Prototipe Maglev Hasilkan Daya dengan Teknologi yang Sama dengan Ponsel Pintar

Prototipe kereta peluru levitasi magnetik atau yang dikenal dengan Maglev baru saja diluncurkan pada Rabu (25/3/2020) oleh pengembang Jepang. Kereta Maglev ini mampu menurunkan daya onboard sepenuhnya secara nikabel. Maglev ini akan menghasilkan daya dari pengisian induktif di mana teknologi yang sama secara nirkabel untuk mengisi ulang ponsel pintar.

Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (26/2/2020), kereta Maglev akan mampu melaju dengan kecepatan mencapai 50 km per jam. Operator Central Japan Railway atau yang biasa dikenal sebagai JR Tokai akan memulai melayani penumpang dengan kereta Maglev tersebut pada tahun 2027 mendatang. Adapun rute yang akan ditempuh kereta Maglev ini adalah dari Tokyo menuju Nagoya dan sebaliknya.

“Mengenai prototipe ini, kami telah mencapai 80 hingga 90 persen untuk operasi komersial,” kata Motoaki Terai yang mengawasi pengembangan Maglev JR Tokai.

Motoaki mengatakan, Maglev ini akan berseri L0 dan asli berisi generator turbin gas yang menghasilkan daya untuk pencahayaan interior dan sistem pendingin udara. Dia menyebutkan, untuk prototipe tidak akan menggunakan turbin melainkan mengandalkan sepenuhnya pada gulungan yang dipasang di kereta dan di sepanjang rel untuk menghasilkan listrik.

Sehingga hal ini melahirkan mobil akhir yang lebih ringan dan ramping yang dipajang di Kasado Works Hitachi di Kudamatsu, sebuah kota di barat daya Hirosima. Hidung untuk seri L0 yang asli tampak datar, sedangkan hidung prototipe seperti jembatan yang panjang.

Prototipe itu memiliki garis-garis biru tua yang mirip sekali dengan kereta peluru JR Tokai, Tokaido shinkansen yang menghubungkan Tokyo dengan Osaka. Saat ini diketahui Hitachi sedang membangun mobil akhir sementara Nippon Sharyo memproduksi gerbong perantara.

Kereta Maglev ini nantinya akan menyelesaikan seluruh perjalanan dengan panjang 236 km hanya dalam waktu 40 menit. Tujuan utamanya adalah untuk mengekspor teknologi ke Amerika Serikat.

Baca juga: Beroperasi di 2027, JR Central Batasi Kecepatan SCMaglev ‘Hanya’ 500 Km Per Jam!

Di Jepang, bagaimanapun, maglev menghadapi hambatan untuk menyelesaikan di bentangan pegunungan di Prefektur Shizuoka. Di sana, gubernur terus memblokir pembangunan terowongan sepanjang sembilan kilometer, dengan alasan efek yang berpotensi merusak sumber daya air.

Duduk Lama Dengan Kaki Bersilang, Waspada Bisa Mengundang Masalah Pada Kesehatan

Sebagai penumpang yang menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, bahkan pesawat terbang akan merasakan duduk yang cukup lama. Apalagi untuk jarak yang cukup jauh dan perjalanan yang cukup lama. Terkadang, Anda bosan dengan hanya meluruskan kaki atau mengangkat kaki ke tempat duduk, Anda juga tak jarang untuk menyilangkan kaki. Tahukah Anda jika terlalu lama menyilangkan kaki akan banyak dampaknya pada diri dan bisa membuat kaki lumpuh?

Baca juga: Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, dimana duduk dengan posisi kaki saling bertumpukan dalam waktu lama sangat berbahaya. Karena sudah banyak ahli kesehatan yang mengklaim masalah ini.

Alasan utama para ahli kesehatan ini adalah kerusakan terhadap kaki. Ironisnya, masih banyak yang tidak menyadari bahaya tersebut. Tak hanya peningkatan tekanan dan resiko penyakit varises atau pelebaran pembuluh darah balik, posisi kaki yang biasa di sebut lady like atau menyilangkan kaki ini juga berperan besar sebagai penyebab masalah kesehatan.

Dengan menyilangkan kaki, resiko kelumpuhan syaraf peroneal atau tulang betis cukup tinggi, karena dapat menekan syaraf bahkan merusaknya. Posisi kaki seperti ini juga bisa mempengaruhi sirkulasi darah, dimana ketika Anda meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya, intensitas jumlah darah akan lebih banyak terpompa ke jantung.

Hal ini yang berakibat negatif pada sirkulasi aliran darah dalam tubuh. Posisi kaki lady like juga memperngaruhi keseimbangan otot paha bagian dalam dan luar, karena dapat menyebabkan ketidakseimbangan tulang panggul dan masalah di bagian persendian salah satunya juga membuat punggung dan leher pegal.

Baca juga: Lakukan Olahraga Selama Perjalanan, Hindari Keram dan Bantu Bakar Kalori

Peradangan kaki, penghambatan pembuluh darah hingga timbulnya pembuluh darah kecil dengan warna merah, biru, ungu yang berbentuk seperti jaring laba-laba atau akar pohon yang tampak di permukaan kulit (Spider Veins) juga akan semakin besar.

Sebenarnya untuk menghindari segala kemungkinan terburuk karena menyilangkan kaki, setiap dua sampai empat menit menurunkan kaki, dapat membantu minimalisir kerusakan, tapi podiatrist (ahli penyakit kaki) menyarankan tinggalkan posisi ini sama sekali. Yang paling baik adalah, jangan duduk menyilangkan kaki atau, bangun dari tempat duduk dan bergeraklah.

IATA: Penumpang di Eropa Turun 38 Persen dan Maskapai Bakal Kehilangan US$76 Miliar

Maskapai penerbangan Eropa diperkirakan akan kehilangan US$76 miliar atau £63 miliar dalam pendapatan penumpang selama tahun 2020. Hal ini terjadi karena adanya larangan perjalanan untuk pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19 yang telah diperingatkan oleh badan industri.

Baca juga: Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

KabarPenumpang.com melansir laman theguardian.com (26/3/2020), International Air Transport Association (IATA) menunjukkan maskapai penerbagan Eropa akan menanggung bagian penting dari serangan global yang disebabkan oleh pandemi dan menyebabkan penurunan jumlah penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya. IATA bahkan menyebutkan perkiraan penurunan penumpang hingga 38 persen.

Angka perkiraan tersebut menyebabkan pendapatan global turun $252 miliar pada tahun 2020 atau hampir mengurangi separuh pendapatan industri dibandingkan tahun 2019 kemarin. IATA menyebutkan, perkiraan tersebut didasarkan pada penutupan tiga bulan di sebagian besar dunia dengan kurangnya arus kas yang mengancam kelangsungan hidup maskapai penerbangan secara global.

Maskapai penerbangan Inggris Flybe, yang sebelumnya merupakan maskapai regional terbesar Eropa ambruk pada awal bulan. Ambruknya Flybe karena penurunan jumlah penumpang ketika Covid-19 makin meluas.

Rafael Schvartzman, wakil presiden regional IATA untuk Eropa, mengatakan pada hari Kamis (25/3/2020) bahwa banyak maskapai penerbangan tidak memiliki cukup uang tunai untuk menopang mereka setelah lebih dari dua bulan penutupan. Industri minggu ini menyerukan pemerintah di seluruh dunia untuk campur tangan dengan dukungan uang tunai termasuk suntikan tunai, pinjaman dan keringanan pajak untuk mencegah “krisis likuiditas”.

Alexandre de Juniac, kepala eksekutif IATA, mengatakan bahwa kegagalan untuk melakukan hal itu dapat menyebabkan maskapai penerbangan gagal “secara massal”. Karena hal ini, kemudian Politisi Amerika Serikat telah merespons dengan dana talangan untuk industri yang diperkirakan akan mencapai pinjaman dan dukungan tunai sebesar $50 miliar.

Di Inggris, pemerintah sejauh ini terbukti tidak mau memberikan bantuan khusus kepada industri penerbangan. Kanselir, Rishi Sunak, telah berjanji untuk membayar 80 persen dari gaji pekerja kasar di seluruh Inggris, tetapi pemerintah dianggap menentang memberikan dukungan khusus untuk maskapai penerbangan, beberapa di antaranya membual dengan neraca yang kuat.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Pemilik British Airways, International Airlines Group, bulan ini mengatakan memiliki £8,9 miliar dalam bentuk tunai dan fasilitas pinjaman, sementara easyJet terus membayar dengan pembayaran dividen £171 juta meskipun ada krisis. Bahkan dalam masa krisis Covid-19, juru kampanye lingkungan berpendapat bahwa maskapai tidak boleh ditebus kecuali mereka memiliki rencana realistis untuk mengatasi keadaan darurat iklim.

Setelah 17 Hari Dikosongkan, Virus Corona Masih Ditemukan di Kapal Pesiar Diamond Princess

Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat dan Preventif atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan dalam situs webnya pada 23 Maret bahwa virus corona atau Covid-19 masih ditemukan di kamar penumpang yang terinfeksi di kapal pesiar Diamond Princess. Virus tersebut ditemukan sekitar 17 hari setelah mereka turun dari kapal yang berlabuh di pelabuhan Yokohama untuk karantina.

Baca juga: Masa Karantina Berakhir, Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Mulai Turun

Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (25/3/2020), dikatakan CDC bahwa virus tersebut ditemukan di permukaan kamar kosong dari penumpang yang terinfeksi. Meski begitu, tidak diketahui apakah benda-benda yang ada didalam kamar tersebut masih menyimpan virus setelah waktu itu dan apakah menimbulkan risiko ketika di sentuh atau dengan cara lain.

Sebab temuan menunjukkan, kemungkinan virus dapat bertahan lebih dari dua minggu dalam beberapa kondisi. Saat ini CDC tengah mengumpulkan hasil dari berbagai tanggapan virus dan lainnya.

Bila berdasarkan analisis penyebaran infeksi pada kapal pesiar, pihaknya memperingatkan bahwa risiko infeksi meluas sangat tinggi pada kapal pesiar itu. Pasalanya lingkungannya tertutup dan di mana kelompok besar penumpang dan anggota kru dari berbagai negara berkumpul.

CDC menyatakan bahwa virus yang terdeteksi tersebut di temukan sebelum metode sterilisasi dilakukan. Selain itu laporan dari para peneliti Jepang dan lainnya mengungkapkan virus yang ada di Diamond Princess menyebar di antara anggota kru yang ditugaskan menyiapkan dan menyajikan makanan kepada penumpang lainnya.

Diketahui, anggota kru Diamond Princess yang pertama diidentifikasi terinfeksi Covid-19 adalah pekerja layanan makanan. Dia terserang demam pada 2 Februari 2020 sebelum kapal dijadwalkan berlabuh di Yokohama.

Selain itu, pada 9 Februari, setelah langkah-langkah karantina dimulai di atas kapal Diamond Princess yang berlabuh di Pelabuhan Yokohama, penyelidikan oleh perusahaan yang mengoperasikan kapal itu menemukan bahwa 31 anggota awak menderita demam, dan 20 diantaranya bekerja dalam peran pelayanan makanan. Laporan dari para peneliti Jepang dan lainnya mengatakan bahwa sampai sekarang paling awal bahwa siapa pun di kapal diketahui menunjukkan gejala adalah penumpang pada 22 Januari.

Anggota kru pelayanan makanan tersebut kemudian dikonfirmasi positif. Namun demikian orang ini tetap berada di kapal pesiar sampai tiba di perairan lepas Yokohama. Dilaporkan, tidak ada risiko teridentifikasi infeksi dari Covid-19 baru di atas kapal Diamond Princess sampai laporan datang pada 1 Februari bahwa seorang penumpang yang turun di Hong Kong pada 25 Januari dinyatakan positif, menciptakan jeda waktu setidaknya sepuluh hari dari perkembangan gejala pertama.

Baca juga: Jepang Karantina Kapal Pesiar Diamond Princess Gara-gara Satu Penumpang Terinveksi Virus Corona

Laporan itu berbunyi, “COVID-19 kemungkinan ditransmisikan pertama kali dari penumpang ke anggota kru dan kemudian menyebar di antara kru, terutama di kalangan pekerja jasa makanan.”

Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order

Covid-19 saat ini membuat semua sekolah dan universitas menyuruh siswanya School From Home atau sekolah dari rumah. Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan juga membuat karyawan mereka Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Baca juga: Di Tengah Merebaknya Virus Corona, Kemenhub Naikkan Tarif Ojol di Jabodetabek

Akibat dari Covid-19 ini bahkan memengaruhi industri transportasi, seperti pesawat, perusahaan otobus, TransJakarta, kereta baik lokal maupun jarak jauh hingga para pengemudi ride hailing atau ojek online (ojol) yakni GoJek dan Grab. KabarPenumpang.com merangkum dari beberbagai laman sumber, para ojol menjadi sepi penumpang setelah pandemi ini meluas di Indonesia khususnya Ibukota Jakarta. Namun meski begitu, ternyata pemesanan layanan pesan antar makanan dari GoFood dan GrabFood meningkat.

Bahkan fitur kesehatan di aplikasi mereka yakni GoMed dan GrabHealth juga melonjak. Chief Public Policy and Goverment Relations GoJek Group Shinto Nugroho tak merinci peningkatan layanan pada fitur GoFood maupun GoMed mereka. Selain GoJek, Head of Public Affairs Grab Tri Sukma Anreianno juga mencatat bahwa GrabFood dan GrabHelath meningkat drasrus.

Tri mengatakan, nilai dari peningkatan penggunaan dua fitur dari Grab ini akan diumumkan pihaknya dalam beberapa waktu kedepan. Kenaikan permintaan GoFood dan GrabFood ini juga ada andil dari munculnya sebuah gerakan aksi peduli terhadap ojol dari masyarakat dengan memesan makanan.

Tak hanya itu, makanan yag dipesan pun tidak diambil semua oleh pemesan bahkan ada yang memberikannya pada para ojol sebagai salah satu bentuk imbalan karena menurunnya permintaan penumpang. Bahkan seorang influencer bernama Ligwina Hananto ikut andoil dalam aksi tersebut dengan memesanmakan siang.

Di laman Twitter-nya, dia menulis tweet, “Udah pada order makan siang buat driver ojol yg sepi order? Kita makanan bisa nyetok, siap dirumahkan, dana darurat aman, nyerok saham juga hayu. Orang lain sarapan saja enggak bisa. Silakan laksanakan gaes.”

Selain kisah dari pemilik akun twitter bernama Ananda Rizki dengan melakukan hal serupa namun pengendara ojol yang menerima makanan malah membagikan kepada yang lebih membutuhkan. Lalu, pemilik akun Twitter @berhijabmerah juga mengajak masyarakat yang lain kalau aksi peduli semacam ini juga bisa dilakukan dengan cara-cara yang lain misalnya memesan layanan go-shop atau go-mart dengan memberikan bahan-bahan pokok kepada pengendara ojol.

Baca juga: Kementerian Perhubungan Periksa Mendadak Layanan Ojol di Malaysia

“Hal baik yang bisa kita lakukan saat social distancing ini selain pesenin makanan ojol, bisa juga order go-shop atau go-mart bahan makanan mentah,” tulisnya.

Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Banyak maskapai yang mulai mendaratkan sebagian besar pesawat mereka karena virus corona (Covid-19) yang merebak di berbagai dunia. Namun berbeda dengan salah satu maskapai milik Vietnam, yakni Vietjet yang justru memungkinkan penumpangnya mengklaim hingga 200 juta Dong Vietnam atau sekitar Rp138 juta jika terinfeksi Covid-19 saat bepergian dengan pesawat mereka.

Baca juga: Virus Corona Merajalela, Apakah Pelancong Bisa Klaim Asuransi Ketika Terjangkit Saat Berlibur?

Klaim ini sendiri merupakan bagian dari program polis asuransi yang diluncurkan Vietjet bernama ‘Sky Covid Care’. Program asuransi ini sendiri berlaku untuk semua penerbangan domestik maskapai berbiaya hemat (LCC) asal Vietnam itu sejak 23 Maret hingga 30 Juni 2020 mendatang.

KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai laman sumber, klaim asuransi tersebut berlaku untuk semua penumpang yang memenuhi syarat tanpa aturan yang dibatasi usia dan kewarganegaraan. Bahkan dalam pernyataan resminya, Vietjet siap mengelontorkan puluhan miliar Dong Vietnam untuk memastikan bahwa pelanggannya merasa nyaman ketika bepergian selama krisis ini berlangsung.

“Keselamatan dan kesehatan penumpang dan awak kabin mendapat perlindungan utama terhadap semua risiko penyakit. Dengan asuransi ini, penumpang berhak atas pertanggungan asuransi dan manfaat dari Vietjet dalam waktu 30 hari mulai pukul 00.01 dari tanggal penerbangan, terlepas dari bagaimana penumpang terinfeksi penyakit tersebut,” tulis Vietjet.

Adanya program ini, maskapai milik Vietnam tersebut meyakini bahwa pesawat mereka aman dari paparan Covid-19. Untuk bisa mengklaim ini, pihak maskapai mengatakan bahwa calon penumpang harus memberikan semua informasi sesuai dengan syarat dan ketentuan Vietjet saat membeli tiket.

Selain itu, penumpang harus mematuhi semua tentang prosedur pencegahan dan pengendalian Covid-19 yang diberlakukan Kementerian Kesehatan dan pihak berwenang. Namun, sayangnya bagi penumpang yang telah dikonfirmasi positif Covid-19 sebelum naik pesawat milik Vietjet dianggap tidak memenuhi persyaratan.

Bagi penumpang yang melanggar prosedur keselamatan selama perjalanan, seperti melanggar aturan social distancing yang diberikan Kementerian Vietnam, juga tidak memenuhi persyaratan. Pihak maskapai menegaskan, bahwa mereka hanya memberikan premi asuransi kepada penderita Covid-19 yang tepapar saat dalam penerbangan.

Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya

Dalam artian, penderita penyakit epilepsi, penyakit mental, atau tindakan bunuh diri bukan bagian dari prosedur yang diberlakukan. Untuk mengajukan klaim, penumpang harus memberikan bukti bahwa mereka telah dites positif terkena virus corona (tunduk pada tes yang disetujui oleh Departemen Kesehatan Vietnam) dan bukti bahwa mereka dirawat “di rumah sakit atau di pusat kesehatan resmi yang terletak di wilayah Vietnam.” Pada 25 Maret, Kementerian Kesehatan Vietnam telah mengkonfirmasi total 134 kasus di negaranya.

Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Maskapai global ramai-ramai mengurangi kapasitas penerbangan mereka hingga angka yang cukup fantastis. Singapore Airlines dan Cathay, misalnya, memangkas kapasitas penerbangan hingga 96 persen. Akibatnya, tentu saja berimbas pada banyaknya pesawat yang terpaksa di-grounded akibat sepinya penerbangan di tengah terjangan wabah virus corona.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Dikutip dari Simple Flying, data jumlah pesawat yang digrounded oleh maskapai jumlahnya sangat mengejutkan. Pada 25 Maret lalu, analis data penerbangan, Cirium, melaporkan ada lebih dari 6.600 pesawat yang digrounded, tepatnya 6.639 unit.

Meskipun demikian, angka tersebut diperkirakan belum final alias masih akan terus bertambah di tengah masifnya pembatasan perjalanan antar negara bahkan antar benua. Bisa saja hari ini, angkanya berubah menjadi dua kali lipat, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan, sekalipun di Cina sudah mulai membaik.

Dari total pesawat yang digrounded tersebut, antara pesawat Airbus dan Boeing, perbandingannya tidak terlalu berbeda jauh. Pesawat buatan pabrikan asal Amerika tersebut, saat ini jumlahnya ada 2.542, dengan rincian 1.671 narrowbody dan sisanya, 871 adalah pesawat widebody.

Boeing 737 merupakan penyumbang angka terbesar untuk pesawat narrowbody dengan total 1087 unit, termasuk -200, model Klasik, dan Next Generation atau NG. Itupun belum termasuk 737 MAX. Bila ditambah dengan pesawat yang telah digrounded setahun lebih itu, totalnya mencapai 1470 unit, dimana MAX menyumbang 383 unit. Sisanya, seperti Boeing 717, 727, 747, 757, 767, 777, dan 787, masing-masing sebanyak 45, 6, 108, 150, 154, 376, dan 233 unit pesawat.

Adapun pesawat buatan Airbus, jumlahnya sedikit lebih tinggi, mencapai 2.608 unit. Sama seperti Boeing, pesawat narrowbody Airbus menjadi penyumbang terbesar dengan 1.837 dan 771 sisanya adalah widebody.

Airbus A320, yang notabene pesaing utama Boeing 737, menjadi penyumbang terbesar pesawat yang digrounded dengan 948 unit. Kemudian disusul A330 dengan 467, A319 sebanyak 338, A321 sebanyak 325, A340 sebanyak 117, A320neo 112, A380 84 unit, A350 66 unit, A321neo 58 unit, Airbus A220 33 unit, A318 23 unit, A330neo 18 unit, A300 11 unit, dan A310 sebanyak 8 unit.

Selain melacak jumlah pesawat yang digrounded, Cirium juga melacak data penerbangan yang tengah beroperasi saat ini. Pada hari Senin, 23 Maret, misalnya, Airbus A330 di seluruh dunia tercatat mengoperasikan kurang dari 600 penerbangan menggunakan 300 pesawat dengan total jam terbang mencapai 3000 jam. Bila dibandingkan dengan 16 Maret lalu, jumlah tersebut terkoreksi turun sebesar 50 persen. Namun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, perbandingannya lebih besar lagi, dengan persentase penurunan pesawat aktif mencapai 70 persen dan penurunan jam terbang mencapai 80 persen.

Contoh lainnya, Boeing triple seven atau 777, misalnya, angkanya juga cukup memprihatinkan. Pada tanggal 22 Maret hingga 15 Maret, jumlah total jam terbang dan siklus penerbangan Boeing 777 menurun sekitar sepertiga. Bila dari periode tersebut datanya digabungkan, total ada 1.200 siklus penerbangan lebih sedikit dan pengurangan 8.000 jam penerbangan antara kedua tanggal tersebut.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Selanjutnya, dari data-data di atas, pertanyaan yang paling mungkin adalah, dimana maskapai menyimpan pesawat? Bandara utama di masing-masing negara masih menjadi pilihan favorit maskapai untuk meng-grounded pesawatnya. Bahkan, di beberapa bandara utama, seperti di Hartsfield Jackson di Atlanta, Amerika Serikat dan Paris Charles de Gaulle, Perancis, saking banyaknya pesawat yang parkir, otoritas bandara setempat sampai harus menutup landasan pacu semata untuk menampung pesawat.

Sementara di negara lainnya, utamanya bagi maskapai yang tidak kedapatan tempat untuk meng-grounded armadanya di bandara utama, mereka memilih untuk meng-grounded pesawat di bandara tertutup. Kemudian, bilapun harus memaksa parkir pesawat di bandara utama, karena akses yang lebih mudah, di beberapa bandara bahkan harus membuat apron serta ruang penyimpanan tambahan sementara untuk menampung pesawat.

Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Raksasa produsen pesawat Eropa, Airbus, dilaporkan tengah berupaya membuat ventilator untuk membantu pemerintah Inggris melawan virus corona. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus berharap dapat segera diberikan lampu hijau untuk memproduksi 30 ribu ventilator mulai pekan depan.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Dalam proyek tersebut, Airbus ikut terlibat dalam penyediaan desain tiga dimensi dan fasilitas. Sadar produksi akan lebih cepat bila dilakukan bersama-sama, Airbus, melalui Ventilator Challenge UK kemudian menggandeng berbagai perusahaan lainnya, seperti Smiths Medical, dari Luton untuk membuat desain ventilator, serta Penlon, manufaktur medis yang berbasis di Abingdon, Oxfordshire.

Berbeda dengan Airbus yang menggandeng beberapa vendor, Dyson justru yakin, pengalaman dalam memproduksi mobil listrik serta mendesain dan memproduksi peralatan rumah tangga seperti penyedot debu, pembersih udara, pengering tangan, kipas tanpa noda, pemanas, pengering rambut, dan lampu dapat membuat mereka memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

Sebab, dari situ, produksi mereka bersinggungan dengan ventilator, seperti membuat motor digital, baterai, keahlian terkait aliran udara, dan filter HEPA, yang mampu membunuh partikel kecil hingga 99,9 persen. Dengan begitu, produksi ventilator bisa lebih cepat.

Seperti diwartakan The Guardian, pasalnya, di antara peralatan medis yang paling dibutuhkan di Inggris, ventilator adalah salah satunya, di samping jumlahnya yang sangat sedikit. Dalam laporan Kementerian Kesehatan Inggris atau National Health Service (NHS), saat ini Inggris hanya memiliki kurang dari 10 ribu ventilator di seantero negeri.

Oleh karenanya, konsorsium Ventilator Challenge UK yang dipimpin Airbus berencana untuk meningkatkan produksi ventilator yang ada dan juga diharapkan mendapatkan dukungan dari Westminster (keluarga kerjaan).

Selain dua perusahaan tersebut, Dyson dan Airbus, serta beberapa perusahaan lainnya yang digandeng Airbus, kegentingan yang terjadi juga membuat pemerintahan mendorong raksasa manufaktur lainnya untuk ikut terlibat. Mulai dari manufaktur otomotif hingga manufaktur alat kesehatan, seperti Mclaren, Nissan, Rolls Royce, dan Inspiration Healthcare.

Terbukti, dalam hitungan hari, mereka sudah menyelesaikan prototipe ventilator untuk pasien virus Corona (COVID-19). Menurut Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, jika tidak ada halangan, ventilator tersebut sudah bisa digunakan rumah sakit per pekan depan.

Baca juga: Jay Robert: “Pekerjaan Awak Kabin Telah Berubah Drastis dalam Sebulan Terakhir”

“Lebih dari enam manufaktur telah membuat protitpe (ventilator) untuk kami cek. Bisa kami katakan kami puas dengan hasilnya,” ujar Hancock sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, beberapa waktu lalu.

Hingga kini, Covid-19 telah merenggut korban jiwa sebanyak 578 pasien dan ribuan lainnya dinyatakan positif terpapar virus yang berasal dari Wuhan itu.

Wow, Ada Kereta Melintas di ‘Dalam’ Pusat Grosir Surabaya!

Ada yang unik di kota Surabaya dan mungkin hal tersebut tidak diketahui oleh banyak orang. Penasaran apa hal uniknya? Ternyata di kota berlambang buaya dan hiu itu memiliki jalur kereta api yang melintas di dalam sebuah mall.

Baca juga: Permudah Transportasi Urban, Tiongkok Bangun Rel Kereta di Apartemen

Ya, mall ini merupakan sebuah pusat grosir terbesar di Surabaya yang bernama Pusat Grosir Surabaya (PGP). Letaknya sendiri dekat dengan Stasiun Pasar Turi Surabaya. Sehingga para pelancong yang berbelanja di pusat grosir ini lebih mudah pergi dan pulang.

Nah, sebenarnya ini jalur kereta untuk penumpang atau barang ya? KabarPenumpang.com melihat dari YouTube, ternyata kereta yang melintas adalah kereta barang. Namun apakah kereta penumpang juga melintas di jalur kereta yang ada di mall tersebut? Seorang warga Surabaya yang ditanya oleh KabarPenumpang.com mengatakan rangkaian kereta yang melintas adalah rangkaian kereta barang.

“Yang lewat ke dalam mall itu rangkaian kereta barang bukan kereta penumpang,” kata Harry, warga kota Surabaya.

Dia mengatakan, jalur ini kereta sama sekali tidak mengangkut penumpang, karena kereta yang melintas berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak dan Depo. Harry mengatakan, meski begitu pusat grosir tersebut dekat dengan Stasiun Pasar Turi tapi jalur keretanya berbeda.

Dari video yang tersebar di Youtube tersebut, terdengar dengan jelas suara pluit dan lokomotif yang akan melintas. Tak lama kemudian sebuah lokomotif yang menarik barang-barang keluar dari bawah mall tersebut.

Melintasnya sebuah kereta di mall mengingatkan pada sebuah kereta di Cina tepatnya di Chongqin yang melintas langsung melalui blok flat apartemen atau rusun. Di apartemen Cina ini, kereta yang melintas adalah kereta ringan yang mengangkut penumpang.

Kereta ringan yang melewati rusun atau apartemen di kota ini adalah Chongqing Rail Transit Line nomor 2. Uniknya lagi, kereta ini melewati rusun atapartemen setiap hari dan ada kemungkinan kereta ringan ini berjenis LRT (Light Rail Transit) Monorel yang mampu mengangkut banyak penumpang dan tidak berisik.

Kereta ringan Chongqing Rail Transit Line nomor 2 ini adalah salah satu sistem transportasi di kota dengan luas 31.000 mil persegi dengan populasi sekitar 49 juta orang. Bisa dikatakan, kota ini bukanlah kota besar, melainkan kota kecil dengan penduduk yang padat dan berdesakan. Hal ini jugalah yang membuat perencanaan kota harus memiliki solusi yang efisien untuk sistem transportasinya.

Baca juga: Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Kereta ringan ini, memiliki radius kecil dan mampu menampung banyak orang. Tak hanya itu, kereta ringan ini juga dibuat melalui jalan-jalan kecil dan untuk memadukan sistem kereta dengan lingkungan sekitarnya. Sejak proses perencanaanya, LRT ini dibuat melalui rusun atau apartemen, pihak pengembang melakukan koordinassi dengan pejabat tata kota untuk membuat desain yang tepat dan memungkinkan kereta bisa melalui bangunan.

Begini Cara Maskapai Dunia Terapkan Physical Distancing di Pesawat

Selama beberapa waktu belakangan, banyak maskapai memangkas sebagian besar kapasitas penerbangan mereka. Dampaknya, banyak pesawat yang terpaksa harus digrounded. Namun, bagi pesawat yang tetap harus melayani penerbangan, bagaimana anjuran social distancing, yang kini ditingkatkan menjadi physical distancing, dapat diterapkan?

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Dikutip dari laman samchui.com, berbagai maskapai di dunia yang masih melayani penerbangan, khususnya domestik, melakukan berbagai upaya berbeda dalam menerapkan physical distancing. Air New Zealand, misalnya, harus membatasi penjualan setiap penerbangan mereka demi terciptanya physical distancing.

Setidaknya ada dua tipe physcal distancing yang diterapkan maskapai asal Selandia Baru tersebut. Pada pesawat kecil atau konfigurasi 2-2, pesawat ATR, misalnya, maskapai hanya menjual deretan kursi yang menempel dengan jendela saja. Adapun untuk pesawat agak besar dengan konfigurasi 3-3, seluruh kursi tengah wajib dikosongkan.

Meskipun belum sesuai standar yang direkomendasikan Centers for Disease Control atau CDC, sekitar 1,8 meter, menurut seorang analis, paling tidak itu adalah upaya yang sejauh ini bisa lakukan maskapai mengingat keterbatasan ruang, selain maskapai juga harus memaksimalkan ruang.

“Kami mungkin memiliki pengalaman di atas kapal, di deretan enam kursi di kelas ekonomi di pesawat, mereka diharuskan untuk menjaga kursi tengah kosong untuk beberapa jarak sosial,” kata Stephen Trent, seorang analis di Citigroup, seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Senada dengan Air New Zealand, maskapai dalam negeri, Lion Grup, juga sudah mulai menerapkan physical distancing di dalam kabin dengan konsep yang sama, yakni mengkosongkan kursi tengah pada pesawat dengan konfigurasi 3-3.

Menariknya lagi, physical distancing bahkan bukan hanya ketika di dalam pesawat. Pengaturan physical distancing juga berlaku ketika penumpang berada di ruang tunggu (waiting room) dan pada saat proses masuk ke dalam kabin pesawat (boarding), baik yang menggunakan tangga belalai (garbarata) dan tangga biasa. Pengaturan ini juga berlaku bagi penumpang yang berada di dalam bus (neoplane) saat menuju ke pesawat dan turun dari pesawat.

Selain kedua maskapai tersebut, maskapai lainnya di berbagai belahan dunia, secara substansial, mungkin belum mulai menerapkan physical distancing. Namun, secara teknis, mungkin termasuk menjalankan. Cathay Pacific, Virgin Australia, dan Delta Airlines, misalnya, ketiga maskapai tersebut mengizinkan para penumpang untuk berpindah ke tempat yang kosong. Hal itu mungkin saja terjadi, mengingat load factor seluruh maskapai di dunia, tak terkecuali ketiganya, tengah anjlok.

Dengan begitu, pasti banyak kursi kosong di pesawat yang bisa dimaksimalkan untuk pengaturan physical distancing. Hanya saja, penumpang tetap diharuskan untuk berkoordinasi dengan petugas agar pesawat tetap seimbang karena pengaturan penumpang yang tak sistematis.

Lain halnya dengan China Airlines dan Eva Air Taiwan. Kedua maskapai tersebut memang tidak menerapkan physical distancing dan mengizinkan penumpang untuk mencari kursi kosong layaknya Cathay Pacific, Virgin Australia, dan Delta Airlines. Namun, mereka justru bisa dikatakan menerapkan kebijakan lebih ketat.

Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing

Sebelum mulai boarding, para penumpang diharuskan mengikuti pemeriksaan wajib suhu tubuh. Penumpang dengan suhu di atas 37,5 derajat celsius akan ditolak untuk naik. Selain itu, semua penumpang harus mengenakan masker di dalam kabin setiap saat, kecuali saat hendak menyantap makanan dan minuman.

Terkait makanan dan minuman, dalam upaya menerapkan physical distancing, khususnya antara awak kabin dan penumpang, American Airlines, mulai mengurangi beberapa layanan, bergantung pada jarak. Untuk penerbangan di bawah 4,5 jam, misalnya, penumpang, baik first class maupun kelas ekonomi hanya disuguhkan dengan minuman. Bedanya, first class mendapatkan sampanye dan air putih sedangkan kelas ekonomi hanya mendapatkan air putih.