Dianggap Terlalu Cantik Jadi Pengemudi Bus, Wanita Asal Inggris Tetap Pada Pendiriannya

Pekerjaan mengemudi tidak hanya dilakukan oleh pria, tetapi seorang wanita pun bisa melakukannya. Bahkan wanita sudah lazim bekerja sebagai pengemudi bus kota, seperti di TransJakarta. Tapi bagaimana jika wanita ini lebih cocok sebagai seorang model dibandingkan menjadi seorang pengemudi bus?

Baca juga: Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini

Nyatanya si Inggris Timur, seorang wanita berusia 24 tahun menjadi pengemudi bus penumpang. Wanita cantik itu bernama Jodie Leigh Fox yang berasal dari Brentwood, Essex, Inggris yang terus-menerus diberitahu bahwa dia terlalu cantik sebagai seorang pengemudi.

Meski begitu Jodie bersikeras bahwa dirinya mencintai pekerjaannya saat ini. Dia mengaku bekerja sebagai pengemudi bus karena tertarik saat dirinya berdiri di depan dekat dengan pengemudi saat masih remaja. Kemudian setelah tiga tahun dirinya memulai karir sebagai pengemudi dan meninggalkan pekerjaan lama sebagai pengasuh, dia sering kali menjadi pusat perhatian para penumpangnya.

“Saya mendapat begitu banyak komentar dari penumpang kebanyakan pria. Ketika pria naik bus, saya selalu mendapatkan reaksi yang sama yang cenderung ‘kamu sangat cantik’ atau ‘Saya belum pernah melihat sopir bus secantik ini dalam hidup saya,” kata Jodie yang dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (17/2/2021).

“Orang-orang mengatakan bahwa saya terlalu cantik untuk menjadi sopir bus, tetapi saya mendapat beberapa komentar baik dari wanita lain yang memuji saya dan kuku saya atau rambut dan riasan saya,” tambahnya.

Jodie mengaku penampilannya juga membuat sulit bergaul dengan sesama pengemudi. Dia juga mengatakan, bahwa usianya menjadi masalah, karena tidak ada pengemudi wanita yang seumuran dengan dirinya.

“Tidak ada perempuan yang sebaya denganku. Saya berteman dengan beberapa orang di garasi, tetapi biasanya saya hanya mendapatkan kartu tugas saya dan kemudian pergi untuk giliran kerja saya,” katanya.

Jodie mengatakan bahwa dia berharap dapat menantang citra stereotip tentang apa yang orang anggap sebagai sopir bus. Dia berencana untuk mengendarai bus hingga masa pensiunnya. Jodie menjelaskan, dirinya memenuhi syarat untuk mengemudikan bus, pelatih, dan bahkan limusin dan harus mengikuti ujian untuk tetap dalam performa terbaiknya.

“Ketika saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai perawat, saya menyadari bahwa saya selalu tertarik untuk mengemudikan bus. Saya mencintai pekerjaan saya. Saya berharap untuk melakukan ini sampai saya pensiun! Saya selalu duduk di depan dekat pengemudi dan saya suka mengemudi, jadi saya mewujudkan impian itu,” jelasnya.

Baca juga: Bohong Liburan di Bali, YouTuber Cantik Ini Aslinya Hanya Ke Ikea

Jodie mengaku, dirinya menjalankan banyak tes untuk menjadi seorang pengemudi bus. Dia mengatakan hal tersebut tidak mudah seperti yang dibayangkan banyak orang, dirinya melakukan tes bahasa Inggris, matematika dan sekitar lima modul berbeda sebelum akhirnya mengerjakan teori. Saat ini pun Jodie telah berhasil membangun pengikut di TikTok saat dia berbagi realitas menjadi sopir bus.

Duh, Penumpang Pukul Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat Saat di Udara! Memangnya Bisa?

Terjadi lagi dimana penumpang coba membuka pintu pesawat saat sedang terbang. Padahal, tindakan tersebut bukan hanya membahayakan dirinya, tetapi juga membahayakan penumpang lain dan pesawat itu sendiri.

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Penumpang coba membuka pesawat dilaporkan terjadi pada penerbangan Delta Airlines belum lama ini. Seorang penumpang pria yang tak disebutkan dengan jelas identitasnya, disebut coba membuka pintu pesawat saat dalam perjalanan dari Atlanta ke Bandara Logan di Massachusetts pada Minggu (14/2).

Kesungguhannya dalam mencoba membuka pintu pesawat bukannya setengah-setengah, ia bahkan sampai memukul pramugari untuk memuluskan aksinya. “Saya melihat pramugari di kelas satu, sepertinya dia melompat mundur. Saya melihatnya telah dipukul,” kata seorang penumpang pesawat Delta Airlines, Mark French, seperti dikutip dari New York Post.

“Saya mengangkat kepala dan melepas headphone saya, dan dia berteriak,” Dia mencoba membuka pintu”.” tambahnya.

Setelah mendapat bantuan dari dua petugas lain, usaha penumpang yang beberapa kali berteriak “Biarkan aku keluar dari sini. Ini bukan rumahku” tersebut akhirnya berhasil diredam. Petugas menggunakan kain untuk mengikatnya di kursi.

Setelah pesawat mendarat, penumpang Delta Airlines itu pun dijemput kepolisian bagian Massachusetts untuk kemudian diserahkan ke FBI.

Tetapi, terlepas dari tindak pidana penumpang tersebut dengan memukul pramugari dan mencoba membuka penumpang, sebetulnya bisakah pintu pesawat dibuka dari dalam saat pesawat mengudara? Jawabannya, mustahil!

Dalam sebuah tulisan businessinsider.com, Kamis, (13/2/2020), sebuah pesawat saat mengudara, pada umumnya berada di ketinggian sekitar 3.600 – 10.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Banyak faktor yang mendasari mengapa pesawat berada di ketinggian tersebut, seperti menghindari kawanan burung (jenis tertentu bisa terbang maksimal di ketinggian 4.500 meter) hingga mengejar efisiensi bahan bakar. Pasalnya, semakin tinggi pesawat, semakin rendah tekanan udara di luar sehingga pesawat tak memerlukan tenaga ekstra untuk meluncur di airways.

Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

Terkait konteks membuka pintu darurat atau pintu utama, pada ketinggian tersebut (3.600 – 10.000 mdpl), pesawat mendapatkan tekanan besar dari luar, sekitar 10,8 ton. Sebaliknya, bila seseorang ingin membuka pintu pesawat saat di udara, baik secara sengaja maupun tidak, orang tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengangkat beban setara 10,8 ton tadi, barulah kemungkinan pintu pesawat dibuka saat di udara menjadi lebih besar.

Dengan begitu, kalaupun penumpang Delta Airlines yang coba membuka pintu pesawat saat mengudara dibiarkan, secara ilmiah, penumpang itu mustahil bisa melakoninya. Tentu, itu tergantung pada di ketinggian berapa pesawat berada. Bila itu dilakukan beberapa detik setelah pesawat lepas landas, tekanan dari luar mungkin tak terlalu besar sehingga memungkinkan oknum penumpang membukanya.

Gegara Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Tuntut Maskapai Pantau Pilot Agar Tak Lakukan Kesalahan

Seolah tak mau terus disalahkan, Boeing diberitakan telah mengirim Buletin Teknis Operasi Penerbangan tertanggal 15 Februari atau Senin lalu ke pelanggannya di seluruh dunia. Buletin itu mengingatkan para pilot tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan mereka mempertahankan kendali atas pesawat.

Baca juga: Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Mungkinkah Akibat Pilot Kena Serangan Jantung?

Dari sisi maskapai, panduan teknis operasi penerbangan itu bertujuan agar maskapai memastikan pilot aktif, khususnya yang menerbangkan pesawat-pesawat Boeing, untuk memantau airplane state and flight path management guna mencegah adanya gangguan pada pesawat.

Meskipun dalam panduan atau buletin tersebut Boeing tak secara khusus menyebut sebagai tindak lanjut atas kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182, tetap saja semua airlines menyadari hal itu. Bisa dibilang, ini merupakan peringatan keras yang ditujukan ke para pilot untuk mengidentifikasi masalah pada pesawat dengan benar agar bisa melakukan penanganan dengan tepat dan menghindari terjadinya kecelakaan, layaknya SJ-182 yang menewaskan 62 orang.

“Kehilangan kontrol dalam penerbangan tetap menjadi penyebab terbesar kecelakaan mematikan dalam penerbangan komersial,” kata dalam sebuah buletin tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) -sekalipun belum berupa hasil akhir karena CVR belum ditemukan- ada indikasi engine thrust antara mesin kiri dan kanan yang tidak seimbang. Dari data black box Flight Data Recorder (FDR) beberapa detik sebelum kecelakaan, throttle mesin sebelah kiri beberapa kali berkurang sedangkan tuas sebelah kanan tetap.

Posisi seperti ini bisa membuat pesawat miring atau berbelok tanpa kendali. Hal itu bisa saja terjadi karena pilot fokus menghindari awan berbahaya di depan sehingga perhatian terhadap throttle menjadi berkurang. Singkatnya, sekitar 30 detik sebelum kecelakaan, pesawat lepas kendali dan pilot tidak bisa mengidentifikasi itu.

“Boeing secara teratur berkomunikasi dengan pelanggan tentang bagaimana mereka dapat mengoperasikan pesawat mereka dengan aman dan percaya diri,” kata Boeing dalam sebuah penyataan.

“Dalam koordinasi yang erat dengan otoritas investigasi dan regulator, komunikasi terbaru ini memperkuat pentingnya materi panduan dan pelatihan di seluruh industri dan Boeing tentang pencegahan dan pemulihan gangguan pesawat,” tambahnya.

Penyebab hilangnya kontrol pilot pada pesawat menurut Boeing ada dua, malfungsi dan tindakan yang salah oleh pilot. Agar tak salah, pilot harus cermat dalam mendeteksi dini berbagai kondisi yang menyebabkan pesawat terganggu. Sistem kontrol penerbangan yang serba otomatis pada pesawat memang mengurangi beban kerja pilot, namun di sisi lain menuntut pilot dan co-pilot untuk aktif memantau sistem yang kompleks di kokpit.

Baca juga: Mengenal Istilah Pilot Error, Gagalnya Keputusan Pilot yang Berujung Kecelakaan

Dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, sebetulnya masalah relatif terlalu kecil berkenaan dengan automatic throttle control atau auto throttle. Namun, karena tindakan pilot keliru, alhasil masalah dapat menjadi besar dan berujung pada kecelakaan.

“Masalah kecil seperti overbanking saat berbelok atau terbang lambat saat approach dapat berkembang menjadi perbedaan yang lebih besar dari flight path yang dimaksudkan dan menyebabkan kondisi pesawat terganggu dan berpotensi kehilangan kontrol,” jelas Boeing.

Lego Hadirkan Replika Stasiun Kereta Disneyland dan Bisa Digerakkan

Stasiun kereta Disneyland pernah mendapatkan perawatan dari Lego. Ini karena Lego merilis satu set mainan baru yang akan membuat pecinta Disney tergila-gila. Di mana replika kereta yang mengelilingi Disney World dan Disneyland bisa menjadi milik pecinta Disney.

Baca juga: Anda Rindu Disneyland? Ikuti Perjalanan Virtual Melalui “It’s a Small World”

Dilansir KabarPenumpang.com dari attractionsmagazine.com, Lego merilis set replika 2.925 buah stasiun kereta dan lokomotif Disneyland. Set replika ini bukan hanya mainan yang dipajang, melainkan bisa digerakkan dengan motor di trek. Set ini selain menampilkan lokomotif bermesin uap dengan gerbong empuk, gerbong penumpang, gerbong ruang tamu yang mewah, trek oval, bangunan stasiun bergaya Disneyland yang ikonik juga dilengkapi dengan minifigures Mickey Mouse, Minnie Mouse, Chip, Dale dan Goofy.

Set replika tersebut juga dilengkapi fungsionalitas yang dikontrol aplikasi sehingga Anda dapat menggunakan ponsel pintar atau tablet untuk menggerakkan kereta maju, mundur hingga membuat efek suara yang realistis. Untuk merangkai set replika kereta Disneyland, Anda bisa lebih mudah berkat kopling magnetnya Lego dan panel di gerbong ruang tamu terbuka. Sehingga Anda bisa melihat detail interior dengan meja, kursi berlengan, teko dan cangkir.

Sedangkan di dalam gedung stasiun, akan ditemukan perabotan dan detail rumit dari batu bata termasuk jendela tertutup, jam dinding, lampu langit-langit dan ruang menara dengan kejutan Lego kecil yang menyenangkan. Untuk diketahui, set ini untuk usia 12+ dan menampilkan total 2.925 buah.

Dengan lima minifigures, 16 buah lengkung dan 4 buah track lurus, lokomotif, tender, mobil penumpang, mobil ruang tamu dan gedung stasiun. Miniatur lokomotif ini memiliki spatbor merah besar, roda merah dengan batang penghubung yang berfungsi, cerobong asap besar dan kabin pengemudi.

Tender berisi Lego Powered Up Hub dan Lego Powered Up Train Motor, untuk efek kereta dan suara dapat dikontrol melalui perangkat pintar yang cukup disambungkan melalui Bluetooth dari aplikasi Lego Powered Up. Untuk menjalankannya juga dibutuhkan baterai. Uniknya gerbong kereta penumpang memiliki tempat duduk untuk minifigures Lego Disney.

Baca juga: Jangan Salah Naik! VW T2 Camper Van Ini Karya Desainer Lego dengan Perbandingan 1:1

Mainan kereta Lego Disney berukuran tinggi lebih dari empat inci, panjang 30 inci dan lebar tiga inci. Bangunan stasiun kereta Lego Disney berukuran tinggi lebih dari 15 inci, lebar 14 inci, dan kedalaman enam inci. Sedangkan diameter jalur rel oval berukuran panjang 37 inci dan lebar 27 inci.

Ecuatoriana Airlines, Maskapai Baru yang Lahir Saat Maskapai Lain Terancam Bangkrut

Di tengah masa-masa sulit akibat pandemi virus Corona, industri penerbangan dunia justru kedatangan maskapai baru, Ecuatoriana Airlines. Maskapai yang berbasis Quito, Ekuador, itu sebetulnya sudah berdiri sejak Mei 1957, namun pada 2006 maskapai itu stop operasi akibat kesulitan keuangan.

Baca juga: Zipair Tokyo Akhirnya Resmi Mengudara Saat Maskapai Lain Bangkrut, Tapi Hanya Penerbangan Kargo

Kendati sudah mendapat suntikan modal dari investor baru, namun, memulai kembali operasi dengan re-branding dan strategi baru di era dimana maskapai sedunia justru terancam bangkrut, tentu bukanlah pilihan terbaik.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri akhir Desember lalu memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Sampai akhir Desember 2020 lalu, laporan allplane.tv, sudah ada 30 maskapai bangkrut. Laporan CNBC International bahkan lebih besar, dimana 40 maskapai di seluruh dunia dinyatakan bangkrut. Angka itu pasti akan bertambah seiring ketidakjelasan masa depan penerbangan global.

Kendati demikian, di dalam bisnis, termasuk bisnis penerbangan, akan selalu datang dan pergi. Lagi pula, kedatangan Ecuatoriana Airlines di sisi lain memang terbilang tepat. Saat ini, maskapai penerbangan yang beroperasi di Ekuador hanya menyisakan Avianca dan LATAM, setelah pada tahun 2020 lalu pemerintah menyetop operasional maskapai regional di negara itu, TAME Ecuador.

Avianca dan LATAM sendiri bukan berarti mendominasi secara mutlak. Keduanya diketahui tengah menjalani prosedur kebangkrutan Bab 11 dan mau tak mau harus mengurangi operasi mereka.

Avianca sejauh ini memiliki lima rute domestik di Ekuador, mengoperasikan 20 penerbangan mingguan dan menawarkan 2.655 kursi. Sedangkan menerbangi enam rute domestik Ekuador dengan 16 penerbangan harian dan tiga rute internasional.

Secara segmen, Avianca merupakan maskapai full service dan LATAM Airlines merupakan maskapai LCC. Antara maskapai LCC dan full service tentu ada pasar medium service. Di situlah Ecuatoriana Airlines berada.

“(Ecuatoriana) akan berada di tengah antara maskapai berbiaya rendah (LCC) dan maskapai full service. Tarif kami akan rendah. Kisaran harga pada rute tertentu hanya sekitar antara 50 dan 65 dolar,” kata Eduardo Delgado, CEO Ecuatoriana Airlines.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, Ecuatoriana Airlines akan beroperasi dengan enam pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8, yaitu seri Q400 dengan kapasitas 76 penumpang dan Q200 kapasitas 37 penumpang.

Baca juga: Cathay Dragon Bangkrut, Ribuan Pilot dan Pramugari Gigit Jari!

Saat ini, maskapai baru itu masih dalam proses memperoleh Air Operator Certificate (AOC) dan paling lambat baru akan menerimanya pada Juni 2021 mendatang. Seluruh persiapan lain seperti awak pesawat, staf darat, karyawan kantor, logo, perizinan dari pemerintah kota, dan lain sebagainya telah dan akan dipersiapkan mulai April mendatang.

Begitu juga dengan rute, sekalipun sudah ada desas-desus bahwa Ecuatoriana Airlines akan beroperasi di 29 rute dari tujuh kota, namun, kepastiannya baru akan diumumkan nanti tak lama setelah AOC diterima maskapai.

Jepang Uji Coba Bus dengan Teknologi 5G Antara Stasiun

Bus dengan teknologi 5G tanpa pengemudi mulai diuji coba di Jepang pada 15 Februari kemarin. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pemerintah Kota Maebashi, Universitas Gunma dan organisasi lainnya. Bus ini akan melintasi rute sejauh satu kilometer antara Stasiun JR Maebashi dan Stasiun Cuo Maebashi Jomo Electric Railway.

Baca juga: Adopsi Vehicle-to-x, Bus Otonom Telkomsel 5G Ramaikan Asian Games 2018

Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (17/2/2021), bodi bus akan dilengkapi kamera, sensor laser untuk mendeteksi rintangan dan Global Positioning System (GPS) untuk mengontrol akselerator. Selain itu rem serta pengoperasian lainnya sesuai dengan lampu lalu lintas serta kondisi sekitar.

Sama seperti pendahulunya yang menggunakan teknologi 4G atau LTE, bus 5G ini juga hanya akan melaju dengan kecepatan maksimal 19 km per jam. Dengan jaringan 5G, digadang-gadang akan meningkatkan keamanan dengan adanya peningkatan pada resolusi gambar dari kamera yang dipasang di sekitar kendaraan dan jalanan yang dilintasinya.

Selain itu pada saat yang sama, verifikasi teknologi dari fungsi pengenalan wajah akan dilakukan untuk memungkinkan pembayaran tanpa uang tunai. Sehingga kedua teknologi ini akan ditagertkan penggunaannya ditahun fiskal 2022.

Untuk diketahui, dalam percobaan terbaru, dua kamera dan sensor laser baru ditambahkan ke sisi jalan sehingga memungkinkan bus untuk secara akurat memahami kondisi jalan di sekitar Stasiun Chuo Maebashi, yang merupakan titik buta bagi bus. Namun, karena mengemudi tanpa awak sama sekali tidak diizinkan secara hukum, kursi pengemudi akan ditempati oleh pengemudi dari Nippon Chuo Bus Co. yang berbasis di Maebashi, yang mengoperasikan bus.

Sehingga bila diperlukan maka pengemudi akan beralih ke mengemudi manual. Selain itu, ruang kendali jarak jauh yang didirikan di Pusat Penelitian Penerapan Sistem Transportasi NextGen Universitas Gunma akan memantau sistem dan menanggapi situasi di mana sulit untuk membuat keputusan berdasarkan mengemudi otomatis saja.

Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

“5G akan memungkinkan transmisi data dengan kapasitas besar dan sedikit penundaan, yang akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi bus. Kami akan melakukannya. suka melakukan berbagai verifikasi untuk penggunaan praktis,” ujar Associate Professor Takeki Ogitsu dari Gunma University.

Uji coba bus teknologi 5G akan berlanjut hingga 28 Februari 2021.

Airbus Ternyata Juga Punya Paten Folding Wingtip Andalan Boeing 777X

Pada 25 Januari 2020 silam, Boeing 777X sukses terbang perdana. Selain pamornya mentereng karena didapuk menjadi pesawat komersial terpajang di dunia dengan 76.73 m dan menggunakan mesin terkuat di dunia GE9X, itu juga karena Boeing 777X karena fitur folding wingtipnya yang berbeda dari yang lain.

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Kendati demikian, usut punya usut, ternyata fitur folding wingtip atau ujung sayap lipat yang diusung Boeing 777X bukanlah satu-satunya yang sudah mendapat paten, melainkan ada folding wingtip lain gagasan Airbus yang baru mendapat paten pada tahun 2014 lalu, jauh lebih anyar dibanding folding wingtip Boeing yang sudah mendapat paten sejak tahun 1990-an.

Dikutip dari Simple Flying, laporan aeroTELEGRAPH menyebut sejak pertama kali dipatenkan pada tahun tersebut, Boeing sebetulnya sudah ingin mengembangkan pesawat dengan fitur ujung sayap lipat. Namun, karena kurangnya minat, pengembangan pesawat itu terus tertunda sampai beberapa tahun belakangan dimana Boeing 777X sukses menjalankan first flight.

Sebagai kompetitor utama, Airbus juga tak mau ketinggalan sehingga muncullah ide membuat folding wingtip sampai mendapat paten pada tahun 2014. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa teknologi yang dipatenkan adalah teknologi baru dan belum ada teknologi lain yang serupa dengannya. Termasuk fitur folding wingtip. Karena fitur folding wingtip dari Airbus dan Boeing sama-sama sudah mendapat hak paten, itu berarti keduanya terdapat perbedaan.

Perbedaan dari folding wingtip Airbus dan Boeing sendiri terletak pada lipatan di ujung sayapnya itu. Bila ujung sayap Boeing terlipat ke atas, folding wingtip Airbus terlipat ke bawah. Sesimpel itu, bukan?

Meskipun terkesan hanya sekedar tak mau kalah dengan kompetitornya, Airbus mengklaim folding wingtip miliknya -yang notabene terlipat ke bawah- punya sederet keunggulan. Pertama, folding wingtip yang terlipat ke bawah diklaim lebih aman. Itu karena gaya aerodinamis dapat menyebabkan ujung sayap dapat terlipat ke atas dalam penerbangan sehingga membahayakan sifat aerodinamis pesawat.

Kedua, teknologi folding wingtip ini akan menggunakan apa yang disebut sebagai locking mechanisms dan aktuator yang lebih ringan daripada ujung sayap lipat ke atas milik Boeing.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Sekalipun memiliki setidaknya dua keunggulan dibanding folding wingtip ke atas milik Boeing, Airbus belum mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh. Itu karena, pada saat mendaftarkan paten tersebut, tren pesawat penumpang berkapasitas besar masih akan mendominasi. Namun, seperti yang kita lihat saat ini, fakta justru sebaliknya.

Pesawat superjombo buatan Airbus yang jadi pesawat komersial terbesar di dunia, A380, justru menjadi usang. Itu karena maskapai penerbangan di dunia tidak lagi menjalankan model jaringan hub-to-hub yang menuntut kapasitas besar melainkan sudah point-to-point yang menuntut kapasitas besar namun juga efisiensi tinggi dengan dua mesin.

Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

Penerbangan internasional Indonesia memang masih belum bisa diharapkan, namun tidak demikian dengan rute domestik. Dalam survei terbaru lembaga analisis penerbangan global OAG yang berbasis di Inggris di bulan Februari 2021, dua rute domestik Indonesia berhasil menempati posisi tujuh dan kesembilan tersibuk di dunia.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

Selain itu, Indonesia juga mencatat dua prestasi lainnya di bulan ini. Dua itu ialah menempati posisi ketujuh pada kategori 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal.

Dilansir dari laman resminya, posisi pertama rute domestik tersibuk di dunia bulan Februari 2021 ditempati oleh rute dari Bandara Internasional Jeju menuju Bandara Gimpo Seoul di Korea Selatan. Diperingkat kedua sampai keempat berturut-turut diisi oleh rute-rute di Asia, yaitu rute dari Bandara Hanoi ke Ho Chi Minh di Vietnam, Bandara Chitose Sapporo ke Haneda Tokyo, dan Bandara Fukuoka ke Haneda Tokyo di Jepang.

Masuk lima besar rute tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 masih ditempati oleh rute Asia, sekalipun bukan Asia Pasifik, melainkan Asia Barat atau Timur Tengah, yaitu rute Jeddah-Riyadh. Rute lain di Korea Selatan juga kembali masuk ke jajaran rute domestik tersibuk, diwakili oleh rute dari Bandara Gimpo Seoul-Busan.

Tetangga Korea Selatan, Jepang, juga menempati wakil lain di posisi ke-10 dalam jajaran tersebut, yaitu rute Tokyo Haneda-Okinawa Naha. Satu-satunya rute di luar Asia dalam jajaran rute domestik tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 ini adalah rute dari Bandara Cancun-Mexico City, Meksiko, yang menempat posisi kedelapan.

Sedangkan dua rute tersibuk di dunia dari Indonesia menempati posisi ketujuh dan kesembilan. Posisi ketujuh ada rute Jakarta-Medan Kualanamu dengan 382.975 kursi dan di posisi kesembilan diisi oleh rute Jakarta-Makassar dengan 370.931 kursi, jauh tertinggal memang dibanding posisi pertama dan kedua yang berturut-turut mencapai hampir 1,2 juta kursi dan 1,1 juta kursi.

Baca juga: Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?

Di samping masuk jajaran rute domestik tersibuk di bulan Februari 2021, Indonesia juga masuk ke jajaran 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia, dimana Bandara Soekarno-Hatta menempati posisi ketujuh dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal, dimana Indonesia menempati posisi keempat, di bawah Amerika Serikat, Cina, dan India.

Kendati sederet prestasi ini hanya di bulan Februari, namun, bukan tak mungkin jika penanganan virus Corona jauh lebih baik dan perkembangan kasus aktifnya jauh menurun, industri penerbangan Indonesia akan lebih cerah dan mencetak sederet prestasi lainnya.

Kapal Tanker Listrik Pertama Akan Mengarungi Teluk Tokyo di 2022

Kendaraan listrik tidak hanya menyusuri perjalanan darat saja, tetapi moda transportasi laut pun sudah mulai menggunakan listrik. Selain kapal ferry dan kapal cepat, sebentar lagi sebuah kapal tanker listrik akan mulai mengarungi Teluk Tokyo, Jepang.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Kapal tanker ini disebut e5 dan yang menarik akan digunakan untuk mengirimkan bahan bakar konvensional ke kapal lain. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (15/2/2021), dua kapal tanker tersebut saat ini tengah dalam proses pembangunan oleh KOA Industry Co Ltd dan Imura Shipyard.

Rencananya kapal pertama akan memulai layanannya tahun depan dan kapal kedua menyusul di tahun 2023. Pengembangan proyek e5 merupakan konsorsium perusahaan pelayaran dan teknologi maritim.

Untuk diketahui, dua kapal tanker e5 yang tengah dalam pembangunan tersebut dipesan oleh Asahi Tanker dan Kawasaki Heavy Inudstries tengah merancang sistem propulsinya. Nantinya kapal yang memiliki panjang 62 meter tersebut akan digunakan untuk mengirim bahan bakar di Teluk Tokyo, Jepang.

Setiap kapal tanker e5 akan memiliki berat sekitar 499 ton dan akan menggunakan dua paket baterai lithium-ion 1.740-kWh Ocra ESS yang dibuat oleh Corvus Energy. Baterai ini berkapasitas gabungan 3.480 kWh atau 3,5 megawatt per jam.

Paket tersebut akan memberi daya pada dua motor pendorong azimuth 300 kW yang akan memberi kecepatan jelajah sekitar sepuluh knot atau sekitar 19 km per jam. Bahkan dengan baterai per pengisian daya saat ini dijelaskan bisa digunakan selama “berjam-jam”.

Karena menggunakan penggerak motor listrik, kapal tanker e5 tidak akan menghasilkan emisi gas buang. Selain itu dengan menggunakan motor listrik, laju kapal tanker tersebut seharusnya akan lebih mulus dan menghasilkan lebih sedikit getaran serta kebisingan dibandingkan dengan mesin tradisional.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Hal ini membuat kondisi onboar lebih nyaman bagi awak kapal. Tak hanya itu, bila terjadi bencana alam di kawasan Teluk Tokyo, maka kapal ini dapat menyediakan listrik untuk layanan darurat.

Toko Bebas Bea Pertama di Dunia ada di Bandara Shannon Irlandia

Para pelancong yang bepergian ke luar negeri sangat senang ketika berbelanja buah tangan apalagi jika membelinya di toko bebas bea. Biasanya toko bebas bea ini lebih banyak ditemukan di bandara dan barang yang dibeli harganya lebih murah dibandingkan di toko buah tangan lainnya karena tidak ada pajak.

Baca juga: Inggris Hapuskan Toko Bebas Bea di Bandara, Maskapai AS Hapus Penjualannya Saat di Udara

Namun, tahukah Anda bagaimana asal adanya toko bebas bea ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata toko bebas bea pertama di dunia didirikan Brendan O’Regan di Bandara Shannon di Irlandia tahun tahun 1947 dan masih beroperasi hingga hari ini.

Kehadiran toko bebas bea ini awalnya dirancang untuk menyediakan layanan bagi penumpang maskapai trans Atlantik yang biasanya melakukan perjalanan antar Eropa dan Amerika Utara. Di mana pesawat yang mengangkut para pelancong ini berhenti untuk mengisi bahan bakar.

Toko ini menjual linen Irlandia, parfum Prancis, porselen Jerman, dan minuman keras kepada penumpang yang menuju ke Amerika Utara. Bahkan 20 persen penjualan wiski penyulingan Irlandia dilakukan melalui tokobebas bea di Uni Eropa dan tempat lainnya.

Sehingga jika bebas bea intra Uni Eropa dihapuskan, maka perusahaan diperkirakan kehilangan bisnis senilai sekitar £10 juta. Untuk diketahui, tahun 1996, pasar bebas bea Irlandia bernilai £103 juta. Hanya tiga negara anggota, Finlandia, Luksemburg dan Swedia, yang lebih bergantung pada penjualan bebas bea intra-UE daripada Irlandia.

Kesuksesan toko bebas bea di Irlandia kemudian diikuti oleh negara lainnya yakni pada 13 tahun kemudian dua pengusaha Amerika, Charles Feeney dan Robert Warren Miller, mendirikan apa yang sekarang disebut Pembelanja Bebas Bea (Duty Free Shoppers atau DFS).) pada tanggal 7 November 1960.

DFS mulai beroperasi di Hong Kong dan menyebar ke Eropa dan tempat lain di seluruh dunia. Mengamankan konsesi eksklusif untuk penjualan bebas bea di Hawaii pada awal 1960-an merupakan terobosan komersial untuk DFS, yang memungkinkan perusahaan untuk fokus pada pelancong Jepang.

DFS terus berinovasi, berekspansi ke toko bebas bea di luar bandara dan ke toko besar di pusat kota Galleria yang kemudian tumbuh menjadi pengecer perjalanan terbesar di dunia. Pada tahun 1996 LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton mengakuisisi saham Feeney dan dua pemegang saham lainnya dan pada tahun 2012 bersama-sama memiliki DFS dengan Miller.

Dalam periode yang sama ini, beberapa daerah berkembang sebagai tujuan belanja bebas bea. Mereka dicontohkan oleh Saint Martin dan Kepulauan Virgin AS di Karibia, Hong Kong dan Singapura. Sedangkan yang lain mengklaim harga kompetitif untuk bebas bea.

Baca juga: “Duty Free” Pada Minuman Keras, Untung Yang Dihasilkan Sedikit

Umumnya, barang bebas bea dan dikenakan pajak atas impor untuk dijual di manapun di tujuan belanja. Pedagang dapat membayar inventaris, bisnis atau pajak lainnya, tetapi pelanggan mereka biasanya tidak membayar secara langsung. Tidak adanya bea atau pajak lain atas barang yang dijual tidak menjamin bahwa barang-barang tersebut merupakan barang murah. Biaya barang identik dari sumber bebas bea yang berbeda dapat bervariasi. Mereka sering bergantung pada ada atau tidaknya pesaing terdekat, misalnya toko bandara.