Kursi Ditendang oleh Anak-Anak, Penumpang Wanita Tinju Seorang Ibu

Tindakan pemukulan oleh penumpang kepada penumpang lain dalam penerbangan kerap kali terjadi. Hal ini terjadi karena masalah yang sepele atau dikarenakan salah satu penumpang tersebut mabuk dan melakukan pemukulan itu.

Baca juga: Dipukuli Awak Kabin, Penumpang Pria Gugat American Airlines dan Tuntut US$160 Ribu

Namun baru-baru ini, seorang wanita memukul penumpang karena masalah sepele. Insiden tersebut terjadi dalam penerbangan Spirit Airlines yang memiliki tujuan ke Bandara Internasional Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Karena hal tersebut membuat, seorang wanita didakwa melakukan penyerangan setelah diduga meninju seorang ibu dalam penerbangan Spirit Airlines di Bandara Internasional Portland pada Minggu (3/1/2021). Dalam dokumen pengadilan mengatakan Daydrena Jaslin Walker-Williams merasa kesal dengan penumpang yang duduk dibelakangnya.

Saat itu ada seorang ibu dengan dua anak berusia tiga dan tujuh tahun. Kedua anak itu menendang kursi wanita 29 tahun tersebut dan membuatnya kesal dengan penumpang itu. KabarPenumpang.com melansir laman fox40.com (5/1/2021), penyelidik mengatakan bahwa dia memberitahu ibu itu untuk mencegah kedua anaknya menendang tetapi diabaikan.

Selama wawancara dengan polisi, Daydrena mengklaim dia tidak memberi tahu pramugari tentang dipukul karena ‘reaksi pertamanya adalah berkelahi’. Daydrena mengklaim bahwa ibu anak itu memukul bahunya.

Namun sayang, pejabat mengatakan tidak ada saksi mata yang melihat Daydrena dipukul. Meski begitu Daydrena mengaku meninju wajah ibu tersebut sebanyak dua hingga tiga kali. Karena perbuatannya bibir korban berlumuran darah dan ada benjolan di kepala.

Pramugari Spirit Airlines juga melaporkan kesaksian atas penyerangan itu dan mengatakan korban tidak melawan serta mereka tidak melihat dia memukul bahu Daydrena. Bahkan petugas mengatakan kepada terdakwa bahwa tidak ada yang melihat korban memukulnya.

Baca juga: Dianggap Tak Miliki Tiket Valid, Penumpang Diamankan dan Giginya Patah

Daydrena didakwa melakukan serangan kejahatan tingkat empat dan pelecehan. Setelah didakwa oleh kantor Kejaksaan Distrik Multnomah County atas penyerangan dan pelecahan kejahatan. Namun Daydrena dibebaskan dengan jaminan hanya beberapa jam setelah penangkapannya.

Keuangan Makin Goyang, Boeing Tutup Pusat R&D Manufaktur di Seattle

Boeing dikabarkan bakal menutup pusat riset & development (R&D) manufaktur atau biasa juga dikenal sebagai pusat Advanced Developmental Composites (ADC) di Seatlle, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS). Penyebabnya, apalagi kalau bukan krisis keuangan di internal perusahaan akibat pandemi virus Corona yang membuat industri penerbangan kacau balau.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

“Ini adalah salah satu dari beberapa langkah yang kami ambil untuk merampingkan operasi kami dan membuat penggunaan ruang fasilitas kami lebih efisien,” tulis Boeing dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut, Boeing mengabarkan bahwa untuk sementara waktu, proses pengerjaan pesawat-pesawat non komersial akan dipindah sebagian ke fasilitas Boeing di Puget Sound, Washington. Tetapi, tidak untuk para pekerja. Serikat Pekerja Teknik Profesional di Aerospace (SPEEA) menyebut, bangkrutnya Boeing menyebabkan sebanyak 29 anggotanya atau karyawan Boeing dipecat.

“Kami tentu prihatin tentang hal ini, tidak hanya hilangnya pekerjaan yang ada, tetapi juga untuk pekerjaan yang akan datang pada pesawat baru di masa depan,” katanya, sebagaimana dikutip dari seattletimes.com.

Meski beberapa pengerjaan pesawat di fasilitas tersebut akan dialihkan, namun, menurut seorang sumber dari dalam tubuh perusahaan mengatakan, bahwa dirinya khawatir akan masa depan Boeing. Sebab, banyak hal besar dimulai dari fasilitas ini.

Fasilitas penelitian dan pengembangan nan megah, dengan bangunan ikonik tanpa jendela berwana putih ditambah logo Boeing tersebut, diketahui sudah sejak beberapa dekade lalu menjadi andalan Boeing sebagai pusat inovasi masa depan.

Program-program penelitian manufaktur paling penting dan rahasia, baik militer maupun komersial, terjadi di tempat ini. Teknologi kunci untuk membangun pesawat pembom B2 Stealth, F-22 Raptor, dan 787 Dreamliner juga lahir dari tempat ini.

Di antara berbagai fasilitas canggih di pusat inovasi ini, autoclave adalah salah satunya. Autoclave sendiri adalah oven raksasa yang digunakan Boeing untuk memanggang material komposit karbon hingga menjadi keras untuk kemudian dipotong menggunakan peralatan robotik guna menghasilkan potongan-potongan besar dan terstruktur, sesuai dengan desain di komputer.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Fasilitas ADC di Seattle juga disebut menjadi pusat pelatihan insinyur dan mekanik tamu dari Jepang dan Italia untuk melakukan pekerjaan produksi.

Selain pusat inovasi ADC di Seattle, Boeing diketahui juga masih memiliki fasilitas lainnya, baik itu fasilitas pengembangan dan inovasi, gudang, maupun fasilitas produksi pesawat komersial dan militer, seperti di Everett, Puget Sound, Renton, dan Anacortes.

Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Taksi udara atau taksi drone otonom EHang 216 tak lama lagi akan hadir di Guangdong, Cina. Kepastian itu didapat setelah perusahaan taksi terbang drone pertama di dunia itu meneken nota kesepakatan dengan perusahaan real estate asal Hong Kong, Greenland Hong Kong Holdings Limited, atas perjanjian kerjasama layanan joy flight atau tamasya udara di Forest Lake atau biasa juga dikenal Kota Yeuhu, Zhaoqing, sebuah kota tujuan wisata paling populer di Guangdong.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Dilansir New Atlas, selain menghibur pengunjung kota wisata dalam program tamasya atau pariwisata udara, taksi drone otonom EHang 216 juga bakal menghibur masyarakat yang berkunjung dengan atraksi aerial media show, sejenis atraksi akrobatik nan menawan dari deretan drone EHang, seperti membentuk sebuah kata, benda, bendera, bangunan, dan berbagai bentuk lainnya, seperti video di bawah ini.

Forest Lake, yakni sebuah area berupa tujuh danau alami dan lahan seluas 3 juta meter persegi, digadang akan semakin diminati pengunjung jika Bandara Internasional Pearl River Delta sudah selesai dibangun pada 2025 mendatang.

Pada kondisi itu, taksi drone otonom EHang 216 diproyeksi bakal menjadi kendaraan alternatif untuk sampai ke bandara, dimana Forest Lake menjadi hubnya, sekalipun hal itu masih membutuhkan pengembangan dan konsep yang lebih matang.

Taksi drone otonom EHang 216, sejak awal kemunculannya, memang begitu menarik perhatian publik. Drone tersebut dinilai lebih efektif dan efisien dibanding helikopter, sekalipun EHang 216 memiliki rotor yang lebih banyak, yakni 16.

Taksi drone otonom EHang 216 mampu memuat dua penumpang dan terbang selama 21 menit di kecepatan mencapai 130 km per jam.

Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

Saat ini, layanan tamasya udara dan pertunjukan aerial media show taksi drone otonom EHang 216 masih dalam proses uji coba di Forest Lake. Jika berhasil, kedua perusahaan akan membawa konsep serupa ke kota-kota lain di seluruh daratan Cina. Sementara itu, EHang akan tetap fokus mengembangkan jangkauan bisnisnya dimana sebelumnya perusahaan itu telah melakukan uji coba di AS, Korea Selatan, Dubai, dan Eropa.

Selain bermain di pangsa pasar penumpang, EHang 216 juga tengah mengincar pasar drone kargo. Pada akhir Mei lalu, taksi udara otonom pertama di dunia ini dilaporkan telah mengantongi izin untuk melayani kargo udara atau logistik angkutan berat oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CCAC). Dengan begitu, praktis, EHang menjadi kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV) pertama di dunia yang berhasil mendapatkan izin masuki layanan kargo udara.

Praktisi Hukum Leasing: Hibah Bisa Dilakukan Bila Pesawat Sudah Lunas

Meski tak berlaku untuk semuanya, tetapi sebagian armada pesawat, khususnya pesawat angkut yang dioperasikan oleh TNI AU berasal dari hibah. Sebut saja pesawat jet Fokker F-28 Fellowship, Boeing 737-400 dan pesawat angkut berat Lockheed L-100, pada zamannya pernah digunakan oleh maskapai sipil di Tanah Air.

Baca juga: Margin Keuntungan Tipis, Lufthansa Hibahkan Rute Penerbangan Menuju Bangkok

Seiring kebijakan operator yang telah mempertimbangkam beragam hal, pesawat-pesawat yang disebut di atas kemudian berpindah tangan ke otoritas militer, meski asasinya tetap sebagai pesawat angkut. Seperti Fokker F-28 yang pernah menjadi tulang punggung rute domestik Garuda Indonesia pada dekade 80-an, telah dibibahkan sebagai inventori Skadron Udara 17/VVIP Lanud Halim Perdanakusuma. Menurut data rzjets, empat unit F-28 Fellowship dihibahkan Garuda Indonesia kepada TNI AU dalam kurun waktu 1983-2013. Keempat pesawat tersebut masuk dalam inventori Skadron Udara 17/VIP dengan tail number A-2801, A-2802, A-2803, dan A-2804.

Kemudian pesawat yang disebut sebagai kembaran C-130 Hercules, yaitu L-100 yang dioperasikan Skadron Udara 17 dan Skadron Udara 31, merupakan hibah dari Pelita Air Service. Sesuai kebijaksanaan pemerintah, pada tahun 1995 TNI AU mendapat hibah dua unit L-100-30 dari maskapai Merpati Nusantara Airlines, dan tiga unit L-100-30 dari Pelita Air service. Kelima pesawat tersebut kini menjadi etalase Skadron Udara 31, masing-masing dengan nomer A-1325, A-1326, A-1327, A-1338 dan A-1329.

Yang paling baru, pada tahun 2016, TNI AU mendapatkan hibah Boeing 737-400 dari Lion Air Group, dimana pesawat yang sebelumnya bernomer registrasi PK-LIW kini berubah registrasinya menjadi A-7308. Hal ini menjadikan Lion Air Group sebagai institusi swasta pertama di Indonesia yang menghibahkan pesawatnya kepada TNI AU.

Terlepas dari siapa yang menghibahkan pesawat, yang pasti dalam sebuah hibah pasti ada proses; termasuk persyaratan. Di antara syarat wajib sebuah pesawat dihibahkan, satu hal yang tidak boleh tidak ialah pesawat harus milik sendiri, harus sudah lunas, bukan pesawat sewaan ataupun sejenisnya.

Menurut praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, bukti kepemilikan sendiri atas barang yang dihibahkan bisa dilihat dari bill of sale pesawat. Bill of sale menjelaskan nama pemberi hibah sebagai pemilik pesawat.

“Hibah hanya bisa dilakukan atas pesawat milik pemberi hibah. Dibuktikan dari bill of sale pesawat yang menjelaskan nama pemeberi hibah sebagai pemilik pesawat,” katanya kepada KabarPenumpang.com, Selasa (5/1).

Baca juga: Ketiban Durian Runtuh, Qatar Hibahkan Pesawat Mewah Boeing 747-8i Kepada Turki!

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, bahwa dengan syarat tersebut, seharusnya tidak ada kasus pemberian hibah pesawat yang masih menjadi milik orang lain, bukan atas nama pemberi hibah. Sebab, kalau ada, hibah tersebut tidak sah.

“Seharusnya tidak ada. Karena kalau ada, maka hibah tersebut batal demi hukum,” pungkasnya, saat ditanyai kemungkinan hibah yang itemnya bukan atas nama pemberi hibah.

Anti Macet! Ambulans Terbang VTOL Bertenaga Hidrogen Hadir di Amerika Serikat

Macet masih menjadi momok menakutkan dalam kerja-kerja ambulans. Belum lama ini, nyawa seseorang di Jambi dilaporkan melayang akibat ambulans yang ditumpanginya terjebak macet. Nyawa seorang ibu yang tengah mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan ini seharusnya bisa tertolong andai saja bisa cepat sampai ke rumah sakit.

Baca juga: Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?

Andai saja waktu bisa diputar, mungkin, petugas medis di sana bisa memanfaatkan mobil taksi terbang pertama di dunia buatan perusahaan asal Israel, Urban Aeronautics. Sekalipun namanya taksi terbang, namun, pada pengaplikasiannya, ia bisa digunakan untuk berbagai keperluan; termasuk sebagai ambulans.

Dikutip dari New Atlas, kendaraan yang bergerak menggunakan kombinasi antara bahan bakar hidrogen dan juga bahan bakar minyak ini diklaim mampu mengangkut beban hingga 500 kg atau lebih, cukup untuk menerbangkan satu pilot, satu pasien, dan satu petugas yang menyertainya, serta dua petugas EMS, dan peralatan medis pendukung sebagai pertolongan pertama selagi menuju rumah sakit.

Selain itu, dengan desain ducted-fan (tanpa sayap dan rotor), CityHawk berkemampuan vertical take-off and landing (VTOL) atau lepas landas dan mendarat otomatis ini, ditambah desain compact footprint di bagian kaki, hampir bisa diandalkan di segala medan. Bahkan di gang sempit dan jalan kota yang penuh dengan kendaraan sekalipun, sebuah kemampuan yang sudah pasti hampir tak dimiliki oleh kompetitor di Silicon Valley.

Selain itu, bila dibandingkan dengan kemampuan helikopter sejenis Bell 206, ambulans terbang CityHawk Urban Aeronautics ini juga diklaim jauh lebih senyap dan menawarkan ruang kabin 20-30 persen lebih banyak.

Dengan berbagai kemampuan di atas, yang tentu saja dapat menunjang mobilitas pertolongan medis, Hatzolah Air, sebuah organisasi transportasi medis nirlaba, beberapa bulan yang lalu dikabarkan meneken pemesanan empat unit ambulans terbang. Organisasi itu nantinya akan mengerahkan ambulans terbang dalam layanan layanan medis darurat (EMS) di berbagai perkotaan di seluruh dunia, terutama di New York, basis layanan mereka di Amerika Serikat.

“Pemesanan awal empat ambulans udara CityHawks oleh Hatzolah merupakan pertunjukan kepercayaan diri yang luar biasa dalam program kami dan perusahaan kami,” kata Nimrod Golan-Yanay, CEO Urban Aeronautics.

“Kami berharap dapat memenuhi janji kami untuk merevolusi mobilitas udara perkotaan (UAV) dan kemampuan tanggap darurat kota-kota besar di seluruh dunia,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden Hatzolah Air, Eli Rowe, mengungkapkan rasa bahagianya sebagai pelanggan pertama ambulans udara itu.

“Kami sangat senang menjadi tidak hanya distributor di seluruh dunia untuk Urban Aeronautics Air Ambulance CityHawk, tetapi juga pelanggan pertamanya,” katanya.

Baca juga: Australia Ciptakan Ambulans Udara eVTOL Paling Efisien di Dunia Bertenaga Hidrogen

“Misi Hatzolah selalu tentang perawatan pasien dan menambahkan VTOL CityHawk memiliki potensi untuk menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun,” tutupnya.

Bila tak ada aral melintang, ambulans terbang ini bisa dioperasikan Hatzolah Air 3-5 tahun mendatang setelah mendapat sertifikasi dari FAA. Selain bisa dioperasikan sebagai ambulans terbang, mobil taksi terbang pertama di dunia ini juga bisa dioperasikan untuk antar-jemput barang, penyemprotan lahan pertanian, tanggap darurat dan bencana, pemadam kebakaran, pemeliharaan jaringan listrik, logistik lepas pantai, dan lain sebagainya.

Kisah “Azab” Big Bunny, Pesawat Private DC-9 Mewah Milik Bos Majalah Playboy

Di masa lalu, Majalah Palyboy begitu populer di seluruh dunia. Meski masih eksis sampai sekarang, namun, era digital membuat konten andalannya menjadi lumrah dijumpai. Terlepas dari itu semua, ada cerita menarik dari sang bos besar majalah dewasa yang terbit pertama pada Desember 1953 itu, Hugh Hefner. Tetapi, tidak mutlak membicarakan Hefner, melainkan The Playboy Mansion terbangnya, Big Bunny Douglas DC-9, sebuah pesawat jet private mewah milik Hefner.

Baca juga: Mengenal “Big Bunny,” Pesawat DC-9 Mewah Peninggalan Boss Playboy

Pasca pertama kali dikirim dari pabrik pada Februari 1969, dengan biaya sekitar US$5,5 juta (mungkin sekitar US$40 juta untuk ukuran sekarang), Hefner mulai menjadikan pesawat itu bak istana terbang. Hari-harinya dilalui dengan bekerja, berpesta, dan menghabiskan waktu dengan deretan gadis cantik. Tak lupa, di antara aktivitasnya di dalam pesawat tersebut ialah memantau jalannya sesi foto bugil.

Singkatnya, semua cerita tentang kemewahan dan kenikmatan hidup ada pada sang bos Majalah Playboy kelahiran Chicago, Illinois, Amerika Serikat itu.

Akan tetapi, setelah genap satu dekade, seperti dikutip dari Simple Flying, Big Bunny DC-9 yang sehari-hari terbang antara Chicago dan Los Angeles, AS, mulai berada di ujung tanduk atau dalam istilah lain sedang di “Azab” Tuhan.

Seluruh kemewahan yang terletak di The Playboy Mansion terbang, seperti sound sistem surround delapan jalur, beberapa televisi, dua proyektor film dan sistem video yang berteknologi canggih, jendela elektrokromik dimana kaca bisa meredup dan menghitam dengan sebuah tombol, sistem komunikasi satelit, serta awak kabin seksi yang direkrut dan dilatih khusus, justru pada akhirnya menjadi beban tersendiri untuk Hefner. Terlebih, ketika Majalah Playboy sudah tak lagi mendapat banyak tempat di masyarakat.

Sudah begitu, Big Bunny juga tak lagi diperlukan Hefner untuk mendukung mobilitasnya bekerja bolak-balik di Chigaco dan Los Angeles. Lebih parahnya lagi, Jet Playboy, yang dahulu sering dikunjungi orang terkenal pada masanya dan sering disewa untuk perjalanan tur internasional hingga persiapan pesta mewah menyambut tamu luar negeri serta momen-momen spesial, juga ikut ditinggalkan. Padahal, di masa kejayaannya, Big Bunny amat dekat dengan sederet bintang kenamaan dunia, semisal Elvis Presley.

Baca juga: Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Alhasil, meski berat, pesawat serba hitam ikonik itu pun dijual. Menurut Planespotters.net, pesawat dengan nomor registrasi N950PB ini dijual ke Omni Aircraft Sales pada Maret 1976, dan bulan berikutnya bergabung dengan Linea Aeropostal Venezolana. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1979, ia dikirim untuk terbang bersama Aeromexico dan terus beroperasi hingga 2004. Setelah pensiun, ia diterbangkan ke Guadalajara, Meksiko, untuk menemui “ajalnya”.

Beberapa tahun berikutnya, Big Bunny atau Kelinci Besar itu dibongkar dan dipindahkan ke sebuah taman di Cadereyta de Montes, Querétaro, Meksiko. Jet Playboy Douglas DC-9 ini dijadikan sebagai wahana eduwisata anak-anak akan pesawat dan dunia penerbangan secara umum.

Toyota Patenkan Mobil Tanpa Awak yang Bisa Pergi Ke Tempat Cuci Sendiri

Dalam pikiran Anda, mobil tanpa awak sudah jelas tidak dikemudikan oleh seseorang dan dijalankan dengan sistem kontrol. Namun apalagi yang Anda pikirkan dengan mobil tak berawak ini? Apakah Anda pernah berpikir bagaimana mobil tak berawak pergi ke tempat cuci mobil? Mungkin saja pikiran ini ada dan bagaimana mobil tak berawak harus pergi ke tempat cucian?

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

KabarPenumpang.com melansir dari laman insidehook.com (3/1/2021), belum lama ini, tepatnya pada malam Natal, Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serkat merilis paten yang diajukan oleh Toyota. Paten tersebut adalah memungkinkan mobil tanpa pengemudi yang kotor pergi ke tempat cucian tanpa campur tangan manusia.

Di Jalopnik, Elizabeth Blackstock menawarkan sebuah pandangan mendalam terkait pengajuan paten tersebut. Di mana pengajuan itu untuk sistem mobil tanpa pengemudi dan dapat menentukan kapan merasa kotor dan kemudian menuju ke tempat cuci mobil terdekat untuk membersihkan diri.

Bisa dikatakan, ini merupakan kendaraan tak berawak yang setara dengan menyadari bahwa ini waktunya untuk dibersihkan. Seperti yang dijelaskan Blackstock, sistem yang dijelaskan dalam pengertian paten saat mobil melaju di jalan kotor atau dalam cuaca buruk.

Kemudian menghubungi tempat cuci mobil, yang memberi tahu mobil kapan harus masuk untuk dibersihkan. Sistem ini juga memungkinkan pengemudi untuk memilih keluar dari pencucian tertentu, jika waktu sangat penting.

Ini adalah pandangan yang menarik tentang pemikiran di balik sistem ini dan sesuatu yang secara radikal dapat mengubah salah satu tugas utama yang terkait dengan kepemilikan mobil. Itu semua dilakukan dengan membuat mobil tanpa pengemudi sedikit lebih sadar diri dengan cara yang tidak terduga.

Berikut ini Toyota menjelaskan bahwa dalam sistem penilaian pencucian mobil, pengakuisisi memperoleh informasi perjalanan kendaraan. Unit penahan kondisi mempertahankan kondisi pencucian mobil tertentu. Unit penilai menentukan apakah informasi perjalanan yang diperoleh di pengakuisisi memenuhi kondisi pencucian mobil tertentu atau tidak.

Baca juga: Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

“Unit penahan informasi jalan yang tidak beraspal menyimpan informasi jalan yang tidak beraspal yang menunjukkan adanya jalan yang tidak beraspal. Kondisi pencucian mobil tertentu termasuk bepergian di jalan beraspal dengan kendaraan. Ketika kendaraan yang telah mengirimkan informasi perjalanan adalah kendaraan penggerak otomatis yang mampu melakukan pengemudian otomatis dan ketika informasi perjalanan dari kendaraan penggerak otomatis memenuhi kondisi pencucian mobil, unit instruksi pencucian mobil mengirimkan sinyal instruksi untuk memindahkan kendaraan penggerak otomatis ke stasiun pencucian mobil,“ kata Toyota menjelaskan.

Kedua Kalinya Thailand Larang Makanan dan Minuman di Penerbangan Domestik

Berbagai macam cara dilakukan oleh maskapai untuk mencegah penyebaran virus corona di dalam penerbangan mereka. Salah satunya adalah menghilangkan makanan dan berbagai hiburan seperti majalah di dalam kabin.

Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan

Salah satu negara yang melakukan pelarangan makanan, minuman dan hiburan di dalam penerbangan adalah Thailand. Negeri Gajah Putih ini kembali melarang adanya makanan, minuman, koran dan majalah dalam penerbangan domestik mereka kecuali kartu informasi keselamatan. Bahkan penumpang yang membawa makanan ringan dan minuman untuk dikonsumsi dalam pesawat tidak diperbolkehkan.

Hal ini dikarenakan, masker harus selalu digunakan oleh penumpang dalam penerbangan domestik mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari lonelyplanet.com (5/1/2020), meski begitu untuk masalah darurat, awak kabin tetap menyediakan air minum untuk penumpang yang membutuhkannya dan itu harus diminum jauh dari penumpang lainnya.

Pelarangan seperti ini pertama kali dilakukan Thailand pada 26 April 2020 lalu dan mencabut larangan tersebut pada 31 Agustus 2020. Dalam pelarangan yang diberlakukan tersebut, semua maskapai harus mengikuti peraturan atau mereka akan menghadapi kemungkinan hukuman dari regulator yakni Otoritas Penerbangan Sipil Thailand.

“Waktu pembersihan setelah setiap perhentian penerbangan domestik sangat singkat, karena operator cenderung melakukan perputaran secepat mungkin dan saya pikir operator tidak mungkin dapat membersihkan semua barang ini secara menyeluruh. Oleh karena itu, memiliki bahan bacaan yang tidak penting pada on-board akan membuat lebih banyak risiko terpapar virus,” kata Chula Sukmanop, direktur jenderal Penerbangan Sipil Otoritas Thailand (CAAT).

Meski penumpang dilarang membawa makanan dan minuman, tetapi pemerintah Thailand mengizinkan penumpang untuk membawa materi cetakan mereka sendiri ke dalam pesawat. Tetapi kemungkinan besar mereka akan diminta untuk membawa barang-barang tersebut saat turun pesawat.

Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

Untuk diketahui, perjalan udara domestik di Thailand saat ini sekitar 40 persen dari kapasitas biasanya. Keputusan untuk pelarangan adanya makanan, minuman, koran dan majalah berlaku mulai 31 Desember 2020.

Dirut MRT Jakarta Bocorkan Rencana Pembangunan Jalur Fatmawati-TMII Jadi Fase 4

Direktur Utama PT MRT Jakarta kemarin, Selasa (5/1/2021) mengumumkan rencana rute dari Fatmawati menuju ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rencana ini dikerjakan menjadi fase 4 pada proyek dari jalur selatan yang konstruksinya akan mulai pada 2022 dan diperkirakan selesai 2027 mendatang.

Baca juga: Masih Masa Pandemi, MRT Jakarta Targetkan 65 Ribu Penumpang Per Hari

William mengatakan, proyek ini akan berbeda dari proyek MRT Jakarta lainnya karena akan menggunakan skema public private partnership atau kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Jalur Fatmawati menuju TMII dikatakan William akan sepanjang 12 km.

“Tahun ini kita akan melakukan market sounding dan pencarian pendanaan dari investor untuk pembangunan proyek MRT rute tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan dana publik obligasi pemerintah yang kita siapkan karena pekerjaan ini sudah kita lakukan,” ujar William dalam forum jurnalis virtual, Selasa (5/1/2021).

Adanya rute ini pada fase 4, William menjelaskan bahwa awalnya ada tiga opsi yang ditawarkan oleh konsultan yakni jalur pertama di utara dari Bandara-Ancol, jalur kedua ditengah dari Joglo-TMII dan terakhir jalur selatan Fatmawati-TMII. Dia membocorkan bahwa ternyata rute dari Fatmawati menuju TMII inilah yang paling efektif untuk dibangun sebagai rute lanjutan kereta cepat di ibukota Jakarta.

Rute ini sendiri dikatakan William dianggap strategis karena belum ada transportasi berbasis rel ataupun kereta, sedangkan pengembangan terus dilakukan meski secara masif di kawasan tersebut. Bahkan dari studi tersebut, rute ini dapat menjadi titik temu untuk integrasi layanan darat baik bus maupun kereta milik LRT Jakarta.

“Itu bisa jadi poin integrasi dengan Terminal Kampung Rambutan dan disitu akan ada stasiun LRT jadi seperti itu. Rute untuk fase 4 memang disiapkan agar pengerjaan proyek-proyek MRT Jakarta dapat dikerjakan secara paralel sehingga tidak lagi linier atau per fase,” ujar William.

Dia menambahkan, nanti fase 2 dibangun kemudian fase 3 masuk tahap desain serta fase 4 juga mulai didorong untuk kelanjutannya dengan rute Fatmawati ke TMII. William kemudian menyebutkan biaya yang akan dikeluarkan untuk fase 4 ini adalah sebesar Rp25 triliun hingga Rp28 triliun.

Baca juga: Catatkan 27 Ribu Penumpang Per Hari, MRT Jakarta di Masa Pandemi Masih Untung di Bisnis Non Farebox

“Tahun ini kita akan lakukan studi kelayakan atau feasibility study merancang desain pembangunan MRT rute Fatmawati menuju TMII. Kita harapkan konstruksinya akan tuntas pada tahun 2027 mendatang,” jelas William.

Awas! Ratusan Juta Sampah Antariksa Siap Menghujam Indonesia, Setiap Pekan ada Dua

Publik dihebohkan dengan temuan puing roket milik Badan Antariksa Nasional Cina (CNSA), Senin (4/1), di Teluk Ranggau, Desa Sei Cabang Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sebelumnya, pada 18 Juli 2018, roket tingkat 3 CZ-3A juga milik Cina, pernah jatuh di Maninjau, Sumatera Barat, melengkapi temuan roket Cina lainnya, CZ-3A, pada 14 Oktober 2003 di Bengkulu.

Baca juga: Inilah CNSA, NASA-nya Cina Pemilik Puing Roket di Kalteng! Sudah Tiga Roket Cina Jatuh di Indonesia

Sejak dekade 80an, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) setidaknya mencatat sudah ada enam benda antariksa yang pernah jatuh ke Indonesia, termasuk roket Cina yang ditemukan di Kalteng beberapa hari lalu.

Selain itu, masih menurut LAPAN, ratusan juta sampah antariksa saat ini bertebaran di luar angkasa. Sejak 1957 hingga Februari 2020 silam, jumlah benda yang ukurannya antara 1 hingga 10 cm diperkirakan sebanyak 900.000. Adapun benda berukuran antara 1 mm hingga 1 cm diperkirakan sebanyak 128 juta.

Kecil memang, namun, sampah antariksa bergerak dengan kecepatan hingga 40.000 km per jam. Tabrakan pecahan sebesar biji kopi dengan kecepatan setinggi itu dengan sebuah satelit, memiliki kekuatan impact setara sebuah granat dan sudah pasti bakal merusaknya. Lantas muncul pertanyaan, kapan semua itu akan sampai ke bumi dan menghujam negara-negara yang berada di garis khatulistiwa?

Puing yang merupakan bagian roket milik Badan Antariksa Nasional Cina. Foto: Polres Kotawaringin Barat

Dikutip dari DW, Heiner Klinkrad, Ketua Bagian Sampah Antariksa di Organisasi Antariksa Eropa, ESA, mengungkapkan sampah antariksa jarang jatuh ke bumi. Namun menurut perhitunganya, setiap pekannya ada kemungkinan dua obyek berukuran satu meter jatuh ke dalam ruang atmosfer bumi. Dari segitu luasnya bumi, Indonesia menjadi salah satu negara paling berpotensi kejatuhan sampah antariksa.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, setiap satelit atau sampah antariksa yang berada di ketinggian 600 km berpotensi jatuh dan orbitnya pasti melewati garis khatulistiwa (ekuator). Karenanya, peluang jatuh di daerah ekuator sangat besar dibandingkan dengan di wilayah lintang tinggi. Celakanya, ada beberapa wilayah Indonesia berada di ekuator dan beberapa wilayah lainnya berada tak jauh dari ekuator. Atas kondisi inilah, ia menyebut bahwa kemungkinan sampah antariksa jatuh di Indonesia sangat besar.

Meski demikian, Djamaluddin menerangkan, luasnya wilayah Indonesia membuat kemungkinan sampah antariksa itu jatuh ke pemukiman penduduk dan mencelakakan manusia cukup rendah. Tetapi, tetap saja, tak ada ilmuan yang bisa memprediksi kapan sampah antariksa yang jatuh ke Indonesia mendarat di pemukiman penduduk. Itu berarti, ancaman sampah antariksa dalam mencelakakan masyarakat nyata adanya.

Sebagai informasi, sebetulnya, sejak puluhan tahun lalu, sampah antariksa, yang terdiri atas satelit yang tidak berfungsi lagi hingga fragmentasi ledakan, debu, atau partikel kecil lainnya, memang jadi kajian menarik para ilmuan di Barat.

Baca juga: 2021 Bakal Ada Balapan Mobil Remote Control di Bulan, Aktornya Anak SMP

Ide untuk membersihkan sampah antariksa pun sudah sampai pada level implementasi dengan lahirnya gagasan-gagasan brilian, mulai dari tukang sampah robot gagasan Eropa, menggunakan meriam laser untuk menghancurkan sampah antariksa ala Jerman, penggunaan jaring dan lasso elektrik untuk menangkap asteroid solusi dari AS-NASA, hingga tambang elektrodinamik yang menjadi ide dari Jepang.

Namun, proyek luar angkasa besar-besaran berbagai negara membuat upaya membersihkan luar angkasa dari sampah antariksa menjadi tak efektif.