Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Robot Ugo Hadir Saat Ancaman Corona Berlanjut

Robot Ugo yang dikembangkan oleh Mira Robotics digadang-gadang hadir untuk memperkuat tenaga kerja Jepang yang semakin sedikit, apalagi jika ancaman virus corona berlanjut. CEO Mira Robotics mengatakan, menawarkan mesinnya sebagai alat dalam perang melawan wabah.

Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun

“Virus corona telah menciptakan kebutuhan akan robot karena mereka dapat mengurangi kontak langsung antara manusia,” kata Ken Matsui CEO Mira Robotics yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (9/6/2020).

Dia menambahkan pihaknya sudah mendapatkan pernyataan dari luar negeri termasuk dari Singapura dan Perancis. Ken menyebutkan fitur terbaru dari robot avatar yang dikendalikan dari jarak jauh atau yang disebut dengan remote control merupakan lampiran tangan yang menggunakan sinar ultraviolet untuk membunuh virus pada gagang pintu.

Ken mengatakan, pandemi virus corona ini membuat penurunan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pandemi ini menyusutkan tenaga kerja Jepang lebih dari setengah juta orang per tahun serta keengganan untuk membawa tenaga kerja asing agar mengisi posisi kosong telah memacu perkembangan robot di Jepang.

Dia menambahkan, adanya permintaan terkait virus corona dapat memajukan pekerjaan tersebut. Diketahui, Mira Robotics Ugo adalah sepasang lengan robot yang dapat disesuaikan tingginya dan terpasang pada roda. Robot ini dioperasikan dari jarak jauh melalui koneksi nirkabel dengan laptop dan pengontrol mainan.

Pada robot ini sebuah laser pengukur jarak yang dipasang di pangkalan membantu navigasi sedangkan panel di bagian atas menampilkan mata untuk memberikan penampilan yang lebih ramah. Untuk mempelajari cara menggunakan robot ini, Ken mengatakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan setiap operator mengendalikan sebanyak empat mesin.

Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Robot ugo ini disewakan per bulan dengan harga $1000 dan dapat dijadikan sebagai penjaga keamanan, melakukan inspeksi peralatan dan membersihkan toilet serta area lain di gedung-gedung perkantoran. Saat ini diketahui, Mira Robotics memiliki satu robot ugo yang beroperasi di gedung perkantoran di Tokyo.

Xian MA60, Pesawat Cina Jiplakan Antonov An-24 yang Bikin Merpati Airlines Bangkrut

Musibah memang tak pernah ada yang mengetahui waktu dan tempatnya. Termasuk kecelakaan yang menimpa pesawat buatan Cina, Xian MA60 yang dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Kala itu, Sabtu, 7 Mei 2011, pesawat yang mengangkut 27 orang kru dan penumpang itu jatuh ke laut saat akan mendarat di Bandara Utarom, Kaimana, Papua Barat. Seluruh penumpang dinyatakan tewas.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, diketahui, maskapai yang sudah stop operasi sejak 2014 itu memiliki 14 buah pesawat bermesin turboprop ini. Dari 14 unit tersebut, mayoritas pesawat beroperasi di wilayah Indonesia Timur.

Sebelum Garuda Indonesia mendatangkan ATR, demikian juga dengan Lion Air yang mulai lahir pada medio 90an, Merpati Airlines bersama MA60 memang sempat merajai pasar rute satelit atau jarak pendek, khususnya di wilayah Timur.

Akan tetapi, setelah Garuda Indonesia dan Lion Air mendatangkan ATR, kedigdayaan pun runtuh. Sebab, dari segi efisiensi, Xinzhou 60 (MA-60) masih kalah dibanding ATR. Selain itu, dari segi suplai chain, ATR juga lebih kuat serta memiliki harga jual yang lebih stabil di pasaran ketimbang MA60.

Dengan fakta tersebut, Merpati Airlines pun mulai tertekan. Sebab, pembelian pesawat tersebut dinilai cenderung dipaksakan, dengan kajian yang rendah dan pada akhirnya justru malah mempersulit maskapai hingga bangkrut pada 2014.

Terlepas dari sebutan airlines killer yang melekat di tubuh Xian MA60 dengan Merpati Airlines menjadi salah satu ‘korbannya’, MA60 sebetulnya punya spesifikasi yang oke. Dari catatan airlines-inform.com, pesawat dengan panjang 24.7 meter, bentang sayap 29.2, dan tinggi 8.8 meter ini terbang sampai ketinggian 7.600 meter dari permukaan laut dengan jangkauan terbang mencapai 1.600 km. Kemudian, pesawat yang mulai beroperasi pada tahun 2004 ini tercatat memiliki kemampuan maximum take-off weight (MTOW) seberat 21,8 ton dan kapasitas tangki bensin sebanyak 4 030 liter.

Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Pesawat yang dijiplak dari Antonov-24 ini memiliki berat maksimal saat pesawat take off adalah 21,800 kg dan memiliki kecepatan maksimal 514 km per jam. Dengan kemampuan tersebut, tak ayal bila pesawat yang mulai pertama kali terbang pada tahun 2.000 ini mampu mengangkut hingga total 60 penumpang plus dua kru, lebih banyak belasan penumpang dibanding kompetitornya ATR 42-300. Mesin PW 127J juga berkontribusi atas hal ini. Padahal, dari segi harga, Xian MA60 dibanderol seharga USD11 juta per unit, jauh lebih murah dibanding ATR 42-300 yang dibanderol lebih dari itu.

Sejak pertama kali beroperasi, hingga 2016, pesawat buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation di bawah China Aviation Industry Corporation I (AVIC I) ini sudah terjual hampir 200 unit. Sebarannya rata-rata berada di negara-negara berkembang, mulai dari Indonesia, Bolivia, Ekuador, Bolivia, Laos, Myanmar, Nepal, Filipina, Kongo, Sri Lanka, Zambia, hingga Zimbabwe. Dari sejumlah negara yang mengoperasikan itu, tercatat, empat di antaranya terlibat kecelakaan, tiga terjadi di Zimbabwe dan satu lainnya di Indonesia.

Bus Antar Jemput Ford E-Series ‘Disulap’ Jadi Rumah Mewah

Bus antar jemput (shuttle bus) yang biasa digunakan untuk membawa penumpang dari dan ke tempat-tempat seperti  acara olahraga, bandara atau berbagai tempat lainnya dapat berubah menjadi sebuah rumah mewah? Ini bisa saja terjadi, jika memang bus tak lagi digunakan sebagai bus antar jemput.

Baca juga: Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan

Ya seperti bus antar jemput Ford E-Series yang diubah menjadi rumah mewah. Bus ini bahkan menggunakan tenaga listrik dari satu set baterai EV. Namun Ford Ecoline khusus tersebut tak hanya memiliki hal itu sehingga di sebut mewah tetapi ada hal lain yang menakjubkan ketika mengintip bagian dalamnya.

Steph dan Sara pemilik bus yang diubah jadi rumah mewah (fordauthority.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari fordauthority.com (19/5/2020), bus seperti rumah mewah tersebut milik Steph dan Sara. Mereka mendapatkan ide mengubah bus Ford E-Series tersebut setelah menganggur dan tidak lagi bekerja.

Karena memiliki kebebasan untuk pergi kemana pun mereka inginkan, Step dan Sara menyadari bahwa mengendarai sebuah kendaraan adalah hal yang harus di tempuh. Alih-alih membeli yang baru, mereka justru mengubah bus antar jemput Ford E-550 yang sebelumnya digunakan di bandara menjadi sebuah rumah impian bagi mereka.

Tak sebentar untuk mengubah bus ini, keduanya membutuhkan waktu sebelas bulan untuk menyelesaikannya dan setelah melakukan tur keliling bus, sehingga mudah untuk mengetahui alasannya. Penasaran dengan perubahan yang Steph dan Sara lakukan? Dibagian dalam terdapat kamar mandi dan dapur yang lengkap hingga ada fitur unik seperti kompor pembakaran kayu.

Daya untuk menghidupkan semua fasilitas ini dihasilkan oleh listrik dari panel surya di atap yang mengisi total enam baterai yang ditarik dari Nissan Leaf. Mungkin hal ini sudah biasa, namun yang menakjubkan adalah ada banyak kayu indah yang terlihat di dalam kabin bus tersebut termasuk kayu jati.

Selain itu ada kayu reklamasi, perlengkapan tembaga dan aksen kulit sehingga menambah kesan nyaman di seluruh bagiannya. setelah semua bagian dalam selesai, Steph dan Sara telah melakukan perjalanan di seluruh Amerika Serikat di kemping Ford E-Series mereka.

Baca juga: Nyeleneh, Orang-Orang ini Sulap Kendaraan Jadi Kolam Renang!

Ketika berkeliling pun mereka mempromosikan Project Blue yang merupakan sebuah inisiatif kesehatan mental yang telah dibuat dua orang ini. Sayangnya tidak ada penjelasan berapa besar dana yang dikeluarkan Steph dan Sara untuk menyelesaikan bus mewah mereka dan bisa dikatakan ini tidaklah murah.

Polisi Manila Uji Coba Jarak Sosial di LRT

Beberapa negara yang sudah membuka lockdown atau melonggarkan sedikit pembatasan terhadap masyarakat akan mulai kembali mengoperasikan transportasi umum mereka secara penuh. Salah satunya adalah Filipina yang mulai melakukan langkah-langkah untuk menegakkan jarak sosial pada angkutan umum.

Baca juga: MRT Jakarta Larang Penumpang Bicara dan Menelepon Saat di Dalam Kereta. Ternyata di Singapura Sudah Duluan

Hal ini dilakukan juga untuk mengendalikan penyebaran virus corona, apalagi di Manila kota dengan penduduk padat yang dikenal dengan kekacauan penumpangnya. Untuk itu sebanyak 500 polisi di Manila berperan sebagai penumpang kereta api dalam latihan mengelola ratusan ribu orang saat transportasi umum akhirnya dibuka kembali setelah hampir 11 minggu ditutup.

KabarPenumpang.com melansir laman reuters.com (26/5/2020) para anggota polisi ini menggunakan celana jins, kaus putih dan masker atau pelindung wajah. Mereka berbaris menaiki tangga stasiun light rail transit (LRT) sebelum bergabung dengan antrian tertib ke dalam peron. Dengan jarak yang sudah ditentukan, mereka perlahan-lahan masuk ke gerbong kereta yang luas.

“Dari pagi hingga larut malam selalu ada barisan penumpang yang menunggu untuk naik kereta. Kami melakukan simulasi ini untuk lebih mempersiapkan operasi LRT yang lebih lancar,” kata kepala kepolisian Metropolitan Manila Debold Sinas.

Debold mengatakan, jika semua kembali normal, jutaan orang bergerak di dan sekitar Manila mendorong jaringan transportasi ke batas mereka. Diketahui, masyarakat biasanya menggunakan beberapa moda transportasi yang berbeda untuk mulai bekerja.

Mereka akan bergabung dengan antrian panjang yang berliku-liku dan sebelum masuk dengan ketat ke dalam bus, jip penumpang dan kereta api. Juru bicara LRT Hernando Cabrera mengatakan jarak sosial berarti setiap kereta hanya akan mengangkut sepuluh persen dari jumlah penumpang maksimum, membuatnya sulit untuk mengelola aliran orang di stasiun.

“Hanya 160 penumpang yang akan diizinkan. Ini adalah tantangan yang sangat besar bagi kami untuk mempertahankan dan mengendalikan kerumunan begitu operasi dimulai,” katanya.

Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit

Manila telah berada di bawah karantina masyarakat sejak 16 Maret di salah satu penguncian virus korona terpanjang di dunia. Itu dimodifikasi sepuluh hari yang lalu untuk meringankan beberapa pembatasan dan pemerintah akan bertemu pada hari Rabu untuk memutuskan apakah akan melonggarkan mereka lebih lanjut. Filipina telah melaporkan 14.669 kasus virus corona dan 886 kematian.

Hyundai Rotem Mulai Masuki Sektor Kereta Api Hidrogen

Beberapa tahun belakangan, rencana penggunaan hidrogen untuk menjadi bahan bakar kereta api terus dicanangkan. Hal tersebut kemudian diikuti oleh Hyundai Rotem yang baru-baru ini mengumumkan rencana untuk memasuki sektor infrastruktur hidrogen.

Baca juga: Dirut PT KAI Jajal Kereta Hidrogen di Jerman dan Siap Bawa ke Indonesia

Bahkan mereka juga akan memasok kereta api bertenaga hidrogen melalui pengembangan LRV (Light Rail Vehicle) bertenaga hidrogen yang saat ini tengah berlangsung. KabarPenumpang.com melansir laman railjournal.com (10/6/2020), pabrikan Korea itu membentuk tim Pengembangan Energi Hidrogen tahun lalu untuk memulai pengembangan divisi pasokan bahan bakar hidrogen.

Hyundai Rotem mengatakan pihaknya menandatangani kontrak sub-lisensi dengan Hyundai Motor pada bulan Februari untuk mengamankan teknologi produksi hidrogen asli, yang bersama-sama dengan keahlian dari divisi internasional perusahaan. Teknologi yang diusulkan dapat mengekstraksi 640 kg hidrogen per hari dari gas alam.

Perusahaan berharap dapat mengurangi biaya saat ini untuk metode ekstraksi di lokasi sebesar 15 persen dibandingkan dengan metode yang ada, dan berencana untuk membangun model standar untuk stasiun pengisian hidrogen akhir tahun ini. Hyundai Rotem juga akan mengembangkan dispenser dan perangkat pengisian hidrogen untuk kendaraan.

Selain itu mereka juga berencana mengamankan teknologi tambahan yang diperlukan untuk mengembangkan stasiun pengisian kendaraan hidrogen untuk produksi dan penyimpanan hidrogen. Bisa dikatakan ini merupakan sebuah metode yang menurut perusahaan akan mengurangi biaya produksi dibandingkan dengan mengekstraksi bahan bakar sebagai produk sampingan dari produksi petrokimia.

Sebuah proyek percontohan di Changwon untuk membangun stasiun pengisian mobilitas hidrogen mobilitas besar sedang berlangsung dan Hyundai Rotem mengatakan ini akan membuktikan dasar untuk stasiun pengisian bahan bakar masa depan untuk kendaraan kereta api. Hyundai Rotem juga mengungkapkan bahwa mereka telah mengembangkan kendaraan kereta api hidrogen-listrik dalam kemitraan dengan Hyundai Motor sejak 2019 dan berencana untuk memproduksi LRV uji pertama pada tahun 2021.

Baca juga: Dubes RI untuk Jerman Jajal Langsung Kereta Bertenaga Hidrogen

Kendaraan hidrogen-listrik akan menjadi modular dengan sel bahan bakar hidrogen, tangki hidrogen, dan sistem pendingin yang dipasang di atap kendaraan. Desain lantai rendah kendaraan akan mengoptimalkan ruang bagi penumpang sambil menawarkan kenyamanan tambahan untuk naik dan turun kendaraan.

Hyundai Rotem mengatakan pasar kendaraan kereta hidrogen global saat ini bernilai sekitar Won 600 miliar (US$500 juta) dan mengharapkan permintaan meningkat ketika pasar tumbuh.

Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan

Menyimpan perahu di dermaga, tentu biasa. Namun, apa jadinya bila perahu disimpan di garasi rumah? Dahulu, butuh usaha lebih untuk mengangkut perahu dari lautan ke daratan, demikian pula sebaliknya. Tetapi, seiring perkebangan teknologi, hal itu mudah dilakukan.

Baca juga: Travelers Penyuka Diving Wajib Tau! U-Boat Worx Luncurkan Kapal Selam Paling Ringan

Di awal bulan ini, perusahaan desain dan pembuatan kapal atau perahu generasi baru, Iguana Yachts, meluncurkan Day Limo, perahu amfibi berkapasitas 12 orang yang handal di darat dan di lautan. Tak hanya itu, pabrikan juga mengklaim perahu amfibi buatannya bisa disimpan di superyachts dan beraktivitas dengan mudah berkat bantuan roda rantai di bagian bawahnya.

Selain itu, perahu amfibi ini juga diproduksi dengan berbagai pilihan mesin, mulai dari diesel, gas atau listrik antara 300 dan 600 horse power (hp). Detailnya, dari spesifikasi yang beredar, di atas daratan, Day Limo hanya sanggup menempuh sekitar 7 km per jam. Sebaliknya, ketika di lautan, perahu amfibi itu bisa melaju sampai 74 km per jam.

Dari segi interior dan eksterior, Day Limo juga cukup menawan. Warna putih kombinasi hitam ditambah kanopi di bagian tengah dan kaca partisi di bagian depan menjadi satu kesatuan utuh dalam membuat tampilan perahu amfibi tampak spesial. Belum lagi roda rantai di bagian bawah dengan ground clearance setinggi kurang lebih satu meter, makin menambah tegas tampilan luar kapal.

Menariknya, dalam laporan New Atlas, perahu amfibi itu memang hanya bisa menampung maksimal 12 orang. Namun bila dibutuhkan, Day Limo bisa menampung tambahan penumpang hingga lima orang. Hal itu dimungkinkan dengan fitur tata letak vis-a-vis sofa, dimana sofa bisa disesuaikan dengan tambahan lima orang tersebut sehingga mampu mengangkut totalnya sampai 17 orang.

Ground clearance Day Limo setinggi hampir satu meter. Foto: Iguana Yacht

Sebagai kendaraan yang kekuatan utamanya ada di laut atau perairan, Day Limo juga dilengkapi dengan fitur yang melindungi penumpang dari cipratan air dan terik panas dengan keberadaan retractable kanopi yang menjulang di tengah kapal. Bila dibutuhkan, kanopi tersebut dapat menjangkau seluas area kapal dan melindungi penumpang di overhead. Kemudian, di bagian samping, kaca partisi akan bertemu dengan kanopi, seperti sedang mengurung penumpang. Dengan begitu, mereka bisa terbebas dari panas terik dan cipratan air sambil tetap menikmati pemandangan dengan sekat kaca partisi.

Baca juga: Singapore Duck Tour, Wisata Amfibi dengan Rantis eks Perang Vietnam

Dalam keadaan sepi penumpang atau low capacity, mungkin berbagai barang bawaan bisa saja diletakkan sembarang di atas perahu. Namun, saat perahu disesaki penumpang, hal itu tentu tak mungkin dilakukan. Namun tenang, jika kondisi itu terjadi, Iguana Yacht yang sudah didirikan sejak 2008 ini sudah menyiapkan bagasi berkapasitas hingga enam koper di bagian depan. Untuk barang-barang kecil, seperti sepatu dan pakaian renang, penyimpanan di bawah sofa juga menyediakan ruang yang cukup luas.

Meskipun sudah dilaunching, Day Limo sampai saat ini belum dirilis harga resminya. Pihak galangan kapal hanya menyebut “price on request”. Meski demikian, beberapa pihak berspekulasi, bahwa Day Limo mungkin akan dibanderol dengan harga mulai €231.000 dan €598.000 atau sekitar Rp9,5 miliar (kurs 1 euro = Rp15.725).

Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines

Bandara Internasional Changi saat ini tengah bersiap untuk memulai layanan mereka secara bertahap setelah Singapura membuka kembali pembatasan karena pandemi Covid-19. Salah satunya Bandara Changi menghadirkan Transit Holding Areas (THA) baru di Terminal 1 dan 3.

Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top

Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (11/6/2020), kehadiran THA untuk memastikan kesehatan dan keselamatan penumpang dan staf Changi Airport Group (CAG). Sebab Singapore Airlines (SIA) mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima persetujuan untuk mulai mengoperasikan penerbangan transit.

Dalam situs webnya pada Kamis (11/6/2020), SIA mengatakan bahwa para pelancong akan bisa transit di Changi dari kota di Australia seperti Adelaide, Brisbane, Melbourne, Perth dan Sydney. Selain itu dari Selandia Baru yakni Auckland dan Christchurch.

Selain dari kota-kota yang disebutkan, penumpang SIA lainnya tidak bisa transit di Singapura. Tak hanya penumpang SIA tetapi SilkAir dan Scoot juga bisa transit di Changi dengan kota yang sama.

Selain itu penumpang harus memastikan bahwa mereka memenuhi persyaratan masuk untuk tujuan akhir mereka. Bahkan transfer penumpang ke dan dari penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai lain saat ini belum diizinkan.

“Sejalan dengan persyaratan peraturan, penumpang transit dan non-transit akan dipisahkan di Bandara Changi. Ini untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pelanggan dan staf kami,” kata operator.

CAG mengatakan, pada saat kedatangan, penumpang yang terbang melalui Changi akan dipandu ke terminal transit, yang akan dibuka hanya untuk penumpang transit dan staf bandara resmi. Pengecekan suhu juga akan dilakukan di pintu masuk dan area-area tersebut akan dibersihkan dengan desinfektan secara teratur.

Penumpang transit yang menunggu penerbangan penghubung mereka harus memakai masker wajah dan mengikuti marka atau tanda yang aman sementara staf bandara yang bekerja di area keamanan harus menggunakan masker wajah, pelindung wajah, dan sarung tangan. Penumpang juga akan mendapatkan fasilitas termasuk tempat duduk yang nyaman, area tunda, hiburan ringan dan area bermain.

“Mereka akan dapat membeli makanan ringan, camilan, dan minuman di tempat. Mereka juga dapat melakukan pembelian bebas pajak dengan bantuan layanan pramutamu belanja dan belanja mereka dikirimkan kepada mereka dengan aman,” ujar bandara.

Sebelum pengumuman, penumpang asing hanya diperbolehkan transit melalui Singapura hanya jika mereka berada di penerbangan repatriasi yang diatur oleh pemerintah mereka. Diketahui, lalu lintas udara merosot sejak semua pengunjung jangka pendek dari mana saja di dunia dilarang masuk atau transit melalui Singapura pada 23 Maret.

Menteri Transportasi Khaw Boon Wan mengatakan pada Mei kemarin, bahwa Bandara Changi sekarang hanya menangani sekitar 100 kedatangan dan 700 penumpang keberangkatan per hari. Area Induk Transit akan melalui pembersihan mendalam dan disinfeksi secara teratur.

Sebagai perbandingan, Bandara Changi menangani lebih dari 170 ribu penumpang per hari Mei lalu, sementara penerbangan harian turun dari 7.400 sebelum wabah virus menjadi hanya 80. Namun, ada tanda-tanda pemulihan karena negara-negara mulai melonggarkan kuncian dan sektor perjalanan udara memulai jalan menuju pemulihan.

Singapura juga melihat perjanjian jalur hijau dengan negara-negara tertentu, yang pertama diumumkan adalah jalur cepat antara Singapura dan Cina yang diumumkan pada 29 Mei. Jalur itu akan diluncurkan pada bulan Juni untuk perjalanan penting untuk tujuan bisnis dan resmi antara kedua negara, karena mereka muncul dari pandemi virus corona dengan langkah-langkah kontrol yang berlaku.

Ini pertama kali berlaku untuk Singapura dan enam provinsi atau kota langsung di bawah pemerintah pusat Cina – Shanghai, Tianjin, Chongqing, Guangdong, Jiangsu dan Zhejiang, kata Kementerian Luar Negeri Singapura. Pengaturan ini akan secara bertahap diperluas ke provinsi dan kota di Cina lainnya.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

“Untuk jalur transfer melalui Bandara Changi, Otoritas Penerbangan Sipil Singapura telah mengundang maskapai penerbangan untuk mengajukan proposal mereka yang akan dievaluasi berdasarkan keselamatan penerbangan, pertimbangan kesehatan masyarakat, serta kesehatan penumpang dan awak pesawat,” kata CAG.

Sambut New Normal, Interior Kabin ini Digadang Mampu Cegah Sebaran Corona di Pesawat

Masalah menjadi pendorong ampuh terciptanya sebuah inovasi, termasuk dalam menekan transmisi wabah corona di pesawat. Beberapa pekan lalu, perusahaan interior Italia sudah lebih dahulu memperkenalkan Glassafe, sebuah sekat partisi di antara tempat duduk. Seolah tak ingin ketinggalan, belum lama ini, perusahaan Inggris ikut mencoba peruntungan dalam bisnis tersebut.

Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors

CNN International melaporkan, perusahaan RAS Completions memperkenalkan The Personal Protection, sebuah airplane shield atau interior tambahan yang dipasang di antara tempat kursi di bagian atas. Partisi pelindung yang terbuat dari bahan polikarbonat transparan itu diklaim melindungi penumpang dari ancaman Covid-19.

Saat ini, produk tersebut tengah berjuang untuk mendapatkan sertifikasi oleh Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA). Bila sesuai rencana, beberapa pekan depan perusahaan menyebut produk anyarnya sudah bisa dipasang maskapai di pesawat untuk menyertai penerbangan mereka di masa New Normal.

Meskipun terlihat sederhana dan mampu melindungi penumpang dari paparan corona di pesawat, namun, beberapa pengamat sempat meragukan produk ini ketika situasi darurat terjadi. Menurutnya, mereka akan mengalami kesulitan untuk menyegerakan diri beranjak dari kursi dan keluar dari pesawat karenanya. Namun, keraguan tersebut dengan segera dibantah oleh perusahaan. Mereka mengklaim bahwa penumpang akan tetap mudah keluar masuk kursi sekalipun dalam situasi darurat.

“Kesederhanaan adalah yang terbaik. Kami mencoba menjadikan produk tersebut sebagai cara paling sederhana dan efektif untuk menjaga orang tetap aman,” kata Manajer Pengembangan Bisnis RAS Completions, Roger Patron.

“Produk kami sangat sederhana untuk dibuat, itu akan murah, itu akan membantu para klien. Semua ini bukan soal tampilan, meskipun kami jelas mengerti bahwa kami ingin orang merasa aman di dalam kabin,” tambahnya.

Patron melanjutkan, produk karya perusahaannya itu dinilai sangat cocok untuk penumpang pesawat di era New Normal ini. Pasalnya, mereka tidak pernah tau penumpang yang duduk bersebelahan dengannya bebas dari corona atau tidak. Oleh karenanya, dengan sekat partisi tambahan itu, selama tidak mengganggu kenyamanan, pemandangan, dan mobilitas keluar masuk kursi, maka tak ada salahnya untuk menyesuaikan penggunaan tersebut untuk sementara waktu.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Meski demikian, walaupun ia dan perusahaannya tahu bahwa penerbangan sulit untuk kembali ke masa sebelum wabah corona menyerang dalam waktu dekat, ia tetap menekankan bahwa The Personal Protection itu memang dibuat untuk jangka pendek.

“Kami melihat ini sebagai solusi jangka menengah, bukan jangka panjang. Alat ini telah melalui beberapa pengujian yang sangat ketat, jadi jika maskapai membutuhkannya selama enam bulan atau satu tahun maka alat ini memang diciptakan untuk itu,” pungkasnya.

Pertama Kalinya, Korean Air Minta Pramugari Cuti Tanpa Dibayar Hingga Setahun Mendatang

Flag carrier Korea Selatan, Korean Air telah memberlakukan kebijakan cuti tanpa dibayar untuk para pramugari mulai 1 Juli mendatang. Cuti tanpa dibayar itu akan berlaku dengan durasi hingga enam sampai satu tahun ke depan.

Baca juga: Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!

Keputusan itu juga diteken perusahaan berbarengan dengan proposal kebijakan perpanjangan cuti tanpa dibayar hingga 17 Juni mendatang bagi para pramugari yang telah bekerja setidaknya selama dua tahun.

Dilansir pulsenews.co.kr, langkah maskapai terbesar di Korea Selatan ini merupakan pertama kalinya sepanjang sejarah perusahaan berdiri. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi virus corona yang telah membuat industri penerbangan di dunia anjlok.

Bayangkan saja, dari 110 rute internasional, maskapai yang bermarkas di Seoul ini hanya menerbangakan sebanyak 25 rute saja atau sekitar 20 persen dengan frekuensi penerbangan sebanyak 115 dalam seminggu. Itu baru dari segi frekuensi terbang. Dari segi penumpang dan pergerakan pesawat, Korean Air mengalami penerunan penumpang internasional sampai 96 persen dan 324 pesawat dari 374 tetap mangkrak di bandara.

Sejak April lalu, seluruh karyawan Korean Air telah dirumahkan dengan tetap mendapat bayaran. Belakangan, angka tersebut menurun menjadi hanya 70 persen atau sekitar 20 ribu karyawan untuk tetap cuti tanpa dibayar; termasuk pilot asing.

Korean Air telah mengkonfirmasi bahwa semua eksekutifnya akan melepaskan sebagian dari gaji mereka sebagai tanggapan terhadap ekosistem bisnis yang memburuk karena wabah Covid-19. Gaji wakil presiden eksekutif dan di atasnya akan dikurangi 50 persen, wakil presiden senior sebesar 40 persen, dan wakil presiden 30 persen. Hal ini telah mulai berlaku sejak April 2020.

Beruntung, dengan posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemasok perlengkapan medis di dunia (dalam menghadapi wabah virus corona), Korean Air jadi kebanjiran penerbangan hanya kargo untuk diekspor ke berbagai negara, selain juga impor bahan baku dari sejumlah negara.

Hari Kamis lalu, bahkan maskapai sampai harus memuat 252 kilogram per tiga kursi penumpang untuk memaksimalkan kapasitas di kabin utama yang ditinggal para penumpang. Dengan begitu, setidaknya maskapai masih mempunyai bekal untuk perputaran uang.

Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

Akan tetapi, hal itu dinilai belum cukup. Oleh karenanya, maskapai yang berdiri sejak tahun 1962 ini sampai harus berencana menjual asset berupa tanah kosong di pusat Kota Seoul, semata untuk mendapatkan uang tunai.

Hanya saja, sepertinya rencana tersebut bakal mandek mengingat otoritas kota dikabarkan berubah pikiran dari semula mengizinkan tanah tersebut untuk dijadikan kawasan komersial menjadi taman kota. Padahal, bila berhasil laku, maskapai diperkirakan akan mampu meraup uang tunai dari hasil penjualan sampai $418,5 juta atau hampir Rp6 triliun (kurs 1 dollar = Rp14.489).

Kenapa Pilot ‘Boncos’ Gegara Tak Terbang? Berikut Penjelasannya

Belakangan, keyword pilot menjadi sensitif pasca gelombang PHK ikut menimpa mereka. Sebetulnya, dari segi hierarki atau struktur organisasi, pilot pun juga karyawan, sama seperti karyawan lainnya. Meski demikian, sudah menjadi rahasia umum bila pilot memiliki kehidupan yang lebih layak dibanding karyawan lainnya di industri penerbangan.

Baca juga: Rindu Terbang, Para Pilot Berharap Agar Orang-orang Kembali Beli Tiket Pesawat

Namun, ketika wabah corona menerjang, hampir seluruh pilot di dunia gigit jari. Dari semula hidup bak ‘dewa’ kini hidup sebatas ala kadarnya, tergantung manajemen keuangan mereka dari hasil yang sudah diraup sebelum pandemi berlangsung. Dari situ, pertanyaan simpel mungkin terlintas, mengapa pilot begitu tertekan ketika banyak pesawat di-grounded?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak mudah. Tetapi, tidak pula terlalu sulit sampai tak bisa mulai menjawabnya. Situs quora.com sebelum pandemi Covid-19 mendunia pernah memuat bahasan tentang pilot, khususnya perihal take home pay mereka yang notabene dibayar per jam.

Disebutkan, bagi pilot-pilot di Amerika Serikat, mereka pada umumnya dibayar per jam dan tidak mempunyai gaji pokok. ‘Argo’ gajinya mual berjalan saat pintu ditutup sampai pintu kembali dibuka. Selebihnya, ketika preflight, flight planning, atau saat masuk ke dalam pesawat, mereka tak mendapat bayaran alias di luar jam kerja (off the clock).

Walaupun begitu, pilot dinilai tetap beruntung dengan pundi-pundi uang yang didapatkannya per jam di setiap penerbangan. Besarannya tentu berbeda-beda di setiap negara atau bahkan di setiap maskapai di dunia, bergantung pada saat proses negosiasi dilakukan. Bagi pilot maskapai penerbangan kelas kakap, jangan tanya bayaran mereka per jam. Sebab, sudah dipastikan jauh lebih tinggi dibanding maskapai lain yang berada di bawahnya, baik dalam penerbangan internasional maupun penerbangan regional.

Bagi pilot-pilot regional, mereka mungkin tak mendapat bayaran per jam dengan harga selangit, sebagaimana pilot-pilot di maskapai kelas wahid di Amerika Serikat. Tetapi, mereka mempunyai gaji pokok atau yang biasa disebut guaranteed minimum (dikenal juga sebagai minimum guaranteed hour). Jadi, mereka hanya diminta untuk bersiap kapanpun (tentu bergantung kesepakatan) kapan kemungkinan waktu terbang. Bila pun tak terbang, mereka akan tetap mendapatkan gaji dengan hanya menonton televisi di rumah.

Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua

Akan tetapi, dengan dua kondisi berbeda itu, masih dalam diskusi di situs tersebut, beberapa pilot mengaku lebih memilih untuk terbang per jam di maskapai penerbangan kelas kakap,dibanding terbang bersama maskapai regional dengan bayaran lebih rendah namun mendapat kepastian gaji per bulan. Sebab, jika disandingkan di akhir bulan, pendapatannya cukup jauh berbeda.

Selain mendapatkan gaji dari biaya per jam di setiap penerbangan, dari mulai pintu pesawat ditutup sampai dibuka kembali, disebutkan, pilot umumnya juga mendapatkan bayaran di luar jam terbang dan gaji pokok, sebagaimana disebutkan di atas. Seperti ketika penerbangan extended trip, tarif untuk deadheading, kompensasi untuk re-route, dan berbagai biaya-biaya lainnya.