Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Airbus belum lama ini dilaporkan tengah mengujicoba program ‘fello’fly’ yang terinspirasi dari angsa untuk mencapai konsumsi bahan bakar pesawat yang lebih rendah sekaligus mengurangi polusi. Program tersebut adalah terobosan dalam sebuah penerbangan dimana dua pesawat terbang secara bersamaan dan berdekatan untuk membentuk formasi “V” dalam penerbangan jarak jauh, layaknya angsa yang bermigrasi.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Program tersebut adalah salah satu dari banyak proyek yang dilakukan di banyak industri, tak terkecuali di industri penerbangan, yang bertujuan untuk mengeksplorasi manfaat biomimicry, yakni praktik menyadur desain atau teknologi apapun yang ditemukan di alam untuk mendukung kemajuan teknologi manusia.

Dikutip dari simpleflying.com, Selasa, (17/3), uji coba tersebut dilakukan pada Kamis pekan lalu. Menurut tweet yang diposting oleh A350Blog, kala itu, Airbus A350 dikerahkan dalam penerbangan tunggal yang memakan waktu 11 jam, dimulai dari Toulouse-Islandia-Greenland-Kanada dan kemudian kembali ke Toulouse. Uji coba pertama memang sengaja dilakukan dengan formasi tunggal untuk mengumpulkan data serta menjadikannya sebagai pembanding dengan formasi ‘fello’fly’ yang sedikitnya melibatkan dua pesawat.

Pada keesokan harinya, Jumat, uji coba kedua dimulai. Saat itu, Airbus mengerahkan dua armada A350-nya untuk mengarungi penerbangan yang mirip dengan uji coba pertama, mulai dari jarak, rute, kecepatan, hingga manuver pesawat di udara. Bedanya, pada uji coba kedua ini pesawat mulai membentuk formasi “V” dalam balutan program ‘fello’fly’ layaknya angsa yang bermigrasi. Dalam aplikasinya, pesawat terbang dengan kecepatan dan ketinggian yang sama, dimana satu pesawat berada di depan dan pesawat lainnya berada diagonal di belakang.

Sebetulnya, ide tersebut sudah ingin diterapkan sejak lama. Hanya saja, saat itu, teknologi yang ada belum mendukung. Pasalnya, dalam uji coba formasi tersebut, pesawat terbang beriringan dengan jarak hanya 1,5nm (Nautical Miles) atau sekitar 2,7 kilometer di sebelah kiri belakang, jauh lebih kecil dari batas lima nm atau sembilan kilometer yang ditetapkan oleh FAA saat ini. Setelah teknologi pendukungnya ditemukan, barulah kemudian serangkaian uji coba serupa dilakukan pada 2016 dan 2019 silam serta satu pekan lalu.

Gerombolan angsa terbang bersamaan serta dengan jarak saling berdekatan dan teratur membetuk formasi V. Foto: Telegraph

Dari serangkaian tes tersebut, Airbus percaya bahwa pesawat dapat mengkonsumsi bahan bakar 10-15 persen lebih sedikit untuk pesawat yang berada di belakang (pada penerbangan dengan formasi “V”) bila dibanding dengan penerbangan tunggal. Sebetulnya belum dijelaskan lebih rinci mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Hanya saja, pada uji coba di 2019 lalu, seperti dikutip Telegraph, efisiensi yang didapat oleh pesawat yang berada di belakang terjadi akibat vortices atau vorteks. Sebetulnya tidak mudah untuk menjelaskannya dengan sederhana, namun, bisa dibilang, pesawat yang berada di belakang tersebut dapat lebih efisien karena melewati massa udara yang lebih ringan dibanding pesawat yang berada di depan.

Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut, skemanya hampir mirip dengan saat mobil menerjang banjir ketika di darat. Sekilas, ketika menerjang banjir, mobil yang berada di belakang (dengan jarak yang terlalu lebar) memang terlihat lebih mudah melewati banjir karena air sudah ‘dibuka’ oleh mobil yang berada di depannya. Sama seperti pesawat, ‘lautan’ udara yang berada di atas, dalam formasi “V” sudah terlebih dahulu ‘dibuka’ oleh pesawat yang berada di depan, sehingga pesawat yang berada di belakang tidak terlalu mengeluarkan tenaga ekstra untuk melalui beratnya massa udara.

Selain itu, dalam berbagai literatur lainnya, ketika angsa migrasi dan membentuk formasi “V”, angsa yang berada paling depan memang bukan sembarang angsa, melainkan angsa yang sudah lebih dewasa dan dalam kondisi prima. Dalam perjalanan menuju tempat baru, angsa yang berada di depan memang kerap berganti-ganti.

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Adapun angsa yang berada di belakang cenderung statis atau tak berubah-ubah posisi. Dari situ memang terdapat indikasi kuat bahwa angsa yang berada di belakang memiliki beban yang lebih kecil dibanding yang berada di depan. Hal itulah yang kemudian ingin diaplikasikan pada pesawat khususnya dalam penerbangan jarak jauh.

Namun, hal tersebut, mengelompokkan pesawat dalam dua rute yang sibuk, memang tak mudah. Selain pesawat harus lepas landas secara bersamaan, lalu lintas udara serta konsistensi pesawat dalam menjaga jarak, baik ketika autopilot maupun underpilot, harus mencapai tingkat sesempurna mungkin. Bila tidak, insiden buruk bukan tak mungkin akan terjadi. Namun, bila berhasil, efisiensi akan menjadi daya tarik sempurna maskapai untuk menerapkan skema tersebut. Airbus sendiri berharap, inovasi tersebut dapat diterapkan mulai pertengahan tahun 2020 mendatang.

Jilat Jemari dan Pegang Tiang Kereta Bawah Tanah, Pria ini Mendapat ‘Kutukan’ dari Netizen!

Tindakan menjijikkan dilakukan seorang penumpang di dalam kereta bawah tanah di tengah merebaknya virus corona di berbagai negara baru-baru ini. Pria tersebut kemudian menjadi viral setelah terekam dalam sebuah video. Padahal virus corona sendiri diketahui menular melalui cairan tubuh dan dapat hidup di permukaan di mana saja antara beberapa jam hingga beberapa hari.

Baca juga: Kereta Terakhir Selamatkan Wisatawan Asal Singapura dari Isolasi Coronavirus di Wuhan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber thesun.co.uk (11/3/2020), dalam video tersebut pria ini terlihat memegang sebuah kaleng bir. Kemudian dia membuka maskernya dan menjilat jari-jari tangan dan memegang tiang yang ada di depan dirinya.

Pria tersebut mengusap-usap tangannya pada tiang pegangan di gerbong kereta bawah tanah. Karena videonya tersebar, pria itu ditangkap pihak kepolisian Belgia pada Sabtu (14/3/2020) kemarin.

Postingan video perlakuan menjijikkan tersebut diunggah ke twitter oleh akun @Soufoff dengan caption, “[Lihatlah orang ini] yang pasti terkontaminasi dengan virus corona melakukannya di transportasi umum! Jangan menyentuh tiang penyangga lagi! ”

Otoritas transportasi Belgia, Societe des Transports Intercommunaux de Bruxelles (STIB-MBIV) yang menjalankan metro Brussel mengatakan, saat pria tersebut melakukan tindakan menjijikkan itu, dia tengah dalam kondisi mabuk. Mereka juga men-tweet bahwa Metronya dibersihkan setiap hari.

“Kereta bawah tanah kami ditarik dari layanan untuk didesinfeksi dan kami membersihkannya setiap hari,” ujar BITC dalam tweetnya.

Melihat video ini, banyak warganet yang marah dengan perilaku pria tersebut. Para warganet merekomendasikan hukuman pidana karena virus corona sudah mulai menyebar lokal di Belgia. Belgia saat ini memiliki 314 kasus dan satu kematian akibat virus corona.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Sedangkan di Inggris hingga saat ini sudah mengumumkan ada 456 kasus dan enam kematian. World Health Organization (WHO) menyarankan orang untuk tidak menyentuh wajah mereka dengan tangan yang tidak dicuci dan menjaga jarak setidaknya satu meter dengan orang yang sedang batuk atau bersin. Cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit ini adalah sering mencuci tangan dengan sabun dan air, setidaknya selama 20 detik, dan menggunakan gel pembersih tangan.

Hong Kong Airlines, Maskapai Malang yang Hampir Jajal Airbus A380

Virus corona atau Covid-19 telah membuat keuangan maskapai global kembang kempis. tak mengherankan bila sebagian besar rencana perusahaan (maskapai) batal karenanya. Tak terkecuali dengan Hong Kong Airlines yang dilaporkan pernah berencana membeli pesawat terbesar di dunia, Airbus A380.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Menurut laporan simpleflying.com, pada tahun 2011, Hong Kong Airlines memang berencana untuk membeli pesawat tersebut sebanyak 10 unit. Hal itu dilakukan guna menyiasati kondisi ekonomi global yang saat itu dinilai akan memasuki periode cemerlang, sekalipun nyatanya, pada saat itu, ekonomi global tengah terpuruk akibat krisis keuangan global.

Keputusan tersebut tentu menjadi sebuah perjudian besar maskapai. Bila analisisnya tepat, maskapai mungkin akan dengan mudah menyalip kompetitor terkuatnya, Cathay Pacific. Selain itu, bila berhasil, Hong Kong Airlines mungkin bisa saja mendapat julukan baru sebagai Emirates dari Asia Timur, sebagai sebuah lompatan besar setelah sebelumnya sudah memiliki armada beberapa Airbus A330 untuk mendukung ruter-rute gemuk antara Asia dan Eropa. Sebaliknya, bila meleset, mungkin maskapai akan semakin jauh tertinggal dengan kompetitornya tersebut.

“Kami pikir hubungan bisnis antara Asia dan Eropa akan sangat menarik untuk beberapa tahun ke depan, setelah krisis (ekonomi) saat ini berakhir. Kami berencana untuk apa yang akan terjadi setelahnya,” kata Kepala Tata Kelola Perusahaan Hong Kong Airlines, Kenneth Thong, seperti dikutip dari Traveler Weekly pada 2012 lalu.

Di samping untuk mempersiapkan strategi bisnis setelah krisis ekonomi berakhir, maskapai juga melihat bahwa kecenderungan penumpang untuk menikmati kelas bisnis dalam menemani perjalanan mereka juga meningkat. Karena Airbus A330 dinilai tak cukup ruang untuk memberikan berbagai layanan menarik, maskapai pun memutuskan untuk membeli Airbus A380 karena dimensi besarnya yang membuat maskapai bisa lebih leluasa untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan di kelas bisnis.

Meskipun terdapat beberapa perbedaan, saat itu, Hong Kong Airlines disinyalir menggelontorkan uang sebanyak Rp 50,8 triliun untuk 10 unit Airbus A380. Kala itu, rencananya, pesawat pertama akan mulai dikirim empat tahun berselang atau pada 2015 dimana, pesawat terbesar itu akan dikerahkan pada rute dari Hong Kong ke London Gatwick.

Jelang setahun pengiriman, maskapai akhirnya memutuskan untuk mengubah model bisnis, dari semula rute-rute jarak jauh (dengan menggunakan Airbus A380) menjadi penerbangan jarak pendek di sekitaran Asia Tenggara menggunakan Airbus A320neo dan A321neo. Adapun Airbus A380 yang sudah terlanjur dipesan dialihkan ke pelanggan lainnya, seperti Emirates dan ANA.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

Bila melihat dari kondisi sekarang, dimana maskapai dengan popularitas di rute-rute jarak jauh justru sangat tertekan (dibanding rute-rute pendek) akibat turunnya minta penumpang di tengah wabah virus corona, Hong Kong Airlines mungkin bisa saja dibilang selamat dari blunder (dengan tidak jadi membeli Airbus A380).

Namun, karena Hong Kong Airlines telah dinyatakan bangkrut pada akhir Desember lalu, keputusan batalnya pembelian pesawat terbesar itu mungkin bisa saja juga sebagai salah satu blunder, mengingat, maskapai tersebut jadi salah satu maskapai yang dipastikan tak pernah menjajal mewahnya Airbus A380.

Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA, salah satu sumber informasi terkait bisnis yang paling terpercaya di dunia untuk industri penerbangan dan perjalanan, memperingatkan pada seluruh maskapai global untuk segera melakukan berbagai manuver untuk dapat terus bertahan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Bila tidak, konsultan yang tak ingin disebutkan namanya tersebut memprediksi bahwa sebagian besar maskapai akan bangkrut akhir Mei mendatang.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Dilansir Bloomberg, konsultan yang berbasis di Sydney, Australia tersebut memperkirakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang. Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Di samping itu, bagi armada yang tetap terbang, lebih dari separuhnya kosong atau load factor rendah. Padahal, dalam sekali jalan, pada umumnya, maskapai hanya mengambil margin sekitar lima persen dengan load factor rata-rata di atas 70 persen. Tentu saja, terbang dengan load factor rendah hanya akan membuat reveneu atau pendapatan menurun. Ujungnya, bisa ditebak, bisa saja setiap penerbangan hanya membuat maskapai rugi.

Di saat yang bersamaan, maskapai tetap membutuhkan uang tunai untuk menghidupi kegiatan operasional harian mereka. Jika sudah begitu, maskapai memang tak mempunyai opsi lain kecuali berhutang semata untuk mendapatkan dana segar.

Hanya saja, konsultan dari CAPA tersebut mengambil pengecualian atas hipotesanya tersebut, bahwa maskapai mungkin saja dapat bertahan lebih lama (dari sekedar sampai akhir bulan Mei), bila pemerintah di masing-masing negara turun tangan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan mereka.

“Tindakan pemerintah dan industri yang terkoordinasi diperlukan – sekarang – jika ingin menghindari bencana. Kalau tidak, keadaan dari krisis akan memasuki periode medan perang yang brutal dan penuh dengan korban,” katanya.

Sebagian besar operator terbesar di AS, Cina, dan Timur Tengah, lanjutnya, cenderung dapat bertahan atas dukungan pemerintah serta sokongan dana pribadi dari pemiliknya. Khusus untuk Cina, setidaknya hal itu (pernyataan bahwa maskapai di negara tersebut dapat bertahan) juga didukung oleh pernyataan dari Domhnal Slattery, salah satu bos leasing pesawat terbesar di dunia, Avolon Leases Aircraft.

Dikutip dari Financial Times, Domhnal Slattery mengaku saat ini pihaknya sudah dihubungi oleh banyak maskapai global. Tentu saja mereka dihubungi untuk menyiapkan skema pendaaan dalam waktu dekat guna menyelamatkan maskapai. Salah satu negara yang maskapainya masif melakukan kontak dengannya adalah maskapai-maskapai dari Cina.

Melihat dari masifnya pergerakan maskapai Cina untuk mendapatkan dana segar, ditambah sokongan dana serta berbagai bantuan non-material lainnya dari pemerintah mereka, ia pun sampai berujar kalau maskapai-maskapai besar asal negeri Tirai Bambu tersebut mustahil akan mengalami kebangkrutan. “Kebangkrutan dari maskapai besar Cina (di tengah wabah virus corona) tak mungkin. Sebab, pemerintah Cina akan turun tangan. Tidak diragukan lagi,” katanya.

Pernyataan tersebut ia keluarkan tak lama setelah maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe dinyatakan bangkrut. Maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Bangkrutnya Flybe juga menguatkan statement konsultan dari Centre for Aviation atau CAPA betapa pentingnya peran pemerintah, selain usaha dari maskapai itu sendiri, untuk menyelamatkan maskapai-maskapai di negara mereka. Bila tidak, akan ada korban lainnya yang menyusul Gemania (Jerman), Jet Airways (India), Condor, (Inggris), Hong Kong Airlines (HongKong), serta maskapai lainnya yang telah bangkrut lebih dahulu.

Virus corona belakangan memang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri penerbangan global. International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang tahun 2020.

Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon

Layanan ride hailing di Amerika Serikat ternyata menghasilkan 69 persen lebih banyak emisi CO2 atau karbondioksida. Kenaikan presentase CO2 ini karena meningkatkanya popularitas Uber dan Lyft dalam beberapa dekade terakhir. Selain itu juga laporan dari Union of Concerned Scientists mengatakan, presentase ini lebih tinggi dibandingkan sektor transportasi lainnya.

Baca juga: Pelabuhan Oslo Targetkan Kurangi Emisi Karbon Hingga 85 Persen di 2030

Presentase ini didapatkan setelah Union of Concerned Scientists melakukan analisis polusi kendaraan ride hailing di tujuh kota besar di Amerika Serikat. KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (25/2/2020), sebuah laporan yang berjudul “Risiko Iklim Ride Hailing: Mengarahkan Industri yang Berkembang menuju Masa Depan Transportasi yang Bersih,” bahkan telah membandingkan emisi dari perjalanan mobil pribadi dengan emisi dari perusahaan moda transportasi di daerah perkotaan yang padat di mana layanan seperti Uber dan Lyft sangat diandalkan.

Adapun kota-kota tersebut seperti Boston, Kota New York, San Francisco dan Washington DC yang mana analisisnya juga membandingkan emisi ini dengan emisi yang timbul dari angkutan umum dan moda transportasi lain yang ditukar oleh layanan ride hailing. Untuk sampai pada kesimpulan ini, para ilmuwan mengandalkan data yang tersedia untuk umum seperti survei pengguna layanan ride hailing dan literatur yang diterbitkan lainnya pada hal-hal seperti ekonomi bahan bakar armada dan apa yang dikenal sebagai “deadhead.”

Deadheading sendiri mengacu pada jarak tempuh kendaraan yang bepergian dengan naik kendaraan tanpa penumpang di dalam pesawat. Ini adalah kontributor besar untuk polusi berlebihan, menurut laporan tim, dengan perjalanan ride hailing yang tidak dikumpulkan menghasilkan hampir 50 persen lebih banyak emisi karbon daripada perjalanan rata-rata mobil pribadi.

Faktor penting lainnya adalah bentuk transportasi rendah karbon yang sering digantikan oleh layanan ride hailing demi kenyamanan termasuk berjalan, bersepeda, dan angkutan umum. Dengan memperhitungkan hal tersebut, para ilmuwan menghitung bahwa secara total, perjalanan dengan ride hailing menghasilkan emisi karbon 69 persen lebih banyak daripada rata-rata perjalanan yang digantikannya.

Sementara itu, perjalanan ride hailing kendaraan bersama antara dua penumpang, menghasilkan emisi serupa dengan perjalanan mobil pribadi. Namun akan berbeda bila perjalanan ride hailing dalam kendaraan listrik dapat mengurangi emisi sekitar 50 persen, sementara jika perjalanan itu disatukan dapat mengurangi emisi hampir 70 persen.

Kemudian para ilmuwan merekomendasikan agar industri bergerak cepat untuk melistriki kendaraan berbahan bakar listrik dan melakukan lebih banyak untuk mempromosikan perjalanan bersama. Selain itu, mereka mengatakan bahwa perusahaan angkutan barang harus melakukan lebih banyak untuk terhubung dan melengkapi rute angkutan umum, sementara pemerintah dapat mengembangkan kebijakan yang mendukung tujuan ini.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, di Perth Dibangun Halte Bus Dengan Motion Sensor

Diketahui, Uber telah melakukan lebih dari sepuluh miliar perjalanan di seluruh dunia sejak diluncurkan pada 2010, sedangkan Lyft telah menyelesaikan lebih dari satu miliar. Sementara mereka sekarang jauh lebih banyak daripada jumlah penumpang taksi di AS, para ilmuwan mengatakan banyak pelajaran ini dapat diterapkan pada industri itu juga, dengan elektrifikasi, pengumpulan lebih banyak, dan koordinasi yang lebih baik dengan layanan angkutan massal semua langkah wajar yang dapat diambil oleh operator taksi untuk membantu mengurangi polusi di daerah perkotaan.

Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Setelah Italia, Spanyol dan Singapura, kini Malaysia lockdown negaranya. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin seiring meningkatnya jumlah kasus warga yang positif terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Dari keterangan tertulis, Muhyiddin tak hanya mengumumkan kebijakan lockdown tetapi juga menjelaskan enam ketentuannya dalam upaya mengatasi virus corona ini.

1. Larangan aktivitas massa
PM Muhyiddin menyebutkan larangan umum gerakan massa dan pertemuan di seluruh negeri termasuk kegiatan agama, olahraga, sosial dan budaya. Untuk menegakkan larangan tersebut semua rumah ibadah dan tempat usaha harus tutp kecuali supermarket, pasar umum, toko serba ada dan toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Khusus untuk umat Islam, semua aktivitas keagamaan di masjid ditangguhkan termasuk shalat Jumat, sesuai hasil Rapat Komite Khusus pada 15 Maret 2020.

2. Larangan Perjalanan ke Luar Negeri
Malaysia melarang warganya yang hendak bepergian ke luar negeri. Sedangkan bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri, diharuskan menjalani pemeriksaan kesehatan dan melakukan karantina secara mandiri selama 14 hari.

3. Pembatasan Bagi Wisatawan Asing
Malaysia juga melarang Warga Negara Asing (WNA) masuk ke negaranya, selama periode lockdown berlangsung.

4. Penutupan Sekolah
Semua sekolah termasuk sekolah negeri, swasta, harian, sekolah asrama, sekolah internasional, pusat tahfiz, institusi pendidikan rendah, menengah, dan pra-universitas juga ditutup.

5. Penutupan Universitas
Penutupan juga diberlakukan Malaysia untuk Institusi Pendidikan Tinggi (IPT) negeri dan swasta, serta akademi-akademi pelatihan di seluruh negara

6. Penutupan Beberapa Institusi Pemerintah
Muhyidin mengatakan, Malaysia menutup sejumlah institusi pemerintah dan swasta kecuali yang terlibat dalam layanan penting seperti institusi yang mengurus air, listrik, telekomunikasi, pos, logistik, pengairan, minyak, gas, bahan bakar, penyiaran, keuangan, perbankan, kesehatan, farmasi, penjara, pelabuhan, bandara, keamanan dan pertahanan, kebersihan, dan bahan pangan.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Diketahui, saat ini warga Malaysia yang terinfeksi virus corona mencapai 566 kasus dan pada 17 Maret 2020 dengan penambahan 138 kasus baru. Sebanyak 42 pasien sembuh dan belum ada korban meninggal. Penambahan jumlah ini terkait adanya acara tabligh akbar yang diadakan pada 27 Februari hingga 1 Maret lalu.

Meski lockdown, Muhyiddin mengatakan akan memastikan stok bahan makanan dan keperluan termasuk masker masih mencukupi di Malaysia. Bahkan dia sudah memerintahkan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Pengguna agar terus memantau situasi stok makanan dan keperluan harian di pasaran, sepanjang Perintah Kawalan Pergerakan ini diberlakukan.

Di Tengah Isu Corona dan Cuti Tak Berbayar, Pejabat Malaysia ini Malah Terapkan Soal Kostum Syariah Bagi Pramugari

Di Tengah penyebaran virus corona yang berdampak ke berbagai industri penerbangan. Wakil Menteri Pengembangan Wanita dan Keluarga Malaysia YB Siti Zailah Mohd Yussof justru ingin menerapkan kebijakan pakaian untuk pramugari sesuai hukum syariah.

Baca juga: Setelah Gaji Senior Manajemen Dipotong, Kini Malaysia Airlines Minta 13 Ribu Karyawan Cuti Tak Dibayar

Namun hal tersebut kemudian seperti bertentangan dengan yang ada saat ini. Dimana 13 ribu staf Malaysia Airlines (MAS) harus cuti tanpa dibayar selama tiga bulan sejak bulan April 2020. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman msn.com (15/3/2020), Presiden Nufam, Ismail Nasaruddin mengatakan Siti Zailah salah waktu alias tidak tepat membicarakan masalah seragam pramugari ketika virus corona atau Covid-19 sedang merebak di dunia.

“Mengapa berbicara tentang seragam mereka sekarang ketika para wanita menghadapi begitu banyak masalah lain. Mereka bahkan tidak tahu apakah mereka masih akan memiliki pekerjaan, Jelas ini bukan waktu yang tepat,” kata Ismail.

Ismail menambahkan, masalah ini apakah akan ada kesejahteraan para awak kabin yang ada di industri penerbangan.

“Bukannya dia harusnya khawatir tentang masalah ini?” ungkapnya.

Ismail menyebutkan, citra pramugari sangat penting dan wakil menteri harus meningkatkan pandangannya tentang seragam mereka dengan maskapai serta pemangku kepentingan lainnya. Bahkan orang-orang tidak boleh lalai dalam mengangkat masalah seperti itu ketika kekhawatiran ini adalah masa depan dalam industri penerbangan.

“Mari jujur, apa yang lebih penting Kesejahteraan pramugari atau usulannya (Siti Zailah)?” kata Ismail.

“Mereka terpengaruh karena kemungkinan pemotongan gaji. Ini adalah prioritas,” tambahnya.

Seorang awak kabin yang dikenal bernama Aila mengatakan, bahwa dirinya terkejut dengan Siti Zailah yang mengubah pertanyaan tentang seragam menjadi masalah nasional. Menurut wanita 23 tahun itu, semua pramugari menyadari jenis seragam yang akan mereka kenakan bahkan sebelum mendaftar untuk pekerjaan itu. Sebagai anggota awak pesawat Malindo Air, ia menemukan seragamnya nyaman, tetapi ia dan rekan-rekannya tidak nyaman dengan Siti Zailah yang mengangkat masalah ini.

“Itu membuat kami berpikir bahwa orang memandang rendah pilihan karier kami. Tapi selama kita memiliki pekerjaan dan niat kita jelas, untuk bekerja keras dan mendapatkan uang, kita tidak harus menaruh kepercayaan pada orang lain,” ungkap Alia.

Baca juga: Malaysia Airlines Potong Gaji Senior Manajemen 10 Persen dan Tak Ada Tunjangan

Diketahui, Siti Zailah yang juga merupakan ketua sayap wanita PAS dan belum lama ini menyatakan tentang seragam yang sesuai dengan syariah. Dia juga menyebutkan ini berlaku untuk karyawan wanita muslim, sedangkan non muslim tidak masalah selama barpakaian sopan. Siti Zailah juga mengatakan telah membawa hal ini ke kantor Menteri Agama Datuk Seri Dr Zulkifli Mohamad Al-Bakri dan berharap untuk mengangkat masalah tersebut.

Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Maskapai El Al dilaporkan telah menawarkan pesawat penumpang kosong untuk penggunaan kargo. Hal itu dikarenakan maskapai asal Israel tersebut telah mengalami penurunan jumlah penumpang besar-besaran sejak wabah virus corona atau Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini.

Baca juga: Last Flight, Boeing 747-458 El Al Airlines Lukis Penampakan Indah di Udara

Dikutip dari jpost.com, Senin, (16/3), maskapai menawarkan armada Boeing 787 Dreamliner-nya untuk keperluan kargo tersebut. Selain itu, maskapai juga menawarkan armada lainnya yang lebih besar, Boeing 777. Hanya saja, tarifnya lebih mahal dibanding ‘pesawat kargo’ Boeing 787 Dreamliner. Rencananya, maskapai akan memberlakukan model bisnis seperti itu hingga beberapa waktu mendatang sampai waktu yang belum dapat dipastikan.

Dalam pengaplikasiannya, maskapai tersebut menawarkan lima hingga 10 pesawatnya untuk mendukung model bisnis tersebut, khususnya barang-barang berupa bahan mentah dan barang-barang lainnya yang urgent dibutuhkan oleh orang banyak, seperti obat-obatan dan bahan-bahan pelindung lainnya (masker dan sejenisnya).

Terkait tarif, pihak maskapai mengaku bahwa cara penghitungan (tarifnya) sama dengan ketika kondisi pesawat penuh. Seumpama, Boeing 787 Dreamliner yang mampu mengangkut sekitar 20 ribu ton kargo komersial, perusahaan yang ingin menggunakan layanan tersebut hanya perlu membayar seharga 340 penumpang. Tentu saja lebih murah bila dibanding kapasitas kargo itu sendiri (dibandingkan total berat 340 orang dengan kapasitas maksimal 20 ribu ton kargo).

Hanya saja, karena metode penghitungannya yang membuat kargo jadi lebih murah, pelanggan yang memakai jasa tersebut harus membayar untuk perjalanan pulang-pergi, sekalipun pesawat tak mengangkut muatan apapun sepulang dari bandara tujuan.

Manajer Divisi Kargo El Al, Ronen Shapira, mengatakan kepada surat kabar terbesar di Israel, Yedioth Ahronoth, bahwa hal tersebut dilakukan sehubungan dengan menurunnya jumlah penumpang di seluruh dunia dan di saat yang bersamaan, permintaan penerbangan kargo justru mengalami peningkatan. Maka dari itu, tak heran, bila maskapai sampai harus menambah jumlah operasional pesawat kargo, selain pesawat penumpang yang juga dioperasikan untuk keperluan kargo.

Meski demikian, maskapai tidak terlalu berharap banyak dari lonjakan permintaan tersebut (kargo). Terlebih untuk membantu laju keuangan perusahaan kembali ke kondisi sedia kala. Ronen mengaku, bahwa sekalipun mengalami lonjakan tajam, kargo tidak berdampak terlalu signifikan, mengingat, layanan kargo rata-rata berkontribusi sekitar delapan persen terhadap pendapatan keseluruhan El Al.

Baca juga: Lima Bulan Koma Pasca Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Hembuskan Nafas Terakhir

Virus corona belakangan memang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri penerbangan global. International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang tahun 2020.

Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Terlebih, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik.

Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan

Penyebaran virus corona atau Covid-19 di berbagai belahan dunia membuat ketakutan dan keresahan. Namun masih saja ada yang membuat hal ini sebagai bahan candaan, bahkan membuat orang lain khawatir dan panik.

Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara

Ini terjadi dalam sebuah bus di India yang mana seorang penumpang membuat tegang semua penumpang di dalamnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman gadgetsnow.com (14/3/2020), seorang mahasiswa Ph.D dari Institut Teknologi India Madras (IITM) baru-baru ini melakukan prank di dalam bus yang mengatakan dirinya terinfeksi Covid-19.

“Dia mengatakan kepada seorang penumpang yang duduk di depannya bahwa dia dinyatakan postitif Covid-19 tiga hari yang lalu sehingga membuat dia dan penumpang lainnya dalam keadaan ketakutan. Kemudian orang yang diberitahu itu menghubungi saya dan menjelaskan tentang penumpang tersebut,” kata Sampath, Direktur Epidemi, Direktorat Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan.

Sampath juga mengatakan, gadis itu pergi ke pengemudi untuk menghentikan bus dan kemudian mengumumkan kepada semua penumpang bahwa dia telah dites positif Covid-19. Bus kemudian berhenti dan gadis itu turun serta masuk ke mobil dimana teman-temannya sudah mengikuti dia.

Karena hal ini para penumpang langsung menghubungi pusat bantuan Covid-19 dan perusahaan bus mengirim bus yang berbeda. Selain itu petugas kesehatan segera bergegas ke tempat bus berhenti untuk membersihkan bus.

Masalah ini kemudian membuat petugas mencari data-data penumpang yang mengatakan dirinya positif Covid-19 tersebut. Setelah mendapat rincian pesanan tiket dan nomor telepon terlacak, gadis tersebut diberitahu untuk datang ke kantor departemen kesehatan atau pengaduan pidana akan didaftarkan terhadapnya.

“Dia datang ke kantor dan memohon bahwa dia sedang bermain permainan dengan teman-temannya yang telah menantang untuk menghentikan bus dengan menciptakan ketakutan bahwa dia adalah pasien terinfeksi virus corona,” kata Sampath.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Setelah diperingatkan dengan tegas, gadis itu dipulangkan dan diketahui para petinggi di IITM juga memperingatkannya. Sampath mengatakan, ini merupakan panggilan lelucon pertama yang mereka terima. Bahkan hal tersebut membuat kaget bahwa yang melakukannya adalah mahasiswa Ph.D dari IITM.

15 Maret 2020, Batas Waktu Jamaah Umrah Tinggalkan Arab Saudi, Bagaimana Nasib yang Tertinggal?

15 Maret 2020 kemarin adalah deadline dari pemerintah Arab Saudi untuk seluruh jamaah umrah keluar dari negara mereka. Deadline tersebut adalah kelanjutan dari keputusan negara tersebut untuk menghentikan sementara kegiatan umrah selama tahun 2020 guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) yang semakin parah.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Akan tetapi, karena satu dan lain hal, ada saja jamaah yang tak bisa kembali ke negara asal mereka, baik berkenaan langsung dengan biro travel ataupun berbagai sebab lainnya. Alhasil, jamaah yang pun masih tertahan dan tak bisa pulang. Lantas, bagaimana nasib mereka?

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, jamaah yang tidak bisa kembali ke negara asal mereka sampai waktu yang sudah ditentukan akan ditanggung seluruh beban biaya yang dikeluarkan oleh Kerajaan Arab Saudi. Hal itu dikarenakan sejak awal Januari 2020 lalu, setiap jamaah umrah sudah harus mengeluarkan biaya ekstra berupa asuransi visa umrah (Insurance Fee) sebesar Rp750.000 per orang.

Dalam prakteknya, asuransi tersebut dapat melindungi jamaah dari beberapa hal. Adapun rincian biaya asuransi visa umrah ini jamaah dapat mengklaim sebesar SR500 maksimal jika terjadi keterlambatan keberangkatan, SR5.000 maksimal jika terjadi pembatalan keberangkatan, SR10.000 maksimal jika meninggal dunia/pemulangan jenazah, SR100.000 masksimal jika meninggal dunia karena kecelakaan, SR100.000 masksimal jika terjadi kondisi gawat darurat kesehatan serta SR380 juta maksimal jika terjadi bencana besar.

Menurut salah satu sumber yang tak ingin disebutkan namanya, jamaah yang saat ini masih berada di Arab Saudi, seharusnya dapat mengklaim dana tersebut. Opsinya ada dua, bisa menggunakan syarat terjadi pembatalan keberangkatan dengan kompensasi sebesar Rp15,4 juta atau opsi kedua yang didasari terjadi kondisi gawat darurat kesehatan dengan nilai kompensasi sebesar Rp308 juta.

Hanya saja, kedua opsi tersebut bisa saja dimentahkan pihak kerajaan mengingat, mereka sudah memberikan waktu beberapa hari sebelum benar-benar menutup akses keluar masuk negara tersebut. Bila hal itu terjadi, bukan tak mungkin nasib jamaah akan terombang-ambing kecuali pemerintah masing-masing negara, dalam hal ini Pemerintah Indonesia turun tangan.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Sebelumnya, sebanyak 42 jemaah tersebut berangkat menggunakan travel Panglima Ekspres. Nur Ainiyah, salah satu jamaah Panglima Ekspres menuturkan, mereka berangkat pada 25 Februari lalu. Mereka mendarat di Madinah untuk menjalani ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Sesuai kontrak, mereka akan pulang pada 14 Maret kemarin. Namun ternyata dari pihak travel tidak menyediakan tiket untuk kepulangan tanggal 14 Maret.

Menurut pengakuan Nur, pihak travel meminta uang Rp180 juta untuk biaya tiket kepulangan 14 Maret. Nur mengatakan jamaah kompak tidak mau membayar biaya tambahan itu. Sebab mereka berpegang pada kontrak layanan jemaah umrah selama 20 hari. Sehingga biaya tiket kepulangan menjadi tanggung jawab travel. Hingga saat ini, keberadaan jamaah tersebut belum diketahui.

Redaksi KabarPenumpang.com sendiri sebetulnya sudah mencoba menghubungi Sarikat Penyelenggara Umroh dan Haji (Sapuhi) dan pihak Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI). Namun dari keduanya belum ada jawaban sebagaimana yang dimaksud.