JR East Undang Media untuk ‘Test Run’ Kereta Otonom di Jalur Joban

Ada yang menarik pada Senin, 8 Maret lalu, yaitu East Japan Railway Company atau JR East, untuk pertama kalinya mengundang media untuk menjajal test run sistem kereta otonom yang baru saja dilengkapi dengan sistem operasi kereta otomatis atau Automatic Train Operation (ATO).

Baca juga: Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan

Kereta ini diluncurkan untuk uji coba di Jalur Joban. Pada peluncuran uji cobanya, JR East menunjukkannya pada awak media tentang cara kerja kereta dengan sistem operasi otomatis ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nippon.com (9/3/2021), JR East mengatakan, kereta dengan sistem ATO akan secara otomatis mempercepat dan melambat serta berhenti dan meninggalkan peron stasiun dengan hanya menekan sebuah tombol. Setelah peluncuran uji coba kereta dengan sistem operasi otomatis ini, JR East mengatakan, akan mulai mengoperasikannya secara perdana dan komersial pada Sabtu (13/3/2021).

Nantinya pada layanan pertamanya, kereta sistem ATO tersebut akan melayani layanan lokal antara Stasiun Ayase di daerah Adachi Tokyo dengan Stasiun Toride di prefektur Ibaraki. Bisa dikatakan ini akan menjadi pertama kalinya perusahaan menetapkan sistem ATO ke dalam penggunaan praktis.

Pada uji coba tersebut, kereta yang menarik sepuluh gerbong tersebut memiliki seri E233 yang melakukan perjalanan antara Stasiun Matsudo dan Stasiun Abiko yang keduanya beradai di prefektur Chiba dekat dengan Tokyo. Meski dalam uji coba, kereta ini berhenti di semua stasiun.

Baca juga: Cina Punya Rel Kereta Menembus Apartemen, Jepang Ternyata Punya Jalan Tol Menembus Gedung

Masinis kereta tersebut hanya meletakkan tangan mereka di pegangan rem jika operasional manual diperlukan seperti jika dalam kondisi darurat potensial. Sehingga bila angin kencang atau alasan lain. Pada perjalanan perdananya pada Sabtu, masinis dan kondektur akan terus ada di kereta yang dilengkapi sistem ATO di jalur Joban.

Pembukaan Bandara Changi, ‘Hidup Mati’ Bagi Penerbangan dan Wisata Singapura

Ketika perjalanan kembali pulih dari masa pandemi, Singapura memprioritaskan pembukaan kembali perbatasannya tahun ini. Tak hanya itu, pemerintah Negeri Singa ini pun kembali memperkuat posisi Bandara Changi sebagai hub internasional.

Baca juga: Kalau ke Bandara Changi Jangan Lupa Coba Glamour Camping

“Misi kami tahun ini bukan untuk memaksakan pemulihan tajam sektor penerbangan ini, tetapi untuk beradaptasi dengan normal baru, untuk membuka kembali dengan aman dan membangun kepercayaan, untuk menguji konsep yang bisa diterapkan dan untuk memperkuat keyakinan bahwa Bandara Changi akan tetap ada. hub udara internasional pasca-Covid-19,” kata Menteri Transportasi Ong Ye King yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman executivetraveller.com (9/3/2021).

Dia mengatakan, Singapore Airlines saat ini penting dan gelembung perjalanan akan menjadi kunci dalam membangun kembali industri penerbangan dan ekonomi karena vaksinasi di seluruh dunia menurunkan tingkat infeksi. Hal ini juga mendorong negara-negara untuk membuat pengaturan seperti itu.

“Jika kita kehilangan SIA atau kita kehilangan Bandara Changi, kehidupan di Singapura tidak akan pernah sama lagi,” kata Ong.

Ong menambahkan, krisis virus Corona sangat akut untuk industri penerbangan Singapura. Ini karena perjalanan internasional telah terpukul begitu keras dan tidak adanya pasar domestik. Untuk diketahui, Changi menangani 11,8 juta penumpang pada 2020, turun dari sekitar 60 juta pada tahun-tahun sebelumnya.

Singapore Airlines, kebanggaan besar negara kota lainnya, telah mengalami rekor kerugian, memangkas ribuan pekerjaan dan berlomba-lomba mengumpulkan dana melalui rights issue dan cara lain. Singapura telah mencoba membuka kembali perbatasanya dengan membentuk pengaturan perjalanan khusus dengan beberapa negara seperti Selandia Baru dan Vietnam.

Bahkan pembukaan yang harusnya sudah terjadi, batal pada bulan lalu terhadap Jerman, Malaysia dan Korea Selatan serta Hong Kong pada November lalu. Ingin membuka perbatasannya sedikit saja, Singapura memperkenalkan program bernama Connect @Changi yang memungkinkan orang memasuki pulau untuk tujuan bisnis dan resmi tanpa harus karantina, asalkan mereka tinggal di fasilitas seperti gelembung di dekat Bandara Changi untuk durasi kunjungan mereka.

Baca juga: Bandara Changi Geger, Petugas Kebersihan di Terminal 3 Positif Covid-19

“Dalam penerbangan, ini adalah pertempuran seumur hidup kita. Hal terburuk yang harus dilakukan sekarang bahkan tidak mencoba. Itu berarti menyerah pada pertarungan,” kata Ong.

Di Tahun ini, PT Angkasa Pura I Tuntaskan Pengembangan Empat Bandara, Salah Satunya Tunjang MotoGP 2021

Meski mendapat tantangan pandemi Covid-19, namun PT Angkasa Pura I berkomiten untuk merampungkan proyek pengembangan bandara, setidaknya terdapat empat proyek pengembangan bandara yang tengah dilakukan Angkasa Pura I dan ditargetkan selesai di tahun 2021. Keempat proyek pengembangan ini adalah Proyek Pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Lombok Praya, dan Bandara Sam Ratulangi Manado.

Baca juga: Gandeng Gudang Garam, PT Angkasa Pura I Bangun Bandara “Dhoho” di Kediri

“Pengembangan empat bandara ini bersifat strategis untuk mendorong konektivitas udara dan meningkatkan kapasitas trafik angkutan dan logistik udara khususnya di wilayah tengah dan timur Indonesia,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.

Hingga awal Maret 2021, progress pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar telah mencapai 62,28 persen dan ditargetkan dapat selesai pada Mei 2021. Pengembangan bandara meliputi perluasan terminal yang mencapai 166.815 meter persegi sehingga dapat menampung 15 juta penumpang per tahun dari luasan terminal eksisting 51.815 meter persegi dengan kapasitas 7 juta penumpang per tahun. Selain itu, apron juga diperluas menjadi 385.346 meter persegi (kapasitas 53 parking stand) dari luasan eksisting yang hanya 185.500 meter persegi (kapasitas 42 parking stand).

Progress pengembangan Bandara Lombok Praya.

Progres pengembangan Bandara Juanda Surabaya hingga awal Maret 2021 telah mencapai 93 persen. Pengembangan Bandara Juanda Surabaya mencakup perluasan Terminal 1 beserta pembenahan interior dan fasilitas penunjangnya, overlay runway 10-28, rekonstruksi apron B Terminal 2, dan perluasan terminal kargo internasional. Perluasan Terminal 1 menjadi 91.700 meter persegi dari 62.700 meter persegi akan menambah kapasitas Terminal 1 menjadi 13 juta penumpang per tahun dari yang saat ini hanya 7 juta per tahun.

Progres pengembangan Bandara Lombok Praya saat ini telah mencapai 96 persen. Pengembangan ini dilakukan untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika yang menjadi lokasi penyelenggaraan MotoGP 2021. Pengembangan yang dilakukan yaitu perpanjangan landas pacu (runway) dari 2.750 meter menjadi 3.300 meter, dan perluasan terminal menjadi 40 ribu meter persegi yang dapat menampung 7 juta penumpang per tahun atau 2 kali lipat dari kapasitas sebelumnya.

Sementara progres pengembangan Bandara Sam Ratulangi Manado saat ini telah mencapai 80 persen. Pengembangan bandara ini memperluas terminal penumpang menjadi 57.296 meter persegi dari 26.481 meter persegi. Perluasan terminal ini membuat Bandara Sam Ratulangi Manado mampu menampung hingga 5,7 juta penumpang per tahun dibanding sebelumnya yang hanya 2,6 juta per tahun.

Baca juga: Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara

“Pengembangan bandara-bandara yang kami lakukan ini juga bertujuan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata prioritas dan agenda strategis pemerintah khususnya dalam perhelatan MotoGP 2021 di Mandalika,” tambah Faik Fahmi.

Sambut Hari Perempuan Internasional, Dua Stasiun di India Hadirkan Vending Machine “Pembalut”

Seorang wanita yang belum manapouse setiap bulan akan mengalami masa menstruasi. Biasanya ini akan membuat seorang wanita terganggu ketika mereka tidak memiliki pembalut yang dibawa di dalam tas dan bisa saja saat itu mini market atau warung cukup jauh dari jangkauan apalagi ketika menunggu angkutan umum.

Baca juga: Tekan Penyebaran Covid-19, Stasiun Kereta di India Terapkan ‘Pembersihan’ Barang Bawaan dengan Sinar Ultra Violet

Karena hal tersebut membuat sulit seorang wanita, belum lama ini di dua stasiun di India kehadiran sebuah mesin penjual otomatis atau vending machine yang menjual pembalut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber orissadiary.com (8/3/2021), vending machine tersebut dihadirkan oleh startup ynag berbasis di Bhubaneswar yakni Swarajya Vending Industries.

Mesin tersebut diletakkan di Stasiun Bhubaneswar dan Khurdha dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Vendhing machine penjual pembalut tersebut diresmikan oleh manajer Stasiun Bhubaneswar, C R Das dan sang istri Lulubala Das.

“Ini adalah jenis mesin penjual otomatis yang unik, yang membagikan pembalut wanita dengan merek dan ukuran berbeda. Dan itu juga menerima semua mode pembayaran yaitu uang tunai, koin dan pembayaran UPI,“ ujar Sandipanni Bharadwaj, MD, Swarajya Vending Industries.

Bharadwaj menambahkan, untuk menjaga permukaan paket sanitatasi bebas dari Covid-19, pihaknya telah memasang sinar UV di mesin sehingga mendesinfeksi paket agar lebih aman digunakan.

“Kami telah merencanakan untuk memasang hampir lebih dari 50 mesin di Odisha di lokasi yang berbeda dalam waktu dekat,” jelasnya.

Untuk membeli pembalut dari mesin ini, pengguna memasukkan uang Rs5 atau sekitar Rp981. Kapasitas mesin ini adalah 75 pembalut. Nantinya dalam pemeliharaan dan pengisian ulang, akan dilakukan oleh Organisasi Kesejahteraan Wanita East Coast Railway.

Baca juga: “The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly

“Wanita bisa memasukkan koin lima rupee untuk membeli pembalut hemat yang diberi nama Happy Nari. Mesin seharga Rs16 ribu (Rp3,1 juta) itu dipasang di Platform No-1 dan Second Class Ladies Waiting Hall,” ujar presiden ECoRWWO, Madhulika Singh.

Hari Ini, MD-90 Lion Air Tergelincir Gegara Pilot ‘Berburu’ Bonus dan Paksakan Pendaratan

Pada hari ini, 12 tahun lalu, bertepatan 9 Maret 2009, pesawat Boeing-McDonnell Douglas (MD) 90 Lion Air tergelincir saat mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Tak ada kesimpulan spesifik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait insiden ini. Namun, terdapat dugaan dari sejumlah pihak bahwa pilot termotivasi bonus besar bila berhasil mendarat tepat waktu sehingga memaksakan pendratan sekalipun kecepatan angin mencapai lebih dari 30 knot.

Baca juga: Hari Ini, 23 Tahun Lalu, Pesawat turunan dari Douglas DC-9, MD-95 Muncul Sebagai Boeing 717

Dalam laporan KNTK yang diunggah di knkt.dephub.go.id, disebutkan, MD-90 PK-LIL Lion Air dengan nomor penerbangan LNI-793, berangkat dari Bandara Makassar (Ujung Pandang) atau sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi pada pukul 13.36 WIT menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Saat itu, pesawat tua yang pertama kali mengudara pada 1 Maret 1997 ini tengah mengangkut 166 penumpang dan enam kru, dua pilot dan empat pramugari. Dalam penerbangan ini, kapten pilot berusia 61 tahun dengan 25.000 jam terbang, hanya menjadi monitoring. Sedangkan kopilot 34 tahun dengan 5.000 jam terbang ditugaskan untuk handling pilot.

Sejak lepas landas sampai menjelang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan nyaris sempurna tanpa insiden apapun. Pun demikian dengan pesawat, tidak ada kendala apapun, sama seperti laporan inspeksi yang menjamin pesawat dalam keadaan baik dan laik terbang.

Namun, apa mau dikata, pesawat yang dibeli Lion Air pada 13 April 2005 akhirnya tergelincir saat mendarat pada pukul 15:43 WIB. Beruntung, 166 penumpang dilaporkan selamat dan seluruhnya berhasil dievakuasi melalui escape slide atau evacuation slide pesawat di sebelah kiri. Pesawat dengan nomor registrasi N905RA ini diduga tergelincir akibat cuaca buruk.

http://https://www.youtube.com/watch?v=PcW8cG3hfHo&t=29s

Tetapi, mari kita lihat lebih dalam. Sebelum proses pendaratan dengan instrumen landing system (ILS) approach dilakukan, kondisi di sekitar bandara sedang hujan lebat. Angin dari arah 200 derajat dilaporkan berhembus di kecepatan 15-30 knot dengan jarak pandang 1.500 meter. Dalam kondisi ini, pilot memutuskan untuk mengambil alih pesawat dan tetap melanjutkan pendaratan, sebuah keputusan yang tepat namun juga tidak tepat.

Tepat karena pilot mengambil kendali pesawat langsung dari tangan kopilot. Tidak tepat karena pendaratan tetap dilanjutkan di tengah kondisi itu. Sekalipun runway25L sudah terlihat jelang mendarat dari ketinggian sekitar 1.000 kaki, namun, itu tetap menjadi pendaratan yang amat berisiko. Pilot sebetulnya bisa saja menunda pendaratan atau mendarat di bandara lain untuk alasan keamanan.

Benar saja, ketika pesawat MD-90 satu-satunya yang masih beroperasi di Indonesia itu dalam posisi landing roll, tiba-tiba angin bertiup kencang sekitar 20 knot dari arah kiri pesawat. Pilot kemudian mengembalikan posisi pesawat ke centerline. Jelang touchdown, buntut pesawat kembali miring ke kanan akibat terpaan angin dari arah sebelah kiri.

Baca juga: 10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak

Pilot kemudian berusaha untuk menghandle itu dengan mengaktifkan thrust reverser. Namun, pesawat malah makin menukik akibat pilot hanya mengaktifkan thrust reverser sebelah kanan bukan keduanya dan tergelincir. Akibat kecelakaan itu, landing gear utama dan sayap patah. Ban nomor tiga meledak. Lambung pesawat juga tergores dan berlubang akibat meluncur di rumput samping runway.

Meski tak ada kesimpulan apapun terkait insiden ini, namun, sejumlah tudingan untuk pilot menyeruak. Pilot disebut terobsesi dengan bonus besar untuk mendaratkan pesawat tepat waktu di bandara yang sudah ditentukan. Itulah mengapa ia tetap memaksa melakukan pendaratan meski bisa dibilang amat berbahaya.

Sebelum Jadi KRL Ciliwung Blue Line, KRL-I Kerap Kali Berganti Warna Livery

Pernah dengar kereta rel listrik atau KRL Ciliwung? Kereta ini mulai beroperasi pada 30 November 2007 yang melintasi Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Pasarsenen-Jatinegara-Manggarai dan sebaliknya. Tampilan dua rangkaian kereta ini pun memiliki warna biru sehingga kereta ini disebut dengan KRL Ciliwung Blue Line.

Baca juga: KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line

KRL Ciliwung Blue Line merupakan program bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Kereta Api Indonesian Daerah Operasional atau Daop 1 Jakarta. Kehadirannya sendiri diharapkan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, KRL Ciliwung Blue Line menggunakan Kereta Rel Listrik Indonesia (KRL-I) buatan PT INKA. Ini adalah produk KRL AC pertama PT INKA yang merupakan rangkaian purwarupa atau prototipe yang menjadi desain acuan produk selanjutnya.

Kereta ini dalam satu rangkaian terdiri dari empat gerbong dan dilengkapi dengan pendingin ruangan atau AC. Sekali berjalan kereta ini mampu mengangkut penumpang sebanyak 400 orang.

Sebelum menjadi KRL Ciliwung Blue Line, rangkaian ini beroperasi pada 17 Februari 2003. Saat itu rangkaian pertama berwarna jingga dan sering digunakan untuk KRL Serpong Ekspres yang melintasi Serpong-Tanah Abang-Manggarai PP.

Sedangkan rangkaian kedua atau KRL AC Prajayana dioperasikan pada tanggal 16 Maret 2003 dengan tampilan warna hijau dan unggu. Kereta ini beroperasi untuk KRL Pakuan Ekspres atau Bogor Ekspres lintas Tanah Abang ke Bogor PP.

Hingga akhirnya pada 30 November 2007 menjadi KRL Ekonomi AC Lingkar Ciliwung. Sayangnya pada 2011 mulai berlaku pola operasi loop line Jabodetabek. Ini membuat KRL tak lagi mengelilingi seluruh Jakarta.

Baca juga: KRL BN-Holec Pernah Beroperasi Sebagai “Prameks,” Ternyata Sering Bermasalah

Yang mana kemudian KRL ini menjadi KRL pengumpan atau feeder lintas Kampung Bandan ke Jakarta Kota dan Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Jakarta Kota PP hingga akhir masa kedinasannya di tahun 2014. Saat ini, kedua set KRL-I tidak ada yang beroperasi karena gangguan teknis yang kerap terjadi, dan sekarang kedua set KRL-I sudah dikirim untuk ditanahkan di Stasiun Cikaum.

Gegara Pipa Toilet Dipasang di Saluran Air Minum, Kepala Stasiun di India Kena Sanksi

Apa jadinya bila pipa toilet digunakan pada saluran air minum? Menjijikkan? Ini sudah barang pasti dan membuat banyak orang menghindari saluran air karena tidak baik untuk kesehatan. Bahkan hal ini membuat seorang kepala stasiun harus ditangguhkan dari pekerjaannya.

Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

KabarPenumpang.com melansir dari laman news18.com (7/3/2021), kepala stasiun ini ditangguhkan setelah seorang pekerja sanitasi outsourcing memasang pipa toilet ke tangki yang berisi air minum. Insiden tersebut terjadi pada 1 Maret kemarin di Stasiun Garoth Mandal yang berada di bawah divisi kereta kota, kata manajer komersial divisi senior Ajay Kumar Pal.

“Seorang pekerja sanitasi dari perusahaan swasta memasang pipa toilet ke tangki air minum, yang dibersihkan secara menyeluruh setelah kesalahan dan diuji untuk diminum. Kepala Stasiun Chauthmal Meena ditempatkan di bawah skorsing dan pekerja sanitasi dikeluarkan dari tugas,” ujar Pal.

Laporan ini hadir setelah insiden tersebut menjadi viral di media sosial Twitter. Kemudian pada 5 Maret West Central Railways langsung mengambil tindakan dan mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan pada insiden tersebut.

Berita ini mengejutkan ditengah melonjaknya kasus virus corona di beberapa negara bagian termasuk Maharashtra yang baru-baru ini melihat lonjakan kasus varian baru Covid-19. Insiden itu juga terungkap di tengah tur Kereta Api Kota Mandal untuk mencatat fasilitas penumpang.

Beberapa penumpang mengeluhkan sikap kereta api yang ceroboh dan ancaman terhadap kesehatan penumpang yang disebabkan oleh kesalahan tersebut. Di mana penumpang diberitahu bahwa di satu sisi kereta api sedang dalam perjalanan keliling kota Mandal untuk mencatat fasilitas penumpang.

Baca juga: Tak Dibuang Begitu Saja, India Daur Ulang Air Bekas Cucian Lokomotif

Di sisi lain, administrasi perkeretaapian sedang mempermainkan kesehatan para penumpang. Dalam kasus tersebut, para pejabat mengatakan ada pengaturan terpisah untuk air di tangki untuk diminum penumpang. Bagaimana pipa toilet masuk ke tangki sedang diselidiki. Perlu dicatat bahwa wilayah Divisi Kereta Api Kota cukup luas.

Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

Bandara tersibuk di dunia untuk perjalanan internasional, Bandara Dubai, sangat familiar dengan pendingin udaranya yang sangat dingin bak kutub utara, air terjun dan pohon palem buatan, hingga desain terminal ciamik. Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, bandara yang dibangun pada 1960 itu mulai menerapkan iris scanner alias pemindai iris untuk memverifikasi identitas atau pengganti paspor.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Laporan Associated Press menyebut, teknologi biometrik yang menjadi bagian dari program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini tercipta berkat dorongan lebih untuk mengurangi interaksi antar manusia. Itu dilakukan untuk membantu mencegah penularan virus Corona.

Program pemindai selaput pelangi atau iris mata di Bandara Dubai dimulai sejak bulan lalu. Setelah check-in, wisatawan diminta untuk melewati iris scanner dan bila tak ada kendala, pemeriksaan paspor tuntas hanya dalam hitungan detik, tak seperti di bandara lain yang masih mengharuskan wisatawan untuk menunjukkan paspor fisik dan lain sebagainya.

Cara kerjanya, data iris wisatawan mancanegara maupun domestik nantinya akan terhubung langsung dengan database face recognition Uni Emirat Arab tanpa mengharuskan mereka menunjukkan identitas masing-masing. Dengan begitu, check-in dan boarding jauh lebih cepat dibanding sistem face recognition sekalipun.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi ‘pintar’ (membutuhkan waktu) sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, wakil direktur Direktorat Jenderal Karesidenan dan Luar Negeri.

Teknologi biometrik atau iris scan ini belakangan memang menggema di seluruh dunia seiring penilaian buruk tentang keakuratan teknologi face recognition.

Meski dianggap lebih akurat dan cepat, namun, iris scan dinilai sama saja dengan teknologi biometrik lain yang mengancam privasi pengguna. Biometrik iris dinilai menargetkan para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia sedunia untuk diawasi tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral dalam kecerdasan buatan di Institut Teknologi Massachusetts, menyebut, “Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negaranya seperti apa. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu.”

Terlepas dari kekhawatiran itu, Emirates, salah satu maskapai yang telah mengintegrasikan data pribadi penumpang, seperti paspor dan KTP, data penerbangan, data pengenal wajah atau face recognition, dan lain sebagainya, memastikan bahwa data penumpang digunakan dengan wajar sesuai kebutuhan penerbangan tanpa ada satupun pihak lain yang bisa mengakses.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Uni Emirat Arab memang terkenal dengan teknologi kamera canggih yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Tak seperti di negara Komunis seperti Cina, negara Islam itu mengklaim menyebar banyak kamera pengawas untuk membuat aman dan nyaman masyarakat, termasuk memantau penggunaan masker, physical distancing, dan lain sebagainya terkait penanganan Covid-19. Saking banyaknya kamera pengawas, negara itu disebut menjadi negara dengan kamera pengawas terbanyak di dunia bila dihitung berdasarkan per kapita.

Terungkap! Airbus A320 Batik Air Mendarat Darurat Gegara Api dan Asap di Nose Gear

Pesawat Airbus A320 Batik Air ID-6803 rute Jambi-Jakarta memutuskan untuk kembali atau return to base (RTB) dan mendarat darurat di Bandara Sultan Thaha Jambi, karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Baca juga: Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Usai mendarat dengan selamat dan seluruh penumpang yang berjumlah 114 dewasa, 2 (dua) tamu anak-anak serta 1 (satu) balita dievakuasi dan diberangkatkan kembali, bahkan sampai saat ini pun, penyebab insiden itu masih misteri. Tetapi, satu yang pasti, nose gear atau roda bagian depan pesawat patah, menunjukkan ada yang salah dengannya.

Dalam keterangan resmi maskapai melalui Corporate Communications Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat Batik Air lepas landas pada pukul 13.28 WIB.

Namun, setelah lepas landas, pesawat, yang sempat berputar-putar selama beberapa menit untuk mempersiapkan pendaratan dan mengurangi bahan bakar untuk mengurangi risiko, akhirnya landing kembali ke Bandara Sulthan Thaha Jambi pada pukul 13.51 WIB karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Akan tetapi, menurut keterangan Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Indra Gunawan, pesawat kembali ke bandara lantaran ada kendala pada roda depan. Tak disebutkan dengan jelas kendala apa yang dimaksud.

Usai mendarat, roda bagian depan nampak patah meski proses pendaratan dilaporkan mulus. Lain cerita bila pendaratan hard landing diambil dan pesawat sampai bouncing berkali-kali, mungkin hal itu bisa saja menyebabkan roda depan pesawat patah dan menyebabkan insiden berdarah seperti yang terjadi pada Garuda Indonesia flight 200. Tetapi, nyatanya tidak.

Namun, menurut The Aviation Herald, selama proses lepas landas dan terbang sampai di ketinggian 3.000 kaki, observer bandara melihat ada percikan api dan asap dari nose gear dan dilaporkan ada kendala teknis. Hal itu kemudian diperkuat dengan aktifnya alarm di kokpit.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Pesawat Airbus A320-200 PK-LUT diketahui baru berusia 3,9 tahun atau dikirim ke Batik Air pada Mei 2017 silam. Saat ini, maskapai full service bagian dari Lion Group itu mengoperasikan 45 pesawat tersebut.

Meski roda depan patah dan menyulitkan evakuasi, sehari setelah insiden itu, pesawat berhasil dipindahkan atas kerjasama teknisi maskapai, regulator, instansi, dan pihak bandara.

Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan

Bosan melihat sudut pandang pemandangan dari dalam kereta? Bagaimana bila melihat sudut pandang dari lensa para fotografer? Sepertinya ini akan asyik dan membuat sesuatu menjadi baru. Karena bukan hanya melihat pemandangan dari luar, tetapi bisa melihat kereta secara keseluruhan pemandangan yang ada hingga jalur yang dilintasi.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

KabarPenumpang.com merangkum asiaone.com (8/2/2021), sejak pukul 06.00 pagi waktu Jepang, sekitar 30 fotografer berada di posisi masing-masing untuk menangkap kereta yang melintas di jembatan lengkung di Oku Aizu prefektur Fukushima, Jepang. Dengan ketepatan waktu hasil gambar yang indah muncul dari hasil jepretan foto sebuah kereta hijau dan putih sepanjang dua gerbong dari hutan jalur Tadami.

Jalur kereta Tadami ini memiliki panjang sekitar 135 km yang melintas wilayah Tohoku, bagian paling utara dari pulau utama Honshu. Yang mana jalur ini menghubungkan Oku Aizu Wakamatsu di Fukushima dengan Koide di prefektur Niigata. Bisa dikatakan kereta api paling romantis di dunia yang melintasi jalur tersebut.

Sebab Tohoku sendiri merupakan tujuan ideal bagi pelancong yang ingin kembali ke alam dan menikmati kesunyian tanpa keramaian. Pada 2019, sedikitnya dua persen dari pelancong asing bepergian ke daerah ini. Daerah ini juga terhindar dari gempa bumi tetapi tahun 2011 dilanda badai hebat yang memicu banjir dan menghancurkan tiga jembatan di sepanjang jalur Tadami.

Sayangnya karena biaya perbaikan tinggi dan populasi yang berkurang di daerah itu, maka pemulihan jembatan tidak dilakukan. Bahkan enam stasiun pun ditutup permanen setelah rusak karena banjir dan mebuat penumpang harus naik bus selama satu jam dari Aizu Kawaguchi dan Tadami. Salah seorang penduduk setempat, Ken Hoshi sudah memotret daerah Oku Aizu selama 25 tahun dan mengabadikan pemandangan kereta Tadami kecil yang melintasi lembah berkabut, hutan ajaib dan pengunungan yang menjulang tinggi dengan latar belakang berbagai musim.

Hoshi mulai memposting fotonya di Facebook dan kemudian mengunjungi Taiwan untuk memamerkan fotonya dan mempromosikan tanah airnya. Responnya sangat mengejutkan karena banyak dari pengunjung tersebut berasal dari Taiwan dan merekalah yang menciptakan julukan “kereta api paling romantis di dunia”, yang pertama kali muncul di Weibo.

“Saya selamanya berterima kasih kepada orang-orang Taiwan. Banyak dari mereka telah mengunjungi kami lebih dari sepuluh kali,” kata Hoshi.

Berkat ledakan minat publik ini, pemerintah daerah telah berbagi visi Hoshi untuk merevitalisasi daerah tersebut melalui pariwisata, dan Japan Railway East telah memutuskan untuk memperbaiki Jalur Tadami.

Ini akan beroperasi penuh pada akhir 2022 dan ada juga rencana untuk memasang sudut pandang baru di sepanjang jalur yang membuat pemandangan spektakuler lebih mudah diakses, termasuk di jembatan nomor 5, 6 dan 7, setelah diperbaiki. Inisiatif Hoshi akan ditampilkan dalam film dokumenter tentang Garis Tadami, oleh sutradara Wataru Abiko, yang dijadwalkan rilis musim panas ini di Jepang dan di festival film Taiwan.

“Saya memotret Jalur Tadami bukan karena saya suka kereta, tetapi karena saya ingin mempromosikan pemandangan indah Oku Aizu. Daerah itu sangat terpukul oleh reformasi ekonomi di awal tahun 2000-an. Jumlah pekerjaan di sini turun menjadi hampir sepersepuluh dari tingkat sebelumnya. Untuk menyegarkan kembali wilayah ini, kami harus memikat orang ke sini. Saya yakin pemandangan yang indah ini cukup kuat untuk mendatangkan banyak pengunjung ke sini,” katanya.

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Setelah berhasil melobi pihak berwenang setempat untuk membangun tangga ke Sudut Pandang Jembatan Sungai Tadami No 1, yang dibangun di sebuah bukit di luar kota Mishima, sekitar 500 meter dari penyeberangan, Hoshi mendesak mereka untuk memasang lift juga, sehingga orang-orang dari segala usia bisa menikmati pemandangan, terutama saat pemandangan tertutup salju.