Pakai Crop Top, Selebgram Dilarang Masuk Kabin dan Diberikan Rompi

Tidak ada aturan jelas pakaian yang digunakan ketika Anda akan bepergian dengan pesawat. Namun meski begitu, Anda harus memperhatikan pakaian apa yang pantas dan nyaman ketika bepergian dengan transportasi udara. Bahkan beberapa tahun lalu ada seorang artis YouTube dan penyanyi rock tidak diperbolehkan masuk dalam penerbangan oleh awak kabin karena pakaian mereka yang tak pantas.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

Ternyata hal ini tidaklah menjadi pelajaran bagi beberapa orang. Seperti belum lama ini, seorang selebgram atau model Instagram bernama Isabelle Eleanor yang dihentikan oleh awak kabin saat akan masuk ke dalam kabin pesawat Jetstar.

Dilansir KabarPenumpang.com dari dnaindia.com (4/2/2021), Isabelle dihentikan saat akan masuk ke dalam kabin karena awak maskapai menganggap pakaian yang digunakannya tidak pantas. Hal ini membuat Isabelle marah dan merasa dihina oleh awak kabin yang memandangnya dengan ‘jijik’.

Dia diberitahu oleh awak kabin bahwa crop top hitam yang dikenakannya terlalu minim. Tak hanya itu, awak kabin pun meminta Isabella untuk menggunakan jaket agar dia bisa masuk ke dalam kabin.

“Seorang pramugari menatap saya dan bertanya apakah saya punya jaket yang bisa saya pakai? Saya merasa mereka meminta saya menggunakan jaket agar tidak masuk angin karena sekarang di Melbourne bisa dingin,“ ujar Isabelle.

Karena tak membawa jaket, seorang awak kabin yang menghentikannya berunding dengan tim untuk memberikan jaket padanya. Saat dirinya diberikan jaket untuk dikenakan, Isabelle harus menghadapi rasa malu karena semua orang dalam penerbangan itu menatapnya.

“Jadi mereka membuat keributan besar ketika saya menginjak pesawat dan membuat saya menunggu di depan semua orang sementara mereka mencari sesuatu untuk menutupi saya. Kemudian saya harus berjalan ke tempat duduk saya dengan mengenakan rompi ini. Ini adalah diskriminasi dan penghinaan Jet Star Australia. Rupanya atasan saya terlalu kecil dan saya tidak bisa terbang tanpa menutupi. Jika saya memiliki payudara kecil saya jamin mereka tidak akan mengatakan apa-apa, ”tulisnya.

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Karena hal ini, Jetstar mengatakan awak kabin memiliki kesalahpahaman tentang kebijakan maskapai. Pihak maskapai juga mengatakan telah meminta maaf pada model tersebut. Untuk diketahui Isabelle menggunakan crop top hitam dan jeans biru, saat itu tengah dalam perjalanan dari Gold Coast menuju ke Melbourne bersama suaminya.

China Airlines Batal Pensiunkan Boeing 747, Pertanda Apa?

China Airlines dikabarkan batal mempensiunkan Queen of the Skies Boeing 747. Hal itu dikarenakan pandemi virus Corona yang masih berlangsung sehingga, maskapai memilih menunggu sampai kondisi membaik dan menggelar upacara sederhana melepas pesawat ikonik itu.

Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Dilansir Simple Flying, salah satu maskapai terbesar di Taiwan ini diketahui mengumumkan berencana mempensiunkan Boeing 747-400 pada awal Januari lalu. Skenarionya pun sudah amat matang, didahului dengan serangkaian penerbangan terakhir Boeing 747 lewat program “Farewell Party for the Queen of the Sky” mulai 6 Februari, sebelum akhirnya pesawat dikirim ke fasilitas penyimpanan jangka panjang.

Saat itu, para penumpang program tersebut diajak terbang keliling Taiwan, melihat Gunung Fuji di Jepang, keliling beberapa prefektur di Jepang, sebelum akhirnya kembali ke Bandara International Taoyuan selama kurang lebih 5 jam 40 menit. Selain dikenal sebagai acara perpisahan Boeing 747, program ini juga dilabeli dengan flight to nowhere atau terbang dan mendarat di bandara yang sama.

Flight to nowhere gagasan China Airlines bersama kompetitornya, Eva Air, bahkan viral di seluruh dunia dan pada akhirnya diikuti oleh banyak maskapai di berbagai negara, seperti Singapore Airlines, Royal Brunei Airlines, Qantas, dan Thai Airways.

Menurut data dari Planespotters.net, sepanjang sejarah perusahaan berdiri, China Airlines sudah memiliki total 60 Boeing 747. Saat ini, Queen of the Skies tersisa 22 unit, dimana empat di antaranya beroperasi mengangkut penumpang dan sisanya sebagai angkutan kargo.

Tak diketahui secara persis sampai kapan penundaan pensiun Boeing 747 China Airlines dilakukan. Yang jelas, selama apapun penundaan dilakukan, hal itu tetap tidak mengubah fokus maskapai untuk beralih ke pesawat twin jet canggih, salah satunya seperti Airbus A350.

Disebutkan, maskapai -yang ingin mengganti nama karena kesal selalu dihubungkan dengan Cina daratan- ini sudah memiliki total 14 Airbus A350-900. Pesawat ini dinilai cocok untuk China Airlines yang mengandalkan point-to-point sebagai fokus bisnis perusahaan, baik itu antar benua ataupun negara, salah satunya seperti rute Kaohsiung-Jakarta.

Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya!

Sebagai informasi, 1 Juli 2018 silam, China Airlines secara resmi membuka rute Kaohsiung ke Jakarta melalui Hong Kong. Dibukanya rute ke Jakarta semakin mengukuhkan eksistensi maskapai sebagai salah satu operator maskapai terkemuka di Taiwan yang akan mengeksplorasi pasar perjalanan Asia Tenggara.

Sebelum pandemi virus Corona, China Airlines memiliki 28 layanan mingguan dengan tujuan Indonesia termasuk Jakarta, Surabaya dan Bali. Penerbangan ini melakukan yang terbanyak oleh maskapai tunggal antara Taiwan dan Indonesia. Dengan rute baru ini, CAL sendiri optimis tentang pasar Indonesia dan menargetkan pelancong Indonesia yang ingin transit melalui Taiwan dalam perjalanan ke Eropa dan Amerika Utara.

Bus Angkut Personil Angkatan Bersenjata Inggris Dibom di Jalan M62, 12 Orang Tewas

Pada 4 Februari 1974, sebuah bus yang mengangkut personil Angkatan Bersenjata Inggris dan keluarganya dibom di dekat Oakwell Hall, antara persimpangan 26 dan 27, jalan raya M62, West Riding of Yorkshire, Inggris. Ledakan ini menyebabkan 12 orang yakni sembilan tentara dan tiga warga sipil tewas oleh bom yang disembunyikan di bagasi bus tersebut.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Diduga pengebom bus tersebut adalah kelompok pemberontak Tentara Republik Irlandia (IRA). Saat itu bus diketahui tengah membawa tentara dan keluarganya dari Manchester menuju ke Catterick setelah cuti akhir pekan.

Saat bom meledak di dalam bus, para penumpang tengah tidur dan terdengar beberapa mil jauhnya. Bahkan bagian bus dan tubuh penumpangnya terlempar sejauh 230 meter. Sebelas penumpang tewas saat bom meledak dan melukai lebih dari 50 orang lainnya serta satu penumpang meninggal empat hari kemudian.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, 12 penumpang yang tewas adalah sembilan tentara yang mana dua dari Artileri Kerajaan , tiga dari Korps Sinyal Kerajaan dan empat dari Resimen Kerajaan Batalyon Fusiliers ke-2. Salah satunya adalah Kopral Clifford Haughton menjadi korban tewas bersama sang istri Linda dan kedua putranya yakni Lee berusia lima tahun dan Robert berusia dua tahun.

Karena insiden ini, pemerintah Inggris sangat marah dengan politisi senior dari semua partai menyerukan tindakan segera terhadap para pelaku dan IRA yang dicurigai sebagai pelaku utamanya. Bahkan hampir semua media di Inggris mengutuk kekejaman yang dilakukan oleh IRA.

Dugaan pengeboman ini di mana IRA memanfaatkan kemelut hengkangnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Bahkan ternyata sebelum pengeboman terjadi, aksi kekerasan sering terjadi dan banyak yang mendesak para politikus untuk turun tangan dalam menjaga kedamaian.

Menyusul ledakan tersebut, publik dan politisi Inggris dari ketiga partai besar menyerukan “keadilan yang cepat”. Penyelidikan polisi berikutnya yang dipimpin oleh Inspektur Kepala Detektif George Oldfield dilakukan dengan terburu-buru, ceroboh dan akhirnya dipalsukan, mengakibatkan penangkapan Judith Ward yang sakit jiwa.

Ward mengaku telah melakukan serangkaian pemboman di Inggris pada tahun 1973 dan 1974 serta telah menikah dan memiliki bayi dengan dua anggota IRA terpisah. Terlepas dari pencabutan klaim ini juga karena kurangnya bukti yang menguatkan terhadapnya, dan kesenjangan serius dalam kesaksiannya yang sering bertele-tele, tidak koheren dan “tidak mungkin” diadihukum secara salah pada November 1974.

Menyusul hukumannya, Biro Publisitas Republik Irlandia mengeluarkan pernyataan, “Nona Ward bukanlah anggota Óglaigh na hÉireann dan tidak digunakan dalam kapasitas apa pun oleh organisasi. Dia tidak ada hubungannya dengan bom bus militer (pada 4 Februari 1974), pengeboman Stasiun Euston dan serangan terhadap Latimer Military College. Tindakan tersebut adalah operasi resmi yang dilakukan oleh unit Tentara Republik Irlandia”.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Setelah pada tahun 1974 Judith Ward dihukum karena kejahatan tersebut, 18 tahun kemudian hukuman tersebut dinilai salah dan dia dibebaskan dari penjara.

Begini Foto Antartika Pertama pada 119 Tahun Lalu Lewat Balon Udara

Roald Engelbregt Gravning Amundsen boleh saja dinobatkan menjadi orang pertama yang mencapai kedua Kutub Utara dan Selatan pada 1910-1912. Tetapi, pesaingnya asal Inggris, Robert Falcon Scott, bersama Ernest Shackleton, menjadi orang pertama yang mengambil foto pertama Antartika melalui sebuah balon udara pertama yang terbang di Antartika pada 4 Februari 1902 atau 119 tahun lalu.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Dilansir shackletonexhibition.com, sebetulnya awal perjuangan keduanya bukanlah mengambil foto pertama Antartika dan menerbangkan balon udara pertama di Antartika, melainkan menjadi tim, ekspedisi, atau orang pertama di dunia yang berhasil mencapai kutub Selatan.

Ekspedisi menjelajah dan mengkeplorasi kutub Selatan dimulai kapal Discovery, dengan lebar 172 kaki, lebar 34 kaki, dan berbobot berat kosong 485 ton ini selesai dibangun. Kapal ini memang dipersiapkan khusus untuk Ekspedisi Discovery, sebuah ekspedisi gabungan Royal Society dan Royal Geographical Society Antartika yang berbasis di Inggris.

Pada 1 Februari 1902, tim yang dipimpin oleh Robert Falcon Scott sebetulnya sudah sampai Antartika. Namun, kapal Discovery kesulitan menemukan tempat berlabuh dan baru mendapat tempat yang pas dan aman untuk melempar jangkar dua hari berikutnya setelah menyisir pinggiran benua Antartika.

Usai berlabuh, tim awalnya hendak mencari tahu seluas apa Antartika. Tim, yang memang terdiri dari beberapa orang dari latar belakang berbeda, seperti fisika, kimia, biologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya untuk misi ilmiah dan penelitian, kemudian merakit sebuah balon udara bertenaga hidrogen.

Pasca dirakit, tim masih belum yakin karena khawatir pemberat balon udara tak bekerja maksimal dan membuat balon udara terbang bebas entah kemana terhempas angin. Di posisi ini, Robert Falcon Scott memberanikan diri menjadi orang pertama yang terbang dengan balon udara di Antartika.

Balon udara pun berhasil terbang bersamanya dan mencapai ketinggian 180 meter. Saat itu, ia hampir saja terbang bebas lantaran membuang terlalu banyak pemberat di balon udara. Namun, di ketinggian tersebut, ia menjadi orang pertama yang melihat Antartika dari ketinggian. Sayangnya, ia mengaku hanya melihat warna putih sepanjang mata memandang.

Setelah selesai, Ernest Shackleton penasaran dan meminta tim untuk mengirimnya ke udara. Bedanya, bila Robert Falcon Scott tidak membawa kamera, Shackleton membawa kamera dan berhasil memotret Antartika dari ketinggian. Foto itu pun menjadi foto pertama Antartika. Di sini, Shackleton mengaku tak sekedar melihat warna putih sepanjang mata memandang, melainkan mampu melihat Great Ice Barrier atau Ross Ice Shelf untuk sebutan sekarang, yaitu lapisan es terbesar di Antartika.

Baca juga: Perkuat Ekspansi, Cina Siap Bangun Bandara Permanen di Antartika

Selesai ekspedisi ini, Shackleton pun membuat puisi indah atas pengalamannya menjelajah Antartika, terbang dengan balon udara di Antartika, dan mengambil foto pertama di Antartika.

Mother of mighty icebergs,
these Kings of the Southern Sea,
Mystery yet unfathomed…
[…]
And above that rolling surface we have strained our eyes to see,
But league upon league of whiteness was all that there seemed to be.

Kala Virus Kolera Serang Ratusan Penumpang Pesawat Lewat Makanan dari Maskapai

Pada hari ini, 29 tahun lalu, bertepatan dengan 4 Februari 1992, 76 dari 336 penumpang maskapai Aerolineas Argentinas dengan nomor penerbangan 386, jatuh sakit setelah mengkonsumsi udang yang disajikan katering maskapai tersebut. Bahkan, satu di antaranya tewas. Setelah diteliti, udang tersebut rupanya membawa virus kolera.

Baca juga: Ngeri! Ada Sekrup dalam Hidangan Sup di First Class Singapore Airlines

Washington Post melaporkan, insiden bermula saat pesawat Boeing 747 Aerolineas Argentinas dengan nomor registrasi LV-MLR, berangkat dari Bandara Internasional Ministro Pistarini, Buenos Aires, Argentina, menuju Bandara Internasional Los Angeles, Amerika Serikat, dengan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Chávez, Lima, Peru.

Dalam perjalanan dari Peru, lima penumpang tiba-tiba jatuh sakit. Anehnya, mereka memiliki gejala yang mirip satu sama lain. Setelah mendarat di Los Angeles, jumlah penumpang yang sakit melonjak menjadi 76 orang.

Pasca laporan adanya kejadian ini, Shirley Fannin, direktur program pengendalian penyakit di Los Angeles, coba mentracing seluruh penumpang. Menurutnya, penumpang lain menjadi kunci menguak teka-teki ini.

Setelah penelitian lebih lanjut, petugas menyimpulkan bahwa fenomena penumpang jatuh sakit saat pesawat tengah mengudara disebabkan oleh virus kolera. Virus tersebut diduga dibawa oleh udang dalam katering makanan pesawat yang didatangkan saat transit di Lima, Peru. Sebelum insiden penumpang jatuh sakit ini, Amerika Selanta, khususnya Peru, diketahui sudah setahun lamanya menjadi episenter penyebaran virus kolera.

Epidemi kolera di Amerika Selatan setahun sebelum kejadian telah mengakibatkan lebih dari 2.900 tewas di Peru dan setidaknya 1.100 di negara lain di Amerika Selatan.

Juru bicara maskapai Aerolineas Argentinas mengungkapkan, dugaan virus kolera dibawa dari udang dalam katering yang didatangkan ketika Peru berdasarkan bukti dari dua penumpang. Disebutkan, dua penumpang tersebut tidak menyantap udang yang disajikan maskapai, tetapi keduanya teridentifikasi tertular virus kolera. Keduanya juga diketahui baru naik di Lima, Peru.

Sebetulnya, anak perusahaan dari maskapai Iberia, Spanyol itu sudah setahun lamanya menyetop katering dari rekanan di Peru. Namun, sejak November sebelum kejadian, maskapai kembali mengontrak perusahaan katering dari negara tersebut karena ancaman wabah kolera dinilai sudah mereda.

Baca juga: Ngeri…! Di Makanan Kelas Satu Delta Airlines Ada Belatungnya!

Dua hari pasca insiden tersebut, satu penumpang berusia 70 tahun, dinyatakan tewas akibat kolera. Selain itu, 56 dari 76 penumpang yang sakit diduga mengidap kolera dan setelah diteliti kembali, 23 di antaranya tidak memiliki gejala tersebut atau tidak terpapar kolera.

Kolera sendiri merupakan penyakit akibat infeksi usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini biasanya menginfeksi lewat makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Bakteri Vibrio cholera mengeluarkan racun di usus yang memicu terjadinya diare yang disertai muntah.

TorchONE – Helm Sepeda dengan Lampu LED yang Bisa Dipasang dan Dilepas

Helm sepeda saat ini dipasaran sudah banyak yang dilengkapi dengan lampu. Namun yang pertama menghadirkan helm sepeda dengan lampu adalah Torch T1 yang saat ini pembuatnya telah kembali ke Kickstarter dengan menghadirkan panel LED yang bisa dipasang dan lepas sesuai kebutuhan pengguna.

Baca juga: “Ticc” Mudahkan Pesepeda Memberikan Tanda Belok pada Pengendara Lain

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (2/2/2021), helm terbaru ini dikenal dengan TorchONE yang mungkin agak sedikit membingungkan karena mirip dengan Torch T1 yang sudah ada sebelumnya. Namun sementara T1 dan hampir semua helm menghadirkan cahaya LED yang terintegrasi secara permanen ke dalam helm.

Sedangkan TorchONE menggunakan panel tahan air yang dapat dengan mudah dimatikan dinyalakan. Hal ini berarti, jika pengguna berkendara dalam kondisi panas dan cerah, bisa mematikan lampu untuk sementara waktu.

Hal ini untuk mengurangi berat helm dalam dan untuk meningkatkan aliran udara melalui ventilasi yang terpasang dibagian dalamnya. Sehingga tak heran, jika panel depan berwarna putih dan panel lampu belakang berwarna merah.

Meski begitu, tidak ada kabar tentang berapa banyak LED yang digabungkan masing-masing, atau berapa output cahaya gabungannya. Diketahui bahwa dengan menekan sebuah tombol pada setiap panel, mereka dapat diatur ke salah satu dari empat mode keluaran sehingga panel LED memiliki stabil tinggi, stabil rendah, berkedip lambat dan berkedip cepat.

Selain itu, karena panel melengkung di sekitar helm, lampu bisa dilihat dari samping, bukan hanya dari depan atau belakang. Namun, satu hal yang tidak mereka lakukan adalah berfungsi sebagai indikator belok atau lampu rem seperti yang dilakukan oleh lampu pada beberapa helm lain.

Para perancang memberi tahu bahwa penghilangan ini dimaksudkan untuk membuat hal-hal sederhana bagi pengendara sepeda dan yang terakhir mungkin hanya bingung dengan lampu helm yang melakukan hal-hal aneh seperti berkedip di satu sisi saja. Seperti yang sekarang menjadi standar pada elektronik yang dapat diisi ulang, kabel Micro USB digunakan untuk mengisi baterai lithium terintegrasi panel.

Baca juga: Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm

Perusahaan Pakaian Obor masih melakukan pengujian untuk menentukan masa pakai baterai di masing-masing dari empat mode. Seperti yang disebutkan, TorchONE sekarang ada di Kickstarter dan bila dengan asumsi semua berjalan sesuai rencana, harga helm dengan panel lampu LED sekitar £79 (sekitar US$108) akan memberi Anda satu pilihan dalam warna hitam, abu-abu, kuning atau putih.

Kisah SS Voorwaarts, Kapal Uap Italia Bekas Pengangkut Jamaah Haji dan Orang Jawa ke Suriname

Angkutan laut di masa lalu menjadi andalan Nusantara atau Hindia Belanda sebelum era pesawat terbang muncul. Berbagai interaksi dan mobilisasi massa antar negara serta benua banyak dilakukan melalui moda transportasi ini; termasuk mengantar jamaah haji tempo doeloe ke Tanah Suci Mekkah dan mengirimkan orang Jawa ke Suriname, menggunakan kapal uap SS Voorwaarts.

Baca juga: Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Terkait SS Voorwaarts, dikutip dari wrecksite.eu, kapal uap ini dibuat oleh perusahaan Britania Raya, John Elder & Co., Glasgow, pada tahun 1874. Kapal uap yang digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang ini kemudian dibeli oleh Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN), perusahaan kapal uap yang berbasis di Amsterdam, Belanda, usai selesai dibangun.

Kapal dengan muatan hingga 2801 ton itu selama beberapa tahun digunakan oleh perusahaan tersebut untuk berbagai kebutuhan Belanda dan koloni-koloninya, seperti Hindia Belanda, saat mengirim masyarakat Jawa ke Suriname.

Dilansir dari berbagai sumber, pada tanggal 16 Juni 1894, sebanyak 582 orang Jawa tiba di Suriname. Itu adalah pengiriman kedua setelah pengiriman pertama pada 9 Agustus 1890 berhasil dilakukan, membawa sekitar 94 orang Jawa, terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan 2 orang anak dan ditempatkan di perkebunan tebu dan pabrik gula Marienburg.

Pada pengiriman kedua, 64 orang penumpang kapal tercatat meninggal dunia dan 85 orang harus dirawat di rumah sakit, setelah kapal uap SS Voorwaarts tiba di pelabuhan Paramaribo, ibu kota Suriname. Itu terjadi akibat penumpang berdesakan imbas kelebihan muatan.

Selain itu, kapal layar bertenaga uap dengan kecepatan rata-rata 22 km per jam ini juga pernah dikerahkan untuk mengangkut jamaah haji Hindia Belanda pada tahun 1888. Dari sebuah foto yang tak diketahui sumbernya, disebutkan, pada tahun tersebut, bertepatan dengan 1305 hijriah, keberangkatan kapal laut yang mengangkut ibadah haji terjadi pada tanggal 4 April, bertepatan dengan 22 Rajab.

Saat itu, perjalanan haji tempo dulu dimulai dari Cilacap (Tjilatjap), Jawa Tengah, berlanjut ke Banyuwangi, Besuki (Bezoeki, saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Situbondo, Jawa Timur), Probolinggo, Surabaya, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Indramayu, Betawi, dan Padang, sebelum menuju Mekkah, Arab Saudi.

Setelah perjalanan jauh nan melelahkan ke Amerika Selatan, Samudera Hindia-Laut Arab-Laut Merah, an berbagai perjalanan lainnya, kapal uap dengan kekuatan mesin mencapai 315 tenaga kuda itu kemudian dijual ke perusahaan Italia, Lavarello Guiseppe, pada tahun 1898.

Baca juga: Mengenal “Gouverneur Generaal Loudon,” Kapal Penantang Tsunami Krakatau yang Kandas Ditelan Laut Flores

Sayangnya, kapal uap penuh dengan jejak sejarah, khususnya berkenaan dengan sejarah Nusantara ini harus kandas tak lama pasca dibeli perusahaan Italia. Disebutkan, pada tanggal 1 Januari 1899, usai berpindah tangan ke Lavarello Guiseppe, kapal uap SS Voorwaarts, yang kala itu berada di pelabuhan Cardiff, Wales, bergerak menuju Genoa, Italia.

Kapal yang mampu memuat 22 awak dan ratusan penumpang itu kemudian mengalami kebocoran akibat cuaca buruk di tengah perjalanan. Kapal akhirnya terbelah dua dan tenggelam di Teluk Bristol, tak jauh dari Pulau Lundy, Inggris.

Urban-Air Port Gandeng Hyundai Motor Group Hadirkan Bandara Mobil Terbang di Inggris

Dunia teknologi yang semakin maju pada transportasi sudah menghadirkan berbagai jenis mobil terbang atau taksi udara. Bahkan mobil terbang ini semakin nyata kehadirannya dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada beberapa tahun mendatang untuk melintas di atas perkotaan.

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Untuk menunjang kehadiran mobil terbang, salah satu yang diperlukan adalah bandara. Di mana nantinya bandara ini akan menjadi tempat lepas landas dan mendaratnya mobil terbang yang mengangkut penumpang atau barang tersebut.

Seperti di Inggris tepatnya di kota Coventry, akan hadir bandara untuk mobil terbang pada akhir tahun ini. Kehadiran bandara ini untuk mendemonstrasikan bagaimana mobil terbang akan berkerja di pusat-pusat perkotaan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman autoblog.com (31/1/2021), Urban-Air Port perusahaan rintisan yang berbasis di Inggris telah bermitra dengan raksasa mobil Hyundai Motor Group untuk mengembangkan infrastruktur bandara. Di mana infrastruktur ini diperlukan saat mobil terbang lepas landas ke udara untuk mengangkut orang ataupun barang.

Mulai bulan November 2021 pengunjung Coventry bisa langsung melihat seperti apa bandara dari mobil terbang ini. Pengunjung juga bisa melihat mobil terbang tak berawak membawa penumpang ketika lepas landas dan mendarat vertikal listrik operasional (eVTOL) di landasan pendaratan.

Urban-Air Port dipilih oleh program pemerintah yang bertujuan untuk mengembangkan pesawat terbang tanpa emisi dan kendaraan udara baru. Di mana Urban-Air Port memenangkan hibah 1,2 juta poundsterling ($1,65 juta) untuk membantu mendanai instalasi sementara bandara di pusat kota Coventry.

“Dengan dukungan pemerintah Inggris dan Hyundai Motor Group, kami akan mewujudkan bandara pertama yang beroperasi penuh di dunia,” kata pendiri dan ketua eksekutif Urban Air-Port Ricky Sandhu.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Sementara telah ada kemajuan dalam mengembangkan mobil terbang, Sandhu mengatakan infrastruktur adalah bagian yang hilang.

“Anda tidak bisa turun dari kereta atau naik kereta kecuali Anda sampai di stasiun kereta, sehingga infrastruktur pendukung di darat mutlak kuncinya,” katanya.

Inilah Marshaller, Tukang Parkir Pesawat Bergaji Rp1 Miliar

Di antara kata-kata bijak, “Segala sesuatu ada ilmunya” menjadi salah satunya. Dalam dunia kerja, itu bisa diartikan apapun profesinya pasti ada kemampuan khusus yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan; termasuk juru parkir pesawat. Meskipun terdengar remeh dan rendahan, nyatanya, juru parkir pesawat membutuhkan keahlian khusus dan karena keahlian itulah jerih payahnya dihargai gaji mahal sampai Rp1 miliar per tahun.

Baca juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Marshaller sendiri, mengutip dari Angkasa Pura Airports, merupakan salah satu Ground Support System yang bertugas untuk memberikan komando atau memandu pilot dengan memberikan aba-aba atau sinyal visual kepada pilot ketika hendak memarkirkan pesawatnya di hangar atau parking stand di apron sebuah bandara.

Marshaller akan memandu pilot dan berkomunikasi menggunakan aba-aba visual berupa gerakan tertentu. Marshaller harus memberikan arahan yang cepat dan tepat agar pesawat bisa parkir atau berhenti di tempat yang telah ditentukan serta tanpa kesalahan sedikitpun. Sebab, salah sedikit, bukan tak mungkin kerugian yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dari gaji ia sendiri.

Gaji Marshall sendiri, dari berbagai sumber, di luar negeri, bisa mencapai Rp500 juta sampai Rp1 miliar per tahun. Jumlah itu bergantung pada maskapai yang memperkerjakan dan pengalaman yang dimiliki.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang marshaller dilengkapi dengan berbagai perlengkapan seperti marshalling bats dan flash light yang memudahkan pilot melihat instruksi marshaller, ear muff atau biasa juga disebut headphone untuk menghindari suara bising mesin jet, fluorescent jacket atau rompi yang biasanya berwarna hijau atau oranye agar mudah terlihat, dan safety shoes untuk melindungi kaki dari benda keras dan tajam.

Dikutip dari laman Finavia, marshaller biasanya akan langsung mendekat ke arah pesawat yang baru tiba di taxiway (jalan penghubung bagi pesawat). Mereka terkadang juga menggunakan kendaraan khusus atau yang biasa disebut dengan follow me car. Jadi, pesawat tinggal mengikuti kendaraan tersebut menuju tempat yang ditentukan.

Begitu pesawat memasuki area ramp, marshaller akan keluar dari kendaraan lalu memandu pilot dan mengarahkannya sambil memberikan isyarat tangan. Semua harus dilakukan dengan tepat, sampai pesawat tiba di pemberhentian terakhir.

Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

Kendati hanya sekedar juru parkir, namun untuk bisa menjadi profesi yang biasa juga disebut ground marshall ini seseorang harus melalui serangkaian tes fisik dan tes tertulis terlebih dahulu.

Selain itu, calon marshaller juga harus mendapatkan aircraft marshalling license atau lisensi dan rating yang diterbitkan oleh regulator penerbangan sipil Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Lisensi yang diperoleh berlaku selama dua tahun saja dan wajib diperpanjang ketika masa aktifnya sudah habis.

Viral Video Anjing Pintar di India, Tunggu Kereta Hingga Berhenti Baru Turun

Banyak yang mengatakan, anjing adalah hewan cerdas, setia dan mengerti ucapan hingga perilaku manusia. Salah satunya seperti Hachiko di Jepang, anjing yang menunggu majikannya pulang di stasiun dan tidak tahu bahwa majikannya tersebut sudah meninggal dunia.

Baca juga: Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Nah, selain Hachiko, ternyata ada lagi anjing pintar yang mengerti waktu kapan dia harus turun dari kereta yang tengah bergerak. Penasaran dengan perilaku hewan ini? Belum lama ini seekor anjing viral karena divideokan oleh seorang penumpang kereta di India.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Viral Bhayani (@viralbhayani)


KabarPenumpang.com melansir dari laman indiatoday.in (29/1/2021), dalam video tersebut, anjing itu dengan sabar menunggu turun dari kereta di salah satu stasiun perhentian. Video tersebut dibagikan di Instagram baru-baru ini dengan caption “2021 tahun kecerdasan (sic).”

Dalam video itu menunjukkan anjing berdiri dengan sabar di dekat pintu kereta hingga tiba di stasiun tujuannya. Dari pengumuman yang terdengar pada video, warganet bisa mendengar bahwa kereta tiba di Stasiun Kalva yang terletak di jalur pusat rel kereta pinggiran kota Mumbai, India.

Video dimulai dengan anjing yang sabar menunggu dan melihat keluar dari pintu kereta. Setelah beberapa detik, kereta mulai melambat ketika masuk ke Stasiun Kalva. Sebelum benar-benar berhenti, anjing itu terlihat tenang di pinggir pintu hingga kereta berhenti dengan sempurna.

Kemudian saat kereta berhenti, anjing melompat dari kereta dan kemudian pergi untuk ke tujuannya. Kepintaran dan kesabaran anjing ini berhasil memukau para warganet yang melihat vidoenya.

Setelah empat hari ditayangkan dalam akun Instagram viralbhayani, video ini sudah dilihat lebih dari satu juta kali. Lebih dari sembilan ratus komentar pun diberikan oleh para warganet tentang kesabaran dan kepintaran anjing tersebut.

Gauahar Khan berkomentar, “Oh, bayi yang sangat lucu.”

Sonal Chauhan menulis, “Adorable (sic).”

Seorang warganet lain berkomentar, ‘Aww. Manis sayang ‘, sementara yang lain berkomentar,’ Mereka lebih bijaksana daripada yang diperkirakan manusia …’

Baca juga: Mirip Hachiko, Seekor Anjing di India Menunggu di Peron Setiap Jam 11 Malam

Sedangkan warganet lainnya berkomentar dengan menggunakan emotikon senyum, love, peluk dan ada pula yang mengomentari kaget melihat perilaku anjing itu.