Perpres Resmi Diterbitkan, Bus Listrik Segera Mengaspal di Jalanan Ibu Kota

Peraturan Presiden atau Perpres No.55/2019 mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai resmi diterbitkan, dan ini membawa angin segar untuk tatanan kedepannya bagi transportasi perkotaan, khususnya di Jakarta.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Tak hanya itu, kehadiran program Langit Biru yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serta Instruksi Gubernur (Ingub) No.66/2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara, semakin mendekatkan langkah pemerintah dalam mewujudkan transportasi publik berbasis listrik di ibu kota.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, pihaknya mendukung program yang diinisiasi oleh pemerintah guna mengembangkan transportasi publik di Jakarta. Dia menyebutkan, adanya rencana penerapan bus listrik ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengurangi dan menghapuskan emisi bahan bakar berbahaya kedepannya.

Sehingga hal ini membuat TransJakarta mulai bersiap menuju era baru dengan mengoperasikan bus listrik. Bahkan persiapan proses elektrifikasi sudah mulai dijajaki bersama dengan beberapa penyedia bus listrik. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan semua armada bus yang digunakan nantinya hadir dengan kualitas yang baik.

“Ketika pemerintah mengeluarkan misi Jakarta dengan Langit Biru, maka TransJakarta sebagai agen pembangunan haruslah mendukung kebijakan tersebut. Proses penggunaan bus listrik ini sendiri sudah mulai dilakukan sejak tahun 2019 lalu,“ ujar Jhony yang dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (29/3/2021).

Dia menambahkan, pada prinsipnya TransJakarta bersama operator siap bekerjasama untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Dalam proses implementasinya, dikatakan Jhony, bahwa sebelum resmi dioperasikan, semua produsen bus diharapkan sudah melakukan sertifikasi armada agar sesuai dengan standar pelayanan minimum atau SPM yang berlaku.

Jhony mengatakan, harapannya sebanyak 10.051 armada bus listrik sudah mengaspal di jalur TransJakarta dan bisa dinikmati oleh semua masyarakat pada tahun 2030 mendatang.

“Bus-bus ini akan kita operasikan secara bertahap. Untuk tahun 2021 ini, kita menargetkan sebanyak seratus armada bus yang akan dioperasikan. Harapan kita, agar saat ulang tahun DKI Jakarta nanti kita bisa implementasikan minimal 20-30 armada bus listrik per Juni 2021,“ ungakpanya.

Jhony menambahkan, nantinya jika berjalan sesuai harapan, ini akan menjadi langkah menuju goals yang lebih besar lagi. Dia menyebutkan bahwa kedepannya armada bus dengan bahan bakar solar perlahan akan berganti dengan bus berenergi listik.

Hal tersebut sejalan dengan ketentuan usia masa berlaku bus yang diperbolehkan beroperasi di DKI Jakarta dan sekitarnya yakni sepuluh tahun. Sehingga tidak serta-merta semua armada akan langsung diganti dengan bus listrik, tetapi akan bertransformasi secara paralel beriringan dengan habisnya masa berlaku bus berbahan bakar solar tadi, tambah Jhony.

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Selain itu, untuk mendukung rencana ini, TransJakarta sendiri berencana menyediakan fasilitas charging stasion kedepannya. Jhonye menambahkan, pada rencana awal, fasilitas ini akan berada di duda titik yakni di Kelapa Gading Jakarta Utara dan Pejaten Jakarta Selatan.

Gegara Hal Ini, Pesawat Airbus A340 Lufthansa Terpaksa Terbang “Flight to Nowhere”

Belum lama ini, pesawat Airbus A340-300 Lufthansa dilaporkan terbang flight to nowhere. Tak seperti maskapai lainnya, Lufthansa menjajaki ini dengan terpaksa. Alhasil, bukan kesenangan yang didapat, justru penumpang malah dibuat khawatir karenanya.

Baca juga: Usai Flight to Nowhere, Qantas Luncurkan “Flight Mystery,” Apa Itu?

Sejak awal pandemi Covid-19 tahun lalu, maskapai penerbangan dunia memang bisa dibilang mati suri. Tak ingin tinggal diam, beberapa di antaranya pun memulai terobosan dengan meluncurkan program flight to nowhere atau terbang keliling suatu negara atau negara tetangga untuk kemudian mendarat di bandara yang sama.

Hingga kini, flight to nowhere tercatat sudah dilakoni oleh banyak maskapai, mulai dari EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA), Royal Brunei Airlines, Thai Airways, dan Qantas. Dua maskapai lain, yaitu Singapore Airlines dan Korean Air, sebetulnya nyaris melakoni program tersebut. Hanya saja, dua maskapai itu batal merealisasikannya.

Akan tetapi, itu masih jauh lebih baik ketimbang menjalankan program tersebut namun dengan terpaksa. Seperti yang dialami Lufthansa.

Dilansir Simple Flying dari The Aviation Herald, pada 16 Maret lalu, pesawat A340-300 maskapai nasional Jerman itu dilaporkan menjalani flight to nowhere dari Bandara Cancún, Meksiko. Awalnya, pesawat dengan nomor penerbangan LH515 itu tidak berniat menjalani penerbangan flight to nowhere.

Setelah sekitar satu jam, mesin CFM56 nomor tiga dilaporkan mengalami masalah. Meski demikian, mesin tak sampai mengeluarkan asap maupun api. Tak ingin mengambil risiko, pilot mematikan mesin pesawat dan memutuskan turn around atau return to base atau putar balik dari ketinggian 31 ribu kaki, tak jauh dari garis pantai Kuba.

Tak lama kemudian, pesawat turun ke ketinggian 28 ribu kaki, kemudian 20 ribu kaki, dan mendarat dengan selamat di runway 12R di bandara semula, kurang lebih dua jam setelah lepas landas. Belum diketahui secara pasti penyebab kerusakan pada mesin pesawat berusia sekitar 20 tahun itu, mengingat proses penyelidikan masih dilakukan.

Sebelum mulai beroperasi, sebuah pesawat komersial yang dioperasikan maskapai diketahui harus melalui serangkaian uji sertifikasi. Di antaranya ialah sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Baca juga: Bisakah Airbus A380 Terbang dengan Satu Mesin? Ini Jawabannya

Secara singkat, ETOPS bisa diartikan sebagai kemampuan pesawat terbang di luar kondisi normal. ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diijinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin.

Biasanya, sebuah maskapai penerbangan akan mendapatkan ijin ETOPS dari kelas yang paling bawah, yaitu ETOPS 75. Bukan tidak mungkin perijinian ETOPS tersebut akan ditingkatkan dengan cara melewati serangkaian tahapan terlebih dahulu.

Tragis, Pedayung Tunanetra Ditinggal di Tempat Tak Dikenal oleh Pengemudi Taksi

Seorang atlet Paralimpiade di Kanada merasakan hal pahit ketika bepergian menggunakan taksi. Di mana dirinya pada satu minggu yang lalu di turunkan pengemudi taksi di lokasi yang salah tanpa tahu dirinya berada di mana. Victoria Nolan pedayung tunanetra ini mengaku bukan pertama kalinya mengalami hal tersebut dengan sebuah taksi.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Nolan mengatakan saat itu dirinya mengunjungi Victoria dari Toronto selama beberapa bulan untuk persiapan Paralimpiade Tokyo dan menggunakan aplikasi taksi untuk mengantarnya ke sebuah janji. Dilansir KabarPenumpang.com dari piquenewsmagazine.com (19/3/2021), dia memiliki masalah di masa lalu dengan pengemudi taksi yang menolak tumpangannya karena memiliki anjing pengganggu dan merasa ketegangan dalam kendaraan ketika pengemudi itu tiba.

Dia memberikan alamat ke alun-alun yang dia tuju dan nomor unit bisnisnya. Dia mengatakan bahwa pengemudi tersebut mengatakan kepadanya bahwa mereka telah tiba di tempat yang tepat, dan dia setuju untuk mengantarnya ke pintu, tetapi saat dia mengenakan tali kekang anjingnya, dia melaju pergi dengan pintu taksi masih terbuka.

Nolan, yang menderita retinitis pigmentosa atau kelainan genetik yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara bertahap ini dapat melihat cahaya dan bayangan di bidang yang sangat sempit, “seperti melihat melalui sedotan. Turun di tempat yang salah dan kota yang tidak dikenalnya, dia tidak tahu di mana dia berada.

Nolan mencoba menelepon bisnis yang dia tuju tetapi mendapatkan pesan suara mereka. Dia mencoba FaceTime suaminya di Toronto untuk melihat apakah dia dapat membantu mengarahkannya, tetapi hubungannya terlalu buruk. Dia mengatakan, beberapa orang lewat, tetapi “ketika Anda tidak dapat melihat, sulit untuk menghentikan seseorang dan mendapatkan informasi.

“Saya menahannya sepanjang waktu, Anda tahu, mencoba untuk menyatukannya, dan kemudian ketika saya harus menjelaskan apa yang terjadi, saya langsung menangis di telepon,” kata Nolan yang menghubungi perusahaan taksi dan meninggalkan pesan suara.

Dia yakin bahwa pengemudinya kesal karena anjing pemandu berada di dalam kendaraan, sesuatu yang dia alami di taksi di seluruh Kanada. Pengalaman ini membuat Nolan merasa kebebasan dan kemandiriannya dirampas, dan itu bisa membuatnya ragu untuk pergi sendiri lagi.

Nolan, yang merupakan kepala hubungan pemangku kepentingan dan keterlibatan masyarakat untuk Anjing Pemandu CNIB, sebuah program untuk memelihara dan melatih anjing pelayan, mengatakan dia menerima telepon dari seluruh negeri terkait pengalaman serupa. Lima hari setelah kejadian itu, Nolan mendapat telepon dari Yellow Cab of Victoria yang meminta maaf atas pengalamannya. Dia diberitahu bahwa perusahaan akan mengembalikan ongkosnya dan memberikan sumbangan untuk program anjing pemandu CNIB.

Pengemudi diskors selama tiga hari dan diharuskan untuk mengikuti kembali pelatihan aksesibilitas melalui perusahaan. Nolan mengatakan tanggapan perusahaan adalah awal yang baik, dan dia senang mendengar pengemudi akan mengambil lebih banyak pelatihan.

Oriano Belusic, wakil presiden Federasi Tunanetra Kanada, mengatakan dia telah mendengar beberapa contoh di mana penumpang tunanetra diturunkan di lokasi yang salah, tetapi masalah yang jauh lebih umum adalah pengemudi menolak membawa orang dengan anjing pemandu.

Dia ingin melihat lebih banyak denda yang dikeluarkan untuk pengemudi yang menolak penumpang dengan anjing pemandu dan perlindungan yang lebih kuat melalui pengadilan hak asasi manusia, yang menurutnya menerima alasan yang “tipis” dari pengemudi, seperti klaim alergi, tidak melihat penumpang, dan kendaraan yang terlalu kecil untuk seekor anjing.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

“Sangat disayangkan, menurut saya, otoritas yang dituntut untuk menegakkan hukum, dan mereka yang bertanggung jawab untuk menegakkan hak akses membiarkan masalah seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Kisah Perjuangan Jae Won Jess Shin, Gadis ‘Miskin’ Korea yang Sukses Jadi Pramugari dan Pilot

Garis tangan tak ada yang pernah tau kemana seseorang akan dibawa. Seperti yang dialami Jae Won Jess Shin. Gadis asal Korea Selatan ini sejak kecil tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pramugari dan pilot. Penyebab utamanya, apalagi kalau bukan biaya dan skill mumpuni.

Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Dilansir Aerotime Aero, Jae Won Jess Shin bukan berasal dari keluarga mampu, yang ketika menginginkan sesuatu, orang tuanya langsung mendukung penuh, baik moral maupun material. Jess Shin bahkan pernah bekerja sebagai au pair di Amerika Serikat, yang bagi sebagian kalangan dianggap sebagai program yang mempekerjakan seseorang dengan balutan program magang lintas negara.

Usai pulang dari program au pair dan membawa pulang sejumlah uang hasil tabungannya di sana, Jess Shin kemudian terngiang-ngiang dengan cerita ibunya. Ketika itu, ibunya bercerita bahwa seusia Jess Shin, ia sangat ingin menjadi pramugari. Dari situlah mimpinya menjadi pramugari dimulai.

Berbekal uang tabungan serta sedikit bantuan dari orang tuanya, ia pun mengambil kursus pramugari dan melamar menjadi pramugari Qatar Airways. Sekalipun berstatus fresh graduate, paras cantik dan bahasa Inggris lancar tentu menjadi modal berharganya. Benar saja, ia berhasil diterima, salah satunya karena kemampuan bahasa asingnya. Terlebih, bahasa ibu Jess Shin -bahasa Korea- bisa dibilang menjadi salah satu bahasa internasional yang banyak dituturkan selain bahasa Inggris.

Selama berkarir sebagai pramugari Qatar Airways, Jess Shin sudah mencicipi nikmatnya terbang di berbagai pesawat, seperti Airbus A320, A330, A340, dan A350 sebagai serta Boeing 777 dan Boeing 787, yang membawanya ke banyak negara di dunia, di hampir seluruh benua, kecuali Antartika.

“Saat-saat ketika saya biasa mendarat di tempat tujuan dan singgah sangat menawan. Tidak peduli di mana saya berada, itu sangat bagus. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan tinggal di Sudan atau Nigeria atau bahkan Afrika Selatan. Seperti saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan dapat pergi mengunjungi negara-negara semacam itu sebelumnya karena itu cukup jauh dari Korea dan itu bukan tempat yang akrab,” ujarnya.

“Saya sebenarnya memiliki salah satu persinggahan terbaik di Nigeria atau bahkan Sudan. Tapi saya pasti bisa mengatakan saya pernah ke sebagian besar benua,” tambahnya.

“Sangat menarik bertemu orang-orang dari begitu banyak negara, negara-negara yang tidak pernah terpikirkan oleh saya, seperti Aljazair, atau Maroko, atau bahkan negara-negara Timur Tengah. Beberapa teman baik saya adalah orang Mesir, jadi, bagaimana saya tahu bahwa saya akan memiliki sahabat dari Mesir,” ceritanya.

Setelah melanglang buana, garis tangan Jess Shin menuntunnya banting setir menjadi pilot. Pada tahun 2019, tiba-tiba seorang teman mengajaknya untuk mengikuti kursus pilot di Afrika Selatan. Secara kebetulan, ia juga sudah bosan dengan rutinitas yang ada. Di samping itu, profesi pilot juga tak banyak berubah dengan dunia yang dialaminya saat itu.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Barbara ‘Penata Rambut’ Harmer Resmi Jadi Pilot Wanita Pertama Concorde

Langkah besar kemudian diambil sebelum pandemi Covid-19 mewabah. Ketika itu, ia memutuskan resign sebagai pramugari Qatar Airways dan mengambil pelatihan pilot untuk mengejar lisensi pilot komersial atau Airline Transport Pilot License (ATPL). Setelah melewati beberapa ujian, ia pun mendapat lisensi ATPL, disusul lisensi pilot komersial untuk multi-engine dan instrument rating, serta single engine.

Kendati saat ini ia belum dilirik maskapai, namun, ia tetap yakin suatu saat nanti dirinya akan kembali ke udara, bukan sebagai pramugari melainkan sebagai pilot. Bila boleh memilih, ia akan sangat senang bila terbang dengan pesawat impiannya, Boeing 787 Dreamliner.

Hari ini, 20 Tahun Lalu, Bandara Incheon di Korea Selatan Resmi Beroperasi

Bicara tentang Korea Selatan, maka tak bisa diepaskan dari keberadaan Bandara Internasional Incheon, pasalnya, inilah pintu keluar masuk utama bagi para pelancong dan pebisnis yang bertandang ke Negeri Ginseng. Dan tahukah Anda, bahwa tepat hari ini, Bandara Incheon telah berusia 20 tahun.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Merujuk ke sejarahnya, Bandara Incheon kehadirannya melengkapi Bandara Internasional Gimpo. Awal kehadirannya di mana setelah Olimpiade Musim Panas pada 1988, lalu lintas udara menuju Korea Selatan meningkat drastis. Bahkan pada dekade 1990-an, hal itu semakin jelas bahwa Bandar Udara Internasional Gimpo tidak mampu mengatasi peningkatan lalu lintas udara.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, untuk mengurangi beban Bandara Gimpo, maka pembangunan Bandara Incheon dimulai pada bulan November 1992. Incheon sendiri dibangun di atas tanah reklamasi antara Pulau Yeongjong dan Pulau Youngyu dan menghabiskan waktu selama delapan tahun untuk pembangunannya.

Enam bulan setelahnya pun digunakan untuk pengujian. Hingga akhirnya resmi dibuka secara resmi pada 29 Maret 2001. Awal mulai beroperasinya, banyak masalah yang terjadi di Bandara Incheon terutama pada masalah handling bagasi. Di mana memerlukan sistem yang dapat beroperasi semi otomatis.

Sebagian besar masalah tetap terjadi selama satu bulan dan ketika bandara mulai beroperasi. Setahun kemudian tepatnya tahun 2002 lalu lintas udara menuju Korea Selatan meningkat tajam. Karena meningkatnya, Korea Selatan melakukan pembangunan tahap kedua yang dimulai Februari 2002 dan pembangunan berakhir pada Desember 2008.

Karena Olimpiade Musim Panas 2008 pada bulan Agustus 2008, tetapi, jadwal konstruksi disesuaikan untuk memungkinkan pembangunannya berakhir pada Juli 2008. Pada tanggal 15 November 2006, Airbus A380 mendarat di bandara sebagai bagian dari leg pertama perjalanan sertifikasinya. Pengujian di landasan pacu, taxiway dan ramp menunjukkan bahwa bandara mampu menangani pesawat Airbus A380.

Untuk lebih meningkatkan pelayanan, Incheon dan perusahaan logistik besar Korea, Hanjin Corporation (perusahaan induk dari Korea Flag carrier, Korean Air), sepakat pada tanggal 10 Januari 2008 untuk membangun rumah sakit berlantai sembilan di dekat bandara. Setelah pembangunan selesai pada tahun 2011, Yeongjong Medical Centre diharapkan untuk melayani warga di dekatnya dan sebagian dari 30 ribu pelancong medis setiap tahunnya.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat

Pada 2017 pembangunan terminal penumpang ke dua dibagian utara selesai untuk memperluas terminal kargo dan infrastruktur. Pada 2020 kemarin, adalah tahap pembangunan terakhir dan ultimate. Sehingga setelah selesai bandara akan memiliki dua terminal penumpang, empat concourse satelit, 128 pintu gerbang dan lima landas pacu sejajar (satu landas pacu dikhususkan untuk penerbangan kargo) yang sanggup melayani 100 juta penumpang dan tujuh juta metrik ton kargo per tahun, dengan kemungkinan perluasan lebih lanjut. Bandara diproyeksikan untuk bertransformasi ke dalam satu dari sepuluh besar bandara tersibuk di dunia pada tahun 2020.

Di India, Privatisasi Perusahaan Kereta Api Dianggap Ide Buruk, Ini Alasannya

Privatisasi adalah proses penjualan perusahaan milik negara ke sektor swasta. Privatisasi mungkin dilakukan dengan berbagai macam alasan dan kepentingan, seperti sisi positif yang dikemukanan adalah pada perbaikan kualitas layanan sampai dapat mengurangi beban keuangan pemerintah. Namun, tak selamanya langkah privatisasi bisa pas dilakukan, seperti di India, privatisasi pada perusahaan kereta api dianggap merupakan kebijakan yang keliru.

Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun

Dalam perspektif pelayanan publik dan kepentingan nasional, privatisasi pada jaringan kereta api India dianggap sebagai ide yang buruk. Pasalnya yang akan mendapatkan keuntungan adalah swasta dan publik mendapatkan kerugian. Ini terjadi dalam pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi yang tidak pernah serius mendanai lembaga publik.

Sejak Modi menjabat sebagai Perdana Menteri pada 2014 ternyata pemerintahannya telah membuka saluran untuk menjual sektor publik dan mengubah kebijakan Foreign Direct Investment atau FDI pada Agustus 2014. Di mana pemerintah memasukkan pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan sepuluh area perkeretaapian termasuk elektrifikasi, sistem persinyalan dan terminal kargo.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari newslaundry.com (18/3/2021), Nantinya ini akan membawa mereka di bawah seratus persen FDI melalui jalur otomatis yang berarti pembeli atau investor tidak memerlukan persetujuan sebelumnya dari Reserve Bank of India atau pemerintah. Rencana Kereta Api Nasional, atau NRP mengatakan, semua kereta barang akan diprivatisasi pada pada 2031, bersama dengan 30 persen dari 750 unit stasiun KA.

Semua gerbong AC yang menghasilkan keuntungan juga akan diprivatisasi. Hanya kereta penumpang kelas dua yang merugi yang akan tertinggal dengan rel. Menariknya, pemain swasta hanya perlu berinvestasi dalam menjalankan kereta. Pengemudi dan penjaga akan berasal dari rel kereta api seperti halnya relnya. Kereta api juga akan memelihara stasiun, sementara pemesanan akan dilakukan oleh Indian Railway Catering and Tourism Corporation, atau IRCTC, anak perusahaan dari Indian Railways.

Ini berarti Kereta Api India hanya akan menjalankan kereta penumpang yang merugi sementara semua kereta yang menghasilkan keuntungan akan dioperasikan oleh sektor swasta. Sehingga bisa dikatakan tidak ada data yang didapat dari privatisasi perekeretaapian.

Hal ini karena Indian Railway hanya akan memungut biaya pengangkutan termasuk biaya untuk menggunakan lokasi stasiun, mesin kereta api, rel, sinyal, overhead listrik serta gaji masinis. Sedangkan pihak swasta akan bebas mengutip harga berapa pun dan dapat menggunakan harga dinamis seperti yang tejadi pada perjalanan udara.

Untuk menyikapi ini, penting untuk menyoroti kasus Reliance Infrastructure, yang meninggalkan Delhi Airport Link Metro pada Juli 2012 setelah lebih dari setahun beroperasi karena tidak memperoleh keuntungan yang diharapkan. Delhi Metro Rail Corporation, atau DMRC, memiliki perjanjian dengan Reliance untuk pengembangan dan pemeliharaan jalur kereta bandara dengan dasar pembagian investasi 50-50.

Total biaya proyek adalah Rs5.800 crore, dan DMRC menyumbang Rs 2.915 crore. Sisanya akan ditanggung oleh Reliance tetapi, melalui pemotongan biaya besar-besaran, mereka menahan seluruh investasi. Setelah selesai, proyek metro ditemukan memiliki struktur yang lemah dengan kebocoran dan cacat. Selain itu, Reliance menetapkan Rs150 sebagai ongkos, mengharapkan 44.000 penumpang akan menggunakan layanan mereka sehari.

Tetapi itu tidak terjadi dan tidak ada keuntungan. Reliance menutup operasi di tengah jalan dan DMRC harus mengambil alih. Setelah perbaikan, mereka membuka kembali jalur dengan tarif Rs50, dan penumpang kembali. Bisa dikatakan sudah terbukti berkali-kali bahwa sektor swasta tidak datang untuk berinvestasi di infrastruktur karena memiliki masa tunggu yang panjang, dan mereka harus menunggu keuntungan datang.

Baca juga: Tindaklanjuti Masalah Malfungsi Roda Kereta, Indian Railways Siap Pasang Sensor Canggih!

Perkeretaapian India didorong oleh kewajiban sosial untuk menyediakan fasilitas transportasi dasar bagi warga masyarakat, dan meletakkan dasar bagi beberapa kegiatan ekonomi skala kecil dan menengah. Jadi privatisasi perkeretaapian berarti memprivatisasi keuntungan dan membebani sektor publik dengan kerugian.

Ulang Tahun Ke-7, TransJakarta Tambah Tiga Fitur Baru di Aplikasi Tije

Ulang tahun ke tujuh (24 Maret 2021) membuat PT Transportasi Jakarta merambah ke dunia digital. Hal ini terlihat dari kehadiran beberapa fitur baru di aplikasi Tije. Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua mengatakan, di ulang tahun ketujuh, PT TransJakarta memberikan hadiah dari sisi fitur baru di aplikasi Tije.

Baca juga: Mudahkan Pengguna, “The Next Level of TransJakarta” Menjadi Pembaruan di Aplikasi Tije

Gidi menyebutkan ada tiga fitur terbaru yakni Loyalti-Je, Suara Pelanggan dan Kartu Layanan Gratis. Ia menjelaskan bahwa kehadiran loyalti, karena pelanggan berharap ada satu apresiasi yang bisa didapatkan ketika mereka menggunakan bus TransJakarta sebagai transportasi mereka.

“Sedangkan untuk suara pelanggan ini merupakan digital feedback atau laporan khusus yang adalah channel khusus agar memudahkan penumpang melaporkan apa pun yang dikeluhkan. Pelanggan dengan adanya ini bisa mengungkapkan yang selama ini tidak bisa diungkapkan karena tidak ada medianya,“ ujar Gidi.

Dia menambahkan nantinya pelanggan bisa laporkan terkait bus, halte atau pelayanan yang mereka terima selama menggunakan bus TransJakarta. Gidi menyebutkan keluhan tersebut akan masuk ke sistem dan dilihat satu persatu.

Encourage pelanggan untuk gunakan digital feedback ini. Selain itu juga ada layanan kartu gratis dan ini bisa digunakan bagi mereka yang menerimanya,“ kata Gidi. Nantinya pelanggan akan daftar melalui aplikasi sehingga tidak perlu datang ke kantor TransJakarta. Gidi menegaskan, nantinya pelanggan hanya mengirim berkas melalui aplikasi Tije sehingga tidak ada kontak fisik dan waktu yang harusnya datang ke kantor TransJakarta bisa digunakan untuk hal lain.

Sedangkan untuk pengambilannya nantinya pelanggan akan diberitahukan, kartu dikirim melalui pos atau langsung diambil ke kantor TransJakarta. Gidi menyebutkan pihaknya akan manghadirkan live chat beberapa bulan kedepan.

Sehingga pelanggan bisa berkomunikasi secara real time dengan petugas di command center. Hingga saat ini Gidi mengatakan untuk pembayaran masih menggunakan LinkAja dan partner lainnya sudah mulai dikoordinasikan sehingga channel pembayaran lain akan secepatnya hadir.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

“Kami sadar pelanggan punya preference lain sehingga kita juga giat kolaborasi dengan calon partner lainnya,“ ungkapnya.

Gidi menambahkan, kedepanya fitur—fitur di aplikasi Tije, bisnis platform dan customer platform, layanan dan lainnya akan di beratkan pada platform ini. Sehingga ini menjadi satu—satunyanya platform digital servis pada pelanggan.

E-paper Bantu Penumpang Dapatkan Berbagai Informasi Secara Real Time di “Bus Stop”

Teknologi yang semakin berkembang kini memudahkan penumpang yang akan menggunakan kendaraan umum. Salah satunya adalah kehadiran e-paper atau kertas elektronik di bus stop untuk membantu penumpang mengetahui secara nyata kapan bus datang dan berangkat dari halte.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Teknologi e-paper ini memiliki resolusi tinggi Luminator yang memberikan informasi waktu nyata yang dinamis. Di mana penumpang transit dapat mengetahui terkait peringatan pengendara, informasi rute dan lainnya.

E-paper sendiri hadir dengan multi halaman yang mudah dibaca yang tersedia dengan layar 13 inci dan 32 inci. Ini diperbarui dari jarak jauh dan otomatis sehingga memungkinkan penumpang transit mengakses informasi terbaru sekaligus mengurangi biaya tenaga kerja yang terkait dengan penggantian tampilan kertas secara manual.

Untuk diketahui, e-paper mengoptimalkan efisiensi operasional dan energi dengan LED yang berdaya sangat rendah. Bahkan dengan kemampuan tenaga surya opsional yang memungkinkan pemasangan yang mudah dan murah di hampir semua lokasi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman masstransitmag.com (19/11/2020), untuk memaksimalkan aksesibilitas, sistem informasi penumpang e-paper Luminator dilengkapi dengan pengumuman audio on demand yang meningkatkan informasi tersedia untuk semua penumpang.

Baca juga: e-paper Papercast, Sistem Informasi Digital di Halte Bus dengan Tenaga Surya

Selain ini juga ada e-paper yang bertenaga surya yakni Papercast yang tampilannya dikontrol oleh sistem manajemen berbasis cloud yang canggih dan menawarkan integrasi sederhana dengan standar data terbuka seperti GTFS dan SIRI serta kemampuan untuk mengelola setiap tampilan termasuk pembaruan konten, pemantauan dan diagnostik.

 

Akhir 2021, Startup Hong Kong Luncurkan Layanan Drone Penumpang Pertama! Target Selanjutnya Indonesia

Sebagai wujud merealisasikan mobilitas udara perkotaan (UAM), startup asal Hong Kong, Seaplane, berencana meluncurkan layanan drone penumpang pada akhir 2021 mendatang. Tak hanya itu, perusahaan juga akan melayani penerbangan charter serta joyflight (tamasya udara). Layanan tersebut akan tersebut tersedia di beberapa kota di Hong Kong serta Greater Bay Area (wilayah teluk meliputi Guangdong-Hong Kong-Makau).

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Dilansir hk.asiatatler.com, dilihat dari mobilitas dan geografi wilayahnya, Hong Kong bisa dibilang urgen untuk mulai merealisasikan UAM atau sistem transportasi perkotaan yang menggerakkan orang melalui udara, mengingat salah satu pusat bisnis terbesar di Asia ini sudah sangat padat.

Dengan luas 1.106 km², wilayah administratif yang terkenal dengan prinsip satu negara dua sistem ini dihuni oleh sekitar 8 juta lebih. Itu belum termasuk wisatawan yang seperti tak ada hentinya, baik wisatawan domestik maupun internasional.

Selain itu, geografinya yang berupa kepulauan, juga mendorong untuk tersedianya layanan drone penumpang pertama di Hong Kong. Kendati transportasi umum negara tersebut sudah sangat baik, dimana warga yang tidak mempunyai kendaraan tetap bisa berkeliling penjuru kota menaiki bus, tetap saja, kemacetan dan waktu tempuh tak bisa ditolelir.

Dari Victoria Park ke Bandara Internasional Hong Kong, misalnya, sebetulnya sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi -baik melalui jalan tol atau jalur arteri- maupun menggunakan transportasi publik. Hanya saja, jalannya harus memutar ditambah macet. Jadi waktu tempuh jadi kurang efisien. Padahal, bila melihat peta, keduanya hanya terpisah oleh teluk.

Sebetulnya, bisa saja warga menggunakan transportasi laut, seperti feri. Tapi, harganya cukup mahal dan waktu tempuhnya tak begitu singkat. Berbagai pertimbangan itulah yang membuat pada akhirnya Seaplane begitu yakin atas proyek ini.

Menurut pendiri Seaplane Hong Kong, Steven Cheung, proyek senilai HK$100 juta ini nantinya akan menawarkan layanan tamasya udara kepada warga lokal, penerbangan charter, serta layanan taksi udara kemanapun, di sekitaran Greater Bay Area, menggunakan drone canggih yang dikendalikan secara otomatis berkapasitas dua orang.

Agar memudahkan penghitungan tarif dan pemesanan, nantinya Seaplane Hong Kong juga akan menyediakan aplikasi di ponsel, layaknya ojek online. Dengan begitu, mobilitas udara perkotaan jadi lebih efisien dan efektif dalam menunjang mobilitas penduduk perkotaan.

Karena mengedepankan waktu sebagai sebuah keunggulan, layanan taksi udara melalui drone penumpang ini menargetkan warga dengan mobilitas tinggi. Perjalanan antara Central, Kwun Tong, dan Tseung Kwan O, misalnya, bisa ditempuh hanya dalam lima sampai delapan menit dari sebelumnya 25-35 menit.

Saat ini, layanan drone penumpang dengan tagline mudah, aman, dan ramah lingkungan ini sudah diajukan ke Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong. Setelah disetujui, Seaplane masih harus mendapat persetujuan serupa dari Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC) untuk memulai operasi pada Januari 2022 mendatang.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Bila segalanya lancar, Seaplane Hong Kong juga berencana memperluas ekspansi pasar ke sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Filipina, dan Indonesia.

Selain menggunakan drone, Seaplane juga mengandalkan dua pesawat Twin Otter untuk mendukung layanan tersebut. Pada 2025 mendatang, perusahaan berencana menambah jumlah armada menjadi 28 pesawat.

Intip Panel Surya Bandara Soetta, PLTS Terbesar di Indonesia yang Saingi Bandara Changi

Bandara Soetta boleh saja berbangga diri menjadi bandara terbesar di Indonesia yang ditenagai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hanya saja, sekalipun berstatus terbesar, nyatanya, luas PLTS di Bandara Soekarno-Hatta masih kalah tipis dibanding Bandara Changi, Singapura.

Baca juga: Bandara Kempegowda Aplikasikan Panel Surya Guna Operasional Harian

Sejak 1 Oktober 2020, sebanyak 720 solar panel system dengan photovoltaics berkapasitas maksimal 241 kilo watt per peak (kWp) dibangun dan dikelola oleh Bukit Asam yang juga menggandeng anak usaha PT LEN Industri yakni PT Surya Energi Indotama di atap gedung guna mengaliri listrik ke peralatan-peralatan canggih di fasilitas AOCC. Gedung AOCC sendiri merupakan salah satu fasilitas yang sangat vital di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Gedung itu adalah pos komando terintegrasi untuk memastikan kelancaran operasional Soekarno-Hatta, dengan personil berasal dari PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara, lalu airline operator, air navigation dan authorities seperti Karantina, Bea dan Cukai, Imigrasi, Kepolisan dan sebagainya.

Sekalipun berkapasitas tak terlalu besar, ini merupakan PLTS terbesar yang dipasang di bandara di Indonesia dengan sistem atap (rooftop).

Sebelum PLTS terbesar di bandara mulai dibangun pada 2020 lalu, sebetulnya, harap sempat muncul jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 2013 lalu. Ketika itu, Angkasa Pura I diketahui telah menyepakati kontrak dengan SunEdison untuk pembangunan 15 MW di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Sayangnya, proyek yang digadang mampu mengurangi karbon sampai 200 ribu ton per tahun itu tak kunjung teralisasi. Tak heran bila akhirya PLTS terbesar kemudian jatuh ke tangan Bandara Soetta.

Disarikan dari berbagai sumber, kendati demikian, PLTS terbesar di bandara berbasis rooftop di Indonesia rupanya masih kalah tipis dibanding PLTS di Bandara Changi. Bandara yang terletak di Singapura itu juga merupakan bandara yang menggunakan solar panel di Asia Tenggara.

Walaupun cukup kecil, namun PLTS yang menjadi sumber tenaga listrik di terminal LCC bandara tersebut, masih lebih besar dibanding PLTS terbesar yang dipasang di bandara di Indonesia dengan sistem atap (rooftop).

Baca juga: Akhir 2022, Operasional Bandara Internasional Edmonton Pakai Tenaga Surya

Selain itu, sistem yang didanai oleh Pemerintah Singapura melalui the Clean Energy Research and Test-bedding (CERT) program, telah mengurangi hingga 320,000 kWh penggunaan listrik konvensional per tahunnya.

Panel surya yang digunakan adalah 127 kWp of First Solar’s thin film solar modules dan 123 kWp of REC’s polycrystalline solar modules dengan sistem pemasangan untuk rooftop. Sistem ini mampu mengurangi karbon hingga 160 ton hingga 25 tahun.