Banyak Ruginya, FGD PATLI Desak Pemerintah Kurangi Bandara Internasional

Tanpa disadari publik, Indonesia rupanya sudah mempunyai 30 bandara internasional yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Kualanamu, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Juanda, dan lain sebagainya.

Baca juga: Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Menurut Presiden Jokowi, 30 bandara internasional yang dimiliki Indonesia saat ini terlalu banyak. Padahal, di negara-negara lain tidak seperti itu.

Sejalan dengan itu, Desmon Ismael, dosen di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, menyebut saat ini maskapai-maskapai di Indonesia sangat butuh campur tangan pemerintah. Di antaranya ialah mengurangi bandara internasional.

“Harusnya dibatasi saja jadi lima atau tiga bandara internasional,” jelasnya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) dan ITL, Selasa (16/2).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, selain bagus untuk membantu maskapai, mengurangi bandara internasional juga bisa membuat iklim penerbangan di Indonesia lebih sehat. Sebab, di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, penerbangan domestik amat mendominasi.

Dengan mempersempit ruang gerak maskapai asing untuk beroperasi di bandara-bandara internasional yang ada, otomatis maskapai dalam negeri bisa lebih leluasa mengambil ceruk pasar itu.

Seperti sudah diketahui bersama, sejak tahun 2015 lalu, pemerintah telah menetapkan lima bandara internasional untuk menghadapi open sky policy atau SAM (Single Aviation Market). Sejak saat itu, perlahan, bandara internasional baru mulai bermunculan dengan maksud mendongkrak sektor pariwisata melalui rute internasionalnya.

Akan tetapi, munculnya banyak bandara internasional baru justru membuat risau sebagian kalangan, salah satunya, Heru Legowo. Menurut mantan Direktur PT. Gapura Angkasa yang juga pemerhati penerbangan ini, dengan mulai banyak bermunculannya bandara internasional, konsep hub & spoke atau bandara pengumpan, bandara pengumpul, dan bandara hub menjadi tidak konsisten.

“Amerika yang banget luas saja hanya beberapa bandara yang statusnya internasional. Selain proteksi, juga kalau hanya airline luar yang masuk dan kita gak punya flight sebaliknya, yang untung airline asing, kita melongo saja,” ujarnya.

Sekarang, lanjut Heru, dari bandara yang sebenarnya bandara pengumpan dapat langsung terbang ke Singapura, tanpa harus melalui Soekarno-Hatta (Soetta). Bila kondisi ini terus berlangsung, Bandara Soetta tidak lagi menjadi bandara hub.

Justru Bandara Changi di Singapura yang berfungsi sebagai hub-nya bandara-bandara di Indonesia. Tentu saja sangat disayangkan. Semestinya, Heru masih menjelaskan, jangan terlalu banyak bandara kita yang melayani penerbangan internasional. Jika airline kita tidak cukup mampu untuk bersaing, maka bandara-bandara itu menjadi sasaran empuk.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Dan yang menikmati kue pasar penumpang itu adalah airline regional. Airline kita jika tidak siap, bakal gigit jari saja. Meskipun demikian, ia tetap optimis untuk mencari cara guna mendongkrak wisatawan mancanegara yang bermuara pada tumbuhnya sektor pariwisata.

“Berarti bandara pendukungnya harus punya koneksi yang bagus dan anytime ada connecting flightnya,” Jelas Heru, saat ditanya perihal solusi untuk tetap mendongkrak wisatawan mancanegara tanpa harus besar-besaran menginternasionalisasi bandara.

ANA Uji Coba Bus Otonom Angkut Karyawan di Bandara Haneda

Bus otonom atau tanpa pengemudi, kini mulai wara wiri di area bandara, seperti belum lama ini All Nippon Airways atau yang dikenal dengan ANA mulai melanjutkan inovasi dalam teknologi otonom dengan mengandalkan serangkaian tes untuk prototipe bus tanpa pengemudi di Bandara Haneda Tokyo, Jepang.

Baca juga: Bus Otonom Pertama di Jepang Meluncur di Prefektur Ibaraki

Bahkan dari rangkaian uji coba ekstensif, ANA menjadi maskapai Jepang dan pertama di dunia yang menggunakan kendaraan ototnom untuk mengangkut karyawan di bandara. Bus membentuk komponen utama dari visi ANA untuk bandara “Sederhana & Cerdas” di masa depan yang akan dicapai melalui penerapan teknologi otonom berkelanjutan secara luas.

“Di ANA, kami terus mencari cara untuk memanfaatkan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi. Selain menandai langkah maju yang signifikan untuk bandara, bus otonom yang sepenuhnya bertenaga listrik akan menghasilkan lebih sedikit emisi dan penurunan jejak karbon di bandara,” kata Masaki Yokai, wakil presiden senior ANA yang dikutip KabarPenumpang.com dari aviationpros.com (1/2/2021).

Uji coba tersebut berlangsung pada 1-12 Februari kemarin dan mengangkut sebanyak 57 karyawan dalam satu waktu. Selain mengembangkan bus canggih, ANA sebelumnya sudah menguji teknologi otonom mereka di Bandara Kyusu Saga. ANA melakukan uji coba terbaru ini bekerja sama dengan inisiatif mobilitas BOLDLY Softbank, Advanced Smart Mobility, dan BYD Jepang.

Pengujian akan dibatasi pada area terlarang di Bandara Haneda tempat pesawat dan kendaraan kargo berada. Nantinya, jika uji coba ini berhasil, ANA menargetkan untuk menerapkan teknologi bus tanpa pengemudi di bandara-bandara lain pada tahun 2025. Pengujian putaran pertama dilakukan pada Februari 2018, dengan pengujian selanjutnya selama Q1 tahun 2019 dan 2020 untuk lebih menyempurnakan teknologinya.

Sistem otonom memberikan umpan balik waktu nyata yang dapat digunakan petugas operator untuk mengevaluasi status kendaraan setiap saat. Selain membantu menyempurnakan teknologi di balik bus otonom, pengujian tersebut akan membantu pengembang lebih memahami bagaimana penerapannya di bandara untuk efisiensi maksimum.

Baca juga: Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Tak hanya otonom, bus juga dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggeraknya agar lebih ramah lingkungan. Untuk diketagui, bus otonom ini adalah contoh terbaru ANA bekerja untuk menjadi yang terdepan dalam inovasi teknologi. Selain meringankan beban kerja karyawan Haneda, ANA bertujuan menciptakan layanan yang lebih efisien bagi mereka yang bepergian melalui bandara di masa depan.

Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Sederet pengamat penerbangan yang tergabung dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) mengungkit kembali pembentukan Majelis Profesi Penerbangan (MPP).

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Sebelum Semuanya Kembali Normal, Seluruh Maskapai Adalah LCC!

Sebagaimana diketahui, MPP ini merupakan amanat undang-undang yang termaktub dalam pasal 364 undang-undang (UU) No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Tetapi, sejak disahkan, MPP belum juga terbentuk sampai saat ini.

Mantan Direktur Operasional AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, mengungkapkan, MPP bukan hanya penting untuk membuat penerbangan aman dan nyaman -terlebih selama pandemi virus Corona- tetapi juga penting karena itu sudah disahkan. Artinya, dikarenakan sampai sekarang MPP masih belum terbentuk, itu artinya pemerintah melanggar UU dan pastinya ada konsekuensi atas pelanggaran ini.

“Keselamatan penerbangan karena pandemi harus kita perhatikan sekali. Untuk menjamin keselamatan penerbangan harus ada pembenahan. Dari 2009 sampai sekarang majelis profesi penerbangan belum ada. MPP masuk undang-undang. Itu artinya pemerintah tidak melaksanakan UU. Kalau tidak melaksanakan UU, pemerintahan memiliki masalah besar. Apa konsekuensinya kalau pemerintah tidak menjalankan UU?” jelasnya.

Sejalan dengan itu, dalam forum yang sama, Capt. Toto Hardiyanto Subagyo, mengungkapkan bahwa keberadaan MPP ini akan memberikan kontribusi berarti terhadap keberlangsungan bisnis penerbangan Indonesia.

Dalam paparannya, tantangan bisnis penerbangan untuk mencapai keberhasilan yang bekelanjutan juga didukung setidaknya tiga faktor lain, seperti program next generation of aviation professionals (NGAP) yang digagas Internasional Civil Aviation Organizational (ICAO), aviation training & capacity building roadmap, dan competency-based training & training best practices.

Kembali ke soal MPP, pengamat penerbangan lain sebelumnya juga sudah banyak yang buka suara. Chappy Hakim, misalnya, Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia itu menyayangkan belum terbentuknya MPP yang di antara tugasnya menindaklanjuti laporan akhir KNKT dalam konteks corrective action yang harus dilakukan.

Di tempat terpisah, Ketua Masyarakat Hukum Udara dan Partner dari kantor Konsultan Hukum Hanafiah Ponggawa & Partners, Andre Rahadian membeberkan, pembentukan majelis profesi penerbangan ini urgensinya cukup tinggi dan diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan pada para penegak hukum dalam aspek penanggulangan kecelakaan maupun penegakan etika bagi pekerja maupun pihak terkait dalam penerbangan seperti pilot, engineer, navigasi dan juga airline.

Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Lebih lanjut, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) itu mengatakan, majelis ini nantinya menjadi wadah terhadap para ahli untuk dapat menyampaikan pendapatnya kepada penegak hukum, dikarenakan banyaknya faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan pesawat dan juga peraturan yang kini di terapkan di Indonesia merupakan hasil dari ratifikasi konvensi Internasional.

Hanya saja, Andre mengakui pembentukan majelis profesi penerbangan dalam hal ini sulit terealisasi dikarenakan adanya hambatan pada payung hukum pembentukan majelis tersebut. Sekalipun sudah terbentuk, MPP harus menjadi majelis independen, tidak dibawah Kemenhub namun tetap pada garis koordinasi seperti AirNav maupun KNKT.

Inggris Berlakukan Karantina Mandiri di Hotel Bagi Wisatawan Selama 10 Hari, Biayanya Rp124 Juta!

Inggris mulai berlakukan skema baru karantina mandiri di hotel bagi wisatawan. Skema ini mengharuskan wisawatan asing dari 33 negara yang masuk dalam daftar merah melakukan isolasi mandiri di hotel-hotel di dekat bandara selama 10 hari. Biayanya pun cukup fantastis, mencapai 6.400 pound atau sekitar Rp124 juta (kurs 19.360).

Baca juga: Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Seruan Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) sejak Juni tahun lalu kepada pemerintah di seluruh dunia untuk tidak mengkarantina wisatawan asing saat tiba di negara mereka tampaknya tidak teralu berefek. Sebab, masih banyak negara-negara di dunia yang masih menerapkan karantina mandiri sesampainya di negara tujuan.

Menurut IATA, karantina mandiri tidak diperlukan karena sebelum naik pesawat, wisatawan telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

Akan tetapi, tentu saja negara-negara di dunia tidak ingin mengambil risiko. Pada akhrinya karantina mandiri tetap berjalan di banyak negara, tak terkecuali Inggris. Negeri yang terkenal memiliki liga sepak bola paling kompetitif di dunia tersebut bahkan bukan hanya menerapkan kewajiban karantina mandiri bagi wisatawan dari 33 negara yang masuk daftar merah, melainkan mematok harga sangat tinggi untuk itu, mencapai Rp124 juta.

Dikutip dari Simple Flying, sebetulnya, bila dirinci harganya tak semahal itu. Harga untuk karantina mandiri selama 10 hari hanya dipatok sebesar 1.750 pound atau sekitar Rp34 juta (kurs 19.360).

Biaya sebesar itu termasuk akomodasi, transportasi, kamar, tes Covid-19 (hari kedua dan ke-10), serta makanan dan minuman. Harga bisa berubah jika wisatawan membawa orang dewasa untuk berbagi kamar dengan tambahan sebesar £650 dan £325 untuk anak-anak.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Tak cukup sampai di situ, wisatawan juga akan dikenakan biaya tambahan berupa denda sebesar 4.000 pound Rp77 juta lebih (kurs 19.360), jika tidak memesan paket karantina mandiri di hotel sebelum keberangkatan pesawat.

Bagi wisatawan di luar 33 negara yang masuk ke dalam daftar merah, mereka tidak ikut menjalankan kewajiban karantina mandiri di hotel. Tetapi, mereka harus mengikuti tes Covid-19 dengan biaya £210 atau Rp4 juta (kurs 19.360). Bila hasilnya negatif, mereka bisa langsung melenggang bebas di Negeri Matahari yang Tak Pernah Tenggelam itu. Bila positif, mereka harus mengikuti kewajiban karantina mandiri selama 10 hari dan membayar 1.750 pound.

Etihad Daur Ulang Rongsokan Pesawat, Ada Baju dari Kulit Jok Sampai Replika Prestasi UEA

Bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Seiring berjalannya waktu, alih-alih diserahkan ke pihak kedua, satu per satu maskapai mulai mengelola sendiri pesawat-pesawat purna tugas mereka. Di antara deretan maskapai itu, Etihad adalah salah satunya.

Dikutip dari Simple Flying, Etihad menggandeng seniman lokal, Azza Al Qubaisi dan Christine Wilson, untuk mengolah seluruh suku cadang pesawat-pesawat yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Di antara berbagai suku cadang yang mungkin dikelola Azza Al Qubaisi, ia memilih fokus untuk mengelola dudukan kursi di pesawat. Rongsokan itu kemudian digabungkan dan menjadi formasi geometris simetris. Menurut Etihad, itu bisa diletakkan di lantai ataupun digantung di langit-langit sebagai hiasan.

Senimar kelahiran Irlandia yang menetap di Dubai, Christine Wilson, memillih untuk mengolah jendela, pintu, dan badan pesawat untuk dijadikan sebuah karya seni yang disebut Aintiqal, yaitu sebuah refleksi visual dari cakrawala Abu Dhabi. Foto: Etihad Airways

Selain itu, Al Qubaisi juga menyulap kulit jok kursi pesawat sebagai pakaian yang modis dan berkelas sekalipun sejatinya terbuat dari bahan-bahan bekas. Ia tampak begitu bangga berpose dengan karya seni buatannya yang dipajang di kantor pusat Etihad.

“Mengunjungi gudang suku cadang Etihad selama pandemi Covid-19 membawa kembali kenangan perjalanan keliling dunia dan menemukan budaya yang berbeda. Saya sangat senang memiliki akses tak terbatas ke materi luar biasa yang dapat saya ubah atau gabungkan menjadi seni,” kata Al Qubaisi.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Berbeda dengan Al Qubaisi, senimar kelahiran Irlandia yang menetap di Dubai, Christine Wilson, memillih untuk mengolah jendela, pintu, dan badan pesawat untuk dijadikan sebuah karya seni yang disebut Aintiqal, yaitu sebuah refleksi visual dari cakrawala Abu Dhabi. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan identitas dan prestasi Uni Emirat Arab, seperti keberhasilan menjadi negara arab pertama yang berhasil mencapai Mars dan berbagai prestasi lainnya.

Direktur Eksekutif Guest Experience, Brand, and Marketing Etihad, Terry Daly, mengungkapkan tujuan Etihad memulai hal ini adalah untuk menampilkan hasil karya putra-putri terbaik negara itu. Diharapkan, kedepan akan lebih banyak lagi karya seni yang dihasilkan untuk mendukung upaya inovasi berkelanjutan demi lingkungan yang lebih hijau.

Kejar Efisiensi, Startup Asal Israel Kembangkan Pengelolaan Bus Berbasis “On-demand”

Transportasi umum seringkali dikiritik karena kurang dapat diandalkan dan tidak efisien apalagi jika menyangkut soal waktu. Ini sering terjadi pada transportasi umum di kota dan bisa menjadi lebih buruk lagi di daerah pinggiran kota atau pedesaan.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Bahkan di beberapa daerah yang memiliki penumpang sedikit seperti rute bus yang melalui gurun di Israel. Di mana bus hanya dapat mengangkut segelintir penumpang dalam satu kali putaran ke dan dari pusat kota utama.

Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofisrael.com (14/2/2021), untuk mengatasi masalah ini pada 2019, Shaked Karby mendirikan Operatti yang merupakan startup berbasis di Tel Aviv yang berfokus pada “transportasi umum pintar”. Idenya adalah untuk menciptakan layanan publik yang efisien dan andal, menggunakan optimalisasi kapasitas berbasis data.

Karby, yang kini menjadi kepala bagian pemasaran, melihat fakta bahwa bus sering kali kosong pada rute-rute yang melintasi ratusan mil di wilayah selatan Israel sebagai kegagalan pasar jika ada yang membutuhkan tumpangan. Hal ini menyebabkan polusi udara yang tidak perlu, memboroskan dana publik, dan dapat menyebabkan potensi kekurangan bus dan pengemudi di mana mereka dibutuhkan di tempat lain.

Aplikasi yang dikembangkan oleh startup tersebut memungkinkan penumpang untuk memesan angkutan umum terlebih dahulu di sepanjang rute yang telah ditentukan, dan kemudian mengirimkan kendaraan paling efisien untuk mengambilnya sesuai dengan sistem manajemen kapasitas waktu nyata. Jika ada hingga empat penumpang di lokasi tertentu di sepanjang rute, maka otoritas transportasi hanya akan mengirim taksi untuk menjemput mereka.

Namun jika lebih dari selusin orang yang meminta tumpangan pada rute tersebut akan diberi bus ukuran penuh, sementara minibus dapat menangani nomor di antaranya. Karby mengatakan, kendaraan yang lebih kecil untuk mengambil lebih sedikit pengendara lebih hemat biaya.

Dengan demikian, para penumpang dapat menikmati layanan yang lebih andal, sementara operator tak harus mengoperasikan bus di rute-rute yang hanya memiliki sedikit atau tanpa permintaan. Mitra Operatti dalam usaha itu adalah kementerian perhubungan, otoritas angkutan umum lokal dan operator transportasi.

“Kami tidak ingin melihat bus kosong “menempuh jarak ratusan mil. Kami hanya ingin melihat kendaraan yang paling efisien, yang termurah, dan yang paling nyaman bagi penumpang,” kata Karby.

Baca juga: Disebut Ilegal, Layanan Uber Dicabut di Tel Aviv

Berbeda dengan angkutan umum lainnya, seperti Moovit yang menunjukkan kepada pengguna angkutan umum rute terbaik menuju tempat tujuan, Operatti dimaksudkan untuk mengelola angkutan umum atas nama pihak berwajib dan bukan dengan mengubah rute melainkan mengalokasikan kendaraan yang paling efisien. Sebab di sepanjang rute itu, Operatti mengoptimalkan bahan bakar, berdasarkan berapa banyak penumpang yang sebenarnya akan dikumpulkan.

 

 

 

 

Angker dan Menelan Ribuan Korban Jiwa! Inilah Perairan Masalembo, Segitiga Bermuda Indonesia

Segala hal yang berbau misteri memang tak pernah bosan untuk diulas, termasuk misteri terkait Segitiga Bermuda. Kisah tentang Segitiga Bermuda diketahui sudah ada sejak 56 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1964.

Baca juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Ketertarikan akan Segitiga Bermuda, yang notabene terletak di antara Florida, Puerto Rico, dan Bermuda itu, bermula dari serangkaian kejadian menghilangnya kapal laut dan pesawat yang tidak dapat dijelaskan. Tahun 1945, sebanyak lima pesawat Angkatan Laut Amerikan Serikat (AS) dan 14 orang dilaporkan hilang di area tersebut saat sedang melakukan latihan rutin.

Meskipun agak telat, misteri adanya Segitiga Bermuda di Indonesia mulai ramai saat perairan Masalembu atau Masalembo, sebuah kecamatan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang terdiri dari tiga pulau, yakni Masalembu, Masakambing, dan Kramian, lambat laun menelan banyak korban. Bahkan, bila ditotal, Segitiga Bermuda Masalembo sudah menelan ribuan lebih korban jiwa.

Disarikan dari berbagai sumber, terbakar dan tenggelamnya Kapal Tampomas II pada 27 Januari 1981 secara misterius menjadi insiden kecelakaan terpopuler di Segitiga Bermuda Masalembo.

Selain diangkat oleh Iwan Fals lewat lagu berjudul “Celoteh Camar Tolol” Kapal Tampomas II juga menjadi populer karena proses pembeliannya yang sarat korupsi. Betapa tidak, kapal bekas buatan tahun 1956 dibeli dengan mahar mencapai US$8,3 juta. Jauh lebih tinggi dari harga standar saat itu. Akibat kecelakaan ini, sedikitnya 288 nyawa melayang.

Pada 30 Desember 2006, kapal laut Senopati Nusantara dinyatakan hilang sekitar pukul 03.00 WIB. Pihak KNKT menduga, kapal tersebut tenggelam akibat cuaca buruk. Total ada 628 penumpang yan hilang, termasuk anak buah kapal dan kaptennya.

Pada 1 Januari 2007, kecelakaan pesawat Adam Air juga terjadi di Segitiga Bermuda Masalembo dan memakan korban sebanyak 102 orang. Insiden berlanjut pada 19 Juli 2007 saat KM Mutiara Indah tenggelam, disusul KM Fajar Mas yang juga tenggelam di perairan yang sama pada 27 Juli 2007, dan KM Sumber Awal pada 16 Agustus 2007.

Rangkaian kecelakaan di Segitiga Masalembo kemudian berlanjut pada 8 Juli 2008, 11 Januari 2009 menelan sekitar 300 korban jiwa, dan 22 Mei 2017 dimana Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa I mengalami kebakaran. Kapal yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya itu hendak menuju Balikpapan. Dari 197 penumpang, lima di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Jurnal Saintek Maritim berjudul Misteri Segitiga “Masalembo” Merupakan Segitiga Bermuda di Wilayah Indonesia, kecelakaan kapal di perairan Masalembo disebabkan karena berbagai faktor yaitu, pada sekitar bulan Desember – Februari disebabkan karena pengaruh West Monson dan Arlindo arus laut dari Belahan Bumi Utara.

Sedangkan pada sekitar bulan Juli- September disebabkan karena pengaruh adanya pertemuan arus yang disebut Arlindo dari belahan bumi Selatan. Lagi pula, sampai detik ini, banyak sekali pesawat dan kapal laut yang melintas di wilayah Segitiga Masalembo dan tidak terjadi kecelakaan. Jika sudah begitu, masihkah Segitiga Masalembo menjadi tempat yang penuh misteri?

Maskot Nintendo, Super Mario Hadir di Kereta Jalur Osaka dan Sakurajima

Apa sih yang tidak ada di Jepang? Sepertinya semua ada bahkan kereta dengan gambar kartun maupun anime untuk menghiasi bodi bagian luar atau menghiasi bagian dalam gerbong. Beberapa diantaranya seperti Hello Kitty, Doraemon, Toy Story dan lainnya sudah pernah menghiasi kereta di Jepang.

Baca juga: Doraemon Ulang Tahun Ke-50, Seibu Railway Hadirkan Kereta Bertema Robot Kucing Ikon Budaya Jepang

Kali ini yang akan menghiasi kereta Jepang adalah Super Mario yang dikenal sebagai karakter dalam sebuah game milik Nintendo. Game Petualangan Super Mario sendiri dikenal dengan permainan yang membawa kebanyak alam fantastis, di mana Mario mengendarai semua kendaraan seperti go-kart yang sangat cepat hingga seekor dinosaurus.

Namun ketika di dunia nyata, pilihan terbaik adalah kereta api dan maskot Nintendo mulai berkeliling Osaka pada akhir bulan Januari kemarin. Di mana West Japan Railway Company atau yang dikenal dengan JR West pada 27 Januari kemarin memulai layanan kereta Super Nintendo World-nya.

Kereta ini menampilkan karya seni Mario, teman-temannya dan para musuh yang keren. Secara alami, bintang ini terwakili seperti Luigi yang merupakan saudara Mario, Putri Persik, musuh bebuyutan Bowser dan musuh lainnya yakni Tanaman Piranha, Koopa Troopas, Bullet Bills serta Lakitu.

Kereta dengan Super Mario ini berjalan di jalur Osaka Loop dan Sekurajima. Jalur Sakurajima sendiri dipilih karena tempat Anda bisa menemukan Stasiun Universal City yang merupakan pemberhentian terdekat dari Universal Studio Jepang.

Selain itu, taman hiburan ini juga mengadakan grand opening untuk ekspansi Super Nintendo World bulan lalu, tetapi ditunda karena keadaan darurat yang diumumkan pemerintah terkait meningkatnya jumlah masyarakat terinfeksi virus corona. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (3/2/2021), JR West bermaksud agar kereta Super Mario beroperasi pada waktu yang sama dengan pembukaan ekspansi USJ, tetapi tetap memutuskan untuk melanjutkannya.

“Kami telah mengambil keputusan ini dengan harapan dapat membuat semua orang tersenyum saat kami menantikan pembukaan Super Nintendo World,” kata operator kereta api saat mengumumkan kereta.

Baca juga: Rayakan Hari Jadi Ke-35, Super Mario Menghiasi Stasiun Shinjuku dan Tokyo

Kereta Super Mario secara teknis merupakan promosi dengan waktu terbatas, tetapi JR West menerapkan jadwal yang fleksibel, mengatakan bahwa kereta tersebut akan beroperasi “untuk saat ini”, karena saat ini tidak diketahui kapan Super Nintendo World akan dibuka.

Profil Leasing Nordic Aviation Capital yang Tersangkut Kasus 12 Pesawat Bombardier Garuda

Nordic Aviation Capital (NAC) belakangan ramai jadi perbicangan publik Indonesia lantaran terseret masalah Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah itu diketahui secara sepihak mengakhiri kontrak perjanjian sewa 12 pesawat CRJ-1000 yang semestinya baru akan jatuh tempo pada 2027 mendatang.

Baca juga: Garuda Indonesia Berencana Jual CRJ1000, Ternyata Ini Alasannya

Pihak Garuda dan pemerintah berdalih, keputusan tersebut diambil berdasarkan keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta penyelidikan oleh Serious Fraud Office (SFO) Inggris ihwal indikasi tidakpidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda Indonesia saat proses pengadaan pesawat tahun 2011 silam.

Terlepas dari perkara keputusan mengakhiri kontrak perjanjian sewa 12 pesawat Bombardier CRJ-1000 secara sepihak oleh Garuda, sebetulnya lessor Nordic Aviation Capital bukanlah pemain baru di Indonesia.

Dikutip dari laman resminya, NAC tercatat pernah dan masih bekerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan Indonesia lainnya, mulai dari Trigana Air, Pelita Air, dan TransNusa; melengkapi 75 maskapai lainnya di 51 negara. Dengan jumlah klien sebesar itu, ditambah kepemilikan pesawat dan nilai bisnis, perusahaan yang berdiri pada tahun 1990 itu mengklaim sebagai perusahaan leasing pesawat regional terbesar di dunia.

Perjalanan NAC mengklaim sebagai lessor pesawat regional terbaik di dunia tentu bukan tanpa data dan sekonyong-konyong melakukan hal itu tanpa melalui perjalanan panjang. Satu dekade setelah NAC berdiri, laporan Flight Global, perusahaan bahkan belum tercatat dalam daftar 40 leasing pesawat terbesar di dunia.

Di dekade berikutnya, NAC mulai mengambil segmentasi leasing pesawat yang lebih kecil, dalam hal ini pesawat-pesawat regional. Sejak saat itu, masa depan bisnis pendanaan atau penyewaan pesawat NAC mulai terlihat cerah.

Prospek cerah tersebut kemudian semakin diperkuat dengan strategi bisnis terbarukan di sepanjang dekade ketiga setelah perusahaan berdiri, atau sejak tahun 2010 silam. Hasilnya, pada tahun 2018 lalu, NAC berhasil mengembangkan total armadanya, dari semula hanya 131 pesawat pada tahun 2010 menjadi 356 atau tumbuh hampir 172 persen.

Dengan hanya fokus pada pembiayaan dan penyewaan pesawat-pesawat regional saja, seperti ATR 72, E190/195, Dash 8, ATR 42, E170/175, CRJ900/1000, hingga Airbus A220, NAC disebut menjadi salah satu leasing paling menguntungkan di dunia.

Memasuki tahun 2021, NAC terus menatap masa depan bisnisnya dengan kepemilikan 500 pesawat dengan nilai total sebesar US$8 miliar.

Sekalipun sudah besar, NAC mengklaim tetap menjunjung tinggi integritas. Oleh karena itu, munculnya kasus pengembalian 12 pesawat Bombardier CRJ-1000 sungguh mengejutkan perusahaan yang memiliki kantor di Irlandia, Denmark, AS, Singapura, dan Hong Kong tersebut.

Baca juga: Telat Bayar Motor Didatangi Debt Collector, Maskapai Telat Bayar Utang Juga Didatangi?

NAC sendiri mengaku sudah berdiskusi dengan Garuda Indonesia. Namun, sampai saat ini masih menemui jalan buntu.

“NAC telah melanjutkan diskusi ini tetapi belum ada kesepakatan sampai saat ini, dan tidak ada pemberitahuan penghentian yang diterima. Perjanjian sewa dengan demikian tetap berlaku penuh dan NAC mengharapkan Garuda untuk terus memenuhi komitmen kontraktualnya,” kata Eavan Gannon, Direktur NAC.

Empat Kali Lebih Cepat dan 10 Persen Lebih Hemat, Inilah Mesin Turbofan Besutan NASA

Lembaga Penerbangan dan Antarikasa Nasional Amerika Serikat (NASA) dikabarkan tengah sibuk mengembangkan mesin turbofan generasi terbaru. Mesin ini disebut dapat mencapai tingkat ekstraksi daya hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Tak hanya itu, pada saat yang sama, mesin itu juga membakar bahan bakar hingga 10 persen lebih sedikit atau 10 persen lebih hemat.

Baca juga: Kabar Baik, Rolls-Royce Mulai Uji Mesin 100 Persen Ramah Lingkungan!

Cara terbaik untuk melakukan ini, kata NASA, dengan meningkatkan rasio bypass, yaitu membuat kipas di depan mesin lebih besar untuk memungkinkan peningkatan aliran udara, tetapi pada saat yang sama mengurangi ukuran inti mesin untuk mengurangi konsumsi.

Dilansir autoevolution.com, mesin turbofan generasi terbaru di bawah proyek Hybrid Thermally Efficient Core (HyTEC) tersebut saat ini masih berjalan bersama mitra teknologi juga dari Amerika Serikat (AS), Honeywell.

Bersama Honeywell, NASA fokus untuk “melakukan pengembangan dan pengujian teknologi pada turbin bertekanan rendah yang canggih”. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk “menetapkan dasar ekstraksi daya turbofan sambil juga mengembangkan alat prediksi komputasi.”

Selain Honeywell, di tempat terpisah, NASA juga menggandeng General Electric dan menandatangani kontrak kerjasama untuk “mendemonstrasikan dan menilai ekstraksi tenaga turbofan dan mengintegrasikan mesin listrik seperti motor dan generator.”

“Setelah HyTEC dan mitranya (GE dan Honeywell) melakukan ekstraksi daya, mesin baru ini dapat dikombinasikan dengan komponen megawatt-class lain yang kami kembangkan untuk propulsi pesawat listrik,” kata Barbara Esker, wakil direktur program AAVP NASA.

“Bersama dengan kemajuan dalam pembuatan pesawat komposit berkualitas tinggi dan konfigurasi inovatif seperti transonic truss-based wing, NASA dapat mengubah keberlanjutan jangka panjang pesawat komersial,” lanjutnya.

Sebagaimana namanya, NASA memang tidak hanya fokus pada bidang antariksa saja, melainkan juga dunia penerbangan secara umum. Di antara berbagai proyek garapan NASA di bidang penerbangan, proyek menghidupkan kembali penerbangan komersial supersonik adalah salah satunya.

Di penghujung tahun 2019 lalu, NASA secara mengejutkan menyebut bahwa pihaknya telah menuntaskan uji terbang terakhir pesawat supersonik X-59 QueSST. Menariknya, uji penerbangan itu berjalan lancara dan sesuai rencana. Pesawat hasil pengembangan NASA-Lockheed ini dirancang untuk bisa mereduksi efek dari ‘sonic boom’ dan meminimalisir suara yang dihasilkan oleh mesin pesawat.

Baca juga: NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

Terobosan yang coba dibawa oleh X-59 QueSST ini merupakan kebalikan dari penerbangan supersonik era Concorde, dimana salah satu variabel yang menurunkan tahta Concorde dari jagad aviasi global adalah ‘sonic boom’ yang dihasilkan oleh pesawat.

Secara agenda, tahun 2021 seharusnya pesawat sudah bisa diproduksi. Namun, seiring virus Corona mewabah di seluruh dunia dan membuat industri penerbangan global berantakan, proyek peluncuran pesawat supersonik X-59 QueSST belum terdengar kembali.