Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Jaringan kereta api India merupakan yang terbesar keempat di dunia dalam panjang rutenya. Bahkan Indian Railways yang merupakan operator kereta api di India juga menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Sekitar 50 persen rute dilistriki dengan 25 kV 50 Hz AC traksi listrik sementara 33 persen di antaranya adalah ganda atau multi-tracked.

Baca juga: Sajikan Hidangan Hangat dan Bersih, Stasiun Central Mumbai Hadirkan Mesin Penjual Makanan Otomatis

Nah, biasanya setiap stasiun di India atau di dunia memiliki nama, baik yang di ambil dari nama kota, sungai atau yang lainnya. Di negeri yang terkenal dengan Bollywood-nya, ternyata ada satu stasiun yang tidak memiliki nama dari hampir sekitar 8000 stasiun.

Padahal banyak stasiun di India yang cukup terkenal. Penasaran kenapa stasiun ini tak memiliki nama? KabarPenumpang.com dari laman orissapost.com (21/2/2020), mungkin Anda akan terkejut akan alasan tidak adanya identitas dari stasiun itu.

Stasiun tanpa identitas tersebut letaknya berada sekitar 35 km dari Bardhaman di Benggala Barat. terletak di jalur Bankura dan Massagram, stasiun ini terletak di antara dua desa yakni Raina dan Rainagarh.

Awalnya stasiun ini memiliki nama dan dikenal dengan Rainagarh. Namun penduduk desa Raina tidak suka dengan ini karena mereka mengatakan, stasiun tersebut dibangun di atas tanah desa Raina.

Penduduk desa Raina percaya bahwa stasiun ini harus dinamai Raina bukannya Rianagarh. Karena masalah ini, kemudian terjadi pertengkaran di antara dua penduduk desa. Adanya perselisihan nama stasiun tersebut terdengar hingga ke operator kereta api.

Setelah perselisihan, Indian Railways kemudian menghapus nama stasiun dari semua papan tanda yang di pasang di sana. Hal ini kemudian membuat banyak penumpang bingung dan bermasalah.

Baca juga: Stasiun di India Punya Ruang Tunggu Megah yang Mampu Tampung 500 Penumpang

Namun meski tak lagi tanpa nama, penumpang dibuat sedikit tak khawatir untuk turun di daerah tersebut. Sebab Indian Railways masih mengeluarkan tiket untuk stasiun tanpa nama tersebut dengan nama lamanya yakni Rainagarh.

Nah, kalau di Indonesia ada yang seperti ini, Anda akan bagaimana ya?

Pasca Pandemi Corona, Haruskah Seluruh Bandara Tetap Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh?

Pandemi corona telah benar-benar mendorong teknologi untuk hadir di berbagai lini, tak terkecuali bandara. Tak lama setelah Corona menyebar luas di Cina dan Timur Tengah, hampir seluruh bandara-bandara di kedua wilayah tersebut dan bandara lainnya di seluruh dunia berlomba-lomba untuk melengkapi ‘gerbang’ masuknya wisatawan dari seluruh dunia dengan thermal screening (thermal scanner).

Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

Akan tetapi, selama masa pandemi virus Cina, thermal screening memang kerap menuai pro-kontra. Banyak kalangan yang kemudian mempertanyakan kemampuan teknologi yang dikembangkan mulai tahun 2017-an tersebut.

Pasalnya, di beberapa kasus, penumpang yang jelas-jelas mengalami demam, kemudian mengkonsumsi obat demam sebelum melewati thermal scanner, dapat dengan mudah melalui titik-titik pemeriksaan tanpa sedikit pun halangan.

Terlebih, sekalipun penumpang yang mengidap demam tidak mengkonsumsi obat untuk melewati titik pemeriksaan thermal scanner, di banyak kasus, pasien positif corona justru ditemukan tanpa ada gejala apapun, seperti batuk, demam, atau bahkan sesak pernapasan. Sekilas, 100 persen terlihat sangat sehat. Namun, setelah dites, baik tes pertama maupun tes konfirmasi atau confirmation test, pasien tersebut dinyatakan mengidap corona.

Oleh sebab itu, dalam penggunaannya (thermal scanner) terhadap Covid-19, kemampuan teknologi tersebut untuk menangkal corona mungkin membutuhkan pengembangan lanjutan agar benar-benar bisa menangkal jauh lebih baik dari apa yang sudah dilakukan selama masa pandemi corona belakangan ini. Bebagai persoalan itulah yang kemudian, sedikit banyaknya, mendasari Bandara Heathrow, London, Inggris, dan bandara lainnya di Negeri Ratu Elizabeth tersebut untuk tidak menyediakan thermal scanner.

Seperti dikutip dari Simple Flying, dalam sebuah wawancara di The Times, CEO Bandara Heathrow, John Holland-Kaye coba menjelaskan mengapa pihaknya tidak memasang thermal scanner. Namun, sebelum itu, secara prinsip, ia sebetulnya dapat memahami keraguan penumpang yang mungkin berpikir mereka berangkat dengan melewati thermal scanner dan tiba di bandara tujuan (Bandara Heathrow) tanpa melaluinya kembali.

Menurut John, sebetulnya, penggunaan thermal scanner di bandara-bandara di seluruh dunia hanya membantu untuk memberikan kepastian (keamanan terhadap virus corona) yang pada akhirnya memberikan keyakinan lebih hingga berujung pada rasa nyaman selama dalam penerbangan. Tetapi, dalam kaitannya dengan pencegahan, hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi.

Baca juga: Cegah Virus Cacar Monyet di Indonesia, Beberapa Bandara Siapkan Thermal Detector

Guna membuktikan hal itu (thermal scanner tak sepenuhnya dapat menangkal corona), baru-baru ini sebuah tes dilakukan pada sekelompok orang yang terinfeksi di Islandia. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa 50 persen dari mereka yang diuji tidak menunjukkan gejala apapun. Otomatis, begitu mendekati thermal scanner, mereka akan melaluinya dengan mudah.

Maka dari itu, dengan berbagai kekurangan tersebut, serta berkaca pada pengalaman, dimana virus cacar monyet pada 28 April 2019 lalu sempat membuat banyak otoritas bandara memperketat pengawasan dengan thermal scanner dan tak dilanjutkan ketika wabah tersebut sirna, besar kemungkinan teknologi tersebut tidak akan menjadi salah satu mekanisme baru yang wajib dilakukan pasca corona usai.

Karyawan Airbus Banting Setir Jadi Relawan Medis Selama Pandemi Corona

Wabah corona telah mengubah banyak hal. Tak terkecuali dengan Mike Wright. Bila biasanya ia bergelut dengan komponen-komponen pesawat di fasilitas perakitan Airbus di Broughton, Wales Utara, kini ia bersama rekan-rekannya dari komunitas Merseyside and Cheshire Blood Bikes (MCBB) lebih disibukkan dengan aktivitas sosial.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Dikutip dari deeside.com, sebetulnya Mike sudah bergabung dengan komunitas tersebut sejak 18 bulan lalu. Namun, keinginannya untuk terus aktif terkadang sempat terhalang dengan pekerjaan, khususnya sebelum wabah corona menyerang akhir Desember lalu. Saat itu (sebelum wabah corona merebak), Airbus memang tengah mengalami lonjakan pesanan pesawat baru yang cuku tinggi. Tak heran bila Mike dibuat sibuk karenanya.

Akan tetapi, sejak Eropa menjadi titik episenter baru virus Cina, ditambah adanya kasus Corona yang menjangkiti karyawan Airbus, produsen pesawat tersebut pun perlahan mulai menghentikan sementara proses produksi. Otomatis, karyawan diliburkan untuk sementara waktu. Kesempatan itulah yang kemudian coba dimanfaatkan Mike untuk lebih aktif menjadi sukarelawan, dalam hal ini memberikan pasokan medis ke The National Health Service (NHS) di Inggris.

“Saya telah menjadi pendonor darah selama 40 tahun dan saya mendekati sumbangan ke-108 saya pekan depan. Teman-teman MCBB sudah jauh lebih dari itu. Awalnya, saya hanya coba berbincang dengan sukarelawan dari komunitas MCBB di rumah sakit setempat dan dari sanalah awal mula saya bergabung. Saya suka sepeda motor. Saya sudah mulai mengendarainya sejak usia 13 tahun,” ujar Mike

“Biasanya, contact person dari MCBB menerima telepon dari rumah sakit dan meminta kami untuk mengumpulkan suplai emergency. Bisa berupa apa saja, mulai dari darah, ASI, peralatan medis, atau medical notes. Contact person MCBB kemudian menghubungi anggota, termasuk saya untuk memberi arahan apa yang harus diambil dan ke mana harus mengambilnya,” lanjut Mike.

Selama pandemi corona, Mike mengaku berjibaku hampir sepanjang hari, tak kenal siang ataupun malam. Sebetulnya, sekitar 100 anggota MCBB bebas memilih waktu untuk berkotribusi, pagi, siang, ataupun malam, dalam rentang durasi 3-40 jam. Adapun Mike, selagi mampu dan sempat, ia tak mau menyianyiakan momen ini untuk mengambil durasi maksimal semata untuk membantu kebutuhan pasokan medis NHS.

Jauh sebelum benar-benar terjun ke lapangan, berjibaku sepanjang hari hingga 40 jam kerja, para anggota sudah lebih dahulu menjalani serangkaian tes, mulai dari ketahanan fisik, kemahiran dalam berkendara, hingga safety riding. Tak heran, bila pria lansia seperti Mike mampu menjalani tugas berat sebagai sukarelawan karena mereka adalah orang-orang pilihan.

Mike mengaku, apa yang ia lakukan sudah mendapat restu dari Airbus, selaku perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan, Airbus sangat mendukung aktivitasnya tersebut dan rutin mengadakan kegiatan donor darah secara reguler di Broughton, untuk kemudian di salurkan ke NHS.

Baca juga: Maskapai Swedia dan Inggris Dorong Awak Kabin Jadi Relawan Rumah Sakit Selama Pandemi

Meskipun ia sudah cukup uzur untuk terus berjuang seperti sekarang ini, berjibaku sepanjang hari mencapai 40 jam atau dua hari non stop, ia mengaku senang atas apa yang ia kerjakan. Telebih ketika ia mendapatkan kabar gembira dari NHS bahwa banyak pasien tertolong berkat kerjasama dengan dirinya dan MCBB.

“Tapi saya suka membantu orang. Itu ditanamkan dalam diri saya ketika saya berada di Angkatan Bersenjata meskipun sebagai cadangan. Perasaan bangga, haru, dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kerap saya rasakan ketika pihak rumah sakit memberitahu bahwa saya bisa membuat perbedaan besar bagi kehidupan seseorang,” tutup Mike.

Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Hotel terapung atau biasa disebut flotel banyak terdapat di berbagai negara. Salah satunya adalah Kepulauan Maladewa atau orang sering mengenalnya dengan Maldive Island. Selama masa karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas pandemi virus corona atau Covid-19 ini, Anda bisa merencanakan berlibur setelah semuanya ini selesai. Meski tak bisa langsung menikmatinya, setidaknya Anda bisa mencari lokasi flotel yang akan dikunjungi.

Baca juga: Spektakuler! Inilah 5 Pesiar Sungai Terindah di Dunia

KabarPenumpang.com merangkum laman asiaone.com (14/4/2020), ada beberapa flotel yang bisa dikunjungi ketika nantinya pandemi ini berakhir. Berikut beberapa diantaranya yang bisa dipilih untuk melepaskan kepenatan usai pandemi.

Berbagai macam flotel (Asia One)

Apartemen Cantamara (Novi Sad, Serbia)
Apartemen ini merupakan rumah di atas sungai dan masing-masing unit tak hanya kamar tidur tetapi ada salon, kamar mandi dan aula dengan ruang penyimpanan. Setiap apartemen bisa menampung dua hingga empat orang bahkan ada platform pantai untuk akses air.

Aqua Mekong (Kamboja, Vietnam)
Pada dasarnyqa kapal pesiar sungai dengan fasilitas kamar tidur. Kapal ini menawarkan 20 suite ber-AC yang luas dengan jendela ukuuran penuh dan menawarkan pemandangan saat Anda berlayar menyusuri Sungai Mekong dari kamboja ke Vietnam.

Off (Seine, Paris)
Ini merupakan hotel dan bar pertama di atas air di Paris yang menawarkan 54 kamar, empa suite, bar, kolam renang kecil dan marina di antara fasilitas lainnya. Hotel ini bahkan memiliki pemandangan tepi kiri dan kanan Paris yang memperlihatkan kehidupan di sebelah Seine dan Stasiu Gare d’Austerlitz yang bersejarah.

The Manta Resort, Tanzania
Pada pandangan pertama, sebuah kamar di The Manta Resort terlihat hampir seperti kelong yang sangat mendasar. Namun keajaiban adalah apa yang ada di bawah permukaan, dengan kamar tidur bawah laut yang menawarkan pemandangan laut yang indah.

The FloatHouse River Kwai (Kanchanaburi, Thailand)
Hotel terapung di sepanjang Sungai Kwai yang ikonis di Thailand ini terlihat seperti tempat peristirahatan yang sangat indah di provinsi Kanchanaburi, dikelilingi oleh hutan hijau yang lebat. Hotel terapung ini dilengkapi dengan fasilitas makan dan spa sendiri, sebuah butik yang mewah dengan akses langsung ke sungai ini terinspirasi oleh pengalaman hidup lokal.

Macam-macam flotel di dunia (Asia One)

Telunas Private Island dan Telunas Beach Resort (Indonesia)
Ternyata di Indonesia juga ada flotel ini di mana Anda bisa menikmati pengalaman resort pulau pribadi di atas air tepatnya di Telunas Private Island atau Telunas Beach resort hanya 50 km selatan Singapura (atau sekitar tiga jam perjalanan jauhnya). Untuk sampai di pulau ini, pelancong bisa naik kapall ferry ke Batam diikuti dengan naik perahu 1,5 jam ke pulau. Vila-vila dan bungalow yang berada di atas air menawarkan pemandangan laut yang menakjubkan, dengan pantai-pantai pribadi dan kegiatan unik di pulau itu.

Arctic Bath Hotel (Swedia)
Kabin di atas air terlalu konvensional? Bagaimana dengan hotel di atas es? Retret Nordic yang tenang di tengah-tengah lanskap bersalju yang indah ini terdiri dari berbagai akomodasi mewah, termasuk apartemen loteng kayu, suite kabin, dan kamar ganda reguler. Resor ini tidak hanya membanggakan beragam sauna dan fasilitas mewah, tetapi juga memiliki salah satu pemandangan terbaik dari Cahaya Utara di seluruh Swedia.

Baca juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar

Guntû (Tokyo, Jepang)
Merupakan hotel terapung dalam arti sebenarnya, oasis eksklusif dengan 19 kamar ini mengapung di Laut Pedalaman Seto. Dilengkapi dengan onsens, ruang perawatan, dan ruang makan termasuk meja dan bar sushi.

Penerbangan Masih Lesu, Bandara Hong Kong Kehilangan 91 Persen Pengunjung

Salah satu hub utama di Asia, Bandara Hong Kong, mengaku telah kehilangan sekitar 91 persen selama bulan Maret bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (YoY). Otoritas bandara mengaku, musibah tersebut nyaris setara dengan musibah yang terjadi saat puncak wabah SARS pada 2003 silam.

Baca juga: Imbas Penumpang Turun Drastis, Bandara Hong Kong Satukan Pelayanan di Terminal Utama

Seperti dikutip dari traveldailymedia.com, selama bulan Maret, Bandara Hong Kong hanya melayani sekitar 576.000 orang, dimana 350.000 adalah kedatangan dan 226.000 keberangkatan. Angka tersebut tentu sangat jauh bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, saat 6,39 juta pelancong memandati bandara tersebut, tepat beberapa bulan sebelum terjadinya gelombang demonstrasi rakyat Hong Kong terkait isu RUU Ekstradisi yang nyaris mematikan pariwisata negara tersebut.

Akan tetapi, angka itu (576.000 orang) sejauh ini masih bukanlah yang terendah. Bila dibandingkan dengan puncak SARS pada 2003 silam, angkanya masih berkisar 12 ribu lebih sedikit.

Sejalan dengan penurunan frekuensi penumpang, jumlah pergerakan pesawat di bandara yang mulai dibuka pada tahun 1998 juga turun drastis. Bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, angkanya turun hampir dua pertiga menjadi 12.115 pesawat.

Baik jumlah pergerakan pesawat maupun jumlah penumpang, keduanya diperkirakan masih akan terus bergerak turun, mengingat pandemi Corona di Hong Kong masih terus mengancam. Maka dari itu, pekan lalu, otoritas Hong Kong memutuskan untuk melanjutkan perpanjangan penutupan akses bagi traveler asing hingga batas yang tak ditentukan, seiring meningkatnya kasus Covid-19 impor.

Sama halnya dengan perpanjangan penutupan bandara, pemerintah setempat juga tetap akan memberlakukan pengetatan pembatasan terkait travel yang dimulai sejak dua minggu lalu. Mereka yang baru kembali dari luar negeri harus mengisolasi diri di rumah selama 14 hari, sedangkan semua orang dari China daratan, Makau, dan Taiwan akan dikarantina di hotel atau di rumah, termasuk warga Hong Kong.

Orang-orang dari tiga lokasi tersebut yang sekaligus punya catatan perjalanan dari luar negeri dalam 14 hari terakhir tidak akan diizinkan masuk, kecuali memiliki izin tinggal di Hong Kong. Semua layanan transit akan dibekukan sementara dan aturan itu akan berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Selama masa karantina mandiri, otoritas Hong Kong juga menyertakan teknologi terkini untu memastikan proses karantina berjalan dengan baik, yakni dengan menggunakan gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.

Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumah, hotel, apartemen, atau tempat manapun yang telah dipilih, untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.

Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, praktis, pengguna tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.

Bahkan, sebelum mulai menjalani masa karantina, setiap penumpang yang datang ke Bandara Internasional Hong Kong bukan hanya melewati pemeriksaan suhu tubuh, melainkan juga harus melewati pemeriksaan virus Corona atau rapid test. Dengan begitu, secara resmi, hal ini menjadikan Bandara Hong Kong menjadi yang pertama di dunia dalam pemeriksaan virus Corona bagi penumpang.

Baca juga: Hong Kong ‘Lockdown’ Warganya dengan Gelang Canggih

Selain peningkatan kasus impor, infeksi lokal juga mengundang perhatian serius. Dr. Ho Pak-leung, profesor rekan mikrobiologi dari University of Hong Kong, meminta pemerintah mewajibkan seluruh penduduk memakai makser.

“Menggunakan masker itu efektif,” katanya dalam sebuah program radio. “Itu bisa membantu menghambat penyebaran virus oleh orang-orang yang tidak menunjukkan gejala.”

Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

Kabin penumpang disulap menjadi kargo belakangan ramai terjadi di berbagai penerbangan di seluruh dunia. Namun, tentu saja perubahan tersebut perlu dilakukan dengan cermat. Bila tidak, bukan tak mungkin suatu hal buruk akan terjadi. Pasalnya, Fire Suppression System untuk mencegah kebakaran yang terdapat di kompartemen kargo tidak tersedia di kabin penumpang.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Dilansir dari forbes.com, dengan kondisi tersebut, berbagai regulator pun mengharuskan agar pengamat penerbangan atau pramugari (awak kabin) harus disertakan dalam setiap penerbangan tersebut (kargo di dalam kabin penumpang). Tak terkecuali dengan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura, CAAS.

“Otoritas Penerbangan Sipil Singapura telah memberikan persetujuan kepada Singapore Airlines dan Scoot Tigerair untuk mengangkut kargo di kabin penumpang pesawat mereka ketika pesawat ini digunakan untuk penerbangan kargo,” kata Direktur Standar Penerbangan CAAS, Alan Foo.

“Awak kabin juga harus berada di atas penerbangan ini untuk mengelola setiap keadaan darurat dalam penerbangan,” lanjutnya.

Dengan adanya fenomena tersebut, praktis, fungsi pramugari kini telah bergeser, dari semula melayani para pelanggan dengan penuh keramahan, menjadi petugas pemadam kebakaran di dalam kabin penumpang yang siap siaga di segala kondisi.

Namun demikian, nampaknya, kecil kemungkinan pramugari benar-benar berjibaku layaknya petugas kebakaran sungguhan. Sebab, sebelum benar-benar terbang memuat kargo di dalam kabin penumpang, berbagai mekanisme terlebih dahulu harus dipenuhi. Seperti klasifikasi barang yang tidak boleh mudah terbakar, tidak boleh menghalangi pintu darurat, hingga suhu di dalam kabin tidak boleh terlalu panas.

Selain itu, berbagai masukan dari pihak terkait, seperti produsen pesawat, dalam hal ini Airbus dan Boeing, regulator seperti EASA dan FAA, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), juga semakin memperketat mekanisme kargo di dalam kabin penumpang. Masing-masing dari mereka mempunyai poin-poin penting tersendiri.

Airbus, dengan berbagai catatan, masih memperkenankan maskapai global memaksimalkan ruang di dalam kabin penumpang dengan mencopot kursi. Sebaliknya, Boeing bersama FAA justru kompak menyuarakan agar masing-masing maskapai mengkomunikasikan segala perubahan, termasuk kargo di dalam kabin penumpang dengan regulator.

Poinnya adalah, Boeing dan FAA tidak mengharapkan adanya perubahan konfigurasi. Maskapai bisa tetap memaksimalkan kabin dengan meletakkan kargo di atas kursi yang dilapisi pelindung, meletakkan di bawah kursi, atau di bagian lainnya selama tidak mengganggu jalur evakuasi.

EASA lebih ketat lagi. Selain wajib ‘dijaga’ oleh awak kabin atau pengamat penerbangan, pengecekan ketat sebelum penerbangan dimulai, seperti bobot total kargo di dalam kabin agar tak melebihi kemampuan struktur pesawat, barang-barang yang dibawa, tata letak kargo karena berpengaruh dengan keseimbangan pesawat, bahkan wajib mensertifikasi ulang bersama pihak terkait jika terjadi perombakan besar-besaran di dalam kabin penumpang.

Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Hal itu dilakukan bukan hanya untuk membuat penerbangan tersebut aman, namun sekaligus menjadi sebuah sinyal bahwa kargo di dalam kabin penumpang jelas merupakan hal yang tak dibenarkan dan tak boleh berlarut, terlebih dalam keadaan normal.

Sejauh ini, EASA masih memberikan kemudahan untuk penerbangan tersebut selama dalam kurun delapan bulan ke depan atau selama masa krisis bila mana dalam delapan bulan ke depan pandemi corona masih tak kunjung usai. Di luar itu, EASA menyarankan agar dibuat regulasi yang jelas dan terperinci, dengan didasari riset untuk meminimalisir kecelakaan.

Perancis Kirim Pasien Corona Antar Kota dengan Kereta Cepat

Perancis menjadi salah satu episenter virus corona terbesar di dunia, bersama Italia dan Amerika Serikat. Bahkan, negara yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron sempat begitu mencekam dengan jumlah kematian akibat virus Cina mencapai hampir 1.000 orang per hari. Tak heran, bila beberapa wilayah di Perancis sangat kewalahan, khususnya di bagian Timur Perancis.

Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Dikutip dari laman npr.org, hampir seluruh rumah sakit di wilayah Timur Perancis dilaporkan tak lagi mampu menampung pasien corona. Di saat yang bersamaan, rumah sakit lainnya di bagian Barat cukup lengang dan juga memiliki peralatan medis yang tak kalah dengan di wilayah Timur. Oleh karenanya, otoritas setempat memutuskan untuk mengirim pasien ke wilayah-wilayah minim kasus corona dengan kereta cepat atau Train à Grande Vitesse (TGV) untuk membantu proses perpindahan pasien corona.

Kereta berkecepatan tinggi yang melewati situs-situs bersejarah Perang Dunia I, melalui Loire Valley hingga mengakhiri perjalanan di Angers, sekitar 200 mil Barat Daya Paris itu mengangkut 20 pasien COVID-19 yang kritis. Pasien-pasien tersebut dipindahkan dari wilayah Strasbourg, tak jauh dari perbatasan Perancis-Jerman, atau berjarak sekitar 5 jam perjalanan atau 500 mil.

Sekalipun melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai 185 mil per jam, TGV diklaim tetap nyaman untuk mengangkut pasien kritis. Bahkan, dari sisi kenyamanan, TGV masih lebih baik dibanding helikopter. Oleh karenya, bila diperlukan, tim medis dapat melakukan perawatan darurat dengan tenang tanpa diganggu oleh guncangan.

Namun, tak seperti di India yang menyulap kereta menjadi fasilitas karantina bagi masyarakat yang terpapar corona, secara teknis, kabin di dalam gerbong tidak banyak berubah. Sebanyak 20 pasien corona hanya diletakan di atas tandu sederhana yang menjulang di antara dua kursi TGV. Agar tidak bergeser, tandu tersebut diikat ke kursi.

Kemudian, karena mayoritas pasien corona yang dipindahkan adalah pasien dengan kategori berat, TGV juga diawasi oleh enam petugas medis dan dibekali dengan ruang gawat darurat, lengkap dengan ventilator dan oksigen, bila selama dalam perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca juga: Dari Kode QR Hingga Media Sosial, Inilah Empat Cara Cina Lacak Covid-19

“Wilayah Timur sekarang berada di puncak gelombang. Setiap daerah akan mengalami hal ini dalam beberapa minggu mendatang, tetapi pada waktu yang berbeda. Saat ini, idenya adalah untuk memanfaatkan waktu jeda antar daerah dan untuk memindahkan pasien dari daerah yang sangat parah ke daerah yang kurang terdampak,” kata Dr. Lionel Lamhaut, penanggungjawab misi pemindahan pasien tersebut.

Akan tetapi, selain TGV, berbagai moda transportasi lainnya juga dikerahkan Perancis, seperti kereta api, helikopter, jet, dan bahkan kapal perang nasional Perancis juga dikerahkan untuk meringankan beban rumah sakit yang padat dengan ratusan pasien dan tenaga medis keluar masuk hotspot virus Corona.

Tindakan Bodoh, Lempar Gulungan Spanduk dan Besi ke Rel Kereta Bisa Membahayakan

Dua kejadian bodoh yang membahayakan nyawa baru-baru ini terjadi di rel kereta Inggris. Di mana ada dua kejadian yakni gulungan spanduk sepanjang sepuluh meter dan sebuah lempengan besi skuter dilempar ke atas rel kereta api. Insiden ini kemudian dilaporkan ke Polisi Transportasi Inggris.

Baca juga: Teror di Stasiun Adelaide, Dua Pria Dorong Mobil ke Lintasan Kereta

Diketahui, gulungan spanduk sepanjang sepuluh meter dan lempengan besi skuter tersebut ditemukan di atas rel Stoke-on-Trent. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman stokesentinel.co.uk (13/4/2020), postingan sebuah foto di media sosial menunjukkan gulungan spanduk biru bergaris menutupi jalur menuju ke timur dekat dengan jembatan Smithpool Road di Fenton antara Stasiun Stoke dengan Stasiun Longton pada 12 April 2020 kemarin.

Selain itu gambar lainnya yang diposting menunjukkan sebuah lempengan besi skuter anak-anak terletak 100 meter lebih jauh di jalur barat dekat dengan Lido. Kedua insiden yang diduga terkait tersebut untungnya langsung dilaporkan kepada pihak Polisi Transportasi Inggris.

Adanya hal tersebut, membuat warganet mengutuk ‘para idiot’ yang bertanggung jawab atas hal itu meskipun keduanya tidak mungkin menggagalkan kereta. Seorang wanita mengatakan, dirinya tidak percaya betapa bodohnya pelaku yang melemparkan dua barang itu.

“Seseorang telah melempar lempengan besi skuter tepat di jalure kerta. Saya hanya berharap ketika kereta berikutnya melintas, maka lempengan besi itu terdorong keluar,” kata wanita itu.

“Sepertinya telah sengaja ditempatkan di sana,” ujar warganet lainnya.

Tak hanya itu, warganet lain mengatakn, mereka mungkin melakukan ini karena tipsny sudah ditutup. “Benar-benar idiot.”

Karena hal ini, juru bicara kepolisian Transportasi Inggris mengatakan, siapa pun yang bertanggung jawab atas tindakan bodoh dan berbahaya ini, membahayakan nyawa para penumpang dan staf kereta api.

Baca juga: Video Viral Resepsi Pernikahan di Tengah Rel Kereta Balai Yasa Yogyakarta

“Kami mendesak mereka yang berpikir bahwa melemparkan benda ke kereta api atau ke jalur kereta api itu menyenangkan, atau cara yang baik untuk membuang barang-barang rumah tangga mereka, untuk memikirkan konsekuensi dari tindakan mereka, yang dapat mengakibatkan cedera serius atau seseorang terbunuh,” ujar juru bicar kepolisian Transportasi Inggris.

Virus Corona Booming, Pabrik Bir Corona di Meksiko Justru Hentikan Produksi

Bir bermerek Corona seketika booming saat virus corona menjadi pandemi di seluruh dunia. Hal ini karena banyak meme yang beredar tentang bir tersebut dan di sandingkan dengan virus yang menyebabkan penyakit pernapasan tersebut.

Baca juga: Badai Corona Hantam Sektor Industri Otomotif dan Suku Cadang

Namun meski sempat menjadi terkenal, pabrik yang memproduksi bir corona harus berhenti sementara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (3/4/2020), Grupo Modelo perusahaan pembuat bir salah satunya bir corona mengumumkan di Twitter bahwa mereka menghentikan produksi dan pemasaran birnya karena Pemerintah Meksiko telah menutup bisnis yang tidak penting.

Perusahaan milik Anheuser-Busch Inbev, selain membuat bir Corona juga membuat bir Modelo dan Pacifico. Diketahui, pemerintah Meksiko mengumumkan penangguhan kegiatan yang tidak penting di sektor publik dan swasta hingga 30 April dalam upaya untuk mengekang penyebaran virus.

Meski menutup sementara produksi dan pemasarannya, Grupo Modelo siap untuk membuat rencana dan menjamin pasokan birnya tetap ada jika pemerintah Meksiko memutuskan untuk memasukkan pabrik sebagai hal yang penting. Constellation Brands (STZ) yang menangani distribusi dan impor bir Grupo Modelo di Amerika Serikat.

CEO Constellation Brands Bill Newlands mengatakan dalam panggilan pendapatan merek memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi permintaan konsumen dan tidak mengharapkan kekurangan dalam waktu dekat. Bill mengatakan, adanya kebetulan persamaan nama Corona dengan virus pandemi saat ini justru tidak merusak penjualan.

Bahkan mereka menyebutkan penjualan merek bir itu tumbuh 8,9 persen untuk tiga bulan pertama tahun ini dengan Modelo dan Corona yang menjadi top dalam penjualan mereka. Pihak Constellation mengatakan, penjualan mereka meningkat dalam tiga minggu pertama di bulan Maret dengan bir tumbuh 24 persen dibandingkan tahun lalu.

Corona Hard Seltzer, yang diluncurkan pada awal Maret, juga menuju “awal yang kuat,” menurut rilis pendapatan perusahaan. Bir dan alkohol lainnya meningkat dalam penjualan bulan ini karena orang Amerika dipaksa untuk berjongkok mengingat coronavirus.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Diketahui, angka penjualan dari Nielsen (NLSN) menunjukkan penjualan bir naik 34 persen dari tahun ke tahun untuk minggu yang berakhir pada 21 Maret. Selain Grupo Modelo adakah perusahaan bir lainnya yang menghentikan operasionalnya?

Lebih Dahulu dari Indonesia, Grab Vietnam Hentikan Semua Pengangkutan Penumpang

Sebagai negara yang mengekor Indonesia dalam industri ride hailing, Vietnam rupanya malah lebih dulu dalam program penghentian layanan angkut penumpang akibat wabah covid-19, khususnya ini telah dilakukan oleh Grab Vietnam.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (3/4/2020), Grab di Vietnam menangguhkan sementara layanan GrabBike mereka di ibukota Hanoi. Penangguhan layanan GrabBike sendiri dilakukan sejak tanggal 3 April lalu hingga 15 April 2020 besok. Grab mengatakan, langkah ini diambil dalam upaya untuk membatasi penyebaran virus corona (Covid-19).

“Keputusan ini kami ambil untuk memastikan keamanan pelanggan dan pengemudi selama pandemi. Sedangkan layanan GrabExpress dan GrabFood masih tersedia di banyak bagian lain Vietnam,” ujar Grab Vietnam dalam sebuah pernyataan.

Ternyata tak hanya layanan GrabBike yang ditangguhkan, sebab pada awal bulan April 2020 ini, Grab bahkan sudah menangguhkan layanan mobilnya hingga 15 April 2020. Sehingga GrabCar, GrabCar Plus, GrabCar Business, GrabTaxi, GrabRent dan JustGrab secara nasional tidak lagi beroperasi sementara waktu.

Diketahui, Vietnam sendiri melakukan lockdown dinegaranya sejak 1 April hingga 15 April 2020. Pemerintah Vietnam menyebut kebijakan ini sebagai gerakan restriksi sehingga menutup bisnis dan membatasi kegiatan masyarakat.

Dari sekitar 245 orang yang positif Covid-19 di Vietnam belum ada korban meninggal. Namun, Vietnam telah melakukan lebih dari 73 ribu tes virus cvorona dan 72.942 orang saat ini dalam masa karantina untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Diketahui, di Indonesia GoJek dan Grab mengambil beberapa langkah meski angkutan penumpang ditiadakan dan hanya angkutan barang. Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno mengatakan, sejak awal penyebaran virus Covid-19, Grab telah memantau kondisi dan menyiapkan semua pemangku kepentingan terkait respons mereka terhadap Covid-19 termasuk para mitra pengemudi.

Baca juga: Dirlantas Polda Metro Jaya: Patuhi Instruksi Luhut, Ojol Boleh Angkut Penumpang Saat PSBB Jakarta

“Selain itu kami juga secara aktif mengimbau semua mitra pengemudi dan pengiriman untuk mengutamakan kesehatan mereka dan untuk mengambil tindakan pencegahan secara menyeluruh termasuk mengenakan masker setiap saat. Mendesinfeksi kendaraan dan tas pengiriman mereka secara teratur, sering mencuci dan membersihkan tangan mereka serta menjaga jarak aman melalui prosedur contactless delivery bagi mitra pengiriman GrabFood dan GrabExpress,” kata Tri.