Anjing Pelacak Bantu Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Hal baru sepertinya dilakukan di Bandara Internasional Islamabad, Pakistan untuk mendeteksi Covid-19 pada penumpang. Persisnya kemampuan penciuman anjing dimanfaatkan untuk memeriksa penumpang yang tiba di bandara tersebut. Bahkan dalam mendekteksi Covid-19, akurasi hampir 100 persen dengan hidung yang tajam untuk menyaring sampel dari penumpang dalam upaya menghentikan kasus impor virus corona.

Baca juga: Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Anjing-anjing ini dilatih untuk mengendus kasus asimtomatik di seluruh dunia dan mereka selain menunjukkan gigi taring juga memiliki hidung sensitif yang dikerahkan untuk mendeteksi penyelundupan narkotika atau keberadaan peledak.

Namun, karena dunia dan perjalanan menghadapi bencana yang berbeda, sahabat manusia dipanggil untuk menemukan infeksi Covid-19. Menyusul proyek serupa di Helsinki dan Dubai, pihak berwenang di Bandara Internasional Islamabad telah memutuskan untuk membawa anjing pelacak guna memerangi penyebaran virus corona.

Satu paket untuk mendeteksi Covid-19, akan ada empat anjing yang dilatih khusus sedang disediakan oleh Angkatan Darat Pakistan. Mereka akan menyaring penumpang yang masuk ke ibukota dan berfungsi sebagai alat sekunder, melengkapi penggunaan pemindai termal dan tes antigen cepat.

KabarPenumpang.com melansir simpleflying.com (14/5/2021), ternyata ini bukan tentang anjing yang dekat dan pribadi dengan orang-orang seperti yang mereka lakukan dengan tas. Sampel keringat (metode yang telah terbukti tidak menular) dikumpulkan dari para pelancong. Ini kemudian disajikan kepada anjing di ruang terpisah dan terisolasi.

Mendeteksi infeksi lebih awal dari tes PCR
Keempat anjing di Bandara Islamabad tidaklah unik. Karena penelitian telah menunjukkan bahwa anjing dapat mengendus Covid-19 dengan akurasi sekitar 95 persen bahkan sebelum gejala mulai muncul, anjing di seluruh dunia sedang menjalani pelatihan khusus.

Studi mengatakan mereka dapat mendeteksi infeksi dalam hitungan detik, bahkan pada tahap paling awal ketika tes PCR akan memberikan hasil negatif. Bandara dilaporkan memutuskan untuk mendaftarkan hidung super berkaki empat setelah beberapa penumpang kedapatan membawa sertifikat negatif palsu dan kemudian dinyatakan positif Covid-19.

Pusat Komando dan Operasi Nasional (NCOC) negara itu menyetujui langkah tersebut dalam pertemuan awal pekan ini. Anjing pelacak Covid-19 sudah beraksi di Bandara Vantaa Helsinki di Finlandia dan Bandara Dubai di UEA.

Proyek lain telah diluncurkan di Bandara Internasional Beirut-Rafic Hariri. Orang yang bertanggung jawab atas program Beirut, ahli onkologi dan profesor Riad Sarkis, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti bagaimana anjing dapat mendeteksi kanker dan dengan demikian memfasilitasi perawatan dini..

“Saat Covid muncul, saya berpikir, kenapa tidak dicoba. Dan itu berhasil, “Mr Sarkis, yang juga bagian dari penelitian tentang deteksi Covid-19 yang dilakukan di sekolah kedokteran hewan Maison-Alfort Prancis, mengatakan kepada Al Arabiya.

Dua anjing, seekor Alsatian dan seekor Malinois, telah dilatih oleh seorang pawang di fasilitas khusus Beirut. Namun tidak jelas ras anjing apa yang bekerja di Bandara Islamabad, tetapi baik Dubai maupun Helsinki juga telah membawa jenis anjing gembala.

Meskipun, secara teori, penelitian mengatakan, anjing mana pun dapat dilatih untuk pekerjaan itu. Di Thailand, enam Labrador Retriever telah mengikuti pelatihan Covid selama enam bulan.

Baca juga: Aib! Penumpang Qatar Airways Bawa Heroin Lolos dari Bandara Hamad, Tertangkap di India

Mereka dilaporkan dapat melewati 60 sampel dalam beberapa detik. Dan tidak hanya bandara yang menggunakan anjing untuk mendeteksi virus corona. Saat acara olahraga dibuka untuk umum di AS, anjing pelacak telah melewati antrian orang-orang yang menunggu untuk masuk ke arena.

Melihat Lagi Kejayaan Pelabuhan Palestina Sebelum Dijajah Israel

Selain bandara, maskapai penerbangan, dan jaringan perkeretaapian nasional serta lintas nasional, di masa lalu, sebelum Zionis Israel menjajah, Palestina juga mempunyai pelabuhan sebagaimana negara lainnya.

Baca juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Hampir semua pelabuhan di Palestina sudah ada sebelum Perang Dunia I meletus. Hanya memang, standarnya tidak seperti yang ada saat ini.

Administrasi pelabuhan Palestina yang terdiri dari pelabuhan laut Haifa, Jaffa (termasuk Tel Aviv Lighter Harbor), Acre, Gaza Port, dan water port Tiberias di Laut Galilea dan water port Laut Mati, dipegang oleh Palestine Railways, yang juga mengoperasikan pelabuhan di perairan dangkal dan dalam.

Sebelum Perang Dunia I, Pelabuhan Acre merupakan pelabuhan utama. Pelabuhan Haifa saat itu masih sebatas pelabuhan pendukung atau pelabuhan satelit.

Di masa kejayaannya, Pelabuhan Acre atau saat ini dikenal sebagai Akko, Palestina, memegang peranan penting dalam perputaran ekonomi melalui berbagai komoditas penting, utamanya jagung dan sereal, bukan hanya untuk persediaan di Palestina, melainkan juga Suriah dan Yordania.

Peranan penting Pelabuhan Acre kemudian memudar seiring beroperasinya pembangunan jalur kereta api antara Haifa-Yordania-Suriah pada tahun 1905 dan pengembangan jaringan kereta api antara El Kantara (Mesir) dan Haifa serta daerah lainnya di penghujung Perang Dunia I.

Sebagai gantinya, Pelabuhan Haifa, yang selesai dibangun pada 1934-1935, memegang peranan penting untuk aktivitas bongkar muat di Mediterania, didukung luas pelabuhan mencapai 1 juta meter persegi. Itu terbagi menjadi beberapa dermaga, seperti dermaga utama, dermaga kargo dan dermaga minyak, serta dermaga minyak curah melalui jalur pipa bawah laut.

Sebelum Perang Arab-Israel, minyak dari Irak lansung dikirim ke Kilang Minyak Haifa melalui pipa Irak-Haifa dari Iraq Petroleum Company, menurut laporan britishempire.co.uk.

Selain Pelabuhan Haifa dan Acre, Palestina juga mempunyai beberapa pelabuhan lainnya, seperti Pelabuhan Tiberias di Laut Galilea, Pelabuhan Jodeida di Laut Mati, Pelabuhan Jaffa bagian utara dan Pelabuhan Jaffa bagian selatan.

Baca juga: Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Sebelum pembangunan pelabuhan besar-besaran di Palestina, Pelabuhan Jaffa tengah mengalami situasi sulit untuk mendukung aktivitas perekonomian. Sebab, kondisinya ibarat hidup segan mati tak mau. Ketika itu, Kekaisaran Ottoman memang terlalu banyak fokus pembangunan hingga melupakan pelabuhan ini.

Usai dikembangkan Pelabuhan Jaffa, bersama pelabuhan lainnya menjadi penggerak ekonomi utama Palestina sampai akhirnya Israel datang menjajah pada tahun 1946 sampai saat ini. Aneksasi wilayah Palestina oleh Israel bahkan sudah begitu sporadis dan terang-terangan kendati dikecam dunia internasional.

Fantastis! London Punya Enam Bandara Internasional

Jangan samakan antara Jakarta dan London, bila di Jakarta keseluruhan ada dua bandara komersial, maka di London setidaknya ada 23 bandara komersial. Jumlah yang sangat wow, dari 23 bandara, 17 bandara digunakan untuk melayani penerbangan domestik, sedangkan sisanya 6 berstatus sebagai bandara internasional. Jumlah enam bandara internasional di satu kota tentu terbilang fantastis. Yang terbesar dan paling prestisius adalah Bandara Heathrow, bandara yang dilayani oleh Garuda Indonesia dalam penerbangan direct flight-nya dari Jakarta.

Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!

Selain itu, masih ada Bandara Gatwick, yang di dapuk sebagai bandara internasional kedua terbesar di London. Bandara yang satu ini juga akrab bagi Garuda Indonesia, pasalnya maskapai plat merah ini juga pernah menyinggahi Gatwick. Agar lebih lebih mengenal keenam bandara internasional di London, berikut ulasan singkatnya

1. Bandara Heathrow (LHR)
Bandara yang juga dikenal sebagai yang tersibuk di Eropa ini hampir melayani semua penerbangan internasional yang melalui Inggris. Heathrow terletak di tepi barat dari kelima bandara lainnya. Jaraknya sekitar 22 km dari pusat kota London. Bandara ini memiliki 5 termimal dan landas pacu. Bandara ini juga merupakan basis utama maskapai British Airways yang berada di Terminal 5.

2. Bandara Gatwick (LGW)
Bandara tersibuk kedua di London adalah Gatwick, lokasinya berada di tepi selatan dari kelima bandara lainnya, tepatnya di daerah West Sussex, atau sekitar 48 km dari pusat kota London. Gatwick hanya memiliki satu landas pacu dan dua terminal. Maskapai British Airways juga menggunakan bandara ini sebagai basis penerbangan untuk rute ke Eropa dan Karibia. Lain dari itu, Gatwick juga menjadi basis bagi beberapa maskapai low cost carrier.

3. Bandara Stansted (STN)
Stansted adalah bandara ketiga tersibuk di London, lokasi berada di tepi utara. Persisnya Stansted terletak di Stansted Mountfitched, disktrik Uttlesford, Essex, jaraknya sekitar 48 km dari pusat kota London. Jika pembaca sering mendengar nama Ryanair, nah maskapai LCC tersebut menggunakan bandara Stansted sebagai basisnya.

Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair

4. Bandara Luton (LTN)
Inilah bandara tersebik keempat di London, berlokasi di tepi utara, dan lebih dekat dengan Bandara Heathrow. Jarak bandara ini dari pusat kota London berkisar 57 km. Bandara Luton menjadi basis dari maskapai LCC EasyJet.

5. Bandara London City (LCY)
Merupakan bandara kelima tersebuk di London, berada di kawasan Newham, jarak dari pusat kota London ke bandara ini mencapai 11 km. London City hanya memiliki satu landas pacu, dan jarak landas pacu yang pendek, menjadikan bandara ini belum dapat dilalui pesawat berukuran besar.

6. Bandara Southend (SEN)
Ini mennadi bandara keenam tersibuk di London, berada di tepi timur dari kelima bandara lainnya. Dari pusat kota London, Southend berjarak 64 km. Rute yang dilayani dari bandara ini umumnya dari dan menuju Irlandia dan Eropa. Karean tidak terlalu sibuk dibandingkan lima bandara lainnya, sehingga penumpang yang tidak membawa bagasi di kargo dapat keluar dari bandara hingga menuju terminal kereta dalam waktu 15 menit saja.

Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Setelah Bandara Internasional Yasser Arafat dihancurkan oleh Zionis Israel, Jalur Gaza, Palestina praktis hanya memiliki satu akses transportasi udara. Satu itu adalah Bandara Gush Katif. Meski saat ini sudah tak lagi berfungsi, namun, masih tersisa satu runway yang dalam keadaan mendesak bisa saja digunakan.

Baca juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Sebelum tahun 2004, Jalur Gaza amat mengandalkan Yasser Arafat International Airport sebagai penghubung dengan dunia luar.

Bandara yang dibangun menggunakan dana hibah asing, seperti Mesir, Jepang, Arab Saudi, Spanyol, Jerman, dan sejumlah negara-negara Uni Eropa lainnya, senilai jutaan dolar ini merupakan proyek ambisius internasional sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Oslo II tahun 1995.

Setelah menghabiskan dana senilai US$86 juta dengan waktu konstruksi selama kurang lebih satu tahun, bandara ini pun rampung.

Dalam acara opening ceremony pada 24 November 1998, turut hadir Yasser Arafat dan Presiden Amerika kala itu, Bill Clinton. Pada waktu yang bersamaan, pembukaan bandara tersebut digambarkan sebagai bukti kemajuan Palestina dan sebuah pergerakan menuju pembangunan negara yang seutuhnya.

Bandara yang dioperasikan langsung oleh otoritas Palestina ini menjadi markas dari maskapai Palestinian Airlines, dengan kemampuan menangani lebih dari 700.000 penumpang setiap tahunnya.

Sayang, dana sebesar itu terbuang sia-sia setelah Israel menghancurkannya dalam sekejap menggunakan jet tempur F-16 dengan dalih membela diri dari gerakan Intifada kedua pada 8 Oktober 2000. Intifada merupakan sebuah gerakan perlawanan warga Palestina terhadap serangan yang dilancarkan militer Israel. Intifada kedua Palestina ini lebih dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa.

Setelahnya, warga di Jalur Gaza tak lagi mempunyai gerbang menuju dunia luar, mengingat akses darat diblokade total dan harus melewati pengecekan super ketat oleh militer Israel.

Kendati tak lagi punya bandara internasional, Jalur Gaza masih mempunyai airfield atau bandara lainnya sekalipun tak sebesar Bandara Yasser Arafat; Bandara Gush Katif. Bandara ini terletak sekitar 3,2 km di utara kota Khan Yunis, Gaza, Palestina.

Bandara Gush Katif sendiri disebut laman resmi UNRWA sudah ada sebelum tahun 2004. Tetapi di tahun tersebut, bandara yang memiliki satu runway sepanjang 800 meter di ketinggian 107 kaki itu mulai direnovasi oleh Israel untuk kemudian diserahkan ke otoritas Palestina, bersama pemukiman Gush Katif untuk warganya.

Seiring berjalannya waktu, dimensi runway bandara tersebut lambat laun mulai tergerus oleh badai pasir yang kerap menerjang wilayah sekitar. Terlebih, otoritas Palestina, sebagai pemegang kuasa terhadap bandara tersebut, tidak merawat bandara itu dengan baik.

Disebutkan, akibat terjangan badai pasir, satu-satunya runway dan satu-satunya bandara yang berada di Jalur Gaza itu berkurang lebarnya, dari 23 meter menjadi 9,1 meter. Demikian juga dengan panjang runway yang juga tergerus.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Namun, untuk memudahkan akses puluhan ribu pengungsi di Khan Younis kamp, runway tersebut kembali dibenahi menjadi seperti semula. Usai runway kembali layak, sejak tahun 2007-2010, Bandara Gush Katif aktif digunakan untuk mobilitas pengungsi dan logistik. Sampai di sini, UNRWA seolah-olah menjadi operator dari bandara tersebut.

Pada tahun 2014, Bandara Gush Katif, berdasarkan citra satelit dan laporan dari warga setempat, sudah tidak lagi dapat digunakan. Itu karena di ujung runway sudah ada bangunan tinggi sebagai pabrik pengelolahan limbah yang menghalangi proses pendaratan dan lepas landas pesawat.

Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Sesuai dengan namanya, bandara ini dibangun untuk menghormati Presiden pertama Palestina, Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004. Dahulu bandara ini merupakan salah satu lokasi yang dijadikan tumpuan oleh warga Palestina sebagai jendela dari kawasan Gaza ke luar negeri.

Yasser Arafat International Airport diresmikan pada tahun 1998, dibangun dengan menggunakan dana hibah asing senilai jutaan dollar. Tercatat, Mesir, Jepang, Arab Saudi, Spanyol, Jerman, dan sejumlah negara-negara Uni Eropa lainnya turut berkontribusi dalam pembangunan bandara ini. Adapun eksekusi pembangunan bandara ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Oslo II tahun 1995.

Baca Juga: Bandara Tempelhof, Megastruktur NAZI Yang Kini Jadi Taman Kota Besar di Berlin

Bandara yang dioperasikan langsung oleh otoritas Palestina ini menjadi markas dari maskapai Palestinian Airlines. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Yasser Arafat International Airport ini mampu menangani lebih dari 700.000 penumpang setiap tahunnya dengan waktu operasional 24 jam dalam 364 hari dalam setahun. Itu berarti, bandara ini tidak pernah beristirahat dan terus melayani para penumpangnya.

Setelah menghabiskan dana senilai US$86 juta dengan waktu konstruksi selama kurang lebih satu tahun, bandara ini pun rampung. Dalam acara opening ceremony pada 24 November 1998, turut pula hadir Yasser Arafat dan Presiden Amerika kala itu, Bill Clinton. Pada waktu yang bersamaan, pembukaan bandara tersebut digambarkan sebagai bukti kemajuan Palestina dan sebuah pergerakan menuju pembangunan negara yang seutuhnya.

Adapun bandara dengan kode GZA ini sempat berhenti beroperasi selama periode intifada kedua pada 8 Oktober 2000. Intifada merupakan sebuah gerakan perlawanan warga Palestina terhadap serangan yang dilancarkan militer Israel. Intifada kedua Palestina ini lebih dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa.

Sumber: DailyMail.co.uk

Harapan besar warga Palestina akan bandara ini seakan sirna manakala Angkatan Udara Israel mengebom stasiun radar dan menara kontrol menggunakan jet F-16 pada 4 Desember 2001. Beberapa bulan berselang, tepatnya pada 10 Januari 2002, buldoser milik Israel menghancurkan landas pacu Yasser Arafat International Airport. Walaupun sudah melumpuhkan beberapa titik vital di bandara tersebut, namun staf bandara masih menangani loket pembelian tiket dan area bagasi selama periode 2001 hingga 2006. Diketahui, dalam periode tersebut, tidak ada satupun penerbangan teridentifikasi dari bandara yang terletak di Jalur Gaza, di antara Rafah dan Dahaniya, dekat perbatasan Mesir tersebut.

Geram dengan tindakan penghancuran yang dilakukan oleh pihak Israel, International Civil Aviation Organization (ICAO) mengutuk keras tindakan tersebut. ICAO menganggap tindakan tersebut sudah melanggar Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation yang merupakan bagian dari Montreal Convention di tahun 1971. Selain itu, ICAO juga mendesak Israel untuk membenahi fasilitas publik tersebut agar bisa digunakan kembali.

Sumber: DailyMail.co.uk

Namun pejabat Israel menolak desakan ICAO dan menjadikan masalah keamanan sebagai alasan utama penolakan tersebut. Israel berpendapat bahwa bandara tersebut hanya menguntungkan para diplomat dan para eksekutif yang hendak terbang, dan dianggap tidak memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi di Palestina.

Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Kini, lokasi yang pernah menjadi jendela warga Palestina untuk mengudara hanya menyisakan puing dan cerita kelam. Yasser Arafat International Airport merupakan salah satu bukti nyata dampak buruk dari peperangan, yang tidak hanya merugikan satu pihak saja, melainkan banyak kepentingan yang turut terkubur reruntuhan bangunan ini.

Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Komik Tintin karya Herge sedikit banyaknya menjadi buah bibir di Indonesia. Selain karena alur ceritanya yang cukup menggemaskan dan up to date mengikuti isu internasional, komik yang pertama kali diluncurkan pada 10 Januari 1929 atau 92 tahun yang lalu itu menjadi sorotan karena mengambil adegan (scene) di Indonesia, tepatnya di Bandara Internasional Kemayoran, Jakarta.

Baca juga: Di 1965, Garuda Indonesia dengan Convair CV-990 Lakoni Penerbangan Jakarta – Amsterdam

“There! Look! Kemajoran! … Tell me, is this or is this not Djakarta?” Merupakan salah satu dialog yang diucapkan oleh Professor Calculus kepada Captain Haddock di salah satu komik Tintin. Dalam cerita Penerbangan (flight) 714 ke Sydney, Tintin, Professor Calculus, Captain Haddock, dan anjingnya yang menggemaskan, Snowy transit di Kemajoran (Djakarta) International Airport sebelum akhirnya bertolak kembali menuju Sydney, Australia.

Walaupun ini merupakan cerita fiksi, namun setting latar yang digunakan dalam cerita ini benar-benar ada, atau bisa dibilang “pernah” ada.

Dialog dan gambar komik Tintin saat di Bandara Internasional Kemayoran. Foto: Kompasiana

Akan tetapi, tak banyak yang menyinggung, bahwa di balik segmen komik Tintin di Bandara Internasional Kemayoran, terutama saat Boeing 707 Qantas rute London-Sydney transit, tampak di kejauhan sebuah pesawat Convair 990A Coronado dengan livery yang nyaris sama dengan Qantas (warna dasar putih dengan kombinasi list merah melintang di deretan jendela) tengah terparkir di bandara. Usut punya usut, pesawat empat mesin itu ialah milik Garuda Indonesian Airways, lengkap dengan logo jadulnya.

Disarikan dari berbagai sumber, pesawat dengan nomor registrasi PK-GJC tersebut memiliki panjang sekira 42,59 meter, dengan bentang sayap mencapai 36,58 meter. Adapun kapasitas maksimal dari Convair CV-990A Coronado adalah 92-121 penumpang dengan empat awak kabin, jauh lebih sedikit ketimbang pesaingnya Boeing 707 (110-189 penumpang) dan DC-8 (105-173 penumpang).

Komik Tintin menampilkan pesawat Garuda Indonesia. Foto: Twitter

Convair CV-990A Coronado menggunakan empat buah mesin General Electric CJ805-23B turbofans, yang membuat pesawat ini mampu menembus kecepatan maksimum hingga angka 621 mph atau yang setara dengan 1.000 km per jam – kecepatan jelajah 896 km per jam, sedikit lebih cepat dibanding Boeing 707 dan DC-8.

Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956

Jika dibandingkan apple-to-apple, Convair CV-990A bisa dibilang setara dengan Boeing 707 dan Douglas DC-8. Tetapi, kabin Convair CV-990A Coronado dinilai lebih mewah dibanding dua pesaingnya itu. Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, Garuda Indonesia juga pernah menggunakan jasa dari pesawat yang hanya diproduksi sebanyak 37 unit oleh pabrikan General Dynamic asal Amerika Serikat ini.

Sekitar tahun 1965, Convair CV-990A “Majapahit” yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia melakukan penerbangan jarak jauh perdananya dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Dengan teknologi yang masih serba terbatas kala itu, maka sedikit tidak mungkin rasanya jika pesawat sekelas Convair CV-990 Majapahit milik Garuda Indonesia melakukan penerbangan langsung menuju Belanda.

Mengenal Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat: Avgas Vs Avtur, Apa Bedanya?

Layaknya kendaraan di darat, pesawat juga mempunyai beberapa varian bahan bakar. Bahan bakar tersebut dibedakan dari nilai oktannya, untuk menyesuaikan kinerja pesawat itu sendiri, entah diajak menempuh kecepatan supersonik atau kecepatan jelajah (standar kecepatan pesawat pada umumnya). Oktan yang lebih tinggi umumnya dipakai pesawat supersonik.

Baca juga: Kenali Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat Yuk!

Sejauh ini, tercatat ada dua bahan bakar pesawat yang digunakan oleh pesawat komersial maupun militer pada umumnya, yakni Avgas atau aviation gas dan Jet A1 atau yang dikenal juga dengan aviation turbine fuel (Avtur).

Sebetulnya ada jenis lainnya, melengkapi total tiga jenis bahan bakar pesawat, Avtag, Avcat, jet propellant thermally stable (JPTS). Hanya saja, bahan bakar tersebut umum di beberapa negara tertentu saja, dalam hal ini negara maju, tidak di seluruh negara di dunia.

Dilansir Simple Flying dan beberapa sumber lainnya, perbedaan Avgas dan Avtur atau Jet A1 terletak pada oktan. Avgas atau biasa juga dikenal dengan sebutan bensol memiliki kadar oktan beragam, seperti bensol biru 102 dan bensol hijau 104. Jenis bahan bakar yang juga digunakan oleh motor balap ini pada umumnya digunakan oleh pesawat propeller atau mesin piston, seperti pesawat latih dan pesawat aerobatik.

Di antara Avgas dan Avtur, juga terdapat bahan bakar pesawat jenis aviation kerosine yang biasanya dipakai oleh pesawat bermesin turbin. Mesin turbin tentu berbeda dengan mesin jet. Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Kedua bahan bakar tersebut (Avgas dan aviation kerosine) mempunyai sifat titik didih yang berbeda. Avgas merupakan oplosan minyak tanah dengan hidrokarbon cair yang kisarannya antara 32 hingga 220 derajat celsius. Sementara itu, aviation kerosine berada pada derajat yang lebih tinggi, yakni antara 144 hingga 252 derajat celsius.

Di atas keduanya ada Avtur sebagai bahan bakar yang paling banyak dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Avtur adalah bahan bakar dari fraksi minyak tanah yang dirancang khusus untuk bahan bakar pesawat terbang yang menggunakan mesin turbin atau mesin yang memiliki ruang pembakaran eksternal (External Combustion Engine).

Kinerja Avtur yang paling utama ditentukan oleh karakteristik kebersihannya, pembakaran, dan performanya pada temperatur rendah. Hal itu pulalah keunggulan Avtur atau Jet A1 dibanding Avgas. Menurut penelitian terdahulu, akhirnya ditetapkan bahwa titik beku maksimum pada suhu -47°C dan titik nyala minimum pada duhu 38°C.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa Avtur lahir berkat pengembangan dari aviation kerosine. Saat mesin turbin semakin canggih, aviation kerosine turut dimodifikasi. Misalnya, dikenal jenis Jet A, yang hanya cocok untuk mesin jet generasi pertama yang masih sederhana.

Seiring perkembangan mesin jet untuk melahap penerbangan jarak jauh dalam waktu singkat, bahan bakar Jet A atau Avtur jenis Jet A sudah tak lagi mampu mengimbangi mesin jet sehingga muncullah Jet A1. NATO menyebut Avtur ini dengan F-35. Karena Avtur begitu luas dipakai, komposisi Avtur terus dimodifikasi sesuai kebutuhan mesin. Sulit menemukan referensi yang paten menyebutkan kadar oktan Avtur, Yang pasti, oktan Avtur lebih tinggi dari Avgas dan aviation kerosine.

Mobil Golf Semi-Otonom Mudahkan Para Lansia di Desa Pegunungan Jepang

Belum lama ini masa depan perjalanan hadir di desa pengunungan terpencil di timur laut Jepang. Ini terlihat dari kehadiran mobil golf yang semi-otonom untuk menghidupkan masyarakat setempat. Hal tersebut dirasakan oleh Asa Ishikami dan melihat perubahan dalam 85 tahun hidupnya.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

“Ini benar-benar nyaman bagi saya karena saya tinggal sendiri dan tidak memiliki sarana lain untuk menempuh jarak yang agak jauh (bagi saya),” kata Ishikami.

(mainichi.jp)

Kendaraan baru ini melaju dengan kecepatan 12 km per jam dan cukup membawa masyarakat di desa tersebut bepergian ke tempat favorit mereka. KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (6/10/2020), mobil golf tersebut memiliki tujuh kursi dan menjadi mobil listrik yang pertama tanpa pengemudi serta digunakanuntuk transportasi berbayar.

Mobil golf listrik diperkenalkan pada November tahun lalu di Kamikoani, desa Prefektur Akita yang memiliki populasi hanya 2200 penduduk dan kebanyakan lansia. Meskipun dapat dengan mudah menavigasi rutenya berkat kabel induksi elektromagnetik yang diletakkan di bawah permukaan jalan, pengemudi harus membawanya melalui persimpangan dan mengendalikannya dalam situasi darurat, sehingga tidak lebih efektif dalam memotong biaya upah daripada bus yang diganti.

Didesain untuk membawa hingga lima penumpang sekaligus, kendaraan yang dijuluki Mobil Koani itu mengemudikan salah satu dari tiga rute setiap pagi pada hari kerja dengan tarif 200 yen, menghubungkan lingkungan, kantor pos, kantor desa dan klinik. Awal beroperasi, masyarakat enggan untuk naik dan jumlah penumpang meningkat secara bertahap dan melampaui target awal 15 penumpang per hari hingga Maret, menurut organisasi nirlaba yang bertanggung jawab atas layanan tersebut.

“Kami mendapat tanggapan yang baik karena banyak orang mengatakan mereka ingin layanan tersebut datang ke lingkungan mereka juga,” kata Yoshinori Hagino, yang memimpin NPO.

Pengambilan dan pengantaran kendaraan yang dikembangkan oleh Yamaha Motor Co dapat dipesan melalui telepon dan NPO juga akan memulai layanan pengiriman bagasi dalam waktu dekat. Layanan kendaraan semi-otonom diperkenalkan oleh Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata karena khawatir bahwa pengurangan layanan bus di daerah pedesaan Jepang yang sepi penduduknya akan meninggalkan masalah mobilitas besar bagi penduduk lanjut usia.

Di Kamikoani, orang yang berusia 65 atau lebih terdiri dari sekitar 53 persen dari populasi pada Mei, dibandingkan dengan angka nasional sebesar 28,7 persen pada September, rekor tertinggi. Dengan sedikit bus yang beroperasi dan tidak ada supermarket di desa, penduduk dapat menemukan diri mereka sendiri tanpa akses ke kebutuhan pokok jika mereka tidak mengemudi, menurut penduduk setempat.

Desa tersebut adalah yang pertama memulai layanan penumpang aktual di antara 18 wilayah pegunungan di mana kementerian transportasi telah melakukan uji coba mengemudi semi-otomatis sejak 2017. Pemerintah nasional bertujuan untuk membantu meluncurkan layanan serupa di setidaknya 40 lokasi di seluruh negeri pada tahun fiskal 2025, dengan satu yang berjalan di jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi yang dijadwalkan akan dimulai pada tahun fiskal saat ini di Prefektur Fukui, Jepang tengah.

Namun, pengoperasian di Kamikoani menunjukkan bahwa layanan semacam itu tidak dapat berjalan tanpa dukungan keuangan dari pemerintah. Para pejabat mengatakan, sementara warga berharap rute akan diperluas untuk mencakup lebih banyak area, dibutuhkan investasi awal yang besar untuk memasang kabel induksi penting.

Kendaraan ini sepenuhnya otonom untuk sekitar satu kilometer dari rute dua hingga lima kilometer tetapi juga mengharuskan orang untuk berjaga-jaga untuk memastikan kendaraan pribadi tidak memasuki bagian jalan tempat kendaraan beroperasi di bawah kendalinya sendiri.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

“Layanan semacam ini harus menjadi pemandangan umum di masa depan,” kata Hagino dari NPO, sambil mengakui bahwa masih ada ruang untuk perbaikan. “Kami berharap menjadi pelopor,” ujarnya.

Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Inggris memainkan peranan penting dalam percaturan industri penerbangan global di tahun 40-60an. Pesawat jet komersial pertama dunia, de Havilland Comet, mungkin jadi salah satu bukti. Tak hanya itu, Inggris juga membuka jalan dimulainya era penerbangan turboprop -sebagai pengganti mesin piston yang berisik dan banyak getaran- melalui pengembangan pesawat turboprop pertama di dunia, Vickers Viscount.

Baca juga: De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Dikutip dari baesystems.com, penerbangan perdana Vickers Viscount dimulai pada Juli 1948 melalui prototipe tipe 630. Saat itu, pesawat dengan nomor registrasi G-AHRF ini hanya diperbolehkan oleh Komite Brabazon -komite yang dibentuk oleh pemerintah Inggris pada tahun 1942 untuk menganalisis kebutuhan masa depan pasar pesawat sipil Inggris setelah Perang Dunia II- sebanyak 24 kursi. Namun, setelah prototipe Vickers Viscount tipe 630 sukses terbang, kapasitasnya ditingkatkan menjadi 32 penumpang dengan panjang pesawat hingga 22 meter lebih.

Keberhasilan prototipe Vickers Viscount tipe 630 bersama mesin turboprop Rolls-Royce Dart pun mengundang perhatian dunia. Pasalnya, sebelum Vickers Viscount datang, umumnya pesawat masih menggunakan mesin piston yang tak ramah penumpang. Walaupun masih butuh beberapa perbaikan, Vickers Viscount sebagai pesawat dengan mesin turboprop pertama di dunia kala itu digadang-gadang bakal menggantikan Douglas DC-3 yang dinilai usang.

Belum usai prototipe Vickers Viscount tipe 630 dengan mesin turboprop Rolls-Royce Dart, prototipe kedua Viscount tipe 663 dengan mesin jet Rolls-Royce Tay tak lama berselang siap mengudara. Prototipe ini didapuk sebagai test-bed untuk mengembangkan pesawat Vickers Valiant dengan mesin jet. Maklum, saat itu, perlombaan pengembangan pesawat jet komersial pertama di dunia cukup ketat, dengan saingan terberat datang dari rekan se-negara, De Havilland.

Prototipe Vickers Viscount G-AHRF dengan livery British European Airways (BEA). Foto: baesystems.com

Setelah berdiskusi dengan British European Airways (BEA) sebagai mitra utama Vickers-Armstrongs (pabrikan Vickers Viscount), varian turboprop akhirnya lebih diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan. Maskapai Inggris itu pun akhirnya memesan 26 pesawat Vickers Viscount tipe 700, dengan penambahan 47 hingga 53 kursi, jauh lebih besar dari dua tipe sebelumnya.

Penambahan kapastitas kursi tentu menuntut Vickers untuk menambah panjang pesawat menjadi sekitar 25 meter dari semula hanya 22 meter. Setelah menanti beberapa tahun, pada 28 Agustus 1950 protoripe Vickers Viscount tipe 700 pun berhasil terbang perdana. Prototipe dengan nomor registrasi G-AMAV inilah yang semakin meyakinkan dunia akan datangnya era pesawat turboprop yang lebih efisien, minim getaran, dan halus.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 18 April 1953, Vickers Viscount BEA dengan nomor registrasi G-AMNY mulai masuk ke dalam layanan dengan menempuh rute London-Siprus. Momen itu pun mengukuhkanya sebagai layanan berjadwal turboprop pertama di dunia.

Dalam rentang 1948 -1963, sebanyak 445 Vickers Viscount diproduksi. Dengan jumlah tersebut, Vickers Viscount menjadi pesawat pertama yang sukses dan menguntungkan setelah Perang Dunia II. Pelanggan terbesar tentu datang dari maskapai domestik sebanyak 77 unit. Sisanya, tersebar di 40 negara melalui lebih dari 60 operator. Umumnya, Eropa dan Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar Vickers Viscount.

Baca juga: 55 Tahun Lalu, Antonov An-22 Antei, Turboprop Terbesar di Dunia Terbang Perdana

Ada lima varian berbeda Vickers Viscount yang diproduksi. Mulai dari tipe 630, tipe 663, tipe 700 series, serta tipe 800 series dan tipe 810 series yang lebih panjang. Dari kesemuanya itu, tipe 700 series adalah yang tersukses, dengan total penjualan sebanyak 287 unit.

Dengan jangkauan maksimum mencapai 3.218 km, kemampuan melesat hingga 510 km per jam, serta ketinggian terbang mencapai 6.400 m, Vickers Viscount menjadi benar-benar menjadi idola baru maskapai di seluruh dunia, terutama untuk layanan regional. Penerbangan minim getaran dan nyaman menjadi daya tarik utama penumpang terhadap pesawat ini, melalui mesin turboprop serta jendela yang jauh lebih besar dari yang ada saat itu.

Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis

Sepeda saat ini tengah menjadi transportasi pilihan di kala pandemi juga baiknya memiliki kelengkapan yang cukup bagi pengendaranya. Salah satunya adalah penambahan lampu depan atau belakang atau keduanya. Lampu ini untuk memudahkan pengendara lainnya mengetahui ada pengendara sepeda di depannya.

Baca juga: Sambil Gowes, Iwind Bikin Pesepeda Mampu Menghirup Udara Murni

Baru-baru ini sejumlah lampu sepeda pintar tersedia dan bisa menyala secara otomatis saat keadaan di luar gelap. Lampu ini dilengkapi dengan sistem ioLight di mana bisa menunjukkan pengendara sepeda akan berbelok seperti pengguna sepeda motor.

Untuk penggunaannya, lampu akan menyala karena dipicu oleh koordinat GPS pengguna. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (1/9/2020), lampu ini besutan produsen lampu sepeda yang berbasis di Los Angeles Lumenus. Di mana perusahaan ini pernah menghadirkan jaket bersepeda dengan lampu sein terintegrasi.

Sistem ioLight ini bisa dengan mudah digunakan melalui tambahan di aplikasi pada Android atau iOS yang bisa mengubah warna LED lampu depan yang putih atau lampu merah di belakang menjadi lainnya. Untuk menggunakan lampu ini, pengguna sebelum berangkat bisa memulai dengan menggunakan aplikasi dan memasukkan tujuan mereka.

Kemudian perangkat lunak akan memilih rute ramah bersepeda tercepat dari lokasinya saat ini ke tujuan. Cara kerjanya pun mudah, ketika pengguna mulai mengayuh, aplikasi akan secara otomatis memberi tahu jika ada belokan di jalanan depan dengan cara berurutan memflash strip lampu ke depan ke arah belokan.

Tak hanya itu, lampu di bagian belakang juga akan ikut berkedip ke arah yang sama. Sehingga dengan kedipan lampu di sepeda membuat para pengendara lainnya sadar akan jalanan yang ditempuh pesepeda.

Jika pengguna ingin mengganti aplikasi, maka mereka dapat mengubahnya secara manual dengan mengaktifkan atau menonaktifkan fungsi sinyal belok (di kedua lampu) serta menekan tombol di kedua sisi lampu depan. Namun jika mereka menggunakan pintasan di luar peta atau tidak ingin sepenuhnya mengikuti rute yang dipetakan, maka perubahan itu akan dicatat oleh aplikasi, dan kemudian dapat dimasukkan ke dalam sinyal belok otomatis pada perjalanan berikutnya.

Selain itu, setiap kali pengendara mendekati area yang “rumit” seperti persimpangan atau bundaran, lampu depan secara otomatis akan menyala untuk memastikan mereka diperhatikan. Tak hanya itu, setiap kali pengendara sepeda menginjak rem, sensor gerak di lampu belakang mendeteksi perlambatan dan merespons dengan berdenyut.

Baca juga: Masih Belum Berminat? Sepeda Listrik Xiaomi Ini Bisa Dilipat Seukuran Ransel!

Lampu juga dapat dibeli secara terpisah dan digunakan sebagai lampu depan atau belakang standar, tanpa aplikasi. Keduanya memiliki output 200 lumens, tahan air dan debu IPX5, memiliki visibilitas 360 derajat, dan dilaporkan dapat bekerja selama lebih dari 30 jam per pengisian baterai lithium 3,7 volt atau 2200 mAh.

Sebagai bonus tambahan, mereka bersinar dalam gelap bahkan saat dimatikan. Dua paket yang terdiri dari kedua lampu dengan harga US$160. Setelah itu, harganya akan naik menjadi US$200.