Tokyo Metro Hadirkan Aplikasi untuk Mudahkan Penumpang Temukan Toilet Kosong di Stasiun

Toilet akan ada di berbagai tempat dan biasanya di sebuah stasiun besar akan ada beberapa dengan jarak yang cukup jauh satu dengan lainnya. Tokyo merupakan salah satu kota yang memiliki beberapa stasiun kereta bawah tanah yang sangat besar dengan beberapa toilet di dalamnya.

Baca juga: Wow, Toilet Umum di Jepang Dibuat Transparan

Hub utama di area Tokyo terdiri dari koridor yang tampak seperti tidak memiliki ujung yang menghubungkan berbagai jalur, pusat perbelanjaan dan deretan restoran. Bahkan diantaranya sangat kompleks sehingga dapat berfungsi ganda sebagai peta penjara bawah tanah RPG.

KabarPenumpang.com melansir dari laman soranews24.com, dalam peta kereta bawah tanah Ikebukuro Metro Tokyo ada empat toilet di area yang berbeda. Meski ada banyak toilet, tetapi jarak satu dengan lainnya cukup jauh sehingga bila panggilan alam dan saat tiba terisi penuh, mau tak mau penumpang harus berjalan cukup jauh dengan menahan hasrat tersebut.

Bisa dikatakan menahannya cukup lama dalam hitungan menit karena jaraknya cukup jauh ke toilet berikutnya. Untungnya Tokyo Metro mempermudah pengadaan tempat buang air besar untuk umum. Mulai 1 Desember, penumpang bisa menggunakan smartphone Anda untuk mengecek, secara real time, kamar mandi mana di Stasiun Ikebukuro yang masih kosong.

Layanan Penyediaan Informasi Lowongan Toilet yang baru ditambahkan dari Aplikasi resmi Tokyo Metro memberi tahu penumpang jumlah total kios dan berapa banyak yang saat ini kosong untuk toilet yang terletak di dekat platform Marunouchi, Yurakucho dan Fukutoshin Line, serta Echika Ikebukuro pertokoan. Informasi diperbarui terus-menerus oleh sensor yang mencatat apakah pintu kios ditutup (dan dengan demikian kios-kios tersebut ditempati).

Kemudian mengirimkan data ke server Tokyo Metro, yang menyampaikannya kepada pengguna aplikasi. Jadi penumpang yang ingin ke toilet tak perlu khawatir, karena tidak ada kamera yang terlibat, jadi aplikasinya tidak bergantung pada perangkat lunak pengenalan wajah untuk menentukan berapa banyak orang yang membuat wajah buang air besar pada waktu tertentu.

Baca juga: Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway 

Aplikasi Tokyo Metro gratis untuk digunakan dan dapat diunduh untuk perangkat iOS dan Android. Sebagai permulaan, Layanan Penyediaan Informasi Lowongan Toilet hanya akan ditawarkan untuk Stasiun Ikebukuro sebagai uji kegunaan dan kelayakan program, yang akan berlangsung dari 1 Desember hingga 28 Februari. Bergantung pada hasilnya, Tokyo Metro dapat memperluas program ke program lainnya.

Akhirnya Penumpang Pesawat di Kursi Tengah Tak Perlu Rebutan ‘Armrest’ Berkat Inovasi Kursi Joy

Sejak era maskapai berbiaya murah (LCC) datang dan sangat diminati traveler di dunia, perbincangan hangat terkait hak armrest di bangku tengah terus terjadi. Selain itu, dengan memaksimalkan muatan, bukan kenyamanan, legroom dan jarak antar kursi menjadi sangat dekat.

Baca juga: Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

Alhasil, penumpang kesulitan untuk berdiri sempurna di depan kursi masing-masing serta kerap tak nyaman karena gesekan bahu antar penumpang. Terlebih bila penumpang di sebelah memiliki bobot di atas wajar.

Akan tetapi, mungkin, kisruh perebutan armrest dan berbagai masalah yang sudah dikemukakan di atas akan berakhir saat kursi Joy buatan Rebel.Aero digunakan maskapai di seluruh dunia.

Dilansir Simple Flying, kursi Joy memang didesain untuk menjadi pioneer kursi nyaman di kelas ekonomi. Hal itu didasari sejumlah alasan, seperti terbuat dari bahan ringan dan kuat, tata letak, dan fitur-fitur simple namun sangat dibutuhkan.

Kursi Joy diklaim jadi solusi untuk kenyamanan penumpang kelas ekonomi. Foto: Rebel.Aero

Disebutkan, secara keseluruhan, kursi terbuat dari bahan-bahan ringan dan teknik pembuatan modern. Selain itu, seatback dibuat dengan bahan thermoplastik agar perawatannya bisa jauh lebih terjangkau. Dua ini dinilai bukan hanya bermanfaat untuk penumpang, melainkan untuk maskapai karena mengurangi berat total pesawat. Itu berarti menghemat konsumsi bahan bakar atau cost.

Sarung jok belakang kursi Joy Rebel.Aero dibuat sangat simple tanpa jahitan. Kursi juga dilengkapi dengan fitur flip up booster, dimana kursi bisa dilipat untuk memberikan keleluasaan kepada para penumpang untuk berdiri di depan kursi.

Manfaat lain, fitur kursi lipat ini tentu juga membuat akses keluar masuk penumpang yang duduk di pojok dekat jendela jadi lebih cepat, sehingga meningkatkan on time performance (OTP) maskapai dan efisiensi bahan bakar.

Fitur spesial kursi Joy Rebel.Aero adalah letak kursi tengah yang sedikit lebih maju dibanding kursi di sebelahnya. Desain seperti ini dinilai menjadi solusi terbaik untuk mengakhiri polemik perebutan armrest di kursi tengah serta gesekan bahu antara penumpang di kursi tengah dengan penumpang di sebelah kanan dan kirinya.

Di bagian tengah, kursi Joy dibuat sedikit lebih maju agar tidak sejajar dengan bahu penumpang di sebelahnya. Foto: Rebel.Aero

Lagi pula, secara sosial, armrest di kursi tengah merupakan hak penumpang yang duduk di kursi tersebut, mengingat penumpang yang duduk di sisi aisle dan dekat jendela sudah memiliki keuntungan tersendiri.

“Kalau penumpang yang duduk di window seat bisa menyandarkan kepalanya di jendela. Sedangkan, buat yang duduk di sisi aisle punya keleluasaan apabila akan berjalan ke lorong untuk ke toilet dan keluar pesawat,” dikutip dari akun instagram Angkasa Pura I

Baca juga: Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!

Dengan penegasan ini, diharapkan tidak ada lagi penumpang yang bingung mengenai etika ini. Selain itu, diharapkan kenyamanan penumpang pesawat tetap terjaga, khususnya di penerbangan jangka waktu lama.

“Jadi, karena sudah tau etikanya, jangan rebutan sandaran tangan di pesawat lagi, ya!” ujar API mengingatkan.

Berada Satu Meter Dibawah Lumpur, Bagian Inti CVR Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan

Tak jauh dari lokasi titik ditemukannya Flight Data Recorder (FDR) dan berada satu meter di bawah permukaan lumpur, bagian penting dari komponen Black Box, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dari pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182, akhirnya ditemukan pada 30 Maret 2021, pukul 20.00 WIB.

Baca juga: Black Box Pesawat Bisa Hancur! Ini Penyebabnya

Karena berada di bawah permukaan lumpur dan banyaknya puing-puing yang berserakan di dasar laut, menjadikan operasi pencarian CVR selama ini mengalami kesulitan, terlebih dengan pencarian secara visual. Baru kemudian, pihak KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menggunakan jasa kapal penyedot lumpur TSHD King Arthur 8 saat melakukan upaya pencarian CVR.

“Bersama dengan 15 penyelam, kami menggunakan kapal penghisap lumpur, Kapal TSHD, di-area 90×90 meter. Kapal TSHD ini punya kemampuan menyedot lumpur seperti vacuum cleaner,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam jumpa pers saat serah terima CVR di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/3/2021). Selanjutnya, bagian utama CVR yang ditemukan akan dibawa ke laboratorium KNKT dan diharapkan hasilnya dapat didengarkan dan dibuatkan transkrip percakapan dalam waktu 3-5 hari.

CVR berfungsi merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit, termasuk percakapan kru pesawat dengan ATC selama 30 menit sampai 2 jam (teknologi baru bisa mencapai 25 jam). Soerjanto Tjahjono sendiri mengungkapkan, bahwa pihaknya sangat sulit untuk menentukan penyebab kecelakaan SJ-182 tanpa adanya informasi dari CVR. Adapun black box CVR, tepatnya casing CVR sudah ditemukan pada 15 Januari 2021. Tetapi, black box dalam kondisi hancur sehingga memori CVR-nya terlepas dari casing dan baru ditemukan 30 Maret 2021.

Secara umum, black box mampu menahan benturan dengan kecepatan hampir 500 km per jam. Black box menahan panasnya api sampai 1.100 derajat celcius selama 1 jam. Selama 30 hari, black box mampu mengirim sinyal ping yang dapat ditangkap sonar hingga kedalaman 6.000 meter lebih. Itu berarti, di atas batasan-batasan tersebut, black box sangat mungkin hancur atau tidak berfungsi maksimal.

Ketimbang ‘Sepi Merana,’ Bandara Kertajati Bakal Disulap Jadi Pusat Bengkel Pesawat

Setelah resmi beroperasi pada 24 Mei 2018, boleh dikata denyut aktivitas di Bandara Internasional Kertajati tidak berjalan sesuai harapan. Padahal bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II dan telah menghabiskan kocek Rp2,6 triliun itu punya spesifikasi tinggi, sebut saja landas pacunya dapat didarati pesawat wide body sekelas Boeing 777.

Baca juga: Sepi Penumpang di Masa Pandemi, Bandara Kertajati Sewakan Area untuk Foto Prewedding

Namun, lain dari yang diharapkan oleh pemerintah, pelan-pelan maskapai mulai meninggalkan Bandara Kertajati, pangkal musababnya adalah rendahnya animo pengguna jasa yang naik dan turun di bandara yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat tersebut. Waktu tempuh yang relatif lama dari Kota Bandung, membuat pengguna jasa lebih memilih Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Bagi maskapai, mereka justru lebih tertarik untuk kembali ke Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Dari 11 rute pernerbangan yang didaftar, hanya satu yang beroperasi. Itu pun dipaksakan. Sisanya, dibatalkan oleh maskapai lantaran tingkat okupansi penumpang masih di bawah 30 persen. Maskapai pun enggan terbang dari Kertajati.

Sepinya Bandara Kertajati sudah terjadi sebelum era pandemi Covid-19 di Indonesia, dan bisa dibayangkan, semakin sepi lagi bandara yang punya runway 3.000 meter ini setelah ditimpa efek pandemi. Pengelola bandara pun dibuat kelimpungan, lantaran untuk mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil. Setidaknya butuh Rp 6-7 miliar per bulan untuk biaya pengoperasian.

Saat pesawat Kepresiden mendarat perdana di Bandara Internasional Kertajati

Sebagai catatan, pada awal pandemi pengelola Bandara Kertajati sempat menyiasati untuk mencari pemasukan untuk biaya operasional dengan menawarkan jasa penyediaan tempat untuk foto prewedding. Tapi beragam upaya itu tak membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, Kertajati sepi, plus pandemi menghantam, maka pudarlah pamor Bandara Kertajati.

Dikutip dari RM.id (31/3/2021), menghadapi persoalan di atas, Presiden Jokowi pada Senin lalu menggelar Rapat Kabinet membahas nasib Kertajati. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ikut hadir.

Hasilnya diputuskan, Bandara Kertajati akan difokuskan sebagai tempat Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Ridwan Kamil memastikan, fungsi tersebut tidak menghilangkan peran komersialisasi angkutan penumpang dan layanan kargo. Ridwan Kamil menyebut, sepinya Bandara Kertajati salah satunya disebabkan belum berfungsinya Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Rencananya jalur tol tersebut akan dibuka pada Desember 2021.

Baca juga: [Opini] Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?

Nantinya kawasan Bandara Kertajati bakal ramai, pasalnya Presiden Jokowi dalam amanatnya juga telah menginstruksikan pemindahan lokasi dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia dari Kota Bandung ke wilayah Kertajati.

Inikah Lokasi Pesawat Bersejarah DC-9 “Woyla” PK-GNJ Garuda Indonesia Berada Saat Ini?

Pesawat DC-9 (Douglas DC-9) Woyla Garuda Indonesia PK-GNJ yang dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, saat ini tinggal kenangan. Hal itu karena pesawat bersejarah itu justru dijual ke mancanegara alih-alih di simpan sebagai suatu khazanah perjalanan kedirgantaraan nasional.

Baca juga: 40 Tahun Lalu, Pembajakan Pesawat DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia Jadi yang Pertama dalam Sejarah

Padahal, semangat untuk menyimpan pesawat-pesawat bersejarah sudah bukan hal baru. Convair 600 Seulawah Airlines, misalnya, sempat diabadikan di Bandara Internasional Kemayoran sebagai pesawat dari maskapai swasta pertama Indonesia.

Begitu juga dengan Ilyushin Il-14 Avia. Pesawat ini diketahui pernah digunakan sebagai pesawat kepresidenan yang diberi nama Dolok Martimbang, sebuah bukit gagah berdiri tinggi menjulang seakan menggapai langit di daerah tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Selain itu, pesawat juga berjasa dalam upaya melawan pemberontakan di sejumlah daerah pada 1957 – 1965. Saat ini, pesawat itu masuk dalam barisan koleksi Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta sejak 2017 lalu, sekalipun nasibnya sempat tak jelas. Berkaca dari dua itu, sudah sepatutnya DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia juga turut diabadikan karena bernilai sejarah.

Kita tahu, sebelum masuknya era pesawat berbadan sedang Boeing 737 di Indonesia, pelayanan penerbangan jet komersial domestik jarak pendek di Tanah Air dominan dilakukan oleh DC-9 (Douglas DC-9) produksi McDonnell Douglas.

Maskapai pengguna DC-9 tak lain adalah Garuda Indonesia, saat masa jaya DC-9 memang belum tumbuh layanan penerbangan jet komersial swasta seperti saat ini. Debut pesawat ini pun sempat melejit di kalangan warga, lantaran menjadi pesawat pertama dari Indonesia yang dibajak di luar negeri dalam peristiwa “Woyla” di tahun 1981.

Meski bernilai sejarah sebagai pesawat pertama dari Indonesia yang dibajak di luar negeri, sayangnya, nasib DC-9 (Douglas DC-9) Woyla Garuda Indonesia PK-GNJ sudah tak jelas. Namun, andaipun ada kemauan, bisakah pesawat bersejarah tersebut kembali ke Tanah Air?

Dikutip dari planespotters.net, setelah sebelumnya berganti nama menjadi “Porong” dan dilepas Garuda Indonesia pada 1981, pesawat ini jatuh ke berbagai pelukan. Juli 1982, DC-9 Porong dioperasikan maskapai Jerman, Aero Lloyd, berlanjut ke maskapai Midwest Express Airlines pada Februari 1994 sampai Februari 2003.

Pesawat selanjutnya dioperasikan Executive Aero Space mulai April 2004, berlanjut South African Express Airways pada Oktober 2005, dan terakhir berada di tangan Executive Aero Space pada Maret 2006. Sesudah itu, pesawat disebut pensiun dan dipotong-potong serta diperjualbelikan sparepartnya.

Baca juga: Inilah Biju Patnaik, Pilot India yang Bantu Indonesia Merdeka Sekaligus Gurunya Tiga Pahlawan Nasional

Namun, menurut laporan ch-aviation.com pada Maret 2010, pesawat yang terakhir diregistrasi sebagai ZS-TGR itu masih berada di Bandara Johannesburg Oliver Reginald Tambo International (JNB) dan dibiarkan mangkrak, layaknya bangkai pesawat lain di Gurun Mojave, AS.

Hanya saja, tidak ada laporan terbaru setelah tahun tersebut. Mengingat rentang waktu cukup lama dari Maret 2010 sampai Maret 2021, pesawat mungkin saja sudah tidak berada di bandara tersebut. Tetapi, bilapun masih di bandara tersebut, maukah Indonesia, dalam hal ini Garuda Indonesia, mendatangkan kembali pesawat bersejarah DC-9-30 Woyla PK-GNJ Garuda Indonesia? Menarik ditunggu.

Mudahkan Tunanetra, Ransel ini Dibekali “Kecerdasan Buatan” untuk Bantu Navigasi

Berbagai macam teknologi untuk memudahkan tunanetra makin berkembang. Hal ini agar para penyandang tunanetra lebih mudah memahami lingkungan yang ada disekitar mereka. Sehingga ketika melalui lingkungan tersebut mereka bisa menghindari rintangan yang menghalangi jalan.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Salah satu yang terbaru dan dibuat para teknisi adalah mengembangkan sistem perangkat yang dapat digunakan dengan aktivitas suara sehingga bisa melacak rintangan secara real-time dan mendeskripsikan lingkungan sekitar seseorang. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (28/3/2021), sistem bantuan visual ini terdiri dari beberapa komponen yang dapat dikenakan tanpa beban lebih dari yang digunakan setiap kali meninggalkan rumah.

Tim teknik pembuat sistem mengatakan, bahwa menyembunyikan elektronik adalah tujuan utama sehingga pengguna tidak terlihat seperti cyborg yang berjalan di jalan. Nantinya ini bisa digunakan di rompi atau tas pinggang yang mengemas serangkaian kamera 4K untuk memberikan informasi warna dan sepasang kamrea stereoskopik yang memetakan kedalaman bidang.

Informasi visual ini kemudian diumpankan ke otak operasi, disimpan di ransel. Di sana, unit komputasi seperti laptop atau Raspberry Pi menjalankan antarmuka dengan AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan yang disebut OpenCV’s AI Kit with Depth (OAK-D), yang menggunakan jaringan saraf untuk menganalisis data visual.

Ini juga berisi baterai portabel yang dapat digunakan hingga delapan jam, dan unit GPS yang terhubung dengan USB. Data visual yang diolah kemudian diteruskan melalui Bluetooth ke sepasang earphone, memberi tahu pengguna apa yang ada di sekitarnya.

Ini dapat memperingatkan rintangan dari berbagai bentuk, ukuran dan jenis serta menyatakan di mana mereka dalam kaitannya dengan pengguna, menggunakan deskriptor seperti depan, atas, bawah, kiri, kanan dan tengah. Jadi, misalnya, sistem dapat memberi tahu seseorang yang sedang berjalan di jalan bahwa mereka mendekati tempat sampah di “bawah, kiri” atau cabang yang menggantung rendah dengan “atas, tengah”.

Bahaya tersandung seperti trotoar atau tangga dapat terlihat sebagai perubahan ketinggian, dan sistem bahkan dapat mengenali hal-hal penting seperti rambu Berhenti atau penyeberangan saat mendekati sudut. Pengguna juga dapat mengeluarkan perintah suara untuk meminta informasi lebih lanjut.

Tim menjelaskan akan membuat sistem merespons dengan daftar apa yang ada di sekitar mereka dan di mana, seperti “mobil, jam 10”, “orang jam 12”, dan “lampu lalu lintas, jam 1”. Tempat tertentu juga dapat disimpan untuk referensi di masa mendatang dengan perintah seperti “simpan lokasi, kedai kopi”.

Nanti, ketika Anda ingin kembali ke sana, pengguna dapat mengatakan “cari kedai kopi” dan sistem akan memberikan petunjuk arah dan mengatakan seberapa jauh jaraknya.
Alat bantu berteknologi tinggi lainnya untuk penyandang tunanetra bermunculan, seperti tongkat laser yang mendeteksi objek dan perubahan medan, dan kerah pemandu Toyota yang berdengung di sisi kiri atau kanan untuk memberi tahu orang ke mana harus berbelok.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

Tetapi sistem baru ini terlihat jauh lebih detail dan berpotensi memungkinkan orang dengan penglihatan terbatas untuk menavigasi dunia secara mandiri. Ini masih awal, tetapi tim berharap untuk mempercepat sistem dengan menjadikan proyek non-komersial dan open source.

Intip Konsep Peacock Suites, Desain Hotel ‘Terbang’ Super Mewah Pesawat di Masa Depan

Para inovator di berbagai penjuru dunia, setiap detik saling berlomba menemukan berbagai solusi di kehidupan. Tak terkecuali di bidang penerbangan. 1001 satu inovasi telah dan masih akan terus dilakukan sampai benar-benar tak ada masalah atau mengakomodir seluruh kebutuhan manusia di pesawat. Salah satu solusi yang coba dihadirkan adalah konsep Peacock Suites.

Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Peacock Suite memungkinakn kursi diubah menjadi tempat tidur luas. Cocok untuk pasangan. Foto: Butterfly Seating

Konsep yang diusung Paperclip Design, perusahaan asal Hong Kong, ini bisa dibilang sangat mewah atau super premium. Tak ayal bila mereka berhasil memenangi ajang desain kabin pesawat tahunan bergengsi, Crystal Cabin Award tahun 2019.

Dilansir Simple Flying, Peacock Suites merupakan konsep kabin mewah untuk penumpang first class. Dalam kondisi tertentu, konfigurasi Winter Suite dan Spring Suite bak hotel terbang juga bisa diubah menjadi kelas bisnis kapasitas satu orang, family seating berkapasitas dua orang dewasa dan dua anak-anak, apartement VIP untuk dua orang, honeymoon suite untuk dua orang, bahkan suite VIP dua orang.

Posisi Peacock Suite di depan kelas bisnis. Foto: Butterfly Seating

Konfigurasi konsep Peacock Suites di pesawat terletak di depan kursi kelas bisnis, dengan bentuk masing-masing setengah lingkaran di sisi kanan dan kiri, menyisakan ruang cukup di tengah untuk akses ke dua toilet private di bagian depan dan private mini bar di sebelah belakang.

Secara umum, masing-masing setengah lingkaran tersebut bisa diisi oleh empat orang penumpang dengan konfigurasi 2-2. Bagi penumpang berpasangan, Peacock Suites bisa disulap menjadi tempat tidur cukup luas.

Peacock Suite bisa untuk empat orang ataupun dua orang. Foto: Butterfly Seating

Bagi family seating, Peacock Suites bisa diubah menjadi kursi untuk dua anak-anak dan dua dewasa, lengkap dengan dua lampu tidur, empat kompartemen bagasi di bagain bawah kursi, dua meja makan, tiga jendela pesawat, dan rak buku multi fungsi.

Selain itu, setiap setengah dari setengah lingkaran juga bisa diatur untuk konfigurasi untuk satu penumpang private dengan luas lantai sekitar 35 kaki persegi.

Selain dilengkapi dengan tempat tidur, meja makan juga tersedia di Peacock Suite. Foto: Butterfly Seating

Sebaliknya, agar lebih luas, sekat pemisah antar kamar di masing-masing sisi kiri dan kanan Peacock Suites bisa dibuka dan menghasilkan dua kamar luas yang menyatu. Ini cocok untuk family seating ataupun honeymoon suite, suite VIP, apartement VIP, dan lain sebagainya untuk dua orang, dimana area duduk dan tidur terpisah.

Tempat tidur di Peacock Suite bisa ditambah di bagian atas. Foto: Butterfly Seating

Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan

Yang paling mewah tentu gabungan dari seluruh fasilitas yang ada, dimana dua kamar setengah lingkaran, toilet, dan mini bar digabungkan, sehingga menciptakan suasana sangat private, senyap, dan mewah bak hotel terbang. Konsep ini tentu sangat cocok untuk seorang pengusaha kenamaan dunia, sultan tajir melintir, eksekutif setingkat menteri, presiden, perdana menteri, dan lain sebagainya.

Meskipun konfigurasinya mudah ditata ulang, sayangnya, konsep desain Peacock Suites dirancang untuk tersedia hanya di pesawat-pesawat widebody, utamanya Boeing 777 atau Airbus A350.

Inilah Rolls-Royce UltraFan, Mesin Pesawat Terbesar di Dunia, 100 Persen Ramah Lingkungan

Raksasa produsen mesin pesawat asal Inggris, Rolls-Royce, bakal meluncurkan mesin terbaru hasil pengembangan dari keluarga mesin Trent, Rolls-Royce UltraFan. Mesin dengan lebar 3,5 m itu diklaim menjadi mesin pesawat terbesar di dunia. Bila tak ada aral melintang, Rolls-Royce UltraFan ditargetkan bisa beroperasi pada awal tahun mendatang.

Baca juga: Kabar Baik, Rolls-Royce Mulai Uji Mesin 100 Persen Ramah Lingkungan!

Saat ini, Rolls-Royce mengaku sudah mulai membangun mesin demonstrator Rolls-Royce UltraFan. Ini didukung penuh dua negara, Inggris dan Jerman, dimana suku cadang sedang dibangun di Bristol, Inggirs, dan Dahlewitz, Jerman. Setelahnya, mesin Rolls-Royce UltraFan akan dikirim ke fasilitas DemoWorks di Derby, Inggris, untuk pengujian.

Sebelumnya, Rolls-Royce mengaku sudah berhasil membangun mesin pertama untuk keperluan testbed belum lama ini, dengan menghabiskan kocek sebesar US$125 juta atau sekitar Rp1,8 triliun (kurs 14.527). Testbed itu dilakukan di fasilitas testbed indoor terbesar di dunia, Testbed 80, milik FINN company atau Farnborough International, Inggris. Mesin Rolls-Royce UltraFan dijadwalkan akan kembali ke fasilitas testbed ini setelah melahap uji demonstran.

“Ini adalah momen yang menyenangkan bagi kami semua di Rolls-Royce. Ini tiba pada saat dunia mencari cara yang lebih berkelanjutan untuk bepergian di dunia pasca Covid-19, dan itu membuat saya dan semua tim kami sangat bangga mengetahui bahwa kami adalah bagian dari solusi,” kata Presiden Rolls-Royce, Chris Cholerton, dikutip dari Simple Flying.

Selain menjadi mesin pesawat terbesar di dunia, bersaing dengan kompetitornya asal Amerika Serikat, General Electric (GE) -yang notabene sudah meluncurkan mesin pesawat terkuat di dunia yang dipakai Boeing 777X, GE9X- Rolls-Royce juga tak melupakan dampak lingkungan dari kehadiran mesin UltraFan.

Disebutkan, mesin UltraFan akan menghemat konsumsi bahan bakar atau lebih efektif hingga 25 persen dari keluarga mesin Trent generasi pertama. Selain itu, mesin ini didesain untuk bisa dioperasikan dengan bahan bakar ramah lingkungan atau bahan bakar berkelanjutan (SAF-Sustainable Aviation Fuel) serta dioperasikan untuk seluruh pesawat narrowbody dan widebody, tak seperti GE9X yang hanya bisa dioperasikan pada pesawat-pesawat widebody.

“Efisiensi UltraFan akan membantu meningkatkan ekonomi transisi industri ke bahan bakar yang lebih berkelanjutan, yang kemungkinan akan lebih mahal dalam jangka pendek daripada bahan bakar jet tradisional. Uji coba pertama mesin akan dilakukan dengan 100 persen Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan,” jelas Chris.

Baca juga: Ini Dia Mesin Jet Terbesar di Dunia, Harganya Bikin Merem Melek!

Yang paling menarik dari mesin pesawat terbesar di dunia tersebut adalah sentuhan teknologinya selama proses pengujian yang nantinya membuat mesin jadi lebih kuat dan tahan lama.

“Setiap bilah kipas memiliki digital twin yang menyimpan data selama proses pengujian, memungkinkan teknisi untuk memprediksi kinerja dalam layanan. Saat diuji di fasilitas baru Rolls-Royce senilai £90 juta di Testbed 80, data dapat diambil dari lebih dari 10.000 parameter, mendeteksi getaran terkecil dengan kecepatan hingga 200.000 sampel per detik,” jelas Rolls-Royce, dalam sebuah keterangan.

Bantu Hentikan Tangisan Bayi dalam Penerbangan, Pramugara Pakistan Internasional Jadi Juara “HeForShe”

Pada 11 Maret 2021 kemarin dalam penerbangan Pakistan Internasional Airlines (PIA) dari Islamabad ke Karachi membuat seorang awak kabin (pramugara) menjadi pahlawan ketika seorang bayi mulai menangis dan sang ibu cukup lelah karena mengurus anaknya yang lain. Awak kabin itu bernama Tauheed Daudpota yang tengah menjalankan tugasnya dalam penerbangan tersebut.

Baca juga: Aksi Awak Kabin Emirates Tuai Pujian, Selamatkan Nyawa Penumpang dalam Penerbangan

Saat itu Daudpota mengambil bayi menangis tersebut dari sang ibu dan mulai menghiburnya. Bayi tersebut kemudian mulai diam dan tertidur dalam pelukannya. Bahkan beberapa jam setelah kejadian itu, foto dan video Daudpota yang tengah membantu sang ibu menenangkan bayinya tersebut viral dan mendapat pujian dari banyak orang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari arabnews.com (26/3/2021), UN Women Pakistan bahkan menyatakan bahwa Daudpota sebagai juara HeForShe karena menunjukkan empati, kepekaan gender, rasa hormat dan perhatian kepada penumpang wanita. HeForShe sendiri adalah gerakan solidaritas untuk memajukan kesetaraan gender yang diprakarsai oleh PBB.

Daudpota kemudian angkata bicara bahwa kesetaraan gender dapat membuat dunia menjadi lebih baik.

“Setiap pria harus menjadi uluran tangan bagi seorang wanita karena agama kami mengajarkan kami kesetaraan antara pria dan wanita, pria dan wanita. Jika masing-masing memainkan perannya secara positif dengan membantu satu sama lain, masyarakat, negara, dan seluruh dunia akan menjadi lebih baik. Ini adalah pelajaran agama, yang saya ajarkan oleh keluarga saya, ibu dan ayah saya,” kata Daudpota.

Daudpota berasal dari Shikarpur, sebuah kota kecil di provinsi Sindh selatan Pakistan, dan telah menjadi karyawan PIA selama 34 tahun. Ketika bayi mulai menangis, Daudpota mengatakan dia pertama kali mengirim dua awak kabin wanita untuk membantu, tetapi ketika tidak ada yang bisa menenangkan bayinya, dia pergi untuk membantu ibunya sendiri.

“Saya mengambil bayi itu, dan dia menatap saya lalu ketika saya menggendongnya di pundak, dia tidur nyenyak dan istirahat yang cukup,” kata Daudpota.

Sebuah video yang dibagikan oleh PIA menunjukkan dia didekorasi dengan medali PBB Wanita Pakistan. “Saya senang bisa melayani maskapai ini, bangsa ini, seluruh dunia, kemanapun PIA pergi dan mendarat,” kata Daudpota.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Otoritas Penerbangan Cina Rekomendasikan Awak Kabin Gunakan Popok Selama Bertugas

Dia juga mengatakan bahwa dirinya berterima kasih atas pengakuan tersebut dan berharap bisa membantu mengubah norma sosial yang menjadikan pengasuhan anak semata-mata pekerjaan perempuan.

“Ini adalah upaya gabungan dalam kehidupan normal. Anak-anak adalah tanggung jawab ayah sama besarnya dengan tanggung jawab ibu.Kami merawat bayi kami,” katanya.

Bye-bye Mahal, Mulai 1 April Tarif KA Bandara Soekarno-Hatta Cuma Rp5 Ribu!

Bagi penumpang pesawat ataupun commuters yang mengeluhkan tarif KAI Bandara Soekarno-Hatta terlalu mahal, kabar baik menghampiri Anda. Mulai 1 April 2021 mendatang, PT. Railink meluncurkan layanan baru KAI Bandara Premium, dimana tarifnya hanya sebesar Rp5 ribu untuk harga termurah sedangkan tarif termahal sebesar Rp30 ribu, terpaut 100 persen lebih dari tarif KAI Bandara Eksekutif.

Baca juga: KA Bandara Soetta Tawarkan Layanan City Check-In dan Baggage Handling Gratis!

“KAI Bandara Soekarno-Hatta kini hadir dengan pilihan harga yang lebih terjangkau mulai dari Rp5.000,00. Pada tanggal 1 April 2021 nanti kami akan meluncurkan layanan baru yaitu KAI Bandara Premium”, ungkap Plt. Direktur Utama PT Railink Anggoro Tri Wibowo dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.

Untuk tarif termurah KAI Bandara Premium, relasi terjauh untuk keberangkatan dari Manggara dan BNI City hanya sampai Stasiun Batu Cepet. Sedangkan untuk keberangkatan dari Staisun Batu Ceper, relasi terjauhnya hanya sampai Stasiun Duri. Bila ingin melanjutkan ke bandara, penumpang bandara ataupun commuters yang ingin menjajal layanan ini harus merogoh kocek Rp25 ribu untuk relasi Bandara-Batu Ceper.

Adapun tarif termahal layanan baru KAI Bandara Premium yaitu sebesar Rp30 ribu dengan relasi Bandara-Duri, Bandara-BNI City, Bandara-Manggarai, berbanding Rp40 ribu dari layanan eksekutif yang tarifnya seharga Rp70 ribu.

Jadwal keberangkatan layanan baru KAI Bandara Premium tersedia sebanyak 10 keberangkatan setiap hari, dimana jadwal keberangkata dari Stasiun KA Bandara Manggarai pukul 06.07 WIB, 08.37 WIB, 11.07 WIB, 13.37 WIB dan 16.07 WIB sedangkan keberangkatan dari Stasiun Bandara Soekarno-Hatta pukul 07.19 WIB, 09.49 WIB, 12.19 WIB, 14.49 WIB dan 17.19 WIB.

“Uji Coba Layanan KAI Bandara Premium ini tersedia dalam 10 (sepuluh) jadwal keberangkatan setiap harinya, kita akan evaluasi secara berkala disesuikan dengan kebutuhan pelanggan,” jelas Anggoro.

Perbedaan antara layanan baru KAI Bandara Premium dengan KAI Bandara Eksekutif sendiri terletak dari tempat konfigurasi tempat duduknya.

Untuk KAI Bandara Premium tempat duduknya menyamping atau menghadap sisi kanan dan kiri kereta dengan formasi 10×10 dan saling berhadapan. Mirip seperti kursi di KAI Commuter. Sedangan untuk KAI Bandara Eksekutif konfigurasinya 2×2, dimana kursinya menghadap ke depan. Selebihnya, tak ada perbedaan berarti kecuali tarif.

Program ini berlaku untuk KAI Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. KAI Bandara Executive adalah KAI Bandara yang sudah beroperasional saat ini, sedangkan layanan baru KAI Bandara Premium adalah KAI Bandara Soekarno-Hatta yang mengalami penyesuaian peta atau denah tempat duduk dan tarif pada beberapa jadwal keberangkatan.

“Penyesuaian denah tempat duduk dan tarif ini berlaku pada beberapa jadwal keberangkatan dan tidak semua jadwal keberangkatan mengalami penyesuaian,” tambah Anggoro.

“Tiket KAI Bandara Soekarno-Hatta kelas premium ini hanya berlaku untuk pembelian di channel offline melalui VM & POS serta channel online melalui Website & Mobile Apps, tidak berlaku channel pembelian melalui B2B, Tap & Go, MPOS dan Reduksi atau Corporate Member”, ujar Anggoro.

KAI Bandara memberikan akses yang mudah menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dengan menawarkan keunggulan-keunggulan kompetitif seperti ketepatan waktu (on time performance), kepastian, kecepatan dan kenyamanan.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Diharapkan, ini menjadi alternatif baru yang bisa mengakomodir kebutuhan dan keinginan para penumpang pesawat ataupun commuters.

“Adanya pilihan layanan tambahan kelas baru ini diharapkan dapat memberi banyak alternatif pilihan bagi pelanggan serta semakin meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum sebagai penunjang untuk melakukan mobilitas sehari-hari,” tutup Anggoro.