Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 di atas kertas sebetulnya mempunyai semua prasyarat untuk dialihfungsikan menjadi angkutan kargo. Namun, pesawat ini dinilai terlalu berat dan mahal untuk dioperasikan dibanding dengan konversi pesawat kargo lainnya.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Oleh karena itu, di tengah sepinya penumpang dan ketidakmampuan A380 merambah pangsa pasar kargo, praktis tak ada pilihan lain bagi maskapai kecuali ‘mengubur’ pesawat fenomenal abad 21 tersebut. Padahal, bila A380 mampu bersaing dengan pesawat lainnya, mungkin maskapai dapat sedikit terbantu.

Simple Flying belum lama ini membahas terkait kenaikan penerbangan hanya kargo dan bagaimana maskapai penerbangan global mengubah pesawat penumpang yang ada menjadi angkutan kargo guna memenuhi tingginya permintaan. Bahkan, tingginya permintaan penerbangan khusus kargo di kuartal I dan II 2020 ini tercatat menjadi yang pertama kalinya sejak beberapa dekade terakhir.

Secara matematis, dimensi lebar A380 harusnya mampu membuat muatan kargo jauh lebih fantastis. Belum lagi bila kabin penumpang dimuat kargo, sebagaimana tren penerbangan akhir-akhir ini, saking tingginya permintaan lalu lintas kargo pesawat. Namun, kalkulasi konversi A380 menjadi angkutan hanya kargo tidak semudah pesawat lainnya. Setidaknya ada beberapa hal yang membuatnya menjadi rumit.

Pertama, bobot pesawat bahkan dalam keadaan kosong sekalipun. Bobot kosong A380 masih lebih tinggi dibanding angkutan kargo besutan Boeing, 747-8F yang dinilai jauh lebih kompetitif. Dalam setiap penerbangan, setidaknya A380 butuh suntikan sebesar Rp464 juta lebih per jam. Bisa dibayangkan berapa cost dalam sekali terbang.

Kedua, sekalipun dimensi A380 jauh lebih besar bukan berarti pesawat itu dapat mengangkut lebih banyak kargo ketika dikonversi menjadi angkutan kargo. Pasalnya, A380 akan mencapai bobot maksimum sebelum seluruh sudut pesawat terisi dan menyisakan banyak ruang kosong. Dengan mahalnya operasional, ditambah banyaknya ruang kosong yang tak bisa dimanfaatkan, sudah barang tentu maskapai akan mengalami kerugian.

Ketiga, dunia tentu tahu bahwa A380 adalah pesawat komersial terbesar di dunia dengan double decker. Bila dikonversi menjadi angkutan hanya kargo, justru konsep itulah yang menjadi penghalang. Dek bawah tentu masih dimungkinkan untuk memuat bobot maksimal. Namun, tidak demikian dengan dek kedua, dimana secara matematis, hanya mampu mengangkut setengah dari bobot atau untuk material ringan saja. Lagi-lagi, A380 menyisakan ruang yang tidak pernah bisa dimaksimalkan maskapai.

Baca juga: HAECO Luncurkan Inovasi Mudahkan Kargo di Kabin Penumpang

Keempat, efektivitas. Lokasi kokpit yang berada di dek bawah membuat proses bongkar muat kargo harus dilakukan perlahan-lahan ke sisi pesawat. Hal ini membuat efektivitas A380 dinilai buruk dan tak lebih baik dibanding angkutan kargo 747 yang bagian depannya dapat terbuka lebar.

Sebelum berbagai analisa terkait berbagai kekurangan angkutan kargo A380 diungkap, beberapa raksasa kargo dunia, seperti UPS dan Fed Ex Express awalnya sempat berminat untuk memakai jasa pesawat super jumbo itu. Ketika masalah demi masalah muncul selama proses konstruksi dan bermuara pada temuan beberapa kelemahan yang cukup signifikan sebagai angkutan kargo, UPS dan Fed Ex Express pun mundur dan beralih ke Boeing.

Tanggapi Larangan Mudik, PT ASDP Akan Fokus Pada Pelayanan Angkutan Logistik

Akhirnya Pemerintah resmi mengeluarkan larangan untuk mudik Lebaran 2020. Hal ini dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19 di daerah lainnya. Karena hal ini, banyak juga moda transportasi yang mulai mengehentikan operasional angkutan penumpang, salah satunya adalah PT kereta Api Indonesia (KAI).

Baca juga: Larangan Mudik Berlaku, PT KAI Hentikan Operasional KA Jarak Jauh dan Lokal

Namun bagaimana dengan moda transportasi lainnya seperti bus, pesawat dan kapal ferry untuk penyeberangan ke Pulau Sumatera? Apalagi saat ini diketahui, pihak kepolisian  sudah mengeluarkan peta penyekatan larangan mudik di beberapa titik.

KabarPenumpang.com mencoba menghubungi pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry terkait adanya larangan mudik ini, lantaran tol dalam kota yang menuju ke Pelabuhan Merak akan ditutup dan arus lalu lintas dari tol dalam kota yang menuju ke Merak dialihkan ke Tol Pluit dan Tomang.

Selain itu kendaraan yang mengarah ke Merak dari arah Kembangan juga akan dikembalikan ke Jakarta. Adanya hal ini Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Imelda Alini mengatakan pihaknya masih merapatkan terus terkait adanya larangan mudik ini. Dia menegaskan, intinya PT ASDP Indonesia Ferry pasti akan mengikuti kebijakan pemerintah.

“Intinya memang pasti akan mengikuti kebijakan pemerintah. Jadi hanya melayani angkutan logistik saja untuk menjaga pasokan di daerah,” ujar Imelda.

Meski banyak yang mengatakan pelarangan mudik Lebaran 2020 dianggap terlambat, tetapi hal ini ternyata bertujuan untuk menghindari dampak sosiologis di lapangan. Apalagi saat mengeluarkan larangan mudik ini, ternyata banyak aspek yang harus dipersiapkan untuk merealisasikannya, salah satunya agar tidak ada kerusuhan dan kekacauan di masyarakat.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Larangan mudik ini sendiri juga kerja sama dengan semua provinsi dengan mengimbau warganya tidak pulang kampung. Adanya larangan mudik ini berlaku untuk seluruh masyarakat yang berasal dari zona merah.

Larangan Mudik Berlaku, PT KAI Hentikan Operasional KA Jarak Jauh dan Lokal

Pemerintah resmi melarang mudik mulai Jumat (24/4/2020) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta tidak akan mengoperasikan kereta api penumpang baik itu kereta jarak jauh maupun lokal. Daop 1 nantinya selama pelarangan mudik ini hanya akan mengoperasikan kereta angkutan barang.

Baca juga: Tangkal Corona, PT KAI Kerahkan Rail Clinic dan Kereta Inspeksi di Jalur Utara-Selatan Jawa

“Seluruh keberangkatan dan kedatangan perjalanan kereta api jarak jauh dan lokal tidak akan beroperasi mulai 24 April 2020. Untuk KA jarak jauh yang tidak beroperasi adalah keberangkatan KA dari Stasiun Gambir, Stasiun Pasar Senen, Stasiun Jakarta Kota dengan tujuan akhir Cirebon, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang dan berbagai kota di wilayah lainnya,” ujar Eva Chairunisa Kepala Humas Daop 1 Jakarta yang dikutip melalui siaran pers, Kamis 923/4/2020).

Eva menyebutkan bila ditotal secara keseluruhan ada 70 perjalanan KA jarak jauh di area Daop 1 Jakarta yang dibatalkan. Dia mengatakan dari 70 KA tersebut, 67 KA diantaranya adalah KA reguler dan tiga lainnya merupakan kereta tambahan yang dioperasikan pada saat hari kerja serta hari libur.

Eva menjelaskan untuk perjalanan KA lokal di Daop 1 jakarta yang dibatalkan seluruhnya ada 31 perjalanan dengan rincian enam KA Pangrango dengan relasi Bogor ke Sukabumi PP, 12 KA lokal Merak relasi Rangkasbitung – Merak PP. Enam KA Walahar relasi Tanjung Priok – Purwakarta PP, empat KA Jatiluhur relasi Tanjung Priok – Cikampek dan tiga KA Siliwangi relasi Sukabumi ke Cirajang.

Selain Daop 1, VP Public Relation PT KAI Joni Martin menyebutkan bahwa Daop 2 Bandung juga menghentikan operasional KA jarak jauh dan lokal mereka dari dan ke Bandung serta hanya mengoperasikan angkutan barang. Joni menyebutkan untuk calon penumpang yang sudah memiliki tiket bisa membatalkannya dan PT KAI akan mengembalikan biaya pembelian penuh dengan menghubungi contac center KAI 121 untuk mendapat panduan lebih lanjut. Selain itu calon penumpang juga dapat membatalkan tiket mereka melalui aplikasi KAI Access atau datang langsung ke loket stasiun yang sudah ditunjuk.

Pembatalan tiket melalui aplikasi dapat dilakukan hingga maksimal tiga jam sebelum jadwal keberangkatan dan uang akan ditransfer paling lambat 45 hari kemudian. Adapun untuk pembatalan di loket stasiun dapat dilakukan di semua stasiun keberangkatan KA Jarak Jauh dan Lokal hingga maksimal 30 hari setelah jadwal keberangkatan dengan menunjukkan kode booking, dan uang akan langsung diganti secara tunai atau melalui transfer.

Pembatalan ini untuk sementara ditetapkan hingga 30 April 2020, sambil dilakukan evaluasi mengikuti perkembangan. Jika terdapat perpanjangan waktu maka akan diinformasikan kembali secara resmi. PT KAI Daop 1 Jakarta memohon maaf kepada penumpang yang perjalanannya tertunda. Langkah ini dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19 pada masa angkutan Lebaran 2020.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

Berikut Stasiun di Daop 1 Yang Melayani Pembatalan tiket yang buka setiap hari (Senin-Minggu) Pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB
1. Stasiun Gambir
2. Stasiun Pasar Senen
3. Stasiun Jakarta Kota
4. Stasiun Bogor Paledang
5. Stasiun Cikampek
6. Stasiun Rangkasbitung
7. Stasiun Serang
8. Stasiun Bekasi

Sebagai informasi guna mendukung pasokan logistik dan bahan pangan, Daop 1 Jakarta tetap menjalankan KA Angkutan Barang secara normal untuk pengangkutan.

Pandemi Menyerang, Warga AS Pilih Naik Sepeda Ketimbang Angkutan Umum

Transportasi massal saat ini menjadi salah satu yang paling dihindari oleh banyak orang untuk bepergian. Banyak dari orang-orang memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada mengambil risiko besar terinfeksi di dalam angkutan umum.

Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Hal ini kemudian membuat masyarakat di Amerika Serikat beberapa diantaranya memilih menggunakan sepeda. Seorang senimana bernama John Donohue yang tinggal di Brooklyn mengatakan dirinya lebih memilih sepeda saat ini dan belum yakin kapan akan nyaman dengan transportasi massal lagi.

“Saya berusia 51 tahun dan sehat. Tetapi saya tidak ingin naik kereta bawah tanah, karena tidak memiliki mobil maka saya menggunakan sepeda,” ujar Donohue.

KabarPenumpang.com merangkum reuters.com, pandemi virus corona yang juga meluas di AS telah memicu lonjakan penjualan sepeda. Produsen utama dan para pengecer mengatakan hal tersebut. Mereka membeli sebagian untuk berolahraga dan lainnya memiliki alasan yang sama dengan Donohue untuk menghindari risiko penularan di bus atau kereta bawah tanah.

Dia berencana untuk menggunakan hibrida 24-gear barunya untuk perjalanan seperti kunjungan rutin ke sebuah percetakan di kota yang biasanya ia kunjungi dengan kereta bawah tanah.

Sekitar 870 ribu orang Amerika, rata-rata, pergi-pulang bekerja dengan sepeda dalam lima tahun terakhir, atau sekitar 0,6 persen dari semua pekerja, menurut Biro Sensus AS.

Angka ini lebih tinggi di daerah perkotaan, sekitar 1,1 persen, dan sekitar 20 kota dengan setidaknya 60 ribu penduduk memiliki tingkat sekitar lima persen atau lebih. Namun, survei yang lebih baru menunjukkan persentase pekerja AS yang lebih tinggi menggunakan sepeda untuk bekerja.

Survei perusahaan riset swasta Statista Inc. pada tahun 2019 menunjukkan lima persen mengendarai sepeda mereka sendiri, sementara satu persen lainnya menggunakan layanan berbagi sepeda, pilihan yang semakin umum di kota-kota besar.

Pemerintah telah menyatakan sepeda sebagai wahana transportasi yang penting, sehingga banyak toko sepeda tetap buka meskipun bisnisnya tutup. Menurut Asosiasi Dealer Sepeda Nasional, sekitar tiga perempat dari penjualan sepeda AS melalui toko besar. Sementara banyak gerai rantai barang olahraga khusus tutup, pedagang umum seperti WalMart Stores Inc (WMT.N), penjual sepeda terbesar, tetap buka.

Kent International Inc., yang mengimpor sepeda dari Cina dan juga membuatnya di pabrik di Carolina Selatan, mengatakan penjualan sepeda dengan harga murah telah melonjak selama sebulan terakhir. Kent sudah kehabisan stok pada lima dari 20 model topnya dan berharap itu akan meningkat menjadi sepuluh pada akhir bulan, kata kepala eksekutif dan ketua Arnold Kamler.

Dia mencatat pasokan mengalir dari Cina, yang telah membuka kembali banyak basis manufakturnya selama sebulan terakhir. Kamler mengatakan penjualan di sebagian besar pengecer besar yang dia suplai naik 30 persen bulan lalu dan naik lebih dari 50 persen hingga bulan April, dengan lonjakan permintaan memaksanya untuk mengubah pengaturan pengiriman.

Baca juga: Keren, Kemenhub Dorong Penjual Kopi Keliling Pakai Sepeda Listrik

Kamler biasanya mengimpor sepeda ke pelabuhan di Pantai Timur dan Barat. Tetapi dengan banyak pengecer meminta lebih banyak sepeda, dia sekarang mengarahkan semua pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan Pantai Barat, lalu mengangkutnya ke seluruh negeri.

“Itu menambah biaya pengiriman, tetapi dapat memotong minggu waktu pengiriman,” ujar Kamler.

 

Tak Ada Lockdown di Swedia, Warga Stockholm Justru Terlihat Santuy

Hampir seluruh negara di Eropa melakukan lockdown atau penguncian wilayah masing-masing dalam menghadapi virus corona. Namun ternyata ada satu negara yang hampir berdiri sendiran dalam membiarkan kehidupan berjalan normal di tengah pandemi ini.

Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Ya, Swedia menjadi salah satu negara Eropa yang tidak melakukan penguncian. Bahkan setelah musim dingin yang panjang dan udara saat ini mulai menghangat,di  ibu kota Swedia yakni Stockholm, orang-orang mulai memanfaatkannya sebaik mungkin. Terlihat keluarga-keluarga yang mulai keluar dari rumah untuk makan es krim di bawah patung raksasa Dewa Viking Thor di alun-alun Maratorget.

Para pemuda pun menikmati happy hour mereka dengan duduk di trotoar di ujung jalan. Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (29/3/2020), negara ini sudah membuka klub malam pada beberapa minggu lalu meski pertemuan dibatasi lebih dari 50 orang dilarang. Hal ini lebih banyak jika dibandingkan dengan Denmark yang membatasi pertemuan lebih dari sepuluh orang dan Inggris yang benar-benar melarang bertemu dengan tetangga.

warga Swedia berkumpul di kursi taman (bbc.com)

Jalan-jalan di Swedia terlihat lebih tenang dari biasanya. Namun perusahaan angkutan umum Stockholm SL mengatakan, bahwa pihaknya melihat jumlah penumpang turun 50 persen di kereta bawah tanah dan kereta penumpang. Hal ini karena hampir setengah warga Stockholm bekerja jarak jauh alias dari rumah masing-masing.

Stockholm Business Region, sebuah perusahaan yang didanai negara yang mendukung komunitas bisnis global kota itu, memperkirakan bahwa naik setidaknya 90 persen di perusahaan-perusahaan terbesar di ibukota, berkat tenaga kerja yang mengerti teknologi dan budaya bisnis yang telah lama mempromosikan kerja yang fleksibel dan jarak jauh.

“Setiap perusahaan yang memiliki kemungkinan untuk melakukan ini, mereka melakukannya, dan itu bekerja,” kata CEO-nya Staffan Ingvarsson.

Pihak Otoritas kesehatan publik dan politisi masih berharap untuk memperlambat penyebaran virus tanpa perlu tindakan kejam. Ada lebih banyak pedoman daripada aturan ketat, dengan fokus untuk tinggal di rumah jika Anda sakit atau lanjut usia, mencuci tangan, dan menghindari perjalanan yang tidak penting, serta bekerja dari rumah.

“Kita yang dewasa harus persis seperti itu: orang dewasa. Tidak menyebarkan kepanikan atau rumor. Tidak ada yang sendirian dalam krisis ini, tetapi setiap orang memiliki tanggung jawab yang berat,” kata Perdana Menteri Stefan Löfven.

Sementara itu, ada tingkat kepercayaan yang tinggi pada otoritas publik di Swedia, yang diyakini banyak orang mendorong penduduk setempat untuk mematuhi pedoman sukarela. Demografi juga dapat menjadi faktor yang relevan dalam pendekatan negara. Berbeda dengan rumah multi-generasi di negara-negara Mediterania, lebih dari setengah rumah tangga Swedia terdiri dari satu orang, yang mengurangi risiko penyebaran virus dalam keluarga.

Sementara itu, orang Swedia menyukai alam bebas dan para pejabat mengatakan bahwa menjaga orang sehat secara fisik dan mental adalah alasan lain mereka ingin menghindari aturan yang akan membuat orang terkurung di rumah.

“Kita harus menggabungkan upaya meminimalkan dampak kesehatan dari wabah virus dan dampak ekonomi dari krisis kesehatan ini. Komunitas bisnis di sini benar-benar berpikir bahwa pemerintah Swedia dan pendekatan Swedia lebih masuk akal daripada di banyak negara lain,” kata Andreas Hatzigeorgiou, CEO di Kamar Dagang Stockholm.

Namun, ketika orang-orang Swedia menyaksikan seluruh Eropa terhenti, yang lain mulai mempertanyakan pendekatan unik negara mereka.

“Saya pikir orang cenderung mendengarkan rekomendasi, tetapi dalam situasi kritis seperti ini, saya tidak yakin itu cukup,” kata Dr Emma Frans, seorang ahli epidemiologi yang berbasis di universitas medis Swedia The Karolinska Institute.

Dia menyerukan “instruksi yang lebih jelas” untuk orang-orang tentang bagaimana mereka harus berinteraksi di tempat-tempat umum seperti toko-toko dan pusat kebugaran, sementara bisnis sedang berjalan untuk beberapa orang, yang lain sedang berjuang.

“Istri saya juga memiliki perusahaan sendiri, jadi kami sangat bergantung pada diri kami sendiri. Bisnis buruk. Saya masih harus membayar tagihan. Kami harus menghubungi bank,” kata pemilik Al Mocika.

Baca juga: Maskapai Swedia dan Inggris Dorong Awak Kabin Jadi Relawan Rumah Sakit Selama Pandemi

Dia menaruh uangnya pada Swedia untuk mengubah taktik dan memaksakan penguncian, sesuatu yang tidak dikesampingkan oleh pejabat di masa depan. Dr Emma Frans mengatakan sejarah akan menjadi hakim yang politisi dan ilmuwan di seluruh Eropa telah membuat panggilan terbaik sejauh ini.

“Tidak ada yang benar-benar tahu pengukuran apa yang akan paling efektif. Aku cukup senang bahwa aku bukan orang yang membuat keputusan ini,” kata dia.

Wow, Paris-Amsterdam Hanya 90 Menit dengan Hyperloop

Perusahaan start up asal Belanda, Hardt Hyperloop, belum lama ini mengumumkan hasil penelitian bersama otoritas di Provinsi Belanda Utara terkait eksperimen moda transportasi super cepat hyperloop. Hasilnya, waktu tempuh Paris-Amsterdam sejauh 507,5 km dapat ditempuh hanya 90 menit perjalanan.

Baca juga: Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana

Dikutip dari CNN International, 90 menit perjalanan dari Paris-Amsterdam sudah barang tentu jauh lebih cepat dibanding menggunakan mobil (membutuhkan waktu hampir 6 jam), kereta (hampir 3 jam), bahkan nyaris menyamai waktu tempuh dengan menggunakan pesawat direct. Tak hanya Paris-Amsterdam, hasil penelitian juga mengungkap Hyperloop mampu mempersingkat waktu hampir setengah dari perjalanan dengan menggunakan kereta antara Amsterdam-Brussel atau kurang lebih 1 jam perjalanan.

Selain itu, dalam laporan hasil penelitian tersebut juga ditemukan, bila nantinya jaringan hyperloop seluruh Eropa sudah tersedia maka aka nada lebih banyak interaksi antar kota-kota di Eropa. Interaksi tersebut bisa dimaknai banyak hal, seperti traveling, bisnis, budaya, dan manfaat ekonomi lainnya yang luar biasa.

Hyperloop besutan perusahaan asal Belanda itu ditaksir mampu mengangkut 200 ribu penumpang per jam dalam satu relasi perjalanan satu arah dan tentu saja mampu melaju dengan kecepatan hingga 100 kilometer per jam, jauh lebih cepat dibanding kereta cepat Perancis (TGV).

Dengan adanya fakta-fakta penelitian tersebut, setidaknya membuktikan bahwa pencanganan pembangunan jaringan Hyperloop di masa mendatang bukanlah isapan jempol belaka dan progresif. Bahkan, progres yang ditempuh tergolong cepat, setelah Juni tahun lalu memulai langkah besar dengan mendirikan fasilitas pengujian.

Perlombaan untuk menghadirkan moda transportasi darat super cepat tersebut memang belakangan telah terjadi di seluruh dunia. Sejak pertama kali muncul pada 2014 lalu, Hyperloop seolah menjadi ajang unjuk gigi negara-negara dengan reputasi tinggi di bidang teknologi, seperti Jerman, Amerika, Cina, dan negara lainnya. Berbagai negara pun juga tak sabar untuk memulai proyek Hyperloop di negara mereka.

Tahun 2017 lalu tepatnya pada bulan September, Hyperloop Transportation Technologies (HTT) melakukan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama dengan negara bagian Andhara Pradesh, India, untuk menghadirkan moda berkecepatan super tersebut untuk menghubungkan dua kota besarnya, Amaravati dan Vijayawada.

Adapun waktu tempuh antara dua kota tersebut kurang lebih sekitar satu jam menggunakan mobil, dan hanya memakan waktu enam menit saja jika menggunakan Hyperloop. Pihak HTT akan memulai studi kelayakan selama enam bulan terhitung sejak Oktober mendatang. Tidak hanya studi kelayakan, HTT juga sembari menentukan jalur pemasangan tabung yang cocok di antara dua kota tersebut. Jika tidak menemukan hambatan, pihak HTT mengaku siap untuk memulai pembangunan.

Di Timur Tengah, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan Hyperloop asal Amerika, juga telah menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa pihak terkait pengadaan Hyperloop yang menghubungkan Dubai dan Abu Dhabi. Tidak hanya itu, Virgin Hyperloop One juga memaparkan gambaran jaringan yang menghubungkan kota-kota di hampir seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Kuwait City di Kuwait, Jeddah di Arab Saudi dan Muscat di Oman.

Di Australia, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengajukan rencana untuk pembangunan jaringan kereta cepat di negara berjuluk Negeri Kangguru tersebut. Pengadaan jaringan kereta cepat ini, menurut Scott, merupakan satu dari serangkaian rencananya untuk mengentaskan kemacetan di Australia.

Selain itu, visi strategis lain dari pengadaan kereta cepat ini adalah untuk memangkas waktu perjalanan antar negara, dimana diperkirakan para komuter bisa pergi dari Sydney menuju Brisbane (maupun sebaliknya) hanya dalam waktu setengah jam saja.

Baca juga: Setelah Dubai, Giliran Cina Hadirkan Moda Maglev dari Hyperloop Transportation Technology

Di Cina, salah satu perusahaan pengusung ide transportasi ini, Hyperloop Transportation Technology (HTT) telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Tongren Transport, Tourism and Investment Group milik Pemerintah Cina untuk membangun lintasan Hyperloop yang menghubungkan pusat kota dengan Tongren Fenghuang Airport, Guizhou, Cina. Adapun kontrak kerja sama ini bernilai $295 juta atau yang setara dengan Rp 4,3 tiliun.

Hyperloop sendiri adalah pod yang mampu melaju dengan kecepatan tinggi dalam terowongan. Hyperloop, yang pertama kali dibayangkan oleh Elon Musk, pendiri Tesla, pada 2013, digambarkan mampu memindahkan manusia maupun kargo dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam, menggunakan tabung bertekanan rendah yang hampir tidak bergesekan dengan lintasan. Chris Dulake, konsultan Mott MacDonald, sebuah perusahaan yang bekerja di Terminal 5 Bandara Bawah Tanah London dan Bandara Heathrow memperkirakan, Hyperloop pertama baru mulai mendapatkan sertifikasi pada 2030 mendatang.

HAECO Luncurkan Inovasi Mudahkan Kargo di Kabin Penumpang

Virus corona telah mengubah wajah penerbangan dunia. Betapa tidak, bila selama ini kabin penumpang lazimnya mengangkut manusia, gara-gara corona, kabin penumpang pun terpaksa dimuat kargo tanpa satupun penumpang, semata untuk memaksimalkan utilitas dalam setiap penerbangan.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Skema untuk memaksimalkan langkah tersebut pun beragam, mulai dari mencopot seluruh kursi dan diisi kargo, mencopot sebagian kursi, atau tidak mencopot kursi sama sekali namun kargo tetap dimuat di dalam kabin penumpang dengan diletakkan di atas kursi yang sebelumnya telah dilapisi pelindung agar kursi tak rusak.

Kabin penumpang Boeing 777-200 milik Austrian Airlines disulap menjadi kargo untuk memaksimalkan kapasitas angkut dalam sekali jalan. Foto: Austrian Airlines

Namun, bila diamati secara detail, sebetulnya skema di atas belum sepenuhnya aman dan memudahkan operator penerbangan atau maskapai. Sebab, pada dasarnya, kabin penumpang tidak dirancang untuk memuat kargo, sehingga fasilitas pendukungnya pun juga terbatas. Misalnya,tidak tersedianya tali pengikat untuk memastikan kargo tak bergeser sejengkal pun selama penerbangan demi alasan keselamatan. Sebab, bila bergeser sedikit saja, mungkin bisa mempengaruhi keseimbangan pesawat.

Mensiasati celah keamanan dan potensi bisnis di sektor tersebut, belum lama ini, sebuah perusahaan perancang kursi dan produk interior pesawat, HAECO Cabin Solutions, merilis konsep penyimpanan baru yang memungkinkan maskapai penerbangan untuk menggabungkan penumpang dan kargo di kabin utama.

Secara keseluruhan, perusahaan asal Amerika tersebut menawarkan empat solusi yang berbeda, masing-masing dengan batas beban maksimum yang bervariasi mulai dari 454 kg hingga yang terkecil 108 kg. Media penyimpanannya pun juga bervariasi, mulai dari palet hingga penyimpanan yang disebut sebagai “seat and floor” yang memungkinkan maskapai untuk meletakkan kargo di kursi pesawat atau di lantai, tepat di depan kursi, lengkap dengan tali pengaitnya agar kargo tak bergeser saat terjadi guncangan.

Konfigurasi kabin penumpang campuran yang memuat kargo dan penumpang. Foto: HAECO

“Opsi-opsi ini (empat varian produk) memberikan keleluasaan lebih kepada maskapai untuk memuat barang-barang yang lebih besar di kabin jika lambung pesawat (kargo) sudah tak lagi mampu menampung, kecuali untuk bahan-bahan berbahaya dan mudah terbakar,” kata HAECO dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari flightglobal.com.

Selain itu, inovasi konsep penyimpanan tersebut juga memungkin maskapai untuk memiliki konfigurasi kargo dan penumpang sekaligus di dalam kabin utama. Tentu saja dengan tetap memperhitungkan tata letak agar keseimbangan di dalam kabin utama tetap tercapai. Bila demikian, mungkin inovasi tersebut akan sangat cocok diterapkan di tengah kondisi penerbangan seperti sekarang ini, dimana hampir tidak ada satupun penerbangan berjadwal dipadati penumpang. Artinya, banyak ruang kosong di kabin yang bisa dimanfaatkan maskapai untuk kelangsungan bisnis mereka.

Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Saat ini, HAECO menyebut pihaknya tengah mengajukan sertifikasi atas inovasi tersebut untuk dapat diaplikasikan di berbagai jenis pesawat, baik pesawat berbadan sempit atau narrowbody maupun berbadan lebar atau widebody. Diperkirakan, prosesnya akan memakan waktu sekitar 4-6 pekan ke depan.

Meskipun proses sertifikasi masih berlangsung, namun, perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat tersebut mengkalim bahwa beberapa klien telah menyampaikan minatnya atas produk mereka. Namun, HAECO belum mau menyebutkan pihak mana saja yang dimaksud.

Demi Raih Modal Lawan Corona, Bos Virgin Atlantic dan Virgin Australia Gadaikan Pulau Pribadi

Konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia, Richard Branson, mengaku akan menawarkan pulau pribadi miliknya di Necker Island, Karibia kepada Pemerintah Inggris dan Australia sebagai jaminan. Hal itu dilakukan semata agar dua maskapai miliknya bisa segera mendapatkan suntikan modal demi kelangsungan hidup perusahaan di tengah ketidakpastian bisnis penerbangan akibat pandemi virus Cina.

Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

“Kelangsungan hidup Virgin Atlantic dan Virgin Australia penting untuk memberikan kompetisi yang sangat dibutuhkan kepada British Airways, anak perusahaan IAG (ICAGY), dan Qantas (QABSY). Jika Virgin Australia menghilang (bangkrut), Qantas akan secara efektif memonopoli langit Australia,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.

Mengingat begitu krusialnya posisi Virgin Atlantic dan Virgin Australia dalam ekosistem bisnis penerbangan di Inggris dan Australia, Branson tanpa berpikir panjang menawarkan pulau pribadi miliknya sebagai jaminan. Asalkan, dengan itu, suntikan dana sebanyak-banyaknya bisa mengalir deras. Sejauh ini, ia sudah menggelontorkan sekitar $250 juta atau Rp 3,8 triliun (kurs Rp15,403) ke Virgin Group. Tentu saja angka yang cukup kecil bila dibandingkan suntikan modal lainnya yang didapat sebuah perusahaan penerbangan.

Singapore Airlines (SIA), misalnya, melalui Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya dikabarkan akan mendapatkan dana talangan sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292) ke maskapai flag carrier Singapura tersebut. Bila terwujud, hal itu digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus corona.

Demikian juga dengan EasyJet, maskapai asal Inggris yang juga telah mendapatkan suntikan modal sebesar $746,6 juta atau Rp11,4 triliun (kurs Rp15.403) dari pemerintah Inggris melalui Covid Corporate Financing Facility atau maskapai-maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masing-masing akan mendapatkan bailout sebesar puluhan miliar dolar.

“Realitas krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat banyak maskapai penerbangan di seluruh dunia membutuhkan dukungan pemerintah dan banyak yang telah menerimanya. Tanpa itu tidak akan ada kompetisi yang tersisa dan ratusan ribu pekerjaan akan hilang,” ujar Branson.

Akan tetapi, langkah Branson untuk mendapatkan suntikan modal dari pemerintah Inggris justru mendapat cibiran dari masyarakat. Penyebabnya, Branson dituding menghindar dari kewajiban pajak di Inggris dengan tinggal di Necker Island, Karibia. Padahal, Inggris menjadi salah satu ladang bisnis pengusaha yang mempekerjakan 70.000 orang di 35 negara tersebut.

Meski demikian, ia bersama perusahaannya pun, dalam hal ini Virgin Atlantic, tetap terus berikhtiar mendapatkan dana talangan dari pemerintah Inggris. Bahkan, kantor berita kenamaan di Inggris yang baru diakuisisi media massa terbesar di Jepang, Financial Times, melaporkan bahwa Virgin sebetulnya sudah hamper mendapatkan suntikan modal, namun saying proposal pinjamannya ditolak.

Penolakan proposal pinjaman Virgin oleh pemerintah Inggris tersebut bukan karena pemerintah tak memiliki cukup modal, melainkan angkanya terlalu kecil. Oleh karenanya, mereka (Virgin Atlantic) pun diminta untuk merevisi nilai pinjaman menjadi sebesar $622,2 juta Rp9,6 triliun.

Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri, belum lama ini telah merilis analisis terbaru yang menunjukkan lesunya penerbangan akibat pandemi corona. Jumlahnya tak main-main, maskapai dinilai akan kehilangan sekitar US$314 miliar atau Rp4.895 triliun pada tahun 2020, atau turun hingga 55 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Nyaris sebulan sebelum IATA merilis analisa terbarunya, Airline Passenger Experience Association (APEX) telah lebih dahulu menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau COVID-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai Rp3.805 triliun.

Lockdown di Turki, Bikin Beruang Cokelat Cari Makan di Stasiun

Beberapa negara saat ini melakukan lockdown atau penguncian untuk mencegah meluasnya pandemi virus corona atau Covid-19. Hal ini kemudian membuat moda transportasi juga berhenti beroperasi karena sepinya penumpang bahkan nyaris tidak ada.

Baca juga: Yang Unik dari Turki, Kolonya Digunakan Sebagai Hand Sanitizer

Namun uniknya di beberapa negara, satwa liar pun memasuki ruang publik selama lockdown. Seperti yang terjadi di Turki di mana beruang berkunjung ke moda transportasi. Dalam sebuah rekaman video, seekor beruang cokelat terlihat mengunjungi stasiun layang trem di Provinsi Bursa Turki untuk mencari makan.

Kedatangan beruang tersebut ke stasiun setelah Turki memberlakukan jam malam 48 jam di kota-kota besarnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman thenational.ae (12/4/2020), video tersebut diambil oleh petugas keamanan yang tengah menjaga stasiun dan bersembunyi di balik meja yang tertutup layar kaca.

Terlihat dalam video, beruang mondar-mandir kemudian berdiri melongok ke sebuah meja kosong tanpa apa-apa. Kemudian beruang itu mencium di sekitaran mesin penjual otomatis.

Karena tidak menemukan apapun beruang cokelat tersebut keluar dengan memanjat pagar besi stasiun. Namun ternyata bukan hanya di turki yang satwa liar berkeliaran dengan bebas. Di India ratusan monyet telah mengambil alih jalan-jalan sekitaran istana kepresidenan India di New Delhi.

Kemudian di ibukota keuangan yakni di Mumbai, burung-burung merak terlihat bertengger di atas mobil-mobil yang terparkir memperlihatkan keanggunan mereka. Tak hanya itu, di Wales utara, kawanan kambing berkeliaran di kota Llandudno ketika penduduk tetap pada peraturan lockdown. Bahkan video dan foto yang menunjukkan makhluk-makhluk tengah mengunyah dedaunan di taman dan tempat parkir hotel.

Diketahui, penerapan jam malam 48 jam untuk 31 provinsi di Turki berlangsung sejak akhir pekan lalu yang berdampak pada tiga perempat populasi di Turki. Lockdown mendadak ini menyebabkan kekacauan karena jam malam diumumkan hanya dua jam sebelum diberlakukan yang menyebabkan kepanikan belanja di beberapa daerah ketika orang berbondong-bondong ke toko kelontong dan toko roti yang lupa memperhatikan jarak

Baca juga: Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi

Saat ini jumlah total kasus Covid-19 di Turki mencapai 90.980 kasus. Meningkatnya kasus positif ini dipengaruhi tingginya tes Covid-19 yang diselenggarakn negara tersebut. Meski begitu pasien yang sembuh di Turki dilaporkan sebanyak 13.430 orang.

Pengemudi Bus di Jamaika Maafkan Penumpang yang Tularkan Covid-19

Menjadi salah satu orang yang positif virus corona atau Covid-19 bukanlah hal yang enak dan mudah dalam menjalani kehidupannya. Mereka banyak yang dijauhi bahkan dianggap menjadi pembawa pandemi kepada keluarganya. Padahal mereka yang terinfeksi tidak ingin virus itu ada di tubuh mereka, tapi apa daya, nyatanya saat ini banyak orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkannya ke orang lain.

Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Hal ini pun terjadi pada seorang pengemudi bus di Jamaika yang tidak tahu salah seorang penumpang yang diangkutnya terinfeksi virus ini. KabarPenumpang.com melansir jamaicaobserver.com (19/4/2020), pria bernama Kimar Service kemudian menceritakan bagaimana dirinya terinfeksi Covid-19 di media sosialnya.

Dia bahkan tidak menyalahkan penumpang wanita yang menularkan virus tersebut kepada dirinya. Dia menyebutkan dalam video bahwa dirinya saat ini berada di ranjang yang bersebelahan di Rumah Sakit Regional Cornwall di St James, Jamaika. Hal ini yang membuat Kimar memiliki kesempatan untuk mengatakan bahwa dirinya tidak marah kepada wanita tersebut.

“Dia bertanya kepada saya, tetapi dia tidak tahu kalau dirinya terinfeksi saat naik bus,” kata Kimar.

Kimar berharap orang lain akan sepaham dengan dirinya, sehingga ketika nantinya pulih, dirinya masih bisa mencari nafkah sebagai pengemudi bus. Dia mengaku sejak tersebar bahwa dirinya dinyatakan positif, sangat sulit untuk keluarganya, dan ia disalahkan karena membawa virus ke komunitasnya di Springfield, St james.

“Ibarat aku bawa ya sudah, aku mau apa lagi, jadi yang aku rasakan saja,” katanya.

Kimar sendiri adalah pencari nafkah tunggal untuk keluarganya meski punya saudara laki-laki namun kakinya patah. Ibunya yang berusia 61 tahun yang juga penederita hipertensi dan diabetes serta masalah ginjal. Selain itu anak dan istrinya juga masih menjadi tanggungannya.

Namun mereka semua harus dikarantina sembari menunggu hasil tes. Kimar melalui video di WhatsApp mengkonfirmasi bahwa dirinya memiliki virus menyusul desas desus yang terus menerus mengatakan bahwa keluarganya terinfeksi setelah dirinya mengambil penumpang positif Covid-19 di bandara.

“Saya ingin masyarakat tahu itu tidak benar. Pada tanggal 6 April saya sedang melakukan pekerjaan rutin, rutin, sehari-hari dari Kota Maroon ke Teluk Montego. Saya mengambil penumpang. Saya tidak tahu dia memilikinya,” katanya.

“Dia duduk di depan, tepat di sampingku. Empat hari kemudian, saya mendapat telepon yang mengatakan bahwa saya telah melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki virus sehingga saya harus diuji. Empat hari kemudian, tes kembali positif,” tambahnya.

Kimar mengatakan dia mengisolasi dirinya segera setelah mendapat telepon bahwa dia telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, dan pejabat kesehatan yang berbicara dengannya setelah dia melakukan tes menyuruhnya untuk mengisolasi diri. Pada hari-hari setelah tes, pejabat kesehatan akan menelepon untuk memastikan dia tinggal di rumah, serta memintanya untuk mengambil dan melaporkan suhunya menggunakan termometer yang mereka berikan. Dia juga diminta untuk mencatat gejala Covid-19.

Tetapi selama empat hari sebelum itu, ia menjalani kehidupannya tanpa menyadari bahwa ia berpotensi menyebarkan penyakit mematikan, yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia, kepada keluarga dan penumpangnya. Dia tidak pernah mengenakan topeng atau sarung tangan saat bekerja, dan ingat bahwa pada hari dia terinfeksi dia naik ke atas, seperti biasa, untuk mengobrol dengan ibunya.

Otoritas kesehatan telah berulang kali menekankan bahwa orang berusia di atas 60 tahun dan dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya seperti hipertensi sangat rentan terhadap penyakit. Ketika ditanya berapa banyak penumpang yang telah diangkut selama empat hari sebelum dia tahu dia terkena virus, Kimar berkata dengan suara berat, “Banyak.”

Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja

Dia tidak memiliki gejala selama empat hari itu, katanya, dan dia masih belum mengalaminya, bahkan dengan tes positifnya. Dari tempat tidur rumah sakit pada hari Sabtu ia menawarkan saran kepada publik, “Sederhana saja, pakai masker dan sanitasi.