Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Hampir seluruh negara memberlakukan pembatasan perjalanan atau penerbangan. Dalam kondisi tersebut, hanya penerbangan penting saja, seperti kargo, logistik, penerbangan repatriasi, petinggi negara, dan kebutuhan medis saja yang diizinkan terbang.

Baca juga: Boeing Atau Airbus? Simak Penjelasan Ini Dulu Sebelum Berikan Penilaian

Dalam kondisi tersebut, pengiriman pesawat sempat terkendala, tak terkecuali dengan Airbus, sebelum akhirnya produsen pesawat asal Eropa tersebut menerpakan skema pengiriman e-Delivery. Skema tersebut dasar pijakannya adalah protokol kesehatan, seperti kebijakan karantina wilayah dan physical distancing. Dengan begitu, proses pengiriman pesawat tetap berjalan lancar tanpa melanggar kedua protap tersebut.

“Serta memberikan cara kesinambungan bisnis yang aman selama krisis Covid-19 seperti sekarang ini, proses e-Delivery, terutama aspek digital kolaboratif barunya, yang memberikan peningkatan efisiensi alur kerja, fleksibilitas, transparansi, lebih aman dalam melakukan transaksi (di tengah wabah corona), dan secara keseluruhan sangat memudahkan pelanggan, menjadi blue print Airbus untuk menerapkan skema serupa di masa mendatang,” kata Airbus dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Sejauh ini, Airbus sudah menerapkan skema e-Delivery kepada satu pelanggan (Pegasus Airlines). Maskapai asal Istanbul, Turki tersebut belum lama ini disebut telah menerima tiga A320neo lewat skema e-Delivery. Diharapkan, pengiriman selanjutnya dapat segera dicapai lewat skema yang sama.

Dalam pelaksaannya, setidaknya ada tiga tahap untuk memuluskan skema tersebut. Tahap pertama adalah Technical Acceptance Completion (TAC). Biasanya, tahapan ini memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memastikan kondisi pesawat dalam keadaan sempurna tanpa sedikitpun cacat sebelum benar-benar dikirim. Bila biasanya pihak maskapai melihat langsung, saat ini prosesnya bisa diwakilkan oleh perwakilan maskapai (biasanya orang lokal atau diwakilkan oleh Airbus sendiri).

Tahap selanjutnya adalah Transfer of Title (ToT). Pada bagian ini, Airbus telah mengembangkan platform terbaru yang juga dikenal “e-SalesContracts.” Software ini akan mengakomodir Airbus, pelanggannya, dan pihak-pihak penting lainnya dalam satu ‘meja’ yang sama untuk melakukan semua transaksi kontraktual. Dengan begitu tidak diperlukan adanya kontak langsung di kantor Airbus untuk menyelesaikan proses penjualan. Soal security, software tersebut tak perlu diragukan lagi kemampuannya.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Adapun tahap terakhir, setelah dua tahapan awal terpenuhi, maka proses selanjutnya adalah mengirim pesawat ke pelanggan. Dalam proses ini, maskapai memiliki dua pilihan, mengirimkan kru untuk menjemput pesawat atau menunjuk pihak lain menjemput pesawat, dengan menyesuaikan protokol kesehatan, dan mengirimkannya ke lokasi yang telah disepakati oleh maskapai.

Sebagai informasi, Kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, pada akhir maret lalu pernah mengatakan bahwa pesawat yang masih belum diserahkan (backlog) cukup banyak. Bahkan, untuk backlog pesawat jet A320 dan turunannya, seperti A320neo, A321, 319, dan A318 jumlahnya mencapai 6.200 jet. Meskipun Airbus tidak telalu buka-bukaan terkait konsep pengelolaan overbooking, yang jelas, hal itu saat ini membuat perusahaan sedikit terbantu. Jadi, pengiriman Airbus A320neo baru-baru ini ke Pegasus Airlines tak terlalu mengherankan mengingat backlog pesawat tersebut cukup banyak dan harus terus dikebut.

Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Olimpiade Tokyo yang harusnya terlaksana tahun 2020 ini akhirnya harus tertunda karena pandemi virus corona yang menyebar di seluruh dunia. Hal ini membuat seorang pengemudi taksi di Jepang yang sudah belajar bahasa Inggris selama empat tahun menyesal karena memiliki sedikit kesempatan berbicara bahasa Inggris di tempatnya kerja.

Baca juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

Tetsunari Nayakama, pengemudi taksi di Tokyo ini belajar sendiri agar fasih berbahasa Inggris selama empat tahun. Dia belajar untuk memudahkan berkomunikasi dengan para pelancong yang akan menghadiri Olimpiade yang harusnya terlaksana pada 2020 ini.

“Saya menyesal karena hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris di tempat kerja sekarang. Saya berharap pandemi ini akan segera terkendali,” ujar Nayakama yang dikutip KabarPenumpang.com dari asahi.com (21/4/2020).

Nayakama mengatakan, dirinya belajar bahasa Inggris tepat setelah perusahaan taksi tempatnya bekerja yakni Yayoi Kotsu Company mendesak para pengemudi untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris mereka. Karena hal ini kemudian dirinya lantas segera belajar bahasa Inggris agar siap ketika Olimpiade tengah berlangsung.

Namun sayangnya, meski sudah fasih berbahasa Inggris, Olimpiade harus tertunda hingga 2021. Tapi dirinya tak menyesal dan baru-baru ini bahkan menerbitkan materi pelajaran untuk membantu orang lain mengikuti jejaknya.

“Saya tidak pernah belajar ke luar negeri. Terakhir saya ke luar negeri adalah untuk perjalanan keluarga dan saat itu masih menjadi seorang siswa sekolah menengah pertama,” aku Nayakama.

Meski demikian ia tetap terus belajar sendiri dan mencoba berbicara dengan para penumpangnya dengan bahasa Inggris tanpa ragu-ragu. Bahkan salah seorang penumpang memuji dirinya karena lebih baik dari rekan bilingualnya. Dia mengaku saat belajar bahasa Inggris banyak kesulitan yang didapatnya dan akhirnya menemukan babarapa hal yang paling efektif untuk belajar.

Menurutnya salah satu yang bisa membantunya belajar bahasa Inggris adalah dengan membaca percakapan di artikel di majalah dan membaca sub title bahasa Inggri di film atau drama. Bahkan tak segan dia menuliskan ekspresi penting di buku catatan dan membuat rekaman tentang dirinya yang berbicara dalam bahasa Inggris yang kemudian didengarkan berulang kali.

“Mendengarkan adalah yang paling sulit karena penutur bahasa Inggris tidak peduli jika Anda mengerti apa yang mereka katakan. Ada dua alasan mengapa Anda tidak bisa memahami bahasa Inggris dengan lancar: Mungkin Anda tidak tahu arti kata-kata itu, atau Anda tidak memahami suara kata-kata yang terus-menerus,” tambahnya.

“Jika Anda belajar banyak ekspresi dan dapat berbicara bahasa Inggris, keterampilan mendengarkan Anda juga akan meningkat.”

Nakayama berpikir kemampuanya meningkat secara dramatis setelah menggunakan situs web gratis di mana dia mengajar bahasa Jepang kepada penutur asli bahasa Inggris dan, sebagai imbalannya, dia belajar bahasa Inggris dari mereka. Setiap kali dia menyelesaikan pelajaran online, dia merenungkan bagaimana menggunakan ekspresi yang lebih baik, dan kemudian meninjau pelajaran secara penuh.

“Setiap hari saya menikmati pelajaran dan, tentu saja, saya meningkatkan keterampilan saya dengan sangat,” ungkapnya.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

Pembelajar cepat memasukkan sarannya ke dalam tulisan, menerbitkan buku instruksi pada bulan September tentang pengalaman dan metode untuk belajar bahasa Inggris. Pada Oktober 2018, ia berkompetisi dalam “Kontes Omotenashi Inggris (keramahtamahan),” yang diadakan oleh kelompok industri, di mana para kontestan dinilai tentang seberapa ramah mereka dalam memberikan layanan taksi kepada orang asing. Nakayama memenangkan penghargaan tertinggi, mengalahkan penerjemah berlisensi dan orang-orang yang telah belajar di luar negeri.

“Banyak orang Jepang ragu untuk membuat kesalahan karena mereka malu karenanya. Tapi saya tidak peduli,” katanya.

1001 Fungsi Landasan Pacu Pantai Depok, Mulai dari Spot Prewed Hingga Wadah Komunitas Aeromodeling

Landasan pacu atau runway lazimnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan kedirgantaraan. Namun, lain halnya dengan landasan pacu Pantai Depok, Yogyakarta. Landasan pacu yang saat ini disebut dikelola oleh komunitas aeromodeling di Kota Pelajar tersebut, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), sudah sejak beberapa tahun belakangan kerap dijadikan spot pre-wedding, loh. View pantai selatan, deburan ombak, semilir angin, panorama, serta landskap jalan landasan yang mengecil di ujung menjadi background sempurna untuk momen se-indah prewed. Baca juga : Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia Selain itu, dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, landasan pacu yang berada di sisi timur Pantai Depok, Bantul ini juga kerap digunakan untuk event tahunan FASI DIY dan Lanud Adisucipto, salah satu yang ternama adalah Jogja Air Show yang pada tahun ini semestinya bakal dilaksanakan pada 20-22 Maret. Namun sayang, harus tertunda akibat Covid-19. Kegiatan-kegiatan lainnya juga tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan landasan atau kawasan sekitar landasan ini seperti pecinta motor drag, komunitas fotografi, komunitas sejarah, kepemudaan, dan kegiatan lainnya yang tak tersorot media. Pesona, akses, dan tiket masuk terjangkau, berkisar Rp5 ribu dan parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 2 ribu, serta Rp 5 ribu untuk roda empat, membuat banyak kalangan tak sungkan menjatuhkan pilihan ke tempat ini sebagai lokasi kegiatan mereka. Saat ini, landasan pacu yang juga pernah dijadikan venue festival lampion Lanterne Festival De Paris (LF de Paris) pada akhir Agustus tahun lalu tersebut hanya memiliki panjang landasan sekitar 800 meter. Oleh karenanya, atas kerjasama sejumlah pihak dan tentu saja Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, landasan akan dikembangkan menjadi sekitar 1.500 meter. Tujuannya, agar semua pesawat latih dari berbagai komunitas aeromodeling dan instansi terkait bisa lepas landas maupun turun landas di fasilitas ini. Hal lainnya, bila landasan pacu Pantai Depok dikembangkan menjadi 1.500 meter, maka bukan tidak mungkin pelaksanaan Jogja Aii Show akan dilakukan lebih dari sekali dalam setahun. Event-event serupa juga sangat mungkin dilakukan, seperti komunitas drone, dan lain sebagainya. Namun demikian, landasan pacu Pantai Depok, Bantul sebetulnya sempat terusik dengan kehadiran Bandara Internasional Kulonprogo. Kala itu, rekomendasi dari Kantor Otoritas Bandara Wilayah III memutuskan landasan tersebut untuk dipindah. Beruntung, Lanud Adisutjipto Jogja tegas mempertahankan keberadaan Landas Pacu Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) DIY yang terletak di kawasan Pantai Depok, Bantul. Sebab berdasarkan kajian KKOP, landasan tersebut tidak akan mengganggu Bandara Kulonprogo. Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Yadi I. Sutanandika menjelaskan untuk menentukan aman atau tidak harus ada hasil kajian Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Dalam hasil kajian yang sudah dilakukan, kata dia, bahwa ada beberapa kategori landasan mulai satu, dua dan tiga. Tetapi pada intinya untuk calon Bandara Internasional sekelas Kulonprogo nantinya, KKOP sudah berjarak 15 Km radius dari ujung-ujung landasan dengan ketinggian tertentu. Baca juga : Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun “Kalau sudutnya sekitar 2% dari jarak, jadi kalau jaraknya 5 Km ya 5% dari 5 Km itu merupakan sudutnya. Nah Depok yang digunakan untuk olahraga Fasi tidak seluas KKOP untuk Bandara Kulonprogo,” katanya kepada awak media.

Pelaku Pembajakan Bus Ditembak Mati Polisi Texas

Seorang pria dengan membawa senjata api membajak sebuah bus umum di Texas pada Minggu (19/4/2020) dan membuat pihak kepolisian selama satu jam mengejarnya ke beberapa kota. Dalam pengejaran tersebut tiga orang petugas terluka dan pelaku ditembak mati.

Baca juga: Bus Dibajak, Lima Orang Pejalan Kaki Tewas Tertabrak

KabarPenumpang.com melansir laman kimt.com (19/4/2020), pria tersebut bernama Ramon Thomas Villagomez. Dia saat itu naik bus Dallas Area Rapid Transit di Jalan Buckingham sekitar pukul 11 pagi waktu setempat. Di dalam bus ternyata sudah ada satu penumpang yang naik di Richardson, Texas.

Setelah dirinya naik, Villagomez melepaskan tembakan dan menghancurkan beberapa jendela dan menuntut agar pengemudi terus melajukan bus tersebut tanpa menyebutkan arah yang jelas. Saat Villagomez tak memerhatikan, pengemudi bus memberitahu polisi transit.

Dalam aksi pengejaran tersebut, bus melalui beberapa kota di Willayah Dallas-Fort Worth yakni Richardson, Garland, Rowlett dan Rockwall atau total jarak tempuh sekitar 30 mil atau 48,2 km. Juru bicara agen transit, Gordon Shattles mengatakan, pengejaran tersebut dilakukan oleh beberapa departemen kepolisian yang menanggapi hal tersebut dan kemudian baku tembak pun terjadi.

Dua orang petugas dari departemen Transit Cepat Area Dalls dan satu dari departemen kepolisian Garland tertembak. Untungnya luka ketiga polisi tersebut tidak mengancam jiwa mereka.

Pengejaran bus berakhir sekitar setengah hari saat bus melewati paku di jalan raya Rowlett, Texas. Villagomez keluar dari bus dan beradu tembakan dengan pihak kepolisian. Kemudian polisi Garland mengatakan Villagomez dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal karena luka tembakan.

“Pengemudi bus dan seorang penumpang lainnya tidak terluka,” kata Shattles.

Diketahui, awal pengejaran tersebut karena Villagomez merupakan tersangka dari kasus pembunuhan kekasihnya di San Antonio. Selain itu, juga melakukan serangan yang diperparah dengan tuduhan senjata mematikan di Kabupaten Brazoria setelah dituduh menyerang seorang kerabat.

Baca juga: Prank Positif Covid-19 di Dalam Bus, Mahasiswa Ph.D Hampir Dipidanakan

Saat insiden Dallas County saat ini berada di bawah perintah tetap di rumah karena pandemi virus corona, yang berarti penumpang pada rute ini jauh lebih rendah dari biasanya.

“Fakta bahwa ini terjadi pada saat ini, bisa jadi jauh, jauh lebih buruk,” kata Shattles.

Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

Transporatasi udara menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat wabah virus Cina. Menurut data dari Airport Council Internasional, lalu lintas penumpang pada 2019 meningkat menjadi 8,8 miliar dibanding tahun lalu dengan persentase peningkatan sebesar 6,4 persen. Sementara pengiriman kargo udara meningkat 3,4 persen.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Pada tahun 2020, sebelum Covid-19 mewabah, Airport Council International (ACI) World memperkirakan akan ada sekitar 9,5 miliar perjalanan udara di seluruh dunia. Namun, belakangan, lembaga yang berbasis di Montreal, Kanada itu memprediksi terjadinya penurunan sekitar 3,6 miliar perjalanan. Menariknya lagi, ACI juga memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Tentu menjadi sinyal negatif bagi maskapai di seluruh dunia bila prediksi tersebut benar adanya.

Akan tetapi, terlepas dari semua keadaan dan prediksi buruk di atas, sebetulnya, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Selalu ada hal baik di balik hal buruk (musibah), tak terkecuali di industri penerbangan dalam menyikapi pandemi virus Cina. Dikutip dari futuretravelexperience.com (FTE), pandemi corona setidaknya telah mengubah enam hal, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut ulasannya.

1. Physical Distancing
Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.

Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.

2. Otomasi Makin Gencar
Mayoritas maskapai dan bandara sudah merencanakan proyek transformasi digital sebelum pandemi Covid-19 melanda. Rencana-rencana tersebut sebagian dipercepat untuk mengurangi interaksi antar manusia melalui media robot, mesin otomatis, hingga teknologi biometrik yang salah satu fungsinya memungkinkan dihilangkannya proses kepabean atau imigrasi. Sebagian lainnya diprediksi akan makin digencarkan ketika pandemi berakhir.

3. Kebersihan Kabin Jadi Sorotan
Kebersihan menjadi salah satu syarat mutlak untuk membebaskan kabin dari paparan virus Cina. Oleh karenanya, maskapai dunia pun ramai-ramai ‘memamerkan’ prosedur kebersihan mereka untuk mencapai itu. Beberapa di antaranya bahkan tak sungkan menggunakan teknologi terkini, seperti robot GermFalcon (yang diklaim mampu membunuh 99 persen virus dengan teknologi sinar UV). Muara dari propaganda tersebut tentu saja semata agar penumpang percaya kepada maskapai untuk menjadikannya andalan ketika bepergian selama wabah berlangsung.

4. Tren Online
Pembatasan perjalanan telah mendorong masyarakat semakin memasifkan tren belanja berbasis daring atau online. Setidaknya, hal itu dapat terlihat dari kekayaan CEO Amazon yang terus meningkat di tengah melorotnya ekonomi. Selain itu, Amazon juga mengaku membutuhkan banyak karyawan untuk mendukung lonjakan bisnisnya.

Namun, apa hubungannya dengan maskapai penerbangan? Bagi sebagian orang, belanja mungkin tak kenal waktu dan tempat. Sebab, lewat digital semuanya sudah dalam genggaman. Karenanya, fenomena tersebut mungkin akan coba difasilitasi oleh maskapai sekalipun dalam perjalanan di atas udara. Dengan dukungan WiFi onboard, penumpang dimungkinkan untuk tetap berbelanja.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

5. Kolaborasi Jangka Panjang
Diakui atau tidak, persaingan bisnis dan kepentingan antar maskapai, aliansi maskapai, dan lembaga penerbangan internasional membuat arus pertukaran informasi demi kelangsungan bisnis penerbangan yang lebih baik macet. Dengan adanya pandemi virus corona, disadari atau tidak, semua sekat-sekat tersebut hilang, semata untuk menyatukan kekuatan melawan wabah Covid-19. Contoh nyata dapat dilihat dari Airbus dan Boeing yang memutuskan merger, demi kelangsungan bisnis jangka pendek dan panjang.

6. Perhatian Besar Garda Terdepan
Selama ini mungkin garda terdepan, seperti petugas counter check-in dan awak kabin satu dengan yang lainnya atau hubungan mereka dengan manajemen terdapat gap cukup jauh. Namun, adanya pandemi, membuat maskapai mau tak mau memusatkan perhatian ke mereka sebagai bagian dari menarik kepercayaan penumpang.

Jangan Salah Tangkap, Penerbangan di 24 April Masih Diperbolehkan! Ini Detailnya

Kementerian Perhubungan resmi menyetop transportasi udara mulai 24 April. Namun masyarakat kerap menerima informasi tidak utuh. Padahal, tidak semua penerbangan dilarang dan per hari ini, 24 April, maskapai pun masih diizinkan untuk mengangkut penumpang. Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor Dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 Tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 14441 Hijriah Covid-19, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa penerbangan penumpang domestik masih diizinkan beroperasi sampai dengan hari ini, Jumat (24/4), untuk melaksanakan kewajiban operator penerbangan melayani penumpang dengan reservasi lama, dan mulai hari ini tidak ada lagi reservasi baru. “Mengingat karasteristik moda udara yang spesifik, kepada operator penerbangan diberikan kesempatan untuk melaksanakan kewajibannya kepada penumpang sampai dengan hari ini dengan reservasi lama dengan tetap menerapkan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Mulai hari ini tidak ada reservasi baru,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, sebagaimana rilis yang diterima redaksi KabarPenumpang.com “Adapun setelah dilakukan evaluasi maka berlakunya peraturan akan sama untuk semua moda transportasi yaitu pada 24 April 2020 hingga 31 Mei 2020 dan akan diperpanjang jika diperlukan,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk penerbangan internasional tetap akan beroperasi khususnya untuk melayani warga negara asing yang akan kembali ke negaranya, dan warga negara Indonesia yang akan kembali ke Indonesia. Kemudian, penerbangan untuk pimpinan lembaga tinggi negara dan atau wakil internasional, operasional kargo, penegakan hukum dan pelayanan darurat petugas penerbangan, serta mobilitas pengangkutan kebutuhan medis, sanitasi, dan logistik juga masih diperbolehkan. Tentu saja, semua penerbangan tersebut tetap harus mengikuti protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Selain itu, Adita juga menegaskan bahwa larangan penggunaan transportasi untuk mudik ini berlaku untuk keluar masuk di wilayah-wilayah PSBB, Zona Merah Penyebaran Covid-19 dan aglomerasi yang sudah ditetapkan sebagai PSBB. Adapun sisanya, masih berjalan seperti biasa dengan kewajiban menjalankan protokol kesehatan pemerintah. Sebagai informasi, Permenhub nomor 25 Tahun 2020 sendiri telah ditetapkan pada tanggal 23 April 2020 sebagai tindak lanjut dari kebijakan Pemerintah untuk melarang mudik pada tahun ini dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19. “Untuk sektor transportasi udara, pertama adalah larangan melakukan perjalanan di dalam negeri maupun ke luar negeri, baik menggunakan transportasi udara berjadwal maupun transportasi udara carter,” ucap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam teleconference bersama wartawan, Kamis (23/4) Novie mengatakan meski ada pelarangan penerbangan bagi penumpang, Kemenhub tetap membuka layanan navigasi udara. Sama halnya dengan bandara. “Di mana mereka wajib melayani pesawat yang lepas landas, mendarat, dan melintasi bandara tersebut,” ucap Novie. Baca juga: Derita Traveler Asia Saat Corona, Terjebak Setelah 10 Bulan Melancong Hingga Diselamatkan Gereja Mengenai dampaknya pada konsumen, Novie mengatakan kalau maskapai tetap memberikan refund. Hanya saja bentuknya tak wajib dengan uang tunai, tetapi bisa berupa voucher seharga 100 persen tiket yang dibatalkan.

Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi?

Penguncian yang banyak dilakukan oleh negara-negara dunia juga membuat maskapai penerbangan banyak yang mendaratkan pesawat mereka saat masa pandemi ini. Namun belakangan beberapa negara mulai membuka kuncian mereka dan maskapai memeriksa seperti apa bentuk penerbangan saat pembatasan perjalanan mulai nyaman kembali.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Operator saat ini sudah mulai mengeluarkan uangnya dan sangat penting bagi mereka untuk mendapatkan pesawat kembali ke udara. Kepercayaan penumpang juga menjadi satu rintangan yang harus di atasi karena banyak yang khawatir menjaga jarak wajar dari sesama pelancong.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (23/4/2020), hal ini kemudian membuat maskapai memutar otak dan mencari ide untuk membuat kusri tengah kosong. Ini dilakukan untuk menghindari penumpang duduk bersisian satu sama lain. Maskapi jarak pendek Eropa yakni EasyJet menjadi maskapai terbaru yang akan melakukan hal tersebut.

Maskapai lainnya yang tengah membahas hal ini adalah Alaskan Airlines dan Wizz Air. Bisa dikatakan menghilangkan opsi kursi tengah yang jarang diinginkan penumpang membuat pelancong bisa sedikit bersorak ketika bepergian. Kemudian dengan gagasan ini, apakah mengosongkan kursi tengah bisa membantu menjaga jarak sosial yang tepat? Bila iya, sampai kapan maskapa harus melakukannya dan apakah ini pilihan realistis di luar jangka pendek?

“Saat ini, kami membutuhkannya, karena tidak melakukan hal itu akan bertentangan dengan instruksi dari otoritas dan akal sehat. Kebutuhan mendesak untuk memperlambat tingkat infeksi diutamakan secara keseluruhan, bahkan jika solusinya tidak sempurna. Namun, jangka panjang tidak berkelanjutan secara ekonomi. Setelah debu mereda, kita semua akan kembali mengharapkan mobilitas global yang terjangkau lagi. Untuk mengaktifkan tarif untuk itu, terutama jika kapasitas total telah dikurangi, maskapai penerbangan akan membutuhkan gelandangan di semua kursi, ”jelas Daniel Baron, direktur pelaksana LIFT Aero Design yang berbasis di Tokyo, yang membantu maskapai penerbangan merancang kabin dan pengalaman pelanggan

Bila mengikuti terori dua meter, maka empat orang penumpang akan membutuhkan jarak hingga 26 kursi. Meski begitu, pesawat sangat tidak diatur untuk jarak sosal sepenuhnya atau sebaliknya. Apalagi saat ini pada pesawat modern sepertinya jarak dua meter tidak memungkinkan. Di mana kursi dengan lebar sekita 45 cm atau 17-18 inci hanya membuat penumpang satu dengan yang lain hanya berjarak 45 cm saja.

Anda harus terpisah lebih dari empat kursi untuk menjaga jarak dua meter atau dengan kata lain, sekitar sejauh dua kursi jendela di deretan enam kursi yang dipisahkan oleh lorong tunggal. Ini adalah dari sisi ke sisi, namun kika jarak kursi depan dan belakang, maskapai memiliki jarak sekitar 75-80 cm atau 29-32 inci.

Jadi jika maskapai ingin membuat orang terpisah setidaknya dua meter, berarti membiarkan dua baris penuh kosong diantara setiap penumpang sehingga untuk empat penumpang berjarak 26 kursi. Pada dasarnya, maskapai perlu beroperasi setidaknya pada titik impas.

Pada dasarnya, persentase kursi di pesawat yang ditempati oleh penumpang yang menentukan apakah penerbangan impas dan layak dioperasikan. Pada load factor tertentu, penerbangan menjadi menguntungkan, dan perbedaan antara membuat kerugian atau tidak pada rute hanya menyalakan beberapa penumpang.

Pada tahun 2019, Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengutip faktor muatan global rata-rata 84 persen, secara regional berkisar dari 89 persen di Amerika Utara hingga 71 persen di Afrika. Daniel menunjukkan bahwa ada sejumlah langkah lain yang dapat digunakan maskapai untuk mencoba dan membuat perjalanan lebih aman.

“Jangan lupa bahwa sirkulasi udara kabin setara dengan ruang operasi. Kombinasi penyaringan pra-penerbangan, sanitasi kabin menyeluruh, penugasan kursi pintar, dan masker kemungkinan akan menjadi langkah maju dalam jangka pendek hingga menengah,” katanya.

Gagasan lain akan muncul dari Delta Airlines telah mengubah cara naik pesawat, dan sekarang menaiki mereka dengan ketat dari belakang ke depan, sehingga penumpang yang duduk di belakang tidak harus melewati yang duduk di depan. Maskapai ini juga menaiki lebih sedikit orang sekaligus untuk meningkatkan jarak fisik penumpang.

Banyak maskapai penerbangan juga membatalkan atau mengurangi layanan makanan dan minuman dalam pesawat untuk mengurangi interaksi di dalam kabin. Southwest melayani kaleng air individu daripada minuman penuh seperti biasanya, misalnya. Beberapa maskapai penerbangan menawarkan tas untuk bepergian di area gerbang saja.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Covid-19 telah mengubah dunia kita dalam berbagai cara, dan akan terus melakukannya saat kita menerapkan kecerdikan manusia yang terbaik untuk melawannya. Bagi kita yang perlu melakukan perjalanan saat kita melakukannya, dan bagi kita yang cukup beruntung untuk melakukan perjalanan sesudahnya, cara kita melakukannya juga akan berubah.

Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor

Kementerian Perhubungan melarang maskapai yang membawa penumpang untuk beroperasi. Sisanya, seperti angkutan kargo, penerbangan pimpinan lembaga tinggi negara atau wakil kewarganegaraan, dan pesawat yang membawa tenaga medis masih diperbolehkan untuk terbang dan mendarat.

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Dalam teleconfrence, Kamis (23/4), Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengatakan, pelarangan operasional maskapai untuk beroperasi beralaku mulai 24 April hingga 1 Juni 2020 mendatang. Larangan operasional ini berlaku untuk rute luar negeri maupun dalam negeri.

Kondisi tersebut tentu akan semakin menyulitkan maskapai yang sebelumnya juga sudah sangat terpukul dengan sepinya penerbangan. Belum lagi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus anjlok, lengkap sudah penderitaan maskapai.

Namun, kesulitan-kesulitan yang dialami maskapai, mungkin tak menjadi sebuah excuse bagi lessor. Pasalnya, praktik pasar dari sewa pesawat adalah sewa bersih dengan klausul “hell or high water” yang mengharuskan penyewa membayar sewa dan melakukan semua kewajiban lainnya berdasarkan sewa tersebut secara absolut dan tanpa syarat.

Sebagai informasi, pada umumnya, maskapai di dunia lebih memilih menyewa pesawat untuk mendukung bisnis mereka ketimbang membeli pesawat cash ke produsen. Alasan atas fakta tersebut memang tidak sederhana untuk dijabarkan. Namun, pada intinya, mengeluarkan uang cash dalam jumlah besar akan mengurangi likuiditas maskapai untuk memenuhi operasional.

Garuda Indonesia, misalnya, 2018, misalnya, dari total 202 unit pesawat, yang dimiliki Garuda hanya 22 unit pesawat dan sisanya sebesar 180 unit pesawat adalah rental, ke perusahaan-perusahaan leasing (pembiayaan) pesawat. Dengan mangkraknya penerbangan yang berakibat pada turunnya revenue, serta dihadapi utang jatuh tempo, tentu maskapai pelat merah itu akan terus ‘dihantui’ lessor.

Mengutip pernyataan Hendra Ong, partner dari Dentons HPRP, bila situasi di atas benar terjadi, kemungkinan ada tiga skenario yang bisa ditempuh maskapai. Pertama, maskapai penerbangan akan mendapatkan bantuan dari lessor untuk mengatasi masalah keuangan mereka, seperti mengubah suku bunga tetap, periode bunga, perpanjangan sewa, atau pengiriman kembali pesawat ke lessor lebih awal, dan skenario lainnya.

Kedua, maskapai penerbangan dianggap lalai terkait pembayaran setelah kegagalan mereka untuk mengamankan bantuan dari lessor. Ketiga, maskapai penerbangan memasuki periode kebangkrutan, suka atau tidak suka.

Khusus untuk skenario kedua dan ketiga, bila hal itu terjadi, maka pesawat otomatis harus kembali ke tangan lessor. Secara umum, lessor dapat mengambil kembali fleet dari tangan maskapai dalam rentang waktu 10 hari. Namun, bila maskapai tidak kooperatif serta menolak untuk menyerahkan pesawat dan atau dokumen pesawat ke lessor maka bila lessor ingin menempuh jalur hukum, prosesnya mungkin bisa memakan waktu tiga tahun.

Dalam prakteknya, lessor hanya memiliki tiga pilihan, menempuh jalur hukum lewat pengadilan asing, arbitrase internasional, atau pengadilan tempat dimana lessee atau debitur berada, dalam hal ini Indonesia. Di antara ketiga pilihan tersebut, biasanya lessor lebih senang menempuh jalur hukum melalui arbitrase internasional.

Beruntung, Undang-Undang Kebangkrutan Indonesia mengatur untuk menengahi perseteruan antara lessor dan lessee. Disebutkan, seorang debitur (dalam bentuk perusahaan yang didirikan atau bertempat tinggal di Indonesia) yang memiliki dua kreditur atau lebih dan gagal membayar setidaknya satu hutang yang telah jatuh tempo dan harus dibayarkan akan dinyatakan bangkrut melalui keputusan pengadilan, baik atas permintaannya sendiri atau atas permintaan satu atau lebih krediturnya.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

Dengan begitu, secara hukum, debitur kehilangan haknya untuk mengendalikan dan mengelola asetnya termasuk dalam kebangkrutannya pada tanggal di mana deklarasi kebangkrutan diucapkan asalkan jika perusahaan masih memenuhi fungsi itu. Kemudian, biaya yang dapat menyebabkan pengurangan aset kebangkrutan akan menjadi di bawah wewenang kurator atau penerima (kreditur).

Menarik ditunggu, akankah ada maskapai Indonesia yang berurusan dengan lessor akibat kegagalan membayar utang yang jatuh tempo? Yang jelas, kini maskapai dalam negeri tengah memasuki periode terburuk, tagihan membengkak, minim pemasukan, dan tak mendapat paket stimulus keuangan dari pemerintah, sebagaimana maskapai-maskapai lainnya di dunia yang mendapat stimulus dalam jumlah besar.

Airbus Kembangkan Fitur Anti Tumpahan di Kokpit Lindungi Centre Pedestal

Airbus dikabarkan telah mengembangkan sebuah removable cover atau penutup yang bisa dilepas dan dipasang untuk melindungi panel-panel kontrol di kokpit dari tumpahan kopi, teh, atau cairan lainnya. Langkah tersebut merupakan sebuah respon atas beberapa insiden sebelumnya yang menyebabkan engine shutdown.

Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Dikutip dari Flight Global, sesuai arahan dari Badan Keamanan Penerbangan Eropa (EASA), removable cover itu akan menutupi tuas utama mesin, thumbwheels, dan rotary knobs selama di udara. Namun, pada fase-fase penting, seperti take-off, approach, dan landing, removable cover tersebut harus dibuka untuk memudahkan pilot.

Tumpahan minuman ke panel kontrol centre pedestal di kokpit Delta Air Lines A350 pada Januari dan Asiana A350 November lalu, masing-masing memang telah membuat engine shutdown atau mesin mati. Tak lama setelah dua insiden tersebut, Airbus pun merevisi aircraft flight manual, sejenis buku panduan pilot dan co-pilot, yang pada intinya memperketat aturan zona larangan adanya minuman di kokpit.

Dengan adanya inovasi berupa removable cover di kokpit serta adanya zona larangan adanya minuman di kokpit, diharapkan dua kejadian yang melibatkan Delta Air Lines dan Asian Airlines atau kejadian lainnya yang melibatkan A330 Condor Airlines tidak terulang lagi. Namun demikian, karena removable cover tidak statis, artinya masih ada kemungkinan hilang, atau mungkin pula rusak. Bila salah satu dari dua keadaan tersebut terjadi, tidak ada cara lain kecuali memperketat aturan zona larangan cairan, selain tentu saja mendorong kesadaran pilot untuk patuh pada aturan tersebut.

Akan tetapi, dari beberapa kasus di atas dan adanya kelemahan dari removable cover, yang notabene bisa hilang atau rusak, pertanyaan pun muncul, mengapa tidak dibuat instrumen anti cairan atau instrumen anti tumpahan saja? Menurut seorang captain pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.

Kemudian, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi.

Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus beulang hingga kini.

Sebetulnya, dahulu, saat sistem kontrol masih berupa mekanik atau manual, tumpahan apapun tak akan membuat masalah. Saat ini, pada sistem terkomputerisasi pada pesawat, tumpahan sekecil apapun memang akan menjadi masalah.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Sebetulnya, tanpa adanya larangan dari EASA pun, secara teknis, pilot dan co-pilot sudah dilatih untuk tidak makan dan minum di dekat center pedestal. Hal itu untuk menghindari insiden tumpahan apapun ke center pedestal karena akan berakibat fatal. Sebagai gantinya, makan dan minum di kokpit sedikit diberi kelonggaran jika dilakukan di dekat jendela.

Selain itu, di beberapa maskapai, untuk menghindari adanya tumpahan, mekanisme membuat minuman pun sampai diatur, tidak lebih dari ½ ataupun 3/4. Saat mengantarkan ke dalam kokpit pun, pramugari tidak boleh meletakan langsung ke dekat center pedestal, melainkan harus menyusuri sisi kokpit dan meletakannya di dekat jendela.

Lawan Corona, Boeing Gandeng Trelleborg Produksi Alat Pelindung Wajah dengan Printer 3D

Raksasa produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, dilaporkan resmi menggandeng salah satu penyedia seals terkemuka di dunia, Trelleborg, untuk memasok komponen alat pelindung wajah. Nantinya, komponen tersebut akan digabungkan dengan kaca atau visor pelindung wajah cetak 3D buatan Boeing untuk didistribusikan ke petugas medis, sebagai garda terdepan dalam perang melawan Covid-19.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

Dikutip dari tss.trelleborg.com, Boeing disebut sudah mulai merayu Trelleborg untuk bergabung dalam proyek alat pelindung wajah ini sejak akhir Maret lalu. Dalam proyek tersebut, Trelleborg diplot untuk mensupport tali elastomer untuk mengaitkan alat pelindung wajah di kepala.

Guna mempercepat proses produksi, Trelleborg Sealing Solutions telah mendedikasikan fasilitas aerospacenya di Northborough, Massachusetts, untuk disulap dalam kurun waktu dua hari menjadi fasilitas produksi komponen tersebut. Fasilitas produksi itu ditargetkan bakal memproduksi hingga 5.000 seals atau tali per pekan.

Tali elastomer buatan Trelleborg. Foto: Twitter @TrelleborgSeals

“Dalam masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, sangat penting setiap orang memainkan peran yang mungkin tidak sejalan dengan yang biasa mereka lakukan. Kami beruntung menerima kepercayaan dari Boeing untuk mendukung upaya ini (produksi alat pelindung wajah) dan memanfaatkan keahlian Trelleborg untuk mempercepat terwujudnya kebutuhan tersebut,” kata Quinn Collett, manajer air frame Trelleborg Sealing Solutions Aerospace.

Boeing sendiri berencana untuk memproduksi pelindung wajah tersebut dengan menggunakan additive manufacturing machines (mesin cetak 3D) di berbagai lokasi di seluruh AS. Dalam pelaksanaannya, Boeing juga telah bekerja sama dengan Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA). Nantinya, FEMA akan menentukan wilayah mana saja yang paling membutuhkan pelindung wajah untuk bisa segera didistribusikan.

Serupa dengan Boeing, Airbus sudah lebih dahulu merambah pasar tersebut. Melalui fasilitas pencetakan 3D di Spanyol, kompetitor terberat Boeing itu mulai memproduksi visor pelindung (APD) pada awal April lalu untuk berbagai rumah sakit sebagai respons terhadap pandemi virus corona. Juru bicara Airbus mengatakan, saat ini, fasilitas pencetakan tersebut sudah menghasilkan ratusan visor dengan menggunakan lebih dari dua puluh printer 3D. Peralatan tersebut umumnya didistribusikan ke rumah sakit di dekat fasilitas perakitan Airbus di Spanyol.

Baca juga: Tanggap Wabah Corona, Airbus Produksi Visor APD dengan Printer 3D

“Semalam, kami telah beralih dari membuat konsep ruang angkasa menjadi peralatan medis. Ini benar-benar membuat perbedaan dalam perang melawan pandemi Covid-19 dan saya tidak bisa berbangga diri melihat tim kami yang bekerja siang dan malam di proyek Airbus ini,” ungkap kepala Airbus Protospace, Alvaro Jara, seperti dikutip dari avweb.com.

Akan tetapi, visor bukanlah satu-satunya kontribusi Airbus dalam membantu Eropa memerangi penyebaran virus corona. Sebelumnya, perusahaan patungan antara Jerman, Perancis, dan Spanyol tersebut juga telah berkomitmen untuk memproduksi ventilator. Ventilator tersebut nantinya akan diserahkan ke berbagai rumah sakit di Inggris. Lewat sebuah konsorsium yang dikomandoinya, bersama perusahaan teknologi ternama di Negeri Ratu Elizabeth tersebut, Dyson, Airbus dilaporkan akan segera memproduksi 30 ribu ventilator.