Geser Gorakhpur, Stasiun Hubballi Bakal Jadi Stasiun dengan Peron Terpanjang di Dunia

Stasiun Gorakhpur pada 6 Oktober 2013 mendapat gelar sebagai stasiun dengan peron terpanjang di dunia, dan langsung diajukan ke Guiness Book of Records untuk diverifikasi tingkat dunia. Pasalnya Stasiun Gorakhpur memiliki panjang peron 1,36 kilometer. Namun ternyata akan ada lagi stasiun di India lain yang akan melengserkan gelar itu dari Stasiun Gorakhpur yakni Stasiun Hubballi.

Baca juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Stasiun ini memiliki lima peron yang akan ditingkatkan menjadi delapan untuk memudahkan pergerakan kereta. Saat ini peron terpanjang dari peningkatan tersebut sedang dalam tahap akhir dan kemungkinan akan diresmikan oleh Perdana Menteri Narendra Modi dalam waktu dekat. Peron yang diperpanjang adalan peron No. 1 menjadi 1.505 meter, stasiun tersebut akan menggeser stasiun Gorakhpur, di bawah Zona Kereta Api Timur Laut, yang memiliki panjang platform 1.366 meter.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newindianexpress.com (21/3/2021) peron No. 1 tersebut awalnya memiliki panjang 550 meter dan dinaikkan seribu meter sehingga menjadi 1.505 meter dan lebar sepuluh meter. Peron terpanjang ini juga dirancang untuk menampung dua kereta sekaligus. Pada track terpanjang ini akan terdapat dua platform yaitu platform No.1 dan platform No.8.

Untuk memfasilitasi penumpang ke platform No.8, pintu masuk ketiga akan dibuka dan adanya stasiun kereta Hubballi ini akan menjadi salah satu dari sedikit stasiun di tanah air yang memiliki tiga gerbang masuk. Menjadi markas besar zona Kereta Api Barat Daya, persimpangan Hubballi belum melihat perkembangan apa pun.

Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak pekerjaan pembangunan telah dimulai seperti pintu masuk utama stasiun telah dibangun sebagai stasiun kereta api model. Stasiun kereta api menghubungkan banyak kereta penumpang dan barang setiap hari dari banyak negara bagian. Karena kurangnya platform, kereta seharusnya menunggu di Stasiun Selatan Hubballi dan di jalur Dharwad.

Kepala Humas SWR E Vijaya mengatakan untuk mengatasi masalah peron dan untuk menangani elektrifikasi dan pekerjaan sipil lainnya, SWR telah menyelesaikan renovasi stasiun kereta api dengan biaya Rs 90 crores. Pembangunan platform terpanjang, pembangunan full yard, persinyalan, pekerjaan listrik, pintu masuk ketiga dan pekerjaan sipil lainnya adalah bagian dari proyek tersebut.

Baca juga: Setelah 56 Tahun, Stasiun Bow Street Dibuka Pertama Kali

“Pekerjaan konstruksi platform terpanjang di dunia sedang dalam tahap penyelesaian yang akan memakan waktu selama seminggu. Segera setelah rampung, kantor pusat akan menerima panggilan peresmian peron tersebut,” ujarnya.

Dalam pembangunan untuk peningkatan di Stasiun Hubballi, dana yang dihabiskan sekitar Rs90 crore.

Kecanduan Film Porno, Petugas Kebersihan Kereta India Simpan Spycam di Toilet

Petugas kebersihan yang bekerja di kereta Badra menuju Bhagat ki Kothi diamankan oleh pihak kepolisian. Dia diduga memasang spycam atau kamera mata-mata di dalam toilet untuk mengambil gambar wanita yang menggunakan toilet di kereta ketika mereka bepergian.

Baca juga: Ketangkap Basah! Pria Paruh Baya Kedapatan Foto Penumpang Wanita yang Tengah Tertidur di MRT

Laporan ini diajukan ke polisi kereta Mehsana pada 17 Maret lalu yang mana insiden ini sendiri terungkap pada empat hari sebelumnya atau 13 Maret. Insiden ini terungkap karena seorang perwira Angkatan Udara India menemukan kamera ketika dia menggunakan toilet.

Dalam laporan itu menyebutkan bahwa penumpang pertama kali melihat spycam yang terpasang dengan powerbank di dalam tempat sampah toilet. Ketika dirinya bertanya tentang hal tersebut pada Zaheeruddin Shaikh selaku petugas kebersihan, Shaikh mengatakan bahwa dia tidak mengetahui hal tersebut dan membawa kamera serta powerbank bersamanya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (22/3/2021), setelah beberapa saat, perwira itu kembali bertanya perihal spycam dan Shaikh mengatakan bahwa dia tak memiliki wewenang untuk menyelidiki dan mengambil tindakan. Kemudian dia membawa spycam tersebut pada pemeriksa tiket perjalanan (TTE).

Shaikh memberi tahu kepada TTE terkait insiden tersebut. Salim Bagwala seorang TTE yang bertugas di kereta itu kemudian menghubungi pihak kepolisian kereta api dan menceritakan insiden tersebut. Hal ini kemudian membuat Pasukan Perlindungan Kereta Api atau RPF menyelidiki hal tersebut.

Selain itu kasus ini juga diajukan ke polisi Mehsana dan saat Shaikh diinterogasi terkait kejadian itu, dirinya terbata-bata saat menjawab. Pada pemeriksaan lanjutan, petugas kebersihan tersebut mogok di depan polisi dan akhirnya mengakui kejahatan yang dilakukannya.

Dia mengatakan kepada polisi bahwa dirinya membeli kamera dan powerbank senilai Rs2000 dari toko dekat Stasiun Ghatkopar. Dia mengaku bahwa kecanduan menonton film porno sehingga menempatkan kamera tersebut di toilet.

Baca juga: Penumpang Tandai Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta dengan Stempel Anti-Groping

Shaikh juga mengaku hal ini dilakukan agar dirinya bisa merekam video setiap kali ada wanita yang masuk dalam toilet. Karena tindakannya ini, polisi mendakwa Shaikh dengan tuduhan voyeurisme dan memulai penyelidikan.

Waduh, Pesawat Pribadi Trump Dibiarkan Mangkrak! Alasannya Bikin Geleng-geleng

Pesawat Boeing 757-200 milik Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump, dilaporkan mangkrak. Jet pribadi favorit Trump itu dibiarkan rusak di Bandara Orange County, New York, dan harus dilakukan perbaikan besar agar pesawat bisa kembali beroperasi normal.

Baca juga: Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Sebelum dilantik menjadi Presiden AS ke-45 pada 20 Januari 2017, pesawat pribadi favorit Trump yang dilengkapi fasilitas kamar tidur pribadi, TV 57 inci, serta seatbelt belapis emas 24 karat tersebut merupakan pesawat andalan ia dan keluarga bepergian kemanapun, baik untuk tujuan bisnis maupun pariwisata.

Usai dilantik menjadi Presiden AS, pesawat yang dibeli pada tahun 2011 berkapasitas 43 penumpang itu masih kerap digunakan untuk mendukung operasional binsis perusahaan milik Trump sampai tahun 2019 silam. Setelah itu, barulah, pesawat dengan nomor registrasi N757AF itu digrounded jangka panjang di Bandara Internasional Newburgh-Stewart di Orange County, New York, AS.

Selama di-grounded cukup lama, pesawat yang oleh Trump disebut sebagai T-bird ini tak mendapat perawatan dengan baik. Entah mengapa. Sebagian pihak, ketika itu, berpendapat bahwa Trump begitu yakin bahwa dirinya bakal kembali menempati Gedung Putih, sehingga tak begitu mempedulikan pesawat yang kerap disebut Trump Force One ini. Sebab, bila ia kembali melenggang ke Gedung Putih, otomatis, operasionalnya akan disokong oleh Boeing 747 Air Force One.

Setelah Trump dipastikan kalah dari Joe Biden, praktis, salah satu pesawat pribadi termewah itu mau tak mau akan kembali jadi andalan. Tetapi, nyatanya, pesawat justru dibiarkan mangkrak sampai rusak berat oleh Trump.

Sejumlah sepekulasi pun beredar. Beberapa curiga bahwa Trump bangkrut dan kehabisan uang. Namun, itu hanya spekulasi. Bila berkaca pada laporan The Hill, mengutip dari laman Trump Organization, alasan jet pribadi Trump dibiarkan rusak ialah karena biaya operasionalnya mahal. Hal itu pun diperkuat dengan pengakuan salah satu sumber.

“Menerbangkan benda itu sangat mahal. Saya tidak berpikir orang-orang menyadari bahwa hanya dengan mengangkatnya di udara dan membuat satu pemberhentian secara harfiah berarti puluhan ribu dolar,” kata sumber CNN Intenational.

Analis penerbangan CNN, David Soucie mencatat bahwa mengoperasikan Boeing 757 dapat menelan biaya mulai dari US$15.000 hingga US$18.000 atau sekitar Rp260 juta (kurs 14.371) per jam.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Boeing 757 Terbang Perdana Saat Berkecamuk Krisis Minyak Global

“Ini adalah mesin yang lebih tua dan ketersediaan suku cadang menjadi tantangan sehingga biaya pengoperasian naik secara signifikan. Sebagian besar maskapai menghentikan 757 karena model yang lebih hemat biaya sekarang tersedia,” jelasnya.

Sebagai gantinya, mobilitas Trump didukung oleh pesawat Cessna 750 Citation X tahun 1997. Meski pesawat itu bukanlah favoritnya, namun, menerbangkan pesawat dengan kapasitas sembilan penumpang ini adalah pilihan yang paling rasional.

Untuk Kunjungan Singkat di Singapura, Bandara Changi Siapkan Fasilitas Khusus Pelancong Bisnis

Inisiatif baru dilakukan oleh Bandara Changi untuk pelancong bisnis yang melakukan kunjungan singkat di Singapura. Di mana fasilitas percontohan jangka pendek ini memberikan keamanan antar pelancong internasional dan penduduk Singapura yang melakukan bisnis. Nantinya fasilitas ini dibangun secara khusus sehingga pelancong bisa tinggal hingga 14 hari dan bisa melakukan pertemuan secara leluasa tanpa karantina ketika mereka tiba.

Baca juga: Pembukaan Bandara Changi, ‘Hidup Mati’ Bagi Penerbangan dan Wisata Singapura

Dilansir KabarPenumpang.com dari futuretravelexperience.com, fasilitas ini letaknya dekat dengan Bandara Changi dan menawarkan pengalaman ‘uji-tinggal-kerja-bertemu’ untuk pelancong bisnis yang datang. Berdasarkan skema ini, pelancong dapat bertemu di Singapura di fasilitas yang ditentukan tapi harus tetap berada dalam fasilitas ini selama mereka menginap. Tak hanya itu, pelancong juga harus menjalasi tes Covid-19 secara rutin.

Kamar tidur di fasilitas khusus yang disediakan Bandara Changi (futuretravelexperience.com)

Saat ini fasilitas tersebut memiliki 150 kamar premium dan 40 ruang pertemuan yang tersedia. Nantinya dengan fasilitas ini, diharapkan bisa menampung 1.300 pelancong bisnis ketika selesai sepenuhnya akhir tahun ini. Proyek fasilitas khusus tersebut merupakan bagian dari inisiatif Connect @Singapore yang dikembangkan oleh konsorsium Singapura yang dipimpin oleh Temasek Holding.

“Kami bekerja sama dengan mitra kami untuk merancang arus yang lancar dan mulus bagi para pelancong Connect @ Changi saat mereka tiba. Dengan dukungan dari Immigrations & Checkpoints Authority, kami dapat mengidentifikasi penumpang yang bepergian dengan program ini saat mereka keluar dari area izin imigrasi. Ini membantu kami memastikan bahwa mereka dikawal dengan aman dan diangkut ke fasilitas Connect @ Changi setelah uji Covid-19 di Fasilitas Pengujian Changi,” jelas Sim Peiwen, Manajer Senior tim Arrival Experience Bandara Changi.

Peiwen menambahkan, pengalaman keberangkatan juga dirancang agar aman dan mulus. Dia menyebutkan, pihaknya juga bekerja sama dengan Ascott sehingga dapat dengan aman mengangkut pelancong Connect @ Changi dari fasilitas ke konter check in dan mengawal ke Imigrasi Keberangkatan untuk penerbangan mereka.

Bandara Changi juga telah meningkatkan pengalaman ritel dan makanan & minuman sebagai bagian dari Connect @ Changi, dengan memperkenalkan berbagai pilihan bersantap dan berbelanja untuk para tamu. Melalui layanan pengiriman makanan Bandara Changi, Changi Eats, para tamu dapat menikmati masakan lokal dan internasional dari pilihan hingga lima restoran dan outlet di Bandara Changi dan Bandara Jewel Changi.

Selain itu, mereka dapat berbelanja berbagai produk bebas bea bandara melalui iShopChangi.com, dengan pengambilan dilakukan di bandara sebelum penerbangan mereka. Tamu Connect @ Changi juga bisa mendapatkan rekomendasi belanja yang dipersonalisasi melalui Changi Shopping Concierge, layanan chat-to-buy.

Baca juga: Kalau ke Bandara Changi Jangan Lupa Coba Glamour Camping

“Kami bertujuan untuk memberikan pengalaman berbelanja yang bebas stres bagi penumpang kami. Melalui layanan Pramutamu Belanja Changi, para tamu Connect @ Changi dapat melihat-lihat rangkaian produk Changi dari kenyamanan kamar mereka dan melihat item dari dekat secara real time melalui video call WhatsApp.

Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?

Terletak di bagian paling bawah bumi, Antartika adalah benua terbesar kelima dan jadi tempat terdingin di bumi. Karena cuacanya tidak ramah untuk dijadikan tempat tinggal serta populasi dan mobilitas yang tak sesibuk kota besar di seluruh dunia, hampir mustahil benua tersebut membutuhkan penerbangan domestik. Tetapi, fakta justru sebaliknya. Antartika mempunyai penerbangan domestik.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Benua beku Antartika di Kutub Selatan masih menyimpan misteri alam yang menunggu dieksplorasi. Antartika adalah satu-satunya tempat di Bumi yang tidak dimiliki siapapun atau negara manapun. Juga, tidak pernah memiliki sejarah dimiliki penduduk asli.

Berdasarkan perjanjian Antartika, tanah dan sumber daya yang ada hanya boleh digunakan untuk tujuan perdamaian dan ilmiah. Terdapat lebih 60 pusat sains di Antartika yang didirikan 27 negara. Salah satunya Norwegia.

Dilansir Simple Flying, Negara Nordik itu mengklaim Queen Maud Land berada di bawah otoritas mereka. Namun, glacial blue ice runway atau landasan pacu biru yang berada di wilayah tersebut tetap terbuka untuk umum, dalam hal ini tim peneliti dari seluruh dunia; di antaranya dari International Polar Foundation (IPF) yang berbasis di Brussels, Belgia, dimana mereka mengoperasikan Stasiun Penelitian Princess Elisabeth Antartika (PEARS) yang terletak di Utsteinen Nunatak, Queen Maud Land.

http://https://www.youtube.com/watch?v=VSvuyHnIzLc

Untuk mencapai PEARS, sudah pasti para peneliti dari IPF harus mendarat di glacial blue. Kebanyakan dari mereka ataupun tim peneliti serta wisatawan yang tiba di Antartika tiba di sana dengan menumpangi pesawat Ilyushin 76 TD-90 buatan Rusia yang dioperasikan oleh maskapai Antarctic Logistics Center International (ALCI).

Jadi, bagi Anda yang penasaran bagaimana cara ke Antartika dan sangat berminat untuk bisa ke sana, ALCI bisa mengantar Anda ke sana. Hanya saja biaya tidak disebutkan dengan detail.

Yang pasti, ALCI hanya melayani penerbangan internasional selama enam jam, dari Cape Town International Airport (CPT) di Afrika Selatan ke Pangkalan Udara Novolazarevskaya (Novo) di Antartika saat musim panas. Sebab, pada musim dingin, posisi Antartika menjauh dari matahari sehingga selalu diselimuti gelap dan suhu dingin ekstrem.

Mengingat benua ini cukup besar, mencapai 14,2 juta km persegi, jauh lebih luas dari Benua Australia sebesar 8,6 juta km persegi, sudah pasti banyak titik dijadikan lokasi penelitian. Karena perjalan via darat atau mungkin laut cukup ekstrem dan tidak efisien, alhasil, dibutuhkan penerbangan domestik dari bandara atau pangkalan udara Antartika ke titik-titik penelitian. Itulah alasan mengapa ada penerbangan domestik di Antartika.

Baca juga: Begini Foto Antartika Pertama pada 119 Tahun Lalu Lewat Balon Udara

Setibanya di Pangkalan Udara Novo milik Rusia, tim peneliti yang ingin ke PEARS akan diantar maskapai Kenn Borek Air yang berbasis di Calgary, Kanada, menggunakan pesawat Basler BT-67, sebuah pesawat berkapasitas 18 penumpang yang dinilai sangat mirip dengan Douglas DC-3, selama satu jam perjalanan dan mendarat di Troll Airfield (di bawah otoritas Norwegia) dekat PEARS. Pesawat ini digadang tangguh di segala kondisi, dari mulai wilayah terdingin sampai terpanas di bumi.

Sayangnya Troll Airfield tidak dilengkapi dengan Sistem Pendaratan Instrumen (ILS), sehingga pilot mengandalkan visual flight rules (VFR) untuk mendaratkan pesawat, selain tetap mengandalkan sejenis papan ski mengelilingi landing gear. Itu berarti, bila cuaca tidak bersahabat, mau tak mau penerbangan harus delay selama beberapa hari.

Aksi Awak Kabin Emirates Tuai Pujian, Selamatkan Nyawa Penumpang dalam Penerbangan

Rasanya pahlawan tanpa tanda jasa tak hanya bisa disematkan pada seorang guru, tetapi bagi para awak kabin pun sepertinya bisa. Pasalnya kisah mengharukan belum lama terjadi dalam sebuah penerbangan Emirates dari Dubai menuju Chennai di India.

Baca juga: Viral! Cerita Pramugari Tangani Penumpang Meninggal di Pesawat, Bikin Ngeri

Di mana ada empat orang awak kabin yang tak disebutkan namanya menyelamatkan nyawa seorang penumpang. Bahkan aksi heroik mereka diabadikan oleh penumpang lainnya dan membagikan ke platform jaringan online profesional LinkedIn.

KabarPenumpang.com melansir laman gulfnews.com (21/3/2021), Emirates mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada penerbangan EK 544 pada 19 Maret 2021. Dalam sebuah pernyataan, Emirates mengatakan “seorang penumpang merasa tidak sehat dan anggota awak kabin kami segera memberikan bantuan medis kepada penumpang dengan mengikuti protokol standar”.

Para awak kabin ini berhasil membantu penumpang itu pulih dan tiba di Chennai dengan kondisi sehat. Penumpang yang membagikan kejadian itu di LinkedIn bernama Naren Balasubramaniam yang juga berada di dalam pesawat dan menyaksikan aksi heroik para awak kapal di tengah pandemi Covid-19. Dalam postingannya dia mengatakan berbesar hati melihat kru menyelamatkan penumpang.

“Hari ini ketika saya melakukan perjalanan ke Chennai dengan berat hati karena kehilangan ayah saya karena Covid, saya sangat berbesar hati menyaksikan awak penerbangan menyelamatkan nyawa seorang penumpang yang jatuh pingsan di tengah penerbangan dan berhenti bernapas. Mereka luar biasa, tetap tenang, bergerak cepat, memiliki rantai komando yang jelas dengan empat anggota kru mengikuti protokol langkah demi langkah menyediakan dukungan oksigen, melakukan prosedur CPR di tengah penerbangan,” kata postingannya.

“Ini dia untuk pahlawan yang tidak disebutkan namanya, dua anggota kru yang sederhana dan rendah hati dari empat orang itu. TERIMA KASIH karena telah menyelamatkan nyawa!” Ia menambahkan, sembari membagikan foto dua awak tersebut.

Emirates mengatakan, semua awak kabinnya menjalani program pelatihan komprehensif yang mempersiapkan mereka untuk mengenali dan menangani peristiwa medis selama penerbangan.

“Kesehatan dan keselamatan pelanggan dan kru kami adalah yang paling penting bagi kami,” ujar maskapai itu.

Baca juga: Kala Virus Kolera Serang Ratusan Penumpang Pesawat Lewat Makanan dari Maskapai

Sementara itu, postingan Naren mengumpulkan ribuan suka dan ratusan komentar. Beberapa orang mengambil kesempatan untuk menyoroti bahwa awak kabin maskapai penerbangan sering kali menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dan merayakan kontribusi mereka sebagai pejuang garis depan selama pandemi.

Stop Proyek Kereta Cepat, Singapura Bangun Pusat Pengujian Kereta Terintegrasi

Pusat Pengujian Kereta Terintegrasi (ITTC) baru di Tuas, Singapura akan menjadi salah satu yang pertama di dunia. Nantinya ini dapat menguji berbagai kereta api dan sistemnya pada saat bersama tanpa mengganggu layanan penumpang reguler.

Baca juga: Mampir ke Singapura, Pecinta Kereta Api Jangan Lupa Telusuri Jalur Tersembunyi “The Lost Railway to Jurong”

Pembangunan ITTC dimulai pada Rabu, (17/3/2021) dan merupakan langkah lebih lanjut dalam memperkuat sistem MRT di Singapura. Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan pusat ini yang pertama di Asia Tenggara dan berada di atas lahan seluas 50 hektar bekas Raffles Country Club yang tadinya diakuisisi untuk proyek rel kecepatan tinggi Kuala Lumpur menuju ke Singapura yang dihentikan.

Pembangunan ini pertama kali diumumkan pada 2019 dengan tender senilai $639,5 juta untuk merancang dan membangun ITTC yang diberikan tahun lalu kepada perusahaan Korea Selatan GS Engineering. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (18/3/2021), Ong mengatakan, kapasitas pengujian kereta Singapura akan ditingkatkan beberapa kali dengan pusat khusus yang mereplikasi kondisi aktual di jalur operasional.

Pengujian dapat dilakukan sepanjang waktu, membebaskan jam teknis terbatas untuk pekerjaan pemeliharaan dan pembaruan lainnya. Ini berarti lebih sedikit ketidaknyamanan bagi komuter karena mengurangi kebutuhan untuk penutupan lebih awal dan pembukaan stasiun yang terlambat.

“Pengujian sekarang dilakukan di depo dan di jalur utama saat kereta tidak beroperasi, yang menambahkan hingga sangat sedikit jam di larut malam”, kata Ong.

Sementara itu, pengujian kereta baru membutuhkan waktu beberapa tahun karena perlu diuji dengan sistem persinyalan dan komunikasi masing-masing. Tes ini hanya bisa dilakukan di luar negeri. Dengan adanya ITTC, pengujian bisa dilakukan saat jalur MRT masih dibangun dan depo belum siap.

“Dengan melakukan tes di sini, kami lebih mampu memecahkan masalah, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah tumbuh gigi lebih awal untuk memastikan keandalan,” kata Ong.

ITTC diatur untuk diselesaikan dalam dua tahap yang mana fase pertama diharapkan siap pada akhir tahun depan, pada waktunya untuk menerima dua kereta Circle Line Stage 6 baru yang akan dikirim pada awal 2023. Ong mengatakan, pusat ini juga akan membantu membangun kemampuan teknik perkeretaapian lokal dengan memungkinkan para insinyur dari Land Transport Authority (LTA), operator kereta api dan pabrikan peralatan asli (OEM) untuk bekerja erat pada platform pengujian dan pemeliharaan umum.

Harapannya adalah bahwa ITTC akan mendorong lebih banyak OEM untuk mendirikan toko di sini, menghasilkan dukungan yang lebih tepat waktu dan hemat biaya. LTA mengatakan ITTC akan mendukung pengujian dan commissioning kereta api dan sistem kereta api untuk jalur kereta api baru dan yang sudah ada.

Baca juga: Wanita Nyentrik Bikin Penumpang Kereta dan Media Sosial Singapura Tertawa

Trek pada ITTC dirancang agar dapat mengakomodasi semua jenis sistem persinyalan dan komunikasi yang digunakan di seluruh jaringan MRT. Selain itu, pusatnya telah dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi energi. Separuh dari kebutuhan energinya akan dipenuhi oleh panel surya. Ini juga akan menggunakan lampu LED dan sistem chiller terpusat.

 

 

3 Kali Tersandung Tangga Pesawat, Joe Biden Kenapa Tidak Pakai Eskalator Seperti Raja Salman?

Tersandung tangga saat hendak naik ke pesawat mungkin hal biasa kebanyakan orang. Namun, tidak demikian bagi seorang Presiden Amerika Serikat Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Insiden Biden tersandung di tangga pesawat pun menjadi pembicaraan hangat avgeek dan bertanya-tanya, mengapa sekelas presiden negara adidaya tidak menggunakan eskalator agar tak bersusah payah naik tangga untuk masuk ke dalam pesawat?

Baca juga: Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

Dilansir Independent, Presiden AS, Joe Biden, hendak terbang menuju Atlanta, Georgia, guna mengunjungi lokasi penembakan yang menewaskan delapan orang etnis Korea, dan mencoba menenangkan masyarakat setempat yang resah atas tindak kekerasan rasial.

Namun, insiden kecil pun terjadi. Biden, yang sudah berusia 78 tahun kedapatan tersandung anak tangga. Bukan satu, tetapi sampai tiga kali. Kekhawatiran publlik atas kesehatan Presiden AS ke-46 pun muncul. Terlebih, Biden juga salah ucap dengan menyebut Wakil Presiden Kamala Harris sebagai “Presiden Harris”. Tetapi, hal itu (kekhawatiran terhadap kesehatan Biden) segera dibantah.

Menurut keterangan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, Biden dalam kondisi baik-baik saja. Selain itu, mantan wakil presiden di era Presiden Barrack Obama itu juga tidak mengalami cedera apapun.

Karine pun membeberkan, Joe Biden tersandung anak tangga saat hendak naik pesawat kepresidenan Air Force One bukan karena ada masalah pada kesehatan, melainkan karena kondisi saat itu sedang diterpa angin kencang.

“Saat itu kondisi angin sangat kencang. Saya sendiri juga hampir tersandung. Beliau (Biden) sehat seratus persen dan baik-baik saja,” jelasnya.

Belajar dari insiden itu, avgeek pun memberi solusi agar Air Force One dilengkapi dengan tangga otomatis atau eskalator. Sebab, andai ini dilakukan, hampir dipastikan kalau Joe Biden tidak akan pernah lagi tersandung anak tangga saat ingin naik pesawat.

Lagi pula, di usia yang tidak lagi muda, tidak ada salahnya bila Joe Biden menggunakan tangga eskalator. Terlebih, hasil jajak pendapat, warga AS banyak yang tidak percaya dengan kesehatan Biden.

Menurut hasil jajak pendapat yang digelar lembaga riset Rasmussen pada bulan ini, setengah dari penduduk AS tidak yakin Biden bisa melaksanakan tugas sebagai presiden ditinjau dari kondisi fisik dan mental.

Pada November 2020 lalu tulang kaki Biden retak saat bermain dengan anjing peliharaannya, Major. Alhasil dia harus mengenakan sepatu bot selama beberapa pekan.

Apabila Joe Biden nantinya menggunakan tangga otomatis atau eskalator untuk menaiki pesawat, tentu ia bukan pemimpin pertama di dunia.

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Raja Salman tercatat pernah menggunakan eskalator saat menaiki pesawat. Pada, Rabu (1/3/2017), pesawat Boeing 747-400 Saudi Arabian berkelir krem dan putih yang membawa Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Raja yang ketika itu sudah menginjak usia 81 tahun itu turun dari pesawat menggunakan eskalator. Bahkan, ketika eskalator rusak pun ia menggunakan lift portable (hi lift catering truck) untuk turun dari pesawat alih-alih menggunakan tangga.

Total Loss Jadi Alasan Pesawat Kargo Trigana Air yang Tergelincir ‘Dipotong-potong’

Pesawat kargo Trigana Air Boeing 737-500 yang tergelincir hingga keluar landasan saat mendarat sekitar pukul 11.26 WIB, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu lalu, akhirnya dipotong-potong. Hal itu dilakukan untuk memudahkan proses evakuasi.

Baca juga: Otoritas Rusia Terpaksa ‘Mutilasi’ A321 Ural Airlines yang Lakukan Hard Landing di Ladang Jagung

Hanya saja, proses evakuasi tidak harus dengan cara dipotong-potong. Sebab, ketika dipotong menjadi empat bagian atau lebih, pesawat bisa dipastikan sudah tak lagi digunakan. Karenanya, alasan yang paling tepat untuk itu, menurut beberapa kalangan, adalah total loss.

Pesawat Trigana Air berisi dua pilot, satu teknisi, dan satu FOO (flight operation officer). Pesawat tergelincir setelah melakukan prosedur return to base (RTB) atau kembali ke bandara asal keberangkatan.

Executive General Manager Bandara Halim Perdanakusuma Marsma Pnb TNI Nandang Sukarna mengatakan, opsi RTB diambil usai kedua mesin pesawat mati atau mengalami kegagalan (engine failure) saat terbang menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Belum diketahui secara pasti penyebab kedua mesin pesawat mati.

Dalam kondisi melayang di udara dengan kondisi kedua mesin pesawat mati, Boeing 737-500 Trigana Air pun mendarat. Sayangnya, pendaratan gagal dan pesawat tergelincir ke area rerumputan sekitar runway.

Guna memudahkan evakuasi, pesawat pun dipotong-potong menjadi tiga bagian, terdiri dari depan, tengah, dan belakang. Tetapi, bila melihat secara jeli, sebetulnya alasan pesawat dipotong-potong untuk memudahkan proses evakuasi tidak sepenuhnya benar. Boleh jadi, alasan di balik itu adalah pesawat mengalami apa yang disebut sebagai total loss.

Disarikan dari artikel Aircraft Physical Damage karya Thomas H. Chappell, total loss adalah kondisi dimana pesawat mengalami kerusakan -karena kecelakaan atau hal lain- dan membuat nilai pesawat menjadi turun jauh di atas biaya yang bisa dicover pihak asuransi.

Menurut sumber lain -masih dalam tulisan tersebut- total loss merupakan kondisi dimana tingkat kerusakan pesawat cukup parah dan biaya perbaikannya 70 persen lebih tinggi dari budget reparasi yang diberikan pihak asuransi yaitu hanya sebesar 30 persen dari harga perkiraan perbaikan.

Bila dirinci dari bagian-bagian kerusakan yang dimaksud, sebetulnya itu masih cukup relatif. Sebab, total loss bukan bergantung pada seberapa besar kerusakan pada pesawat, tetapi lebih pada total polis yang bisa didapat atas kerusakan pesawat tersebut dari pihak asuransi.

Baca juga: Koper Bekas Badan Pesawat Boeing 747 Dijual Rp38 Juta! Berminat? Cuma Ada 150 di Dunia

Andai saja user atau pemilik pesawat bisa menyepakati definisi total loss menjadi kondisi dimana nilai perbaikan atas kerusakan pesawat minimal bisa mencapai 70 atau bahkan 80 persen, maka, pesawat bisa saja tidak dipotong-potong karena akan diperbaiki sampai bisa beroperasi kembali. Sebab, dengan dipotong-potong, pesawat sudah hampir pasti tidak akan kembali beroperasi.

Sesudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, biasanya pesawat akan tetap diperjualbelikan di pasar pesawat bekas. Tentu, harganya jauh lebih murah dari biasanya. Pesawat-pesawat bekas itu nantinya bisa disulap menjadi beberapa hal, seperti furniture, restoran, penginapan, dan lain sebagainya.

Gegara Puntung Rokok di Toilet, Satu Gerbong Kereta di India Terbakar

Kereta Shatabdi Express yang dalam perjalanan dari New Delhi ke Dehradun di India mengalami kebakaran di salah satu gerbongnya. Dalam toilet gerbong S5 ini ditemukan adanya puntung rokok atau bidi yang dibuang ke tempat sampah yang juga diisi dengan kertas tisu.

Baca juga: Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Dilansir KabarPenumpang.com dari indianexpress.com (20/3/2021), ternyata puntung rokok yang ditutupi tisu tersebut tidak mati. Salah seorang penumpang yang terkena dampak memberikan pernyataan tertulis yang mengatakan bahwa alarm detektor asap berbunyi di gerbong ketika api mulai menyala.

Insiden ini terjadi pada 13 Maret kemarin di dekat Raiwala di Uttarakhand. Hal ini kemudian membuat empat petugas menyelidikinya dan menemukan api berasal dari sisi toilet melalui inspeksi visual.

”Interiornya benar-benar terbakar.… Api mulai dari… WC sisi kiri, kerusakan maksimum ditemukan di lokasi yang sama. Cat bagian wc benar-benar terbakar sedangkan di tempat lain kerusakan lebih sedikit. Juga terlihat lantai toilet retak karena intensitas panas yang tinggi,” kata laporan itu.

Adanya insiden ini kemudian membuat Indian Railway mengatakan akan menindak bila ditemukan penumpang yang merokok di dalam kereta api. Mereka juga mempertimbangkan hukuman berat hingga penangkapan karena merusak properti umum.

“Kami sedang mempertimbangkan hukuman berat. Dalam beberapa kasus, bahkan penangkapan dapat dilakukan karena menyebabkan kerusakan pada properti kereta api umum dan mempertaruhkan nyawa orang lain untuk mencegah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan sesat,” kata seorang perwira senior.

Bagian 167 dari Railways Act menetapkan bahwa siapa pun yang ditemukan merokok di dalam kompartemen meskipun ada larangan atau keberatan dari rekan penumpang dapat dikenakan denda hingga Rs100. Menteri Perkeretaapian Piyush Goyal dalam pertemuan dengan anggota Dewan Kereta Api dan manajer umum zona meminta mereka untuk mengambil langkah proaktif untuk membuat penumpang peka terhadap merokok di kereta dan juga mendesak agar penumpang yang melakukan kesalahan harus dicegah dari menimbulkan risiko bagi orang lain dengan merokok di kereta.

Baca juga: Kereta di Rumania Terbakar, Diduga Akibat Korsleting

“Kereta api akan memberantas rokok di kereta api. Kebakaran kemungkinan besar dimulai di salah satu toilet dan penyelidikan awal mengungkapkan bahwa kebakaran itu kemungkinan besar disebabkan oleh mendidihnya roko /beedi yang dibuang ke tempat sampah. Aliran udara terus menerus dalam gerakan cepat kereta api akan mengipasi itu.