Ulah Orang Iseng Dibalik Tanda SOS, TOLONGGG, dan ‘Kami Masih Hidup’ di Pulau Laki

Di setiap perisitiwa pasti akan selalu ada ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab; tak terkecuali terkait kecelakaan pesawat Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182, dimana ada tanda SOS, TOLONGGG dan sebagainya di Google Maps.

Baca juga: Pasir Sinyal ‘SOS’ Selamatkan Tiga Pria Usai Terdampar Tiga Hari di Pulau Terpencil Tak Berpenghuni

Diketahui, pesawat yang mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 kru, 40 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi ini dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Meskipun misteri jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC ini masih belum terungkap lantaran salah satu bagian dari black box (Cockpit Voice Recorder) rusak dan memorinya hilang, namun, dari data-data sebelum pesawat hilang kontak, pesawat sempat menukik tajam dengan kecepatan tinggi. Dalam kecepatan tinggi itulah kemudian pesawat menghujam lautan di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang.

https://twitter.com/pidipaw/status/1351558817746612224?s=20

Dengan posisi itu, tak heran bila banyak korban kecelakaan itu sudah tak lagi utuh. Potongan tubuh bahkan ditemukan dimana-mana, baik di sekitar lokasi kejadian bahkan hingga Pantai Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan di Pantai Kis, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Singkatnya, besar kemungkinan -bila tak ingin dikatakan mustahil- bahwa tak ada korban selamat dalam insiden itu.

Oleh karenanya, aneh bila tanda atau sinyal SOS dan TOLONGGG di Google Maps, yang sempat membuat warga Twitter heboh, muncul sebagai pertanda adanya korban selamat yang meminta pertolongan di Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Bukan hanya itu, berbagai tanda lainnya juga muncul seperti pesan bertuliskan “Kami masih hidup” dan “Tolongin kita” juga viral di Twitter.

Terlepas dari ini hoax atau ulah orang iseng atau bukan, tim SAR sendiri sudah bergerak ke lokasi dan menyisir seluruh area. “Kita nggak menemukan apa-apa,” ujar Direktur Operasi Basarnas Brigjen Rasman MS kepada wartawan.

Penjelasan dari Google sendiri, sebagaimana laporan CNN Indonesia, ada tiga sumber data Google Maps, yaitu Google sendiri, pihak ketiga dan sumber publik, seperti data dari pemerintah dan institusi peta untuk memberikan penamaan jalan, kota, wilayah, dan keterangan geografis lain, serta kontribusi pengguna.

Saat di klik, pengguna bisa menambahkan sendiri nama tempat yang dimaksud, memilih kategori tempat, dan keterangan tambahan lain seperti nomor telepon, waktu buka, foto, hingga alamat web. Setelah informasi dikirim, tag tidak langsung tampil di Google Maps, tapi perlu persetujuan Google terlebih dulu.

Baca juga: Fake GPS, Jurus Pengemudi Online Akali Order Pelanggan

Pilihan kategori tempat, apakah itu taman, tempat belanja, atau hotel, akan memberikan tag khusus. Pada tag SOS di Pulau Laki, ditandai tag dengan simbol taman.

Dari keterangan Google di atas, itu berarti siapapun bisa berkontribusi untuk menambahkan nama tempat, tentu dengan nama yang diinginkan kontributor. Sama halnya ketika salah satu tempat di sekitar rumah Anda atau mungkin rumah Anda sendiri di-tag sebagai rumah ibadah atau mungkin mall oleh kontributor iseng, bisa saja dan bukan tak mungkin akan disetujui oleh Google sekalipun sebagai sebuah kekeliruan sistem.

Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

0

Berbagai macam cara dilakukan untuk memudahkan persyaratan bepergian dengan pesawat dan masuk ke dalam suatu negara di masa pandemi. Salah satunya dengan Paspor Covid yang membuktikan bahwa penumpang memiliki hasil tes Covid-19 atau sudah divaksin.

Baca juga: Gegara Corona, 21 Wilayah di Rusia Meminta Izin Akses Travell Pass Digital ala Moskow

Paspor Covid baru tengah dalam uji coba yang nantinya dapat membantu serta memudahkan penumpang untuk menavigasi berbagai aturan saat bepergian termasuk persyaratan tes Covid-19. Dilansir KabarPenumpang.com dari mirror.co.uk (19/1/2021), saat ini maskapai Emirates yang bermitra dengan Asosiasi Tansportasi Udara Internasional (IATA) menguji IATA Travel Pass yang merupakan Paspor Covid.

Ini adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan Anda menyimpan informasi penting seperti hasil tes Covid-19 yang negatif dan informasi terkait penerimaan vaksin. Untuk memudahkannya, pelancong bisa mengikuti tes Covid-19 di lab bersertifikat dan hasilnya akan dikirimkan ke aplikasi seluler yang kemudian dapat mereka bagikan dengan pihak berwenang maupun maskapai penerbangan ketika akan bepergian.

Aplikasi ini juga diatur untuk menawarkan fitur yang sama bagi mereka yang sudah memiliki bukti bila sudah di vaksin Covid-19. Platform ini juga memungkinkan laboratorium dan pusat pengujian resmi untuk mengirimkan hasil tes dan sertifikat vaksinasi dengan aman kepada penumpang.

Saat ini Travel Pass IATA akan diujicobakan oleh Emirates pada penerbangan dari Dubai mulai April 2021. Kemudahan lainnya yang bisa didapatkan pelancong adalah mereka yang mengggunakan pesawat Emirates, bisa membagikan hasil tes Covid ataupun vaksin mereka sebelum tiba di bandara.

Hal ini bisa membuat penumpang secara otomatis masuk ke dalam sistem check in. Meski dimudahkan dengan Travel Pass, penumpang tetap harus membawa dokumen mereka seperti paspor dan visa yang relevan serta yang lainnya.

Nick Careen, Wakil Presiden Senior IATA untuk Bandara, Penumpang, Kargo, dan Keamanan mengatakan bahwa izin baru adalah langkah pertama dalam membuat perjalanan internasional selama pandemi menjadi senyaman mungkin, sehingga orang-orang yakin bahwa mereka memenuhi semua persyaratan masuk Covid-19 oleh pemerintah.

Ini bukan pertama kalinya aplikasi semacam ini diujicobakan. Tahun lalu, tiket digital serupa diujicobakan pada penerbangan yang dioperasikan oleh United Airlines dan Cathay Pacific, dengan para penumpang yang menjadi sukarelawan untuk skema tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

“Meskipun perjalanan internasional tetap aman seperti sebelumnya, ada protokol baru dan persyaratan perjalanan dengan pandemi global saat ini. Kami telah bekerja sama dengan IATA dalam solusi inovatif ini untuk menyederhanakan dan mengirimkan secara digital informasi yang diperlukan oleh negara dan pemerintah ke dalam sistem maskapai kami, dengan cara yang aman dan efisien,” kata Chief Operating Officer Adel Al Redha Emirates.

Mengenang Sosok David Warren, Sang Penemu Black Box Gegara Ayah Kecelakaan Pesawat

Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 mengingatkan kembali dunia akan pentingnya black box manakala insiden terjadi. Sebab, tanpa black box atau kotak hitam, kecelakaan pesawat hanya akan menjadi misteri tanpa diketahui penyebab jatuhnya.

Baca juga: Black Box Pesawat Bisa Hancur! Ini Penyebabnya

Di masa lalu, sebelum black box ditemukan, David Warren, pria asal Australia, mungkin amat merasakan hal itu. Terlebih, kecelakaan pesawat yang terjadi menimpa orang tercinta dan terpenting dalam hidup, yaitu ayahnya. Tak ingin hal itu terulang kembali atau mungkin dirasakan oleh orang-orang di masa mendatang, ia pun berinovasi sampai akhirnya menemukan dan mengembangkan alat perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR) pertama di dunia yang pada akhirnya disebut black box.

Sebagaimana penemu berbagai teknologi atau inovasi di masa lalu, umumnya temuan dari mereka tak langsung mendapat respon positif. Butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat akan temuannya; tak terkecuali David Warren. Terciptanya black box, yang sebegitu pentingnya di dunai penerbangan, oleh pria bernama lengkap David Ronald de Mey Warren AO ini juga tak mendapat respon apapun dari negaranya, Australia.

Dilansir dst.defence.gov.au, Warren lahir pada 1925 di Groote Eylandt, sebuah pulau di lepas pantai utara Australia.

Ayahnya, Rev Hubert Warren meninggal di tahun 1934 dalam insiden yang dikenal dengan peristiwa hilangnya Miss Hobart di Selat Bass. Otoritas Penerbangan Sipil Australia melakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil. Peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai kecelakaan pesawat pertama di Australia, dan semua penumpang dinyatakan tewas. Sebetulnya kecelakaan pesawat pertama di Australia bukan 1934, melainkan pada 21 Maret 1931 dimana pesawat Avro 618 Ten ‘Southern Cloud’ Australian National Airways (ANA) menghilang secara misterius.

Sebelum tewas dalam insiden kecelakaan pesawat pertama di Australia, ayahnya sempat memberikan kado. Kado terakhir dari ayahnya yang diterima David yang saat itu berusia 9 tahun adalah crystal set. Gadget ini populer pada masa itu untuk mendengarkan radio. Crystal set dari sang ayah mengantarkannya pada kecintaan terhadap hobi merakit radio dan dunia sains.

Pada 1950-an, Warren bekerja untuk Aeronautical Research Laboratories di Melbourne. Sekitar 7 tahun, ketertarikannya untuk merekam musik secara pribadi pada akhirnya mengantarkan David Warren untuk menemukan dan mengembangkan prototipe perekam penerbangan atau flight recorder pertama di dunia yang disebut ‘Memory Unit’. Sayangnya, penemuan tersebut lebih banyak mengundang kritik dibandingkan pujian.

Akhirnya, Inggris dan Amerika Serikat yang menanggapi penemuan Warren lebih serius dan memproduksi black box secara massal. Warren dikabarkan tidak mendapatkan imbalan finansial atas penemuannya.

Saat pertama kali dikembangkan, alat ini belum disebut sebagai black box, melainkan ARL Flight Memory Recorder. Prototipe pertama black box dibuat tahun 1956. Saat itu, pada rentang 1952-1983, David bekerja di Aeronautical Research Laboratories (ARL) sebagai peneliti utama sains yang berpusat di Melbourne, Australia.

Dia terlibat dalam penyelidikan kecelakaan pesawat komersial bertenaga jet pertama di dunia bernama Comet yang diluncurkan pada 1952. Namun, tiga pesawat Comet hilang sesaat setelah lepas landas dan menewaskan semua penumpang.

Baca juga: Inilah Jawaban Mengapa Black Box Direndam Air Pasca Ditemukan

Ide merancang black box yang sudah dipikirkannya sejak kecil semakin kuat ketika melihat miniatur alat perekam di sebuah pameran dagang. David berpikir, seandainya peneliti bisa mengetahui apa yang terjadi pada menit-menit sebelum pesawat jatuh, hal ini dapat membantu mencegah kecelakaan yang sama di kemudian hari.

Penemuan Warren pun baru diakui oleh Australia pada 2002. Dia akhirnya dianugerahi Orde Australia atas kontribusinya. Warren menutup usia pada 2010 dalam usianya ke 85 tahun. Penemuan dia telah menjadi andalan seluruh pesawat di dunia hingga saat ini. Namun, tak diketahui pasti mengapa alat perekam pesawat tersebut berakhir dengan nama kotak hitam.

Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump sudah tidak lagi menjabat usai Presiden AS ke-46, Joe Biden resmi dilantik pada 20 Januari 2021. Dengan diantar Air Force One untuk kali terakhir, Trump pun sampai West Palm Beach, Florida dan disambut meriah para pendukungnya.

Baca juga: Gedung Capitol AS Dapat Ancaman Mau Ditabrak Pesawat! Ulah Pendukung Trump?

Trump memang tidak menghadiri pelantikan Joe Biden, menjadikannya sebagai Presiden AS pertama yang tak menghadiri pelantikan presiden pengganti dalam satu abad terakhir.

Dilansir Simple Flying, sebelum turun dari jabatan, Presiden AS sebelum Trump biasanya menumpangi pesawat Air Force One lain. Tetapi, tidak dengan Trump. Ia pun nampak niat sekali untuk menggunakan Boeing 747 yang disulap sebagai VC-25A ini. Apapun alasannya, yang jelas, Air Force One lepas landas dari Washington pada pukul 11 siang waktu setempat atau satu jam sebelum Joe Biden resmi dilantik. Secara yuridis, ia memang masih diperbolehkan menggunakan pesawat itu selama presiden pengganti belum dilantik.

Sebelum menumpangi Air Force One VC-25A, Trump sempat mengunjungi beberapa tempat dengan Sikorsky VH-3D Sea King Marine One. Ia kemudian mengadakan beberapa perpisahan serta upacara keberangkatan sebelum menumpangi VC-25A.

Sementara Trump menggunakan Air Force One, Joe Biden yang secara legal sebetulnya bisa menggunakan pesawat Air Force Two, yaitu sebuah pesawat modifikasi dari Boeing 757, atau biasa dikenal sebagai C-32, justru malah menumpangi pesawat Boeing 737 cateran.

Meski demikian, pesawat Boeing Business Jets carteran dari sebuah perusahaan leasing, Jet Edge, itu konfigurasinya sudah disesuaikan untuk kelas VVIP. Pesawat dengan nomor registrasi N934BZ itu merupakan jet mewah dengan kapasitas 16 penumpang yang dilengkapi berbagai fasilitas kelas satu, seperti lounge, sofa, hingga ruang meeting.

Disebutkan, Biden memang tak terlalu terlihat bermewah-mewahan terhadap pesawat. Jika itu benar, seharusnya ia tak terlalu memusingkan atas kebijakan Trump tentang perubahan livery pesawat Air Force One, yang bagi sebagian kalangan mirip dengan maskapai Trump Shuttle di tahun 1989.

Sebelumnya, pada awal Februari tahun lalu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengumumkan rencana perubahan pesawat Kepresidenan AS (Air Force One). Salah satu yang menarik dari rencana perubahan tersebut adalah warna pada pesawat, yakni merah, putih, dan biru, yang mengingatkan kita pada Trump Shuttle, maskapai bangkrut milik Donald Trump.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Thehill.com, melaporkan dalam rincian anggarannya, Pentagon mengajukan anggaran sebesar US$800,9 juta atau sekitar Rp11 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS untuk program Rekapitalisasi pesawat VC-25B atau program rekapitasisasi pesawat Air Force One. Hal ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat Air Force One saat ini dengan dua pesawat Boeing 747-8 yang baru sekaligus dimodifikasi, sesuai dengan pengajuan anggaran pertahanan administrasi Trump.

Namun, jalan Trump untuk merealisasikan keinginannya tersebut bukannya tanpa halangan. Apalagi, kini ia sudah tak lagi menjabat. Dua tahun lalu, Trump sebetulnya sudah berusaha meminta persetujuan kongres untuk perubahan skema livery pesawat kepresidenan dan desain interior. Namun ditolak dan masih menggantung hingga RAPBN AS 2021 mendatang.

Nehru Science Center Restorasi Lokomotif Uap dan Jet Tempur dari Masa Lalu

Kemajuan teknologi di bidang transportasi membuat masa-masa kejayaan moda transportasi masa lalu seakan terlupakan. Namun meski begitu, India baru-baru ini membangkitkan lokomotif dan pesawat dari masa lampau yang telah pensiun di Nehru Science Center (NSC) di Worli.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

Lokomotif dan pesawat ini kembali dibenahi dengan diperbaiki dan dikembalikan warnanya agar bisa menjadi pengingat kejayaan keduanya di masa lalu. KabarPenumpang.com melansir timesofindia.indiatimes.com (18/1/2021), pesawat ini adalah jet tempur buatan dalam negeri pertama India dengan kode HF-24 Marut dan dirancang oleh insinyur Jerman era Nazi dan digjnakan dalam Perang Kemerdekaan Bangladesh.

Sedangkan lokomotif uap berumur 114 tahun pernah menarik kapal ke dermaga Mazgaon dan salah satu lokomotif listrik pertama yang memasuki rel kereta api di akhir tahun dua puluhan. Sedangkan mobil trem listrik dari tahun 1902 dan mesin uap Kereta Api Darjeeling Himalayan yang legendaris untuk pertama kalinya sejak mereka menyelesaikan perjalanan memutar dan menjalani pekerjaan restorasi besar-besaran sebagai bagian dari prakarsa pusat tersebut untuk mempertahankan warisan transportasi negara.

“Artefak ini telah dipamerkan di taman sains terbuka Pusat Sains Nehru sejak 1979. Sayangnya, kondisi iklim yang panas karena dekat dengan laut selama bertahun-tahun menyebabkan korosi dan kerusakan. Meskipun upaya kecil seperti mengecat tubuh dilakukan sesekali, tidak pernah ada upaya untuk memulihkan artefak ini secara holistik dengan bantuan ahli,” kata direktur NSC, Shivaprasad Khened.

Sedangkan untuk jet tempur sendiri disumbangkan oleh Angkatan Udara India ke taman sains pada 1978. Untuk pemeliharaanya pihak taman sains meminta bantuan dari pihak pembuatnya yakni Hindustan Aeronautics Limited. Khened mengatakan pihaknya kemudian memanfaatkan penguncian di masa pandemi ini. Di mana mereka bersama dengan para ahli kemudian menghidupkan kembali benda-benda dari indistri transportasi.

”Meskipun pandemi Covid-19 memberi kami kesempatan untuk mencoba memulihkan besar-besaran pesawat bersejarah ini, kami juga menghadapi krisis dana yang parah. Kami mengajukan banding ke HAL, Nashhik. Mereka mengirim tim insinyur dan teknisi yang berkemah di pusat kami selama tiga minggu dan melakukan pemulihan, tanpa biaya,” kata Khened.

Kendaraan lain yang direstorasi ke bentuk aslinya dengan corak pita hitam dan merah adalah lokomotif listrik yang diproduksi sekitar tahun 1929 yang beroperasi antara Kalyan dan Pune selama era pra-kemerdekaan di bawah Great Indian Peninsular Railways.

“Pelat permukaan eksterior, member struktur dan atap terkorosi berat. Kami melepas dan mengganti semua bagian yang terkorosi dan pelat permukaan serta menjaga warna, tekstur, dan struktur aslinya,” kata kepala manajer bengkel Vivek Acharya.

Sebuah lokomotif uap tahun 1906 yang menggantikan gerbong bertenaga manusia dan hewan untuk mengangkut kapal ke dok kering Mazgaon dan untuk mengangkut material pengiriman dibangkitkan dari keausan substansial yang disebabkan selama empat dekade sejak diberikan kepada NSC.

Baca juga: Boeing 747 British Airways Disulap Jadi Museum dan Bioskop

“Selain dari kelembapan, penanganan konstan pengunjung dapat merusak logam. Tidak seperti museum seni dan arkeologi, museum sains dirancang dengan pameran langsung yang dapat disentuh. Sayangnya pendekatan non-koersif ini kontraproduktif dalam melestarikan artefak,” kata Khened.

KRL Yogya-Solo Gunakan Kereta Produksi PT INKA

Kereta api listrik atau KRL bukan hanya akan ada di Jabodetabek tetapi juga akan mulai mengular di Yogyakarta dan Solo. Kereta ini akan mengangkut penumpang dan berhenti di sebelas stasiun di mana empat diantaranya baru digunakan untuk pemberhentian kereta.

Baca juga: KRL Yogyakarta ke Solo Berhenti di Sebelas Stasiun

Dari kabar yang tersiar, KRL di Daerah Operasi atau Daop 6 Yogyakarta ini akan diresmikan pada 14 Februari 2021. Saat ini baru hanya uji coba dengan undangan terbatas dan pada peresmiannya masyarakat akan bisa ikut naik dalam uji coba tersebut.

Sama seperti KRL di Jabodetabek, KRL Yogya – Solo akan menggunakan kereta dengan listrik aliran atas. Nah apakah kereta listrik yang digunakan sama dengan di Jabodetabek atau tidak ya?

KabarPenumpang.com menghimpun dari berbagai laman sumber, ternyata akan ada perbedaan KRL yang digunakan untuk dioperasikan Yogya – Solo ini. Di mana Kementerian Perhubungan yakni Direktorat Jenderal Perkeretaapian sudah memesan sepuluh trainset dari PT INKA.

Yang mana satu trainset akan terdiri dari sepuluh rangkaian gerbong. Namun pengoperasian trainset ini sendiri dikatakan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikar akan bertahap tergantung dengan sistemnya apakah sama dengan KRL di Jabodetabek.

Selain itu, sumber dari PT KCI yang mengoperasikan KRL di Daop 6 Yogyakarta rute Yogya – Solo mengatakan pihaknya akan menggunakan KRL buatan PT INKA dan nantinya juga akan menggunakan KRL dari Japan Railway. Hal serupa juga diungkapkan oleh Humas PT INKA Muhammad Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com pada Rabu (20/1/2021).

Dia menyebutkan bahwa KRL Yogya – Solo akan menggunakan kereta buatan PT INKA. Namun sayangnya, spesifikasi KRL besutan INKA ini belum dibeberkan secara jelas karena masih ada perubahan.

Baca juga: PT KCI Siap Luncurkan KRL Yogyakarta-Solo Pada 14 Februari 2021

“KRL Yogya – Solo benar menggunakan dari INKA. Spesifikasi sudah ada, tapi saat ini masih ada perubahan dan nantinya akan kami infokan,” jelas Advin.

Maskapai Butuh 32 Ribu Unit Pesawat Baru di 2040, Airbus Tingkatkan Kapasitas Produksi A320

Airbus dikabarkan bakal meningkatkan kapasitas produksi pesawat A320, dari sebelumnya 60 menjadi 63 unit per bulan, di 2021 mendatang. Selain untuk melampaui produk sejenis dari Boeing dan capaian di tahun 2019, peningkatan kapasitas produksi itu juga didorong oleh prediksi kebutuhan pesawat twinjet narrowbody baru oleh maskapai yang mencapai 32.270 unit di tahun 2040.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Sebagaimana Boeing, Airbus juga tentu saja terdampak pandemi virus Corona. Alih-alih melampaui target produksi di 2019, produsen pesawat asal Eropa itu justru malah menurunkan kapasitas produksi sejak April menjadi 40 unit per bulan.

Meski kapasitas produksi diturunkan, Airbus mengklaim pihaknya tetap bisa mencapai target produksi di tengah pandemi Covid-19, sebesar 556 pesawat, dimana 446 di antaranya twinjet narrowbody atau lorong tunggal.

Walaupun hanya naik tiga unit dari kapasitas produksi tahun 2019, persiapannya tentu tak main-main. Airbus bahkan, seperti laporan Simpel Flying, dikabarkan sampai membangun gudang besar seluas 4,5 hektar di Hamburg, Jerman. Gudang yang dijadwalkan dibuka pada Juli 2021 itu nantinya akan diplot untuk mengontrol logistik dan rantai pasokan bahan baku agar lebih siap.

Disamping itu, gudang di Hamburg ini juga akan mengontrol suku cadang secara mandiri untuk komponen-komponen kabin A320.

Selain itu, Airbus harus memperhatikan rantai pasokan mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina.

Sejak tahun 2019 lalu, kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, sudah bertekad untuk meningkatkan kapasitas produksi jet lorong tunggal. Ia juga mengakui bahwa perusahaan yang dipimpinnya itu masih tertinggal dibanding Boeing dalam urusan produksi pesawat, sekalipun dalam urusan pesanan pesawat sudah mengungguli produsen pesawat asal Negeri Paman Sam itu.

“Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, dalam pidatonya dalam sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Kota Toulouse, Perancis.

Oleh karenanya, selain peningkatan produksi di tahun 2021, pihaknya berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi jet lorong tunggal terlaris sekaligus alternatif pelarian dari 737 MAX, menjadi sekitar 67 unit sebulan di tahun 2023 sekalipun mendapat protes keras dari para pemasok karena satu dan lain hal.

Baca juga: Miris, Boeing dan Airbus Hanya Jual Satu Pesawat di Bulan Juni

Terlepas dari itu, yang jelas, di 2040 mendatang, maskapai di seluruh dunia memang diprediksi membutuhkan pesawat narrowbody sebanyak 32.270 unit dan itu momentum itu harus dimanfaatkan oleh produsen pesawat jika ingin mencetak keuntungan besar.

“Operator diproyeksikan membutuhkan 32.270 pesawat baru dalam 20 tahun ke depan. Permintaan lorong tunggal akan pulih lebih cepat karena peran utamanya dalam rute jarak pendek dan pasar domestik serta preferensi penumpang untuk layanan point to point,” tulis Boeing, dalam sebuah laporan di Oktober tahun lalu.

Didukung Cina, Indonesia Perpanjang Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Hingga ke Surabaya

Indonesia akan melanjutkan rencana memperpanjang pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang didukung Cina hingga ke Surabaya meskipun Jepang menolak untuk bergabung dengan proyek yang diperbesar. Bahkan pemerintah telah menawarkan Cina untuk ikut ambil kesempatan dalam perluasan jalur tersebut.

Baca juga: Setelah Lima Tahun, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Baru Mencapai 56 Persen

Tak hanya itu, untuk perluasan dan perpanjangan jalur kereta cepat hingga ke Surabaya, Indonesia juga membuka kesempatan untuk negara lain berinvestasi. Juru bicara Kementerian Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi mengatakan, dalam perpanjangan ini, Tokyo menolak undangan Jakarta untuk sebuah konsorsium investor Jepang dan juga tidak ikut dalam tanda tangan.

“Mereka ingin fokus di jalur utara dulu,” kata Jodi yang dikutip KabarPenumpang.com dari benarnews.org (19/1/2021).

Proyek kereta api yang didukung Jepang melintasi sisi utara Jawa, pulau terpadat dan terbangun di Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia menginginkan jalur kereta api berkecepatan tinggi tujuan Surabaya melewati sisi selatan pulau. Jodi mengatakan, pemerintah percaya bahwa perpanjangan akan membuat proyek lebih ekonomis.

Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, mengatakan kepada Beijing pekan lalu bahwa pihaknya dapat membangun perpanjangan kereta api berkecepatan tinggi. Dia membuat tawaran itu saat bertemu dengan Wang Yi, menteri luar negeri Cina yang sedang berkunjung.

“Presiden Joko Widodo telah memberi tahu Presiden Xi Jinping bahwa Cina dapat berpartisipasi dalam proyek tersebut,” kata Luhut.

Dalam proyek ini, Jodi menyebutkan bahwa Cina tengah melakukan penyelidikan pada proyek tersebut. Di mana satu tim ahli Cina akan dikirim untuk melakukan studi tentang proyek ini dan pada dasarnya Indonesia terbuka untuk investor dari mana saja termasuk Jepang.

Pekan lalu, Ren Hongpeng, wakil presiden China Railway Group Limited (CREC),mengatakan, perusahaan berkomitmen untuk menyelesaikan proyek kereta Jakarta-Bandung tepat waktu.

“Meski kami mengalami kesulitan akibat pandemi, kami tetap akan berusaha menyelesaikan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sesuai jadwal,” ujar Ren.

Konsorsium yang membangun rel cepat Jakarta-Bandung senilai US$6 miliar, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), mengatakan pada Desember bahwa proyek tersebut telah selesai 64 persen, dan dijadwalkan selesai tahun depan. Jalur Jakarta-Bandung 142 kilometer (88,2 mil) diharapkan mempersingkat waktu perjalanan antara kedua kota melalui kereta api menjadi 40 menit dari 3 jam, menurut media pemerintah Cina.

Awalnya Jepang berencana membangun KA berkecepatan tinggi Jakarta-Bandung, namun Jakarta memberikan proyek tersebut kepada Cina setelah Beijing setuju memberikan pinjaman tanpa jaminan pemerintah. Proyek ini disahkan Jokowi pada 2016 dan menjadi proyek andalan di Indonesia di bawah One Belt, One Road (OBOR) yang kontroversial dari Cina, dengan perkiraan lebih dari US$1 triliun inisiatif untuk membangun jaringan kereta api, pelabuhan, dan jembatan di 70 negara.

Djauhari Oratmangun, utusan Indonesia untuk Beijing, mengatakan kedua pemerintah berkomitmen pada proyek tersebut, yang dapat membuka jalan bagi investasi lain oleh Cina.

“Saya berharap proyek ini segera selesai. Setelah proyek ini selesai, akan ada pembahasan proyek-proyek selanjutnya,” kata Djauhari.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Pada tahun 2019, Indonesia dan Jepang menandatangani kesepakatan mengenai garis besar proyek rel kecepatan menengah Jakarta-Surabaya 700 km (435 mil) setelah dua tahun negosiasi, dengan investasi awal sebesar 60 triliun rupiah ($ 4,3 miliar). Proyek ini diharapkan dapat mempersingkat perjalanan kereta Jakarta-Surabaya menjadi 5 jam 30 menit, dari saat ini lebih dari 10 jam. Konstruksi dijadwalkan dimulai pada 2022 dan selesai pada 2025.

Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

Sepertinya Cina akan menjadi negara tercepat di dunia dalam bidang perkeretaapian. Pasalnya saat ini Cina baru saja debut prototipe kereta berkecepatan tinggi dengan kecepatan mencapai 620 km per jam. Ini adalah prototipe kereta leviasi magnetik atau yang biasa dikenal dengan maglev.

Baca juga: Kereta Peluru CR400AF-G Mampu Beroperasi di Suhu Ekstrim -40 Derajat Celcius

Beroperasi dengan tenaga superkonduktor suhu tinggi atau BTS, kereta maglev ini terlihat seolah-olah melayang disepanjang jalur magnet. KabarPenumpang.com melansir cnn.com (18/1/2021), prototipe ini memiliki desain ramping dengan panjang 21 meter yang diluncurkan di kota Chengdu di provinsi Sichuan pada 13 Januari lalu.

Selain itu para peneliti dari universitas membangun rel sepanjang 165 meter untuk mendemonstrasikan seperti apa penampilan kereta berkecepatan tinggi tersebut.
Profesor He Chuan mengatakan, kereta ini akan bisa beroperasi dalam waktu tiga sampai sepuluh tahun lagi.

“Sichuan memiliki sumber daya tanah jarang yang kaya. Di mana ini sangat bermanfaat bagi pembangunan jalur magnet permanen kami, sehingga mendorong pengembangan eksperimen yang lebih cepat,” kata Chuan yang merupakan wakil presiden Universitas Jiaotong.

Untuk diketahu Cina adalah rumah bagi jaringan rel berkecepatan tinggi terbesar di dunia, yang membentang lebih dari 37 ribu kilometer, dan kereta api yang beroperasi secara komersial tercepat adalah maglev Shanghai. Kereta Maglev berkecepatan tinggi pertama di negara itu, mulai beroperasi pada tahun 2003.

Melaju dengan kecepatan tertinggi 431 kilometer per jam, kereta ini menghubungkan Bandara Pudong Shanghai dan Jalan Longyang di sisi timur Shanghai. Cina sangat ingin melakukan perbaikan infrastruktur lebih lanjut menjelang Olimpiade Musim Dingin 2022, yang akan berlangsung di Beijing.

Tahun lalu, Cina meluncurkan jalur kereta api berkecepatan tinggi 174 kilometer yang menghubungkan Beijing dengan kota tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 Zhangjiakou dan memotong waktu perjalanan antara keduanya dari tiga jam menjadi 47 menit. Awal bulan ini, negara itu meluncurkan kereta peluru yang dirancang khusus untuk menahan suhu beku.

Baca juga: Jepang dan Cina Berlomba Dalam Teknologi Kereta Berkecepatan Tinggi

Kereta CR400AF-G dapat melakukan perjalanan hingga 350 kilometer per jam dalam cuaca sedingin -40 derajat Celcius (-40 derajat Fahrenheit). Ini akan berjalan pada rute antara Beijing, Shenyang dan Harbin di mana daerah ini sangat dingin sehingga menjadi tuan rumah festival salju dan es tahunan.

Sering Disebut dalam Berita Kecelakaan Udara, Apa Itu Flight Control? Berikut Ulasannya

Kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 masih menjadi misteri. Black box tentu menjadi kunci untuk mengungkap misteri itu. Sayangnya, itu tak ada mudah. Sebab, meski black box -Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR)- sudah ditemukan, tetapi, salah satu di antaranya, CVR, ditemukan dalam keadaan hancur dan memorinya belum ditemukan sampai sekarang.

Baca juga: Punya Peran Vital, Inilah Empat Jenis dan Fungsi Flap pada Sayap

Terlepas dari belum ditemukannya memori black box CVR Sriwijaya Air PK-CLC, para pakar coba menerka-nerka apa yang terjadi. Pengamat penerbangan, Alvin Lie, misalnya, dalam sebuah wawancara di Kompas TV, menyebut kontrol penerbangan atau flight control mungkin bisa jadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan SJ-182. Sebab, pesawat menjadi sulit dikendalikan, sekalipun masih bisa tertangani jikalau pilot cepat mendeteksi itu.

Sebetulnya, apa itu flight control sampai posisinya se-vital itu dalam menentukan penerbangan berjalan mulus atau tidak?

Dikutip dari laman resmi Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), flight control merupakan sistem yang wajib ada pada sebuah pesawat. Flight control di setiap tipe pesawat bisa berbeda-beda.

Meski berbeda-beda, namun desain paling standar dari flight control setidaknya terdiri dari dua hal, sistem primer dan sistem sekunder. Sistem flight control primer sendiri terdiri dari aileron, elevator (disebut juga stabilator), dan rudder atau kemudi merupakan sistem kendali utama (primary control system). Disebutkan, komponen-komponen tersebut memegang peranan penting untuk mengendalikan pesawat dan membuat penerbangan aman.

Sedangkan untuk sistem sekunder (secondary system), terdiri dari wing flaps, trailing edge flap, leading edge flap and slat, spoilers, horizontal stabilizer, trim tabs, dan trim systems merupakan flight control atau sistem kontrol sekunder yang berfungsi untuk meningkatkan kinerja dan karakteristik pesawat atau meringankan beban kerja pilot. Sebetulnya ada satu lagi, yakni warning system.

Masing-masing komponen, baik pada primary maupun secondary flight control mempunyai peranan tersendiri. Tetapi, karena keterbatasan ruang, kami tidak bisa menerangkan seluruhnya.

Untuk mengendalikan primary dan secondary flight control, pilot bisa menggunakan pedal dan yoke (untuk pesawat Boeing) atau joystick (untuk pesawat Airbus).

Jika diklasifikasikan berdasarkan bagian per bagian, setidaknya flight control terbagi menjadi empat. Pertama adalah nose section, yakni bagian pesawat paling depan. Dalam bagian ini terdapat ruang control yang sering disebut dengan cockpit. Ruang cockpit merupakan ruang dengan panel kontrol pesawat.

Baca juga: Bagaimana Cara Pilot Kemudikan Pesawat Saat di Darat? Simak Jawabannya Di Sini

Kedua adalah body section, meliputi bagian pesawat yang bagian tengah pesawat. Body section merupakan bagian terbesar dalam pesawat dimana bagian ini merupakan tempat sayap pesawat diletakan dan pada bagian ini juga terdapat landing gear.

Ketiga adalah tail section yakni bagian pesawat paling belakang yang terdapat APU. Bagian ini pula terdapat beberapa bagian flight control. Dan yang keempat atau yang terakhir ialah wing section atau bagian sayap pesawat. Di sayap terdapat mesin pesawat yang berfungsi untuk mendukung gaya thrust pesawat.