22 Tahun Hilang dari Peta London Underground, Jalur Thameslink Bakal Kembali Dibuka

Bagaimana bila jalur kereta api utama kembali ke peta setelah 22 tahun? Rasanya cukup menggembirakan, karena artinya ada lagi kereta dari jalur tersebut yang akan kembali beroperasi seperti sedia kala.

Baca juga: Ciptakan Stasiun Ramah Penumpang, Stasiun London Waterloo Adopsi Virtual Reality dan Eye-Tracking

Ya, jalur dan layanan ini masuk kembali ke peta setelah 22 tahun. Layanan tersebut adalah Thameslink yang beroperasi antara Bedford dan Brighton melewati Stasiun London yang sibuk seperti London Bridge, Blackfriars dan St Pancras International.

Layanan Thameslink kembali ke peta London Underground

Layanan tersebut kembali ke tube setelah kampanye yang panjang, namun Transport for London atau TfL menunjukkan ini hanya sementara. Di mana layanan tersebut membantu masyarakat yang masih perlu melakukan perjalanan selama pandemi adalah tujuan utama dari pemulihan jalur ini.

Nantinya jalur ini akan kembali ditinjau pada akhir tahun 2021. Dilansir KabarPenumpang.com dari mylondon.news (20/1/2021), dalam peta, layanan ini akan ditandai dengan garis merah muda dan putih yang melewati pusat kota London.

Keputusan TfL untuk mengaktifkan kembali jalur tersebut akan disambut oleh Komite Transportasi Majelis London, yang menyerukan agar jalur itu kembali ke peta pada bulan Agustus. Dr Alison Moore, yang mengetuai komite, mengatakan, garis Thameslink adalah tambahan penting untuk peta Tube sehingga warga London yang harus bepergian selama pandemi Covid-19 memiliki lebih banyak pilihan untuk melakukannya.

“Sangat penting bagi orang untuk bisa seaman mungkin saat mereka bepergian dan kereta api yang lebih besar akan membantu menjaga jarak sosial yang penting. Komite Transportasi merekomendasikan agar Thameslink ditambahkan ke peta Tube untuk membantu para penyandang disabilitas London karena kereta ini dirancang untuk aksesibilitas pertama dan terutama. Sudah waktunya bagi TfL untuk menyimpan Thameslink di peta secara permanen untuk aksesibilitas yang lebih baik di seluruh kota,” jelas Alison.

Tom Moran, direktur pengelola Thameslink mengatakan, pihaknya senang stasiun Thameslink di London telah ditambahkan sementara ke peta Tube ikonik, terutama di wilayah selatan-timur dan utara London yang sekarang muncul untuk pertama kalinya.

“Menambahkan layanan Thameslink akan sangat membantu sekarang, karena kami tahu orang-orang ingin merencanakan perjalanan mereka dengan hati-hati dan memastikan mereka dapat menjaga jarak secara sosial. Ini berarti setiap penumpang dapat melihat semua koneksi yang tersedia untuk mereka di satu tempat. Thameslink adalah pilihan terbaik bagi penumpang di London, dengan kereta setiap beberapa menit, waktu perjalanan dari St Pancras ke Jembatan London kurang dari 15 menit dan stasiun yang dapat diakses,” ujar Moran.

Baca juga: Lindungi Diri dari Virus Corona, Penumpang di London Punya Cara Unik

Kepala informasi pelanggan dan kemitraan TfL, Julie Dixon, mengatakan, ini merupakan tambahan yang rumit untuk dibuat pada peta, tapi pihaknya merasa akan menguntungkan warga London sebagai bagian dari pekerjaan mereka untuk mempromosikan penggunaan transportasi umum yang aman, bersih dan dapat diandalkan di seluruh kota.

Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Mungkinkah Akibat Pilot Kena Serangan Jantung?

Black box pesawat Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 akhirnya ditemukan. Dari dua komponen black box atau kotak hitam, tim SAR baru menemukan black box Flight Data Recorder (FDR) pada tanggal 12 Januari lalu.

Baca juga: Pertama di AS, Pilot Pengidap Diabetes Terbangkan Pesawat Komersial

Adapun black box CVR, tepatnya casing CVR sudah ditemukan pada 15 Januari kemarin. Tetapi, black box dalam kondisi hancur sehingga memori CVR-nya terlepas dari casing dan belum ditemukan oleh Basarnas sampai saat ini.

Pengamat penerbagan, Alvin Lie, dalam sebuah wawancara di Kompas TV, mengungkapkan sebetulnya tanpa CVR penyelidikan terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tetap bisa dilakukan. Hanya saja, hasilnya tentu tidak akan maksimal. Sebab, data dari CVR dan FDR saling berkaitan dan saling mendukung satu dengan lain.

Sayangnya, 21 Januari kemarin, Basarnas resmi menghentikan operasi pencarian korban Sriwijaya Air SJ-182; termasuk operasi pencarian memori CVR pesawat itu, sekalipun pada akhirnya tetap terus dicari oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT.

Tanpa adanya CVR, misteri apa yang terjadi di kokpit pesawat Sriwijaya Air sulit untuk dijawab. Tanpa adanya black box CVR segala dugaan apa yang dialami pilot Capt. Afwan dan Diego Mamahit, sah-sah saja, tak terkecuali kemungkinan pilot mengalami serangan jantung sesaat sebelum kecelakaan.

Pilot atau co-pilot mengalami serangan jantung saat dalam penerbangan tentu bukan tak pernah terjadi. Pada akhir Desember dua tahun lalu, seperti laporan CNN International, co-pilot Aeroflot mulai merasa tak sehat di tengah perjalanan dari Moskow ke Anapa, sebuah resort di Laut Hitam.

Begitu mendarat darurat, sang co-pilot mendapatkan perawatan medis dari dokter. Namun sayangnya, dia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Semua orang di Aeroflot sangat sedih dengan kematian kolega kami, dan kami menyampaikan belasungkawa mendalam kami kepada kerabat dan keluarganya,” demikian pernyataan maskapai Aeroflot. Seorang sumber dari dinas darurat setempat menyebut bahwa penyebab kematian sang co-pilot berdasarkan pemeriksaan awal adalah serangan jantung.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Masih di bulan dan tahun yang sama dengan insiden pilot Aeroflot kena serangan jantung, pesawat Batik Air seri A-320 dengan nomor penerbangan ID-6548, rute Cengkareng-Kupang, mendarat darurat di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pesawat mendarat karena Kapten pilot yang bernama Djarot Harnanto mengalami pusing berat hingga konsentrasinya terpecah dan lemas.

Baca juga: Dibalik Kecelakaan SJ-182, Sriwijaya Air Hanya Dapat Bintang 1 dari Airline Ratings!

Sekalipun tak sampai meninggal dunia, pilot kena serangan jantung saat mengudara tentu saja cukup membahayakan, baik diri sendiri maupun penumpang. Celakanya, serangan jantung pada pilot akan terus mengintai.

Balai Kesehatan Penerbangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri menyebutkan gangguan jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang paling banyak dialami personel penerbangan, terutama pilot.

Ngeri! Pesawat Singapore Airlines Nyaris Tabrakan dengan UFO

Penerbangan Singapore Airlines nyaris berubah menjadi penerbangan maut. Sebab, dalam penerbangan pada tanggal 17 Januari 2021 lalu, dari rekaman kamera ponsel salah seorang penumpang, terlihat pesawat hampir bertabrakan dengan unidentified flying object (UFO). Celakanya lagi, UFO melintas tepat di area sayap, tempat dimana mesin berada. Andai kata keduanya bertabrakan, bukan tak mungkin akan terjadi kecelakaan.

Baca juga: UFO Kembali Muncul di Siang Bolong, Kali Ini Gemparkan AS

Dilansir Independent, penumpang Singapore Airlines yang tak disebutkan namanya ini awalnya hendak mendokumentasikan perjalanannya. Video yang diambil antara pukul 7.20 dan 07.50 waktu setempat ini awalnya memang menampilkan keindahan alam di daratan.

Akan tetapi, setelah pesawat yang hendak mendarat di Zurich, Swiss ini melakukan manuver miring ke kanan untuk approach landing, sebuah UFO berwarna putih kecil melintas cepat, tepat di bawah mesin pesawat.

https://www.youtube.com/watch?v=Z7RtbL_aUPg

Meskipun tak ada keterangan detail, hampir dapat dipastikan bahwa UFO yang dimaksud adalah seekor burung yang melintas, bukan UFO dalam artian pesawat tak dikenal milik alien. Sebab, pada kasus di atas, pesawat memang sudah berada tak jauh dengan daratan. Tentu saja itu masih bisa dijangkau burung.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas ataupun saat ingin mendarat. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter.

Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp 5,4 triliun setiap tahun akibat bird strike dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Dalam catatan International Bird Strike Committee, jumlahnya lebih besar lagi, dimana sekitar $1,2 miliar setiap tahun digelontorkan maskapai untuk memperbaiki pesawat akibat bird strike.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, antara 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Bird strike terjadi sudah sejak tahun 1912 dan membuat salah satu pelopor penerbangan, Cal Rodgers, tewas. Di tahun itu, pesawatnya bertabrakan dengan burung camar di Long Beach, California yang menyebabkan masalah besar pada pesawat. Pesawat Rodgers jatuh dan ia pun tenggelam dan ia pun menjadi orang pertama yang tewas akibat bird strike.

Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

Mungkin terkait hal apa saja yang tidak boleh di konsumsi dalam pesawat sudah sering kali di bahas, dan bukan hanya satu atau dua kali saja. Namun sepertinya belum sah kalau bukan awak kabin sendiri yang mengatakan dan membongkar hal tersebut.

Baca juga: Waduh! Air Panas Dalam Penerbangan Ternyata Berasal dari Saluran yang Sama dengan Toilet

Nah, kali ini seorang awak kabin membeberkan berbagai hal yang tak boleh di konsumsi di dalam pesawat dalam sebuah video. KabarPenumpang.com melansir thesun.co.uk (18/1/2021), Kat Kamalani mengatakan dalam video di akun TikToknya bahwa untuk tidak pernah meminta apapun yang menggunakan air panas seperti teh ataupun kopi.

Dia menjelaskan, ini karena tangki air tidak pernah dibersihkan dan berada dekat dengan toilet. Kat mengatakan ini sangat menjijikkan bila mengingat tangki tidak pernah dibersihkan sama sekali.

“Sesama awak kabin, kami jarang minum teh atau kopi. Sebab air panas didapat dari tangki air yang sama. Jadi ketika Anda minum teh atau kopi, airnya berasal dari air panas dan itu benar-benar menjijikkan,” ujarnya.

Sebagai gantinya, Kat dan awak kabin lain meminta minuman yang ada di dalam botol seperti air kemasan atau minuman ringan. Dia mengatakan, banyak orang tua yang meminta air panas untuk membersihkan botol bayi mereka selama penerbangan.

Kat mejelaskan, untuk menghindari ini, para orang tua bisa meminta air panas secangkir dan sebotol air. Kemudian memasukkan air kemasan ke dalam botol bayi lalu memasukkan botol tersebut ke dalam cangkir agar panas dari luar dan terhindar dari hal menjijikan.

Video yang viral di TikTok ini ternyata sudah ditonton lebih dari 165 ribu kali. Salah seorang warganet yang menonton video tersebut mengatakan, agar maskapai membersihkannya karena itu benar-benar kacau. Sedangkan yang lainnya lebih banyak menuliskan pernyataan bahwa awak kabin tidak punya banyak waktu karena perputaran yang cepat. Kehadiran video ini pun juga tidak semuanya disetujui oleh awak kabin.

“Ini tidak berlaku untuk semua maskapai penerbangan. Di maskapai kami, saya dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar membersihkannya,” komen seorang awak kabin.

Charles Platkin, seorang profesor nutrisi dan direktur eksekutif Pusat Kebijakan Pangan, mengatakan, pesawat masuk, dan tangki tidak dikosongkan dan dibersihkan, karena tidak ada waktu untuk itu. Tangki air sedang diisi di atas setelah setiap penggunaan. Apa pun yang ada di bawah tetap di sana dan tetap di sana.

Bahkan Gordan Ramsay, yang pernah bekerja dengan maskapai penerbangan tentang makanan mereka, memperingatkan untuk tidak pernah makan apa pun selama penerbangan. Seorang pramugari yang berbeda memperingatkan penumpang agar tidak menggunakan selimut dan bantal pesawat.

Baca juga: Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

“Ini bisa dicuci, tapi kami tidak yakin seberapa bagus selimutnya dan bantal mereka melepas lapisannya dan mencucinya, tetapi bantal di dalamnya masih kotor,” kata Jamila Hardwick mantan awak kabin.

Anda Mau ke Singapura di Masa Pandemi? Berikut Item yang Harus Disiapkan

Setiap negara selama masa pandemi Covid-19 memiliki aturannya masing-masing. Bahkan beberapa diantaranya kerap kali merubah peraturan tersebut sehingga bagi siapa pun yang akan berkunjung harus terus melihat aturan yang diberlakukan setiap negara.

Baca juga: Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi

Salah satu yang mengganti aturan masuk ke negaranya adalah Singapura. Ya, negara tetangga Indonesia ini merupakan satu dari beberapa negara di Asia yang mampu menahan peningkatan penularan virus corona.

KabarPenumpang.com melansir cnn.com, Singapura sudah membuka kunciannya pada Juni 2020 dan menerapkan kontrol yang cukup ketat dalam mengatasi penyebaran virus ini. Hal ini terlihat dari sebagain besar pelancong asing yang tak diizinkan masuk ke sana.

Bisa dikatakan, saat ini Singapura hanya bisa dikunjungi untuk warga Singapura serta pemegang izin tinggal di sana dan untuk urusan pemerintahan. Namun meski begitu ada beberapa negara yang boleh menyambangi Negeri Singa tersebut yakni Australia, Brunei, Cina daratan, Selandia Baru, Taiwan dan Vietnam.

Para pelancong dari negara-negara ini wajib memiliki Air Travel Pass dan mengikuti tes PCR saat kedatangan. Selain itu pelancong bisnis dari Jerman, Indonesia, Jepang, Malaysia dan Korea Selatan juga dapat masuk ke Singapura dengan skema Reciprocal Green Lane dan tunduk pada batasan yang ketat.

Warga negara Singapura dan penduduk tetap diizinkan masuk, tetapi harus memiliki bukti tes PCR negatif yang diambil dalam waktu 72 jam sebelum keberangkatan dan menghabiskan 14 hari di karantina setelah mendapat pemberitahuan tinggal di rumah (SHN) pada saat kedatangan. Ini dapat dilakukan di fasilitas SHN khusus, atau di tempat tinggal mereka.

Namun, mereka yang memilih yang terakhir harus memakai perangkat pemantauan elektronik selama 14 hari dan akan menjalani pemeriksaan, termasuk kunjungan acak, panggilan telepon, dan pesan teks. Rincian termasuk KTP atau nomor paspor harus dibagikan untuk mengkonfirmasi identitas. Tes PCR lebih lanjut harus dilakukan dan hasilnya negatif sebelum diizinkan keluar ke komunitas.

Mereka yang bepergian dari negara-negara dengan perjanjian Air Travel Pass harus mengajukan permohonan masuk ke Singapura antara tujuh dan 30 hari sebelum keberangkatan dan menyerahkan perincian kesehatan dan semua pergerakan perjalanan selama 14 hari sebelumnya melalui SGArrivalCard. Mereka juga harus mengunduh aplikasi Trace Together ke perangkat seluler mereka dan membayar tes PCR pada saat kedatangan, dengan biaya SGD$196.

Baca juga: Singapura Mulai Buka Akses Wisata, Semua Pelancong Tanpa Kecuali Wajib Gunakan Alat Pelacak

Ini berlaku untuk semua pelancong berusia enam tahun ke atas. Penumpang juga harus mengamankan akomodasi non-residensial selama 48 jam sambil menunggu hasilnya. Tidak sampai situ, pelancong juga diwajibkan menjalani karantina di hotel atau akomodasi yang telah disediakan oleh Pemerintah selama minimal dua minggu atau 14 hari.

Setelah menjalani itu semua, barulah pelancong dipersilahkan untuk menjajaki Singapura. Dengan catatan, baik pelancong mau pun warga Singapura tetap diwajibkan mengenakan masker di tempat umum. Terkecuali saat makan atau berolahraga.

Mengapa Main Landing Gear Boeing 737 Dibiarkan Terbuka dan Terlihat? Ini Jawabannya

Umumnya, pesawat, ketika telah meninggalkan landasan, roda pesawat atau landing gear akan ditekuk masuk ke dalam badan pesawat hingga tak terlihat – pun ketika pesawat hendak mendarat, maka roda akan kembali dikeluarkan. Tetapi, tidak dengan keluarga pesawat Boeing 737.

Baca juga: Boeing 737 Generasi Pertama vs Seri Klasik, Apa Perbedaannya?

Main landing gear pesawat ini memang tetap melipat ke dalam badan pesawat, namun, dibiarkan terbuka dan terlihat. Anehnya, saat dilipat, struts roda pendaratan utamanya tertutup cover dan menyisakan roda pendaratan yang terbuka. Lebih aneh lagi, nose landing gear atau landing gear bagian depan Boeing 737 tidak demikian. Ia melipat dan tertutup oleh cover atau sejenis pintu hingga tak terlihat. Lantas, mengapa demikian?

Dilansir Simple Flying, guna menjawab itu, agaknya harus mundur jauh ke belakang, tepatnya saat kemunculan generasi pertama pesawat pesaing Airbus A320 ini. Saat seri pertama Boeing 737-100 diperkenalkan pada tahun 1968 dan masuk layanan pada 28 Desember 1967, bandara-bandara di seluruh dunia -terlebih bandara tua- masih minim infrastruktur.

Bahkan, beberapa di antaranya, tidak memiliki mobil tangga serta garbarata. Alhasil, pesawat memang harus (khususnya pintu kargo) mudah dijangkau oleh operator tanpa bantuan tangga atau alat bantu lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan itu, akhirnya, pesawat yang diberi gelar oleh Boeing sebagai Fat Little Ugly Fella tersebut akhirnya didesain untuk dapat beroperasi serendah mungkin, bahkan dengan badan pesawat bagian bawah yang hampir menyentuh daratan sekalipun.

Akan tetapi, semakin rendah pesawat dan semakin pesawat dekat dengan tanah itu berarti tidak ada ruang untuk buka tutup pintu main landing gear. Sebab, berbeda dengan nose landing gear, yang pintunya tak terlalu lebar, pintu main landing gear cukup lebar dan sangat mungkin menyentuh tanah.

Sebetulnya, pintu main landing gear bisa saja menutup kembali setelah roda keluar untuk persiapan mendarat. Tetapi, tidak ada yang menjamin ini akan berhasil (pintu main landing gear kembali menutup) dan membuat pendaratan aman. Alhasil, main landing gear pun diputuskan untuk tetap terbuka alih-alih mengambil risiko besar.

Lagi pula, tidak adanya pintu yang menutup main landing gear merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Selain mengurangi berat keseluruhan dan membebaskan ruang vital di perut pesawat, melepas pintu berarti mengurangi item perawatan pesawat.

Namun, tanpa adanya pintu penutup main landing gear, Boeing harus menyesuaikan beberapa hal, seperti menambah smooth hub cabs di bagian roda untuk membantu aerodinamika pesawat serta seal karet di sekitar bukaan landing gear agar benda apapun, termasuk air, tak masuk dan menghalangi keluarnya main landing gear.

Selain meniadakan pintu yang menutupi main landing gear, mesin pesawat juga sengaja dibuat rata pada bagian bawahnya. Hal itu agar bagian bawah mesin tak terlalu dekat dengan tanah. Di samping itu, teknologi pada waktu tersebut juga memang belum menemukan apa yang disebut sebagai bypass ratio, yakni sebuah teknologi yang memaksimalkan udara di dalam mesin untuk mencapai tingkat efisiensi berlebih.

Baca juga: Bingung Bagian Bawah Mesin Boeing 737 Rata? Ini Penjelasannya!

Guna mendapatkan lebih banyak udara ke dalam mesin, pesawat membutuhkan turbin yang lebih besar didukung dengan tenaga dari kipas yang lebih besar pula. Hal itu hanya bisa dibuat dengan menambahkan ketinggian pesawat agar mesin pesawat tidak menyentuh daratan. Tak heran, bila pesawat yang juga disebut Baby Boeing ini akhirnya didesain dengan mesin rata pada bagian bawah.

Meski saat ini garbarata dan infrastruktur lainnya sudah tersedia, nampaknya Boeing tetap mempertahankan desain tersebut pada pesawat anyar dari keluarga Boeing 737; termasuk Boeing 737 MAX. Di dunia, desain seperti ini bukan hanya dipakai oleh Boeing, melainkan juga oleh Embraer ERJ145, Embraer E-Jet, COMAC ARJ21, dan Airbus A220.

Duh, Boeing 737 MAX Masalah Lagi! Kali Ini Terkait Sealant Bahan Bakar

Boeing 737 MAX, yang baru diizinkan kembali terbang mulai 20 November 2020, kembali bermasalah. Kali ini berkenaan dengan sealant bahan bakar di 25 pesawat Boeing 737 MAX 9 yang sudah dikirim antara April 2018 dan Februari 2019. FAA menyebut, masalah tersebut dapat memicu kebakaran hebat di darat.

Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

Setelah terbang perdana -usai lama digrounded- pada akhir Desember lalu bersama GOL Linhas Aéreas Inteligentes, maskapai bertarif rendah asal Brasil, Boeing 737 MAX terus mendapat sambutan positif dari berbagai maskapai di dunia. Terlebih, saat perayaan natal dan tahun baru datang, MAX memang sempat dioperasikan banyak maskapai.

Akan tetapi, bak petir di siang bolong, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) tiba-tiba mengeluarkan airworthiness directive (AD) atau arahan kelaikan udara tentang inspeksi 25 Boeing 737 MAX-9 pada 19 Januari lalu.

FAA mengungkapkan bahwa kelalaian terkait instruksi kerja telah menyebabkan sekitar 25 pesawat tersebut belum dipasang sealant di tangki bahan bakar. Sealant itu seharusnya menjadi pengaman atau penghalang di tangki bakan bakar untuk mencegah kebakaran.

“Sealant penutup pada sayap kiri dan sayap kanan pintu blowout bagian depan tidak terpasang selama proses produksi pesawat 737-9,” kata FAA dalam arahannya, seperti laporan Flight Global.

“Jika terjadi kebocoran bahan bakar yang substansial dari wing box, tidak adanya sealant dapat mengakibatkan bahan bakar bocor dan masuk ke mesin serta mengakibatkan kebakaran besar di darat,” lanjut FAA.

Boeing sendiri menanggapi dingin terkait arahan FAA. Produsen pesawat terbesar di dunia ini mengaku pihaknya sudah mencium adanya kelalaian itu sejak April tahun lalu. Dalam instruksinya, Boeing meminta maskapai untuk mengecek sealant di tangki bahan bakar. Jika sealant betul belum terpasang, maskapai sudah diarahkan untuk memasangnya secara mandiri atas bimbingan dan arahan Boeing.

Dengan adanya rekomendasi FAA, praktis, 25 pesawat Boeing 737 MAX 9 milik maskapai United Airlines, Copa Airlines, FlyDubai, Icelandair, dan Turkish Airlines, harus digrounded terlebih dahulu, sekalipun belum genap sebulan beroperasi. Semua pesawat yang bermasalah tersebut dikirim ke maskapai mulai April 2018 hingga Februari 2019.

Baca juga: EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS?

Sejak akhir tahun 2019 lalu, Boeing 737 MAX memang selalu bermasalah; termasuk masalah terkait tangki bahan bakar.

Pada 20 Februari 2020, ditemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap beberapa Boeing 737 MAX yang belum dikirim ke pelanggan.

Aturan Sering Berubah, Cek Prosedur Setiap Negara Sebelum Bepergian di Masa Pandemi

Ketika bepergian menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian besar orang di masa pandemi ini, ternyata masih juga ada yang harus bepergian karena berbagai urusan baik diplomatik maupun kepentingan pemerintahan lainnya. Namun perjalanan ini pun masih sangat sulit karena pandemi Covid-19 yang masih terus memunculkan gejala di berbagai negara.

Baca juga: Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

Meski begitu, masih bisa bepergian dengan wajib melakukan tes swab PCR untuk memastikan seseorang tersebut negatif atau tidak terinfeksi Covid-19. KabarPenumpang.com melansir aboutmanchester.co.uk (20/1/2021), sebelum bepergian ke luar negeri, berikut ada beberapa daftar yang harus diperiksa selama masa pandemi ini untuk diikuti agar perjalanan berjalan dengan mulus.

1. Ketahui tujuan
Sebelum pergi, cek apa dokumen yang harus dibawa dan dilengkapi sebelum berangkat ke tujuan. Salah satu terpenting adalah hasil tes Covid-19 yang negatif dan diambil beberapa hari terakhir sebelum keberangkatan. Namun Anda tetap harus mengupdate, karena aturan kerap kali berubah-ubah agar ketika tiba tidak ditolak dan kembali dengan sia-sia.

2. Cek aturan karantina
Ini juga salah satu yang harus diketahui sebelum tiba di negara tujuan. Biasanya setiap negara memiliki waktu batasan karantina yang berbeda di Inggris, kembali dari bepergian, Anda harus karantina mandiri selama sepuluh hari. Ini akan berkurang jika sudah melakukan tes Covid dan menjadi lima hari hingga hasil menyatakan negatif.

3. Jalani tes
Untuk bepergian ke suatu negara, Anda harus melakukan tes dan mendapatkan hasil negatif. Baiknya pertimbangkan waktu tes dan jangan lupa anggarkan bila ada biaya tambahan. Tes ini dilakukan untuk menjaga agar Anda tetap terkontrol andaikata ketika tes lagi hasil yang didapat berbeda dari sebelum keberangkatan.

4. Bersikap fleksibel
Mungkin hal terbaik yang dapat Anda lakukan pada daftar periksa perjalanan Covid adalah merencanakan dengan fleksibel dalam segala hal yang lakukan. Aturan seputar karantina dan apa yang mungkin diminta negara lain dari Anda sebelum masuk dapat berubah secara cepat dan dramatis. Hampir dalam semalam, selama perjuangan Inggris dengan virus corona varian Inggris, negara-negara menutup perbatasan mereka untuk setiap pelancong dari Inggris Raya.

Oleh karena itu, yang terbaik adalah merencanakan hal terburuk yang terjadi dan berharap yang terbaik. Melakukan hal itu akan menghilangkan banyak tekanan yang berasal dari ketidakpastian saat memesan perjalanan ke luar negeri saat ini.

Baca juga: Aturan Baru, Singapura Wajibkan Semua Pesawat Punya Area Karantina di Dalam Kabin

5. Dapatkan asuransi
Terakhir, sangat penting untuk membeli asuransi perjalanan yang kuat sebelum Anda bepergian. Melakukan hal itu akan melindungi wisatawan dalam beberapa cara penting.
Pertama, kerugian finansial akan diminimalkan jika perjalanan harus dibatalkan di saat-saat terakhir. Asuransi perjalanan selalu merupakan ide yang baik untuk diambil sebelum Anda Covid mengangkat kepalanya yang buruk, tetapi itu sangat penting sekarang.

Covid secara material meningkatkan kemungkinan sesuatu menghentikan rencana perjalanan ke depannya. Membeli asuransi perjalanan memungkinkan para pelancong memesan liburan tanpa takut mereka berisiko kehilangan uang. Kedua, polis asuransi perjalanan yang baik harus memberikan dukungan finansial untuk setiap perawatan medis yang diperlukan saat berada di luar negeri. Biaya tersebut bisa tinggi terutama jika Covid terlibat mengingat berapa lama tinggal di rumah sakit saat melawan penyakit tersebut. Membeli asuransi perjalanan berarti biaya-biaya tersebut dan biaya pemulangan penderita Covid ke Inggris, tidak menjadi kekhawatiran atau risiko.

Bosen WFH, Cobain Nih Caravan NV350, Konsep Kantor ‘Berjalan’ Ala Nissan

Sejak virus Corona menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, berbagai perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Tidak terlalu ketat, dalam artian memperbolehkan bekerja di kantor atau work from office seperti biasa sekalipun tetap mematuhi protokol kesehatan, setengah ketat sampai sangat ketat.

Baca juga: Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Bagi kelompok perusahaan yang terakhir (sangat ketat), mayoritas dari mereka tetap memberlakukan work from home (WFH) kendati dunia sudah memasuki era new normal atau kenormalan baru, dimana tatap muka kembali dilakukan di bawah aturan ketat protokol kesehatan.

WFH sebulan dua bulan saja sudah cukup membosankan, apalagi WFH dari awal pandemi sampai detik ini, jangan-jangan, walaupun terhindar dari virus Corona tetapi karyawan di perusahaan ini malah terkena penyakit lain saking penatnya pikiran akibat kurang hiburan. Namun, jangan khawatir, bila Anda salah satunya, mungkin konsep kantor ‘berjalan’ dari Nissan bisa menjadi solusi terbaik.

Dilansir New Atlas, produsen mobil asal Jepang itu belum lama ini memperkenalkan mobil Caravan NV350 atau NV350 Caravan Office Pod Concept, sebuah konsep mobil sekaligus kantor mewah dengan segala fitur unggulan.

Sebagaimana namanya, mobil ini memungkinkan pengguna untuk tetap bekerja di luar kantor dan rumah dengan maksimal sambil merefreshing pikiran. Lewat fitur electric shade, misalnya, Anda bisa mengatur sendiri pemandangan di kaca belakang mobil atau di balik layar komputer Anda sesuai keinginan. Jadi, Anda boleh saja berada di dalam mobil, namun, suasananya biasa diubah sesuai keinginan.

https://www.youtube.com/watch?v=qSyMUr7cRXg&feature=emb_title

Selain fitur tersebut, masih ada lagi berbagai fitur unggulan, seperti black light carpeted floor mats, glove box with UV antibacterial lamp, DC/AC inverter, retractable office pod, edge lighting, herman miller cosm chair, polycarbonate floor, serta roof top deck.

Fitur black light carpeted floor mats, edge lighting, herman miller cosm chair, dan polycarbonate floor, mungkin tak terlalu penting. Sebab, fitur-fitur tersebut hanya memanjakan mata pengguna. Black light carpeted floor mats memungkinkan karpet di dalam mobil menyala. Begitu juga dengan polycarbonate floor, dimana lantai tempat kursi di meja kerja berada dibuat transparan.

Selain itu, andai pun pemandangan di bawah mobil tak terlalu memanjakan mata, polycarbonate floor juga bisa menyajikan pemandangan apapun yang diinginkan, mirip seperti electric shade.

Meja dan kursi kerja yang disetting fixed alias tidak bisa digeser-geser bisa ditarik keluar secara otomatis melalui smartphone masing-masing di bawah fitur retractable office pod. Setelahnya, kursi dan meja berada di luar mobil di bawah kap belakang yang menutupi di bagian atas.

Baca juga: Antisipasi Penyebaran Covid-19, Beginilah Gaya Liburan Outdoor di Negeri Paman Sam

Yang paling nikmat tentu roof top deck. Fitur ini membuat Anda dimungkinkan untuk berjemur di bawah hangat sinar mentari, lengkap dengan matras putih. Bila matahari terasa begitu panas di kulit, payung ala-ala di pantai siap melindungi.

Cara menggapainya pun tak begitu sulit. Di bagian kanan mobil, Nissan sudah menyiapkan tangga manual untuk memudahkan pengguna naik dan menikmati pemandangan dari atas. Gimana, setelah mendapat penjelasan sekaligus menonton video teasernya, apakah Anda tertarik?

PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Sebagai perusahaan pembuat kereta api, PT Industri Kereta Api atau PT INKA kini melebarkan sayapnya dengan membuat bus bertenaga listrik. Bus yang bernama E-Inobus tersebut kini memulai uji cobanya di ibukota Jakarta dan melibatkan PT Transportasi Jakarta (TransJakarta).

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

SM Pengembangan Produk dan Teknologi PT INKA Febry Pandu Wijaya mengatakan, uji coba di Jakarta bertujuan untuk mengetahui performansi baterai, motor dan hal lainnya pada bus listrik tersebut di rute TransJakarta.

“Saat ini INKA menawarkan E-Inobus ukuran panjang delapan meter ke TransJakarta, di mana TransJakarta mensyaratkan pengujian bus selama kurang lebih tiga bulan pada rute uji coba operasional mereka” ujar Febry yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis.

Dia menyebutkan bahwa jadwal uji coba tentatif yang dimulai pada 23 Desember 2020 hingga 6 April 2021. Pra pengujian akan dilakukan selama dua minggu yang kemudian dilanjutkan dengan uji operasional selama tiga bulan.

Bus E-Inobus merupakan kerjasama PT INKA dengan Tron-E dari Taiwan sebagai mitra komponen drive train dan baterai bus serta Piala Mas dari Malang sebagai mitra pembuatan bodi bus listrik ini. Bus listrik besutan INKA ini membutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk pengisian daya sampai penuh.

Untuk jarak tempuh dalam baterai penuh, bus mampu melaju hingga sejauh 200 km. Febry menyebutkan, untuk tingkat kebisiangannya, bus milik PT INKA ini jauh lebih baik dengan rata-rata 71 dB jika dibandingkan bus diesel yang rata-rata kebisingannya sebesar 85 dB.

Bus ini pun d klaim cocok digunakan untuk angkutan massal di kota besar yang menerapkan smart city karena ramah lingkungan. Sebab bus listrik ini tidak menimbulkan gas buangan yang membuat polisi udara.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Untuk diketahui, bus listrik E-Inobus pertama kali diuji coba dari balai kota Madiun di Jalan Pahlawan menuju Jalan Cokroaminoto, Musi, HA Salim, Ahmad Yani dan kembali ke balai kota. Dalam uji coba perdananya, Walikota Madiun turut menjajal kemampuan E-Inobus milik INKA tersebut.