Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

Virus corona yang mulai menyebar di Wuhan, Cina membuat puluhan ribu hewan peliharaan terjebak karena ditinggal pemiliknya untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut. Bahkan diperkirakan ada sekitar 50 ribu hewan dan semuanya berisiko kelaparan hingga kematian.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Hewan-hewan peliharaan ini tidak dibawa pemilik karena saat itu mereka pikir akan segera kembali ke rumah. Namun ternyata tidak dan akhirnya beberapa putus asa dan mencari bantuan dari tim penyelamat hewan untuk memberi makan peliharaan yang ditinggalkan tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari metro.co.uk (4/2/2020), Walikota Wuhan, Zhou Xianwang mengatakan, sebanyak lima juta orang telah meninggalkan kota menjelang Tahun Baru Imlek dan para aktivis hak-hak hewan kemudian menghitung jumlah hewan peliharaan yang ditinggalkan tersebut.

Meski hewan-hewan peliharaan itu ditinggalkan, tetapi seorang pria di Wuhan ternyata sudah menyelamatkan sekitar seribu hewan bersama dengan tim penyelamat di Wuhan. Dia mengatakan, bahwa satu keluraga telah meminta bantuannya untuk masuk ke rumah dan memberi dua kucing piaraan mereka makan.

Pria yang dipanggil Lao Mao tersebut mengatakan, dua ekor kucing itu terperangkap selama sepuluh hari tanpa makanan yang cukup ketika pemiliknya pergi berlibur. Mao menjelaskan, awalnya pemilik kucing itu hanya pergi selama tiga hari, tetapi setelah pembatasan perjalanan di seluruh negeri, mereka tidak diizinkan kembali ke Wuhan.

Ketika Mao menghubungi keluarga tersebut, mereka lega ketika tahu dua ekor kucing itu selamat dan sudah diberi makan. Meski begitu banyak juga keluarga lain yang tak seberuntung itu dan hewan peliharaan mereka tidak jelas kabarnya.

“Estimasi Perkiraan konservatif saya adalah bahwa sekitar lima ribu ekor masih terjebak, dan mereka mungkin mati kelaparan dalam beberapa hari mendatang. Relawan di tim kami, termasuk saya, telah menyelamatkan lebih dari seribu hewan peliharaan sejak 25 Januari,” ujar Mao.

Namun, Humane International Society memperkirakan jumlahnya jauh lebih tinggi dan prihatin dengan berbagai laporan yang mereka terima mengenai pemerintah daerah yang memerintahkan pemusnahan anjing dan kucing. Juru bicara Wendy Higgins mengatakan badan amal itu telah bekerja sama dengan sekitar 35 kelompok hak-hak hewan melalui saluran media sosial Cina, Weibo di seluruh negeri. Dia mengatakan mereka menerima laporan tentang pemusnahan pesanan di Beijing, Tianjin, Shandong, Heilongjiang, Hebei, Wuhan, Shanxi, dan Shanghai.

“Jika pihak berwenang setempat memutuskan bahwa anjing adalah ancaman, saya akan peduli untuk kesejahteraan anjing jalanan dan anjing rumahan,” katanya.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Princess Diamond Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Lebih dari dua ribu orang telah terinfeksi virus mematikan dan ini telah dinyatakan sebagai darurat kesehatan global. Satu orang di Filipina telah meninggal karena virus di luar Cina, yang telah diberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat dari berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia telah mengkonfirmasi tidak ada bukti bahwa anjing dan kucing dapat terinfeksi virus yang pecah di pasar daging segar di kota.

Di Tengah Ancaman Virus Corona dan Pembatalan Peserta, Singapore AirShow 2020 Jalan Terus

Pameran Kedirgantaraan dua tahunan terbesar di Asia Tenggara, Singapore AirShow 2020 akan tetap berjalan sesuai rencana, meski ada 16 peserta menarik diri dari gelaran akbar tersebut. Dari 16 perusahaan tadi, 10 di antaranya dikonfimasi berasal dari Cina, seperti China National Aero-Technology Import & Export, Beijing Implant Science & Technology, Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd (COMAC), hingga China Aviation Industrial Base.

Baca juga: Singapore AirShow 2018: Resmi Tampilkan Konfigurasi, Boeing 737 Max 10 Siap Mengangkasa di 2020

10 perusahaan asal Cina tersebut tentu saja mundur akibat dari semakin memburuknya kondisi virus corona di negaranya. Selain itu, batalnya perusahaan tersebut juga disumbang akibat dari kebijakan larangan terhadap semua pengunjung Cina yang mulai diberlakukan pemerintah Singapura, menyusul laporan kasus terbaru suspect virus corona di negeri yang bersebarangan dengan Pulau Batam tersebut.

Adapun enam peserta lainnya yang batal ikut berasal dari negara lain, termasuk perusahaan aerospace asal Kanada, Bombardier, serta produsen jet bisnis yang bermarkas di AS Gulfstream dan Textron Aviation.

Tak hanya itu, pertunjukan udara di ajang Singapore AirShow 2020 kemungkinan besar juga tidak semeriah sebelumnya, menyusul pembatalan dari tim aerobatik Angkatan Udara (AU) Korea Selatan, Black Eagles dan tim aerobatik TNI AU, Jupiter Aerobatic Team (JAT) akibat kebijakan pemerintah masing-masing dalam menyikapi virus corona.

Experia Events, penyelenggara airshow, mengatakan acara dua tahunan itu akan berjalan sesuai rencana dari 11 hingga 16 Februari dengan langkah-langkah pencegahan yang ketat. Hal itu tentu saja dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan semua peserta di tengah wabah virus corona yang sangat mengancam.

Pencegahan-pencegahan yang dimaksud, termasuk filterisasi suhu tambahan di titik-titik akses di Singapore Expo dan Changi Exhibition Centre, serta penyediaan sanitiser tangan atau pembersih tangan dan tim dokter serta petugas medis saat terdapat tanda-tanda adanya pengunjung yang terkena virus corona.

“Kesehatan dan keamanan peserta kami adalah prioritas utama. Di samping langkah-langkah tambahan ini, kami juga akan terus mengambil referensi dari pedoman yang diberikan oleh otoritas seperti Kementerian Kesehatan Singapura,” ujar Direktur pelaksana Experia Events, Mr Leck Chet Lam, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari kantor berita straitstimes.com, Kamis, (6/2).

Baca juga: Singapore AirShow 2018: Garuda Indonesia Gandeng Thales Hadirkan In Flight Entertainment

Selain itu, Singapore Airshow Aviation Leadership Summit (SAALS) 2020, program Airshow yang melibatkan 300 pejabat pemerintah, otoritas penerbangan sipil, operator bandara dan eksekutif maskapai dari seluruh dunia juga dibatalkan.

Analis penerbangan independen, Brendan Sobie, mencatat situasi masih dapat berubah, mengingat, terdapat beberapa perusahaan besar yang masih dimungkinan hadir, seperti Airbus dan Lockheed Martin sekalipun banyak peserta lainnya yang membatalkan diri.

Tuntas di 2020, PT ASDP Targetkan Digitalisasi di Semua Pelabuhan

Di tahun 2020 ini, PT ASDP Indonesia Ferry menargetkan untuk men-digitalisasi serta menerapkan cashless payment di semua lintasan pelabuhan yang dikelolanya. Hal ini dilakukan untuk mengubah industri penyeberangan menjadi lebih modern, transparan dan tertib manifes.

Baca juga: Gapasdap Minta Tiga Fungsi Pelabuhan Penyeberangan Dibagi, Ini Tanggapan ASDP

“Kita mau ikut jalur yang digunakan PT KAI dengan digitalisasi,” kata Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi, Kamis (6/2/2020).

Dia mengatakan, digitalisasi pertama kali dimulai PT ASDP yakni pada 15 Agustus 2019 kemarin di mana ketika melakukan pembayaran di Pelabuhan Merak – Bakauheni dan Ketapang – Gilimanuk tidak lagi dengan uang tunai. Ira menjelaskan pada 1 maret 2020 mendatang bahkan menurut peraturan menteri, pelabuhan milik PT ASDP sudah harus semuanya digitalisasi.

“Digitalisasi ini kan sistem yang panjang dan ini baru kita mulai pada Lebaran 2019 kemarin. Jadi belum setahun dan peningkatan sudah ada tapi masih jauh dari harapan untuk reservasi ini. 1 Maret wajib dari pemerintah jadi diharapkan ada peningkatan,” jelas Ira.

Untuk saat ini, Ira mengatakan baru empat pelabuhan utama yakni Merak, Bakauheni, Ketapang dan Gilimanuk yang sudah digitalisasi. Sedangkan untuk pelabuhan lainnya masih dalam proses untuk digitalisasi.

Ira menambahkan, pada 1 Maret 2020 juga tak ada lagi tiket go show sehingga penumpang harus reservasi melalui online baik dari website, maupun aplikasi milik ASDP. Dia mengatakan untuk reservasi tersebut nantinya penumpang bisa membeli maksimal empat jam sebelum keberangkatan kapal dari pelabuhan. Tak hanya itu, Ira menyebutkan untuk penumpang bus bila belum melakukan reservasi untuk manifestasi nama sebelum naik ke kapal akan ada buffer zone.

“Jadi kalau penumpang bus belum mendaftar melalui aplikasi, kita akan ada pojok transisi atau buffer zone ini. Petugas akan tanya dan cek kalau belum ya bisa langsung masuk melalui aplikasi,” jelasnya.

Nantinya penumpang untuk reservasi offline juga bisa melalui merchant seperti Alfamart. Ira menyebutkan, untuk yang ada di Nusa Tenggara Timur, bisa ke Kantor Pos, karena masih banyak didatangi oleh penduduk lokal. Selain men-digitalisasi pelabuhan, PT ASDP juga mulai memperbaiki beberapa pelabuhan yang berada di lima destinasi superprioritas yang sudah ditentukan pemerintah.

Baca juga: Untuk Arus Balik, ASDP Ferry Terapkan Delapan Skema di Pelabuhan Merak dan Bakauheni

“Kita akan bereskan semua seperti di Kupang, Danau Toba dan Mandalika. Pelabuhan di Kupang kita rejunivasi, ruang tunggu kita perbaiki lebih nyaman,” jelas Ira.

Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Airbus telah memperpanjang rencana penutupan pabrik perakitan terakhirnya di Tianjin, Cina, sebagai akibat dari keadaan darurat virus corona. Saat ini, salah satu dari dua jalur perakitan akhir pesawat Airbus di luar Eropa, selain di Mobile, Alabama, AS, tersebut memang tak ada tanda-tanda dimulainya kembali aktivitas perakitan pesawat.

Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara

“Fasilitas jalur perakitan akhir Tianjin saat ini ditutup,” kata Airbus dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman reuters.com, Kamis, (6/2).

Padahal, sebelum virus corona menjadi semakin mengkhawatirkan masyarakat global hingga mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menetapkan status darurat global, Airbus berencana akan membuka kembali pabrik di Tianjin pada akhir Januari, setelah tutup menjelang perayaan imlek.

Saat ini, produsen pesawat asal Perancis itu masih pada tahapan evaluasi internal sambil memantau setiap perkembangan terbaru perihal virus corona. Bila kondisi semakin tak memungkinkan (untuk memulai kembali proses produksi) Airbus mungkin akan mencari alternatif lain agar proses pesanan pesawat dari para kliennya tetap berjalan normal, khususnya pada pesawat berbadan kecil, seperti A320 yang diproduksi di pabrik tersebut.

Sebelumnya, Airbus memang pernah berujar bahwa mereka berencana untuk meningkatkan produksi pabrik perakitan di Tianjin dari semula hanya empat pesawat dalam sebulan menjadi enam pesawat. Peningkatan tersebut diharapkan mampu menutup target pengiriman, mengingat, sejak Boeing tengah terpuruk akibat 737 MAX, pesanan pesawat Airbus pada tahun 2020 memang tengah mengalami peningkatan.

Baca juga: Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Di samping itu, pada tahun lalu, Airbus juga berhasil membukukan pengiriman sebanyak 863 pesawat, terbesar dalam sejarah berdirinya perusahaan. Tentu saja Airbus ingin mempertahankan rekor tersebut, salah satunya dengan meningkatkan produksi pesawat.

Tak hanya itu, demi mengejar capain bagus di tahun 2019, mereka kini juga telah didukung oleh salah satu pesawat kargo teranyarnya, Airbus Beluga XL, yang sudah resmi mengudara pada pertengahan Januari lalu. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut diplot untuk mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; hingga Tianjin, Cina.

Ganti Direktur dan Komisaris, Bagaimana Nasib Drone Kargo Garuda Indonesia?

Eks Direktur Kargo dan Pengembangan Garuda Indonesia, Muhammad Iqbal, dalam sebuah kesempatan pernah menyebut bahwa pihaknya akan memulai fase uji coba proyek drone kargo pada Januari 2020. Proyek tersebut menggunakan drone kargo BZK-005 besutan Beihang, Cina, dan direncanakan akan menjalani fase uji coba selama tiga bulan (sampai Maret), dengan didampingi oleh perwakilan ahli dari pihak pengembang, sebelum mulai beroperasi secara komersial pada 2021.

Baca juga: Beihang BZK-005, Inilah Alasan Garuda Indonesia Pilih Drone Kargo Buatan Cina

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, terlebih, setelah perombakan jajaran direksi dan komisaris besar-besaran, proyek ambisius tersebut pun seperti hilang bak ditelan bumi. Bahkan, memasuki bulan Februari, dimana dalam roadmap direksi sebelumnya adalah bulan kedua uji coba drone kargo, belum terdapat tanda-tanda proyek tersebut akan dijalankan.

Meskipun demikian, dalam acara talkshow bersama awak media beberapa waktu lalu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menegaskan, perusahaan pelat merah yang kini dipimpinnya tersebut akan melanjutkan segala apa yang sudah baik. Adapun yang kurang baik, ia berjanji akan memperbaikinya.

Di antara perbaikan-perbaikan yang dilakukan salah satunya adalah masalah kargo. Di bawah kepemimpinannya, divisi kargo dan divisi niaga kini dibuat menjadi satu kesatuan yang dikomandoi oleh Direktur Niaga dan Kargo M. Rizal Pahlevi.

“Karena kan pesawat itu atasnya orang bawahnya barang. Jadi, kenapa ga kita satukan aja manajemennya. Jadi kargo dan niaga itu tak terpisahkan, jadi jika sewaktu-waktu penumpang menurun, kargonya bisa kita penuhin dan sebaliknya,” kata Irfan.

Namun, di antara penjelasannya tentang arah dan kebijakan Garuda Indonesia, termasuk di dalamnya terkait drone kargo, ia sama sekali tidak menyinggungnya. Bahkan, cenderung menghindari pertanyaan tersebut, sekalipun pada momen sebelumnya ia telah menegaskan akan tetap melanjutkan apapun yang baik dari manajemen sebelumnya.

Pertanyaan pun kemudian muncul, apakah sama definisi baik dan buruk yang dimaksud direksi Garuda Indonesia saat ini dengan direksi sebelumnya? Tentu saja hal yang mesti dijawab oleh para petinggi maskapai yang mendapat penghargaan On Time Performance (OTP) terbaik versi OAG Flightview pada 2018 tersebut. Redaksi KabarPenumpang.com sendiri hingga berita ini diturunkan, sudah coba menghubungi pihak Garuda Indonesia. Namun sayang, kami belum mendapatkan jawaban tentang kejelasan nasib drone kargo ini.

Akan tetapi, bila melihat dari kondisi keuangan dan posisi hutang Garuda Indonesia saat ini, ditambah kasus virus corona yang memaksa maskapai menutup rute dari dan ke Cina, yang notabene menjadi salah satu rute ‘gemuk’ Garuda, tentu kecil kemungkinan proyek tersebut akan berjalan dalam waktu dekat. Terkait kondisi keuangan Garuda Indonesia saat ini pun, seorang mantan direksi Garuda Indonesia yang tak ingin disebutkan namanya, ketika dimintai pendapat perihal kelanjutan drone kargo, ia hanya menjawab singkat, “memang duitnya ada?”.

Baca juga: Dibanding Drone Kargo Garuda Indonesia, Kapasitas Payload Drone Feihong-98 Lebih Besar

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, jajaran direksi yang lama pernah mengatakan bahwa dalam roadmap-nya, mereka akan mendatangkan 100 unit drone kargo BZK-005 dan 50 unit drone kargo VTOL (Vertical Take-Off Landing) pada 2020 dan mulai diimplementasikan secara komersial pada tahun 2021 mendatang.

Dengan beroperasinya drone kargo, Garuda Indonesia, kala itu, memastikan biaya jasa kargo nantinya dapat turun hingga 30 persen. Dalam fase uji coba di Januari 2020, drone BZK-005 akan membawa payload seberat 500 kg, sementara kapasitas kargo maksimal yang dapat digotong mencapai 1.200 kg.

Aneh Tapi Nyata! Seorang Wanita Terkunci di Dalam Bagasi Bus

Seorang wanita di Connecticut, salah satu negara bagian Amerika Serikat, menelepon 911 dan memberi tahu petugas bahwa dirinya terkunci di bagasi sebuah bus yang tengah melaju. Atas laporan tersebut, polisi kemudian bergerak cepat dengan melacak bus, memaksanya menepi, dan menemukan wanita yang tak disebutkan namanya tersebut di dalam bagasi.

Baca juga: Parfum dan Aerosol, Jadi Barang Favorit Para Pencuri Bagasi di Bandara

Dalam keterangannya kepada polisi, wanita itu mengklaim bahwa sang pengemudi, Wendy Helena Alberty (49), sengaja menguncinya di bagasi saat ia tengah mengeluarkan barang bawaannya. Namun, belum jelas, apakah wanita tersebut didorong oleh Alberty hingga masuk ke dalam bagasi dan kemudian dikunci dari luar atau wanita tersebut memang sedang berada di dalam bagasi dan supir tanpa sadar menutupnya kemudian berlalu.

Akan tetapi, apapun alasannya, Alberty pun akhirnya ditangkap dengan tuduhan menahan kebebasan orang lain secara ilegal, membahayakan nyawa orang lain, dan melakukan sesuatu yang menimbulkan keonaran.

Menurut catatan kriminal kepolisian, sebetulnya Alberty bukan termasuk pribadi yang sering berurusan dengan pihak berwajib. Alberty sendiri tercatat telah bergabung dengan perusahaan bus yang terakhir dikemudikannya sejak 2012. Bahkan, sebelum bergabung di perusahaan tersebut, Alberty memiliki catatan kerja dengan predikat “teladan” di perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya.

“Selama masa kerjanya, dia telah menerima banyak pujian dari pelanggan atas keselamatan berkendara dan layanan pelanggannya,” menurut sebuah pernyataan perusahaan, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari boingboing.net, Rabu, (5/2).

Seperti yang sudah umum diketahui, 911 adalah layanan darurat yang bisa dihubungi oleh semua warga yang membutuhkan bantuan pihak berwenang di AS sejak media 60an. Di Indonesia sendiri baru mulai menerapkan sistem panggilan darurat tunggal mulai 2015 akhir dengan nomor 112.

Baca juga: Barang Bagasi Penumpang Umrah Hilang? Jangan Khawatir Ada yang Siap Ganti dengan US$1000

Sebelum memberikan layanan darurat kepada wanita yang terkunci di bagasi tersebut, pihak kepolisian melalui panggilan darurat 911, pada pertengahan April tahun lalu, juga pernah membantu ‘menyelamatkan’ seorang bocah di Wyoming, Michigan, AS.

Namum, tak seperti wanita terkunci di bagasi tadi, yang notabene benar-benar dalam keadaan darurat, bocah yang bernama Iziah Hall ini memanggil layanan darurat tersebut karena dirinya merasa lapar. Polisi yang awalnya mengabaikan panggilan tersebut akhirnya mendatangi kediaman bocah itu dengan membawa makanan. Insiden tersebut pun kala itu sempat viral di AS, khususnya atas kedermawanan pihak berwenang dalam melayani warganya.

15,5 Kilometer Jalur Metro Taipei Kini Sepenuhnya Otomatis

Jalur metro di Taipei sepanjang 15,5 km sudah sepenuhnya otomatis. Ini adalah tahap pertama dari MRT (Mass Rapid Transit) Circular Line Taipe dari distrik industri Wugu di jalur pertukaran dengan metro Green Line di Dapinglin. Jalur metro otomatis tersebut mulai diluncurkan sejak 31 Januari 2020 kemarin.

Baca juga: 2023, SNCF Hadirkan Prototipe Kereta Api Tanpa Awak di Perancis

Jalur tersebut dilengkapi dengan otomatisasi 4 tingkat Communications-Based Train Control atau CBTC (GoA/ Grades of Automation 4) dan memiliki 14 stasiun. Sebanyak 13 stasiun berada di layang dan satu lainnya berada di bawah tanah bersama dengan depot pemeliharaan berat di level 5.

KabarPenumpang.com melansir laman railjournal.com (31/1/2020), menjadi tahap pertama dari jalur lingkar sepanjang 52 km, jalur tersebut memungkinkan penumpang melakukan perjalanan langsung dari luar Taipei ke Kota New Taipei tanpa harus ke pusat Taipei terlebih dahulu. Perencanaan untuk ruas utara dan selatan telah disetujui dan, ketika ruas timur selesai, jalur akan dijalankan melalui 14 distrik administratif di Kota Taipei dan Kota New Taipei, dengan 14 persimpangan yang terhubung dengan jalur metro yang memancar.

Diketahui, Taipei’s Department of Rapid Transit Systems (Dorts) Taipei memberikan kepada Ansaldo STS dan AnsaldoBeda yang sekarang merupakan Hitachi Rail Italy kontrak senilai €220 juta pada April 2009 lalu untuk memasok sistem listrik dan mekanik. Kemudian, layanan komersialnya direncanakan dimulai pada jalur 14 di stasiun pada akhir 2018 kemarin.

Bagian kontrak senilai €114 juta dari Hitachi Rail Italy termasuk memasok 17 kereta berkapasitas empat mobil aluminium, yang dapat mengangkut hingga 650 penumpang dengan kecepatan hingga 80 km per jam. Armada telah dirancang untuk mengurangi biaya operasi, meningkatkan kenyamanan penumpang, dan meningkatkan kapasitas, ketersediaan layanan dan keandalan.

Proyek ini adalah proyek turnkey sistem pertama yang menggabungkan kereta api dan sub-sistem yang dikirim oleh Hitachi Rail Italy di timur jauh. Pembukaan Circular Line fase 1 membawa total panjang metro Taipei hingga 152km, dengan 131 stasiun. Enam jalur utama sedang ditambahkan ke jaringan MRT, menjadikan jumlah simpang susun menjadi 18.

Baca juga: Uji Coba Kereta Cepat Otomatis di Cina Akan Mulai Musim Panas 2019

“Solusi CBTC GoA 4 yang kami kembangkan untuk Taipei Rapid Transit Corporation (TRTC) adalah yang pertama dari jenisnya di Taiwan yang membawa era baru dalam teknologi tanpa pengemudi untuk otoritas metro Kota Taipei dan New Taipei,” kata CEO Hitachi Rail Group Andrew Barr.

Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas

Bagi beberapa orang, bekerja sebagai pramugari sangatlah menyenangkan dan mungkin terlihat glamor di mata orang lain. Namun, nyatanya tidak semua pramugari merasakan hal tersebut meski sudah berkeliling dunia setelah bekerja di sebuah maskapai ternama.

Baca juga: Pramugari Emirates Bocorkan Rahasia Make Up yang Tahan Lama

Nyatanya beberapa diantara pramugari tersebut mungkin ada yang jenuh atau bosan dengan perkerjaan mereka, serta lelah dengan segala aturan yang ada. Kabarpenumpang.com melansir laman thesun.co.uk (25/1/2020), salah satu pramugari yang merasa pekerjaannya membosankan yakni Brigita Jagelaviciute.

Brigita merupakan mantan pramugari Emirates yang berasal dari Lithuania, namun saat ini tinggal di Dubai. Dia kemudian mengejutkan para pengikutnya dengan video yang tersebar di YouTube tentang kejujuran di mana dirinya mengklaim peran glamornya adalah robot dan memilih keluar dari pekerjaannya sebagai pramugari Emirates.

Brigita mengatakan, bahwa seorang temannya yang selama tiga tahun bekerja untuk maskapai ingin mengambil cuti tahunan ternyata di tolak padahal untuk menikah dan menjaga keluarganya yang sakit.

“Salah satu kekhawatiran utama saya tentang pekerjaan ini adalah bahwa itu tidak terlalu merangsang. Bagi saya, saya selalu merasa bahwa saya adalah tipe orang yang membutuhkan dorongan dan ingin mencapai sesuatu,” ujarnya dalam video tersebut.

Brigita sendiri ternyata sudah melakukan perjalanan ke-70 negara yang berbeda. Dia mengaku awal sebagai pramugari adalah menjalani mimipinya. Namun dia mengatakan, tahun-tahun pekerjaannya berlalu begitu saja karena dirinya selalu pulih dari jetlag.

“Saya sangat menyukai pekerjaan ini selama beberapa tahun pertama. Saya benar-benar seperti yang mungkin Anda duga, pramugari yang luar biasa. Itu benar-benar seperti mimpi. Kamu bangun di hotel mewah dan pergi untuk penerbangan dan kemudian pergi lagi ke Seychelles, New York,” jelasnya.

Brigita mengaku, meski terlihat menarik dan glamor, pekerjaan sebagai pramugari sangat mudah kehilangan waktu, uang dan energi karena selalu terbang. Dia juga mengklaim tidak fleksibilitas dalam peran itu dan mengatakan, orang-orang berjuang untuk meminta cuti tahunan saat acara penting dalam kehidupan.

“Saya belum mengalaminya secara pribadi, tetapi saya pernah mendengar kisah orang yang ingin menikah dan tidak bisa pergi. Beberapa memiliki anggota keluarga yang sakit dan mereka ingin pulang tetapi tidak bisa,” kata Brigita.

Video tersebut sudah ditonton lebih dari 65 ribu orang dan banyak yang memuji dia atas kejujurannya itu.

“Terima kasih telah berbagi pengalaman Anda, kisah saya sebagai awak kabin sangat mirip dengan Anda,” tulis seorang penonton di kolom komentar.

Meski ada yang memuji, tapi tak sedikit juga yang mencela serta mengecam karena kejujuran Brigitta.

Baca juga: Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby

“Tidak ada kebencian yang dimaksudkan sama sekali, tetapi saya merasa sedikit sia-sia ketika pramugari dari Emirates di video mereka mengeluh tentang bagaimana pekerjaan ini berulang dan monoton. Berapa banyak pekerjaan yang memungkinkanmu melakukan perjalanan keliling dunia, tinggal di hotel bintang lima dan gaji juga dibayarkan dengan layak,” kata penonton video lainnya.

“Anda seorang pramugari … berhenti mengeluh tentang pengulangan … ,” komentar yang lainnya.

Pelancong Cina Tak Jadi Datang, Restoran, Hotel dan Travel Tour di New York Alami Krisis

Wisatawan asal Cina menjadi kelompok pelancong asing terbesar kedua yang mengunjungi New York dan ketiga terbesar yang mengunjungi Amerika Serikat pada 2018 lalu. Namun, karena Negeri Tirai Bambu tersebut tengah dilanda virus corona, maka negara Adidaya tersebut kehilangan begitu banyak pelancong dari Cina.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

Pengurangan pelancong ini kemudian membuat penurunan permintaan kamar hotel dan restoran di New York dan tujuan wisata lainnya di seluruh dunia. Manajer sebuah hotel dekat Bandara Internasional Newark Liberty yang mengandalkan pelancong Cina memperkirakan kerugian akibat virus corona yakni lebih dari $100 ribu dan angka itu juga akan terus menarik.

“Ini akan menjadi beban keuangan yang serius. Penerbangan dibatalkan. Operator tur telah dibatalkan,” kata Elizabeth Chin, seorang agen perjalanan di Fort Lee, N.J., dan ketua Asosiasi Perdagangan Asia Pasifik cabang New York yang dikutip KabarPenumpang.com dari nytimes.com (4/2/2020).

Tak hanya itu, perusahaan yang mengatur tur bus berbahasa Mandarin di Manhattan saat ini tengah menangani 300 pembatalan dari pelancong Cina yang tidak bisa datang ke New York minggu ini. Sedangkan sebuah agen perjalanan Queens yang telah memesan perjalanan untuk 200 pelancong Cina minggu ini dan berikutnya sudah memikirkan kapan mereka harus menghentikan dua dari lima karyawannya.

“Ini masalah besar, kami harus membatalkan pemesanan hotel dan kami kehilangan banyak uang pada pemesanan. Mungkin kami harus menghentikan dua dari lima karyawan yang bekerja karena masalah ini,” ujar Bruce Zhu, manajer China Tour Travel Services di Flushing.

Sedangkan para pekerja dan pemilik restoran-restoran di Manhattan’s Chinatown mengatakan bisnis mereka turun 50-70 persen dalam sepuluh hari terakhir. Ekonomi pariwisata, yang merupakan penelitian industri perjalanan, memperkirakan penurunan 28 persen pengunjung ke Amerika Serikat dari Cina pada tahun 2020 dan pengeluaran lebih sedikit $5,8 miliar.

Perusahaan itu mendasarkan perkiraannya pada garis waktu wabah SARS pada tahun 2003 yang berlangsung sekitar empat bulan dan industri perjalanan melambung. Butuh tiga tahun lagi untuk jumlah pelancong dari Cina untuk kembali ke nomor pra-SARS.

Pekan lalu, sebelum administrasi Trump menyarankan orang Amerika untuk tidak melakukan perjalanan ke Cina, STR, sebuah perusahaan riset perjalanan, mengatakan 2020 akan menjadi “tahun non-pertumbuhan” untuk hotel di Amerika Serikat dalam pendapatan per kamar yang tersedia, indikator tolok ukur industri hotel . Prediksi itu muncul setelah sembilan tahun pertumbuhan yang relatif kuat.

“Tidak pernah ada waktu yang baik untuk sesuatu seperti virus corona. tetapi industri perhotelan AS berada dalam posisi yang lebih rentan sekarang daripada tiga atau empat tahun yang lalu,” kata Carter Wilson, wakil presiden senior konsultasi dan analitik STR.

Sean F. Hennessey, asisten profesor di New York University yang mengikuti industri perjalanan, mengatakan dampak ekonomi kemungkinan akan lebih besar daripada selama wabah SARS karena China menyumbang kurang dari 2 persen dari pengunjung asing kota itu. Pada tahun 2018, menurut angka dari NYC & Company, biro konvensi dan pengunjung kota, hanya di bawah 8 persen dari wisatawan asing yang mengunjungi New York berasal dari Cina.

“New York akan merasakannya. karena tidak hanya pelancong Cina menjadi semakin besar dari basis pengunjung, tetapi mereka adalah salah satu bagian yang paling menguntungkan dari pengunjung. dasar, tidak hanya untuk hotel tetapi untuk kota secara keseluruhan. Mereka tinggal lebih lama dan cenderung menghabiskan lebih banyak uang,” kata Hennessey, merujuk pada dampak dari virus korona.

Ternyata seluruh dunia mulai mengalami dampak penurunan tajam pelancong Cina karena pemerintah Cina telah memberlakukan larangan tur yang terorganisir. Selain itu juga banyak maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan mereka baik ke dan dari Cina.

Baca juga: Awak Kabin Tidak Direkomendasi Gunakan Masker Terkait Virus Corona, Ini Penjelasannya!

Diketahui, pejabat kesehatan di New York telah mengidentifikasi tiga kemungkinan kasus virus. Pada hari Selasa, hasil tes untuk satu dari tiga pasien, yang semuanya baru-baru ini ke Cina, kembali negatif. Hasil untuk dua pasien lain sedang menunggu. Para pejabat mengatakan kota itu siap untuk kemungkinan penyebaran virus, tetapi mereka memperingatkan orang-orang untuk tidak panik.

Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Jepang mengkarantina satu kapal pesiar Diamond Princess yang mengangkut 2266 tamu dengan 1045 anggota kru. Hal ini karena seorang penumpangnya terinfeksi virus corona. Tak hanya mengkarantina, kapal pesiar tersebut juga harus menghentikan perjalanannya 14 hari lebih awal dan saat ini berlabuh di lepas pantai Yokohama tak jauh dari ibukota Jepang.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Setelah pengkarantinaan tersebut, petugas medis pergi untuk memeriksa penumpang dari kamar ke kamar untuk memeriksa suhu dan kondisi mereka. Beberapa penumpang dilaporkan sakit dan di tes untuk memeriksa apakah mereka terinfeksi virus atau tidak.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, pemeriksaan hasil tes tersebut memakan waktu empat hingga lima jam. Dari 31 orang yang dites, sepuluh diantaranya dinyatakan positif tertular virus dan pihaknya masih menunggu hasil dari lebih seratus sampel lainnya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (5/2/2020), adanya hasil ini pihak kementerian dan petugas berwenang meminta penumpang dan kru tetap berada di kapal dengan waktu yang belum bisa dipastikan hingga kapan. Meski para petugas sudah bergerak cepat untuk menanggapi kasus tersebut, pihak pemerintah memperbarui kekhawatiran tentang betapa mudahnya bagi satu pasien yang tanpa sadar membawa virus dan menularkannya di dunia di mana jutaan orang bepergian dengan nyaman.

Otoritas kesehatan mengatakan, pasien tertular tidak menunjukkan gejala karena masa inkubasi virus tersebut diperkirakan sekitar 14 hari. Namun saat ini para peneliti masih bekerja untuk menentukan apakah virus corona Wuhan dapat menyebar melalui apa yang dikenal sebagai rute fecal-oral?

Dr. John Nicholls, seorang profesor klinis dalam patologi di Universitas Hong Kong memperingatkan agar tidak panik karena terlalu banyak hal yang tidak diketahui tentang virus corona dan satu individu bisa menyebarkan virus berapa luas.

“Akhir-akhir ini, Anda bisa terbang ke mana saja, jadi akan ada lebih banyak peluang bahwa kasus-kasus terisolasi saya muncul di negara lain. Pada tahap ini tidak ada bukti penyebaran luas di komunitas lain,” kata Nicholls.

Diketahui, pria yang dites positif terkena virus itu berusia 80 tahun dari Hong Kong. Pasien yang terinfeksi belum pernah ke fasilitas perawatan kesehatan atau pasar makanan laut, juga tidak pernah terpapar hewan liar selama masa inkubasinya yang berarti ia kemungkinan tertular virus dari manusia lain. Pria itu mengunjungi Cina daratan selama “beberapa jam” pada 10 Januari.

Pria itu terbang ke Tokyo pada 17 Januari dengan dua putrinya, dan dua hari kemudian mengatakan ia mulai batuk, kata pihak berwenang Hong Kong. Dia naik kapal pesiar di Yokohama pada 20 Januari, dan ketika berhenti kembali di Hong Kong pada 25 Januari, bagian dari rencana perjalanan yang telah direncanakan sebelumnya, dia turun dan tidak pernah kembali.

Dia mencari pertolongan medis pada 30 Januari dan didiagnosis dengan virus tidak lama setelah itu dan saat ini dalam kondisi stabil. Princess Cruises, yang dimiliki oleh Carnival Corporation yang bermarkas di Miami dan London, mengatakan dalam pernyataannya bahwa pria itu tidak mengunjungi pusat medis kapal.

Tidak jelas juga berapa banyak penumpang yang mungkin turun lebih awal. Kementerian kesehatan Jepang mengatakan sedang melacak orang-orang yang mungkin turun di Okinawa, pemberhentian kedua hingga terakhir pelayaran itu. Kementerian juga menyelidiki pergerakan pasien yang terinfeksi selama waktunya di Jepang tetapi harus bergantung pada pihak berwenang di Hong Kong untuk mendapatkan informasi karena pasien ada di sana.

Sekitar enam ribu penumpang di kapal pesiar di Italia dikarantina minggu lalu setelah dua tamu diduga memiliki virus corona Wuhan. Kementerian kesehatan Italia mengatakan tes mengungkapkan bahwa keduanya memiliki virus flu yang berbeda, bukan virus corona yang telah menyebar ke seluruh China.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Beberapa jalur pelayaran telah mengumumkan langkah-langkah yang bertujuan menghentikan penyebaran virus. Princess Cruises dan Carnival Cruises memiliki semua kontrol yang berlaku yang melarang tamu dari kapal jika mereka telah melakukan perjalanan dari atau melalui daratan Cina dalam 14 hari sebelum tanggal keberangkatan kapal pesiar. Royal Caribbean mengambil tindakan serupa, tetapi memperpanjang tanggal hingga 15 hari dan juga termasuk Hong Kong dan Cina daratan.