Jay Robert: “Pekerjaan Awak Kabin Telah Berubah Drastis dalam Sebulan Terakhir”

Jika dokter adalah garda terdepan dalam membantu menyembuhkan orang-orang yang terinfeksi virus corona (Covid-19). Awak kabin adalah garda terdepan pada penerbangan untuk melayani para penumpang baik yang sehat maupun yang tengah sakit.

Baca juga: Emirates Lakukan Tes Covid-19 Pada Seluruh Awak Kabin

Namun, bagaimana nasib mereka ketika Covid-19 ini tengah menyerang industri penerbangan? Jay Robert, awak kabin yang juga pembuat Cabin Crew Lounge A Fly Guy, yaitu grup jejaring sosial untuk staf maskapai penerbangan di seluruh dunia mengatakan pekerjaannya kini telah berubah drastis selama sebulan terakhir.

“Jadwal terbang saya telah dihapus untuk bulan depan karena semua tujuan saya rostered penerbangan untuk menutup perbatasan mereka. Jadi ketidakpastian yang paling saya hadapi adalah apakah dan kapan saya akan bekerja selanjutnya,” katya Robert yang dikutip KabarPenumpang.com dari huffpost.com (20/3/2020).

Pada Kamis (19/3/2020) kemarin, American Airlines mengumumkan mendaratkan setengah dari armadanya pada bulan April dan menawarkan program cuti sukarela untuk mengurangi biaya. Seorang awak kabin yang baru bekerja di American Airlines meminta anonimitas untuk menghindari dampak yang dilakukan maskapai tersebut.

Dia mengaku khawatir tentang status pekerjaannya karena dia mengaku tidak mendapatkan bayaran sama sekali. Awak kabin itu juga mengatakan bahwa perusahaan penerbangannya menawarkan cuti sakit selama 14 hari bagi mereka yang tertular virus tersebut, tetapi saat ini salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah terjebak di suatu tempat dan tidak bisa pulang.

“Jika mereka menutup bandara ketika kita berada di jalan, kita macet. Banyak dari kita bepergian karena sayangnya, dengan apa yang dibayar maskapai penerbangan kepada kami, kami tidak mampu untuk tinggal di hub ini,” kata dia.

Association of Flight Attendants, serikat utama untuk profesi di AS, telah mengeluarkan tindakan untuk keselamatan awak pesawat, dan pemimpinnya, Sara Nelson, telah mengkritik tanggapan pemerintah terhadap pandemi. Pada penerbitan cerita ini, satu awak kabin telah dilaporkan telah tertular virus.

“Tampaknya penerbangan telah beralih dari liburan ke penerbangan penyelamatan. Orang-orang tampaknya sangat bersyukur mereka memiliki jalan pulang sebelum perbatasan mereka ditutup. Banyak penumpang Eropa memotong perjalanan mereka untuk mencoba melewati tenggat waktu untuk kembali,” ujar Robert.

Dia mengaku saat ini pedoman berubah setiap hari di mana dalam sebulan ini awak kabin hanya diperbolehkan menggunakan masker pada penerbangan yang menuju ke tujuan berisiko. Tetapi hari berikutnya mereka diberi sarung tangan dan masker untuk semua penerbangan.

“Kami juga diberitahu untuk tidak meninggalkan hotel saat singgah di negara lain dan kami harus melakukan karantina sendiri saat tiba di negara asal kami selama dua minggu. Banyak waktu sendirian hari ini, jadi menjaga kesehatan mental juga penting dan memeriksa kolega yang menderita kecemasan,” jelasnya.

Maskapai penerbangan juga berbagi informasi yang jelas dan bermanfaat tentang langkah-langkah yang mereka ambil untuk menjaga pesawat tetap bersih dan aman. Delta, misalnya, telah membuat situs sumber daya khusus terkait dengan virus. Di sana, mereka memaparkan praktik sanitasi, yang telah diperbarui untuk menyertakan prosedur pengasapan desinfektan, mengikuti “daftar periksa 19-titik yang ketat untuk kebersihan kabin, termasuk disinfektan permukaan kabin dan area kontak pelanggan seperti kursi, saku kursi belakang, meja baki dan lantai.

Tindakan ini juga merinci cara kerja filter udara tingkat industri untuk mencegah penyakit. Merebaknya Covid-19 ini menyebabkan banyak gangguan dalam jadwal penerbangan yang berimbas ke awak kabin, agen perjalanan dan upah.

Dia mengatakan ini bukan pertama kali awak pesawat menghadapi hal seperti ini, kenyataannya mereka dilatih juga terkait hal ini sejak awal. Sara Nelson menambahkan awak kabin dilatih tentang cara mengurangi penyebaran penyakit menular.

Baca juga: Ada Penumpang Sakit di Pesawat? Hubungi Awak Kabin dan Jangan Langsung Panik Tertular

“Itu bagian dari pelatihan awal dan pelatihan tahunan kami. Kami memiliki akses ke informasi itu, kami memiliki pembaruan, kami memiliki pengingat di situs web kami. Kami sudah lebih sadar daripada masyarakat umum dan lebih terbiasa karena kami memiliki garis dasar pelatihan di sekitarnya,” kata Sara.

Imbas Covid-19, PO Bus Sepi Penumpang dan Tengah Cari Solusi

Virus corona atau Covid-19 yang sudah menyebar di Indonesia, juga membuat perusahan otobus (PO) ikut terdampak. Bahkan yang paling terdampak adalah PO yang memiliki trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan pariwisata.

Baca juga: Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan

Pasalnya saat ini hampir semua obyek wisata ditutup dan masyarakat diimbau untuk tidak ke tempat keramaian demi mencegah penyebaran Covid-19 ini. Selain itu tidak menutup kemungkinan mudik lebaran tahun ini bisa dilarang. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, banyak pemilik PO bus yang mengaku imbauan untuk dirumah ini memengaruhi penumpang bus AKAP mereka.

Para pemilik PO bus mengatakan, mereka sebagai penyedia mobilisasi orang pastinya akan merasa terkena imbas seperti berkurangnya penumpang. Sehingga hal ini berbeda dengan angkutan dalam kota yang mungkin tidak terlalu berpengaruh dengan Covid-19.

Mereka bahkan menyebutkan harus mengandangkan beberapa armada untuk menekan biaya perawatan. PO Sumber Alam dan Maju Lancar menjadi dua diantara PO bus yang mengandangkan setengah aramada mereka.

“Mungkin karena ada pembatasan pergi ke luar kota, penumpang juga turun drastis, jadi hanya melayani ke trayek yang masih ada penumpangnya,” kata Anthony Steven Hambali, Pemiliki PO Sumber Alam yang dikutip dari kompas.com.

Selain itu, pemilik PO Margo Mulyo Endang Suwarningsih mengaku para pemilik bus saat ini tengah terpuruk. Endang mengatakan banyak yang membatalkan berbagai acara keluar kota karena adanya Covid-19 tersebut.

Bahkan ada juga PO bus yang memberhentikan operasional mereka sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seperti PO MPM yang melayani trayek dari beberapa kota di Sumbar menuju ke Jakarta dan Bandung mulai menghentikan operasinya sejak 26 Maret 2020 dari Padang dan 28 Maret 2020 dari Jakarta.

“Sampai waktu yang tidak bisa ditentukan menyatakan stop beroperasi. Dengan kesadaran sendiri bahwa Covid-19 sangat berbahaya bagi manusia, dan tidak bisa memprediksi penumpang yang naik bus, maka lebih baik bus ini stop operasi,” ujar Ketua DPD Organda Sumbar, Budi S Syukur.

Dengan adanya kondisi saat ini, dan imbauan pemerintah baik di pusat maupun Jakarta, agar jangan berpergian dan ditambah lagi banyak group yang telah mengorder dan membatalkan orderannya baik ke Padang maupun ke Jakarta, maka pihak perusahaan mengambil langkah tersebut.

Anthony menambahkan, meski larangan mudik dilakukan untuk masyarakat dan PO harus tetap melayani kebutuhan transportasi kini sedang dibahas langkah-langkah yang harus dilakukan menanggapi penyebaran virus ini.

“Saat ini pun kami di IPOMI koordinasi dengan Organda, membahas opsi-opsi yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan keamanan masyarakat,” ucap Anthony.

Humas IPOMI dan Direktur Operasi PO Maju Lancar, Adi Prasetyo, mengatakan, opsi yang sedang dibahas terkait pekerja yang ada di industri transportasi yang berkurang pendapatannya karena virus corona.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

“Perlu dicarikan solusi untuk pekerja di industri transportasi. Imbas virus ini menyebabkan jumlah penumpang turun dan pengurangan armada yang beroperasi,” ujar pria yang biasa dipanggil Didit.

Untuk mengatasi masalah ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil berbagai langkah yakni salah satunya dengan membatalkan mudik gratis.

Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Wabah virus corona telah memberi efek domino di dunia penerbangan. Setelah jumlah penumpang global anjlok sampai 85 persen, maskapai di dunia ramai-ramai memangkas kapasitas penerbangan mereka, bahkan di antaranya ada yang sampai 96 persen, seperti Singapore Airlines dan Cathay.

Baca juga: Airbus Masih Hentikan Produksi, Serikat Pekerja Layangkan Protes

Selain pengurangan kapasitas penerbangan, maskapai global juga ramai-ramai melakukan beberapa langkah efisiensi, mulai dari pemotongan gaji, pengurangan karyawan, penundaan sejumlah investasi, hingga penundaan dan pembatalan sejumlah pesanan pesawat. Imbasnya, tentu saja produsen pesawat, dalam hal ini Boeing dan Airbus juga ikut tertekan.

Beruntung, sebelum munculnya berbagai kesulitan di dunia penerbangan saat ini, selama beberapa tahun ke belakang, industri penerbangan global terus-menerus mengalami lonjakan. Saking melonjaknya, Boeing dan Airbus sampai kewalahan memenuhi permintaan pesawat dari maskapai. Khusus untuk Airbus, kondisi tersebut bahkan sampai membuat perusahaan mengalami overbooking, terutama pada pesawat A320neo dan pesawat turunannya.

Menurut laporan dari kantor berita flightglobal.com, keputusan overbooking saat permintaan tengah melonjak drastis justru menjadi penyelamat saat kondisi tak terduga datang. Tak terkecuali krisis akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Bila dahulu overbooking atau pesanan berlebih membuat Airbus pusing untuk terus menggenjot kapasitas produksi dan di beberapa kondisi menjadi sebuah beban, saat ini dinilai menjadi keputusan krusial di masa lampau yang sedikit membuat perusahaan selamat atau setidaknya mempunyai beberapa ruang gerak dan waktu untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury mengatakan saat ini pesawat yang masih belum diserahkan (backlog) cukup banyak. Bahkan, untuk backlog pesawat jet A320 dan turunannya, seperti A320neo, A321, 319, dan A318 jumlahnya mencapai 6.200 jet. Meskipun Airbus tidak telalu buka-bukaan terkait konsep pengelolaan overbooking, yang jelas, hal itu saat ini membuat perusahaan sedikit terbantu.

Meski demikian, layaknya Boeing yang membutuhkan suntikan dana segar mencapai $60 miliar atau Rp978 triliun (kurs Rp 16.457), Airbus juga membutuhkan dana segar untuk menjalankan roda bisnisnya, selain juga untuk mengamankan rantai pasokan produksi serta persiapan ketika wabah Covid-19 benar-benar telah berakhir. Hanya saja, tak seperti Boeing yang masih mengandalkan suntikan modal dari pemerintah, Airbus bisa dibilang lebih mandiri.

Perusahaan patungan antara perusahaan Perancis, Jerman, dan Spanyol tersebut saat ini dilaporkan telah mendapatkan fasilitas utang baru dari bank sentral, yang tak disebutkan lebih rinci entah bank sentral Perancis, Jerman, Spanyol, atau bank sentral dari negara lainnya, dengan nominal mencapai Rp265 triliun (kurs Rp 16.457) atau €15 miliar. Dengan begitu, likuiditas salah satu produsen pesawat terbesar di dunia itu sudah mencapai €30 miliar atau Rp530 triliun (kurs Rp 16.457).

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Selain memperkuat posisi keuangan perusahaan dengan menambah utang baru, Airbus juga telah melakukan sejumlah langkah efisiensi lainnya, mulai dari menangguhkan dividen untuk menghemat €1,4 miliar hingga menunda pembayaran dana pensiun.

Meski demikian, menurunnya wabah Covid-19 di Cina telah membuat Airbus sedikit bernapas lega. Setelah pengiriman pesawat terbengkalai, Faury menyebut bahwa mungkin April mendatang pengiriman pesawat ke negara tersebut akan kembali dimulai. Hal itu dikarenakan lonjakan penumpang akan kembali terjadi di sana mencapai sekitar 15 persen.

Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

Virus corona atau Covid-19 yang sudah menjadi pandemi di seluruh dunia banyak membuat perekonomian di berbagai industri menurun drastis. Salah satunya adalah maskapai penerbangan yang saat ini harus ‘mendaratkan’ lebih banyak pesawat mereka dibandingkan digunakan untuk mengirim pelancong ke berbagai destinasi di dunia.

Baca juga: Dapati 72 Kasus Virus Corona, Kuwait Resmi Tutup Bandara Internasional Utama

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman krqe.com (25/3/2020), namun ternyata ada beberapa industri lain yang diuntungkan yakni bandara-bandara tempat pesawat milik maskapai penerbangan di daratkan. Seperti Bandara Roswell di New Mexico, Amerika Serikat, yang kini menjadi tempat parkir bagi pesawat-pesawat yang tidak digunakan untuk terbang.

“Karena pandemi ini, maskapai banyak yang menutup sebanyak 50 hingga 75 persen dari bisnis penerbangan internasional mereka. Mereka juga mulai mematikan sebagian penerbangan domestik dan para pemilik maskapi memerlukan tempat untuk parkir pesawat-pesawat mereka itu,” kata Direktur Bandara Roswell Scoot Stark.

Dia mengatakan, untuk memarkirkan pesawat milik maskapai-maskapai, Bandara Roswell adalah solusi terbaik.

“Saat ini ada 100 dari antara 150 hingga 200 hektar aspal yang telah ditinggalkan dan tidak digunakan oleh konfigurasi bandara yang kita miliki sekarang. Sehingga disanalah kesempatan kami,” kata Scoot.

Dia menyebutkan, sekarang para pekerja dari Departemen Jalan Roswell telah bekerja untuk membersihkan kotoran dan rumput dari aspal di landasan pacu yang terbengkalai. Dikatakan Scoot, landasan pacu tersebut mampu menampung 300 hingga 500 pesawat tambahan.

Scoot mengatakan, dengan memberikan lahan untuk mendaratkan pesawat, kota tersebut mendapatkan biaya tambahan hingga $14 per pesawat per hari untuk menyimpannya. Walikota mengatakan, ini adalah pendapatan selamat datang ketika begitu banyak bisnis ditutup.

“Ini akan menambah pekerjaan, sekarang beberapa dari mereka akan menjadi orang-orang yang akan datang dari luar kota dari tempat lain tetapi tidak semua dari mereka memiliki kredensial yang tepat di sini untuk melakukan pekerjaan ini tetapi beberapa melakukannya, dan yang lainnya adalah membawa kegiatan ke dalam ekonomi, “kata Walikota Dennis Kintigh.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Diketahui, harga untuk penyimpanan pesawat ditetapkan sepuluh tahun yang lalu dan dijadwalkan akan diperbarui. “Kami tidak ingin menambahkan biaya tambahan ke maskapai, jadi kami akan menahan harga kami sampai acara atau virus corona selesai,” kata Mark Bleth, manajer pusat udara dan wakil direktur di Roswell.

Tak Ditemukan Indikasi Suap, Tony Fernandes Kembali ke Pucuk Pimpinan AirAsia

AirAsia Group Berhad Malaysia belum lama ini menyebut bahwa penyelidikan internal terkait dugaan suap yang melibatkan pimpinan tertinggi perusahaan, Tony Fernandes, sudah selesai dilakukan. Hasilnya, Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO) yang dialamatkan pada Tony tidak benar.

Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia

Dikutip dari channelnewsasia.com, dalam penyelidikan internal tersebut, penyidik menemukan bahwa segala pengadaan pesawat dengan Airbus telah dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur. Hal itu berarti, tuduhan terkait suap Airbus kepada Tony melalui skema sponsorship lewat sebuah klub sepak bola Inggris, karena jumlah pengadaan pesawat yang cukup besar, juga tidak benar.

“Sponsor tersebut menunjukkan manfaat yang dapat ditunjukkan kepada Grup AirAsia dan tidak terkait dengan keputusan pembelian oleh Dewan Direksi AirAsia Berhad,” kata seorang juru bicara perusahaan.

Selain melakukan penyelidikan internal, AirAsia Group Berhad Malaysia juga telah meminta investigator independen, BDO Governance Advisory, untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya pun sama, mereka tidak menemukan adanya kejanggalan apapun, dalam hal ini terkait sponsorship yang selama ini diduga sarat bermuatan suap.

Oleh karenanya, dengan dua hasil penyelidikan tersebut, Dewan AirAsia pun memutuskan untuk memberikan kembali mandat Direktur Eksekutif AirAsia kepada Tony Fernandes. Di samping itu, posisi eksekutif lainnya juga telah kembali diberikan kepada kamarudin meranun. Keduanya diketahui telah menyatakan mundur dua bulan atau lebih sejak 4 Februari lalu akibat gaduh soal kasus suap tersebut.

Meski AirAsia sejak awal hingga saat ini terus membantah, nyatanya, Airbus telah terlanjur divonis bersalah oleh pengadilan. Jaksa Penuntut di Prancis, Jean-Francois Bohnert berujar bahwa Airbus telah melakukan praktik kecurangan untuk mempertahankan bisnisnya di banyak negara. Dengan begitu, Airbus dituntut membayar Rp54 triliun, dengan rincian €984 juta atau sekitar Rp14 triliun kepada otoritas Inggris, €525 juta atau Rp8 triliun untuk otoritas Amerika Serikat, dan €2,08 miliar atau Rp31 triliun untuk otoritas Perancis.

Sebelumnya, Selasa, (4/2) silam, jagat pemberitaan internasional dihebohkan dengan mundurnya Tony Fernades dari jabatannya sebagai Direktur Eksekutif AirAsia selama dalam jangka dua bulan atau lebih. Mundurnya Tony Fernades secara tiba-tiba diduga sebagai respon pria kelahiran Malaysia ini atas putusan Pengadilan Tinggi Perancis yang memvonis denda kepada Airbus sebesar €3.6 miliar atau sekitar Rp54 triliun (kurs Rp 15.139) pada akhir Januari lalu.

Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Dalam catatan Badan Penanganan Kasus Penipuan Berat Inggris atau Serious Fraud Office (SFO), sejak 2005 hingga 2014, AirAsia dan AirAsia X telah memesan 406 pesawat Airbus. SFO yang sudah memantau Airbus sejak lama, menduga, dari sejumlah pesanan tersebut, Tony mendapatkan commitment fee yang disalurkan oleh dua anak perusahaan Airbus, tidak langsung ke rekening Tony, melainkan melalui rekening salah satu unit bisnis Tony lainnya, yakni klub sepak bola asal Inggris, Queens Park Rangers F.C. (QPR).

Lewat klub tersebut, commitment fee yang diduga sebesar US$50 juta untuk Tony Fernandes diberikan dengan menggunakan skema sponsorship. Atas dugaan tersebut, AirAsia sendiri mengatakan sponsor Airbus ke QPR merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal sebagaimana mestinya.

Kesulitan Cari Utang Baru, Boeing Sebut Butuh Suntikan Modal Segera

Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith, belum lama ini mengatakan bahwa industri kedirgantaraan AS sangat membutuhkan kredit untuk mengatasi pandemi virus corona. Celakanya, di saat genting seperti itu, pasar modal justru disebut malah tertutup untuk utang baru.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

“Tidak sekarang. Pasar pada dasarnya ditutup (untuk utang baru). Maksudku, benar-benar tidak ada banyak kesempatan untuk mendapatkan utang tambahan. Itu salah satu tantangannya,” ujarnya, seperti dilansir reuters.com.

Selain itu, Smith, yang juga Wakil Presiden Eksekutif Boeing melanjutkan, bahwa sekalipun pihaknya tengah mengalami posisi sulit yang diakibatkan oleh berbagai hal, mulai dari tregedi 737 MAX dan turunannya hingga pandemi virus corona, Boeing melihat setidaknya ada secercah harapan di tengah keterpurukan. Harapan tersebut datang dari Cina, dimana, pandemi Covid-19 di Negeri Tirai Bambu tersebut sudah mulai memudar dan aktivitas perekonomian di sana bisa kembali berjalan normal.

Di samping itu, harapan lainnya juga datang dari komitmen pemerintah untuk memberikan suntikan dana ke Boeing. Pada hari Selasa lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan produsen pesawat terbesar di dunia, Boeing, keluar dari persaingan bisnis di dunia penerbangan akibat gangguan keuangan yang disebabkan oleh wabah Covid-19.

Namun, setelah pernyataan tersebut, Boeing sempat sedikit terpojok setelah tersiar kabar bahwa perusahaan tersebut tidak masuk ke dalam daftar paket bailout Senat AS sebesar $17 miliar dolar atau sekitar Rp277 triliun (kurs Rp 16.457). Padahal, paket bailout tersebut disebut untuk mengamankan bisnis penting serta menjaga keamanan dan keutuhan nasional. Tentu saja Boeing seharusnya masuk dalam kriteria tersebut (bisnis penting nasional).

Tetapi kemudian, menurut surat kabar yang beredar, Boeing memang tidak masuk dalam paket bailout tersebut. Sebab, stimulus untuk Boeing dibuat terpisah dan perusahaan tersebut, menurut informasi dari sebuah sumber, akan menerima paket bailout sebesar senilai $2 miliar atau sekitar Rp 32 triliun (kurs Rp 16.457). Paket tersebut dilaporkan akan dirilis pada Rabu hari ini.

Sebetulnya, stok uang tunai yang masih dimiliki Boeing masih tergolong banyak. Pada hari Selasa lalu, CEO Boeing, Dave Calhoun, mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat ini memiliki uang tunai sekitar $15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457).

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

Meskipun demikian, Boeing memang tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil. Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar $60 miliar atau Rp978 triliun (kurs Rp 16.457).

Menariknya, di tengah posisi sulit seperti itu, Boeing justru tengah bersikukuh untuk mengakuisi produsen pesawat jet asal Brazil, Embraer, senilai $4,2 miliar atau sekitar Rp68 triliun. Angka tersebut $1 miliar lebih kecil dari spekulasi semula yang mencapai $5,2 miliar. Dana sebesar itu disebut akan mengukuhkan Boeing sebagai pemegang saham terbesar, mencapai 80 persen. Saat ini, pemerintah juga dianggap telah menyetujui opsi pembelian saham Embraer tersebut.

Pertahankan Layanan Kargo, Cathay Pacific Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan

Seolah mengikuti jejak Singapore Airlines yang memangkas kapasitas penerbangan hingga 96 persen, maka Cathay Pacific dan Cathay Dragon akan mengurangi kapasitas penumpang di seluruh jaringannya sebesar 96 persen pada bulan April dan Mei sehubungan dengan penurunan permintaan yang signifikan akibat pandemi virus corona yang sedang berlangsung dan beberapa pembatasan perjalanan oleh pemerintah yang merupakan bagian dari rencana respons kesehatan global.

Baca juga: Pangkas 96 Persen Kapasitas Penerbangan, Singapore Airlines Diambang Kebangkrutan?

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (26/3/2020) Cathay Pacific dan Cathay Dragon akan mengurangi jadwal operasional untuk pesawat penumpang pada bulan April dan Mei, meskipun demikian, kapasitas pesawat kargo tetap beroperasi normal. Pihak Cathay menyebut Kemampuannya bertahan di tengah pengurangan frekuensi penerbangan akan tergantung pada jumlah penambahan pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh pemerintah di seluruh dunia yang selanjutnya akan berdampak pada berkurangnya jumlah penumpang.

Cathay Pacific akan mengoperasikan tiga penerbangan per minggu ke 12 tujuan: London (Heathrow), Los Angeles, Vancouver, Tokyo (Narita), Taipei, New Delhi, Bangkok, Jakarta, Manila, Kota Ho Chi Minh, Singapura dan Sydney. Sementara Cathay Dragon mengoperasikan tiga penerbangan per minggu ke 3 tujuan: Beijing, Shanghai (Pudong), dan Kuala Lumpur.

“Sebagai maskapai penerbangan yang berbasis di Hong Kong, penting bagi kami untuk terus menyediakan jaringan penumpang dan kargo ke dan dari hub Hong Kong. Karena itu, kami akan berusaha untuk mempertahankan jumlah penerbangan yang terbatas ke dan dari tujuan utama di jaringan kami untuk memastikan penerbangan-penerbangan utama ini tetap berjalan normal,” ujar Ronald Lam, Cathay Pacific Chief Customer and Commercial Officer. Ia nemambahkan, jaringan kargo Cathay tetap berjalan normal, dan akan meningkatkan kapasitas kargo dengan menyediakan layanan charter dan mengoperasikan layanan penumpang tertentu yang telah ditangguhkan khususnya untuk pengiriman udara agar memenuhi permintaan pelanggan kargo.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

“Kami perlu mengambil langkah-langkah sulit yang tegas karena skala tantangan yang dihadapi industri penerbangan global saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kami tidak punya pilihan selain mengurangi kapasitas penumpang secara signifikan karena pembatasan perjalanan semakin mempersulit pelanggan untuk melakukan perjalanan dan hal tersebut menyebabkan permintaan menurun secara drastis,” tambah Ronald.

Mulai 26 Maret, Lion Air Group untuk Sementara Hentikan Penerbangan ke Papua

Dalam upaya preventif terhadap pencegahan atau menangkal masuk penyebaran corona virus disease (covid-19), Lion Air Group yang terdiri dari maskapai Lion Air, Wings Air dan Batik Air, mulai 26 Maret 2020, resmi menghentikan penerbangan sementara dari dan ke Papua. Pengentian penerbangan tersebut telah diberitahukan ke Otoritas Bandar Udara Wilayah X Provinsi Papua.

Baca juga: Inilah Kebijakan Garuda Indonesia, Lion Air dan AirAsia Seputar Tiket di Musim Wabah Corona

“layanan operasional domestik yang menghubungkan dari dan ke Papua, bahwa penerbangan Lion Air Group menghentikan atau penundaan sementara (suspend) mulai Kamis, 26 Maret 2020 pukul 00.00 waktu setempat (Waktu Indonesia Timur, GMT+ 09) sampai Kamis, 9 April 2020 pukul 23.59 WIT,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro dalam pesan tertulis.

Operasional layanan penerbangan penumpang domestik di Provinsi Papua, Lion Air Group memiliki rata-rata 35 frekuensi penerbangan per hari pergi pulang (PP), mencakup kota sebagai berikut:

1. Jayapura – Bandar Udara Internasional Sentani (DJJ),
2. Merauke – Bandar Udara Mopah (MKQ),
3. Mimika – Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin, Timika (TIM),
4. Nabire – Bandar Udara Douw Aturure (NBX),
5. Yahukimo – Bandar Udara Nop Goliat Dekai (DEX),
6. Jayawijaya – Bandar Udara Wamena (WMX).

Takanawa Gateway Menjadi Stasiun Modern dengan Robot Pemandu Penumpang

Setelah 50 tahun, akhirnya Stasiun Takanawa Gateway dibuka di JR Yamanote Line di Tokyo. Ini merupakan stasiun pertama yang dibuka di jalur Yamanote sejak 1971 ketika Nishi-Nippori di tambahkan ke jaringan. Pembukaannya membuat jumlah stasiun di jalur yang dioperasikan JR East japan Railway Company menjadi berjumlah 30 stasiun dan juga digunakan oleh Keihin-Tohoku Line.

Baca juga: Jepang Punya Bartender Robot, Ada di Stasiun Ikebukuro

Takanawa Gateway memiliki bangunan stasiun yang menampilkan perpaduan eksotis antara estetika dan berbagai robot Jepang untuk membantu penumpang. KabarPenumpang.com melansir asahi.com (14/3/2020), bangunan stasiun dirancang oleh Kengo Kuma, arsitek terkenal yang juga merancang Stadion Nasional tempat utama Olimpiade Tokyo,.

Pertama kali kereta tiba di Stasiun Takanawa Gateway (asahi.com)

Memiliki tiga lantai dengan panjang atap sekitar 110 meter yang terinspirasi dari origami, stasiun ini juga memiliki ubin untuk lantai dan tangga dengan pola serat kayu. Bahkan atapnya memungkinkan cahaya mengalir melalui atrium sehingga menciptakan nuansa lapang ke ruangan tertutup yang terbuat dari kaca.

Tak hanya eksterior yang futuristik, stasiun ini dilengkapi berbagai macam robot yang bisa membantu penumpang dalam berbagai hal. Ada empat mesin signage digital yang dipasang di dalam dan luar gerbang tiket untuk memberi informasi terkait pergantian kereta api dan lokasi wisata terdekat.

Penumpang yang membutuhkan bantuan bisa mengucapkannya ke mikrofon dan mesin akan memunculkan rute serta peta kereta dan perkiraan penumpang untuk mencapainya. Data tersebut juga bisa dikirim melalui ponsel pintar dengan memindai kode QR.

Ada juga enam robot yang menangani keamanan dan pembersihan, di mana robot keamanan bisa mendeteksi penumpang dengan tongkat putih. Setelah deteksi dilakukan, robot dapat menghubungi staf keamanan manusia untuk memastikan penumpang akan diberikan bantuan jika perlu.

Fungsi pengenalan wajah pada robot akan memungkinkan untuk menemukan anak-anak yang hilang atau bahkan orang-orang yang terdaftar sebagai polisi yang diinginkan untuk ditanyai dalam hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Sedangkan robot pembersih menggunakan sensor yang dipasang di seluruh stasiun untuk menentukan tingkat kepadatan. Ini memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas mereka tanpa mengganggu penumpang yang bergerak di sekitar stasiun.

Robot kursi roda bahkan dapat mengangkut penumpang ke toilet atau lift jika permintaan dimasukkan ke dalam mesin. Toko serba ada dengan sistem pembayaran otomatis “Touch to Go” akan diatur di dalam gerbang tiket di lantai dua. Dalam toko serba ada ini, sekitar 50 kamera dipasang di langit-langit monitor barang yang dipilih oleh pelanggan untuk pembelian. Jika pembayaran dilakukan dengan uang elektronik, seperti kartu Suica, gerbang keluar terbuka secara otomatis.

Toko berencana untuk menyimpan sekitar 600 item, termasuk makan siang kotak bento, minuman dan makanan ringan. Diketahui, awalnya pembukaan Takanawa Gateway ini pada 14 Maret lalu, namun karena adanya Covid-19, maka tidak diadakan upacara pembukaan.

Dulunya, daerah sekitar Stasiun Takanawa Gateway digunakan sebagai pangkalan kereta api dan tidak memiliki fasilitas yang diterima oleh orang Tokyo. Tapi itu tidak menghentikan 350 atau lebih penggemar kereta api berkumpul sekitar jam 04.00 pagi waktu setempat bahkan sebelum stasiun dibuka untuk umum.

Kedatangan kereta pertama dalam jaringan dari Jalur Yamanote pada pukul 04.35 pagi memicu kegilaan di antara para penggemar yang menunggu tepuk tangan para penumpang yang turun dan pergi ke pesta pora mengambil foto.

Masahiro Nomura, 33, seorang karyawan perusahaan yang tinggal di Abiko, Prefektur Chiba, termasuk yang pertama kali datang. Dia terkesan dengan “atmosfer kuat ke Jepang-an” yang melingkupi kompleks itu, terutama jumlah kayu yang digunakan, dikombinasikan dengan robot-robot futuristik yang sedang bekerja.

Nama Stasiun Takanawa Gateway diberikan dalam skrip katakana, menjadikan stasiun itu satu-satunya di jalur Yamanote atau Keihin-Tohoku untuk tidak sepenuhnya bergantung pada karakter kanji untuk namanya.

Baca juga: Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter

“Saya pikir penumpang akan dengan cepat terbiasa dengan nama katakana dari stasiun,” kata Nomura.

Kepala stasiun Taka Nakamura mengatakan dia berharap pengunjung stasiun akan “menikmati kehangatan kayu” dan meminta maaf sebesar-besarnya atas keputusan untuk membatalkan upacara pembukaan. Dia menambahkan bahwa staf stasiun akan melakukan segala upaya untuk mencegah penyebaran infeksi Covid-19 dengan menyediakan desinfektan pembersih tangan.

7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Maskapai di seluruh dunia pada umumnya menawarkan pengalaman terbang yang berbeda-beda kepada setiap penumpang.Tentu saja hal itu bergantung pada kelas penerbangan yang dibeli. Mulai dari kelas ekonomi, kelas premium, kelas bisnis, dan kelas satu atau first class.

Baca juga: Pelayanan Optimal dan Hiburan Melimpah, Pengalaman Naik Business Class Thai Airways

Dari keempat kelas tersebut, kelas ekonomi pada umumnya menjadi kelas yang ramai diminati karena harganya yang terjangkau. Namun, sebagaimana harganya, soal layanan yang diberikan, kelas tersebut juga hampir dapat ditebak. Pastinya tak akan selengkap layanan kelas satu atau kelas bisnis.

Akan tetapi, sekalipun sering bepergian menggunakan pesawat terbang, travelers, khususnya bagi yang belum pernah merasakan pengalaman terbang dengan first class dan business class, terkadang sulit membedakan dan mencari persamaan layanan apa saja yang ditawarkan kedua kelas tersebut. Dikutip dari laman thepointsguy.com, berikut tujuh perbedaan dan persamaan first class dan business class.

1. Check-in, bagasi, dan boarding
Baik penumpang kelas bisnis dan kelas satu keduanya akan menerima prioritas check-in, tag bagasi, dan boarding. Kemudian, secara substansial, sebetulnya, koper kelas satu atau first class harusnya didahulukan. Namun, secara teknis, koper dengan tag prioritas, besar kemungkinan akan didahulukan secara bersamaan, tanpa melihat mana yang first class dan mana yang bukan. Kemudian, ketika memasuki pesawat, mungkin akan ada sedikit antrean pada penumpang business class. Sebab, kabin mereka lebih kecil ketimbang first class. Hanya saja, pada umumnya, business class jarang terdapat antrean, layaknya first class.

2. Lounge
Maskapai-maskapai besar dunia dengan reputasi tinggi pada umumnya memiliki lounge first class dan business class terpisah. British Airways, misalnya, menyediakan akses penumpang first class ke The Concorde Room di London Heathrow Terminal 5 (LHR) di mana penumpang dapat menikmati hidangan sampanye dan à la carte sebelum memulai penerbangan. Adapun business class umumnya hanya dihadapkan dengan hidangan prasmanan yang terkadang kurang pas di lidah. Hanya saja, itu semua teragantung pada maskapai. Poinnya, tentu saja keduanya memiliki lounge yang terpisah dan fasilitasnya pun berbeda.

finansialku.com

3. Kursi Pesawat
Di antara berbagai perbedaan, mungkin kursi pesawat penumpang first class dan business class adalah salah satu yang paling mencolok. Business class pada umumnya tetap memberikan kenyamanan lebih kepada para pelanggan dengan fully-flat bed dan beberapa tempat penyimpan atau storage untuk menyimpan barang. Namun tetap saja, tidak privasi.

Sebaliknya, kursi pelanggan first class tentu saja lebih mewah dengan tempat tidur yang luas, nyaman, privasi terjamin, dan akses lorong langsung. Di samping itu, biasanya, terdapat banyak kotak storage yang memudahkan pelanggan untuk meletakkan berbagai jenis barang.

sandwich di business class Lufthansa. Sumber: Live and Let’s Fly – BoardingArea

4. Makanan dan minuman
Dari segi makanan, biasanya pelanggan di business class ditawarkan varian yang cukup beragam. Hanya saja, jumlahnya tak sebanyak pelanggan first class. Di samping itu, menunya juga sedikit berbeda, mulai dari main course atau hidangan utama, appetizer, hingga dessert. Begitupun juga dengan minuman, baik sampanye maupun anggur, meskipun kedua kelas tersebut mendapatkan minuman tersebut, tentu saja rasa dan kualitasnya sedikit berbeda.

Sumber: airlineratings.com

5. Fasilitas
Bantal dan selimut mewah mungkin kedua kelas tersebut sama-sama mendapatkannya. Namun, soal lainnya, belum tentu. Fasilitas Wi-Fi, misalnya, jika ada, mungkin pelanggan first class mungkin akan diberikan akses gratis. Adapun business class harus membayar. Kemudian, kit amenitiesnya atau kelengkapan tambahannya pun juga berbeda.

First class akan dilengkapi dengan lonceng dan business class hanya dengan sebuah peluit.Yang paling membedakan adalah kasur. Pelanggan first class akan dilengkapi dengan kasur mewah. Bahkan, di beberapa kasus, kasurnya mungkin jauh lebih nyaman dibanding kasur di rumah.

Di samping itu, awak kabin juga akan merapikan kasur setiap selesai digunakan, tak peduli berapapun jarak penggunaannya. Ketika selesai dirapikan, kemudian pelanggan menggunakannya kembali dalam hitungan detik dan membuat kasur kembali berantakan, sementara pelanggan pergi ke toilet, awak kabin pasti akan merapikannya.

Baca juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!

6. Layanan
Di bagian ini, mungkin tergantung selera pelanggan. Hanya saja, secara estetika, jauh lebih berkesan first class. Pelanggan business class mungkin tidak akan dipanggil sesuai nama. Selain itu, pelanggan kelas tersebut mungkin harus menunggu beberapa saat untuk awak kabin mengisi atau me-refiil minuman. Adapun untuk pelanggan first class, pelanggan akan dipanggil dengan sebutan nama, pertanda awak kabin dan pelanggan sudah mulai terjalin kedekatan spesial. Selain itu, awak kabin akan selalu mengisi minuman pelanggan ketika lewat ataupun setiap kali dipanggil.

7. Harga
First class pada umumnya jauh lebih mahal dibanding business class. Hal tersebut tentu wajar mengingat pelayanan keduanya terdapat banyak perbedaan, sekalipun di beberapa terdapat beberapa persamaan.