Fisker Kembangkan Mobil Listrik Khusus Paus Fransiskus di Vatikan

Stratup kendaraan listrik Fisker mulai mengalihkan perhatiannya ke transportasi kepausan dan mengungkapkan rencana pengembangan kendaraan listrik khusus untuk Paus Fransiskus. Pengalihan ini setelah mereka meluncurkan SUV Ocean yang telah ditunggu pada perhelatan CES tahun lalu.

Baca juga: Ada Keunikan Dibalik Penerbangan Paus ke Seluruh Dunia 

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (23/5/2021), mobil listrik kepausan tersebut didasarkan pada SUV Ocean yang menurut Fisker sangat cocok untuk aplikasi semacam itu dan diharapkan dikirimkan ke Sri Paus pada tahun depan. Fisker meluncurkan SUV Ocean-nya tahun lalu, dan mengungkapkan apa yang disebutnya sebagai kendaraan paling ramah lingkungan di dunia.

Salah satu pendiri Fisker, Henrik Fisker dan Dr. Geeta Gupta-Fisker bersama Paus selama kunjungan ke Kota Vatikan (newatlas.com)

SUV Ocean sendiri memiliki paket baterai 80-kWh yang menawarkan jangkauan 250 hingga 300 mil (402 hingga 483 km). Fitur ramah lingkungan lainnya termasuk bahan ramah dengan interiornya, seperti karpet yang terbuat dari sampah plastik yang diambil dari laut.

Kemudian, ada juga solar panel berukuran penuh yang diklaim Fisker dapat menghasilkan energi yang cukup untuk menggerakkan mobil melintasi 1.000 mil (1.600 km) dalam satu tahun.

“Saya mendapat inspirasi membaca bahwa Paus Fransiskus sangat perhatian tentang lingkungan dan dampak perubahan iklim bagi generasi mendatang. Bagian dalam dari mobil Paus akan berisi dari berbagai bahan yang merupakan hasil daur ulang, termasuk karpet yang terbuat dari botol plastik daur ulang dari laut,” kata salah satu pendiri Fisker, Henrik Fisker.

Hendrik mengatakan, ini bukan pertama kalinya Fisker melihat kendaraan listrik digunakan untuk meningkatkan kredensial lingkungan Vatikan. Sebelumnya, Paus Fransiskus menerima Nissan Leaf pada tahun 2017, dan Paus Benediktus XVI menerima Kangoo Maxi Z.E. dari Renault pada tahun 2012.

Tapi ini akan menjadi Popemobile listrik pertama yang ditujukan untuk penampilan  Paus di muka publik. Fisker mengatakan Popemobile dilengkapi desain kubah kaca untuk pemandangan yang jelas ke dalam dan ke luar kendaraan saat Paus menyapa umatnya.

Baca juga: Jalur Kereta Terpendek di Dunia, Ternyata ada di Vatikan

Fisker berencana untuk mengirimkan satu unit Popemobile kepada Paus Francis tahun depan, sementara produksi untuk SUV Ocean diharapkan akan dimulai pada November 2022 dengan harga mulai dari US$37,49.

Kembali Berlayar, Seorang Penumpang Kapal Pesiar Asuka II Positif Covid-19 Varian Baru

Bangkit dari keterpurukan karena pandemi, para operator kapal pesiar mulai kembali melakukan pelayaran dan mengangkut penumpang. Meski begitu pelayaran di masa pandemi Covid-19 membuat protokol kesehatan terus dijalankan untuk mencegah penularan seperti memberkan hasl PRC swab baik penumpang maupun awaknya sebelum keberangkatan.

Baca juga: Kapal Pesiar Asuka II Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Yokohama

Namun, pada awal Mei, sebuah kapal pesiar Jepang harus kembali berlabuh di Pelabuhan Yokohama karena seorang penumpangnya dinyatakan positif virus corona varian baru. KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (1/5/2021), pria yang terinfeksi virus corona tersebut berusia 60-an dari Tokyo yang pergi bersama seorang anggota keluarganya.

Anggota keluarga pria tersebut ketika di tes hasilnya negatif, namun karena hal ini, semua penumpang turun dari Kapal Pesiar Asuka II menuju ke Tokyo. Menurut operator kapal pesiar NYK Cruises dan pejabat kota setempat, sekitar 720 penumpang dan awak dinyatakan negatif satu minggu sebelum keberangkatan kapal pada pelayaran domestik tujuh hari, tetapi hasil tes tambahan yang dilakukan sebelum naik pada hari Kamis mengkonfirmasi Jumat sore bahwa pria itu positif.

Pihak operator mengatakan, penumpang yang terinfeksi merasa tidak nyaman di tenggorokannya setelah naik. Dia diisolasi di kabinnya bersama dengan anggota keluarganya yang pernah berhubungan dekat dengannya. Asuka II, meninggalkan Yokohama pada Kamis, awalnya dijadwalkan berhenti di Prefektur Aomori dan Hokkaido sebelum kembali ke Yokohama Rabu depan.

Fukashi Sakamoto, presiden NYK Line, meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan tersebut.

“Kami dapat segera menanggapi karena kami telah belajar dari Diamond Princess,” ujarnya.

Sakamoto mengatakan, mereka mengacu pada kapal pesiar yang terkena wabah infeksi virus korona. Di mana pada Februari 2020, kapal pesiar Diamond Princess dikarantina di pelabuhan yang sama setelah infeksi ditemukan di antara sekitar 3.700 penumpang dan awak dari 56 negara dan wilayah di dalamnya.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Kapal pesiar berbendera Inggris yang dioperasikan AS menarik perhatian ketika upaya pemerintah Jepang untuk menahan kontroversi virus corona. Sekitar 712 orang dari kapal itu akhirnya ditemukan terinfeksi dan 13 meninggal.

Minyak Jelantah Bekas Goreng Kentang Sekarang Jadi Bahan Bakar Pesawat

Perusahaan pembuat diesel terbarukan terbesar di dunia, Neste Oyj, mulai merambah pasar bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Ini dilakukan sebagai dukungan atas semangat menciptakan penerbangan bebas emisi di masa mendatang.

Baca juga: Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

Selain itu, perusahaan melihat, saat penerbangan penumpang mulai berangsur naik, rata-rata dari mereka tidak ingin setiap perjalanan yang dilalui berkontribusi untuk perubahan iklim.

“Orang akan mulai terbang lagi, tapi kemudian mereka ingin terbang dengan cara yang lebih berkelanjutan. Sama seperti yang kami lakukan dengan diesel terbarukan, kami menciptakan pasar ini,” kata CEO Peter Vanacker, seperti dikutip dari Bloomberg.

Saat ini, perusahaan asal Finalndia itu setidaknya sudah menginvestasikan sekitar US$ 230 juta atau sekitar Rp3,3 triliun (kurs 14.355) untuk pembuatan kilang energi terbarukan di Rotterdam, Belanda, serta perluasan fasilitas serupa di Singapura. Keduanya diproyeksikan mampu memproduksi 1,5 juta ton SAF per tahun pada akhir 2023 mendatang atau naik 100 ribu ton dari kapasitas produksi tahun ini.

Neste diketahui sudah menjalankan bisnis biodiesel lewat pabrik di Porvoo sejak 2005 silam. Namun, seiring berjalannya waktu, itu dianggap tidak terlalu menguntungkan. Pada tahun 2018, perusahaan tersebut mulai mengolah minyak jelantah bekas menggoreng kentang sebagai bisnis utama.

Pelanggan pertama Neste tentu saja datang dari maskapai penerbangan negara tersebut. Salah satunya Finnair. Tahun lalu, maskapai nasional Finlandia tersebut bertekad untuk meningkatkan anggaran belanja SAF di Neste menjadi US$ 12,2 juta per tahun pada 2025.

Selain itu, Neste juga menjual SAF ke perusahaan-perusahaan besar multinasional. SAF nantinya jadi bahan bakar utama berbagai kendaraan operasional mereka, baik darat, laut, maupun udara. Menurut perseroan, penggunaan SAF lebih diinginkan perusahaan di dunia ketimbang dekarbonisasi lewat kontribusi pada penanaman pohon.

SAF atau bahan bakar berkelanjutan sendiri ialah bahan bakar yang terbuat dari limbah atau residu, seperti minyak goreng bekas dan lemak hewani. Ini dinilai bisa memangkas emisi karbon sampai 80 persen dibanding bahan bakar fosil. Saat ini, SAF biasanya masih dicampur dengan bahan bakar fosil, dalam hal ini Avtur, dengan komposisi SAF beragam, yaitu 35-50 persen.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Harga tinggi menjadi alasan mengapa SAF belum 100 persen digunakan di setiap penerbangan. Finnair, misalnya, harus mengeluarkan biaya hingga tiga sampai lima kali lipat dari harga Avtur. Tentu ini memberatkan maskapai meski komitmen untuk penerbangan ramah lingkungan dan berkelanjutan tetap harus dijalankan.

“Kita perlu melanjutkan dengan biofuel dengan cepat. Biayanya tiga sampai lima kali lipat dari bahan bakar berbasis fosil. Harga harus turun,” kata Anne Larilahti, peneliti yang mengawasi upaya keberlanjutan Finnair.

Masinis Kereta Peluru Mules, Kondektur Tak Memiliki ‘SIM’ Gantikan di Ruang Kemudi

Rasanya urusan perut tidak bisa diabaikan begitu saja apalagi bila mules yang cukup mengganggu konsentrasi. Seperti yang belum lama ini terjadi pada masinis kereta peluru Jepang yang sakit perut dan harus ke toilet untuk buang air besar atau BAB.

Baca juga: Spektakuler! Video Kereta Cepat Shinkansen Terabas Salju di Stasiun Kurikoma-Kogen

Namun karena hal itu terjadi ketika kereta tengah melaju, masinis tersebut kemungkinan dikenakan tindakan disipliner. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (22/5/2021), masinis tersebut diketahui meninggalkan ruang kemudia kereta peluru yang tengah melaju kencang selama beberapa menit untuk pergi ke toilet.

Karena hal itu, dia meminta seorang kondektur untuk menggantikannya menjaga kereta yang melaju dengan kecepatan 150 km per jam tersebut. Namun yang menjadi masalah, kondektur tersebut tidak memiliki surat izin mengemudikan kereta.

Kereta peluru Hikari 633 saat itu membawa 160 penumpang dan insiden perginya masinis ke toilet tidak mempengaruhi perjalanan. Tetapi karena kondektur itu tidak memiliki SIM maka perusahaan kereta api telah melaporkan ke pihak berwenang dan meminta maaf.

Perusahaan kereta api Jepang Pusat atau JR Central mengatakan, insiden terjadi pada hari Minggu (16/5/2021). Saat itu kereta peluru tengah melakukan perjalanan di pusat prefektur Shizuoka dan masinis itu menderita sakit perut dan harus segera ke toilet. JR Central mengatakan, masinis memanggil seorang kondektur ke ruang kemudi untuk mengawasi dan pergi ke toilet penumpang selama sekitar tiga menit.

Padahal sesuai aturan yang berlaku, perusahaan menyatakan bahwa jika pengemudi tidak enak badan, mereka harus menghubungi pusat komando transportasi. Mereka juga diperbolehkan meminta kondektur untuk mengambil alih jika kondektur tersebut memiliki SIM.

Saat ini, JR Central mengatakan, pengemudi dan kondektur menghadapi kemungkinan tindakan disipliner.

“Itu tindakan yang sangat tidak pantas. Kami minta maaf,” ujar Pejabat senior Masahiro Hayatsu.

Baca juga: Tidur Ketika Mengoperasikan MRT, Masinis ini Langsung Kena PHK

Kereta api Jepang yang terkenal efisien diatur secara ketat dengan standar keamanan yang tinggi, dan kecelakaan kereta api jarang terjadi. Insiden besar terakhir terjadi pada tahun 2005 ketika sebuah kereta tergelincir di bagian barat kota Amagasaki, menewaskan 107 orang. Shinkansen, yang merupakan jaringan kereta peluru Jepang, tidak pernah mengalami kecelakaan selama 57 tahun sejarahnya.

Kebanjiran WN India Lewat Penerbangan Charter Saat Covid Mengganas, UEA Ancam Izin Maskapai!

Otoritas Penerbangan Sipil Umum (GCAA) Uni Emirat Arab (UEA) belum lama ini memberikan peringatan keras kepada operator jet pribadi. Hal itu sebagai respon atas banyaknya WN India yang masuk ke negara tersebut untuk menyelamatkan diri dari ‘serangan’ gelombang kedua Covid-19 di sana.

Baca juga: Ibukota Baru Akan Punya Bandara VVIP untuk Private Jet

Dunia tentu tahu bahwa India belakangan ini tengah menjadi sorotan akibat kasus Corona yang melonjak drastis. Pada awal Mei lalu, kasus India mencetak rekor 412.262 kasus baru Covid-19 dan rekor kematian harian nyaris empat ribu kasus. Oleh karenanya, orang-orang kaya bergegas ‘melarikan diri’ ke tempat-tempat aman, termasuk Dubai dan Abu Dhabi, UEA.

Sejak 24 April GCAA sudah melarang maskapai penerbangan berjadwal masuk dari India; disusul beberapa negara lainnya pada awal Mei, seperti Pakistan, Sri Lanka, Nepal, dan Bangladesh.

Kendati begitu, penerbangan pesawat charter masih diperbolehkan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi celah masuk WN India dan WN UEA, seperti dokter dan pengusaha, yang tengah bekerja di sana masuk ke negara tersebut. Fakta tersebut tentu membuat GCAA geram dan mengancam akan menutup perusahaan yang masih membandel.

“Ketika pesawat bisnis digunakan untuk mengangkut penumpang dari tujuan yang dibatasi (India), mereka tidak boleh difasilitasi atau dijual per kursi,” jelas GCAA, seperti dikutip dari The National.

“Operator yang mengumpulkan (orang untuk penerbangan charter dari negara-negara yang dilarang) atau ‘penawaran per kursi’ dapat dilarang beroperasi di UEA. GCAA mengumpulkan semua informasi yang diperlukan dari otoritas lokal untuk memverifikasi informasi penerbangan dan penumpang,” tambahnya.

Meski dilarang, sebetulnya penerbangan dari negara-negara tersebut tetap diizinkan bagi sejumlah orang, seperti WN UEA, diplomat, perjalanan bisnis, dan pemegang golden card visa UEA, sekalipun merogoh kocek yang sangat mahal untuk penerbangan charter. Itupun dibatasi maksimal delapan penumpang per penerbangan.

Baca juga: Inilah Airbus ACJ319neo, Jet Pribadi Crazy Rich yang Terinspirasi Mobil Sport

UEA memang terkenal ketat dalam upaya menekan penularan virus Corona. Sejak awal pandemi, salah satu dari tujuh emirat dan kota terpadat di UEA, Dubai, sampai memasang kamera CCTV canggih di seluruh sudut kota untuk mendeteksi suhu warga sekaligus membantu otoritas keamanan setempat menemukan titik-titik pelanggaran physical distancing.

Penggunaan kamera CCTV canggih berteknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut ketika itu prosesnya sudah memasuki tahap uji coba di beberapa titik. Bila berhasil dan tak ada kendala teknologi apapun, maka penggunaan kamera canggih dalam proyek ‘Oyoon’ ini akan bisa segera terlaksana setelah proses evaluasi (pasca masa ujicoba berhasil) selesai.

Volocopter Buat Versi Sayap Tetap untuk Penerbangan Jarak Lebih Jauh dan Lama

Sejak memasuki dunia taksi terbang pada tahun 2013, Volocopter telah memperkenalkan beberapa iterasi berbeda dari pesawat serba listriknya, secara bertahap menyempurnakan desain agar lebih aerodinamis, lebih stabil, dan lebih bertenaga. Pesawat eVTOL (electric Vertical Takeoff and Landing) yang dikenal sebagai VoloCity dibangun untuk membawa dua orang antar stasiun yang dikenal sebagai VoloPorts yang berjarak sekitar 30 km (18 mil), dengan sistem navigasi otonom yang menangani seluruh penerbangan.

Baca juga: Tiket Penerbangan eVTOL Penumpang Pertama Volocopter di Singapura Ludes Terjual dalam Sekejap

Perusahaan ini juga telah merancang drone angkat berat untuk membawa kargo seberat 200 kg, dan bahkan mengadaptasi teknologi untuk membangun drone penyemprot tanaman untuk John Deere. VoloConnect baru sedikit berbeda dari desain pesawat sebelumnya, terutama melalui sistem “angkat dan dorong” hibrida yang digunakan untuk melakukan perjalanan di udara.

Di mana pesawat Volocopter lainnya pada dasarnya berfungsi sebagai pesawat tak berawak raksasa, VoloConnect menggunakan rotor horizontal untuk mengangkat dirinya sendiri ke udara dan menyesuaikan ketinggiannya, dan kemudian sepasang kipas pendorong menendang untuk bergerak maju. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (17/5/2021), VoloConnect empat kursi dapat melakukan perjalanan hingga 100 km (62 mil) dengan setiap pengisian baterainya dan, dengan roda pendaratan yang dapat ditarik, memiliki kecepatan jelajah maksimum 250 km per jam (155 mph).

Perusahaan tersebut mengatakan bahwa pesawat tersebut telah dikerjakan selama sekitar dua tahun dan telah menguji prototipe skala dan “dengan cepat berkembang” menuju pengujian versi skala penuh. Desainnya juga sedikit berbeda dengan apa yang telah kami lihat dari sejumlah pemain terkenal di kancah eVTOL yang menggunakan mekanisme miring untuk beralih antara mode penerbangan vertikal dan horizontal, seperti Joby Aviation dan Lilium.

Ini dikenal sebagai dorong vektor dan menjanjikan kinerja yang lebih besar, dengan pesawat Joby mampu menempuh jarak hingga 240 km (150 mil) pada setiap pengisian daya. Kelemahan dari vektor dorong, bagaimanapun, kemungkinan merupakan jalan yang lebih rumit untuk sertifikasi, seperti yang dijelaskan Mike Hirschberg, direktur eksekutif dari Vertical Flight Society.

“Dorongan vektor adalah kinerja paling kompleks dan tertinggi. Kompleksitas sama dengan lebih banyak kinerja biaya dan risiko jadwal, tetapi hasil yang lebih tinggi,” katanya.

VoloConnect memiliki kemiripan yang lebih kuat dengan eVTOL Archer Aviation, yang menggunakan rotor terpisah untuk pengangkatan vertikal dan momentum ke depan, dan juga kebetulan memiliki kisaran yang sama.

Baca juga: Volocopter dan Grab Canangkan Uji Coba Taksi Udara di Asia Tenggara

“Kami yakin bahwa keluarga pesawat ini, dan pengalaman bertahun-tahun serta inovasi terdepan yang mendasari pendiriannya, akan merintis cara layanan UAM listrik (mobilitas udara perkotaan) untuk diluncurkan secara komersial dan internasional,” kata Florian Reuter, CEO Volocopter.

Perusahaan berharap dapat memperoleh sertifikasi VoloConnect dalam lima tahun.

Inilah Airbus ACJ319neo, Jet Pribadi Crazy Rich yang Terinspirasi Mobil Sport

Selain bersaing di pasar pesawat komersial, Airbus juga memiliki pasar di bisnis pesawat jet pribadi melalui Airbus Corporate Jet. Di antara beberapa jet pribadi Airbus, seperti ACJ220, ACJ350XWB, dan ACJ320neo memang begitu menawan untuk beragam latar belakang pelanggan. Tetapi, ACJ319neo dinilai lebih ideal dengan berbagai keunggulannya. Apa saja?

Baca juga: Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

Dalam hierarki deretan pesawat-pesawat ACJ, ACJ319neo sebetulnya bukan berada di pucuk tertinggi, pun sebaliknya. Pesawat berada di tengah-tengah. Itu mengapa pesawat ini digadang lebih ideal.

Secara dimensi, ACJ319neo masih di bawah ACJ320neo. Tetapi pesawat ini menawarkan kenyamanan dan jangkauan lebih.

Dari segini kenyamanan, ACJ319neo memiliki kabin tertinggi dan terluas dibanding semua pesawat jet bisnis Airbus serta mesin karakteristik sharklet baru untuk meningkatkan efisiensi.

Kabin terluas ini dimanfaatkan oleh Horacio Pagani, pendiri & Kepala Desainer Atelier Pagani Automobili, untuk membuat desain kabin Infinity, yang terinspirasi dari supercar.

Seperti diketahui, Airbus memang sering menggandeng biro desain lain untuk merampungkan jet bisnisnya.

Di antara desain monumental Pagani di interior ACJ319neo, seperti dikutip dari Simple Flying, atap tembus pandang atau sky ceiling adalah salah satunya. Mirip seperti DNA Airspace Airbus yang mengusung kenyamanan, suasana, layanan, dan desain, dimana salah satunya ialah permainan cahaya LED terbaru, konsep kabin Infinity juga demikian.

Lewat penataan cahaya brilian dan tentu saja perangkat pendukung, langit-langit kabin seolah tembus pandang atau mungkin tanpa atap sehingga menyajikan pemandangan awan dan langit secara real time. Pagani juga mengaku bahwa terlepas dari terinspirasi oleh mobil sport buatannya, filosofinya dalam mendesain sebuah karya turut andil dalam desain kabin Infinity tersebut.

“Seni dan Sains bisa berjalan bersama-sama: inilah filosofi Pagani. Kombinasi material komposit canggih yang belum pernah digunakan di pesawat terbang, seperti CarboTitanium, dengan desain khas Pagani Automobili, selalu mewakili ciri khas kami. Menerapkan sentuhan Renaisans kami ke ruang yang lebih luas di kabin Airbus corporate jet (ACJ) adalah awal dari usaha baru yang menarik bagi kami,” jelasnya.

Selain itu, material kulit asli, kayu, dan komposit juga menambah kenyamanan di berbagai ruangan di dalam kabin, seperti ruang keluarga, lounge, ruang makan, hingga bioskop.

Sekat antar ruangan juga dibuat sangat elegan dimana partisi bisa disetting transparan atau tidak dengan hanya satu sentuhan tombol, memudahkan pengguna lebih private saat membutuhkannya.

Baca juga: Crazy Rich Asal Malang Punya Jet Pribadi dan Bus Mewah, Ini Dia Armadanya

Seluruh kenyamanan tersebut juga didukung dengan performa tinggi pesawat. Karena dimensi lebih kecil, pesawat jadi bisa terbang lebih jauh mencapai 12.500 km atau 15 jam non stop dengan delapan penumpang.

Pesawat juga mampu terbang maksimal di ketinggian 12.500 km agar lebih nyaman dan minim turbulensi. Bagi para sultan atau crazy rich yang tertarik membeli, harganya murah kok, hanya US$100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun (kurs 14.364).

Mesin Penjual Otomatis, Jual 48 Jenis Produk dari Buah Hingga Suvenir

Biasanya mesin penjual otomatis menjual satu macam barang seperti minuman dengan berbagai rasa, makanan atau barang keperluan lainnya. Namun bagaimana bila dalam satu mesin penjual otomatis ada berbagai barang baik makanan, minuman hingga keperluan setiap orang? Ini pastinya akan memudahkan setiap orang untuk memenuhi kebutuhan mereka saat membutuhkannya.

Baca juga: “The Giving Machine,”Mesin Penjual Otomatis yang User Friendly

Mesin penjual otomatis dengan berbagai barang tersebut telah disiapkan di bandara di prefektur Jepang barang. Dalam mesin akan berisi produk musiman serta suvenir dari prefektur Kochi dan menjadi cara baru menjual produk pada masa pandemi saat ini.

KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (16/5/2021), mesin penjual otomatis alan berada di ruang tunggu keberangkanan di Bandara Kochi Ryoma di Nakoku, prefektur Kochi. Mesin berukuran 1,8 meter x 2,7 meter tersebut menjual sebanyak 48 item termasuk barang-barang terlaris dan suvenir populer yang dijual di Big Sun, toko di dalam bandara yang dikelola langsung oleh perusahaan bandara.

Selain sandwich dan barang kebutuhan pokok lainnya, mesin penjual otomatis juga diisi dengan tomat, buah jeruk konatsu dan produk lain yang ditanam di prefektur dan sesuai musim. Mesin penjual otomatis ini juga menawarkan produk unik seperti paket makanan untuk telur mentah di atas nasi, yang meliputi nasi buatan prefektur, serpihan bonito, dan kecap yang diperkaya dengan kaldu.

Mesin tersebut juga menerima uang elektronik dan dapat memindai kode QR untuk pembayaran, dan berupaya mengumpulkan berbagai pelanggan. Tampaknya jarang, bahkan secara nasional, mesin penjual otomatis yang menjual suvenir dan hasil pertanian didirikan di bandara.

Menurut Gedung Terminal Bandara Kochi Co, jumlah penumpang di bandara telah mengalami penurunan dramatis karena pandemi virus corona. Penjualan produk untuk tahun fiskal sebelumnya turun menjadi sekitar 30 hingga 40 persen dari angka yang tercatat sebelum pandemi.

Mesin penjual otomatis baru ditujukan untuk merampingkan operasi toko guna mengurangi biaya personel, sekaligus menjadi bagian dari pencarian cara baru untuk menjual produk. Selain mesin penjual otomatis, layar sentuh juga telah dipasang di toko Big Sun yang terletak di lobi keberangkatan bandara.

Orang-orang dapat melihat daftar suvenir populer serta produk yang direkomendasikan di layar 40 inci, dan bandara berencana untuk mewujudkan konsep melayani pelanggan tanpa tatap muka atau kontak langsung.

Baca juga: Bandara Zurich Hadirkan Mesin Penjual Masker Otomatis Anti Covid-19

“Konsep kami adalah sebuah toko dapat dijalankan hanya dengan satu mesin penjual otomatis. Dengan melihat pendirian vending ini sebagai langkah pertama, kami ingin menjelajahi sifat ideal bandara di tengah pandemi,” ujar Hiroyuki Tadokoro, manajer penjualan di Kochi Airport Terminal Building Co.

Livall Hadirkan Helm Sepeda Pintar dengan Teknologi Akselerator

Mengamankan kepala dengan menggunakan helm ketika berkendara dengan sepeda, sepeda motor atau skuter menjadi salah satu yang utama. Namun, dengan helm juga bisa memudahkan pengendara memberitahukan pengendara lain saat akan berbelok dan berhenti.

Baca juga: TorchONE – Helm Sepeda dengan Lampu LED yang Bisa Dipasang dan Dilepas

Bahkan juga membantu menerangi jalan dengan lampu tambahan yang dipasang pada helm. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/5/2021), sebuah perusahaan Cina enam tahun lalu sudah menghadirkan helm canggih dengan lampu yang menyala saat pengendara akan berbelok dan berhenti.

Saat ini pabrik bernama Livall tersebut mengembangkan model baru yang lebih ringan dan lebih ramping di Indiegogo. Helm ini dikenal dengan EVO21 yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya dan helm pintar pengendara sepeda dari pabrikan lain dalam hal bentuk dan fitur standarnya.

EVO21 dilengkapi dengan strip lampu LED depan serta belakang dengan masing-masing berwarna putih dan merah. Lampu LED ini bisa diatur ke intensitas dan mode kedip yang berbeda melalui remote yang dipasang di setang. Di mana ketika pengendara berbelok lampu akan berkedip sesuai arah belok pengendara, kemudian lampu rem yang berkedip secara otomatis diaktifkan oleh akselerator yang terintegrasi.

Selain itu, ada sistem peringatan yang mengirimkan pesan teks SOS ke kontak darurat jika pengendara jatuh dan terdeteksi helm. Dalam hal ini, pengendara memiliki waktu 90 detik untuk membatalkan pesan tersebut sebelum dikirim secara otomatis.

Namun, salah satu fitur EVO21 yang lebih unik adalah kemampuannya untuk hidup dan mati sendiri. Jadi, setelah dinyalakan pada awalnya memulai perjalanan, itu dapat diatur untuk kemudian mematikan LED setiap kali kondisi cukup terang sehingga tidak diperlukan pencahayaan, tetapi kemudian menyalakannya kembali dalam kondisi redup.

Selain itu, ini juga akan secara otomatis mematikan LED saat pengendara melepas helm dari kepalanya, lalu menyalakannya kembali saat pengguna memasang helm kembali. Hal lain yang membedakan EVO21 adalah kemampuan untuk mengatur strip LED lampu depan agar berkedip dalam warna selain putih, yang berpotensi membuatnya lebih menarik bagi pengendara. Helm tersebut juga lebih ringan dari model Livall sebelumnya, dilaporkan memiliki bobot 350 gram.

Baca juga: Helm Tail-Light-Packin Didukung dan Diaktifkan oleh Cahaya Sekitar

Satu kali pengisian daya baterai lithium-ion selama tiga jam diklaim dapat digunakan selama sekitar sepuluh jam. Semua elektronik tahan air IPX5, yang berarti mereka dapat menahan semprotan bertekanan rendah yang berkelanjutan. Dengan asumsi kampanye crowdfunding saat ini berhasil, jaminan sebesar US$79 akan memberi Anda Livall EVO21 Anda sendiri harga eceran yang direncanakan adalah $129.

Ingin 100 Persen Bebas dari Bahan Bakar Fosil, Volvo Buka Lab Uji Sel Bahan Bakar

Beberapa tahun terakhir ini, industri tansportasi mulai mengubah cara penggunaan bahan bakar mereka dari fosil ke energi lainnya seperti listrik dan hidrogen. Sehinga penggunaan bahan bakar fosil yang semakin hari semakin berkurang jumlahnya bisa tergantikan dengan bahan lainnya.

Baca juga: Kembangkan Motor Listrik Internal, Volvo Ingin Jadi Manufaktur Mobil Listrik Premium

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman h2-view.com (20/5/2021), untuk mencapai tujuan menjadi seratus persen bebas energi fosil pada tahun 2040, Volvo Group telah membuka lab uji sel bahan bakar khusus pertamanya di Pusat Teknis Peralatan Konstruksi Volvo (Volvo CE) di Eskilstuna, Swedia. Perusahaan mengumumkan pembukaan tersebut pada Selasa (18 Mei), sebagai bagian dari investasi perintis yang akan menguji dan mengembangkan solusi teknologi sel bahan bakar hidrogen.

Di dalam lab uji, Volvo Group akan menguji teknologi hidrogen dalam berbagai aplikasi, dengan pabrikan secara khusus menyebutkan alat berat konstruksi berat sebagai fokus. Toni Hagelberg, Head of Sustainable Power di Volvo CE, mengatakan, teknologi sel bahan bakar adalah pendorong utama solusi berkelanjutan untuk alat berat konstruksi yang lebih berat, dan investasi ini memberi kami alat penting lain dalam pekerjaan kami untuk mencapai Target Berbasis Sains.

Dia mengatakan, lab tersebut juga akan melayani Volvo Group secara global, sebagai yang pertama menawarkan pengujian lanjutan semacam ini. Ini adalah langkah yang sangat menarik untuk mempercepat pengembangan solusi sel bahan bakar menuju visi bersatu Volvo untuk masyarakat netral karbon..

“Hidrogen dapat diproduksi dengan berbagai cara dan penting untuk memiliki pendekatan siklus hidup di seluruh rantai nilai. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan di lab uji tidak hanya akan didedikasikan untuk menghasilkan solusi konstruksi bebas fosil, kami juga akan melihat bagaimana hidrogen itu sendiri diproduksi, dan mengupayakan apa yang disebut hidrogen ‘hijau’ yang dihasilkan dari energi terbarukan,” ujar Toni.

Baca juga: Australia Bangun Kapal Ferry Berbahan Bakar Hidrogen Untuk Kurangi Emisi

Lab baru ini menunjukkan dedikasi yang sama terhadap teknologi sel bahan bakar hidrogen, seperti peluncuran sel sentris baru-baru ini, sebuah usaha patungan oleh Volvo Group dan Daimler Truck untuk mengembangkan dan mengkomersialkan solusi sel bahan bakar dalam truk jarak jauh dan seterusnya.