Japan Rail Cafe di Singapura Kolaborasi Menu Makanan dengan Japan Airlines

Makanan maskapai merambah restoran? Sepertinya bukan hal baru, karena beberapa waktu lalu, AirAsia juga membuka restoran di Malaysia dan menjual makanan yang mereka jual di dalam kabin. Kali ini Japan Airlines (JAL) menghadirkan makanan dalam penerbangan mereka di sebuah cafe di Singapura.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Ya, tepatnya pada 29 Desember 2020, Japan Rail Cafe di Singapura mengumumkan kolaborasinya dengan JAL. Di mana makanan dalam penerbangan dipilih untuk dijual di kafe. Kafe yang juga memiliki gerai di Taipei dan Tokyo ini dikenal sebagai kafe bertema perjalanan di dunia.

JAL kolaborasi dengan Japan Rail Cafe Singapura (mothership.sg)

Kafe ini dibuat tidak seperti kabin pesawat tetapi dihiasi dengan stiker dan papan nama yang mengingatkan pada rel kereta api Jepang. Makanannya pun fokus pada makan Jepang dan minumannya ada sake hingga matcha latte.

Nah untuk bulan Januari, restoran ini akan menyajikan sesuatu untuk avgeeks mulai 2-31 Januari 2021 karena kolaborai kafe ini dengan JAL. Di mana makanan akan disiapkan oleh SATS yang merupakan perusahaan katering dalam penerbangan JAL di Singapura.

KabarPenumpang.com melansir mothership.sg (5/8/2020), akan ada 600 makanan yang akan tersedia sepanjang bulan dan bila dirata-rata sekitar 20 makanan per hari. Penasaran menu seperti apa saja? Menu yang akan disajikan seperti Chicken Takiawase Tamago (S$23) atau Salmon Miso Yaki (S$25).

Setiap protein disajikan dengan jamur shiitake, kacang hijau, paprika merah dan tamago parut di atas nasi Jepang. Selain itu ada Zaru Udon yang merupakan hidangan udon dingin, disajikan dengan wasabi dan saus celup soba, sangat enak, bahkan untuk seseorang yang tidak biasa mengonsumsi wasabi.

Adapula Kobachi yang secara harfiah diterjemahkan menjadi “mangkuk kecil”, dan mengacu pada lauk bayam, jagung dan jamur shimeji dalam kaldu gurih. Itu adalah iringan yang menyenangkan. Biasanya semua ini datang dengan pendamping, makanan penutup dan kopi atau teh.

Tidak hanya makanan dalam pesawat Japan Airlines, tetapi Anda juga dapat membeli beberapa suvenir Japan Airlines, termasuk pemegang sumpit Japan Airlines. Pada akhir pekan bahkan akan ada pramugari Japan Airlines yang berbasis di Singapura memperagakan pembungkus kado furoshiki dan seni origami.

Baca juga: TajSat, Katering Penerbangan Terbesar India Layani Pemesanan Makanan Antar ke Rumah

Intinya pada bulan Januari Japan Airlines akan bekerja sama dengan Japan Rail Cafe Singapura untuk menyajikan makanan dalam pesawat, menjual memorabilia maskapai dan meminta pramugari untuk berinteraksi dengan para tamu.

Lagi, Penumpang Disengat Kalajengking di Dalam Penerbangan

Seorang penumpang pesawat disengat kalajengking saat berada dalam penerbangan dari Campinas ke Fortaleza. Penumpang tersebut berada dalam penerbangan 9185 milik maskapai Brasil GOL. Insiden tersebut berawal ketika penumpang merasakan ada yang jatuh di bahunya.

Baca juga: Duh! Penumpang Air Transat Tersengat Kalajengking Ketika Mengudara

Karena merasa risih, dia akan menepis menggunakan tangan tanpa berpikir apapun. Namun, penumpang yang tak disebutkan namanya itu merasakan sengatan di jari tangan kirinya dan ketika menunduk dia menemukan seekor kalajengking.

Dilansir KabarPenumpang.com dari independent.co.uk (14/8/2020), karena hal ini kemudian dirinya dirawat oleh awak kabin sebelum ditangani oleh tim medis saat pesawat mendarat di tujuan. “Penumpang tersebut dirawat oleh tim medis setelah mendarat di bandara di Fortaleza dan dibebaskan tanpa menunjukkan gejala,” kata juru bicara GOL.

Adanya insiden tersebut, maskapai mengatakan, bahwa pesawat tersebut telah difumigasi secara menyeluruh dan penumpang disarankan tidak membuka tempat sampah sampai pesawat mendarat. Maskapai tersebut juga menunjukkan bahwa pihaknya telah melakukan penguatan fumigasi pesawat dan memiliki prosedur yang ketat untuk pembersihan dan sanitasi pesawatnya.

“GOL Linhas Aereas menyesali apa yang terjadi dan menginformasikan bahwa klien telah menghubungi untuk menawarkan semua dukungan yang diperlukan,” ujar juru bicara.

Nyatanya masalah ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada 2017 lalu, seorang penumpang dalam penerbangan menuju ke Chicago tersengat kalajengking. Insiden ini terjadi dalam pesawat AeroMexico dengan nomor penerbangan 628 dari Mexico City menuju ke Chicago.

Penumpang berusia 32 tahun tersebut tersengat di tepat di siku sebelah kanan dan awak pesawat menghubungi bandar Chicago untuk penanganan darurat tersebut. Untuk diketahui penumpang itu tersengat kalajengking selama dua jam sebelum pesawat tiba di Chicago.

Selain itu ada pula hewan merayap yang menyeramkan menyebabkan masalah dalam penerbangan. Pada Februari 2019, seorang penumpang dalam penerbangan menuju Mumbai dari Bhopal menemukan kecoa besar saat sarapan. Rohit Raj Singh Chauhan mengatakan dia menemukan penyusup di sambhar, sup sayur berbahan lentil, selama penerbangan AI-634 pada 2 Februari.

“Saya memberi tahu awak Air India, tetapi mereka mengabaikan saya. Karena anggota kru tidak mendengarkan, saya mengembalikannya kepada mereka. Saya bahkan keberatan dengan makanan mereka yang disajikan kepada orang lain, tetapi tidak berhasil,” katanya.

Terlepas dari tanggapan awal dari awak, maskapai tersebut telah meminta maaf atas insiden tersebut, mengeluarkan pernyataan di media sosial.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas insiden di mana penumpang kami yang berharga mengalami pengalaman yang mengecewakan dengan makanan yang disajikan di dalam pesawat Bhopal-Mumbai kami,” katanya.

Baca juga: Tersengat Kalajengking Dua Jam, Penumpang Ini Dalam Kondisi Stabil

“Air India selalu berupaya untuk memastikan penumpang kami menikmati layanan kami. Kami telah mencatat kejadian tersebut dengan serius dan segera mengeluarkan pemberitahuan yang kuat kepada katering terkait.”

Koper Bekas Badan Pesawat Boeing 747 Dijual Rp38 Juta! Berminat? Cuma Ada 150 di Dunia

Koper, sudah pasti jadi salah satu hal yang sudah pasti dibutuhkan penumpang pesawat. Sebagaimana tas, sepatu, dan berbagai perlengkapan lainnya, koper juga dibuat sedemikian rupa hingga tampak mewah dan tentu saja, mahal; seperti koper yang satu ini, BOAC Speedbird.

Baca juga: Tertabrak Koper dan Meninggal, Dua Minggu Kemudian Keluarga di Cina Tuntut 620 Ribu Yuan

Koper paling mahal hasil kolaborasi British Airways dan Globe-Trotter ini memang bukan sembarang koper, melainkan terbuat dari lencana Gold Speedbird yang dilukis dengan tangan serta bagian dari salah satu pesawat paling legendaris di dunia, Boeing 747 peninggalan BOAC yang kini dikenal sebagaiBritish Airways.

Tak cukup sampai di situ, koper ini juga dijual terbatas dan hanya ada 150 di dunia. Tak ayal, koper tersebut dibanderol dengan harga awal yang sangat fantastis, mencapai £2.000 atau sekitar Rp38 juta (kurs 19.254).

Dari 150 koper yang dibuat, dua di antaranya akan dilelang dalam sebuah acara amal Flying Start, besutan British Airways dan Comic Relief, untuk membantu anak muda di Inggris yang hidupnya kurang beruntung. Lelang ini juga dimaksudkan sebagai ajang peluncuran resmi koper mewah besutan kedua perusahaan.

Kemawahan dua koper mewah yang bakal dilelang itu juga dilengkapi dengan statusnya sebagai satu-satunya penumpang Boeing 747 British Airways yang menjalani penerbangan terakhir pada 11 Desember 2020 lalu.

Tampak dalam koper BOAC Speedbird, koper seharga Rp38 juta. Foto: British Airways

Untuk dua koper yang dilelang, harganya juga dibuka mulai dari Rp38 juta. Bila harga awalnya saja segitu, besar kemungkinan koper ini akan sampai ke tangan para pembeli dengan harga selangit dan tidak menutup kemungkinan bakal menjadi koper termahal di dunia.

Sebagai informasi, rekor koper termahal di dunia saat ini dipegang oleh koper buatan Globe-Trotter saat meluncurkan koper edisi terbatas sebagai salah satu ajang promosi peluncuran film Skyfall. Koper yang digunakan karakter James Bond agen intelijen 007 Inggris dalam film rilisan tahun 2012 itu dijual seharga US$12.800 atau sekitar Rp180 jutaan (kurs 14.042).

Hamish McVey, Kepala Merek dan Pemasaran British Airways, mengatakan, “Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Globe-Trotter untuk menciptakan produk yang sangat istimewa ini, dan melalui lelang unik ini mengumpulkan uang untuk proyek-proyek penting Comic Relief di Inggris dan luar negeri,” dikutip dari tatler.com.

BOAC Speedbird, koper seharga Rp38 juta. Foto: British Airways

“Meski ini adalah waktu yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal pada ‘Queen of the Skies’ kita, peluncuran koper jinjing yang terinspirasi BOAC memberikan kesempatan sempurna bagi seseorang untuk merayakan era perjalanan udara global yang telah berlalu dan memiliki sebagian dari sejarah kita,” ungkapnya.

Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

British Airways menghentikan operasional pesawat Boeing 747 yang “haus bahan bakar” lebih awal dari yang direncanakan karena pandemi Covid-19. Ada 31 pesawat Boeing 747 di armada British Airways, yang semuanya menerbangkan layanan komersial terakhir mereka selama musim panas.

Pesawat terakhir meninggalkan armada awal tahun ini, meski ada rencana salah satu pesawat akan dibuka untuk umum pada musim semi tahun depan, sementara pesawat lain akan semata dipamerkan dalam eksibisi.

Inilah Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142, Pesawat dengan Kemampuan Terbang Transisi Pertama di Dunia

11 Januari 2021 lalu menandakan 56 tahun penerbangan transisi pertama di dunia oleh Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142. Tak tanggung-tanggung, penerbangan transisi pertama ini melibatkan tiga mode terbang, dimana pesawat lepas landas secara Vertical Take Off and Landing (VTOL), kemudian meluncur maju secara horizontal, dan kembali mendarat secara VTOL.

Baca juga: Anti Macet! Ambulans Terbang VTOL Bertenaga Hidrogen Hadir di Amerika Serikat

Dilansir Britannica, Ling-Temco-Vought XC-142 sendiri adalah pesawat eksperimental tiltwing tri-service yang dirancang untuk menyelidiki kesesuaian operasional VTOL ataupun short takeoff and landing (STOL).

Merunut ke belakang, program XC-142 Tilt-Wing V/STOL dimulai pada 1959 atas rekomendasi tim penasehat Presiden Amerika Serikat (AS). Dalam rekomendasinya, disebutkan bahwa AS memerlukan pesawat angkut khusus untuk Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Di samping itu, pesawat juga nantinya bisa digunakan untuk keperluan sipil.

Setelah pesawat rancangan Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 disetujui, prototipe pertama pun melakukan penerbangan perdana sekalipun penuh dengan kontroversi pada 29 September 1964 dan berhasil mencapai penerbangan transisi pertama pada 11 Januari 1965.

XC-142A pertama dikirim ke tim penguji Angkatan Udara pada Juli 1965. Selama program XC-142A berlangsung, total sudah 420 jam dicatat dalam 488 penerbangan uji coba. Penerbangan lima XC-142A dilakoni oleh 39 pilot militer dan sipil. Uji coba termasuk penerbangan angkut, simulasi penyelamatan, penerjunan penerjun payung, dan ekstraksi kargo tingkat rendah.

Selama pengujian, driveshaft cross-linked pesawat yang ditenagai mesin General Electric T64 -GE-1 turboprops ini terbukti menjadi titik lemah. Shaft tersebut menghasilkan getaran dan kebisingan berlebih, yang mengakibatkan beban kerja pilot menjadi tinggi. Selain itu, pesawat terbukti rentan terhadap masalah karena wing flexing. Masalah Shaft, dengan digabung dengan kesalahan pada pilot, mengakibatkan sejumlah hard landing yang menyebabkan kerusakan.

Satu kecelakaan bahkan terjadi sebagai akibat dari kegagalan poros penggerak ke rotor ekor dan menyebabkan tiga korban jiwa.

Masalah lain yang ditemukan di pesawat adalah ketidakstabilan antara sudut sayap 35 dan 80 derajat, yang ditemui pada ketinggian yang sangat rendah. Ada juga gaya samping yang tinggi yang dihasilkan yaw and weak propeller blade pitch angle controls. Baling-baling “2FF” baru juga terbukti menghasilkan daya dorong yang kurang dari perkiraan semula.

Atas berbagai masalah tersebut, lima prototipe pesawat Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 tidak dapat dilanjutkan ke tahap produksi massal. Karenanya, penerbangan uji coba terus dilakukan hingga tahun 1966. Namun, sampai tenggat waktu yang telah ditentukan, tim dari LTV tak juga mampu menyediakan pesawat V/STOL aman.

Baca juga: Avions Mauboussin Luncurkan Pesawat STOL Hibrida-Hidrogen Pertama di Dunia

Akhirnya, lima prototipe tersebut diserahkan ke NASA untuk dilakukan penelitian pada Mei 1966 hingga Mei 1970. Dari jumlah tersebut, hanya satu pesawat dengan kapasitas dua kru, 32 penumpang, panjang 17,70 m, bentang sayap 20,57 m, dan tinggi 7,95 m yang tersisa.

Pesawat dengan kecepatan maksimum mencapai 694 km, jarak tempuh 370–760 km, ketinggian maksimum 7.600 m, empat baling-baling, dan kemampuan climbing mencapai 35 m per menit ini disimpan di Museum Nasional Angkatan Udara Amerika Serikat.

Mengenal Throttle, Kontrol Pesawat yang Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Sriwijaya SJ-182

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pesawat itu hilang kontak dan dipastikan jatuh pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Baca juga: Kisah Pilot Selamat dari Maut Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Ganasnya Dekompresi

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan takeoff atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB. Tetapi, karena cuaca buruk, pesawat diketahui sempat delay selama 30 menit.

Di antara berbagai dugaan penyebab jatuhnya pesawat yang sudah berusia hampir 27 tahun itu, salah satu kontrol dasar penerbangan, autothrottle, disebut-sebut jadi penyebab terkuat.

Sekalipun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum memiliki detail informasi terkait dugaan autothrottle jadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ182, namun, secara singkat, Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengungkapkan bilapun autothrottle jadi masalah, seharusnya hal itu bisa ditangani dengan kembali ke mode manual.

Terlepas dari perdebatan autothrottle jadi penyebab kecelakaan pesawat Boeing 757-500 Sriwijaya Air atau bukan, sebetulnya, apa itu throttle atau autothrottle?

Dikutip dari skybrary.aero, throttle atau kadang kala disebut thrust lever atau power lever merupakan kontrol dasar penerbangan yang mengatur tingkat daya yang diinginkan. Throttle mengontrol laju aliran massa udara (dalam mesin bahan bakar injeksi) atau udara atau campuran bahan bakar (di mesin carburetted) dikirim ke silinder. Adapun autothrottle ialah throttle yang dijalankan secara otomatis.

Biasanya, di masing-masing pesawat, terdapat satu tuas throttle untuk setiap mesin dan, tergantung pada konfigurasi dek penerbangan atau kokpit, mereka dapat dipasang di konsol tengah, konsol samping, di papan dasbor atau dipasang di langit-langit pesawat.

Di kokpit dengan dua pilot, setiap area kerja pilot memiliki tuas throttle sendiri. Di beberapa pesawat yang lebih tua, dimana masih memegang prinsip tiga orang di kokpit atau three-man cockpit, pilot dan co-pilot harus berbagi throttle dan adapun throttle lainnya dipasang di area kerja flight engineer.

Dalam kedua kasus ini, tuas saling terhubung dan menggerakkan masing-masing tuas, mirip ketika yoke ataupun joy stick saat dioperasikan oleh pilot, dimana kontrol serupa pada stasiun co-pilot juga ikut bergerak menyerupai yoke ataupun joy stick pada pilot.

Baca juga: Yoke Boeing Vs Side Stick Airbus, Mana Sistem Kemudi yang Lebih Unggul?

Bergantung pada pemasangannya, tuas throttle memberikan pilihan ke pilot untuk reverse thrust atau daya dorong mundur, fuel cut-off position atau memiliki beberapa cara untuk mencegah pemilihan jarak beta (darat) saat pesawat dalam penerbangan.

Pada pesawat kecil atau pesawat latih, throttle dilengkapi dengan kontrol mixture. Mixture sendiri merupakan kontrol yang mengatur jumlah bahan bakar yang ditambahkan ke aliran udara intake. Pada ketinggian yang lebih tinggi, tekanan udara (dan merupakan tingkat oksigen) menurun sehingga volume bahan bakar juga harus dikurangi untuk memberikan campuran udara atau bahan bakar yang tepat. Proses ini dikenal sebagai “leaning”.

Sejarah Boeing 737-500 (737-1000), Seri 737 Klasik Paling Tidak Laku!

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 pada Sabtu siang (9/1) dilaporkan hilang kontak empat menit setelah lepas landas. Pesawat itu dilaporkan hilang pada pukul 14.40 WIB di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Pesawat itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan take-off atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB, sebelum akhirnya delay selama 30 menit sebelum lepas akibat cuaca buruk.

Terlepas dari usia Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC yang sudah mencapai hampir 27 tahun, pada dasarnya seri ini memang tidak laku di pasaran.

Dilansir dari b737.org.uk, di antara deretan Boeing 737 klasik, Boeing 737-500 menjadi yang terendah dengan mencatat penjualan sebanyak 389 unit. Bandingkan dengan dua seri klasik lainnya, Boeing 737-400 dan Boeing 737-300, dimana masing-masing mencatat penjualan 486 dan 1.113 unit.

Boeing 737-500 terbang perdana pada 30 Juni 1989. Dengan bentang sayap 28,8 meter, panjang 31,06 meter, dan tinggi 11,13 meter, pesawat yang diplot untuk menggantikan peran Boeing 737-200 ini merupakan varian Boeing 737 seri klasik terpendek. Sebab, pengembangan pesawat ini memang didasari pada desain 737-200, dengan beberapa peningkatan.

Setahun setelah terbang perdana, pesawat yang awalnya dikenal sebagai 737 Lite dan 737-1000 ini akhirnya memulai pengalaman baru saat memasuki tahun layanan bersama Southwest Airlines pada 1990.

Awalnya, pesawat ini begitu diminati karena memungkinkan rute yang lebih panjang dengan lebih sedikit penumpang, menjadikannya lebih ekonomis dibandingkan dengan 737-300. Pesawat berkapasitas hingga 140 penumpang yang menggunakan mesin CFM56-3 ini juga diklaim lebih hemat 25 persen bahan bakar dibandingkan dengan mesin P&W Boeing 737-200.

Baca juga: Geser Dominasi 737 Series, Airbus Catatkan Pengiriman Unit ke-1000 Keluarga A320neo

Sayangnya, seri ini hanya unggul dibanding saudara kandungnya, tidak untuk kompetitor lain. Seiring berjalannya waktu, penjualan peswat dengan jangkauan mencapai 4.398 km ini makin menurun dan cenderung tak banyak berkutik melawan kedigdayaan kompetitor dari Eropa, Airbus A320, yang terbang perdana pada 22 Februari 1987 bersama Air France.

Setelah 21 tahun layanan, Boeing pun resmi mempensiunkannya. Saat ini, dari total 389 pesawat yang diproduksi, 199 di antaranya masih aktif beroperasi.

17 Tahun TransJakarta, dari Konsep Bogota Sampai BRT Khas “Jakarte”

Tak terasa, 17 tahun sudah PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) melayani warga ibukota Jakarta dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT). BRT yang mulai meluncur di jalanan Jakarta sejak 15 Januari 2004 lalu menjadi yang pertama di Asia Tenggara dan Selatan. Kehadiran sistemnya ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

Baca juga: TransMilenio, BRT dari Bogota yang Menjadi Benchmark TransJakarta

Saat ini TransJakarta memiliki 243 halte dan tersebar di 14 koridor. Nah bagaimana dengan sistem BRT yang kini dipimpin oleh Sardjono Johnny Tjitrokusumo tersebut? Pada tahun 2017 lalu, Transjakarta memiliki sistem BRT terpanjang di dunia yakni 240,9 km dengan 13 koridor utama serta sepuluh rute lintas koridor.

Selain itu ada pula 18 rute pengumpan yang terus melewati akhir busway eksklusif ke kota-kota di sekitar Jakarta dan menggunakan bus khusus yang memungkinkan untuk naik dari halte TrasnJakarta. Adapun yang menarik adalah pada 10 November 2014, TransJakarta meluncurkan logo baru berupa lingkaran berwarna biru tua dengan dua garis diagonal berwarna putih.

Selain perubahan warna, huruf J juga memiliki kaki lebih panjang ke bagian bawah kata Trans dengan gradasi warna biru tua ke biru muda. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, armada yang digunakan oleh TransJakarta cukup beragam, seperti Hino, Scania, Foton, Mercedes-Benz, Zhongthong, Volvo dan PT INKA Inobus.

Tak hanya bus dengan lantai tinggi yang mana penumpang harus naik dari halte, ada juga bus dengan lantai rendah dan pertama kali digunakan pada ajang Asian Games 2018 lalu. Selain itu lantai rendah digunakan seiring revitalisasi halte BRT, trotoar dan bus kota Jakarta agar lebih ramah pada penyandang disabilitas.

BRT milik TransJakarta ini biasanya beroperasi pukul 05.00 hingga 22.00 WIB dan ada juga yang beroperasi 24. Seiring berjalannya waktu, TransJakarta kemudian menghadirkan berbagai hal baru untuk layanan bus, halte maupun fasilitas di halte.

Bahkan berbagai tipe layanan pun juga dirambah oleh TransJakarta di mana pada 12 Maret 2018, menghadirkan layanan RoyalTrans. Ini adalah program TeansJabodetabek Premium yang dijalankan oleh Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ).

Bus ini melaju di jalur bus angkutan umum dan berbeda dari bus TransJakarta lainnya yakni bila bus biasa bertarif Rp3500, RoyalTrans cukup mahal yakni Rp20 ribu sekali jalan. Meski begitu, penumpang diberi kenyamanan dengan fasilitas WiFi, pengisi daya USB, televisi, tempat botol minum disetiap kursi, kursi yang bisa diatur sesuai keinginan (reclining seat) dan tidak ada penumpang yang berdiri.

Adapula MetroTrans yang mana penumpang akan naik bukan dari halte BRT melainkan pinggir jalan dengan papan bergambar bus bertuliskan “STOP, bus pengumpan TransJakarta”. Sehingga penumpang hanya akan diizinkan naik dan turun pada titik dengan papan tersebut. Ini pula berlaku untuk MiniTrans yang menggantikan MetroMini dan Kopaja.

Pada 2016 TransJakarta juga meluncurkan bus gratis dengan rute Bundaran Senayan-Harmoni PP untuk warga Jakarta yang terkena imbas pelarangan sepeda motor di Jalan MH Thamrin. Bus tersebut melaju di jalur reguler bukan di jalur BRT.  Kemudian layanan gratis lainnya mulai 22 Desember 2017 yang bernama Tanah Abang Explorer dan hanya mengitari daerah Tanah Abang.

Kemudian 3 April 2017, PT TransJakarta bekerja sama dengan Koperasi Wahana Kalpika (KWK) untuk menyediakan angkutan lingkungan yang terintegrasi dengan halte TransJakarta. Namun layanan tersebut resmi berakhir pada 31 Desember 2017 dan layanan bus kecil terintegrasi dengan OK Otrip.

Namun pada 8 Oktober 2018, OK Otrip berganti nama menjadi JakLingko yang mana angkutan MikroTrans ini juga terintegrasi dengan halte BRT TransJakarta. Pada awal pengoperasiannya, TransJakarta masih menggunakan tiket kertas, namun sejak 2013 lalu, semua pembayaran dilakukan dengan kartu uang elektronik untung menggantikan pembuatan tunai.

Hampir semua kartu uang elektronik dari berbagai Bank bisa digunakan untuk pembayaran tiket TransJakarta. Kemudian TransJakarta pada tahun 2020 memulai pembayaran dengan menggunakan pemindaian QR Code yang bisa didapatkan melalui aplikasi Tijeku.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Di mana penumpang bisa langsung membeli tiket melalui aplikasi bila tidak membawa kartu uang elektronik. Selain itu, ada juga bus listrik yang mulai beroperasi dan menutup tahun 2020, TransJakarta memberikan fasilitas WiFi tak berbayar yang sudah tersebar di seluruh halte di 13 koridor yang ada. Sehingga, penumpang yang menunggu bus tujuan mereka bisa berselancar di media sosial atau melakukan aktivitas online lainnya.

Kwon Ki-ok, Pilot Wanita Pertama Korea dan Cina Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

Tepat pada 11 Januari 2021 lalu menandai satu abad Kwon Ki-ok, lahirnya pilot wanita pertama Korea Selatan dan Korea Utara serta Cina. Semasa hidupnya, ia berhasil menorehkan 7.000 jam terbang, tak terlalu menonjol memang. Namun, hal itu cukup bagi Kwon untuk membuktikan bahwa kodratnya sebagai wanita mungkin tak bisa diubah namun mimpinya sebagai pilot tak bisa terhalang hanya karena ia wanita.

Baca juga: Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia yang Hilang Misterius! Berhasil Ditemukan Setelah 80 Tahun

Dilansir peacemaker.prkorea.com, impian Kwon Ki-ok menjadi pilot datang setelah ia menyaksikan aksi aerobatik atau pertunjukan udara dari pilot AS bernama Art Smith pada bulan Mei 1917. Cita-citanya menjadi pilot bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar untuk cita-cita biasa, melainkan untuk turut berperang melawan penjajahan Jepang saat perang merebut kemerdekaan tiba.

Petualangannya mengejar mimpi menjadi pilot dimulai dengan bergabung ke Sekolah Angkatan Udara Republik Cina di Yunnan, dengan dukungan dan rekomendasi dari Pemerintah Sementara Republik Korea yang berbasis di Shanghai.

Ia dipuji atas kemampuannya menghadapi berbagai materi pelatihan yang pada saat itu dianggap akan sangat sulit bagi perempuan karena laki-laki pun kesulitan dengan tuntutan fisiknya. Namun, ia menjawab itu bukan dengan biasa-biasa saja melainkan menjawabnya dengan sempurna. Kwon Ki-ok berhasil lulus dari sekolah penerbangan itu sebagai satu-satunya wanita di kelas dan resmi menyandanggelar sebagai pilot wanita pertama Korea dan Cina.

Setelah melanglang buana menjadi pilot, Kwon Ki-ok berhasil mencatat lebih dari 7.000 jam terbang. Berkat kemampuannya itu, ia bahwa mendapat promosi jabatan di angkatan udara militer Cina pada 1940 dengan pangkat letnan kolonel.

Sekalipun mimpinya menjadi pilot berhasil dicapai, namun, ia tak pernah sekalipun membantu kemerdekaan Korea atau berperang melawan pendudukan Jepang sebagai pilot pesawat tempur. Meski demikian, ia tetap berjuang mengusir Jepang dari tanah Korea bersama pemerintahan darurat di Shanghai.

Usai Perang Dunia II berakhir dan Republik Korea resmi merdeka, pilot pertama wanita Korea dan Cina ini bukan berarti berhenti berkarya. Di negaranya, ia menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah pembentukan Angkatan Udara Republik Korea dan terus mengabdi di instansi tersebut bahkan saat Perang Korea meletus sebagai anggota Kementerian Pertahanan Nasional.

Baca juga: Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Atas dedikasinya itu, ia menerima penghargaan presiden pada tahun 1968 dan Order of Merit untuk Yayasan Nasional pada tahun 1977.

Ada yang menarik dibalik kisah hidupnya sebagai warga negara. Kendati ia lahir di desa Sangsugu, Pyongyang, Korea Utara, Kwon Ki-ok lebih memilih bergabung dengan Republik Korea Selatan. Namun, keputusannya itu berarti bahwa ia bukan hanya menjadi pilot wanita pertama Korea Selatan dan Cina, namun juga pilot wanita pertama Korea Utara.

Dengan Enam Panel Surya, Boeing Tambah Daya Listrik Stasiun Luar Angkasa ISS Hingga 30 Persen

Boeing didaulat untuk menambah daya listrik di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Karenanya, perusahaan dirgantara terbesar di dunia ini berencana untuk menambah enam solar array atau panel tenaga surya baru. Diperkirakan enam solar array ini mampu meningkatkan daya listrik ISS hingga 30 persen lebih banyak (digabung dengan panel surya yang ada), baik untuk penelitian ataupun kebutuhan komersial.

Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Diketahui, ISS telah beroperasi selama lebih dari dua dekade, dan dijadwalkan bakal dinonaktifkan antara tahun 2025 dan 2030. Meski demikian, di masa-masa terakhirnya, ISS bukan malah ditinggalkan, namun justru lebih didukung. Sebab, ISS, yang semula penggunaannya berada di kontrol pemerintah atau hanya untuk kebutuhan pemerintah (AS, Rusia, Eropa), saat ini mendapat lebih banyak partisipasi yang melibatkan perusahaan-perusahaan swasta.

Bagian dari upaya ini telah melibatkan sejumlah perbaikan, seperti port docking universal yang dapat digunakan oleh pesawat luar angkasa yang berkunjung, dan baterai nikel-hidrogen yang baru dan lebih baik untuk mendukung operasional stasiun saat dalam gerhana (pencahayaan minim); termasuk dukungan dari Boeing terkait susunan panel surya baru.

Solar array yang dikembangkan oleh anak perusahaan Boeing, Spectrolab, ini berukuran 19×6 m yang disadur dari keluarga sel surya XTJ Prime canggih, yang memberikan daya lebih dari sel sebelumnya namun tetap beroperasi pada suhu yang lebih dingin untuk mengurangi limbah panas.

Saat instalasi selesai, setengah lusin array akan menghasilkan lebih dari 120 kilowatt listrik, atau cukup untuk memberi daya pada 40 rumah di AS. Dengan tambahan enam panel sel surya ini, berarti ada total 14 panel surya, dimana delapan solar array sebelumnya menghasilkan 240 kilowatt. Jika digabungkan, ISS akan mendapatkan peningkatan daya 20-30 persen.

Daya listrik nantinya itu bukan hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan dasar listrik ISS sehari-hari, melainkan juga untuk memenuhi permintaan daya yang meningkat dari rangkaian eksperimen oleh pemerintah dan swasta.

Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR

Saat ini, panel sel surya baru masih dalam proses pembangunan dalam kemitraan dengan Deployable Space Systems of Santa Barbara, California, yang menyediakan komponen struktural yang mencakup deployment canister dan bingkai yang akan mendukung array saat “selimut” panel surya dibuka. Menurut Boeing, prototipe array baru itu sudah diuji di ISS pada 2017 silam.

“Sel surya ruang angkasa XTJ Prime jauh lebih efisien daripada pendahulunya dan cocok untuk mendukung penelitian mutakhir yang dilakukan di atas Stasiun Luar Angkasa Internasional,” kata Tony Mueller, Presiden Spectrolab, seperti dikutip dari New Atlas.

Sambut Olimpiade Tokyo 2021, JR East Co Hadirkan ELLA Robot Barista di Semua Stasiun Besar

Jepang rasanya layak disebut sebagai Negeri Robot. Pasalnya banyak robot yang menggantikan pekerjaan manusia baik dalam kebersihan, penjagaan hingga penjualanan makanan dan minuman. Robot-robot tersebut bisa ditemukan baik di bandara maupun di stasiun-stasiun Jepang.

Baca juga: Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway

Baru-baru ini startup teknologi ritel Singapura, Crown Technologies mengumumkan mereka telah menandatangani kesepakatan lintas batas besar pertamanya dengan JR East Business Development SEA Pte. Ltd, yang merupakan perusahaan East Japan Railway Company. Crown dikenal sebagai salah satu pengguna pertama mesin kopi otomatis dan kafe pintar di Singapura.

Di mana konsep ELLA sebagai barista robotik pertama dari Crown Coffee di Singapura sejak Oktober tahun lalu. Crown juga sudah menyajikan Buscaglione Coffee Italia yang kuat kepada pelanggan dengan semua proses yang sepenuhnya digital termasuk aplikasi kopinya sendiri.

Dilansir KabarPenumpang.com dari kr-asia.com (12/1/2021), badan teknologi Crown Robotics bertanggung jawab untuk membuat konsep ELLA dan Crown Digital yang mengembangkan aplikasinya. Dalam kemitraan baru ini, ELLA akan ditempatkan di seluruh stasiun jalur kereta penumpang terbesar di Jepang pada waktu Olimpiade Tokyo 2021 yang akan dihelat pada akhir Juli mendatang.

Di Crow Coffee proses pembuatan kopi sepenuhnya digantikan otomatisasi dengan lengan robot ELLA yang membatu menyeduh pada cangkir kopi. ELLA merupakan robot barista yang dirancang untuk beroperasi ritel tanpa bantuan manusia dan tanpa kontak di lingkungan bervolume tinggi seperti olimpiade. Selain itu, juga sangat praktis dan aman dalam masa pandemi Covid-19.

Nantinya ELLA yang akan beroperasi 24/7 yang mana setiap kios mampu menghasilkan 200 cangkir kopi berkualitas barista per jam. Penyiapan modular ELLA memungkinkan penawarannya dilokalkan untuk pasar Jepang. Untuk penggunaannya, seorang pembeli kopi bisa menekan layar digital transparan interaktif dan sistem pemesanan aplikasi seluler dengan gateway pembayaran dengan dompet elektronik sendiri.

Hal ini memungkinkan JR East memanfaatkan berbagai kemungkinan keterlibatan seperti iklan dan pemberitahuan yang ditargetkan langsung ke pengguna akhir. Di bagian belakang, computer vision yang diberdayakan oleh kecerdasan buatan memantau kios 24/7 untuk setiap kelainan yang dapat memengaruhi operasi ELLA.

Sementara itu, modul pemenuhan, yang didukung oleh aplikasi selulernya sendiri, menggunakan analitik prediktif untuk memperkirakan permintaan dan mendigitalkan manajemen rantai pasokan. Ini akan memungkinkan JR East untuk mendukung pengisian ulang dan servis kios hanya dengan tim pemenuhan yang ramping dengan kekuatan data besar.

Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

Untuk diketahui, ELLA melengkapi Visi jangka menengah hingga jangka panjang JR East untuk Inovasi Teknologi rencana 20 tahun yang memanfaatkan kemajuan dalam IoT, data besar, dan AI untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di Jepang karena penurunan populasi usia kerja. Crown Technologies juga mengungkapkan bahwa mereka akan segera meluncurkan putaran Seri A, serta menyebarkan 30 unit komersial tambahan ELLA di seluruh Singapura.