Kembali ke Lockdown Level Satu, Afrika Selatan Larang Makanan dalam Penerbangan Domestik

Setelah beberapa minggu berturut-turut jumlah kasus Covid-19 baru menyusut, Afrika Selatan kembali ke lockdown (penguncian) level satu. Meski begitu untuk mengurangi peningkatan infeksi baru, pemerintah ingin mendorong kepatuhan yang lebih baik terhadap penggunaan masker di pesawat.

Baca juga: Kedua Kalinya Thailand Larang Makanan dan Minuman di Penerbangan Domestik

Pemerintah juga kini telah melarang segala bentuk katering atau mengonsumsi makanan di dalam penerbangan domestik dan hanya air kemasan yang diizinkan. Bahkan penumpang pun tak diperbolehkan membawa makanan apa pun selama penerbangan domestik.

KabarPenumpang.com melansir simpleflying.com (2/3/2021), larangan makan tersebut membuat Afrika Selatan mengikuti jejak Thailand yang sudah lebih dahulu melarang makanan di penerbangan domestik. Sebelumnya, maskapai penerbangan diizinkan menawarkan makanan kemasan selama produksinya sejalan dengan protokol Covid yang telah ditetapkan.

Selain itu, penerbangan domestik harus mematuhi jam malam Afrika Selatan. Ini sekarang berlangsung dari tengah malam hingga 04.00 pagi sejak negara itu kembali ke penguncian level satu pada hari Minggu. Mereka yang bepergian dengan penerbangan internasional di luar jam-jam tersebut harus dapat memberikan tiket pesawat yang valid berdasarkan permintaan.

Peraturan yang diperbarui bertujuan untuk mendukung kepatuhan yang lebih baik terhadap pemakaian masker di penerbangan. Sementara maskapai penerbangan pasti akan menyambut arus kas tambahan saat ini, setidaknya satu maskapai penerbangan mendukung inisiatif untuk memerangi lebih lanjut penyebaran virus corona.

“Tidak memiliki katering di dalam pesawat memang mencuri dari pengalaman penumpang kami dan ini adalah aliran pendapatan yang kami sukai selama masa sulit ini. Namun, tidak menawarkan katering adalah hal yang tepat untuk dilakukan saat ini, dan kami mendukung keputusan pemerintah untuk regulasi yang ketat,” Kirby Gordon, Kepala Pemasaran di FlySafair.

Maskapai yang menerbangakan pesawatnya dengan tujuan domestik ini akan memberikan sanksi bagi penumpang yang tidak mengenakan masker dengan mendenda hingga $7 ribu. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh maskapai penerbangan, produsen pesawat, dan entitas pemerintah menunjukkan bahwa risiko penularan virus di dalam pesawat sangat kecil.

Baca juga: Perangi Obesitas pada Anak-anak, Inggris Larang Makan di Kereta

Salah satu studi serupa dilakukan oleh Departemen Pertahanan AS (DoD) bekerja sama dengan United Airlines pada Oktober tahun lalu. Studi DoD menemukan bahwa ketika penumpang memakai masker, risiko penularan adalah 0,003 persen dan penumpang harus terbang selama 54 jam terus menerus untuk menghadapi risiko infeksi.

Israel Berlakukan Paspor Vaksin Covid-19, Akankah Diikuti Negara Lain?

Vaksin sepertinya akan menjadi kotak pandora bagi para pebisnis dan pelancong yang akan bepergian. Bahkan Israel, sudah memberikan izin masuk hijau atau paspor vaksin bagi mereka yang sudah mendapatkan dua dosis vaksinasi Covid-19. Izin ini dikeluarkan oleh pemerintah sehingga semua orang Israel hanya menunjukkan data pribadi dan tanggal vaksin.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

Bahkan paspor vaksin ini juga bisa digunakan untuk masuk ke gym, hotel dan konser. Sehingga bagi tiga juta orang Israel ini adalah tiket untuk kembali ke keadaan normal.

“Akhirnya! Sepanjang jalan di dalam mobil, saya menyanyikan” Hidup kembali! Kembali ke kenyataan,” ujar seorang penonton konser Israel

Dilansir KabarPenumpang.com dari cbsnews.com (3/3/2021), meski Israel sudah mengeluarkan izin masuk atau paspor vaksin bagi mereka yang sudah di vaksinasi, namun hal ini masih dalam pertimbangan bagi Inggris dan pemerintahan negara lain termasuk Amerika Serikat. Di mana mereka tengah mempertimbangkan sertifikat kekebalan Covid-19 serupa untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata, bisnis dan perhotelan mereka.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan negaranya sedang mencari opsi dengan cermat.

“Kami belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Kami tidak pernah terpikir untuk memiliki sesuatu yang harus Anda tunjukkan saat pergi ke pub atau teater. Jadi, ada masalah yang dalam dan kompleks yang perlu kami gali,” Kata Johnson.

Beberapa ahli memperingatkan masalah etika, seperti potensi diskriminasi terhadap orang yang tidak menginginkan vaksin dan mereka yang tidak bisa mendapatkannya karena alasan medis atau karena tidak cukup persediaan. Clare Wenham, asisten profesor kebijakan kesehatan global di London School of Economics, mengatakan privasi data adalah masalah lain.

“Apakah itu akan menjadi sesuatu yang digital yang melacak Anda? Dan itu jelas membuka berbagai percakapan yang berbeda tentang keamanan data Anda, misalnya,” katanya.

Meskipun minat tinggi untuk kembali normal, Wenham mengatakan pemerintah harus mempertimbangkan dengan hati-hati potensi jebakan paspor vaksin sebelum menerapkannya.

“Pemerintah seharusnya tidak terburu-buru. Saya pikir ini kotak Pandora dan berpikir itu adalah lereng licin untuk mengatur kehidupan oleh status kesehatan Anda,” kata Wenham.

Baca juga: Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

Ketika pemerintah memperdebatkan sertifikat kekebalan atau vaksin, bisnis terus maju. Beberapa kapal pesiar dan maskapai penerbangan telah mengumumkan bahwa para pelancong memerlukan bukti imunisasi untuk naik. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa mereka menentang mewajibkan vaksin untuk perjalanan, selama pasokan vaksin global terbatas dan kemampuan mereka untuk menghentikan penyebaran virus belum jelas.

Bak Cerita Novel, Kisah Cinta Pramugari Pan Am dan Anggota CIA di Pesawat Bikin Gemes

Cinta bisa terjadi dimana saja, tak terkecuali di pesawat. Seperti yang dialami pramugari Pan American World Airways atau bisa disebut Pan Am, Jocelyne, dengan anggota Badan Intelijen Nasional Amerika Serikat (CIA), Tyler Harding.

Baca juga: Romantis Berujung Pahit, Pramugari China Eastern Airlines Justru Dipecat Setelah Dilamar di Udara

Dilansir CNN International, kisah cinta keduanya terjadi pada tahun 1970 silam. Saat itu, kekhawatiran adanya pembajakan pesawat pasca peristiwa 6 September 1970, dimana tiga pesawat komersial dibajak dan diarahkan ke Amerika Serikat (AS) sekalipun akhirnya gagal, membuat program keamanan udara kembali digalakkan.

Program tersebut mengatur adanya petugas keamanan (Air Marshall), entah itu dari FBI ataupun CIA, minimal dua orang di setiap perjalanan pesawat.

Jocelyne saat masih muda dan menjadi pramugari aktif Pan Am. Foto: Jocelyne Harding

Tibalah saat dimana Jocelyne dan Tyler ditugaskan di penerbangan yang sama. Sayangnya, first impression keduanya tidak begitu mulus. Betapa tidak, saat penumpang dan kru sudah siap terbang, Tyler justru datang terlambat. Hal itu membuat Jocelyne, yang saat itu menjabat sebagai purser, kesal bukan kepalang. Tak ayal, begitu Tyler tiba, ia memasang wajah masam.

Di awal perjalanan dari Paris ke Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), Jocelyne masih begitu kesal untuk melayani Tyler sebagaimana penumpang pada umumnya. Tetapi, sikap genit Tyler rupanya membuat pramugari berusia 23 tahun itu kepincut.

Terlebih, ketika melihat Tyler yang mengenakan setelan jas dari dekat, ia baru menyadari betapa gagah, rapi, ganteng, dan manisnya Tyler. Alhasil, ia pun jadi canggung dibuatnya.

Ketika itu, ia sama sekali belum berpikir bahwa ia akan berpacaran bahkan menikah dengannya. Selain Tyler begitu tampan, pramugari lain -utamanya pramugari dari Swedia- banyak yang lebih cantik dan cerdas dibanding dirinya. Jika ia bersaing dengan mereka untuk mendapatkan Tyler, sudah pasti kalah telak.

Kartu tanda pramugari Jocelyne. Foto: Jocelyne Harding

“Saya bekerja dengan beberapa gadis Swedia dan gadis-gadis Swedia benar-benar menakjubkan. Saya bahkan tidak berpikir untuk bersaing dengan mereka,” jelasnya, merendah.

Seiring berjalannya waktu, Jocelyne mulai tergoda untuk mengenal Tyler lebih jauh, berubah dari stigma awal dimana Tyler hanya ingin kenal lebih dekat dengan pramugari lain melalui dirinya. Sebab itu ia terus menerus menggodanya.

Puncak rasa penasaran pramugari berdarah Perancis-Kanada itu terjadi usai penumpang dan Tyler menyantap hidangan. Ketika itu, Jocelyne berjalan melewati lorong dan melirik Tyler dan berkata di dalam hatinya, “Seperti apa ya kalau saya menikah dengannya.” Namun, ia langsung mengubur impian itu dalam-dalam karena ia belum mengenalnya lebih jauh.

Jocelyne dan Tyler kini sudah behagia bersama tiga anak dan lima cucu serta menetap di AS. Foto: Jocelyne Harding

Kisah cinta antara pramugari Pan Am dan anggota CIA pun akhirnya dimulai ketika Jocelyne menuangkan kopi untuk Tyler. Tetapi, pesona Tyler di balik mata birunya membuat Jocelyne hilang kesadaran dan tanpa sengaja menumpahkan kopi ke pakaian Tyler.

Baca juga: Cinta Bersemi di Udara, Pramugari dan Pilot Saling Mengerti Pekerjaan Masing-masing

Anggota CIA asal Alexandria, Virginia, AS, itu pun mengajak Jocelyne berkencan sebagai syarat permohonan maaf. Jocelyne tak mengiyakan, tetapi raut wajah dan sinar matanya tidak bisa bohong.

Sampai di sini, sebetulnya Jocelyne belum mengetahui bahwa Tyler merupakan anggota CIA. Ia baru mengetahui fakta itu ketika Tyler mengajaknya menikah di suatu malam. Saat ini, pasangan tersebut tinggal di AS dan telah bahagia dengan tiga anak dan lima cucu.

Usai Flight to Nowhere, Qantas Luncurkan “Flight Mystery,” Apa Itu?

Setelah sukses jalankan penerbangan tanpa tujuan atau flight to nowhere, Qantas belum lama ini meluncurkan flight mystery atau penerbangan misterius. Sebagaimana namanya, flight mystery ialah penerbangan yang merahasiakan tempat tujuan. Tak hanya itu, setibanya di lokasi tujuan, Qantas juga mengatur agenda penumpang sampai kembali ke bandara semula. Mirip seperti paket tour, bukan?

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

“Pelanggan kami memberi tahu kami bahwa ke mana mereka boleh dan tidak bisa melakukan perjalanan di Australia telah menjadi misteri akhir-akhir ini,” kata Chief Customer Officer (CCO) Qantas, Stephanie Tully.

“Selain membantu membawa lebih banyak orang kembali bekerja, penerbangan misterius ini adalah cara lain untuk mendukung operator pariwisata di wilayah regional khususnya, yang sangat terpukul oleh beberapa gelombang pembatasan perjalanan,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Penerbangan misterius Qantas nantinya akan tersedia di tiga kota, Sydney, Brisbane, dan Melbourne. Brisbane akan memulai keberangkatan penerbangan misterius terlebih dahulu pada tanggal 27 Maret, disusul Sydney pada 18 April, dan Melbourne pada hari Sabtu, 1 Mei 2021. Seluruhnya menggunakan pesawat Boeing 737-800.

Meski tak memberi tahu tujuan penerbangan misteri ini, tetap Qantas memberi tahu kluenya ke para penumpang; seperti informasi untuk membawa sandal jepit, pakaian ganti, dan lain sebagainya. Maskapai nasional Australia itu juga memberi klue lain dimana penerbangan dari masing-masing kota menuju ke sebuah tempat sejauh dua jam perjalanan.

Alih-alih mendapat petunjuk yang mengarah ke tempat dimana penerbangan misterius Qantas menuju, calon penumpang malah dibuat makin penasaran. Secara teori, penerbangan dua jam dari kota masing-masing mungkin akan mengarah ke sedikit tempat.

Selain itu, Qantas juga memberikan klue bahwa mereka akan mengajak penumpang menuju daerah tropis, erat dengan air asin, dan makan siang di sepanjang pantai. Itu berarti, menurut calon penumpang, beberapa tempat seperti Cairns, Noosa, dan Hamilton Island adalah tujuannya.

Untuk keberangkatan dari Brisbane, penerbangan dua jam akan mengarah ke suatu tempat bernuansa pedesaan, makanan dan wine rumahan, dan alam terbuka yang menyenangkan. Klue tersebut setidaknya mengantarkan calon penumpang pada pedalaman Queensland, New South Wales, Mildura, dan Griffith.

Sedangkan keberangkatan dari Melbourne, Qantas menyebut penumpang akan dibawa ke alam bebas yang menakjubkan, harus berjalan kaki menuju lokasi, makanan dan wine rumahan, serta pasar tani yang seluruhnya fresh alias baru dipanen dari para petani lokal. Klue itu setidaknya mengantarkan netizen terbayang ke Hobart dan Salamanca.

Baca juga: Korean Air Batalkan Program Flight to Nowhere, Gegara Covid-19?

Selama di lokasi tujuan, Qantas mengatur seluruh aktivitas penumpang sampai kembali ke bandara untuk penerbangan pulang menuju kota keberangkatan awal. Seluruh aktivitas tersebut, termasuk makan, minum, dan games, sudah include tiket.

Harga tiketnya sendiri dibanderol AU$737 atau sekitar Rp8,2 juta (kurs 11.075) untuk kursi kelas ekonomi dan AU$1579 atau sekitar 17,5 juta (kurs 11.075). Seluruh tiket mulai dijual pada 4 Maret mendatang. Tertarik mencoba?

Inilah Six Pack, Enam Instrumen Dasar Penerbangan, Pilot Pemula Wajib Tau!

Pilot wannabe tentu sudah terbayang bahwa ada begitu banyak panel di kokpit yang terbagi ke dalam dua instrumen, yaitu flight instrument (instrumen penerbangan) dan flight control (kontrol penerbangan). Masing-masing dari dua itu tentu fungsinya cukup krusial terhadap keselamatan penerbangan.

Baca juga: 5 Kesalahan Populer Pilot Pemula Saat Taxi, Nomor Tiga Butuh Insting Tajam

Di antara banyak instrumen, dalam hal ini instrumen penerbangan, setidaknya, ada enam instrumen penerbangan dasar atau biasa disebut ‘six pack’ yang harus dikuasai pilot pemula dan tentu saja pilot senior.

Meski pesawat modern sudah menggunakan glass cockpit atau electronic cockpit, yaitu kokpit yang instrumen-instrumennya berupa layar monitor yang menampilkan berbagai informasi secara terkomputerisasi, tetapi bukan berarti pilot wannabe melupakan ‘six pack’ bukan? Dikutip dari aviatorshq.com, berikut enam instrumen dasar penerbangan.

1. Altimeter

Altimeter adalah suatu instrumen yang dipakai untuk mengetahui ketinggian pesawat terhadap suatu landasan atau tinggi pesawat terhadap permukaan laut.

Altimeter atau pengukur tinggi yang kita bicarakan dikenal dengan nama barometer altimeter atau pressure altimeter. Pressure altimeter sebetulnya adalah sebuah barometer atau pengukur tekanan atau pengukur perbedaan tekanan yang hasil pengukurannya dinyatakan dalam satuan panjang bukan dalam satuan tekanan (feet).

Untuk dapat menggunakan altimeter dengan baik adalah penting untuk mengetahui prinsip bekerjanya dan efek dari pada tekanan barometrik pada altimeter.

2. Indikator Kecepatan Udara (Pitot Static System)

Airspeed Indicator atau Indikator Kecepatan data mungkin tak asing bagi avgeek di Indonesia. Sebab, ini kerap dihubungkan dengan penyebab kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX Lion Air JT610.

Indikator kecepatan sendiri adalah bagian dari sistem instrumen pitot-static. Tabung pitot adalah alat pengukur tekanan pada aliran fluida untuk menentukan kecepatan dari pesawat udara serta kecepatan udara dan gas.

Tabung ini merekam tekanan pada sayap dan permukaan bagian depan pesawat. Data ini kemudian dibandingkan dengan data tekanan yang didapat dari static-port pada bagian lain pesawat.

3. Indikator Kecepatan Vertikal (Sistem Statis Pitot)

Vertical Speed Indicator atau Indikator Kecepatan Vertikal Instrumen ini menampilkan kecepatan pendakian/penurunan pesawat setiap waktu (dinyatakan dalam feet/minute). Jika bernilai positif, artinya pesawat sedang melakukan pendakian (climbing), sebaliknya jika negatif artinya pesawat sedang menurun (descending).

4. Attitude Indicator

Attitude Indicator atau biasa juga dikenal sebagai Gyro Horizon atau Artificial Horizon adalah instrumen yang berfungsi untuk menunjukkan letak pesawat terhadap garis horison. Instrumen ini dapat memberi informasi ketinggian nose pesawat terhadap garis horison saat sedang mengudara sehingga dapat menghindari peristiwa stall akibat nose yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Baca juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

5. Heading Indicator (Gyroscopic System)

Heading Indicator atau Giro Direksi merupakan instrumen yang menunjukkan heading dari pesawat relatif terhadap arah utara berdasarkan letak geografis dari bumi. Instrumen ini dikalibrasi berdasarkan arah utara kutub magnet bumi (dari Magnetic Compass) untuk meningkatkan kepresisian penunjukan arah.

Pada pesawat-pesawat jet saat ini, Heading Indicator digantikan oleh HSI (Horizontal Situation Indicator) yang selain menampilkan informasi heading juga menampilkan informasi navigasi (VOR/ILS).

6. Turn Indicator (Gyroscopic System)

Turn Indicator menampilkan pergerakan aileron dan rudder yang digunakan untuk membelokkan pesawat.

Boeing 727 Bekas Japan Airlines Tiba, Realisasi Kantor ‘Terbang’ di Inggris Makin Dekat

Pada November tahun lalu, dunia terkejut dengan rencana gila pengusaha asal Bristol, Inggris, Johnny Palmer, untuk membuat kantor ‘terbang’ dari bekas pesawat Japan Airlines. Kini, setelah beberapa bulan berproses, rencana tersebut kian terang. Terlebih, usai pesawat itu tiba di Bristol.

Baca juga: Boeing 727 Bekas Japan Airlines Ingin Disulap Jadi Kantor ‘Terbang’

Pesawat trijet itu sebelumnya dibiarkan mangkrak di Bandara Cotswold, Gloucestershire, sebelah Barat London, Inggris. Usai bertahun-tahun mangkrak, pesawat yang dikenal sebagai PYTCHAir itu akhirnya menemui rumah baru di kawasan industri Bristol.

Memindahkan pesawat dengan panjang hampir 33 meter dan berat sekitar 40 ribu kg tentu bukan perkara mudah. Kendati menempuh perjalanan tak terlalu jauh, nyatanya truk pengangkut pesawat itu beberapa kali kesulitan dan tak jarang membentur sesuatu. Sudah begitu, jalanan harus diblokir dan dikawal kepolisian setempat. Kadang kala, truk juga harus beberapa kali mengalah dan membiarkan ambulans lewat selama perjalanan.

“Membawa PYTCHAir ke Bristol merupakan tantangan besar dan ada beberapa momen yang sulit! Seperti ketika polisi menolak kami untuk menggunakan rute yang direncanakan, ketika itu tergores di bawah jembatan jalan raya, dan ketika layanan darurat (ambulans) harus melewati kami,” kata Johnny Palmer, seperti dikutip dari Simple Flying.

Penampakan kantor ‘terbang’ Boeing 727 bekas Japan Airlines sebelum benar-benar resmi menjadi kantor ‘terbang’ pada Maret mendatang. Foto: Johnny Palmer | PYTCH

Sepanjang perjalanan, dari mulai di bandara sampai di Bristol, tak terhitung berapa banyak pasang mata yang terpana dengan pemandangan burung besi di atas truk tersebut. Pun demikian ketika pesawat diturunkan.

Pesawat itu nantinya akan dimodifikasi dan digabungkan dengan kontainer untuk membentuk kantor dengan konsep shipping cointainer architecture atau bangunan yang menggunakan kotak bekas kontainer atau kargo sebagai material utamanya.

Paduan Boeing 727 bekas dengan kontainer pun dilengkapi dengan mural atau lukisan awal sebagai latar belakang dan membuatnya tampak terlihat terbang. Itulah mengapa pesawat itu kerap disebut sebagai kantor ‘terbang’.

Disebutkan, tak semua bagian pesawat dipertahankan. Sayap dan mesin dibuang agar membuat harga beli pesawat bekas itu jadi lebih murah. Adapun sisanya dipadupadankan dengan kontainer dan equipment lainnya. Nantinya, bangunan baru dari perpaduan itu akan dijadikan beragam fungsi, seperti kantor, tempat makan malam private, kantor, hingga event space atau ruang serbaguna untuk berbagai kegiatan.

Baca juga: Dijual! Rumah Lengkap Dengan Bandara Plus Dua Antonov An-2

Bila tak ada aral melintang, proyek menyulap pesawat mangkrak menjadi venue keren multifungsi itu selesai dikerjakan pada Maret 2021 mendatang.

Modifikasi pesawat tentu bukan pertama kali dilakukan di dunia. Sebelumnya, di Swedia, Boeing 747 pernah dijadikan hotel dan yang terbaru, pesawat Airbus A330 bekas Thai Airways disulap jadi Kedai Kopi Perang di Thailand. Tetapi, modifikasi pesawat Boeing 727 menjadi kantor ‘terbang’ dan studio virtual adalah pertama kalinya dilakukan di Eropa.

Kapal Ferry Berbahan Aluminium Berkecepatan Tinggi Buatan Filipina Tiba di Norwegia

Belum lama ini, Hull 419 telah berhasil dikirimkan oleh Austal Filipina ke Fjord Line of Norway. Ini adalah kapal ferry katamaran berkecepatan tinggi dengan panjang 109 meter dan memiliki dua dek untuk kendaraan.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Ferry katamaran tersebut dinamakan FSTR karena ini merupakan sebuah kapal aluminium terbesar yang pernah dibuat di Filipina. Bahkan ini juga menjadi kapal ferry terbesar berdasarkan volume yang akan dibangun oleh Autsal di salah satu galangan kapalnya di seluruh dunia.

KabarPenumpang.com melansir dari laman marinelog.com (2/3/2021), kapal ferry ini nantinya bisa mengangkut penumpang sekitar 1.200 orang dengan kecepatan hingga 40 knot. Selain itu dengan panjang 109 meter dan lebar 30,5 meter FSTR mampu mengangkut sekitar 404 mobil untuk dibawa pada dua dek kapal tersebut.

Uniknya, kapal ini memiliki beberapa inovasi desain utama yang mampu meningkatkan kinerja operasi dan kenyamanan penumpang. Salah satunya adalah bentuk lambung baru yang dioptimalkan akan meminimalkan konsumsi bahan bakar dan wake wash saat beroperasi di Laut Skagerrak antara Hirtshals di Denmark dan Kristiansand di Norwegia.

Pada penyerahan kapal yang diadakan di galangan kapal Balamban Cebu, Presiden Austal Filipina Wayne Murray mengatakan pengiriman FSTR hanyalah yang pertama dari tiga ferry berkecepatan tinggi besar yang akan dibangun di galangan kapal perusahaan yang baru diperluas.

“Dengan pengiriman FSTR, kami sekarang mempersiapkan peluncuran Hull 395, Bañaderos Express; sebuah kapal ferry trimaran 118 meter sedang dibangun untuk Fred. Olsen Express dari Kepulauan Canary. Mengikuti dari belakang itu, kami memiliki 115 meter Express 5 yang sedang dibangun untuk Molslinjen dari Denmark,” kata Murray.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

“Kami baru saja mengirimkan ferry berkecepatan tinggi terbesar yang pernah dibuat di Filipina dan sebenarnya, ferry berkecepatan tinggi terbesar yang dibangun oleh galangan kapal Austal mana pun, di mana pun di dunia. Dan segera, kami akan melakukannya lagi, saat kami menyelesaikan Express 5 untuk Molslinjen. Kami memang pembuat rekor dan pemecah rekor galangan kapal,” tambahnya.

Tiga Alasan Mengapa India Tidak Cocok Bagi Maskapai Full Service

Dari tiga jenis maskapai penerbangan, yaitu full service, medium service, dan no frills atau low cost carrier (LCC), maskapai-maskapai full service diakui banyak pihak cenderung sulit bersaing di pasar India. Sebaliknya, maskapai LCC dan regional terus berjaya selama bertahun-tahun.

Baca juga: Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows”

Data pada Desember 2019, sebelum pandemi virus Corona menghancurkan industri penerbangan, misalnya, menunjukkan maskapai LCC SpiceJet berhasil membukukan load factor tertinggi di Negeri Zamrud Khatulistiwa, sebesar 92,7 persen dan maskapai LCC lainnya IndiGo berada di posisi kedua, merengkuh load factor 91,5 persen. Bisa dibilang, hampir sepanjang tahun penerbangan selalu disesaki penumpang.

Bandingkan dengan dua maskapai full service di India, Vistara dan Air India. Vistara tercatat hanya membukukan load factor sebesar 81,1 persen dan maskapai nasional India, Air India sebesar 80,8 persen. Masih cukup tinggi memang, namun trennya terus menurun.

Dilansir Simple Flying, setidaknya ada tiga faktor yang mendorong terjadinya hal ini. Agar lebih lebih lengkap, berikut tiga alasan mengapa India tak cocok bagi maskapai full service.

1. Sensitif dengan harga

Layakanya di Indonesia, masyarakat di India juga sensitif dengan harga dibanding layanan. Singkatnya, masyarakat di sana menginginkan layanan bagus tapi murah. Bila tak dapat keduanya, harga murah lebih penting ketimbang layanan bagus. Perbedaan harga sekecil apapun pasti akan mempengaruhi pilihan penumpang terhadap maskapai.

Melengkapi hal itu, para penumpang pesawat di India juga disebut tak terlalu royal dengan satu maskapai. Selama maskapai tersebut terus menawarkan harga murah, ia akan selalu diburu, bahkan ketika maskapai murah tersebut memberikan layanan yang tak terlalu memuaskan.

Saat itu terjadi (layanan tak memuaskan), mungkin, sesaat maskapai akan ditinggalkan penumpang. Setelah itu, penumpang akan kembali dan menikmati harga murah ketimbang layanan memuaskan.

2. Regulasi tak mendukung

Regulasi menjadi syarat mutlak untuk maskapai penerbangan bertahan di industri yang cukup dinamis ini. Sayangnya, regulasi industri penerbangan di India tidak terlalu mendukung.

Dari segi perpajakan, pajak tinggi terhadap suku cadang dan lain sebagainya menjadikan maskapai terus tertekan. Pajak tinggi juga dilengkapi dengan tingginya harga avtur. Menurut The Economic, avtur dan pajak tinggi di India menyumbang sepertiga harga tiket atau dua kali lipat lebih tinggi dari standar global yang hanya sebesar 12-16 persen.

Baca juga: Heboh Maskapai Indonesia Diminta Tutup Fasilitas Toilet di Pesawat, Ternyata di India Sudah Duluan

Selain itu, kebijakan India’s open skies agreement yang tidak dibarengi dengan langkah penyelamatan maskapai dalam negeri juga membuat maskapai full service sulit. Kebijakan itu mengizinkan maskapai asing dari Timur Tengah untuk melayani lebih banyak penerbangan dari dan ke India.

3. Persaingan ketat

Perang tarif di India membuat maskapai saling berusaha menawarkan harga tiket termurah. Saat itu terjadi, kenaikan harga tiket sekecil apapun pasti akan ditinggal penumpang. Pun demikian dengan maskapai yang sejak awal memasang harga tinggi, sudah pasti akan ditinggalkan, kecuali oleh para pebisnis untuk rute-rute internasional jarak jauh, yang tak bisa dijangkau oleh maskapai LCC yang rute internasionalnya hanya sampai ke Timur Tengah dan Asia Timur.

Gegara Bayi Tak Gunakan Masker, Semua Penumpang Maskapai ini Batal Berangkat

Sebuah kekacauan terjadi di Bandara Internasional Miami karena Frontier Airlines membatalkan penerbangannya menuju Bandara LaGuardia pukul 19.00 waktu setempat. Pembatalan tersebut terjadi setelah sekelompok besar penumpang menolak untuk menggunakan masker.

Baca juga: Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Tetapi saksi mata mengatakan bahwa satu keluarga yang menggunakan masker dan bayi berusia 18 tanpa masker untuk meninggalkan pesawat. Keributan awalnya terjadi di dalam kabin pesawat Frontier Airlines F92878 dengan tujuan LaGuardia dari Miami.

KabarPenumpang.com melansir nypost.com (1/3/2021), keributan tersebut kemudian memaksa semua penumpang untuk turun dari pesawat dan menjadwal ulang penerbangan mereka keesokan harinya.

“Beberapa orang, termasuk beberapa orang dewasa, diminta berulang kali untuk memakai masker mereka dan menolak untuk melakukannya. Berdasarkan penolakan terus menerus untuk mematuhi mandat topeng federal, penolakan untuk turun dari pesawat dan agresi terhadap awak pesawat, penegakan hukum setempat dilibatkan,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Namun seorang penumpang bernama Hershey Greenbaum mengatakan, bahwa bayi 18 bulan tersebut menjadi alasan pemindahan keluarga itu.

“Kami semua berada di pesawat ketika mereka [pramugari] datang dan melihat bayi berusia 18 bulan tanpa masker,” kata Greenbaum.

Dalam rekaman video kejadian tersebut, sang ayah terlihat menjelaskan bahwa anak tersebut berusia di bawah dua tahun. Greenbaum mengatakan penumpang lain datang untuk membela keluarga dan menjadi “gaduh” saat mereka di-boot. Orang tua bayi itu memberi tahu petugas bahwa mereka akan mencoba memasang penutup pada bayi, menurut Greenbaum, tetapi itu tidak menghentikan mereka untuk mengambil tindakan.

“Semua orang di pesawat menjadi sangat marah dan gaduh karena, apa yang akan kamu lakukan? Itu adalah bayi berusia 18 bulan. Kebanyakan dari mereka mengatakan ‘Jangan biarkan mereka melakukan ini padamu. Sebagian besar orang menentangnya, Yahudi atau bukan Yahudi, mengapa Anda memilih anak berusia 18 bulan?,” kata Greenbaum.

Frontier Airlines mengatakan untuk masalah ini tidak berasal dari seorang anak di bawah usia dua tahun. Meski begitu seorang penumpang yang merekam kejadian tersebut membagikannya di Twitter.

“Apa yang kamu capai?” kata satu orang.

“Anda akan membayar konsekuensinya,” terdengar penumpang lain berkata.

Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

“Ini Nazi Jerman,” teriak orang ketiga.

Greenbaum mengatakan sekitar 15 petugas polisi menanggapi insiden tersebut. Penumpang dilaporkan melanjutkan perjalanan mereka dengan maskapai alternatif.

Gegara Banyak Penumpang Batuk Mendadak Jelang Pesawat Lepas Landas, Penerbangan Ditunda

Wabah virus Corona telah menjangkiti lebih dari 115 juta warga dunia, dimana 2,5 juta di antaranya meninggal. Setelah setahun lebih mengancam nyawa miliaran orang di seantero bumi, Covid-19 belum juga mereda. Malah makin mengganas.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Tak ayal, banyak orang masih sangat khawatir kapanpun dan dimanapun; tak terkecuali di pesawat. Terlebih, ketika secara tiba-tiba penumpang pesawat batuk-batuk dan mengalami sesak napas yang dikhawatirkan disebabkan akibat virus Corona. Seperti yang terjadi baru-baru ini.

Dilansir radio.com, sebuah penerbangan United Airlines dari Fort Myers, Florida ke Newark, New Jersey belum lama ini terpaksa ditunda lantaran penumpang tiba-tiba mengalami batuk-batuk jelang pesawat lepas landas. Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga mengaku sesak napas, mirip gejala pasien positif Covid-19.

Tak ayal, melihat kejadian itu, pramugari pun mengabarkan ke pilot hingga akhirnya diputuskan untuk kembali ke apron dan seluruh penumpang diturunkan.

Beruntung, alih-alih penumpang serempak mendadak batuk-batuk dikarenakan virus Corona, ternyata itu terjadi akibat pepper spray atau semprotan merica yang secara tak sengaja disemprot oleh salah satu penumpang.

Peristiwa bermula saat penumpang tersebut duduk manis di bangku depan tak jauh dari pintu keluar. Saat pesawat taxiing, entah apa yang dilakukan, ia tanpa sengaja menyemprotkan pepper spray ke udara. “Oh, saya tidak sengaja menekan semprotan ini di gantungan kunci saya,” kata penumpang tersebut.

Sejurus kemudian, banyak penumpang dalam pesawat dengan nomor penerbangan 1061 tersebut batuk-batuk dan merasa tenggorokannya panas. Tak sedikit dari mereka yang mengidap asma juga merasa sesak napas.

Atas kejadian ini, Administrasi Keselamatan Transportasi (TSA) mengaku kecolongan membiarkan masuk semprotan merica ke dalam pesawat. Setelah ini, agensi itu mengaku akan menggembleng petugas untuk lebih selektif memeriksa barang-barang terlarang yang tidak disembunyikan ataupun disembunyikan penumpang.

Sementara itu, pihak United Airlines mengaku, penumpang yang mengalami batuk-batuk, tenggorakan panas, dan sesak napas, diberi pilihan untuk tetap ikut penerbangan 1061 atau beralih ke penerbangan selanjutnya dengan konsekuensi harus menunggu beberapa waktu.

Adapun penerbangan 1061, disebutkan, tak lama setelah penumpang turun dan diberi pilihan, pesawat berhasil diberangkatkan.

Baca juga:Pilu! Inilah Curhatan Savannah Phillips, Penumpang Pesawat yang di Bully Karena Tubuhnya

Semprotan merica atau pepper spray sendiri termasuk ke dalam jenis gas air mata atau lachrymatory agent. Senyawa kimia yang terkandung pada lachrymatory agent dapat menyebabkan air mata keluar dan rasa sakit pada mata.

Selain itu, semprotan yang diciptakan pada akhir tahun 1970-an oleh kepolisian Amerika itu juga mengandung capsaicin, yang secara alami ditemukan pada cabai dan bertanggung jawab atas rasa pedas khas yang timbul ketika kita memakan cabai. Itulah mengapa, ketika pepper spray disemprot ke udara, butir-butir halus yang tersebar membuat mata perih seperti medidih, sesak napas, tenggorokan pedas, batuk-batuk, dan lain sebagainya.