Pemindahan Penerbangan dari Bandara Adisucipto ke YIA, Bagian dari Upaya Social Distancing

Di tengah merebaknya wabah virus corona, PT Angkasa Pura I terus memantapkan jadwal pengoperasian penuh (full operation) Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo pada 29 Maret 2020. Saat full operation tersebut, ditandai dengan pemindahan seluruh penerbangan dari Bandara Adisucipto Yogyakarta ke YIA. Namun rupanya tak semua bakal pindah ke YIA.

Baca juga: Beroperasi Penuh Per 29 Maret 2020, Semua Maskapai dari Adisucipto Pindah ke YIA

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (23/3/2020), PT Angkasa Pura I menyebut penerbangan berjadwal dan tidak terjadwal yang menggunakan pesawat propeller serta penerbangan VIP yang menggunakan pesawat jet pribadi, masih akan tetap beroperasi dari Bandara Adisutjipto. Namun lain dari proses pemindahan tersebut, nyatanya rencana pemindahan juga terkait dengan penanganan wabah corona. “Kepindahan seluruh penerbangan dari Bandara Adisucipto di tengah situasi seperti saat ini juga merupakan solusi untuk mengurangi risiko penularan Virus Corona/Covid-19 di tengah padatnya penumpang dan sempitnya ruang untuk menerapkan konsep social distancing dengan maksimal di Bandara Adisutjipto,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi.

Memiliki terminal penumpang seluas 219.000 meter persegi, YIA dapat menampung hingga 20 juta penumpang per tahun atau 11 kali lebih besar dari Bandara Adisutjipto yang hanya dapat menampung 1,8 juta penumpang per tahun.

Adapun penerbangan yang akan dipindahkan yaitu sebanyak 54 penerbangan yang terdiri dari 48 penerbangan domestik (24 jadwal keberangkatan dan 24 jadwal kedatangan) dan 6 jadwal penerbangan internasional rute Malaysia dan Singapura.

Bandara YIA memiliki landas pacu (runway) sepanjang 3.250 x 45 meter dengan shoulder (bahu runway) 15 meter di kedua sisi dan memiliki tingkat kekerasan PCN (Pavement Classification Number) 107. Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8. “Spesifikasi ini membuat YIA mampu didarati oleh pesawat berbadan besar dan terberat seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380,” tambah Faik Fahmi.

Sejak awal beroperasi pada 6 Mei 2019 hingga Februari 2020, YIA telah melayani lebih dari 336.823 penumpang dan 3.843 pergerakan pesawat dengan 13 rute domestik tujuan Denpasar, Banjarmasin, Palembang, Jakarta (Cengkareng dan Halim Perdanakusuma), Palangkaraya, Batam, Banjarmasin, Samarinda, Tarakan, Pontianak, Makassar, dan Kualanamu.

Baca juga: Pasar di Bandara YIA Tak Sesuai, Xpressair Pindah ke Bandara Adi Soemarmo Maret

Beroperasinya YIA secara penuh akan membuat operasional YIA bertambah menjadi 24 jam dari yang sebelumnya hanya beroperasi 12 jam dari pukul 06.00 – 18.00 WIB. Sementara, jam operasi Bandara Adisutjipto Yogyakarta akan berubah dari sebelumnya pukul 05.00 – 21.00 WIB, menjadi pukul 05.00 – 18.00 WIB.

Emirates Lakukan Tes Covid-19 Pada Seluruh Awak Kabin

Uni Emirat Arab, sebagai negara kaya minyak, sampai saat ini telah menyelesaikan lebih dari 125 ribu tes dalam beberapa minggu terakhir. Itu hanya 23 ribu tes lebih sedikit daripada Italia negara yang paling parah terkena dampak di Eropa di mana sayangnya jumlah kematian terkait virus corona (Covid-19) kini telah melebihi daratan Cina.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Otoritas kesehatan di Uni Emirat Arab, kini memperluas pengujian Covid-19 nya yakni ke seluruh awak kabin maskapai Emirates. Mereka melakukan pengujian karena mengatasi kekhawatiran terkait perjalan internasional. Sehingga awak kabin yang baru mendarat di Bandara Internasional Dubai harus melakukan serangkaian tes. Bandara Dubai sendiri dikenal sebagai hub bagi Emirates.

Tes ini bukan hanya pemeriksaan kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh tetapi tes Covid-19 yeng melibatkan pengusapan hidung. Hasil dari tes tersebut akan keluar dalam waktu 12 jam. Namun meski begitu, para awak kabin ini diperintahkan untuk mengkarantina diri mereka masing-masing selama 14 hari dari hari mereka tiba di Bandara Internasional Dubai.

Dilansir KabarPenumpang.com dari paddleyourownkanoo.com (20/3/2020), selama periode isolasi mandiri ini, awak kabin bisa dipanggil untuk melakukan penerbangan dan ketika kembali ke Dubai mereka harus melakukan melakukan kembali periode karantina mandiri selama 14 hari. Maskapai asal Uni Emirates Arab ini juga meredakan kekhawatiran terkait penerbangan dengan meluncurkan skrining panas pada semua keberangkatan di bandaranya.

Sehingga setiap penumpang yang terdeteksi memiliki suhu abnormal atau melebihi batas yang ditentukan akan melakukan skrining lebih lanjut dan tes Covid-19. Saat melakukan serangkaian tes, penumpang tidak akan diizinkan naik ke pesawat hingga hasil dinyatakan negatif.

Maskapai juga mengklaim akan melakukan desinfeksi selama delapan jam terhadap pesawat apa pun di mana Covid-19 yang dikonfirmasi atau diduga terjadi. Seperti maskapai lainnya, krisis Covid-19 juga berdampak besar pada bisnis Emirates. Maskapai ini terpaksa memangkas jadwal dan sekarang meminta staf untuk mengambil cuti tanpa bayaran untuk mengurangi biaya.

Diketahui, adanya pemeriksaan Covid-19 karena awal minggu ini, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom memiliki pesan sederhana untuk mengalahkan pandemi Covid-19 untuk pemerintah di seluruh dunia.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

“Tes, tes, tes. Kamu tidak bisa melawan api dengan mata tertutup. Dan kita tidak bisa menghentikan pandemi ini jika kita tidak tahu siapa yang terinfeksi,” kata Tedros terkait kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya pengujian.

Airbus Masih Hentikan Produksi, Serikat Pekerja Layangkan Protes

Setelah menghentikan produksi dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang selama empat hari lalu atau sejak Selasa (17/3), untuk mencegah penyebaran virus corona, Airbus memutuskan masih akan terus melanjutkan penghentian sementara proses produksi di pabrik-pabrik mereka. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesehatan para pekerjanya dari paparan Covid-19.

Baca juga: Setelah Boeing, Kini Karyawan Airbus di Spanyol Dilaporkan Positif Terinfeksi Corona

Dilansir CNBC international, dalam sebuah pernyataannya, Airbus mengatakan telah melakukan beberapa kegiatan terkait protokol kesehatan negara ataupun dunia dengan serikat pekerja untuk memastikan kesehatan dan keselamatan karyawannya, sambil tetap mengamankan kelangsungan bisnis.

Produsen pesawat patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut mengkonfirmasi bahwa aktivitas produksi akan kembali dilanjutkan ketika stok atau rantai produksi mulai menipis. Di samping itu, pabrik akan kembali beraktivitas ketika situasi mulai aman. Pasalnya, hingga kini, wabah Covid-19 di Perancis ataupun di Eropa tengah meningkat tajam dengan angka kematian tinggi.

Pernyataan Airbus tersebut juga sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang. Terlebih, European planemaker menyebut bahwa pabrik Airbus di Perancis dan Spanyol akan kembali berakvitas pada Senin hari ini setelah empat hari stop produksi.

Pernyataan tersebut tentu saja sejalan dengan fakta yang ada. Perancis dan Spanyol sejauh ini memang dikenal sebagai andalan bagi beberapa jalur perakitan pesawat sipil dan militer Airbus dan bagian-bagian manufaktur yang diperlukan untuk keberlangsungan operasional perusahaan di negara-negara lain, terutama di Inggris dan Jerman, selain juga di lokasi perakitan satelit (pendukung) di Amerika Serikat dan Cina.

Hanya saja, keputusan Airbus tersebut kemudian mendapatkan kritikan tajam dari serikat pekerja. Serikat CGT Perancis menilai langkah tersebut nantinya bukan hanya berdampak pada Airbus itu sendiri, melainkan lebih luas dari itu, mencakup seluruh rantai produksi pesawat di berbagai negara.

Jika itu terjadi, tentu akan sangat berisiko bagi Airbus untuk membangun kembali rantai pasokan yang telah rusak ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan demikian, jadwal pengiriman pesawat mungkin akan tertunda di saat maskapai tengah menghadapi lonjakan permintaan tajam saat industri penerbangan telah normal kembali.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Oleh karenanya, serikat pekerja tersebut meminta Airbus untuk memberikan pilihan kepada para karyawan. Detailnya, perusahaan harus mengizinkan para karyawan untuk memutuskan sendiri, berkerja atau tidak, demi menjaga keberlangsungan bisnis. Terlebih saham Airbus SE juga telah terkoreksi turun 64 persen.

Keputusan Airbus tersebut tentu sejalan dengan pemerintah negara tersebut. Sebelumnya, sejak Selasa siang, orang-orang di Perancis telah dilarang keluar dari rumah mereka, hingga 14 hari ke depan, selain melakukan perjalanan penting dengan menandatangani dokumen yang menyatakan ke mana mereka akan pergi. Negara tersebut juga akan memberlakukan denda bagi warganya yang melanggar aturan lockdown dan protokol kesehatan seperti social distancing atau bahkan physical disctancing.

Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Setelah mengkonfirmasi hanya akan mengoperasikan 50 persen dari kapasitas yang semula dijadwalkan hingga akhir April, belum lama ini Singapore Airlines (SIA) dilaporkan akan memangkas jauh lebih tinggi dari itu, mencapai angka 96 persen hingga akhir April. Hal tersebut tentu saja diakibatkan oleh anjloknya permintaan di tengah pembatasan perjalanan di banyak negara di seluruh dunia akibat Covid-19.

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Dilansir Bloomberg, SIA bersama dengan dua anak perusahaannya, SilkAir dan Scoot, akan menggrounded 185 pesawat dari total 196, termasuk di dalamnya pesawa terbesar di dunia, Airbus A380 dan Boeing 787 Dreamliner. Di samping gitu, flag carrier Singapura tersebut juga akan melakukan berbagai langkah efisiensi lainnya, seperti menunda pengiriman pesawat dan memotong gaji karyawan guna menekan tingginya pengeluaran.

CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, menyebut bahwa pihaknya akan mulai menjalankan skema pemotongan gaji tersebut pada bulan ini dengan persentase pemotongan sebanyak 15 persen dari angka (gaji) normal serta menawarkan cuti tanpa dibayar. Hal itu pun juga berlaku untuk karyawan senior dan dewan direksi. Hanya saja, untuk keduanya, belum diketahui berapakah persentase pemotongannya.

Selain itu, dalam sebuah pernyataan, SIA Group juga mengakui bahwa pihaknya memang tengah melalui masa-masa sangat sulit. Parahnya lagi, masa-masa sulit itu juga tidak diketahui kapan akan berakhir.

“Di tengah tantangan terbesar yang dihadapi SIA Group saat ini, tidak jelas kapan SIA Group dapat mulai menjalakan kembali layanan dengan normal mengingat ketidakpastian kapan pemberlakuan perbatasan yang ketat akan dicabut,” kata SIA.

Oleh karenanya, dalam keadaan sulit seperti ini, Singapore Airlines mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan lembaga keuangan mengenai kebutuhan pendanaan jangka pendek dan panjang. Kemudian, SIA juga telah menempuh jalur pembiayaan kredit untuk mendukung arus kas atau cash flow perusahaan.

Keadaan SIA seperti ini pun mengingatkan kembali pada pernyataan Centre for Aviation atau CAPA. Dikutip dari Bloomberg, seorang konsultan penerbangan dari Centre for Aviation atau CAPA mengatakan, saat ini maskapai global, secara substansial, mungkin telah melanggar perjanjian utang atau telah melakukan praktik bisnis tak sehat. Singkatnya, maskapai bisa dikatakan telah bangkrut (secara substansial). Pasalnya, saat ini, perputaran uang maskapai global tengah mandek akibat banyaknya pesawat yang grounded.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Menariknya, SIA mungkin saja akan bernasib sama dengan maskapai regional terbesar di Eropa, Flybe. Belum lama ini, maskapai asal Inggris tersebut dinyatakan bangkrut usai tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah pusat serta dari owner mereka, konsorsium Connect Airways, perusahaan patungan milik Virgin Atlantic, Stobart Air, dan Cyrus Capital, senilai Rp3,6 triliun atau masing-masing Rp1,8 triliun.

Pertanyaan pun muncul, dengan memangkas 96 persen dari kapasitas penerbangan ditambah arus kas perusahaan yang tengah tertekan, bila SIA tak mendapatkan suntikan dana, mungkinkan SIA bernasib sama dengan Flybe?

Tak Lakukan Lockdown, Singapura Optimalkan Social Distancing

Berbagai negara sudah menerapkan lockdown untuk meminimalisir penyebaran virus corona (Covid-19). Lockdown yang dilakukan bukan hanya agar warga negara tersebut tidak bepergian keluar rumah untuk berkumpul, juga untuk menghindari pendatang yang bisa saja membawa virus untuk disebarkan.

Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Namun, Singapura justru tidak mengambil langkah tersebut padahal lebih dari 300 orang terinfeksi dan dua diantaranya meninggal dunia. Dirangkum KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (20/3/2020), Singapura justru menerapkan sosial distancing dan tidak melockdown negaranya.

Melalui akun Facebook-nya, Presiden Halimah Yacob menyatakan, meski kasus baru di Cina sudah dapat dikendalikan, namun di Eropa dan Amerika Serikat, wabah masih berada di puncaknya. Apalagi bila Singapura melakukan lockdown, dampak sosial dan ekonomi akan semakin besar.

Di mana ekonomi Negeri Singa ini terpukul dan menghadapi ancaman resesi karena sektor perdagangan dan pariwisata tak beroperasi normal. Dia melarang adanya acara dan pertemuan yang dihadiri 250 orang atau lebih.

Sebab sebanyak 40 kasus baru dilaporkan pukul 12 malam pada Jumat (20/3/2020) dengan total menjadi 385 yang terinfeksi. Kementerian kesehatan Singapura mengatakan, langkah untuk melarang pertemuan besar adalah perluasan dari persyaratan sebelumnya untuk acara olah raga, budaya dan hiburan dengan tiket terbatas menjadi kurang dari 250 orang.

Kementerian juga mendesak para pengusaha untuk memudahkan staf untuk bekerja dari rumah, dan mengatakan akan memperpanjang penangguhan beberapa kegiatan untuk para manula hingga 14 hari lagi hingga 7 April.

“Kami tidak melihat bukti penyebaran masyarakat luas di Singapura namun pada tahap ini karena sebagian besar peningkatan berasal dari kasus impor. Tetapi kami ingin menjadi proaktif dalam menerapkan langkah-langkah penyelamatan yang sangat ketat sejak dini,” Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong.

Operator yang tidak mematuhi persyaratan untuk menunda pertemuan besar dapat dituntut di bawah Undang-Undang Penyakit Menular dan siapa pun yang dihukum karena pelanggaran pertama dapat didenda sebanyak S$10 ribu ($ 6.900) dan dipenjara selama enam bulan. Pemerintah Singapura juga meluncurkan aplikasi mobile baru pada hari Jumat untuk mempercepat pelacakan kontak dengan mendeteksi dan merekam ponsel di dekatnya yang juga memiliki aplikasi diinstal, daripada mengandalkan ingatan individu, yang bisa keliru.

Baca juga: Tersebar Foto Kabin ‘Kosong’ Singapore Airlines dari Korea Selatan ke Singapura

Aplikasi ini memperkirakan jarak antara pengguna dan durasi kontak mereka dalam 2 meter dan dalam jangka waktu 30 menit dan informasi ini akan direkam dan disimpan secara lokal di ponsel masing-masing pengguna.

A318 “Baby Bus,” Proyek Gagal Airbus yang Berhasil Lampaui Boeing

Selain memproduksi pesawat superjumbo A380, Airbus juga memproduksi pesawat mungil berjarak pendek hingga menengah, berbadan sempit dengan kapasitas maksimum 132 penumpang dan memiliki jangkauan maksimum 5.700 km. Selain itu, pesawat jet penumpang komersial bermesin ganda (twinjet), sekalipun hanya laku 80 unit, namun jumlahnya masih melapaui pesawat sejenis buatan kompetitor, Boeing 737-600 yang hanya laku 69 unit. Pesawat tersebut adalah A318.

Baca juga: “Ogah Rugi, Cari Paling Murah dan Tidak Ada Pilihan,” Jadi Momok Pemumpang Pesawat di Indonesia

Dikutip dari berbagai sumber, ide untuk membuat A318 berawal dari hasil riset pada tahun 1997 yang menunjukkan bahwa maskapai dunia pada umumnya membutuhkan pesawat kecil berukuran 70-80 penumpang. Atas dasar itu, kemudian Airbus sepakat menjalin kerjasama dengan Cina melalui Aviation Industries of China (AVIC), Singapura melalui Singapore Technologies Aerospace (STAe), dan Italia melalui Alenia Aeronautica untuk membuat pesawat dengan ukuran sekitar 100 orang.

Dalam perjalanannya, Cina tiba-tiba berubah haluan dan menginginkan pesawat yang lebih besar berkisar 150 orang. Tentu saja permintaan tersebut ditolak Airbus karena dikhawatirkan akan mengambil pangsa pasar A320 yang lebih dahulu lahir pada 22 Februari 1987. Cina pun akhirnya memutuskan mundur setelah tak mendapat jalan keluar atas ketegangannya dengan Airbus. Langkah Cina kemudian diikuti dengan Singapura yang mulai ragu dengan keberhasilan proyek A318. Adapun Italia diyakini tetap berada dalam proyek tersebut.

Meski demikian, sebelum bubar, empat negara tersebut telah berhasil membuat prototipe pesawat dengan kode sandi AE31X. Dari situ kemudian lahir dua pesawat turunannya, AE316 dan AE317, tanpa melalui fase eksplorasi alias fixed product pada desain pertama. AE316 memiliki panjang 31,3 meter dan AE317 memiliki panjang 34,5 meter. Setelah proyek bubar, Airbus tak ambil pusing. Produsen pesawat patungan antara Perancis, Jerman, dan Spanyol itu akhirnya mengambil desain A320, dengan memperpendek dimensinya menjadi hanya 31,44 m, tak jauh berbeda dengan desain AE316.

Meski demikian, mundurnya Singapura dan Cina yang notabener sebagai investor terbesar dengan 46 persen saham, bukanlah satu-satunya rintangan dalam proses produksi A318. Proyek senilai $2 miliar atau sekitar Rp31,5 triliun itu (kurs 15.779) tersebut bahkan terancam batal akibat peristiwa serangan 11 September 2011 yang membuat pesanan turun drastis.

Tak hanya itu, A318 yang semula menggunakan mesin Pratt & Whitney, kemudian memutuskan untuk menggantinya menjadi mesin keluaran CFM International (CFM). Hal itu karena mesin baru Pratt & Whitney dinilai justru lebih boros dan tidak sesuai ekspektasi. Mendapat kabar tersebut, beberapa maskapai pun, seperti Air China, British Airways, America West Airlines, dan Trans World Airlines (saat ini telah diakuisisi oleh American Airlines), membatalkan pesanan A318 dan mengalihkannya menjadi A319 atau A320, pesawat sejenis dengan kapasitas sedikit lebih besar.

Meski mendapat berbagai rintangan berat, sejak resmi melakukan layanan perdana pada 2003, A318 justru memiliki catatan kecelakaan yang cukup baik dalam internal keluarga A320. Pada 2018 silam, dari 118 kecelakaan yang melibatkan keluarga Airbus A320, satupun tidak ada yang melibatkan A318. Cukup aman, bukan?

Baca juga: Melawan Lupa, Ini Dia 4 Pesawat Terkecil di Seantero Jagad

Kini, pesawat yang ditenagai oleh dua mesin CFM56-5 atau Pratt & Whitney PW6000 dan jarak jangkau maksimal 5700 km tersebut dari 80 unit yang diproduksi, hanya tersisa 65 unit yang masih dioperasikan oleh lima maskapai, seperti Air France, TAROM, British Airways, Titan Airways, dan beberapa operator swasta atau pemerintahan.

Meskipun A318 adalah pesawat jarak pendek, nyatanya, Birtish Airways, mengoperasikan pesawat tersebut pada rute trans-Atlantik London-New York PP. Menariknya, karena Bandara London City memiliki landasan pacu pendek dan memaksa pesawat terbang dengan muatan terbatas, pada rute London-New York, A318 harus transit di Bandara Shannon, Irlandia, terlebih dahulu untuk mengisi penuh bahan bakar dan melanjutkan perjalanan ke New York, Amerika. Adapun pada rute New York-London, British Airways A318 dapat memuat penuh bahan bakar karena di bandara tersebut tidak ada pembatasan muatan dan dapat terbang langsung ke London dengan konfigurasi seluruhnya kelas bisnis 32 penumpang.

Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan

Satu dari dua kapal ferry baru yang sangat efisien dan ramah lingkungan telah beroperasi pada 10 Maret 2020. Kapal fery yang dimiliki oleh Hankyu Ferry Co.Ltd ini menggunakan solusi dari Wartsila.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Kapal bernama Settsu tersebut spesifikasinya yakni memiliki mesin dan sistem pembersihan gas buangan yang paling efisien. KabarPenumpang.com melansir dari laman hellenicshippingnews.com (18/3/2020), kapal ferry Settsu tersebut dibuat di halaman Mitsubishi Shipbuilding.

Settsu ditenagai oleh mesin dari Wartsila dengan kode 31 yang mana telah diakui oleh Guiness World Records sebagai mesin diesel 4-tak paling efisien di dunia. Mesin Wartsila 31 bisa mencapai efisiensi bahan bakar yang luar biasa melalui kombinasi teknologi inovatif termasuk injeksi bahan bakar common rail, kontrol katup hidrolik, turbocharger dua tahap dan sistem kontrol mesin Wartsila UNIC terintegrasi.

Efisiensi tinggi yang dihasilkan secara signifikan tersebut bisa mengurangi biaya bahan bakar sedangkan di saat yang sama juga menurunkan tingkat emisi. Kapal ferry Settsu ini dilengkapi dengan sistem scrubber hibrida Wartsila untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan pembatasan belerang atau sulfur 2020 dari IMO.

Manajer produk umum Wartsila Marine, Rasmus Teir mengatakan, adanya efisiensi bahan bakar sangat penting bagi operator kapal ferry di Jepang. Dia menyebutkan menggunakan mesin Wartsila 31 ini bisa menghasilkan penghematan energi yang diinginkan itu.

“Pada saat yang sama, dengan menurunkan konsumsi bahan bakar kami juga mengurangi emisi, yang merupakan persyaratan utama lainnya. Teknologi kami yang unik menawarkan kinerja emisi terbaik di seluruh rentang muatan,” kata Rasmus.

Takahiro Yamaguchi, Direktur, Hankyu Ferry Co.Ltd mengatakan, untuk proyek ini pihaknya menginginkan teknologi tercanggih. Menurutnya Wartsila 31 adalah pilihan yang tepat dan jelas untuk memenuhi kebutuhan mesin.

“Sedangkan scrubber Wartsila hybrid adalah solusi ramah lingkungan yang sangat relevan untuk batas sulfur 0,5 persen,” kata Takahiro.

Baca juga: Di 2021, Laut Pedalaman Seto Jepang Bakal Kehadiran Boat-Hailing yang Serba Bisa!

Diketahui, Jepang memiliki lebih dari 400 pulau yang dihuni secara permanen. Negeri Sakura ini telah banyak berinvestasi selama beberapa tahun terakhir dalam layanan kapal ferry. Saat ini bahkan sektor kapal ferry Jepang adalah salah satu yang paling canggih dan efisien di dunia.

Amankah Naik Moda Transportasi Saat Ini?

Pembatasan perjalanan sementara di beberapa negara untuk transportasi umum sudah mulai diberlakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Namun masih banyak pertanyaan tentang apakah aman untuk terbang, berlayar atau naik angkutan umum?

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bbc.com (10/3/2020), berbagai jawaban kemudian muncul terkait pertanyaan-pertanyaan penggunaan moda transportasi ini.

#1 Kereta dan Bus
Tingginya potensi risiko terinfeksi virus di kereta api ataupun bus tergantung seberapa ramai penumpangnya. Ini pun banyaknya penumpang bervariasi di berbagai bagian negara dan rute yang berbeda. Seperti di London Underground (kereta bawah tanah) di mana ada kepadatan yang sangat tinggi dari orang yang berkerumun di masing-masing gerbong.

Dokter Lara Gosce dari Institute of Global Health mengatakan, penelitian menunjukkan orang yang menggunakan kereta bawah tanah secara teratur lebih mungkin untuk menderita gejala seperti flu.

“Terutama, itu menunjukkan bahwa wilayah dilayani oleh jalur yang lebih sedikit, dimana penduduk dipaksa untuk mengubah jalur satu atau lebih ketika bepergian di bawah tanah dan memiliki tingkat penyakit mirip influenza yang lebih tinggi, dibandingkan dengan wilayah yang dilayani dengan baik di mana penumpang mencapai tujuan mereka dengan satu perjalanan langsung,” katanya.

Jika Anda bepergian dengan kereta atau bus yang relatif kosong, risiko Anda akan berbeda. Seberapa baik kendaraan berventilasi dan berapa lama Anda menghabiskannya juga akan memainkan peran. Network Rail mengatakan pihaknya melanjutkan dengan jadwal pembersihan “bisnis seperti biasa” tetapi sedang membuat rencana untuk pembersihan ekstra di stasiun spesialis jika perlu.

Operator bus utama Arriva juga mengatakan akan melanjutkan dengan rezim pembersihan normal untuk saat ini. Transport for London mengatakan telah meningkatkan rezim pembersihan pada jaringan kereta dan busnya, termasuk menggunakan desinfektan anti-virus tingkat rumah sakit. Menurut dokter Gosce, membatasi jumlah kontak dekat dengan individu dan objek yang berpotensi terinfeksi adalah penting.

“Dalam hal perjalanan, hindari jam sibuk jika memungkinkan atau jika memungkinkan, penumpang harus memilih rute yang hanya melibatkan satu alat transportasi,” kata dia.

Saat ini, pemerintah Inggris tidak memberitahu orang untuk menghindari transportasi umum. David Nabarro, seorang penasihat khusus pada virus corona untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa meskipun transportasi umum adalah hal yang penting untuk dilihat, bukti menunjukkan bahwa jenis “kontak sekilas” yang dimiliki orang ketika bepergian bersama sejauh ini tampaknya menjadi “sumber penularan terpenting”.

#2. Pesawat
Banyak yang berpikir bahwa lebih cenderung jatuh sakit di pesawat karena menghirup udara yang tidak sehat. Padahal udara di pesawat mungkin lebih baik dari pada rata-rata di kantor dan hampir pasti lebih baik daripada kereta atau bus. Profesor Quingyan Chen di Universitas Purdue, yang mempelajari kualitas udara di kendaraan penumpang yang berbeda, memperkirakan bahwa udara di pesawat diganti sepenuhnya setiap 2-3 menit, dibandingkan dengan setiap 10-12 menit di gedung ber-AC.

Itu karena ketika Anda berada di pesawat, udara yang Anda hirup sedang dibersihkan oleh sesuatu yang disebut filter udara partikulat efisiensi tinggi (Hepa). Sistem ini dapat menangkap partikel yang lebih kecil daripada sistem pendingin udara biasa, termasuk beberapa virus. Filter menghisap udara segar dari luar dan mencampurnya dengan udara yang sudah ada di dalam kabin, yang berarti bahwa pada suatu saat separuh udaranya segar dan sebagian lagi tidak. Banyak sistem pendingin udara biasa hanya mensirkulasi ulang udara yang sama untuk menghemat energi.

Selain menghirup tetesan dari seseorang yang batuk atau bersin, infeksi seperti virus corona dapat ditularkan melalui menyentuh permukaan yang terkontaminasi dengan tetesan infeksi pada mereka apakah itu tangan seseorang atau pegangan pintu.

Baca juga: Gegara Corona, Transportasi Umum di Israel Hanya Melayani Rute ke Kantor Pemerintahan

Perhatian utama tentang perjalanan udara adalah bagaimana penerbangan dapat mengangkut orang yang berpotensi menular dari satu bagian dunia ke bagian lainnya. Saat ini, pemerintah Inggris tidak menyarankan untuk tidak menggunakan pesawat hanya melakukan perjalanan ke daerah yang terkena dampak khusus, seperti Italia dan Provinsi Hubei, di Cina.

Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Bagi traveler yang kerap bepergian menggunakan pesawat, terkadang kerap dihadapkan dengan pilihan sulit antara istirahat dengan tanpa cahaya sama sekali (karena tirai jendela ditutup seluruhnya) atau istirahat dan menikmati penerbangan dengan menutup sebagaian tirai atau tidak sama sekali.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Padahal, pilihan untuk menutup tirai seluruh atau setengahnya belum mampu mengakomodir keinginan tipe pelanggan yang tetap menginginkan cahaya, namun tidak dalam intensitas berlebih, layakya kaca film pada mobil yang bisa diatur persentase kecerahannya. Tapi tenang, bagi tipe penumpang seperti itu, mungkin salah satu inovasi ini bisa mengakomodir keinginan Anda.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Simple Flying, Sabtu, (21/3), belum lama ini, sebuah situs online, Magical Super Store, menjual kaca film atau stained glass untuk pesawat. Pasalnya, selama ini, stained glass memang lebih banyak dijumpai di Gereja atau bangunan tua peninggalan abad pertengahan dan hampir tak pernah ditemui di jendela pesawat dengan ketinggian 10-11 kilometer di udara.

Dalam deskripsinya di laman magicalsuperstore.com, toko tersebut mengklaim mampu membuat pesawat tampak lebih megah karenanya. Selain itu, stained glass atau kaca film tersebut juga mudah digunakan karena dapat melekat pada permukaan kaca apapun.

Di samping itu, stained glass juga dapat dicuci agar bisa digunakan berkali-kali atau digulung dan digunakan kembali dengan mudah tanpa perlu kehilangan bentuk aslinya apalagi kehilangan daya rekat. Menariknya lagi, kaca film tersebut juga diklaim mampu melindungi permukaan kaca dari berbagai kuman (mungkin termasuk virus corona yang saat ini tengah mewabah). Dengan begitu, stained glass tersebut dapat membuat penumpang lebih nyaman dan aman dalam beraktivitas di pesawat, seperti tidur siang, membaca buku, menyantap hidangan, atau bahkan berdoa.

Stained glass tersedia dalam beberapa pesawat Airbus dan Boeing. Foto: Magical Super Store

Hanya saja, stained glass tersebut sejauh ini tidak tersedia dalam beragam varian. Hanya pesawat keluaran dua pabrikan besar saja, yakni Boeing dan Airbus, yang sudah tersedia. Mulai dari Airbus A330, Airbus A350, Boeing 707-767, Boeing 787, hingga Boeing 777X. Khusus untuk Boeing 777X, padahal pesawat tersebut saat ini masih dalam proses pengembangan setelah berhasil terbang perdana pada 20 Januari 2020 lalu dan belum secara reguler melayani penumpang. Selain itu, harganya pun juga bervariasi, mulai dari $25 atau Rp400 ribuan hingga yang termahal (untuk Boeing 787 Dreamliner) $50 atau Rp 800 ribuan.

Meskipun saat ini stained glass penggunaannya masih debatable, namun animo masyarakat terhadap produk tersebut cukup tinggi. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari ludesnya salah satu varian produk tersebut, yakni varian untuk Airbus A330.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Sejauh ini maskapai-maskapai di dunia pada umumnya hanya mengatur tertutupnya tirai jendela pesawat saat lepas maupun turun landas dan sama sekali belum menyinggung penggunaan stained glass. Hanya saja, pada beberapa kasus, traveler yang biasanya kerap meletakkan kamera di jendela, kadang kala mendapat protes dari penumpang yang duduk di kursi lain. Alasannya simpel, mengganggu pemandangan.

Namun demikian, guna mencari kejelasan, sebetulnya beberapa maskapai besar, Delta Airlines, Southwest, JetBlue, American Airlines, United Airlines, dan Alaska Airlines, sudah coba dimintai keterangan terkait penggunaan stained glass pribadi pada penerbangan. Tetapi mereka belum memberikan jawaban tegas boleh tidaknya memasang stained glass.

Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Virus corona atau Covid-19 telah membuat maskapai di dunia kalang kabut akibat jumlah penumpang yang terus merosot. Terlebih, situasi belakangan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Padahal, Centre for Aviation atau CAPA, telah memprediksi, jika tidak ada langkah konkret (untuk membuat maskapai dapat terus bertahan), maka beberapa maskapai mungkin akan bangkrut di akhir Mei.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Selain itu, di belahan bumi lain, Airlines for America (A4A), asosiasi yang mewakili 11 maskapai penerbangan utama Amerika Utara tersebut juga memprediksi bahwa tujuh maskapai terbesar di negara itu akan benar-benar kehabisan uang antara Juni dan akhir tahun. Itu semua bisa terjadi akibat penurunan jumlah penumpang besar-besaran dan di waktu yang nyaris bersamaan.

Akan tetapi, jumlah penurunan penumpang besar-besaran rupanya juga memberikan efek domino, khususnya terkait penyimpanan pesawat. Pasalnya, di tengah sepinya penerbangan, hampir seluruh maskapai di dunia menggrounded pesawat mereka secara bersamaan dan dalam jumlah cukup besar. Padahal, bandara-bandara di dunia memiliki kapasitas yang terbatas. Terlebih, terdapat beberapa pesawat widebody yang memakan banyak kapasitas penyimpanan pesawat di bandara. Misalnya seperti Airbus A380.

Dilansir Simple Flying, beberapa maskapai besar yang mengoperasikan A380, seperti Lufthansa, Qantas, dan Emirates, misalnya, harus putar otak untuk mencari tempat yang pas untuk menyimpan pesawat terbesar itu. Pasalnya, tak semua bandara bisa memuat A380 mengingat pesawat tersebut memiliki dimensi yang di atas rata-rata. Bahkan, beberapa bandara harus mengubah struktur hanggarnya semata agar bisa memuat pesawat tersebut.

Lufthansa dilaporkan telah berhasil mendapatkan tempat nyaman bagi Airbus A380nya. Sejauh ini, empat armada A380 mereka diparkir di Terminal 3 di Bandara Frankfurt, Jerman. Namun, bandara tersebut telah kehabisan ruang untuk menyimpan lebih banyak pesawat A380, sehingga armada lainnya disimpan di bandara lain, salah satunya Bandar Udara Internasional Berlin Brandenburg (BER), bersama beberapa pesawat Airbus A320 dan A321.

Begitu juga dengan Emirates, maskapai sekitar 115 pesawat A380, saat ini dilaporkan telah mendapatkan tempat nyaman bagi 20 armada A380nya. Tak terkecuali dengan Qantas, Air France, Etihad, Korean Air, Singapore Airlines, hingga All Nippon Airway yang juga memiliki sejumlah armada A380. Hanya saja, maskapai-maskapai tersebut tak secara gamblang menjelaskan dimana pesawat superjumbo tersebut digrounded.

Namun demikian, di seluruh dunia, kapasitas penyimpanan pesawat di bandara bukan hanya untuk A380. Banyak pesawat lain yang membutuhkan ruang untuk ‘istirahat’ dalam jangka waktu yang belum dapat ditentukan. Terlebih, di tengah wabah virus corona yang telah memaksa banyak negara menutup rute internasional dan domestik (lockdown). Bila pada waktunya tiba, dimana jumlah pesawat yang digrounded sudah kelewat banyak dan membuat bandara penuh, lantas kemanakah pesawat harus diparkir?

Baca juga: The Boneyard, Inilah Tempat Bersemayam Para Pesawat Setelah Pensiun dari Masa Tugasnya

Mungkin dalam kondisi tersebut, sebagai alternatif, gurun pasir bukanlah tempat yang buruk. Sejauh ini, pesawat-pesawat yang sudah purna tugas atau digrounded dalam waktu lama juga banyak disimpan di gurun pasir. Singapore Airlines (induk dari SilkAir), misalnya, pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di Alice Springs, kota gurun pasir, di Australia.

Selain itu, ada juga The Mojave Air dan Space Port yang berada di Gurun Mojave, tepatnya di Bandara Mojave, Southern California, Amerika Serikat. Selama 37 tahun belakangan, bandara tersebut juga menjadi tempat nyaman bagi pesawat yang sudah purna tuga atau digrounded dalam waktu cukup lama. Tak hanya itu, Spanyol juga memiliki Bandara Teruel, yang juga kerap kali dijadikan sebagai alternatif penyimpanan pesawat dalam waktu cukup lama.