India Larang Angkut Kargo dan Penumpang di Kabin Utama, Rugikan Maskapai?

Pandemi virus Corona telah membuat penerbangan ditinggal penumpang. Sebagai gantinya, maskapai di seluruh dunia berharap banyak pada penerbangan kargo. Sebab, pada penerbangan kargo tidak membutuhkan physical distancing yang menyebabkan load factor berkurang, layaknya di kabin penumpang. Karenanya, memaksimalkan penerbangan kargo akan sedikit menahan laju defisit keuangan maskapai.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Ramainya penerbangan kargo, bersamaan dengan sepinya penerbangan penumpang, membuat maskapai di seluruh dunia terdorong untuk memanfaatkan kabin utama agar dimuat kargo sekaligus penumpang. Namun tidak demikian dengan maskapai-maskapai di India.

Belum lama ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA) India mengeluarkan peraturan untuk kelancaran operasi penerbangan. Di antara peraturan tersebut, DGCA mentapkan bahwa penumpang di kabin tidak boleh membaur dengan kargo. Itu berarti, konsep Passenger-to-FlexCombi tidak berlaku di Negeri Bollywood ini.

“Mengangkut penumpang dan kargo di kabin penumpang pada saat yang bersamaa tidak boleh dilakukan. Oleh karenanya, maskapai harus memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak mempengaruhi atau mungkin mengganggu jadwal yang telah diatur,” tulis DGCA dalam sebuah edaran, seperti dikutip dari bangaloremirror.indiatimes.com.

Lebih lanjut, dalam edaran tersebut, maskapai-maskapai di India juga dilarang untuk mengangkut barang atau kargo di luar ketetapan pemerintah, seperti muatan di luar APD, perlengkapan dan peralatan medis, atau barang-barang lain yang vital dan bernilai esensial untuk rantai pasokan bahan baku penanganan Covid-19.

Perlu dicatat, sekalipun konsep Passenger-to-FlexCombi, dimana pesawat bisa mengangkut kargo dan penumpang sekaligus di dalam kabin utama, dilarang DGCA, namun, pada penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo tetap diperbolehkan. Hanya saja dengan petunjuk teknis yang berbeda.

Pada penerbangan kabin penumpang penuh kargo, maskapai wajib menonaktifkan aktivasi otomatis sistem oksigen penumpang di pesawat. Begitu juga dengan sistem hiburan di pesawat (IFE), sistem penghasil panas, dan aliran listrik ke soket di kursi, semuanya harus dinonaktifkan.

Selain itu, maskapai yang hendak menajalani penerbangan kabin penumpang penuh kargo juga wajib melapor ke DGCA 10 hari sebelum hari H.

Penerbangan kargo memang digadang menjadi kunci maskapai untuk terus mencetak pundi-pundi uang, sebelum mulai menatap era penerbangan penumpang seperti sediakala.

Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merilis statistik lalu lintas udara. Hasilnya, sudah pasti, angkutan kargo jadi primadona sekalipun masih tak lebih besar dibanding bulan yang sama di tahun lalu.

Namun, hal itu masih jauh lebih baik ketimbang statistik penerbangan penumpang. Karenanya, penerbangan kargo dinilai menjadi jembatan penghubung maskapai untuk bisa kembali meraup untung dari penerbangan penumpang pasca pandemi virus Corona berakhir. Selama pandem masih mengintai dan penerbangan penumpang masih anjlok, kargo menjadi satu-satunya andalan untuk bisa terus menyambung asa.

Dubai Mulai Uji Coba “Black Cab” Listrik Khas London di Bandara

Tak hanya terkenal dengan bus double decker berwana merahnya, London juga terkenal dengan  taksi hitam atau Black Cabnya. Meski ternyata tidak semua taksi di London berwarna hitam alias ada pula berwarna biru, hijau dan lainnya.

Baca juga: Gantungkan Raket, Mantan Petenis Profesional Kini di Balik Kemudi Black Cab Modern!

Saking terkenalnya taksi hitam atau Black Cab ini, bagaimana jika ada yang meniru dan bahkan mulai menguji cobanya? Ternyata Dubai mengikuti penggunaan taksi hitam ini dan akan menyusuri jalanan kota itu. Taksi yang menyerupai taksi ikonik London tersebut akan mulai diuji cobakan di Bandara Dubai pada Februari mendatang untuk mengangkut penumpang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman arabnews.com (17/1/2021),  Otoritas Jalan dan Transportasi Uni Emirat Arab mengatakan, armada taksi ini memiliki model ramping yang mana bentuknya semi lengkung dan dengan desain hibrida. Taksi hitam tersebut akan beroperasi menggunakan listrik yang menjadi bahan bakarnya.

Taksi hitam di Dubai akan dioperasikan oleh Dubai Taxi Corporation. Untuk diketahui, taksi ini memiliki interior yang lebih luas dan akan ada enam kursi terpisah dari ruang pengemudi.

Tak hanya itu, taksi hitam tersebut dilengkapi dengan sistem navigasi berbasis satelit, perintah suara, sistem peringatan tabrakan depan, pemantauan blind spot dan jaringan WiFi. Selain itu juga dilengkapi dengan perangkat lunak peringatan keberangkatan jalur.

Taksi hitam Dubai memiliki mesin ganda sebagai pengendalian kendaraan yang lebih baik untuk segala macam iklim. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan sistem pengereman yang dipercepat.

Baca juga: Berevolusi, Black Cab London Akan Gunakan Semi-Electric Vehicle

Bahkan yang lebih menariknya adalah, di mana untuk pengisian baterai di taksi ini hanya membutuhkan 30 menit untuk pengisian ulang. Di mana untuk pengisian baterainya pun menggunakan fitur pengisian cepat. Selain itu akan memakan waktu tiga jam ketika menggunakan sistem pengisian baterai biasa.

Seberapa Besar Kabut Mengganggu Penerbangan di Bandara? Berikut Ulasannya

Setiap tahun, ada begitu banyak penerbangan tertunda atau bahkan dibatalkan karena kabut tebal yang membuat visibilitas rendah. Sekalipun bisa tertangani dengan prosedur baru di luar normal, namun, tetap saja pilot memilih untuk tidak mengoperasikan pesawat sambil terus berkomunikasi dengan ATC.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Dilansir Simple Flying, dalam kondisi bandara diselimuti kabut tebal, baik itu kabut tebal akibat kebakaran hutan seperti di Indonesia maupun kabut alami hasil kondensasi uap air, dengan visibilitas di bawah 600 meter, operasional bandara akan bergantung pada Low Visibility Procedures (LVP). LVP ini memastikan akan ada lebih banyak ruang dan waktu di bandara untuk operasional yang lebih aman.

Ketika kabut menerjang dan membuat jarak pandang sangat terbatas, bagian tersulit dalam pengoperasian pesawat bukanlah mendarat atau lepas landas, melainkan saat taxiing. Sebab, baik ATC maupun pilot, keduanya hanya bergantung pada peta dan limited visual-led communications, sejenis kelap-kelip lampu yang menjadi bagian dari airport landing system dan airfield landing system.

Begitu pesawat benar-benar taxiing, praktiknya tentu berbeda. Pesawat harus menunggu di holding point yang lebih jauh dari biasanya, baik itu CAT 2 atau 3, untuk memunginkan jarak maksimum lepas landas.

Oleh karenanya, ketimbang tetap melanjutkan taxiing, pilot memilih untuk menghentikannya. Sebab, runway aktif akan sangat membahayakan saat di tengah kabut tebal. Tak terhitung jumlah insiden fatal di bandara seluruh dunia akibat penerbangan di tengah kabut tebal. Salah satunya adalah insiden kecelakaan pesawat terburuk di dunia yang melibatkan dua Queen of the Skies, Boeing 747 Pan Am Flight 1736 vs KLM Flight 4805 di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Andaipun pesawat tetap taxiing dan mendapat clearance untuk lepas landas, tentu itu sudah sesuai prosedur operasional penerbangan saat dalam kondisi kabut tebal. Sudah sama-sama diketahui bahwa bandara dan pesawat mempunyai jarak pandang minimum yang berbeda untuk lepas landas. Bandara Internasional Perth dan Melbourne, misalnya, mampu melayani pesawat mendarat dan lepas landas bahkan ketika visibilitas menurun hingga 75 persen.

Hanya saja, dalam kondisi seperti itu, pesawat lain harus menunggu di holding point lebih jauh dari biasanya dan harus menunggu sampai pesawat benar-benar mengudara. Sedangkan dalam proses lepas landas, pesawat harus patuh pada airfield landing system dan tetap berkomunikasi dengan ATC untuk memastikan clearance sudah paten, menghindari insiden fatal layaknya insiden Tenerife.

Mendarat di bawah LVP pun juga bukan perkara mudah. Menurut Flight Deck Friend, karena jarak pandang minimum yang diperlukan untuk pendaratan manual adalah 550 meter, pilot harus mengandalkan autopilot untuk pendaratan. Selain itu, bandara juga harus dilengkapi dengan Instrument Landing System (ILS) yang terhubung ke pesawat agar memudahkan proses pendaratan, dengan catatan, runway tetap harus sudah clear terlebih dahulu.

Setelah ATC memberikan clearance dan fitur auto landing sudah bekerja, pilot hanya perlu memastikan bahwa sistem berjalan baik dan mengambil kembali kendali pesawat saat touchdown, melakukan reverse thrust serta pengereman.

Layaknya, takeoff, proses landing di kondisi ini harus memastikan pesawat selesai melakukan rangkaian proses pendaratan sampai taxiing ke apron terlebih dahulu, sebelum pesawat lain menggunakan runway yang sama untuk lepas landas ataupun mendarat. Hal ini tentu membuat angka pergerakan pesawat menurun.

Baca juga: Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien

Jadi, di negara manapun kabut menerjang bandara, termasuk di Indonesia, sebetulnya tak akan terlalu berpengaruh bila pesawat dan bandaranya mendukung operasional penerbangan di tengah kabut tebal, entah itu kabut akibat kebakaran hutan maupun proses alamiah.

Dengan begitu, menjawab pertanyaan di awal, bisa dibilang, sekalipun bandara sudah dilengkapi dengan sistem CatIIIB yang memungkinkan pesawat lepas landas dan mendarat dalam jarak pandang berkurang hingga 75 persen, begitupun juga sebaliknya, pesawat dibekali fitur pendaratan di tengah kabut tebal, tetap saja operasional bandara akan tergganggu. Paling tidak, jumlah pergerakan pesawat pasti menurun.

Lebih dari 1.500 Unit Diproduksi, Inilah Seri Boeing 747 yang Terpopuler dan Sebaliknya

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, hingga akhir hayatnya sudah lebih dari 1.500 unit Boeing 747 diproduksi dalam berbagai seri. Dari banyaknya seri, termasuk sub-varian 747, tentu tak semuanya moncer di pasar. Ada kalanya “Queen of Skies” ini sepi pesanan lantaran spesifikasinya kurang mendapat respon dari pasar.  Nah dari semua serinya, mana tipe jumbo jet 747 yang paling populer dan sebaliknya, tidak populer?

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

#1 747-400
Varian jumbo jet satu ini paling banyak diproduksi oleh Boeing. Secara total ada 694 pesawat dan ini mewakili hampir setengah dari keseluruhan kontingen 747. Jumbo jet 747-400 dikirim selama 20 tahun, mulai dari 1989 hingga 2009. Northwest Airlines adalah maskapai yang pertama menggunakan Boeing tipe ini pada Februari 1989.

Jumbo jet 747-400 menghadirkan dek atas yang membentang dan pertama kali menjadi standar pada 747-300. Boeing memiliki varian 400 lainnya seperti yang dioperasikan Qantas ada enam 747-400ER, KLM mengoperasikan 747-400M, ANA 747-400D. Selain untuk angkutan penumpang, Boeing 747-400 juga untuk pesawat kargo. Selain 126 pesawat standar 747-400F, Boeing juga mengirimkan 40 pesawat jarak jauh -400ERF.

#2 747-200
Varian paling populer berikutnya dari Boeing 747 adalah -200, dengan hampir 400 unit yang diproduksi. Pesawat ini menawarkan jangkauan yang lebih baik dibandingkan dengan model -100 yang asli. Ini juga menampilkan mesin yang lebih kuat dan peningkatan berat lepas landas maksimum (MTOW). Deregulasi penerbangan pada akhir 1970-an menandai berakhirnya penggunaan dek atas sebagai ruang tunggu bagi sebagian besar operator.

Dengan demikian, dek atas -200 dilengkapi dengan 10 jendela di setiap sisinya sebagai standar, sedangkan -100 awalnya hanya memiliki tiga. Sebagian besar dari 747-200 adalah model -200B yang dikonfigurasi penumpang. Namun, seperti -400, Boeing menghasilkan varian ‘combi’ yang dikenal sebagai -200M. Sebanyak 73 pesawat 747-200F berkonfigurasi kargo, bersama dengan 13 -200C. Dalam hal ini, C menetapkan bahwa pesawat dapat dikonversi antara konfigurasi kargo dan penumpang sesuai permintaan operator.

Itu dilakukan dengan menampilkan kursi yang dapat dilepas dan pintu kargo hidung, serta pintu kargo samping opsional di dek utama. Empat 747-200 sisanya adalah varian militer. Produksi berakhir pada tahun 1991, meskipun Iran Air tidak menghentikan sisa penumpang terakhirnya, yaitu 36 tahun -200B, hingga Mei 2016. Ini terjadi sekitar 44 tahun setelah pesawat tersebut pertama kali memasuki layanan dengan maskapai penerbangan Jerman Lufthansa pada tahun 1972.

#3 747-100
Ini adalah varian asli jumbo jet Boeing dan Pan Am menggukannya untuk pertama kali tahun 1970. Produksi Boeing 747-100 hanya 205 pesawat dengan tiga sub kelas varian. Boeing mengembangkan pesawat 29-100SR (‘Short Range’) yang dirancang untuk rute domestik Jepang berkapasitas tinggi. Sembilan contoh yang tersisa adalah varian -100B.
Boeing mengembangkan ini menggunakan teknologi dari -100SR, di mana kapasitas bahan bakar yang meningkat memungkinkan jangkauannya mencapai 9.300 km (5.000 NM). Iran Air adalah operator terakhir dari -100 dan -100B. Contoh terakhirnya, EP-IAM, dihentikan pada tahun 2014.

Baca juga: Nostalgia Boeing 747 Lion Air, Andalan Penerbangan Haji-Umroh yang Beralih Fungsi Jadi Restoran

Ternyata dari varian ini juga ada yang tidak populer yakni 747-8 dengan total sebanyak 150 dan digunakan untuk kargo. Kemudian 747-300 yang hanya dikirimkan kepada maskapai sebanyak 81 dan yang terakhir adalah varian 47SP yang dipersingkat (‘Special Performance’), dengan 45 pengiriman. Meskipun kurang sukses secara komersial, quadjet dengan proporsi yang aneh ini tetap populer di kalangan avgeeks di seluruh dunia saat ini.

Maskapai Ini Izinkan Penumpang Tak Kenakan Masker di Pesawat, Tertarik Mencoba?

Lockdown atau penguncian ketat tentu baik untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Namun, tetap saja, ada bagian-bagian kecil di masyarakat yang menolak lockdown. Begitu juga dengan kewajiban memakai masker, sekalipun sudah terbukti mampu mengurangi persentase pengguna tertular Covid-19, tetap saja ada orang-orang yang menolak memakai masker, bahkan saat sedang di transportasi umum seperti pesawat.

Baca juga: Mengapa Pilot Tak Pakai Masker Saat di Pesawat? Inilah Enam Alasannya

Terhadap kelompok-kelompok seperti itu, maskapai nasional Rusia, Aeroflot punya pendekatan tersendiri. Maskapai penerbangan terbesar di Rusia itu dikabarkan tak ambil pusing alias bakal mengizinkan penumpang tak mengenakan masker saat dalam penerbangan.

Dilansir Traveller, bagi penumpang yang menolak mengenakan masker karena berbagai alasan, seperti alasan medis dan berbagai alasan lainnya, saat dalam penerbangan, Aeroflot akan memisahkan kursi penumpang tersebut dari penumpang lainnya yang mengenakan masker.

“Kursi khusus diberikan untuk penumpang yang menyatakan penolakan mereka untuk menggunakan masker setelah pintu (pesawat) ditutup,” kata juru bicara Aeroflot Yulia Spivakova.

Pihak maskapai mengatakan penumpang yang menolak memakai masker akan ditempatkan di dua baris kursi paling belakang pesawat yang ada di sisi sebelah kanan.

Sebetulnya, maskapai yang dahulu pernah menyandang status maskapai terbesar di dunia itu secara tegas menolak penumpang yang tak mengenakan masker untuk ikut terbang. Adapun kasus di atas adalah pengecualian dimana pesawat sudah lepas landas dan tengah dalam penerbangan kemudian tiba-tiba penumpang menolak mengenakan masker.

Pihak maskapai berdalih bahwa jika menurunkan penumpang yang tidak memakai masker ke bandara terdekat akan mengganggu jadwal penerbangan dan menyita waktu yang lebih lama.

Meski demikian, Spivakova mengatakan bahwa peraturan mengenakan masker di dalam pesawat adalah hal yang wajib dan aturan lainnya tetap berlaku di dalam pesawat.

“Kebijakan ini tidak mengecualikan penerapan tindakan pertanggungjawaban lain karena pelanggaran aturan penggunaan alat pelindung diri di atas pesawat,” tambah Spivakova.

CNN International melaporkan, memakai masker merupakan aturan wajib di seluruh maskapai penerbangan dunia mana pun. Hanya saja dalam praktiknya masih banyak penumpang yang bandel dan menolak mengenakan masker.

Baca juga: Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Rusia bukan satu-satunya negara di mana peraturan masker di pesawat menjadi masalah. Di Amerika Serikat, insiden penumpang yang menolak memakai masker telah terjadi beberapa kali.

Pada Juli 2020, sebuah penerbangan Southwest Airlines kembali ke Bandara Internasional Denver ketika terjadi perkelahian antara penumpang, karena menolak mengenakan masker.

Car-eBike CitiyQ Muat Banyak Barang dan Melindungi Anda dari Cuaca

Sepeda elektronik atau ebike yang ada saat ini membutuhkan sedikit lebih banyak tenaga untuk mengayuh dari pada sepeda biasanya. Tetapi sebagian besar ebike masih menawarkan sedikit kapasitas kargo atau perlindungan cuaca.

Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Ini kemudian membuat CityQ menghadirkan Car-eBike yang merupakan sepeda listrik dengan fungsi mobil. Di mana kendaraan ini adalah sepeda roda empat yang menyerupai mobil. Sebab sepeda tersebut dilengkapi dengan perlindungan dari elemen dan beberapa ruang di belakang untuk mengangkut satu penumpang atau meletakkan barang bawaan.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (8/1/2021), terlihat seperti mobile, Car-eBike milik CityQ ini dilengkapi dengan jendela dan tanpa, pintu semi berputar yang dapat tertutup penuh atau setengahnya.

“Bayangkan bersepeda kapan pun Anda mau meskipun cuaca, lalu lintas, atau batasan bagasi. Bayangkan membawa orang-orang tersayang Anda dengan aman, anak-anak Anda, tas Anda dan jangan lupakan anjingnya. Tidak harus menggunakan mobil atau angkutan umum untuk pergi ke toko atau gym, juga bisa ke tempat kerja, keliling kota atau ke pantai. Semua itu tanpa harus khawatir tentang parkir, SIM, atau hari hujan,” kata CityQ.

Untuk menggunakan Car-eBike, Anda harus mengayuhnya agar bergerak yang artinya secara teknis masih sepeda. Tetapi, uniknya Car-eBike tidak memiliki rantai tau roda gigi mekanis seperti mobil listrik. Sebab Car-eBike menggunakan drivetrain yang dikelola perangkat lunak sehingga memungkinkan pemrograman sejumlah mode berkendara dan dilengkapi dengan cruise contor, mundur, kargo berat, persneling otomatis atau meregenerasi rem, tergantung kebutuhan saat ini,

Tidak seperti e-bike lainnya, Car-eBike tidak memiliki mode khusus throttle. Car-eBike didukung oleh motor 250W untuk mematuhi peraturan UE, yang memiliki kecepatan tertinggi 25 km per jam (15,5 mph) dan jangkauan 70 hingga 100 km (43 hingga 62 mil) menggunakan paket baterai ganda.

CityQ mengatakan telah mematuhi peraturan Eropa untuk e-bikes dan e-bikes 3-4 roda, yang berarti Anda dapat mengendarainya di jalur dan jalur khusus sepeda, jika tersedia. Namun, di kota dengan infrastruktur sepeda yang kurang berkembang, itu berarti mengendarainya di jalan, dalam lalu lintas yang teratur.

Car-eBike memiliki berat 70 kg (154 pon) yang hadir dengan konektivitas dan pasangan Bluetooth dengan aplikasi khusus, sehingga Anda dapat melacak dan mengunci atau membuka kuncinya, sehingga Anda dapat meninggalkannya di luar.

“CityQ adalah ebike dengan kenyamanan dan teknologi mobil dan dengan keunggulan sepeda. Anda dapat bersepeda dua anak dan bagasi dari pintu ke pintu tanpa harus khawatir tentang cuaca buruk, lalu lintas mobil atau masalah parkir,” kata pendiri Morten Rynning.

Baca juga: Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah

Untuk saat ini Car-eBike dari CityQ masih dalam pembuatan dan harganya sekitar €7.450 (sekitar US$9.093) di akhir, yang membuatnya sejajar dengan e-bike yang sangat canggi atau mobil sebenarnya berbiaya rendah. Namun, minat terhadapnya cukup tinggi, sebab menurut perusahaan, lebih dari 500 orang telah memesan Car-eBike mereka sendiri dan perusahaan sedang dalam pembicaraan untuk armada transportasi kargo di Skandinavia dan Inggris.

Knuckles-5, Joystik Satu Tangan yang Mudahkan Pilot Drone

Ketika mengoperasikan drone, biasanya ada dua joystik untuk menggerakannya. Namun hal ini terkadang menyulitkan untuk para pilot drone yang hanya bisa memfungsikan satu bagian tangannya saja. Karena hal ini joystik Knuckles-5 satu tangan dirancang untuk digunakan.

Baca juga: Ninja UAV – Drone yang Bantu Pemetaan dan Pengawasan Indian Railways

Knuckles-5 sendiri dibuat oleh tim spesialis internasional dari berbagai bidang yang terkait dengan industri drone. Yang mana perangkat tersebut dalam bentuk prototipe dan sudah berfungsi. Sehingga setelah mencapai produksi, ini bisa juga digunakan dalam aplikasi non drone seperti game.

Knuckles-5 menggantikan dua joystick tradisional dengan dua trackball yang mana satu digerakkan dengan jari telunjuk, sedangkan yang lainnya digerakkan oleh ibu jari. Masing-masing mengontrol drone di sepanjang dua sumbu gerakan.

Sedangkan dua sumbu lainnya dikendalikan oleh joystick mini yang diaktifkan oleh ibu jari, sedangkan dua sumbu lainnya dikendalikan oleh IMU (unit pengukuran inersia) yang mendeteksi arah kemiringan pengontrol. Itu semua menambahkan hingga mengontrol delapan sumbu gerakan.

Layar LCD kecil di atas perangkat menampilkan data drone seperti tingkat pengisian baterai. Fungsionalitas tambahan lebih banyak untuk hal-hal seperti bermain game yang mana dimungkinkan melalui empat tombol tekan yang dapat disesuaikan dengan tiga sakelar dan dua trackball yang juga berfungsi ganda sebagai tombol. Dengan menetapkan tindakan yang berbeda ke kontrol yang berbeda ini, dilaporkan memungkinkan untuk mengontrol gerakan hingga 19 sumbu, atau untuk mengakses sebanyak 40 fungsi tombol.

“Setelah bekerja di bidang ini selama sekitar tujuh tahun, saya menyadari bahwa banyak model pengontrol drone tidak sepenuhnya memanfaatkan kemampuan tangan manusia,” kata pendiri dan CEO Knuckles-5, Kostiantyn Borysov yang dikutip KabarPenumpang.com dari newatlas.com (30/12/2020).

“Tim kami mengembangkan Knuckles-5 sebagai alternatif pengendali jarak jauh dua tangan klasik. Tujuannya adalah untuk mengatasi kelemahan pengendali dua tangan dan untuk menawarkan lebih banyak kemungkinan dan kebebasan kepada penggunanya,” tambahnya.

Baca juga: Di Inggris, Eks Pilot Jet Tempur Operasikan Drone Medis Suplai Pasokan Antar Rumah Sakit

Borysov memberi tahu bahwa pengontrol tersebut akan tersedia pada akhir tahun depan, dengan harga sekitar US$250 hingga $300. Itu ditunjukkan dengan melakukan debut resminya bulan depan di CES 2021. Calon pembeli mungkin juga ingin memeriksa FT Aviator, yang mengambil pendekatan berbeda untuk semacam kontrol drone satu tangan. Drone Shift juga menampilkan pengontrol satu tangan, tetapi kampanye Kickstarter-nya dibatalkan.

Bandara Eindhoven Belanda Uji Coba Teknologi Check-in Bagasi Mandiri

Masa pandemi semua hal seperti dibuat praktis dan mudah bahkan tak perlu berinteraksi langsung dengan banyak orang. Seperti halnya di bandara yang memberikan kemudahan bagi penumpang dengan memperkenalkan berbagai teknologi untuk memudahkan dalam berbagai proses.

Baca juga: Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik

Salah satunya memperkenalkan teknologi pengenalan gambar di mana penumpang akan dapat melakukan check in bagasi di Bandara Internasional Eindhoven, Belanda dengan lebih lancar. Dilansir KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (13/8/2020), Bandara Eindhoven mengumumkan bahwa ini akan menjadi tempat pengujian untuk pengembangan solusi canggih yang akan membuat bandara lebih berkelanjutan dan cerdas.

Pihak bandara mengatakan, dengan menyediakan fasilitasnya, hal ini akan memungkinkan penerapan teknologi mutakhir yang dikembangkan oleh Vanderlande. Selain itu juga menjalankan pengujian di lingkungan hidup untuk berinovasi, mengoptimalkan dan menyederhanakan sejumlah proses di bandara.

Bandara Eindhoven dan Vanderlande berbasis di wilayah Brainport yang inovatif di Belanda akan berkolaborasi dengan lembaga teknologi, desain dan pengetahuan selama beberapa bulan sebagai uji coba untuk mempercepat prosesnya. Sebagai bagian dari pengaturan, Bandara Eindhoven, Vanderlande dan spesialis identifikasi bagasi BagsID akan menerapkan pembelajaran komputer dan teknologi pengenalan gambar.

Ini akan memungkinkan penumpang untuk mendaftarkan barang bawaan hanya dengan peralatan kamera mengambil fotonya. Pada awal 2021, Bandara Eindhoven juga bermaksud untuk mulai menguji kendaraan swakemudi di apron, yang dapat mentransfer bagasi secara mandiri ke dan dari pesawat.

“Industri penerbangan menghadapi banyak tantangan dan, melalui inovasi, kami mencari cara untuk mengubahnya menjadi peluang. Kami telah bekerja sama dengan Vanderlande selama bertahun-tahun, yang, seperti kami, ingin menjadi pelopor dalam penerapan teknik baru untuk meningkatkan proses bandara. Strategi masa depan kami didasarkan pada keyakinan bahwa inovasi dalam penerbangan dapat dipraktikkan lebih cepat jika berbagai disiplin ilmu bekerja sama dengan mulus,” kata COO Bandara Eindhoven, Mirjam van den Bogaard.

Baca juga: Angkut Bagasi Penumpang, Bandara Internasional Dallas-Forth Worth Gunakan Robot FLEET

Direktur Pasar Vanderlande-Bandara, Mark Lakerveld, menambahkan, inovasi sangat penting dalam lebih mengoptimalkan proses bandara dan meningkatkan pengalaman penumpang. Teknologi baru, robotika, dan digitalisasi akan membantu membentuk bandara masa depan.

Seakan Mati Suri, Akankah Era Perjalanan Backpacker Berakhir Karena Pandemi?

Rasanya seperti tersambar petir bagi industri pariwisata dan transportasi ketika Covid-19 tiba-tiba menjadi pandemi di seluruh dunia dan menghentikan semua perjalanan. Dan itu juga dirasakan oleh hampir semua backpacker di seluru dunia. Di mana yang biasanya mereka bisa bepergian, kini hanya menggantungkan ransel entah sampai kapan.

Baca juga: Bandara Hong Kong dan Heathrow, Dua Bandara Besar yang Terpuruk Pandemi

Bahkan juga beberapa diantaranya sudah banyak yang gatal untuk bepergian dan menikmati liburan secara normal seperti sebelum pandemi. KabarPenumpang.com merangkum cnn.com (31/12/2020), liburan keliling dunia sudah ada berabad-abad yang lalu, dan baru pada tahun 1950-an dan 60-an backpaking benar-benar dimulai.

Saat itu, rute Eropa dan Asia Tenggara dikenal dengan jalur hippie yang terbukti populer dikalangan anak muda dengan anggaran terbatas dan ingin memperluas wawasan mereka. Meski sudah berkembang selama bertahun-tahun, backpacking cenderung berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tinggal di hostel mengambil pekerjaan di sana sini serta terikat dengan sesama pelancong lannya.

Yang menarik dari backpacking, karena jenis perjalanan ini terjangkau. Para backpacker bisa tidur di asrama dengan harga yang murah dari hotel dan pertumbuhan maskapai penerbangan berbiaya hemat pun membuka banyak hal bagi mereka yang sebelumnya menganggap perjalanan tidak terjangkau secara finansial.

Tapi sayangnya ini semua harus berhenti sesaat seperti mati suri karena pandemi Covid-19 dan membuat maskapai penerbangan mengalami kerugian gabungan sebesar US$157 miliar pada tahun 2020 dan 2021. Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional, penerbangan murah yang diandalkan oleh para backpacker ini bisa menjadi bagian dari masa lalu.

Pasalnya, meski sudah ada vaksin, tetapi di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Inggris dan mungkin negara lainnya di dunia tetap meminta bukti tes PCR negatif saat keberangkatan atau kedatangan pelancong. Persyaratan ini pun bisa menjadi agak mahal bagi mereka yang berencana mengunjungi banyak tujuan di mana tes tidak disediakan secara gratis.

Nyatanya, pandemi ini membuat banyak backpacker benar-benar menahan diri. Apalagi pendapatan yang menurun dan tak kunjung jelas membuat mereka memilih di rumah dibandingkan untuk menghabiskan uang di jalanan.

KabarPenumpang.com menghubungi salah satu anggota backpacker di Indonesia. Ia mengaku akan bertahan beberapa tahun kedepan untuk tidak bepergian keluar negeri dan lebih memilih mengeksplore Indonesia.

Adiarta Pratama, backpacker asal Bali ini mengungkapkan, dirinya ada niatan untuk kembali berlibur dengan hemat. Namun kini berpikir kembali karena meski tiket murah, tetapi biaya PCR yang tinggi mengurungkan niatnya.

“Tiket sekarang murah, karena maskapai menurunkan harga. Tapi yang mahal itu biaya PCR nya. Kalau tiket cuma Rp90 ribu tapi biaya PCR ratusan sampai jutaan rupiah mending di rumah saja dan uangnya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” kata pria yang akrab di panggil Tama ini.

Meski begitu, banyak negara yang menganggap tak adanya backpacker menguntungkan karena mereka dianggap merusak dan berperilaku buruk. Bahkan Stuart Nash, menteri pariwisata Selandia Baru menyarankan negara itu hanya membuka wisatawan dengan penghasilan tinggi.

Baca juga: Singapura Hadirkan Tur Virtual Untuk Mudahkan Pelancong

Ucapannya kemudian dianggap sebagai penghinaan langsung bagi para backpacker. Jenni Powell, ketua Backpacker Youth and Adventure Tourism Association, menekankan bahwa backpacker berkontribusi ke Selandia Baru dengan banyak cara yang berbeda dan positif.

 

 

Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris

Pada hari ini, 58 tahun lalu, bertepatan dengan Rabu, 16 Januari 1963, Yvonne Pope Sintes resmi menyandang sebagai pilot maskapai wanita pertama di Inggris. Tak hanya itu, wanita keturunan Inggris-Afrika Selatan ini juga tercatat sebagai pengawas lalu lintas udara wanita pertama di Bandara Gatwick, Inggris.

Baca juga: Kwon Ki-ok, Pilot Wanita Pertama Korea dan Cina Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

Dilansir buckinghamcovers.com, lahir pada tahun 1930, Yvonne mulai jatuh cinta dengan pesawat pada usia delapan tahun. Sejak saat itu, ia sudah bertekad untuk mampu menerbangkannya suatu hari nanti.

Guna mewujudkan mimpinya, ia coba bergabung dengan Royal Air Force, tetapi, saat itu, tepatnya pada tahun 1948, RAF sedang tidak menerima wanita sebagai calon penerbang. Alhasil, ia banting setir menjadi pramugari di Scottish Airlines, bergabung dengan British Overseas Airways, dan kemudian bergabung di sekolah penerbangan Airways Aero Club milik British Overseas Airways serta berhasil mendapat lisensi Private Pilots License (PPL) di sana.

https://twitter.com/BBCArchive/status/1138060744518451201?s=20

Usai menyandang lisensi PPL, ia berkesempatan mewujudkan mimpinya dimulai dari RAF Volunteer Reserve. Di sini, ia mendapatkan banyak momen untuk meningkatkan jam terbangnya dan mencapai rating instruktur. Namun, ia harus melepas masa-masa indahnya menjadi seorang pilot ketika terjadi perubahan peraturan, dan memutuskan menjadi petugas ATC wanita pertama di Bandara Gatwick.

Di bandara tersebut, ia bertugas menjaga approach and radar, sebelum akhirnya dimutasi menjadi petugas ATC di Bandara Stornoway di Skotlandia. Di sela-sela itu, Yvonne Pope Sintes melanjutkan sekolah penerbangannya di Air Traffic School atas rekomendasi dari Doves Ministry, sebuha organisasi keagamaan.

Dengan sisa semangat untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pilot pesawat, dalam hal ini pilot pesawat komersial, ia terus mencari celah dan kesempatan hingga akhirnya resmi menyandang status tersebut saat menerbangkan pesawat Douglas C-47 Skytrain Morton Air Services pada tahun 1965. Di sini, sebetulnya ada perbedaan pendapat, dimana, sumber lain menyebut Yvonne Pope Sintes menjadi pilot komersial wanita pertama di Inggris pada tahun 1963.

Selain menerbangkan Dakota, ia juga menerbangkan de Havilland Heron dan de Havilland Dove mengelilingi Inggris dan sekitaran Eropa.

Pada tahun 1969, Yvonne pindah ke maskapai Dan Air, sekaligus memulai petualangan barunya sebagai ketua Asosiasi Pilot Maskapai Inggris (British Airline Pilots Association/BALPA). Di sini, ia menerbangkan banyak pesawat yang belum pernah dikemudikannya, seperti Airspeed Ambassador, Hawker Siddley HS 748, BAC 1-11, dan De Havilland Comet, menjadikannya sebagai pilot wanita pertama yang menerbangkan pesawat jet komersial pertama dunia itu.

Karirnya semakin melonjak setelah pada tahun 1975 ia resmi menjadi kapten jet maskapai wanita pertama di Inggris. Dia terbang ke seluruh Eropa, Kepulauan Canary, dan Timur Dekat sampai pensiun pada tahun 1980.

Baca juga: Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini

Semasa menjadi pilot, Yvonne Pope Sintes mendapat sederet penghargaan, seperti Lord Brabazon of Tara Award di kategori flying instructing, European Air Traffic Controller oleh International Owner and Pilot Association, penghargaan dari Sir Alan Cobham, serta Amelia Earhart (pilot wanita pertama di dunia) Scholarship for career advancement.

Pada tahun 1974 ia juga dianugerahi Whitney Straight Award untuk pencapaiannya dalam penerbangan oleh HRH Princess Anne dan saat pensiun mendapat British Airline Pilots Silver Medal for work towards air safety.