Bandara Pudong Gunakan Glide Blanket untuk Loading Barang ke Kabin Pesawat Penumpang

Pesawat penumpang saat pendmi Covid-19 banyak digunakan untuk mengangkut barang atau kargo. Selain untuk membuat pesawat beroperasi, pengakutan ini juga bertujuan agar perekonomian maskapai berjalan meski tak mengangkut penumpang di dalamnya. Bahkan Bandara Internasional Pudong di Shanghai, Cina menggunakan inovasi baru untuk membantu pemuatan kargo yang efisien di dalam pesawat penumpang.

Baca juga: Zipair Tokyo Akhirnya Resmi Mengudara Saat Maskapai Lain Bangkrut, Tapi Hanya Penerbangan Kargo

Wakil manajer Bandara Pudong, Cao Guilong dan timnya bulan lalu berhasil memuat kargo ke penerbangan Air Canada dalam waktu dua jam atau separuh dari waktu biasanya karena ada inovasi lapisan luncuran atau glide blanket. Dalam waktu tersebut sebanyak lebih dari 700 barang yakni salah satunya persediaan pencegahan virus corona diangkut ke kabin Boeing 777-300 melalui glinde blanket yang dilengkapi roda berjalan.

kabin pesawat penumpang dibuat untuk kargo (shine.cn)

Dilansir KabarPenumpang.com dari shine.cn (9/5/2020), Cao mengatakan, glinde blanket ini dirancang untuk digunakan pada pesawat penumpang yang dialihkan ke layanan kargo.

“Glinde blanket telah menjadi bantuan penting untuk melayani peningkatan jumlah penerbangan kargo yang dilakukan oleh penerbangan penumpang di bandara,” kata Cao.

Dia mengatakan, ini merupakan salah satu dari sejumlah penemuan cerdas di landasan pacu di Bandara Pudong untuk melayani peningkatan jumlah penerbangan kargo. Menurut Cao, saat ini maskapai global telah menggeser layanan penerbangan penumpang ke kargo untuk mengangkut persediaan pencegahan Covid-19 di tengah penurunan tajam dalam pariwisata internasional.

Cao menyebutkan, bandara ini menangani lusinan penerbangan kargo pada masa pandemi dan meningkat sekitar dua penerbangan setiap hari sejak awal Maret. Otoritas Bandara Shanghai mengatakan, pesawat penumpang memiliki kelebihan dari kru dan jadwal yang telah ditetapkan, tetapi juga memberikan tantangan untuk memuat dan menurunkan muatan kargo.

Cao menyebutkan, sebelum adanya glide blanket, semua kargo harus diangkat secara manual karena peralatan yang ada dirancang untuk pesawat kargo dan tidak dapat digunakan pada pesawat penumpang. Ini mengakibatkan bandara tidak lagi melipatgandakan tetapi melipattigakan personel untuk memuat atau menurnkan kargo dari pesawat penumpang.

Bandara Pudong diketahui memiliki lebih dari seratus orang tenaga pemuat (loader), tetapi masih sulit memenuhi permintaan dengan metode tradisional. Di tengah pandemi, loader juga harus mengenakan alat pelindung seperti masker, kacamata dan jas hazmat yang membuat pekerjaan lebih sulit.

Tim melayani penerbangan dari Alitalia dan Garuda Indonesia, di antara angkatan pertama pesawat penumpang dengan tugas transportasi kargo, pada awal Maret. Semua pemuat kelelahan pada akhir giliran kerja mereka. Jika bongkar muat telah ditunda, pesawat dan kru asing harus menunggu dan jadwal mereka yang ketat akan terpengaruh.

Untuk memastikan keamanan penerbangan pesawat penumpang yang mengangkut kargo, otoritas bandara memiliki tim yang mengevaluasi keseimbangan pemuatan setiap penerbangan. Banyak peralatan pencegahan coronavirus seperti masker dan jas hazmat ringan namun besar. Mereka harus seimbang di kabin untuk memastikan keamanan penerbangan.

Terlepas dari ide-ide inovatif ini, pekerja layanan darat (ground crew) masih harus bekerja lembur dengan setelan jas hujan untuk menyelesaikan tugas-tugas berat. Suhu di landasan dapat mencapai 60 derajat Celcius dalam cuaca panas.

Baca juga: Gandeng Pelita Air Service, Anak Usaha Angkasa Pura I Luncurkan Layanan Angkutan Kargo

Lebih dari 200 penerbangan kargo dari seluruh dunia telah lepas landas dan mendarat di Bandara Pudong dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu lebih dari 10 ribu ton bahan pencegahan Covid-19 telah diangkut melalui bandara Pudong sejak pecahnya pandemi.

Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Film James Bond memang selalu menarik ditonton. Hal itu setidaknya terbukti dengan 26 sekuel yang sudah laris di pasaran sejak pertama kali diluncurkan pada 1962. Dari 26 tersebut, nyaris seluruhnya menyuguhkan cerita dan teknologi canggih. Salah satu yang menarik adalah kereta lapis baja pembawa rudal balistik nuklir mematikan yang muncul dalam film James Bond sekuel “Golden Eye” yang dirilis tahun 1995.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Tak seperti kereta penumpang pada umumnya, kereta lapis baja di film Golden Eye, mengesankan sebuah kendaraan tempur lapis baja yang kokoh dengan tampilan sangar. Bahkan saking kuatnya, lokomotif kereta ini sanggup membelah tank yang menghalangi jalur relnya.

Dalam scene saat di kereta sampai scene keluar kereta film saduran dari novel karya Ian Fleming itu, dimana aktor Pierce Brosnan tengah berusaha menyelamatkan Izabella Scorupco, interior dan eksterior kereta nuklir lapis baja Soviet tersebut memang tampak begitu mirip dengan aslinya, dengan ujung kereta lancip bak kereta peluru shinkansen versi garang, cat hitam di sekujur rubuh kereta, lambang Soviet, hingga interior mewah serta helikopter dan peluncur nuklir dengan hulu ledak yang mampu menghancurkan satu kota.

Hanya saja, ke-otentikan kereta lapis baja pembawa rudal dengan hulu ledak tinggi itu sempat dipertanyakan. Sebab, dari 12 kereta itu, 10 di antaranya sudah dihancurkan tak lama setelah Uni Soviet bubar pada 26 Desember 1991. Adapun dua sisanya telah diabadikan di museum di wilayah Rusia. Lantas, kereta apakah yang digunakan saat syuting James Bond pada sekuel “Golden Eye”, mengingat film tersebut lahir empat tahun setelah Soviet bubar? Sebetulnya, apakah kereta tersebut memang benar-benar ada?

Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) RS-24, rudal balistik antar benua Rusia yang tersembunyi di kereta lapis baja. Foto: dailystar.co.uk

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, rupanya, kereta lapis baja pembawa rudal balistik dengan kemampuan tak terdeteksi oleh satelit itu hanyalah sebuah tiruan. Aslinya, kereta tersebut merupakan kereta lokomotif diesel-listrik British Rail Class 20 dan sepasang BR Mk 1 coaches atau British Railways Mark 1, sebuah kereta api standar pertama buatan Inggris yang beroperasi pada medio 50-70an.

Dengan berbagai penyesuaian, kombinasi dari keduanya memang berhasil ‘menipu’ mata penonton seolah kereta tersebut adalah kereta lapis baja pembawa rudal asli buatan Soviet. Selain tampilan eksterior dan interior, suara kereta juga dibuat semirip mungkin menyerupai aslinya berkat bantuan mesin EMD 16-567 karya General Motors pada 1938.

Akan tetapi, kereta lapis baja pembawa rudal asli karya Soviet pasca runtuhnya negara komunis tersebut sepertinya bukan hisapan jempol belaka. Sebab, beberapa tahun belakangan, Rusia tengah berambisi untuk melahirkan kembali kereta yang tak terdeteksi oleh satelit itu.

Radio Echo Moskvy Rusia, mengutip sebuah tsar pemerintah, menyebut Rusia tengah menyiapkan tenaga-tenaga andal untuk mensukseskan proyek rudal balistik dengan hulu ledak tinggi, di bawah pengawasan komite pendidikan militer Rudal Strategis Rusia yang dipimpin Viktor Nesterov. “Menyadari sepenuhnya bahwa kita akan membutuhkan spesialis untuk mengoperasikan kompleks rudal baru ini, kami memutuskan untuk meluncurkan kursus khusus untuk melatih spesialis seperti itu,” ujar Viktor.

Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara

Kombinasi rudal balistik antar benua atau Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) RS-24 dengan kereta lapis baja setebal 1 inch pengangkut rudal memang sangat mematikan. Dengan jangkauan sejauh 3.400 mil atau 5471 kilometer dan hulu ledak tinggi, rudal tersebut diklaim mampu melenyapkan sebuah kota dalam hitungan detik.

Proses peluncurannya pun diklaim tak dapat terdeteksi satelit karena bentuk kereta yang disamarkan kereta barang. Jadi, kereta tersebut bisa meluncur dengan bebas ke sebuah wilayah peluncuran dan sistem pembangkit rudal dapat dengan mudah membantu proses peluncuran tanpa ada gangguan keamanan.

BlueFilter, Teknologi Penyaring Virus dan Bakteri di Gerbong Kereta Api

Masa pandemi Covid-19 yang kini masih berlangsung, sepertinya membuat banyak orang masih berpikir panjang untuk menggunakan transportasi umum. Ini juga terkait sirkulasi udara di dalam transportasi umum itu sendiri apakah baik atau tidak.

Baca juga: HEPA, Teknologi yang Mampu Bersihkan Radioaktif hingga Virus Corona di Dalam Kabin Pesawat

Karena hal tersebut, baru-baru ini Wabtec Corporation dari Pittsburg, Amerika Serikat,  menghadirkan inovasi penyaring udara yang disebut dengan BlueFilter. BlueFilter sendiri akan membuat lingkungan yang bersih dan sehat bagi penumpang yang ada di gerbong kereta api.

Sebelum diluncurkan filter ini diuji TUV yang terus menerus membuat metro dan kereta api memiliki udara segar dan bersih dengan menghilangkan lebih dari 90 persen kontaminan per sikklus udara. KabarPenumpang.com melansir dari laman alankandel.scienceblog.com (4/6/2020), Presiden Bisnis Transit Wabtec, Lilian Leroux mengatakan, otoritas transit di seluruh dunia menghadapi tantangan yang luar biasa ketika pandemi menghilang dan kehidupan mulai kembali normal.

“Mereka mencari solusi yang meningkatkan keselamatan, meningkatkan kualitas udara, dan meyakinkan penumpang mereka akan lingkungan yang bersih di gerbong kereta. BlueFilter memberikan operator transit yang percaya diri dengan secara dramatis mengurangi kontaminan dalam gerbong dibandingkan dengan filter standar saat ini,” ujar Lilian.

Dia mengatakan, desain BlueFilter ini menghilangkan kontaminan yang berukuran 0,1 hingga seribu mikrometer yang termasuk dengan alergen, bakteri, berbagai debu dan virus. Bila dibandingkan dengan filter standar yang ada saat ini, biasanya hanya mampu menghilangkan partikel yang berukuran antara sepuluh hingga seribu mikrometer.

Filter standar hanya mencakup kontaminan seperti serbuk sari, sebagian besar debu dan beberapa bakteri atau bisa dikatakan tidak sama yang bisa dicakup oleh BlueFilter. Lilian menambahkan, fitur ini memungkinkan operator untuk segera meningkatkan kualitas udara bagi penumpang dan karyawan mereka.

“BlueFilter dirancang untuk instalasi dan aplikasi yang mudah pada sistem HVAC saat ini, yang meminimalkan waktu yang dibutuhkan untuk menambahkan inovasi keselamatan penting ini ke armada operator,” jelasnya.

Baca juga: Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat

BlueFilter telah diuji oleh dua laboratorium independen, termasuk TÜV North Group. Selain itu, Wabtec bermitra dengan operator transit untuk menguji produk di lapangan. Pengujian menunjukkan bahwa BlueFilter memberikan operator transit lingkungan yang sehat dan aman untuk armada mereka tanpa memengaruhi kinerja HVAC. Ini adalah terobosan kualitas udara untuk industri kereta api saat pengendara kembali ke kereta komuter.

Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Awal Mei lalu, publik Indonesia sempat dihebohkan dengan insiden pelarungan jenazah tiga ABK WNI ke laut oleh kapal nelayan berbendera Cina, Long Xing 629 dan Long Xing 604 pada Desember 2019 dan Maret 2020. Dalam perpesktif hukum, sebetulnya, tindakan tersebut tergolong legal dan tertuang jelas dalam peraturan Organisasi Buruh Internasional (ILO) “Seafarer’s Service Regulations”, pelarungan jenazah di laut diatur praktiknya dalam pasal 30.

Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956

Disebutkan, jika ada pelaut yang meninggal saat berlayar, maka kapten kapal harus segera melaporkannya ke pemilik kapal dan keluarga korban. Dalam aturan itu, pelarungan di laut boleh dilakukan setelah memenuhi beberapa syarat, yaitu:

1. Kapal berlayar di perairan internasional

2. ABK telah meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan penyakit menular dan jasad telah disterilkan.

3. Kapal tak mampu menyimpan jenazah karena alasan higienitas atau pelabuhan melarang kapal menyimpan jenazah, atau alasan sah lainnya.

4. Sertifikat kematian telah dikeluarkan oleh dokter kapal (jika ada).

Selain legal dari perspektif hukum, dalam perspektif sosial, sebetulnya, tindakan melarung jenazah di laut juga telah terjadi sejak lama, salah satunya terjadi oleh jemaah haji tempo dulu. Sebagaimana yang diketahui, sebelum muncul era pesawat terbang komersial pasca perang dunia II, dahulu, sekitar tahun 1920-an, masyarakat menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal laut dan butuh waktu berminggu-minggu untuk sampai ke Mekkah-Madinah. Dalam berbagai literatur, perjalanan haji via laut setidaknya membutuhkan waktu sekitar 25-30 hari pulang-pergi.

Bahkan, setelah era pesawat terbang muncul, proses pemberangkatan jemaah haji juga masih didominasi via laut. Pada tahun 1956, misalnya, saat Indonesia sudah mulai menyediakan pemberangkatan haji via udara, namun, karena harga mencapai dua kali lipat dibanding menggunakan jalur laut, hanya sedikit jemaah yang memutuskan berangkat menggunakan pesawat.

Waktu itu, menurut catatan Kompas ongkos naik haji dengan menggunakan kapal laut adalah Rp7.500 sementara pewawat terbang Rp16.691. Oleh karena itu, pebedaan jumlah antara yang menggunakan kapal laut dan pesawat terbang sangat jauh, yaitu 14.031 banding dengan 293 orang.

Berkaitan dengan jenazah jemaah haji tempo dulu dilarung ke laut, sekalipun ILO sudah didirikan (1919), namun, prosedur pelarungan jenazah jemaah haji dilarung ke laut bukan bersandar pada “Seafarer’s Service Regulations” melainkan bersandar pada Ordonansi tahun 1922 tentang Peraturan Pelayaran Haji Bab VII.

Prosedur yang dibuat pada masa Gubernur Jenderal Dirk Fock dan Sekretaris Umum CH Welter pada 10 November di Bogor ini, di pasal 48, termaktub, “Jenazah penumpang kapal yang meninggal di laut, karena tertular penyakit, dicuci dengan air keras, dikafani, ditali, dan selanjutnya ditenggelamkan ke dasar laut.”

Pada pasal lain: “Apabila seorang penumpang di kapal meninggal, nakhoda harus memberitakan dalam jurnal kapal: nama, usia, tempat lahir, dan tanggal meninggal, bahkan mungkin juga sebab-sebab kematian sesuai penjelasan dokter kapal.”

Baca juga: Bus Shalawat, Angkutan Gratis Istimewa Untuk Jamaah Haji Indonesia

Detailnya, mula-mula, jenazah dimandikan dan dikafankan sesuai syariat Islam. Lalu, jenazah disalatkan, sebagaimana jenzahah yang disalatkan di daratan. Dalam catatan perjalanan Kyai Haji Abdussamad dalam Melawat ke Mekkah (1948), sebelum ditempatkan di sebuah wadah, seperti sekoci, pada bagian ujung kepada dan kaki (di kain kafannya) diikat sebuah pemberat berupa timah atau beberapa kepingan baja seberat 30-50 kg. Fungsinya, untuk mengantar jenazah ke dasar laut.

Selanjutnya, kapal kemudian berhentik sejenak, untuk menurunkan jenazah dari sekoci ke lautan. Sekoci kemudian dimiringkan dan jenazah pun terombang-ambing di lautan, sebelum akhirnya tenggelam di sana. Tercatat, proses ini (melarung jenazah ke laut) terus dilakukan sampai pada akhirnya, di tahun 1978, pemerintah menghentikan perjalanan haji dengan trasportasi laut.

Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Setelah anjlok akibat pandemi Covid-19, Singapore Airlines (SIA) kembali bangkit. Dalam rilis terbarunya, maskapai terbaik ke-dua pada 2019 versi Skytrax itu justru mengeluarkan fitur companion app pertama di dunia, melengkapi berbagai kebijakan lainnya, sebagai bagian dari prosedur The New Normal untuk mengurangi potensi penyebaran virus Cina di dalam pesawat.

Baca juga: Sapa Pelanggan di Masa Pandemi, Singapore Airlines Hadirkan e-Library di Aplikasi Seluler

Dengan companion app pertama di dunia itu, nantinya pelanggan tak perlu lagi mengakses atau mengendalikan KrisWorld, sistem hiburan dalam penerbangan (IFE) SIA, dengan berbagai sentuhan dilayar IFE secara langsung, melainkan dapat dengan mudah mengaturnya melalui perangkat seluler pribadi. Jadi, mengurangi sentuhan di berbagai benda di pesawat selama penerbangan.

Berbagai terobosan SIA dilakukan guna mendukung proses recovery perusahaan dengan meningkatkan volume penerbangan menjadi sebesar 75 persen dari posisi terendah April dan Mei 2020. Peningkatan tersebut termasuk penambahan 10 rute menjadi total 24 rute, mencakup kota-kota besar di Asia, Eropa, dan Amerika, seperti Jakarta, Sydney,Tokyo, Seoul, Shanghai, Hong Kong, London, Amsterdan, Barcelona, dan Los Angeles.

“Inisiatif ini membantu memastikan bahwa di tengah wabah Covid-19, standar kesehatan dan keselamatan kami tetap menjadi bagian integral dari janji layanan kelas dunia SIA. Hal ini memungkinkan pelanggan kami untuk bepergian bersama kami dengan penuh keyakinan, mengetahui bahwa kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kem mereka sepanjang perjalanan mereka,” kata CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, seperti dikutip dari situs resmi SIA.

“Kami juga bekerja pada berbagai solusi digital baru yang akan lebih meningkatkan pengalaman pelanggan, serta mendukung inisiatif kesehatan dan keselamatan kami. Ini akan memungkinkan SIA untuk lebih memenuhi harapan yang berkembang dari pelanggan kami selama masa-masa ini,” tambahnya.

Meski demikian, maskapai mengaku tetap menjalankan prosedur disinfeksi ke berbagai benda atau titik rawan penyebaran corona, mulai dari jendela, meja baki, handset, layar hiburan dalam penerbangan, toilet, serta dapur. Headset, headrest covers, sarung bantal, seprei, dan selimut juga dicuci serta diganti setelah setiap penerbangan. Bahkan, toilet, sebagai salah satu tempat paling rawan penyebaran virus corona di pesawat juga rutin dicek dengan ultra-violet (UVC) setiap sebelum penerbangan.

Prosedur The New Normal, yang mulai menjadi istilah lumrah sebagai gambaran prosedur dan layanan baru di industri penerbangan sejak awal Mei kemarin, juga mengubah berbagai layanan SIA, baik selama di dalam pesawat maupun di kounge. Di lounge, SIA hanya menyediakan makanan a la carte, sebagai pengganti sajian prasmanan.

Sedangkan di pesawat, untuk penerbangan di Asia Tenggara dan layanan ke Cina Daratan, atas alasan keamanan, layanan makanan dan minuman masih belum tersedia. Sebagai gantinya, penumpang diberikan snack bags yang berisi beberapa sajian. Tak disebutkan dengan jelas apa saja isinya. Bagi penumpang di first class dan business class, layanan santapan di meja makan juga ditiadakan dan diganti dengan layanan single tray service atau makanan dan minuman orang per orang.

Baca juga: Bandara Anchorage Alaska Minta Singapore Airlines Terbang Non-Stop Gegara Suhu

Layanan digital dan lainnya juga menyesuaikan diri dengan prosedur The New Normal. Mulai 8 Juni, semua maskapai di SIA Group akan menyediakan care kit yang akan dibagikan ke setiap penumpang, berisi masker, tisu anti bakteri, dan hand sanitizer. E-library juga diperkenalkan sebagai pengganti koran dan majalah, dengan akses ke lebih dari 150 surat kabar internasional, majalah, dan bahan bacaan lainnya yang dapat diakses melalui aplikasi SIA di smartphone masing-masing. Tak hanya itu, awak kabin juga akan dilengkapi dengan masker dan kacamata.

Yang paling ditunggu-tunggu adalah layanan pesan makanan dan digital serta Print-n-Go solution, dimana penumpang dapat memesan makanan via aplikasi dan memungkinkan untuk mencetak boarding pass serta baggage tags di self-service kiosks di bandara, melalui Singapore Air Mobile App atau kode QR. Namun, penumpang harus menunggu waktu peluncuran layanan tersebut.

Biar Perjalanan Tenang dan Aman, Inilah Tips Aman Naik Ojol di Era “New Normal”

Pada hari ini 8 Juni 2020, semua perkantoran mulai kembali beraktivitas dengan normal. Hal ini juga berlaku pada transportasi ojek online (ojol) seperti GoJek yang sudah menghidupkan kembali fitur GoRide dan Grab yang juga menghidupkan kembali GrabBike di menunya. Sehingga bisa dikatakan pengemudi ojol kini bisa kembali mengangkut penumpang seperti sebelum adanya Covid-19.

Baca juga: Imbas Covid-19, Pengemudi Ojol Sepi Penumpang, Layanan Pesan Antar Banjir Order

Nah, memasuki kehidupan new normal ini, apakah aman jika kembali menggunakan transportasi umum dan ojol yang mulai kembali beroperasi secara penuh? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa hal ini aman jika setiap penumpang melakukannya dengan protokol yang sesuai.

Berikut ini tips untuk para pengguna (penumpang) ojek online.
1. Penumpang harus membersihkan tangan baik dengan handsanitizer atau cuci tangan dengan sabun dan air sebelum maupun sesudah naik motor.

2. Membawa helm pribadi sangat disarankan. Ini untuk mencegah penumpang tertular virus corona karena menggunakan helm yang bergantian dengan yang lainnya. Atau minimal bawalah hair cup untuk melindungi bagian bagian kepada dari interaksi dengan helm pinjaman milik pengemudi ojol.

3. Hindari berbicara dengan pengemudi ojol.

4. Tidak membayar dengan tunai atau baiknya cashless untuk menghindari perpindahan virus dari uang yang diberikan tersebut.

5. Gunakan sarung tangan yang bukan sekali pakai. Ini karena sarung tangan sekali pakai justru bisa memindahkan virus ke tempat lainnya.

6. Jangan lupa pakai masker dan kalau perlu bisa gunakan kacamata.

Sedangkan tips untuk pengguna transportasi umum selain ojol berikut ini.
1. Bersihkan tangan sebelum dan sesudah naik transpotasi umum, kalau bisa bawa handsanitizer berbasis alkohol setiap bepergian. Untuk penumpang tidak perlu sering-sering pakai handsanitizer tapi cukup ketika naik dan turun untuk memastikan tangan dalam kondisi bersih.

2. Jaga jarak minimal 1,5 meter atau jika tidak bisa maka jaga jarak semaksimal mungkin dengan orang lain baik ketika menunggu maupun di dalam transpotasi umum.

3. Hindari memegang tiang yang berbeda selama perjalanan dan baiknya tidak berpinda-pindah posisi ketika duduk atau berdiri.

4. Kurangi atau sebisa mungkin hindari berbicara dengan orang lain dalam transportasi umum.

Baca juga: Sekat Partisi Digunakan Pengemudi Ojol, Efektifkah untuk New Normal?

Dari semua ini, baiknya setiap penumpang yang menggunakan transportasi umum dan ojol ketika kondisi kurang sehat tetaplah dirumah untuk beristirahat dan tidak memaksakan untuk bepergian.

Terungkap, Kecelakaan Airbus A320 PIA Diduga Akibat Kesalahan Pilot, Begini Kronologinya!

Belum lama ini, investigator keselamatan udara Perancis, Bureau d’Enquetes et d’Analyses, berhasil mendapatkan data penerbangan PK8303 Pakistan International Airlines (PIA) dan rekaman suara kokpit sebelum jatuh. Dari hasil penyeledikan sementara, diduga kuat pilot menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan yang merenggut 97 jiwa dari 91 penumpang dan delapan awak itu.

Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Seperti diberitakan fliegerfaust.com , kronologi kecelakaan pesawat Airbus A320 milik PIA bermula saat pesawat yang dipimpin Kapten Sajjad Gull itu lepas landas dari Bandara Lahore sekitar pukul 13,05 waktu setempat. Menurut keterangan salah satu dari dua penumpang selamat, penerbangan tersebut bisa dibilang nyaris sangat mulus, mulai dari awal take off sampai sebelum terjadinya kecelakaan.

Keadaan berubah ketika pesawat mencoba mendarat di Bandara Internasional Jinnah. Laporan dari otoritas penerbangan sipil Pakistan, terungkap, sebelum jatuh, pesawat rupanya mengalami kerusakan atau mungkin kegagalan di kedua mesin. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh percobaan pendaratan pertama.

Pada percobaan pendaratan pertama, petugas Air Traffic Controller (ATC) sempat mengingatkan bahwa pesawat berada pada posisi yang keliru ketika melakukan pendekatan pendaratan (approach landing) melalui pendekatan Instrument Landing System (ILS). Saat itu, pesawat tercatat masih melaju dengan kecepatan tinggi, mencapai lebih dari 200 mil per jam (322 kilometer per jam). Padahal, jarak pesawat sebelum touchdown di runway 25 Bandara Internasional Jinnah, di Kota Karachi, sudah begitu dekat dan dinilai tidak sesuai prosedur pendaratan.

Setelah diperingatkan dua kali untuk tidak meneruskan proses pendekatan pendaratan, alih-alih mengikuti saran dari ATC, pilot yang diketahui telah memiliki jam terbang tinggi tersebut justru melanjutkan pendaratan. Alhasil, ketika touchdown, pesawat mengalami gesekan kuat di lambung dan kedua mesin pesawat akibat roda pendaratan atau landing gear tidak keluar. Menurut laporan, sempat terjadi beberapa benturan sehingga ATC menyarankan untuk pilot agar membawa pesawat kembali ke langit dan melakukan percobaan kedua. Anehnya, pilot tak memberitahu kondisi tersebut (tidak keluarnya landing gear).

Di percobaan pendaratan kedua pada pukul 14.30, sebetulnya ATC yang bertugas kala itu memandu pilot agar berada di ketinggian 3500 kaki. Namun, pilot hanya membawa pesawat pada ketinggian 1300 kaki. Di sinilah pilot memberitahu bahwa pesawat kesulitan untuk mempertahankan ketinggian dan kedua mesin mengalami kerusakan teknis, mengingat, bagian bawah mesin di antaranya terdapat aksesoris gearbox dan pompa hidrolik yang keduanya mungkin saja disfungsi akibat gesekan saat percobaan pendaratan pertama.

Pada proses percobaan pendaratan kedua, tak lama setelah pilot memberitahu keadaan pesawat dan memberi sinyal darurat (mayday) ATC kehilangan kontak, tepatnya pada pukul 14.40 waktu setempat. Pesawat akhirnya diketahui jatuh dan terbakar serta menabrak empat rumah di permukiman Model Colony, 3,2 kilometer dari Bandara Internasional Jinnah.

Pesawat Airbus A320 milik PIA tercatat telah mempunyai 47.100 jam terbang dan telah lulus uji kelaikan pada 2019. Airbus menerangkan, pesawat mereka itu mulai beroperasi pada 2004, sebelum dibeli PIA di 2014. Meski sudah mendengar rekaman percakapan di kokpit, pihak kementerian perhubungan Pakistan belum mengeluarkan laporan resmi terkait penyebab terjadinya kecelakaan.

Baca juga: Pintu Darurat Dikira Toilet, Penumpang Pakistan Airlines Bikin Penerbangan Delay 7 Jam!

Akan tetapi, kecelakaan A320 milik PIA rupanya bukan kecelakaan pertama dan terburuk sejak setidaknya satu dekade terakhir. Sebelumnya, pada 2010, pesawat yang dioperasikan penerbangan swasta Airblue, jatuh dekat Islamabad, menewaskan 152 orang, kecelakaan terburuk dalam sejarah Pakistan.

Pada 2012, pesawat Boeing 737-200 yang dioperasikan Bhoja Air jatuh dalam cuaca buruk saat akan mendarat di Rawalpindi, menewaskan 121 penumpang dan enam awak. Kemudian, pada 2016, pesawat Pakistan Internasional Airlines jatuh terbakar dalam penerbangan dari Pakistan utara ke Islamabad, menewaskan 47 orang.

Meja Lipat di Pesawat Jarang Dibersihkan, Awak Kabin: Penumpang Sebaiknya Bawa Tisu Basah

Sebagai penumpang pesawat, meja lipat atau baki di depan kursi pesawat menjadi salah satu yang cukup sering digunakan dibandingkan toilet. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah meja nampan ini rutin dibersihkan? Kemudian seberapa sering dibersihkannya?

Baca juga: Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin Pesawat

KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (3/6/2020), ternyata meja nampan di pesawat tidak sering dibersihkan. Hal ini diungkapkan oleh awak kabin yang mengatakan bahwa toilet bukanlah area paling kotor di dalam kabin.

Kurang dibersihkannya meja nampan juga karena perputaran singkat antar penerbangan dan pembersihan di pesawat yang dilakukan awak kabin harus dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, berarti beberapa area tertentu di pesawat tidak dibersihkan secara menyeluruh bahkan tidak sama sekali.

Seseorang dari maskapai mengungkapkan bahwa mungkin bukan ide yang baik untuk makan langsung dari meja nampan dan baiknya penumpang harus membawa produk pembersih sendiri ketika di dalam pesawat. Mantan pramugari American Airlines menjelaskan bahwa setiap penumpang harus selalu membawa tisu basah atau tisu antibakteri dan menyeka meja nampan sebelum digunakan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Auburn University menemukan bahwa meja nampan adalah pembawa E.coli tertinggi kedua di kabin pesawat, dengan penyakit bernanah selama 72 jam. Sehingga hal terbaik yang harus dilakukan ketika meninggalkan pesawat terbang adalah mencuci tangan Anda untuk menghilangkan kuman apa pun karena E.coli dapat hidup di permukaan selama berjam-jam.

“Saya akan selalu mendorong penumpang untuk membersihkan meja nampan dan permukaan lainnya sebelum berangkat. Saya telah melihat penumpang mengganti popok bayi mereka di atas meja nampan, dan memotong kuku mereka di papan tulis,” ujar seorang awak kabin.

Studi lain menemukan meja nampan di berbagai pesawat memiliki tingkat bakteri yang tinggi. Bahkan beberapa nampan meja adalah area terburuk di pesawat untuk masalah, bahkan lebih buruk daripada toilet. Dengan kenyataan ini, baiknya sebagai penumpang yang cermat tidak langsung meletakkan makanan di meja nampan dan memilih untuk membersihkannya terlebih dahulu sebelum digunakan.

Sementara staf maskapai membersihkan kabin di antara penerbangan, ini terutama membersihkan sampah. Tetapi mereka tidak punya waktu untuk membersihkan dan menyapu setiap nampan di pesawat di antara penerbangan.

Sebagian besar maskapai penerbangan tidak berbagi seberapa sering mereka membersihkan bagian dalam pesawat sehingga Anda harus selalu membawa beberapa tisu di tas tangan Anda. Anda mungkin juga ingin ketinggalan meletakkan barang-barang di saku kursi di depan karena penelitian telah mengungkapkan bahwa mereka juga merupakan salah satu daerah yang terinfeksi kuman di pesawat dengan satu studi membuktikan itu adalah area paling kotor di pesawat.

Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri

Pramugari lain juga mendesak penumpang untuk membawa bantal dan selimut mereka sendiri. Rupanya satu-satunya deep-clean di pesawat terjadi semalam dan beberapa maskapai penerbangan bahkan menggunakan kembali selimut mereka tanpa mencuci mereka.

Tuai Pujian, Beginilah Aksi Driver Non Muslim Hormati Penumpang Muslim

Ramadan memang telah usai. Lebaran juga telah lebih dari sepekan lebih dirayakan oleh umat muslim seluruh dunia. Namun, cerita-cerita unik atau serba-serbi Ramadan mungkin tak pernah luput untuk terus dikenang. Terlebih, hal tersebut melibatkan bukan hanya umat muslim saja, melainkan juga umat non muslim; seperti yang terjadi di Singapura.

Baca juga: Berniat Habiskan Ramadhan di Luar Negeri, Perhatikan Dulu Durasi Puasanya!

Dilansir mothership.sg, seorang driver non muslim S’pore di Singapura mendadak jadi pembicaraan netizen karena perlakuan terpujinya dalam melayani penumpang muslim. Peristiwa itu bermula, saat penumpang muslim yang tak disebutkan namanya menumpangi sebuah taksi yang dikemudikan oleh driver non muslim yang juga tak diketahui namanya. Kala itu, puasa tengah memasuki hari ke-18.

Saat penumpang masuk, diketahui, azan Magrib akan berkumandang sekitar 10 menit berselang. Sang pengemudi yang sudah menyimpan jadwal azan selama bulan Ramadan, kemudian berinisiatif untuk mempercepat laju kendaraan, semata agar penumpang muslimnya bisa sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat.

Selain itu, driver non muslim juga memutar radio untuk mengetahui waktu berbuka. Menariknya, saat kendaraan tengah melaju cepat dan kumandang azan terdengar, tanpa diminta, driver pun perlahan memperlambat laju guna memastikan penumpang dapat menikmati waktu berbuka puasa dengan khidmat dan nyaman.

Atas perlakuannya tersebut, driver pun banjir pujian. Pada umumnya netizen memuji sikap dan keharmonisan antar umat beragama. Pasalnya tak sedikit perbedaan kebutuhan dan posisi, satu muslim dan satu non muslim, satu puasa dan lainnya tak puasa, satu ingin berbuka puasa terlebih dahulu dengan nyaman dan lainnya tidak, baik saat posisi pengemudi dikendarai oleh non muslim dan penumpang muslim atau sebaliknya, justru membuat ketidaknyamanan antara satu dengan lainnya karena perbedaan itu sendiri.

Meskipun banjir pujian, tak sedikit dari netizen yang tetap mengkritik driver tersebut dengan berbagai alasan, termasuk mempertanyakan inisiatifnya untuk mempercepat laju. Sebab, hal itu bisa saja dapat membahayakan penumpang dan juga pengendara lainnya.

Kejadian viral yang melibatkan driver non muslim terhadap penumpang muslim juga pernah terjadi di Negeri Jiran Malaysia. Kala itu, Nur Aqilah Syazwina Mustaffa, seorang gadis muslim asal Malaysia ini menumpangi sebuah taksi online yang dikemudikan oleh Wong Zhon Wei, seorang non muslim keturunan Cina.

“Dalam perjalanan pulang, saya kebetulan melihat pasar di jalan dan saya bertanya-tanya apakah dia pernah pergi ke pasar Ramadan atau tidak,” terang Wina.

Driver yang dipanggil Ah Wei itu pun mengaku belum pernah pergi ke Pasar Ramadan. Ia pun tiba-tiba memarkirkan mobil dan mengajak Wina untuk membeli makanan berbuka di Pasar Ramadan. Alasan Ah Wei membawa Wina ke Pasar Ramadan karena saat itu sudah mendekati waktu berbuka puasa.

“Mula-mula saya hendak beli Ayam Percik dan kue-kuean dengan uang saya sendiri tapi dia terus menjulurkan uang untuk membayarkan makanan yang saya beli tanpa ragu,” ujar Wina.

Wina mengaku dibelanjakan makanan oleh Ah Wei sebesar Rp75 ribu sementara, ongkos taksi online yang digunakannya sebesar Rp82 ribu. Wina mengatakan bahwa Ah Wei tak mau uangnya diganti, ia hanya menerima uang bayaran sebagai driver taksi online.

Baca juga: Selama Ramadhan, Emirates dan Qatar Suguhkan Sajian Istimewa di Lounge dan Kabin

“Saya telah mencoba membayar kembali uang yang telah dia bayarkan untuk makanan yang dibeli tetapi ditolak karena dia mengatakan ‘itu adalah niat saya untuk membelanjakan’,” katanya.

Setelah diturunkan, Wina mengundang Ah Wei untuk makan malam bersama keluarganya, tetapi ia menolak dengan sopan, karena harus melayani penumpang lain. Wina menilai sikap toleransi yang ditunjukkan Ah Wei adalah sesuai yang sangat bernilai, murni, dan tak dapat diukur dengan uang.

Retrofit Cessna Catat Sejarah Sebagai Pesawat Listrik Terbesar di Dunia

Retrofit atau peningkatan kemampuan pesawat Cessna berhasil mencatat sejarah sebagai pesawat listrik terbesar di dunia. Kepastian itu didapat setelah uji coba pesawat retrofit Cessna 208B Grand Caravan sembilan kursi berbahan bakar cair menjadi Cessna eCaravan bertenaga listrik, tanpa emisi langsung, dan berbiaya rendah berhasil mengudara selama 30 menit di langit Washington, Kamis lalu.

Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Seperti dilansir sea.mashable.com, ke depan, pesawat listrik terbesar hasil kolaborasi antara perusahaan angkasa AeroTEC dan perusahaan propulsi listrik magniX ini diproyeksikan bakal mampu melahap rute sejauh 300 mil atau 482 kilometer, lebih kurang setara Jakarta-Semarang.

Hal itu dimungkinkan berkat kemampuan sistem propulsi magni500 berkekuatan 750 tenaga kuda (560 kW) sehingga dapat menggerakan pesawat amfibi enam kursi yang dimodifikasi melalui penerbangan pertamanya pada Desember lalu. Ini menandai keberhasilan dari penerbangan pesawat komersial listrik, sebelum akhirnya magniX mendorong untuk meretrofit pesawat tersebut.

“Penerbangan perdana eCaravan ini merupakan langkah lain untuk mengoperasikan pesawat bermesin menengah dengan biaya sangat murah, dan dengan nol emisi. Pesawat komersial ini akan memungkinkan penawaran layanan penerbangan orang dan paket dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan,” kata CEO magniX, Roei Ganzarski.

Walaupun hanya dalam rute-rute pendek, namun, buah dari penerbangan tersebut cukup signifikan dalam upaya menekan angka emisi gas buang atau pemanasan global. Sebab, pada umumnya, pesawat konvensional membakar lebih banyak bahan bakar ketika hendak lepas landas dan mendarat. Belum lagi emisi gas buang yang dihasilkan ketika di udara serta dalam jarak yang beragam, baik pendek maupun jauh.

MagniX dilaporkan memang memiliki rencana besar untuk sistem propulsi magni500. Sebagai yang terbaru dari motor listriknya, perusahaan ini telah berurusan dengan sejumlah pamain utama di kancah penerbangan listrik. Ini termasuk menjadi pemasok mesin startup asal Israel Eviation, untuk maskapai regional independen terbesar Amerika Serikat di Cape Air, dan perjanjian untuk menyediakan mesin listrik lebih lanjut untuk Harbor Air.

Meski demikian, inovasi serta ambisi tinggi perusahaan teknologi seperti MagniX diperkirakan belum akan mengubah masa depan penerbangan jet komersial untuk mengoperasikan pesawat listrik sepenuhnya. Alasannya klasik, terkait dana dan efisiensi.

Seorang peneliti energi dan transportasi di University College London, Andreas Schafer, mengatakan, untuk mewujudkan penggunaan pesawat listrik di masa mendatang butuh investasi yang tak sedikit. Misalnya, untuk biaya pengembangan baterai saja, setidaknya butuh sekitar US$23 miliar atau Rp353 triliun.

Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan Di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

Prinsipnya, bagaimana caranya membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini (baterai pesawat) namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada

Selain itu, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional ke era pesawat listrik.