Gerbong Shinkansen Dipamerkan Untuk Jalur Maglev Linear Chuo dengan Kecepatan 500 km/jam

Pers pertama kali melihat gerbong kereta yang akan digunakan untuk jalur maglev Linear Chuo Shinkansen ketika diresmikan pada hari Jumat lalu di jalur uji coba di Prefektur Yamanashi.

M10, gerbong kereta baru dari Central Japan Railway Co. (JR Tokai), masih dalam tahap uji coba dan diperkirakan akan digunakan ketika Linear Chuo Shinkansen mulai beroperasi.

Salah satu fitur M10 adalah kursinya tidak dapat direbahkan, karena dirancang untuk penumpang yang bepergian dalam waktu singkat.

Karena pembangunan satu ruas jalur Linear Chuo Shinkansen belum dimulai, jadwal kapan M10 akan digunakan masih belum jelas. Namun, gerbong-gerbong tersebut masih dalam tahap pembangunan.

Ini adalah gerbong kereta maglev pertama yang diresmikan dalam lima tahun. Kereta maglev ini akan memiliki kecepatan tertinggi 500 km/jam dan diperkirakan akan menempuh jarak antara Stasiun Shinagawa dan Nagoya dalam waktu 40 menit. Untuk mencapai kecepatan tersebut, fungsi sandaran kursi dan fitur-fitur lainnya dihilangkan agar lebih ringan.

Ruang di depan setiap kursi telah diperluas, sehingga penumpang dapat meletakkan barang bawaan dan barang-barang lainnya di dekat kaki mereka.

Kereta Maglev Jepang Akan Gunakan Kursi Non-reclining

Kecepatan Linear Chuo Shinkansen dan gambar-gambar seperti langit biru dan berbagai lokasi akan diproyeksikan di langit-langit gerbong kereta saat rel kereta melewati banyak terowongan dan tidak akan ada banyak pemandangan dari jendela.

“Teknologi yang diperlukan untuk pengoperasian maglev sebagian besar telah dikembangkan,” kata direktur pusat pengujian kereta maglev di Prefektur Yamanashi.

Namun, dengan adanya kekhawatiran tentang pembangunan terowongan yang memiliki berbagai dampak lingkungan, pembangunan di salah satu ruas rel di Prefektur Shizuoka belum dimulai, dan belum ada jadwal pasti kapan pembangunan tersebut akan dimulai.

Selain itu, JR Tokai menyatakan pada hari Rabu bahwa total biaya pembangunan jalur maglev antara Stasiun Shinagawa dan Nagoya diperkirakan akan meningkat sekitar 4 triliun yen hingga 11 triliun yen. Mengamankan dana dalam jumlah besar akan menjadi tantangan yang signifikan.

Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Stasiun Purwosari: Saksi Sejarah Pertemuan Jalur Trem Kuda Menuju Boyolali

Stasiun kereta api (KA) di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta rasanya tak pernah habis akan sejarah. Ya, ada stasiun di wilayah tersebut yang cukup unik dan juga merupakan jalur percabangan menuju kawasan Boyolali, Jawa Tengah. Stasiun ini adalah Purwosari yang berada antara petak Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Gawok.

Selain tempat naik dan turun penumpang dengan disinggahi banyaknya KA, Stasiun Purwosari pastinya memiliki sejarah yang melegenda. Bangunan serta arsitektur yang mencerminkan gaya khas sejak jaman Kolonial Belanda ini, mampu menarik daya tarik masyarakat akan ukiran dan ornamen yang masih terlihat keasliannya.

Stasiun Purwosari juga digadang-gadang termasuk ‘stasiun pulau’ yang sangat mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Ambarawa. Konstruksinya dari besi yang menopang atap dengan penutup seng gelombang. Kemudian di bagian tengah terdapat ruang-ruang pelayanan stasiun dan ruang-ruang tunggu dengan peron di kedua sisinya.

Disebutkan bahwa Stasiun Purwosari juga menjadi stasiun kedua setelah Stasiun Solo Balapan yang dibangun Nederlandsch-Indische Maatschappij (NISM) di Solo pada akhir abad ke-19. Stasiun ini dilintasi kereta rute Semarang-Vorstenlanden, Yogyakarta-Solo-Surabaya, dan sebaliknya.

Stasiun Purwosari juga jadi perlintasan/pertemuan jalur Boyolali-Solo-Wonogiri yang diprakarsai perusahaan swasta kereta api Solosche Tramweg Maatschappij (STM) pada awal abad ke-20. Sejarah mencatat Stasiun Purwosari juga menjadi terminal trem dalam kota.

Wajah Stasiun Trem Boyolali. (Foto: Dok. malayanrailways.com)

Fakta sejarah bahwa Stasiun Purwosari Solo menjadi terminal trem juga diungkapkan laman heritage.kai.id. Pada awalnya, STM menggunakan tenaga kuda sebagai penarik trem. Terdapat sambungan jalur trem menuju Boyolali milik perusahaan trem swasta, Solosche Tramweg Maatschappij [STM] yang dibuka untuk umum tahun 1897.

Selain itu, terdapat jalur trem menuju Wonogiri milik NISM yang diresmikan pada 1922 melewati Stasiun Solo Kota. Trem kuda yang dioperasikan STM melayani jalur sepanjang sepanjang 27 km dari Solo Jebres-Stasiun Purwosari-Boyolali.

Lokasi pemberhentiannya di dekat Warung Pelem, Pasar Gede, dan Benteng Vastenburg. Namun sayangnya trem kuda ini tidak bertahan lama. Pada 1899, banyak unit kuda STM yang terjangkit penyakit. STM lalu menjalin kontrak kerja sama dengan NISM dan diakuisisi oleh NISM pada 1 Januari 1911.

Bangunan Stasiun Purwosari yang ada sekarang selesai dibangun pada 1912. Kini Stasiun Purwosari masih terus melayani KA dari arah Surabaya maupun dari arah Bandung dan Jakarta.

Keunggulan lainnya adalah stasiun ini menjadi jalur percabangan KA menuju Stasiun Wonogiri di mana jalur kereta apinya sangat langka dan ikonik di Indonesia karena berdampingan dengan moda transportasi lain di tengah kota.

Ini Dia Alasan Kenapa Singkatan Stasiun Solo Jebres Adalah “SK” Bukan “SJ”

Emirates Investasikan $23 Juta Untuk Teknologi Biometrik di Bandara Dubai

Dalam beberapa tahun terakhir, biometrik memainkan peran yang semakin penting dalam penerbangan komersial. Penggunaan kamera pintar mempercepat prosedur seperti check-in dan boarding sambil juga memastikan proses tanpa kontak. Dan Emirates kini menjadi maskapai terbaru yang berinvestasi dalam teknologi semacam itu, setelah mengumumkan bahwa mereka telah memasang lebih dari 200 kamera biometrik.

Kamera-kamera ini terletak di seluruh Terminal 3, yang merupakan rumah bagi maskapai tersebut di Bandara Internasional Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab. Maskapai ini bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Identitas dan Urusan Luar Negeri Dubai (GDRFAD) untuk mewujudkan hal ini. Emirates mengatakan bahwa penumpang dapat mendaftarkan detail mereka di aplikasinya, yang akan memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari prosedur biometrik yang lebih cepat.

Emirates Hadirkan Robot Check-In di Bandara Dubai Cegah Antrean di Jam Sibuk

Investasi yang Cukup Besar
Menurut pernyataan yang dirilis oleh maskapai UEA yang berbasis di Dubai ini, Emirates telah menginvestasikan total AED 85 juta (sekitar $23,1 juta) untuk inisiatif biometrik barunya. Kedepannya, investasi ini akan memungkinkan “pelanggan melewati Check-In, Imigrasi, Gerbang Boarding, Lounge, dan naik pesawat, hanya dengan pengenalan wajah.”

Manfaat utama dari peluncuran ini adalah akan menghemat waktu bagi penumpang dan staf bandara, karena akan menghilangkan kebutuhan bagi penumpang untuk berhenti dan secara fisik mengeluarkan boarding pass mereka untuk pemeriksaan manual di titik pemeriksaan tertentu. Sebaliknya, mereka akan diidentifikasi hanya oleh kamera pintar, memungkinkan prosedur yang lebih lancar.

Mohammed Ahmed Al Marri, Direktur Jenderal GDRFAD, mengatakan: “Selama bertahun-tahun, kami telah mengintegrasikan kecerdasan buatan dan teknologi biometrik untuk membuat perjalanan melalui Dubai lebih cepat, lebih aman, dan lebih intuitif. Kemitraan kami dengan Emirates melanjutkan jalur keunggulan ini.”

Penumpang Harus Mendaftar Melalui Aplikasi Emirates
Untuk mendapatkan manfaat dari proses yang lebih lancar dan waktu tunggu yang lebih singkat di Dubai, penumpang yang tertarik menggunakan titik pemeriksaan biometrik harus mendaftarkan detail mereka melalui aplikasi Emirates terlebih dahulu. Layanan ini terbuka untuk anggota program loyalitas Skywards yang berusia 18 tahun ke atas, dan berfungsi dengan memindai paspor mereka ke dalam aplikasi untuk mencocokkan detail pada profil mereka.

Setelah langkah ini selesai, detail yang relevan disimpan dalam basis data yang dikelola oleh GDRFAD, yang terhubung dengan sistem Emirates di Bandara Internasional Dubai. Setibanya di bandara, mereka kemudian dapat menggunakan kamera biometrik untuk check-in penerbangan mereka melalui pengenalan wajah, sehingga mereka tidak perlu secara fisik mengeluarkan dokumen mereka untuk pemeriksaan manual.

Kedepannya, Emirates juga berencana untuk menyediakan layanan ini bagi penumpang yang transit di hub Dubai. Setelah check-in, penumpang yang terdaftar juga dapat menggunakan Smart Gates biometrik milik GDRFAD untuk melewati antrean imigrasi dengan mengambil foto daripada pemeriksaan paspor. Data biometrik juga akan digunakan untuk memberikan akses yang lebih cepat ke lounge dan saat boarding.

British Airways Mulai Uji Coba Boarding Biometrik ke Penumpang Penerbangan Internasional

Kamera Berteknologi Tinggi
Penumpang yang telah mendaftar untuk melewati Bandara Internasional Dubai dengan cara yang dipercepat menggunakan sistem biometrik baru Emirates hanya perlu berdiri di depan kamera khusus agar detail mereka diperiksa. Maskapai ini menjelaskan bahwa teknologi ini mampu “mengenali profil biometrik pelanggan” dari jarak sejauh satu meter (3,28 kaki).

Layanan ini terbuka untuk penduduk Uni Emirat Arab dan mereka yang mengunjungi negara tersebut, selama mereka adalah anggota program loyalitas Emirates Skywards dan berusia 18 tahun ke atas. Dengan zona khusus yang kini telah diterapkan di Bandara Internasional Dubai, teknologi ini menawarkan jalur yang jelas bagi penumpang menuju prosedur yang lebih cepat.

Langkah ini menandai kolaborasi terbaru dalam serangkaian panjang kolaborasi antara Emirates dan GDRFAD. Adel al Redha, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden & Chief Operating Officer maskapai tersebut, menjelaskan bahwa kerja sama kedua pihak sudah berlangsung sejak tahun 2017. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini memungkinkan maskapai “untuk meningkatkan peralatan kami dan menerapkan teknologi terbaru, memastikan bahwa pelanggan kami menikmati perjalanan yang mulus dan berkelas dunia.”

Survei IATA: 75 Persen Penumpang Ingin Biometrik Bukan Paspor

Tarif Disubsidi, Kereta Petani dan Pedagang Bakal Beroperasi November Ini

Sebanyak 8 unit rangkaian kereta petani dan pedagang sudah siap untuk dioperasikan. Kereta hasil kreativitas dari Balai Yasa Surabaya Gubeng ini bakalan mengangkut penumpang dengan rute Stasiun Merak – Stasiun Rangkasbitung pp. Rangkaian kereta ini akan dijalankan satu rangkaian yang terdiri dari 8 kereta.

Layanan kereta petani dan pedagang ini merupakan inovasi transportasi yang dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat sekaligus terobosan terbaru dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Sarana kereta khusus petani dan pedagang ini dirancang dengan desain yang mendukung aktivitas mereka, seperti tempat duduk sejajar dengan dinding kereta di sisi kiri dan kanan sehingga memungkinkan menempatkan barang bawaan atau dagangannya di depan pengguna dengan aman.

Kereta petani dan pedagang. (Foto: Dok. KAI)

KAI melalui anak usahanya KAI Commuter, berkomitmen menghadirkan layanan yang memiliki manfaat sosial dan ekonomi nyata bagi masyarakat. Transportasi berbasis rel berperan penting dalam memperkuat rantai pasok dan mendorong ekonomi daerah.

Dari kabar yang beredar bahwa KAI Commuter telah mengadakan survei kepada pelanggan setianya di jalur Rangkasbitung – Merak, menunjukkan sebanyak 81,23 persen penumpang petani dan pedagang mendukung adanya layanan kereta khusus untuk menunjang aktivitas ekonomi mereka.

Selain itu ada pula yang mengatakan 6,94 persen penumpang dari Serang mengusulkan penyesuaian waktu keberangkatan pagi antara pukul 07.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB agar sesuai dengan waktu.

Meskipun masih dalam tahap persiapan, pihaknya ingin memastikan setiap langkahnya berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu , nantinya tarif yang dikenakan akan menggunakan tarif subsidi dari pemerintah. Alasannya masyarakat yang akan menggunakan kereta ini akan dibuat lebih mudah.

Layanan dengan rute Rangkasbitung – Merak ini akan tersedia pada 14 perjalanan Commuter Line Merak per hari, melayani masyarakat, khususnya para petani dan pedagang di wilayah Banten untuk menjajakan hasil tani dan dagangannya di Serang, Lebak, Pandeglang, dan sekitarnya. Kereta khusus ini memiliki jumlah tempat duduk sebanyak 73 kursi.

Dengan pemberhentian di seluruh stasiun pada lintas tersebut, diharapkan layanan ini nantinya akan menjadi solusi transportasi yang tepat bagi petani dan pedagang, dalam membentuk rantai pasok yang lebih kuat, serta terbukanya peluang usaha dan aktivitas ekonomi daerah yang semakin berkembang.

Inovasi Baru, Ternyata Ini Alasan KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang

Kereta Api Sribilah: Mengular Selama 47 Tahun di Sumatera

Setelah sering membahas kereta di Pulau Jawa yang dioperasikan oleh Daerah Operasinal (Daop) milik PT kereta Api Indonesia (KAI), kini kereta di Pulau Sumatera yang dioperasikan oleh Divisi Regional (Divre) PT KAI akan dikupas. Di Divisi Regional (Divre) I Medan ternyata ada tiga kereta yang mengular yakni Sribilah, Putri Deli dan Siantar Ekspres.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik

Nah, Kali ini, KabarPenumpang.com akan membahas kereta Sribilah. Kereta api ini mengular di relasi Rantau Prapat ke Medan dan sebaliknya. Kereta Sribilah yang juga disebut Sri Bilah merupakan kereta api penumpang kelas eksekutif satwa, eksekutif dan bisnis, serta kelas ekonomi premium plus.

Kereta Sribilah sendiri setiap perjalanannya dalam satu rangkaian memiliki satu lokomotif, empat kereta bisnis, satu kereta makan dan pembangkit, dua kereta eksekutif, dan satu kereta bagasi untuk rangkaian kelas eksekutif-bisnis. Sedangkan untuk ekonomi premium plus, kereta Sribilah ditarik satu lokomotif dengan menarik delapan kereta ekonomi premium serta satu kereta makan dan pembangkit.

Ternyata kereta ini bukanlah baru, karena sudah diluncurkan sejak 14 Oktober 1978 atau 41 tahun yang lalu. Sribilah sendiri menggunakan kereta ekonomi bukan buatan PT INKA melainkan Yugoslavia yang memiliki ciri-ciri ventilasi dengan sudut melengkung di atas kaca jendelanya.

Tapi kini, kereta ekonomi buatan Yugoslavia tersebut didetrofit menjadi kereta kelas bisnis dan eksekutif. Bahkan Sribilah menjadi pelopor kereta bisnis AC yang menggunakan AC Split. Tak hanya itu, Sribilah menjadi kereta pertama yang memiliki kelas bisnis AC yang kini penerapannya sudah menyebar ke seluruh kereta kelas bisnis di Indonesia.

Dari awal beroperasi hingga sekarang, kereta ini ditarik oleh lokomotif diesel hidraulik BB 302 dan BB 303. Selain itu, KA Sribilah juga sering ditarik oleh lokomotif diesel elektrik CC201 yang dipindahkan dari Pulau Jawa dan lokomotif BB203 dari Divre III.

Baca juga: Stasiun Labuan di Medan, Jalur Pertama Perkeretaapian Sumatera Utara

Kecepatan perjalanan KA Sribilah sendiri bahkan dibatasi lajunya hanya 60-70 km per jam. Mulai 24 Maret 2018, telah tersedia Kereta api Sribilah Premium dengan Kelas Ekonomi Premium dengan Nomor Gapeka U46 dan U47, (Trainset 2 yang telah dimutasi beberapa bulan yang lalu, ketika rangkaiannya tersebut masih dipakai untuk Dinas KA Jayakarta Premium dengan Bercap Dipo JAKK). Untuk kereta Sribilah dengan nomor selain U46 dan U47 tetap menggunakan kelas eksekutif dan bisnis.

Saksi Bisu Saat Layani KA Lokal, Halte Pasarkliwon Kini Tersisa Bekas Peronnya Saja

Terletak di desa Kesugihan, antara Stasiun Maos dan Lebeng terdapat halte yang sudah di tutup sejak tahun 2003 lalu. Ya, halte kereta api (KA) yang berada di ketinggian +9 meter dari permukaan laut ini adalah Halte Pasarkliwon. Halte termasuk wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto.

Sebenarnya halte ini letaknya sangat strategis, karena dekat sekali dengan Pasar Kliwon. Sekitar tahun 1990-an, halte ini sangat ramai dengan calon penumpang yang hendak menuju Stasiun Banjar.

Diketahui pada tahun tersebut, kereta lokal yang melewati halte ini melayani rute dari Stasiun Kroya hingga Stasiun Banjar pulang-pergi. Rangkaian tersebut merupakan angkutan barang dan penumpang yang terdiri dari lokomotif, 2 kereta penumpang, dan 10 gerbong tutup (barang). Harga tiketnya pun relatif murah, yakni hanya Rp800.

Bekas bangunan Halte Pasarkliwon yang kini hanya menyisakan pondasi kecil.

Namun seiring waktu, KA lokal tersebut berangsut-angsur mulai menghilang masa dinasnya. Tak hanya KA lokal, Halte Pasarkliwon pun ikut dinonaktifkan. Halte dan KA lokal ini mulai menghilang, masalahnya dikarenakan banyak penumpang yang tidak membeli tiket sebelum berangkat.

Dari masalah tersebut mengakibatkan pemasukan dari KA lokal sangatlah minim. Kondisi halte pun kini hanya menyisakan sedikit pondasi dan hanya terlihat bagian bekas peron pendeknya saja. Posisi peron yang disamping rel ini terlihat melengkung mengikuti jalur kereta api.

Jikalau dilihat peron ini hanya memuat 4 kereta saja yang masuk di area halte. Menurut warga sekitar yang saat itu pernah menggunakan KA lokal di jalur tersebut, banyak warga dari pasar yang membawa maupun mengirim hasil pertanian di Pasar Kliwon.

Tentu saja dengan aktifnya Halte Pasarkliwon ini menjadi praktis dan mudah bagi masyarakat yang berpenghasilan sederhana untuk menggunakan KA lokal yang turun dan naik di halte ini.

Sebagai informasi stasiun KA yang berdekatan dengan Haltr Pasarkliwon ini adalah Stasiun Kasugihan dan berdekatan dengan jalur simpang menuju Kota Cilacap. KA yang melintas di bekas Halte Pasarkliwon ini beragam, seperti kelas eksekutif seperti KA Argo Wilis, dan KA Turangga.

Sedangkan kelas ekonomi dan eksekutif yakni KA Lodaya, KA Mutiara Selatan dan KA Malabar. Lalu kelas ekonomi yaitu KA Pasundan, KA Kutojaya Selatan, KA Serayu, dan KA Kahuripan. Saat bangunan halte ini masih lengkap, kita pun masih bisa melihat tulisan ‘Pasar Kliwon’ di dinding halte walaupun saat naik kereta.

Halte Gebang: Saksi Bisu Tempat Singgah Presiden Soekarno Saat Gunakan Kereta Api

Sumitomo dan Nippon Sharyo Raih Kontrak US$111,8, Pasok 48 Gerbong Metro MRT Jakarta Fase 2A

Sumitomo Corporation dan Nippon Sharyo telah mendapatkan kontrak senilai 17 miliar Yen (US$111,8 juta) dari operator transportasi umum Indonesia, MRT Jakarta, untuk memasok 48 gerbong metro untuk Fase 2A Jalur Utara-Selatan. Jangka waktu pengiriman armada baru yang terdiri dari delapan rangkaian enam gerbong ini adalah 56 bulan.

Kedua perusahaan Jepang tersebut sebelumnya memasok 96 gerbong metro untuk Fase 1 Jalur Utara-Selatan, yang mulai beroperasi pada April 2019 sebagai jalur metro pertama di ibu kota Indonesia. Sumitomo dan Nippon Sharyo mengatakan bahwa mereka telah mendapatkan paket armada untuk Fase 2A “berdasarkan evaluasi tinggi atas pencapaian mereka di Fase 1.”

Fase 2A akan membentang sepanjang 5,8 km dari Bundaran HI di pusat ibu kota hingga kawasan Kota di Jakarta Utara. Akan ada enam stasiun perantara di Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, dan Glodok.

Proyek ini didanai oleh Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), yang menyediakan pinjaman bantuan pembangunan resmi (ODA) melalui skema Ketentuan Khusus untuk Kemitraan Ekonomi (STEP).

Selain kontrak penyediaan sarana kereta api, perusahaan-perusahaan Jepang telah mendapatkan kontrak untuk melaksanakan pekerjaan sipil pada Tahap 2A serta pemasangan rel dan penyediaan sistem perkeretaapian.

Sebagai bagian dari program pembangunan metro di Jakarta, Tahap 2A diharapkan dapat mendorong peralihan moda, mengurangi kemacetan jalan dan polusi udara.

Proyek MRT Jakarta Fase 2A Terus Berjalan, Fase 3 dan 4 Juga Tak Kendor

Meski Berstatus Kereta Fakultatif Tapi Tetap Berjalan Tiap Hari, Ternyata Ini Penjelasannya

Perjalanan kereta api (KA) saat ini memang sudah semakin ramai. Banyak diantaranya mulai dari perjalanan jarak jauh hinggal jarak dekat. Bahkan ada juga dalam perjalanannya selalu hadir namun hanya pada saat hari-hari tertentu saja. Ya, di bidang perkeretaapian pun ada suatu istilah yang diperuntukkan dalam perjalanan KA, salah satunya ada perjalanan ‘fakultatif’.

Kabar dari berbagai sumber menjelaskan bahwa kereta fakultatif adalah kereta tambahan yang jadwalnya tidak setiap hari, tetapi hanya dijalankan sesuai kebutuhan atau permintaan, seperti saat libur panjang atau periode puncak lainnya.

Meskipun tidak rutin, jadwal dan rutenya tetap tercantum dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) dan Daftar Waktu, tidak seperti Kereta Luar Biasa (KLB) yang jadwalnya tidak tertera dalam GAPEKA sama sekali.

Dalam situasi tertentu seperti musim liburan panjang, permintaan tiket kereta api sering kali melonjak tajam. Untuk mengantisipasi hal tersebut, operator kereta api biasanya menyediakan layanan tambahan yang dikenal sebagai kereta fakultatif. Jenis kereta ini tidak dijalankan setiap hari, melainkan hanya pada waktu-waktu khusus sesuai kebutuhan.

Ternyata, hadirnya kereta fakultatif adalah sebagai solusi untuk menambah kapasitas perjalanan saat permintaan melebihi ketersediaan kereta reguler. Meskipun bersifat sementara, layanan ini tetap menggunakan rangkaian kereta yang layak dan nyaman, serta melayani rute yang sama dengan kereta reguler.

Layanan kereta fakultatif biasanya diadakan pada periode dengan mobilitas tinggi, seperti musim mudik Lebaran, libur Natal dan Tahun Baru, atau liburan sekolah. Pada masa-masa tersebut, permintaan tiket cenderung meningkat drastis sehingga diperlukan tambahan jadwal perjalanan. Tujuannya untuk mengakomodasi penumpang tanpa mengganggu jadwal kereta reguler.

Jadwal kereta fakultatif tidak selalu tersedia dalam sistem pemesanan sejak awal karena operasionalnya disesuaikan dengan kebutuhan. Informasi mengenai kereta ini biasanya baru diumumkan sekitar satu hingga tiga minggu sebelum keberangkatan, terutama menjelang masa libur panjang atau arus mudik.

Namun, dari pengertian kereta fakultatif ternyata ada beberapa kereta yang tak mempengaruhi istilah tersebut. Ya, sebagai contoh saat ini ada dua kereta yang masih dijalankan bahkan setiap hari, yakni KA Argo Anjasnoro dan KA Sancaka Utara. Keduanya berstatus fakultatif, namun hingga saat masih dioperasikan setiap hari.

Untuk KA Argo Anjasmoro misalnya. KA tersebut memiliki rute Gambir – Surabaya Pasar Turi. Diketahui KA tersebut khususnya kelas eksekutif memiliki rute yang sama dengan lain, seperti KA Argo Bromo Anggrek dan KA Sembrani.

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tetap menjalankan KA Argo Anjasmoro sebagaimana diketahui gunanya untuk masyarakat yang dapat memilih perjalanan yang ditawarkan dengan jadwal yang efisien.

Lain halnya KA Sancaka Utara, ini merupakan perjalanan satu-satunya dari arah utara Pulau Jawa menuju selatan maupun sebaliknya. KA ini memang seharusnya berjalan setiap hari mengingat rute yang ditempuh sangat praktis melewati kota-kota besar yang masyarakat yang berada di wilayah tersebut memang ramai. Dengan rute Surabaya Pasar Turi – Cilacap via Yogyakarta inilah masyarakat bisa menempuh jarak dan waktu dengan KA Sancaka Utara lebih mudah.

Kereta fakultatif hingga saat ini terus berjalan apalagi saat libur tiba. PT KAI sendiri tentunya sudah memiliki rangkaian cadangan baik kelas ekonomi dan eksekutif untuk memenuhi mobilitas masyarakat yang telah setia menggunakan kereta api. Tentunya KAI menghimbau jika ingin melakukan perjalanan dengan kereta fakultatif agar selalu mengecek jadwal kereta api melalui aplikasi di ponsel maupun website resminya.

Bakalan Hemat Ongkos dan Waktu, Kalau Penumpang Naik Kereta Bandara YIA

Fakta Dibalik Sejarah Nama-nama Kereta Api yang Dimiliki Wilayah Daop 7 Madiun

Banyak kereta api yang melintas di Jawa maupun Sumatera memiliki rute menarik bahkan sejarah dari nama yang dimiliki. Seperti diketahui nama-nama kereta api tersebut diambil dari pegunungan, sungai, bahkan dari legenda pewayangan dan makhluk mitologi.

Khususnya kereta api di jalur Pulau Jawa ada 9 wilayah Daerah Operasi (Daop) yang tersebar dari barat hingga timur. Beberapa kereta api yang dimiliki wilayah daop tersebut sangatlah beragam. Nah, saat ini kabarpenumpang akan membahas nama-nama kereta api yang dibaliknya mengandung fakta sejarah. Kereta api ini dimiliki wilayah Daop 7 Madiun.

• KA Brawijaya
Dikutip dari civitasbook.com nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda”. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna “baginda di”. Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat.

• KA Brantas
Nama kereta api ini identik dengan nama sungai terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu di Kota Batu ini menyimpan sejarah peradabahan besar di Jawa Timur. Apalagi dahulu fungsinya sebagai jalur transportasi yang diandalkan masyarakat.

• KA Majapahit
Kereta ini mengambil nama kerajaan terbesar di Nusantara yakni Majapahit atau Wilwatikta. Dikutip dari direktorimajapahit.id Kerajaan Majapahit (1293-1527) adalah kerajaan Hindu terbesar di Nusantara yang mencapai masa kejayaan pada abad ke-13 hingga 14 Masehi. Ibukota kerajaannya diintepretasikan terletak di Trowulan, Jawa Timur berdasarkan pertimbangan sebaran temuan arkeologis.

• KA Matarmaja
Dari situs KAI diketahui jika ini merupakan akronim atau singkatan nama kota yang dilintasi kereta api ini. Yakni Malang Blitar, Madiun, dan Jakarta.

• KA Gajayana
Nama Gajayana berasal dari nama yang diambil dari gelar raja Kerajaan Kanjuruhan bernama Sang Liswa yang memerintah sekitar 760–789. Raja tersebut terkenal di kalangan brahmana maupun rakyat untuk mampu membawa ketentraman di seluruh negeri. Adapun pusat Kerajaan Kanjuruhan berada di wilayah Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

• KA Kertanegara
Kertanegara meninggal tahun 1292, adalah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Singhasari dengan gelar Śrī Mahārājadhiraja Kṛtanāgara Wikrama Dharmmottunggadewa. Masa pemerintahan Kertanagara dikenal sebagai masa kejayaan Singhasari.

Ia sendiri dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi menyatukan wilayah Nusantara. Menantunya, Raden Wijaya, selanjutnya mendirikan Kerajaan Majapahit sekitar 1293 sebagai penerus Wangsa Rajasa dari Singhasari.

• KA Singasari
Kereta api ini mengambil nama dari kerajaan bercorak Hindu Buddha di Jawa Timur. Kerajaan Singhasari didirikan Ken Angrok pada 1222 M. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan di daerah Singasari, Kabupaten Malang. Kerajaan Singhasari hanya sempat bertahan 70 tahun sebelum mengalami keruntuhan.

• KA Malioboro Ekspres
Penamaan kereta api ini mengambil nama jalan legendaris di Kota Jogja yakni kawasan Malioboro. Secara kereta api ini melayani relasi Malang-Purwokerto pergi pulang dan dioperasikan pertama kali pada 21 September 2012.

• KA Malabar
Nama Malabar diambil dari Gunung Malabar yang terletak di selatan Stasiun Bandung, tepatnya di Pengalengan, Kabupaten Bandung. Meski demikian, bisa juga ini merupakan akronim dari relasi Malang-Bandung Raya.

• KA Kahuripan
Nama Kahuripan diambil dari nama suatu kerajaan di Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan Airlangga pada 1009 dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang yang runtuh tiga tahun sebelumnya atau 1006.

• KA Madiun Jaya
Adalah rangkaian kereta api antarkota yang melayani rute Pasar Senen–Madiun (via lintas selatan Jawa) dan kini menjadi kereta pilot Eksekutif New Generation. Layanan ini kembali beroperasi pada 1 Februari 2025 setelah hiatus, dengan rincian perjalanan dan fasilitas yang telah diperbarui.

Itulah berbagai macam nama-nama kereta api yang rutenya hingga memasuki wilayah Daop 7 Madiun. Dari segelintir sejarahnya yang melegenda, nama-nama kereta api tersebut pasti bakal teringat juga akan sejarah panjang di Indonesia bahwa pengambilan nama kereta api tak sekadar dibuat-buat tapi mengandung makna yang memiliki arti tersendiri.

Ternyata Ini Satu-satunya Perjalanan KA BIAS yang Paling Lama dari Biasanya, Kenapa?

Kisah Jalur Trem yang Berdampingan Jalur SS di Kota Malang, Kini Tinggal Cerita

Jalur trem yang kita ketahui pastinya selalu melewati pusat kota besar di Pulau Jawa. Jalur trem memang selalu tersebar di kota-kota besar tersebut untuk mengurangi dampak kemacetan lalu lintas jalan raya. Bahkan disisi lain dengan adanya trem malah berisiko sebaliknya.

Saat ini jalur trem banyak yang sekadar tinggal cerita. Jejak peninggalan bangunan maupun jalurnya ada yang masih terlihat hingga saat ini. Meski sudah tidak terawat, namun dilihat dari sejarahnya saja sepertinya tentu sudah sangat melegenda.

Nah, kabarpenumpang akan membahas salah satunya trem yang menjelajah di Kota Malang, nih. Seperti yang kita tahu, bahwa dahulu Malang memiliki jalur kereta api yang sebagian besar dilewati kereta uap. Namun ternyata khususnya pada wilayah utara Malang juga memiliki jalur trem yang berada di Stasiun Jagalan – Singosari yang sekarang tinggal cerita.

Stasiun Singosari yang dahulu terhubung dengan jalur trem menuju Kota Malang. (Foto: Dok. Istimewa)

Menurut catatan sejarah, jalur trem dari Malang menuju Blimbing sejauh 6 kilometer dibuka pada tanggal 15 Februari 1903. Selain untuk mendukung aktivitas masyarakat Kota Malang pada waktu itu, jalur ini juga terhubung dengan jalur kereta utama milik SS yaitu Stasiun Blimbing SS dan Stasiun Singosari SS.

Dari Stasiun Jagalan hingga Stasiun Singosari sendiri terdapat 11 pemberhentian trem. Di antaranya Jagalan – Alun-alun – Zigweg Naar Batu (pertigaan menuju Batu di Celaket) – Rampal – Lowokwaru – Glintung – Blimbing MS – Arjosari – Karanglo – Mondoroko – Singsari SS – Singasari Pasar – Singasari MS.

Jalur-jalur trem juga terhubung ke Pabrik Gula Krebet sehingga pengangkutan hasil tebu jadi lebih efisien. Ada pula jalur trem yang membelah alun-alun Kota Malang. Semua Lokomotif trem Malang Stoomtrem Mattschappij (MSM) dibeli dari perusahaan asal Jerman bernama Hohenzollern.

Trem uap MSM digerakkan oleh tenaga kayu bakar dari pohon jati yang padat keras sehingga awet dan tidak mudah menjadi abu saat dibakar. Jalur trem juga terkoneksi dengan jalur kereta api Staatspoorwagen (SS) yang makin memudahkan penumpang untuk beralih dari kereta api Staatspoorwagen (SS) ke kereta api trem dan sebaliknya. Ada tiga stasiun SS kala itu, yakni Malang SS, Singosari, dan Kepanjen.

Kini, trem di Kota Malang hanya menyisakan kenangan. Sisa-sisa kejayaannya masih dapat dilihat dari rel-rel di bahu jalan raya. Tak semuanya lengkap, karena sebagian besar sudah tertutup oleh trotoar dan aspal jalan.

Selain bangunan stasiun dan halte-halte pemberhentian trem yang sudah tidak terawat, kini yang bertahan hanyalah stasiun-stasiun besar yang melayani kereta jarak jauh SS, yakni stasiun Kota Lama, stasiun Singosari, dan stasiun Kepanjen.

Jejak Kereta Api Masa Kolonial: Stasiun Tulungagung dan Kisah Jalur Cabang Trem ke Trenggalek dan Tugu