Wanita Nyentrik Bikin Penumpang Kereta dan Media Sosial Singapura Tertawa

Belakangan ini tak bisa disangkal bahwa setiap orang membutuhkan sedikit humor ekstra dalam kehidupannya. Bahkan humor itu bisa datang dari siapa saja, seperti seorang penumpang wanita yang berpenampilan cukup unik dan nyentrik di dalam MRT Singapura.

Baca juga: Dorong Troli dengan Cara Unik, Wanita di Bandara Sydney Menjadi Viral

Wanita itu membuat sesama warga Singapura dan pengguna sosial tersenyum bahkan tertawa dengan gayanya. Gaya wanita ini diviralkan di Instagram @womanwithbooks dengan caption “Woman With Books”. Dilansir KabarPenumpang.com dari theindependent.sg (7/2/2021), wanita tersebut membuat tersenyum dan tertawa banyak orang karena kacamata unik berbentuk bintang dan berwarna merah jambu.

Masker yang digunakannya pun berwarna sama dengan kacamatanya. Wanita itu mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia ingin membahas hal-hal dan perasaan milenial sehari-hari yang biasanya tidak mereka bagi dengan orang lain dengan cara yang lucu. Dia memutuskan untuk menyebarkan pesan kesembronoan dengan mencetak “judul buku” yang lucu (dan lebih besar dari kehidupan) dan menempelkannya ke jurnal berukuran A3.

Wanita yang tak disebutkan namanya itu kemudian “membaca” buku-buku tersebut saat bepergian, mengundang penonton untuk melihat dan tertawa. Beberapa sampulnya termasuk “Cara Mentransfer Uang Dari Pikiran Saya Ke Bank Saya” (favorit pribadinya dan paling populer, sejauh ini!), “Cara Menyembunyikan Kegilaan Anda” dan “Cara Bertahan dengan Kerabat Usang Anda Ini CNY”.

Ketika didesak untuk detail identifikasi, wanita berusia 28 tahun itu mengatakan bahwa dia ingin tetap anonim dan menjadi “misteri” bagi penggemarnya, yang saat ini berjumlah lebih dari 1.500 pengguna di akun Instagram-nya. Namun, dia mengatakan bahwa dia bekerja sebagai pembuat konten digital, yang sangat masuk akal.

Wanita itu mencatat bahwa dia membuat judulnya sendiri, yang “didasarkan pada pengalaman kehidupan nyata dan sengaja dipilih untuk membangkitkan reaksi dari penonton”. Tingkah lakunya telah membuat banyak komuter dan pengguna media sosial senang, yang telah berbagi komentar di akun Instagram-nya dan ikut bersenang-senang.

“Bisakah Anda membaca buku ini ‘How To Deal With Crazy Aunties In MRT’? Saya dengar itu bagus,” canda salah satu komentator, sementara yang lain dengan lucu menyarankan agar dia menggunakan judul buku,“ How To Fart Without Sound ”.

Yang lain membagikan persetujuan mereka atas eksperimennya, namun yang lain mengatakan bahwa mereka berharap dapat melihatnya sekilas dalam perjalanan sehari-hari mereka.

“Terima kasih telah menyebarkan kegembiraan !!,” tulis seorang pengguna.

“Ya ampun, kamu baik sekali 😂 Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu suatu hari nanti loll 💕,” kata yang lain, sementara yang lain menulis bahwa mereka “akan [naik] MRT lebih sering” untuk melihat sekilas nya.

Sementara itu, seorang yang mengaku sebagai “penggemar fan boy non-penguntit” menyindir, “Aku benar-benar berharap bisa bertemu denganmu suatu hari nanti!”

Baca juga: Yang Unik dari Turki, Kolonya Digunakan Sebagai Hand Sanitizer

Ketika ditanya apakah dia berencana untuk mengambil eksperimen sosial lebih jauh, wanita humoris tersebut mencatat bahwa untuk saat ini, dia hanya ingin “mengikuti arus” dan berharap bahwa apa yang dia lakukan terus membawa kesenangan yang menyenangkan bagi semua orang yang kebetulan melihat dia.

Disusun Pertama Kali Tahun 1840-an di Perancis, Inilah Gapeka 2021 dari PT KAI

Pernah dengan Gapeka? Ini adalah grafik perjalanan kereta api yang adalah pedoman pengaturan pelaksanaan perjalanan kereta api dan digambarkan dalam bentuk garis. Biasanya gapek ini menunjukkan stasiun, waktu, jarak, kecepatan dan posisi perjalanan kereta api dari keberangkatan, berhenti, datang, persilanan dan penyusulan.

Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019

KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.com, aplikasi Gapeka tertua dibuat tahun 1840-an di Compagnie des chemins de fer du Nord, Perancis. Penemuan ini disusun oleh Léon Lalanne bersama Jules Petiet. Gapeka sendiri sudah digunakan di banyak perusahaan kereta api dan di Swiss, Austria serta Indonesia digunakan dengan sumbu kilometer lintas dan waktu balik yakni sumbu X sebagai waktu tempuh dan sumbu Y adalah jarak tempuh kilometer stasiun.

Digambarkan dengan garis, terkadang garis Gapeka ini juga diwarnai menurut kategori kereta, jumlah kereta dan hari perjalanan. Gapeka hadir dalam bentuk cetak ataupun elektronik. Dalam gapeka, pemberhentian dan persilangan-persusulan kereta dapat dilihat secara sekilas. Aplikasi operasional dari representasi grafis dari rangkaian kereta api ini juga digunakan dalam pemantauan operasi waktu nyata, yaitu dengan mempertimbangkan gangguan dan keterlambatan dan mengambil tindakan yang tepat.

Hal ini dapat dilakukan secara manual maupun melalui sistem komputer. Perubahan pada Gapeka juga dimungkinkan terjadi pada prasaran perkeretaapian yang sedang diperbaiki atau diubah, jumlah sarana perkeretaapian dan kecepatan kereta api. Selain itu juga kebutuhan angkutan yang berubah dari biasanya seperti pada saat puncak angkutan Lebaran, Natal dan Tahun baru.

Tak hanya itu, keadaan memaksa yang terjadi karena hal tertentu seperti anjlokan, kecelakaan, banjir dengan istilah Berhenti Luar Biasa (BLB), Kereta Luar Biasa (KLB), Peristiwa Luar Biasa (PL), Perjalanan Luar Biasa (PLB) dan Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH). PT KAI berlakukan Gapeka 2021 mulai 10 Februari 2021 dan ini perubahan layanan kereta api di wilayah Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Khusus PT KAI Daop 1 Jakarta, Gapeka 2021 mengalami peningkatan jumlah perjalanan KA dari program Gapeka 2019. Bila pada Gapeka sebelumnya, terdapat 1.636 perjalanan KA, kini pada Program Gapeka 2021 secara total terdapat 1.662 perjalanan KA yang terdiri dari, 93 (KA Jarak Jauh), 49 (KA Fakultatif), 54 (KA Barang), 32 (KA Lokal), 1.151 (KA Commuter), 70 (KA Bandara), 65 (Dinas Rangkaian), 148 (Dinas Lokomotif).

Adapun peningkatan layanan KA lainnya di wilayah Daop 1 Jakarta yang berlaku pada Gapeka 2021 antara lain, penambahan KA Lokal Merak menjadi 14 perjalanan KA dari sebelumnya hanya 12 perjalanan KA, perubahan relasi KA Lokal Walahar  yang sebelumnya memiliki relasi Tanjung Priok – Cikampek – Purwakarta (pp) menjadi Cikarang – Cikampek – Purwakarta (pp). Penambahan pemberhentian jumlah KA Jarak Jauh di Stasiun Bekasi yakni 24 KA melayani penumpang naik dan 42 KA melayani penumpang turun, Sehingga pada Gapeka 2021 terdapat 66 KAJJ yang melayani naik/turun penumpang di Stasiun Bekasi.

Peningkatan kecepatan yang berdampak pada pengurangan waktu tempuh. Pada lintas Jatinegara – Bekasi dari 90 km per jam menjadi 100 km per jam. Lintas Bekasi – Cikampek dari 100 km per jam menjadi 105 km per jam, lintas Jatinegara-Bekasi (DDT) dari 90km per jam menjadi 100 km per jam, dan lintas Serang-Rangkasbitung dari 65 km per jam menjadi 80 km per jam.

Baca juga: Waspadai Perubahan Jadwal Kereta! Mulai 1 Desember PT KAI Gunakan Gapeka 2019

Selain itu, pada Gapeka 2021 perjalanan KA Jarak Jauh dari tiga stasiun keberangkatan menjadi berubah menjadi, 35 KAJJ dari Stasiun Gambir, 27 KAJJ dari Stasiun Pasarsenen dan dua KA JJ dari Stasiun Jakarta Kota.

 

 

 

 

Hari Ini, Jim Mollison ‘Sang Pemabuk’ Jadi Orang Pertama yang Terbang Solo Melintasi Atlantik Utara dan Selatan

Hari ini, 88 tahun lalu, bertepatan dengan 9 Februari 1933, Jim Mollison, resmi menjadi orang pertama yang berhasil terbang solo melintasi Samudera Atlantik Utara dan Selatan. Saat mencetak rekor dunia itu, ia terbilang masih cukup muda, yakni berusia 28 tahun.

Baca juga: Hari Ini, Steve Fossett Sang Pemilik 116 Rekor Dunia Memulai Penerbangan Menantang Maut Demi Rekor

Dilansir eastriding.gov.uk, sejak kecil, Jim -anak tunggal dari konsultan engineer asal Glasgow, Skotlandia- memang sudah memiliki minat luar biasa besar terhadap dunia penerbangan. Ia pun menempuh pendidikan Akademi Glasgow dan Akademi Edinburg dengan mudah. Setelah itu, Jim bergabung dengan Royal Air Force (RAF) pada usia 18 tahun dan menjadi perwira termuda.

Jim juga menjadi instruktur terbang termuda pada usia 22 tahun saat bergabung dengan Central Flying School (CFS). Karir Jim terus meroket dan sempat dikirim RAF Reserve untuk mengabdi di maskapai komersial, Eyre Peninsular Airways dan Australian National Airways.

Memasuki usia ke-26, jiwa petualang Jim mulai memberontak. Ia mencetak rekor terbang selama delapan hari 19 jam untuk penerbangan Australia-Inggris. Pada Maret 1932, ia kembali mencetak rekor terbang empat hari 17 jam untuk penerbangan dari Inggris ke Cape Town, Afrika Selatan.

Di tahun yang sama, Jim, yang dikenal sebagai pemabuk berat, memulai perjalanan mencetak rekor dunia terbang solo melintasi Atlantik Utara dan Selatan. Saat itu, penerbangan dimulai pada 18 Agustus 1932, dari Portmarnock, Irlandia ke Pennfield, New Brunswick, Kanada. Penerbangan dari Timur ke Barat Atalantik Utara ini ditempuh selama 31 jam menggunakan pesawat de Havvilland Puss Moth atau yang biasa juga disebut “The Hearts Content”.

Rekor penerbangan Jim Mollison berlanjut pada 6 Februari 1933. Dengan menggunakan pesawat yang sama saat melintasi Atlantik Utara, Jim berhasil melintasi Timur ke Barat Atlantik Selatan dari Inggris ke Brazil dengan transit di Afrika dalam waktu tiga hari 13 jam. Pesawat pun mendarat di Brazil -tak disebutkan dengan jelas di kota mana- pada 9 Februari 1933 dan Jim Mollison ‘sang pemabuk’ pun resmi mencatat rekor dunia terbang solo melintasi Atlantik Utara dan Selatan.

Terkait predikat ‘sang pemabuk’ yang disematkan publik kepadanya, terdapat cerita kelam dan menggelitik. Cerita kelam sebagai orang yang gemar mabuk mungkin salah satunya adalah saat ia harus cerai dengan istrinya yang juga seorang penerbang gila rekor, Amy Johnson. Istrinya diketahui seorang good girl dan tentu saja ia gerah melihat suaminya mabuk tanpa henti hingga harus dihentikan dengan sebuah perceraian.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Adapun cerita menggelitik terkait kegemarannya mabuk-mabukan salah satunya mungkin saat ia tengah berada di medan perang. Pada tahun 1941, ketika ia ditugaskan menjadi co-pilot, pesawat angkut Avro Anson yang dikemudikan ia dan pilot Diana Barnato Walker ditembaki oleh tentara Jerman. Pesawat akhirnya mendarat darurat di medan perang dan rusak berat. Namun, ketika itu terjadi dan 12 tentara keluar dari pesawat yang hancur untuk berlindung dari musuh, Jim justru mencari minuman.

Meski demikian, Jim Mollison tetaplah seorang penerbangan legendaris Skolandia. Selain diabadikan dalam buku rekor penerbangan global, namanya juga abadi di Skolandia usai dijadikan nama jalan.

Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Sebanyak 23 orang tewas dan 71 luka-luka dalam tabrakan kereta 35 tahun lalu atau pada 8 Februari 1986 yang terjadi antara Kanada Nation Rail kereta barang dengan Via Rail kereta penumpang yang disebut Super Kontinnental. Tabrakan ini terjadi di hamparan jalur utama lintas benua di barat Edmonton dekat kota Hinto, Alberta.

Baca juga: Kereta Barang Tergelincir di Kongo, Sepuluh Penumpang Gelap Tewas

Awalanya kereta barang meninggalkan Edson dan sempat dihentikan di pinggir jalan di luar Medicine Lounge sekitar 38 km agar dua kereta menuju timur bisa melintas. Kemudian kereta barang itu kembali melaju dan setelah menempuh lima kilometer kereta tiba di Hargwen di bagian jalur ganda.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas operator kereta di Edmonton mengatur sakelar kendali ganda sehingga kereta barang mengambil jalur utara. Pada waktu yang hampir bersamaan Super Kontinental dihentikan di Hinton.

Kemudian ketika Super Koninental mendekati jalur ganda, operator CTC memeasang tombol kendali ganda di Dalehurst ke jalur selatan. Sebelum sinyal “berhenti” di titik kontrol Dalehurst, sinyal ini menunjukkan warna kuning yang berarti awak kereta perlu mengurangi kecepatan kereta menjadi 48 km per jam.

Namun saat kereta barang melewati sinyal peringatan ini, investigasi kecelakaan menemukan bahwa kereta tersebut melaju dengan kecepatan 95 km per jam atau sekitar 14 km per jam lebih cepat dari batas untuk melintasi bentang rel itu. Sayangnya tidak ada upaya yang dilakukan oleh awak kereta barang untuk memperlambat sebelum atau sesudah melewati sinyal tersebut.

Karena kereta barang tidak melambat, lokomotifnya kemudian bertabrakan dengan Super Kontinental yang melaju. Dua lokomotif utama hancur dan mewasakan awaknya, gerbong depan dan gerbong barang tergelincir yang menyebabkan bahan bakar diesel dari lokomotif menyulut api dan membuat gerbong penumpang terbakar dan 18 dari 36 penumpang meninggal.

Akibatnya selain korban tewas dan luka, gerbong-gerbong di kereta barang saling menumpuk sehingga menimbulkan tumpukan puing yang besar. Di kereta penumpang, satu gerbong ditabrak oleh gerbong barang setelah terlempar ke udara karena kekuatan tabrakan, menewaskan salah satu penumpangnya.

Setelah bagian belakang kereta barang berhenti, Conductor Smith di dalam gerbong kereta, berusaha menghubungi bagian depan kereta sebelum menghubungi layanan darurat setelah melihat kebakaran. Karena insiden ini, pemerintah Kanada membentuk komisi penyelidikan yang dipimpin Hakim René P. Foisy dari Court of Queen’s Bench of Alberta.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Penyelidikan yang berlangsung selama 56 hari audiensi publik dan menerima bukti dari 150 pihak. Penyelidikan itu menyimpulkan bahwa tidak ada satu orang pun yang harus disalahkan, melainkan mengutuk apa yang digambarkan Foisy sebagai budaya pekerja kereta api yang menghargai kesetiaan dan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan.

Aneh, Ternyata Japan Airlines Pernah Operasikan Tu-114 Saat Puncak Perang Dingin

Di era perang dingin, Jepang dan Uni Soviet berada di blok berlawanan. Bisa dibilang, keduanya sangat berbeda haluan, baik ideologi maupun politik. Namun, siapa nyana, saat perang dingin tengah memuncak, maskapai dari kedua negara, Japan Airlines dan Aeroflot, justru melakukan joint operation untuk rute Moskow-Tokyo.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Dilansir travelupdate.com, sebetulnya pembahasan joint operation Japan Airlines dan Aeroflot sudah dimulai sejak tahun 1956. Tetapi, pembahasan menemui jalan buntu dan harus diperpanjang selama beberapa tahun. Kesepakatan akhirnya terjadi berujung pada penandatanganan perjanjian antar kedua maskapai di bulan Januari tahun 1966.

Hanya saja, negara tempat kedua maskapai bernaung masih berada di barisan yang berbeda. Pada akhirnya, ini membuat pelaksanaan joint operation Japan Airlines-Aeroflot justru diwarnai sikap saling curiga.

Uni Soviet curiga dan takut kerjasama ini malah disusupi misi lain karena rute tersebut melewati wilayah militer yang sensitif, dimulai dari Sheremetyevo, Nerli, Vologda, Kotlas, Syktyvkar, Khanty-Mansiysk, Podkamennaya, Vichim, Ekimchan, Troitskoye, Edinka, Skund, Kodofishi, Niigata, Daigo, Sakura, dan berakhir di Tokyo.

Sebaliknya, Jepang khawatir kalau kerjasama ini jadi ancaman nasional dikarenakan Bandara Haneda berada 9 km dari pusat kota Tokyo. Pilot dan co-pilot, yang dalam perjanjian seluruhnya disediakan oleh Aeroflot, bukan tidak mungkin mengarahkan pesawat ke pusat kota dan menjatuhkannya di sana. Tetapi, di sisi lain, Jepang butuh kerjasama ini karena rute terbaik ke Jepang dari Eropa adalah melintasi langit Uni Soviet (Rusia). Alhasil, sekalipun diliputi rasa saling curiga, joint operation ini bisa berjalan.

Joint operation Japan Airlines-Aeroflot menggunakan pesawat penumpang terbesar di dunia, Tupolev Tu-114. Setidaknya dua pesawat dengan nomor registrasi CCCP-76464 dan CCCP-76470 disiapkan untuk melancarkan operasi ini. Pesawat juga telah dikonfigurasi ulang menjadi 116 kursi, terbagi menjadi tiga kelas, state room, first class, dan kelas ekonomi.

Layanan pertama dimulai pada 17 April 1967, dimana saat itu penerbangan memakan waktu 10 jam 35 menit dari Moskow ke Tokyo sejauh 8.015 km dengan dipiloti oleh kru dari Aeroflot. Pada penerbangan balik ke Moskow, waktu tempuh bertambah menjadi 11 jam 25 menit.

Meskipun cukup lama, penumpang saat itu dilaporkan amat menikmati layanan dari masing-masing lima pramugari Japan Airlines dan Aeroflot. Hanya saja, mesin piston serta baling-baling contra-rotating yang diusung pesawat membuat kabin terlalu bising, apalagi bagi penumpang kelas ekonomi yang dekat sekali dengan mesin.

Seiring waktu berjalan, Uni Soviet mulai membuka ruang udara mereka untuk beberapa maskapai, seperti BOAC, Air France, dan Lufthansa; termasuk Japan Airlines. Tak disebutkan dengan jelas kapan joint operation ini berakhir. Terlepas dari hal itu, banyak yang menyebut bahwa langkah kedua maskapai ini menjadi awal cairnya hubungan Uni Soviet dan Barat.

Sekalias tentang Tupolev Tu-114, yang oleh NATO dijuluki Cleat, adalah pesawat turboprop jarak jauh yang dirancang oleh biro desain Tupolev dan dibangun di Uni Soviet mulai Mei 1955. Tu-114 Rossiya merupakan pesawat penumpang terbesar dan tercepat di dunia pada waktu itu. Pesawat memiliki jangkauan terpanjang yakni 10.900 km dan telah memegang gelar resmi pesawat baling-baling tercepat sejak 1960.

Baca juga: Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

Didukung empat baling-baling serta mesin Kuznetsov NK-12 buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Meskipun mampu menampung 224 penumpang, ketika dioperasikan oleh Aeroflot, lebih umum menyediakan 170 flatbed dan ruang makan.

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.

Butuh Ruang Besar untuk Baterai, Bus AKAP dan Pariwisata Belum Bisa Gunakan Energi Listrik

Efisiensi dalam biaya operasional adalah sesuatu yang menjadi dambaan bagi tiap operator bus. Ketika uji coba bus listrik mulai dijalankan PT TransJakarta, maka muncul gagasan, dimana bus antar kota dan bus pariwisata dapat mengadopsi teknologi listrik. Ketika kemampuan dan kapasitas baterai pada bus listrik semakin baik, layakkah konsep ini dijabarkan pada bus antar kota antar provinsi (AKAP)?

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

KabarPenumpang.com mengutip dari laman kompas.com (4/2/2021), Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus AKAP ataupun pariwisata sekarang masih belum memungkinkan untuk menggunakan armada berbahan bakar listrik.

Hal ini dikarenakan, bus AKAP dan pariwisata memiliki jarak tempuh yang tidak tertentu. Kurnia mengatakan, ini akan repot dengan titik pengisian listrik sebagai pasokan energi yang digunakan. Selain itu, bus listrik yang ada saat ini dan sudah diuji coba memiliki jarak tempuh yang relatif pendek.

Selain pasokan energi listrik, kendala lainnya ada pada bagasi. Di mana para penumpang yang menggunakan bus AKAP atau pariwisata akan meletakkan tas atau barang bawaan mereka di bagasi. Namun bus listrik membutuhkan ruang untuk menyimpan baterai dan ini membuat bagasi menjadi tidak seluas bus biasanya.

“Bus AKAP dan pariwisata butuh space untuk bagasi, sedangkan bus listrik space-nya kurang karena terisi baterai,” kata Kurnia.

Dia mengatakan, satu bus AKAP atau pariwisata biasanya berisi sekitar 40 penumpang dan membawa satu tas atau koper. Namun ketika mampir ke pusat oleh-oleh, ada kemungkinan barang bawaan penumpang bertambah dan ini membutuhkan bagasi yang luas.

Meski begitu, Kurnia mengatakan, tidak menutup kemungkinan bila bus AKAP dan pariwisata menggunakan bahan bakar listrik. Apalagi ini beriringan dengan perkembangan teknologi Electric Vehicle (EV) yang pastinya semakin mengakomodir kebutuhan operasional.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Untuk diketahui, saat ini sudah ada tiga industri yang siap memproduksi bus listrik di Indonesia. Perusahaan tersebut yakni PT Mobil Anak Bangsa atau sering dikenal MAB, PT Industri Kereta Api (INKA) dan PT Kendaraan Listrik Indonesia.

Cina Kirim Vaksin ke Eropa Gunakan Sepuluh Lokomotif yang Menarik 278 Gerbong

Vaksin untuk Covid-19 sudah mulai tersebar dan disuntikkan untuk masyarakat hampir diseluruh dunia. Banyak cara untuk melakukan pengiriman vaksin-vaksin ini salah satunya dengan pengantaran kereta barang. Belum lama ini kereta barang Cina-Eropa mengirimkan pasokan vaksi Covid-19.

Baca juga: Dari London, Kereta Kargo East Wind Sampai di Yiwu Setelah 19 Hari!

Kereta X8026 meninggalkan Yiwu, provinsi Zhejiang menuju ke Malaszewicze di Polandia pada hari Senin (25/1/2021) dan diperkirakan akan tiba dalam waktu sekitar 13 hari. KabarPenumpang.com mendapatkan video yang beredar bahwa, kereta yang mengangkut vaksin ini ditarik sepuluh gerbong di mana lima berada di bagian depan, tiga dibagian tengah dan dua dibagian belakang.

Ada sekitar 278 gerbong yang ditarik sepuluh lokomotif yang mengangkut seratus kontainer diantaranya berisi vaksin dan lainnya mengangkut kargo kebutuhan sehari-hari, termasuk masker, pakaian pelindung, jarum suntik, perangkat keras dan suku cadang mobil. Nantinya sebagian dari kargo ini akan dipindah ke kereta lain untuk dkirim ke Hamburg, Jerman.

Batch bahan vaksi yang dikirim ke Polandia dibeli oleh Perusahaan Zarys Pomaga Polandia di bawah komisi pemerintah Polandia. Tahun lalu kereta barang Cina-Eropa mengirimkan 76 ribu metrik ton bahan anti-epidemi tahun lalu ke berbagai tujuan termasuk Italia, Jerman, Spanyol, Republik Ceko, Polandia, Hongaria, Belanda dan Lithuania.

Bisa dikatakan kerja sama Belt and Road di mana kereta kargo yang menghubungkan Cina dengan Eropa tersebut selalu mendapat keuntungan dimasa pandemi. Pasalnya dari layanan itu banyak kota dibenua Eurasia yang mendapat manfaatnya. Bahkan Yiwu akan meluncurkan lebih dari 1.500 kereta barang tujuan Eropa tahun ini.

Rute kargo yang menghubungkan Yiwu dengan Eropa melalui Xinjiang di barat laut Cina dikatakan Du Jianbo, direktur Jinhua Cargo Center China Railway Shanghai Group menangani 1.399 kereta barang Cina-Eropa pada tahun 2020, melonjak 165 persen dari tahun ke tahun. Provinsi Zhejiang merupakan sumber dari 28 layanan kereta barang Cina-Eropa yang mengangkut barang ke 59 negara di kawasan Eurasia.

Baca juga: Nippon Express Canangkan Pengiriman Barang dengan Kereta dari Cina Menuju Eropa

Komoditas yang diangkut dengan kereta api meliputi perangkat keras, tekstil dan pakaian, suku cadang mobil, kebutuhan sehari-hari, dan peralatan teknik. Uni Eropa dan Cina adalah dua pedagang terbesar di dunia. Untuk diketahui, Cina sekarang adalah mitra dagang terbesar kedua UE, di belakang Amerika Serikat. UE adalah mitra dagang terbesar Tiongkok.

Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah. Data perusahaan itu menunjukkan, sepanjang 2020 jumlah penerbangan harian sudah mencapai 50 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA, secara tidak langsung, tetap pesimis bahwa industri penerbangan Indoensia dan dunia akan kembali pulih dalam waktu dekat.

Baca juga: Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Dalam sebuah rilis yang diterima redaksi, selain industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah, Cirium juga menyebut kemungkinan adanya kecenderungan baru perjalanan penumpang. Hanya saja, tak disebutkan dengan lebih rinci kecenderungan perjalanan apa yang dimaksud.

“Meskipun akan ada peluang pertumbuhan, dampak Covid-19 berarti lanskap perjalanan yang berbeda kemungkinan akan muncul,” kata Rahul Oberai, Managing Director Asia-Pacific of Cirium.

Sejalan dengan data dari Cirium, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau biasa disebut AirNav Indonesia juga mencatat peningkatan pergerakan pesawat pasca mencapai titik terdalam saat pengetatan perjalanan udara dilakukan pada April-Mei lalu.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, AirNav mencatat ada total 1.202.749 pergerakan pesawat sepanjang tahun 2020, atau minus 43 persen dari angka tahun sebelumnya mencapai nyaris 2,1 juta pergerakan.

Disebutkan, sejak Januari sampai bulan Mei 2020, tren pergerakan pesawat terus menurun hingga ke titik terdalam di bulan Mei, yakni minus 84 persen dari bulan yang sama di tahun lalu. Barulah, pasca berlalunya bulan itu, sekalipun sempat stagnan pada bulan September-Oktober, pergerakan pesawat terus meningkat. Puncaknya, pada bulan Desember, pergerakan pesawat berada di posisi minus 34 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Bila dirinci, seperti banyak dugaan pengamat, perjalanan domestik akan tumbuh lebih cepat dibanding perjalanan internasional. Secara year to year (yoy) 2020 dibandingkan dengan 2019, perjalanan domestik turun 40 persen, sedangkan internasional penurunannya mencapai 67 persen.

Walau masih berada di level minus 43 persen dibanding total pergerakan tahun 2019, namun, Indonesia rupanya masih lebih baik ketimbang negeri tetangga, seperti Singapura yang mencatat minus 67 persen menjadi hanya sekitar 125 ribu pergerakan pesawat dan Thailand yang mencatat minus 57 persen menjadi hanya hampir 400 ribu pergerakan pesawat sepanjang 2020.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Ditataran regional, Asia Pasifik juga mencatat total pergerakan lebih baik ketimbang Amerika Latin dan Eropa. Dari data yang dihimpun AirNav, secara akumulasi, regional Asia Pasifik mengalami penurunan yoy sebesar minus 47 persen. Sedangkan di regional Amerika Latin sebesar minus 55 persen dan di regional Eropa bahkan mencapai minus 56 persen.

Kendati demikian, baik itu peningkatan pergerakan pesawat di Indonesia dari sejak bulan Mei ataupun peningkatan pergerakan pesawat di seluruh dunia, tetap saja, jumlah totalnya masih jauh dari harapan atau belum cukup mendekati persentase di 2019. Tak ayal, pada November lalu, IATA bisa dibilang pesimis dan melihat paling cepat jumlah penumpang akan kembali ke titik seperti di 2019 pada 2024 mendatang.

FAA Resmi Pensiunkan Nomor Registrasi Pesawat Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia

Pada hari ini, 33 tahun lalu, bertepatan dengan 8 Februari 1988, Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (AS) FAA resmi mempensiunkan sebuah nomor registrasi pesawat untuk pertama kalinya di AS. Nomor registrasi yang dipensiunkan itu dahulu digunakan oleh pesawat yang ditumpangi Amelia Earhart, pilot wanita pertama di dunia yang hilang misterius di di Samudera Pasifik.

Baca juga: Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Laporan The Oklahoman, keputusan itu diambil untuk menghormati Amelia Earhart atas desakan dari berbagai pihak, salah satunya keluarga sang pilot legendaris itu, Muriel Earhart Morrissey.

Dalam sebuah surat pada 10 Januari, ia mendesak administrator FAA, T. Allan McArtor, agar nomor pesawat saudara perempuannya dipensiunkan.

“N16020 adalah nomor yang sangat berharga,” tulisnya. “Agaknya paling tepat jika nomor ini secara resmi dikeluarkan (dipensiunkan) dari daftar registrasi pesawat FAA,” tambahnya.

“Dan itu akan menjadi penghormatan yang besar untuk Amelia dan seluruh kenanangan yang melekat pada pesiunnya (nomor registrasi) N16020 dan dipertahankan sampai waktu yang tak terbatas atas namanya,” jelasnya.

Usai dipensiunkan, manager penerbang dan registrasi pesawat FAA, Earl F. Mahoney, memastikan nomor registrasi tersebut tidak akan pernah lagi digunakan di pesawat lain selama tidak ada proses politik untuk membuat nomor registrasi tersebut kembali ‘hidup’.

Catatan FAA menunjukkan Lockheed Aircraft Corporation telah memberi nomor registrasi N16020 untuk pesawat Electra 10-E yang digunakan Amelia Earhart pada tahun 1936. Pasca hilangnya pilot tersebut pada 2 Juli 1937, dalam sebuah catatan, nomor registrasi itu sempat ditarik pada Juli 1938.

Disebutkan, nomor registrasi tersebut dihapus dari daftar nomor registrasi aktif untuk jangka waktu tertentu atas perintah seorang pejabat, “Tidak untuk ditugaskan ke pesawat mana pun (bertanda tangan) FJB.” Tak disebutkan dengan jelas siapa itu FJB.

Akan tetapi, pada tahun 1957, pejabat yang sama membatalkan perintah lamanya dengan mengeluarkan perintah baru berbunyi, “N16020 dapat kembali digunakan.”

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Setelah itu, nomor registrasi kramat tersebut sempat jatuh ke tangan Continental Airlines. Namun, atas permintaan dari keluarga Earhart, nomor registrasi tersebut diserahkan kepadanya. Sampai di sini, nomor registrasi tersebut masih aktif dan kapanpun bisa saja digunakan di pesawat lain hingga pada akhirnya desakan dari keluarga Earhart ke FAA pun disambut positif dan diproses untuk mendapat kepastian hukum.

Hanya saja, saat ini mungkin FAA masih terus mempensiunkan nomor registrasi peninggalan Amelia Earhart, tetapi, tidak menutup kemungkinan pejabat yang berkepentingan di masa mendatang akan mengaktifkan nomor ini kembali. Hal itulah setidaknya yang tidak dapat dijanjikan oleh Earl F. Mahoney selaku pejabat FAA ketika mempensiunkan nomor registrasi pesawat Amelia Earhart.