Hari Ini, Steve Fossett Sang Pemilik 116 Rekor Dunia Memulai Penerbangan Menantang Maut Demi Rekor

Pada hari ini, 15 tahun lalu, bertepatan dengan 8 Februari 2006, Steve Fossett memulai penerbangan menantang maut untuk melakukan penerbangan keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Setelah 76 jam 45 menit, pesawat rancangan Burt Rutan melalui perusahaan The Scaled Composites, Virgin Atlantic GlobalFlyer Model 311, akhirnya berhasil mendarat di Inggris dan mengunci rekor kategori penerbangan non-stop terpanjang di dunia sejauh 26.389 mil atau 42.468 km dengan pesawat apapun, melampaui rekor dunia milik Rutan Model 76 Voyager pada tahun 1986 sejauh 42.212 km, yang notabene adalah pesawat yang juga dirancang oleh Burt Rutan.

Dikutip dari guinnessworldrecords.com, Steve Fossett, yang seorang pengusaha sukses di Chicago, Amerika Serikat (AS), memulai perjalanan mengukir rekor tersebut dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, AS.

Tak banyak informasi detail rute Fossett dan Virgin Atlantic GlobalFlyer mengudara. Namun yang pasti keduanya mengarah ke Bandara Internasional Kent di Manston, Inggris, via India. Sebab, pesawat Virgin Atlantic GlobalFlyer dilaporkan nyaris hancur saat mendapat turbulensi hebat di atas langit Bhopal, India.

Sepanjang perjalanan, pesawat diterpa cuaca ekstrem berupa angin kencang dan cuaca dingin. Saking dinginnya, bahkan es sampai menumpuk di sekeliling pesawat hingga menutup pandangan Steve Fossett. CNN International melaporkan, pada kondisi ini, ia benar-benar mengandalkan radar serta komunikasi dengan ATC untuk memandunya ke arah yang tepat.

Suhu dingin esktrem tersebut pada akhirnya benar-benar membawa Steve Fossett ke jurang maut setelah generator listrik pesawat rusak total. Padahal, saat itu, dunia baru saja mencatat rekor dunia baru untuknya ketika melintas di atas langit Shannon, Irlandia. Pesawat yang membawa 8,2 ton bahan bakar ini menyisakan waktu 15 menit untuk mengudara.

ATC pun memberikan pilihan kepadanya untuk mendarat di tiga bandara, Cardiff, Wales, dan Bournemouth. Fossett pun memilih bandara yang terakhir karena merasa sudah akrab dengan bandara tersebut. Perayaan mewah yang sebelumnya sudah dipersiapkan di Bandara Internasional Kent, mendadak bubar dan pindah ke Bandara Bournemouth.

Virgin Atlantic GlobalFlyer Model 311 akhirnya bisa mendarat dengan selamat di bandara tersebut dalam kondisi pesawat rusak parah dan dua ban pecah. Meski demikian, ia berhasil mengunci rekor yang tercatat di Guinness Book World of Records di kategori penerbangan non-stop terpanjang dengan pesawat apapun di dunia sejauh 26.389 mil atau 42.468 km.

Usai mendarat, Fossett disambut langsung oleh Richard Branson, pemilik Virgin Group yang notabene menjadi sponsor penjalanan mengukir rekor ini, bersama dengan ratusan avgeek dari berbagai negara.

Baca juga: Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

Sekilas tentang pesawat Virgin Atlantic GlobalFlyer, secara khusus pesawat memang dirancang untuk melakukan perjalanan keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar dengan pilot tunggal di kokpit, dilengkapi dengan hanya satu mesin jet di bagian atas belakang kokpit, sangat jarang ditemui di dunia pesawat sipil modern. Pesawat dengan penempatan mesin seperti ini dahulu pernah ditemukan di Heinkel He 162 dan Cirrus Vision SF50.

Secara fisik, GlobalFlyer memiliki boom ekor ganda yang dipasang di luar nacelle badan pesawat sentral yang lebih pendek. Kokpit bertekanan terletak di bagian depan badan pesawat dan menyediakan ruang seluas 2,1 m untuk tempat pilot duduk. Pesawat ini memiliki panjang 13 meter lebih, bentang sayap mencapai hampir 35 meter, tinggi 4 meter, berat total mencapai 10 ton, dimana 8 ton berisi bahan bakar dan sisanya berat kosong pesawat.

Pintu Kupu-kupu (Lipat) Ditinggalkan Bus/Angkot dan Kereta Api, Inilah Alasannya

Kemajuan moda transportasi berkembang dengan cepat dari masa ke masa,  meski ada perubahan yang signifikan antar moda darat, namun ada sesuatu yang menyatukan, khususnya antara kereta api, bus kota dan angkutan kota (angkot/mikrolet). Yang dimaksud disini adalah penggunaan pintu kupu-kupu (pintu lipat) sebagai jalur keluar masuknya penumpang.

Baca juga: Hapus Angkot Keluaran Karoseri, Organda DKI Gunakan Angkot Keluaran ATPM

Sepertinya era wahana transportasi dengan menggunakan pintu lipat akan mulai hilang. Baik kereta api maupun mikrolet, sekarang mulai berpindah menggunakan satu daun pintu.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa model pintu lipat digantikan? Bukankan model pintu lipat menjanjikan efisiensi ruangan yang lebih pada kompartemen. KabarPenumpang.com coba mencari alasan pasti penggantian model pintu ini. Pada angkutan kota atau biasa disebut angkot, ternyata alasan penggantian pintu ini karena model barunya memiliki bangku yang menghadap ke depan.

kereta api dan angkot

Organisasi Angkutan darat atau Organda DKI Jakarta mengatakan, pihak Toyota, Wuiling, Daihatsu dan Suzuki menawarkan untuk menyediakan angkot dengan pendingin udara atau AC. Sehingga angkot model lama akan secara bertahap  ditinggalkan.

Bahkan untuk memperpanjang izin trayek, Organda menyebutkan, para pengusaha harus mengikuti konsep baru dengan mengganti model baru. Ini dilakukan untuk kenyamanan penumpang dan aturan angkot harus memiliki AC adalah untuk memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29/2015.

Meski begitu, saat ini MikroTrans yang dikelola oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) juga mulai mengubah model pintu meski masih ada juga yang menggunakan pintu kupu-kupu atau lipat. Meski sudah berganti pintu dan jenis kendaraan yang digunakan, penumpang yang naik MikroTrans masih tetap duduk berhadap-hadapan.

Di Kereta Api
Nah bagaimana dengan kereta yang digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI)? Saat ini pun KAI juga tak lagi menggunakan pintu dengan dua daun pintu yang terlihat seperti kupu-kupu. Dulunya dengan pintu ini, sebenarnya memudahkan penumpang untuk naik dan turun.

Bila dengan model pintu yang ada saat ini sedikit membuat penumpang sulit naik atau turun. Bahkan ketika di peron pun masih ada tangga tambahan untuk memudahkan penumpang naik turun. Penggantian pintu ini pun bisa dikatakan lebih membuat fleksibel karena hanya satu pintu tak seperti dulu yang dua daun pitnu.

Pihak PT Industri Kereta Api (INKA) mengatakan, mereka membuat pintu kereta api sesuai dengan pemesan. Bila memesan hanya satu pintu mereka akan merancangnya seperti saat ini dan bila ada yang memesan dengan dua daun pintu mereka juga tetap menerimanya.

“Kami buat kereta dengan pintu sesuai dengan yang permintaan pelanggan. Intinya mau satu daun pintu atau dua daun pintu kita tetap buat,” ujar PR PT INKA Muhammad Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com (3/2/2021).

Baca juga: Dilarang Bersandar di Pintu Kereta? Ini Dia Penjelasannya!

Dia mengatakan, PT INKA terakhir membuat kereta dengan dua daun pintu untuk KAI tahun 2014 untuk gerbong ekonomi (K3).

Tak Terlihat Seperti Kapal Pesiar, “Guntu” Lebih Mirip Rumah Perahu

Ryokan tradisional hadir pada sebuah kapal pesiar mewah Guntu. Ini adalah penginapan atau hotel terapung bintang lima yang menawarkan kesempatan untuk bersantai di tengah lanskap Laut Pedalaman Seto yang selalu berubah, yang mana ini adalah salah satu daya pikat Setouchi, Jepang.

Baca juga: Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Guntu atau yang dibaca Gan-tsu bukanlah kapal pesiar biasa. Sebab tidak terlihat seperti kapal pesiar tetapi lebih terlihat seperti rumah perahu yang dibuat dengan indah. Guntu dilengkapi dengan atap pelana dan eksterior abu-abu perak reflektif yang menyatu dengan pemandangan sekitarnya.

Meski memiliki tiga lantai, Guntu hanya punya kamar untuk 38 tamu di mana 19 kabin berpemandangan laut dengan akomodasi bergaya penginapan Jepang. Interiornya menampilkan panel kayu halus dan interior bebas kekacauan, keajaiban arsitektur ini menyampaikan rasa ketenangan dan keterpisahan dari kehidupan perkotaan.

“Banyak orang mengatakan bahwa ini seperti rumah, bukan kapal,” kata direktur penjualan, pemasaran & PR, Taoko Shimizu yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnaluxury.channelnewsasia.com.

Orang di belakang Guntu adalah arsitek pemenang penghargaan, Yasushi Horibe, seorang profesor arsitektur di Sekolah Pascasarjana Universitas Seni dan Desain Kyoto, dan penerima Penghargaan Institut Arsitektur Jepang 2016 (Divisi Desain Arsitektur) untuk desainnya Charnel House di Chikurin-ji. Dikenal karena penggunaan bahan alami dan garis yang bersih, Horibe menggabungkan berbagai kayu di sejumlah tempat di kapal, karena dia yakin warna tersebut membawa kehangatan tertentu pada warna kulit orang, dan memberi mereka rasa tenang dan relaksasi. Dia mengatakan, bahwa menggunakan kayu untuk kapal penumpang adalah tugas yang sangat sulit.

“Anda akan melihat banyak kayu di mana-mana yang sangat tidak biasa dan sangat sulit dirawat. Sungguh mukjizat bahwa ini dilakukan,” ujar Horibe.

Setiap kabin memiliki balkon pribadi agar Anda dapat menikmati pemandangan luar yang selalu berubah, sementara jendela dari lantai ke langit-langit yang megah membanjiri kamar dengan cahaya alami. Faktor kemewahan hadir dalam detail yang lebih kecil seperti kimono katun segar yang terlipat rapi di lemari dan jus jahe dingin di lemari es mini.

Ada empat jenis suite, beberapa menawarkan pemandian terbuka, di mana Guntu Suite adalah yang terbesar. Terletak di atas haluan, tempat tinggal seluas 90 meter persegi ini adalah satu-satunya kamar yang menawarkan pemandangan laut menghadap ke depan dan samping. Menginap di suite paling premium akan membuat Anda membayar US$9.000 untuk dua malam per orang.

Semua kamar lainnya mulai dari US$3.000 per malam untuk dua tamu. Berangkat dari kota Onomichi, timur Hiroshima, Guntu menawarkan perjalanan dua hingga tiga malam yang mengangkut penumpang di sepanjang rute berbeda di Laut Pedalaman Seto, rumah bagi ribuan pulau kecil, termasuk beberapa tujuan terkenal seperti pulau seni Naoshima.

Bergantung pada kondisi cuaca, para tamu dapat turun dan melakukan perjalanan darat ke pulau-pulau tertentu dan ikut serta dalam kegiatan seperti mencicipi kecap di tempat pembuatan bir lokal, mendaki berpemandu, bersepeda, atau mengunjungi reruntuhan kuil kuno atau desa nelayan.

“Kami sangat ingin para tamu menikmati dan merangkul budaya daerah Setouchi. Beberapa pulau ini sangat indah, tetapi banyak orang yang belum pernah mendengarnya. Guntu adalah satu-satunya perahu yang bisa membawa Anda ke sana,” kata Shimizu.

Saat kapal berlabuh di malam hari, para tamu dapat menikmati berbagai fasilitas di kapal Guntu seperti spa, sauna, gym, ruang minum teh dan lounge dalam ruangan yang menyajikan penganan Jepang yang baru dibuat. Inti dari hotel ini adalah ruang makan utama tempat kreasi kuliner Barat dan Jepang dibuat menggunakan makanan laut yang baru ditangkap.

Koki ahli Kenzo Sato dari Shigeyoshi, dan Nobuo Sakamoto dari Nobu, meminjamkan keahlian mereka pada menu wagashi (manisan tradisional Jepang) dan sushi yang dikurasi dengan baik. Untuk sepenuhnya membenamkan diri di rumah-jauh-dari-rumah yang dipenuhi zen ini, dan merasa seperti menyatu dengan elemen, pergilah ke teras engawa (beranda bergaya Jepang) atau dek observasi atap, di mana Anda tidak akan melihat apa-apa selain langit biru. memantulkan air biru langit.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

“Jika Anda duduk di engawa, saya yakin Anda bisa merasakan perasaan seolah-olah gulungan gambar bergerak perlahan,” kata Horibe.

“Biasanya para tamu kami sering mengunjungi banyak tempat terkenal seperti Tokyo, Osaka dan Kyoto. Tapi di sini sangat, sangat sepi. Anda tidak akan melihat banyak orang. Kami ingin orang-orang santai dan mengingat waktu mereka di sini ketika mereka tidak melakukan apa-apa,” tambah Shimizu.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyata dan Bukan Hanya Karangan Buya Hamka

Siapa yang tak kenal dengan Kapal Van der Wijck? Bila Anda sudah menonton filmnya pasti tahu dan tenggelamnya kapal ini bukan hanya sekedar karangan Buya Hamka. Tetapi ini adalah cerita nyata dan pernah mengarungi laut di Indonesia yang kala itu masih disebut Hindia Belanda.

Baca juga: Hari ini, 9 Tahun Lalu, Kapal MV Rabaul Queen Tenggelam di Papua Nugini, Ratusan Penumpang Tewas

Penasaran dengan kisahnya? KabarPenumpang.com mencoba menghimpun dari berbagai laman sumber dan menemukan berbagai hal tentang keberadaan Kapal Van der Wijck secara nyata. Kapal ini merupakan kapal angkutan penumpang dan barang bertenaga uap yang dimiliki oleh maskapai pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang nantinya menjadi cikal bakal PELNI.

Tugu peringatan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kapal Van der Wijck dibangun tahun 1921 silam oleh Maatschappij Fijenoord N.V sebuah pabrik galangan kapal di Fyenoord, Rotterdam, Belanda. Kapal ini memiliki spesifikasi 97,5 meter x 13,4 meter x 8,5 meter dengan berat kotor 2.633 ton. Terbagi dalam beberapa kelas yakni kelas pertama atau VVIP bisa digunakan oleh 60 penumpang, kelas dua atau VIP muat 34 penumpang dan geladak alias kelas ekonomi mampu menampung 999 orang.

Nama kapal ini diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jonkheer Carel Herman Aart Ven der Wijck. Uniknya kapal ini memiliki nama panggilan yakni “de meeuw” atau “The Seagull” dan merupakan salah satu kapal besar serta megah di era Hindia Belanda.

Bahkan kapal milik Belanda ini memiliki kaitan dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia yang mana pernah mengangkut Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pembuangan mereka Boven Digoel. Van der Wijck mengarungi lautan dalam pelayaran terakhirnya pada 20 Oktober 1936 yang kala itu berlayar dari Makassar – Tanjung Perak (Surabaya) – Tanjung Mas (Semarang) – Tanjung Priok (Jakarta) – Palembang.

Pelayaran terakhir ini karena pada saat Van der Wijck bertolak dari Makassar dan menyinggahi Buleleng, kapal melepas sauh dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok. Namun kapal ini miring saat sudah berada 64 km barat daya Surabaya dan hanya butuh enam menit hingga seluruh badan kapal lenyap tenggelam di Laut Jawa tepatnya di kawasan Westgat yakni Selat di antara Pulau Mauda dan Surabaya.

Saat insiden itu, kapal mengangkut minyak, 300 penumpang lokal dan 30 orang Eropa. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian tim penyelamat langsung melakukan evakuasi dengan menggunakan delapan pesawat udara berjenis dornier, kapal dan perahu nelayan.

Ada sekitar 20 penumpang yang berhasil dievakuasi dengan pesawat dan dibawa ke Surabaya. Sedangkan perahu nelayan menyelamatkan puluhan penumpang baik pribumi maupun bangsa Eropa. Dari ratusan penumpang selamat, 70 lainnya baik penumpang maupun awak kapal dilaporkan hilang.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian dilakukan penyelidikan dan Dewan Pelayaran (Raad van Scheepvaart) yang mengurusi perhubungan laut bersidang di Betawi yang saat ini menjadi Jakarta pada 21 April 1937. Pada sidang itu, seorang petugas komunikasi kapal dipuji karena kesigapan dan pengorbanannya.

Ternyata kapten kapal yakni Akkerman menjadi orang terakhir keluar dari kapal ketika Van der Wijck terbalik dan tenggelam. Saat itu dia menyelamatkan seorang perempuan Belanda dan seorang anak serta menjaha mereka dengan bertahan dari tumpahan minyak kapal.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Peristiwa tenggelamnya kapal ini kemudian diperingati di Lamongan dengan pendirian sebuah tugu di Pelabuhan Brondong. Adapun tulisan yakni, “Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Selain itu peristiwa ini pun diangkat menjadi dalam film layar lebar yang diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan Buya Hamka terbitan tahun 1938.

Flying Cloud 30FB Gantikan Trailer Jadi Tempat Kerja Baru Selama Pandemi

Pandemi membuat banyak perubahan bagi para pekerja yang dulunya bekerja di dalam ruangan kantor kini berubah jadi di rumah. Namun, ternyata hal ini pun membuat bosan dan banyak yang bekerja di luar seperti hotel, villa atau berbagai tempat lainnya tanpa adanya kerumumnan.

Baca juga: “Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Bukan hanya hotel atau villa, perusahaan trailer kemping Airstream juga mengambil kesempatan. Di mana Airstream menghadirkan kemping aluminium mengkilapnya atau aluminium peluru perak. Trailer kemping ini bernama Airstream Flying Cloud 30FB baru menawarkan kantor sudut literal.

Bagian dalam Trailer Airstream Flying Cloud 30FB (newatlas.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber newatlas.com (4/2/2021), untuk memudahkan seseorang yang menggunakan trailer kemping ini, Airstream menghilangkan area tidur di belakang Flying Cloud di samping toilet dan mengubahnya menjadi ruang kerja kantor dengan meja kecil seperti yang terlihat di asrama. Kursi kantor yang dirancang agar pas dengan alur tersembunyi di meja dan kemudian diamankan dengan tali.

Selain itu ada meja tarik untuk lebih banyak ruang kerja dan gelap. Ada juga laci geser dan kumpulan kubus untuk penyimpanan serta mejadi dengan dua grommet untuk mengamankan kabel atau memasang monitor. Lebih banyak penyimpanan dapat ditemukan di lemari di atas kepala yang dilengkapi papan penghapus kerin dan lampu LED yang dipasang di bawah.

Di meja juga dilengkapi dengan stopkontak USB atau AC pop-up yang dialiri oleh inverter daya 1.000 W kendaraan. Kantor juga dapat menghubungkan ke outlet TV satelit / HDMI dari pemutar DVD Blu-ray onboard. Untuk konferensi video, tiga jendela besar memiliki layar gelap dan kantor memiliki pembagi privasi peredam suara.

Saat tidak digunakan, ruangan dapat diubah menjadi area tidur satu orang. Selain itu trailer ini juga mampu menampung enam orang penumpang di Flying Cloud 30FB dengan tempat tidur queen, bangku dan meja makan yang dapat diubah. Fasilitas lainnya termasuk Airstream Connected untuk memperluas jangkauan Wi-Fi lokal, dan pilihan termasuk Airstream Power Plus dengan baterai lithium-ion, dan paket tenaga surya.

“Kami tahu bahwa lanskap kerja akan selamanya berubah oleh pandemi. Penawaran baru ini mencerminkan komitmen kami untuk gesit dan bereaksi terhadap kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa depan. Kami belajar banyak – tidak hanya tentang perlunya konektivitas dan opsi untuk peningkatan daya, tetapi tentang kegembiraan saat menutup laptop Anda dan melangkah keluar. Mereka menemukan transisi yang mulus antara bekerja dan bermain dan bepergian, dan kami ingin menemukan cara untuk menghadirkan kebebasan unik dari pekerjaan ini dari mana pun gaya hidup ke komunitas, serta ke pemirsa baru,” kata Bob Wheeler, Presiden dan CEO Airstream.

Baca juga: Bosen WFH, Cobain Nih Caravan NV350, Konsep Kantor ‘Berjalan’ Ala Nissan

Trailer perjalanan memiliki berat sekitar 6.800 pound dan harganya $ 107.500. Mungkin perlu beberapa saat untuk mendapatkannya. Penjualan kendaraan rekreasi dan trailer perjalanan meroket selama pandemi karena para pelancong menghindari perjalanan udara dan hotel. Situs web Airstream menampilkan peringatan yang menonjol bahwa “Karena permintaan yang tinggi, waktu tunggu untuk produk baru lebih lama dari biasanya.”

Dikira ‘Fake Taxi’ untuk Film Porno, Seorang TikToker Buat Video Penjelasan

TikTok saat ini menjadi salah satu media sosial yang banyak membagikan video penggunanya. Media sosial ini kemudian digunakan oleh seorang TikToker yang tengah berjalan-jalan dan temannya melihat sebuah taksi hitam dari kejauhan dengan tulisan Taksi Palsu atau Fake Taxi DIY di bodi mobil tersebut.

Baca Juga: Mobil Masuk Rel Kereta Demi TikTok, Pejabat Kereta: Pelaku Pembuat Video Harus Dibawa ke Pengadilan

Josh Mollison (@joshuamollison) kemudian merekam video perjalanannya yang tidak biasa dan mengunggahnya secara online. Video unggahannya tersebut dilihat lebih dari 2,3 juta kali. KabarPenumpang.com melansir dari laman ladbible.com (4/2/2021), karena viralnya video Fake Taxi tersebut, ternyata dia dihubungi oleh pemilik taksi.

Josh mengatakan, ini mungkin tidak mengejutkan dan ternyata yang menghubunginya bukan Big John melainkan seorang pria bernama Dave.

“Saya dan teman saya sedang berjalan-jalan, dan dia melihat ‘Fake Taxi’. Kemudian kami benar-benar merekamnya dan memukulnya di TikTok, dan terus berjalan dan tidak memikirkannya. Setelah beberapa jam, itu mulai menjadi viral dan saya mendapat pesan dari wanita ini yang mengatakan bahwa itu adalah taksi pasangannya,” kata Josh.

Josh mengatakan, pemiliknya menjelaskan padanya bahwa ia baru saja membeli taksi beberapa tahun yang lalu dan itu bukan Fake Taxi, hanya saja taksi yang karena alasan tertentu dibeli kakeknya dengan merek di atasnya.

“Dia membelinya karena hampir tertawa, aku tidak tahu kenapa. Dan jelas dia baru saja memarkirnya di sana. Dia sebenarnya mencoba menjualnya dengan cukup lucu, mencoba menyingkirkannya,” ujar Josh lagi.

Setelah dirinya dihubungi oleh pemilik taksi melalui media sosial, mereka bertanya pada Josh apakah ingin datang melihat taksi tersebut untuk merekam bagian kedua dan diunggah ke TikToknya.

Setelah pemiliknya menghubungi melalui media sosial, mereka bertanya apakah Josh ingin datang untuk melihat taksi buatan penggemar untuk merekam bagian kedua kisah Fake Taxi itu ke TikTok. Sayangnya video asli yang pertama benar-benar dihapus, tetapi setelah mengajukan banding untuk dihapus, Josh berhasil mendapatkan klip itu kembali online.

Sementara klip pertama offline, beberapa orang hanya melihat screengrabs dari video di internet, tidak menyadari bahwa itu bukanlah Fake Taxi yang sebenarnya dan beberapa orang bahkan secara keliru mengira Josh secara tidak sengaja menemukan syuting film porno.

Namun dalam video TikTok keduanya, Josh menjelaskan bagaimana mobil itu sebenarnya milik seorang pria bernama Dave, mengajak pengikutnya berkeliling di sekitar taksi.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

“Kami bertemu kemarin dan saya memasang bagian kedua, dan pada dasarnya saya menekan ketidakpercayaan bahwa itu adalah Fake Taxi yang asli dengan mengatakan bahwa itu bukan kakek Big John, hanya orang bernama Dave yang membeli taksi. Saya menunjukkan orang-orang di sekitar taksi. Dan hanya itu,” ungkap Josh.

Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

Sebagai salah satu sarana transportasi umum, bus harus memberikan pelayanan yang optimal kepada para penumpangnya, tentu saja tanpa memandang umur, suku bangsa, maupun kondisi fisik. Dulu, penyandang cacat dan orang tua agak kesulitan untuk menaiki bus ini karena pijakan dari trotoar ke badan bus terlalu tinggi, namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak perusahaan bus yang menawarkan kemudahan untuk para penumpangnya.

Baca juga: Dilema Penyandang Disabilitas di Transportasi Publik

Hadirnya Low-Floor Bus di beberapa Negara tentu membawa dampak positif bagi masyarakatnya. Sesuai dengan namanya, Low-Floor Bus berbentuk layaknya bus pada umumnya, namun memiliki badan bus yang rendah atau “ceper” sehingga memudahkan penumpang untuk masuk ke dalam. Walaupun badan bus tetap lebih tinggi dari trotoar, tapi pijakannya tidak setinggi bus normal. Keberadaan bus ini tentunya lebih memudahkan untuk kaum penyandang cacat maupun orang tua untuk naik.

Bagian dalam bus di desain sedemikian rupa sehingga penggunaan deck yang rendah tidak mengganggu kinerja mesin yang tersimpan di bagian bawah bus. Di bagian dalam bus ini juga agak sedikit berbeda, karena ada kursi yang bisa dilipat apabila ada yang menggunakan kursi roda.

Sumber: orientalmodelbuses.com
Sumber: orientalmodelbuses.com

Secara teknis, bus ceper ini terbagi menjadi 2 jenis, fully low-floor bus dan low-entry bus. Fully Low-Floor Bus yang populer di Eropa memiliki lantai yang ceper pada seluruh bagian bus, sedangkan Low-Entry Bus memiliki bagian ceper pada bagian tengah sampai depan bus, sedangkan dari bagian tengah ke belakang posisinya lebih tinggi dari bagian depannya. Tapi secara keseluruhan, masyarakat awam menyebutnya dengan Low-Floor Bus karena tidak memiliki pijakan yang tinggi pada pintu masuknya.

Adapun alasan mengapa Low-Entry Bus lebih unggul daripada Fully Low-Floor Bus karena ada bagian yang bisa digunakan untuk menyimpan powertrain dan perlengkapan penunjang lainnya, yaitu pada bagian belakang yang sedikit lebih tinggi dari bagian depan.

Kebanyakan produsen bus merancang bus ini menggunakan sistem rear-engined rear-wheel dengan suspensi tunggal di bagian depan. Beberapa Low-Floor Bus juga memiliki poros roda belakang yang diturunkan, namun tidak pada Low-Entry Bus. Kekurangan dari bus ceper ini adalah bagian roda yang menonjol ke bagian dalam bus, karena dengan adanya bagian ini, maka ruang kosong dimana roda menonjol tersebut sebenarnya bisa dijadikan kursi.

sumber: prenticeofhaddington.info
sumber: prenticeofhaddington.info

Ada beberapa Negara di dunia yang menggunakan bus ini sebagai salah satu sarana transportasinya, contohnya Inggris, Dennis Dart Super Low-Floor (SLF) pertama kali dikenalkan pada tahun 1995 dan berkembang pesat karena sering hilir mudik di jalur-jalur sibuk di Inggris. Selain itu ada juga Optare Solo yang pertama kali beroperasi pada tahun 1998 dan memiliki bentuk lebih kecil dari Dennis Dart SLF. Lalu muncullah Dennis Trident 2 dan Volvo B7TL yang merupakan bus tingkat versi ceper.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, di Perth Dibangun Halte Bus Dengan Motion Sensor

Selain di Inggris, India juga mengaplikasikan bus ceper sebagai salah satu sarana transportasinya. Beberapa kota seperti Bengaluru, New Delhi, Kolkata, dan Jaipur tercatat menggunakan bus ceper ini. Di Bengaluru menggunakan mesin jenis Volvo 8400 LE Low-Floor Bus dan beberapa fitur-fitur pelengkap lainnya, seperti AC, jembatan kursi roda, dan menggunakan transisi otomatis. Bus ini juga dilengkapi dengan LED yang menunjukkan informasi mengenai halte selanjutnya.

Hampir serupa dengan di Bengaluru, di New Delhi bus ceper ini juga dilengkapi dengan AC dan rencananya bus ceper di sini akan dilengkapi dengan GPS agar penumpang yang sedang menunggu di halte dapat mengetahui posisi dari bus tersebut. Pada tahun 2010, pemerintah Delhi mendatangkan 6.600 Low-Floor Bus guna menunjang sarana untuk Commonwealth Games 2010.

Sedangkan di Australia, pengoperasian bus normal dan bus ceper hampir berimbang, namun penggunaan Low-Floor Bus lebih diperuntukan pada orang-orang yang menggunakan kursi roda. Bus ceper di Negeri Kangguru ini dikendalikan oleh Metrobus Sydney.

Ketika Rekor Balon Udara Keliling Dunia Harus Pupus Gegara Cina Tak Izinkan Melintasi Negaranya

Pada hari ini, 23 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 6 Februari 1998, upaya Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, untuk mencetak rekor keliling dunia menggunakan balon udara harus pupus. Bukan karena masalah teknis pada balon udara Breitling Orbiter II yang ditumpanginya, melainkan tim tidak diizinkan melintasi ruang udara Cina.

Baca juga: Hari Ini, 237 Tahun Lalu, Paris Jadi Saksi Manusia Pertama yang Berhasil Terbang dengan Balon Udara

Dikutip dari bertrandpiccard.com, upaya pertama untuk memecahkan rekor dunia keliling dengan balon udara dimulai pada 12 Januari 1997. Saat itu, penerbangan ditargetkan mencapai 15 hari menggunakan balon udara Breitling Orbiter I. Sayang, akibat kebocoran bahan bakar membuat tim terpaksa mendarat darurat di Mediterania.

Setelah balon udara Breitling Orbiter II selesai dibuat oleh Cameron Balloons, dari Bristol, Inggris, tim, yang terdiri dari Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten, dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, kembali berangkat pada 6 Februari 1998.

Hanya saja, ketiganya memulai penerbangan balon udara dengan agak risau. Sebab, saat perjalanan memecahkan rekor keliling dunia menggunakan balon udara pertama dan terlama di dunia dimulai dari Swiss, otoritas Cina, yang negaranya masuk dalam rute Breitling Orbiter II, belum mengizinkan penerbangan tersebut. Padahal, negara-negara Eropa, khususnya Swiss, Inggris, dan Belgia sudah mendesak Negeri Panda untuk mengizinkannya.

Sambil menunggu pemerintah Cina berubah pikiran, balon udara terus melaju melewati Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, dan Myanmar di ketinggian rata-rata sekitar 11 ribu meter.

Balon udara Breitling Orbiter III usai berhasil mencetak tujuh rekor dunia, disimpan di Smithsonian National Museum of Natural History, AS. Foto: National Air and Space Museum | – Smithsonian Institution

Saat di Myanmar, tim belum juga mendapat izin dari pemerintah Cina. Laporan Associated Press, Cina berdalih bahwa mereka tidak ingin mengambil risiko. Sebab, wilayah yang akan dilewati Breitling Orbiter II tidak terpantau mutlak Beijing. Alhasil, bila terjadi apa-apa, mereka tidak bisa memberikan pertolongan.

“Seluruh wilayah barat daya adalah dataran tinggi, hampir tak berpenghuni. Tidak terjangkau oleh sistem radar kami. Dan jika kami mengeluarkan izin, itu adalah kewajiban kami untuk memastikan keselamatan mereka dan kami tidak dapat memberikan bantuan jika mereka jatuh di daerah tersebut, jadi pada dasarnya kami tidak dapat menawarkan jaminan apa pun,” kata Asosiasi Balon Udara Cina, mengutip keterangan Beijing.

Sebetulnya, ada opsi memutar, entah itu via Selatan atau Utara. Namun, Bertrand Piccard, Wim Verstraeten, dan Andrew Elson sepakat tidak melanjutkan perjalanan dan mendaratkan balon udara hidrogen itu di Myanmar. Target keliling dunia 14 hari menggunakan balon udara pun pupus dan hanya ditutup dengan penerbangan sejauh 437 kilometer melintasi Eropa, Timur Tengah, dan Asia selama sembilan hari dan 17 jam atau 233 jam dan 55 menit.

Akan tetapi, Itu tetap mengantarkan ketiganya dan Breitling Orbiter II mencetak rekor penerbangan non-stop terlama dan kendaraan yang terbang tanpa mengisi bahan bakar terlama.

Pada 1 Maret 1999, Bertrand Piccard, yang terobsesi dari kakeknya (Auguste Piccard, orang pertama yang berhasil mencapai stratosfer dengan balon udara) dan ayahnya (Jacques, orang pertama yang berhasil mencapai palung mariana), kembali menerbangkan Breitling Orbiter III bersama Brian Jones, asal Inggris.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Keduanya pun berhasil mengukir tujuh rekor dunia, salah satunya penerbangan balon udara keliling dunia terlama mencapai total 19 hari, 21 jam, 47 menit (477 jam 47 menit), melintasi Swiss, Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, Myanmar, Cina, Taiwan, Jepang, Meksiko, Guatemala, Belize, Honduras, Jamaika, Haiti, Republik Dominika, Puerto Rico, Mauritania, Mali, Aljazair, Libia, dan mendarat di Dakhla, Mesir pada 21 Maret 1999.

Selama di dalam balon udara, baik itu Breitling Orbiter I, II, dan III, tim tetap bisa tidur, makan dan minum serta buang air kecil dan besar. Balon udara itu nyatanya menyediakan toilet canggih berukuran mini.

Korean Air Batalkan Program Flight to Nowhere, Gegara Covid-19?

Korean Air akhirnya membatalkan program flight to nowhere. Tak diketahui secara pasti alasan dibalik itu. Namun, kuat diduga pembatalan dilakukan karena wabah Covid-19 yang tak kunjung mereda di Negeri Ginseng.

Baca juga: Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Sejatinya, Korean Air sudah menjadwalkan penerbangan flight to nowhere pada 27 Februari mendatang setelah mendapat izin dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi. Meskipun belum ada detail pasti, rencananya flight to nowhere Korean Air akan mencakup penerbangan internasional ke Jepang, selain keliling Korea Selatan.

Baik flight to nowhere ataupun rutenya, Korean Air mengklaim bahwa itu datang dari industri pariwisata. Dengan demikian, penerbangan tak kemana-mana atau take off dan mendarat di bandara yang sama ini akan diliputi kesuksesan meraup untung besar, sebagaimana penerbangan flight to nowhere oleh maskapai lain.

“Kami telah mendapatkan beberapa permintaan dari industri pariwisata. Kami sedang mempersiapkan pengoperasian penerbangan tamasya, dan mendiskusikan periode penjualan dengan pihak terkait seperti agensi,” kata juru bicara Korean Air, seperti dikutip dari Simple Flying.

Korean Air tentu bukanlah yang pertama meluncurkan flight to nowhere di Korea Selatan. Sebelumnya, Asiana Airlines dan Air Seoul jadi dua yang terdepan menggaungkan flight to nowhere. Tetapi, hanya Asiana Airlines yang berhasil menjalankan flight to nowhere pada 12 Desember lalu. Adapun anak perusahaannya, Air Seoul, membatalkan rencana tersebut. Keduanya disinyalir bakal memulai kembali flight to nowhere dalam waktu dekat.

Sedangkan di internasional, flight to nowhere sudah lebih dahulu dijalani oleh berbagai maskapai dunia. Qantas tercatat pernah menjalankan flight to nowhere selama 8,5 jam pada 10 Oktober 2020. Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines telah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan.

Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang (serupa dengan konsep flight to nowhere Korean Air). Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi. Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Baca juga: Flight To Nowhere Ala Thai Airways, Terbang Sambil Ziarah ke 99 Tempat Suci Umat Buddha

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Kembali ke Korean Air, tidak ada keterangan apapun apakah maskapai nasional Korea Selatan ini akan memulainya di kemudian hari atau mengubur itu selamanya. Bila melihat dari kinerja keuangan, dimana maskapai justru mencetak keuntungan sebesar US$219 juta sepanjang tahun 2020 di saat maskapai lain rugi besar bahkan bangkrut, Korean Air besar kemungkinan tidak akan menjajaki flight to nowhere.

Mudahkan Pengguna, “The Next Level of TransJakarta” Menjadi Pembaruan di Aplikasi Tije

Sepertinya, dimasa pandemi ini semua terlihat serba praktis baik dari pembelian hingga pembayaran yang tanpa uang tunai. Bahkan yang tadinya menggunakan kartu pun beralih menggunakan QR Code yang didapat dari aplikasi.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

Hal ini pun terjadi di moda transportasi yang ada di Jakarta yakni salah satunya bus rapid transit (BRT) milik PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Di mana TransJakarta, hari ini, Jumat (5/2/2021), meluncurkan pembaruan serta pengembangan pada aplikasi Tije yakni The Next Level of TransJakarta.

Direktur Utama PT TransJakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, kehadiran pembaruan pada aplikasi Tije untuk melengkapi kebutuhan digital saat ini. Sehingga pada saatnya nanti pengguna tak perlu lagi menebak kedatangan bus atau mencari rute serta halte terdekat.

Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua mengatakan, kehadiran The Next Level of Tije ini karena pelanggan memiliki ekspektasi yang tinggi.

“Yang jelas dalam pembaruan ini kita aktifkan pencarian rute dari rumah untuk bus TJ yang akan digunakan. Mencari rute dan halte yang tidak beroperasi. Selain itu akan ada update secara realtime dan ini user friendly,“ ujar Gidi pada webinar.

Dia menambahkan, pihaknya juga tengah mengembangkan teknologi untuk penyandang disabilitas. Nantinya para penyandang disabilitas bisa melakukan pembayaran dengan suara untuk kode khusus.

“Kami masih meriview untuk penyandang disabilitas. Akan ada audio untuk memudahkan mereka dan tidak hanya notif tetap ada suara yang bisa didengar bagi mereka yang membutuhkan,“ tambahnya.

Untuk diketahui ada enam fitur canggih di aplikasi Tije yang baru yakni Homepage dengan tampilan simpel dan menarik. Ketika pengguna masuk ke aplikasi, akan ada salam yang menyebutkan nama pengguna aplikasi dan ini Anda akan seperti disapa oleh Tije.

Tjari Rute, ini adalah rencana perjalanan bersama TransJakarta yang mana penumpang bisa mengetahui posisi halte terdekat, pilihan rute yang dapat digunakan serta estimasi waktu perjalanan. Tjari Bus adalah fitur yang memudahkan pengguna mengetahui posisi bus serta detail armada seperti nomor bodi dan jenis bus.

Baca juga: TransJakarta Lengkapi Seluruh Halte di 13 Koridornya dengan WiFi Tanpa Bayar dan Batas Kuota

Informasi Rute merupakan fitur untuk mengetahui informasi rute secara up to date dan real time. Informasi Halte bisa digunakan pengguna untuk mengetahui informasi halte-halte baik yang beroperasi maupun yang sedang dalam proses renovasi dan sebagainya. Loyalti-je, ini adalah fitur keuntungan lebih banyak bagi pelanggan yang mendownload aplikasi TIJE dan melakukan pembayaran menggunakan QR tiket, di mana akan mendapat poin yang bisa ditukarkan dengan hadiah menarik.