Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Di tengah wabah virus corona, penumpang kerap kali dibuat khawatir dengan adanya beberapa pasien positif terpapar Covid-19 yang memiliki riwayat perjalanan di berbagai moda transportasi; tak terkecuali pesawat terbang. Belum lama ini, maskapai asal Amerika Serikat (AS), JetBlue, dibuat geger dengan pengakuan salah satu penumpang yang divonis positif virus corona.

Baca juga: Para Ahli Sebut Penumpang Lansia Buat Penularan Virus Corona Jadi Lebih Cepat

Penumpang yang tak diungkap identitasnya tersebut sebelumnya sudah melalui beberapa pengecekan. Hasilnya, penumpang tersebut tidak ada tanda-tanda terjangkit Covid-19. Menjelang tiba di Florida, penumpang yang bersangkutan kemudian melapor ke petugas bahwa dirinya dinyatakan positif mengidap virus corona. Hal itu diketahui setelah penumpang tersebut mendapat pesan singkat dari seseorang mengenani hasil tes virus corona yang dilakukan beberapa hari sebelum dirinya terbang bersama JetBlue.

Hingga kini, pihak maskapai belum memberikan keterangan jelas mengenani posisi duduk penumpang positif virus corona tersebut. Namun, terlepas dari hal tersebut (penumpang positif Covid-19 duduk di row dan seat berapa), baru-baru ini, seorang ahli dari Emory University, AS, Profesor Vicki Hertzberg memberikan tips terkait cara menghindari terpapar virus corona di pesawat.

Menurut profesor yang mengambil speasialisasi di bidang biostatistik, informasi kesehatan masyarakat, dan network science tersebut menilai bahwa penumpang yang duduk di dekat jendela lebih besar peluang untuk terhindari dari paparan Covid-19 dibanding tempat duduk di posisi lainnya.

“Kami menemukan bahwa zona risiko sebenarnya berada di orang-orang yang duduk di barisan depan Anda, orang-orang yang duduk di barisan di belakang Anda, dan orang-orang di barisan yang sama atau dua kursi di kedua sisi (kiri dan kanan) ,” ujar pria yang telah menyandang gelar profesor sejak Januari 1995 tersebut, seperti dilansir abcnews.go.com

“Jika kamu berada di dekat jendela, jelas tidak ada dua kursi di satu sisi Anda (kiri dan kanan) dan Anda telah memotong zona risiko itu dengan adanya enam orang tersebut (dalam konfigurasi 3 kursi kiri dan kanan dengan satu lorong) , yakni orang-orang di depan mereka dan di belakang mereka,” tambahnya.

Meski demikian, ia pun memberikan penekanan bahwa sebetulnya, penumpang tidak perlu terlalu khawatir soal penyebaran virus corona di dalam kabin pesawat. Pasalnya, tak seperti moda transportasi lainnya, pesawat memiliki teknologi penyaring udara canggih atau High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) yang diklaim 99 persen mampu menghilangkan bakteriologis di dalam kabin.

“Sebenarnya udara di dalam pesawat sama bersihnya (dengan di tempat lain). Faktanya, seperti misalnya, katakanlah, (tingkat kebersihan udaranya sama dengan) gedung kantor modern, karena gedung tersebut lebih sering dibersihkan dibanding yang lain,” kata Profesor Vicki.

Selain itu, di luar teknologi HEPA Cabin Air Filter dan posisi paling aman terpapar virus corona di dalam pesawat, sebetulnya, maskapai global juga telah melakukan upaya ekstra membersihkan pesawat dari sisa Covid-19. Sebagai informasi, menurut penelitian, virus corona disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainles, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV

Oleh karenanya, sekalipun pesawat sudah selesai digunakan beberapa jam sebelumnya dan kemudian digunakan kembali pada penerbangan berikutnya, seorang penumpang masih mungkin terpapar virus corona. Sebab, virus tersebut dapat bertahan di beberapa bahan, sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Maka dari itu, maskapai di seluruh dunia telah berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan area-area yang banyak disentuh penumpang, seperti armrests, seat belts, meja seatback (tray tables), handle kabin overhead, handle pintu toilet, hingga bagian dalam toilet secara keseluruhan. Tentu saja tanpa mengurangi perhatian pada bagian-bagian lainnya untuk dibersihkan dan disemprot disinfektan.

Bersihkan ‘Ruang’ Pribadi, Hindari Virus dan Kuman di Kabin Pesawat

Mantan model, Naomi Campbell membersihkan sekitaran kursi di pesawat tempatnya duduk dan videonya kemudian menjadi viral. Biasanya para penumpang seperti Naomi melakukan hal itu untuk kebersihan dirinya sendiri dan untuk kenyamanan pribadi. Apalagi saat ini tengah marak penyebaran virus corona, sehingga mawas diri dalam kabin pesawat cukup diperlukan.

Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

KabarPenumpang.com melansir laman nytimes.com (17/3/2020), maskapai besar seperti Delta Airlines dan American Airlines mengatakan mereka membersihkan pesawat ke berbagai sudut diantara penerbangan dan bahwa kebersihan pesawat mereka adalah prioritas. Aaron Milstone, ahli epidemiologi di Rumah Sakit Johns Hopkins mengatakan, pesawat dan kursi di dalam kabin adalah ruang publik dan tahu bahwa kuman dapat hidup dipermukaan dalam waktu yang lama sehingga tak ada salahnya untuk membersihkannya. Berikut ini, ada beberapa tips untuk membersihkan area pesawat tempat Anda duduk dan menjaga kesehatan dalam penerbangan.

https://www.instagram.com/p/B9ZkCgVnXIf/?utm_source=ig_web_copy_link

1. Jaga tangan agar selalu bersih dan berhenti menyentuh wajah
Kebanyakan orang menyentuh wajah lebih sering daripada yang mereka sadari. Bahkan mereka menyentuh permukaan di mana ada tetesan ketika seseorang bersin atau batuk sehingga dapat menyebabkan virus ditularkan.

Andrew Mehle, associate professor microbiology medis dan imunologi di University of Wisconsin Madison, menekankan bahwa sanitasi ruang penumpang di pesawat harus dilakukan bersamaan dengan mencuci tangan dan melakukan praktik kebersihan lainnya.

“Jadi yang pertama adalah cuci tangan Anda saat bersentuhan dengan meja baki atau apapun yang tidak dibersihkan,” kata dia.

Mehle menambahkan, cuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik atau dengan menyanyikan Selamat Ulang Tahun sebanyak dua kali dan jika tidak memungkinkan maka gunakan pembersih tangan dalam jumlah yang cukup.

2. Pilih kursi jendela
Sebuah studi dari Emory University menemukan bahwa selama musim flu, tempat teraman untuk duduk di pesawat adalah melalui jendela. Para peneliti mempelajari penumpang dan awak pesawat pada sepuluh penerbangan dalam waktu tempuh tiga hingga lima jam dan mengamati bahwa orang yang duduk di kursi dekat jendela memiliki lebih sedikit kontak dengan orang yang berpotensi sakit.

“Pesan tempat duduk dekat jendela, cobalah untuk tidak bergerak selama penerbangan, tetap terhidrasi dan jauhkan tangan Anda dari wajah Anda. “Waspadai kebersihan tanganmu”,” kata Vicki Stover Hertzberg, seorang profesor di Sekolah Perawat Universitas Emory dan direktur Pusat Ilmu Keperawatan Data di Emory.

3. Bersihkan permukaan keras
Ketika sampai di kursi dan tangan Anda bersih, gunakan tisu desinfektan untuk membersihkan permukaan keras di kursi seperti sandaran kepala dan lengan, sabuk pengaman, remote, layar, saku belakang kursi dan meja baki. Jika dudukannya keras dan tidak keropos, Anda dapat membersihkannya juga. Menggunakan tisu di kursi berlapis kain bisa menyebabkan kursi basah dan menyebarkan kuman daripada membunuh mereka.

“Tidak buruk untuk membersihkan area di sekitar Anda, tetapi perlu diingat bahwa virus corona tidak akan melompat dari kursi dan masuk ke mulut Anda. Orang-orang harus lebih berhati-hati menyentuh sesuatu yang kotor kemudian meletakkan tangan di wajah mereka,” kata Milstone.

Tisu desinfektan biasanya menuliskan pada kemasan berapa lama suatu permukaan harus tetap basah agar bisa bekerja. Waktu itu dapat berkisar dari 30 detik hingga beberapa menit. Agar tisu dapat bekerja, Anda harus mengikuti persyaratan waktu tersebut.

Hertzberg menambahkan bahwa jika ada televisi layar sentuh, Anda harus menggunakan tisu saat menyentuh layar. Menggunakan handuk kertas atau tisu memastikan bahwa ada penghalang antara permukaan yang mungkin memiliki tetesan dan tangan Anda, yang kemungkinan akan menuju ke wajah Anda.

Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya

“Seseorang yang sakit dan batuk mungkin menyentuh pintu dan keran, jadi gunakan tisu di kamar mandi lalu gunakan tisu untuk membuka pintu dan untuk menutup keran kemudian membuang yang ada di tempat sampah saat keluar,” kata Bernard Camins, direktur medis untuk pencegahan infeksi di Sistem Kesehatan Mount Sinai.

Ada Penumpang Sakit di Pesawat? Hubungi Awak Kabin dan Jangan Langsung Panik Tertular

Merebaknya virus corona atau Covid-19 saat ini di seluruh dunia, membuat banyak masyarakat semakin resah. Bahkan dalam perjalanan menggunakan pesawat pun penumpang ikut resah apalagi jika ada penumpang lain yang bersin, batuk ataupun flu.

Baca juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

Namun nyatanya Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini menempatkan risiko tertular Covid-19 di pesawat dalam kategori rendah. Hal ini karena sifat udara di pesawat yang bersirkulasi dan disaring.

Meski begitu, pelancong harus mengambil tindakan pencegahan kesehatan yang mungkin dan menjaga jarak sosial dari siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan. KabarPenumpang.com melansir laman foxnews.com (16/3/2020), ketika berada satu pesawat dengan penumpang yang sakit, Anda harus sadar bahwa pemerintah federal dan CDC memiliki protokol untuk industri penerbangan jika terjadi kejadian seperti itu.

Sehingga jika penumpang diketahui sakit dalam penerbangan internasional, peraturan federal mewajibkan awak pesawat untuk melaporkan penumpang tersebut ke CDC sebelum tiba di Amerika Serikat. Setelah itu, CDC akan menjelaskan jika penumpang lain tertular dalam penerbangan, maka pejabat kesehatan bisa melakukan investigasi kontak untuk membantu mengidentifikasi serta menjangkau siapapun yang pernah melakukan kontak dengan penumpang sakit selama perjalanan.

“Kadang-kadang CDC diberitahu tentang seorang musafir yang sakit ketika pesawat masih mengudara atau tidak lama setelah pesawat mendarat. Namun, dalam kebanyakan kasus, CDC diberitahukan ketika seorang pelancong yang sakit mencari perawatan di fasilitas medis,” jelas agen CDC.

CDC kemudian akan bertanggung jawab dalam mengoordinasikan penyelidikan antara agen-agen federal dan maskapai penerbangan untuk menentukan di mana dan seberapa luas orang ini bepergian. Jika penumpang dianggap menularkan penyakit, penyelidik berkonsultasi dengan maskapai penerbangan untuk manifes penerbangan dan menentukan siapa yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang sakit.

Dalam hal ini, pejabat kesehatan membuat zona kontak dari bagan tempat duduk dan mengidentifikasi penumpang yang mungkin terpapar. Setelah itu akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan menguraikan langkah lanjutan.

“Zona kontak” di pesawat, bagaimanapun, tidak selalu terbatas pada area di sekitar penumpang yang terinfeksi. CDC mengatakan setiap teman seperjalanan, terlepas dari di mana mereka duduk, dianggap sebagai bagian dari “zona kontak”. Anak-anak di bawah 2 tahun, yang duduk di pangkuan wali mereka, juga dianggap sebagai bagian dari zona kontak saat menyelidiki kasus campak atau rubella.

Tetapi sekali lagi, CDC masih belajar tentang virus corona dan bagaimana penyebarannya, sehingga siapa pun yang berhubungan dekat dengan penumpang maskapai lain harus mengambil setiap tindakan pencegahan. Misalnya, pelancong harus menghindari menyentuh mata, hidung atau mulut setelah bersentuhan dengan permukaan yang berpotensi kuman, dan mereka harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

TSA juga memungkinkan penumpang untuk membawa pembersih tangan berbasis alkohol dalam barang bawaan jika kontainernya berukuran kurang dari 3,4 ons. Selain itu CDC menyarankan Anda memantau kesehatan Anda selama dua minggu setelah kembali dari perjalanan. Jika Anda mulai merasa sakit dengan “demam, batuk atau kesulitan bernapas,” tinggal di rumah dan hubungi dokter untuk melaporkan gejala.

Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar Pesawat

Dunia penerbangan terus berkembang pesat. Saat ini, sebelum adanya virus corona atau COVID-19, setiap tahunnya, ada sekitar 4,5 miliar perjalanan pesawat komersial, dengan total pergerakan 64 juta metrik ton kargo, serta menopang sekitar sepertiga dari perdagangan global. Tak hanya itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan di seluruh dunia.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Meski demikian, memang ada harga mahal yang harus dibayar dari pesatnya perkembangan di dunia penerbangan. Setiap tahunnya, perjalanan udara disinyallir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Bahkan, dengan permintaan bahan bakar dari penerbangan yang akan terus meningkat antara 1,9 dan 2,6 persen atau lebih setiap tahun, bila tak ada langkah pencegahan apapun, diperkirakan emisi global akibat pergerakan pesawat akan meningkat hingga 22 persen pada tahun 2050.

Oleh karenanya, selain mencari alternatif energi terbarukan, yang beberapa tahun lalu sudah dimulai sekalipun saat ini penggunannya belum pada intensitas yang tinggi, teknologi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi pada pesawat juga tak kalah penting. Dilansir dari laman prescouter.com, berikut enam teknologi terdepan untuk mengingkatkan efisiensi pada pesawat.

1. Winglets
Winglets inovasi pesawat yang terletak di ujung sayap. Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi. Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

2. Flexible Navigation System
Seiring perkembangan teknologi, pesawat pun kemudian dilengkapi dengan teknologi pendeteksi cuaca, seperti airborne weather radar dan teknolgi pendukungnya digital weather radar. Teknologi tersebut dapat membantu pilot menghindari kondisi cuaca yang tidak menguntungkan seperti badai, angin kencang, dan sejenisnya. Studi menunjukkan teknologi tersebut dapat mencegah keluarnya 1,4 ton CO2 oleh pesawat.

3. 3D Printing/Carbon fibers/Shape Memory Alloys (SMA)
Mengurangi bobot keseluruhan pesawat selalu menjadi prioritas utama untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar. Oleh karenanya, dengan adanya tiga teknologi tersebut dapat membuat bobot pesawat jadi lebih ringan.

4. Continuous Climb and Descent Operations
Continuous Climb (CCO) and Descent Operations (CDO) memungkinkan pesawat untuk mengikuti jalur penerbangan yang mudah diadaptasi dan ideal sehingga memberikan keuntungan finansial. Seperti turunnya konsumsi bahan bakar, emisi global, serta kebisingan dan ujungnya tentu saja cost untuk bahan bakar yang menurun.

Baca juga: Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global

5. Double-Bubble D8
Double-Bubble D8 merupakan pesawat yang dikembangkan secara bersama-sama oleh tim insinyur dari Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney. Desain pesawat anyar tersebut diklaim dapat membuat konsumsi bahan bakar lebih irit 37 persen dibanding pesawat jet penumpang pada umumnya. Hanya saja, ketimbang menggunakan pesawat tersebut, sebagian pengamat menilai, lebih baik menggunakan pesawat listrik mengingat desainnya yang hampir mirip.

6. Blended Wing Body (BWB)
Pada gelaran Singapore AirShow 2020 yang dihelat mulai 11 – 16 Februari lalu, Airbus resmi memperkenalkan MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls), sebagai prototipe teknologi model Blended Wing Body. Desain pesawat model BWB dinilai memiliki beberapa kelebihan, seperti 27 persen lebih irit bahan bakar, 15 persen lebih ringan, 20 persen lebih mudah terangkat, dan 27 persen lebih sedikit membutuhkan dorongan.

Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan

Pesawat yang sudah purna tugas kerap kali disulap dalam beragam fungsi, mulai dari hotel, gantungan kunci, hingga rumah. Khusus untuk rumah, belum lama ini, sebuah pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8 berhasil disulap oleh perusahaan arsitektur dan properti asal Australia menjadi sebuah bangunan berharga Rp576 juta (kurs Rp15.480).

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Dilansir Insider, rumah minimal mungil portable serba putih yang dinamakan Aero Tiny tersebut awalnya hanya difungsikan sebagai simulator bagi para pramugari di Brisbane, Australia. Pesawat buatan De Havilland, produsen pesawat asal Kanada, tersebut kemudian dijual dengan harga miring lewat media sosial Facebook, tepatnya hanya $1.320 atau Rp20 juta (kurs Rp15.480). Padahal, normalnya, pesawat tersebut masih berada dikisaran ratusan ribu bahkan jutaan dolar, tergantung pada tahun produksinya.

Melihat pesawat dengan harga murah, ditambah keinginan perusahaan untuk mencari wadah untuk berinovasi (dalam membuat rumah), Tiny House Guys, pun tak tinggal diam. Dengan cepat mereka mengakuisisi pesawat tersebut dan dialihfungsikan menjadi sebuah rumah minimalis mewah.

“Begitu saya melihatnya (Bombardier Q Series) dijual, saya tahu sesuatu yang istimewa dapat dibuat darinya. Kami membelinya langsung dan mengirimkannya ke rumah produksi kami untuk kemudian dirancang khusus menjadi sebuah rumah,” kata Rick Keel, pendiri perusahaan tersebut.

Meskipun tergolong berukuran kecil, hanya sekitar 1,6×2,7 meter atau 12 ,1 meter persegi, fasilitas yang ditawarkan Aero Tiny juga tergolong lengkap. Sebagaimana rumah pada umumnya, hunian portable yang bisa dibawa-bawa ketika liburan ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kenyamanan penghuninya, seperti dapur minimalis, kamar mandi, meja dan sofa lipat, lemari, wastafel, lemari es mini, hingga area yang bisa digunakan untuk ruang tamu maupun kamar tidur.

Selain itu, bagi para pecinta pesawat, rumah tersebut sejak awal didesain untuk mempertahankan sebanyak mungkin karakter asli pesawat, termasuk kelongsong logam lengkung dan lipatan, jendela darurat, hingga tangga bercahaya yang mengarah ke interior. “Interiornya hampir seluruhnya dirombak untuk menciptakan ruang tamu minimalis. Namun, sejumlah fitur tertentu masih kami selamatkan,” tutur Rick.

Di samping itu, Aero Tiny juga tergolong ramah lingkungan. Pasalnya, pesawat tersebut mengandarkan sumber energinya dari matahari. Oleh karenanya, di bagian bawah rumah, terdapat panel surya dan baterai, sebagai alternatif energi cadangan dikala musim dingin tiba.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Untuk membuat rumah minimalis tersebut, Rick Keel dan perusahaannya, Tiny House Guys, harus menghabiskan waktu sekitar enam minggu. Waktu yang cukup lama dibandingkan project lainnya yang digarap perusahaan.

“Kami menghabiskan lebih dari enam minggu untuk mengubah badan pesawat menjadi rumah mungil yang indah di atas roda. Tujuan kami menciptakan Aero Tiny adalah untuk menjadi rumah kompak yang berkelanjutan,” pungkas Rick.

Deretan Teknologi ini Berhasil Digunakan Cina untuk Melawan Virus Corona

Presiden Cina Xi Jinping telah mengumumkan kemenangannya melawan wabah virus corona. Diantara beragam strategi yang dilalukan Cina, patut dicermati, Negeri Tirai Bambu ini terbilang gigih memandafaatkan setiap kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk membantu mengatasi penyebaran virus yang telah menjadi pendemik global tersebut.

Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona

Ketika virus corona mulai menyebar di berbagai negara, banyak aplikasi yang dibuat untuk memantaunya. Namun, tak hanya untuk membantu melihat peta penyebaran atau jumlah warga terinfeksi, tapi juga ada yang menyalahgunakan aplikasi tersebut untuk keuntungan pribadi. Aplikasi COVID19 Tracker tersedia di situs web dengan nama yang sama, setelah pengguna memasuki situs web ini akan diminta untuk mengunduh aplikasi Android untuk Heatmap. Dalam skenario panik ini pengguna paling rentan untuk mengetahui Statistik, Gejala, Pelacak, dan Peta.

Setelah Anda menginstal aplikasi itu ‘diracuni’ dengan ransomware bernama CovidLock yang mengambil kendali penuh dari perangkat Anda dan menghalangi bahkan membuka Kunci Layar. Ini menggunakan teknik seperti memaksa Perubahan Kata Sandi untuk Membuka Kunci Telepon. Tarik Salah, Senior Security Engineer dan Malware Researcher di Domain Tools mengatakan dalam pernyataannya bahwa mereka telah melihat serangan kunci layar ini sebelumnya.

“Catatan tebusan bahkan mengancam Anda menghapus foto, video jika Anda tidak membayar jumlahnya. Namun, tidak ada informasi tentang berapa banyak yang menjadi mangsa CowareLock Malware ini. Namun yang kami sarankan adalah jangan menginstal Aplikasi dari Toko Aplikasi Pihak Ketiga dan Situs Web yang tidak dikenal karena ada risiko keamanan. Selalu, unduh aplikasi dari Google Play Store resmi,” kata Tarik.

Karena virus corona ini berasal dari Wuhan di Cina, bagaimana Negeri Tirai Bambu menggunakan teknologi untuk hal tersebut? KabarPenumpang.com merangkum versionweekly.com (18/3/2020), ternyata Cina mengumpulkan sumber daya yang tersedia dan menggunakan teknologi baru untuk mengurangi penyebaran secara signifikan serta membuat profil orang-orang yang berisiko.

Pada virus SARS tahun 2002 lalu, para ilmuwan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk memecah kode genom virus. Namun berkat kemajuan teknologi, gen Covid-19 diidentifikasi dalam sebulan. Tak hanya itu, Cina juga menggunakan berbagai cara untuk berperang melawan ketengan mematikan tersebut.

Pengodean warna
Dengan menggandeng raksasa teknologi Alibaba dan Tencent, pemerintah Cina mengembangkan sistem peringkat kesehatan berkode warna yang melacak jutaan orang setiap hari. Aplikasi di ponsel pintar tersebut pertama kali digunakan di Hangzhou dengan kolaborasi Alibaba. Ada tiga warna yakni hijau, kuning dan merah yang digunakan untuk menandai orang-orang berdasarkan perjalanan dan riwayat kesehatan. Sedangkan di Shenzhen aplikasi ini diciptakan oleh Tencent.

Orang-orang dengan kode hijau diizinkan berada di ruang publik setelah menggunakan kode QR yang ditunjukkan di stasiun metro, kantor dan lainnya. Ada pos-pos pemeriksaan di sebagian besar tempat-tempat umum di mana kode dan suhu tubuh seseorang diperiksa. Lebih dari 200 kota di Cina menggunakan sistem ini, dan segera akan diperluas secara nasional.

Robotika
Robot digunakan digaris depan untuk mencegah penyebaran virus corona. Robot-robot ini menyiapkan makanan di rumah sakit, menjadi pelayan restoran, menyemprotkan desinfektan dan membershikan. Selain itu robot di rumah sakit juga melakukan diagnosa dan pencitraan termal. Bahkan ada yang menggunakan robot untuk mengangkut sample medis.

Robot XAG tengah beraksi menyemprotkan disinfektan di Cina. Foto: Venturebeat

Drone
Beberapa daerah yang terkena dampak parah, drone dihadirkan untuk mengangkut peralatan medis dan sampel pasien. Selain menghemat waktu, drone juga meningkatkan pengiriman serta mencegah risiko sampel terkontaminasi. Bahkan juga digunakan untuk menyiarkan peringatan pada warga agar tidak keluar rumah dan memarahi mereka yang tidak menggunakan masker.

Ekspresi nenek tua ketika drone mengingatkan dirinya agar tidak keluar tanpa menggunakan masker. Foto: Tangkapan layar

Big Data dan Pengenalan Wajah
Akses ke informasi publik telah mengarah pada pembuatan dasbor yang terus memantau virus dan banyak organisasi mengembangkannya menggunakan Big Data. Teknik pengenalan wajah dan deteksi suhu inframerah telah dipasang di semua kota terkemuka. Aplikasi ponsel pintar juga digunakan untuk mengawasi pergerakan orang dan memastikan apakah mereka telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Kamera CCTV juga telah dipasang di sebagian besar lokasi untuk memastikan bahwa mereka yang dikarantina tidak keluar.

Artificial Intelligence
AI memainkan peran utama dalam perawatan kesehatan akhir-akhir ini. Dengan bantuan analitik data dan model prediksi, profesional medis dapat memahami lebih banyak tentang banyak penyakit. Baidu, raksasa internet Cina, telah membuat algoritma Lineatrfold tersedia untuk tim yang memerangi wabah. Tidak seperti Ebola, HIV dan Influenza, Covind-19 hanya memiliki RNA untai tunggal, sehingga mampu bermutasi dengan cepat. Algoritma ini jauh lebih cepat daripada algoritma lain yang membantu memprediksi struktur suatu virus.

Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona

Kendaraan Otonom
Pada saat krisis kesehatan profesional yang parah dan risiko kontak orang-ke-orang, kendaraan otonom terbukti sangat bermanfaat dalam mengirimkan barang-barang penting seperti obat-obatan dan bahan makanan. Apollo, yang merupakan platform kendaraan otonom Baidu, telah bergandengan tangan dengan startup mandiri Neolix untuk mengirimkan pasokan dan makanan ke rumah sakit besar di Beijing. Baidu Apollo juga telah membuat kit mobil mikro dan layanan cloud mengemudi otonom tersedia secara gratis untuk perusahaan yang memerangi virus. Idriverplus, perusahaan self-driving China yang mengoperasikan kendaraan pembersih jalan listrik, juga merupakan bagian dari misi tersebut. Kendaraan andalan perusahaan digunakan untuk mendisinfeksi rumah sakit.

Scoot Perpanjang Perubahan Tanggal Gratis dengan Perbedaan Tarif Berlaku

Scoot maskapai berbiaya hemat (LCC) asal Singapura memberikan layanan gratis perubahan tanggal penerbangan. Layanan ini diberikan karena meningkatnya skala pandemi virus corona atau Covid-19 dan banyak penumpang Scoot yang telah memesan tiket penerbangan ingin mengubah rencana perjalanan mereka.

Baca juga: Tak Diberitahu Pihak Maskapai, Sejumlah Penumpang Scoot Frustasi Telah Terbang Bersama 110 Orang Wuhan

“Scoot memahami dan ingin memberikan penumpang kami kepercayaan diri untuk melakukan perjalanan saat mereka sudah siap,” tulis Scoot kepada KabarPenumpang.com melalui keterangan tertulis.

Anak perusahaan Singapore Airlines ini mengatakan, pada 19 Februari 2020 akan memberikan fleksibilitas kepada penumpang yang melakukan pemesanan sebelum dan pada 18 Februari 2020 dengan jadwal penerbangan mulai 20 Februari hingga seterusnya untuk melakukan perubahan tanggal sebanyak satu kali. Scoot menyebutkan bahwa ketika pelanggan ingin melakukan perubahan tanggal penerbangan tidak akan dikenakan biaya, tetapi perbedaan tari tetap berlaku.

“Ini dapat dilakukan dengan mudah oleh penumpang melalui halaman “Kelola Pemesanan Saya” di situs atau melalui aplikasi mobile kami, sehingga mereka tidak perlu menghubungi call centre kami,” tulis Scoot.

Perubahan tanggal harus dilakukan sebelum tanggal keberangkatan awal, atau paling lambat 31 Mei 2020 (mana yang lebih dulu), untuk jadwal penerbangan sampai 27 Maret 2021. Kebijakan perubahan tanggal gratis dari Scoot menarik penumpang yang masih berencana untuk melakukan perjalanan dan masih menyukai fleksibilitas seputar tanggal keberangkatan mereka mengingat situasi saat ini.

“Untuk memberikan penumpang kami kepercayaan diri dalam merencanakan perjalanan, Scoot memperpanjang kebijakan perubahan tanggal gratis sebanyak satu kali untuk semua pemesanan baru yang dibuat antara 10 Maret 2020 sampai 14 Mei 2020 di situs kami, aplikasi mobile atau situs pemesanan WeChat,” tulisnya.

Baca juga: Scoot Resmi Pindah dari Terminal 2 ke Terminal 1 Bandara Changi

Untuk pemesanan yang dilakukan pada periode ini, perubahan tanggal gratis satu kali dapat dilakukan hingga empat jam sebelum waktu keberangkatan penerbangan yang dijadwalkan, untuk perjalanan hingga 27 Maret 2021.

Jaga Jarak Sosial, Persempit Penyebaran Covid-19

Menjaga jarak sosial atau social distancing saat ini diperlukan untuk meminimalisir penyebaran virus corona atau Covid-19. Di beberapa negara hal ini sudah dilaksanakan dan pejabat kesehatan di Amerika Serikat juga meminta hal tersebut. Memang hidup tanpa interaksi langsung dengan orang lain bisa dicoba, tetapi para ahli kesehatan masyarakat bersikeras bahwa komitmen setiap orang untuk menjaga jarak adalah untuk meminimalkan Covid-19 yang akhirnya membantu menyelamatkan nyawa.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, TransJakarta Tak Terima Uang Tunai Untuk Top Up Kartu Elektronik

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman latimes.com (18/3/2020), banyak cara yang lebih baik bisa dilakukan untuk menjaga jarak sosial. Seperti tidak adanya pertemuan massal atau pertemuan di tempat-tempat yang mana orang banyak bisa berkumpul. Jika memang harus keluar ke tempat umum, berikan jarak sekitar satu meter. Ini dilakukan agar peluang penyebaran virus lebih diperlambat lagi. Crystal Watson, pakar kesiapsiagaan kesehatan masyrakat di Univesitas Johns Hopkins mengatakan, ini adalah cara paling penting untuk melindungi masyarakat yang paling rentan.

“Maka rumah sakit akan dapat menangani ini jauh lebih baik,” kata Watson.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa satu orang yang terinfeksi dengan virus corona baru, rata-rata menginfeksi 3,3 orang. Semakin tinggi angka itu maka semakin cepat virus menyebar. Beberapa faktor mempengaruhi jumlah reproduksi, termasuk seberapa menularnya virus, seberapa rentan orang, berapa kali orang berinteraksi satu sama lain, dan berapa lama interaksi itu berlangsung.

Dr. Jeffrey Martin, seorang ahli epidemiologi penyakit menular di UC San Francisco mengatakan, penjajaran sosial bertujuan untuk mengurangi dua hal terakhir dalam daftar itu, yang pada gilirannya akan mengurangi jumlah reproduksi dan memperlambat penyebaran penyakit.

Mengisolasi diri sendiri adalah saat Anda memiliki gejala dan tidak ingin membuat orang lain sakit. Dalam kasus Covid-19, keduanya seharusnya berlangsung sekitar 14 hari, cukup waktu untuk timbulnya gejala potensial dalam lingkungan di mana virus tidak dapat menginfeksi orang lain. Idealnya, jarak sosial terlihat seperti karantina atau isolasi diri, kecuali tidak ada kerangka waktu tertentu yang terlibat.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengatakan, jika bisa bekerja di rumah lebih baik dilakukan dan jangan berkumpul di ruang publik bersama atau di acara publik, seperti pusat kebugaran, restoran, festival, atau konser. Hindari pelayaran dan perjalanan yang tidak penting, terutama jika Anda berisiko lebih tinggi untuk sakit parah akibat penyakit itu, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

“Jika Anda harus pergi ke toko untuk membeli bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya, cobalah untuk pergi selama jam sibuk. Saat Anda di sana, pertahankan jarak sekitar satu meter antara Anda dan orang lain. Itu akan mengurangi kemungkinan Anda akan terkena virus dari tetesan yang menyebar di udara dengan batuk atau bersin,” kata Watson.

Dia menambahkan pastikan untuk membersihkan permukaan bersama sebelum dan setelah Anda melakukan kontak dengan mereka. Jika sekolah anak-anak Anda telah ditutup, jangan kirim mereka ke tempat penitipan anak atau pengaturan kelompok lain yang mengalahkan tujuan penutupan sekolah.

“Kita semua harus berlatih menjaga jarak sosial sebanyak mungkin. Bahkan jika Anda merasa baik-baik saja, Anda mungkin terinfeksi, dan Anda masih bisa menularkan virus kepada orang lain yang mungkin berisiko sakit serius atau bahkan kematian. Sangat penting untuk mempertimbangkan bahwa kita semua adalah bagian dari ini dan Anda tidak ingin menjadi … tautan dalam rantai ini yang melanjutkan rantai transmisi yang mungkin dapat menyebabkan seseorang menjadi benar-benar sakit,” kata Watson.

Untuk menyelesaikan dengan jarak sosial, sulit untuk diungkapkan karena bisa saja ini dilakukan jangka panjang dan melakukan banyak penyesuaian dalam hidup untuk mengakomodasi. Bahkan Watson mengatakan, akan melewati hal itu meski terasa menyakitkan.

“Kamu tidak salah. Manusia adalah makhluk sosial, dan diisolasi dapat memiliki konsekuensi jangka panjang negatif bagi kesehatan fisik, mental dan kognitif. Saya pikir apa yang kita hadapi saat ini adalah memitigasi risiko langsung ini sementara mungkin tidak mengabaikan risiko jangka panjang,” kata Julianne Holt-Lunstad, seorang psikolog penelitian dan ahli saraf di Universitas Brigham Young.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Untungnya, ada banyak cara untuk meringankan keterasingan sosial itu, dan untuk mencari anggota masyarakat yang rentan. Orang-orang yang bersembunyi di rumah dapat melakukan obrolan video dan telepon dengan teman dan orang yang dicintai. Mereka dapat menawarkan dukungan secara verbal atau aktif, dengan berbagi informasi kontak atau mengantarkan makanan atau barang ke tetangga yang mungkin tidak dapat keluar sendiri. Holt-Lunstad menunjuk ke salah satu tetangganya sendiri, yang mengirimkan teks penawaran kelompok untuk mengambil item dari toko untuk mereka.

“Meskipun saya tidak membutuhkan apa-apa, hanya mengetahui bahwa saya dapat mengandalkan tetangga saya jika saya memang membutuhkan sesuatu,” kata Holt-Lunstad.

Scania Kenalkan Sistem BSW dan VRUCW untuk Kurangi Kecelakaan Pada Pejalan Kaki dan Pesepeda

Kendaran besar seperti bus dan truk memiliki blind spot atau bagian yang tak bisa terlihat oleh para pengemudi. Ini salah satu yang bisa menyebabkan kecelakaan di jalan raya. Hal tersebut kemudian membuat pabrikan truk Swedia Scania memperkenalkan dua sistem deteksi sisi baru yang dirancang untuk menghindari atau mengurangi truk bersentuhan dengan pengguna jalan lain.

Baca juga: I-SAW-U, Teknologi Anti Blind Spot Pada Angkutan Bus

KabarPenumpang.com melansir laman thetruckexpert.co.uk (2/3/2020), sistem tersebut adalah Blind Spot Warning (BSW) dan berada di kedua sisi truk serta Vulnerable Road User Collision Warning (VRUCW) di sisi penumpang. Sistem ini menggunakan sensor radar dan kamera dalam kombinasi yang bekerja dengan kecepatan lebih dari dua kilometer per jamnya termasuk di jalan raya.

BSW dan VRUCW memberikan peringatan yang dapat didengar dan dilihat pengemudi yang meningkat dalam tiga tingkatan. Dalam hal sistem ini, Scania lebih mengantisipasi pada pejalan kaki dan pengendara sepeda. Sebab Scania mengatakan, mereka akan mendapat manfaat paling banyak dari mata ekstra tersebut.

Di Inggris, insiden paling umum adalah saat sebuah truk belok ke kiri di persimpangan dan ketika itu seorang pengendara sepeda mencoba melewati dari sisi kiri truk. Sehingga Scania mengatakan, kehadiran fungsi deteksi samping, akan memberitahu pengemudi truk dengan peringatan visual dan suara dalam kabin jika ada pengendara sepeda dan pejalan kaki memasuko zona risiko di dekat truk.

Sementara sistem BSW utamanya dirancang untuk memperingatkan pengemudi truk tentang mobil “tersembunyi” ketika pada kecepatan tinggi berpindah jalur, ia juga dapat memperingatkan untuk sepeda dan pejalan kaki. Sementara fokus utama VRUCW adalah mendeteksi pengendara sepeda dan sepeda motor, VRUCW juga dapat melihat pejalan kaki.

“Deteksi Sisi yang ditingkatkan adalah komponen lain dalam tujuan Scania untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan yang rentan. Saya sangat merasa bahwa setiap pengemudi truk ingin memiliki sistem pendukung tanpa henti ini di pihak mereka ketika berhadapan dengan lingkungan lalu lintas yang sibuk,” kata Alexander Vlaskamp, ​​wakil presiden senior, kepala Scania Trucks.

Baca juga: Singapura Uji Coba Sistem Blind Spot Pada 20 Bus

“Truk membentuk tulang punggung masyarakat perkotaan dan memastikan kita semua melakukan semua yang kita bisa untuk mempromosikan keselamatan adalah penting bagi semua orang. Scania percaya sistem ADAS dapat membuat perbedaan nyata, membantu pengemudi untuk menangani beberapa lingkungan mengemudi yang paling menantang dengan aman,” tambahnya.

Gegara Corona, Transportasi Umum di Israel Hanya Melayani Rute ke Kantor Pemerintahan

Mewabahnya virus corona sudah menjadi kejadian luar biasa di berbagai negara dan membuat adanya peraturan baru untuk moda transportasi ataupun hal lainnya. di Israel, pembatasan transportasi umum hingga jam delapan malam ketika hari kerja.

Baca juga: Cegah Penyebaran Virus Corona, Pembatasan Transportasi Publik Dilakukan Banyak Negara

Sedangkan pada akhir pekan tidak ada layanan transportasi yang akan beroperasi. Menteri Perhubungan Betzalel Smotrich mengatakan, sejak Selasa (17/3/2020) kemarin, transportasi umum hanya boleh digunakan untuk warga yang akan melakukan hal untuk pemerintahan.

Dia menyebutkan maka akan ada beberapa perhentian dan rute yang diubah atau sama sekali tidak dilintasi. Smotrich mengatakan, warga masyarakat tidak bisa mengunjungi kerabat di akhir pekan karena bisa menginveksi mereka dengan virus.

“Siswa di sekolah juga harus belajar dirumah karena sekolah ditutup. Transportasi umum kita hentikan pukul delapan malam dan peraturan ini berlaku untuk bus, kereta api dan kereta ringan,” kata dia.

Adanya peraturan baru ini diperkenalkan oleh direktur otoritas transportasi nasional Amir Asraf. Dari data pusat statistik, banyak warga Israel yang menggunakan transportasi umum karena status sosial yang rendah.

Sehingga mereka setiap saat menggunakan bus atau kereta api dibandingkan kendaraan pribadi. Dilansir KabarPenumpang.com dari jpost.com (17/3/2020), Prof Arel Avineri, Kepala Spesialisasi Lulusan, Rekayasa dan Manajemen Sistem Infrastruktur di Afeka College mengatakan, meskipun lebih sedikit orang akan menggunakan transportasi umum karena wabah koronavirus, penurunan ketersediaan mungkin tidak diinginkan.

“Dalam penelitian yang dilakukan pada SARS, terbukti bahwa setiap kali mereka berbicara tentang wabah di media, ada penurunan 1200 pengguna kereta bawah tanah di Taiwan, meskipun naik kembali seiring waktu. Berarti, masyarakat sedang shock sekarang, tetapi seiring waktu, orang akan perlu melakukan perjalanan lagi, dan transportasi umum diperlukan karena tidak semua orang memiliki mobil,” katanya.

Analis transportasi Nachman Shelef mengatakan, ada jalur bus yang harus dikurangi, seperti yang menuju ke lembaga pendidikan atau zona industri, tetapi pengurangan keseluruhan bisa meningkatkan kepadatan di jalur sibuk.

“Saya berharap mereka mempertimbangkan faktor ini, terutama ketika sebagian besar dari mereka yang mengambil keputusan menggunakan kendaraan pribadi dan karena itu tidak mengerti apa artinya bergantung pada transportasi umum daripada mobil,” katanya.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Jumlah pelancong di Jalur Kereta Israel menurun setidaknya 50 persen pada hari Senin (16/3/2020), meskipun jalur bus Egged memiliki jumlah penumpang normal. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan desinfeksi bus dan kereta minggu lalu. Tidak ada arahan resmi yang diterima oleh operator transportasi umum dan Kereta Api Israel. Perusahaan memulai operasi desinfeksi sendiri.