Indonesia Menjadi Negara Pertama Mendapatkan Bebas Visa ke Uzbekistan

Pelancong Indonesia kini bila memasuki negara Uzbekistan tak lagi perlu mengurus visa. Pasalnya Uzbekistan memberlakukan peraturan bebas visa ke tujuh negara dan yang pertama adalah Indonesia, kemudian ada Malaysia, Singapura, Jepang, Turki, Korea Selatan serta Israel.

Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Peraturan tersebut ternyata sudah berlaku sejak 10 Februari 2018 dan untuk setiap pelancong diberikan waktu selama 30 hari. Namun bagi mereka yang akan menetap lebih lama bisa mengurus visa tinggal di kantor atau situs resmi imigrasi Uzbekistan. Bisa dikatakan bebas visa ini sangat menguntungkan bagi pelancong Indonesia yang gemar berkeliling dunia. Sebab negara di Asia Tengah ini memiliki objek wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Anak-anak di Uzbekistan (detik.com)

KabarPenumpang.com menghimpun dari berbagai laman sumber mendapatkan fakta bahwa dulunya negara yang berbatasan dengan Kazakhstan, Tajikistan, Kirgistan, Afghanistan dan Turkmenistan ini memegang penting sebagai salah satu rute pada jalur sutera. Negara beribukota Tashkent ini, membuatnya begitu lekat dengan kultur dan sejarah.

Bahkan pada 2019, Uzbekistan dinobatkan sebagai negara paling baik karena budaya yang dipertahankan selama ribuan tahun. Di beberapa daerahnya memiliki landmark bagunan yang dijaga dan ke konsistenannya membuat UNESCO memberikan label situs warisan dunia untuk beberapa kota.

Kota itu antara lain Bukhara, Samarkand, Khiva dan Shakhrisabz. Bangunan-bangunnya sengaja dibiarkan untuk memancarkan eksotisme dari masa lalu Uzbekiztan. Bukan cuma keindahan arsitektur kuno, alam Uzbekistan pun begitu cantik. Ada pegunungan hingga padang pasir yang disuguhkan kepada wisatawan yang mau menjelajahi Uzbekistan.

Karena dekat dengan Laut Aral, Uzbekistan memiliki iklim yang cenderung hangat. Para penduduknya berbicara bahasa Uzbek dan Rusia dan beberapa lainnya yang tinggal di kota besar mahir berbahasa Inggris. Sedangkan mata uang yang digunakan adalah Uzbekistani som.

Negara ini sendiri dulunya adalah pecahan Uni Soviet, sehingga penduduknya masih berbicara dalam bahasa Rusia. Tak hanya bangunan dan alamnya, kuliner khas di Uzbekistan pun wajib di coba yakni Palov, Uzbek Shurpa, Shashlyk, Samsa, Lagman atau Manty.

Baca juga: Mau Melancong? Yuk Intip Biaya Visa on Arrival Saat Tiba di Bandara Luar Negeri

Setiap tahunnya ada 2,5 juta pelancong yang mampir ke negara di Asia Tengah ini. Untuk melancong ke negara ini, Anda bisa menyiapkan kocek sekitar Rp20 juta untuk pulang pergi. Durasi penerbangannya sekitar 22 jam dengan transit satu kali.

Hebat, Ternyata Telepon Umum di Jepang Bisa Kirim Email ke Telepon Seluler

Sebelumnya, robot sudah banyak hadir di berbagai tempat di Jepang, toilet di Negeri Sakura ini pun dilengkapi dengan teknologi berserta fitur yang keren. Namun ternyata tak hanya itu, sebab telepon umum di Jepang tengah menjadi sorotan karena adanya beberapa gerakan online baru-baru ini.

Baca juga: Toilet Berteknologi Tinggi, Bikin Pelancong Bingung di Bandara Haneda

Di mana telepon umum ini berbeda dari yang biasanya dan banyak orang tak tahu tentang gebrakan tersebut yakni pengguna bisa mengirimkan email ke telepon seluler. Terlebih lagi ternyata Jepang telah memiliki kemampuan ini selama bertahun-tahun.

Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (31/10/2019), sebelum kehadiran telepon umum ini, pengguna bisa menggunakan telepon umum untuk mengirim email ke pengguna telepon dengan penyedia layanan Docomo, au ataupun SoftBank. Sedangkan dua yang terakhir yakni au dan SoftBank telah menghapus fitur tersebut dan Docomo masih mempertahankannya.

Seorang reporter SoraNews Seiji Nakazawa berpikir email yang dikirim melalui telepon umum akan menjadi semacam kejutan untuk membuat rekan kerjanya kaget. Saat mencobanya, Seiji memasukkan koin 100 yen ke dalam lubang koin di telpon umum yang akan digunakan dan mulai bekerja.

Prosedur untuk mengirim email adalah, setelah pengguna memasukkan koin, kemudian tekan 090-310-1655. Lalu tekan nomor telepon orang yang ingin pengguna kirimi email, nantinya akan mendengar suara ditelpon mengatakan “Messeji wo irete kudasai” (“Harap masukkan pesan Anda”), ketik pesan Anda.

Setelah selesai kemudian tekan tombol pagar (#) dua kali dan tutup telepon. Cara ini cukup simpel bila terlihat, Namun bagaimana Anda bisa mengetik pesan tanpa keyboard atau layar sentuh? Ternyata solusi untuk ini sudah ada hampir 30 tahun di mana pengguna mengetik pesan seperti orang biasa ketika mereka mengirim pesan teks ke pager.

Setiap karakter sesuai dengan kode dua digit, dengan digit pertama di kiri dan digit kedua di atas. Misalnya, untuk mengetik S Anda akan menekan 49 (88 untuk mengosongkan ruang). (soranews24.com)

Jika tahun 1990-an adalah sejarah kuno bagi Anda, berikut bagan praktis. Seperti yang Anda lihat, Anda dapat mengirim pesan dalam alfabet Latin atau teks Jepang. Untuk teks bahasa Jepang Anda menggunakan karakter katakana fonetik, bukan hiragana atau kanji, tetapi tetap memungkinkan Anda menulis kalimat yang dapat dimengerti.

Mengirim pesan pada dasarnya gratis, tetapi Anda malah dikenakan biaya untuk waktu yang Anda habiskan untuk memasukkannya, dengan tarif yang sama seperti yang Anda bayarkan untuk panggilan telepon ke ponsel cerdas. Karena itu, Anda sebaiknya merencanakan pesan Anda sebelumnya, dan berkat sedikit pekerjaan persiapan, Seiji dapat menyelesaikan pesannya dalam jumlah waktu yang telah dibeli oleh koin 100 yen miliknya.

Baca juga: Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik

Dan benar saja, tak lama setelah dia menutup telepon, telepon Pak Sato berdengung hidup dengan pemberitahuan pesan untuknya, dengan pengirim ditampilkan sebagai “PublicPhone.” Seperti disebutkan di atas, dua dari tiga penyedia layanan telepon seluler utama Jepang telah kehilangan kemampuan jaringan mereka untuk menerima email dari telepon umum, tetapi untuk saat ini Docomo tetap menggunakannya, yang merupakan kabar baik bagi semua orang di Jepang yang telah masih menggunakan pager hingga teknologi itu secara resmi dihentikan bulan lalu.

Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Perusahaan dirgantara pelat merah asal Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) mulai goyang duopoli Boeing dan Airbus. Meski masih jauh untuk bisa berdiri sejajar dengan kedua produsen pesawat komersial terbesar di dunia, COMAC tetap tak dianggap sebelah mata.

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

“Ada banyak tantangan dan saya pikir masih terlalu dini untuk mengatakan sejauh mana (COMAC) mampu bersaing dengan Boeing dan Airbus. Namun kami menanganinya dengan serius dan kami mengamati dengan cermat apa yang terjadi di sana,” kata CEO Airbus, Guillaume Faury, seperti dikutip dari Simple Flying.

Di antara pesawat buatan COMAC yang paling potensial, pesawat narrowbody COMAC C919 adalah salah satunya. Pesawat ini nantinya akan bersaing ketat dengan Airbus A320neo di pasar pesawat menengah. Meski demikian, hal itu nampaknya tak akan mudah.

Dilihat dari spesifikasi pesawat, COMAC C919 masih jauh tertinggal dari Airbus A320neo. Agar lebih lengkap, berikut head to headnya. COMAC C919 akan kami sebutkan terlebih dahulu.

Panjang – 38,9 meter vs 37,57 meter.
Wingspan – Sama-sama membentang sepanjang 35,8 meter.
Tinggi – 11,95 meter vs 11,76 meter.
Kapasitas penumpang – 158 penumpang vs 150-180 penumpang.
Range – 4.075-5.555 km (2.200-3.000 NM) vs 6.300 km (3.400 NM).

Dari data di atas, COMAC C919 terbukti hanya unggul dari segi panjang dan tinggi pesawat, yang sebetulnya tak terlalu berpengaruh dengan perbedaan sekecil itu. Sebaliknya, di bagian-bagian terpenting, seperti kapasitas penumpang dan range atau jangkauan terbang, pesawat Made in China itu justru kalah telak. Dengan begitu, bisa dibilang, pesawat yang tengah bersiap melewati uji sertifikasi itu jauh tertinggal dari segi spesifikasi pesawat.

Satu-satunya yang mungkin COMAC C919 bisa lebih bernilai daripada A320neo adalah dari segi harga. Sebagaimana produk-produk buatan Cina lainnya, COMAC C919 digadang bakal sedikit lebih murah dari Airbus. Peluang itu ada sekalipun tak cukup besar. Sebab, dalam kasus ini berbeda.

Produk-produk Made in China pada umumnya mayoritas diproduksi oleh perusahaan lokal atau buatan lokal. Alhasil, harganya murah. Tetapi, COMAC C919 tidak demikian. Hampir seluruh komponen pesawat tersebut adalah buatan Barat. Bahkan, bisa dibilang, COMAC C919 hanya namanya saja pesawat Made in China, nyatanya, hampir seluruh komponennya berasal dari Barat. Setidaknya, itulah yang dikatakan Scott Kennedy, penasehat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Laporan NTD News, Kennedy pernah mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in China. Sebab, nyaris seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Mesin C919, misalnya, memakai produk CFM Internasional dan General Electric, perusahaan patungan AS-Perancis. Sistem avionik, landing gear, dan flight control diproduksi oleh Honeywell serta sistem komunikasi dan navigasi diproduksi oleh Rockwell Collins. Keduanya merupakan perusahaan asal AS. Secara keseluruhan, perusahaan AS memasok seperlima komponen pesawat COMAC C919.

Sedangkan perusahaan-perusahaan Eropa memasok sekitar sepertiga komponen ke pesawat itu; termasuk juga ke pesawat “Made in China” lainnya, COMAC ARJ21. Adapun sisanya dipasok oleh 14 perusahaan Cina, dengan tujuh di antaranya merupakan perusahaan patungan.

Hadirkan Resolusi Digital, Thales Persembahkan Inovasi Baru di Industri Kereta Api

Teknologi kereta otonom saat ini sudah digunakan di banyak negara, dan belum lama ini, perusahaan multinasional milik Perancis,  yakni Thales mengadakan konferensi pers yang memaerkan solusi “rel digital”-nya. Amaury Jourdan, Vice President dan CTO Thales membahas pentingnya keamanan siber dan solusi digitalnya saat ini dan di masa depan untuk industri perkeretaapian.

Baca juga: Dengan Lokomotif Otonom, Swiss Federal Railway Siap Naikkan ‘Kasta’ Armadanya

KabarPenumpang.com menghimpun dari railway-technology.com, Jourdan mengatakan Thales saat ini tengah mengerjakan apa yang disebut dengan teknologi kecerdasan buatan.

“Tetapi hari ini kami tidak dapat melakukannya karena kami memiliki standar dan peraturan yang sangat, sangat ketat. Untuk mencapai teknologi otonomi kereta api, sensor perlu disertakan untuk memberikan kereta api kesadaran situasional, yang dapat dikomunikasikan melalui satelit,” jelas Jourdan.

Selain itu, dengan memastikan langkah-langkah keselamatan agar ditegakkan, kereta juga perlu diberikan informasi mengenai rutenya, informasi keselamatan penumpang dan lainnya.

“Kami sudah melakukan uji coba pertama misalnya dengan SNCF di Prancis [dan] dengan operator di Jerman. Kami saat ini sedang melakukan uji coba dengan sensor dan bagaimana kami sebenarnya dapat mengotomatiskan lebih banyak dengan keyakinan operasi kereta jalur utama,” ujarnya.

Thales percaya bahwa pada tahun 2025, otonomi kereta api utama akan menjadi fungsi yang sepenuhnya tersedia. Masa pandemi ini mengubah cara semua orang menjalani kehidupan sehari-hari secara dramatis seperti jarak sosial, pemakaian masker dan sanitasi yang sering.

Pentingnya menjaga jarak sosial dalam lingkungan stasiun adalah kunci untuk memastikan tidak hanya keselamatan penumpang sendiri tetapi juga sesama penumpang. Teknologi yang dikembangkan oleh Thales dikenal sebagai DIVA. Ini adalah algoritme deteksi kerumunan untuk membantu penumpang menghindari area ramai di dalam stasiun serta memberikan wawasan, prediksi dan peringatan kepada operator transportasi.

Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan kamera CCTV yang ada di dalam dan sekitar stasiun kereta api dengan menggunakan algoritma computer vision. Data ini kemudian digunakan untuk menghasilkan data waktu nyata dan peta panas untuk memberikan wawasan tentang kepadatan penumpang bagi penumpang dan karyawan.

Salah satu cara teknologi dapat digunakan adalah dengan memberikan panduan penumpang di platform dengan menggunakan data CCTV, DIVA dapat menunjukkan kepada penumpang yang sedang menunggu di peron mana gerbong kereta yang mendekat lebih atau kurang ramai. Informasi ini diberi kode warna seperti hijau untuk rendah, kuning untuk sedang dan merah untuk tinggi.

DIVA menyediakan peta kepadatan jaringan langsung yang menunjukkan kepada karyawan tingkat kepadatan penumpang di setiap area stasiun. Sistem kode warna merah, kuning, dan hijau digunakan lagi untuk menunjukkan ambang batas kepadatan yang dapat dikonfigurasi sebelumnya sebelum pemasangan teknologi. Pemantauan kepadatan penumpang ini juga akan memungkinkan operator untuk menentukan berapa banyak kereta yang perlu dijalankan.

Baca juga: Teknologi Geolokasi Real Time Mudahkan Perbaikan Masalah di Kereta Api

Thales juga mempresentasikan metode mobilitas berkelanjutannya, GreenSpeed. Teknologi nasihat pengemudi ini, yang dikendalikan oleh algoritme, memberi tahu pengemudi cara terbaik mengemudikan kereta sesuai dengan berbagai isyarat lingkungan. Teknologi tersebut memantau kecepatan, kondisi cuaca dan lintasan kemacetan, dan menurut Thales, akan mengurangi emisi hingga 15 persen yang setara dengan konsumsi kota yang berpenduduk 2.000 jiwa per tahun.

 

 

Gegara Covid-19, Bandara di Dunia Rugi Rp1.800 Triliun Sepanjang 2020

Pandemi Covid-19 menyebabkan bandara-bandara di dunia rugi US$125 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun (kurs 14.456), dari pendapatan seharusnya dikisaran US$ 188 miliar atau Rp2.713 triliun (kurs 14.456) sepanjang tahun 2020. Penyebabnya, apalagi kalau bukan jumlah penumpang turun sangat drastis.

Baca juga: IATA: Sepanjang 2020/2021, Maskapai Penerbangan Global Rugi Rp2.219 Triliun

Sebelum wabah virus Corona menerjang,  memperkirakan, sebanyak 9,4 miliar penumpang bakal memenuhi bandara sepanjang tahun 2020. Namun, ketika Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, angkanya hanya menjadi sekitar 3,3 miliar. Artinya, bandara-bandara di dunia kehilangan sekitar 6,1 miliar penumpang. Tak heran bila kerugian yang ditorehkan bisa sampai sebesar itu.

Dilansir Simple Flying, menatap tahun 2021, ACI mengaku tak begitu berharap kondisinya akan segera kembali ke era sebelum pandemi, dimana sekitar 9,8 miliar penumpang akan hilir mudik sepanjang 2021. Alih-alih berharap angka sebesar itu, ACI menargetkan sekitar 5,1 miliar penumpang memenuhi bandara, turun sebesar 47,5 persen atau sekitar 4,7 miliar penumpang sepanjang 2021.

Indikasi peningkatan penumpang pesawat selama kuartal I 2021 memang belum begitu terlihat. Namun, dengan banyaknya program vaksinasi serta sudah kembali dimulainya gelaran tingkat internasional, sekalipun dengan jumlah terbatas, sangat membuka asa ACI akan target itu.

Puncaknya, diharapkan, tiga bulan terakhir tahun ini akan menjadi momentum peningkatan jumlah penumpang bandara dengan berbagai relaksasi berlibur.

“Ada permintaan yang terpendam ini, dan orang-orang memiliki tabungan yang terkumpul dan akan bepergian jika mereka bisa. Pada akhir 2021, kami berharap berada di kisaran 45 hingga 55 persen dari level 2019,” kata VP Ekonomi ACI, Patrick Lucas.

“Jika kita mengambil hub bandara biasa yang menangani lebih dari 40 juta penumpang per tahun. Nah, bandara-bandara ini menghasilkan, rata-rata, sekitar US$ 1,3 miliar (Rp18 triliun) per tahun. Jadi jumlah ini setara dengan memiliki 95 pusat tersibuk di dunia yang kehilangan semua pendapatannya,” lanjutnya.

“Kami berharap peningkatan kepercayaan terhadap perjalanan udara berkat adanya program vaksinasi dan langkah-langkah keamanan akan menghasilkan jumlah orang yang bepergian ke luar negara mereka akan mulai musim semi ini dan meningkat secara signifikan pada pertengahan tahun,” tambahnya.

Baca juga: Bandara I Gusti Ngurah Rai Raih Predikat “Best Airport 2017” dari Airport Council International

ACI mencatat, beberapa pasar domestik, seperti di Cina dan Rusia nyaris kembali ke titik normal. Adapun pasar domestik di negara lain, seperti India, Jepang, Meksiko, Thailand, dan Amerika Serikat tingkat pemulihannya juga sangat cepat. Berkaca dari itu, ACI berharap, pasar domestik bisa kembali ke angka seperti tahun 2019 pada 2023 mendatang.

Sedangkan pasar internasional butuh waktu agak lama. Diperkirakan tahun 2026 pasar internasional baru akan kembali ke titik normal. Itupun bila tak ada gelombang atau mutasi virus Corona yang membuat dunia kembali menerapkan lockdown ketat.

Dear Traveler, Cobain Nih Aplikasi Tripset Buatan Airbus, Ini Sederet Keuntungannya

Airbus belum lama ini meluncurkan aplikasi pendamping perjalanan setiap traveler, Tripset. Aplikasi ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menyajikan sebanyak mungkin informasi penerbangan dan perjalanan guna memudahkan dan meningkatkan kepercayaan penumpang saat menggunakan moda udara selama pandemi Covid-19.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Dikutip dari laman resmi Airbus, aplikasi Tripset menawarkan berbagai keuntungan bagi traveler, pengguna, atau penumpang. Di antaranya, memungkinkan mereka untuk mendapatkan informasi tentang situasi dan kondisi perjalanan terbaru dan akurat serta pembatasan dan persyaratan kesehatan yang berlaku, tanpa harus berkonsultasi dengan berbagai sumber.

Pembatasan perjalanan akibat wabah Covid-19 yang tak kunjung usai di seluruh dunia memang membuat perjalanan penumpang menjadi lebih menantang.

Oleh karena itu, berdasarkan rancangan dan pengalaman aplikasi iflyA380 yang diakui dunia serta meraih beragam penghargaan, Airbus memperkenalkan aplikasi pendamping perjalanan (travel companion application) untuk menyediakan informasi terkini dan real-time kepada publik atau traveler yang bepergian untuk memastikan perjalanan lancar, aman, nyaman, dan menyenangkan.

Dengan fitur two interfaces, yang memungkinkan penumpang mengetahui penerbangan yang tersedia ketika mereka mengakses aplikasi dan tujuan yang dapat mereka pilih, traveler dijamin tak akan bingung dalam menetapkan negara atau kota tempat mereka berlibur.

Selain itu, Tripset juga bermanfaat ketika di lokasi tujuan. Setelah tiket dibeli, aplikasi akan memberi penumpang informasi tentang apa yang bisa dilakukan di tempat tujuan dan kedatangan mereka. Jadi, bisa dibilang, aplikasi Tripset membantu pengguna baik sebelum maupun sesudah memesan tiket.

Guna menghimpun informasi seakurat dan secepat mungkin untuk disajikan di aplikasi Tripset, Airbus menggandeng hampir seluruh pihak di industri penerbangan, dalam kaitan langsung dengan penumpang, seperti maskapai penerbangan, regulator, otoritas bandara, gugus tugas Covid-19, dan lain sebagainya. Semua dilakukan semata untuk mengembalikan kepercayaan penumpang untuk bepergian menggunakan transportasi udara ke seluruh dunia.

Airport Council International (ACI) memperkirakan, sebanyak 9,4 miliar penumpang bakal memenuhi bandara sepanjang tahun 2020. Namun, ketika Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, angkanya hanya menjadi sekitar 3,3 miliar. Artinya, bandara-bandara di dunia kehilangan sekitar 6,1 miliar penumpang.

Menatap tahun 2021, ACI mengaku tak begitu berharap kondisinya akan segera kembali ke era sebelum pandemi, dimana sekitar 9,8 miliar penumpang akan hilir mudik sepanjang 2021. Alih-alih berharap angka sebesar itu, ACI menargetkan sekitar 5,1 miliar penumpang memenuhi bandara, turun sebesar 47,5 persen atau sekitar 4,7 miliar penumpang sepanjang 2021.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Saat ini, beberapa pasar domestik, seperti di Cina dan Rusia nyaris kembali ke titik normal. Adapun pasar domestik di negara lain, seperti India, Jepang, Meksiko, Thailand, dan Amerika Serikat tingkat pemulihannya juga sangat cepat. Berkaca dari itu, ACI berharap, pasar domestik bisa kembali ke angka seperti tahun 2019 pada 2023 mendatang.

Sedangkan pasar internasional butuh waktu agak lama. Diperkirakan tahun 2026 pasar internasional baru akan kembali ke titik normal. Itupun bila tak ada gelombang atau mutasi virus Corona yang membuat dunia kembali menerapkan lockdown ketat.

Ini yang Dilakukan Maskapai Saat Terima Pesawat Baru

Setiap maskapai penerbangan tentu menginginkan pembaruan armada secara berkelanjutan. Di samping meningkatkan produktivitas, datangnya pesawat baru tentu memperbaiki citra dan pelayanan terhadap penumpang. Tetapi, ketika maskapai kedatangan pesawat baru, sebetulnya apa langkah-langkah yang dilakukan?

Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Ketika sebuah pesanan pesawat keluar dari jalur produksi, itu tidak lantas langsung dikirim ke pelanggan. Pesawat terlebih dahulu diperiksa dengan intensif sebelum pelanggan menandatangani berita acara penerimaan pesawat. Sebab, begitu itu ditantangani, maka, penjual sudah berlepas tangan bila ada satu dua kekurangan.

Maka dari itu, tidak heran bila di momen ini menjadi begitu krusial. Terbukti, pada proses ini, pesawat dicek secara detail dalam kurun waktu sekitar lima hari. Dilansir Simple Flying, pemeriksaan tersebut mencakup beberapa hal.

1. Ground checks (inspeksi visual, pengujian sistem dan mesin).
2. Acceptance flight (untuk menguji inflight systems and behavior).
3. Mengolah kembali atau memecahkan masalah yang muncul dalam proses serah terima ini.
4. Technical acceptance (menghasilkan output penerbitan sertifikat kelaikan udara).
5. Pesawat secara resmi berubah kepemilikan dan dipersiapkan untuk penerbangan ferry flight.

Usai semua proses tersebut dilakoni dan menghasilkan kata sepakat tanpa ada cacat apapun, pesawat bisa langsung dikirim ke maskapai. Dalam proses ini, maskapai memiliki dua pilihan, mengirimkan kru untuk menjemput pesawat atau menunjuk pihak lain menjemput pesawat, dengan menyesuaikan protokol kesehatan, dan mengirimkannya ke lokasi yang telah disepakati oleh maskapai.

Pengiriman pesawat narrowbody jarak jauh dan widebody tentu akan terasa mudah, dalam artian tanpa harus transit berkali-kali. Sebab, selain jangkauan terbangnya sudah cukup jauh, secara teknis pesawat juga mampu terbang melampaui batas maksimal karena terbang tanpa kargo dan penumpang. Seperti yang terjadi baru-baru ini pada maskapai penerbangan Inggris, TUI.

Disebutkan, TUI belum lama ini menerima pesawat Boeing 737 MAX, menjadikannya yang pertama di Eropa, setelah disertifikasi ulang, langsung dari pabrik Boeing di Seattle ke London Gatwick.

Namun, lain cerita untuk pengiriman pesawat regional. Jangkauan terbang yang terbatas membuat proses pengiriman butuh waktu lebih karena harus transit berkali-kali. Apalagi bila lokasi pengiriman pesawat terletak cukup jauh.

Baca juga: Indonesia Terima Helikopter Airbus Lewat Skema e-Delivery Pertama di Asia Pasifik

Pada Oktober lalu, misalnya, ketika pesawat de Havilland Dash 8 hendak dikirim dari Toronto, Kanada ke maskapai Ethiopian Airlines, Ethiopia. Pesawat harus melewati penerbangan transatlantik. Karenanya, proses pengiriman harus transit berkali-kali dengan menempuh rute Toronto – Goose Bay – Reykjavík – Dublin – Roma – Kairo – Addis Ababa. Tercatat, total pengiriman pesawat mencapai enam hari, dari 23-29 Oktober.

Usai tiba di bandara yang disepakati, biasanya pesawat akan disambut dengan water salute sebagai pertanda penerbangan perdana. Setelahnya, beberapa maskapai ada yang melakukan ceremony sederhana, dengan memotong tumpeng atau memotong pita dan mengadakan press conference dihadapan awak media. Beberapa lainnya melakukan hal serupa, tetapi bukan di bandara tujuan melainkan di pabrik sebelum pesawat dikirim.

Inilah Aurora D8, Wujud Desain Pesawat Masa Depan Besutan NASA, Beroperasi 2030

Aurora D8 digadang menjadi wujud desain pesawat mada depan. Lewat desain brilian, pesawat yang dikembangkan bersama oleh Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney serta didukung NASA ini diklaim akan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat 37 persen atau menurunkan emisi karbon dioksida hingga 87 persen serta lebih senyap atau minim polusi suara dibanding pesawat jet pada umumnya. Ditargetkan, Aurora Double-Bubble D8 mulai beroperasi pada 2030.

Baca juga: Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar Pesawat

Secara kasat mata, sebetulnya desain pesawat tidak sepenuhnya baru. Di masa lalu, desain pesawat seperti itu sudah pernah ada. Desain serupa sayap gawang di bagian belakang tercatat sudah lebih dahulu digunakan salah satunya oleh Sukhoi Su-80 Multirole.

Begitu juga dengan bagian dua sayap membentang cukup lebar di kanan dan kiri pesawat serta desain double bubble. Dua sayap membentang cukup lebar tercatat sudah pernah digunakan oleh Rutan Model 76 Voyager dan pesawat bertenaga surya (matahari) pertama di dunia, Solar One.

Adapun desain double-bubble yang dibanggakan Aurora D8 sudah pernah digunakan oleh pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser ataupun pesawat legendaris yang disebut-sebut sebagai Airbus A380 Propeller Era 40an, Bréguet 763 Deux-Ponts. Bedanya, dua pesawat itu kembung atau gemuk ke atas sedangkan Aurora D8 kembung ke samping atau kembung tapi melebar.

Lagi pula, Aurora Flight Science, yang diberikan dana sebesar US$2,9 juta oleh NASA untuk mengembangkan pesawat ini, mengakui bahwa desain Aurora D8 didasari oleh pesawat Boeing 737-800.

Tetapi, bila berkaca pada kesepatan awal konsep pesawat ini diluncurkan, Aurora D8 merupakan pengembangan pesawat-x D8 yang dulu sering digunakan pada waktu pasca Perang Dunia sebagai pesawat penumpang komersil, ditambah dengan berbagai sentuhan modern di bagian sayap dan mesin.

Dilansir Simple Flying, teknologi terbaru di bagian sayap disebut mampu mengurangi hambatan pada badan pesawat sehingga membuat penerbangan jadi lebih efisien hingga 70 persen.

Selain itu, sayap terbaru itu juga membuat pesawat melaju lebih kencang mencapai kecepatan sekitar 936 km per jam atau Mach 0,74, didukung oleh mesin terbaru yang lebih kecil dan ringan dari Pratt & Whitney serta United Technologies. Pesawat juga disebut lebih senyap dari pesawat pada umumnya.

Saat ini, pesawat, yang pengembangan utamanya ditujukan untuk mengurangi emisi karbon dan kebisingan, sudah melalui uji coba terowongan angin, teknologi propulsi, dan model uji struktural skala besar melalui model pesawat XD8.

Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Bila tak ada aral melintang, pesawat ini akan diuji coba pada tahun 2027 dan setelah disertifikasi regulator penerbangan sipil, pesawat widebody double-aisle ini bisa mulai beroperasi pada 2030 mendatang, dengan kapasitas angkut 180 penumpang serta jangkauan terbang sejauh 5.556 km.

Dengan kapasitas besar dan lebih efisien, pesawat ini dinilai lebih menguntungkan maskapai dibanding jet yang ada saat ini. Menarik ditunggu, akankah Aurora D8 mampu merusak duopoli Airbus dan Boeing?

Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Pesawat listrik komuter buatan Tecnam dan Rolls-Royce, P-Volt, ditargetkan bakal mulai beroperasi pada 2026 mendatang. Nantinya, Norwegia akan menjadi pasar terbesar pesawat itu, menyusul komitmen maskapai regional terbesar di negara tersebut, Widerøe, untuk mengoperasikan P-Volt.

Baca juga: Tecnam dan Rolls-Royce Bakal Bikin Pesawat Listrik Komuter

Sebelum pandemi virus Corona menerjang, Widerøe adalah raksasa penerbangan regional Norwegia dengan 400 penerbangan per hari, menggunakan jaringan 44 bandara, dimana 74 persen penerbangan memiliki jarak kurang dari 275 km.

Durasi penerbangan terpendek maskapai itu antara tujuh dan lima belas menit. Jadi, sangat relevan untuk dioperasikan oleh pesawat listrik P-Volt yang kemampuannya masih sebatas penerbangan regional saja. Meski demikian, dengan kapasitas mencapai 11 penumpang, pesawat listrik P-Volt tetap menjadi pilihan yang menguntungkan untuk dioperasikan maskapai.

“Jaringan luas bandara short take-off and landing di Norwegia sangat ideal untuk teknologi nol emisi. Pesawat ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi baru dapat dan akan dikembangkan, dan bahwa kami berada di jalur yang tepat dengan ambisi kami untuk terbang dengan nol emisi sekitar tahun 2025,” kata juru bicara Widerøe, seperti dikutip dari Sam Chui.

Sementara itu, Direktur Rolls-Royce Electrical, Rob Watson, mengatakan, “Elektrifikasi akan membantu kami mewujudkan ambisi kami untuk memungkinkan pasar tempat kami beroperasi mencapai zero emisi (bebas karbon) pada tahun 2050. Kolaborasi ini memperkuat hubungan kami yang sudah ada dengan Tecnam dan Widerøe, seperti yang kami harapkan mengeksplorasi apa yang diperlukan untuk mengirimkan pesawat penumpang serba listrik untuk pasar komuter.”

Norwegia memang menjadi salah satu negara yang mulai menerapkan kebijakan mendorong penggunaan energi hijau (ramah lingkungan) pada pesawat. Negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah mulai melakukan kajian-kajian untuk mewujudkan pesawat listrik menguasai udara di masa mendatang. Salah satunya melalui Norway Research Association.

Norway Research Association ditugaskan oleh pemerintah Norwegia, bekerjasama dengan beberapa negara lain, untuk mempelajari teknologi baterai yang pas dan mencari tahu persepsi publik terkait pesawat listrik, dengan nilai investasi US$1,65 juta atau Rp25,3 miliar (kurs 15,370).

Meskipun belum menemukan hasil yang memuaskan, namun pemerintah sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek dalam negeri di Norwegia wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Sejalan dengan pemerintah, penduduk Norwegia yang berjumlah sekitar 5,4 juta orang juga sudah menyadari betapa pentingnya penggunaan energi terbarukan di dunia penerbangan.

Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.

Jadi, bila pesawat listrik komuter buatan Tecnam dan Rolls-Royce, P-Volt, bermitra dengan maskapai regional terbesar di negara tersebut, tentu itu adalah keputusan terbaik dan sangat menguntungkan.

NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Polusi suara pada pesawat bukan hanya datang dari mesin, melainkan juga datang dari sayap pesawat. Mengurangi polusi suara dari mesin tentu bisa dikembangkan dengan menciptakan mesin yang lebih halus. Namun, bagaimana dengan sayap pesawat? Terkait itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mungkin punya jawabannya.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Dilansir New Atlas, NASA dikabarkan tengah sibuk mengembangkan sayap mutakhir berteknologi tinggi untuk mengurangi kebisingan saat pesawat lepas landas maupun mendarat. Sayap pesawat diketahui menjadi salah satu penyumbang suara bising atau biasa juga disebut emisi atau polusi suara di sekitaran bandara efek dari aliran udara.

Selain membuat warga yang tinggal di pemukiman sekitar bandara menjadi tidak nyaman, sayap pesawat konvensional juga membuat pesawat membutuhkan tenaga lebih. Artinya, operasional pesawat jadi tidak efisien dan tingkat polusi karbon oksida juga meningkat.

Di bawah proyek Advanced Air Transport Technology (AATT), para insinyur NASA coba mencari solusi atas berbagai permasalahan itu. Pada Januari 2021, tim berhasil menyelesaikan pengujian terowongan angin subsonik pada model skala sepersepuluh dari desain sayap baru yang disebut versi Quiet-High-Lift dari Common Research Model (CRM- QHL).

Model saya uji terdiri dari badan pesawat yang dipotong menjadi dua dan diletakkan pada sisi datarnya di lantai terowongan angin. Di badan pesawat dipasang model rinci sayap pesawat, termasuk slat dan flap, serta model mesin dan retractable undercarriage. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengumpulkan data empiris untuk menilai model komputer yang diperlukan dalam mensimulasikan tingkat kebisingan pada sayap.

Tujuan dari adalah untuk memodifikasi komponen sayap seperti leading-edge slat dan trailing-edge flaps agar lebih efisien dalam hal kinerja aerodinamis, struktural, dan akustiknya menggunakan paduan shape-memory. Ketika uji model skala kecil selesai, rencananya, ini akan diteruskan ke uji terowongan angin skala besar untuk mengembangkan teknologi ke titik di mana ia dapat diadopsi oleh industri dirgantara.

Selain dari sayap dan mesin, polusi suara juga dihasilkan dari airframe (rangka) pesawat. Sebagaimana sayap, NASA juga mengembangkan teknologi terbaru untuk menjadi solusi atas persoalan tersebut.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Pada Mei 2018, disebutkan, NASA telah menyelesaikan serangkaian uji coba pada teknologi untuk mengurangi suara yang dihasilkan oleh airframe (rangka) pesawat dan suara yang dihasilkan saat melakukan pendaratan melalui teknologi Landing Gear Noise Reduction. Rangkaian uji coba ini dilakukan melalui rangkaian penerbangan Acoustic Research Measurement (ARM) di Armstrong Flight Center, California, AS.

Teknologi Landing Gear Noise Reduction sendiri dikembangkan untuk mengurangi suara dari airframe yang disebabkan aliran udara bergerak melewati roda pesawat saat mendekati landasan. Teknologi ini menggunakan fairing yang memiliki pori-pori sehingga suara yang dihasilkan oleh aliran udara dapat berkurang.