[Video] Detik-detik “Motor Terbang” Kepolisian Dubai Jatuh dari Ketinggian 30 Meter

Sebuah hoverbike buatan perusahaan asal Rusia, Hoversurf, jatuh dari ketinggian setara tujuh lantai atau sekitar 30 meter di Dubai. Beruntung, sang pilot tak mengalami cedera serius, mengingat baling-baling berada cukup dengan dengan kaki. Namun, sebetulnya, kejadian tersebut sudah terjadi sejak 2017 lalu dan baru dirilis videonya (kecelakaan) oleh perusahaan.

Baca juga: Jadi Subjek Kampanye Indiegogo, Aero Hover-1 Rilis Dua Moda Andalannya

Dalam tayangan video yang diunggah di channel HOVERSURF OFFICIAL dari laman New Atlas, hoverbike yang diterbangkan di sebuah lapangan luas itu awalnya mengudara dengan mulus. Bahkan, sang pilot dengan setelan serba hitam (termasuk helm) sempat melambaikan tangan kanannya saat Hoversurf Scorpion tengah berada di udara.

Tak lama setelah itu, hoverbike yang sedang didemonstrasikan tersebut sebetulnya sempat berakselerasi sebelum sebelum akhirnya kehilangan ketinggian, kehilangan kendali, jatuh dan hancur. Sang pilot yang sempat terguling juga nyaris terkena bilah kipas baling-baling yang masih terus berputar sekalipun sudah jatuh ke daratan. Namun demikian, kalaupun terkena bagian kaki, tampak sang pilot sudah mempersiapkannya dengan memakai pengaman di kakinya, di bagian lutut ke bawah.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=52&v=sBiYM8gqQ3Y&feature=emb_logo

Dari deskripsi di kanal resminya, perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat ini beralasan bahwa kecelakaan dalam demonstrasi pasca penandatanganan perjanjian pembelian antara perusahaan dan pemerintah Dubai itu disebabkan oleh disfungsi barometer. Tak dijelaskan lebih detail maskud fungsi barometer di Hoversurf Scorpion.

Namun, dari beberapa literatur, barometer pada hoverbike setara dengan fungsi keseimbangan atau mempertahankan ketinggian saat di udara. Bila dihubungkan dengan video detik-detik hoverbike jatuh di Dubai dari ketinggian 100 meter memang ada benarnya. Sebelum jatuh, tampak hoverbike kehilangan ketinggian dan lepas kendali hingga berujung jatuh.

Selain itu, fitur keamanan yang diklaim perusahaan berfungsi dengan baik saat terjadinya kecelakaan dan berhasil membuat pilot selamat tanpa cedera juga diragukan beberapa pihak. Sebagaimana fungsi barometer, fitur kemanan yang dimaksud Hoversurf juga tak dijelaskan lebih lanjut.

Pasca kejadian itu, hoverbike atau motor terbang yang kelak digunakan kepolisian Dubai mulai tahun 2020 itu diisukan batal dilaksanakan karena alasan keamanan. Namun, hingga kini belum ada kejelasan apapun terkait kelanjutan penggunaan sepeda motor bersumber tenaga listrik atau disebut electric vertical take-off and landing (eVTOL) tersebut.

Akan tetapi, terlepas dari kelanjutan kontrak Hoversurf dengan Dubai, kecelakaan tersebut setidaknya telah membuat miliaran rupiah terbuang sia-sia. Maklum, hooverbike tersebut dibanderol seharga US$150.000 atau setara Rp 2,2 miliaran.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Sebagai kendaraan yang kelak akan membantu tugas kepolisian Dubai, tentu saja spesifikasinya harus mumpuni. Paling tidak, dari segi ketinggian dan durasi terbang dalam sekali cas. Agar lebih jelas, berikut spesifikasinya.

Hoversurf Scorpion Hoverbike
Berat: 104 kg
Kecepatan maksimum: 69 km/jam
Ketinggian aman terbang: 4,8 meter
Waktu terbang dengan pilot: 10-25 menit
Waktu terbang dengan menggunakan drone: sampai 40 menit
Waktu pengecasan: 2.5 jam
Harga: $150.000 atau setara Rp 2,2 miliar.

Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) gelombang kedua kembali dilakukan Emirates pada hari Selasa (9/6/2020). Mereka melakukan perubahan pada tenaga kerjanya untuk mengurangi biaya dalam menanggapi kesulitan ekonomi karena pandemi Covid-19.

Baca juga: Emirates Mulai Tahapan PHK, Dimulai dari Staf Kontrak

Meski begitu, pada PHK gelombang kedua ini, Emirates tidak menyebutkan secara rinci berapa banyak yang akan diberhentikan. Namun sumber yang tidak disebutkan mengatakan ada 400 pilot Airbus A380 dan A200, Boeing 777, serta 6.500 awak kabin dan beberapa teknisi telah diberhentikan.

KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (9/6/2020), maskapai ini juga telah memperpanjang pemotongan pembayaran 50 persen hingga September untuk menghemat keuangan karena mayoritas armada A380 dan Boeing 777 milik Emirates tetap beroperasi.

“Mengingat dampak signifikan pandemi terhadap bisnis kami, maka kami tidak dapat mempertahankan sumber daya berlebih dan harus mengukur jumlah tenaga kerja kami sesuai dengan pengurangan operasional. Setelah meninjau semua skenario dan opsi, kami sangat menyesal bahwa kami harus membiarkan beberapa orang kami pergi,” kata juru bicara Emirates.

Diketahui, pada Selasa (9/6/2020), ratusan pilot dan awak kabin Emirates telah dipanggil ke sebuah perguruan tinggi pelatihan in-house di kota untuk pertemuan individu. Selama pertemuan tatap muka satu-satu tersebut banyak dari mereka yang hadir mengatakan diberitahu akan menjadi mubazir karena maskapai memulai gelombang kedua PHK massal.

PHK gelombang kedua ini menargetkan karyawan dengan kasus-kasus disiplin aktif dan juga mereka yang telah menderita penyakit jangka panjang menurut sumber yang memahami masalah tersebut. Karyawan yang dipilih untuk pemberhentian, mereka menerima email sebelum tengah malam di hari Senin yang berisi undangan rapat.

Salah satu awak kabin yang di PHK mengatakan petugas keamanan ditempatkan di sekitar kampus pelatihan ketika para manajer memproses jajaran karyawan yang menghadiri pertemuan mereka. Para karyawan kemudian dikawal keluar dari pintu belakang tanpa terlihat orang lain di akhir pertemuan.

Bulan lalu, Emirates awalnya membantah laporan bahwa mereka telah membuat keputusan untuk memberhentikan hingga sepertiga dari tenaga kerjanya tetapi kemudian mengkonfirmasi bahwa kehilangan pekerjaan akan terjadi di seluruh bisnis. Maskapai menolak untuk mengatakan berapa banyak karyawan yang akan menjadi mubazir.

Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun

“Kami telah berupaya untuk mempertahankan keluarga saat ini sebagaimana adanya, kami meninjau semua skenario yang mungkin untuk mempertahankan operasi bisnis kami, tetapi sampai pada kesimpulan bahwa kami, sayangnya, harus mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang luar biasa yang bekerja dengan kami,” kata juru bicara Emirates pada 31 Mei.

Perancis Kucurkan Rp239 Triliun, Ratusan Ribu Karyawan Industri Penerbangan Batal PHK

Perancis dikabarkan telah merampungkan paket penyelamatan industri penerbangan senilai €15 miliar atau Rp239 triliun (kurs 1 euro = Rp15.725). Paket bantuan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan ratusan ribu karyawan di industri tersebut dari ancaman PHK, khususnya di dua perusahaan besar di negara itu, yakni Airbus dan Air France.

Baca juga: Aneh, Meski ‘Berdarah-darah’, Airbus Tak Butuh Bantuan Pemerintah Perancis

“Pemerintah akan melakukan segalanya untuk mendukung industri Perancis ini (industri penerbangan) yang sangat penting bagi kedaulatan, lapangan pekerjaan, dan ekonomi kita,” kata Menteri keuangan, Bruno Le Maire, seperti dilaporkan The Guardian.

“Kami menyatakan keadaan darurat untuk menyelamatkan industri penerbangan sehingga bisa lebih kompetitif,” tambahnya.

Selain itu, Le Maire juga menekankan, dikucurkannya dana sebesar itu juga dimaksudkan untuk melindungi persaingan produsen pesawat global ke arah duopoli antara Boeing dan Comac dari Cina, sekalipun hal itu dinilai oleh beberapa pengamat jauh dari kenyataan.

Dari total €15 miliar, disebutkan €7miliar di antaranya akan disalurkan ke Air France, yang notabene sangat terpukul akibat anjloknya industri penerbangan global. Betapa tidak, seluruh armada maskapai yang telah didirikan sejak tahun 1933 dikabarkan nyaris seluruhnya digrounded dalam beberapa bulan terakhir. Dana tersebut diproyeksikan oleh perusahaan yang merugi 1,8 miliar euro pada kuartal I 2020 untuk membeli 60 pesawat Airbus A220 dan 38 jet A350. Dengan begitu, Airbus secara tak langsung akan terkena dampak positif dari paket bantuan ini, sekalipun mereka tak benar-benar menerimanya.

Tak hanya itu, dana 1,5 miliar euro dari total 15 miliar euro yang akan dikucurkan bakal dipergunakan untuk penelitian mengenai pesawat netral karbon selama tiga tahun ke depan. Pesawat netral karbon itu direncanakan bisa beroperasi pada 2035 mendatang. Dalam hal ini, Pemerintah Prancis, Airbus, dan perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, dan Safran juga akan berkontribusi dengan memberikan dana masing-masing sebesar 200 juta euro.

Baca juga: Sambut The New Normal, Airbus Kembali ‘Putar Otak’ Demi Bertahan Hidup

Sebelumnya, pada akhir Mei lalu, pemerintah Perancis mengucurkan delapan miliar euro atau setara Rp125,7 triliun untuk menyelamatkan industri otomotif. Paket stimulus itu diluncurkan guna menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri dan pengembangan pasar mobil listrik.

Di tempat terpisah, pada Selasa lalu, asosiasi penerbangan global, IATA, dalam rilisnya menyebut bahwa dana talangan yang dikucurkan oleh pemerintah, bank, lessor, financier di seluruh dunia setidaknya telah berkontribusi pada utang maskapai yang terkoreksi naik $120 miliar atau Rp1,6 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847) selama pandemi menjadi total $550 miliar atau Rp7,766 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847). IATA juga memperingatkan bahwa maskapai penerbangan global menuju kerugian kolektif $84,3 miliar atau Rp1,172 triliun (kurs 1 dollar = Rp13.847) pada tahun 2020, terbesar dalam sejarah di industri penerbangan global.

Ada “Zona Merah” Buat Operasional Ojol di Jakarta, Inilah Dampaknya!

Pembagian zona seperti zona hijau, zona kuning, zona merah dan zona hitam ada setelah banyaknya warga indonesia yang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Bahkan sebagian besar wilayah Indonesia masih masuk dalam zona merah.

Baca juga: Pengguna GoJek Kini Bisa Cek Suhu Tubuh Pengemudi Lewat Aplikasi

Nah sebenarnya apa sih arti dari pembagian zona ini? Zona hijau artinya wilayah atau daerah tersebut sudah tidak ada yang terinfeksi Covid-19, sehingga aktivitas berjalan seperti biasanya. Zona kuning berarti masih ada beberapa kasus penularan dan dilakukan pembatasan sosial secara parsia.

Zona merah artinya masih ada kasus Covid-19 pada satu atau lebih klaster dengan peningkatan kasus yang tinggi. Dalam kasus ini diperlukan protokol kesehatan yang serius seperti menutup sekolah, tempat ibadah dan bisnis.

Sedangkan zona hitam mengartikan suatu daerah sudah parah dan sangat darurat. Tapi, saat ini, KabarPenumpang.com akan membahas zona merah dan dampaknya pada layanan transportasi online.

Sebanyak 66 rukun warga atau RW di seluruh ibukota Jakarta masih masuk dalam kategori zona merah Covid-19. Pada 66 RW ini ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat Covid-19 karena jumlah orang positif Covid-19 masih sangat tinggi.

Meski pembatasan sosial berskala besar atau PSBB sudah dalam masa tahap transisi, ternyata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengeluarkan Surat Keputusan No.105/2020 tentang Pengendalian Sektor Transportasi Untuk Pencegahan Covid-19 pada Masa Transisi Menuju Masyarakat Sehat, Aman, dan Produktif, disebutkan pada poin ketiga bahwa ojol tidak diizinkan beroperasi pada wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah pengendalian ketat berskala besar. Kemudian di poin keempat, Dishub menegaskan dan meminta pihak aplikator untuk membatasi peta operasional baik untuk GoJek maupun Grab agar tidak beroperasi di wilayah yang memiliki risiko penyebaran tinggi Covid-19.

Baca juga: PSBB Berlaku di Jakarta, Inilah Kebijakan GoJek dan Grab untuk Mudahkan Mitra Pengemudi

Bisa dikatakan dengan adanya pembatasan di 66 RW tersebut bisa saja membuat pendapatan mitra pengemudi ojek online berkurang. KabarPenumpang.com mencoba menghubungi salah satu aplikator yakni GoJek dan sampai berita ini diangkat belum ada konfirmasi apakah pihak para mitra pengemudi terkena dampak serius atau tidak.

Jadi ‘Kebanggaan’ Maskapai di Masa Pandemi, HEPA Ternyata Tidak Membuat Kabin Pesawat Bebas Corona!

Prosedur The New Normal mulai dijalankan oleh berbagai maskapai di seluruh dunia. Selain menggunakan masker, face shield, dan alat pelindung diri (APD), maskapai pada umumnya juga mengklaim penerbangan aman salah satunya juga berkat fitur HEPA pada pesawat.

Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

HEPA atau High Efficiency Particulate Arresting sendiri merupakan filter khusus yang dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 0,2,5-0,3 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh. HEPA juga diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis yang terkandung di udara.

Cara kerja HEPA tak terlalu rumit. Agar lebih mudah, bayangkan saja sebuah saringan udara yang biasanya terdapat di berbagai tempat, mulai dari kendaraan bermotor hingga ventilasi. Hanya saja, filter tersebut berukuran jauh lebih kecil mencapai 0,2,5-0,3 mikrometer. Udara masuk melewati filter tersebut. Bila ukuran terlalu besar, maka partikel akan tertahan di filter. Begitu pula sebaliknya.

Adapun di pesawat, HEPA tak bekerja sendirian. Dilihat KabarPenumpang.com dari Instagram resmi Airbus, udara bersih dari luar pesawat mula-mula udara bersih masuk ke air conditioning pack, kemudian melewati mixing unit dan disalurkan ke HEPA. Dari situ, kemudian udara di suplai ke ruangan dengan model penyebaran membentuk ‘O’ dan berakhir di bawah kursi penumapang. Udara tersebut kemudian per 2-3 menit sebagiannya kembali ke jalur semula, melewati filter HEPA dan sebagian lainnya dibuang keluar.

Sayangnya, karena memiliki batasan, HEPA pada akhirnya tetap saja tak bisa dijadikan ‘barang dagangan’ oleh maskapai, demi membuat industri penerbangan kembali seperti sediakala. Singkatnya, bila terdapat patogen di bawah 2,5-3 mikrometer, sudah pasti HEPA tak mampu menahannya.

Dikutip dari molekule.science, HEPA diakui memang ampuh untuk menyaring berbagai partikel agak besar seperti tungau debu, bulu hewan, dan serbuk sari (pollen). Namun, tidak untuk partikel di bawah itu, semisal jamur, Volatile Organic Compounds (VOCs) sejenis bahan kimia yang terbawa melalui udara (biasanya terdapat di produk kosmetik), virus, bakteri, dan berbagai partikel lainnya di bawah 2,5-3 mikrometer.

Dengan data tersebut, tak heran bila Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) sejak 2017 lalu sudah mengatur sekaligus mematahkan klaim bahwa produk-produk berbasis filter HEPA dapat membebaskan objek atau lingkungan dari virus atau patogen tak kasat mata.

Parahnya lagi, berbagai bakteri tertentu yang tersangkut di filter HEPA, justru disebut tidak mati dan malah berkembang biak dengan suplai patogen lainnya yang juga tersangkut di filter tersebut. Dengan asupan ‘gizi’ itu, sejumlah bakteri tertentu kemudian akan semakin kuat atau membesar dan bila tak dibersihkan akan kembali terlepas di udara dan terhirup manusia.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Bagi bakteri tertentu, sebelum mati tersangkut di filter HEPA, mereka sebetulnya mempunyai ‘senjata’ untuk mempertahankan diri dan akan dikeluarkan secara alamiah saat sedang ‘sekarat’ berupa endotoksin ke dalam aliran udara. Studi telah menunjukkan bahwa endotoksin menyebabkan respons inflamasi (peradangan) dan atopik (peradangan kulit) pada sampel uji non-asma dan asma. Jika sudah demikian, tentu sangat kelilru dan menyesatkan bila maskapai mengklaim udara di dalam pesawat terbebas dari berbagai partikel; dalam hal ini virus corona atau Covid-19.

Sebagai informasi, HEPA sendiri mulai dikembangkan oleh ilmuan pada 1950. Kala itu, Komisi Energi Atom AS membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan partikel radioaktif kecil, sehingga dikembangkanlah filter HEPA ini. Sejak itu, filtrasi HEPA telah digunakan dalam pembersih udara untuk membersihkan dalam ruangan di berbagai tempat, seperti ruang medis dan salon kecantikan. Teknologi HEPA juga merupakan bagian dari perawatan yang digunakan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala alergi dan asma.

Setelah Tiga Dekade Dirahasiakan, Interior “Japanese Air Force One” Diperlihatkan ke Publik

Setelah lebih dari tiga dekade dirahasiakan, interior Japanese Air Force One atau pesawat kenegaraan Jepang akhirnya dipamerkan ke publik mulai tanggal 5 Juni lalu waktu setempat. Rencananya, Boeing BA 747-400 yang sudah berpindah tangan ke swasta itu akan terus dipamerkan hingga beberapa hari ke depan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan selama di area pameran.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Dalam pameran tersebut, pengunjung akan disuguhkan dengan ruang VIP pesawat, dimana perdana menteri dan keluarga kekaisaran Jepang banyak menghabiskan waktu di area tersebut selama dalam penerbangan. Ruangan tersebut terletak di bagian hidung pesawat, tepat di bawah kokpit yang berada di lantai atas.

Sebagai pesawat kenegaraan, sudah barang tentu pesawat disulap sedemikian rupa untuk mendukung tugas-tugas pemimpin negara. Tak heran bila pesawat yang sudah dioperasikan oleh Jepang sejak tahun 1993 hingga 2019 dilengkapi dengan berbagai fitur, mulai dari meeting room, tempat tidur, sofa panjang, televisi, meja meeting panjang, telepon satelit, hingga kursi premium. Semua fitur-fitur tersebut hanya dapat ditemukan di ruang VIP.

Sayangnya, pengunjung pameran yang digelar di Ishikawa Aviation Plaza, museum dirgantara kebanggaan masyarakat Jepang yang terletak di kota Komatsu, Prefektur Ishikawa ini tidak diperkenankan masuk, melainkan hanya melihat dari luar saja. Panitia penyelenggara telah menyiapkan sebuah dinding kaca besar transparan untuk memfasilitasi pengunjung melihat-lihat sekaligus membatasinya. Jadi, pameran di museum tersebut hanya menyuguhkan ruang VIP saja dari sekian banyak area di pesawat dalam bentuk utuh. Adapun bagian lainnya dipamerkan di Air Park, Hamamatsu, tak jauh dari Tokyo dan Osaka.

Atas dasar keselamatan dan keamanan VIP, pesawat kenegaraan yang telah mengantarkan perdana menteri Jepang dan keluarga kekaisaran ke seluruh dunia itu interiornya memang tak pernah diketahui publik; termasuk pada saat pendekorasian ulang, dari standar pabrik ke standar pesawat kenegaraan Jepang. Di beberapa negara, bahkan, lebih ketat lagi. Jangankan interiornya, kapan pesawat tersebut mengudara bahkan tak pernah boleh diketahui publik.

Diberitakan Forbes, dari tiga dekade yang dilalui, Japan’s Air Force One tercatat pernah mengalami periode tersibuk pada tahun 2005 dengan 21 misi yang mencakup kunjungan kenegaraan, tugas keluarga Kekaisaran, dan penerbangan untuk mendukung bantuan kemanusiaan pasca gempa bumi Kashmir di Pakistan. Namun, secara keseluruhan, Boeing BA 747 yang tugasnya sudah digantikan oleh Boeing 747-8 ini telah terbang ke lebih dari 250 kota di 100 negara di dunia.

Baca juga: Tak Sadar Injak Tisu Saat Naiki Air Force One, Video Donald Trump Menjadi Viral

Walaupun tak secara gamblang mengakui, keputusan Jepang untuk mempertahankan interior pesawat kenegaraan dinilai menyadur sekutunya, Amerika Serikat, dimana seluruh pesawat legendaris yang banyak berjasa untuk negeri, termasuk pesawat kenegaraan atau US Air Force One, diabadikan di berbagai museum di seluruh penjuru negeri.

Namun, Jepang tidak serta melakukan hal itu. Sebelumnya, pesawat kenegaraan terlebih dahulu dijual dengan harga fantastis sebesar Rp398,8 M atau sebesar USD 28 juta mulai tahun lalu. Dari dua pesawat itu, satu di antaranya dikabarkan sudah laku dan tengah dikonversi menjadi pesawat kargo. Nah, satu pesawat lainnya itulah yang sampai saat ini belum laku dijual dan tengah dipertimbangkan untuk diabadikan di museum.

Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020

Praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, menyebut maskapai-maskapai dalam negeri sudah mulai ‘macet’ membayar tagihan leasing pesawat sejak Maret lalu. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang sudah sejak sebelum Maret menunda kewajiban pebayaran pesawat. Itu berarti, beberapa maskapai dalam negeri sudah ‘susah’ sejak sebelum adanya kasus corona pertama di Indonesia (pada awal Maret).

Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor

“Bervariasi ya (penundaan pembayaran), ada yang Maret, ada yang dari lebih awal lagi bahkan,” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa, (9/6).

Tanpa menyebutkan lebih rinci maskapai mana saja yang mengalami keterlambatan pembayaran ke leasing, partner dari firma hukum Dentons HPRP itu menjelaskan, saat ini posisi lessor dalam menanggapi keterlambatan pembayaran tersebut dengan kooperatif.

Pada umumnya, lessor yang diwakilkan olehnya untuk meminta kewajiban pembayaran dari maskapai-maskapai dalam negeri cenderung dingin, dalam artian, masih memberikan keluasan waktu kepada mereka untuk menunda pembayaran.

Hanya saja, dalam jangka waktu tertentu, bukan tak mungkin lessor atau kreditur akan bertindak lebih ‘keras’ lagi untuk memaksa maskapai-maskapai menunaikan kewajiban pembayaran. Hal itu dikarenakan, kemampuan keuangan lessor berbeda-beda. Sudah begitu, tak semua lessor adalah pemilik pesawat langsung yang disewa oleh maskapai. Boleh jadi, lessor tersebut juga berhutang kepada financier untuk memberikan modal membeli pesawat yang pada akhirnya disewakan kembali ke maskapai.

“Lessor ini bukan hanya lessor sebagai pemilik pesawat, bisa juga mereka sebetulnya finance dari pesawat tersebut. Jadi, semua ya memang ada batas waktunya. Batas waktunya ini memang sebelum mereka melakukan tindakan-tindakan yang lebih keras, seperti direpossesion lagi pesawatnya, saat ini belum mencapai ke sana,” ujarnya.

Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun

Bagi lessor-lessor kecil seperti di atas, yang mungkin hanya menyewakan pesawat dalam jumlah kecil, mereka bisa dibilang juga akan kesulitan ketika terjadi kredit macet akibat dari kegagalan maskapai menunaikan kewajiban utang. Namun, lain halnya dengan lessor besar semacam SMBC Aviation Capital. Salah satu lessor Garuda Indonesia itu dalam pengamatannya bisa bertahan sampai sekitar sembilan bulan dan tidak kesulitan jika debitur menunda membayar utang. Hal itu sangat dimungkinkan dengan capital reserves sekitar US$6,1 miliar atau Rp85 triliun lebih (kurs 1 dollar = Rp13.853).

Dalam perspektif ekosistem bisnis industri penerbangan, lessor juga disebutnya aman. Hanya saja itu berlaku dari segi pesawat baru, mengingat mereka bukanlah produsen dan bukan juga pengguna pesawat, sebagaimana airlines. Bila dilihat dari pesawat-pesawat yang sudah disewakan, tetap saja lessor dibilang sebagai salah satu yang terdampak, selain airlines dan produsen pesawat. Namun, kembali lagi, dengan kekuatan modal, setidaknya, lessor-lessor besar seperti GECAS, Avolon, dan SMBC tidak akan kesulitan menghadapi tantangan liquiditas di tengah wabah corona hingga beberapa bulan ke depan.

Walau Masih Lockdown, Rudal Tak Bertuan Sudah Hantam Bandara International Baghdad

Sebuah rudal tak bertuan mendarat di pinggiran atau perimeter Bandara International Baghdad, Irak, pada hari Senin, (8/6) waktu setempat. Beruntung, bandara terbesar di Irak itu masih memberlakukan lockdown sehingga tak menimbulkan korban jiwa dari pihak sipil.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Sejak 22 Maret lalu, Bandara International Baghdad memang sudah ditutup karena kebijakan lockdown di Irak demi mencegah penyebaran corona. Sebab, negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni itu (lawan dari Syi’ah/Iran) berbatasan langsung dengan Iran yang menjadi episenter penyebaran virus corona di Timur Tengah. Terakhir, total kasus positif di Irak saat ini mencapai 13 ribu pasien, di mana 400 pasien di antaranya meninggal dunia.

Kantor berita Al Arabiya menyebut, rudal tersebut mendarat di sebelah Selatan bandara dan menghantam pusat markas koalisi pimpinan-AS. Menurut dugaan awal, besar kemungkinan, misil tersebut dikirim juga dari Selatan bandara. Bila benar demikian, tentu serangan tersebut berbeda dengan serangan sebelum-sebelumnya di tahun ini, dimana pada umumnya roket diluncurkan dari sisi utara Baghdad, Irak.

Serangan itu disebut sebagai yang pertama menargetkan bandara sejak 6 Mei ketika tiga roket katyusha menghantam dekat sektor militernya. Sebagaimana masyarakat sipil, serangan itu tidak menimbulkan korban dari pihak militer sekalipun misil tersebut menghantam pangkalan AS.

Sebelumnya, misil telah menyerang dekat pasukan Irak di bandara militer, satu lagi di dekat Camp Cropper, yang pernah menjadi fasilitas penahanan AS, dan yang terakhir di dekat tempat pasukan AS ditempatkan di pangkalan itu.

AS menuduh milisi yang didukung Iran melakukan serangan seperti itu di masa lalu. Beberapa serangan menargetkan kepentingan AS pada awal Maret, termasuk tiga pangkalan militer yang diketahui menampung pasukan AS. Koalisi pimpinan-AS telah menarik diri dari beberapa pangkalan di seluruh Irak.

Di awal Januari lalu, serangan misil juga pernah terjadi di area dekat bandara di Baghdad, Irak. Berbeda dari serangan Senin lalu, kala itu seranga justru menimbulkan korban berasal dari paramiliter yang didukung rezim Iran. Pasukan Mobilisasi Populer yang mendapat dukungan Iran berkata salah satu perwira mereka terbunuh serangan. Setidaknya ada delapan korban jiwa yang dinyatakan tewas.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Serangan ini terjadi beberapa hari setelah Kedutaan Besar AS di Irak diserang massa. Kejadian disebut akibat serangan AS yang menarget pasukan militer yang didukung Iran. France24 melaporkan roket Katyusha itu menyerang terminal kargo, membakar dua kendaraan, dan membunuh serta melukai beberapa orang.

Militer pro-Iran berkata tujuh orang di pihak mereka tewas. Saat itu, paramiliter pro-Iran sedang menyelenggarkan acara di Bandara Baghdad. Identitas perwira Mobilisasi Populer yang tewas adalah direktur hubungan masyarakat mereka. Pihak militer pro-Iran pun menyalahkan AS atas serangan itu. Dalam akun Facebook mereka, Pasukan Mobilisasi Populer berkata serangan itu sebagai tindakan pengecut.

Sambut New Normal, Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penumpang 70 Persen dan Lion Air Kembali Beroperasi

Menyambut era New Normal, ada beberapa gebrakan penting terkait dunia penerbangan nasional, seperti Garuda Indonesia per 9 Juni ini telah memberlakukan peningkatan kapasitas penumpang di setiap pesawat menjadi 70 persen, dimana sebelumnya kapasitas per pesawat dibatasi hanya 50 persen saja. Bahkan untuk penerbangan rute domestik, penumpang pun cukup membawa hasil rapid test atau hasil swab test, maka sudah bisa melakukan perjalanan.

Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Penumpang ‘Cukup’ Kenakan Face Shield

Kabar gembira juga datang dari Lion Air Group, setelah sempat menghentikan penerbangan akibat sepinya jumlah penumpang, Lion Air lewat siaran pers (9/6/2020), telah memastikan akan mulai membuka penerbangan domestik pada 10 Juni 2020.

Sebagai informasi, sesuai perkembangan untuk melakukan perjalanan pesawat udara yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), maka telah diterbitkan dan diedarkan Surat Edaran No. 7 Tahun 2020 tentang Kriteria Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), yang mengatur kembali syarat yang harus dipenuhi oleh setiap calon penumpang bila akan melakukan bepergian dengan menggunakan pesawat udara, dimana lebih sederhana. Menurut surat edaran tersebut, calon penumpang hanya membutuhkan bukti tes kesehatan seperti PCR atau Rapid Test dan atau surat keterangan kesehatan.

Bagi calon penumpang yang akan mulai bepergian di era New Norma agar memperhatikan hal-hal berikut:

1. Jika tes kesehatan yang digunakan Rapid Test, maka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), maka masa berlaku ialah 7 hari, atau

2. Apabila kedua metode tes di atas tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.

Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

Demam PHK telah menjalar ke seantoro maskapai global, lanatan sepi penumpang akibat Covid-19, menjadi pendapatan sejumlah maskapai anjlok drastis. Begitu pun dengan maskapai asal Tanah Britania, British Airways (BA) yang saat ini berbicara terkait cara ‘kejam’ perusahaan untuk bernegosiasi dengan karyawan. Sebab maskapai ini bermaksud menghentikan total sekitar 12 ribu staf dan target baru manajemen adalah mem-PHK pilot.

Baca juga: “Bukan PHK,” Inilah yang Terjadi Pada Ratusan Pilot Garuda Indonesia

Bahkan maskapai yang berbasis di London ini mengancam akan memecat semua pilotnya. Mereka memiliki sekitar 4.300 pilot dan perusahaan ini berencana memberhentikan sekitar seperempat pilot mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari godsavethepoints.com (7/6/2020), awalnya maskapai ini akan memberhentikan 955 pilot, namun dengan jumlah yang ada saat ini justru meningkat sebanyak 125 dan menjadi 1080 yang ditentang oleh serikat pekerja.

Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Inggris atau The British Airline Pilots’ Association (BALPA) sudah mengirimkan surat kepada anggota yang menguraikan sikap British Airways yang ingin mengubah ketentuan kontraknya dengan pilot. Anggota serikat pilot diberitahu bahwa jika grup tersebut tidak menerima 100 persen dari persyaratan yang ditawarkan oleh British Airways, maskapai berencana untuk memecat seluruh tenaga kerja, menggunakan kembali jumlah pilot yang dibutuhkan pada upah yang lebih rendah dan kontrak yang lebih rendah, sama seperti itu berencana untuk dilakukan dengan awak kabin.

Beberapa anggota kru akan mengalami pengurangan gaji hingga 60 persen, sementara dituntut untuk melakukan lebih banyak pekerjaan. Niat BA untuk mencari perubahan pada syarat dan ketentuan dinyatakan kembali dalam S188 yang diperbarui.

“Yang terpenting menyatakan bahwa jika BA dan BALPA tidak dapat mencapai kesepakatan, perusahaan akan berusaha untuk memaksakan perubahan dengan menghentikan pekerjaan semua pilot dan menawarkan individu kontrak baru dengan syarat dan ketentuan baru yang terkait. Kita tidak bisa mulai menggambarkan tingkat kekecewaan dan gangguan yang disebabkannya. Ini mempertanyakan apakah BA bahkan mampu melakukan hubungan industri dengan benar dan apakah apa pun yang mereka katakan dapat dipercaya,” isi surat tersebut.

Negosiasi ‘kejam’ British Airways dengan pilot dilakukan hanya beberapa minggu setelah British Airways menguraikan rencana untuk menghancurkan karier begitu banyak awak kabin. Sebelumnya maskapai memiliki beberapa kontrak pramugari yang berbeda, dan maskapai berupaya menyederhanakannya.

Sementara penyederhanaan kontrak masuk akal, pada dasarnya ini berarti bahwa banyak pramugari senior akan mendapatkan potongan gaji permanen di kisaran 30-50 persen, atau dalam beberapa kasus bahkan lebih. Ini terlihat tidak etis apalagi untuk awak kabin yang berada di perusahaan selama 20 tahun lebih. British Airways telah lama berjuang dengan hubungan kerja.

Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Bisa dikatakan, perusahaan tampaknya menggunakan pandemi saat ini sebagai kesempatan untuk menegosiasikan ulang beberapa kontrak dengan cara yang tidak adil. Bahkan sepertinya British Airways telah menunggu kesempatan seperti ini untuk menghancurkan kehidupan begitu banyak karyawan.