggu mendatang. Tak lama berselang, negeri Tirai Bambu juga akan mengisolasi lebih banyak kota ketika jumlah korban tewas akibat virus corona meningkat menjadi 81 orang. Mayoritas korban tewas tersebut berasal dari kalangan lanjut usia yang sebelumnya memang memiliki riwayat penyakit, khususnya pernapasan.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Kota Wuhan sendiri, dimana wabah mematikan tersebut bermula, hingga kini masih tertutup rapat bagi siapapun yang ingin keluar masuk, dengan semua bandara, stasiun kereta api, dan bus bak mati suri. Tak hanya Wuhan, kota-kota lainnya di seluruh Provinsi Hubei dan beberapa kota-kota lainnya juga sudah diisolasi.

Akibat diperpanjangnya hari libur nasional, Wuhan, dan juga kota-kota lainnya otomatis masih akan menjadi layaknya ‘kota mati’. Seperti video yang banyak beredar di media sosial, sejak kota yang menjadi pusat transportasi dan manufaktur di Cina tersebut diisolasi, di sudut-sudut kota, jalanan tampak lengang dan hampir tak ada manusia yang beraktivitas. Seakan-akan, kota tersebut seperti ditinggal warganya, yang mengingatkan kita pada ‘kota mati’ lainnya, salah satunya Chernobyl di Ukraina. Bedanya, jika Chernobyl menjadi ‘kota mati’ akibat radiasi nuklir, Wuhan diakibatkan oleh virus corona.

Berbeda dengan Wuhan, di Shanghai, masa libur nasional bahkan diperpanjang hingga tanggal 10 Februari mendatang. Sejalan dengan hal itu, perusahaan-perusahaan di kota berjuluk seribu cahaya itu pun menginstruksikan karyawannya untuk bekerja dari rumah, guna meminimalisir aktivitas di luar rumah.

Menurut spesialis risiko perjalanan dari Copenhagen, Denmark, Riskline, seperti dikutip dari buyingbusinesstravel.com, Selasa (28/1), isolasi yang dilakukan tentu saja telah berdampak besar pada aktivitas perjalanan udara, kereta api, dan transportasi umum lainnya.

Sementara itu, di saat yang bersamaan, rumah sakit di China justru terus-menerus berada dalam tekanan hebat, khususnya di Provinsi Hubei, di mana antrean panjang terduga suspect virus corona belum juga terurai.

https://twitter.com/i/status/1221423180134350848

Dalam video yang juga beredar di media sosial, tekanan hebat para pekerja medis di China, terlebih setelah salah satu dokter yang menangani pasien virus corona tewas, membuat beberapa di antara mereka mengalami stres hebat. Bahkan di beberapa kasus, terdapat pekerja medis yang teriak histeris akibat tak kuasa melihat banyaknya pasien.

Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Namun, jika bepergian ke Cina mutlak diperlukan, Riskline menghimbau agar para pelancong wajib mengikuti arahan dari perwakilan konsuler dan otoritas kesehatan setempat. Selain itu, mereka juga harus meminta perlindungan kepada biro perjalanan dan perwakilan konsuler untuk memastikan keamanan mereka. Termasuk, bila sewaktu-waktu kota-kota yang dikunjungi para pelancong akan diisolasi, mereka harus membawa para pelancong keluar sesegera mungkin.

Dalam menekan risiko tertular virus, pelancong juga harus melakukan tindakan preventif, seperti menjaga kesehatan, mencuci tangan setiap beraktivitas, khususnya dari luar rumah, hingga menggunakan masker yang direkomendasikan. Jika terdapat tanda-tanda infeksi, seperti demam, diare, sesak napas dan batuk, pelancong harus sesegera mungkin berkonsulitasi dengan petugas medis.

Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Setelah mengumumkan akan mengkomersialkan wahana udara terbesar pada 2020, Hybrid Air Vehicles (HAV) akhirnya dengan rendah hati memastikan rencana tersebut molor. Hal tersebut didasari oleh banyak hal, seperti perubahan desain, dimensi, hingga teknologi mutakhir terbarukan.

Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10

Seperti dikutip dari robbreport.com, Senin (27/1), belum lama ini, perusahaan kapal udara asal Inggris tersebut (HAV) kembali muncul ke publik. Kemunculannya tersebut dibarengi dengan berbagai bocoran terbaru soal perkembangan kapal udara terbesarnya.

Seperti diketahui sebelumnya, sejak berhasil mengujicoba prototipe Airlander 10 pada 2017 lalu, lengkap dengan beberapa insiden yang mewarnainya, HAV seperti menghilang bak hantu. Tak ada informasi apapun mengenai perkembangan wahana udara yang mirip Kapal Udara Zeppelin di masa lalu tersebut.

Kemunculan HAV tentu mengejutkan berbagai pihak. Terlebih, impian HAV untuk mengkomersialkan wahana udara tersebut memang ditentang banyak pihak. Namun, HAV tetap pada pendiriannya. Justru saat ini, mereka sudah mendapatkan pakem terbaru, dengan berbagai transformasi dari prototipe sebelumnya.

Airlander 10 yang sedang dikembangkan saat ini nantinya akan berwujud lebih besar, menjadi 97 meter dari sebelumnya hanya 92 meter. Selain itu, bagian depannya akan dibuat lebih bulat, lengkap dengan bagian ekor terbaru. Bentuk mutakhir tersebut juga diklaim akan lebih efisien. Bahkan, diklaim mencapai emisi karbon 75 persen lebih rendah dari pesawat atau kapal udara sejenis. Model pendaratannya pun juga telah berubah dari jenis pendaratan tipe helikopter menjadi model pendaratan pesawat dengan dukungan enam kaki.

Tak hanya itu, Airlander 10 yang telah dimutahirkan juga dilengkapi dengan kabin yang lebih luas dan lebih panjang untuk penumpang dan kargo. Dengan model lebih panjang, kabin utama (tidak termasuk dek kapal) menawarkan ruangan sebesar 640 meter persegi, memastikannya mewah dan nyaman untuk penerbangan premium ke kutub utara yang menjadi tujuan Airlander 10.

Dengan kapasitas 16 penumpang, model next-gen juga memungkinkan “The Flying Bum” dapat tetap di langit selama tiga hari penuh dan memiliki daya jelajah sekitar 3704 kilometer. Spesifikasi tersebut digadang-gadang membuat penumpang jauh lebih nyaman dibanding pesawat konvensional.

Perlu diketahui, wahana udara tersebut dapat terbang lebih lama di udara karena menggunakan aerodinamika dan teknologi yang lebih ringan dari udara untuk menghasilkan daya angkat, yang memungkinkan kendaraan untuk tetap tinggi selama beberapa pekan.

Baca juga: Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara

Guna merealisasikan semuanya, saat ini, tim juga membuat penyesuaian untuk meningkatkan penanganan di semua mode penerbangan — lepas landas, naik, mengudara, turun, atau mendarat — dan menambahkan sistem penggerak maju dan teknologi pendorong baru. Sebagai tambahan, kini HAV juga sedang mengembangkan sistem propulsi listrik dengan Collins Aerospace dan University of Nottingham, yang memungkinkan kapal udara menyentuh angka 0 karbon persen.

Tak sabar bagaimana hasilnya? Berbagai pemutakhiran tersebut diakui memang membutuhkan waktu agak lama. Oleh karenanya, HAV memperkirakan Airlander 10 pertama akan kembali mengudara pada 2024 mendatang.

Beroperasi di 2027, JR Central Batasi Kecepatan SCMaglev ‘Hanya’ 500 Km Per Jam!

Kereta cepat SCMaglev atau Superconducting Magnetic Levitation sudah mulai diuji coba oleh Jepang dan rencananya akan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027. JR Central yang akan mengoperasikan kereta Maglev ini berencana akan mulai meluncurkannya di jalur Tokyo- Nagoya, kemudian jalur kedua akan diperpanjang dari Nagoya ke Osaka sepuluh tahun kemudian, yakni di tahun 2037.

Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya

Dalam tahap uji coba perdana SCMaglev memulai simulasinya di Taman Kereta Api di Nagoya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (25/1/2020), kereta ini memiliki konsep yang mirip dengan pesawat terbang, dimana pertama berjalan kereta akan bergerak dengan roda. Kemudian setelah mencapai kecepatan tertentu, roda kereta akan masuk ke bagian dalam kereta.

Tak hanya itu, Maglev hanya memiliki sedikit getaran, dan ketika melaju penumpang bisa saja tak sadar kereta sudah melintas. Apalagi ketika sudah melaju dalam kecepatan tinggi, maka getaran pun akan semakin berkurang. SCMaglev sendiri dalam uji cobanya mampu melaju dengan kecepatan 603 km per jam. Namun nantinya jika mulai beroperasi secara komersial, kecepatan maksimumnya dibatasi 500 km per jam.

Alasan pembatasan kecepatan ialah JR Central lebih memprioritaskan keselamatan dibandingkan kecepatan. Pengerjaan penelitian dan pengembangan proyek SCMaglev telah dimulai tahun 2014 lalu. Kereta ini mulai dikembangkan karena Jepang memandangnya sebagai teknologi kereta api di masa depan.

Menggunakan propulsi elektromagnetik, kereta ini melaju sekitar sepuluh sentimeter di udara. Di jalur Maglev, gulungan magnet terletak di samping rel. Ini akan mendorong magnet untuk terintegrasi dengan kereta yang tengah melaju di udara. Di Maglev, kecepatan yang meningkat akan memudahkan dalam menghilangkan gaya gesekan. Sistem levitasi magnetik menjaga kereta tetap seimbang dan mencegahnya tergelincir.

“Ada batas tertentu yang bisa mereka capai dengan menggunakan roda dan kereta api karena ada hambatan gesekan. Tetapi menurut sistem baru, mereka mengangkat kereta itu sendiri menggunakan kekuatan magnet. Memanfaatkan kekuatan magnet untuk mengangkatnya dan menggunakan kekuatan yang sama untuk menarik kereta ke depan. Dengan cara ini mereka dapat mengurangi daya tahan sehingga mereka dapat membiarkan kereta bergerak dengan sangat cepat,” ujar seorang pejabat Jepang.

Baca juga: Gara-gara Jalur 9 Km di Shizuoka, Pembangunan Jalur Maglev Terancam Menggantung

Kepala Kantor Kerjasama Internasional, Kebijakan Internasional dan Divisi Proyek Biro Kereta Api Shikama Koji mengatakan, kereta Maglev telah selesai. Saat ini tengah dalam pengadaan untuk pengerjaan konstruksi rel.

Pasar di Bandara NYIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Xpressair pada Maret 2020 rencananya akan mulai memindahkan lokasi penerbangannya dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta ke Bandara Adi Soemarmo, Solo. Namun apa alasannya tidak memindahkan ke New Yogyakarta International Airport (NYIA)?

Baca juga: Pembangunan Capai 90 Persen, Maret 2020 Seluruh Penerbangan di Bandara Adisutjipto Pindah ke YIA

Ternyata Manager Bandara Adi Soemarmo Abdullah Usman mengatakan bahwa, maskapai ini belum memiliki alat Performance Based Navigation (PNB). Di mana navigasinya harus menggunakan satelit.

“Maskapai ini belum memiliki alat PBN (Performance Based Navigation). Jadi navigasinya harus pakai satelit, karena nggak punya terus geser ke sini,” kata Abdullah.

Namun tak hanya masalah navigasi Sales and Corporate Manager Xpress Air, Irfan mengatakan masalah market juga menjadi salah satu penyebabnya.

“Kami lebih memilih ke Solo atau Semarang karena melihat marketnya. Kalau di Bandara baru Kulon Progo permasalahannya hampir mirip dengan Kertajati yang belum banyak integrasi transportasi lain,” kata Irfan yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (27/1/2020).

Dia menambahkan Bandara Adi Soemarmo sudah memiliki kereta bandara. Hal ini memudahkan penumpang menuju ke Stasiun Balapan Solo dari bandara atau sebaliknya. Bisa dikatakan, moda transportasi integrasi ini menjadi satu nilai yang dipilih Xpressair berpindah ke Bandara Adi Soemarmo.

Ketika ditanya apakah memiliki hub di Kertajati selain Makassar? Irfan mengatakan, hub utama mereka hanya ada di Makassar dan dia mengaku, maskapai Xpressair tidak menerbangkan pesawat mereka dari Kertajati. Sebagai informasi, situs wikipedia.org menginformasikan Xpressair memiliki hub di Kertajati.  “Kami justru tidak punya hub utama di Kertajati. Bahkan Xpressair tidak punya rute terbang sama sekali dari sana,” tambahnya.

Baca juga: Gratis Hingga Februari 2020, KA Bandara Adi Soemarmo Mulai Beroperasi

Nantinya setelah berpindah ke Adi Soemarmo, rute yang akan dilayani maskapai berbasis di Makassar ini yaitu Palembang, Samarinda, Pontianak dan Lampung. Diketahui, maskapai tersebut selama melayani rute Yogyakarta ke Kalimantan memiliki okupansi (keterisian penumpang) dalam penerbangannya cukup bagus dengan rata-rata mencapai 80 persen dari kapasitas satu pesawat 150 orang.

Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Setelah Jumat lalu sempat tertunda akibat cuaca tak bersahabat, pesawat terbaru Boeing akhirnya sukses melakukan uji coba penerbangan perdananya, Sabtu lalu, setelah mengudara selama empat jam dari Boeing Everett Factory dan mendarat di Paine Field, Seatlle. Model teranyar dari keluarga 777 tersebut diklaim Boeing sebagai pesawat komersial pertama dengan ujung sayap lipat.

Baca juga: ‘Move on’ dari Kasus 737 MAX, Boeing Siap Uji Terbang Perdana Seri 777X

“Ini tonggak utama untuk program pesawat 777X memulai langkah ke tahap berikutnya yakni pengujian pamungkas untuk mendapatkan sertifikasi dan kemudian pengiriman ke pelanggan pada 2021,” kata Boeing dalam tweet-nya setelah uji coba, seperti dikutip dari cnet.com, Senin, (27/1).

Seperti Boeing 787 Dreamliner, Boeing 777X terbuat dari bahan komposit dan memiliki jendela yang lebih besar serta desain kabin yang telah disempurnakan. Selain unik dengan ujung sayap lipatnya, pesawat tersebut juga mampu mengangkut lebih banyak orang dan terbang lebih jauh dari model 777 lainnya, yang mengukuhkannya menjadi pesawat bermesin ganda paling efisien di dunia.

Diantara sederet hal baru pada 777X, fitur ujung sayap yang dapat bergerak melipat (folding wingtip) dinilai sebagai fitur paling menonjol. Dengan fitur tersebut, pesawat dimungkinkan untuk menjadi lebih ramping untuk parkir di apron bandara, dari semula 235 kaki menjadi hanya di bawah 213 kaki.

Boeing beralasan, bahwa fitur tersebut belajar dari insiden Airbus A380 yang memaksa bandara melakukan modifikasi mahal ketika pesawat dua tingkat dengan bentang sayap sejauh 261 kaki tersebut memulai debutnya pada 2007 silam.

Nantinya, pesawat yang dirancang untuk bersaing dengan Airbus A350 tersebut, akan memiliki dua model. Model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km.

Sebelumnya, pesawat ini digadang untuk pertama kali akan melakukan uji terbang perdana pada pertengahan tahun 2019, berbarengan dengan event Paris AirShow 2019 (17-23 Juni 2019). Namun, masalah dalam pengembangan mesin GE9X, yang notabene akan menjadi mesin jet komersial terbesar di dunia, membuat jadwal molor dari yang sudah ditetapkan. Pada akhirnya, masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik menjelang pergantian tahun, yang ditandai dengan pemasangan proses instalasi kelistrikan pada pesawat.

Pada bulan September 2019, masalah lainnya juga sempat terjadi. Kala itu, pintu kargo saat pesawat menjalani uji statik Boeing 777X “meledak” selama uji tegangan darat. Badan pesawat mengalami kerusakan tekanan tinggi tepat saat mendekati tes terberat yang harus dilewati untuk mendapatkan sertifikasi mesin jet.

Atas insiden tersebut, dua bulan yang lalu, perusahaan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rencana penggunaan robot otomatis dalam proses perakitan pesawa dan menyerahkan proses perakitan kepada manusia seluruhnya, guna menghindari kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Walaupun masih jauh dari sempurna, Boeing mengatakan sejauh ini sudah ada pesanan dari delapan maskapai, di antaranya British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Lufthansa, dan Singapore Airlines. Jika segalanya berjalan dengan lancar, 777X diperkirakan akan siap mengudara secara masif pada tahun 2021.

Baca juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Tetapi sebelum hal tersebut benar-benar terwujud, Boeing terlebih dahulu harus melewati berbagai tes untuk mendapatkan sertifikasi dari otoritas penerbangan di seluruh dunia, tak terkecuali di Amerika (FAA). Pasalnya, fitur folding wingtip pada pesawat diakui Boeing masih sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Bila folding wingtip melipat karena pilot atau awak kabin lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain, itu bisa berdampak buruk saat dalam penerbangan.

Kerentanan tersebut pun membuat Federal Aviation Administration (FAA) atau regulator penerbangan sipil di Amerika menetapkan 10 syarat untuk membuat sayap berada pada posisi yang seharusnya. 10 syarat atau mekanisme tersebut diharapkan dapat memperkecil peluang sayap tetap berada pada posisi ‘terlipat’ sebelum tinggal landas.

Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

Virus corona, yang diduga menyebar dari sebuah pasar seafood ilegal di Wuhan, Cina, dilaporkan telah menewaskan puluhan orang, menjangkiti ribuan orang, dan telah menyebar hingga ke 13 negara. Tak heran, bila masyarakat dunia menaruh kekhwatiran besar terhadap virus ini jenis baru ini. Khususnya terhadap orang-orang dari Wuhan ataupun orang-orang yang habis bepergian dari Wuhan. Seperti yang dialami beberapa penumpang maskapai Scoot.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Baru-baru ini, seorang penumpang yang tak ingin disebutkan namanya, mengaku frustasi terhadap maskapai low cost carrier (LCC) asal Singapura tersebut. Hal itu lantaran pihak maskapai tidak memberitahu dirinya terbang bersama dengan 110 orang Wuhan yang hendak kembali ke negeri asalnya.

Tak hanya dirinya, seorang penumpang lain asal Perancis bahkan mengaku menyesal bila harus terbang berjam-jam bersama mereka. Andaikan ia tahu dirinya terbang bersama orang-orang Wuhan, ia pasti akan mengurungkan niatnya. Menurutnya, hal tersebut cukup berisiko mengingat mereka masih dimungkinkan terinfeksi virus Corona.

“Saya sebelumnya telah berdiskusi dengan istri saya jika saya bahkan harus pergi ke Ciina untuk menemaninya, tetapi kami melihat jumlah kasus dan Hangzhou tampaknya tidak berisiko, jadi saya memutuskan untuk mengambil penerbangan,” kata pria 52 tahun, yang tidak ingin disebutkan namanya.

“Tetapi ini adalah tingkat risiko yang berbeda ketika Anda terjebak di pesawat terbang dengan lebih dari 100 orang yang mungkin telah terinfeksi. Jika saya tahu, saya tidak akan pergi dalam penerbangan,” lanjutnya, sebagaimana dikutip dari laman straitstimes.com, Senin, (24/1).

Kekhawatiran pria Perancis tersebut tentu sangat berdasar, mengingat, sebelum seseorang dipastikan terkena virus Corona, mereka terlebih dahulu melalui masa inkubasi. Selama masa inkubasi tersebut, suspect virus corona tampak terlihat baik-baik saja, bahkan bisa lolos dari pengecekan pengukur suhu badan.

Sebelumnya, Jumat lalu, maskapai penerbangan yang masih satu grup dengan Singapore Airlines, Scoot, dengan nomor penerbangan TR188 berhasil mendarat mulus di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Cina, pukul 21.41 waktu setempat. Sesampainya di Bandara Hangzhou, seluruh penumpang yang berjumlah 314 orang langsung digiring untuk diisolasi selama 13 jam. Bahkan, satu penumpang pria kemudian diambil untuk tes darah untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Dari 314 penumpang pada penerbangan tersebut, sekitar 110 adalah penumpang dari Wuhan. Awalnya, mereka memang berencana untuk terbang ke Wuhan. Tetapi, pasca akses keluar masuk Wuhan ditutup otoritas Cina, mereka memililh untuk terbang ke Hangzhou.

Hangzhou yang berjarak 740 kilometer memang sejauh ini dilaporkan aman, sekalipun kota tersebut terletak tak jauh dari Shanghai, yang sudah masuk ke dalam daftar wilayah sebaran virus Corona. Itulah sebabnya, mayoritas penumpang pada penerbangan tersebut memilih masuk ke Cina via Hangzhou dibanding tempat-tempat lainnya.

Lokomotif Mulai Uji Coba Mengular di Jalur Reaktivasi Cibatu-Garut

Lokomotif Nomor CC2017723 mulai mengular di jalur Cibatu – Garut dengan kecepatan 20-25 km per jam. Lokomotif tersebut mulai berangkat dari Stasiun Cibatu pukul 11.09 WIB dan tiba di Stasiun Garut pukul 12.17 WIB. Tibanya lokomotif itu di Stasiun Garut selain menjadi yang pertama setelah lebih dari 30 tahun, ini juga menandakan jalur dengan panjang 19,5 km tersebut sudah tersambung seluruhnya.

Baca juga: Empat Dekade Tak Beroperasi, Stasiun Garut Akhirnya Direaktivasi

Meski begitu mengularnya lokomotif ini belum secara resmi dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) melainkan untuk uji coba terlebih dahulu. VP Public Relation PT KAI Yuskal Setiawan mengatakan, saat ini masih uji coba dan diperkirakan akhir Januari atau paling lambat awal Februari 2020 jalur tersebut mulai beroperasi secara komersial.

“Diperkirakan akhir Januari atau awal Februari beroperasi secara komerisal,” kata Yuskal yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (24/1/2020).

Tak hanya itu, sebelum di uji coba dengan lokomotif, Manager Humas PT KAI Daerah Operasiona (Daop) 2 Bandung, Noxy Citrea Bridara mengatakan, pihaknya sudah melakukan uji coba sebanyak dua kali yakni pada 19 Januari dan 21 Januari 2020 kemarin menggunakan kereta kerja. Noxy mengatakan, uji coba dengan lokomotif tersebut untuk menguji kekuatan rel dan berjalan lancar dari Stasiun Cibatu, Pasir Jengkol, Wanaraja hingga tiba di Garut.

Uji coba dengan lokomotif yang sudah berhasil dilakukan, Gubrenur Jawa Barat Ridwan Kamil meyakini dengan adanya reaktivasi jalur Cibatu – Garut akan membawa dampak ekonomi yang baik ke daerah. Menurutnya, kereta ini juga menjadi alternatif bagi wisatawan ke Garut dari Cibatu.

Dulunya, jalur ini dibangun setelah Bogor tahun 1884 dari Bandung ke Cicalengka yang kemudian dilanjutkan ke arah selatan. Kemudian di Cibatu terbagi dua cabang yakni Warung Bandrek dan Garut. Pembangunan dari Cicalengka menuju Garut sendiri membutuhkan waktu lima tahun.

Reaktivasi jalur tersebut dilakukan setelah mati suri hampir empat dekade. Tak hanya reaktivasi jalur, tetapi bangunan stasiun pun dilakukan renovasi total serta emplasemen juga dirombak secara besar-besaran. Pada masa berjayanya, bahkan Chalie Chaplin pernah mengunjungi Stasiun Garut melalui jalur tersebut menggunakan kereta tahun 1932.

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Untuk diketahui, sebelumnya, PT KAI juga sudah mereaktivasi tiga jalur lain yang sudah lama non aktif. Ketiga jalur itu adalah Rancaekek-Tanjungsari, Banjar-Pangandaran-Cijulang, dan Bandung-Ciwidey.

Pernah Kecelakaan di Indonesia Juga, Berikut Spesifikasi Helikopter Kobe Bryant Sikorsky S-76B

Senin (27/1/2020) pagi waktu Indonesia, dunia dikejutkan dengan tersiarnya kabar duka dari legenda basket asal Negeri Paman Sam, Kobe Bryant. Pebasket 41 tahun tersebut tewas akibat kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B di Calabasas, California. Tak hanya pebasket yang telah memenangi lima gelar juara NBA tersebut saja, insiden nahas itu juga merenggut nyawa anaknya, Gianna Maria Onore, serta tujuh orang lainnya.

Baca juga: Lockheed Martin VH-92A, Helikopter Kepresidenan AS Terbaru, Siap Mengudara di 2020

Seperti dikutip dari laman usatoday.com, Senin, (27/1), hingga kini, Lockheed Martin selaku produsen helikopter itu, menyebut pihaknya, bekerjasama dengan otoritas setempat (NTSB) tengah masih melakukan proses penyelidikan untuk menguak penyebab utama kecelakaan tersebut. Namun, terlepas dari insiden nahas ini, helikopter Sikorsky S-76B sebetulnya punya spesifikasi lumayan, sekalipun tergolong ‘tua’.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, proses pengembangan helikopter Sikorsky S76 dimulai pada pertengahan tahun 70-an. Setelah serangkaian uji coba, helikopter dengan turbin ganda tersebut akhirnya pertama kali diluncurkan pada 1977 setelah sukses melakukan uji terbang perdana. Dua tahun kemudian, Federal Aviation Administration (FAA) pun resmi memberikan sertifikasi yang menandakan helikopter tersebut sudah layak secara komersial.

Dari segi varian, S-76B yang dijual perdana pada tahun 1979 ini memiliki total 14 tipe. 10 tipe untuk keperluan sipil dan sisanya militer. Adapun helikopter yang digunakan Kobe Bryant adalah tipe S-76B atau Sikorsky S-76B.

Dengan didukung oleh dua mesin PT6B-36 buatan Pratt & Whitney Canada, helikopter ini mampu mengudara dengan kecematan maksimum 287 kilometer per jam, dengan ketinggian maksimum hingga 4572 meter. Selain itu, helikopter yang dirintis oleh Igor Sikorsky ini juga memiliki daya jelajah sejauh 533 kilometer.

Menurut catatan FAA, helikopter dengan nomor registrasi N72EX yang merenggut nyawa Kobe Briyant, dimiliki oleh perusahaan transportasi udara Island Express Holding Corp. Sejauh ini, belum jelas apakah pesawat tersebut disewa atau sudah dibeli oleh Kobe.

Meskipun tergolong pesawat tua atau belum dilengkapi dengan teknologi mutakhir, data di situs Aviation Safety Network menampilkan ada 112 kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B dalam kurun 1978 hingga 2020 (42 tahun), termasuk tiga kecelakaan yang terjadi di Indonesia pada 1994 dan 2000 (Pelita Air Service) dan 2015 (Hevlift Aviation).

Baca juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Dengan demikian, rata-rata ada 2,6 kecelakaan helikopter Sikorsky S-76B di dunia dalam setiap tahunnya. Angka ini menurut sebagian kalangan tergolong rendah untuk sebuah helikopter dengan spesifikasi twin engine.

Sikorsky S-76 mengusung desain turbin ganda (twin-turbin), maka jika satu turbin yang menggerakkan baling-baling (rotor) mati, masih ada pendukungnya. Untuk diketahui, rata-rata kecelakaan fatal yang dialami helikopter twin-turbin sepanjang 2010-2017 (satu dekade) menurut Flight Global adalah satu dari 560 helikopter. Tak heran, jika hingga kini, Sikorsky S-76 telah terjual sebanyak 875 unit di seluruh dunia, termasuk 103 unit Sikorsky S-76B seperti yang digunakan oleh Kobe Bryant.

KA Kaligung – Dulu Gunakan Rangkaian KRD, Kini Gunakan Kelas Ekonomi New Image

Kereta Api Kaligung yang mulai beroperasi pada 1999 lalu, pada awal pengoperasiannya menggunakan armada KRD MCW dengan pembagian kelas ekonomi dan bisnis. KA Kaligung sendiri bisa dikatakan kereta api lokal komersial yang dioperasikan PT kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang.

Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

Diawal beroperasi, KA Kaligung memiliki relasi Tegal – Semarang Poncol dan Semarang Poncol – Brebes (PP). Namun setelah grafik perjalanan kereta (Gapeka) 2019 mulai diberlakukan, relasi KA Kaligung diperpanjang dari Stasiun Cirebon Prujakan ke Stasiun Semarang Poncol.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nama KA Kaligung diambil dari nama sebuah sungai di Tegal yakni Kali Gung. KA yang satu ini ternyata membeli rangkaian keretanya tidak dengan bantuan Kementerian Pergubungan.

Kemudian pada 1 Desember 2010, KA Kaligung Mas muncul sebagai kereta unggulan dari KRD Kaligung bisnis dan ekonomi. Rangkaiannya saat itu menggunakan bekas KA Cirebon Ekspres dari Tegal ke Jakarta.

Saat itu Kaligung Mas berangkat dari Stasiun Tegal dan berhenti di Stasiun Pemalang, Pekalongan, Semarang Poncol dan berakhir di Semarang Tawang. Dulu rangkaian KA Kaligung ekonomi menggunakan C-KRDE dan kemudian diganti dengan ekonomi AC.

Kemudian kereta C-KRDE bekas KA KAligung dikirim ke Dipo Lokomotif Solo Balapan untuk bantuan rangkaian KA Prambanan Ekspres I dan II. Kemudian pada 1 Februari 2012, Daop 4 Semarang menambah perjalanan KA Kaligung sekaligus layanan ini melebur KA Kaligung Mas dan KA Kaligung menjadi satu.

Pada 12 Januari 2016 KA Kaligung memiliki rangkaian khusus bertemakan Borobudur yang memiliki ciri khas tersendiri yakni interior bernuansa kayu dan setiap kereta memiliki TV serta kereta makan yang bertemakan Borbudur. Mulai 7 Februari 2017, KA Kaligung Borobudur digantikan dengan rangkaian ekonomi plus new image 2016 dan tarifnya pun flat alias sama seperti sebelumnya.

Setelah Gapeka 2019, KA Kaligung yang menggunakan kereta dengan kelas Ekonomi New Image memiliki fasilitas setara kelas eksekutif. Tarif tiket KA Kaligung mulai dari Rp40 ribu hingga Rp70 ribu. Sedangkan khusus relasi Cirebon – Tegal sebesar Rp20 ribu dengan ketentuan pembelian tiket dua jam sebelum keberangkatan dan jika kursi tersedia.

Baca juga: KA Argo Parahyangan Excellence Beri Snack Gratis dan Bagasi Sepeda

Berikut jadwal KA Kaligung relasi Semarang – Cirebon yakni berangkat dari Semarang Pocol pukul 05.00 WIB, Waleri pukul 05.26 WIB, Pekalongan 06.25 WIB dan Pemalang pukul 06.45. Sedangkan relasi Cirebon – Semarang Poncol yakni, Cirebon Prujakan pukul 09.10 WIB, Babakan 09.31 WIB, Losari 09.43 WIB, Tanjung 09.52 WIB dan Brebes 10.10 WIB.

Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Otoritas Cina telah memperingatkan kepada seluruh dunia agar tidak melakukan perjalanan ke Wuhan (kecuali urusan penting). Selain itu, beberapa maskapai penerbangan juga mengeluarkan keringanan yang memungkinkan pelancong untuk mengubah rencana mereka (ke Wuhan atau Cina pada umumnya) tanpa dikenakan potongan biaya.

Baca juga: Antisipasi Coronavirus, Cathay Pacific Izinkan Pramugari Kenakan Masker

Belakangan, kekhawatiran memang semakin meningkat terkait penyebaran virus corona yang telah menewaskan sedikitnya 17 orang di Cina. Tak hanya itu, hingga kini, setidaknya 600 kasus juga telah dikonfirmasi, dengan 15 atau lebih pekerja medis terinfeksi melalui kontak antar manusia.

Wabah ini diduga pertama kali dimulai lewat pasar hewan hidup di Wuhan. Sebagian besar kasus berada di pusat kota itu sendiri, yang saat ini telah secara efektif diisolasi. Penerbangan, kereta api, dan angkutan umum semuanya telah dihentikan. Tak ada yang boleh keluar masuk kecuali urusan sangat penting.

Sebaran virus corona belakangan ini juga telah dilaporkan di Shanghai, Beijing, dan Hong Kong, dengan kasus-kasus lainnya juga dikonfirmasi di Jepang, Thailand, dan Korea Selatan. Selain itu sebuah kasus telah dikonfirmasi di Seattle, Washington, oleh mereka yang baru pulang dari Cina.

MRC Centre Imperial College untuk Global Infectious Disease Analysis percaya jumlah kasus aktual jauh lebih tinggi. Pada 18 Januari 2020, mereka memperkirakan di Wuhan saja sudah ada sekitar 4.000 kasus.

Dengan jutaan orang yang bepergian untuk merayakan Tahun Baru China pada 25 Januari dan Festival Musim Semi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan akan lebih banyak kasus akan terjadi. Dikutip dari laman independent.co.uk, Jum’at (24/1), berikut tips dan ulasannya.

Tentang Virus Corona
Virus corona yang menjangkit di seluruh dunia saat ini adalah virus corona jenis baru. Coronavirus, (disingkat CoV) disebut demikian karena, di bawah mikroskop, ia tampaknya memiliki pinggiran melingkar.

Biasanya coronavirus atau virus corona menyebabkan pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, demam, dan apa yang oleh Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) disebut sebagai “perasaan tidak sehat”. Ia (CDC) menambahkan, “Kebanyakan orang terinfeksi virus ini di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Penyakit-penyakit ini biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat.”

Meskipun demikian, coronavirus diduga dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan bawah, mirip seperti pneumonia, terutama bagi mereka yang sangat muda (anak-anak) atau tua dan mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Bagaimana cara penularannya?
Public Health England (PHE) pernah mengatakan, “Karena WN-CoV baru-baru ini diidentifikasi, saat ini terdapat informasi terbatas tentang rute transmisi yang tepat.

“Coronavirus terutama ditularkan oleh saluran pernapasan besar dan kontak langsung atau tidak langsung dengan objek yang terinfeksi.”

Walaupun belum banyak penelitian membuktikan cara penularannya, disarankan agar tetap waspada. Selain itu, tak ada salahnya bila satu sama lain berasumsi bahwa partikel-partikel udara yang dikeluarkan oleh orang yang sakit dapat menyebabkan orang lain tertular.

Seberapa cepat seseorang dapat dikatakan terinfeksi?
MRC Centre mengatakan bahwa penetapan antara infeksi dan deteksi adalah 10 hari – terdiri dari masa inkubasi lima hingga enam hari, dan diperkirakan penundaan empat atau lima hari dari timbulnya gejala hingga deteksi dan perawatan di rumah sakit suatu kasus.

Wakil Menteri Departemen Kesehatan Nasional Cina, Li Bin, mengatakan, “Meskipun cara penyebaran virus belum sepenuhnya dipahami, ada kemungkinan mutasi virus dan risiko penyebaran epidemi lebih lanjut.”

Apakah ini terkait dengan Sars?
Sampai tingkat tertentu. “Sindrom pernafasan akut yang parah” adalah virus corona yang menyebar, terutama di Asia Timur, pada akhir 2002 dan 2003. Hampir 800 orang meninggal selama wabah, tetapi tidak ada kasus yang dilaporkan sejak 2004.

Virus lain yang hampir sejenis, Mers atau sindrom pernapasan Timur Tengah telah mempengaruhi orang-orang di Timur Tengah, khususnya Semenanjung Arab, sejak 2012.

Apa yang dilakukan untuk mencegah penyebaran?
Organisasi Kesehatan Dunia saat ini mengatakan, “Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, WHO tidak merekomendasikan larangan perjalanan atau perdagangan.”

Namun, beberapa negara, termasuk Inggris, sudah mulai memperketat masuknya penumpang yang tiba dengan penerbangan dari Wuhan. Hal ini dikarenakan orang yang tertular virus tidak akan menunjukkan gejala apa pun selama lima hari pertama. Selain kedatangan dari langsung dari Wuhan, mereka tidak terlalu memperketat pengecekan terhadap penumpang.

Kedatangan pertama saat virus corona mulai merebak di Bandara Heathrow, London, adalah China Southern 673 pada hari Rabu 22 Januari. Petugas kesehatan pun memeriksa penumpang yang mengalami gejala coronavirus dan memberikan informasi kepada penumpang lainnya tentang gejala, dan apa yang harus dilakukan jika mereka sakit.

Jika semua penerbangan dari Wuhan dihentikan, hal itu akan lebih mempermudah kinerja otoritas bandara, mengingat saat ini, Pemerintah China sudah mulai mengisolasi Wuhan.

Di beberapa bandara lain, seperti di AS, wisatawan dari Cina yang masuk lewat tiga bandara di AS – Los Angeles, New York JFK, dan San Francisco – menjalani pemeriksaan suhunya dan mengisi “kuesioner gejala” yang menanyakan apakah mereka menderita demam, batuk, atau kesulitan bernapas.

Australia juga demikian. Mereka mengatakan akan memperketat kedatangan dari Wuhan. Bandara Dubai di UEA, tempat banyak penumpang transit, mengatakan akan melakukan pemeriksaan termal pada semua penumpang yang datang dari Cina, bukan hanya dari Wuhan itu sendiri.

Di mana bandara utama di mana wisatawan yang terinfeksi mungkin berada?
Menurut analisis jadwal penerbangan oleh John Grant dari OAG, Bangkok adalah tujuan internasional paling populer dari Wuhan, diikuti oleh Hong Kong (digolongkan sebagai kedatangan internasional meskipun merupakan bagian dari Cina), Tokyo, Seoul, dan Taipei. Adapun di dalam negeri, Guangzhou adalah bandara terkemuka untuk pelancong dari Wuhan.

Apa yang mesti diperhatikan?
Kebersihan adalah hal dasar yang harus diperhatikan oleh setiap wisatawan.Harus sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin, dan menghindari hidangan daging dan telur yang belum dimasak dengan matang.

Selain itu, jangan lupa untuk mengenakan masker yang teruji secara medis dapat memberikan perlindungan bagi pemakainya (bukan sembarang masker) dan bisa melindungi pengguna jika berhadapan langsung dengan orang yang terinfeksi.

Bagi siapa pun yang merasa bahwa mereka mungkin telah tertular virus tersebut, Dr Nick Phin, wakil direktur Layanan Infeksi Nasional PHE, mengatakan, “Orang tersebut harus mencari pertolongan medis jika mereka mengalami gejala aneh pada pernapasan dalam 14 hari setelah mengunjungi Wuhan, baik di Cina atau saat mereka kembali ke negara asal.”

Ingin melakukan perjalanan ke Asia. Apa saja pilihannya?
Perjalanan ke Wuhan tidak mungkin dilakukan sampai wabah dianggap terkendali, dan setiap pelancong yang tetap pergi ke sana, menentang saran dari Departemen Luar Negeri, tidak akan ditanggung oleh kebijakan asuransi perjalanan standar.

Maskapai yang melayani Wuhan sendiri menawarkan pengembalian dana, dengan sebagian besar dari mereka tidak mengenakan potongan biaya apapun. Adapun perjalanan ke tempat lain di Cina dan wilayah sekitarnya, tidak ada hak umum untuk pengembalian dana dari para maskapai yang bersangkutan.

Seorang juru bicara British Airways mengatakan, “Kami memantau situasi dengan cermat, dan penerbangan kami terus beroperasi seperti biasa. Seperti maskapai lain, kami berhubungan erat dengan pemerintah dan organisasi kesehatan dan mengikuti saran mereka.”

Baca juga: Coronavirus Menyebar! Air China Cek Langsung Kesehatan Penumpang di Dalam Kabin

Beberapa perusahaan menawarkan fleksibilitas. IHG, jaringan hotel global yang meliputi Holiday Inn, InterContinental, dan Kimpton, memungkinkan pembatalan bebas penalti untuk pemesanan hotel dan sejenisnya di daratan Cina, Hong Kong, Makau, dan Taiwan, hingga 3 Februari 2020 mendatang.

Mereka mengatakan kebijakan itu “sebagai tanggapan terhadap wabah coronavirus baru-baru ini dan untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan karyawan kami”.