Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Prototipe pesawat supersonik komersial Boom, XB-1, akhirnya resmi dirilis perusahaan pada Rabu lalu. Momen tersebut merupakan untuk pertama kalinya pesawat supersonik yang disebut bakal mulai melakukan first maiden atau uji terbang perdana pada 2021 mendatang itu dipamerkan ke publik.

Baca juga: Virgin Galactic Gandeng NASA Kembangkan Pesawat Komersial Berkecepatan Tinggi

Beberapa kalangan menilai bahwa pesawat supersonik komersial Boom cukup menjanjikan. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari ketepatan waktu perilisan pesawat.

Sebelumnya, start-up Boom Supersonic yang berbasis di Denver telah mengumumkan akan meluncurkan XB-1 pada pertengahan Juni lalu. Saat itu, perusahaan mengaku telah membangun prototipe berskala 1:3 dari pesawat komersial supersonik bernama Overture. Diperkirakan prototipe XB-1 akan mulai diperkenalkan pada 7 Oktober. Benar saja, dua hari lalu prototipe pesawat resmi dipamerkan ke publik.

Perilisan tersebut pun menandakan bahwa pesawat supersonik komersial Boom sudah berada di fase berikutnya, dari semula di fase desain, pengembangan, dan proses produksi, menjadi ke proses pengujian. Bila tak ada aral melintang, penerbangan uji coba akan dimulai pada kuartal ketiga 2021 mendatang.

Rencananya, proses pengujian akan mengambil tempat di Mojave Air and Space Port, yang kondang dikenal sebagai Pusat Tes Dirgantara Sipil, berada di Mojave, California, Amerika Serikat, pada ketinggian 853 meter di atas permukaan laut.

“Kami akan menjadi (pesawat) supersonik akhir tahun depan,” kata Blake Scholl, pendiri dan CEO Boom, seperti dikutip dari fr24news.com.

“XB-1 adalah langkah pertama membawa penerbangan supersonik kembali ke dunia. Penerbangan dengan kecepatan dua kali lipat berarti kita dapat melakukan perjalanan dua kali lebih jauh membawa lebih banyak orang, tempat, dan budaya ke dalam kehidupan kita,” tambahnya

Sebelum pandemi virus Corona menyerang, Boom telah mengumpulkan setidaknya USD 6 miliar atau sekitar Rp88 triliun (kurs 14.700) pre-order untuk pesawatnya, yang dibanderol seharga USD 200 juta atau nyari menyentuh Rp3 triliun (kurs 14.700). Pembelinya ada dari Virgin Group hingga Japan Airlines, dan ada yang sudah berinvestasi sebesar USD 10 juta di perusahaan pada 2017.

Bila tak ada aral melintang, pesawat supersonik komersial Overture besutan Boom, yang dirancang untuk menampung antara 55 hingga 75 orang, akan memulai penerbangan penumpang pada tahun 2030. Fokus pesawat supersonik ini berada di lebih dari 500 rute lintas samudera. Berkecepatan Mach-2.2 (sedikit di atas kemampuan pesawat supersonik Concorde dikisaran Mach 2.04 atau di bawah konsep pesawat supersonik Virgin Galactic dikisaran Mach 3), perjalanan dari New York ke London hanya memakan waktu selama tiga jam 15 menit.

Pesawat supersonik Boom ini juga telah dirancang dengan teknologi pengurangan kebisingan terbaru. Kecepatan supersonik hanya akan digunakan saat terbang di atas lautan untuk memastikan bahwa area berpenduduk tidak terpengaruh oleh ledakan sonik.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Bagi Anda yang ingin menikmati kenyamanan naik pesawat ini, siap-siap merogoh kocek sebesar 5.000 dollar AS atau sekitar Rp66,1 juta untuk sekali terbang. Biaya perkiraan ini hampir sama dengan harga tiket rata-rata penerbangan kelas bisnis.

Boom bukan satu-satunya perusahaan yang berusaha mengembalikan penerbangan supersonik. Aerion Corporation saat ini sedang mengembangkan pesawat supersonik komersial AS2 di kantor pusatnya di Reno, Nevada. Pesawat ini dapat menampung hingga 12 penumpang.

IATA Serukan Pemerintah Kucurkan Dana Rp1.133 Triliun, Jika Tak Ingin Maskapai Bangkrut

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya, di paruh kedua 2020 ini, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bila dana sebesar itu tak dikucurkan, IATA memprediksi akan lebih banyak maskapai bangkrut pada musim dingin mendatang atau sekitar bulan Desember – Maret mendatang.

Seruan IATA tentu sangat berdasar mengingat rata-rata pemerintah di dunia telah menyetop paket stimulus, bailout, atau bantuan ke maskapai penerbangan, untuk bisa terus bertahan di tengah anjloknya penerbangan penumpang akibat pandemi virus Corona.

“Masalahnya sekarang adalah bahwa bantuan, khususnya subsidi gaji, mulai ditarik,” kata Brian Pearce, kepala ekonom IATA, seperti dikutip dari dailysabah.com.

Catatan IATA, selama di kuartal kedua 2020 (April-Juni), maskapai penerbangan telah menghabiskan sebanyak $51 miliar uang tunai atau sekitar Rp749 triliun (kurs 14.700) untuk membayar gaji karyawan dan operasional perusahaan.

Saat ini, maskapai di dunia rata-rata hanya memiliki uang tunai untuk kebutuhan sekitar 8,5 bulan ke depan. Bahkan, di beberapa wilayah, jumlahnya bisa jauh di bawah itu. Di AS misalnya, diperkirakan stok uang tunai maskapai berada di bawah level tersebut. Setidaknya, PHK sekitar 32 ribu karyawan oleh berbagai maskapai di Negeri Paman Sam jadi cerminan atas hal itu.

“Kami menghadapi beberapa bulan musim dingin yang sulit bagi maskapai penerbangan ketika arus kas selalu lemah secara musiman. Kami melihat maskapai penerbangan mendapat masalah jika tidak gagal tanpa dukungan pemerintah lebih lanjut atau (dimudahkan) mengakses pasar modal untuk mendapatkan lebih banyak uang,” jelas Pearce.

Seruan IATA terkait paket stimulus triliunan rupiah dari pemerintah global tentu mengingatkan kita pada seruan Airline Passenger Experience Association (APEX). Pada akhir Maret lalu, APEX telah menyerukan pemerintah global untuk membantu upaya penyelamatan industri penerbangan di tengah wabah virus corona atau Covid-19. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai $250 miliar atau sekitar Rp3.805 triliun (kurs Rp 15.133).

Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!

“Dunia kita harus segera merespons untuk melindungi industri penerbangan globalnya dengan seperempat triliun dolar ($250 miliar atau Rp3.805 triliun) dalam bentuk pajak dan pinjaman darurat sesegera mungkin kepada maskapai dan pemasoknya,” kata CEO APEX, Joe Leader.

“Maskapai membutuhkan dukungan ini untuk keselamatan, keamanan, dan kelangsungan hidup mereka terhadap anjloknya jumlah penurunan penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat Covid-19,” tambahnya.

Buntut Demo UU Cipta Kerja, Halte TransJakarta Dibakar dan Dijarah, Ini Rute Yang Beroperasi

Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law pada 8 Oktober 2020 membuat banyak fasilitas umum menjadi sasaran para demonstran. Beberapa diantaranya dirusak, dibakar, dijarah dan di coret–coret. Salah satu fasilitas umum yang terkena dampak besar adalah halte–halte milik PT TransJakarta dengan total 25 halte menjadi korban vandalisme.

Baca juga: Omnibus Law Untungkan Pengusaha, Maskapai Tak Lagi Wajib Miliki Lima Pesawat! Nyawa Penumpang Taruhannya?

Para demonstran membakar dan menjarah halte Bundaran HI (Kor 1), Sarinah (Kor 1), Tosari Baru (Kor 1), Tosari Lama (Kor 1), Karet Sudirman (Kor 1), Sentral Senen (Kor 5), Senen arah P Gadung (Kor 2) dan Senen arah HCB (Kor 2). Selain itu halte yang dirusak adalah HCB (Kor 1) , BI (Kor 1), Gambir 1 (Kor 2), Sumber Waras (Kor 3), Grogol 1 (Kor 3), Dukuh Atas 1 (Kor 1), Petojo (Kor 8), Benhil (Kor 1), Rs Tarakan (Kor 8) dan Kwitang (Kor 2).

Halte dibakar masa saat demo (TransJakarta)

Insiden ini membuat PT TransJakarta mengalami kerugian dengan estimasi sekitar Rp45 miliar dan belum diketahui total kerugian untuk semuanya. Pasca insiden aksi masa yang berujung perusakan, pembakaran serta penjarahan tersebut, layanan TransJakarta tetap beroperasi dari pukul 05.00 – 19.00 WIB untuk melayani masyarakat DKI yang beraktivitas.

“Layanan TransJakarta tetap beroperasi untuk melayani warga DKI dengan beberapa modifikasi dan penyesuaian yakni Koridor 1 dari Blok M menuju Kota untuk sementara tidak berhenti di Halte Polda hingga Halte Bang Indonesia. Meski tidak melayani halte-halte tersebut, penumpang tak perli khawatir karena bus akan keluar jalur dan berhenti di bus stop Non BRT,“ kata Nadia Diposanjoyo Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas melalui keterangan tertulis, Kamis (9/10/2020).

Nadia mengatakan, TransJakarta juga mengoperasikan rute tambahan yaitu rute Non BRT GR1 untuk pelanggan yang tidak bisa menggunakan layanan terdampak. Untuk Koridor 2 (Pulogadung – Harmoni) Lepas Pecenongan, Harmoni langsung menuju halte Monas. Koridor 4 (Pulogadung – Tosari) Mengalami perpendekan rute hanya sampai Halte Dukuh Atas, Koridor 5 (Ancol – Kampung Melayu) dariari Senen naik melalui Flyover

“Koridor 6 (Ragunan – Halimun) Mengalami perpendekan hanya melayani sampai Halte Halimun. Koridor 13 (Ciledug – Tendean) Mengalami perpendekan rute hanya sampai Blok M dan Halimun,“ kata Nadia.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Sedangkan untuk rute yang beroperasi secara normal yakni Koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru), Koridor 7 (Kampung Rambutan – Kampung Melayu), Koridor 8 (Lebak Bulus – Harmoni), Koridor 9 (Pinang Ranti – Pluit) Koridor 10 (Tanjung Priok – PGC 2), Koridor 11 (Kampung Melayu – Pulogebang) dan Koridor 12 (Penjaringan – Sunter Kelapa Gading).

 

 

NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

Lembaga Penerbangan dan Antarikasa Amerika Serikat (NASA) resmi meluncurkan aplikasi untuk mewadahi ilmuan dalam mempelajari kelelahan (fatigue) pada tubuh manusia saat melahap penerbangan luar angkasa. Langkah ini ditujukan untuk memecahkan studi tentang fatigue itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan olehnya.

Baca juga: Intip Teleskop Terbang Terbesar di Dunia Boeing 747 NASA

Umumnya, pada penerbangan luar angkasa, para astronot melalui perjalanan panjang dan sering kali membuat mereka kelelahan. Pada titik inilah, NASA ingin mencari tahu sejauh mana kelelahan dapat berubah menjadi petaka akibat kurangnya konsentrasi.

Sekalipun aplikasi NASA tersebut ditujukan untuk para astronot, namun, Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) memandang aplikasi tersebut bakal sangat bermanfaat untuk para pilot, sekalipun mereka terbang lebih dekat dengan bumi dibanding para astronot.

Melalui aplikasi tersebut, NASA juga hendak mengajak maskapai ataupun lembaga penelitian yang tengah mempelajari fenomena kelelahan, agar menyatukan persepsi. Singkatnya, jawaban dari studi tentang kelelahan sebisa mungkin harus sinkron satu sama lain untuk kebaikan bersama.

“Dalam studi terbaru menggunakan aplikasi, kami dapat mengumpulkan ribuan tes dari pilot, di mana upaya sebelumnya mungkin hanya mendapatkan sebagian kecil dari itu,” kata Ms Flynn-Evans, kepala Lab Penanggulangan Kelelahan di Pusat Penelitian Ames NASA.

Aplikasinya sendiri cukup sederhana. Pada intinya, aplikasi NASA ini berupa tes kesadaran. Namun demikian, metode pengetesan tersebut tak tiba-tiba datang, melainkan sudah melalui penelitian panjang. Aplikasi tersebut tersedia di Apple Store dengan keyword NASA PVT dan dapat diunduh oleh orang awam. Dengan demikian, siapapun bisa mengakses metode pengetesan atau pengukuran standar terinspirasi dari pengalaman laboratorium kelas atas selama bertahun-tahun.

Dilansir Simple Flying, tes mengukur waktu reaksi seseorang terhadap sinyal visual. Begitu angka mulai bergulir di layar, pengguna cukup menekan tombol dengan ibu jari mereka.

Angka-angka tersebut menunjukkan waktu reaksi mereka dalam milidetik. Dengan demikian, seseorang yang tengah dikuasai rasa kantuk ataupun kehilangan fokus bakal terdeteksi dari cara mereka merespon angka-angka tersebut. Tak hanya itu, aplikasi NASA ini juga mampu merekam saat pengguna berganti ibu jari atau jari lainnya akibat kelelahan.

“Kedengarannya sederhana,” jelas Erin Flynn-Evans. Tetapi, metode tersebut merupakan variasi dari psychomotor vigilance task (PVT) yang sudah digunakan NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk mengumpulkan data dari para astronot.

Baca juga: Produksi Pesawat Supersonic Setara Concorde, Virgin Galactic Gandeng Rolls Royce Hingga NASA

Di era penerbangan modern seperti sekarang ini, pesawat dimungkinkan untuk melahap penerbangan panjang dan melelahkan hingga belasan bahkan puluhan jam (dalam kondisi tertentu) non-stop. Karenanya, berbagai studi ilmiah tentang kelelahan di lingkungan kerja dan risiko yang ditumbulkan melalui aplikasi tersebut penting dilakukan.

Semangat seperti itulah yang pada akhirnya, menurut NASA, akan semakin memudahkan studi. Semakin banyak orang dan organisasi yang menggunakan aplikasi tersebut, akan semakin banyak data berkualitas masuk.

Gelukkige Verjaardag dan Joyeux Anniversaire untuk KLM Air France yang Ke-10 dan 187 Tahun

Maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang biasa disingkat KLM, tepat pada 7 Oktober lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-101. Di saat yang bersamaan, mitra strategis mereka, Air France, juga merayakan ulang tahunnya yang ke-87. Oleh karenanya, dunia pun mengucapkan Gelukkige Verjaardag dan Joyeux Anniversaire untuk kedua maskapai bersejarah ini.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-100, KLM Torehkan Penerbangan ‘Terlama’ Menuju Indonesia

Sekalipun tak mengadakan perayaan khusus di hari bahagianya, seiring pandemi virus Corona yang masih terus mengintai, kedua maskapai yang juga bersatu di bawah brand KLM-Air France pada 2004 lalu ini tetaplah menawan di hati pecinta aviasi.

Kita tahu, selain menyandang sebagai maskapai tertua di dunia, KLM menjadi istimewa karena mampu bertahan walau berbagai rintangan menghadang. Di antara berbagai rintangan tersebut, insiden kecelakaan pesawat terburuk di dunia jadi yang terberat.

Dilansir Simple Flying, Minggu, 27 Maret 1977, dua pesawat Boeing 747, KLM flight 4805 dari Amsterdam dan Pan Am flight 1736, yang terbang dari Los Angeles dan sempat transit di New York, bertabrakan hebat di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Akibat kejadian itu, 583 nyawa melayang. Seluruh penumpang dan awak yang berada di KLM berjumlah 248, dinyatakan tewas. Sementara itu, 335 dari 396 orang yang berada di pesawat Pan Am meninggal dunia, sedangkan 61 lainnya termasuk kedua pilot dan teknisi penerbangan selamat.

Pasca kejadian itu, reputasi KLM -termasuk juga Pan Am- turun drastis ke jurang terdalam. Kedua maskapai tersebut pada intinya kehilangan kepercayaan dari para penumpang di seluruh dunia. Trauma mendalam dan label sebagai maskapai yang terlibat dalam kecelakaan pesawat terburuk di dunia menjadi dasarnya.

Pan Am pun pada akhirnya tumbang belasan tahun kemudian. Adapun KLM berhasil melewati masa-masa sulit itu. Bahkan, sejak kecelakaan terburuk di dunia terjadi, KLM sampai saat ini tak pernah sekalipun terlibat kecelakaan fatal.

Hanya saja, layaknya maskapai pada umumnya, pandemi Covid-19 membuat keuangan perusahaan menjadi rapuh. Meskipun anjloknya penerbangan penumpang masih akan terus berlangsung sampai tahun-tahun mendatang, beberapa kalangan menilai bahwa KLM akan tetap terus bertahan dan akan terus menyandang gelar sebagai maskapai tertua di dunia yang masih terus beroperasi. Dukungan dari pemerintah Belanda tentu menjadi alasan kuat atas itu.

Senada dengan KLM, Air France juga merupakan salah satu maskapai bersejarah di dunia. Meskipun bukanlah yang tertua, mengingat baru berusia 87 tahun, tetapi maskapai tersebut pernah berada di puncak karir, bersama mitranya British Airways (BA), saat mengoperasikan pesawat komersial supersonik terpopuler di dunia, Concorde.

Akan tetapi, Concorde juga merupakan faktor penyebab runtuhnya kejayaan Air France, menyusul kecelakaan fatal di tahun 2000 silam. Tiga tahun kemudian pun menjadi akhir masa-masa jaya maskapai nasional Perancis tersebut.

Baca juga: Diduga Mabuk, Polisi Tembaki Pesawat Air France A330

Berkenaan dengan pandemi virus Corona, Air France juga sempat terguncang hebat. Selain PHK ribuan karyawan, maskapai yang dianugerahi seragam terbaik dan paling stylish di dunia penerbangan ini juga menjadi maskapai pertama di dunia yang mengumumkan pemberhentian definitif seluruh armada Airbus A380.

Kendati demikian, layaknya KLM, Air France juga disokong oleh pemerintah Perancis untuk tetap terus bertahan di tengah kondisi sulit. Diketahui maskapai itu mendapat suntikan dana sebesar 7 miliar euro.

Omnibus Law Untungkan Pengusaha, Maskapai Tak Lagi Wajib Miliki Lima Pesawat! Nyawa Penumpang Taruhannya?

Polemik usai pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) terus terjadi. Jagat media sosial masih dibanjiri berbagai kecaman, cemoohan, dan ejekan terhadap pemerintah dan para anggota dewan di DPR. Umumnya, netizen menilai, Omnibus Law menyesengsarakan rakyat (buruh dan pekerja). Sebaliknya, UU Omnibus Law Cipta Kerja dinilai hanya lebih memikirkan dan menguntungkan pengusaha.

Baca juga: Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Tudingan tersebut tentu bisa dibilang subjektif, mengingat di sisi lain, pemerintah mengklaim bahwa Omnibus Law justru dapat membuat para pekerja jadi lebih sejahtera. Terlepas dari hal itu, dilihat dari pasal per pasal, mungkin gambaran netizen (red: rakyat) perihal Omnibus Law menguntungkan pengusaha ada benarnya. Tengok saja perubahan Pasal 118 Ayat 2 Butir 1 UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Kita tahu, kebijakan kepemilikan pesawat tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 97 tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kepemilikan dan Penguasaan Pesawat Udara. Beleid tersebut diteken Menteri Perhubungan kala itu, Ignasius Jonan, pada 3 Juni 2015 dan diundangkan satu hari kemudian yakni pada 4 Juni 2015.

PM 97 Tahun 2015 menyatakan maskapai berjadwal wajib memiliki paling sedikit lima pesawat dan menguasai minimal lima pesawat dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai rute yang dilayani.

Menurut salah seorang sumber KabarPenumpang.com, alasan dari regulasi tersebut ialah memberikan jaminan pelayanan bahwa alat produksi tidak bermasalah. Hal ini juga untuk memberikan kepastian tentang status kepemilikan modal.

Singkatnya, bisnis pesawat udara tak bisa dimasuki oleh sembarang orang mengingat investasinya cukup besar. Tentu, investasi besar tersebut tak dimaksudkan untuk memonopoli penerbangan, melainkan agar para pengusaha maskapai penerbangan benar-benar memperhatikan faktor safety atau keamanan dan keselamatan penerbangan.

Hal itu (memperhatikan faktor safety atau keamanan dan keselamatan penerbangan) sukar dilakukan bilamana pemilik maskapai hanya mempunyai modal pas-pasan. Dalam kondisi modal pas-pasan, yang paling mungkin dilakukan ialah efisiensi dan mencetak keuntungan besar. Akibatnya, pesawat jadi rentan terlibat insiden. Muara dari itu, tentu nyawa penumpang jadi taruhannya.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semua hal itu musnah usai pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Dalam salinan draf final UU Ciptaker yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, Pasal 118 Ayat 2 klaster Penerbangan UU Cipta Kerja, ketentuan minimal kepemilikan pesawat tidak tercantum lagi. Kabag Hukum Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Endah Purnama Sari pun membenarkannya. “Itu (aturan maskapai wajib punya minimal 5 pesawat) dihapus,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (7/10).

Nantinya, ketentuan mengenai batasan minimal kepemilikan pesawat akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Endang sendiri belum menjelaskan secara rinci terkait jumlah minimal kepemilikan pesawat oleh maskapai.

Baca juga: Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020

“Nanti untuk jumlah pesawat yang dimiliki dan dikuasai akan diatur dalam PP NSPK, yang masih kami godok,” sebutnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengisyaratkan bahwa jumlah minimal kepemilikan pesawat oleh maskapai akan lebih. “Untuk penerbangan, kami berikan jumlahnya lebih sedikit. Modalnya lebih kecil. Supaya semua orang bisa masuk situ,” ucap pada Februari lalu.

India Hadirkan Electric Multiple Unit dengan Kecepatan 180 Km Per Jam

Awal bulan Oktober ini, Bombardier Transportation dan National Capital Region Transport Corporation atau NCRTC India meluncurkan desain baru EMU (Electric Multiple Unit) atau kereta rel listrik komuter. EMU ini akan meluncur dengan kecepatan 180 km per jam dan akan beroperasi di Delhi – Ghaziabad – Meerut Regional Rapid Transit System (RRTS).

Baca juga: Jepang Rencanakan Bangun Proyek Kereta Cepat di 5 Kota India

KabarPenumpang.com melansir dari laman railjournal.com (2/10/2020), kontrak kerja sama antara Bombardier Transportation dengan NCRTC terjadi sejak Mei lalu. Dalam pengerjaannya Bombardier merancang dan mengirimkan 30 kereta komuter regional dengan satu rangkaian berisi enam gerbong.

Selain itu juga ada sepuluh kereta dalam kota dan menyediakan 15 tahun pemeliharaan untuk koridor di bawah RRTS Tahap 1. Armada kereta ini sendiri dilengkapi untuk pengoperasian kereta otomatis serta pengereman regeneratif dengan laju pengereman 1m / s2.

Kursi dalam gerbong kereta akan memiliki konfigurasi 2 + 2 dengan kapasitas 1790 penumpang dalam enam gerbong. Jumlah ini termasuk dengan 400 kursi dan 925 penumpang di tiga set gerbong, termasuk 190 tempat duduk.

EMU tersebut dilengkapi dengan pintu geser plug-in bi-parting, pendingin ruangan atau AC, kamera CCTV, ruang untuk pengguna kursi roda dan sistem informasi penumpang. Dalam mengurangi konsumsi energi sistem AC, pintu kereta akan dilengkapi dengan tombol yang hanya memungkinkan pintu terbuka jika diminta.

Kereta tersebut akan mencakup kelas bisnis, dengan dilengkapi kursi empuk dan sandaran kepala, kaki serta lengan. Tak hanya itu ada pula mesin penjual otomatis dan soket listrik dan gerbong khusus wanitadi konfigurasi enam gerbong.

Armada ini juga dilengkapi dengan teknologi Train Control Monitoring System (TCMS) Bombardier, serta fitur pemantauan berdasarkan kondisi dan prediktif, untuk meningkatkan efisiensi dengan menyediakan diagnostik dari darat ke kereta. Untuk diketahui, jalur sepanjang 82 km Delhi – Ghaziabad – Meerut, yang akan memiliki 24 stasiun, akan menjadi salah satu yang tercepat di India, mengurangi waktu tempuh Meerut – Delhi menjadi kurang dari 60 menit.

Baca juga: India Uji Coba Train 18, Kereta Cepat Tanpa Masinis Produksi Dalam Negeri

Jumlah penumpang diperkirakan 800 ribu orang setiap hari. Kereta tiga gerbong itu akan beroperasi di sepanjang 21 kilometer bagian Stasiun Depot Meerut Selatan – Modipuram, yang akan memiliki 13 stasiun. Ruas prioritas sepanjang 17 km diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2023, dengan seluruh koridor sepanjang 82 km akan dibuka pada tahun 2025.

Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Operator Bandara Changi Singapura yakni Changi Airport Group (CAG) mengklaim tengah menghadapi masa-masa yang menakutkan seiring pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan usainya. Sebab salah satu bandara tersibuk ini mencatat penurunan lalu lintas penumpang pertama dalam lebih dari satu dekade pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2020.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Laporan tahunan CAG mencatat bahwa pertempuran melawan Covid-19 baru saja dimulai, dengan tanda-tanda pengurangan. Pada tahun keuangan 2019/20 (FY2019 / 20), CAG melaporkan laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemegang saham sebesar S$435 juta atau Rp4,7 triliun, turun 36 persen dari tahun sebelumnya.

Ini terjadi setelah grup tersebut membukukan penurunan nilai aset non tunai di Bandara Internasional Tom Jobim di Brasil. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (7/10/2020) di bandara Tom Jobim Changi Airport Grup memiliki 51 persen saham.

Selama masa pandemi ini, bahkan Bandara Changi Singapura sudah menghentikan operasi mereka di dua terminal untuk menurunkan biaya operasional. Selain menghentikan operasional di dua terminal, CAG juga memutuskan untuk memotong gaji hingga 30 persen dan menangguhkan pembayaran deviden selama satu tahun untuk menghemat modal.

Mereka juga menunda program pembangunan terminal kelima Bandara Changi selama kurang lebih dua tahun.

“Dampak Covid-19 pada industri penerbangan belum pernah terjadi sebelumnya. Hasil operasi grup diharapkan akan berdampak material dan merugikan untuk tahun yang berakhir pada 31 Maret 2021,“ ujar pernyataan CAG.

Meski begitu, CAG akan terus berinvestasi dengan hati-hati untuk memastikan daya saing Bandara Changi dalam jangka panjang dengan tetap menjaga standar keselamatan dan keamanan yang tinggi. Saat ini Bandara Changi telah mulai mengubah pengalaman penumpang dengan inovasi nirkontak dan pembersihan baru untuk perjalanan bandara yang lebih aman, namun mulus.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Kampanye Belanja Online

CAG menambahkan bahwa sejauh mana dampak Covid-19 pada kinerja operasional dan keuangan jangka panjang grup terus tidak pasti. Tahun ini Changi kembali dianugerahi sebagai bandara terbaik di dunia oleh lembaga yang berbasis di Inggris, Skytrax. Predikat itu mereka dapatkan selama delapan tahun berturut-turut.

Viral di TikTok Pramugari Umbar Fakta Penghasilan

Seorang pramugari kembali viral di media sosial, kali ini menggunakan TikTok setelah berbagi fakta yang lebih unik terkait pekerjaannya. Ally Rae Case, yang bekerja pada maskapai American Airlines telah memposting serangkaian video di mana dia menjawab pertanyaan yang selalu dirinya dapatkan terkait pekerjaannya sebagai seorang awak kabin.

Baca juga: Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

KabarPenumpang.com melansir laman yahoo.com (6/10/2020), ada satu pertanyaan menarik terkait dengan penghasilannya sebagai seorang pramugari. Dalam salah satu videonya diklaim bahwa pramugari “hanya dibayar” saat pintu boarding pesawat ditutup.

“Ya, setelah pintu ditutup, jam mulai bekerja. Begitu terbuka, jam berhenti. Jadi pramugari Anda tidak dibayar selama naik dan turun, jadi bersikaplah baik secara khusus selama waktu itu,” ujar Ally.

Jawabannya tersebut kemudian membuat para warganet berkomentar. Mereka terkejut dengan info itu dan menyebutnya tidak adil dan salah, namun ini adalah praktik yang cukup standar. Sebab banyak maskapai yang membayar pramugari mereka untuk jam penerbangan yakni saat pesawat jauh berada di gerbang.

Tetapi banyak maskapai penerbangan termasuk Amerika yang membayar pramugari mereka dengan tarif kecil dengan per jamnya $2,20 pada 2019. Video Ally juga menyentuh banyak detail positif. TikToker menjelaskan bahwa, berkat pekerjaannya, dia dapat terbang ke mana saja di Amerika Serikat secara gratis.

Secara internasional, dia hanya perlu membayar pajak keluar untuk negara yang dia tinggalkan. Pramugari juga berbagi beberapa detail yang cukup liar tentang pekerjaan itu sendiri, termasuk bahwa dia “selalu” memiliki koper yang dikemas, tidak pernah terbang dengan rute yang sama dan terkadang dapat bekerja sebanyak lima penerbangan per hari.

Dia juga bercanda mengungkapkan bahwa pamugari memang makan makanan pesawat sama seperti penumpang lainnya. Banyak pengguna TikTok menikmati fakta yang diberikan Ally, sementara yang lain kesal dengan situasi pembayaran pramugari.

“Itu TIDAK adil,” tulis seorang pengguna.

“Bayangkan Anda tidak dibayar separuh dari waktu Anda bekerja. Wow, ”tambah yang lain.

“Begitu banyak informasi bagus,” tulis yang lain.

Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Ally bukanlah pramugari pertama yang berbagi pengalamannya di TikTok. Bulan lalu, seorang pramugari menjadi viral setelah menjelaskan peretasan hotel terbesar yang dia pelajari saat bekerja.

LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Pembaruan aplikasi Tijeku menjadikan semua pengguna bus TransJakarta dimudahkan dalam pembayaran. Yang mana tak lagi perlu menempelkan kartu, sehingga ketika pengguna lupa membawa kartu uang elektronik mereka, dengan aplikasi bisa tetap membayar dan hanya menscan barcode yang tertera untuk pembayaran.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

Untuk memudahkan pengguna, TransJakarta menjadikan LinkAja sebagai dompet elektronik nasional berbasis server pertama di aplikasi Tijeku. Kehadiran LinkAja sebagai alat pembayaran tiket bus TransJakarta, menjadi uang elektronik yang memiliki sistem transportasi paling lengkap yang dapat dinikmati oleh pengguna LinkAja maupun layanan Syariah LinkAja.

Melalui kemudahan ini, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi dari segi waktu, serta rasa aman dan nyaman karena mendukung kebijakan teknologi tanpa sentuh yang semakin dibutuhkan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“LinkAja memiliki komitmen untuk terus berupaya memperluas ekosistemnya demi menghadirkan kemudahan pembayaran digital kepada seluruh masyarakat Indonesia. Inovasi Transjakarta sebagai salah satu transportasi umum andalan warga Jakarta dalam melahirkan aplikasi Tije tentunya selaras dengan komitmen tersebut. Kami harap kerja sama strategis antara LinkAja dan Transjakarta dapat semakin mendorong kepercayaan dan kebiasaan masyarakat terhadap pembayaran digital, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan harian seluruh kalangan masyarakat,“ kata Haryati Lawidjaja selaku Direktur Utama LinkAja yang dikutip dari keterangan tertulis (7/10/2020).

Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT Transportasi Jakarta Achmad Izzul Waro mengatakan, Transjakarta menyambut baik kolaborasi ini, karena sangat mendukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mewujudkan City 4.0 dan urban regeneration yang berbasiskan digitalisasi sistem transaksi, serta teknologi tanpa sentuh untuk menekan penularan Covid-19.

Izzul mengatakan, adanya kerja sama ini sekaligus mendorong ekosistem pembayaran nontunai terutama di layanan TransJakarta sebagai salah satu transportasi publik terbesar di DKI Jakara. Selain itu juga andalan mobilitas warga yang disediakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untu warganya.

LinkAja menjadi pembayaran melalui uang elektronik resmi yang pertama di Transjakarta, tentunya sinergi ini menjadi satu dari beberapa rencana Transjakarta untuk mempermudah dan memanjakan pelanggan menggunakan layanan kami dari sisi digital. Tentunya pengguna setia LinkAja, kenyamanan transportasi tanpa sentuh yang terjangkau sudah dalam genggaman, sehingga tidak perlu bingung jika tiba-tiba lupa bawa kartu.

Tiket QR besutan Transjakarta merupakan inovasi pertama di Indonesia, dimana kode QR tidak hanya digunakan sebatas membeli dan menggunakan, namun dapat melakukan transfer kepada siapa saja yang diinginkan, sehingga memberi manfaat lebih. Dengan adanya kode QR ini, kami juga berharap agar pelanggan bisa lebih mandiri dan secara disiplin dapat menerapkan penggunaan satu tiket untuk satu orang, tanpa sentuhan.

Kode QR LinkAja yang ada di dalam aplikasi Tije memiliki beberapa keunggulan agar perjalanan bersama Tije menjadi nyaman seperti, bisa membeli tiket secara online di mana dan kapan saja, Touchless Technology, fitur transfer yang canggih, pelacakan posisi bus dan waktu tunggu secara real time dan smart notification untuk mengingatkan pelanggan akan rencana perjalanannya layaknya digital personal assistant. Selain pada aplikasi Tije, LinkAja juga dapat digunakan sebagai alat pembayaran digital untuk top up di vending machine yang sudah tersedia di 200 halte Transjakarta.

“Kami merevolusi kemampuan kami sebagai langkah awal integrasi pembayaran antar moda transportasi, menuju gerbang Program Jak Lingko Indonesia, artinya secara teknologi kita siap,” ujar Izzul.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Cara pembayaran menggunakan LinkAja pada aplikasi Tije sangat mudah. Buka aplikasi Tije, lalu pilih tiket dan tujuan. Pilih pembayaran menggunakan LinkAja, dan pilih menu bayar. Pengguna akan diarahkan ke halaman menu utama, pilih menu Tiketku untuk melihat kode QR yang sudah dibeli, kemudian scan kode QR tiket ke mesin scanner.