JR East Hadirkan Kompartemen ‘Kantor’ pada Kereta Cepat Shinkansen Tohoku

Ketika perusahaan mengurangi pekerja yang masuk ke kantor, maka bekerja di mana saja sepertinya menjadi hal baru pada masa pandemi saat ini. Bahkan ada tempat wisata, hotel maupun villa yang diubah menjadi workcation demi memenuhi kebutuhan para pekerja yang mengerjakan pekerjaan mereka di luar kantor.

Baca juga: “Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Baru-baru ini bahkan East Japan Railway Company (JR East) ikut andil membuat ruang kantor untuk penumpang mereka. JR East memulai uji coba pada kereta peluru shinkansen tertentu yang diubah menjadi ruang kantor penumpang karena minat dalam pekerjaan jarak jauh tumbuh di Jepang pada Senin (1/2/2021).

Dengan kehadiran ruang kantor ini, penumpang dapat pindah ke gerbong yang sudah ditentukan dan tanpa dikenai biaya tambahan di beberapa kereta shinkansen Tohoku antara Tokyo dan kota-kota utara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (1/2/2021), JR East mengatakan, penumpang akan diizinkan untuk berbicara melalui telepon mereka yang tidak dianjurkan di sepanjang perjalanan kereta dan mengadakan rapat secara online.

“Saya pikir ini adalah inisiatif yang baik karena saya berhati-hati agar tidak membuat suara saat menekan keyboard di gerbong biasa,” kata Shinya Ogata, seorang eksekutif perusahaan berusia 43 tahun yang melakukan perjalanan ke Prefektur Iwate, di dalam mobil khusus tersebut.

JR East berencana untuk mempelajari permintaan dan peralatan apa yang diperlukan selama uji coba, mengamati lingkungan komunikasi yang sebanding dengan di tempat kerja. JR East menambahkan, rangkaian kereta itu memiliki sistem penyamaran suara untuk memastikan privasi, dan peralatan telekomunikasi seperti router jarak jauh akan tersedia. Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, diperlukan pemakaian masker dan akan menyediakan tisu beralkohol.

Baca juga: Flying Cloud 30FB Gantikan Trailer Jadi Tempat Kerja Baru Selama Pandemi

Di kereta peluru yang berangkat dari Stasiun Tokyo pada Senin pagi, sebuah pengumuman menyerukan partisipasi dalam uji coba dan beberapa penumpang pindah ke gerbong yang ditunjuk dengan membawa laptop mereka dan mulai bekerja.

Mengapa Maskapai Gunakan Livery Khusus? Inilah Jawabannya

Industri penerbangan bisa dibilang ialah bisnis mahal yang hari demi hari selalu dihiasi dengan berbagai pemberitaan, baik teknologi, regulasi, inovasi, layanan, dan sebagainya. Menariknya, semua rantai binsis industri penerbangan seolah mengerucut di sebuah pesawat.

Baca juga: Tandai 2 Tahun Menuju Piala Dunia 2022, Pesawat Qatar Airways Gunakan Livery Spesial

Wizz Air menggandeng selebriti asal Inggris, Gemma Collins, untuk dongkrak kembali penerbangan pasca Covid-19. Foto: Wizz Air via Simple Flying

Penumpang pesawat pada umumnya tidak begitu memperhatikan pesawat memakai mesin apa, flight control dari perusahaan mana, landing gear, kursi, dan lain sebagainya. Tetapi, mereka peduli soal pesawat apa yang mereka gunakan. Singkatnya, pesawat menjadi ujung tombak rantai bisnis industri penerbangan yang sebetulnya sangat luas. Karenanya, jangan heran bila sebuah pesawat sampai harus dicat khusus atau menggunakan livery spesial karena posisi gentingnya.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018, pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Meski sempat turun akibat diterjang wabah virus Corona menjadi hanya sekitar 1,8 miliar sepanjang 2020 lalu, jumlah penumpang diperkirakan akan kembali tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, jauh dari angka sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai 4,5 miliar penumpang.

Livery Piala Dunia 2022 Qatar Airways. Foto: Qatar Airways

Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

Meski industri penerbangan sedang tidak sehat akibat pandemi virus Corona, namun, dengan miliaran penumpang per tahun tetap saja pesawat jadi menarik bukan hanya untuk mengangkut penumpang, melainkan jadi wadah maskapai meluncurkan livery spesial.

Dilansir Simple Flying, begitu banyak contoh maskapai yang menggunakan livery khusus pada pesawat-pesawat mereka. United Airlines, misalnya, pada tahun 2019 memakaikan livery Star Wars di salah satu Boeing 737-nya untuk membantu promosi film terlaris sepanjang masa di Amerika Serikat dan Kanada itu.

Livery spesial Emirates bertema Real Madrid. Sumber: youtube

Selain United Airlines, livery khusus juga pernah diluncurkan South African Airways bertema tim olimpiade 2012 Afrika Selatan, Aer Lingus bertema tim rugby nasional Irlandia, Eurowings bertema Europa-Park (taman bermain terbesar di Jerman), Hi Fly bertema Save The Coral Reefs, Emirates bertema klub sepak bola terkaya di dunia Real Madrid, Delta Airlines bertema Sky Team, American Airlines bertema One World, Garuda Indonesia bertema kampanye pakai masker, serta banyak lagi.

Terlepas dari perbedaan livery spesial masing-masing maskapai, sebetulnya apa alasan dibalik semua itu? Di antara berbagai alasan, seperti memperindah pesawat dan mendapat perhatian publik, faktor bisnis tentu menjadi yang terbesar. Livery spesial pada pesawat tentu mengutungkan kedua belah pihak. Maskapai mendapat sejumlah uang dari pihak kedua dan pihak kedua mendapat jaminan bahwa upaya promosinya berjalan lancar dengan jangkauan luas.

Di masa lalu, tepatnya pada tahun 1996, sebagai upaya untuk rebranding strategi bisnis perusahaan, Pepsi sampai rela menggelontorkan uang hampir US$500 juta atau setara Rp 7 triliun (kurs 14.140) untuk melihat pesawat supersonik fenomenal Concorde menggunakan livery spesial perusahaan.

Pesawat Airbus A330-900 Neo dengan spesial livery bermasker. Foto: Istimewa

Baca juga: Intip Livery Pepsi di Pesawat Concorde Seharga Rp 7 Trliun Lebih

Bila jumlah tersebut saja, di masa kini, masih tergolong besar apalagi di tahun dimana kesepakatan tersebut terjadi. Tak ayal, media-media di dunia menyorot tajam kesepakatan kontrak tersebut dan beberapa di antaranya melabeli Pepsi sebagai perusahaan yang cukup berani sekaligus putus asa hanya untuk sebuah rebranding.

Pepsi memang kehilangan uang sebesar itu, namun, popularitas tinggi Concorde tentu memudahkan upaya promosi Pepsi. Terbukti, sejak saat itu, didukung stategi promosi lainnya, Pepsi sukses melakukan rebranding dan terus dikenal sampai saat ini, dengan brand berwarna biru kombinasi putih dan merah.

Pengamat Penerbangan: Sebelum Semuanya Kembali Normal, Seluruh Maskapai Adalah LCC!

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018 silam pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Baca juga: Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!

Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

Kondisi tersebut tentu saja memukul kinerja keuangan maskapai. Andai tak ada langkah strategis dari pemerintah di seluruh dunia, bukan tak mungkin akan ada banyak maskapai bangkrut.

Sampai akhir Desember 2020 lalu, laporan allplane.tv, sudah ada 30 maskapai bangkrut. Laporan CNBC International bahkan lebih besar, dimana 40 maskapai di seluruh dunia dinyatakan bangkrut. Angka itu pasti akan bertambah seiring ketidakjelasan masa depan penerbangan global.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri akhir Desember lalu memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Oleh karenanya, IATA menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Senada dengan IATA, Airline Passenger Experience Association (APEX) juga menyerukan hal serupa. Bahkan, lebih besar. Menurut asosiasi yang berdiri sejak 1979 tersebut, upaya penyelamatan maskapai dapat dicapai lewat kucuran dana senilai Rp3.805 triliun (kurs Rp 15.133).

Sambil terus berpangku tangan pada stimulus ekonomi dari pemerintah, maskapai di seluruh dunia tetap berharap penerbangan penumpang kembali pulih. Sebab, penerbangan kargo, yang selama pandemi virus Corona amat diandalkan, tidak cukup besar memberikan keuntungan.

Dalam sebuah tulisan di theaircurrent.com, Judson Rollins, pengamat penerbangan yang juga ahli ekonomi, beranggapan, sejauh ini, beberapa survei menunjukkan bahwa perjalanan penumpang memang sudah kembali menggeliat. Sebaliknya, perjalanan bisnis masih belum kembali. Terlebih, new normal mendorong mayoritas pertemuan bisnis via daring.

Singkatnya, maskapai yang berharap pada perjalanan bisnis dengan layanan mewah dan tiket selangit akan kian terpuruk, dan maskapai yang menargetkan traveller pemburu tiket murah minim layanan atau maskapai LCC akan diuntungkan. Dalam beberapa tahun mendatang, Judson memprediksi maskapai LCC (low-cost carrier) akan mendominasi langit di seluruh dunia dengan pertimbangan di atas.

Baca juga: “Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona

Dikarenakan seluruh maskapai ingin terus bertahan dan menghindari kebangkrutan, otomatis, mereka akan menyesuaikan tren penumpang saat ini, dimana perjalanan wisata lebih diminati. Turunan dari itu, tiket murah jadi yang utama.

Dengan kata lain, bila maskapai besar yang selama ini menawarkan pengalaman terbang mewah dan tiket mahal, seperti Singapore Airlines, Emirates, Qatar Airways, dan sebagainya, maka mau tak mau jadi maskapai LCC. Itu berarti, selama semuanya belum kembali normal seperti sebelum pandemi virus Corona menyebar, semua maskapai di dunia adalah LCC. Setidaknya, itulah pandangan Judson Rollins.

Masinis Kereta Malam Selamatkan Wanita yang Mencoba Bunuh Diri di Jalur Ile-de-France

Tindakan bunuh diri kerap kali dilakukan oleh orang yang frustasi karena masalah yang mereka hadapi baik dalam kehidupan keluarga, pekerjaan ataupun masyarakat. Biasanya berbagai hal dilakukan untuk bunuh diri seperti minum racun, menyayat nadi hingga putus ataupun menabrakkan diri pada kendaraan seperti mobil atau kereta api.

Baca juga: Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter

Namun, belum lama ini seorang wanita diselamatkan dari tindakan ingin bunuh dirinya. Saat itu wanita yang tidak diketahui namanya berdiri dan berada di jalur kereta api di Ile-de-France, Paris, Prancis untuk bunuh diri.

Untung, tindakannya yang ingin bunuh diri tersebut dihentikan oleh seorang masinis kereta yang akan melintas di jalur tersebut. Bahkan masinis tersebut setelah menyelamatkan wanita itu menulis surat terbuka di akun Twitter-nya.

“Nyonya, malam ini di la Défense Anda ingin meninggalkan kami tetapi Anda tidak memilih kereta yang tepat, Anda memilih kereta saya. Terlepas dari betapa gelapnya stasiun itu, saya melihat Anda dari jauh dan saya menyelamatkan Anda dengan beberapa kaki tersisa. Anda memiliki… kesempatan lain untuk memulai kembali dan berharap untuk kehidupan yang lebih baik daripada yang mendorong Anda untuk membuat gerakan putus asa ini, “kata pengemudi, yang dikenal sebagai Séb le mécano di Twitter.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman connexionfrance.com (4/2/2021), tulisan tersebut dibuat setelah pengemudi berhasil menghentikan kereta Transilien beberapa langkah sebelum menabrak wanita itu. Tulisan Séb le mécano ini sudah dilihat ribuan kali dan memicu komentar dari warganet.

Masinis tersebut menghentikan kereta secepat mungkin, dirinya melakukan semua prosedur darurat dan seorang kolega merawat wanita itu. Setelah insiden itu, masinis tersebut menyelesaikan shiftnya. Dia mengatakan saat menyelamatkan wanita tersebut dirinya tengah mengoperasikan salah satu kereta terakhir malam itu dan tidak ingin meninggalkan pekerjaannya tersebut sebelum menyelesaikannya.

Baca juga: Tergeletak di Rel dan Tertabrak Kereta, Seorang Pria Bakal Didakwa Lakukan Tindakan Ilegal

“Ada begitu banyak reaksi indah, orang ingin membantu wanita yang melakukan tindakan ini, seperti tawaran penginapan di pedesaan. Ini benar-benar menyentuh dan ini memberi saya kepercayaan pada kemanusiaan orang,” katanya kepada franceinfo dan France Bleu.

 

Wanita Nyentrik Bikin Penumpang Kereta dan Media Sosial Singapura Tertawa

Belakangan ini tak bisa disangkal bahwa setiap orang membutuhkan sedikit humor ekstra dalam kehidupannya. Bahkan humor itu bisa datang dari siapa saja, seperti seorang penumpang wanita yang berpenampilan cukup unik dan nyentrik di dalam MRT Singapura.

Baca juga: Dorong Troli dengan Cara Unik, Wanita di Bandara Sydney Menjadi Viral

Wanita itu membuat sesama warga Singapura dan pengguna sosial tersenyum bahkan tertawa dengan gayanya. Gaya wanita ini diviralkan di Instagram @womanwithbooks dengan caption “Woman With Books”. Dilansir KabarPenumpang.com dari theindependent.sg (7/2/2021), wanita tersebut membuat tersenyum dan tertawa banyak orang karena kacamata unik berbentuk bintang dan berwarna merah jambu.

Masker yang digunakannya pun berwarna sama dengan kacamatanya. Wanita itu mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia ingin membahas hal-hal dan perasaan milenial sehari-hari yang biasanya tidak mereka bagi dengan orang lain dengan cara yang lucu. Dia memutuskan untuk menyebarkan pesan kesembronoan dengan mencetak “judul buku” yang lucu (dan lebih besar dari kehidupan) dan menempelkannya ke jurnal berukuran A3.

Wanita yang tak disebutkan namanya itu kemudian “membaca” buku-buku tersebut saat bepergian, mengundang penonton untuk melihat dan tertawa. Beberapa sampulnya termasuk “Cara Mentransfer Uang Dari Pikiran Saya Ke Bank Saya” (favorit pribadinya dan paling populer, sejauh ini!), “Cara Menyembunyikan Kegilaan Anda” dan “Cara Bertahan dengan Kerabat Usang Anda Ini CNY”.

Ketika didesak untuk detail identifikasi, wanita berusia 28 tahun itu mengatakan bahwa dia ingin tetap anonim dan menjadi “misteri” bagi penggemarnya, yang saat ini berjumlah lebih dari 1.500 pengguna di akun Instagram-nya. Namun, dia mengatakan bahwa dia bekerja sebagai pembuat konten digital, yang sangat masuk akal.

Wanita itu mencatat bahwa dia membuat judulnya sendiri, yang “didasarkan pada pengalaman kehidupan nyata dan sengaja dipilih untuk membangkitkan reaksi dari penonton”. Tingkah lakunya telah membuat banyak komuter dan pengguna media sosial senang, yang telah berbagi komentar di akun Instagram-nya dan ikut bersenang-senang.

“Bisakah Anda membaca buku ini ‘How To Deal With Crazy Aunties In MRT’? Saya dengar itu bagus,” canda salah satu komentator, sementara yang lain dengan lucu menyarankan agar dia menggunakan judul buku,“ How To Fart Without Sound ”.

Yang lain membagikan persetujuan mereka atas eksperimennya, namun yang lain mengatakan bahwa mereka berharap dapat melihatnya sekilas dalam perjalanan sehari-hari mereka.

“Terima kasih telah menyebarkan kegembiraan !!,” tulis seorang pengguna.

“Ya ampun, kamu baik sekali 😂 Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu suatu hari nanti loll 💕,” kata yang lain, sementara yang lain menulis bahwa mereka “akan [naik] MRT lebih sering” untuk melihat sekilas nya.

Sementara itu, seorang yang mengaku sebagai “penggemar fan boy non-penguntit” menyindir, “Aku benar-benar berharap bisa bertemu denganmu suatu hari nanti!”

Baca juga: Yang Unik dari Turki, Kolonya Digunakan Sebagai Hand Sanitizer

Ketika ditanya apakah dia berencana untuk mengambil eksperimen sosial lebih jauh, wanita humoris tersebut mencatat bahwa untuk saat ini, dia hanya ingin “mengikuti arus” dan berharap bahwa apa yang dia lakukan terus membawa kesenangan yang menyenangkan bagi semua orang yang kebetulan melihat dia.

Disusun Pertama Kali Tahun 1840-an di Perancis, Inilah Gapeka 2021 dari PT KAI

Pernah dengan Gapeka? Ini adalah grafik perjalanan kereta api yang adalah pedoman pengaturan pelaksanaan perjalanan kereta api dan digambarkan dalam bentuk garis. Biasanya gapek ini menunjukkan stasiun, waktu, jarak, kecepatan dan posisi perjalanan kereta api dari keberangkatan, berhenti, datang, persilanan dan penyusulan.

Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.com, aplikasi Gapeka tertua dibuat tahun 1840-an di Compagnie des chemins de fer du Nord, Perancis. Penemuan ini disusun oleh Léon Lalanne bersama Jules Petiet. Gapeka sendiri sudah digunakan di banyak perusahaan kereta api dan di Swiss, Austria serta Indonesia digunakan dengan sumbu kilometer lintas dan waktu balik yakni sumbu X sebagai waktu tempuh dan sumbu Y adalah jarak tempuh kilometer stasiun.

Digambarkan dengan garis, terkadang garis Gapeka ini juga diwarnai menurut kategori kereta, jumlah kereta dan hari perjalanan. Gapeka hadir dalam bentuk cetak ataupun elektronik. Dalam gapeka, pemberhentian dan persilangan-persusulan kereta dapat dilihat secara sekilas. Aplikasi operasional dari representasi grafis dari rangkaian kereta api ini juga digunakan dalam pemantauan operasi waktu nyata, yaitu dengan mempertimbangkan gangguan dan keterlambatan dan mengambil tindakan yang tepat.

Hal ini dapat dilakukan secara manual maupun melalui sistem komputer. Perubahan pada Gapeka juga dimungkinkan terjadi pada prasaran perkeretaapian yang sedang diperbaiki atau diubah, jumlah sarana perkeretaapian dan kecepatan kereta api. Selain itu juga kebutuhan angkutan yang berubah dari biasanya seperti pada saat puncak angkutan Lebaran, Natal dan Tahun baru.

Tak hanya itu, keadaan memaksa yang terjadi karena hal tertentu seperti anjlokan, kecelakaan, banjir dengan istilah Berhenti Luar Biasa (BLB), Kereta Luar Biasa (KLB), Peristiwa Luar Biasa (PL), Perjalanan Luar Biasa (PLB) dan Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH). PT KAI berlakukan Gapeka 2021 mulai 10 Februari 2021 dan ini perubahan layanan kereta api di wilayah Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Khusus PT KAI Daop 1 Jakarta, Gapeka 2021 mengalami peningkatan jumlah perjalanan KA dari program Gapeka 2019. Bila pada Gapeka sebelumnya, terdapat 1.636 perjalanan KA, kini pada Program Gapeka 2021 secara total terdapat 1.662 perjalanan KA yang terdiri dari, 93 (KA Jarak Jauh), 49 (KA Fakultatif), 54 (KA Barang), 32 (KA Lokal), 1.151 (KA Commuter), 70 (KA Bandara), 65 (Dinas Rangkaian), 148 (Dinas Lokomotif).

Adapun peningkatan layanan KA lainnya di wilayah Daop 1 Jakarta yang berlaku pada Gapeka 2021 antara lain, penambahan KA Lokal Merak menjadi 14 perjalanan KA dari sebelumnya hanya 12 perjalanan KA, perubahan relasi KA Lokal Walahar  yang sebelumnya memiliki relasi Tanjung Priok – Cikampek – Purwakarta (pp) menjadi Cikarang – Cikampek – Purwakarta (pp). Penambahan pemberhentian jumlah KA Jarak Jauh di Stasiun Bekasi yakni 24 KA melayani penumpang naik dan 42 KA melayani penumpang turun, Sehingga pada Gapeka 2021 terdapat 66 KAJJ yang melayani naik/turun penumpang di Stasiun Bekasi.

Peningkatan kecepatan yang berdampak pada pengurangan waktu tempuh. Pada lintas Jatinegara – Bekasi dari 90 km per jam menjadi 100 km per jam. Lintas Bekasi – Cikampek dari 100 km per jam menjadi 105 km per jam, lintas Jatinegara-Bekasi (DDT) dari 90km per jam menjadi 100 km per jam, dan lintas Serang-Rangkasbitung dari 65 km per jam menjadi 80 km per jam.

Baca juga: Waspadai Perubahan Jadwal Kereta! Mulai 1 Desember PT KAI Gunakan Gapeka 2019

Selain itu, pada Gapeka 2021 perjalanan KA Jarak Jauh dari tiga stasiun keberangkatan menjadi berubah menjadi, 35 KAJJ dari Stasiun Gambir, 27 KAJJ dari Stasiun Pasarsenen dan dua KA JJ dari Stasiun Jakarta Kota.

 

 

 

 

Hari Ini, Jim Mollison ‘Sang Pemabuk’ Jadi Orang Pertama yang Terbang Solo Melintasi Atlantik Utara dan Selatan

Hari ini, 88 tahun lalu, bertepatan dengan 9 Februari 1933, Jim Mollison, resmi menjadi orang pertama yang berhasil terbang solo melintasi Samudera Atlantik Utara dan Selatan. Saat mencetak rekor dunia itu, ia terbilang masih cukup muda, yakni berusia 28 tahun.

Baca juga: Hari Ini, Steve Fossett Sang Pemilik 116 Rekor Dunia Memulai Penerbangan Menantang Maut Demi Rekor

Dilansir eastriding.gov.uk, sejak kecil, Jim -anak tunggal dari konsultan engineer asal Glasgow, Skotlandia- memang sudah memiliki minat luar biasa besar terhadap dunia penerbangan. Ia pun menempuh pendidikan Akademi Glasgow dan Akademi Edinburg dengan mudah. Setelah itu, Jim bergabung dengan Royal Air Force (RAF) pada usia 18 tahun dan menjadi perwira termuda.

Jim juga menjadi instruktur terbang termuda pada usia 22 tahun saat bergabung dengan Central Flying School (CFS). Karir Jim terus meroket dan sempat dikirim RAF Reserve untuk mengabdi di maskapai komersial, Eyre Peninsular Airways dan Australian National Airways.

Memasuki usia ke-26, jiwa petualang Jim mulai memberontak. Ia mencetak rekor terbang selama delapan hari 19 jam untuk penerbangan Australia-Inggris. Pada Maret 1932, ia kembali mencetak rekor terbang empat hari 17 jam untuk penerbangan dari Inggris ke Cape Town, Afrika Selatan.

Di tahun yang sama, Jim, yang dikenal sebagai pemabuk berat, memulai perjalanan mencetak rekor dunia terbang solo melintasi Atlantik Utara dan Selatan. Saat itu, penerbangan dimulai pada 18 Agustus 1932, dari Portmarnock, Irlandia ke Pennfield, New Brunswick, Kanada. Penerbangan dari Timur ke Barat Atalantik Utara ini ditempuh selama 31 jam menggunakan pesawat de Havvilland Puss Moth atau yang biasa juga disebut “The Hearts Content”.

Rekor penerbangan Jim Mollison berlanjut pada 6 Februari 1933. Dengan menggunakan pesawat yang sama saat melintasi Atlantik Utara, Jim berhasil melintasi Timur ke Barat Atlantik Selatan dari Inggris ke Brazil dengan transit di Afrika dalam waktu tiga hari 13 jam. Pesawat pun mendarat di Brazil -tak disebutkan dengan jelas di kota mana- pada 9 Februari 1933 dan Jim Mollison ‘sang pemabuk’ pun resmi mencatat rekor dunia terbang solo melintasi Atlantik Utara dan Selatan.

Terkait predikat ‘sang pemabuk’ yang disematkan publik kepadanya, terdapat cerita kelam dan menggelitik. Cerita kelam sebagai orang yang gemar mabuk mungkin salah satunya adalah saat ia harus cerai dengan istrinya yang juga seorang penerbang gila rekor, Amy Johnson. Istrinya diketahui seorang good girl dan tentu saja ia gerah melihat suaminya mabuk tanpa henti hingga harus dihentikan dengan sebuah perceraian.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Adapun cerita menggelitik terkait kegemarannya mabuk-mabukan salah satunya mungkin saat ia tengah berada di medan perang. Pada tahun 1941, ketika ia ditugaskan menjadi co-pilot, pesawat angkut Avro Anson yang dikemudikan ia dan pilot Diana Barnato Walker ditembaki oleh tentara Jerman. Pesawat akhirnya mendarat darurat di medan perang dan rusak berat. Namun, ketika itu terjadi dan 12 tentara keluar dari pesawat yang hancur untuk berlindung dari musuh, Jim justru mencari minuman.

Meski demikian, Jim Mollison tetaplah seorang penerbangan legendaris Skolandia. Selain diabadikan dalam buku rekor penerbangan global, namanya juga abadi di Skolandia usai dijadikan nama jalan.

Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Sebanyak 23 orang tewas dan 71 luka-luka dalam tabrakan kereta 35 tahun lalu atau pada 8 Februari 1986 yang terjadi antara Kanada Nation Rail kereta barang dengan Via Rail kereta penumpang yang disebut Super Kontinnental. Tabrakan ini terjadi di hamparan jalur utama lintas benua di barat Edmonton dekat kota Hinto, Alberta.

Baca juga: Kereta Barang Tergelincir di Kongo, Sepuluh Penumpang Gelap Tewas

Awalanya kereta barang meninggalkan Edson dan sempat dihentikan di pinggir jalan di luar Medicine Lounge sekitar 38 km agar dua kereta menuju timur bisa melintas. Kemudian kereta barang itu kembali melaju dan setelah menempuh lima kilometer kereta tiba di Hargwen di bagian jalur ganda.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas operator kereta di Edmonton mengatur sakelar kendali ganda sehingga kereta barang mengambil jalur utara. Pada waktu yang hampir bersamaan Super Kontinental dihentikan di Hinton.

Kemudian ketika Super Koninental mendekati jalur ganda, operator CTC memeasang tombol kendali ganda di Dalehurst ke jalur selatan. Sebelum sinyal “berhenti” di titik kontrol Dalehurst, sinyal ini menunjukkan warna kuning yang berarti awak kereta perlu mengurangi kecepatan kereta menjadi 48 km per jam.

Namun saat kereta barang melewati sinyal peringatan ini, investigasi kecelakaan menemukan bahwa kereta tersebut melaju dengan kecepatan 95 km per jam atau sekitar 14 km per jam lebih cepat dari batas untuk melintasi bentang rel itu. Sayangnya tidak ada upaya yang dilakukan oleh awak kereta barang untuk memperlambat sebelum atau sesudah melewati sinyal tersebut.

Karena kereta barang tidak melambat, lokomotifnya kemudian bertabrakan dengan Super Kontinental yang melaju. Dua lokomotif utama hancur dan mewasakan awaknya, gerbong depan dan gerbong barang tergelincir yang menyebabkan bahan bakar diesel dari lokomotif menyulut api dan membuat gerbong penumpang terbakar dan 18 dari 36 penumpang meninggal.

Akibatnya selain korban tewas dan luka, gerbong-gerbong di kereta barang saling menumpuk sehingga menimbulkan tumpukan puing yang besar. Di kereta penumpang, satu gerbong ditabrak oleh gerbong barang setelah terlempar ke udara karena kekuatan tabrakan, menewaskan salah satu penumpangnya.

Setelah bagian belakang kereta barang berhenti, Conductor Smith di dalam gerbong kereta, berusaha menghubungi bagian depan kereta sebelum menghubungi layanan darurat setelah melihat kebakaran. Karena insiden ini, pemerintah Kanada membentuk komisi penyelidikan yang dipimpin Hakim René P. Foisy dari Court of Queen’s Bench of Alberta.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Penyelidikan yang berlangsung selama 56 hari audiensi publik dan menerima bukti dari 150 pihak. Penyelidikan itu menyimpulkan bahwa tidak ada satu orang pun yang harus disalahkan, melainkan mengutuk apa yang digambarkan Foisy sebagai budaya pekerja kereta api yang menghargai kesetiaan dan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan.

Aneh, Ternyata Japan Airlines Pernah Operasikan Tu-114 Saat Puncak Perang Dingin

Di era perang dingin, Jepang dan Uni Soviet berada di blok berlawanan. Bisa dibilang, keduanya sangat berbeda haluan, baik ideologi maupun politik. Namun, siapa nyana, saat perang dingin tengah memuncak, maskapai dari kedua negara, Japan Airlines dan Aeroflot, justru melakukan joint operation untuk rute Moskow-Tokyo.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Dilansir travelupdate.com, sebetulnya pembahasan joint operation Japan Airlines dan Aeroflot sudah dimulai sejak tahun 1956. Tetapi, pembahasan menemui jalan buntu dan harus diperpanjang selama beberapa tahun. Kesepakatan akhirnya terjadi berujung pada penandatanganan perjanjian antar kedua maskapai di bulan Januari tahun 1966.

Hanya saja, negara tempat kedua maskapai bernaung masih berada di barisan yang berbeda. Pada akhirnya, ini membuat pelaksanaan joint operation Japan Airlines-Aeroflot justru diwarnai sikap saling curiga.

Uni Soviet curiga dan takut kerjasama ini malah disusupi misi lain karena rute tersebut melewati wilayah militer yang sensitif, dimulai dari Sheremetyevo, Nerli, Vologda, Kotlas, Syktyvkar, Khanty-Mansiysk, Podkamennaya, Vichim, Ekimchan, Troitskoye, Edinka, Skund, Kodofishi, Niigata, Daigo, Sakura, dan berakhir di Tokyo.

Sebaliknya, Jepang khawatir kalau kerjasama ini jadi ancaman nasional dikarenakan Bandara Haneda berada 9 km dari pusat kota Tokyo. Pilot dan co-pilot, yang dalam perjanjian seluruhnya disediakan oleh Aeroflot, bukan tidak mungkin mengarahkan pesawat ke pusat kota dan menjatuhkannya di sana. Tetapi, di sisi lain, Jepang butuh kerjasama ini karena rute terbaik ke Jepang dari Eropa adalah melintasi langit Uni Soviet (Rusia). Alhasil, sekalipun diliputi rasa saling curiga, joint operation ini bisa berjalan.

Joint operation Japan Airlines-Aeroflot menggunakan pesawat penumpang terbesar di dunia, Tupolev Tu-114. Setidaknya dua pesawat dengan nomor registrasi CCCP-76464 dan CCCP-76470 disiapkan untuk melancarkan operasi ini. Pesawat juga telah dikonfigurasi ulang menjadi 116 kursi, terbagi menjadi tiga kelas, state room, first class, dan kelas ekonomi.

Layanan pertama dimulai pada 17 April 1967, dimana saat itu penerbangan memakan waktu 10 jam 35 menit dari Moskow ke Tokyo sejauh 8.015 km dengan dipiloti oleh kru dari Aeroflot. Pada penerbangan balik ke Moskow, waktu tempuh bertambah menjadi 11 jam 25 menit.

Meskipun cukup lama, penumpang saat itu dilaporkan amat menikmati layanan dari masing-masing lima pramugari Japan Airlines dan Aeroflot. Hanya saja, mesin piston serta baling-baling contra-rotating yang diusung pesawat membuat kabin terlalu bising, apalagi bagi penumpang kelas ekonomi yang dekat sekali dengan mesin.

Seiring waktu berjalan, Uni Soviet mulai membuka ruang udara mereka untuk beberapa maskapai, seperti BOAC, Air France, dan Lufthansa; termasuk Japan Airlines. Tak disebutkan dengan jelas kapan joint operation ini berakhir. Terlepas dari hal itu, banyak yang menyebut bahwa langkah kedua maskapai ini menjadi awal cairnya hubungan Uni Soviet dan Barat.

Sekalias tentang Tupolev Tu-114, yang oleh NATO dijuluki Cleat, adalah pesawat turboprop jarak jauh yang dirancang oleh biro desain Tupolev dan dibangun di Uni Soviet mulai Mei 1955. Tu-114 Rossiya merupakan pesawat penumpang terbesar dan tercepat di dunia pada waktu itu. Pesawat memiliki jangkauan terpanjang yakni 10.900 km dan telah memegang gelar resmi pesawat baling-baling tercepat sejak 1960.

Baca juga: Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

Didukung empat baling-baling serta mesin Kuznetsov NK-12 buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Meskipun mampu menampung 224 penumpang, ketika dioperasikan oleh Aeroflot, lebih umum menyediakan 170 flatbed dan ruang makan.

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.