Boeing 777-300 Swiss Airlines Tertahan 26 Jam Akibat Bird Strike

Belum lama ini, maskapai Swiss International Airlines dilaporkan mengalami bird strike atau serangan burung pada penerbangan LX-40 dari Bandara Zurich (ZRH), Swiss ke Los Angeles International Airport (LAX), Amerika Serikat. Anehnya, insiden bird strike baru diketahui setelah pesawat mendarat mulus di LAX.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Selama perjalanan, tak ada laporan apapun mengenai pilot, entah peristiwa tersebut terjadi dengan begitu cepat, sehingga membuat pilot tak sadar akan insiden bird strike yang menimpa pesawatnya atau bird strike belum membuat pesawat mengalami kerusakan hingga pesawat mendarat. Beruntung, insiden tersebut tidak sampai menyebabkan kecelakaan fatal dengan beberapa korban jiwa dan luka.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman avherald.com, Selasa, (10/3), maskapai yang menjadi bagian dari Lufthansa Grup ini kemudian harus menjalani proses cukup lama, hingga 26 jam. Pesawat dengan kode registrasi HB-JNI tersebut disinyalir mendapatkan masalah pada salah satu mesin General Electric GE90-115BL1. Akibat kejadian tersebut, penerbangan berikutnya, dengan flight number LX-41, terpaksa harus dibatalkan.

Setelah pemeriksaan intensif, pesawat 777-300ER yang baru berusia dua tahun tersebut akhirnya dapat terbang kembalil ke Zurich dengan penerbangan LX-5041.

Meskipun belum ada keterangan lebih lanjut kapan dan bagaimana proses terjadinya bird strike pada maskapai yang juga biasa disingkat SWISS tersebut, namun, besar kemungkinan, insiden itu terjadi menjelang pesawat turun landas di Bandara Los Angeles International Airport.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas ataupun turun landas. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, dalam rentang waktu 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Baca juga: Tiga Manfaat Drone di Bandara, Nomor Dua Taruhannya Nyawa

Oleh karenanya, pada tahun 2017 lalu, salah satu bandara di Kanada, Bandara Internasional Edmonton, sampai harus menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir kawanan burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara. Drone tersebut dikendalikan dari jarak jauh dan berhubungan langsung dengan otoritas bandara untuk memaksimalkan fungsinya. Teknologi ini pun didaulat menjadi pionir karena belum ada yang menggunakan The Robird, nama dari robot drone pengusir burung tersebut, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.

Dari segi desain, The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam jumlahbesar, seperti burung camar dan angsa. Bahkan, selain menakut-nakuti burung, The Robird Drone juga dapat ‘memaksa’ kawanan domba untuk menjauh dari bandara.

Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

Direktur utama (Dirut) Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu terkait pengaruh diskon atau penurunan harga tiket terhadap demand penumpang. Diskon yang berikan tersebut memang baru berlaku sejak 1 Maret 2020 lalu.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

“Kita masih memonitor impact dari diskon apakah terjadi lonjakan atau tidak terjadi lonjakan, tapi penumpang yang mau berangkat, disubsidi. Intinya kita masih mau liat lah,” katanya kepada KabarPenumpang.com, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, selain insentif tersebut baru saja dimulai (dan berakhir pada 31 Mei 2020), karakter penumpang di Indonesia juga patut dijadikan tolok ukur untuk melihat sejauh mana pengaruh insentif tersebut. Pasalnya, karakter travelers (penumpang) di Indonesia lebih pada weekend travelers.

“Banyak yang nanya tiap hari, ‘gimana pak perkembangannya?’, saya bilang, tunggu dulu deh karena banyak travelers kita itu weekend travelers. Jumat, Sabtu, Minggu. Kenapa, karena mereka pulang kampung, datangi kawinan, reuni, liburan singkat, macem-macemlah, mayoritas banyak sekali dilakukan di weekend,” jelasnya.

“Jadi kalau Anda lihat kan, ramai sekali Cengkareng itu Jumat sore Sabtu pagi. Ramai lagi Minggu malam, karena orang pada pulang. Nah itu kita liat impactnya begitu,” tambahnya.

Selanjutnya, direktur yang baru menjabat pada 22 Januari 2020 lalu tersebut juga menegaskan, bahwa insentif yang diberikan bukan semata pada lonjakan penumpang. Celakanya, hal tersebut (tolok ukur lonjakan penumpang sebagai tujuan utama dan satu-satunya program pemberian insentif) justru yang terjadi pada banyak orang.

“Tapi yang ingin saya sampaikan yang orang suka salah ngerti, dengan memberikan insentif itu, negara hadir, ga seperti zaman-zaman dulu ada ini itu komentator aja yang banyak. Kali ini negara hadir. Bahwa kehadiran negara itu masyarakat itu tidak mau ambil, ya bukan urusan negara karena negara harus hadir,” tegasnya.

Oleh karenanya, ia pun mengajak semua kalangan, khususnya pihak-pihak yang masih menunggu atau menahan diri untuk bepergian apalagi pihak yang selama ini mengeluh harga tiket mahal, agar memanfaatkan momentum tersebut. Selain program insentifnya terbatas, hal itu (mengajak semua kalangan untuk memanfaatkan insentif tersebut) juga untuk memulihkan kondisi penerbangan dan pariwisata nasional.

“Saya pikir mestinya diapresiasilah. Jadi orang yang ga mau pergi, pergilah. Yang selama ini ribut di media sosial, mahal, mahal, ini dikasih murah ga pergi juga. Sebetulnya Anda mau pergi atau ga pergi sih?,” ujar Dirut yang juga jebolan ITB tersebut, dengan nada sedikit humor.

Baca juga: Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

Sebagaimana rilis yang terima redaksi KabarPenumpang.com sebelumnya, maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.

Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.

Transit di Denpasar, Malindo Air OD171 Dikonfirmasi Situs Kesehatan Australia Terdampak Corona

Nama Malindo Air (Lion Air Group) belakangan sering dikaitkan dengan imbas virus corona, seperti belum lama ini, Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, sedang mencari data seluruh penumpang pesawat Malindo Air rute Denpasar – Melbourne pada penerbangan Jumat, 28 Februari 2020, setelah seorang penumpangnya diketahui positif terjangkit virus corona. Penumpang wanita berusia 30-an tahun ini baru kembali dari Iran melalui Bali, dan pulang ke Melbourne menggunakan Malindo Air nomor penerbangan OD177 yang mendarat di Melbourne, pukul 6 pagi.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Dan belum usai kasus di atas dan masih terkait Malindo Air, situs New South Wales (NSW) Health Government – health.nsw.gov.au, merilis informasi yang sempat menjadi perhatian netizen di Indonesia, pasalnya situs kesehatan NSW menginformasikan beberapa penerbangan yang terkait tujuan Sydney dan telah terkonfirmasi adanya kasus virus corona (Covid-19).

Diantara penerbangan-penerbangan yang disebutkan dalam tabel, tertera Malindo Air dengan nomer penerbangan OD171. Tertulis, bahwa OD171 terbang dari Kuala Lumpur tujuan Sydney dengan transit di Denpasar, Bali. Masih data yang tertera, pesawat disebut berangkat pada 29 Februari dan tiba di Sydney pada 1 Maret 2020.

Situs kesehatan yang dikelola negara bagian tersebut juga menyebutkan close contack rows, artinya area bangku yang dekat dengan penderita dan kemungkinan bisa tertular, yaitu di kursi di baris 13, 14, 15, 16 dan 17. Malindo Air diketahui mulai membuka penerbangan Kuala Lumpur ke Sydney via Denpasar sejak 14 Agustus 2019. Penerbangan dalam kelas bisnis dan ekonomi ini dilayani setiap hari dengan menggunakan pesawat narrowbody Boeing 737-900, yang punya komposisi 12 kursi kelas bisnis dan 168 kursi kelas ekonomi.

Informasi yang dirilis situs NSW Health, sontak membuat perhatian netizen di Indonesia, lantaran pesawat OD171 transit di Denpasar dan belum diketahui informasi penanganan lebih lanjut atas rilis informasi ini.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Seperti halnya maskapai-maskapai lain, Malindo Air juga terimbas sepinya penumpang, bahkan maskapai yang berbasis di Malaysia ini mengeluarkan kebijakan untuk memotong gaji karyawan hingga 50 persen. Kebijakan itu juga mencakup penangguhan penerbangan, penundaan pembayaran terhadap pemasok, hingga meminta staf menjadi sukarelawan untuk cuti tidak dibayar.

Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

Imbas ditutupnya rute dari dan ke Cina, umrah, dan beberapa rute jarak jauh lainnya, Garuda Indonesia praktis hanya bisa memarkirkan armada widebody-nya. Namun, pesawat yang biasa didedikasikan untuk long range route atau ultra long range tersebut kini mulai digunakan untuk rute-rute gemuk Garuda Indonesia, seperti misalnya Jakarta-Denpasar.

Baca juga: Tegas! Ini Tanggapan Dirut Garuda Indonesia Terkait Pengaruh Diskon Tiket Pada Demand Penumpang

“Jadi beberapa rute yang gemuk, kita ganti dengan pesawat lebih besar. Contohnya, rute Jakarta-Denpasar. Sebelumnya pakai Boeing 737 kita ganti dengan Airbus (A-330-300 dan A330-200),” ujar Irfan kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantornya, di Garuda Indonesia Kebon Sirih, beberapa waktu lalu.

Selain bagian dari strategi atau recovery plan Garuda Indonesia dalam menghadapi kondisi penerbangan global yang memburuk, lanjut Irfan, pengoperasian armada widebody untuk rute-rute domestik (Jakarta-Denpasar) juga merupakan sebuah respon dari maskapai atas berbagai masukan dari masyarakat, dalam hal ini untuk menjajal layanan pesawat widebody.

“Ini (kebijakan pengoperasian armada widebody untuk rute domestik) juga merespon feedback dari penumpang, ‘kok saya naiknya pesawat kecil, narrowbody style’ maunya naiknya widebody. Saya bilang, narrowbody kan enak, karena dia kan kecil tiga-tiga begitu, keluarnya juga ga rebutan dengan orang. Tapi again ini masalah psikologis, jadi beberapa ada yang kita relokasi dan beberapa lainnya akan kita buka (untuk) rute baru,” tambahnya.

Redaksi KabarPenumpang.com bersama Irfan Setiaputra.

Seperti dilihat dari situs resmi Garuda Indonesia, kebijakan maskapai untuk mengoperasikan armada widebody memang benar adanya, meskipun belum seluruh rute Jakarta-Denpasar menggunakan armada widebody. Misalnya, pada penerbangan Rabu, (11/3), Garuda Indonesia memiliki total 12 keberangkatan, dimana empat di antaranya menggunakan armada widebody (Airbus A330-300) dengan konfigurasi yang beragam, mulai dari kelas ekonomi (seluruhnya dengan total 360 penumpang) serta kelas ekonomi dan bisnis. Sisanya, masih menggunakan pesawat narrowbody atau satu lorong, dalam hal ini Boeing 737-800NG.

Dari kedua pesawat tersebut, tentu saja terdapat beberapa spesifikasi yang berbeda, mulai dari kapasitas, kemampuan atau daya jelajah pesawat, kecepatan maksimal, hingga panjang dan lebar pesawat. Biasanya, perbedaan yang paling dirasakan penumpang ketika terbang menggunakan pesawat widebody dan narrowbody adalah dimensi pesawat, mengingat, pesawat Airbus A300-00 memiliki dimensi hampir dua kali lipat dibanding pesawat Boeing 737-800NG. Jadi, lebih nyaman (karena tidak merasa sempit) dalam menemani penerbangan, sekalipun untuk jarak pendek.

Sebetulnya, kebijakan Garuda Indonesia untuk menggunakan armada widebody untuk rute domestik dengan durasi kurang lebih 1 jam 30 menit bukanlah kebijakan baru. Pada tahun 2015 lalu, national flag carrier tersebut juga pernah menerapkan kebijakan serupa. Hanya saja, kala itu untuk periode yang cukup singkat, yakni 14-17 Agustus saja, bukan untuk periode yang cukup lama seperti sekarang ini.

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Kebijakan tersebut tentu saja bukan tak berisiko. Bila okupansi rendah, maka akan sangat merugikan maskapai, mengingat biaya operasional armada widebody jauh lebih besar ketimbang armada narrowbody. Begitupun sebaliknya, bila okupansi atau load factor tinggi, maka maskapai bisa memetik profit luar biasa. Skema bisnis seperti ini juga bukanlah barang baru. Pada tahun 1927, maskapai legendaris, Pan American (Pan Am), juga pernah melakukan strategi bisnis seperti itu dan berhasil mencapai profit luar biasa.

Di dunia, dalam hal ini terkait respon maskapai terhadap virus corona, kebijakan memaksimalkan armada widebody karena banyaknya armada tersebut yang grounded akibat sepinya penerbangan, juga sebetulnya sudah mulai dilakukan oleh beberapa maskapai besar, seperti United Airlines, American Airlines, Delta Airlines, dan Air Canada.

Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Pada 3 maret 2020, lokomotif uap tercepat di dunia dan pernah menjadi pemegang rekor resmi merayakan 82 tahunnya sejak dikeluarkan dari Doncaster Works. Lokomotif uap 4468 Mallard merupakan anggota ke 28 dari desain LNER A4 Class oleh Sir Nigel Gresley yang merupakan Chief Mechanical Engineer.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Lokomotif ini dikembangkan dari kelas A3-nya yang terpisah dari Flying Scotsman dan diselesaikan di Plant The Plant pada 2 maret 1938. KabarPenumpang.com melansir dari laman railadvent.co.uk (3/3/2020), 4468 Mallard setelah diselesaikan pada 82 tahun silam menampilkan satu peningkatan signifikan dari anggota sebelumnya dan memiliki cerobong asap ganda serta pipa blower pipa Kylachap ganda.

Fitur terbaru ini digunakan pada kecepatan tinggi di atas 100 mph atau 160,9 km per jam. Di mana peredam aliran udara dan uap buangan serta asap keluar melalui ketel lokomotif ditingkatkan yang memungkinkan mencapai kecepatan yang lebih tinggi.

Tipe A4s bahkan sudah mencapai kecepatan 114 mph atau 183,4 km perjam dan dengan peningkatan tersebut diharapkan memungkinkan melaju dikecepatan yang lebih tinggi. Setelah empat bulan melaju dengan menggunakan komponen-komponen baru, pada 3 Juli 1938 adalah hari di mana Mallard mencoba memecahkan rekor kecepatan dunia untuk lokomotif uap secepat 125 mph atau 201,1 km per jam.

Kemudian pada perjalanan kembali ke King’s Cross, setelah perbaikan di dekat Grantham, Mallard kecepatannya turun ke 20 mph atau 32,1 km per jam. Sebelum turun, Mallard sempat mencapai rekor lokomotif uap tertinggi yakni 126 mph atau 202,7 km per jam. Karena hal tersebut maka terjadi Stoke Bank diantara Grantham dan Peterborough.

Karena hal tersebut Mallard 4468 yang gagal kemudian dikeluarkan dari kereta di Peterborough untuk mendapat perbaikan. Namun rekor yang pernah di buat Mallard kini digeser dan dipegang oleh LNER A4 Pacific dan belum digeser lagi setelah itu.

Kini Mallard yang bergabung dengan A4s lainnya dengan layanan kereta normal setelah perbaikan, lokomotif uap ini menghabiskan sebagian besar perjalanannya selama 25 tahun untuk LNER dan kereta api Inggris yang mengangkut penumpang kereta East COas Mainline.

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Saat ini, lokomotif uap 4468 Mallard bentukannya masih dipertahankan dan di pajang dalam koleksi nasional pada penarikan tahun 1963. Mallard sendiri tampil di Museum Kereta Api Nasional di New Yprl yang pernah ada dengan sejumlah jalur utama yang disetujui pada akhir tahun 1980-an.

Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Garuda Indonesia semakin melebarkan sayapnya ke ujung dunia. Maskapai pelat merah tersebut kini sudah bisa mengantarkan seluruh pelanggannya, khususnya masyarakat Indonesia, ke berbagai kota di dunia lewat dua hub-nya di Eropa dan Asia Pasifik, yakni Amsterdam, Belanda, dan Tokyo, Jepang.

Baca juga: Imbas Corona Jadi ‘Berkah’ Buat Travelers untuk Nikmati Layanan Widebody Garuda Indonesia

“Nah khusus untuk orang indonesia yang ingin terbang ke tempat-tempat yang telah disebutkan (Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, Moskow) ataupun kota-kota lain, kita sekarang memperkenalkan sesuatu yang baru. Jadi Anda bisa ke sana lewat dua kota hub kita, yaitu Amsterdam dan Tokyo,” kata Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, saat ditemui KabarPenumpang.com di kantornya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3).

Direktur yang mengaku malang melintang di dunia penerbangan (sekitar 50 tahun) sebagai customer tersebut mengatakan bahwa penerbangan ke seluruh dunia bersama Garuda akan membuat pelanggannya mempunyai pengalaman terbang lebih variatif, dibandingkan rute (dengan hub) lainnya yang berbeda.

Ia pun kemudian mengambil contoh penerbangan ke Barcelona. Saat ini, masyarakat yang ingin pergi ke Barcelona, Spanyol, khususnya di Jakarta, setidaknya mempunyai dua pilihan untuk terbang ke sana. Pertama, naik Garuda Indonesia dan KLM lewat rute Jakarta-Amsterdam-Barcelona. Kedua, Jakarta-Singapura-Barcelona lewat Singapore Airlines atau maskapai lainnya. Keduanya tentu saja memiliki kelebihan masing-masing.

“Pilihan Anda kalau di Singapura cuma dua, Anda ke kota atau Anda ke Changi. Kalau ke Amsterdam, Anda punya pilihan empat. Anda di airport-nya atau Anda sehari ke Amsterdam, jalan-jalan, nonton, terus balik lagi ke airport dan ke Barcelona, atau Anda berhenti Anda ke Volendam, foto-foto Melayu berpakaian Londo Atau Anda ke Roermond, belanja factory outlet. So, pilihannya kan jelas,” tambahnya.

Hanya saja, sekalipun bisa terbang ke seluruh dunia, layaknya maskapai besar di dunia, dengan reputasi tinggi, seperti Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates Airlines, Singapore Airlines, ataupun Turkish Airlines yang semuanya mempunyai jaringan rute global terbesar, Irfan mengaku tidak begitu senang bila hanya berhasil mengantarkan orang Indonesia ke luar negeri.

Sebaliknya, sebagai national flag carrier, Irfan justru ingin Garuda Indonesia membawa orang dari mana-mana ke Indonesia, dengan berbagai destinasi andalannya. Dengan begitu, fungsi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier, yang notabene harus memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dapat tercapai.

“Saya tidak tertarik untuk bilang ke orang Indonesia itu, eh gue bisa terbang ke Moskow, saya tidak tertarik karena saya flag carrier saya lebih tertarik lebih bawa orang Rusia ke sini daripada orang Indonesia ke rusia. Itu (mendatangkan orang Indonesia ke Moskow) biar perusahaan Rusia saja yang melakukan itu. Bahwa ada beberapa itu (penerbangan ke luar negeri) iya. Tapi kita lebih tertarik itu (mendatangkan orang Rusia ke Indonesia),” jelasnya.

Baca juga: Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Jaringan global Garuda Indonesia, dengan melayani hampir ke seluruh kota-kota di dunia, sebetulnya bukan barang baru. Lewat skema yang sama (codeshare), Garuda Indonesia di era direktur utama sebelumnya, juga pernah melakukan hal serupa. Tahun 2012, misalnya, Garuda Indonesia menggandeng Etihad Airways untuk merambah jaringan yang lebih besar. Bedanya, hanya pada di hub Garuda itu sendiri. Bila dahulu, Garuda memilih Dubai (markas Etihad) sebagai hub-nya, kini, Garuda memilih Amsterdam dan Tokyo, dengan segudang destinasi favoritnya.

Codeshare sendiri adalah operasi gabungan dari dua atau lebih maskapai penerbangan untuk mengantarkan penumpang ke tujuannya. Codeshare dimungkinkan karena maskapai pada umumnya hanya melayani rute globalnya saja, bukan rute domestik di negara lain. Seumpama, China Airlines pada Juni tahun lalu mulai melayani penerbangan Jakarta-Makassar melalui skema codeshare dengan Garuda Indonesia. Jadi, warga Cina yang ingin ke Makassar (Indonesia) mula-mula terbang dengan menggunakan China Airlines ke Jakarta dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Makassar dengan Garuda Indonesia (karena China Airlines tak melayani penerbangan ke sana).

Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Pilot perempuan pertama yang berlisensi di dunia adalah Raymonde de Laroche. Dia mendapatkan lisensinya 110 tahun lalu pada 8 Maret 1910. Namun bila berkaca pada masa lalu, di tahun 2020 ini, hanya ada lima persen pilot perempuan dan 1,42 persennya adalah kapten. International Society of Women Airline Pilots mengatakan, jumlah total kapten penerbangan wanita di Eropa bahkan tidak memenuhi kebutuhan di penerbangan Boeing 747.

Baca juga: Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial

Padahal maskapai melakukan upaya bersama untuk mendorong perempuan ke kokpit. KabarPenumpang.com merangkum thepointsguy.co.uk (8/3/2020), dalam Perang Dunia II, wanita memiliki peran penting yakni The Women Airforce Service Pilots atau WASPS mengangkut dan menguji pesawat militer pada awalnya. Tahun 1960-an Bonnie Tiburzi sangat ingin terbang untuk maskapai komersial meskipun ada beberapa yang mengatakan tidak mempekerjakan wanita sebagai pilot.

Namun akhirnya Tiburzi mendapat pekerjaan sebagai pilot American Airlines wanita pertama. Dia tidak menghadapi tentangan dari rekan pria tetapi menerima surat dari istri seorang pilot yang menuduhnya mengambil pekerjaan dari seorang pria yang membutuhkan untuk memberi makan keluarganya. Saat ini, sebagian besar maskapai mendorong wanita untuk bekerja di kokpit dan diperkirakan sekitar 804 ribu pilot wanita diperlukan untuk memenuhi permintaan pada 2038 mendatang.

Jika maskapai benar-benar ingin mendapatkan persentase pilot meningkat, mereka perlu mengatasi hambatan nyata yang mencegah perempuan mengambil kursi di kokpit. Beberapa maskapai yang menyadari hal ini, menempatkan pilot wanita mereka sebagai teladan yang terlihat. Kapten Qantas Helen Ternerry mengoperasikan penerbangan Project Sunrise tanpa henti dari London ke Sydney. Ternerry diketahui sudah terbang bersama Qantas selama 31 tahun.

“Anda tidak bisa menjadi apa yang tidak bisa Anda lihat. Daripada membicarakannya, kita meletakkan gambar di sana”, kata Trenerry.

Di luar operator legacy Amerika Serikat, United Airlines memiliki jumlah pilot wanita tertinggi, yaitu 7,40 persen persen. Pilotnya berada di depan anak-anak di kelas untuk menginspirasi imajinasi mereka dari tahap awal. Maskapai ini “melibatkan gadis-gadis di seluruh dunia ketika mereka mulai memikirkan masa depan mereka sendiri sehingga mereka dapat memastikan masa depan yang kuat bagi para wanita di industri ini.

Media sosial juga membantu generasi global digital asli yang dapat melihat kehidupan perempuan dalam pesawat terbang, seperti Eva Claire Marseille (@Flywitheva), yang membawa 153 ribu pengikut dengannya saat ia menerbangkan Boeing 747 di seluruh dunia. Tetapi ada dimensi yang sangat nyata dan sering tidak disebutkan tentang menjadi seorang wanita yang dapat membuat wanita percaya bahwa menjadi pilot mungkin tidak melengkapi rencana hidup lainnya, yaitu memiliki anak.

Bahkan ada pertanyaan apakah menjadi seorang pilot dan sebagai ibu bisa berdampingan? Mungkin ada yang berargumen bahwa sejumlah pramugari bisa mengelola waktu mereka meski karir seorang pilot sangat berbeda. Namun, kedua peran itu penting untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan penumpang. Pilot memiliki jalur yang lebih panjang dan lebih keras untuk dipekerjakan dan tetap dipekerjakan oleh sebuah maskapai penerbangan.

Mereka menjalani pelatihan dan memeriksa sepanjang karir mereka, termasuk sesi simulator penerbangan intensif dan pemeriksaan jalur tahunan. Jika maskapai penerbangan serius dalam meningkatkan jumlah pilot wanita, kebijakan kerja fleksibel mereka perlu memenuhi kebutuhan wanita. Perwira pertama senior Virgin Atlantic, Adelle Roberts, terbang lama dan menghasilkan daftar 75 persen, yang cocok untuknya.

“Adalah mungkin untuk menjadi pilot dan ibu. Saya melakukannya dan saya dapat dengan jujur ​​mengatakan bahwa sepanjang karir saya, saya tidak pernah memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang luar biasa,” kata Adelle.

EasyJet telah membuat kemajuan besar dan mengatakan itu sesuai dengan tujuannya untuk 20 persen dari semua pilot yang baru direkrut menjadi perempuan pada tahun 2020. Saat ini, India menjadi pemimpin dunia yang memiliki pilot wanita sebanyak 12 persen dan dua kali lipat lebih banyak dari Amerika Serikat.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Sebagian alasannya adalah meningkatnya pertumbuhan penerbangan komersial di India, dan sebagian adalah kurangnya kesenjangan gender dalam pembayaran berkat mandat serikat pekerja, tidak seperti di industri lain di India. Organisasi pelatihan juga ikut serta dalam aksi tersebut, dan mengambil sikap aktif dalam menangani perwakilan perempuan dalam penerbangan yang kurang.

Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Maskapai global saat ini tengah mengalami kondisi sulit di tengah wabah virus corona. Demikian juga dengan maskapai-maskapai di Indonesia, khususnya Garuda Indonesia. Di tengah perjuangan untuk membayar utang sebesar Rp6,82 triliun yang akan jatuh tempo Mei 2020 mendatang, maskapai pelat merah tersebut justru diterpa beberapa cobaan yang bersumber dari Covid-19 tersebut.

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Direktur Utama Garuda Indonesia mengatakan, dalam menyikapi turunnya frekuensi penerbangan akibat sentimen penumpang (untuk bepergian) yang meningkat, sebetulnya, ia dan tim sudah menyiapkan sederet langkah kongkret dalam balutan recovery plan untuk membuat perusahaan tetap terus eksis. Salah satunya dalam memaksimalkan armada yang ada, khususnya widebody.

Pasalnya, pesawat-pesawat widebody Garuda Indonesia, yang biasanya didedikasikan untuk penerbangan ke jarak jauh, seperti ke Cina dan beberapa rute lainnya, terpaksa harus grounded akibat sepinya penerbangan. Beruntung, flag carrier Indonesia tersebut masih punya rute gemuk di pangsa pasar domestik. Hal itulah yang kemudian mendorong Garuda Indonesia untuk memanfaatkan pesawat widebody-nya di beberapa rute gemuk domestik, salah satunya Denpasar.

“Yang paling kita persiapkan (dalam recovery plan) sebetulnya Singapura. Dalam satu hari kita itu sebetulnya ada 10 penerbangan ke Singapura. Dari pagi sampai malam. Kita potong jadi lima masih sepi kita potong jadi tiga sekarang. Jadi anda bayangkan, berapa pesawat yang tidak terbang. Nah, ini yang kemudian kita lakukan recovery. Jadi beberapa rute yang gemuk, kita ganti dengan pesawat lebih besar. Contohnya, rute Jakarta-Denpasar. Sebelumnya pakai Boeing 737 kita ganti dengan Airbus,” ujar Irfan kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantornya, di Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jumat, (6/3).

Selain itu, lanjut Irfan, di samping tengah berjuang untuk tetap terus eksis di tengah anjloknya penerbangan, sebagai national flag carrier, Garuda Indonesia juga ditantang untuk kembali menghidupkan 10 destinasi prioritas, khususnya Bali, yang kehilangan banyak wisatawan, khususnya wisawatan asal Cina. Caranya, dalam waktu dekat, Garuda Indonesia berencana untuk membuka rute-rute baru dari dan ke Bali.

“Jadi kita mau buka ke India, kita juga mau buka dari Kuala Lumpur, kita juga mau buka dari Bangkok, dan Brisbane ke Denpasar, plus satu lagi Dili. Dili kita masih mikir-mikir apakah dari Denpasar ke Dili atau dari Surabaya ke Dili,” katanya.

“Problemnya, recovery plan yang sudah dibangun cukup matang oleh tim, mesti berubah lagi ketika umroh tutup. Jadi, ada lagi (yang mesti diubah). Nah problemnya umroh itu ada lagi empat jadwal kita setiap hari. Tambah lagi pesawat yang kemudian harus parkir (grounded),” tambahnya.

Baca juga: Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Meskipun tak membuka semua recovery plan yang telah disusun, Irfan menegaskan, bahwa recovery plan Garuda Indonesia dalam menghadapi anjloknya industri penerbangan akan mencakup banyak hal. Sudah begitu, recovery plan tersebut juga semaksimal mungkin akan membuat Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai penerbangan yang paling siap ketika wabah virus corona telah berakhir.

“Kita posisinya clear (di tengah wabah virus corona) kita akan cari cara untuk bisa survive dalam situasi akibat corona ini. Kita juga kepingin menjadi salah satu perusahaan yang paling siap di region ini ketika wabah ini selesai atau terlewati,” pungkasnya.

Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Industri penerbangan saat ini mulai terpengaruh akibat virus corona. Dimana-mana, maskapai penerbangan ramai-ramai mengurangi rute ataupun mengurangi frekuensi penerbangan. Bahkan, salah satu maskapai penerbangan di Inggris, Flybe, resmi dinyatakan bangkrut akibat tak mendapat suntkan modal dan demand (penumpang) yang menurun.

Baca juga: Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Terkait penuranan jumlah penumpang di tengah wabah virus corona, Irfan Setiaputra pun angkat bicara. Menurut Direktur Garuda Indonesia tersebut, saat ini, posisi dunia penerbangan di dunia bukan mengalami penurunan demand, melainkan sentimen yang meningkat.

Menurutnya dua hal itu (antara sentimen yang meningkat dengan demand yang menurun) berbeda mengingat setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bepergian. Artinya, demand tetap ada, hanya saja, karena dibatasi dengan maraknya wabah virus corona, perilaku penumpang kemudian berubah akibat sentimen penumpang untuk bepergian yang juga cenderung berubah.

“Mungkin bukan demand yang menurun tetapi sentimen yang meningkat. Keinginan bepergian itu ada dalam hati setiap orang. Tapi hari ini mungkin banyak orang mulai bertanya, perlukah saya pergi?” katanya, kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3).

Selanjutnya, direktur yang baru menjabat pada 22 Januari 2020 lalu itu juga menyoroti faktor lainnya yang membuat sentimen meningkat. Menurutnya, selain dipicu oleh keinginan pribadi, keinginan (untuk bepergian) juga pada umumnya dipicu oleh perusahaan, semisal perjalanan dinas. Ketika perusahaan menahan hal tersebut akibat sentimen yang meningkat, tentu saja perjalanan udara akan jadi berkurang.

“Yang kedua (terkait sentimen untuk bepergian yang meningkat) banyak perusahaan mengajukan untuk tahan dulu bepergian. Bukan melarang. Tahan dulu bepergian. Boleh pergi, kalau Anda merasa itu perlu. Jadi yang terjadi bukan demand yang menurun tapi terjadi sentimen yang meningkat terhadap bepergian,” tegasnya.

Di samping meningkatnya sentimen untuk bepergian yang berimbas pada penurunan jumlah penumpang, Irfan juga mengkhawatirkan industri penerbangan saat ini. Menurutnya, industri penerbangan salah satu syaratnya adalah keterbukaan. Artinya, ada interaksi antara satu negara dengan negara lainnya. Satu benua dengan benua lainnya.

Oleh karenanya, ketika keterbukaan tersebut dibatasi, seperti misalnya satu negara memblokir suatu tempat untuk berinteraksi, hal tersebut akan cukup terdampak bagi maskapai. Pasalnya, pesawat yang biasa didedikasikan untuk penerbangan ke suatu tempat (yang diblokir atau locked down) tersebut menjadi tidak terbang atau grounded. Imbasnya, pendapatan pun menurun. Sebaliknya, cost justru meningkat.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Memang situasi yang terjadi belakangan ini agak mengkhawatirkan untuk industri ini. Karena apa, salah satu syarat industri ini adalah keterbukaan. Dunia ini mestinya terbuka, tapi ketika memblokir satu tempat atau terblokirnya satu tempat atau mungkin satu negara melarang untuk berinteraksi dengan negara tersebut, mulailah persoalan-persoalan muncul,” ujar Irfan.

“Seperti contohnya pada waktu pemerintah Indonesia memutuskan menutup ke Cina. Ya artinya apa, secara teknis logistik dikitanya penerbangan ke Cina itu harus kita hentikan. Dengan penghentian tersebut, pesawat yang semestinya kita dedikasikan untuk penerbangan ke Cina, jadi ga pergi kemana-mana, parkir (grounded). Nah, begitu parkir ini menjadi cost, tidak ada lawannya, ada biaya tapi tidak ada lawannya. Ini yang menjadi persoalan,” tutupnya.

Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial

Pada Hari Perempuan Internasional, seorang pilot bernama Deborah Lawrie merayakan 50 tahun terbangnya. Dia jatuh cinta pada penerbangan ketika sang ayah memberinya dua pelajaran terbang pada ulang tahun ke-16. Deborah adalah wanita pertama yang menjadi pilot maskapai utama Australia setelah memenangkan kasus diskriminasi seks yang mencolok terhadap Ansett Airlines.

Baca juga: Madeleine Schneider, Pilot Cantik yang Punya 1,1 Juta Followers Instagram

Wanita 67 tahun ini memperoleh lisensi pilot swasta pada tahun 1971 atau ketika dia berusia 18 tahun dan lisensi pilot komersial dua tahun setelahnya yakni 1973. Dia mencatat 2600 jam terbang dan menjadi instruktur penerbangan umum dan pilot charter tahun 1976. Dilansir KabarPenumpang.com dari abc.net.au (8/3/2020), meski Ansett Airlines saat itu menolak, tapi tahun 1980 dia akhirnya bekerja di sana sebagai pilot.

“(Reg) Ansett menjalankan perusahaan dan dia sangat anti-wanita. Alasan utamanya adalah dia menganggap mereka tidak akan aman. Mereka mencoba banyak argumen. Bahwa perempuan cenderung panik atau bahwa kita akan lari dan memiliki bayi. Ansett bahkan berpendapat di Komisi bahwa anting-antingnya bisa menjadi bahaya keselamatan jika mereka tertangkap di sisi pesawat jika terjadi evakuasi darurat,” kata Deborah.

Bahkan di hari Perempuan Internasional Deborah mengaku saat ini baru mengerti arti dari apa yang dia raih dengan menerbangkan pesawat.

“Aku menoleh kebelakang dan aku bertanya-tanya bagaimana aku melakukannya. Tapi kamu tahu, ketika kamu muda, kamu tidak terlalu khawatir tentang konsekuensinya. Kamu terus berjalan,” Kata dia.

Di Ansett Airlines, Deborah ternyata pernah menerbangkan pesawat McDonnell Doiglas DC-9 dan Boeing 727. Tahun 1989 dirinya mengundurkan diri secara setelah kasus sengketa pilot Australia.

Dia kemudian menjadi instruktur pilot dan tahun 1993 pindah ke Belanda serta bergabung dengan KLM sebagai pilot Fokker 50. Tahun 1994, dia menjadi instruktur Fokker 50 dan pada 1998 dirinya menjadi Manajer Keselamatan Penerbangan dan Investigator Keselamatan Penerbangan untuk KLM Cityhooper. Pada Tahun 2007 dia telah menjadi kapten senior Airbus A330 di KLM.

Deborah menambahkan, saat berada di KLM, maskapai Belanda tersebut tidak ada masalah dalam mempekerjakan pilot wanita. Tahun 2008, dirinya kembali ke Australia dan bergabung dengan Jetsar Airways. Pada Juli 2012 ia bergabung dengan Tigerair Australia dan saat ini menjadi Kapten dan instruktur Airbus A320. Saat ini bisa dikatakan Deborah menjadi pilot wanita tertua yang masih terbang bersama maskapai komersial besar.

“Tidak ada tempat lain di dunia selain Australia dan Selandia Baru di mana Anda dapat terbang melewati usia yang merupakan hari ulang tahun terakhir saya sehingga saya yang tertua di dunia,” katanya.

Namun hingga saat ini dirinya belum berniat pensiun, bahkan, selalu mengatakan tiga tahun lagi tapi tidak dilakukannya. Tahun lalu, wanita kelahiran 14 Mei 1953 ini diangkat menjadi Anggota Ordo Australia dalam Penghargaan Ulang Tahun Ratu karena “layanan signifikan terhadap penerbangan dan bagi wanita dalam profesi”.

“Itu benar-benar kejutan yang luar biasa. Saya merasa sangat tersanjung dan itu indah untuk mendapatkan pengakuan itu,” ujarnya.

Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak

Ketika dunia merayakan Hari Perempuan Internasional, dia mengatakan segalanya berubah dan sekarang jauh lebih mudah bagi pilot wanita muda untuk mendapatkan pekerjaan.

“Saya pikir secara umum masyarakat lebih menerima wanita masuk ke peran yang berbeda. Saya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam seluruh karir saya, saya telah melihat seorang wanita mengisi bahan bakar pesawat, yang belum pernah saya lihat sebelumnya,” tambah Deborah.