Inilah Perjalanan Penanganan Bagasi, Saat Tiba di Konter Check In Sampai ke Tangan Penumpang Lagi

Sistem penanganan bagasi di sebuah bandara memiliki peran yang penting dalam membuat pelancong senang. Ini juga ternyata berpengaruh pada perbedaan dalam kemampuan bandara untuk menarik atau mempertahankan hub maskapai utama. Sistem penanganan bagasi bandara sendiri memiliki tiga pekerjaan utama yakni memindahkan tas pelancong dari area check in ke gerbang keberangkatan, kemudian dari satu gerbang ke gerbang lain ketika transfer atau transit dan dari gerbang kedatangan ke area pengambilan bagasi.

Baca juga: Mau Bawaan Anda Tiba Lebih Cepat di Ban Berjalan? Ini Kata Petugas Penanganan Bagasi

KabarPenumpang.com merangkum laman howstuffworks.com, ternyata sistem penanganan bagasi yang sukses adalah sederhana di mana bagasi pelancong dapat bergerak dari satu titik ke titik lainnya secara cepat. Sehingga jika tas bergerak lebih lambat maka pelancong akan frustasi menunggu tas dan gagal ke penerbangan selanjutnya tepat waktu.

Apalagi setiap bandara memiliki persyaratan sendiri dalam penanganan bagasi seperti waktu yang diberikan untuk sebuah tas dari area check in ke gerbang ditentukan oleh seberapa cepat seorang penumpang dapat melakukan perjalanan yang sama. Di beberapa bandara ini mungkin hanya berjalan kaki singkat ke terminal penumpang, sedangkan yang lain mungkin harus naik kereta api lagi.

Bandara Internasional Denver misalnya, memiliki sistem penanganan bagasi modern dan otomatis yang dirancang oleh BAE Automated Systems, Inc. United Airlines menggunakan Terminal B di Bandara Denver sebagai hub, jadi terminal ini memiliki otomatisasi paling banyak. Sistem ini menggabungkan beberapa teknologi luar biasa untuk memindahkan tas dari konter check-in ke gerbang keberangkatan dengan cara yang hampir sepenuhnya otomatis.

Destination-coded vehicles (DCVs), gerobak tak berawak yang didorong oleh motor induksi linier yang dipasang di trek, dapat memuat dan membongkar tas tanpa berhenti yang bisa otomatis memindai label di bagasi. Konveyor yang dilengkapi dengan persimpangan dan mesin sortir secara otomatis mengarahkan tas ke gerbang.

Sistem penanganan bagasi seperti sistem jalan di kota yakni konveyornya seperti jalan lokal, jalur DCV seperti jalan raya dan tas Anda seperti mobil. Sistem penanganan bagasi dan jalan membagi properti ini, jika konveyor atau trek DCV diblokir (kemacetan, semacam), bagasi dapat diarahkan di sekitar penyumbatan.

Bagasi memulai dan mengakhiri perjalanannya dengan konveyor, pindah ke jalur DCV untuk melakukan perjalanan yang lebih lama, seperti dari terminal ke terminal atau gerbang ke gerbang. DCV tidak pernah berhenti, sama seperti tidak ada lampu berhenti di jalan raya. Tidak seperti sistem jalan, sistem penanganan bagasi membuat semua keputusan tentang ke mana tas akan dibawa. Ratusan komputer melacak lokasi setiap tas, rencana perjalanan setiap pelancong dan jadwal semua pesawat.

Komputer mengontrol persimpangan dan sakelar konveyor di trek DCV untuk memastikan setiap kantong berakhir tepat di tempat yang diperlukan. Proses dimulai ketika Anda check-in dan menyerahkan tas Anda ke agen. Sehingga aat Anda check in, agen menarik rencana perjalanan Anda di komputer dan mencetak satu atau beberapa tag untuk dilampirkan pada setiap barang bawaan Anda.

Tag memiliki semua informasi penerbangan Anda di dalamnya, termasuk tujuan Anda dan semua kota persinggahan, serta kode batang yang berisi angka sepuluh digit. Nomor ini unik untuk barang bawaan Anda karena semua komputer dalam sistem penanganan bagasi dapat menggunakan nomor ini untuk mencari jadwal perjalanan Anda.

Pemberhentian pertama tas Anda (setelah check in) ada di pemindai kode batang otomatis. Stasiun ini sebenarnya adalah array pemindai kode batang yang diatur 360 derajat di sekitar conveyor, termasuk di bawahnya. Perangkat ini dapat memindai kode batang pada sekitar 90 persen tas yang lewat. Sisa tas diarahkan ke konveyor lain untuk dipindai secara manual.

Setelah sistem penanganan bagasi membaca nomor kode bar sepuluh digit, sistem tahu di mana tas Anda setiap saat. Konveyor membawa setiap tas ke tujuan yang sesuai. Sebab tujuan dari sistem ini adalah membuat tas mengikuti penumpang. Secara umum, orang-orang dapat turun dari pesawat lebih cepat daripada tas dapat dibongkar, jadi untuk menjaga tas mereka harus dapat bergerak di antara gerbang dengan sangat cepat.

Panjang terminal sekitar 0,6 mil (1 km), dan beberapa tas mungkin harus menempuh jarak sejauh itu. Terminal memiliki dua track DCV terpisah yang membuat loop di sekitar terminal dalam arah yang berlawanan. Kantung pemindah dimuat ke konveyor, tempat mereka bergerak melalui stasiun pemindaian dan kemudian dialihkan ke jalur DCV. DCV membawa tas ke gerbang yang tepat dan menurunkannya. Jika Anda tidak melakukan transfer, tas Anda harus dibawa ke area pengambilan bagasi.

Baca juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Tas yang keluar dari pesawat yang tinggal di Denver dimuat ke dalam gerobak dan ditarik dengan tarik ke area klaim bagasi. Karena tas sudah disortir saat turun dari pesawat, mudah untuk memisahkan tas yang dipindahkan dari tas yang berhenti. Ketika tas sampai ke area pengambilan bagasi, mereka dimuat ke konveyor pendek yang menyimpannya di korsel. Karena bandara Denver adalah tujuan populer untuk pemain ski, ada korsel yang terpisah untuk ski.

Bertarung Melawan Bau Busuk, Inilah Peran Petugas Pembersih Limbah Toilet Kereta

Kereta api yang beroperasi tak hanya mempekerjakan masinis, kondektur, petugas loket maupun keamanan. ternyata di Cina ada pekerjaan lainnya yakni petugas pembersih limbah toilet kereta api. Bahkan mereka bekerja diantara bau busuk, berpisah dari keluarga, meggigil ketika musim dingin, kehujanan di kala hujan lebat hingga kepanasan ketika musim panas.

Baca juga: Atasi Limbah, Stasiun Kereta di India Hadirkan Mesin Penghancur Botol Bekas

Salah seorang dari 70 pekerja pembersih limbah toilet kereta di cina yakni Han Chunmao mengatakan biasanya bekerja membersihkan toilet dengan alat hisap khusus sebanyak 30 kereta perhari atau 40 per hari selama masa Festival musim Semi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari shine.cn (14/4/2020), Han bercerita setiap pagi dirinya tiba di stasiun pukul 04.30 pagi waktu setempat.

Dia berpatroli dan memeriksa peralatan, melakukan perbaikan dan perawatan dan tidak akan pergi sampai setelah jam 11 malam atau ketika kereta api terakhir berangkat. Dia menyebutkan, pekerjaan ini bukanlah yang disadari banyak orang, tetapi sangat penting untuk memastikan lingkungan sanitasi bagi penumpang kereta api. Han sendiri sudah bekerja selama 11 tahun.

para petugas pembersihan toilet kereta Cina (shine.cn)

“Bau busuk membuat saya tidak bisa makan dan pekerjaan itu berat, terutama di musim panas dan musim dingin,” kata Han.

Pembersihan kotoran dengan alat hisap dapat digunakan di rel stasiun yang sempit terlepas dari kondisi cuaca. Dia mengatakan, pada musim panas suhu rel bisa mencapai 58 derajat Celcius. Namun meski begitu Han dan rekannya yang lain tetap harus bekerja.

“Udara panas yang mengepul dari kereta, bercampur dengan bau, membuat saya tidak nyaman dan saya kesulitan bernapas sambil basah oleh keringat. Tapi aku harus bertahan karena itu adalah tugasku yang memastikan penumpang bisa menggunakan toilet,” kata Han.

Musim dingin juga merupakan tantangan berat karena katup pembuangan feses terkadang membeku, bahkan dalam cuaca ekstrem, pekerjaan tidak berhenti. Dia mengatakan, dalam kondisi topan dan hujan deras, jas hujan tidak membantu karena mereka tertiup angin atau basah kuyup. Di tengah kesulitan seperti itu, apa yang membuat Han tetap bekerja? Dia mengatakan dia menghargai stabilitas, meskipun dia mempertimbangkan untuk berhenti di awal.

“Saya tidak memberi tahu teman sekelas dan teman-teman saya apa yang saya lakukan karena pekerjaan itu berhubungan dengan pemborosan. Banyak kolega saya berhenti segera setelah mereka memulai pekerjaan,” jelas Han.

Selama 11 tahun terakhir, Han belum pernah kembali ke kampung halamannya selama liburan, belum lagi Festival Musim Semi, waktu yang secara tradisional disediakan untuk reuni keluarga. Sebab menurutnya, Festival musim Semi adalah waktu tersibuk mereka. Selain itu Stasiun Shanghai adalah stasiun besar yang banyak lalu lintas kereta.

Kereta biasanya memiliki 18 gerbong dan 34 tangki pengumpul kotoran. Han menjelaskan, memompa limbah mungkin tampak seperti pekerjaan sederhana, tetapi ini proses yang rumit dan multi-langkah. Karena setiap langkah membutuhkan keterampilan dan latihan.

“Setiap gerakan perlu dilakukan dengan sangat ketat berdasarkan prosedur karena setiap kegagalan dapat menyebabkan kebocoran kotoran. Pakaian yang tercemar tidak layak disebut, tetapi kebocoran mungkin memengaruhi keberangkatan normal kereta,” tambahnya.

Bisa dikatakan Han, pekerjaan ini membosankan tetapi dirinya tidak pernah mengeluh dan bahkan mengatakan terbiasa dengan pekerjaan serta lingkungan toilet yang bersih untuk penumpang. Han menjelaskan lagi, bahwa konsentrasi juga penting dalam pekerjaannya, karena masalah kecil bisa menyebabkan kecelakaan.

Han termasuk di antara 70 pekerja pembersih kotoran di Stasiun Kereta Shanghai, Stasiun Kereta Shanghai Hongqiao, dan Stasiun Kereta Api Shanghai Selatan. Bersama-sama, mereka memindahkan sekitar 50 ton sampah dari sekitar 2000 tangki feculence setiap hari.

Sejak epidemi virus korona, mereka harus memeriksakan suhu mereka dan memakai alat pelindung saat bekerja. Mereka juga perlu meningkatkan frekuensi desinfeksi di ruang kerja. Tak hanya itu, para kru harus lebih berhati-hati untuk mencegah penyemprotan oleh limbah karena potensi risiko penularan virus fecal-oral.

Jika pekerja menggunakan tangan mereka untuk membersihkan pipa yang tersumbat, mereka harus menjalani desinfeksi dan pembersihan yang menyeluruh. Layanan kereta api dari Wuhan, bekas episentrum wabah coronavirus di Cina, dimulai kembali pada 8 April. Tujuh belas kereta meninggalkan Wuhan ke Shanghai pada hari itu.

“Jika saya mengatakan saya tidak takut akan potensi bahaya terinfeksi, itu akan menjadi kebohongan, tetapi saya yakin dengan langkah-langkah pencegahan bangsa kita,” kata Han.

Dong Wei, kepala tim, mulai sebagai pekerja pembuangan limbah pada tahun 2007. Dong mengatakan pada awalnya mereka menggunakan kendaraan untuk menyedot tinja, kemudian secara bertahap menggantinya dengan sistem penghisap vakum. Dia menyebutkan bahwa pekerjaan ini membutuhkan rasa tanggung jawab yang kuat dan pekerja tidak memiliki istirahat selama bekerja.

Diketahui, durasi pemberhentian setiap kereta bervariasi, membuat pekerjaan terkadang berpacu dengan waktu. Han menambahkan, ini bisa satu jam, atau hanya 12 menit dan kami perlu mengurangi empat menit di sekitar keberangkatan kereta dan berhenti untuk memastikan keselamatan kerja, mengharuskan pekerja untuk sangat berkonsentrasi pada pekerjaan dan seefisien mungkin.

Baca juga: Kereta Api Inggris Masih Buang Limbah Toilet ke Rel

“Kadang-kadang penumpang yang ceroboh menyiram barang-barang seperti handuk, ikat pinggang, botol plastik atau sisir ke toilet, yang akan mengikis sabuk sistem pompa kami atau memblokir pipa. Kita perlu mengeluarkan kotoran dengan tangan dalam kasus seperti itu,” tambah Han.

Dong mengatakan, pekerja tertua di antara 70 pekerja berusia 58 tahun, meskipun sebagian besar berusia 40-an.

Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia

Sebelum ditemukannya moda transportasi udara seperti pesawat, dahulu manusia bepergian menjelajah daerah-daerah baru dan terpencil dengan menggunakan kapal laut atau perahu. Seiring berjalannya waktu, khususnya setelah pesawat terbang ditemukan, perlahan tapi pasti moda transportasi laut mulai dinomorduakan. Alasannya, tentu saja waktu.

Baca juga: Berdasarkan Luas Lahan,10 Bandara Ini Jadi Yang Terbesar di Dunia

Moda transportasi udara menjanjikan waktu tempuh yang lebih singkat ketimbang moda laut. Tak heran, berbagai wilayah di dunia, khususnya wilayah kepulauan, tak mau ketinggalan untuk memfasilitasi penerbangan agar bisa mampir di tanah kekuasaan mereka, yakni dengan membangun bandara.

Indonesia, misalnya, transportasi udara di Bumi Pertiwi yang merupakan negara kepulauan tentu memiliki peran penting dalam menghubungkan antar wilayah yang terpisah oleh laut dan pulau. Hadirnya transportasi udara tidak hanya menghubungkan dan membuka konektivitas saja, tetapi juga turut mendorong pergerakan ekonomi daerah tersebut.

Sebagai negara kepulauan, tentu Indonesia memiliki banyak bandara dengan berbagai panjang runway. Tidak sedikit bandara di Indonesia yang memiliki panjang runway tidak sampai 1.000 meter. Bahkan, Bandara Kiwirok di Kabupaten Bintang, Papua, hanya memiliki runway 600 meter dengan kontur bergelombang dan berbelok sehingga hanya bisa didarati oleh pesawat berukuran kecil saja serta tidak bisa banyak mengangkut penumpang. Tapi ternyata, runway yang dimiliki oleh salah satu bandara di Indonesia tersebut bukanlah bandara terkecil dengan runway terpendek yang ada di dunia.

Sebuah pesawat hendak mendarat di Juancho E. Yrausquin Airport. Foto: Twitter

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, rekor bandara terkecil yang ada di dunia dipegang oleh Saba Airport. Bandara yang memiliki nama resmi Juancho E. Yrausquin ini terletak di Pulau Saba, pulau terkecil di kepualuan Karibia, wilayah kolonial Belanda yang dioperasikan oleh Winair, sebuah maskapai milik pemerintah yang bermarkas di Sint Marteen.

Selain predikatnya sebagai bandara terkecil di dunia, bandara Juancho E. Yrausquin ini juga merupakan bandara dengan runway terpendek di dunia, yaitu hanya 400 meter. Pada kedua ujung landasan pacu bandara ini terdapat jurang atau tebing terjal yang langsung menghadap ke lautan lepas nan luas serta bukit menjulang pada salah satu sisi bandara ini.

Oleh karena itu bandara ini juga diklaim sebagai salah satu bandara paling bahaya di dunia. Tak cukup sampai di situ, di ujung landasan pacu ini juga terdapat huruf X besar yang merupakan tanda larangan bagi pesawat sipil komersial berbadan besar agar tidak mendaratkan pesawatnya di bandara tersebut, kecuali dalam keadaan darurat.

Dikarenakan landas pacunya berukuran kecil, jadi pesawat jenis jet tidak dapat mendarat di sini, hanyalah pesawat kecil berkapasitas sedikit dengan jenis DHC-6, BN-2, dan helikopter, seperti maskapai Twin Otter dan BN-2 Islander yang biasa mendarat di bandara Juancho E. Yrausquin. Fisik bangunan dari bandara ini juga terbilang cukup minimalis, semua perangkat yang berhubungan dengan penerbangan di sini bisa Anda temui di dalam gedung yang tampak seperti rumah ini.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Bandara ini pertama kali dibangun oleh Remy de Haenen pada tahun 1946. De Haenen yang juga dikenal sebagai orang yang memperkenalkan Dewan Perekonomian di Saba melakukan observasi melalui udara di sekitaran lokasi bandara dan selang beberapa minggu, setelah melakukan beberapa pertimbangan, lahan kosong yang dinilai cocok untuk dijadikan landas pacu pun dibersihkan dan ditinggikan. Sebagai orang yang memprakarsai pembuatan bandara, De Haenen lantas melakukan uji coba dengan melakukan pendaratan pertama pada 9 Februari 1959.

Pada tahun 1998, bandara Juancho E. Yrausquin pernah dibuat luluh lantak akibat sapuan dari badai Georges, dan mengalami pembaharuan. 4 tahun berselang, sebuah gedung baru selesai dibangun dan didedikasikan pada De Haenen. Hingga kini, bandara tersebut masih aktif melayani penerbangan dari dan menuju bandara Juancho E. Yrausquin. Salah satu rute penerbangan dari sini adalah menuju Sint Marteen yang hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di tujuan.

Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Sudah menjadi rahasia umum kalau seluruh maskapai penerbangan di dunia mengejar load factor atau tingkat keterisian penumpang di setiap flight. Namun, akibat satu dan lain hal, tingkat keterisian penumpang tidak selalu berada di jalur yang benar atau sesuai harapan maskapai. Di beberapa kondisi, pesawat harus terbang dengan hanya satu dua penumpang atau yang lebih parah dari itu, tanpa satupun penumpang.

Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Secara definitif, load factor berarti sebuah indikator yang mengukur persentase tingkat keterisian kapasitas tempat duduk yang tersedia oleh penumpang. Data load factor dari seluruh maskapai di dunia dirilis setiap bulan oleh Asosiasi Transportasi Udara (ATA).

Kemudian, pertanyaan paling mendasar pun muncul, bagaimana load factor mempengaruhi profit maskapai? Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin tidak sederhana. Namun, secara matematis, sebagaimana dikutip dari investopedia.com, pada intinya, sumber penghasilan terbesar maskapai, 75 persen di antaranya datang dari penumpang. Adapun sisanya, 15 persen datang dari muatan kargo dan 10 persen lagi dari bisnis lainnya, salah satunya iklan.

Dengan hitungan seperti itu, praktis maskapai tak punya pilihan lain kecuali mengejar load factor tinggi. Khususnya bagi maskapai berbiaya rendah atau LCC yang pada umumnya menjual tiket murah dengan berharap banyak pada tingginya load factor. Adapun maskapai lainnya dengan reputasi tinggi pada layanan, mungkin load factor tidak selalu menjadi satu-satunya andalan, mengingat, mereka mengambil margin yang cukup besar pada layanan yang ditawarkan. Namun, kembali lagi, dengan 75 persen pendapatan datang dari penumpang, load factor rendah tetap saja akan sangat mempengaruhi.

Buktinya, di tengah wabah virus Cina yang membuat penerbangan global lesu, turunnya minat terbang masyarakat sangat sejalan dengan revenue yang diterima maskapai. Belum lama ini, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar US$314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Baca juga: Pengamat: Sulit Untuk Ikuti Cina Turunkan Harga Tiket Pesawat Hingga Rp60 Ribu

Selain itu, penumpang juga dibebankan secara kolektif kolegial atas berbagai beban yang ditimbulkan di setiap perjalanan, baik beban jangka pendek ataupun jangka panjang. Seperti perawatan pesawat, sewa pesawat, biaya bahan bakar, airport charge, air navigation charge, in-flight entertainment, honor awak kabin, awak kokpit, staf darat, dan berbagai staf pendukung lainnya. Persentasenya, hampir sepertiga biaya untuk operasional, 13 persen untuk perawatan, 13 persen iklan, 16 persen layanan di bandara, sembilan persen untuk layanan selama penerbangan, dan sisanya untuk biaya lainnya.

Salah satu sumber KabarPenumpang.com yang pernah menjadi salah satu bagian dari flag carrier Indonesia menyebut, dalam sekali penerbangan, maskapai pada umumnya mengambil margin tidak banyak, sekitar lima persen. Oleh karenanya, sebelum sebuah pesawat diputuskan untuk terbang, perhitungan dari tim niaga dan operasional perusahaan harus seakurat mungkin. Pasalnya, bila meleset sedikit saja, bukan tak mungkin penerbangan berujung buntung atau merugi. Sebaliknya, bila hitungan tepat, maka margin lima persen mungkin sudah menjadi sebuah keniscayaan.

Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Pegunungan identik dengan pemandangan indah. Namun, di Cina, tepatnya di Desa Bamda (Bangda) Prairie, Prefektur Qamdo, Tibet, pegunungan justru identik dengan bandara. Sebab, bandara tersebut bukan bandara biasa, melainkan bandara yang memiliki runway terpanjang di dunia. Bandara tersebut adalah Qamdo Bamda Airport.

Baca juga: Panjang Bak Macet di Ibukota, Ini Dia Deretan Runway Terpanjang di Dunia!

Selain meraih gelar sebagai bandara dengan runway terpanjang di dunia, mencapai 5.500 meter, bandara yang terletak di Pegunungan Hengduan tersebut sebelumnya juga sempat meraih predikat sebagai bandara tertinggi di dunia, dengan berada di ketinggian 4.334 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum akhirnya digeser pada 2013 lalu oleh bandara lainnya di Cina, Bandara Daocheng Yading di Provinsi Sichuan, yang berada di ketinggian 4.411mdpl.

Akan tetapi, jangan berburuk sangka dahulu. Dibuatnya runway sepanjang itu bukan untuk mengejar rekor, apalagi untuk unjuk gigi. Terdapat alasan teknis dibalik semua itu. Ketinggian yang ekstrem ternyata mempengaruhi kinerja mesin pesawat. Pada ketinggian ektrem, biasanya, udara menjadi sangat tipis sehingga putaran mesin menjadi lebih lambat dari biasanya, sehingga diperlukan runway panjang untuk ‘mengobati’ masalah kinerja tersebut.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman, Bandara Qamdo Bangda mulai dibangun pada tanggal 2 Desember 1992. Kemudian, pada 2007 lalu, bandara ini melakukan rekonstruksi dan pengembangan dengan memperbaiki runway dan membangun terminal baru seluas 5.018 meter persegi. Selama 22 Juni hingga 15 Juli 2013 silam, bandara Qamdo Bangda juga sempat ditutup untuk memudahkan proses pemeliharaan runway.

Sepanjang tahun, bandara yang terletak bersebelahan dengan Pegunungan Himalaya tersebut bisa dikatakan selalu diselimuti cuaca ekstrem. Bayangkan saja, setidaknya sembilan bulan penuh cuaca di sekitaran memiliki suhu rata-rata di bawah titik beku, mencapai minus 20 derajat celcius. Adapun tiga bulan sisanya, seiring perubahan iklim global, terkadang cuaca ekstrem juga kerap terjadi. Memang tidak lebih dingin dibanding Antartika atau Tomsk, Rusia, yang memiliki titik beku sampai minus 50 derajat. Namun, bagi dunia penerbangan, suhu tersebut tentu sudah sangat menyulitkan.

Hal itu belum termasuk berbagai gangguan lainnya yang mungkin bisa sangat membahaykan dunia penerbangan, seperti kecepatan angin hingga 30 meter per detik, serta level oksigen yang hanya dikisaran 50 persen dari permukaan laut.

Tak cukup sampai di situ, berada di wilayah pegunungan juga membut cuaca di sekitaran bandara kerap berubah dalam hitungan menit atau jam, khususnya di musim dingin dan semi. Dengan berbagai kerumitan tersebut, tak heran bila bandara dengan kode BPX untuk IATA dan ZUBD untuk ICAO tersebut tak banyak melayani penerbangan.

Hingga saat ini, Bandara Qamdo Bangda hanya membuka lima rute penerbangan ke beberapa kota di Cina. Akibatnya, tiket pesawat dari dan ke Qamdo pada musim-musim liburan, khususnya puncak liburan musim dingin mulai November hingga Februari, sangat sulit didapat.

Kota-kota terkenal seperti Chengdu, Chongqing, Lhasa biasanya memiliki satu penerbangan langsung setiap hari ke Qamdo. Di luar ketiganya, penerbangan tak berjadwal dari Tianjin dan Anhui Fuyang terkadang juga ditawarkan, terutama pada puncak musim dingin atau hari tertentu lainnya.

Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”

Di antara ketiga kota yang melayani penerbangan langsung berjadwal tersebut, Chengdu dan Chongqing adalah hub paling populer ke Qamdo. Alasannya, selain waktu tempuh hanya kurang lebih dua jam, kedua bandara tersebut juga memiliki jaringan rute domestik dan internasional yang lebih sering dibanding Lhasa.

Namun demikian, sekalipun hub favorit ke Qamdo menawarkan waktu tempuh rata-rata dua jam, tetap saja, dengan berbagai ‘keunikan’ bandara tersebut, harga tiket pergi ke sini jauh lebih tinggi dibanding bandara lain di Tibet. Jangan menunggu momen diskon besar-besaran ke wilayah ini karena hampir tidak ada diskon sepanjang tahun. Alasannya simpel, jarangnya penerbangan, kondisi medan yang sulit, dan besarnya biaya fasilitas di bandara tersebut rasanya sangat relevan dengan mahalnya tiket.

Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Otoritas Rusia akhirnya merilis video rekaman CCTV detik-detik terjadinya kecelakaan fatal pesawat Sukhoi SSJ100 milik Aeroflot pada 5 Mei 2019 silam. Dalam rekaman tersebut, terlihat pesawat tersebut melakukan hard landing (rough landing) atau pendaratan keras, memantul dua kali, sebelum akhirnya terbakar.

Baca juga: Hard Landing Vs Soft Landing, Mana Lebih Baik?

Dilhat KabarPenumpang.com dari rekaman yang beredar, hard landing yang dilakukan pilot membuat pantulan layaknya ikan lumba-lumba yang timbul dan tenggelam di lautan. Pada saat pendaratan pantulan kedua itulah bagian belakang pesawat bersinggungan langsung dengan aspal akibat landing gear pesawat tak berfungsi. Gesekan antara lambung pesawat dengan aspal, ditambah pesawat masih dalam keadaan cukup cepat dan membawa muatan penuh bahan bakar, membuat percikan api tak terhindarkan hingga akhirnya melahap hampir separuh lebih pesawat.

https://www.facebook.com/RTnews/videos/2517858248544042/?t=4

Atas kejadian itu, setidaknya, ada 41 korban meninggal dari total 78 penumpang yang turut dalam penerbangan nahas ini. Proses yang begitu cepat, disinyalir membuat penumpang di bagian belakang pesawat tak memiliki cukup waktu untuk menyelamtkan diri. Terlebih, pesawat sudah mulai terbakar saat masih dalam proses pengereman (autobrake). Artinya, tak ada waktu dan ruang untuk penumpang di bagian belakang pesawat. Sebab, di bagian depan hingga tengah, otomatis sudah penuh sesak oleh penumpang lainnya yang panik.

Dikutip dari abc.net.au, pesawat dengan nomor penerbangan SU1492 awalnya mengudara dari Bandara Sheremetyevo sekira pukul 18.03 waktu setempat. Namun tak lama berselang – sekitar delapan menit mengudara, pilot pesawat tersebut melaporkan adanya kegagalan salah satu sistem (radio failure) akibat tersambar petir. Kondisi semakin parah ketika pada pukul 18.25 waktu setempat, sang pilot menyatakan kondisi darurat dan meminta akses untuk melakukan Return to Base. Tak lama berselang, ATC bandara mengaku loss contact dengan pesawat nahas tersebut.

Menteri Transportasi Rusia, Yevgeny Dietrich menyebutkan bahwa petugas darurat di lapangan yang membantu proses evakuasi menemukan 41 jenazah dari dalam tubuh pesawat – dimana kebanyakan dari jenazah ini berada dalam kondisi mengenaskan akibat terbakar. Di antara sejumlah jenazah yang ada, Yevgeny menyebutkan bahwa salah satunya adalah seorang awak kabin yang bernama Maxim Moiseev.

Maxim Moiseev sendiri ditemukan di bagian belakang pesawat dan tetap memilih berada di dalamnya bahkan ketika si jago merah melalap bagian belakang pesawat. Menurut salah satu narasumber yang menjadi saksi dari kejadian nahas ini mengatakan bahwa Maxim tampak berusaha untuk membuka pintu darurat ketika akses menuju bagian depan tersendat – guna mempercepat proses evakuasi.

Baca juga: Sukhoi SJ100 Aeroflot Jatuh di Moskow, Akankah Pengaruhi Rencana Akuisisi Merpati Airlines?

Dari hasil penyelidikan, tim penyidik menemukan, sang pilot, Denis Evdokimov, dinyatakan bersalah hingga menyebabkan hilangnya nyawa. Pilot bersalah karena dianggap lalai yakni mendaratkan pesawat dengan sangat keras. Namun, tidak disebutkan berapa besaran hard landing saat itu. Seharusnya, tim penyidik dapat melihat hal tersebut di Flight Data Recorder (FDR) pesawat untuk memastikan besaran hard landing saat landing gear menghantam runway. Adapun untuk pesawat seukuran Sukhoi SSJ100, kemungkinan besar, batasan hard landing hanya dikisaran 2.0G.

Mendengar dirinya dituding menjadi pihak yang paling bertanggungjawab, Evdokimov pun buka suara. Ia mengaku telah mengikuti prosedur pendaratan dalam kondisi tangki bahan bakar penuh. Namun, ia tak mengelak bahwa tidak ada bahan bakar yang dibuang untuk meringankan pesawat sebelum benar-benar mendarat. Di sinilah letak kesalahan sang pilot. Dalam penerbangan, prosedur membuang bahan bakar sebelum landing sangat umum ditemui.

Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Setelah India yang mengkonversi gerbong kereta mereka untuk bangsal rumah sakit dalam membantu kekurangan kamar untuk pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19. Saat ini Stena Roro yang berkantor pusat di Gothenburg, Swedia juga sudah menyiapkan desain untuk konversi kendaraan besar seperti kapal penumpang Stena Saga menjadi kapal rumah sakit.

Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun

Nantinya kapal ini bisa membuat bangsal yang bisa menampung 520 pasien. Konversi kapal ini sendiri dikatakan Stena Roro akan selesai dalam beberapa minggu. KabarPenumpang.com melansir laman marinelog.com (14/4/2020), pengkonversian kapal Stena Saga ini karena layanan penumpang dari Oslo menuju ke Fredrikshamn ditutup karena wabah Covid-19.

Selain itu juga karena ada pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh beberapa negara. Hal inilah yang kemudian membuat Stena Line memindahkan kapal Stena Saga ke perusahaan saudarinya yakni Stena Roro yang memiliki spesialis dalam mengubah dan mengadaptasi kapal agar sesuai persyaratan dan kebutuhan.

Selain itu, Stena Roro juga ternyata memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun sebuah kapal rumah sakit.

“Di galangan kapal di Cina, saat ini kami sedang membangun kapal rumah sakit sipil terbesar di dunia, Global Mercy, atas nama badan amal internasional Mercy Ships. Manajer proyek kami untuk Global Mercy kembali di Swedia dan akan memimpin kemungkinan konversi Stena Saga,” kata Per Westling, CEO untuk Stena RoRo.

Stena Saga sendiri memiliki lebih dari 590 kabin penumpang dan menurut desain yang disiapkan akan ada ruang untuk 520 pasien. Manajer proyek Stena Roro, Rikard Olsson mengatakan, untuk memenuhi persyaratan perawatan medis, pihaknya perlu membangun kembali sistem ventilasi, memasang alarm dan sistem komunikasi.

“Kami juga mengubah perabotan interior. Selain itu, pasien dan kru harus dapat dipisahkan. Kita bisa melakukan apa yang perlu dilakukan dalam dua hingga tiga minggu,” kata Olsson.

Namun kapal yang dikonversi ini tidak akan dilengkapi untuk perawatan insentif. Westling mengatakan, idenya adalah untuk memberikan perawatan bagi pasien covid-19 yang membutuhkan perawatan di rumah sakit yang tidak insentif.

“Mungkin juga ada kebutuhan tempat tidur untuk pasien yang meninggalkan perawatan intensif tetapi masih memerlukan perawatan medis lebih lama. Mungkin ini terutama masalah bisa meringankan beban di rumah sakit konvensional,” tambah Westilng.

Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Stena Saga sekarang berada di pelabuhan Uddevalla dan Stena RoRo sedang menyelidiki minat dalam kapasitas perawatan yang dapat disediakan oleh kapal penumpang. Selain Swedia, di mana kontak telah dibuat dengan Badan Kontinjensi Sipil Swedia, kontak juga diprioritaskan dengan pihak berwenang di Norwegia, Denmark dan Jerman.

Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

Thailand menjadi salah satu negara yang diminati pelancong mancanegara. Hal ini karena Thailand memiliki kota-kota dengan destinasi menarik dari pasar yang buka setiap Sabtu dan Minggu seperti Chatucak, Pantai hingga wisata malamnya yang digemari oleh pelancong.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Negeri Gajah Putih ini juga memudahkan para pelancong dengan moda transportasi yang beragam. Salah satu transportasi yang bisa digunakan adalah kereta api. Nah, ternyata di Thailand juga ada stasiun dengan bangunan unik dan juga yang tertua.

Tampak depan Stasiun Hua Hin

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun unik dan tertua di Thailand tersebut bernama Hua Hin. Stasiun ini terletak di Kecamatan Hua Hin, Distrik Hua Hin, Provinsi Prachuap Khiri Khan. Stasiun ini memiliki jarak 212,99 km dari Stasiun Thon Buri dan 850 meter dari Pantai Hua Hin di Jalan Kasam. Stasiun Hua Hin sendiri merupakan stasiun kereta api kelas satu di jalur selatan.

Ternyata tak hanya tempat naik turun penumpang, di Stasiun Hua Hin ada 305 lokomotif uap Baldwin yang terpajang. Menjadi salah satu stasiun terindah di stasiun, tempat ini populer sebagai landmark dan tempat berfoto para pelancong. Selain indah dan unik, stasiun ini menjadi yang tertua karena dibangun pada masa pemerintahan Raja Rama VI dan tidak jauh dari pisat kota.

Peron Stasiun Hua Hin

Bahkan stasiun ini dan ruang tunggu kerajaan jaraknya berdekatan, sehingga dianggap sangat menarik. Bangunannya yang terbuat dari kayu dicat dengan warna cerah dan konsep dan desain Thailand yang memiliki nuansa Victoria saat ini. Stasiun Hua Hin sendiri berada di jalur selatan dan dibuka pada November 1911 silam dan merupakan tahap ketiga yang dibuat antara Stasiun Cha-am ke Hua Hin.

Kemudian berlanjut ke Stasiun Wang Phong pada Januari 1914. Bangunan asli Stasiun Hua Hin ternyata dibuat tahun 1910 dan kemudian dibangun kembali tahun 1926 oleh Pangeran Purachatra Jayakara hingga saat ini. Desain stasiunnya sendiri diambil dari Siam Rat Museum Expo yang direncanakan yang tadinya dimaksudkan pada tahun 1925 di Taman Lumphini, tetapi tidak pernah dibangun karena kematian Rja Vajiravudh dan pembatalan pameran oleh Raja Prajadhipok.

Kemudian tahun 1967 Kolonel Saeng Chulacharit (mantan menteri Kereta Api Negara Thailand) mengoordinasikan relokasi Paviliun Kereta Api Istana Sanam Chandra dari Istana Sanam Chandra, ke Hua Hin dan namanya diubah menjadi “Paviliun Phra Mongkut Klao”. Saat ini, itu adalah salah satu daya tarik utama di stasiun. Nyatanya, Hua Hin menjadi salah satu destinasi populer di Thailand dan banyak kereta berangkat serta tiba ke Stasiun Hua Hin setiap hari.

Baca juga: The Causey Arch, Jembatan Kereta Tertua yang Kini Masih Bisa Dilihat Keberadaanya

Bahkan dari Bangkok sendiri, ada lebih dari 10 keberangkatan setiap hari untuk mengakomodasi tingginya permintaan dari para penumpang. Platform kereta di Stasiun Kereta Hua Hin cukup luas, sehingga pelancong akan menemukan banyak kursi di platform kereta untuk kenyamanan para penumpang yang menunggu keberangkatan kereta mereka. Perjalanan dari Bangkok ke Hua Hin memakan waktu sekitar empat jam

Akibat Penerbangan Sepi dan Parkiran Penuh, Sejumlah Pesawat Rusak Gegara ‘Bersenggolan’

Frekuensi penerbangan terus menurun selama beberapa bulan terakhir. Penyebabnya, apalagi kalau bukan wabah virus Cina. Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, beberapa negara lainnya, seperti Italia dan Hong Kong, penurunannya cukup drastis, mencapai lebih dari 80 persen.

Baca juga: Penerbangan Masih Lesu, Bandara Hong Kong Kehilangan 91 Persen Pengunjung

Selain itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) belum lama ini juga telah merilis analisis terbaru. Analisis tersebut menunjukkan, lesunya penerbangan akibat pandemi corona akan menyebabkan maskapai kehilangan sekitar US$314 miliar pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Diperkirakan, dampak terburuk baru akan terasa pada kuartal II 2020, yakni pada April-Juni mendatang. Terbukti, pada awal April kemarin, frekuensi penerbangan secara global turun hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Sebagian besar karena pembatasan perjalanan yang ketat yang diberlakukan oleh pemerintah dunia untuk membatasi penyebaran virus.

Dalam keadaan tersebut, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali meng-grounded armada mereka di bandara. Namun, belakangan, banyaknya pesawat yang parkir di bandara bukan hanya membuat overload dan muncul opsi untuk parkir di gurun, melainkan memicu terjadinya sebuah insiden.

Menurut Travel Radar, sebagaimana dikutip dari samchui.com, belum lama ini, dua pesawat milik Cathay Pacific, A350 AND B777 dilaporkan bersenggolan di Bandara Hong Kong. Belum jelas waktu persis kejadian tersebut, entah kemarin atau lusa. Namun, petugas ground control bandara mengaku, pihaknya menerima informasi adanya insiden senggolan dua pesawat pada pukul 12:30 (waktu setempat) di Taxiway J. Taxiway J belakangan memang terungkap sudah dimanfaatkan otoritas bandara untuk memarkirkan pesawat karena space yang ada sudah tak lagi menampung.

Akibat dari insiden tersebut, baik Airbus A350 ataupun Boeing 777 keduanya mengalami sedikit kerusakan. Airbus A350 mengalami kerusakan pada winglet sebelah kanan sedangkan Boeing 777 rusak pada stabilizer horizontal sebelah kiri.

Senggolan antar dua pesawat Cathay Pacific pun seperti mengulang insiden serupa. Pesawat terbaru A350-1000 milik British Airways dilaporkan bersenggolan dengan pesawat Boeing 777-300ER milik Emirates di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa (14/4).

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Tes Corona ke Seluruh Penumpang

Dari gambar yang beredar di media sosial terlihat, komponen trailing edge pada sayap sebelah kiri A350 British Airways rusak akibat bersenggolan dengan elevator sebelah kiri 777-300ER Emirates. Kedua pesawat sama-sama mengalami kerusakan.

Belum ada penjelasan resmi mengenai insiden yang terjadi. Namun dalam twitternya, akun JACDEC @JacdecNew mengatakan bahwa saat itu A350-1000 Flight BA 106 sedang melaksanakan push-back untuk melaksanakanan penerbangan balik ke London.

Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Maskapai penerbangan nasional pada umumnya sering membawa nama negara yang mereka wakili. Misalnya, Air India, Air Canada, Air France, Aeromexico, Singapore Airlines, Qatar Airways, dan banyak lagi. Namun, lain halnya dengan Taiwan, flag carrier negara tersebut justru membawa nama Cina, China Airlines.

Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya!

Bila merunut sejarah, tentu saat pertama kali didirkan oleh mantan perwira Angkatan Udara Republik Tiongkok (nama resmi Taiwan) pada 16 Desember 1959, memilih nama China Airlines bukanlah suatu hal yang aneh. Selain Cina belum menjelma menjadi kekuatan besar, jarangnya ketegangan antar kedua negara dan belum adanya momentum yang membuat kesalahpahaman dunia terkait konotasi China Airlines dengan Cina daratan, juga menjadi alasan Taiwan belum memandang nama maskapai nasional mereka sebagai sebuah masalah.

Akan tetapi, wabah virus Cina pun merubah mindset masyarakat Taiwan. Puncaknya terjadi pada Februari lalu. Berbagai organisasi kemasyarakatan Taiwan mengajukan petisi untuk mengubah nama China Airlines. Tujuannya agar tak terjadi kesalahpahaman, baik ataupun buruk. Petisi tersebut belakangan mendapat respon positif dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC).

Dikutip dari Simple Flying, Menteri Perhubungan dan Komunikasi Taiwan, Lin Chia-lung, melalui sebuah postingan di media sosial Facebook mengaku, pihaknya terbuka dengan opsi tersebut. Namun, Ia menekankan, bila pun langkah itu harus ditempuh, mungkin prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Selama Covid-19 di Wuhan, ada banyak desakan dari masyarakat agar China Airlines dapat mengubah namanya. Kami terbuka untuk ini. Namun, perubahan nama maskapai adalah masalah besar, yang melibatkan hak dan rute udara, dan China Airlines adalah perusahaan yang terdaftar. Oleh sebab itu, masyarakat harus benar-benar bersatu untuk mendapatkan konsensus,” ujar Lin Chia-lung, dalam sebuah tulisan.

Di Taiwan sendiri, sebetulnya, bukan hanya masyarakat yang mengharapkan adanya perubahan nama pada maskapai China Airlines. Di kalangan elite politik pun, selama pandemi corona, polemik juga sempat terjadi. Penyebabnya, ambiguitas nama China Airlines yang identik dengan Cina daratan dan pada akhirnya membuat elite tersebut kesal bukan main.

“Ketika China Airlines mengirimkan barang, seluruh dunia berterima kasih kepada Taiwan,” kata Perdana Menteri Su Tseng-chang, beberapa waktu lalu.

“Tetapi, karena China Airlines menuliskan kata ‘China’ di dalam pesawatnya, beberapa negara, orang, dan gambar secara keliru berpikir bahwa Cina telah mengirimi mereka masker. Itu membuat kami kecewa,” tambahnya.

Partai kecil New Power Party, yang berbagi dukungan dengan Partai Progresif Demokratik, yang berkuasa untuk kemerdekaan formal Taiwan, meminta parlemen untuk menghapus atau membuat lebih kecil kata “China” dari badan maskapai dan menambahkan kata “Taiwan”.

“Bahkan demokrasi dan kebebasan Taiwan dapat disalahtafsirkan oleh komunitas internasional sebagai berasal dari China karena kata ‘CHINA,'” kata Su Tseng-chang.

Baca juga: Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara

Su, bagaimanapun, mengisyaratkan bahwa perubahan nama tidak segera terjadi. Sebab, saat ini, fokus China Airlines adalah untuk menempatkan “lebih banyak simbol Taiwan” di pesawatnya.

Andaikan Taiwan bersikukuh untuk mengganti nama China Airlines, sebetulnya, langkah tersebut bukan barang baru di dunia penerbangan. Tercatat, beberapa maskapai pernah merubah nama dengan berbagai latar belakang, seperti Midwest Airlines dari sebelumnya Midwest Express, Air Canada dari sebelumnya Trans-Canada Air Lines, dan United Airlines dari semula Varney Air Lines. Menarik ditunggu, akankah China Airlines berubah menjadi Taiwan Airlines? Bagaimanapun juga, Cina, sebagai pihak yang ‘sedikit’ diuntungkan atas penamaan tersebut, dengan hegemoninya sekarang ini, tentu tidak akan tinggal diam.