Masa Pandemi Covid-19 Jadi Kesempatan ASEAN Tingkatkan Kualitas Transportasi Umum

Hingga saat ini tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir dan ini memberi kesempatan negara di Asia Tenggara atau ASEAN untuk meningkatkan transportasi umum. Karena nantinya pasca Covid-19, sistem transportasi publik yang ditingkatkan akan lebih baik melayani kebutuhan negara.

Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Saat ini dalam menghadapi Covid-19 masyarakat yang menggunakan transportasi umum mencapai titik terendah sepanjang masa. Pasalnya banyak orang yang tinggal dirumah demi mengurangi risiko penularan Covid-19. Bahkan aplikasi Moovit melacak data angkutan umum untuk sejumlah kota di ASEAN seperti Bangkok, Singapura, Jakarta dan Kuala Lumpur di mana kereta api dan bus sudah mulai kembali beroperasi namun jumlah penumpangnya belum kembali ke angka sebelum pandemi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman aseantoday.com (15/6/2020), penurunan jumlah penumpang ini karena pemerintah mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah bila memungkinkan dan pertemuan besar masih belum dianjurkan. Seperti negara Malaysia layanan transportasi umum membatasi jumlah penumpang di peron atau di atas kereta.

Praktik-praktik ini telah secara efektif menurunkan jumlah penumpang pada waktu tertentu. Namun ternyata negara-negara ASEAN memiliki berbagai tingkat ketergantungan dan investasi dalam transportasi umum untuk memanfaatkan posisi terendah saat ini dalam perjalanan dapat memulai dengan pemeliharaan fasilitas sederhana.

Selain itu Singapura menawarkan beberapa pelajaran penting dalam hal ini seperti mempersingkat jam operasional Mass Rapid Transit (MRT) pada Mei. Itu mengakui jeda permintaan selama periode penutupan “pemutus sirkuit” nasional dan proyek pemeliharaan dan pembaruan terjadwal.

Sistem kereta kota dibangun pada 1980-an dan 1990-an dan membutuhkan pemeliharaan yang signifikan. Dengan menyelesaikan perbaikan selama periode rendah penumpang ini, Singapura membebaskan penumpang dari gangguan layanan pasca Covid-19. Padahal saat ini pengeluaran biaya bisa dikatakan tidak bijaksana karena masa pandemi, tetapi Singapura justru bida mulai memperbaiki model bisnis kereta mereka.

Banyak sistem transportasi umum di wilayah ini menghadapi tantangan anggaran karena pandemi, tetapi untuk saat ini, kota-kota harus menghindari kenaikan tarif karena mereka tidak akan diterima dengan baik oleh para pencari nafkah rata-rata yang bergantung pada transportasi umum. Demografis ini mungkin sulit karena pengangguran atau hilangnya pendapatan.

Sebelum pandemi, para penumpang di Singapura menanggung 50 persen dari biaya operasi sistem kereta api mereka, dengan keseimbangan berasal dari negara dan pendapatan non-tarif. Apalagi penurunan penumpang baru-baru ini berarti bahwa proporsi biaya yang ditanggung oleh penjualan tiket bahkan lebih rendah.

Seperti banyak sistem transportasi di kawasan ini, operator kereta api Singapura membutuhkan solusi. Menurut Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan, biaya tambahan yang dikeluarkan oleh operator angkutan umum karena wabah Covid-19 tidak “tercakup secara memadai” oleh tarif saat ini dan “pada akhirnya harus ditanggung oleh operator dan pembayar pajak.”

Operator angkutan umum di Singapura sudah kehilangan uang, dengan Kereta Api SMRT melaporkan kerugian bersih sebesar S$155 juta (US$110 juta) pada tahun 2019. Ini meneruskan biaya kepada operator dan pembayar pajak lebih baik daripada menaruhnya di komuter, tetapi itu masih belum ideal.

Di masa depan, kenaikan tarif dapat dibenarkan dengan peningkatan kinerja operator transportasi yang dapat menawarkan layanan pelanggan yang lebih baik atau kereta yang lebih sering. Sampai sekarang, kenaikan tarif mungkin juga disukai karena Singapura telah frustrasi oleh gangguan layanan kereta baru-baru ini pada Maret 2020.

Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit

Untuk saat ini, Dewan Transportasi Umum (PTC) nasional dapat melakukan penyelaman mendalam ke dalam pembenahan model keuangan dan operasi operator. Rendahnya jumlah penumpang memberikan peluang untuk mencoba berbagai strategi operasi dan memberikan ruang bagi kesalahan seperti dapat meninjau kembali uji coba Bus Publik Berdasarkan Permintaan yang berakhir pada Mei 2019. Dalam skala yang lebih luas, Singapura juga dapat belajar dari Hong Kong, yang menghadapi tantangan serupa. Model pengoperasian “kereta plus properti” Hong Kong.

Tak Berikan Struk Pembayaran, Pengemudi Taksi Singapura Kena Denda 50 Dollar

Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura pada 11 Juni 2020 mengeluarkan aturan yang bertujuan untuk memfasilitasi upaya pelacakan kontak. Aturan ini dimana semua pengemudi taksi harus memberikan struk pembayaran kepada semua penumpang mereka terlepas dari diminta atau tidaknya.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

Nantinya jika para pengemudi tidak memberikan struk tersebut maka mereka akan di denda sebesar S$50 atau sekitar Rp509 ribu. Selain itu juga para penumpang sangat dianjurkan untuk menyimpan tanda terima setidaknya selama 14 hari.

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (13/6/2020), karena aturan ini kemudian membuat para pemangku kepentingan bergerak dan mendesak LTA untuk mempertimbangkan kembali keefektifan aturan ini. Anggota parlemen GRC Ang Hin Kee yang merupakan penasihat eksekutif untuk Asosiasi Taksi Nasional mengatakan, ia berharap LTA tidak akan menjadikan hal tersebut sebagai tindakan hukuman.

“Saat ini supir taksi dapat memperoleh S$50 hanya jika itu adalah hari yang baik (dengan situasi Covid-19). Denda S$50 akan menghapus pendapatan sepanjang hari mereka,” kata Ang.

Adanya hal tersebut kemudian berbagai operator taksi mengatakan kepada pengemudi minggu ini bahwa mereka yang tidak bisa mengeluarkan struk atau tanda terima kepada penumpang akan dikenakan denda komposisi S$50. LTA mengatakan bahwa aturan tersebut melengkapi pemasangan kode QR SafeEntry di taksi terutama untuk penumpang yang tidak dapat memindai kode.

Pengemudi juga tak perlu mencetak struk jika penumpang memesan taksi melalui aplikasi seluler karena akan mendapat tanda terima elektronik. Nantinya jika tidak mengeluarkan struk pembayaran, LTA tidak akan langsung menindak pengemudi.

“Jika ada umpan balik pada pengemudi yang tidak mematuhi, LTA akan menyelidiki berdasarkan keadaan masing-masing kasus,” ujar juru bicara LTA.

Diketahui, LTA telah bekerja dengan operator taksi untuk menginstruksikan pengemudi untuk mengeluarkan tanda terima sejak April. William Lim, administrator grup Facebook Pengemudi Taksi Singapura, mengatakan sementara memahami bahwa LTA berusaha meningkatkan upaya pelacakan kontak, dia ragu mengeluarkan tanda terima akan menjadi langkah yang efektif.

“Sangat tidak praktis dengan semua taksi sekarang memiliki kode QR SafeEntry. Orang-orang yang pergi ke mal dan supermarket menggunakan kode yang sama, jadi mengapa kita harus kembali ke dasar-dasar dan menggunakan tanda terima. Jika kamu seorang penumpang, kamu juga kemungkinan akan membuang tanda terima setelah mendapatkannya, sehingga tidak memenuhi tujuan yang dimaksudkan,” ujar Lim.

Ang mengatakan Asosiasi Taksi Nasional telah berbagi reservasi dan masalah dengan LTA. “Saya tahu mereka berusaha meningkatkan pelacakan kontak untuk orang-orang tanpa ponsel, tetapi selama periode ini saya tidak tahu siapa yang akan keluar tanpa ponsel mereka … untuk warga lanjut usia tanpa ponsel, mereka seharusnya kebanyakan tinggal di rumah selama ini waktu.”

Dia mengatakan seharusnya tidak ada kebutuhan untuk tanda terima bagi mereka yang sudah memiliki ponsel dan dapat melakukan check in SafeEntry. Ang menambahkan, sebaliknya upaya harus difokuskan pada membuat orang untuk check in melalui sistem check in digital SafeEntry.

Baca juga: Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker

Jika struk atau tanda terima harus dikeluarkan, Ang mengatakan, tanggung jawab tidak boleh berada pada pengemudi saja, menambahkan bahwa pemberitahuan dapat ditempatkan di taksi untuk mengingatkan penumpang untuk meminta struk pembayaran.

Setelah Lebih dari Satu Abad, Gunung Es yang Bikin Kapal Titanic Tenggelam Akhirnya Terungkap!

Kapal pesiar super mewah asal Inggris Titanic memang sudah tenggelam sejak lebih dari seabad yang lalu. Penyebabnya pun juga sudah umum diketahui, yakni karena menabrak gunung es. Namun, gunung es tersebut masih simpang siur bagaimana wujudnya. Sebab, di sekitaran lokasi tenggelamnya kapal Titanic, ada begitu banyak gunung es.

Baca juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar

Akan tetapi, selalu ada cara lain untuk mengungkap wujud gunung es yang dimaksud sekalipun tidak diabadikan berbarengan dengan peristiwa kelam tenggelamnya kapal Titanic yang menewaskan sekitar 1.500 orang itu.

Belum lama ini, kantor berita yang berbasis di Toronto, Kanada, torontosun.com melaporkan bahwa seorang pelaut ulung, Kapten W. Wood, yang bertugas di atas kapal SS Etonian diklaim mempunyai foto gunung es yang menyebabkan kapal laut Inggris Titanic tenggelam.

Kapten Wood yang juga seorang penggemar fotografi, tepat dua hari sebelum Titanic tenggelam juga melintasi Atlantic. Sadar ia telah melewati objek foto menarik dan langka, ia pun menyempatkan diri untuk mengabadikan gunung es dengan ukuran cukup besar tersebut.

Tak hanya itu, seolah memang sudah menjadi cara Tuhan untuk membantu manusia mengungkap masalah, Wood, kala itu juga tergerak untuk membuat titik koordinat untuk memetakan gunung es yang dimaksud.

Kapal laut Inggris Titanic mulai berlayar dari Southampton, Inggris, pada tanggal 10 April 1912. Foto: The Canadian Press

Namun, Wood tak mengungkap dengan jelas untuk apa ia memetakannya. Entah untuk kembali lagi suatu saat nanti dan memotretnya dengan kamera yang lebih canggih atau sekedar menjalankan kebiasaan sebagai seorang pelaut untuk memetakan setiap temuan atau objek menakjubkan. Entahlah. Yang jelas, 40 jam kemudian, kapal laut Inggris Titanic dilaporkan tenggelam dan menewaskan sedikitnya 1.522 orang.

Tak lama setelah sampai di daratan, tepatnya di New York, Wood pun mengirimkan foto tersebut ke kakek buyutnya, bersamaan dengan sebuah surat yang berisi keterangan bahwa gambar itu adalah gunung es yang telah membuat Titanic tenggelam.

“Aku mengirimimu gambar lautan, kapal SS Etonian melintas saat badai menerjang dan melewati gunung es yang menenggelamkan Titanic. Kami melintasi lintasan es 40 jam sebelum dia (Titanic) dan di siang hari, jadi lihat gunung es dengan mudah terlihat dan aku memotretnya,” kata Wood salam suratnya.

Di masa lalu, foto gunung es di sekitaran lokasi tenggelamnya Titanic memang kerap dipotret pemburu objek menarik dari seluruh dunia, baik sebelum maupun sesudah kejadian. Namun, dari begitu banyak foto yang beredar, tampaknya, foto dari Wood inilah yang paling mendekati sketsa foto hasil dari pengakuan saksi mata yang selamat dalam kejadian tersebut.

Pada 15 April 1912 tepatnya pukul 02.20, kapal laut Inggris Titanic mulai tenggelam di Samudra Atlantik Utara sekitar 400 mil selatan Newfoundland, Kanada. Kapal besar nan mewah itu mengangkut 2.200 penumpang dan awak kapal.

Baca juga: Langkah-Langkah Ini Akan Mudahkan Proses Evakuasi Saat Kapal Mengalami Kecelakaan!

Dua setengah jam sebelumnya, kapal menabrak gunung es. Dilansir History, pada 10 April kapal termewah dalam sejarah pembuatannya itu berangkat dari Southampton, Inggris pada perjalanan perdananya melintasi Samudra Atlantik.

Titanic dirancang oleh pembuat kapal asal Irlandia William Pirrie. Kapal dibuat di Belfast yang mengklaim sebagai kapal tercepat di dunia. Kapal membentang 883 kaki. Lambung kaki dibagi menjadi 16 kompartemen kedap air. Sebab empat kompartemen ini dapat dibanjiri tanpa menyebabkan hilangnya daya apung yang kritis. Sangat jelas, Titanic dianggap tidak dapat tenggelam.

Gegara Postingan Rasis di Twitter, Pramugari Senior ini Tak Lagi Bekerja di Delta Air Lines

Topik seputar rasisme kini tengah menjadi pembicaraan utama di Negeri Paman Sam, terlebih pasca tewasnya George Floyd yang memicu kerusuhan dalam skala besar-besaran. Dunia dirgantara AS, rupanya turut terseret soal rasisme, setelah seorang pramugari senior dari masapai Delta Air Lines, telah terbukti mengumbar postingan berbau rasisme di Twitter.

Baca juga: Imbas Corona, Wanita Asia Jadi Bahan Omelan Rasis di Kereta Bawah Tanah New York

Kevin Jennings, pramugari yang menggunakan akun Twitter @kevintheflygirl ternyata telah memposting beberapa tweet yang dipertanyakan seputar hubungan ras yang dilakukannya setidaknya sejak 2017 lalu. Hal ini kemudian ditanggapi oleh pihak Delta yang melakukan pemeriksaan cermat terhadap postingan media sosial Jennings terkait masalah ras.

“Kami tidak memiliki toleransi terhadap rasisme, kefanatikan, dan tindakan kebencian. Karyawan itu tidak lagi bekerja di Delta, ”juru bicara Delta Anthony Black yang dikutip KabarPenumpang.com dari travelpulse.com (14/6/2020).

Maskapai yang berbasis di Atlanta ini tidak akan mengatakan jika pramugari, Kevin Jennings, telah berhenti, dipecat atau mengikuti program pensiun dini perusahaan. Namun Delta mengatakan kepergiannya mengikuti penyelidikan penuh ke dalam posnya.

Kepergiannya terjadi di tengah meningkatnya kepekaan di antara perusahaan-perusahaan terhadap posting online setelah beberapa hari protes di seluruh negeri terhadap ketidaksetaraan rasial dan perlakuan polisi terhadap orang Amerika-Afrika. Banyak perusahaan, termasuk Delta, telah berbicara di depan umum menentang rasisme.

Jennings sering dipilih oleh manajemen dalam beberapa tahun terakhir untuk mewakili Delta di acara-acara perusahaan. Tahun lalu dia memenangkan penghargaan Chairman’s Club yang bergengsi dari maskapai itu, diberikan kepada karyawan top yang disebut panutan bagi rekan-rekan mereka dan mewujudkan nilai-nilai Delta.

Dalam beberapa hari terakhir menuai kritik dari konsumen dan karyawan. Jumat lalu, CEO Delta Ed Bastian mengirim memo yang meminta karyawan untuk melaporkan rasisme atau diskriminasi apa pun terhadap karyawan Delta.

“Itu menghancurkan hati saya untuk membaca komentar tentang rasisme yang dialami orang. Di atas semua itu, kita perlu memastikan tempat kerja di mana semua karyawan dapat merasa aman – baik secara fisik dan psikologis,” tulis Bastian dalam memo itu.

Dalam satu posting 7 Juni, Kevin Jennings di bawah gagang Twitter @kevintheflygirl menanggapi posting tentang seorang kepala polisi yang bergabung dengan pengunjuk rasa berbaring di tanah dalam solidaritas.

Karyawan pro-serikat pekerja di Delta adalah di antara mereka yang telah menyampaikan kekhawatiran tentang jabatan Jennings dalam beberapa hari terakhir. Blog perjalanan Jetiquette minggu ini mengkritik komentar Jennings, termasuk komentar yang berasal dari tahun lalu dan sebelumnya yakni masalah politik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kesetaraan pernikahan dan kekerasan senjata, bahkan di tengah kritik dari pelanggan dan pemimpin politik.

Baca juga: Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona

Delta mendukung undang-undang kejahatan rasial di Georgia dan juga telah bergabung dengan bisnis di Minnesota menyerukan anggota parlemen di sana untuk mengesahkan undang-undang untuk reformasi kepolisian “berfokus pada pencegahan perilaku polisi yang tidak dapat diterima dan memastikan bahwa pelaku tindakan rasis dimintai pertanggungjawaban.” Delta mengatakan upayanya di negara bagian asalnya saat ini difokuskan pada RUU kejahatan rasial.

Penumpang Pesawat Hangatkan Pizza Pakai Lampu Kabin, Tertarik Coba?

Kelakuan penumpang saat di kabin pesawat memang tak pernah bisa diseragamkan. Keragaman sosial dan budaya mungkin jadi salah satu penyebab utamanya. Terlebih dalam perjalanan long haul atau jarak jauh yang notabene banyak diisi penumpang lintas negara. Pasti ada saja tingkah aneh yang dilakukan penumpang.

Baca juga: Dari Pada Bosan, Penumpang Pesawat Ini Menata Keju di Atas Papan Charcuterie

Di artikel sebelumnya, redaksi sudah mengungkap beberapa kelakuan tak biasa penumpang saat di pesawat, mulai dari menata keju di atas papan charcuterie atau talenan kayu untuk mengisi kekosongan saat di pesawat hiingga sampai pipis di plastik dan kemudian digantung di seatback atau kursi bagian belakang yang ada di depannya.

Nah, belum lama ini, sebuah akun Instagram yang sudah cukup populer mengunggah kelakuan-kelakuan aneh penumpang selama di pesawat, @passengershaming kembali mengundang reaksi netizen. Betapa tidak, seorang penumpang yang tak disebutkan namanya ini justru menggunakan lampu kabin atau overhead light untuk menghangatkan pizza. Aneh bukan?

Meskipun tak disebutkan dengan jelas waktu dan tempat serta keterangan lainnya, namun satu hal yang pasti, postingan ini pertama kali dibagikan di media sosial pada tahun 2016 silam. Tetapi, karena beberapa akun mempostingnya kembali –tak terkecuali dengan akun Instagram @passengershaming- netizen pun kembali membanjiri kolom komentar.

“Aku suka pizza tetapi bukankah pizza yang dihangatkan dari lampu-lampu LED itu? Apakah mereka menghilangkan panas? Aku hanya bertanya karena kita memiliki stop lights LED di sini di Colorado dan jika kita mendapatkan badai salju dan mereka ditutupi cahaya tidak mencairkan salju. Konyol,” kata salah seorang netizen.

Namun, netizen memang tak selalu menilai dengan sudut pandang yang sama. Ada yang menghujat, ada pula yang mendukung atau berkomentar positif atas kelakuan penumpang yang satu ini. Bahkan, seorang netizen menyebut tindakan tersebut sebagai sebuah inovasi unik. “Saya merasa ini inovatif dan bukannya menjijikkan,” kata seseorang.

Baca juga: Jijay! Ada Penumpang Pesawat Tinggalkan Urin di Kantung Plastik

“Ini seperti cara membuat makanan panggang dengan mudah untuk pelancong dunia. Jika lampu kabin cukup bagus untuk membuat brownies, berarti itu juga cukup baik untuk pizza,” tulis seorang netizen. “Aku tidak benci ini, pizza setiap hari tidak masalah bagiku,” tambah netizen lain. Hingga kini, postingan tersebut sudah mendapat lebih dari 8 ribu likes dan ratusan komentar.

Di video lainnya dalam akun Instagram @passengershaming, seorang penumpang yang tak melakukan aktivitas di pesawat sebagaimana mestinya. Dalam sebuah tayangan video di akun tersebut, seorang penumpang tampak menggunting kuku di pesawat. Jangankan menggunting kuku, membawanya saja sebetulnya sudah tidak boleh dan akan disita petugas body checking.

Pilah Pilih Jam Tangan Pilot, Pertimbangkan Hal ini Sebelum Membeli

Apa yang dicari ketika Anda mendambakan sebuah jam tangan? Tentu setiap orang punya perspektif tersendiri. Bagi kaum adam yang macho, sosok jam tangan pilot adalah salah satu yang dicari. Dengan kelengkapan fitur, kualitas tahana banting dan berstandar ‘army,’ menjadikan jam tangan khas pilot punya peminat tersendiri.

Baca juga: 10 Barang Bawaan Penting Bagi Pilot, Nomor 7 Tak Dibawa, Gagal Terbang!

Nah, bagaimana cara menentukan jam tangan pilot yang ideal untuk Anda. Berikut KabarPenumpang.com melansir dari gearpatrol.com (9/6/2020), ternyata ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya dicermati sebelum membeli jam tangan pilot ini.

1. Apakah Anda benar-benar menerbangkan pesawat?
Bila jawabannya iya, maka seharusnya Anda tahu bahwa seorang pilot sebenarnya tidak memerlukan jam atau arloji. Memang di masa lalu jam tangan adalah alat yang penting bagi para pilot, tetapi setelah munculnya instrumen digital dan komputasi, penggunaan jam tangan pun perlahan menghilang. Namun, itu tidak berarti Anda tidak bisa menggunakannya, sebab ini bisa meningkatkan apresiasi Anda terhadap jam tangan dan kecanggihan pesawat modern. Tapi jika Anda bukan seorang pilot dan hanya penggemar penerbangan serta ingin menggunakan jam tangan pilot rasanya tak masalah.

2. Fitur dan fungsi apa yang dicari?
Sebenarnya ini pertanyaan untuk kebutuhan pribadi dengan jam tangan pilot. Beberapa fitur yang umum dikaitkan dengan jam tangan pilot dapat bermanfaat dan diinginkan untuk pemakaian biasa. Misalnya, bezel aturan slide dapat digunakan untuk membuat berbagai perhitungan praktis, dan kronograf dapat digunakan untuk mengatur waktu semua jenis kegiatan. Komplikasi GMT dan bezel 24 jam adalah komplikasi praktis juga awalnya ditujukan untuk pilot komersial, ini sangat berguna untuk pelancong modern atau mereka yang memiliki kontak di zona waktu lainnya. Masing-masing fitur ini berguna dan layak dipertimbangkan dalam jam tangan pilot ini hanyalah bonus karena mereka memiliki sejarah keren dan cenderung menambah tampilan yang menarik.

3. Apakah gerakan mekanis itu penting?
Pertanyaan ini berlaku untuk semua jenis jam tangan. Gerakan mekanis lebih mahal dan kurang akurat daripada bagian kuarsa mereka, tetapi mereka menambahkan rasa “kekhasan” pada jam tangan, dan ini mungkin lebih penting bagi pembeli yang tertarik pada jam tangan pilot khusus untuk sejarah dan tradisi mereka. Berhati-hatilah karena banyak jam tangan pilot adalah kronograf, dan itu bisa berarti harga yang jauh lebih tinggi ketika mekanis. Jam tangan Quartz dapat menawarkan opsi yang murah dalam gaya arloji pilot klasik, tetapi mereka juga dapat menggabungkan semua jenis fitur dan teknologi digital yang mungkin berguna untuk pilot hari ini. Ada yang menggunakan sinyal GPS dan radio untuk secara otomatis menyesuaikan dengan perubahan zona waktu, dan beberapa dirancang khusus untuk merekam waktu penerbangan dan data penting lainnya.

Baca juga: Rindu Terbang, Para Pilot Berharap Agar Orang-orang Kembali Beli Tiket Pesawat

4. Jam tangan pilot seperti apa yang Anda inginkan?
Jam tangan pilot mewakili suatu genre dengan variasi jenis, model dan lainnya. Tetapi jika memiliki gambaran tertentu dalam benak Anda seperti apa jam tangan pilot akan terlihat, itu awal yang baik. Mengetahui berbagai jenis jam tangan pilot yang tersedia akan membantu Anda menjelajahi pilihan Anda dengan lebih baik, karena ada banyak interpretasi dari masing-masing merek yang berbeda. Ada yang sederhana dan klasik seperti W10 dan flieger atau serumit kronograf flyback. Lalu, ada yang tidak sentimental yang terasa teknis dan serius seperti pesawat tempur modern atau pesawat komersial. Anda bahkan dapat menemukan jam tangan yang merangkul fakta bahwa pilot tidak memerlukan jam tangan ini, dan alih-alih mendekati penerbangan sebagai tema desain – beberapa mungkin memiliki jarum detik berbentuk pesawat, rotor berbentuk turbin, atau memasukkan bahan dari sejarah Pesawat dalam konstruksi mereka.

Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

Face shield atau pelindung wajah belakang ini menjadi booming saat pandemi virus corona atau Covid-19. Sebab dengan menggunakan face shield membantu untuk mencegah tertular Covid-19 yang dihasilkan dari droplet orang lain yang berbicara dengan Anda apalagi ketika naik kendaraan umum atau di tempat lainnya.

Baca juga: Video ini Pastikan Penyebaran Virus Corona Mudah Menjalar Lewat Percakapan

Saking boomingnya face shield ini, banyak orang yang kemudian akhirnya membeli dan bahkan mereka menggunakan hampir setiap hari ketika berada di luar rumah. Namun, ternyata beberapa orang juga membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang lebih hemat seperti menggunakan plastik bekas dari bungkus makanan.

KabarPenumpang.com melansir dari designboom.com, studio desain “mmm” di Korea Selatan memberikan solusi mereka dengan menggunakan berbagai bungkus makanan untuk dibuat face shield. Pak Kitae merupakan desainer yang membuat bingkai face shield 3D dan bahan bekas pasta atau snack sebagai pelindung depannya.  Pak Kitae menggunakan bingkai pelindung wajah yang berbentuk seperti sepasang kacamata dengan klip besar terdapat di bagian atas dan bawah.

Nantinya plastik atau bahan bekas transparan seperti bungkus pasta dan snack masuk menutupi kerangkan akan dijepit dengan klip besar tersebut. Menurutnya dengan inovasi ini, setiap orang bisa dengan mudah memiliki pelindung wajah dengan kreasi yang mereka inginkan.

Sayangnya karya face shield ini tidak diproduksi secara massal. Namun jika ada yang berminat, Pak Kitae mengatakan, mereka bisa menghubungi perusahaan untuk meminta file 3Dnya. Sehingga jika sudah mendapat file, bisa langsung mencetak bingkai face shield tersebut menggunakan printer 3D dan dipotong serta dikencangkan untuk penggunaan.

Nah, untuk Anda yang ada di Indonesia atau negara manapun mungkin bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Di mana bahan-bahannya dengan menggunakan bando plastik, karet gelang atau ikat rambut, plastik mika, lem tembak, gunting dan selotip.

Anda bisa merekatkan dua bando plastik dengan selotip dan buat jarak antara bando satu dengan yang lainnya karena digunakan sebagai penyangga face shield. Jarak ini dibuat agar pengguna memiliki ruang untuk bernapas ketika face shield digunakan.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Kemudian gunting karet atau ikat rambut dan rekatkan di ujung-ujung bando agar bisa menahan face shield ketika digunakan. Rekatkan plastik mika di bagian depan bando dengan lem tembak dan face shiel siap digunakan.

Nah, dengan membuat sendiri, Anda bisa memiliki face shield unik sesuai selera dan lebih hemat jika menggunakan bahan daur ulang yang ada di rumah.

Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

Saat comeback Boeing 737 MAX masih terus tertunda karena berbagai masalah yang terus-menerus muncul, penantang lain di pangsa pasar pesawat narrow body (untuk membendung Airbus A320neo) pun muncul. Mereka adalah Irkut Corporation.

Baca juga: Irkut MC-21 300, Burung Besi Asli Rusia yang Siap Goyang Pasar Narrow Body Airbus dan Boeing

Meskipun proses pengembangan dan produksi sempat tertunda akibat sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat (AS) yang mempengaruhi pasokan sayap komposit karbon buatan AS dan mesin oleh Pratt & Whitney sejak tahun 2014, Irkut dikabarkan tengah memperoleh kemajuan signifikan dalam pengembangan MC-21.

Perusahaan yang telah berpengalaman lebih dari 88 tahun di industri penerbangan Rusia ini menawarkan MC-21 dalam dua varian model, tipe standar MC-21-300 dengan jangkauan terbang hingga 6.000 km dan dapat memuat antara 163-211 kursi serta versi mininya, MC-21-200 dengan jangkauan hingga 6.400 km dan dapat memuat antara 132-165 penumpang.

Varian tersebut memang dimaksudkan untuk membawa MC-21 masuk dalam segmen narrowbody jarak pendek dan menengah. Sedangkan untuk dapur pacunya, MC-21 akan ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney dan varian dengan mesin PD-14 yang diproduksi oleh produsen mesin Rusia, Aviadvigatel.

Simple Flying menyebut, belakangan United Aircraft Corporation (UAC) Rusia (induk dari Irkut) tengah berjuang keras mengejar keterlambatan target akibat sanksi ekonomi oleh AS. Defense World melaporkan, UAC sampai mengerahkan empat pesawat uji coba sekaligus, dimana dua di antaranya diproyeksikan sebagai prototipe pesawat komersial dengan kapasitas penumpang 163-211 kursi.

Saat ini, setidaknya ada enam maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang telah memesan sebanyak 95 unit MC-21. Namun pesanan itu tidak disebutkan dengan rinci, entah MC-21-300 atau MC-21-200. Enam maskapai tersebut mulai dari flag carrier Rusia, Aeroflot yang memesan 50 unit, Azerbaijan Airlines, Cairo Aviation, Peruvian Airline, dan maskapai penerbangan Indonesia, Merpati Nusantara Airlines masing-masing memesan 10 unit, serta maskapai asal Kazakhtan, Bek Air dengan pesanan sebanyak lima unit.

Guna mengurangi backlog atau pesanan, UAC telah berikrar untuk menggenjot produksi di setiap tahunnya, mulai dari enam unit di tahun 2021, 12 unit di tahun 2022, 25 unit di tahun 2023, bahkan hingga 72 unit per tahun pada 2025. Bila segalanya berjalan lancar, bukan tak mungkin, MC-21 akan benar-benar bisa jadi alternatif maskapai di seluruh dunia agar mempunyai alternatif lain di luar Boeing dan Airbus mulai tahun 2021 mendatang. Lagi pula, dari segi spesifikasi, MC-21 juga dibekali sejumlah keunggulan.

Selain akan dipatok dengan harga di bawah Boeing 737 MAX dan Airbus A320neo, MC-21 juga memiliki kabin dan gangway terluas di kelasnya. Hal itu memungkinkan gangway MC-21 cukup untuk dilewati oleh troli katering dan oleh satu orang lainnya tanpa perlu bergantian atau saling salip. Sebuah keunggulan yang dirasa lumayan cukup berpengaruh.

Baca juga: Mengenal Irkut MC-21, Pesawat Produksi Rusia yang Jadi Calon Armada Merpati Airlines

Sejarah mencatat, dimensi pesawat terbukti membuat Boeing 707 menuai sukses -sekaligus awal dari kesuksesan divisi komersial Boeing- setelah Presiden Boeing, Bill Allen,menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing untuk membuatnya menjadi beberapa inci lebih lebar dari McDonnell Douglas DC-8.

Tak lupa, in flight entertainment pesawat berupa sistem pencahayaan LED di dalam kabin, layar hiburan, serta port USB type A juga tersemat untuk memanjakan penumpang. Bahkan, konon kabarnya, penumpang juga dapat mengakses fasilitas wi-fi gratis selama penerbangan – kendati pihak Irkut masih enggan menyebutkan siapa yang menjadi vendor untuk urusan ini.

(2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Masih berbicara tetang pilot. Sebagaimana yang telah disebutkan pada artikel sebelumnya, salah satu jenis pekerjaan pada pilot adalah airline pilot pay. Airline pilot pay normalnya dihitung berdasarkan per jam. Tetapi, turunan dari itu bergantung pada setidaknya sembilan kondisi.

Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Sembilan kondisi tersebut mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day.

Di artikel sebelumnya, KabarPenumpang.com telah tuntas membahas hingga determining pay earned based on pilot pay rigs, yakni rules yang dinilai sangat menguntungkan pilot. Namun, skema lainnya juga memiliki posisi krusial untuk kesejahteraan pilot.

Skema work rules effect on pay, misalnya, dinilai juga tak kalah penting bagi pilot dibanding yang lain. Sebab, dengan skema ini, jika pilot memiliki perjanjian tertulis dan berkekuatan hukum, maka, ketika penerbangan dibatalkan, mereka akan tetap dibayar. Kemudian, hal lainnya yang spesial, skema ini memungkin pilot dibayar 150-300 persen dari bayaran normal di hari, momen, atau waktu tertentu. Jika dalam sebulan waktu kerjanya melebihi ambang batas, maka pilot dimungkinkan untuk mendapat kenaikan gaji 10-30 persen per jam.

Lain lagi dengan pilot employer operations and quality of life. System rig ini, intinya pilot akan disesuaikan dengan perjalanan domestik dan internasional. Bila pilot memilih rata jarak atau perjalanan internasional, otomatis, mereka akan terbang dalam waktu berhari-hari tanpa pulang dan juga diberikan waktu berhari-hari untuk libur. Sebaliknya, bila pilot mengambil perjalanan domestik, maka mereka akan diberikan jam terbang lebih banyak namun dengan rute pendek dan akan dibayar berdasarkan away from base atau duty time.

Baik perjalanan internasional ataupun domestik, akomodasi dan transportasi keduanya tentu saja sama-sama ditanggung maskapai. Tak hanya itu, biaya tambahan lain untuk makan, minum, dan sebagainya juga tak luput dari perhatian. Skema biaya dari itu disebut pilot per diem day atau per diem.

Per diem biasanya dibayar berdasarkan waktu away from base dengan rasio 1:1. Misalnya, pilot menghabiskan waktu dua jam, maka per diem yang akan didapatkan pilot senilai dua jam perjalanan. Terkait tarif per diem, biasanya berkisar US$1,50 per jam hingga US$3 per jam. Tentu saja per diem untuk perjalanan internasional biasanya lebih tinggi dari angka tersebut.

Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

Selain itu, pilot juga mempunyai jaminan minumum terbang per jam atau guaranteed minimum hours yang akan dibayar per bulan. Biasanya, guaranteed minimum atau biasa juga disebut minimum guaranteed hours (MGH) tersebut berkisar 60-80 jam. Jadi, terbang tidak terbang, pilot akan mendapat bayaran minimum atau bisa dibilang gaji pokok per bulan.

Adapun corporate pilot pay, cargo pilot pay, charter pilot pay, flight instructor pay, law enforcement pilot pay, aerial firefighter pilot pay, dan crop duster pilot pay, pada intinya, pilot dimungkinkan untuk mendapat pundi-pundi uang per jam, per bulan, enam bulan, atau per tahun di luar airline pilot pay. Namun, tak semua pundi-pundi uang tersebut datang dari maskapai, bisa saja pilot mendapatkannya dari luar (yang menyewa jasa mereka), seperti crop duster (dibayar per jam atau sistem gaji) dan charter pilot pay (dibayar per jam atau sistem gaji tanpa adanya MGH).

Empat Bulan Nganggur, Emirates ‘PHK’ Airbus A380 Pertama

Setelah empat bulan tak menghasilkan pundi-pundi uang, Airbus A380 A6-EDB akhirnya dipensiunkan dini oleh Emirates. Pesawat A380 pertama Emirates yang mulai masuk tahun layanan pada 24 Oktober 2008 tersebut terakhir kali terbang pada 3 Februari, dari Bandara Internasional Muscat, Oman, ke Dubai sebelum akhirnya digrounded di hanggar Bandara Internasional World Central Dubai (DWC) pada 28 Februari.

Baca juga: Bos Emirates Prediksi Akan Ada Lebih Banyak Maskapai Bangkrut di Akhir Tahun

Selain A6-EDB, Emirates dikabarkan juga akan mempensiunkan dua A380 lainnya, yakni A6-EDA dan A6-EDC yang saat ini juga tengah digrounded di DWC. Meskipun secara umur tiga pesawat tersebut sudah berusia lebih dari 10 tahun, namun, alasan Emirates mempensiunkan tiga A380-nya bukan karena mereka terlalu tua untuk terus bekerja, melainkan memang sudah menjadi bagian dari strategi maskapai. Hal ini juga sekaligus menepis sejumlah rumor yang mengabarkan salah satu maskapai terbesar di Timur Tengah itu mempensiunkan A380 akibat pandemi corona.

“Kami mengurangi pesawat karena sewanya berakhir, atau saat pembiayaan sewa mereka berakhir jika pesawatnya adalah milik kami,” ujar Presiden Emirates Airlines, Tim Clark, seperti dikutip dari airlinegeeks.com.

“Kami dalam proses memensiunkan A380, dua di antaranya sudah dinonaktifkan karena kami akan melakukan perombakan besar-besaran, dan langkah terbaiknya adalah mengurangi pesawat tua, lebih baik melepas rodanya ketimbang membeli main landing gear baru senilai $25 juta, saya butuh mungkin hanya dua atau tiga pesawat untuk memenuhi syarat (overhaul),” lanjutnya.

Sebagaimana umum diketahui, Emirates merupakan operator Airbus A380 terbesar di dunia, maskapai ini memiliki 115 A380 plus tambahan delapan A380 yang masih dalam backlog Airbus. Namun, belakangan Emirates dikabarkan telah melakukan pembicaraan untuk membatalkan lima pesanan A380. Adapun tiga sisanya tetap akan dikirim meskipun telat, dari semula Maret 2020 menjadi tahun 2021 dengan bulan yang masih belum dapat dipastikan.

Dari 114 A380, Emirates menargetkan hanya akan menyisakan sekitar 90-100 pada pertengahan tahun 2020. Selanjutnya, hal itu akan dilakukan terus-menerus secara bertahap hingga benar-benar tak menyisakan satupun pesawat A380 pada tahun 2035 mendatang.

Sebagai gantinya, Clark telah memberikan sinyal bahwa maskapai yang dipimpinnya itu mungkin akan beralih ke Airbus A350 XWB dan Boeing 787 Dreamliner di masa mendatang, selain tetap mengandalkan 155 Boeing 777 dan 126 Boeing 777X yang masih menunggu pengiriman.

Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua

“Kami tahu A380 telah berakhir, 747 sudah berakhir, tetapi (Airbus) A350 (XWB) dan (Boeing) 787 (Dreamliner) akan selalu mendapat tempat. Mereka mungkin tidak segera dipesan (oleh maskapai saat ini) tetapi pada akhirnya, mereka (tetap) akan kembali dan mereka mungkin akan lebih cocok untuk permintaan global pada tahun-tahun mendatang setelah pandemi (Covid-19) berakhir,” jelas CEO yang telah memimpin Emirates sejak 2003 silam itu.

Keputusan Emirates mempensiunkan tiga pesawat A380 tentu menjadi kabar buruk bagi pecinta layanan A380 yang ditawarkan Emirates. Namun, mereka bukan satu-satunya maskapai yang mengurangi jumlah keterlibatan A380 dalam bisnis mereka. Tercatat, maskapai-maskapai lainnya, seperti Air France, Qatar Airways, dan Singapore Airlines juga melakukan hal serupa.