Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Singapura sejengkal lagi bakal mematenkan diri menjadi negara pertama yang menjalankan wisata berlayar kemana-mana tanpa tujuan. Sama seperti flight to nowhere pada pesawat, cruise to nowhere pada kapal pesiar juga bertujuan mendukung pelayaran agar tetap bertahan di tengah pandemi virus Corona.

Baca juga: Wisata “Kapal Hantu,” Lepas Pantai Christchurch di Inggris Jadi Kuburan Kapal Pesiar

Dilansir foxnews.com, pelayaran kapal pesiar tanpa tujuan Singapura disebutkan sebagai perjalanan singkat ke perairan internasional selama satu atau dua malam sebelum kembali lagi ke negara tersebut. Guna menjaga kapal pesiar agar tetap aman, setiap pengunjung juga akan diwajibkan menyertai sertifikat kesehatan. Tak hanya itu, kapasitas kapal pesiar saat berlayar tanpa tujuan juga dibatasi hanya 50 persen.

Singapura nampaknya cukup serius untuk menggarap kapal pesiar berlayar tanpa tujuan. Keseriusan tersebut setidaknya terlihat dari dukungan Direktur Regional Dewan Pariwisata Singapura untuk Amerika Rachel Loh.

Kepada The Washington Post, ia mengatakan, bahwa badan pariwisata telah menunjuk perusahaan audit dan sertifikasi terkemuka dengan pengalaman maritim untuk membuat program sertifikasi kapal pesiar yang mengacu pada standar kesehatan, keselamatan, dan kebersihan secara global. “Perusahaan pelayaran akan diminta untuk lulus audit sertifikasi agar bisa kembali berlayar,” kata Loh.

Sayangnya, rencana kapal pesiar Singapura berlayar kemana-mana tanpa tujuan tak diketahui persis kapan bakal terwujud.

Sekalipun negara tersebut kini tengah menjajaki protokol kesehatan yang bisa memungkinkan perusahaan kapal pesiar untuk mengoperasikan rute tanpa tujuan, namun, berlayar tanpa tujuan dengan kapal pesiar belum tentu mudah dilaksanakan layaknya penerbangan tanpa tujuan pada pesawat. Ada banyak pertimbangan terkait ini.

Selain itu, beberapa jalur pelayaran yang beroperasi di negara tersebut, seperti Norwegian, Celebrity, dan Princess Cruises diketahui telah menghentikan secara sukarela operasional mereka hingga 31 Oktober 2020. Princess Cruises juga mengonfirmasi kepada The Straits Times bahwa mereka tidak akan beroperasi sampai setidaknya pertengahan Desember.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

Tersiarnya kabar pelayaran ke mana-mana tanpa tujuan ini muncul dua hari setelah Singapore Airlines membatalkan rencananya untuk menawarkan penerbangan tanpa tujuan. Singapore Airlines diketahui membatalkan rencana penerbangan tersebut dengan alasan pencemaran lingkungan.

Singapura diketahui telah menutup operasional pelabuhan untuk kapal pesiar apapun sejak 13 Maret 2020. Negara kecil di Semenanjung Malaya ini juga diketahui menerapkan kebijakan terkait penanganan virus Corona cukup ketat walaupun belakangan sedikit mengendur. Bahkan, saking ketatnya, salah satu warga negara Indonesia santer terdengar sampai sulit keluar dari negara tersebut sejak pandemi Covid-19 menyebar di Asia Tenggara pada Maret lalu.

Hampir Bangkrut, AirAsia X Umumkan Empat Rencana Restrukturisasi! PHK Mengintai

AirAsia X mengaku tengah menghadapi kendala likuiditas sangat parah. Bila tak ditangani dengan cepat, bukan tak mungkin maskapai penerbangan jarak jauh berbiaya rendah (LCC) atau long-haul budget airline tersebut akan bangkrut.

Baca juga: Digugat Leasing Pesawat Rp340 Miliar dan Rugi Rp3,1 Triliun, AirAsia Diambang Kebangkrutan?

Sebelum hal itu terjadi, belum lama ini perusahaan mengumumkan rencana restrukturisasi bisnis. Setidaknya, ada empat hal yang menjadi fokus restrukturisasi AirAsia X, mulai dari restrukturisasi hutang, revisi rencana bisnis grup, merangkul mitra bisnis, dan mengelola royal customer agar tetap terus setia bersama maskapai.

Dilansir Simple Flying, rencana restrukturisasi hutang berarti maskapai akan menyelesaikan pembayaran hutang. Hal itu dirasa penting agar perusahaan bisa mencapai struktur utang yang berkelanjutan. Di sisi lain, skema tersebut juga akan didukung dengan merencanakan ulang skema bisnis perusahaan.

Wujud konkretnya, bisa berupa rasionalisasi jaringan rute, menentukan pesawat yang ingin digunakan, serta penyesuaian tenaga kerja atau kasarnya mem-PHK karyawan. Intinya, bagaimana perusahaan mendesain ulang struktur agar lebih ramping dan berkelanjutan.

Rencana restrukturisasi AirAsia X juga tak bisa terlepas dari keterlibatan mitra strategis atau mitra bisnis. Sebab, pasca jalan restrukturisasi ditempuh, para mitra akan memainkan peran penting dengan tetap bersinergi bersama perusahaan untuk memastikan proses restrukturisasi berjalan baik dan berkelanjutan.

Demikian juga dengan mengelola royal customer. Selama proses restrukturisasi berjalan, mereka (royal customer) yang ditandai dengan kepemilikan AirAsia Unlimited Pass dan para pelanggan yang telah terlanjur membeli tiket akan diberikan keluasan waktu untuk menggunakan tiket tersebut di masa mendatang.

Dari empat rencana restrukturisasi di atas, rasionalisasi jaringan rute dan menentukan ulang pesawat yang akan digunakan, rasanya sedikit janggal. Saat ini, AirAsia X tercatat hanya mengoperasikan 40 unit Airbus A330-300. Dengan demikian, dua rencana tersebut tak seharusnya muncul mengingat mengoperasikan satu jenis pesawat sudah menjadi jawabannya.

Namun, bila ditelisik lebih dalam, maskapai yang tahun ini memasuki tahun operasional ke-13 itu rupanya mempunyai backlog 78 Airbus A330-900neo, 30 Airbus A321XLR, dan 10 Airbus A350. Pada bagian inilah kemudian perusahaan dituntut untuk melakukan rasionalisasi jaringan rute dan menetukan ulang pesawat.

Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

Dari backlog ketiga jenis pesawat, beberapa kalangan melihat AirAsia X besar kemungkinan akan lebih memilih Airbus A330-900neo dan Airbus A321XLR sebagai bagian dari rencana restrukturisasi pesawat. A330-900neo diproyeksikan bakal menjadi pengganti Airbus A330-300 yang telah usang. Sedangkan Airbus A321XLR akan diplot untuk menjajaki penerbangan jarak jauh yang agak ramping, mengingat penerbangan penumpang masih akan tetap stagnan hingga beberapa tahun mendatang.

Airbus A321XLR nantinya akan menjadi andalan perusahaan dalam melahap rute-rute jarak jauh AirAsia X di seluruh dunia, seperti AS, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, India, Cina, dan Australia.

Baru Diluncurkan, Varian Baru Jet Bisnis Airbus Langsung Laku Puluhan Pesawat

Airbus Corporate Jets (ACJ) belum lama ini meluncurkan varian jet bisnis, private jet, atau biasa juga disebut bizjet baru, ACJ TwoTwenty. Menariknya, tak lama setelah diluncurkan, perusahaan tersebut sudah menerima 10 pesawat.

Baca juga: Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

Dilansir dari laman resmi Airbus, maskapai penerbangan eksklusif untuk para pelanggan VIP, Comlux Aviation, merupakan pelanggan terbesar dengan pesanan enam unit pesawat. Ditargetkan, maskapai asal Swiss itu bisa mengoperasikan ACJ TwoTwenty pada 2023 mendatang.

“Bayangkan kembali tempat Anda di langit akan dilengkapi dengan kursi besar yang bisa dibaringkan dengan rata, tempat tidur ukuran US-king bed, standing rainshower, sistem pelembab untuk kenyamanan di pesawat dan konektivitas terdepan,” kata Richard Gaona, Executive Chairman & CEO Comlux.

“Kami bangga menjadi pelanggan pertama dari anggota keluarga terbaru Airbus, ACJ TwoTwenty dan mitra terpilih untuk melengkapi kabin di pusat penyelesaian kami di Indianapolis. Kami telah bekerja sama dengan ACJ dan berbagi pengalaman panjang kami dalam mengoperasikan semua jenis pesawat, untuk memungkinkan Bizjet baru menawarkan kenyamanan lebih dan inovasi kabin terbaru yang tersedia di industri,” tambahnya.

“Berkat kombinasi unik jangkauan antarbenua, kenyamanan, ruang ekstra, dan ekonomi tiada duanya, kami yakin pesawat ini akan menjadi pemenang dalam pasar penerbangan bisnis,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden ACJ, Benoit Defforge, optimis bizjet terbaru perusahaan cukup menjanjikan bagi kelangsungan bisnis mereka dan pengguna. “Berdasarkan daya tarik pasarnya yang menarik, kami melihat permintaan yang menjanjikan untuk pesawat ini di pasar bisnis jet yang sedang berkembang,” ungkapnya.

Berbeda dari konsep sebelumnya yang mengusung desain kabin Harmony pada 2018 lalu, jet bisnis ACJ TwoTwenty menjadikan desain clean-sheet aircraft sebagai ruhnya. Desain pesawat yang masuk ke segmen pasar The Xtra Large Bizjet ini sebelumnya sudah digunakan di Airbus A220-100.

Jet bisnis ACJ TwoTwenty diklaim mampu terbang 12 jam lebih nonstop atau jarak sekitar 10.460 km, mengangkut 18 penumpang. Dengan begitu, pesawat tersebut sangat memungkinkan pelanggan untuk melakukan perjalanan bisnis di rute-rute potensial jarak jauh, seperti London-Los Angeles, Moskow -Jakarta, Tokyo-Dubai, dan Beijing-Melbourne.

Baca juga: Piaggio P180 Avanti – Mampu Tandingi Jet Bisnis Dengan Bentuknya Yang Unik!

Kemampuan ACJ TwoTwenty melahap penerbangan jarak jauh nonstop juga didukung dengan berbagai keunggulan, seperti kabin 3 kali lebih besar dari jet bisnis berbedan lebar mencapai 73 m, hingga 6 zona VIP berukuran masing-masing 12 m. Selain itu, pesawat juga lebih ekonomis hingga sepertiga dari jet bisnis berbadan besar. Hal itu dikarenakan material pesawat terbuat 5x lebih ringan namun 5x lebih kuat dari material pesawat pada umumnya.

ACJ TwoTwenty menawarkan dua varian kabin fleksibel. Pertama, pesawat bisa dikonfigurasikan dengan formasi business lounge, dining room, guest lounge, master bedroom, kamar mandi mewah dengan shower, dan kamar mandi VIP serta ruang istirahat kru. Kedua, dengan konfigurasi club room, dining room, lounge, private suite, dan vip lavatory. Bila ingin lebih variatif, ACJ TwoTwenty juga bisa diberi tambahan executive lounge, cinema lounge, conference room, dan private lounge.

National Railway Museum di Inggris Buka Studio Virtual

Banyak tempat yang saat ini masih memiliki fungsi yang sama namun membuatnya menjadi lebih berguna di masa pandemi. Seperti Museum Kereta Api Nasional atau National Railway Museum (NRM) di Inggris yang membuat studio untuk acara virtual. Kehadiran studio yang di luncurkan di York tersebut memudahkan bagi siapa saja untuk membuat acara virtual atau hybrid.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

KabarPenumpang.com melansir laman yorkpress.co.uk (1/10/2020), ruangan yang diciptakan oleh Museum Nasional Kereta Api tersebut dilengkapi dengan peralatan berteknologi tinggi. Sehingga memungkinkan mengadakan konferensi virtual, rapat kecil atau sesi pelatihan dan menyiarkan dengan lancar ke audiens online.

Studio tersebut dirancang karena adanya pedoman jarak sosial sehingga pembawa acara berada di studio serta audiens berada di rumah. Selain pembawa acara ada dua teknisi lain yang membantu penyelenggaraan acara di studio dalam Museum Kereta Api Nasional.

Adapun teknologi tinggi yang digunakan yakni layar definisi tinggi dan peluang pencitraan di ruangan sehingga memberikan pengalaman acara yang membuat audiens hadir secara online. Pengaturan kamera yang canggih juga memungkinkan penyelenggara acara bergerak bebas di sekitar ruangan untuk gaya presentasi yang lebih alami dan nyaman, dengan panduan yang diberikan oleh tim di lokasi untuk memastikan peserta dapat menavigasi perangkat lunak dengan lancar.

Penyelenggara akan dapat menjangkau audiens yang lebih besar dengan menggabungkan siaran langsung melalui sesi yang direkam sebelumnya dan konten sesuai permintaan. Konten konferensi dapat tetap ditayangkan selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun setelah acara selesai.

”Kami senang dapat meluncurkan ruang studio khusus di dalam museum untuk membantu bisnis terus menghadirkan acara menarik kepada tim dan audiens yang lebih luas. Acara virtual dan hybrid telah menjadi ‘normal baru’ dalam hal menyatukan tim, memberikan pelatihan atau berbagi konten, dan kami berharap studio baru kami akan membantu menghilangkan stres dalam mengelola acara ini,” kata Helen Beresford-Boyse, manajer penjualan dan pemasaran di NRM.

Baca juga: Manchester Liverpool Road, Stasiun Tertua di Dunia yang Masih Berdiri dan Kini Menjadi Museum

Seluruh Grup Museum Sains, yang meliputi NRM, Museum Sains di London, Museum Sains dan Industri, Manchester, Museum Sains dan Media Nasional di Bradford, dan Locomotion di Shildon, sekarang menawarkan kemampuan penyiaran untuk mengakomodasi dan mengelola acara virtual dan hybrid. Acara dapat disiarkan langsung secara bersamaan di semua situs.

Boarding Pass Pesawat Ditulis Tangan, Dalam Kondisi Tertentu Wajar Meski Ada Risiko

Boarding pass pesawat ditulis pakai tangan? Sepertinya untuk saat ini adalah kejadian tidak biasa dan langka. Belum lama ini seorang penumpang maskapai Wings Air dari Mamuju menuju ke Ujungpandang atau Makassar menerima boarding pass yang dituliskan tangan bukan dengan tinta print laser seperti biasanya.

Baca juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin!

Dalam boarding pass itu juga hanya tertulis nama penumpang, nomor kursi atau seat dan rute penerbangan. Bahkan tak terdapat barcode yang biasanya ada di boarding pass. Penumpang yang tak mau disebutkan namanya tersebut mengatakan, dalam penerbangan itu semua penumpang mendapatkan boarding pass dengan tulisan tangan.

Bila menurut pengamat penerbangan, Indra Setiawan, boarding pass yang ditulis dengan tangan tersebut pernah terjadi. Namun hal tersebut sangat beresiko, seperti bisa saja penumpang tak terdaftar pada manifest bila tidak disertai dengan tiket pemesanan yang dimiliki penumpang. Dia menyebutkan, dengan boarding pass ditulis tangan bila terjadi ‘apa-apa’ dan tidak sesuai manifest, maka maskapai tidak bisa bertanggung jawab.

“Kalau manifest hanya 80 tapi penumpangnya seratus, yang pilot tahu ya hanya 80 orang itu. Ini bisa jadi masalah,” jelas Indra kepada KabarPenumpang.com, Selasa (6/10/2020).

Kejadian ini mengingatkan pada seorang YouTuber yang mendapat menu makanan dengan tulisan tangan. Menu ini didapat Rius Vernandes dan Elwi dalam perjalanan dari Sydney – Denpasar – Jakarta.

Rius saat itu diketahui duduk di kelas bisnis Garuda Indonesia. Menu yang didapatnya dikatakan Rius, pramugari sempat mengaku minta maaf karena kartu menu yang biasanya digunakan tengah dalam proses pencetakan.

Baca juga: Jadi Viral, Menu Kelas Bisnis Ditulis Tangan, Garuda Indonesia Minta Maaf Pada Vloger

Namun ternyata, kejadian boarding pass ditulis tangan tak hanya terjadi pada maskapai Indonesia, pada 2016 lalu, seorang pelancong Malaysia yang bepergian dengan Rayani Air juga merasakan hal yang sama. Dalam selembar kertas dengan logo Rayani Air tertulis waktu dan rute penerbangan tetapi tidak terlalu jelas yakni dari Kuala Lumpur menuju Kuching pada 18 Maret 2016.

Rusia-Cina Ribut, Proyek Pesawat CR929 Batal?

Cina sangat berambisi merusak duopoli Airbus dan Boeing sebagai raksasa produsen pesawat global. Menurut para pakar, dari tiga syarat menuju ke sana, Cina sudah menguasai satu di antaranya, yakni terkait pendanaan.

Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat ialah melalui pasar modal dan hutang bank. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Saat ini, Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial terbesar di dunia yang digunakan untuk penyewaan pesawat. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

Akan tetapi, syarat lainnya untuk bisa merusak hegemoni Boeing-Airbus, yakni teknologi, belum dikuasai Cina. Hal itu bisa dilihat bagaimana pesawat yang diklaim Made in Cina, C919, besutan BUMN rezim Partai Komunis Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), diproduksi.

Laporan NTD Indonesia, penasehat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Scott Kennedy, mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in Cina. Sebab, seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Interior pesawat Cina-Rusia, CR929. Foto: Getty Images

Misalnya, mesin C919 memakai produk CFM Internasional, perusahaan patungan AS-Perancis. Sistem utamanya, seperti avionik, flight control, bahan bakar, landing gear, dan lainnya juga berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan pesawat Made in Cina lainnya, COMAC ARJ21.

Oleh sebab itu, guna memenuhi kebutuhan teknologi, Cina menggandeng Rusia, yang juga dikenal memiliki teknologi matang di bidang aviasi, untuk memproduksi pesawat perusak hegemoni Airbus-Boeing lainnya yang lebih besar (widebody), CR929; melengkapi C919 yang merupakan narrowbody.

Di awal kemunculannya, proyek besutan perusahaan patungan sesama Negeri Komunis itu, China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC), tampak cukup menjanjikan. Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC sempat memamerkan CR929 dan sesumbar bakal menerbangkan prototipe pesawat tersebut pada tahun 2023. Setahun berikutnya, CR929 direncakan sudah bisa masuk ke dalam layanan maskapai.

Hanya saja, belum lama ini, proyek tersebut terancam tertunda cukup lama hingga tahun 2029. Mengutip laman Simple Flying, hal itu lantaran Rusia dan Cina disebut tengah bersitegang terkait pemilihan pemasok utama pesawat.

Selain itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov, mengatakan bahwa pihaknya juga tengah bersitegang dengan Cina terkait transfer teknologi dan akses pasar (suplai chain). Sayangnya, informasi yang diberikan tak menyeluruh. Tak disebutkan dengan jelas pihak mana yang memulai terlebih dahulu.

Bila melihat dari kesepakatan kedua negara terkait proyek CR929, dimana Rusia menyediakan teknologi dan pengetahuan teknis serta Cina menyediakan pendanaan, sebagian kalangan menduga bahwa Cina memulai perseteruan itu lebih dahulu. Cina merasa mempunyai segalanya dengan kepemilikan uang yang pada akhirnya mendorong mereka untuk berlaku sedikit arogan.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Integrasi militer-sipil Cina juga disinyalir bakal membuar proyek pesawat CR929 Cina-Rusia tertunda kembali. Terlebih gesekan terkait wabah virus Corona dan buruknya politik luar negeri rezim komunis Cina juga membuat Barat-Jepang bersatu melawan. Perlahan tapi pasti, perlawanan Barat-Jepang terhadap ekspansi Cina untuk menjadi pemimpin baru global juga ditunjukkan dengan memblokade pertukaran teknologi secara massif. Mereka khawatir, teknologi darinya akan diterapkan untuk kebutuhan militer.

Belum lama ini, seperti diberitakan Epoch Times, Jepang menggandeng empat negara Barat, yakni Jerman, Belanda, Inggris, dan AS agar tak mentransfer empat teknologi utama ke Cina, meliputi artificial intelligence (AI), quantum computers, biotechnology, dan hypersonic speed. Blokade dua dari empat teknologi itu, AI dan komputer quantum, dinilai dapat memperlambat proyek tersebut.

Awas, Asteroid Sebesar Boeing 747 Tabrak Orbit Bumi 7 Oktober!

Asteroid seukuran Boeing 747-8, RK2 dengan panjang sekitar 81 meter, diprediksi NASA bakal menabrak bumi pada 7 Oktober 2020 mendatang. Asteroid tersebut merupakan benda langit kedua terbesar yang mendekati bumi sepanjang bulan Oktober ini.

Baca juga: JAXA dan Toyota Kerja Sama Bangun Kendaraan Jelajah di Bulan

Dikutip dari republicworld.com, asteroid itu akan meluncur mendekati bumi dengan kecepatan 6,68 kilometer per detik dan diperkirakan memiliki diameter berkisar antara 36 meter hingga 81 meter, dengan lebar hampir 35-78 meter.

Meski demikian, asteorid sebesar itu pada dasarnya bakal berukuran sangat kecil untuk bisa dilihat oleh mata telanjang. Sebab, asteroid tersebut bakal terbakar saat memasuki lapisan atmosfer bumi, terutama lapisan mesosfer. Hal ini disebabkan karena di lapisan mesosfer terdapat udara yang bertekanan tinggi sehingga ketika ada meteor atau benda langit masuk ke bumi akan langsung bergesekan dan terbakar.

Sepanjang bulan Oktober 2020, NASA memprediksi ada sekitar 19 asteroid yang akan mendekati bumi. Asteroid 2020 QD5 merupakan asteroid terbesar yang akan mendekat dan menabrak orbit bumi pada 26 Oktober 2020, pukul 02.56 waktu AS. Asteroid ini diketahui memiliki panjang 60 hingga 130 meter, nyaris sepertiga kali lipat asteroid terbesar kedua, RK2.

Pada bulan 18 September lalu, asteroid lainnya yang lebih kecil atau seukuran bus sekolah juga kedapatan tengah mendekati bumi. Benda langit berjarak 13.000 mil dari bumi, dengan diameter antara 15-30 kaki (4,5 – 9 meter) itu berada jauh di bawah orbit satelit cuaca geostasioner kita yang terletak sekitar 22.000 mil di atas permukaan Bumi.

Seperti dikutip dari CNN, pendekatan terdekatnya ke Bumi akan terjadi pada Kamis (24/9) sekitar pukul 07.12 pagi ET atau 18.12 WIB, saat ia mengitari Samudra Pasifik Tenggara, dekat Australia dan Selandia Baru.

Pendekatannya akan sangat dekat dengan Bumi, sehingga gravitasi kita akan mengubah kecepatan dan lintasannya menurut earthsky.org.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

“Ada sejumlah besar asteroid kecil seperti ini, dan beberapa di antaranya mendekati planet kita sedekat ini beberapa kali setiap tahun,” kata Paul Chodas, direktur Center for Near-Earth Object Studies (CNEOS) di Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan.

Untungnya, asteroid itu tidak berada pada lintasan tumbukan dengan Bumi. Jika demikian, atmosfer kita kemungkinan besar akan menghancurkannya, menciptakan meteor yang terang, yang dikenal sebagai bola api.

Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

Satu tahun lalu, Mercedes-Benz meluncurkan kendaraan bertenaga baterai pertamanya yakni EQC SUV. Kini Mercedes mengincar penumpang jarak jauh dengan skuter elektronik lipat dan menggunakan julukan eScooter yang sungguh-sungguh.

Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu

Skuter listrik lipat ini hadir karena orang Jerman memutuskan untuk mengurangi emisi alias menggunakan kendaraan nol emisi terbaru. Kehadiran skuter listrik ini adalah kerja sama Mercedes dengan spesialis mobilitas Swiss yakni Micro Mobility Systems AG.

tampak belakang eScooter Mercedes-Benz (newatlas.com)

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newatlas.com (5/10/2020), peluncuran eScooter dari Mercedes-Benz dibuat dengan satu pertimbangan yakni umur yang panjang. EScooter tersebut dibuat dari komponen dan bahan berkualitas tinggi. Bahkan Mercedes menjanjikan bisa melaju dengan jarak lebih dari 5000 km (3.100 mil).

EScooter dari Mercedes tersebut memiliki banyak hal untuk ditawarkan seperti fitur desain minimalis yang elegan karena lipatannya ke atas dan ringan karena memiliki berat 13,5 kg. Sehingga ini mudah diangkut di bagasi kendaraan atau di transportasi umum.

Ia menggunakan ban karet 200-mm (7,8-in) di depan dan belakang, menawarkan suspensi penuh, memiliki lampu depan dan belakang, dan tenaga pengereman berasal dari satu rem depan dan dua lagi di belakang. Sehingga ketika melintas di medan perkotaan yang tidak bersahabat seperti jalan berbatu akan aman.

Skuter listrik ini dilengkapi dengan motor 250 W dan memiliki daya maksimum 500 W dan dapat berkeliling kota dengan kecepatan lebih dari 20 km per jam (12,4 mph). Dilengkapi dengan kontrol throttle twist-grip ke kanan pada stang, dan baterai 7,8-Ah / 280-Wh untuk sekitar 25 km (15,5 mil) per muatan yang mampu membawa pengguna berkeliling kota untuk melakukan tugas harian. Ketika daya baterai habis, eScooter ini membutuhkan waktu isi ulang hingga penuh sekitar tiga jam.

Baca juga: Negara-Negara ini Punya Regulasi Otoped Listrik, Bagaimana dengan Indonesia?

Ada tampilan di tengah setang yang menunjukkan kecepatan, tingkat pengisian dan mode berkendara, meskipun aplikasi Mikro menawarkan semua itu dan lebih banyak lagi, termasuk sistem navigasi, sehingga Anda dapat memasang ponsel ke braket pada stang dan menggunakannya sebagai komputer perjalanan. eScooter dari Mercedes dihargai sekitar €1.149,95 (sekitar US$1.350 atau setara Rp19,8 juta).

Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Korean Air mulai memasukkan kembali Airbus A380 ke dalam layanan. Pesawat tersebut diplot untuk penerbangan tiga jam 40 menit dari Incheon, Korea Selatan (Korsel), ke Guangzhou, Cina. Keputusan ini membuat Korean Air bergabung bersama China Southern Airlines -satu-satunya maskapai yang tak meng-grounded A380 selama pandemi Corona- serta Emirates yang sudah lebih dahulu mengoperasikan pesawat tersebut pada awal musim panas ini.

Baca juga: China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380

Simple Flying melaporkan, A380 Korean Air akan mengoperasikan rute Incheon-Guangzhou sepekan sekali, berangkat pukul 08.50 waktu setempat dan kembali ke Incheon, Seoul pada 13.20, setiap hari Rabu.

Di rute ini, Korean Air tak sendiri. Jawara A380 di dunia, China Southern Airlines, juga menjajaki salah satu rute potensial di Timur Asia ini. Bahkan, satu dari tiga maskapai terbesar di Cina itu ada kemungkinan untuk mengoperasikan lebih dari satu pesawat A380.

Dari 10 armada A380 Korean Air, pesawat superjumbo dengan nomor registrasi HL7614-lah yang bakal diplot melayani rute A380 paling aktif di dunia dewasa ini. Pesawat berusia 9,6 tahun tersebut diketahui terakhir kali terbang pada 5 Maret lalu, melahap rute Paris-Seoul.

Lebih dari setengah tahun tak mengudara membuat performa pesawat sempat diragukan. Karenanya, Korean Air mulai mengujicoba kelengkapan kemanan dan keselamatan pesawat tersebut pada 28 September lalu selama kurang lebih satu dan tiga seperempat jam penerbangan.

Selama waktu tersebut, Airbus A380 Korean Air berkeliling langit Pulau Jeju menuju Busan, salah satu kota terkenal di Korsel lewat film Train to Busan, dan mendarat kembali di Incheon, Seoul. Pada penerbangan ini, rata-rata pesawat hanya menjajal ketinggian jelajah di angka 32 ribu kaki.

Keputusan Korean Air mengerahkan kembali pesawat komersial terbesar di dunia ini tentu menuai tanda tanya, mengingat penerbangan penumpang di seluruh dunia disebut masih belum sepenuhnya pulih. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya terobosan maskapai untuk menyikapi sepinya penerbangan, mulai dari flight to nowhere, resepsi pernikahan di pesawat, makan siang mewah di pesawat A380, hingga terjun ke bisnis akikah kambing.

Selain itu, masih lesunya penerbangan penumpang juga dapat terlihat dari adanya gelombang PHK maskapai di berbagai negara di dunia.

Dari kacamata positif, dilihat dari rute yang dijajaki, keputusan maskapai mulai menghidupkan kembali A380 menjadi sinyal kuat pulihnya industri penerbangan di Cina usai dihantam virus Corona. Setidaknya ada tiga tanda terkait hal ini.

Dikutip dari Reuters, Jumat (10/7) menurut data dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) jumlah penumpang pada Juni ini turun 42,4 persen atau hanya 30,74 juta penumpang. Angka ini lebih baik dibandingkan bulan Mei dengan penurunan 52,6 persen.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

Selain melambatnya penurunan jumlah penumpang, kerugian kuartal II menandakan pemulihan bagi industri penerbangan China. Pasalnya kerugian kuartal I mencapai 38,1 miliar yuan setara Rp78 triliun. Sederhananya, kerugian pada kuartal I yang mencapai Rp78 triliun sudah mulai berkurang menjadi hanya Rp70 triliun di kuartal II.

Terakhir, tanda industri penerbangan Cina mulai kembali pulih dapat dilihat dari banyaknya promo yang ditawarkan. Terlebih, promo tersebut juga dibarengi dengan libur panjang di Negeri Panda itu, dimana jutaan orang diprediksi bakal bepergian setelah lockdown berkepanjangan sejak Januari lalu.

Viral, Penumpang Pesawat Keluhkan Stempel Karantina Mandiri Depkes Bikin Kulit Terbakar

Penumpang pesawat ramai-ramai mengeluhkan efek samping dari stempel khusus karantina mandiri. Mereka mengeluh bahwa stempel tersebut membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang sekalipun sudah berlalu cukup lama serta dibersihkan berkali-kali.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Diketahui, pemerintah di beberapa negara bagian memang telah mewajibkan kepada masyarakat agar melalukan karantina mandiri di rumah sepulang bepergian dari luar negeri. Agar mudah dideteksi, setiap penumpang pesawat akan ditandai secara fisik dengan cara dicap di bagian lengan bawah ketika tiba di bandara.

Dilansir theprint.in, polemik stempel khusus karantina mandiri yang membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang ini, bermula dari cuitan sekretaris nasional sekaligus juru bicara Kongres, Madhu Goud Yaskhi.

Dengan menampilkan dua foto lengan bagian bawah mirip bekas luka bakar, ia menyinggung Menteri Penerbangan Sipil India, Hardeep Singh Puri, dan Delhi International Airport Limited (DIAL), konsorsium yang mengoperasikan Bandara Indira Gandhi International (IGI), lewat cuitan “Dear @HardeepSPuri Ji, bisakah Anda melihat bahan kimia yang digunakan di Bandara Delhi untuk menstempel penumpang yang datang dari luar negeri? Kemarin saya dicap di @DelhiAirport dan beginilah tampilan tangan saya sekarang.”

Sejurus kemudian, sang menteri yang dimention Goud Yaskhi langsung membalas cuitan tersebut dan berjanji akan menindaklanjuti problem ini melalui Otoritas Bandara India (AAI). AAI pun buka suara. Menurutnya, mereka tak bisa berbuat banyak mengingat itu sudah masuk ranah yuridiksi DIAL.

Selain itu, salah seorang sumber Bandara IGI juga mengungkapkan, bahwa stempel yang membuat penumpang alergi dan sulit hilang itu merupakan buah dari pengadaan oleh Departemen Kesehatan New Delhi, bukan oleh DIAL.

“Departemen kesehatan pemerintah Delhi akan menanganinya. Pengadaan tinta juga dilakukan oleh pemerintah Delhi. Tidak ada keluhan seperti itu sebelumnya. Kami telah memberi tahu mereka tentang keluhan yang kami terima,” kata sumber tersebut.

Baca juga: Selain di Pakistan, Pilot Berlisensi Palsu Ternyata Lebih Banyak di India

Keluhan dari Madhu Goud pun pada akhirnya ikut menyeret penumpang lain bersuara. Rajal Sonal, misalnya, pada 1 Oktober lalu, ia juga sempat mengeluh alergi di bagian lengan sekitar stempel berwarna hitam tersebut. “Rasanya kulit saya terbakar di tempat stempel itu diletakkan,” ujarnya.

Senada dengan Rajal, Aadesh Madhok juga mengaku merasa seperti terbakar pada bagian bekas stempel dengan tiga motif aneh itu. Demikian juga dengan Aadesh Gandhi. Hanya saja, ia bukan tak mengalami itu saat distempel di Bandara IGI, melainkan di Bandara Internasional Biju Patnaik, negara bagian Odisha, India. “Saya menghadapi banyak iritasi dan sedikit bengkak di area yang dicap,” paparnya.