Beli Makanan Cepat Saji Lewat Drive-Thru Selama Pandemi? Ini Kata Para Ahli

Ketika pandemi masih berlangsung orang-orang mulai memasak makanan mereka sendiri di rumah. Selain karena banyak restoran yang tutup, seperti restoran cepat saji yang hanya menerima pesanan drive-thru ataupun take away alias dibawa pulang.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Tiada Lagi Handuk, Makanan Panas, Selimut, Bantal, dan Majalah dalam Penerbangan

Namun banyak pertanyaan kemudian muncul, apakah ketika pandemi ini makan makanan dari restoran cepat saji baik untuk tubuh? KabarPenumpang.com melansir laman msn.com (26/3/2020), terkait hal ini, para ahli makanan baik gizi maupun keamanan makanan kemudian menjawabnya.

Para ahli mengatakan mereka tidak memiliki bukti bahwa makanan atau kemasan makanan adalah faktor dari risiko penyakit Covid-19. Benjamin Chapman, Profesor dan spesialis keamanan makanan di North Carolina State University mengatakan, berdasarkan epidemiologi dari Cina dan Korea Selatan, makanan kemungkinan bukanlah rute penularan.

“Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit melaporkan bahwa virus corona dapat tetap bertahan selama berjam-jam pada permukaan yang terbuat dari berbagai bahan,” kata Samantha Heller, MS, RD, pembawa acara Nutrisi dan ahli gizi klinis senior SiriusXM di NYU Langone Health.

Mengingat hal ini, mungkin bukan ide yang buruk untuk membersihkan apa pun yang disentuh oleh orang lain. Ini juga termasuk media transaksi untuk membayar makanan tersebut. Lynette Charity, MD, ahli anestesi bersertifikat mengatakan, Covid-19 dapat bertahan dipermukaan uang. Karena hal tersebut, yang paling penting adalah membersihkan tangan sebelum Anda makan apapun.

“Dari pengalaman menggunakan drive-thru dan take away baru-baru ini. Langkah paling efektif yang dapat saya ambil untuk mengurangi risiko penularan adalah mencuci tangan. Cuci tanganmu setelah memegang benda yang disentuh orang, dan tentu saja cuci tanganmu sebelum makan,” kata Chapman.

Menurut Centers for Disease Control adn Prevention (CDC), Anda harus mencuci tangan dengan sabun, menyabuni punggung tangan Anda, di antara jari-jari Anda, dan di bawah kuku Anda, selama 20 detik. Jika Anda berada di dalam mobil dan tidak mungkin menunggu, pastikan untuk menggunakan pembersih tangan (yang mengandung alkohol setidaknya 60 persen).

“Karena virus corona dapat bertahan hidup di permukaan, Anda mungkin ingin menghindari makan makanan langsung dari kemasan. Sebelum makan, atau bahkan mengambil sedikit kentang goreng, cuci tangan Anda dengan sabun dan air atau gunakan pembersih tangan. Jika memungkinkan, keluarkan makanan dari kemasan dan gunakan piring dan peralatan,” kata Cordialis Msora- Kasago, MA, RDN, ahli gizi ahli gizi terdaftar dan juru bicara untuk Akademi Nutrisi dan Diet.

Jika Anda sendiri sakit, sebaiknya jauhi drive-thru. Sebab, mengingat persyaratan jarak sosial pada saat ini, siapa pun yang sakit harus benar-benar menghindari melalui drive-thru. Mereka harus tinggal di rumah untuk mengurangi risiko menginfeksi pekerja layanan makanan yang berinteraksi dengan puluhan orang setiap harinya.

“Bayar makanan secara online, termasuk tip, jadi tidak perlu menyerahkan uang tunai dan menerima uang kembalian. Covid-19 dapat bertahan hidup di permukaan uang. Jangan buk pintu ketika makanan tiba, dan tunggu sampai pengirimnya pergi,” kata Charity.

Champman mengatakan, drive-thru adalah opsi yang relatif aman, tetapi Anda harus tetap berhati-hati. Ini semua tentang mengurangi jumlah interaksi yang kita miliki dengan orang lain. Ini bukan tentang makanan atau kemasan makanan. Semakin sedikit orang di sekitar Anda, semakin aman Anda.

Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja

“Kita semua perlu istirahat dari menyiapkan makanan sendiri. Makan makanan kesukaan Anda memberi Anda kenyamanan di masa-masa sulit ini. Lakukan, tapi lindungi diri Anda,” tambah Charity.

Dianggap Inti dari Ekosistem Pariwisata, Matta Desak Pemerintah Malaysia Selamatkan Industri Penerbangan

Asosiasi Tur dan Agen Perjalanan Malaysia (Matta) mengingatkan Pemerintah Malaysia agar segera mencari solusi untuk mendukung kelangsungan hidup maskapai penerbangan di Malaysia saat wabah virus Cina tak kunjung mereda.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Presiden Matta, Datuk Tan Kok Liang, mengatakan industri penerbangan merupakan inti dari seluruh ekosistem pariwisata. Konektivitas udara sangat penting untuk pariwisata dan pemulihan ekonomi negara penganut sistem Kerajaan tersebut.

“Tanpa maskapai penerbangan untuk mendatangkan jutaan wisatawan masuk dan keluar dari Malaysia, tidak akan ada industri pariwisata yang layak,” katanya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my.

“Mereka adalah garda terdepan dari rangkaian garis panjang rantai pasokan di industri pariwisata yang mencakup bandara, transportasi, jalan dan kereta api, akomodasi, makanan dan minuman, hiburan dan belanja serta bisnis, layanan pendidikan dan kesehatan,” lanjutnya.

Kemudian, Tan, yang menanggapi laporan kemungkinan merger antara Malaysia Airlines dan Grup AirAsia, mengatakan maskapai nasional itu membutuhkan dana talangan besar-besaran. Menurutnya, dana talangan tidak hanya akan mengatasi tantangan likuiditas keuangan jangka pendek tetapi juga akan membantu mendorong pertumbuhan yang jauh lebih baik dibanding pelambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 itu sendiri.

“Namun, langkah-langkah perlu diambil untuk membuat perjalanan udara yang lebih nyaman dan aman bagi masyarakat. Hal itu mungkin bisa ditempuh dengan melibatkan banyak pihak dan menerapkan aturan keamanan serta keselamatan baru, seperti berkenaan dengan fasilitas penerbangan, checkpoint kesehatan penumpang, dan melakukan rapid test corona kepada seluruh penumpang, “ujar Tan.

Desakan Tan terkait stimulus keuangan dari pemerintah mungkin bukan isapan jempol belaka. Saat ini, banyak negara di dunia telah melakukan langkah konkret dengan memberikan kucuran dana segar untuk maskapai nasional atau flag carrier mereka. Pemerintah Singapura, misalnya, telah menganggarkan lebih dari 19 miliar dolar Singapura (RM58.59 billion) untuk mendukung kelangsungan bisnis Singapore Airlines (SIA) dalam mengarungi masa krisis akibat corona. Demikian juga dengan Hong Kong yang dalam catatannya telah menyediakan paket bantuan sebesar HK $2 miliar (RM1,13 billion) untuk mengurangi tekanan likuiditas maskapai dan operator bandara.

Tan menambahkan, selain banyaknya negara yang melakukan langkah penyelamatan ke maskapai nasional mereka, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) secara terpisah sebetulnya juga telah menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan paket stimulus kepada maskapai.

“Diperkirakan bahwa Covid-19 akan menyebabkan kerugian bagi maskapai global sebesar US$314 miliar (RM 1,36 triliun), 25 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” jelasnya.

Saat ini, masih menurut Tan, bandara di Malaysia telah mencatat penurunan sebesar 27,6 persen atau setara 18,4 juta pergerakan penumpang. Rinciannya, pergerakan penumpang internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 32,4 persen dan 22,4 persen.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Sementara itu, pergerakan pesawat tercatat menurun sebesar 11,9 persen pada kuartal I 2020 dibanding periode yang sama di tahun 2019. Adapun rinciannya, pergerakan pesawat internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 17,5 persen dan 8,2 persen dibandingkan kuratal 1 2019.

Akan tetapi, menurutnya, penurunan tersebut belum memasuki fase puncak. Diperkirakan, pada kuartal II, kondisinya akan lebih buruk karena hampir seluruh dunia telah menerapkan kebijakan lockdown dan membuat maskapai lebih sulit bergerak kecuali mengandalkan rute domestik.

Dahsyatnya ‘Serangan’ Corona, Bikin Bandara Tersibuk di Eropa Bak Kuburan

Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 lalu meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen. Kala itu, diperkirakan tahun 2020 peningkatan masih akan terus terjadi seiring pertumbuhan di industri penerbangan global.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Namun, apa daya, corona menerjang dan semua prediksi pun meleset. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri penerbangan dunia, saat ini tercatat lebih dari 16 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun. Kebijakan lockdown pun membuat suasana semakin tak karuan. Salah satunya seperti di Inggris.

Bandara tersibuk di Eropa yang berada di negara tersebut, Heathrow International Airport, pada bulan April ini, tercatat mengalami penurunan traffic lebih dari 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mengingat kebijakan lockdown yang masih terus diperpanjang serta belum adanya tanda-tanda virus corona bakal terkendali di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, diperkirakan tren penurunan masih akan terus terjadi.

Dengan kondisi tersebut, tak heran, bandara tersibuk ke tujuh di dunia Airport Council Internasional, dengan pergerakan penumpang tahun lalu mencapai 80,1 juta penumpang, kini tak lebih layaknya kota hantu. Bahkan, di beberapa sudut, sepinya bandara terlihat bak kuburan. Dilansir mylondon.news, berikut lima pemandangan sepinya Bandara Heathrow.

1. Armada British Airways Penuhi Parkiran

Armada milik British Airways nganggur di Bandara Heathrow. Foto: BEN STANSALL/AFP via Getty Images

Menurut OAG, kapasitas maskapai di seluruh dunia, secara keseluruhan, turun lebih dari seperempat. Laporan terbaru untuk minggu ini menunjukkan penurunan di seluruh dunia sebesar 28,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dalam kondisi tersebut, praktis, maskapai tak punya pilihan lain kecuali menggrounded armadanya. Akibatnya, grounded pesawat dalam waktu yang hampir bersamaan membuat bandara tak mampu lagi menampung pesawat. Tak heran, bila beberapa maskapai harus mengungsikan pesawat di negara lain, tak terkecuali dengan British Airways yang memarkir beberapa armadanya di Bandara Chateauroux, Perancis, sebelah selatan Kota Paris.

2. Check-in Counter dan Bag Drop Sepi

Terminal 5 keberangkatan biasanya selalui dipadai traveler dari seluruh penjuru dunia. Kini, situasi telah berubah. Foto: Richard Heathcote / Getty Images

Manajemen Bandara Heathrow mengatakan, jumlah penumpang telah turun 52 persen pada Maret 2020 dibanding periode sama tahun lalu. Diperkirakan, jumlah tersebut akan meningkat pada bulan April mencapai lebih dari 90 persen.

Sisa 10 persen penumpang atau sekitar 680.000 orang yang masih mengunjungi Heathrow bulan ini didominasi oleh orang Inggris yang berhasil pulang dari luar negeri atau warga negara asing yang datang sebagai ahli kesehatan untuk membantu menghadapi krisis kesehatan. Oleh karenanya, jangan heran bila check-in counter sepi.

3. Imbauan Physical Distancing

Hampir di seluruh sudut bandara, physical distancing sudah menjadi himbauan umum, tak terkecuali kursi-kursi di terminal 5. Foto: Richard Heathcote/Getty Images

Hingga 19 April lalu, Inggris telah mengkonfirmasi sekitar 124,743 orang positif corona dan 16,509 lainnya tewas. Diperkirakan, angka tersebut masih akan terus meningkat. Physical distancing yang belum maksimalkan diterapkan warga disebut menjadi salah satu penyebab utama tingginya penyebaran corona di sana. Oleh karenanya, hampir di seluruh sudut Inggris, tak terkecuali di bandara, pemerintah tak bosan mengkampanyekan physical distancing.

Baca juga: Akibat Penerbangan Sepi dan Parkiran Penuh, Sejumlah Pesawat Rusak Gegara ‘Bersenggolan’

4. Terminal 5 Bandara Sepi

Sepinya bandara juga membuat tenant di sana tak punya pilihan lain kecuali menutup toko. Foto: Richard Heathcote/Getty Images

Inggris akhirnya membelakukan perpanjangan lockdown, yang semestinya berakhir pada 13 April lalu, hingga 7 Mei mendatang. Tak heran, dengan keputusan tersebut, tren penurunan jumlah penumpang Bandara Heathrow diperkirakan masih akan berlanjut hingga kondisi benar-benar aman terkendali, disusul dengan dicabutnya kebijakan lockdown.

5. Penumpang Transit

Seorang penumpang tengah menunggu kereta transit di Heathrow. Foto: Richard Heathcote/Getty Images

Meski lockdown, jaringan kereta di Bandara Heathrow tidak sampai dibekukan. Sebab, penerbangan masih terus berjalan. Hal itu demi memudahkan penumpang yang hendak transit menuju bagian lain Inggris dengan kereta.

Tanpa Aplikasi, Ojol ‘Terpaksa’ Angkut Penumpang di PSBB

Ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlaku di DKI Jakarta, para pengemudi ojek online (ojol) langsung terkena imbasnya. Pasalnya mereka tak lagi boleh mengangkut penumpang dan hanya bisa mengangkut barang.

Baca juga: Dirlantas Polda Metro Jaya: Patuhi Instruksi Luhut, Ojol Boleh Angkut Penumpang Saat PSBB Jakarta

Hal ini juga karena di aplikasi, fitur GoRide atau GrabBike sudah tidak ada lagi. Namun, meski begitu sepertinya para ojol ini tak kehilangan akal demi mendapatkan uang tambahan. Mereka ternyata tak segan untuk mengangkut penumpang tanpa aplikasi alias seperti ojek pangkalan biasa.

Karena adanya ini, KabarPenumpang.com yang merangkum berbagai sumber mendapatkan fakta bahwa tercatat ada 239 pengemudi ojol masih mengangkut penumpang selama sepekan penindakan terhadap pelanggaran aturan PSBB di Jakarta.

“Ojol mengangkut penumpang tetapi tidak lewat aplikasi,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo.

Sambodo mengatakna, para ojol yang mengangkut penumpang biasanya mengangkut keluarga atau kerabat.

“Mereka membawa teman atau keluarganya. tapi ini juga sangat kecil,” kata Sambodo.

KabarPenumpang.com kemudian mencoba untuk menghubungi pihak GoJek terkait para mitra yang mengangkut penumpang tanpa aplikasi tersebut. Sayangnya pihak GoJek tidak merespon atau menjawab apa pun untuk hal itu sampai berita ini diturunkan.

Diketahui Permerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menerapkan status PSBB di Jakarta sejak 10 April 2020 kemarin selama 14 hari hingga tanggal 23 April 2020 mendatang. Adanya PSBB ini warga Jakarta diminta mematuhi PSBB guna memutus rantai penularan Covid-19.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Adapun larangan ojol mengangkut penumpang selama masa PSBB diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PPSB dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dalam Pasal 11 ayat 1 butir C tertulis bahwa sepeda motor berbasis aplikasi dibatasi penggunaannya hanya untuk pengangkutan barang.

Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

Boeing dan Airbus saat ini tengah bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik dalam peperangan merebut ceruk pasar pesawat komersial. Selama beberapa dekade, dua pabrikan asal Amerika dan Eropa tersebut tengah menikmati duopoli pada penjualan pesawat besar dan menengah. Penjualan yang meningkat serta banyaknya backlog pesawat dibandingkan produsen pesawat lainnya di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikasi kuat duopoli tersebut.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Akan tetapi, kesuksesan selama beberapa tahun atau dekade terakhir mendadak sirna ketika wabah virus Cina hampir melumpuhkan industri penerbangan global. Menariknya, bila dahulu banyak maskapai dunia mengaku kekurangan pesawat dan berharap pesanan (pesawat) mereka segera tiba, kini sebaliknya, mayoritas maskapai sangat jelas kelebihan armada. Terlihat dari banyaknya pesawat yang mangkrak di bandara.

Sadar bisnis dan duopolinya terancam, Boeing dan Airbus pun bersatu. Paling tidak untuk bertahan sampai wabah Covid-19 usai. Namun, usaha untuk menyatukan kekuatan melawan pandemi corona diyakini tak terlalu berdampak besar untuk arus finansial masing-masing perusahaan. Bagaimanapun juga, baik Boeing dan Airbus mau tak mau harus memaksimalkan sumber pendapatan lainnya di luar pesawat komersial.

Terkait sumber pendapatan lain di luar divisi komersial atau produksi pesawat komersial, salah satunya dari sektor pertahanan atau defense, Boeing mungkin sedikit lebih baik dari Airbus. Boeing sejauh ini memimpin (dibanding Airbus) dimana sepertiga pendapatan di tahun 2019 datang dari industri pertahanan. Sedangkan Airbus, di tahun yang sama, hanya meraup 26 persen keuntungan dari sektor tersebut.

Akan tetapi, Boeing bukan tanpa borok. Grounded 737 MAX berkepanjangan, mencapai setahun lebih, membuat kinerja keuangan Boeing melorot. Betapa tidak, jelang satu tahun grounded 737 MAX pada 14 Maret, Boeing mengumumkan telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang.

Bahkan, seorang analis Bank of America Merrill Lynch (BAML), Ronald Epstein, memperkirakan bahwa Rp268 triliun tersebut bisa saja akan terus melambung karena Boeing 737 MAX yang tak kunjung bisa kembali terbang setelah hampir setahun lamanya. Parahnya, analis yang juga mantan ilmuan riset terapan Boeing itu memprediksi, angka tersebut belum termasuk kompensasi yang mungkin bisa saja juga melambung.

Dalam kondisi tersebut, tak heran bila neraca keuangan Boeing sedikit tersalip oleh Airbus. Pasalnya, banyak dari konsumen Boeing yang pindah ke Airbus, khususnya pelarian dari 737. Bisa dibilang, insiden 737 MAX menjadi berkah besar buat Airbus, selain memang inovasi teknologi serta ketepatan produk menjawab kebutuhan maskapai juga menjadi dasar terkuat dalam upaya mengungguli Boeing.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Dengan berbagai kekurangan dan kelebihan tersebut, invenstor pun dibuat bingung untuk menanamkan modal di antara keduanya. Dikutip dari fool.com, bila diamati lebih lanjut, Boeing dinilai memiliki potensi lebih tinggi di tahun-tahun mendatang ketimbang Airbus. Demikian juga sebaliknya, soal risiko, Boeing juga lebih tinggi dibanding Airbus.

Dalam jangka pendek, satu atau dua tahun ke depan, mungkin Airbus bisa jadi pilihan cukup baik berinvestasi. Lebih dari itu, rasanya Boeing tak bisa dianggap remeh sekalipun mereka masih mengalami masalah serius dengan 737 MAX, penurunan produksi 787 dreamliner, dan keluaran baru 777X yang belum terlalu menggigit. Beberapa hal yang paling mendasari kedigdayaan Boeing di tahun-tahun mendatang adalah rantai pasokan dan kapasitas produksi. Di kedua hal tersebut, Boeing dinilai unggul dibanding kompetitornya.

Sebelum Pembatasan Perjalanan, Amerika Serikat Kedatangan 430 Ribu Pelancong dari Wuhan

Kasus positif virus corona atau Covid-19 di Amerika Serikat (AS) saat ini sudah melebihi 750 ribu orang dengan lebih dari 40 ribu kematian. Ternyata sebelum adanya pembatasan perjalanan oleh Presiden Trump, hampir 40 ribu orang AS dan pelancong resmi lainnya telah melakukan perjalanan. Saat itu diperkirakan ada 1.300 penerbangan langsung ke 17 kota di AS dengan total penumpang sekitar 430 ribu orang dari Wuhan ke AS sejak Covid-19 muncul.

Baca juga: Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun

Dirangkum KabarPenumpang.com dari nytimes.com (4/4/2020), ribuan dari penumpang ini terbang langsung dari Wuhan ke Amerika dengan tujuan Los Angeles, San Francisco, New York, Chicago, Seattle, New Ark dan Detroit. Selain itu juga ada penerbangan dari Beijing ke Los Angeles, San Francisco dan New York. Namun nyatanya prosedur penyaringan untuk pemeriksaan suhu dan lainnya tidak merata.

“Saya pikir kami masih sangat awal, tetapi saya juga berpikir bahwa kami sangat pintar, karena kami menghentikan Cina. Itu mungkin keputusan terbesar yang kami buat sejauh ini, kata trump yang berulang kali menyarankan langkah untuk menghambat penyebaran Covid-19,” ujar Trump.

Tetapi analisis penerbangan dan data lain menunjukkan langkah-langkah perjalanan betapapun efektifnya mungkin sudah terlambat untuk mencegah gejala. Banyak ahli penyakit menular mencurigai bahwa virus telah menyebar dan tidak terdeteksi selama berminggu-minggu setelah kasus pertama di konfirmasi di AS.

Selama paruh pertama bulan Januari, ketika para pejabat Cina sedang berjibaku dengan keparahan wabah, tidak ada pelancong dari Cina yang diperiksa untuk kemungkinan terpapar virus. Pemeriksaan kesehatan dimulai pada pertengahan Januari, tetapi hanya untuk sejumlah pelancong yang pernah ke Wuhan dan hanya di bandara di Los Angeles, San Francisco dan New York.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Hogan Gidley, juru bicara Gedung Putih, menggambarkan pembatasan perjalanan Trump sebagai “tindakan tegas yang menurut para medis akan membuktikan telah menyelamatkan banyak nyawa.” Kebijakan itu mulai berlaku, katanya, pada saat komunitas kesehatan global belum “mengetahui tingkat penularan atau penyebaran tanpa gejala.”

Pejabat administrasi Trump juga mengatakan mereka menerima tekanan balik yang signifikan tentang memaksakan pembatasan bahkan ketika mereka melakukannya. Pada saat itu, Organisasi Kesehatan Dunia tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan, para pejabat Cina menolak hal itu dan beberapa ilmuwan mempertanyakan apakah membatasi perjalanan akan bermanfaat. Bahkan beberapa Demokrat di Kongres mengatakan mereka bisa mengarah pada diskriminasi.

Sekitar 60 persen pelancong yang menggunakan penerbangan langsung dari Cina pada Februari bukan warga negara Amerika, menurut data pemerintah terbaru yang tersedia. Sebagian besar penerbangan dioperasikan oleh maskapai Cina setelah operator Amerika menghentikannya. Robert R. Redfield, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, menjelaskan bahwa orang akan diskrining untuk “risiko signifikan, serta bukti gejalanya.”

Jika tidak ada alasan untuk pemeriksaan tambahan, mereka akan diizinkan untuk menyelesaikan perjalanan mereka kembali ke rumah mereka, di mana mereka kemudian akan dipantau oleh departemen kesehatan setempat dalam situasi pemantauan mandiri di rumah mereka,” ujar Robert.

Prosedur meminta penyaringan dilakukan di bagian bandara yang kosong, biasanya melewati daerah pabean. Penumpang akan antre dan menghabiskan satu atau dua menit setelah suhu mereka diambil dan ditanya tentang kesehatan dan sejarah perjalanan mereka. Mereka yang demam atau gejala yang dilaporkan sendiri seperti batuk akan mendapatkan evaluasi medis, dan jika mereka dianggap telah terinfeksi atau terkena virus, mereka akan dikirim ke rumah sakit di mana pejabat kesehatan setempat akan mengambil alih.

Penumpang juga akan diberikan kartu informasi tentang virus dan gejalanya. Versi selanjutnya menyarankan orang untuk tinggal di rumah selama dua minggu. Hal ini kemudian membuat beberapa penumpang yang masuk dari Cina ke AS di wawancarai terkait pemeriksaan atau tindakan yang mereka dapatkan ketika tiba di bandara AS. Andrew Wu salah seorang penumpang yang terbang dari Beijing pada 10 Maret 2020 dan tiba di Bandar internasional Los Angeles mengaku terkejut terhadap lemahnya proses penyaringan para pelancong. Dia mengaku dirinya hanya diajak bicara dan ditanyai pertanyaan yang ada dalam daftar.

“Mereka sepertinya tidak tertarik memeriksa apa pun itu,” kata Wu.

Wu, yang tidak memiliki gejala dan tidak menjadi sakit, mengatakan dia disuruh tinggal di dalam selama 14 hari ketika dia mendarat di Los Angeles. Dia mengatakan dia menerima dua pesan pengingat pada hari berikutnya melalui email dan teks, tetapi tidak ada tindak lanjut lebih lanjut.

Baca juga: Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

Jacinda Passmore, 23, seorang mantan guru bahasa Inggris di Cina yang terbang ke Dallas pada 10 Maret, setelah singgah di Tokyo, menjalani pemeriksaan menyeluruh di bandara Dallas-Fort Worth. Butuh sekitar 40 menit, katanya, sebelum dia diberangkatkan untuk penerbangan pulang ke Little Rock, Ark. Petugas kesehatan negara kemudian menurunkan termometer di rumahnya dan memaksa seluruh keluarganya tinggal di rumah selama dua minggu dan memberikan kabar terbaru tentang kondisi mereka.

“Mereka bertanya kepada kami setiap hari:‘ Sudahkah Anda tinggal di dalam? Pernahkah Anda bertemu seseorang? Sudahkah Anda dikarantina?” Ms. Passmore berkata. “Mereka benar-benar baik tentang itu. Mereka berkata, ‘Jika Anda butuh sesuatu, kami bisa berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk Anda.’ “

Sikat Toilet Penuh Kuman dan Bakteri? LUMI Luncurkan Self-Sanitizing Toilet Brush & Base

Toilet di bandara, stasiun, hingga rumah Anda menjadi salah satu tempat yang bisa dikatakan menyimpan bakteri terbanyak dari ruang lainnya. Bahkan kloset yang ada di toilet bisa menampung 34 ribu unit bakteri.

Baca juga: Toilet Berteknologi Tinggi, Bikin Pelancong Bingung di Bandara Haneda

Namun ternyata bukan kloset yang paling kotor di toilet, melainkan sikat dan wadahnya. Sebab bisa dikatakan gaya membersihkan dengan sikat ini adalah kuno dan menjadi pemulus siklus kuman di mana memindahkan kuman dan bakteri dari satu lokasi ke lokasi lain.

Jadi bisa disebutkan sikat tidak benar-benar membersihkan kuman dan bakteri di kamar mandi Anda seperti E.coli. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (17/4/2020), LUMI baru saja meluncurkan Self-Sanitizing Toilet Brush & Base.

Sikat toilet dari LUMI ini secara efektif membunuh kuman dan bakteri di tempat-tempat paling kotor dalam kamar mandi Anda. Dikatakan efektif membunuh kuman dan bakteri, karena sikat ini dilengkapi dengan sistem sinar UV dan tidak seperti sikat kuno yang bergantung pada penyiraman menggunakan bahan kumia, bubuk terkonsentrasi atau semprotan.

Sistem LUMI ini bergantung pada sinar UV untuk membersihkan sikat dan wadah. Caranya pun mudah, letakkan sikat di tempatnya setelah digunakan untuk membersihkan toilet.

Kemudian Lumi akan melakukan pembersihan, lalu setelah ditempatkan di tempatnya sikat melewati siklus membunuh kuman. Siklus membunuh ini sangat efektit teutama karena dasar LUMI dilapisi dengan lapisan aluminium reflektif yang memaksimalkan kekuatan cahaya pembunuh kuman.

Setelah semua kuman dan bakteri pada sikat telah dihilangkan, mencegah mereka tumbuh dan berlipat ganda seperti pada basis tradisional, basis LUMI kemudian mati sampai Anda membutuhkannya lagi. Diketahui, sistem LUMI adalah pengganti yang bagus untuk sikat dan pangkalan toilet tradisional karena dibuat dengan bahan yang unggul.

Sikat toilet LUMI memiliki pegangan yang diperkuat, yang memberi Anda pengaruh yang lebih baik untuk membersihkan toilet Anda tanpa kemungkinan sikat lentur dalam bentuk atau gertakan seluruhnya. Plus, bulu anti-mikroba dari sikat toilet sangat kuat, memungkinkan Anda secara efektif membersihkan sisa-sisa yang menempel di dalam mangkuk toilet.

Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Dengan desain kepala sikat yang dapat dilepas, mudah untuk mengganti bulu sikat toilet dan menggunakan sikat LUMI selama bertahun-tahun. Brush & Base Toilet Sanitasi Otomatis LUMI secara efektif membersihkan bagian paling kotor dari kamar mandi Anda harganya pun hanya $31,99 atau sekitar Rp496 ribu.

Pesawat Masuk Jalan Tol di Kanada, Ini Faktanya

Belum lama ini, beredar video di media sosial Twitter yang menampilkan adanya sebuah pesawat yang hampir memakan dua ruas jalan di sebuah tol di Quebec, Kanada. Usut punya usut, ternyata pesawat tersebut dikabarkan mendarat darurat di kilometer 40 sebelum akhirnya menepi dan membuat lalu lintas sedikit terhambat.

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Dilansir dari independent.co.uk, kerusakan mesin sejauh ini diduga menjadi penyebab pesawat tersebut mendarat darurat di tol. Dari video yang beredar, saat di ketinggian sekitar 10 meter, pesawat sempat terlihat mengeluarkan asap hitam pekat dari bagian mesin.

Sebelum benar-benar mendarat, tampak sang pilot berusaha menguasai pesawat di tengah terpaan angin dan juga adanya tiang lampu penerangan yang tinggi menjulang serta beberapa papan penunjuk arah sambil mencari lokasi yang tepat untuk mendaratkan pesawat. Maklum, saat itu, lalu lintas tengah padat. Setelah beberapa saat mempertahankan di ketinggian 4-5 meter, pesawat Piper PA-28 Cherokee tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di antara dua mobil, depan dan belakang.

Meskipun sempat terjadi penumpukan kecil karena pesawat berada pada posisi di tengah antara empat ruas jalan, namun, setelah pesawat beranjak menepi ke sebelah kanan atau di ruas tiga dan empat jalan tol, kendaraan lainnya pun berusaha untuk tetap melaju lewat sisi kiri atau lajur satu dan dua.

Menurut CBC Kanada, sekitar pukul 10.30 pagi pada hari Kamis lalu, pilot pesawat diketahui sempat memanggil pemadam kebakaran Kota Quebec untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat di jalan raya, beberapa kilometer sebelah Selatan Bandara Internasional Jean-Lesage.

Tak lama berselang, petugas pemadam kebakaran pun mendatangi lokasi dan melakukan proses evakuasi. Selama proses evakuasi berlangsung, jalan sempat ditutup selama satu jam untuk mengeluarkan pesawat dari badan jalan. Adapun pilot dilaporkan selamat tanpa adanya sedikitpun luka. Setelah melakukan proses penyelidikan, kepolisian setempat akhirnya menyimpulkan bahwa insiden tersebut terjadi akibat adanya kerusakan pada mesin.

Insiden pesawat mendarat darurat di jalan tol sebetulnya bukan hal baru di dunia penerbangan global. Pada April 2016 lalu, sebuah pesawat mendarat di jalan tol di Negara Bagian California, Amerika Serikat. Pesawat tersebut kemudian menabrak sebuah mobil dan menyebabkan seorang penumpang meninggal dunia.

Baca juga: Mendarat Darurat, Pesawat Cessna Gilas Dua Orang di Pantai Caparica

Sejumlah saksi mata mengatakan pesawat jenis Lancair IV itu tampak mengalami kendala teknis sebelum mendarat darurat di jalan tol. Namun, pendaratan tidak berlangsung mulus. Alih-alih menggunakan roda, pilot mendarat memakai perut pesawat dan tergelincir sampai menabrak sebuah mobil yang diparkir di sisi jalan tol. Tabrakan itu kemudian menewaskan Antoinette Isbelle, perempuan berusia 38 tahun asal Kota San Diego, yang tengah duduk di bagian belakang mobil.

Di Indonesia sendiri, insiden pesawat mendarat darurat tercatat pernah beberapa kali terjadi. Pada Oktober 2008 lalu, sebuah pesawat dikabarkan melakukan pendaratan darurat di Tol Cikampek. Setahun kemudian, giliran sebuah helikopter yang dilaporkan mendarat darurat di KM 42 Tol Jagorawi arah Jakarta pada Maret 200 9.

Metro Beijing Hadirkan Kamera yang Mampu Identifikasi Penumpang Tanpa Masker

Teknologi baru sudah mulai banyak dikembangkan dan digunakan untuk berbagai moda transportasi massal. Salah satunya adalah kereta api yang sudah mulai mengembangkannya untuk sistem layanan pintar bagi penumpang.

Baca juga: Punya 2 Ekstensi Baru, Metro Beijing Kukuhkan Jadi Jaringan Kereta Bawah Tanah Terpanjang

Metro Beijing baru-baru ini menambahkan kamera dalam keretanya. Nantinya kamera-kamera tersebut bisa mendeteksi penumpang yang tidak menggunakan masker. Metro Beijing diketahui menggunakan kamera definisi tinggi untuk hal tersebut.

KabarPenumpang.com melansir laman thatsmags.com (13/4/2020), dengan kamera desifinisi tinggi ini, akan menangkap gambar penumpang dan mengirimkannya ke sistem latar belakang yang cerdas untuk dianalisis lebih lanjut. Tak hanya itu, kamera-kamera ini juga bisa menunjukkan penumpang yang pingsan atau melambaikan tangan ketika mereka membutuhkan bantuan.

Saat ini, teknologi tersebut tengah dalam uji coba di jalur 6 sebagai bagian dari sistem layanan pintar baru Metro Beijing yang juga dijuluki sebagai ‘Sistem Layanan Penumpang Cerdas’. Seiring dengan teknologi pengawasan pendeteksian masker, sistem ini juga menawarkan layar definisi tinggi di atas pintu kereta bawah tanah yang memungkinkan penumpang untuk memeriksa informasi terbaru termasuk panjang jalur, kepadatan penumpang di kereta tetangga dan tingkat pendingin udara.

Jendela keretanya pun bisa dikatakan jendela ajaib yang bergaya Minority Report. Disebut sebagai jendela ajaib karena mampu menampilkan lokasi saat, rute kereta bawah tanah dan peta 3D dari stasiun mendatang.

“Penumpang dapat melihat di mana toilet, lift, dan pintu keluar berada di stasiun berikutnya, dan juga fasilitas komersial apa yang dekat dengan stasiun,” kata Li Yujie, Wakil Kepala Departemen Teknis Kereta Bawah Tanah Beijing.

Baca juga: Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Selain itu, peralatan pemantauan juga akan dipasang di kabin operator kereta. Teknologi tersebut merupakan sistem pengenalan wajah (facial recognition) baru di dalam kabin yang dapat mendeteksi ketika operator lelah atau terganggu dengan memulai permintaan suara.

Hingga uji coba di jalur ini berlangsung, namun belum ada kabar tentang kapan teknologi futuristik akan diluncurkan ke jalur Metro Beijing lainnya.

Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja

Kebijakan lockdown yang dilakukan negara-negara di dunia rupanya menyisakan cerita pilu, khususnya traveler yang berasal dari Asia. Sota Kidokoro, salah satu dari puluhan ribu turis Asia, misalnya, liburannya di Amerika Selatan tiba-tiba berubah menjadi petaka ketika wabah virus corona memaksa banyak negara di sana memutuskan lockdown.

Baca juga: Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua

“Sayangnya, Kedutaan Besar Jepang tidak memberikan informasi kepada saya tentang penerbangan charter atau bus khusus ke Buenos Aires (ibukota Argentina),” kata Kidokoro, saat diwawancarai melalui sambungan telepon dari kota Esquel, Argentina, tempat dimana ia terjebak selama kurang lebih satu bulan.

Backpacker muda asal Jepang berusia 22 tahun tersebut diketahui meninggalkan Jepang 10 bulan yang lalu, untuk memulai perjalanan keliling dunia. Setelah menghabiskan waktu eksplore Nepal dan Turki, ia pun terbang ke Guatemala, Amerika Tengah, untuk melatih kemampuan bahasa Spanyolnya sambil melihat situs bersejarah abad keeanam peninggalan suku Maya.

Dari Guatemala, ia kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Buenos Aires melewati Chili bagian Selatan dan diharapkan tiba di ibu kota Argentina tersebut pada 20 Maret, enam hari sebelum penerbangan pulang ke Jepang pada 26 Maret. Namun, apa nyana, penyebaran Covid-19 yang begitu cepat memaksa Argentina menerapkan kebijakan lockdown mulai 16 Maret, saat ia baru sampai di Esquel, 1.900 km dari i Buenos Aires dan terjebak di sana selama lebih dari satu bulan lamanya.

“Sejak itu (lockdown), maskapai dan travel agent mengalami gangguan. Tidak mungkin menghubungi mereka melalui telepon atau email untuk menjadwal ulang keberangkatan saya atau refund,” ujar Kidokoro.

Sebetulnya, Sota Kidokoro bisa saja mendapatkan akses untuk keluar dari Argentina dan kembali ke Jepang, sebagaimana ribuan travelers lainnya yang juga berhasil keluar dari berbagai wilayah di Amerika Selatan. Namun, karena penerbangan repatriasi atau charter mematok biaya cukup tinggi, mencapai dua kali lipat dari harga normal, ia pun urung melakukannya.

Misalnya, pada penerbangan repatriasi dari Cusco, Peru ke Hong Kong, dalam kondisi normal hanya berkisar 15 ribu dolar Hong Kong atau $1.500. Namun, pada penerbangan repatriasi 5 April lalu, masing-masing wisawatan dipatok harga sebesar 30.000 dolar Hong Kong atau $ 3.800.

Akan tetapi, Sota Kidokoro bukanlah satu-satunya turis Asia di Amerika Selatan yang bernasib malang. Setidakya, sebanyak 18 warga Malaysia juga terjebak di Amerika Selatan, tepatnya di sebuah hotel di La Paz, ibu kota Bolivia setelah pemerintah setempat memutuskan untuk lockdown. Bahkan, kebijakan lockdown di sana jauh lebih ketat dibanding negara Amerika Selatan lainnya, dimana, warga dan turis hanya diizinkan keluar seminggu sekali di jam-jam tertentu untuk sekedar membeli berbagai kebutuhan selama lockdown.

Senada dengan Kodokoro, 18 turis Malaysia itu juga harus menghadapi kenyataan pahit. Sebetulnya, mereka bisa saja kembali ke negeri asal dengan penerbangan charteran atau repatriasi yang diinisiasi oleh Kedubes Malaysia di Peru, mengingat tidak ada perwakilan Malaysia di Bolivia. Namun, karena biaya terlampau mahal, mencapai sekitar $7.000, mereka pun urung melakoninya.

Cerita pilu juga datang dari travelers Asia lainnya di Amerika Selatan, yakni dari India dan Cina. Sedikitnya, sekitar 40 warga negara India terjebak di Peru, tepatnya di wilayah terpencil di Amazon Utara, Peru, dengan sedikit atau tanpa adanya akses internet dan kemudahan mendapat bahan makanan. Belum jelas bagaimana kronologi sampai mereka terjebak di wilayah seperti itu.

Tak jauh dari sana, sebanyak 45 warga negara Cina juga terjebak di wilayah terpencil di hutan Amazon. Bahkan, tiga di antaranya terjebak di Iquitos, sebuah di pinggiran Sungai Amazon yang terhubung ke Lima, ibu kota Peru, hanya melalui udara.

Baca juga: Hiburan di Tengah Pandemi, Pemadam Kebakaran di Rio de Janeiro Bikin Konser dari Atas Tangga Penyelamat

Salah satu dari mereka, Mo Wenfeng, mengungkapkan bahwa pemerintah Cina belum mau melakukan proses pemulangan kepada mereka karena jumlahnya terlalu sedikit. Mendapat kabar tersebut, ia dan rekan-rekan lainnya pun mengaku sudah putus asa untuk mencari cara keluar dari Peru. Bahkan, selama terjebak di sana, di beberapa momen, Mo sempat mendapat perlakuan diskriminasi dari warga lokal.

“Saya didiskriminasi oleh penduduk setempat bahkan sebelum pemerintah menerpkan kebijakan lockdown. Mereka memanggil saya ‘virus Cina. Keadaan pun menjadi sangat buruk ketika hotel tempat saya menginap mengusir saya karena saya dari Cina,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari asia.nikkei.com. Dalam kondisi tertekan, ia pun berusaha mencari perlindungan hingga akhirnya sebuah panti jompo yang dikelola oleh Gereja lokal menerima kedatangannya dan diberikan fasilitas untuk karantina mandiri sambil diajari bahasa Spanyol.